Bonus
E-book: Cerita Pendek Tambahan
Pertama Kalinya Berjalan-jalan di Kota
Jalan utama
Hanemiya, ibu kota Kyokuto, diselimuti oleh keramaian yang damai hari ini.
Langkah
kaki orang-orang yang lalu lalang dan teriakan para pedagang terdengar di
telinga. Angin yang membawa aroma harum panggangan dan manisnya madu menyengat
hidung dengan lembut.
Di
tengah keramaian itu, gadis yang berjalan di sebelahku──Pixie, mengedarkan
pandangannya ke sana kemari dengan mata yang berbinar-binar.
Membawanya
ke tempat yang padat seperti ini sempat membuatku sedikit cemas, tapi
sepertinya itu hanya kekhawatiran yang berlebihan.
"Luar
biasa……. Ini dunia yang selalu dilihat dan dirasakan oleh Luna, ya."
Mendengar
suara yang penuh kekaguman itu, aku menyunggingkan senyum tipis.
"Iya.
Bagaimana menurutmu setelah merasakannya secara langsung?"
Begitu aku
bertanya, Pixie menatap ombak manusia yang saling berpapasan.
"…………Mungkin,
aku merasa terharu. Ada banyak orang, ada berbagai macam suara, dan semuanya
terasa begitu dekat."
Mendengar
cara bicaranya, aku sedikit menyipitkan mata.
Menurut
penuturan Pixie, peri menerima peristiwa di dunia hanya sebagai informasi
belaka. Aku mendengar bahwa proses itu tidak disertai dengan sensasi nyata
seperti suara, bau, ataupun suhu.
Bagi dirinya
yang seperti itu, ini pasti pertama kalinya dia mendengar suara dengan
telinganya sendiri dan merasakan udara dengan kulitnya.
Tentu saja
segalanya akan terlihat begitu segar di matanya.
Pada saat
itu, tiba-tiba sekelompok angin berembus melewati kami dan menerbangkan rambut
Pixie.
"Ah……"
Dia
mengeluarkan suara kecil, lalu terlambat menyentuh pipinya sendiri.
"Yang tadi itu, angin…… kan?"
"Iya."
"Bahwa angin itu berembus, dan
angin membawa aroma, aku sudah tahu sebagai pengetahuan. Tapi, begitu ya……
Ternyata begini rasanya bersentuhan dengan angin."
Suara gumamannya yang lirih seolah
sedang memastikan hal itu, seakan dia sedang meresapinya. Benar-benar seperti sedang menerima
setiap jengkal sensasi agar tidak ada yang terlewat.
"Selain
itu, bau juga adalah hal yang aneh. Karena ada banyak hal yang berkumpul,
kukira rasanya akan lebih kacau, tapi ternyata tidak seperti itu sama
sekali."
Pixie berkata
demikian sembari mengalihkan pandangannya ke ujung jalan.
Di sana,
terdapat sebuah kedai kaki lima yang menjajakan kue panggang.
"Mumpung
ada di sini, bagaimana kalau kita melihatnya dari dekat?"
Saat aku
mengajaknya, Pixie mengangguk patuh dan melangkah dengan kaki kecilnya untuk
sejajar di sampingku.
Semakin dekat
dengan kedai, aroma manis itu tercium semakin jelas.
Keharuman
adonan yang baru matang berpadu dengan manisnya isian di dalamnya, membuat
udara di sekitar terasa sedikit lebih lembut.
"Aroma
yang enak ini jadi makin kuat."
Pixie
bergumam dengan nada kagum.
"Ini
adalah aroma manis dari kue panggang."
"Aroma
manis? Bukankah 'manis' itu sesuatu yang dirasakan oleh indra pengecap?"
"Benar.
Tentu saja, rasa manis di lidah didapat dari rasa makanan itu sendiri. Tapi,
makanan juga bisa dinikmati lewat aroma dan penampilannya, lho."
"Begitu
ya……. Ternyata makan itu sudah dimulai bahkan sebelum makanan dimasukkan ke
dalam mulut."
Pixie
bergumam seolah sedang mencerna pemahaman baru itu di dalam dirinya, lalu
menatap kue-kue panggang yang berjejer di kedai dengan penuh minat.
"Jika
mencicipinya langsung, mungkin kamu akan lebih memahaminya."
Mendengar
perkataanku, Pixie mendongak menatapku.
"……Boleh?"
"Tentu
saja. Lagipula kita sudah jauh-jauh datang ke sini."
Saat aku
memanggil sang pemilik kedai, pria itu tersenyum ramah dan membungkus dua buah
kue yang baru matang dengan kertas.
Begitu
menerima salah satunya, di detik berikutnya, Pixie membelalakkan matanya karena
terkejut.
"Ada
rasa hangatnya……"
Suara yang
lolos dari bibirnya sudah cukup menunjukkan kejujuran yang polos.
"Apakah
terlalu panas?"
"Tidak,
tidak apa-apa. Tapi…… aneh."
Sembari
menatap kue panggang di tangannya, Pixie melanjutkan kata-katanya perlahan.
"Aku
tahu dari pengetahuan. Bahwa ada hal yang hangat dan dingin, dan rasanya akan
berbeda saat disentuh. Tapi, kenyataannya terasa lebih samar dan lebih
lembut."
"Lembut,
ya?"
"Uhm.
Berbeda dengan rasa panas. Rasanya
seperti memberi tahu dengan jelas kalau dia ada di sini."
Setelah
berkata begitu, Pixie memantapkan hati dan menggigit kue panggang itu sedikit.
Seketika itu
juga, matanya terbuka lebar.
"…………"
"Bagaimana
rasanya?"
"Luar
biasa……. Rasa ini terhubung dengan jelas dengan aroma yang kurasakan tadi. Tapi tidak hanya itu. Hangat,
lembut, dan manisnya tidak datang sekaligus, melainkan menyebar perlahan."
Melihatnya
merangkai kata demi kata seolah sedang menikmati rasa itu, entah mengapa
membuatku ikut merasa senang.
"Padahal
seharusnya aku tahu, tapi ternyata aku sama sekali tidak tahu."
Sembari tetap
menatap kue panggang itu, Pixie bergumam lirih.
"Kukira
rasa itu adalah sesuatu yang lebih sederhana. Kalau manis ya manis, hanya
sebatas itu. Tapi kenyataannya, aroma, suhu, dan tekstur saat menyentuhnya,
semuanya menyatu menjadi satu."
Pixie memakan
satu gigitan lagi, kali ini dia menyipitkan mata sambil mengunyahnya dengan
sedikit lebih lambat.
"Enak……"
Satu kata
yang lolos itu memiliki penekanan realitas yang lebih jelas dibanding
sebelumnya.
"Syukurlah
kalau kamu menyukainya."
"Uhm.
Aku merasa sedikit paham alasan kenapa orang merasa hal manis itu enak. Bukan
cuma manis, tapi juga hangat, lembut, dan punya aroma. Mungkin kalau cuma salah
satu saja, aku tidak akan berpikir seperti ini."
Profil
wajahnya yang menjawab sambil berpikir serius itu terlihat sangat menggemaskan,
membuat pipiku otomatis mengendur.
"Kalau
kamu menyukainya sampai seperti itu, usahaku memilihnya jadi tidak
sia-sia."
"Mungkin
karena Luna yang memilihnya, makanya jadi terasa enak."
Mendengar
kalimatnya yang sedikit bangga itu, aku tidak bisa menahan tawa kecil.
Kemudian,
kami meninggalkan depan kedai dan melangkah menuju jalanan yang sedikit lebih
tenang.
Di tempat
yang agak melipir dari jalan utama itu, terdapat jalan landai yang menuju ke
arah sungai, membuat hiruk-pikuk keramaian terasa agak menjauh.
Begitu sampai
di dekat pagar pembatas, Pixie menghentikan langkahnya dan melemparkan
pandangan ke permukaan air yang mengalir tenang.
"Suaranya
berbeda."
"Jika
dibandingkan dengan jalan utama, ya?"
"Uhm.
Di sana ada banyak suara yang bertumpuk, tapi karena di sini sepi, setiap
suaranya jadi terdengar jelas. Suara air, suara angin, juga langkah kaki."
Sembari
berkata begitu, dia mengulurkan tangannya perlahan ke pagar pembatas.
Dia
menggeser ujung jarinya seolah ingin memastikan tekstur kayu, lalu mengerjapkan
matanya dengan heran.
"Ternyata
tidak cuma keras. Sedikit kasar, tapi entah kenapa sentuhannya
menenangkan."
"Iya.
Karena ini tempat yang sering disentuh tangan, makanya dibuat dengan
hati-hati."
"……Benar-benar
aneh."
Melihatnya
seperti ini, aku tahu kalau dia benar-benar menerima setiap hal dengan tulus.
Suara,
bau, hingga tekstur sentuhan.
Bagi
kita, semua itu adalah hal-hal biasa yang terkubur dalam keseharian, tapi bagi
dirinya, setiap hal itu pasti tidak ada gantinya.
"Luna."
"Iya?"
"Semua
orang ternyata hidup di dalam dunia yang seperti ini selama ini, ya."
Nada
suaranya terdengar tenang, namun terasa meresap ke dalam hati.
"Iya.
Benar sekali."
"Rasanya,
aku sedikit iri."
Aku merasa
sedikit memahami perasaan yang diungkapkan oleh Pixie itu.
Seperti yang
pernah dikatakan Pixie sendiri, tahu sebagai pengetahuan dan tahu secara nyata
itu berbeda. Walau kepala memahaminya, sensasi nyata yang didapat melalui tubuh
tidak akan pernah bisa terkalahkan.
Pixie hari
ini pasti sedang merasakan perbedaan itu dengan lebih jelas dibanding siapa
pun.
"Tapi,
sekarang Pixie juga sudah berada di sisi sini, lho."
Begitu aku
mengatakannya, dia membulatkan matanya sedikit sebelum menjatuhkan pandangan ke
kue panggang di tangannya.
"……Begitu
ya. Aku juga, sekarang bukan lagi sekadar melihat saja."
"Benar.
Kita bisa berjalan bersama seperti ini, melihat hal yang sama, mendengar, dan
juga memakannya."
Saat
aku berkata demikian, Pixie mengangguk pelan.
"Begitu
ya. Benar juga."
Jawabannya
terdengar sunyi, namun entah mengapa terselip nada bahagia di dalamnya.
Untuk sesaat,
kami berdua memandangi aliran sungai.
Padahal hanya
menjauh sedikit dari jalan utama, tapi udaranya terasa jauh lebih tenang.
Angin
membelai permukaan air, dan dari kejauhan samar-samar terdengar suara obrolan
orang-orang.
Semua itu
adalah hal baru bagi Pixie yang sekarang, dan di saat yang sama, adalah hal-hal
yang akan mulai biasa dia rasakan ke depannya.
"Hari
ini, hari yang luar biasa."
Pixie
bergumam lirih.
"Fufufu.
Hari ini bahkan belum lewat setengah hari, lho."
"Kalau
setengah hari saja sudah seperti ini, ternyata dunia ini jauh lebih sibuk dari
yang kukira."
"Memang,
dunia ini terus bergerak dengan cepat."
"Uhm.
Tapi, ini bukan kesibukan yang menyebalkan. Ramai, hangat……
dan terasa benar-benar hidup."
Mendengar
caranya berekspresi, aku menyipitkan mata dengan lembut.
"Mari
kita pergi bersama lagi nanti. Tidak hanya di Hanemiya, mari kita rasakan kota
dan pemandangan lain bersama-sama."
Begitu
aku mengajaknya, Pixie mengangguk dengan riang.
"Uhm!
Berikutnya, aku ingin melihat hal-hal yang belum sempat kulihat hari ini. Bukan
cuma bau, aku ingin mencoba makan lebih banyak hal lagi, dan mendengar suara di
tempat lain."
Angin
sekali lagi berembus melewati celah di antara kami berdua.
Angin
yang tenang dan lembut, berbeda dengan udara ramai yang terasa di jalan utama
tadi.
Namun, di
dalam angin itu pun tetap tercampur aroma kota dan hawa keberadaan manusia.
Saat aku
menengok ke samping, Pixie menerima embusan angin itu dalam diam dengan wajah
yang tampak begitu puas.
Hanya sekadar
berjalan-jalan sebentar di kota.
Hanya karena
hal itu saja, hari ini dunia terlihat lebih baru dari biasanya.
Mungkin itu
karena aku juga ikut merasakan dunia yang pertama kali disentuhnya ini
bersamanya.
"Nah,
bagaimana kalau kita bersiap kembali?"
Saat aku
mengajaknya, Pixie mengangguk mantap, lalu menatap sisa kue panggang yang ada
di tangannya.
"Sebelum
itu──"
"……?"
"──Aku
ingin makan satu lagi yang ini."
Setelah
sempat tertegun sesaat, aku tidak bisa menahan tawa yang membuncah.
"Sepertinya
kamu benar-benar menyukainya, ya."
"Uhm.
Habisnya, ini enak."
Melihat
jawabannya yang terlampau jujur itu, tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya.
"Kalau
begitu, mari kita beli satu lagi dalam perjalanan pulang."
"Hore!
Terima kasih, Luna!"
Lalu, kami
pun mulai melangkah kembali menuju jalan utama yang ramai.
Suara, aroma,
angin, hingga hawa keberadaan manusia.
Hanya dengan
memikirkan bahwa Pixie menerima semua itu dengan berharga, pemandangan kota
yang sudah biasa kulihat ini pun terasa sedikit lebih lembut dari biasanya.
Kata Penutup
Sudah lama
tidak berjumpa. Saya Tokami.
Terima kasih
banyak karena sudah bersedia membawa pulang buku ini!
Kali ini pun
saya ingin sedikit membahas tentang cerita utama, tetapi sebelum itu, izinkan
saya membicarakan tentang adaptasi animenya terlebih dahulu.
Jadi, apakah
kalian semua sudah menonton animenya?
Saya sendiri
selalu menikmati setiap episodenya dengan sangat gembira, dan sebagai salah
satu penonton, kualitasnya benar-benar luar biasa sampai membuat saya tidak
sabar untuk menantikan episode berikutnya.
Melihat Orn
dan yang lainnya bergerak, berbicara, serta bagaimana musik dan penyutradaraan
memberikan pesona baru ke dalam ceritanya, benar-benar membuat saya merasa
sangat emosional.
Saya tidak
bisa berhenti berterima kasih kepada seluruh staf dan pemeran yang telah
berhasil merampungkan karya ini menjadi begitu indah.
Lalu yang
patut disyukuri, produksi anime untuk musim kedua juga telah resmi diputuskan!
Selain itu,
Blu-ray BOX dijadwalkan akan rilis pada tanggal 29 Juli 2026, jadi bagi kalian
yang penasaran, saya akan sangat senang jika kalian bersedia mengeceknya.
Nah, mulai
dari sini saya ingin sedikit mengobrol tentang cerita utama.
Bagi yang
belum membaca cerita utamanya, harap berhati-hati karena bagian berikut
mengandung bocoran.
Bagaimana
kesan kalian untuk volume kesepuluh ini?
Bagi saya
pribadi, ini adalah buku yang memuat banyak sekali hal yang ingin saya tulis,
mulai dari pendalaman latar dunia, kekuatan spiritual, hingga episode dari era
dongeng (tertawa).
Dan yang
menjadi pusat dari volume kesepuluh ini adalah Luna.
Dia adalah
karakter yang sudah muncul sejak volume pertama dan terlibat mendalam dengan
cerita, tetapi sampai sekarang, belum ada kesempatan untuk memberikan sorotan
penuh kepada dirinya sendiri.
Alasannya
adalah, untuk menggali lebih dalam tentang Luna, mau tidak mau saya harus
menyentuh soal peri dan latar dunia itu sendiri melalui kemampuan uniknya.
Karena
situasi tersebut, ada bagian yang sulit untuk digambarkan jika semua
informasinya belum terkumpul sampai batas tertentu.
Oleh karena
itu, saya merasa sangat senang akhirnya bisa menulis cerita yang berpusat pada
Luna kali ini.
Seperti
yang mungkin bisa kalian tangkap dari namanya, 'Luna' adalah karakter dengan
motif bulan.
Di
dalam benak saya, bulan memiliki citra sebagai entitas yang menemani dengan
lembut sambil menerangi malam dalam keheningan. Dia digambarkan bukan sebagai
sosok yang maju kuat ke depan, melainkan seseorang yang bisa menjadi penopang
di sisi orang lain.
Selain itu,
bulan juga merupakan eksistensi yang bersinar karena menerima cahaya dari pihak
lain. Luna juga digambarkan sebagai sosok yang menerima perasaan serta harapan
orang lain, lalu mengubahnya menjadi kelembutan dan kekuatan di dalam dirinya.
Saya akan
sangat senangnya jika sifat khasnya itu bisa tersampaikan walau hanya sedikit
melalui episode kali ini.
Berbicara
soal nama, saya mungkin pernah menyinggungnya di kata pengantar volume
sebelumnya, tetapi karakter di karya ini pada dasarnya sering kali ditentukan
berdasarkan spontanitas, semangat, dan juga keselarasan bunyinya.
Di antara
mereka, empat orang yang dekat dengan Orn, yaitu 'Shion', 'Oliver', 'Fuuka',
and 'Luna', namanya diambil dari asosiasi masing-masing huruf dalam peribahasa
'Ka-Cho-Fu-Getsu' (Bunga, Burung, Angin, dan Bulan).
Ka-Cho-Fu-Getsu
adalah peribahasa empat huruf yang menggambarkan keindahan pemandangan alam,
tetapi di dalam diri saya, ada satu makna lagi yang berlapis, yaitu "sisi
lain dari sang tokoh utama, Orn, yang mulai terlihat saat dia menghadapi
karakter tersebut".
Karena kata
pengantar kali ini memiliki sisa halaman yang cukup senggang, izinkan saya
menulis sedikit lebih banyak lagi.
Versi cetak
buku ini akhirnya berhasil mencapai volume kesepuluh.
Saat
menyadari kalau jumlah volumenya sudah mencapai dua digit, rasanya benar-benar
membuat terharu. Saya sendiri tidak pernah menyangka bisa menerbitkan buku
sampai sejauh ini, jadi mungkin saya jugalah yang paling terkejut (tertawa).
Bisa terus
bertahan sampai ke titik ini adalah berkat kalian semua yang bersedia
membacanya. Terima kasih banyak.
Di dalam
kepala saya, akhir dari cerita karya ini sebenarnya sudah ditentukan sejak
tahap yang terbilang awal.
Namun, karena
saya tidak menyangka bisa menerbitkannya sampai sebanyak ini, sejujurnya saya
tidak memikirkan garis cerita bagian akhir menuju konklusi tersebut secara
mendalam.
Akan tetapi,
berkat diputuskannya anime musim kedua dan adanya tawaran untuk volume
kesebelas, saya kembali menyusun ulang perkembangan cerita untuk ke depannya.
Sekarang,
perasaan "karena sudah melangkah sejauh ini, aku ingin menulisnya sampai
tuntas hingga tamat" menjadi sangat kuat di dalam diri saya.
Saya akan
sangat senang jika kalian berkenan untuk terus mendukung karya ini ke depannya.
Di sini,
izinkan saya melakukan sedikit promosi.
Per Mei 2026
ini, versi adaptasi komik dari karya ini sudah terbit sampai volume kedelapan
belas dan sedang dijual dengan respons yang sangat baik!
Selain itu,
cerita spin-off yang berpusat pada Selma sebagai tokoh utama, 'Apakah Kak Selma
saat Libur Itu Canggung!?', volume pertamanya juga sedang dijual dan mendapat
sambutan hangat!
Keduanya
diilustrasikan oleh Yonezou-sensei dan diselesaikan menjadi komik yang sangat
luar biasa, jadi saya akan sangat senang jika kalian bersedia membacanya.
Ditambah
lagi, versi cetak buku ini secara bertahap mulai diadaptasi menjadi menjelang
buku audio (audiobook).
Saya harap
kalian bisa menikmati karya ini melalui telinga sebagai teman saat bekerja atau
di kala sedang dalam perjalanan.
Mulai dari
sini adalah ucapan terima kasih.
Kisaragi
Yuri-sensei, terima kasih karena selalu menggambarkan ilustrasi yang luar biasa
kali ini pun! Saya sangat senang karena hiasan rambut baru milik Luna dan
Sakuramochi dibuat dengan desain yang begitu indah. Ilustrasi dua halaman di
awal buku benar-benar memanjakan mata!
Editor yang
bertanggung jawab, Shouji-san, terima kasih karena sudah menemani saya sampai
akhir kali ini pun! Buku ini menjadi satu volume yang memuat banyak hal, tetapi
saya percaya bahwa keberhasilan menyatukannya menjadi bentuk yang utuh adalah
berkat bantuan dari kekuatan Shouji-san.
Selain itu,
saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah
mencurahkan kerja keras mereka demi penerbitan buku ini.
Terakhir,
terima kasih yang mendalam dari lubuk hati saya untuk para pembaca sekalian.
Sekali lagi,
terima kasih banyak karena sudah bersedia membeli buku ini!
Saya berharap
kita bisa berjumpa kembali di volume kesebelas!
Itsuki Tokami



Post a Comment