NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 10 Chapter 3

Chapter 3

Bulan Purnama


Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuan kembali dengan Titania di Phoenix Shrine, dan kini tanggal 25 September tahun 630 Kalender Suci telah tiba.

Hari ini, menurut kalender lama, adalah tanggal 15 bulan 8.

Yakni malam kelima belas.

Pada zaman dahulu, di negara yang menjadi cikal bakal Kyokuto, konon ada tradisi memandang bulan sebagai ‘Bulan Purnama Musim Gugur’.

Tradisi itu masih hidup hingga sekarang, dan di berbagai penjuru negeri, pesta menyambut bulan purnama sedang digelar.

Kami pun menyiapkan tempat duduk di taman luas kediaman keluarga Shinonome. Luna, Nagisa, dan yang lain sedang sibuk mempersiapkan segalanya dengan riang.

Cahaya merah api unggun bercampur dengan tawa. Hidangan dan dango yang mengepul uapnya tersusun di sana-sini. Aroma harum terbawa angin, dan tawa yang terdengar membawa kehangatan.

Suasana ramai dan penuh kegembiraan.

──Namun, aku dan Shion melangkah menjauh ke tempat yang agak terpisah.

Tangan kami yang saling terhubur secara alami menyampaikan kehangatan yang pas.

Kami berdua tidak banyak bicara, tapi keheningan itu sama sekali tidak canggung.

Malah, keheningan itu sendiri seolah menghiasi waktu spesial ini.

Langit malam tanpa awan sedikit pun. Bulan purnama yang jernih bersinar terang menerangi kegelapan.

Begitu mendongak, cahaya perak itu membungkus dunia dengan lembut.

Cahaya yang jauh lebih kuat daripada lampu kota seolah menenangkan relung hati.

“……Indah sekali ya.”

Shion bergumam pelan sambil mendongak ke bulan.

“Benar.”

Begitu aku menjawab singkat, ia tertawa kecil dan menggenggam tanganku lebih erat.

Kami pun duduk di atas rerumputan.

Angin malam menyapu pipi, perlahan merenggut panas tubuh.

Suara serangga mulai terdengar bersamaan.

Tapi di sini, semuanya terasa sunyi luar biasa.

Seolah kami berdua terpisah di dunia sendiri.

“Begini, melihat langit dengan santai…… sudah lama sekali rasanya.”

“Aku juga. Karena kesibukan, jarang sekali sempat menikmati pemandangan. Tapi……”

“……?”

“Hanya karena Shion ada di sampingku…… pemandangan ini terasa jauh lebih istimewa.”

Kata-kata itu terdengar memalukan bahkan untuk diriku sendiri. Tapi itu bukan kebohongan.

Shion berkedip kaget, lalu menundukkan wajah untuk menyembunyikan rasa malu.

“Kamu bilang begitu…… curang.”

“……Maaf. Tanpa sadar jujur saja.”

“Aduh…… Tapi, aku sangat senang.”

Ia berkata demikian lalu menyandarkan kepalanya ke bahuku.

Rambut perak yang halus menyentuh pipi, memantulkan cahaya bulan dan berkilau samar.

Dada terasa hangat.

Tidak ada alasan untuk menolak.

Malah, aku ingin momen ini berlangsung selamanya.

“……Kadang-kadang, boleh kan aku memonopoli seperti ini?”

Bisikan kecil Shion terasa lebih hangat daripada angin malam.

◆◇◆

Untuk beberapa saat, hanya suara serangga dan angin malam yang terdengar.

Seolah memecah keheningan itu, Shion kembali bergumam.

“……Aku sudah agak mendekat, ya.”

“Mendekat?”

Begitu aku bertanya balik, Shion melanjutkan sambil tetap memandang bulan.

“Dulu waktu kecil, kita pernah berjanji kan? ‘Aku tidak akan membiarkan Orn sendirian.’ ‘Aku akan menjadi cukup kuat untuk berdiri di samping Orn.’ ……Dibandingkan dulu, aku rasa sekarang aku sudah lebih dekat, baik jarak fisik maupun jarak hati.”

Aku mendengarkan dengan diam.

Ia diam sejenak, lalu wajahnya sedikit muram.

“Tapi…… dalam arti sebenarnya, aku masih belum bisa berdiri sejajar. Orn melihat dan mengetahui jauh lebih banyak daripada kami…… dan melihat masa depan dengan lebih jelas. Aku harus bisa berbagi itu bersamamu, tanpa harus diminta.”

Setelah berkata sampai situ, Shion menutup mulut sejenak dan menunduk.

Di wajah sampingnya yang disinari cahaya bulan, terlihat campuran keraguan dan tekad untuk mengatasinya.

Akhirnya ia perlahan mengangkat kepala dari bahuku dan menatapku langsung.

“Bukan hanya mengejar punggungmu──tapi aku ingin melihat pemandangan yang sama di sampingmu.”

“Shion……”

“Kamu itu, tanpa sadar sering berlari sendirian ke depan kan? Makanya aku akan terus mengejar dengan sekuat tenaga dan berjalan di sampingmu.”

Shion menggenggam tanganku lebih erat.

Tatapan seriusnya menusuk keheningan malam dan menceritakan kekuatan perasaannya dengan jelas.

“──Aku tidak akan melepaskan tangan ini lagi, selamanya.”

Nada suaranya begitu teguh, bahkan di bawah cahaya bulan.

“……Supaya tidak ketinggalan dariku?”

“Bukan. Bukan itu.”

Ia menggeleng dan menatapku lurus.

“Supaya tidak membiarkan Orn sendirian.”

Dada terasa panas.

Mendengar kata-kata seperti itu, aku hanya merasa bahagia.

“……Terima kasih, Shion.”

“Eh?”

“Aku memang sadar bahwa karena terlalu ingin maju, aku sering berlari sendirian. Tapi…… aku baru sadar lagi bahwa aku tidak pernah benar-benar sendirian.”

Sambil menyusun kata-kata perlahan, aku menatapnya.

“Kalau aku hampir mengambil jalan yang salah, Shion akan menarik tanganku dan membawaku kembali kan? Seperti waktu di dunia roh…… kalau aku hendak berhenti, kau akan membangunkanku kan?”

Mendengar itu, ia membulatkan mata, lalu pipinya memerah samar, tapi ia mengangguk tegas.

“Ya. Pasti. ……Berapa kali pun.”

Saat itu, kata-kata tidak lagi diperlukan.

Wajah sampingnya yang disinari bulan terlalu indah, hingga tanpa sadar aku mendekatkan wajah.

Shion pun perlahan memejamkan mata.

──Bibir kami bersentuhan.

Di tengah angin malam yang dingin, hanya kehangatannya yang terasa begitu jelas.

Ciuman yang singkat, tapi nyata.

“……Kalau aku hampir salah jalan, tarik aku ya.”

“Ya. Aku akan menggunakan seluruh kekuatanku.”

Bahkan obrolan ringan seperti itu terasa seperti janji yang tak ternilai.

Dan aku berharap dengan kuat, agar bisa terus berjalan di samping kehangatan ini.

◇◇◇

Taman kediaman keluarga Shinonome yang disinari cahaya bulan terasa sangat ramai.

Fuka-san melahap banyak hidangan, dan suara Haruto-san serta yang lain yang sedang asyik bermain lempar sasaran terdengar jelas.

Dari pinggir serambi yang agak jauh, aku diam-diam memandang mereka yang sedang bersenang-senang.

Namun di kepalaku, berbagai hal yang terjadi beberapa hari ini terus muncul.

Beberapa hari lalu, Orn-san pergi ke Phoenix Shrine untuk menyelidiki Principle dan bertemu kembali dengan Titania.

Dulu aku pernah bilang bahwa ia adalah teman pentingku──tapi aku saat ini tidak memiliki ingatan itu.

Karena Orn-san dan Pixie juga mengatakan hal serupa, berarti aku memang telah melupakannya.

Seharusnya melupakan sesuatu adalah hal yang menyedihkan, tapi aku tidak bisa merasa sedih. Meski begitu, aku bisa merasakan seperti ada lubang di hati.

Untuk mengisi lubang di hati ini, aku ingin bertemu Titania.

Aku ingin mengambil kembali apa yang telah kucurahkan.

Untuk itu, yang harus kulakukan adalah──menjadi Transcendent.

Beberapa hari ini aku sudah berlatih untuk itu dan berhasil menyentuh tembok Principle.

Tapi langkah selanjutnya──rasa menghancurkan tembok itu, entah kenapa masih tidak bisa kuraih.

Hanya tinggal satu langkah lagi untuk menjadi Transcendent……

Tapi cara melangkah satu langkah itu, aku belum bisa memahaminya.

‘……Luna tidak bermain dengan yang lain?’

Saat aku sedang memikirkan itu, Pixie yang biasanya jarang berbicara duluan mendekat ke bahuku.

Pixie adalah peri yang kutemui saat menjadi penjelajah, dan sejak itu ia selalu berada di sisiku.

Hari-hari sebagai penjelajah tidak selalu menyenangkan.

Kadang aku merasa kesepian, tapi aku tidak pernah benar-benar sendirian.

Itu semua karena Pixie selalu ada di sampingku.

“Aku lebih tenang dengan hanya memandang seperti ini.”

Melihat semua orang tertawa adalah hal paling membahagiakan bagiku.

Tapi ikut bergabung dan ribut bersama di tengah keramaian itu tidak cocok dengan sifatku.

Mungkin karena lingkungan tempat aku dibesarkan, aku lebih tenang jika bersikap agak tertahan. Hanya memandang mereka yang sedang bersenang-senang dari jauh saja sudah cukup membahagiakan.

Aku mendongak ke langit malam. Bulan yang tinggi menyinari taman dengan cahaya jernih yang lembut.

“……Bulan malam ini sangat indah ya.”

Begitu aku berkata, cahaya kecil di bahuku bergoyang pelan.

‘……Ya. Jernih dan terlihat jelas.’

Bulan menyinari kami dengan sangat lembut.

Tapi aku tiba-tiba berpikir.

“Tapi langit dan bulan ini juga diciptakan oleh Principle kan. Apakah ini bukan yang asli?”

Pixie menggelengkan kepala kecil, menggoyang magic power-nya.

‘……Bukan berarti palsu. Meski dibuat oleh Principle, sekarang ini benar-benar bersinar, angin bertiup…… karena itu ada di sini.’

“……Begitu ya.”

Sambil terus memandang langit, Pixie bergumam pelan.

‘……Aku diberi pengetahuan dari Ratu Titania, jadi aku tahu tentang dunia luar. ……Langit dan bulan ini memang indah, tapi dibandingkan yang asli, sedikit kurang.’

“Kurang, ya……?”

‘……Ya. Karena bulan bukan hanya sesuatu yang hanya naik turun dan menerangi malam.’

Aku tidak langsung memahami maksud kata-katanya dan tanpa sadar menoleh ke Pixie.

Pixie menggoyang magic power-nya seolah ragu sebentar, lalu memilih kata lain untuk melanjutkan.

‘……Luna tahu gerhana matahari total?’

“‘Kaisoku Nisshoku’……?”

Kata yang belum pernah kudengar membuatku memiringkan kepala.

‘……Saat matahari dan bulan benar-benar bertumpuk, dan bulan menutupi seluruh cahaya matahari. Siang hari jadi gelap seperti malam.’

“Siang hari…… jadi seperti malam?”

‘……Ya. Tapi──waktu bertumpuk sempurna hanya sebentar, lalu bulan dan matahari mulai bergeser. Dan di saat itu, seberkas cahaya bersinar seperti cincin. Fenomena itu disebut “Diamond Ring”, salah satu pemandangan yang mempesona orang-orang zaman dulu.’

Aku tanpa sadar menahan napas.

Apakah fenomena seperti itu benar-benar ada?

“……Aku tidak bisa membayangkannya.”

‘Ya. Tapi katanya itu benar-benar ada di dunia luar. Aku sendiri belum pernah melihatnya, jadi ini hanya pengetahuan.’

Suara Pixie yang tenang larut ke dalam udara malam.

Sambil mendengarkan ceritanya, dada terasa sedikit bergejolak.

……Aku juga ingin melihat pemandangan seperti itu.

Tiba-tiba pikiran itu muncul di benakku.

Tapi pada saat yang sama, suara dingin berbisik di dalam hati.

──Aku belum memiliki kualifikasi untuk pergi ke dunia luar. Karena aku belum menjadi Transcendent.

Namun kata-kata Pixie tetap tertinggal di dada.

“Cahaya matahari yang ditutupi bulan, lalu cahaya seperti cincin yang muncul saat bergeser ya. Pemandangan fantasi seperti itu pasti sangat indah.”

‘……Kenapa kamu bicara seperti orang lain? Kalau penasaran, tinggal pergi lihat saja.’

“──Eh?”

‘……? Kan Luna akan menjadi Transcendent? Pergi ke dunia luar bersama Orn kan? Kalau begitu kesempatan melihat gerhana matahari total pasti banyak.’

Kata-kata yang tak terduga membuatku menatap Pixie.

Pixie mengabaikan kekagetanku dan melanjutkan dengan suara lembut.

‘……Aku diberi “berbagai pengetahuan” dari Ratu, tapi pengetahuan itu tidak lebih dan tidak kurang dari itu.’

Magic power Pixie bergoyang, larut ke dalam cahaya bulan.

‘Contohnya gerhana matahari total. Aku tahu secara pengetahuan apa fenomenanya. Matahari tertutup, lalu muncul cahaya seperti cincin. Tapi──aku tidak tahu perasaan seperti apa yang akan kurasakan saat benar-benar melihatnya hanya dari pengetahuan saja.’

Nada suaranya mengandung perasaan yang nyata.

‘……Sejak berada di samping Luna dan melihat berbagai hal bersama, aku menyadari. ……Mengetahui sesuatu hanya sebagai pengetahuan dan benar-benar melihat, merasakan, lalu memahaminya itu sangat berbeda.’

“……Pixie.”

‘Makanya, masih banyak hal yang ingin aku lihat langsung. Langit dunia luar, wujud bulan yang sebenarnya, cahaya matahari. ……Dan semua yang akan Luna lihat nanti.’

Pixie turun menyentuh bahuku dengan lembut dan melanjutkan.

‘……Aku selalu berada di samping Luna, jadi aku bisa melihat apa yang Luna lihat. Mulai sekarang──aku ingin melihat banyak hal bersama Luna. Ingin memahami banyak hal.’

Dada terasa hangat.

Aku tidak tahu Pixie memikirkan hal seperti itu.

Aku mengatur napas sebentar, lalu kembali mendongak ke langit.

──Dunia luar, bersama Pixie.

“Ya. Mari kita lihat, rasakan, dan pahami banyak hal bersama.”

Saat membayangkan masa depan itu, cahaya kecil di dada mulai membentuk sesuatu.

……Gerhana matahari total. Bulan yang menutupi matahari. Lalu cahaya yang muncul saat bergeser.

Aku sedikit menggerakkan pandangan.

Di ujung serambi, pintu geser tertutup.

Itu adalah papan yang menghalangi cahaya matahari.

Tapi kalau digeser sedikit ke samping, cahaya akan masuk ke dalam ruangan──.

……Bukan menghancurkan tembok Principle──melainkan menggesernya.

Keyakinan mulai menyebar pelan di dada.

Beberapa hari ini aku sudah bisa menyentuh tembok Principle.

Tapi aku tidak bisa merasakan cara menghancurkannya, sehingga tidak bisa melangkah lebih jauh.

Menekan atau memukul tembok Principle hanya membuatnya memantul kembali. Seperti hanya menempelkan tangan ke pintu tebal dan terus mendorong──hanya rasa hampa yang tersisa.

Tapi──.

“……Pixie, mundur sedikit ya.”

Begitu aku berdiri, Pixie menggoyang magic power-nya kaget, tapi segera menjauh seolah mengerti.

Aku menarik napas dalam, lalu mengarahkan kesadaran ke para spirit di sekitar.

Para spirit merespons kehadiranku.

Bukan rasa takut, melainkan seperti getaran penuh harapan.

Seolah berkata “Akhirnya kau menyadarinya”.

Aku memejamkan mata dan mengulurkan kesadaran ke “tembok Principle”.

──Ada di sana.

Berat, dingin, dan menolak dunia luar.

Batas yang jelas ada.

……Sejak awal, tidak perlu menghancurkannya.

“……Geser.”

Begitu aku berbisik, para spirit bergerak bersamaan dan mengalir menyentuh tembok.

Udara bergetar, dan suara retakan samar terdengar di telinga.

Bukan mendorong atau menarik, melainkan menggeser dengan halus──seperti menarik pintu ke samping.

Lalu──.

──Spirit yang kukuasai menyentuh “luar”.

“──!”

Seketika, itu mengalir masuk seperti banjir.

Seperti saat pertama kali melakukan Sense Connect.

Informasi yang sangat besar dan tak terpahami langsung menghantam benak, membuat pikiran seketika memutih.

‘Luna!! Jangan sampai terseret!’

Ter teriakan Pixie menarik kesadaranku yang hampir memutih.

“……A-aku tidak apa-apa…… Pixie.”

Lututku gemetar, bahkan napas pun kacau.

Sakit kepala datang sekaligus, pandangan bergoyang.

Mirip saat overuse magic art, tapi ini jauh lebih dalam, seperti rasa sakit aneh yang mengguncang relung hati.

Tapi aku memang telah menyentuhnya.

Magic power dunia luar──hukum kegelapan.

……Sampai…… akhirnya……

Saat aku berusaha mengatur napas, di tengah banjir informasi yang mengalir ke kepala, ada satu getaran yang sangat kuat dan familiar.

──Nama penting yang seharusnya sudah kulupakan.

Dada bergetar hebat seolah dicabik, dan setetes air mata mengalir di pipi.

“……Tita……nia……”

Sambil bergumam nama itu, aku tak sanggup menahan dan ambruk.

Di dalam kesadaran yang menjauh, hanya cahaya Pixie yang berlari mendekat dengan putus asa yang terlihat samar-samar──.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close