NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi V2 Chapter 1

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 1

Rapat Strategi dengan Baju Renang

Beberapa hari setelah liburan musim panas dimulai——.


Musim hujan yang sedikit terlambat akhirnya berakhir, dan suatu hari, puncak musim panas pun benar-benar tiba.


"Tapi tetap saja, ramai sekali ya..."


"Benar. Antrean orangnya mengular sampai ke gerbang masuk."


Aku dan Aoi-san menyeka keringat sambil tanpa sadar bergumam melihat pemandangan yang terbentang di depan mata.


Tempat ini adalah fasilitas rekreasi komprehensif raksasa yang memanfaatkan lahan luas khas pedesaan, menampung berbagai fasilitas seperti sarana olahraga, perkemahan, hingga area bermain anjing.


Di tengah itu semua, tujuan kami adalah kolam renang yang dikenal dengan sebutan "Pool Dua Puluh Ribu Orang", yang membanggakan diri sebagai yang terluas di prefektur ini. Sepertinya ini tempat populer di mana banyak pengunjung dari dalam maupun luar prefektur berkumpul setiap liburan musim panas. Karena itulah, perjalanan dari halte bus terdekat menuju kolam renang penuh sesak dengan orang.


"Ya iyalah, namanya juga musim panas. Semua orang pasti ingin ke kolam renang, kan! ♪"


Yang menjawab dengan penuh semangat adalah teman sekelasku, Asamiya Izumi.


Dia gadis tipe imut dengan rambut pendek cokelat muda alami dan mata sayu yang menggemaskan. Dia adalah sosok mood maker di kelas, tipe yang saking bersemangatnya kadang sampai membuat repot.


Dia memiliki rasa tanggung jawab yang kuat sampai-sampai berinisiatif menjadi ketua kelas, dan tipe orang yang terlalu suka ikut campur—dia akan mengulurkan tangan kepada siapa pun yang terlihat kesulitan bahkan tanpa diminta. Berkat sifatnya itu, aku dan Aoi-san sudah banyak terbantu olehnya.


"Tapi tetap saja... bukankah ini terlalu ramai?"


"Kurasa ini masih tergolong sedikit dibandingkan saat aku datang bersama Izumi sebelumnya."


Yang mengatakan itu dengan senyum segar yang seolah tidak merasakan panas sedikit pun adalah sahabatku, Sazarashi Eiji.


Dulu kami satu taman kanak-kanak, lalu aku sempat meninggalkan kota ini karena mutasi kerja ayahku. Setelah aku kembali lagi ke sini, kami bertemu lagi di SMP dan berteman hingga sekarang. Dia adalah salah satu dari sedikit teman yang tahu masa laluku.


Ngomong-ngomong, dia berpacaran dengan Izumi. Berbeda dengan Izumi yang penuh energi, Eiji memiliki kepribadian yang lembut, tenang, dan selalu melihat segala sesuatu dengan kepala dingin dari sudut pandang yang objektif.


Aku masih tidak paham kenapa dua orang dengan kepribadian bertolak belakang ini bisa awet. Tapi selain itu——


"Ini masih sedikit? Yang benar saja?"


Aku kembali menatap lautan manusia sambil tertunduk lemas.


"Sudahlah panas, orang sebanyak ini malah bikin makin pengap..."

Menurut berita pagi tadi, suhu tertinggi hari ini mencapai 35 derajat Celsius. Meski musim hujan sudah lewat, musim panas kali ini rasanya terlalu bersemangat. Padahal masih pagi, tapi sinar mentari sudah menyengat, dan cahaya matahari yang terik membuat keringat mengucur hingga kausku menempel di kulit. 


Aku menarik kerah bajuku dan mengibas-ngibaskannya untuk mengirim angin ke dalam, tapi itu hanya memberikan sedikit kelegaan. Air mineral botol yang kubeli sebelum berangkat sudah habis lebih dari setengahnya.


"Akira-kun payah ah, semangatnya rendah sekali. Kita sudah jauh-jauh datang, ayo dong lebih semangat!"


"Hanya kamu saja yang bisa tetap semangat di tengah panas dan kerumunan orang seperti ini."


Saat aku mengeluh, Izumi mendekatiku dengan wajah yang terlihat lebih tidak puas daripada aku. Kukira dia akan mengomel, tapi tiba-tiba ekspresi Izumi berubah menjadi seringai nakal.


Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku seolah ingin membisikkan rahasia dan berkata pelan.


"Yah, tapi begitu melihat Aoi-san pakai baju renang, mau tidak mau semangatmu pasti naik drastis kok ♪"


"A-a-apa-apaan sih yang kamu omongkan!"


"Baju renang Aoi-san, hebat banget lhooo..."


Apa katanya—!?


"Tak disangka dia bakal pilih baju renang seperti itu, ternyata dia punya sisi berani juga ya."

"Serius!?"


Tanpa sadar suara hatiku lolos dan bergema di sekitar. 


Orang-orang di dekat kami langsung menatapku seolah melihat orang mencurigakan, membuatku refleks menutup mulut dengan kedua tangan.


Aku tahu saat Izumi mengajak ke kolam renang, dia menemani Aoi-san membeli baju renang karena Aoi-san tidak punya, tapi aku belum dengar baju renang seperti apa yang dia pilih.


...Serius sehebat itu?


"Eh, Aoi-san! ♪"


Izumi berbalik dan memberikan senyum pada Aoi-san.


"Hmm? Ada apa?"


"Ti-tidak ada apa-apa kok!"


Aoi-san, yang sama sekali tidak tahu isi percakapan kami, memiringkan kepalanya dengan manis sambil tersenyum.


Maafkan aku Aoi-san, tapi kepalaku mulai dipenuhi imajinasi tentang dirimu dalam balutan baju renang. Tolong maafkan aku, karena bagi siswa SMA laki-laki yang sehat, berimajinasi adalah semacam kewajiban....Kalau bisa, aku harap itu bikini.


"Yah, bagaimanapun juga, Akira-kun itu laki-laki ya."


"Sudahlah, kamu diam saja..."


"Hahaha! ♪"

Izumi lari ke samping Eiji dengan wajah seperti anak kecil yang baru saja menjahili temannya.


Ya sudahlah, digoda seperti itu sudah jadi makanan sehari-hari.


"Bukannya aku semangatnya rendah karena tidak suka ke kolam renang."


Malah, jika aku bisa memuja sosok Aoi-san berbaju renang, aku sangat menyambutnya. Namun, ada alasan kenapa aku tidak bisa benar-benar merasa gembira.


"Bukankah kita sudah sepakat untuk mencari nenek Aoi-san begitu masuk liburan musim panas? Aku merasa tidak enak untuk bersenang-senang kalau berpikir kita tidak punya waktu luang untuk bermain seperti ini."


Meskipun libur musim panas berlangsung lebih dari sebulan, aku tidak bisa bersikap santai.


Aoi-san punya kerja paruh waktu di kafe selama liburan, dan dia juga berencana ikut kegiatan sukarela yang diadakan sekolah. Karena itu, sejujurnya di hari-hari yang tidak ada jadwal, aku ingin mengalokasikan waktu untuk mencari rumah neneknya.


"Kami juga ingin memprioritaskan pencarian nenek Aoi-san, kok."


"Kalau begitu——"


"Tapi, memikirkan bahwa ini mungkin musim panas terakhir aku bisa menghabiskan waktu dengan Akira seperti ini, aku rasa membuat kenangan dengan Akira sama pentingnya dengan mencari nenek Aoi-san."


"Benar, benar. Aoi-san juga berpikir begitu, kan?"

"Iya. Aku senang dengan perhatianmu, tapi aku juga ingin membuat kenangan dengan Akira-kun."


"Semuanya..."


Bagiku yang akan segera pindah sekolah, ini adalah musim panas terakhir yang bisa kuhabiskan bersama semuanya di masa SMA. Mungkin hubungan kami akan tetap berlanjut meski kami sudah jadi mahasiswa atau pekerja nanti.


Tetap saja, ada rasa sesak saat membayangkan perpisahan yang akan datang. Jika bisa, aku tidak ingin pindah sekolah, tapi karena aku tahu itu mustahil, aku ingin membuat kenangan sebanyak mungkin.


Sejujurnya, mungkin akulah yang paling merasa demikian jauh di dalam lubuk hati.


"Lagipula, kalau soal mencari nenek, kita bisa membicarakannya di sini sambil istirahat, kan?"


"......Benar juga."


Kalau sudah dibilang begitu, aku pun jadi merasa ingin ikut menikmati hari ini. Lagipula, tidak enak juga kalau aku sendirian yang tidak bersemangat dan malah merusak suasana.


"Baiklah, setidaknya untuk hari ini mari kita bersenang-senang."


Aku memutuskan untuk mengubah suasana hatiku, merasa bersyukur atas perhatian teman-temanku.


"Nah, lihat! Gerbang masuknya sudah kelihatan. Aoi-san, ayo!"


"Iya!"


"Aku pergi duluan buat beli tiket ya, titip barang-barangnya!"


"Oke. Hati-hati jangan sampai lari-larian lalu jatuh ya."


"Pacarku memang baik banget deh. Aku mencintaimu!"


"Aku juga mencintaimu."


Izumi menyerahkan tasnya dan tas Aoi-san kepada kami, lalu seperti biasa, dia meneriakkan pernyataan cinta tanpa peduli pandangan orang sekitar sebelum akhirnya berlari menarik Aoi-san. Kelakuannya sudah terlalu 'normal' sampai-sampai aku tidak berminat lagi untuk berkomentar.


Aku dan Eiji menyusul mereka berdua perlahan sambil menjinjing barang-barang yang dititipkan.


"Aku tahu perasaanmu sedang tidak tenang, tapi mari kita jalani dengan santai. Kurasa itu juga lebih baik bagi Aoi-san."


"Lebih baik bagi Aoi-san juga?"


Eiji melanjutkan bicaranya sambil menatap punggung mereka berdua.


"Aku mengerti perasaanmu yang ingin segera menemukan neneknya secepat mungkin demi Aoi-san. Tapi, kalau liburan musim panas ini berakhir hanya dengan urusan itu saja, Aoi-san pasti akan merasa terbebani, bukan?"


Kata-kata Eiji membuatku tersentak.


"Aoi-san memang berterima kasih karena kita mau membantu, tapi entah kenapa dia terlihat sungkan, atau lebih tepatnya merasa berutang budi, kan? Aku dan Izumi sedikit mengkhawatirkan bagian itu."

"......Kalian berdua menyadarinya ya."


Tepat seperti yang dikatakan Eiji, Aoi-san memang punya sisi seperti itu. Sifatnya cenderung merasa bersalah daripada sekadar berterima kasih atas kebaikan orang lain. Alasan Aoi-san sempat ingin menghilang pada hari upacara penutupan pun karena dia merasa terbebani oleh kebaikan semua orang. Niat baik kami, tanpa disadari, telah menyudutkannya.


Aku benar-benar tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama lagi.


"Tapi, kurasa akhir-akhir ini Aoi-san mulai berubah."


"Berubah?"


"Dibandingkan saat pertama bertemu, dia jadi lebih banyak bicara, sering tersenyum, dan mulai mau mengutarakan perasaannya. Aku tidak tahu apa alasannya."


Sebenarnya, aku pun memiliki kesan yang sama dengan Eiji. Contohnya tadi, saat Eiji bilang ingin membuat kenangan denganku. Meski itu karena Izumi yang memancing percakapannya, Aoi-san secara spesifik mengutarakan keinginannya dengan berkata, "Aku juga ingin membuat kenangan dengan Akira-kun." Jika itu Aoi-san yang dulu, dia pasti hanya akan menjawab singkat, "Iya ya."


Mungkin terlihat sepele, tapi bagi kami yang mengenal Aoi-san, itu adalah perubahan besar. Aku juga menyadarinya secara samar, tapi karena Eiji juga berpikir begitu, berarti itu memang nyata.


"Kukira ini perubahan yang bagus buat Aoi-san. Jadi, supaya dia tidak merasa terbebani, kurasa keseimbangan yang pas itu adalah: kita banyak bermain bersama, mencari nenek Aoi-san dengan serius, dan barulah kalau ada waktu sisa, kita buat kenangan dengan Akira."


"Oi, oi, sudah bicara keren begitu, masa bagian buat kenangan denganku cuma jadi 'kalau ada waktu sisa'?"


"Dibandingkan rencana yang lain, bagianmu memang cuma tambahan, kan?"


"Yah, benar juga sih."


Aku membalas candaan Eiji dengan candaan lagi, yang kemudian dibalasnya kembali. Jarang sekali Eiji bercanda, tapi dia pasti melakukannya agar pembicaraan kami tidak menjadi terlalu berat.


"Apa yang kamu katakan benar, Eiji. Hampir saja aku membuat Aoi-san merasa terbebani lagi."


"Tidak perlu dipikirkan. Justru karena kita sangat memedulikan orang lain, terkadang ada hal-hal yang terlewatkan. Itu juga terjadi antara aku dan Izumi. Kita belum cukup dewasa untuk bisa memperhatikan segala hal sendirian, jadi mari kita bekerja sama dalam hal yang kita bisa. Itulah gunanya teman."


"Benar...... Eiji, terima kasih ya."


"Kalau mau berterima kasih, sampaikanlah pada Izumi."


"Izumi?"


"Semua yang aku katakan tadi sebenarnya adalah kata-kata Izumi. Sama seperti kamu yang ingin menghapus kesalahpahaman tentang Aoi-san atau ingin mencarikan neneknya, Izumi juga punya keinginannya sendiri: dia ingin Aoi-san jadi lebih berani mengutarakan perasaannya. Dia ingin Aoi-san bisa jadi sedikit 'egois' dalam artian yang positif."


"Begitu ya......"

Saat pertama bertemu Aoi-san, aku merasa sangat terdesak bahwa akulah yang harus melakukan sesuatu. Tapi sekarang, aku merasa sangat senang karena ada teman-teman lain yang juga memikirkan Aoi-san. Setelah aku pindah sekolah nanti pun, selama ada Eiji dan Izumi, Aoi-san pasti akan baik-baik saja.


Selama semuanya terselesaikan, aku bisa meninggalkan tempat ini dengan tenang. Karena itulah, aku hanya perlu menuntaskan apa yang harus kulakukan.


"Karena alasan itulah, nikmatilah hari ini sepuasnya."


"Dimengerti. Kalau sudah diputuskan begitu, mari kita bermain sekuat tenaga!"


Sambil merasa bersyukur atas perasaan mereka berdua, kami pun menyusul Izumi dan Aoi-san.



"Wah...... luar biasa."


Setelah selesai berganti pakaian di ruang ganti dan melewati gerbang masuk, aku tak kuasa menahan decak kagum melihat luasnya tempat ini. Sambil terpesona oleh lahan luas yang membentang di depan mata, aku melihat papan petunjuk di dekat situ. Luas totalnya setara dengan dua stadion Tokyo Dome. Pantas saja tempat ini disebut Pool Dua Puluh Ribu Orang.


Di dalam area tersebut, selain berbagai kolam renang besar dan kecil yang bisa dinikmati orang dewasa hingga anak-anak, terdapat juga seluncuran air yang panjangnya lebih dari tiga ratus meter. Selain itu, fasilitas seperti toko dan restoran pun tampaknya sangat lengkap.


"Kalau seluas ini, bakal repot sekali kalau sampai tersesat."


"Benar. Bukan cuma anak-anak, orang dewasa pun sering tersesat di sini."


Tepat setelah Eiji berkata begitu, pengumuman tentang anak hilang terdengar bertubi-tubi dari pengeras suara, membuatku ingin berkomentar apakah ini sebuah lelucon. Seberapa pun luas lahan yang tersisa di pedesaan, ini benar-benar terlalu luas.


"Ini masih tergolong sepi ya? Pasti gawat sekali saat sedang ramai-ramainya."


"Ini pertama kalinya buat Akira, ya?"


Eiji bertanya sambil memompa pelampung menggunakan kompresor udara yang ada di samping gerbang masuk.


"Iya. Kamu dan Izumi pernah bilang kalau kalian pernah ke sini waktu SMP, kan?"


"Yap. Waktu itu kami datang pas libur Obon, dan kurasa orangnya dua kali lipat lebih ramai dari sekarang. Saking penuhnya sampai tidak bisa dipakai berenang, makanya aku dan Izumi sepakat kalau libur musim panas tiba, kami harus datang lebih awal."


"Begitu ya. Keputusan yang tepat."


Sambil mengobrol, pengisian angin pelampung pun selesai. Eiji melemparkan salah satu pelampung ke arahku.


"Kalau begitu, ayo kita cari tempat."


"Tidak menunggu mereka berdua?"


"Anak perempuan butuh waktu lama untuk ganti baju. Lebih baik kita amankan tempat duluan, kalau sudah dapat baru beri tahu mereka lewat pesan singkat."


"Benar juga."


Begitulah, aku dan Eiji melangkah lebih dulu untuk mengamankan tempat.


Sambil memandang sekeliling area, aku berpikir bahwa apa yang dikatakan Eiji benar—hari ini tergolong sepi. Kolam renang tidak terlihat terlalu padat, dan meski area rumput di sepanjang kolam sudah banyak dipenuhi tikar piknik atau tenda, masih ada cukup ruang untuk memilih tempat.


Kami menggelar tikar di area yang teduh oleh pepohonan, meletakkan barang-barang, dan menunggu mereka berdua.


"Oooiii!"


Tak lama kemudian, suara Izumi yang sudah akrab di telinga terdengar menggema. Begitu aku menoleh, suara Izumi seolah melesat menembus telinga kanan ke kiri——


"Tempat yang bagus ya. Di sini teduh, jadi cocok banget buat tempat istirahat ♪"


Di samping Izumi yang tampak senang, terlihat sosok Aoi-san yang sedang menutupi dadanya dengan barang bawaan karena malu.


"Aoi-san, taruh saja barangnya di sini."


"Ah——"


Izumi mengambil barang bawaan Aoi-san seolah merebutnya. 

Seketika itu juga, sosoknya yang mengenakan baju renang yang selama ini tersembunyi pun terekspos.


"Oooohh......"


Baju renang yang dikenakan Aoi-san adalah flare bikini bermotif bunga warna-warni dengan warna dasar putih. Meski coraknya berwarna-warni, kesan yang ditimbulkan tidak terlalu mencolok, malah terlihat elegan. Apakah karena warna dasarnya yang putih, atau karena aura yang terpancar dari orang yang memakainya?


Meski area kainnya tergolong minim, kesan yang menonjol bukanlah kevulgaran, melainkan kemurnian.


Yang terpenting, rambutnya yang biasa digerai kini diikat ponytail. Tengkuk yang terlihat tanpa sengaja ini adalah satu dari "Tiga Pemandangan Besar Musim Panas" pilihan siswa SMA laki-laki, setara dengan pusar yang mengintip dan bra yang menerawang. Karena awal musim panas ini dimulai dengan baik, aku benar-benar ingin melengkapi koleksi pemandangan tersebut.


Ngomong-ngomong, favorit pribadiku adalah tengkuk, tapi kalian suka yang mana?


"Lho lho lhoo~? Akira-kun, bukannya wajahmu terlihat agak terlalu 'bersemangat' ya~?"


"Tidak, tuh!"


Paling cuma melongo dua milimeter saja!


Meski aku langsung membantah, mataku tidak bisa berpaling, yang kurasa membuat bantahanku sama sekali tidak meyakinkan.


Sementara itu, baju renang yang dipakai Izumi adalah bikini tipe off-shoulder dengan warna dasar kuning. Warna cerahnya sangat cocok dengan Izumi yang periang, memberikan kesan gadis cantik yang sehat. Setiap kali dia melangkah, rumbai-rumbainya bergoyang-goyang, menciptakan gerakan provokatif yang mau tidak mau akan mencuri pandangan. Buktinya, pandangan laki-laki di sekitar mulai berkumpul ke arah dada Izumi.


Ngomong-ngomong, kalian mungkin bingung kenapa aku tahu istilah seperti flare atau off-shoulder. Itu karena sejak Aoi-san pergi membeli baju renang bersama Izumi, aku sangat penasaran sampai-sampai mencarinya di internet sambil mengadakan "peragaan busana" di dalam kepalaku. Tapi tentu saja, hal ini tidak akan kubocorkan sampai mati.


Kalau aku jadi perempuan, membayangkan seseorang mengimajinasikan penampilanku berbaju renang pasti terasa menjijikkan... tapi seperti yang kubilang tadi, imajinasi adalah tugas suci siswa SMA, jadi tolong rahasiakan ini.


"Nah, Aoi-san."


"I-iya......"


Izumi mendorong punggung Aoi-san agar berdiri tepat di depanku. Ekspresi Aoi-san terlihat sangat malu sampai-sampai tampak seperti ingin menangis.


Entah kenapa...... padahal selain berimajinasi aku tidak melakukan hal buruk apa pun, tapi melihat ekspresi Aoi-san yang seperti ini membuatku merasa bersalah atau berdosa, perasaan yang campur aduk.


"Anu, itu...... baju renangnya, bagaimana menurutmu?"


"Eh——!?"


Pertanyaan yang sangat tidak terduga itu membuatku berseru keras. Aku tidak pernah menyangka Aoi-san akan meminta pendapatku.


"E-enggak...... itu, maksudku......"


Melihat Aoi-san yang wajahnya memerah padam, aku pun ikut merasa malu yang luar biasa. Aoi-san punya kebiasaan menutupi wajahnya dengan tangan saat merasa malu, tapi saat ini dia sepertinya sedang menahan diri sekuat tenaga; alih-alih menutupi wajah, tangan kanannya mencengkeram lengan kirinya. 


Mungkin dia berusaha menutupi tubuhnya sebisa mungkin, tapi tindakan itu justru secara alami menekan kedua dadanya yang indah ke tengah, membuatnya makin terlihat provokatif.


Tentu saja itu sangat cocok untuknya, dan sejujurnya aku ingin memohon agar diizinkan mengambil setidaknya satu foto, tapi kalau aku mengatakannya, kepercayaan yang kubangun selama ini pasti akan hancur seketika.


Aku akan menahan diri soal foto, jadi setidaknya biarkan aku memandangnya sedikit lebih lama.


"Ayo, anak perempuan sudah bertanya pendapatmu, lho. Kamu harus memberikan setidaknya satu kalimat yang manis ♪"


Izumi mendesakku untuk segera memberikan komentar. Memuji perempuan saja sudah membuatku malu setengah mati, apalagi dalam balutan baju renang—tingkat kesulitannya terlalu tinggi! Aku merasa seperti sedang digiring dengan sengaja oleh Izumi.


"Sa...... sangat cocok untukmu."


Begitu kata-kata itu keluar, wajahku terasa panas seolah-olah terbakar.


"Te-terima kasih......"


"Sama-sama......"


Aduh, ini memalukan sekali!


Aoi-san yang tampaknya juga tidak kuat lagi menahan rasa malu akhirnya menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


“”............””


Bagaimana aku harus mencairkan suasana yang kaku ini!


"Sebenarnya, tadinya aku mau pilih baju renang yang tidak terlalu terbuka. Tapi Izumi-san bilang, kalau sudah SMA itu harus pakai bikini... tapi aku senang sudah memberanikan diri untuk mencoba."


Tanpa sadar aku melirik ke arah Izumi.


Benar saja, Izumi sedang memasang wajah bangga sambil berpose peace, seolah berkata 'berterima kasihlah padaku'.


Aoi-san itu terlalu polos, dia punya sifat yang gampang percaya apa pun yang dikatakan orang lain. Contohnya, saat kamp pelatihan belajar di rumahku sebelum ujian, Izumi mencekokinya dengan hal-hal asal seperti "kalau kamp pelatihan itu harus ada camilan malam" atau "kalau pesta piyama perempuan itu harus mandi bareng", dan dia mempercayainya bulat-bulat.


Singkatnya, pilihan bikini dan inisiatifnya meminta pendapatku tadi pasti semuanya adalah ajaran Izumi.


Sambil membatin 'dia mengajarinya hal aneh lagi', untuk kali ini saja aku tidak bisa tidak berterima kasih dari lubuk hatiku yang paling dalam.


Ya. Kalau hal semacam ini, tolong ajari dia terus ya. Aku menantikan episode selanjutnya.


"Okeee! Kalau begitu, ayo langsung main!"


Setelah berseru begitu, Izumi memungut pelampung yang tadi diletakkan dan menuju kolam arus. Dia mengapungkan pelampungnya, lalu dengan lihai melompat naik dari pinggir kolam.


Itu lho, gaya mengapung dengan mendudukkan bagian bokong tepat di tengah lubang pelampung.


"Semuanya cepat ke sini~!"


Izumi melambai sambil mulai hanyut terbawa arus.


"Mari kita pergi juga."


"Iya. Aoi-san, ayo."


"Ehm, tapi... anu..."


"Ada apa?"


Aoi-san berucap dengan nada sungkan.


"Aku tidak terlalu bisa berenang..."


"Tenang saja. Kedalamannya masih bisa dipijak, ada pelampung juga, dan kalau terjadi apa-apa aku akan ada di sampingmu kok."


"Iya. Terima kasih."


Bersama Aoi-san yang kini memasang ekspresi lega, kami menuju pinggir kolam. Aku masuk ke dalam kolam duluan untuk menahan pelampungnya, lalu Aoi-san naik dengan posisi duduk di tengah lubang pelampung seperti Izumi.


"Siap. Ayo jalan."


"Pe-pelan-pelan saja ya."


"Tentu."


Saat aku berputar ke belakang untuk mendorong pelampungnya, tanpa sengaja tengkuk Aoi-san tertangkap oleh mataku.


Benar-benar sebuah keuntungan. Sambil diam-diam mengagumi tengkuk Aoi-san, aku terus maju dan bergabung dengan Izumi dan yang lainnya. Saat itulah, ketika kami sedang membiarkan diri terbawa arus sambil memperhatikan mereka berdua yang bercanda di atas pelampung.


"Akira, lihat itu."


"Hm?"


Eiji menunjuk ke kejauhan dengan ekspresi yang jarang ia tunjukkan, seolah sedang merencanakan sesuatu. Saat aku mengalihkan pandangan ke sana, terlihat sebuah ember raksasa terpasang di atas kolam.


Itu dia. Jenis wahana di mana air akan terus terisi seiring berjalannya waktu, dan setelah penuh, air dalam jumlah besar akan tumpah mengguyur ke bawah.


Bahkan saat aku memperhatikannya, air yang sudah penuh tumpah dengan derasnya, dan di bawahnya terlihat orang-orang yang tersiram air dari kepala tampak bersenang-senang dengan ceria.


"Begitu ya..."


Seketika jiwa jahilku terpantik.


Setelah memahami maksud Eiji, aku berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan menggiring mereka berdua ke bawah ember tersebut.


"Tu-tunggu sebentar kalian berdua!"


Sesaat kemudian, Izumi berseru dengan nada panik.


"Eh? Ada apa?"


"Apanya yang ada apa, kalau begini terus kita bakal——"


Saat mereka menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Izumi dan Aoi-san yang berada di atas pelampung tidak punya cara untuk mengubah arah.


Aku menghitung waktu yang pas saat air akan tumpah, lalu mendorong mereka sekaligus tepat ke bawahnya.


"KYAAA!"


Jeritan Izumi dan Aoi-san pun pecah.


"Ihh! Apa-apaan sih kalian!"


Izumi mengomel sambil tersenyum, sambil menyibakkan rambutnya yang basah kuyup.


"Aduh, maaf, tanganku terpeleset nih."


"Bohong! Pasti sengaja!"


Membiarkan Izumi yang terus mengomel kepada Eiji, aku memeriksa keadaan Aoi-san.


"Aoi-san, kamu tidak apa-apa?"


"Iya, tidak apa-apa. Tadi sempat kaget, tapi seru sekali."


Aoi-san menjawab sambil tersenyum manis sembari menyeka sisa-sisa air dari wajahnya.


"Oke! Kalau begitu, sekali lagi!"


"Hah!? Tunggu sebentar, nanti riasanku luntur!"


"Riasan mah dibiarkan juga bakal luntur sendiri, jadi jangan dipikirkan!"


"Ya dipikirkanlah!"


Tanpa memedulikan perkataan Izumi, kami berempat menerjang ke bawah ember berikutnya.


Sambil memandangi Izumi yang sampai jatuh terguling dari pelampungnya karena saking semangatnya——aku terkejut sendiri, padahal sebelum datang tadi aku sedang tidak mood, tapi begitu mulai bermain, aku malah jadi yang paling menikmati.


Aku merasa ini semua berkat Izumi dan Eiji, rasanya hanya ada rasa terima kasih yang mendalam.



Begitulah, kami menghabiskan waktu pagi dengan bermain di kolam renang dan seluncuran air.


Waktu yang menyenangkan berlalu begitu cepat, tak terasa jarum jam sudah melewati angka dua belas siang.


Karena lapar, kami melangkahkan kaki menuju restoran yang ada di dalam fasilitas ini untuk makan siang. Masing-masing memesan makanan kesukaan, lalu duduk di meja untuk empat orang dan mulai menyantap hidangan.


"Padahal baru dua jam lebih sedikit, tapi kulitku sudah mulai memerah."


Izumi memandangi lengannya yang terbakar matahari sambil menyeruput hiyashi chuka (mi dingin).


Mendengar ucapan Izumi, aku mengecek lenganku sendiri dan benar saja, warnanya sudah merah. Aku tidak masalah kulitku terbakar, tapi aku sudah bersiap mental bahwa mandi nanti malam atau besok malam pasti rasanya akan seperti neraka.


"Aoi-san sepertinya aman-aman saja ya."


"Iya. Soalnya aku sudah pakai tabir surya."


"Oh ya? Harusnya aku bawa juga tadi."


"Kamu kan bukan tipe yang peduli gituan, Izumi. Pas SMP saja kalau musim panas kulitmu selalu hitam legam."


"Aku juga kan sekarang sudah masuk usia yang peduli soal penampilan tahu—!"


Izumi mengerucutkan bibirnya sambil menyuarakan protes.


"Nanti kalau sudah selesai makan, aku pinjamkan tabir suryaku."


"Boleh!?"


"Iya. Tapi karena kutinggal di loker, nanti kita ambil dulu ya."


"Aoi-san, terima kasih!"


Izumi memeluk Aoi-san sambil menggosokkan pipinya sebagai tanda terima kasih.


Awalnya, Aoi-san sempat terlihat bingung dengan skinship Izumi yang berlebihan, tapi akhir-akhir ini sepertinya dia mulai terbiasa; bahkan saat dipeluk pun, dia mulai balas memeluk, yang mana sangat manis untuk dilihat.


Kalau ini dilakukan sesama cowok sih bakal menjijikkan, tapi kalau sesama perempuan, tidak buruk juga.


"Nah, sambil istirahat, bagaimana kalau kita mulai rapat strategi untuk ke depannya?"


Beberapa saat kemudian setelah selesai makan, Eiji membuka pembicaraan.


"Seperti yang Akira katakan, memang benar kita tidak bisa terus-terusan bersantai."


"Benar."


Meski begitu, kenyataannya kami belum punya petunjuk yang kuat.


Pertama-tama, kami perlu merapikan situasi yang ada.


"Tadinya aku berniat mendatangi seluruh kota dan desa di prefektur ini berdasarkan ingatan Aoi-san begitu libur musim panas tiba...... tapi kalau dipikir-pikir lagi, mustahil untuk berkeliling semuanya dalam satu bulan. Kita harus mempersempit wilayahnya. Jadi, pertama-tama, aku ingin bertanya sekali lagi pada Aoi-san."


Aoi-san mengangguk pelan menanggapi perkataanku.


"Aoi-san tidak tahu nenek tinggal di mana, kan?"


"Iya. Terakhir kali aku ke sana itu sesaat sebelum orang tuaku bercerai, kurasa waktu aku masih kelas satu SD...... Karena masih kecil, aku tidak tahu itu di kota mana, dan aku juga tidak tahu jalan menuju rumahnya."

"Begitu ya......"


Itu sudah kejadian sembilan tahun yang lalu. Wajar saja kalau dia tidak ingat hal-hal saat masih kelas satu SD. Kalau begitu, aku butuh informasi sekecil apa pun.


"Apa ada hal yang kamu ingat? Misalnya seberapa jauh dari sini, atau ada apa di dekat sana. Informasi apa pun tidak masalah, mungkin kita bisa mempersempit lokasinya."


"Hmm, mari kita lihat......"


Aoi-san meletakkan tangan di mulutnya, matanya bergerak-gerak seperti sedang menelusuri ingatan.


Tak lama kemudian, dia mulai menyebutkan hal-hal yang dia ingat secara berurutan.


"Mungkin...... jaraknya sekitar satu jam perjalanan mobil dari rumah. Sekitar rumah nenek dikelilingi oleh sawah dan pegunungan. Lalu...... di dekat sana ada kuil, dan waktu aku ke sana pas musim panas, sedang ada festival. Aku ingat pernah diajak nenek ke sana."


Tempat yang berjarak sekitar satu jam mobil dari kota tempat tinggal kami, dan wilayah yang dikelilingi sawah serta gunung.


Singkatnya, daerah pedesaan tipikal. Hanya saja......


“””.....”””


Kami semua terdiam karena semua orang berpikir bahwa mencari berdasarkan informasi tersebut sangatlah sulit.


Prefektur tempat kami tinggal tidak memiliki laut, dan jika meninggalkan area perkotaan, maka sebagian besar wilayahnya dikelilingi gunung. Karena hampir semuanya adalah desa tipikal, terlalu banyak tempat yang cocok dengan informasi dari Aoi-san.


Ibaratnya seperti melempar batu ke Samudra Pasifik untuk mengenai satu ekor ikan medaka yang kabur.


Meski begitu, jika harus dipersempit dari informasi yang ada——


"Setidaknya sepertinya bukan di wilayah selatan prefektur."


"Iya, aku juga setuju."


Aku membuka aplikasi peta di ponsel dan meletakkannya di meja agar semua orang bisa melihat.


"Prefektur kita memang banyak daerah pegunungan, tapi kalau ke arah selatan sejauh satu jam mobil, itu isinya pusat kota dan tidak ada pegunungan. Kemungkinan di selatan sangat kecil."


"Wilayah timur juga sepertinya bukan. Memang pedesaan, tapi lahannya cenderung terbuka luas. Jadi kalau sesuai syarat, kemungkinan besar di wilayah utara atau barat. Tapi, karena ini kejadian hampir sepuluh tahun lalu, mungkin saja sudah ada penggabungan wilayah atau pengembangan kota, jadi ingatan Aoi-san mungkin berbeda dengan kondisi sekarang."


"Benar, hal-hal seperti itu terkadang sering terlewatkan ya......"


Memang bagus kami bisa mempersempit wilayahnya, tapi tetap saja cakupan pencariannya masih sangat luas.


Aku menampilkan peta wilayah utara dan barat. Disuruh mencari dari daerah sebanyak ini......


“”””............””””

Hening untuk kedua kalinya hari ini. Suasananya benar-benar terasa berat. Apa kami benar-benar bisa menemukannya dalam libur musim panas ini?


"Aduh, sudah! Semuanya jangan pasang muka suram begitu!"


Tiba-tiba Izumi berseru seolah ingin mengusir atmosfer yang mirip suasana duka tersebut.


"Bisa mempersempit lokasi sampai sejauh ini saja sudah syukur banget tahu. Awalnya kan kita memang berniat mencari satu-satu, dan siapa tahu sambil mencari nanti Aoi-san bakal ingat banyak hal lagi. Kita sudah tahu dari awal kalau informasinya sedikit, jadi jangan mendadak merasa pesimis sekarang!


Ayo, semuanya senyum! Nah, Akira-kun juga!"


"Aduh, aduh, aduh! Sakit!"


Iya, aku mengerti, tapi jangan tarik pipiku paksa begitu dong. Lagipula, kenapa harus wajahku? Pakai wajah Eiji saja sana.


"Tapi benar juga. Apa yang dikatakan Izumi ada benarnya," pikirku sambil mengusap pipi yang terasa perih.


Di saat-saat seperti ini, sifat Izumi yang kelewat positif benar-benar menjadi penyelamat. Padahal yang paling merasa cemas seharusnya adalah Aoi-san, tapi kalau kami ikut-ikutan murung, itu malah akan membuat Aoi-san semakin tidak tenang.


Meski ini terlihat seperti tugas yang mustahil, setidaknya di depan Aoi-san, aku harus bersikap ceria. Aku pun memantapkan niat untuk mencari rumah itu meski harus menyisir satu demi satu wilayah. Hanya saja, jika ada satu hal yang aku khawatirkan——


"Kalaupun kita fokus mencari di wilayah utara dan barat, jangkauan pencarian dalam sehari pasti terbatas. Pindah-pindah menggunakan kereta atau bus saja akan memakan banyak waktu...... kalau saja ada cara yang lebih efisien."


"Kalau soal itu, aku punya ide."


Eiji menjawab dengan cepat, seolah-olah dia sudah menyiapkan kata-kata itu sebelumnya. Di sampingnya, Izumi memasang senyum bangga.


"Bagaimana kalau kita menjadikan vila keluargaku sebagai markas?"


"Vila?"


Keluarga Eiji punya vila?


"Kakekku membeli sebuah vila di wilayah utara prefektur sudah lama sekali. Kalau mau mencari di area utara dan barat, kurasa akan lebih efisien jika menjadikannya sebagai titik pusat. Vila itu sudah dibiarkan tak terurus selama lebih dari dua tahun, jadi aku sudah meminta izin kepada orang tuaku untuk memakainya dengan syarat kami yang akan membersihkan dan merapikannya."


"Meminta izin? Maksudnya kamu sudah membicarakan ini dengan mereka?"


Eiji mengangguk dengan senyum seolah itu adalah hal yang wajar.


"Karena aku sudah dengar kalau rumah nenek Aoi-san ada di pedesaan. Aku dan Izumi sudah berdiskusi sebelumnya dan menduga kemungkinan besar lokasinya di utara atau barat. Karena sudah jelas waktu perjalanan akan menjadi kendala, aku sudah bicara duluan dengan orang tuaku."


"Eiji, kamu......"


Tak kusangka dia sudah mengatur semuanya sampai sejauh itu.


"Aku tahu kamu ingin segera menemukan rumah nenek Aoi-san secepat mungkin. Kami tidak mungkin mengajakmu ke kolam renang dengan santai tanpa rencana kalau kami tahu kamu sedang cemas."


"Begitu ceritanya~ ♪"


Izumi mengintip wajahku dengan tampang puas, tapi untuk kali ini saja, biarkan dia bersikap sesukanya.


Sudah tak terhitung berapa kali aku memikirkan ini...... bahwa sahabat adalah harta yang paling berharga.


"Kalian berdua, terima kasih ya."


"Izinkan aku juga mengucapkan terima kasih. Eiji-kun, Izumi-san, terima kasih banyak."


Aku dan Aoi-san menundukkan kepala bersamaan kepada mereka berdua. Benar-benar dari awal sampai akhir, kami selalu dibantu oleh mereka.


"Tidak perlu berterima kasih. Lebih baik kita tentukan kapan mau mulai memakai vilanya."


Benar juga...... sebenarnya aku ingin secepatnya, tapi.


"Aku akan sangat terbantu kalau kita mulai dari awal Agustus. Hiyori juga setuju untuk membantu, tapi dia baru kembali ke sini akhir bulan ini. Aoi-san, bagaimana dengan jadwal kerja paruh waktumu?"


"Iya. Kurasa tidak apa-apa kalau aku bicarakan dengan manajer."


"Kalau begitu, mari kita putuskan. Keberangkatan tanggal 1 Agustus pagi——"


Meskipun tugas ini terlihat mustahil, semuanya tidak akan dimulai jika kami hanya diam di tempat.


Untuk sekarang, mari kita lakukan apa yang bisa dilakukan selangkah demi selangkah.


"Oke! Karena rencananya sudah diputuskan, rapat selesai. Ayo kita main sepuasnya di siang ini!"


Di bawah komando Izumi, kami merapikan alat makan dan meninggalkan restoran. Di tengah teriknya sinar matahari siang, kami menikmati kolam renang seolah-olah melupakan rasa panas yang menyengat.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close