NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi V2 Chapter 4

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 4

Tim Penyelamat Musim Panas

Bagian 1

Keesokan harinya, pencarian rumah nenek Aoi-san pun dimulai. Karena waktu kami terbatas, kami ingin mencari sampai selarut mungkin selagi sempat. Karena sedang musim panas dan hari terasa lebih panjang, jika mau, kami bisa terus mencari sampai sekitar jam tujuh malam. Namun, yang menjadi masalah adalah hawa panas ini.


Antara jam satu hingga jam tiga siang saat panas mencapai puncaknya, terlalu berbahaya untuk terus berkeliling di luar ruangan. Oleh karena itu, kami perlu mengambil waktu istirahat makan siang yang agak lama untuk mendinginkan tubuh.


Alhasil, jika dikurangi waktu istirahat, waktu efektif untuk mencari sebenarnya tidak terlalu panjang.


Setelah berunding, kami mencapai kesimpulan bahwa jika tidak bisa bergerak di siang hari, maka kami harus mulai sejak pagi buta. Kami memutuskan untuk menyewa sepeda pada jam delapan pagi, tepat saat kantor pengelola yang juga merangkap pusat informasi wisata itu buka.


Sebagai informasi, aku dan Aoi-san bertugas di wilayah barat provinsi, sedangkan Eiji, Izumi, dan Hiyori bertiga bertanggung jawab di wilayah utara.


Untuk hari pertama ini, target kami adalah masing-masing tim mengunjungi lima lokasi, jadi total sepuluh lokasi yang akan diperiksa.


Mungkin terdengar seperti terlalu memaksakan diri sejak awal, tapi karena rencana kami adalah berkeliling mulai dari tempat terdekat, jarak antar kuil di jadwal hari-hari berikutnya akan semakin jauh dan jumlah tempat yang bisa dikunjungi pun akan terbatas.


Singkatnya, kami harus mengunjungi sebanyak mungkin tempat di awal jadwal saat jarak tempuhnya relatif masih pendek.


"Akira-kun, kamu tidak apa-apa?"


Saat sedang mengayuh sepeda, terdengar suara cemas Aoi-san dari tepat di belakangku.


"Iya. Ini pertama kalinya aku naik sepeda tandem untuk dua orang, tapi ternyata lumayan oke kok."


Seperti yang bisa kalian tebak dari percakapan tadi, aku dan Aoi-san sedang menaiki sepeda tandem khusus untuk dua orang.


"Aoi-san sendiri bagaimana? Tidak takut?"


"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."


Sebenarnya pagi tadi, tepat sebelum menyewa sepeda, baru ketahuan kalau Aoi-san tidak bisa naik sepeda.


Mungkin kalian berpikir, kenapa tidak sewa satu sepeda saja lalu Aoi-san membonceng di belakangku? Masalahnya, berboncengan dengan sepeda biasa itu dilarang di jalan raya.


Saat kami hampir putus asa, petugas kantor pengelola yang memahami situasi kami memberi tahu bahwa jika menggunakan sepeda tandem, berboncengan di jalan raya itu diperbolehkan. Begitulah ceritanya.


Perbedaannya dengan sepeda biasa hanyalah memiliki dua set stang, sadel, dan pedal.


Selama orang di depan bisa menjaga keseimbangan, orang yang tidak bisa naik sepeda pun bisa duduk di belakang dengan tenang. Selain itu, menyewa satu sepeda tandem lebih murah daripada menyewa dua sepeda biasa. Ditambah lagi, aku bisa merasakan sensasi seperti sedang berkencan karena berboncengan dengan seorang gadis—benar-benar keuntungan ganda. Tentu saja, aku tidak menunjukkan niat terselubung itu sedikit pun.


"Tapi, benar-benar pedesaan ya."


"Iya. Isinya cuma sawah saja."


Hanya berjarak sedikit dari area vila, sejauh mata memandang yang ada hanyalah hamparan sawah. Walaupun sudah tahu ini pedesaan, melihatnya langsung seperti ini membuatku semakin merasakannya.


Di sepanjang jalan raya provinsi memang lumayan berkembang; ada restoran dan minimarket. Tapi begitu menjauh dua atau tiga blok saja dari jalan besar, langsung tidak ada apa-apa... khas pedesaan sekali.


Meski begitu, bersepeda di jalanan desa yang sepi terasa menyenangkan. Sambil mengayuh mengikuti hembusan angin, terlihat beberapa rumah penduduk dari kejauhan.


"Kuil pertama mungkin di sekitar situ ya?"


"Iya. Sepertinya kuilnya ada di balik pemukiman itu."


"Oke. Mari kita ke sana."


Beberapa saat kemudian setelah melewati deretan rumah, memang ada sebuah kuil kecil seperti kata Aoi-san.


Di area kuil itu berjejer pohon aras (sugi) yang besar, dan suara tonggeret bergema sangat bising. Kami memarkir sepeda di tempat parkir dekat pintu masuk, melewati gerbang torii kecil, dan melangkah masuk ke dalam area kuil. Tidak ada pengunjung lain, hanya ada kami berdua di sana.


"Mari kita berdoa dulu sebentar."


"Iya. Benar juga."


Setelah selesai berdoa, kami mengitari area kuil sambil menginjak kerikil yang berderik. Melihat kondisinya yang kurang terawat, sepertinya tidak ada pendeta yang menetap di sini.


Tadi malam sebelum tidur, aku sempat mencari tahu tentang kuil. Ternyata belakangan ini banyak kuil yang tidak memiliki pendeta karena masalah keuangan atau kurangnya penerus, sehingga sering kali satu pendeta merangkap di beberapa kuil sekaligus. Bahkan jika tetap kekurangan tenaga, terkadang beberapa kuil akan digabung atau ditutup.


Tadinya aku berharap ada pendeta yang bisa ditanyai, jadi rasanya agak disayangkan.


"Bagaimana, Aoi-san? Ada yang kamu kenali?"


Aoi-san menghentikan langkahnya, menatap sekeliling dengan gestur berpikir. Dia pasti sedang mencocokkan ingatan di kepalanya dengan pemandangan di depannya.


"Mungkin... bukan yang ini."


"Begitu ya. Untuk berjaga-jaga, mari kita kelilingi juga area di sekitar kuil ini."


"Iya."


Setelah mengambil beberapa foto untuk dokumentasi, kami meninggalkan kuil dan melihat-lihat lingkungan sekitar. Layaknya perkampungan desa, rumah-rumah yang berjejer hanyalah bangunan kayu tua.


"Ngomong-ngomong, aku sudah lama ingin menanyakan ini."


"Iya? Apa itu?"


"Nenek Aoi-san itu orang yang seperti apa?"


"Hmm... beliau orang yang sangat tenang."


Wajah Aoi-san tampak bernostalgia, dan sudut bibirnya sedikit terangkat.


"Setiap kali aku datang berkunjung, beliau selalu menyambutku dengan senyuman, mengajakku bermain, dan memperlakukanku dengan sangat baik. Terakhir kali aku bertemu beliau saat aku kelas satu SD, tapi senyum lembut nenek adalah satu-satunya hal yang masih kuingat jelas sampai sekarang."


Ini pertama kalinya aku melihat Aoi-san menceritakan masa lalu dengan senyuman. Saat membicarakan kenangan atau masalah keluarganya, Aoi-san biasanya selalu memasang ekspresi sedih. Setidaknya, saat membicarakan ibu atau ayahnya, dia tidak pernah bercerita dengan wajah secerah ini.


Aku semakin yakin bahwa hal terbaik bagi Aoi-san bukanlah tinggal bersama keluarga baru di rumah ayahnya, melainkan tinggal bersama neneknya.


"Aku yakin, kalau nenek ada di dekatku, aku pasti bakal jadi 'anak nenek' banget."


"Itu berarti nenekmu juga sangat menyayangimu, Aoi-san."


"Tapi, meskipun rumahnya ketemu, sebenarnya aku merasa sedikit takut untuk bertemu dengannya. Sudah sembilan tahun kami tidak bertemu, nenek juga pasti punya urusannya sendiri... dan bisa saja beliau sudah melupakanku."


Memang, kemungkinan itu tidak nol.


Tapi——.


"Pasti tidak apa-apa kok."


Aku mengatakannya dengan spontan, lebih seperti sebuah doa.


"Meskipun sudah lama tidak bertemu, kalian tetap keluarga. Aku yakin nenekmu juga akan senang bisa bertemu lagi. Kalaupun beliau lupa, begitu melihatmu, ingatan itu pasti akan kembali."


"Iya... benar juga. Aku akan sangat senang kalau begitu."


Mungkin aku akan dimarahi karena bicara sembarangan tanpa bukti yang pasti. Namun, aku sangat berharap pertemuan ini tidak akan serumit saat dia bertemu ayahnya, melainkan menjadi reuni keluarga yang indah. Mengingat situasi keluarga Aoi-san selama ini, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mendoakan hal itu.


"Bagaimana? Kita sudah berkeliling lingkungan sekitar, tapi sepertinya bukan di sini ya?"


"Iya. Di sini bukan tempatnya."


"Oke. Kalau begitu kita lanjut ke kuil berikutnya."


"Sayang sekali ya, padahal kamu sudah jauh-jauh mengantarku ke sini."


"Jangan merasa sayang begitu. Totalnya ada tujuh puluh tempat, kalau baru awal saja sudah patah semangat, tidak akan ada habisnya. Mari kita anggap saja sedang jalan-jalan santai sambil mencari pelan-pelan."


"Iya. Benar juga."


Kami pun meninggalkan kuil pertama dan menuju ke kuil berikutnya. Matahari semakin tinggi, dan perlahan suhu udara mulai merangkak naik.



Hingga siang hari, kami sudah mengunjungi tiga kuil, dan tidak ada satu pun yang cocok dengan ingatan Aoi-san. Karena waktu puncak panas sudah hampir tiba, aku berniat mencari tempat makan siang sambil beristirahat, tapi sebuah masalah besar terungkap.


Tempat kami berada sekarang terlalu pelosok, sampai-sampai tidak ada tempat makan sama sekali...


Mungkin kalian berpikir setidaknya pasti ada minimarket, tapi serius, benar-benar tidak ada. Aku sering dengar kalau di desa itu tidak bisa hidup tanpa mobil, mungkin karena jarak ke mana-mana memang sejauh ini.


"Payah deh. Padahal kalau dipikir sebentar saja pasti langsung tahu..."


Harusnya tadi aku beli sesuatu di minimarket dekat area vila. Di bawah sengatan matahari yang menguras cairan dan tenaga, aku mengayuh sepeda sekuat tenaga, tapi tetap saja tidak ada minimarket, rumah makan, maupun supermarket yang terlihat. Kalau harus keluar ke area kota sekarang pun jaraknya terlalu jauh dan akan sangat melelahkan...


"Apa boleh buat. Walaupun memakan waktu, kita ke kota saja——"


Tepat saat aku hendak mengatakannya.


"Akira-kun, bendera apa itu?"


"Hm? Bendera?"


Aku mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk Aoi-san. Di ujung sawah yang agak jauh, ada sebuah rumah yang memasang bendera.


"Jangan-jangan..."


"Iya. Ayo kita cek."


Dengan sedikit harapan di dada, aku memacu kaki yang sudah kelelahan. Semakin dekat, kata "Sedang Buka" yang tertulis di bendera itu mulai terlihat. Aku menuju rumah itu sambil berharap tidak ada yang memasang bendera seperti itu selain rumah makan.


Begitu sampai, berdirilah sebuah rumah kuno satu lantai yang sangat estetik. Di samping rumah kuno itu mengalir sungai kecil, di mana beberapa ekor bebek berenang dengan riangnya. Di bagian belakangnya, meski jauh lebih kecil dibanding sawah, sepertinya mereka sedang menanam sesuatu dengan metode hidroponik.


Saat melihat ke arah pintu masuk, sebuah papan nama bertuliskan "Warung Sobat ~Ryusuian~" tertangkap oleh mataku.


"Akira-kun, warung mi soba!"


"Akhirnya ketemu juga...!"


"Iya. Berhasil!"


Setelah memarkir sepeda, aku tanpa sadar melakukan high-five dengan Aoi-san. Aoi-san yang biasanya kalem pun kali ini tampak sangat bersemangat. Mungkin karena rasa panas dan lapar sudah mencapai puncaknya, aku sendiri sudah tidak tahu apakah aku sedang senang atau menderita.


Kami segera masuk dan disambut oleh ibu pelayan yang energik serta beberapa kelompok pelanggan. Atas arahan ibu pelayan tersebut, kami duduk di meja lesehan di bagian dalam.


"Nah, mau pesan apa ya?"


Setelah menghabiskan air dingin yang disajikan, kami berdua menatap daftar menu.


"Karena musim panas, sepertinya soba dingin pilihan yang pas."


Tiba-tiba Aoi-san menunjuk ke sudut daftar menu.


"Akira-kun, lihat. Di warung soba ini, kita bisa memarut wasabinya sendiri."


"Wasabi?"


Di ujung telunjuk Aoi-san, ada foto wasabi dan keterangan bahwa pelanggan bisa memarutnya sendiri. Sepertinya tanaman yang ditanam secara hidroponik di luar tadi adalah wasabi, dan mereka menyajikan wasabi segar hasil panen sendiri bersama mi sobanya. Menarik juga bisa memarut wasabi sendiri.


"Aku ingin mencoba memarut wasabi."


"Kalau begitu kita berdua pesan soba dingin saja ya?"


"Iya."


Setelah memesan dua porsi soba dingin, mereka membawakan wasabi dan papan parutan terlebih dahulu. Ibu pelayan berkata, "Sambil menunggu sobanya datang, silakan parut wasabinya ya," lalu mengajari kami caranya... tapi aku merasa sedikit, atau sebenarnya sangat, gugup.


"Biar aku coba duluan ya."


"Iya. Kalau begitu aku akan merekamnya dengan ponsel."


"Rekam? Buat apa?"


"Izumi-san dan Hiyori-chan sepertinya suka wasabi, kalau aku tunjukkan ini mungkin mereka akan senang."


Benar juga. Karena jarang-jarang bisa melihat hal seperti ini, mungkin akan menarik bagi mereka.


"Lagipula, hal seperti ini bisa jadi kenangan juga kan?"


"...Oke. Ayo kita coba."


Aku memegang wasabi itu dan dengan hati-hati menempelkannya ke papan parutan. Seperti yang diajarkan; jangan terlalu ditekan, gerakkan secara melingkar, dan parut dengan halus...


“”............””


Aku yang memarut wasabi tanpa suara karena terlalu serius, dan Aoi-san yang memperhatikanku dengan saksama. Begitu wasabi terparut sekitar sepertiganya, aku berhenti.


"Kira-kira segini cukup?"


"Iya. Sepertinya kamu melakukannya dengan baik."


Aku menatap wasabi yang sudah terparut itu. Aku tidak tahu apakah ini sudah benar atau belum, tapi tampilannya jelas berbeda dari wasabi yang biasa kulihat. Teksturnya sangat halus, agak lengket, dan yang terpenting aromanya jauh lebih kuat daripada wasabi yang selama ini kami tahu.


Tidak sabar menunggu sobanya datang, aku mencicipi sedikit wasabinya.


"Ugh——!?"


Rasa pedas yang menyengat membuatku tersedak seketika, dibarengi aroma khas yang menusuk hingga ke hidung.


"Akira-kun, kamu tidak apa-apa?"


Aku mengangkat tangan ke arah Aoi-san yang melongok cemas, memberi isyarat bahwa aku baik-baik saja. Setelah rasa pedasnya mereda, aku meminum air untuk menenangkan diri.


"Bagaimana rasanya?"


"Jauh lebih pedas dari bayanganku, aku sampai kaget. Tapi ini bukan pedas yang menyebalkan, melainkan... entahlah, benar-benar beda dengan wasabi yang selama ini kumakan. Sulit menjelaskannya, Aoi-san coba saja sendiri."


"Iya. Aku coba juga."


Dengan wajah tegang, Aoi-san mengambil sedikit wasabi dengan sumpit dan memasukkannya ke mulut.


"Ngh——!?"


Seketika pundaknya bergetar kecil karena terkejut. Sambil menunggu rasa pedasnya hilang, dia menatapku lekat-lekat dengan mata yang seolah ingin mengadu.


"Benar... ini bukan wasabi yang kukenal."


"Kan?"


Aoi-san tampak terkesan dengan mata yang berbinar.


"Luar biasa ya... ternyata yang baru diparut bisa seberbeda ini."


"Sepertinya mereka juga menjual wasabinya saja, jadi ayo kita beli buat oleh-oleh Izumi dan Hiyori. Saat barbeku kemarin mereka bilang daging bagus enak dimakan pakai wasabi saja, pasti mereka bakal kagum kalau makan pakai yang ini."


"Iya. Pasti mereka akan senang sekali."


Kami menikmati waktu istirahat siang sambil menyantap soba dengan wasabi segar tersebut. Pengalaman memarut wasabi bersama dan rasa kagum akan kelezatannya ini, kupikir suatu saat nanti akan menjadi kenangan berharga yang akan kami rindukan.


Setelah itu, kami bersantai sejenak menunggu hawa panas mereda sebelum melanjutkan pencarian rumah nenek. Di hari pertama ini, kami belum berhasil menemukan pemandangan yang cocok dengan ingatan Aoi-san, tapi pencarian baru saja dimulai. Aku terus meyakinkan diriku agar tidak perlu berkecil hati.



Saat kami kembali ke dekat vila, waktu sudah menunjukkan hampir jam tujuh malam.


Di dataran rendah mungkin masih terang oleh cahaya matahari terbenam, tapi karena area vila berada di pegunungan, hari menjadi gelap lebih cepat dari dugaan. Memang mencari rumah nenek sepertinya terbatas sampai jam segini saja. Lagipula, jalanan sawah di desa tidak memiliki lampu jalan yang memadai, jadi berbahaya jika sudah gelap.


Di tengah suara serangga yang menenangkan dan udara yang mulai sejuk, aku menuntun sepeda mendaki jalan gunung. Tepat sebelum sampai di kantor pengelola, aku melihat punggung tiga orang yang sudah tidak asing lagi.


"Eiji!"


Ternyata itu Eiji, Izumi, dan Hiyori yang sedang berjalan beriringan. Saat kupanggil, mereka menoleh.


"Kalian berdua juga baru kembali ya."


"Iya. Waktunya pas sekali."


Kami menyusul mereka dan mulai berjalan bersama.


"Bagaimana hasil pencarian tim Akira-kun? ♪"


"Hari ini kami mendatangi lima lokasi tapi semuanya nihil. Sebenarnya aku ingin memeriksa lebih banyak lagi, tapi ternyata jarak antar kuil cukup jauh dan memakan waktu. Di navigasi kelihatannya dekat, tapi pas dijalani ternyata lumayan jauh. Ditambah lagi kami belum hafal medannya."


"Benar juga. Kami pun hanya sempat keliling lima tempat. Begitu sampai di vila, aku ingin Aoi-san melihat fotonya."


"Iya. Terima kasih ya."


Sambil mengobrol begitu, kami pun sampai di kantor pengelola. Saat Eiji mengurus pengembalian sepeda di resepsionis, aku iseng melihat sekeliling kantor dan mataku tertuju pada sebuah poster yang tertempel di kaca jendela.


"Festival kembang api ya..."


Poster itu menggambarkan pasangan berbaju yukata yang menatap kembang api—benar-benar atmosfer orang-orang populer. Festival itu diadakan oleh kota wisata terkenal di bawah area vila ini. Rencananya akan berlangsung selama tiga hari mulai Jumat minggu ini, dan di hari terakhir akan ada peluncuran 20.000 tembakan kembang api. Skala yang cukup megah untuk ukuran pedesaan, mungkin tujuannya memang untuk menarik wisatawan.


"Oh iya! Sebentar lagi ada festival kembang api ya ♪"


Izumi berdiri di sampingku, suaranya terdengar riang sambil memandangi poster itu.


"Wah, jadi tidak sabar~ ♪"


"Tidak sabar? Kamu berniat pergi ke festivalnya?"


"Iya. Soalnya Eiji-kun sudah memberi tahu sebelumnya."


"Aduh, kalian ini..."


Aku menghela napas panjang.


"Kita kan baru saja mulai mencari rumah nenek Aoi-san. Kalau ketemu sebelum festival sih lain cerita, tapi kalau belum ketemu, mana mungkin kita sempat bersenang-senang di festival?"


"Tapi kan, istirahat sejenak itu juga penting, tahu."


"Aku tahu, tapi waktu kita kan terbatas."


Aku tahu Izumi tidak bermaksud buruk. Aku juga paham kalau dia ingin refreshing. Tapi, jika kami tidak menemukan neneknya selama liburan musim panas ini, Aoi-san harus tinggal bersama ayahnya——.


"Mari kita tenang sedikit."


"...Eiji."


Tepat saat aku mulai terbawa emosi, Eiji menepuk bahuku dan membuatku kembali tenang.


"Aku sangat mengerti perasaan Akira. Kita ke sini memang untuk tujuan itu. Tapi, karena kita akan mencari setiap hari selama dua minggu, kurasa tidak ada salahnya beristirahat satu hari. Aku tidak bilang kita pergi selama tiga hari festival, tapi bagaimana kalau di hari terakhir saat kembang api saja kita main bersama?"


Aku membuang napas perlahan untuk menenangkan diri.


Benar... apa yang dikatakan Eiji masuk akal. Dalam masalah ini, semua orang bekerja sama demi Aoi-san. Ini bukan paksaan; semua berkumpul karena mengkhawatirkan masa depan Aoi-san dan ingin membantu. Bukannya berterima kasih, aku malah hampir melarang keinginan mereka hanya berdasarkan keputusanku sendiri.


"Lagipula, kalaupun tidak ketemu selama liburan musim panas ini, kan masih ada waktu sampai Akira pindah sekolah nanti."


Wajar jika Eiji dan Izumi yang tidak tahu apa-apa berpikir begitu. Tapi, itu tidak boleh——aku tidak sanggup mengatakannya.


"Maaf... sepertinya aku terlalu terburu-buru tadi."


"Eh, tidak perlu minta maaf begitu kok."


"Benar. Kami juga mengerti perasaanmu, Akira."


Kebaikan dan pengertian mereka membuat dadaku sedikit sesak.


"Hanya saja, kalau kita terlalu memaksakan diri, aku takut Aoi-san malah jadi merasa tidak enak dan sungkan. Untuk mencegah itu, kita perlu menunjukkan padanya dengan jelas bahwa kita juga menikmati waktu di sini.” 


"Kamu benar..."


Padahal aku yang paling lama bersamanya, tapi malah mereka yang lebih peka soal ini.


"Bukan itu saja. Seperti yang pernah kukatakan, kami juga ingin membuat kenangan bersamamu, Akira."


Eiji mengulangi kata-kata yang pernah ia ucapkan saat di kolam renang dulu. Cepat atau lambat, aku akan meninggalkan mereka semua. Selama ini aku sudah terbiasa pindah sekolah dan menganggap perpisahan adalah hal yang lumrah. 


Tapi sejak bertemu Eiji, Izumi, dan terutama menghabiskan waktu bersama Aoi-san, aku mulai merasa tidak ingin pindah. Aku tidak ingin terpisah dari mereka. Namun, hal itu tidak bisa dihindari, dan waktu perpisahan itu pasti akan datang.


Sejujurnya, aku pun ingin menghabiskan sisa waktu yang ada dengan bersenang-senang bersama mereka. Hanya saja... rasa tanggung jawab untuk menemukan nenek Aoi-san dan keinginan untuk membuat kenangan bersama teman-teman belum bisa selaras di dalam diriku. Dan alasan utamanya, pasti karena keberadaan ayah Aoi-san itu.


"Semuanya, ada apa?"


Aoi-san dan Hiyori yang menunggu di luar akhirnya masuk ke dalam kantor pengelola. Mungkin mereka khawatir karena kami tidak kunjung keluar. Aku segera mengubah suasana hatiku 180 derajat dan memasang senyum.


"Ah, tidak apa-apa. Kami cuma melihat poster festival ini. Karena mumpung di sini, kami terpikir untuk libur mencari sehari pas hari kembang api dan pergi main bareng. Bagaimana menurutmu?"


"Wah, ide bagus. Aku juga ingin melihat kembang api."


Aoi-san tersenyum senang. Eiji dan Izumi pun tampak lega menatapku.


"Oh iya, sebenarnya aku diam-diam sudah menyiapkan sesuatu lho ♪"


"Menyiapkan apa?"


"Rahasia! Pokoknya, mulai besok mari semangat mencari lagi!"


Izumi memimpin suasana dengan penuh energi seperti biasanya. Aku tidak tahu apa yang sedang ia rencanakan, tapi kecepatan Izumi dalam mengubah suasana sangat membantuku. Suasana tegang tadi kini sirna tanpa bekas. Begitulah, akhirnya kami memutuskan untuk ikut meramaikan festival kembang api di akhir pekan.



Sesampainya di vila, Aoi-san segera memeriksa foto-foto yang diambil oleh tim Eiji. Agar Aoi-san bisa mendapat gambaran meski tidak datang langsung, mereka bertiga mengambil foto dalam jumlah banyak—lebih dari lima puluh lembar. Aoi-san memeriksanya satu demi satu dengan teliti.


"Bagaimana?" tanya Izumi setelah Aoi-san selesai melihat semuanya.


Aoi-san menggeleng kecil. Di sampingnya, Hiyori mencoret lokasi-lokasi kuil yang sudah didatangi hari ini di peta dengan tanda silang.


"Begitu ya. Mari berjuang lagi besok!"


"Benar."


Pencarian baru saja dimulai. Tidak ada gunanya terpuruk di hari pertama.


"Kalau begitu, ayo siapkan makan malam."


"Hari ini biar aku yang masak, kalian bertiga mandi saja duluan."


"Eh? Boleh?"


"Kalian pasti berkeringat setelah seharian berkeliling di cuaca panas, bersihkan diri dulu sana sebelum makan malam."


"Terima kasih! Semuanya, mari kita terima tawaran baik Akira-kun! ♪"


Aoi-san dan Hiyori mengangguk mantap di samping Izumi.


"Tapi gantinya, besok giliran Izumi yang masak ya."


"Serahkan padaku! Ayo Aoi-san, Hiyori-chan, kita ke kamar mandi! ♪"


Setelah mereka bertiga meninggalkan ruang tamu, aku melangkah menuju dapur.


"Nah... mari kita mulai."


Aku mengecek isi kulkas dan memikirkan masakan apa yang cocok dipadukan dengan wasabi tadi. Sambil tanganku sibuk bekerja, pikiranku melayang kembali ke kejadian di kantor pengelola. Padahal aku bilang ke Aoi-san untuk tidak terburu-buru, tapi di dalam hati aku justru sebaliknya. Aku hanya mengatakannya agar dia tidak cemas, tapi mungkin akulah yang paling panik di sini. Hal itu tentu karena masalah ayah Aoi-san.


Batas waktu untuk memberi jawaban kepada ayahnya adalah selama liburan musim panas ini. Jika rumah neneknya tidak ditemukan, pilihan yang tersisa bagi Aoi-san hanyalah tinggal bersama ayahnya.


...Apa yang sebenarnya dipikirkan Aoi-san?


Apakah fakta bahwa dia tidak menceritakan soal ayahnya kepada teman-teman, dan tidak pernah lagi membahas soal ayahnya denganku sejak malam itu, berarti dia memang tidak berniat tinggal bersama ayahnya?


Isi hati yang sebenarnya hanya Aoi-san yang tahu. Seberapa keras pun aku memikirkannya, aku tidak akan pernah mengerti.


"Aku bantu ya."


Lamunanku terpecah saat Eiji tiba-tiba menyapa.


"Ah... terima kasih."


Aku memberikan ruang di dapur untuk Eiji. Tanpa bertanya apa-apa, ia mulai membantuku memasak.


"Anu... soal yang tadi, maaf ya."


"Ini baru permulaan. Tidak perlu terlalu membebani diri sendiri."


"Aku juga tidak enak pada Izumi... nanti aku akan minta maaf secara resmi."


"Tenang saja. Izumi bukan tipe pendendam, nanti biar aku yang bicara padanya."


"Maaf merepotkanmu. Terima kasih ya."


Eiji mengatakannya dengan senyum tenang yang biasa sambil memegang sayuran.


"Akira, kamu memang sedikit impulsif dibanding yang kamu kira, tapi kamu bukan orang yang akan emosional tanpa alasan. Aku dan Izumi tahu itu. Pasti ada suatu alasan, kan?"


"............"


Selama Aoi-san tidak mengatakannya sendiri, aku tidak berhak membocorkannya. Meskipun ada bagian dari diriku yang ingin menumpahkan segalanya, ingin seseorang mendengarkan kegelisahan di dalam dada ini.


Aku tahu kalau itu Eiji, dia tidak akan memberikan reaksi buruk jika aku mengatakannya. Tapi, pencarian rumah nenek baru saja dimulai. Selama situasinya masih bisa diselesaikan asalkan rumah itu ketemu, aku merasa tidak enak jika harus bercerita dan membuat Eiji ikut cemas.


Ah, begitu ya... mungkin saja Aoi-san juga merasakan hal yang sama.


"Aku tidak akan memaksa bertanya. Kalau kamu merasa sudah tidak sanggup sendirian, ceritalah padaku."


"......Ya. Kalau saat itu tiba, aku mohon bantuannya."


Eiji menyadari bahwa aku sedang memikirkan sesuatu. Dia paham akan hal itu, namun tidak memaksaku untuk bicara dan tetap menghargai keputusanku. Memiliki teman yang selalu berkata bahwa aku boleh mengandalkan mereka kapan saja, rasanya adalah sebuah kebahagiaan.


Hanya saja masalahnya... aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Rasa cemas yang terus membayangi dada sejak ayah Aoi-san muncul. Aku tidak tahu bagaimana cara melenyapkan perasaan ini.



Ngomong-ngomong, makan malam hari ini menggunakan masakan dengan wasabi yang kami beli di kedai soba siang tadi.


Sesuai dugaan, Izumi dan Hiyori yang pecinta makanan Jepang sangat heboh dan kagum dengan wasabi segar itu. Syukurlah wasabinya habis seketika, tapi aku tidak menyangka mereka bakal nekat mencicipinya langsung. Sosok Izumi yang berguling-guling di lantai karena kepedasan luar biasa itu sangat lucu, jadi diam-diam aku merekamnya.


Mungkin dia akan mengomel kalau nanti ketahuan, tapi anggap saja ini bagian dari membuat kenangan. Nanti aku akan mampir beli lagi saat pulang dari mencari kuil.



Hari-hari berikutnya, pencarian rumah nenek terus berlanjut. Kami mendatangi kuil-kuil mulai dari yang terdekat satu per satu, namun tidak ada hasil. Tanpa terasa, enam hari telah berlalu sejak kami mulai mencari.


Selama kurun waktu itu, jumlah kuil yang sudah dikunjungi sekitar empat puluh lokasi. Artinya, sudah lebih dari separuh kuil berakhir nihil.


"Wah, ternyata tidak semudah yang dikira ya..."


Sabtu malam, Izumi bergumam sambil bersandar di sofa dan memegang ponselnya. Jarang sekali Izumi yang biasanya ceria tampak kurang bersemangat, tapi itu wajar saja. Meski tidak diperlihatkan lewat wajah atau kata-kata, semua orang merasakan hal yang sama.


"Padahal semuanya sudah membantu sekeras ini..."


Aoi-san tampak merasa bersalah dan mengecilkan tubuhnya.


"Jangan dipikirkan, dari awal kita sudah tahu kalau ini tidak akan mudah ketemu kok."


"Benar kata Akira. Mari kita cari dengan sabar."


"Iya. Terima kasih."


Meski begitu, jujur saja terasa berat karena petunjuknya masih nol.


Sisa lokasi kandidat tinggal tiga puluh tempat lagi. Jika sudah mencari sebanyak ini dan belum ada informasi satu pun, kemungkinannya ada dua: kuil yang dicari ada di antara tiga puluh tempat tersisa, atau kami mencari di tempat yang salah total.


Karena ini adalah ingatan masa kecil, kemungkinan ingatannya keliru tidak bisa dibilang nol, dan jika memang keliru, maka kemungkinan kedua bisa saja terjadi. Namun, tidak ada cara lain selain mengandalkan ingatan Aoi-san.


Seandainya di tiga puluh tempat tersisa itu tetap tidak ada kuil yang dicari... Mungkin sudah saatnya aku harus memikirkan kemungkinan terburuk itu. Tapi——


"Pokoknya besok kita nikmati festivalnya dulu, baru lusa kita berjuang lagi."


"Iya. Benar juga!"


Izumi akhirnya kembali bersemangat dan bangkit berdiri.


"Oke! Kalau begitu mari kita bersiap untuk besok!"


Dengan begitu, pencarian rumah nenek dihentikan sementara.


Mumpung libur musim panas. Aku memang ingin membuat kenangan, dan kata-kataku untuk menikmati festival itu bukan bohong. Meski begitu, aku tetap tidak bisa menikmati festival itu sepenuhnya dari lubuk hati yang paling dalam.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close