NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi V2 Chapter 5

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 5

Hal-Hal yang Terlintas pada Malam Festival Kembang Api

Hari perayaan festival pun tiba——


Karena ini adalah hari libur pertama setelah sekian lama, semua orang bangun agak siang. Mungkin karena kami terus mencari sejak pagi buta setiap hari, rasa kurang tidur dan kelelahan sudah menumpuk. Aku sendiri pun baru sadar kalau ternyata aku sepegal itu, sampai-sampai saat aku bangun hari sudah hampir siang.


Tentu saja, tidak perlu ditanya lagi siapa yang bangun paling terakhir, sudah pasti Izumi. Tapi jika dipikir kembali, benar kata Eiji dan Izumi bahwa mengambil hari libur adalah keputusan yang tepat. Jika kami terus memaksakan diri mencari di tengah cuaca panas dengan ritme seperti itu, cepat atau lambat salah satu dari kami pasti akan jatuh sakit.


Begitulah, kami memutuskan untuk berangkat ke lokasi festival saat sore hari tiba.


Karena ada waktu luang sampai jam keberangkatan, aku membuka buku catatan di ruang tamu dengan niat mengerjakan PR musim panas... tapi tahu-tahu aku malah menonton pertandingan bisbol SMA di TV bersama Eiji dan progres tugasku tetap nol.


Lalu, saat waktu keberangkatan semakin dekat, perlahan lantai dua mulai menjadi gaduh.


"...Sedang apa mereka di atas?"


Terdengar suara tawa riang gadis-gadis dari lantai atas. Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang menuruni tangga bergema. Detik berikutnya, pintu ruang tamu terbuka dengan bunyi klik.


"Tadaaa~ ♪"


Aku sontak kehilangan kata-kata melihat pemandangan di depan mataku.


"Ooh..."


Di sana berdiri para gadis yang telah mengenakan yukata berwarna-warni.


Izumi mengenakan yukata berwarna kuning cerah dengan motif kembang sepatu putih. Sekilas kesannya mencolok, tapi karena hanya terdiri dari perpaduan dua warna kuning dan putih, kesan noraknya berkurang dan justru terlihat anggun. Mungkin sabuk obi berwarna hijau muda yang tenang itu yang membuatnya terlihat seperti itu.


Berlawanan dengan Izumi, Hiyori mengenakan yukata berbahan ungu gelap dengan motif bunga telang (asagao). Warna yang dalam dan menghanyutkan, sangat cocok dengan citra Hiyori yang jarang menunjukkan emosi dan selalu bersikap dingin. Bisa dibilang itu adalah warna khas Hiyori karena atmosfernya sangat pas.


Meski agak aneh mengatakan ini tentang adik sendiri, tapi dia terlihat lebih dewasa dan menawan—bahkan bisa dibilang memancarkan aura anggun yang melampaui usianya.


"Bagaimana, bagaimana? Cocok tidak?"


"Begitulah. Lumayan juga...?"


Aku tidak bohong soal mereka terlihat cocok. Tapi aku minta maaf pada mereka berdua, karena aku sadar jawabanku tadi terdengar agak tidak bersemangat.


Sebab, lebih dari penampilan mereka berdua, mataku benar-benar tercuri oleh sosok Aoi-san yang berbalut yukata.


"Ba-bagaimana menurutmu...?"


Aoi-san bertanya dengan ragu. Yukata yang ia kenakan berwarna dasar biru dengan motif bunga hidrangea (ajisai). Perpaduan warna biru yang cerah dengan corak hidrangea warna-warni yang menghiasinya benar-benar memukau. Tanpa sadar, aku teringat hari itu—hari pertama aku bertemu Aoi-san di tengah hujan, saat bunga hidrangea bermekaran indah dengan berbagai warna.


Sambil merasakan nostalgia, rasanya wajar saja jika mataku terpaku pada kecantikannya. Terlebih lagi, karena ia menyanggul rambut hitam panjangnya demi menyesuaikan dengan setelan yukata, tengkuknya yang indah pun terlihat jelas—pertama kalinya sejak kejadian di kolam renang tempo hari. 


Halo, tengkuk cantik. Aku memang berharap bisa bertemu denganmu lagi sebelum musim panas berakhir.


Karena sekarang ia menghadap ke depan, bagian itu tidak terlihat, tapi nanti aku akan "menyapa" dengan sopan dari belakang.


"Apa... terlihat aneh?"


Mungkin karena aku terlalu terpana sampai lupa menjawab, Aoi-san bertanya dengan nada cemas. Namun, hanya ada satu jawaban yang bisa kuberikan.


"Sama sekali tidak aneh. Sangat cocok untukmu."


Di saat seperti ini, aku benci betapa minimnya kosakata yang kupunya. Meski begitu, Aoi-san tersenyum tersipu dengan manis.


"Aree~ Akira-kun, kok wajahmu agak merah ya~ ♪"


"Bukan cuma merah, tapi hidungnya juga kembang kempis kegirangan tuh."


"Wajahku tidak merah dan hidungku tidak kembang kempis, tahu!"

Mulutku berkata begitu, tapi siapa pun yang melihat sosoknya pasti bakal memerah dan kegirangan! Aku ingin membalas begitu, tapi demi menutupi niat terselubung, aku tetap berpura-pura tenang.


"Persiapan kalian bagus juga sampai membawa yukata segala."


"Kan sudah kubilang kalau Eiji-kun memberi tahu soal festival di dekat sini? Aku menyuruh Hiyori-chan membawa yukata, dan karena Aoi-san tidak punya, kami pergi beli bersama."


Aku ingin berterima kasih pada Izumi karena telah memperlihatkan pemandangan luar biasa ini setelah kejadian baju renang tempo hari. Sekaligus, aku ingin memohon maaf karena sempat menentang rencana pergi ke festival.


Maafkan aku. Dan, terima kasih banyak...!


"Persiapan sudah selesai, ayo berangkat."


"Sip. Let's go~ ♪"


Begitulah, kami meninggalkan vila dan menuju ke lokasi festival.



Lokasi festival musim panas berada tak jauh dari area vila. Karena festival ini cukup besar—tidak hanya untuk warga lokal tapi juga mengincar turis yang berkumpul di musim ini—skalanya jauh lebih megah dibanding festival di kota kami.


Di perjalanan, kami melewati beberapa area parkir yang hampir semuanya dipenuhi plat nomor luar kota. Mungkin mereka orang-orang yang sedang berlibur di vila seperti kami, atau turis yang sengaja datang demi pesta kembang api. 


Menurut orang di kantor pengelola, setiap tahun banyak orang dari luar daerah berkumpul hanya untuk melihat kembang api ini. Benar-benar ajang wisata utama di musim panas.


"Orang-orangnya banyak sekali ya."


"Iya. Kalau sampai terpisah, bakal susah buat kumpul lagi..."


Sesampainya di lokasi, aku tanpa sadar bergumam begitu melihat lautan manusia. Mulai dari pasangan, keluarga, hingga kelompok pelajar, semuanya tumpah ruah. Mengingat ini baru awal acara, pasti jumlah orang akan semakin membeludak saat waktu peluncuran kembang api mendekat.


"Menurutku, setelah puas keliling stan, lebih baik kita segera cari tempat buat menonton kembang api."


"Sepertinya Hiyori benar."


Sambil menjawab, aku menoleh dan melihat Hiyori sudah asyik menjilat permen apel.


Oi, oi, kapan kamu belinya?


"Yup. Mumpung masih ada waktu, mari kita main sepuasnya!"


Izumi yang bicara begitu sedang melahap krep dengan krim putih yang menempel di ujung hidungnya. Maksudku, kalian berdua ini kapan sempat belinya, sih?


"Iya. Aku ingin makan es serut."


Aoi-san yang berkata begitu malah sedang makan yakitori.


Katanya mau es serut, tapi yang dimakan kok malah sebaliknya?


"Semuanya, dengarkan baik-baik!"


Tiba-tiba Izumi berdiri di depan kami dan berseru.


"Paham? Festival itu adalah medan perang. Tidak ada waktu buat bilang 'nanti saja makannya' atau 'nanti saja mainnya'. Supaya tidak menyesal, kalau terlintas pikiran 'ingin lihat, ingin makan, ingin main', jangan ragu, langsung bertindak! Oke?"


Aoi-san dan Hiyori mengangguk dengan wajah serius.


"Bagus. Kalau begitu, berangkat!"


Izumi meraih tangan Aoi-san dan Hiyori lalu mulai berlari. Semangatnya sih bagus, tapi melihat mereka lari memakai yukata dan sandal kayu (geta) rasanya sangat berbahaya.


"Hati-hati, di keramaian begini bahaya kalau lari!"


"Iyaa~ ♪"


Tentu saja Izumi yang tensinya sedang di puncak tidak akan mendengarkan. Hanya menyisakan jawaban riang, mereka bertiga mulai menjelajahi stan satu per satu.


"Eiji, kamu pasti repot ya selalu menghadapi tingkah Izumi."


"Yah, begitulah. Tapi kalau bersamanya, hidup tidak pernah membosankan."


"Aku setuju soal itu, tapi dia itu agak ceroboh ya."


"Sepertinya hari ini kita berperan sebagai wali mereka, ya?"


"Benar. Tapi ya sudahlah, selama mereka senang, itu sudah cukup."


Sambil mengobrol begitu, aku dan Eiji mengawasi mereka bertiga.



Setelah itu, kami pun menikmati festival hingga lupa waktu.


Berbicara soal festival, stan-stannya masih tetap sama sejak dulu seperti menembak sasaran, menyerok ikan mas, hingga undian. Saat kecil aku sangat menikmatinya, tapi seiring bertambahnya usia, aku mulai jarang main dan hampir tidak pernah ke festival lagi... ternyata setelah mencoba lagi, rasanya seru juga.


Aku sendiri terkejut melihat diriku bisa bersenang-senang dengan serius di antara anak-anak kecil. Kembali ke masa kanak-kanak bersama teman-teman dekat ternyata tidak buruk juga. Yang terpenting, melihat Aoi-san menikmati festival membuatku merasa tenang, dan melihatnya tertawa riang bersama Izumi serta Hiyori membuatku merasa benar-benar bersyukur telah datang ke sini.


Sambil mengawasi ketiga gadis yang bermain polos itu layaknya seorang pelindung, tak terasa waktu berlalu cepat—dan acara puncak pesta kembang api pun akan dimulai satu jam lagi.


"Belum terlalu larut sih, tapi bagaimana kalau kita mulai pindah?"


"Benar juga. Kita harus memperhitungkan waktu untuk mencari tempat menonton."


"Sebelum itu, bolehkah aku beli makanan dan minuman lagi?"


Izumi meminta untuk memborong makanan sambil mengunyah oban-yaki.


Duh, kamu kan sudah makan banyak dan sekarang pun masih sedang mengunyah...


Aku ingin sekali menyemburnya begitu, tapi aku ingat kalau perut Izumi memang level dimensi lain. Kami pun berbagi tugas mengantre di berbagai stan, memborong mi goreng (yakisoba), cumi bakar (ika-yaki), hingga martabak Jepang (okonomiyaki) yang bisa jadi pengganti makan malam.


Begitu kami berkumpul kembali dengan membawa belanjaan masing-masing, jumlahnya jadi sangat banyak.


...Yah, kalau sisa tinggal dibawa pulang saja.


"Tinggal minumannya ya. Aoi-san mau apa?"


"Aku mau jus jeruk saja."


"Kalau begitu biar sekalian aku yang belikan."


"Boleh?"


"Iya, mumpung sekalian."


Setelah semua membeli minuman, urusan logistik pun selesai. Kami mulai berjalan menuju area peluncuran kembang api untuk mengamankan tempat yang strategis. Di sepanjang jalan, Aoi-san tampak sangat ceria, ia terus mengobrol dengan Izumi dan Hiyori.


"Wah, tiba-tiba orangnya jadi makin banyak ya."


"Iya. Sepertinya banyak yang berpikiran sama dengan kita untuk mencari tempat lebih awal." 


Seperti kata Eiji, arus manusia mulai mengalir deras menuju arah peluncuran kembang api. Karena banyaknya orang yang bergerak, kami sulit untuk maju ke depan. Banyak orang yang berpapasan dan aku berpikir kami harus berhati-hati agar tidak menabrak siapa pun, saat itulah...


"Kyaa——"


Terdengar pekikan kecil bersamaan dengan Aoi-san yang berjalan di depanku kehilangan keseimbangan. Sepertinya ia tersenggol orang yang berpapasan, dan aku dengan sigap menangkap bahunya agar ia tidak jatuh.


Untungnya ia tidak sampai tersungkur, tapi minuman yang dipegang Aoi-san terlepas dan jusnya tumpah membasahi tanah dari gelas yang terguling.


"Aoi-san, kamu tidak apa-apa?"


"Iya... aku tidak apa-apa."


"Yukata-mu tidak basah, kan?"


Kami keluar dari arus manusia dan menepi ke bawah bayangan pohon untuk mengecek yukata-nya. Sepertinya tidak ada bagian yang basah atau kotor.


"Syukurlah, sepertinya aman."


"Iya. Tapi, minumannya jatuh..."


"Jangan dipikirkan. Yang penting kamu tidak terluka."


"Tapi, padahal Akira-kun sudah susah payah membelikannya..."


Aoi-san tampak lesu dan merasa bersalah.


"...Eiji, kalian bertiga pergi duluan saja bareng Izumi dan Hiyori."


Aku menyerahkan makanan yang kupegang kepada Eiji.


"Aku mau membelikan minum lagi untuk Aoi-san. Kalau sudah dapat tempat, kabari aku lewat pesan ya."


"Oke. Hati-hati ya, orangnya ramai sekali."


"Sip. Aoi-san, ayo."


"Iya..."


Setelah berpisah sementara dengan Eiji dan yang lain, aku dan Aoi-san kembali menyusuri jalan yang tadi kami lalui.


"Akira-kun, maaf ya. Sepertinya aku... terlalu bersemangat sampai tidak memperhatikan sekitar."


Aoi-san terus menunduk lesu sedari tadi. Melihatnya murung seperti ini mengingatkanku pada masa-masa awal kami mulai tinggal bersama. 


Dulu Aoi-san selalu menunduk merasa bersalah setiap kali terjadi sesuatu. Karena belakangan ini ia sudah jauh lebih positif dibanding saat pertama bertemu, sosoknya yang sekarang jadi terlihat jauh lebih menyedihkan.


Aku berpikir kalimat apa yang harus kuucapkan.


Tidak, tanpa perlu berpikir pun, aku memutuskan untuk mengutarakan apa yang ada di pikiranku apa adanya. Kata-kata penyemangat yang setengah hati tidak akan ada gunanya. Yang penting adalah menyampaikan perasaan dengan jujur.


"Menurutku, tidak masalah lho kalau kamu terlalu bersemangat?"


"Eh...?"


Aoi-san menatapku dengan wajah terkejut.


"Ini cuma tebakanku saja, tapi... apa Aoi-san sudah lama sekali tidak pergi ke festival?"


"Iya. Sepertinya terakhir kali sebelum aku masuk SD, saat diajak oleh ayah."


Sebelum SD ya... dugaanku benar. Tanpa perlu konfirmasi lebih jauh pun, mengingat situasi keluarga Aoi-san, alasannya mudah dibayangkan.


"Kalau sudah selama itu tidak ke festival, wajar saja kalau siapa pun bakal kegirangan," ucapku dengan nada ceria, sedikit bergurau.


"Aku juga senang kok karena sudah lama tidak ke sini. Izumi pun, seperti yang kamu lihat, dia benar-benar meluap kegirangannya. Hiyori memang tipenya begitu jadi tidak kelihatan di wajah, tapi di dalam hati dia pasti bersemangat. Namanya juga festival, mustahil kalau tidak terbawa suasana, dan menjatuhkan satu atau dua minuman itu hal biasa."


"Tapi..."


Meski begitu, wajah Aoi-san belum juga cerah. Jadi, aku memutuskan untuk menceritakan pengalaman memalukanku yang paling juara.


"Lagi pula, menjatuhkan jus itu bukan apa-apa dibanding aku dulu."


"Dibanding Akira-kun?"


"Waktu SD dulu, saat wisata keluarga, ibuku membelikanku es krim soft serve. Aku senang sekali, dan setelah menerimanya dari pelayan, aku kegirangan sambil melakukan skip (jalan melompat kecil) saat menuju mobil. Eh, bagian es krimnya malah jatuh semua ke tanah."


"Eh..."


Ya iyalah bakal jatuh kalau jalan melompat begitu. Aku, ibuku, dan pelayannya sampai terdiam kaku di tempat karena syok.


"Pelayannya merasa kasihan dan berbaik hati membuatkan yang baru, tapi..."


"Tapi?"


"Karena saking senangnya, aku kegirangan lagi dan menjatuhkan bagian es krimnya untuk kedua kalinya."


"Eeeeh..."


Benar-benar keputusasaan yang hakiki. Wajah ibuku saat itu persis seperti wajah Aoi-san sekarang. Saat itu aku merasa duniaku sudah berakhir.


"Aku pikir aku tidak akan pernah dibelikan es krim lagi, tapi tentu saja tidak begitu. Kalau diingat kembali sekarang, itu jadi kenangan yang manis. Sekarang malah jadi bahan lelucon wajib di keluargaku."


Sampai sekarang, setiap kali melihat es krim soft serve, pasti ada saja anggota keluarga yang mengungkit cerita itu. Semua orang pasti pernah melakukan satu atau dua kesalahan seperti itu, kan?


Bicara soal kenangan, sepertinya ini momen yang pas untuk memperbaiki suasana hati kita sebelum kembang apinya mulai. Mau lanjut beli jus jeruknya sekarang?


"Jadi Aoi-san juga tidak perlu merasa terbebani. Tiga atau empat tahun lagi, setiap kali kita pergi ke festival bersama, aku yakin kita akan tertawa sambil bilang, 'Ingat tidak, waktu itu kamu menjatuhkan jusnya?' Cerita lucu juga merupakan bagian dari kenangan yang berharga, kan? Jadi, jangan pasang wajah sedih begitu."


"Cerita lucu ya... Benar juga. Itu juga sebuah kenangan."


"Iya. Kenangan yang indah."


"Apa kita bisa pergi ke festival bersama lagi?"


"Tentu saja. Meskipun nanti setelah aku pindah mungkin aku tidak bisa ikut setiap tahun, tapi aku yakin Izumi akan memaksamu ikut meski kamu menolak. Anak itu kan paling suka hal-hal yang seru dan ramai."


Lalu Aoi-san sedikit menunduk dan menggumamkan sesuatu.


"Kalau setiap tahun... tidak mungkin... tapi..."


"Hm? Apa?"


Suasana di sekitar terlalu bising sehingga aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Saat aku melongok ke arah wajahnya, pipinya tampak sedikit merona merah.


"Meskipun tidak bisa setiap tahun, apa aku bisa pergi ke festival lagi bersama Akira-kun...?"


"Eh...?"


Apa maksudnya ini? Tidak, kurasa yang paling benar adalah menerima kata-katanya apa adanya. Meskipun perpisahan yang tak terelakkan akan datang, hubungan kami tidak akan berubah. 


Itu adalah ungkapan perasaan Aoi-san yang ingin terus berkumpul bersamaku, Eiji, Izumi, dan Hiyori seperti ini. Aku merasa senang dia mau mengatakannya dengan jujur.


"Tentu saja. Mari kita datang lagi bersama-sama."


"...Ehm. Janji ya."


"Iya. Janji."


Aoi-san mendongak, dan meski masih agak kaku, akhirnya dia tersenyum lagi.


"Tapi tetap saja..."


Berulang kali aku katakan, orangnya benar-benar banyak sampai kami sulit bergerak. Karena kembang api akan dimulai kurang dari satu jam lagi, jumlah orang terus membeludak. Apalagi kami berjalan melawan arus orang-orang yang menuju lokasi utama, sehingga kemajuan kami sangat lambat. Kalau begini terus, aku tidak tahu kapan bisa menyusul Eiji dan yang lain.


"Aoi-san, biar aku saja yang beli sendiri. Kamu minggir ke pinggir jalan dan tunggu di sana ya."


"Eh? Tapi—"


"Begitu lebih cepat. Minuman yang sama tidak apa-apa kan?"


"Iya. Yang sama saja."


"Oke. Aku akan segera kembali."


Aku meninggalkan Aoi-san di sana dan menerobos kerumunan sendirian. Aku berhasil sampai ke stan, membeli jus jeruk yang sama, lalu berbalik arah. Saat aku berusaha membelah keramaian dan akhirnya sampai ke tempat Aoi-san tadi...


"...Aoi-san?"


Aoi-san sedang ditegur oleh dua orang laki-laki yang tampak seperti mahasiswa. Aoi-san menunjukkan ekspresi yang jelas-jelas terganggu, sementara kedua pria itu merangsek dalam jarak yang sangat dekat. Aku langsung paham apa yang terjadi dalam sekejap.


"Kamu sendirian kan? Nonton kembang api bareng kami yuk."


"Saya tidak sendirian..."


"Tapi dari tadi kamu sendirian terus?"


"Saya sedang menunggu seseorang."


"Daripada nunggu orang yang nggak datang-datang, mending main bareng kami, lebih seru lho."


Aku ingin sekali memaki mereka, tapi ada banyak orang di sekitar. 


Baru saja aku berpikir untuk menyelesaikannya secara damai agar tidak merepotkan—ketika aku melihat salah satu pria itu mencengkeram lengan Aoi-san dan mencoba menyeretnya paksa, ketenanganku langsung sirna.


"Woi, apa-apaan kalian..."


Aku tidak peduli meski lawan ada dua orang. Aku balas mencengkeram tangan pria yang memegang lengan Aoi-san, menyentaknya dengan kasar, lalu berdiri di depan Aoi-san.


"Aduh, sakit... apa-apaan sih lu!"


"Oi, oi. Jangan ganggu dong."


Paling-paling mereka cuma berandal yang memanfaatkan suasana festival untuk menggoda perempuan. Kedua orang yang merasa terganggu itu menatapku dengan permusuhan yang nyata.


"Itu kata-kataku. Kalian tidak lihat dia merasa terganggu?"


"Bukan urusan lu. Kalau nggak mau kena batunya, jangan ikut campur."


Mereka mendekat seolah mengintimidasi, tapi karena rasa marah yang meluap, aku sama sekali tidak merasa takut. Saat kami saling melotot, orang-orang di sekitar yang menyadari situasi mulai berbisik-bisik.


Kalau sudah begini, lebih baik sekalian buat keributan besar. Mereka pasti ingin menghindari masalah atau urusan polisi, jadi mereka tidak akan berani macam-macam. Mereka pasti akan kabur sebelum masalahnya jadi besar. Namun, tepat setelah aku berpikir begitu—


"Kh—!?"


Wajahku dipukul dengan keras.


"Sialan, sakit banget..."


"Akira-kun!"


Suara Aoi-san yang meneriakkan namaku terasa jauh, mungkin karena kesadaranku hampir hilang sejenak. Aku tidak menyangka dalam situasi begini dia akan langsung memukul tanpa ragu... benar-benar orang yang tidak berpikir panjang.


"Gua udah bilang kan, jangan ikut campur kalau nggak mau ngerasain sakit?"


"Dah, ayo cabut."


Pria itu berdiri menghalangi jalanku, dan saat pria satunya lagi mencoba menyentuh Aoi-san...


"Jangan sentuh dia!"


Aku merasa emosiku meledak, lalu aku mendorong pria di depanku sekuat tenaga. Aku mencengkeram kerah pria yang mencoba meraih Aoi-san dan membantingnya hingga jatuh.


"Aoi itu pacarku! Jangan berani-berani kau sentuh dia!"


"Akira-kun..."


"Kau... awas ya..."


Sebelum mereka sempat bangkit, aku menyambar tangan Aoi-san dan mulai berlari.


"Aoi-san, lari!"


"Iya!"


Kami berlari sekencang mungkin untuk menjauh dari tempat itu. 


Bersembunyi di balik kerumunan untuk mengecoh mereka, entah sudah berapa lama kami berlari. Tanpa sadar, minuman yang baru kubeli pun entah jatuh di mana. 


Saat keadaan di sekitar mulai sepi dan kami sudah berada cukup jauh dari lokasi peluncuran kembang api—


Kami akhirnya berhenti karena kelelahan. Sambil mengatur napas yang terengah-engah, aku mengecek kondisi Aoi-san.


"Kalau sampai sini sepertinya sudah aman... Aoi-san, kamu tidak apa-apa?"


"Iya... aku tidak apa-apa."


"Maaf ya sudah membuatmu ketakutan. Itu semua karena aku meninggalkanmu sendirian..."


"Tidak apa-apa. Karena aku percaya Akira-kun pasti akan datang menolongku."


"Aoi-san..."


Aoi-san tersenyum lembut meski napasnya masih terengah-engah.


"Terima kasih sudah menyelamatkanku—"


Tepat saat Aoi-san mengucapkan terima kasih, kembang api meluncur ke langit yang gelap gulita, dan suara ledakan besarnya menenggelamkan suara kami.


“”............””


Aku dan Aoi-san tanpa sadar terpaku menatap kembang api itu.


"Wah, indah sekali ya..."


"Iya... indah sekali."


Seperti gumaman kagum Aoi-san, kembang api yang mewarnai langit malam itu memang sangat cantik. Tapi, pandanganku justru lebih tercuri oleh profil wajah Aoi-san yang sedang menatap ke arah langit, melebihi indahnya kembang api itu sendiri.



Dua jam kemudian, acara pun berakhir——


Akhirnya, aku dan Aoi-san terus menonton kembang api di tempat itu sampai selesai. Karena terlalu ramai untuk mencoba menyusul Eiji dan yang lain, aku hanya mengirim pesan agar mereka tidak khawatir, lalu menikmati waktu berdua bersama Aoi-san hingga pesta kembang api usai.


Setelah selesai, aku sempat berpikir untuk bertemu Eiji dan yang lain di suatu tempat, tapi aku memutuskan bahwa akan sulit untuk berkumpul di tengah kerumunan orang yang hendak pulang. Kami pun sepakat untuk pulang ke vila secara terpisah sambil memantau situasi.


Beberapa saat kemudian, ketika kerumunan mulai berkurang——.


"Mari kita pulang juga."


"Iya."


Tepat saat kami bangkit untuk meninggalkan tempat itu...


"Ah..."


Aoi-san bergumam pelan dan menghentikan langkahnya.


"Ada apa?"


"Sepertinya tali sandalku putus."


Aku mengalihkan pandangan ke kaki Aoi-san, dan benar saja, tali sandal kayu yang ia kenakan sudah terlepas dari pangkalnya.


"Mungkin karena tadi kita terpaksa lari saat kabur dari pria berandal itu ya?"


"Mungkin saja..."


"Kakimu tidak apa-apa? Ada yang sakit?"


"Tidak. Kakiku baik-baik saja."


Aku menghela napas lega karena ia tidak terluka, lalu memeriksa sandal kayunya. Sepertinya tidak mungkin untuk diperbaiki sekarang. Tapi aku juga tidak bisa membiarkannya berjalan tanpa alas kaki... kalau begitu, pilihannya cuma satu.


"Akira-kun...?"


Saat aku berjongkok membelakanginya, Aoi-san memiringkan kepalanya dengan heran.


"Sini, aku gendong."


"Eh, tapi..."


Aoi-san tampak bimbang.


"...Iya. Terima kasih."


Setelah sempat ragu sejenak, ia pun menyandarkan tangannya di bahuku. Aku mengangkat Aoi-san ke punggungku dan mulai berjalan menuju vila.


"Akira-kun, tidak apa-apa? Aku tidak berat?"


"Iyalah. Enteng banget kok."


Tidak seberat yang Aoi-san khawatirkan. Justru terasa ringan, jadi tidak masalah. Tapi, ada "masalah" di bagian lain. Karena aku menggendong Aoi-san, otomatis punggungku dan bagian tubuh tertentu milik Aoi-san menempel erat... 


Sejujurnya, aku tidak bisa merasakan sensasi detailnya, tapi situasinya saja sudah membuatku berdebar.


Sial, aku tidak punya harga diri banget di saat seperti ini... Sambil berusaha keras mengalihkan fokus agar tidak terpaku pada punggung, tiba-tiba Aoi-san mempererat pelukan lengannya di leherku.


"Akira-kun. Boleh aku tanya satu hal?"


"Hm? Apa?"


"Anu, yang tadi itu... soal 'pacarku'..."


"E-eh!?"


Aku tidak menyangka dia akan mengungkit hal itu sekarang.


"A-ah, itu... begini, kalau mereka pikir kamu sudah punya pacar, mereka bakal menyerah, kan?"


"Begitu ya. Benar juga..."


Itu bukan bohong. Bukankah adegan seperti itu sudah jadi klise di manga atau film? Tapi... kalau ditanya apakah benar-benar cuma karena itu, perasaanku agak campur aduk. 


Aku merasa marah pada orang yang mencoba menyakiti Aoi-san, dan kata-kata itu meluncur begitu saja. Aku bisa mengarang seribu alasan setelahnya, tapi jika ditanya apakah aku yang sedang tidak tenang saat itu benar-benar berpikir sejauh itu... jujur saja, aku tidak tahu.


Intinya, aku sendiri tidak paham kenapa spontan bicara begitu. Satu hal yang pasti: aku tidak tahan melihat Aoi-san disentuh laki-laki lain. 


Saat itu, hanya itu yang ada di kepalaku.



Sambil menggendong Aoi-san mendaki tanjakan, Eiji dan yang lain sudah menunggu di dekat vila. Mereka sampai lebih dulu, tapi karena kami terlambat dan tidak membalas pesan, mereka cemas kalau-kalau kami terlibat masalah dan baru saja hendak mencari kami. Aku tidak sempat mengecek ponsel karena sedang menggendong Aoi-san.


Melihat kami seperti itu, Izumi dan Hiyori bergumam tentang "Misi ketiga selesai tanpa sengaja" atau "Lanjut ke misi keempat," tapi aku sudah terlalu lelah untuk peduli. Begitu sampai di rumah dengan selamat, kami memutuskan untuk segera mandi dan tidur. Saat aku sedang terkantuk-kantuk di sofa ruang tamu menunggu giliran mandi (karena biasanya para gadis duluan), tiba-tiba...


"Akira-kun, kamu mandi duluan saja ya."


Izumi menawariku, tumben sekali.


"Eh? Bukannya kalian duluan?"


"Iya. Kamu pasti capek kan mendaki tanjakan sambil menggendong Aoi-san? Jangan sungkan, berendamlah di air panas dan lepaskan lelahmu."


Benar kata Izumi, aku memang capek dan berkeringat banyak. Kalau ditawari duluan, aku tidak akan menolak.


"Terima kasih. Aku terima tawaranmu kalau begitu."


"Sip. Nikmati waktumu ya~ ...Nuehehe ♪"


Setelah berterima kasih pada Izumi, aku mengambil baju ganti dan handuk lalu menuju kamar mandi. Meski sudah berkali-kali, mandi air panas setiap hari memang terasa mewah. Sambil berpikir begitu, aku melepas baju, masuk ke area mandi, keramas dan sabunan seperti biasa, lalu menenggelamkan tubuh ke dalam air hangat.


"Mantap..."


Suaraku lolos begitu saja sambil menatap bulan di langit malam. Rasanya sepadan datang ke sini hanya untuk menikmati pemandian ini... Eh, tidak boleh begitu. Kalau cuma puas karena air panas, itu namanya salah fokus. Tepat saat aku hendak memikirkan rencana pencarian rumah nenek besok...


"Eh—?"


Napas seolah terhenti melihat pemandangan di depan mata.


"Aoi-san...?"


Di sana berdiri Aoi-san yang hanya menutupi tubuhnya dengan handuk.


"W-wah, anu—maaf!"


Secara teknis aku tidak perlu minta maaf, tapi kata itu keluar secara refleks. Kalau harus mencari alasan untuk minta maaf, mungkin karena aku melihatnya hanya berbalut handuk, tapi bukannya minta maaf, sepertinya lebih sopan kalau aku bilang terima kasih. Terima kasih banyak.


Sambil berterima kasih dalam hati, aku memalingkan muka dari tubuh Aoi-san demi kesopanan.


"Kenapa Aoi-san ada di sini?"


"Izumi-san bilang dia akan mandi nanti, jadi aku disuruh masuk duluan..."


"Izumi? Tapi... aku juga disuruh Izumi masuk duluan."


Aku memiringkan kepala keheranan. Tiba-tiba, aku teringat ucapan Izumi dan Hiyori tadi soal "misi ini-itu." Bukan sekali dua kali, aku sering mendengar frasa itu sejak datang ke vila ini. Begitu aku menghubungkan semua kejadiannya...


"Oalah, jadi begitu... Dasar mereka itu."


Akhirnya aku paham maksud situasi ini.


"Akira-kun, ada apa?"


"Ah, tidak. Bukan apa-apa. Aku akan keluar sekarang, jadi Aoi-san silakan mandi dengan tenang."


"Tapi..."


"Kita kan tidak mungkin mandi bareng."


Bukan masalah luas pemandiannya, tapi masalah "adik kecil" laki-laki di masa puber. Tepat saat aku hendak bangkit dari air dengan sedikit rasa sesal...


"B-boleh saja kan kalau mandi bareng?"


"Eh—"


Aoi-san mengucapkan kata-kata yang tak terduga.


"Lagipula, dulu kita pernah mandi air panas bareng-bareng sama yang lain, kan?"


"Yah, memang sih..."


Aku teringat saat kami pergi ke pemandian air panas setelah perayaan ujian. Tapi saat itu kami memakai baju mandi khusus, jadi tidak masalah... Situasinya beda dengan hanya menutupi tubuh pakai handuk begini. Tapi kalau Aoi-san tidak keberatan, aku sih sangat welcome.


Apa benar aku boleh menikmati situasi "menguntungkan" seperti ini?


Aku merasa terlalu bahagia sampai-sampai rasanya besok aku bisa mati.


"A-anggap saja ini juga bagian dari membuat kenangan, ya?"


Selain itu, apakah cuma perasaanku saja atau Aoi-san memang tampak luar biasa bertekad? Rasanya aku merasakan kemauan kuat darinya yang seolah-olah tidak akan membiarkanku keluar dari pemandian apa pun yang terjadi. Kemudian, tanpa menunggu jawabanku, Aoi-san duduk di kursi dan mulai membasuh tubuhnya.


——Kalau aku menoleh sekarang, aku bisa melihat tubuh polosnya tanpa ketahuan.


Iblis bernama nafsu berbisik di kepalaku, namun malaikat yang menguasai logika menasihatiku bahwa aku tidak boleh melihat. Antara menuruti nafsu atau logika, malaikat dan iblis di dalam otakku mulai saling pukul tanpa pelindung. Pertarungan sengit yang mirip adegan di manga tinju pun terjadi. Seiring berjalannya waktu, sang malaikat mulai terpojok, dan tepat saat si iblis hendak melancarkan pukulan pemungkas——.


Aoi-san yang sudah selesai membasuh diri masuk ke dalam bak mandi, dan hasilnya seri. Rasanya campur aduk antara lega dan sedikit kecewa.


"Permisi, aku masuk ya."


"S-silakan..."


"A-airnya segar ya."


"I-iya, benar..."


Walaupun bak mandinya luas, karena kami berada di dalam air yang sama dan bersebelahan, aku jadi terlalu sadar diri sehingga percakapan tidak berlanjut. Kami sempat berendam bersama sesaat namun suasana terasa canggung, dan tepat saat aku bingung harus berbuat apa...


"Akira-kun, terima kasih untuk semuanya."


Aoi-san mengucapkan kata-kata terima kasih dengan nada yang sangat formal.


"Kalau soal kejadian hari ini, kan sudah kubilang jangan dipikirkan."


"Bukan. Bukan cuma soal itu."


"Bukan cuma soal itu?"


"Belakangan ini, aku berpikir... sepertinya aku adalah orang yang sangat beruntung."


Aoi-san melanjutkan sambil menatap bulan yang menggantung di luar jendela.


"Pergi ke festival bersama semuanya seperti hari ini, pergi ke kolam renang, barbeku... semua itu adalah hal yang mustahil bagi diriku yang dulu. Kalau saat itu Akira-kun tidak menyapaku, aku pasti tidak akan bisa melewati hari-hari yang begitu berkesan seperti sekarang."


"Aoi-san..."


"Sekarang adalah saat yang paling membahagiakan bagiku."


Aoi-san memejamkan mata dan mengatakannya seolah-olah sedang meresapi perasaan itu.


"Karena kebahagiaan ini adalah pemberian darimu, Akira-kun... aku ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi."


Mendengar kata-kata Aoi-san, sejujurnya perasaanku rumit. Mengingat masa lalu Aoi-san, fakta bahwa dia bisa merasa bahagia sekarang jelas merupakan hal yang baik. Namun, kenyataan bahwa hal "sekecil" ini saja sudah membuatnya merasa sangat bahagia adalah bukti betapa jauhnya kehidupannya yang dulu dari kata bahagia. Itulah sebabnya dia bisa bersyukur atas hal-hal sederhana.


Karena itulah——.


"...Ini sih belum seberapa."


"Eh...?"


Aku memikirkannya sekali lagi.


"Ke depannya nanti, jika berbagai masalah sudah terselesaikan, kamu akan bisa menjalani hidup dengan lebih tenang, dan bisa bersenang-senang dengan teman-teman. Pasti akan datang harinya di mana kamu merasa jauh lebih bahagia daripada sekarang."


Demi mewujudkan itu, aku ingin membantunya dengan cara apa pun.


"Jadi yang pertama, mari kita berjuang menemukan nenekmu."


"Iya... benar juga."


Sambil menatap langit malam dan berendam di air panas, itulah yang kupikirkan.



"...Payah, nih."


Setelah keluar dari kamar mandi, aku kesulitan memejamkan mata. Saat aku melirik ponsel yang terletak di samping bantal, waktu sudah menunjukkan lewat jam dua dini hari. Alasan kenapa aku tidak bisa tidur sudah jelas: rasa khawatir soal pencarian rumah nenek yang akan dimulai lagi besok. Dan juga, kurasa ada pengaruh rasa berdebar karena mandi bareng Aoi-san tadi... mungkin yang kedua itu pengaruhnya lebih besar.


Tubuhku terasa lelah dan butuh istirahat, tapi pikiranku malah terasa sangat jernih. Kalau begini terus, aku tidak akan pernah bisa tidur. Aku berniat mencari udara malam untuk mengubah suasana hati, lalu meninggalkan kamar dengan tenang agar tidak membangunkan Eiji yang tidur di sampingku.


Turun ke lantai satu, aku mengambil minuman dari kulkas lalu keluar ke teras kayu (wood deck) dan duduk di kursi. Meski musim panas, tempat yang berada di dataran tinggi ini terasa agak dingin saat angin malam berhembus. Saat ini, hawa dingin dan suara serangga dari kebun terasa seolah sedang menjernihkan pikiranku.


"Tinggal satu minggu lagi, ya..."


Sudah satu minggu kami berada di vila ini. Tepat setengah jalan, dan sisa waktu kami tinggal satu minggu lagi. Itu artinya, batas waktu pencarian rumah nenek sudah di depan mata. Walaupun masih ada sekitar tiga puluh lokasi kandidat yang tersisa, tidak ada jaminan bahwa rumahnya ada di antara tempat-tempat itu.


Sudah saatnya aku memikirkan apa yang harus dilakukan jika tidak kunjung ketemu. Seandainya kami tidak menemukan nenek Aoi-san selama liburan musim panas ini——.


"Apa yang akan dilakukan Aoi-san nanti ya...?"


Tanpa sadar aku bergumam, lalu menyanggah diriku sendiri tentang apa yang baru saja kuucapkan. Mau bagaimana lagi, pilihan jika rumah itu tidak ketemu sudah jelas. Jika nenek Aoi-san tidak ditemukan, satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah ayahnya. Untuk menyelesaikan masalah tempat tinggal dan ketiadaan wali, sepertinya tidak ada pilihan lain selain itu.


Tapi, aku ingin menghindari hal itu dengan cara apa pun——.


"Tidak bisa tidur?"


"...Eiji."


Suara tenang yang sudah akrab di telingaku bergema, dan aku menoleh. Di sana berdiri Eiji dengan senyum tipisnya yang lembut.


"Maaf. Apa aku membangunkanmu?"


"Tidak. Aku juga sedang terbangun karena tidak bisa tidur."


Entah itu jujur atau bohong, tapi kalaupun bohong, itu adalah bentuk kebaikan khas Eiji. Eiji menarik kursi dan duduk di sampingku, lalu mendengarkan suara serangga tanpa mengucap sepatah kata pun.


Ngomong-ngomong soal Eiji, sepertinya dia tipe teman yang sangat peka ya. Kira-kira apa yang akan kita bicarakan malam-malam begini di bawah sinar bulan?


"Apa festivalnya cukup membantu menyegarkan pikiran?"


"Iya. Ternyata lebih menghibur dari dugaanku."


"Syukurlah kalau begitu. Soalnya belakangan ini kamu terlihat agak tegang."


Pasti begitu... aku sadar tidak bisa menyembunyikannya sepenuhnya.


"Jujur... benar kata Eiji, aku merasa tertekan. Bahkan sampai sekarang pun tidak ada ketenangan. Memikirkan seandainya neneknya tidak ketemu, terkadang membuatku tidak bisa tidur malam-malam begini."


"Seperti yang kubilang sebelumnya, kalaupun tidak ketemu, masih ada waktu setengah tahun sampai kamu pindah sekolah. Kupikir tidak ada alasan untuk terburu-buru... tapi sepertinya memang ada situasi tertentu, ya?"


Sudah sampai tahap di mana aku tidak punya tenaga lagi untuk menutupi kegelisahanku. Dari dulu, sekarang, dan mungkin selamanya, kurasa aku memang tidak akan pernah bisa menyimpan rahasia dari Eiji.


"Bisa jaga rahasia ini hanya di antara kita berdua?"


"Tentu. Aku berjanji akan menyimpannya sendiri."


Lagipula, aku sudah tidak sanggup lagi memendamnya sendirian.


"Sebenarnya... aku bertemu dengan ayahnya Aoi-san."


"Ayahnya Aoi-san?"


Di samping Eiji yang biasanya tenang namun kali ini menunjukkan ekspresi terkejut yang langka, aku mulai menjelaskan kronologi kejadiannya.


Tentang pertemuanku dengan ayah Aoi-san di jalan pulang setelah kami pergi ke kolam renang tempo hari.


Tentang ayah Aoi-san yang datang menemui karena diminta oleh ibunya untuk mengambil hak asuh Aoi, namun karena apartemennya sudah dikosongkan, dia tidak bisa bertemu Aoi-san dan terus mencari di lingkungan sekitar sejak saat itu.


Tentang dia yang sudah menikah lagi, memiliki keluarga baru, dan menawarkan Aoi-san untuk tinggal bersama.


Tentang batas waktu jawaban yang diminta selama liburan musim panas ini, dan jika mereka tinggal bersama, Aoi-san harus pindah sekolah keluar kota mengikuti ayahnya.


Setelah menjelaskan semuanya dengan menggebu-gebu, aku menghela napas panjang.


"Jadi ada kejadian seperti itu ya..."


Bahkan Eiji pun tampak kehilangan kata-kata.


"Aku tidak bermaksud menyembunyikannya. Tapi sejak saat itu, aku tidak pernah lagi membahasnya dengan Aoi-san... dan Aoi-san sepertinya juga tidak berniat menceritakannya kepada siapa pun, jadi aku tidak mungkin lancang membicarakannya."


"Iya. Aku mengerti situasinya."


"Aoi-san diam saja soal ayahnya dan terus mencari neneknya, kurasa karena dia memang tidak berniat merepotkan ayahnya. Tapi, itu semua berlandaskan asumsi kalau neneknya ketemu. Kalau tidak ketemu, mau tidak mau dia harus bergantung pada ayahnya..."


Dunia ini tidak cukup ramah bagi anak di bawah umur untuk hidup tanpa wali. Jika neneknya tidak ditemukan dan dia juga tidak mengandalkan ayahnya, skenario terburuknya, Aoi-san mungkin harus tinggal di tempat semestinya—seperti anak-anak di panti asuhan tempat dia sering melakukan kegiatan sukarela.


Di saat lingkungan di sekitar Aoi-san mulai membaik, aku ingin menghindari hal itu dengan cara apa pun.


"Boleh aku tanya satu hal?"


"Ya. Apa?"


"Apakah buruk jika Aoi-san diurus oleh ayahnya?"


"Eh...?"


Eiji bertanya dengan ekspresi yang sangat serius.


"Apa yang akan kukatakan ini adalah pandangan objektif sebagai pihak ketiga, jadi kuharap kamu mendengarkannya dengan tenang——"


Mungkin karena aku menunjukkan raut penolakan yang jelas, Eiji memberi pengantar itu untuk menenangkanku sebelum melanjutkan.


"Ayah Aoi-san muncul di hadapan anaknya yang telah ditelantarkan oleh ibunya, dan dia berkata ingin mengurusnya. Jika melihat situasinya saja, ini bukan tawaran yang buruk bagi Aoi-san. Tentu saja aku tahu ada masalah keluarga baru, tapi di luar itu, kurasa ada banyak keuntungan bagi masa depan Aoi-san. Jika bersama ayah kandung, bukan hanya masalah tempat tinggal yang selesai, tapi semua urusan terkait wali juga akan beres."


"Aku tahu itu..."


Misalnya persetujuan wali saat hendak melanjutkan sekolah, atau menjadi penjamin saat menyewa kamar setelah lulus SMA; semua masalah hukum sebagai anak di bawah umur akan terselesaikan. Namun, tetap saja aku——


"Kamu tetap tidak bisa menerimanya, ya."


"Iya..."


Di depan Eiji, aku tidak berniat lagi menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya.


"Aku tidak bisa mempercayai seorang ayah yang menelantarkan putri kandungnya selama sembilan tahun, sementara dia sendiri membentuk keluarga baru dan hidup bahagia. Kalau bukan karena dihubungi oleh ibunya, sampai sekarang pun dia pasti masih menelantarkan Aoi-san. Meski dia ayahnya... aku tidak yakin Aoi-san bisa bahagia tinggal bersama orang seperti itu."


"Begitu ya."


Mengingat sifat Aoi-san, dia pasti akan selalu menjaga perasaan ayahnya dan keluarga barunya. Dia akan terus menahan diri tanpa bisa menyuarakan isi hatinya, dan suatu saat pasti akan kelelahan. Mengingat kepribadian Aoi-san yang pemalu dan tidak enakan, masa depan seperti itu sudah terbaca jelas.


"Aku mengerti perasaan Akira, tapi menurutku kamu tidak perlu bersikap se-negatif itu."


"Kenapa kamu berpikir begitu?"


"Aku tidak bermaksud membela ayah Aoi-san. Tapi, sebagai pihak yang netral, kurasa tidak benar jika kita menaruh kebencian berlebih pada orang yang sama sekali tidak kita kenal. Tentu saja, jika hanya mendengar situasinya, banyak orang akan merasakan hal yang sama denganmu. Tapi, yang kita lihat hanyalah satu sisi kecil dari urusan keluarga yang rumit ini."


Eiji terus berbicara dengan nada tenangnya yang biasa.


"Mungkin saja ada alasan yang tidak diketahui olehmu maupun Aoi-san. Bukan, seharusnya memang ada alasan di baliknya. Menolak mentah-mentah tanpa melihat hal itu tidaklah adil bagi ayahnya, bukan?"


Apa yang dikatakan Eiji memang benar. Alih-alih hanya melihat satu sisi, lebih tepatnya aku hampir tidak melihat apa-apa.


"Jika kamu menyayangi Aoi-san, janganlah emosional dan cobalah menilai seperti apa sosok ayahnya itu. Justru, akan lebih baik jika kamu melihatnya dengan mata yang lebih objektif daripada Aoi-san sendiri."


Menilai seperti apa sosok ayahnya, ya... Meskipun kata-katanya berbeda, inti dari ucapannya sama dengan apa yang dikatakan Hiyori saat aku berkonsultasi padanya dulu.


"............"


Aku tahu. Otakku sangat paham akan hal itu.


Namun... entah mengapa, keseimbangan antara logika dan emosiku tetap saja tidak bisa terjaga.


"Hanya saja, menurutku──"


Nada bicara Eiji yang sedari tadi terdengar tenang kini kembali melembut.


"Jangan terlalu memikirkan apa yang baru saja kukatakan. Aku ingin Akira bertindak sesuai kata hatimu sendiri."


"Sesuai kata hati?"


"Apa yang kukatakan tadi hanyalah pendapat objektif, sebuah logika tanpa perasaan. Aku hanya mencoba menarik diri selangkah ke belakang dan menimbang untung-ruginya. Tapi, alasanmu merasa bimbang adalah karena kamu memiliki perasaan."


Karena memiliki perasaan... ya.


"Justru karena kamu sangat menyayangi Aoi-san, kamu jadi merasa bimbang atau menaruh kebencian. Kalau kamu tidak peduli, kamu tidak akan merasa pening seperti ini. Aku ingin Akira mengabaikan hal-hal kecil dan bertindaklah sesukamu, bukankah selama ini kamu memang selalu begitu?"


"Eiji..."


"Dan seandainya nanti hasilnya buntu, aku pasti akan membantumu."


Mendengar kata-kata itu, aku merasa kegelisahan di hatiku perlahan mulai mereda. Belum pernah aku merasa sebersyukur ini karena telah berkonsultasi dengan Eiji.


"Terima kasih. Berkatmu, kepalaku jadi sedikit lebih dingin."


"Begitukah? Syukurlah kalau begitu."


Eiji menyunggingkan senyum tenangnya yang biasa.


"Lalu, pembicaraan seperti apa yang sudah kamu lakukan dengan Aoi-san?"


"Awalnya dia bertanya harus bagaimana, lalu kujawab aku akan menghargai keputusannya. Aku bilang akan membantunya jika terjadi sesuatu, tapi sejak saat itu kami tidak pernah membahasnya lagi... Apa aku tidak dipercaya, ya?"


"Belum tentu fakta bahwa dia tidak berkonsultasi berarti dia tidak mempercayaimu."


"Masa, sih?"


"Ini adalah hal yang kusadari setelah diberi tahu oleh Izumi──"


Eiji memberi pengantar sebelum melanjutkan.


"Kurasa Aoi-san sudah jauh lebih berani mengutarakan perasaannya dibandingkan saat awal kita bertemu."


"Iya. Aku pun berpikir begitu."


Saat awal bertemu, dia selalu sungkan melakukan apa pun dan tidak pernah menunjukkan kemauannya. Tapi sekarang, dia sudah mulai bicara sendiri ingin begini atau begitu. 


Jika dulu dia selalu minta maaf di setiap kalimatnya, sekarang dia lebih sering mengucapkan terima kasih. Mungkin dia mulai berubah sejak memasuki liburan musim panas.


"Jika itu Aoi-san yang dulu mungkin lain cerita, tapi fakta bahwa Aoi-san yang sekarang diam saja soal ayahnya, itu mungkin bukan karena dia merasa sungkan... tapi karena dia sudah punya jawabannya sendiri."


Sudah punya jawabannya sendiri...?


"Mungkin tanpa perlu kita khawatirkan, Aoi-san sudah memikirkan masa depannya dengan baik. Aku dan Izumi merasakan hal itu saat melihat Aoi-san belakangan ini."


"Begitu ya... kalau kalian berdua bilang begitu, mungkin memang benar."


"Karena itu, Akira jangan cuma khawatir saja, kamu harus bersikap lebih tenang dan berwibawa di depannya. Saat suatu saat nanti Aoi-san sudah tidak sanggup sendirian, orang pertama yang akan dia andalkan adalah kamu. Kalau saat itu tiba ternyata kamu malah terlalu galau sampai tidak bisa diandalkan, kan jadi tidak keren?"


"Benar juga..."


"Berdiskusi itu penting. Aku sudah sering mengatakannya padamu. Tapi, tidak perlu membicarakan semuanya dari satu sampai sepuluh. Terkadang, mengawasi dan menjaganya saja sudah cukup, dan mungkin sekaranglah saatnya."


Benar kata Eiji, Aoi-san punya pemikirannya sendiri. Aku harus kuat agar bisa membantunya kapan saja.


"Satu hal lagi──"


Eiji menambahkan.


"Menghadapi perasaan Aoi-san itu penting, tapi Akira juga harus menghadapi perasaanmu sendiri. Sejak dulu kamu selalu terlalu peka terhadap orang lain tapi sangat buta terhadap perasaanmu sendiri."


"Apa maksudmu?"


Aku pura-pura tidak mengerti meski tahu arah pembicaraan Eiji.


"Persis seperti kata-kataku. Alasan kenapa Akira menunjukkan reaksi penolakan yang begitu kuat terhadap ayah Aoi-san, padahal kamu tahu dia punya alasannya sendiri. Kira-kira kenapa ya? Kurasa sudah saatnya Akira memberi 'nama' untuk perasaanmu terhadap Aoi-san."


Setelah mengucapkan itu, Eiji berlalu lebih dulu meninggalkan teras kayu. Tinggallah aku sendirian, mengulangi kata-kata Eiji dalam hati.


"Memberi nama untuk perasaanku sendiri, ya..."


Bukannya aku tidak sadar. Hal yang kusadari saat menemukan Aoi-san yang pergi dari rumah pada hari pembagian lapor. 


Saat aku mengira akulah yang mengulurkan tangan padanya, ternyata dialah yang sebenarnya telah mengulurkan tangan padaku. Dan yang paling penting, kenyataan mengejutkan bahwa Aoi-san adalah cinta pertamaku saat kecil.


Memang benar terjadi perubahan emosi yang besar di dalam diriku saat mengetahui semua itu.


"Tapi..."


Nama apa yang harus kuberikan untuk perasaan ini? Di dalam diriku semuanya masih belum jelas. Alasan kenapa aku begitu memedulikan Aoi-san... apakah ini persahabatan, ketertarikan, insting untuk melindungi, kepuasan diri, rasa keadilan, atau perasaan lain yang belum kukenal? Jawabannya masih belum kutemukan.


Sambil ditiup angin malam, aku terus bertanya pada diri sendiri berkali-kali. Hanya suara serangga yang menggema di tengah kegelapan.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close