NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi V2 Chapter 7

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 7

Perasaan yang Selama Ini Ku palingkan

"Kalau begitu, aku berangkat dulu ya."


"Iya. Hati-hati di jalan."


Beberapa hari setelah pulang dari vila, di suatu pagi, aku mengantar Aoi-san di depan pintu. Hari ini adalah hari kegiatan sukarela yang diadakan sekolah. 


Sejak pertama kali pergi ke panti asuhan pada semester satu, Aoi-san rutin berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Biasanya Izumi selalu ikut bersamanya, jadi aku hanya ikut jika ada waktu luang atau sedang ingin saja. Sebenarnya hari ini pun aku ingin ikut, tapi aku harus tahu diri dan tetap di rumah.


Sebabnya, tugas sekolah musim panasku sama sekali belum disentuh karena sibuk mencari rumah nenek Aoi-san. Tidak, tidak baik menyalahkan pencarian itu. Kalau aku mau, sebenarnya ada waktu untuk mengerjakannya, dan aku bisa saja menyelesaikannya sebelum pergi ke vila seperti yang dilakukan Hiyori. 


Faktanya, Eiji juga sudah menyelesaikannya sebelum berangkat, sementara Izumi dan Aoi-san mengerjakannya sedikit demi sedikit sebelum tidur.


Intinya, situasiku sekarang adalah akibat perbuatanku sendiri... Dengan waktu yang tersisa kurang dari dua minggu, aku tidak punya kemewahan untuk ikut kegiatan sukarela. Setelah melepas kepergian Aoi-san, aku mengurung diri di kamar dan berhadapan dengan tumpukan tugas.


"...Haaah."


Helaan napas yang terus keluar ini bukan karena pelajarannya sulit. Alasannya tak lain adalah karena keberadaan nenek Aoi-san yang masih menjadi misteri. Sejak pulang, aku terus memikirkan cara untuk mencarinya, tapi tidak ada ide bagus yang muncul.


Memang, aku sudah menitipkan nomor kontakku kepada wanita yang kutemui saat mengunjungi rumah nenek tempo hari, memohon agar ia memberitahuku jika ada yang tahu sesuatu. Tapi jujur saja, aku tidak bisa terlalu berharap. Lalu, cara apa lagi yang tersisa? Aku sudah riset, tapi menyewa jasa profesional pelacak orang membutuhkan biaya besar yang pasti tidak dimiliki oleh kami yang masih SMA.


Aku sempat terpikir untuk meminta bantuan kantor pemerintah, tapi aku takut begitu menceritakan situasinya, Aoi-san akan langsung diambil alih oleh perlindungan negara secara formal. 


Rasanya menggunakan layanan publik adalah pilihan terakhir. Intinya, semakin dipikirkan, aku semakin sadar bahwa tidak banyak cara efektif yang tersisa.


"Kalau begitu... hanya ada satu cara untuk menyelesaikan masalah tempat tinggal Aoi-san, ya."


Entah sudah ke berapa kalinya sosok ayah Aoi-san terlintas di pikiranku. Ayahnya bilang dia ingin jawaban sebelum liburan musim panas berakhir. Liburan tinggal tersisa kurang dari dua minggu, yang berarti batas waktu bagi Aoi-san untuk memberi jawaban sudah di depan mata. Sejak hari pertama bertemu ayahnya, aku belum pernah sekalipun membicarakan hal itu dengan Aoi-san. Sekarang setelah neneknya tidak ditemukan, apa yang sedang dia pikirkan? Dan apakah selama ini Aoi-san berkomunikasi dengan ayahnya?


Mungkin aku harus mencoba membicarakannya sekali. Tepat saat aku berpikir begitu...


"Eh—?"


Tiba-tiba nada dering ponselku bergema. Saat memeriksa layar, ternyata itu dari ayah Aoi-san. Sambil terkejut karena waktunya yang sangat pas, aku mengambil napas dalam sebelum menjawab telepon.


"...Halo. Ini Akira."


"Ini ayahnya Aoi. Apa sekarang ada waktu sebentar?"


Suara ayahnya di telepon terdengar sangat tenang.


"Iya. Ada apa ya?"


"Kebetulan aku sedang di dekat sini. Maaf mendadak, tapi bisakah kita bertemu dan mengobrol?"


Benar-benar mendadak. Dia sepertinya tidak peduli dengan urusanku. Lagipula, kenapa dia malah menghubungiku?


"Sayang sekali, Aoi-san sedang keluar untuk urusan sekolah."


"Bukan, bukan begitu. Maaf sudah membuatmu salah paham."


"Salah paham?"


"Yang ingin aku ajak bicara bukan Aoi, melainkan kamu, Akira-kun."


Sesaat, aku sangsi dengan pendengaranku sendiri.


"Dengan... saya?"


"Aku ingin tahu apakah kita bisa bicara berdua saja."


Keheningan melanda di seberang telepon. Aku tidak tahu apa maksud ayahnya, tapi tidak ada alasan untuk menolak. Justru, bisa bicara dengan ayahnya tanpa ada Aoi-san mungkin adalah kesempatan bagus. Daripada terus merasa resah tanpa tahu sosok aslinya, lebih baik aku tanyakan semuanya. Agar seperti kata Hiyori dan Eiji, aku bisa menilai setelah mengetahui alasan dari pihaknya.


"Baiklah. Boleh saja."


Aku menjawab demikian dan menerima ajakannya. Urusan tugas sekolah langsung terbang begitu saja dari kepalaku.



Setelah menerima telepon dari ayah Aoi-san, aku segera menuju tempat pertemuan. Tempat yang dia tentukan adalah kafe yang sama dengan yang kami kunjungi bertiga saat pertama kali bertemu dengannya. Begitu sampai, aku melihat ayahnya duduk di kursi pojok dekat jendela, sama seperti sebelumnya. Aku memberitahu pelayan bahwa aku sudah punya janji, lalu melangkah menuju meja tersebut.


"Maaf membuat Anda menunggu."


"Justru aku yang minta maaf karena memanggilmu mendadak."


Dia menunjukkan senyum tenang yang seolah menandakan tidak ada permusuhan. Meski begitu, aku tidak boleh lengah sebelum tahu niat aslinya. Aku memesan es kopi kepada pelayan yang datang, lalu kembali berhadapan dengan ayahnya.


"Ada keperluan apa ya?"


Aku tidak berniat berbasa-basi. Aku menunjukkan keinginan untuk langsung masuk ke inti pembicaraan.


"Aku penasaran bagaimana kabar Aoi setelah itu."


Dia mencoba mencari informasi tentang Aoi-san, ya? Yah, aku sudah menduga hal semacam itu.


"Bukankah lebih cepat jika Anda bertanya langsung pada orangnya daripada bertanya pada saya?"


"Memang benar... tapi sejak saat itu, dia sama sekali tidak menghubungiku."


Sama sekali tidak menghubungi—?


Artinya, sejak pertemuan kembali itu, Aoi-san belum pernah sekalipun mengontak ayahnya?


Aku mengira mereka setidaknya ada bertukar pesan soal rencana tinggal bersama, tapi kalau benar-benar tidak ada komunikasi, aku bisa menebak alasan ayahnya memanggilku.


"Aku berharap kamu bisa membantuku membujuk Aoi."


Yah, sudah kuduga.


Seorang ayah yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan putri yang baru ditemuinya lagi, lalu merasa buntu dan meminta bantuan pada orang terdekat putrinya—teman sekelas sekaligus teman serumahnya—yaitu aku.


Yah... aku paham rasa canggung menghadapi putri yang tidak ditemui selama sembilan tahun.


"Meskipun sekarang dia menumpang di rumahmu, itu tidak bisa selamanya. Mengingat hal itu, akan lebih baik bagi Aoi jika dia segera tinggal bersamaku. Kalau Aoi sedang bimbang, bisakah kamu membantuku meyakinkannya untuk tinggal bersamaku?"


Ayahnya mengatakannya dalam satu tarikan napas tanpa ragu. Artinya, orang ini benar-benar percaya bahwa itulah yang terbaik bagi Aoi-san.


Dia merasa hanya dialah yang bisa menyelamatkan putri malang yang ditelantarkan ibunya. Sambil melupakan kesalahannya sendiri, dengan rasa keadilan dan kewajiban itu, dia pasti ingin menebus masa lalu dan membuatnya bahagia.


...Tanpa tahu apa yang sebenarnya dirasakan Aoi-san.


"Saya menolak."


"Eh...?"


Ayahnya tampak terkejut.


"Anda tidak seharusnya meminta bantuan saya, melainkan mengatakannya sendiri pada Aoi-san. Lagipula──"


Sebenarnya aku tidak berniat melanjutkan kalimat ini. Tapi, di depan ayah yang tidak memikirkan perasaan Aoi-san ini, aku tidak bisa menahannya lagi.


"Saya menentang rencana Anda dan Aoi-san tinggal bersama."


Aku menatapnya lurus-lurus tanpa berkedip dan menyatakannya dengan jelas. Aku sengaja menekan nada bicaraku untuk menunjukkan bahwa ini adalah prinsipku.


Ayahnya tampak kebingungan.


"...Boleh aku tahu alasannya?"


"Saya malah ingin tanya, apa Anda pikir saya akan setuju?"


Karena kesal, aku langsung balik bertanya.


Apa ayah ini sadar dengan apa yang sudah dia lakukan?


"Menelantarkannya selama sembilan tahun, tidak pernah datang menemuinya sekali pun, sementara Anda sendiri membangun keluarga baru dan hidup bahagia... Anda datang mencari Aoi-san pun karena diminta oleh ibunya, kan? Kalau bukan karena itu, sampai sekarang pun Anda pasti akan tetap menelantarkannya, bukan?"


"Itu──"


Emosi yang sudah meluap tidak bisa dibendung lagi. 


Meskipun dia orang dewasa, aku tidak berniat sungkan. Berani-beraninya ayah yang pernah membuang putrinya ini bicara soal "demi kebaikan putri" sekarang.


"Saya saja berpikir begitu, apalagi Aoi-san sendiri, dia pasti merasakan hal yang mirip. Fakta bahwa dia tidak membalas pesan Anda adalah bentuk dari perasaannya itu. Jadi, saya menentang rencana Anda mengambil hak asuhnya."


Ayahnya tertunduk dengan ekspresi yang sangat rumit.


Aku sudah mengatakan semua yang ingin kukatakan. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Tapi, kenapa perasaanku tidak merasa lega sama sekali?


"Akira-kun... kamu benar-benar sangat menyayangi Aoi ya."


Setelah terdiam beberapa saat, ayahnya bicara dengan suara tenang. Entah kenapa, ekspresinya tampak sedikit puas.


"Memang benar, dari sudut pandangmu aku terlihat seperti ayah yang jahat. Begitu juga bagi Aoi yang tidak tahu situasinya. Apa yang kamu katakan tadi tidak sepenuhnya salah. Tapi, meskipun begitu... perasaanku yang menganggap Aoi sangat berharga itu tidak bohong."


Lalu, atas dasar apa Anda bisa bicara begitu──.


Tepat saat kata-kata itu hampir keluar dari tenggorokanku...


"Karena itu, agar kamu bisa mengerti, aku akan menceritakan semuanya padamu."


"Semuanya...?"


"Setelah mendengar ceritaku, aku ingin kamu yang memutuskan apakah akan membujuk Aoi atau tidak."


Bicara manis sekarang pun tidak akan mengubah apa pun. Tapi, alasan aku tetap mau mendengarkannya adalah...


"Namun, aku mohon dengarkan sampai akhir tanpa menertawakanku. Ini adalah kisah tentang seorang pria yang gagal menjadi seorang ayah dan kini membeberkan aibnya sendiri."


Karena aku merasakan tekad yang luar biasa dari tatapan mata ayahnya saat bicara begitu.



Setelah selesai berbicara dengan ayah Aoi-san dan pulang ke rumah──


Aku duduk di sofa ruang tamu, menunggu kepulangan Aoi-san. Aku melirik jam, waktu menunjukkan tepat jam lima sore. Aku kembali dari kafe sekitar jam tiga, jadi tak terasa sudah dua jam berlalu.


Selama dua jam ini, aku terus memikirkan kembali cerita ayah Aoi-san. Fakta yang kudengar benar-benar berbanding terbalik dengan apa yang kubayangkan──seandainya apa yang dikatakan ayahnya benar, aku jadi bertanya-tanya apa yang sebenarnya kulakukan selama ini.


Meskipun hari sudah gelap, aku tetap menunggu Aoi-san tanpa menyalakan lampu, sampai tiba-tiba suara pintu depan terbuka bergema hingga ke ruang tamu.


"Aku pulang."


Aoi-san memberitahu kepulangannya sambil menyalakan lampu ruang tamu. Suaranya yang lembut seperti biasa, kali ini justru membuatku merasa goyah.


"Karena lampunya mati, aku kira kamu sedang keluar."


"Ah... maaf. Selamat datang kembali."


"...Akira-kun, ada apa?"


Aoi-san duduk di sampingku dan menatap wajahku dengan cemas. Seperti apa raut wajahku sekarang sampai membuatnya sekhawatir itu? Aku merasa bersalah karena membuatnya cemas, tapi saat ini aku merasa tidak sanggup menyembunyikan emosiku.


"Hari ini, aku bertemu dengan ayahmu."


"Eh..."


Aoi-san kehilangan kata-kata karena terkejut.


"Dia menghubungiku setelah kamu berangkat, jadi kami tadi mengobrol."


Terungkapnya fakta baru ini benar-benar mengubah segalanya. Kira-kira, bagaimana aku harus mulai menceritakan apa yang baru saja kudengar dari ayahnya kepadamu?


"......Begitu ya. Apa yang kalian bicarakan?"


Aku mengangkat kepala dan menatap Aoi-san. Anehnya, ia memancarkan ekspresi yang begitu tenang. Aku pun berusaha sekuat tenaga mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya sangat sulit untuk diucapkan.


"Aoi-san...... kurasa, kamu sebaiknya tinggal bersama ayahmu."


Mungkin terdengar seperti menjilat ludah sendiri, tapi inilah yang kupikirkan dari lubuk hatiku yang paling dalam saat ini. Aku, yang selama ini menentang keras rencana kalian tinggal bersama, kenapa sekarang malah berubah pikiran? Untuk menjelaskan alasannya, aku harus mengungkap isi pembicaraanku dengan ayahmu.



"Namun, aku mohon dengarkan sampai akhir tanpa menertawakanku. Ini adalah kisah tentang seorang pria yang gagal menjadi seorang ayah dan kini membeberkan aibnya sendiri."


Aku merasakan tekad yang luar biasa dari tatapan mata ayahnya saat bicara begitu.


"Ini cerita masa lalu, mungkin akan sedikit panjang, tapi tolong maafkan aku."


Ayahmu memberi pengantar, lalu membasahi tenggorokannya dengan kopi sebelum mulai bercerita.


"Seperti yang kamu tahu, aku bercerai dengan ibu Aoi saat Aoi kelas satu SD. Tapi, hubungan kami sebagai suami istri...... sebenarnya sudah hancur jauh sebelum itu."


Aoi-san memang pernah mengatakan hal yang serupa. Bahwa hubungan mereka sudah buruk sejak ia masih di taman kanak-kanak.


"Penyebabnya adalah...... hubungan ibunya dengan pria lain."


Entah kenapa, aku sudah mengira hal itu. Salah satu alasan perceraian yang paling berat di antara hubungan orang tua.


"Ibu Aoi punya kebiasaan buruk dalam hubungan dengan laki-laki. Aku juga bersalah karena tidak menyadarinya sampai kami menikah, tapi bahkan setelah menikah dan setelah Aoi lahir, dia tetap menjalin hubungan dengan pria lain selain aku. Saat aku menyadarinya dan mencoba mengajaknya bicara, dia menjadi emosional dan pembicaraan tidak pernah membuahkan hasil."


"............"


Mengingat alasan ibunya menghilang, aku sudah membayangkan alasan perceraiannya mungkin sama. Namun, meskipun dugaanku tepat, bukan berarti aku langsung bersimpati pada ayahnya. Jika hanya fokus pada alasan cerai, mungkin ayahnya adalah korban, tapi fakta bahwa ia menelantarkan Aoi-san tidak berubah. Itu adalah masalah suami istri, dan bukan alasan yang membolehkan Aoi-san dibuang.


"Setelah itu, tanpa ada pembicaraan yang layak, dia meminta cerai. Aku sempat menawarkan untuk membangun kembali hubungan demi Aoi, tapi ibunya menolak. Aku berpikir tidak bisa membiarkan Aoi diasuh ibunya, jadi aku berusaha mendapatkan hak asuh, tapi......"


Ayahnya mengepalkan tinjunya erat-erat di atas meja.


"Dalam banyak kasus, masalah hak asuh lebih menguntungkan pihak ibu. Meski aku sudah mengupayakan segala cara, sayangnya aku tidak berhasil mendapatkan hak asuh Aoi, dan aku tidak bisa membawanya bersamaku."


Ekspresi pilu terpancar dari wajahnya, sangat kontras dengan nada bicaranya yang tenang. Tidak sulit untuk membayangkan betapa menderitanya ayahnya selama ini.


"Aku bisa saja menuntut uang kompensasi atas perselingkuhan ibunya, tapi aku tidak melakukannya. Jika aku mengambil uang itu, sudah jelas kehidupan Aoi akan kesulitan. Agar Aoi tidak kekurangan, aku tidak menuntut ganti rugi, dan aku terus membayar uang tunjangan anak setiap bulan sesuai nominal yang diminta ibunya."


Mendengar cerita itu, kesanku terhadap ayahnya perlahan berubah. Seiring aku memahami situasinya, rasa benci yang kupendam mulai memudar.


"Hanya saja...... ini memalukan untuk diceritakan, tapi hidupku saat itu tidaklah mudah. Menjalani hidup sendiri sambil terus membayar tunjangan anak adalah beban finansial yang besar. Aku sampai mengambil beberapa pekerjaan sekaligus. Namun...... selama sembilan tahun ini, meski aku terus membayar tunjangan sesuai janji, aku tidak pernah sekalipun diizinkan untuk bertemu dengan Aoi."


"Ha......?"


Tanpa sadar suaraku terlepas.


"Selama sembilan tahun, Anda terus membayar uang tunjangan anak?"


"Iya."


"Padahal Anda tidak pernah sekalipun diizinkan bertemu?"


"Meskipun tidak diizinkan bertemu, fakta bahwa aku adalah ayah Aoi tidak akan pernah berubah."


Mendengar sampai di situ, aku menyadarinya dengan jelas. Bahwa aku telah salah paham sepenuhnya terhadap ayahnya.


"Namun, setelah menjalani hidup seperti itu selama beberapa tahun, tubuhku akhirnya ambruk. Dokter bilang itu karena aku terlalu banyak bekerja, dan aku terpaksa mengambil cuti sakit dalam waktu yang cukup lama."


Tentu saja. Siapa pun pasti akan ambruk jika menjalani hidup seperti itu.


"Saat itulah, aku bertemu dengan istriku yang sekarang. Dia tahu situasiku dan mendukungku. Bukannya aku tidak merasa bersalah karena membangun keluarga baru. Bukannya aku berniat melupakan Aoi. Semuanya kulakukan dengan satu tekad: untuk bisa bertemu kembali dengan Aoi. Aku bertahan hidup selama sembilan tahun ini hanya demi hari di mana kami bisa bertemu lagi."


Genggamanku pada gelas semakin menguat.


Seberapa banyak orang yang benar-benar bisa menyalahkan ayah ini?


Bercerai karena perselingkuhan istri, gagal mendapatkan hak asuh, tidak menuntut ganti rugi demi memikirkan nasib putrinya, dan terus membayar tunjangan selama sembilan tahun meski tidak pernah diizinkan bertemu. Orang ini, yang telah berjuang mati-matian menjalankan tanggung jawabnya sebagai ayah, juga hanyalah seorang manusia biasa sebelum menjadi orang tua. Pasti tidak ada larangan baginya untuk mengejar kebahagiaannya sendiri.


Aku merasa muak pada diriku sendiri karena telah membencinya tanpa mencoba mengenalnya lebih jauh.


"Mungkin di mata Akira-kun atau Aoi, aku terlihat seperti ayah yang payah. Mungkin ada cara lain untuk bertemu jika aku berusaha lebih keras, dan jika dibilang aku menelantarkan Aoi, aku tidak bisa membantah. Tapi...... itu adalah hasil dari pemikiranku sendiri. Meski mungkin terdengar seperti alasan belaka."


"Tidak, hal seperti itu............"


"Meski dengan cara seperti ini, akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan Aoi. Ke depannya, aku ingin mendukung Aoi sebagai ayahnya sebisa mungkin. Jika aku melewatkan kesempatan ini, mungkin aku tidak akan bisa bertemu Aoi lagi. Jadi, aku mohon, tolong bantu aku agar aku dan Aoi bisa memulai kembali sebagai keluarga."


Seorang pria dewasa menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan anak SMA tanpa mempedulikan pandangan orang sekitar. Melihat sosok itu, aku tidak tahu harus berkata apa. Satu hal yang pasti, orang ini tidak pernah membuang Aoi-san. Sebaliknya, selama sembilan tahun, ia terus berjuang keras untuk tetap menjadi seorang ayah.


Setelah mengetahui segalanya dan menerima perasaan ayahnya secara langsung, ada satu hal yang kini kupikirkan.


——Perasaanku sendiri sudah tidak penting lagi.

──Aoi-san harus tinggal bersama ayahnya.


Tidak, ini sudah terlambat.


Hal itu sudah kupahami sejak awal. Tapi entah kenapa... aku merasa sangat, sangat tidak rela. Alasannya pun masih belum terjawab bahkan setelah aku selesai mendengar cerita ayahnya.



"Begitu ya..."


Setelah aku selesai menjelaskan, Aoi-san bergumam dengan sikap yang tak disangka jauh lebih tenang. Kebenaran di balik perceraian yang akhirnya terungkap. Perasaan ayahnya dan alasan kenapa mereka tidak bisa bertemu.


Aku tahu sebenarnya ini bukan hal yang pantas disampaikan melalui mulutku. Namun, karena ayahnya sudah menitipkan amanah itu padaku, aku merasa harus menyampaikannya dengan benar, maka aku menceritakan semuanya.


"Sambil berbicara dengannya, aku berpikir. Orang ini pasti bisa mendukungmu dengan baik sebagai seorang ayah mulai sekarang. Makanya aku merasa, mungkin memang lebih baik jika Aoi-san tinggal bersama ayahmu."


Menurutku itulah yang terbaik bagi Aoi-san. Karena sekarang aku tahu ayahnya bukan orang jahat, tidak ada alasan bagiku untuk menentangnya.


Di saat neneknya belum ditemukan dan tidak ada petunjuk ke mana harus mencari lagi, jika memikirkan apa yang terjadi setelah aku pindah sekolah nanti, tak diragukan lagi inilah pilihan terbaik. Jika bertanya pada sepuluh orang, sepuluh-sepuluhnya pasti akan menegaskan hal yang sama.


"Ayo beri jawaban pada ayahmu kalau kamu akan tinggal bersamanya."


Padahal aku berkata begitu... tapi kenapa isi hatiku justru berbanding terbalik dengan kata-kataku?


"Akira-kun, terima kasih sudah menceritakan pembicaraanmu dengan Ayah."


Bertolak belakang dengan senyum tenang Aoi-san, dadaku terasa sesak seperti diremas.


Benar... asalkan bisa melihat senyuman ini, perasaanku sendiri sudah tidak penting lagi. Yang terpenting adalah masa depan Aoi-san, dan dibandingkan itu, rasa sakit di dadaku hanyalah hal sepele. Tepat saat aku meyakinkan diri seperti itu dan mencoba menelan semua emosiku...


"Tapi, aku tidak berniat tinggal bersama Ayah."


"...Eh?"


Aoi-san mengucapkannya tanpa keraguan sedikit pun.


"Kenapa?"


Aku tidak tahan untuk tidak bertanya balik. Padahal sudah tidak ada pilihan lain, tapi kenapa...?


Berlawanan dengan kegelisahanku, Aoi-san terus menyunggingkan senyum lembutnya.


"Apa karena Ayah punya keluarga baru?"


Satu-satunya kekhawatiran yang terpikir hanyalah itu.


"Itu juga bukan berarti tidak terpikirkan sama sekali. Kalau aku tinggal bersama mereka, aku takut akan merepotkan keluarga barunya. Tapi... terlepas dari itu, aku sudah memutuskannya sejak awal."


"Sejak awal? Maksudmu saat bertemu kembali dengan Ayah?"


Aoi-san menggelengkan kepalanya.


"Sejak hari pembagian lapor. Aku sudah memutuskan, apa pun yang terjadi nanti, aku akan tetap bersamamu sampai waktunya kamu pindah sekolah."


Mendengar kalimat itu, aku merasa seolah hatiku didekap dengan lembut. Rasa sakit yang kurasakan tadi mendadak sirna seperti bohong belaka.


"Tapi, kenapa?"


"Karena hari itu, Akira-kun bilang kalau kamu membutuhkanku."


Kata-kata Aoi-san membangkitkan kembali ingatan hari itu.


Saat itu, kami membantu Aoi-san karena merasa itu hal yang baik, namun Aoi-san yang merasa hanya terus dibantu tanpa bisa membalas apa pun menjadi tertekan, hingga akhirnya ia mencoba pergi dari hadapan kami tanpa pamit.


Tempat di mana aku mencari ke mana-mana dan akhirnya menemukannya adalah taman kanak-kanak tempat kami dulu bersekolah. Di sanalah aku menyadari perasaanku, dan meminta Aoi-san untuk tetap berada di sisiku.


"...Kamu masih ingat."


"Tentu saja. Itu pertama kalinya ada yang bicara begitu padaku. Aku tidak akan melupakannya seumur hidup."


Karena sering berpindah sekolah, aku selalu memiliki perasaan menyerah terhadap sebuah perpisahan.


Namun setelah bertemu Eiji dan Izumi, lalu mulai hidup bersama Aoi-san, tanpa sadar aku mulai merasa tidak ingin melepaskan kehidupan yang sekarang.


Aku bisa berpikir demikian karena ada Aoi-san di sisiku. Jika aku tidak mulai hidup bersamanya, aku yakin aku pasti akan kembali berpura-pura mengerti, menyerah pada segalanya, lalu pindah sekolah lagi.


Aku tidak ingin menyerah pada segalanya──kalimat itu adalah wujud dari perasaan yang kupendam.


"Makanya, aku berniat tetap bersamamu sampai kamu pindah sekolah. Kalaupun seandainya Nenek ditemukan dan diputuskan aku akan diurus beliau, aku berpikir untuk melakukannya setelah aku naik ke kelas dua saja."


Aku benar-benar... kehabisan kata-kata. Aku tidak menyangka Aoi-san memikirkanku sedalam itu.


Begitu ya... alasan Aoi-san tidak pernah membahas soal ayahnya bukan karena dia bimbang. Dia tidak perlu bimbang, karena sejak awal dia sudah memutuskan untuk tetap bersamaku. Persis seperti kata Eiji, di dalam diri Aoi-san jawabannya sudah ada sejak lama.


"Kalau seandainya Nenek tetap tidak ditemukan, aku memang harus memikirkan masa depanku nanti... tapi tetap saja, apa pun yang terjadi, aku akan tetap bersamamu sampai Akira-kun pindah sekolah."


Apa pun yang terjadi, aku akan tetap bersamamu──.


Tepat saat aku mendengar kembali kalimat itu langsung dari mulut Aoi-san...


Bersamaan dengan rasa bahagia yang luar biasa karena kami masih bisa bersama, aku akhirnya menyadari alasan kenapa aku begitu membenci ayah Aoi-san.


Begitu ya... aku ternyata ingin ayah Aoi-san menjadi orang jahat. Seandainya Aoi-san diurus oleh neneknya, meskipun dia harus pindah rumah, dia tidak perlu pindah sekolah. 


Meski kami tidak bisa lagi tinggal bersama, tidak ada kekhawatiran kami tidak bisa bertemu sampai waktunya aku pindah sekolah nanti. Namun, jika Aoi-san memilih hidup bersama ayahnya, dia akan langsung pindah ke luar kota mengikuti ayahnya begitu liburan musim panas berakhir. Itu artinya dia harus pindah sekolah... dan kami tidak akan bisa bertemu lagi.


Aku membenci hal itu.


Aku tidak ingin berpisah dengan Aoi-san.


Itulah sebabnya aku ingin menjadikan ayahnya sebagai orang jahat, dan berharap Aoi-san membenci ayahnya. Dengan begitu, Aoi-san tidak akan pernah pergi dari sisiku. Semuanya demi keinginanku untuk terus bersama Aoi-san, sehingga sejak awal aku sudah melabeli ayahnya sebagai orang jahat.


"Aku menjijikkan......"


Rasa mual membuncah bersamaan dengan kata-kata itu. Aku merasa pening saat harus berhadapan langsung dengan keburukan hatiku sendiri.


"Akira-kun......?"


Aoi-san menatap wajahku dengan ekspresi cemas. Aku tidak tahu seperti apa rupaku saat ini, tapi pastinya terlihat sangat buruk.


"Aoi-san......"


Aku merasa harus menyampaikan perasaan ini padanya. Mungkin saja dia akan membenciku. Mungkin saja ini hanya kepuasan diriku semata karena sengaja mengatakannya padahal bisa saja diam. Namun, aku tidak ingin berbohong atau bersikap tidak jujur kepada Aoi-san yang sudah berkata ingin terus bersamaku. 


Jika aku melakukannya, aku yakin aku tidak akan pernah bisa menatap wajah Aoi-san lagi. Meskipun aku akan dipandang rendah, aku merasa tidak boleh tetap bersamanya tanpa menyampaikan hal ini.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Aoi-san......"


"Iya."


Itu adalah sebuah pengakuan yang menyerupai pertobatan. Tentang bagaimana aku yang katanya menganggapnya berharga, namun tidak mencoba mengambil jalan terbaik baginya. Karena begitu ingin dia tetap bersamaku, aku menjadikan ayahnya penjahat demi menjauhkannya dari Aoi-san. Aku membeberkan seluruh bagian buruk dari hatiku. Selama itu, Aoi-san mendengarkan ceritaku dalam diam.


"Benar-benar maaf...... aku bajingan, kan?"


Aku mengucapkannya dengan kesiapan untuk dibenci. Namun, Aoi-san perlahan meraih tanganku.


"Tidak seperti itu. Sebaliknya, aku senang Akira-kun merasa begitu."


Dia menggenggam tanganku dengan erat di depan dadanya seolah merangkulnya.


"Lagipula, aku pun sama."


"Sama?"


"Alasan kenapa aku tidak memilih tinggal bersama Ayah padahal aku tahu itu akan menyelesaikan segalanya, bukan hanya karena Akira-kun bilang membutuhkanku. Tapi karena aku pun tidak ingin berpisah dengan Akira-kun. Aku pun hanya memprioritaskan perasaanku sendiri."


"Aoi-san......"


"Jadi, jangan memasang wajah penuh rasa bersalah seperti itu."


Aoi-san mengatakannya sambil menyunggingkan senyum penuh kasih. Aku benar-benar sadar...... pada akhirnya, akulah yang selalu diselamatkan. Tapi mungkin, Aoi-san pun merasakan hal yang serupa. Aku teringat kata-kata yang diucapkan Aoi-san saat berada di pemandian vila.


『Saat ini adalah saat yang paling membahagiakan──』


Aku pun merasakan hal yang sama. Memiliki seseorang yang bisa saling memahami isi hati. Aku tidak menyangka bahwa hal ini bisa terasa begitu membahagiakan.



Suatu sore, ketika liburan musim panas hanya menyisakan beberapa hari lagi──.


Aku sedang bersama Aoi-san di kafe tempatnya bekerja paruh waktu. Kami datang ke sini bukan untuk sekadar main seperti biasanya, melainkan karena Aoi-san sendiri yang memilih tempat ini untuk bertemu dan memberikan jawaban kepada ayahnya. Di kursi yang biasa kugunakan bersama Eiji dan yang lain, aku dan Aoi-san kini duduk berhadapan dengan ayahnya.


"Kafe yang sangat bagus ya."


"Iya, aku bekerja paruh waktu di sini."


Aoi-san menyunggingkan senyum tenang, seolah hatinya sudah mantap. Atau mungkin, karena hatiku sendirilah yang sudah tenang, sehingga dia terlihat seperti itu di mataku.


Aoi mengambil napas dalam-dalam sejenak sebelum mulai masuk ke inti pembicaraan.


"Aku sudah dengar ceritanya dari Akira-kun."


"Begitu ya. Jadi, boleh Ayah dengar jawabanmu, Aoi?"


Aoi mengangguk mantap.


"Aku... tidak akan tinggal bersama Ayah."


Ada tekad yang jelas terpancar dari mata dan kata-katanya.


"Aku mengerti kalau Ayah sangat menyayangiku, dan aku merasa senang akan hal itu. Tapi, aku ingin melanjutkan kehidupanku yang sekarang sedikit lebih lama lagi. Tentu saja aku tahu ini hanya sampai Akira-kun pindah sekolah, dan aku sadar harus memikirkan apa yang terjadi setelahnya. Tapi..."


Aoi berucap dengan tenang, namun setiap katanya membawa bobot kemauan yang kuat.


"Aku suka kehidupanku yang sekarang. Untuk pertama kalinya aku punya teman, aku bertemu dengan orang-orang yang berharga bagiku, ada banyak hal sulit yang sudah dan akan terjadi... tapi bagiku, saat ini adalah saat yang paling membahagiakan. Karena itu... karena aku tidak ingin melepaskan kebahagiaan ini, aku tidak bisa tinggal bersama Ayah."


"...Begitu ya."


Ayahnya mengangguk seolah mencoba meresapi kata-kata itu.


"Maafkan aku."


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Ayah rasa kamu memang harus menjaga masa kini yang membuatmu bahagia."


Mungkin karena Aoi mengatakannya tanpa ragu sedikit pun, sang ayah tampak merasa tenang dan menerima perasaan Aoi dengan lapang dada.


"Aku senang bisa bertemu Ayah. Meski tidak bisa tinggal bersama, mulai sekarang bolehkah aku mengobrol jika ada sesuatu, atau meminta saran jika aku sedang kesulitan?"


"Tentu. Tentu saja boleh."


Waktu sembilan tahun bukanlah waktu yang singkat, dan aku yakin itu telah membawa perubahan besar bagi mereka berdua. Namun, hal itu bukan alasan bagi ayah dan anak untuk tidak bisa saling mendekat kembali. Lagipula, mereka sudah bisa menjadi keluarga lagi seperti ini.


"Aoi, boleh Ayah tanya satu hal?"


"Iya."


"Seperti yang kamu katakan tadi, apa rencanamu setelah Akira-kun pindah sekolah nanti? Jika kamu belum punya tujuan, Ayah bisa menyewakan kamar dan menanggung uang sewanya."


"Soal itu, sebenarnya aku sempat berpikir untuk meminta bantuan Nenek."


"Nenek?"


"Iya. Selama liburan musim panas kami terus mencarinya dan berhasil menemukan rumahnya... tapi ternyata sudah tidak ditinggali. Kata tetangga beliau sudah pulang ke rumah asalnya, tapi aku tidak tahu di mana itu."


Ayahnya tampak berpikir sejenak.


"Kalau rumah asal Nenek, Ayah pernah ke sana."


"Benarkah?"


"Iya. Ayah berkunjung untuk memberi salam sebelum menikah dengan ibumu. Sepertinya Ayah masih ingat."


Ayahnya mengeluarkan ponsel dan mulai mencari sesuatu. Tak lama kemudian, ia mengirimkan titik lokasi peta ke ponsel Aoi.


"Ayah yakin tempatnya di situ. Cobalah kunjungi."


"Terima kasih... Akira-kun, kita berhasil!"


"Iya. Terima kasih banyak!"


Aku tidak menyangka keberadaan nenek akan terungkap dengan cara seperti ini. Tapi dengan ini, segalanya mungkin akan berjalan lancar. Akhirnya aku merasa cahaya harapan benar-benar terlihat.


"Kalau bertemu Nenek, sampaikan salam dariku juga ya."


"Iya, tentu."


"Satu lagi──Aoi, tolong berikan nomor rekening bankmu."


"Nomor rekening?"


"Selama ini Ayah membayar uang tunjangan ke rekening ibumu... tapi berdasarkan situasi yang kudengar dari Akira-kun, ke depannya lebih baik Ayah mengirimnya langsung ke rekeningmu. Ayah akan memulainya dari kiriman bulan ini."


"Aku tidak apa-apa kok. Aku menumpang di rumah Akira-kun jadi tidak ada biaya sewa, dan aku juga bekerja paruh waktu jadi bisa menabung sedikit demi sedikit."


"Terimalah meski sekarang kamu merasa belum butuh. Di masa depanmu nanti, pasti akan ada saat di mana kamu membutuhkannya. Kamu boleh membiarkannya tetap di tabungan sampai hari itu tiba."


"Tapi..."


Aoi masih mencoba untuk sungkan.


"Aoi-san. Terimalah," potongku.


Aku tahu ini bukan urusanku. Tapi setelah mengetahui perasaan ayahnya, aku ingin dia menerimanya.


"...Terima kasih."


Setelah itu, Aoi dan ayahnya asyik berbincang tentang banyak hal. Meskipun disebut "banyak hal", setengahnya hanya laporan kabar terbaru dan obrolan santai. Sepertinya masih butuh waktu lama untuk menutup celah kosong selama sembilan tahun perpisahan mereka, tapi kurasa tidak perlu khawatir. Waktu mereka masih panjang.


Setelah selesai mengobrol, kami merasa cukup untuk hari ini dan beranjak dari kursi.


"Aku mau bicara sebentar dengan manajer, kalian berdua tunggu di luar saja ya," kata Aoi.


"Baiklah."


Sesuai instruksi Aoi, aku dan ayahnya pergi ke luar kafe lebih dulu. Tiba-tiba, ayahnya menundukkan kepala dengan sangat sopan.


"E-Eh, ada apa ini tiba-tiba!?"


"Akira-kun, tolong jaga Aoi ya."


Ayahnya berkata demikian sambil tetap menundukkan kepala. Aku pernah melihat orang menundukkan kepala sebelumnya. Tapi, aku belum pernah melihat orang yang menundukkan kepala dengan perasaan sedalam ini. Tanpa memandang status orang dewasa atau anak SMA, aku merasa ia menitipkan amanah itu kepadaku sebagai sesama pria.


"Baik. Saya akan melakukan apa pun yang saya bisa."


"Terima kasih. Hubungi aku kapan saja jika kalian ada kesulitan."


Ayahnya mengangkat wajah dengan ekspresi lega dan mengulurkan tangan kanannya. Saat aku membalas jabat tangannya...


"Boleh aku tanya satu hal lagi?"


"Apa itu?"


"Akira-kun, apakah kamu... menyukai Aoi?"


"Eh...?"


Aku tidak menyangka akan ditanya sejelas itu oleh ayahnya. Tadinya kukira dia bercanda, tapi ekspresinya sangat serius. Karena itu, aku merasa tidak boleh memberikan jawaban yang menggantung.


"...Jujur, saya tidak tahu. Tapi, saya sangat menyayanginya."


"Begitu ya. Terima kasih."


Namun, mungkin jawaban ini berbeda dari apa yang ia harapkan.


"Maaf menunggu lama... kalian berdua, ada apa?"


Aoi keluar dari kafe dan menatap kami bergantian dengan wajah heran.


"Ah, tidak ada apa-apa kok."


"Iya, bukan apa-apa."


"Benarkah? Ya sudah kalau begitu."


Aoi berdiri di depan ayahnya sambil tersenyum.


"Kalau begitu, Ayah pamit dulu ya. Aoi, jaga kesehatan."


"Iya. Sampai jumpa lagi, Ayah."


Sampai jumpa lagi──kalimat itu adalah janji untuk bertemu kembali. Ayahnya tampak sangat bahagia, ia melangkah pergi sambil berkali-kali menoleh ke arah kami. Aku dan Aoi terus mengantarnya sampai punggungnya tidak terlihat lagi.


"Nah, mari kita pulang juga."


"Iya, ayo."


"Waktunya masih sore, mau mampir ke suatu tempat?"


"Benar juga... bagaimana kalau kita menghabiskan waktu sampai jam makan malam, lalu makan di luar sebelum pulang?"


"Boleh saja, tapi jarang-jarang Aoi-san yang mengajak duluan."


"Waktu hari kita ke kolam renang, kita sempat berencana makan malam bareng kan? Tapi tidak jadi karena bertemu Ayah. Anggap saja ini sebagai gantinya, bagaimana?"


"Oke, ayo kalau begitu."


"Iya."


Kami pun melangkah menuju gedung stasiun untuk sekadar jalan-jalan.

Begitulah cara liburan musim panas kami berakhir.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close