NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi V2 Chapter 6

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 6

Tim Penyelamat Musim Panas

Bagian 2

Setelah festival musim panas berakhir, waktu yang tersisa bagi kami tinggal satu minggu.


Liburan musim panas memang masih panjang, tapi karena Aoi-san dan Izumi sudah dijadwalkan mengikuti kegiatan sukarela yang diadakan sekolah setelah libur Obon, kami tidak bisa memperpanjang masa pencarian meskipun rumahnya belum ketemu.


Lagipula, untuk saat ini tidak ada alasan untuk memperpanjangnya. Pasalnya, daftar kandidat kuil yang sudah kami centang menyisakan tiga puluh lokasi lagi. 


Karena kami memulai pencarian dari yang terdekat, kuil-kuil yang tersisa ini letaknya cukup jauh dari vila, tapi tetap saja kami bisa mendatangi tiga lokasi per hari, atau enam lokasi jika dibagi menjadi dua kelompok.


Jadi, dengan asumsi rumah itu akan ditemukan, secara matematis──


"Dalam lima hari ke depan, hasilnya akan terlihat..."


Keesokan paginya, kami kembali merapikan situasi sambil menyantap sarapan. Sepertinya rasa cemas mulai merayap ke semua orang; keceriaan saat menikmati festival kemarin kini seolah meredup. Wajar saja, karena secara logika, situasi saat ini memang tidak bisa dibilang bagus.


Yah... kurasa akulah yang paling panik di sini. Semalam pun akhirnya aku tidak bisa tidur sampai fajar karena merasa tidak tenang setelah kembali ke tempat tidur.


"Ini cuma pengandaian saja, lho?"


Izumi memberi pengantar seolah ingin memastikan sebelum melanjutkan.


"Seandainya tidak ketemu, apa rencanamu selanjutnya?"


Izumi mungkin bertanya demi berjaga-jaga agar tidak membuat Aoi-san terlalu cemas. Meski aku menghargai pertimbangannya, aku merasa ini saat yang tepat untuk menyinggung kemungkinan itu. Tentu saja, tanpa menyebutkan pilihan soal bergantung pada ayahnya, melainkan fokus pada metode lain untuk menemukan neneknya.


"Kalau sampai begitu, kita harus meninjau ulang jangkauan pencarian dan mencari lagi dari awal."


"Tapi, kelanjutannya mungkin baru bisa saat semester dua dimulai. Izumi dan Aoi-san punya jadwal kegiatan sukarela, dan kita tidak bisa terus-menerus tinggal di sini. Begitu sekolah dimulai, akan sulit mencari waktu luang yang panjang, jadi sebaiknya memang ketemu selama liburan musim panas ini... situasi yang membingungkan, ya." 


Persis seperti kata Eiji. Namun jika itu terjadi, maka itu akan menjadi urusan setelah Aoi-san memberikan jawaban kepada ayahnya.


"............"


Bayangan ekspresi bingung Aoi-san saat bertemu kembali dengan ayahnya terlintas di benakku. Aku tidak tahu jawaban apa yang akan diberikan Aoi-san, tapi bagiku, pilihan terbaik adalah menemukan rumah neneknya sebelum dia terpaksa mengambil keputusan untuk tinggal bersama ayahnya.


Seandainya di antara tiga puluh tempat tersisa itu tidak ada rumah neneknya...


"Skenario terburuknya... kalau vilanya masih bisa disewa, aku akan tetap tinggal di sini sendirian untuk terus mencari."


Tanpa sadar aku mencengkeram sumpit di tanganku lebih kuat. Aku tidak bisa pulang dengan tangan hampa setelah berjuang sejauh ini.


"Kalau begitu aku juga akan tinggal. Aku tidak punya jadwal khusus kok." 


Hiyori menyahut tanpa ragu.


"Soal itu mari kita bicarakan nanti saja. Sekarang kita harus fokus mencari." 


Eiji untuk mengusir suasana yang mulai berat.


"Intinya kita butuh informasi. Mari lebih aktif bertanya pada warga di sekitar kuil."


"Benar. Kalau begitu, kita harus makan banyak supaya tidak kalah oleh cuaca panas! Karena itu Akira-kun, tambah porsi jumbo!"


"Tidak boleh. Izumi nanti malah kekenyangan dan tidak bisa bergerak, jadi dilarang tambah."


"Akira-kun pelit!"


Izumi menggembungkan pipinya seperti ikan buntal yang baru saja dipancing sambil merajuk. Setelah selesai sarapan dan membereskan semuanya, kami segera meninggalkan vila.



Namun, berlawanan dengan rasa terburu-buru di hati, waktu terus berjalan.


Setelah pencarian dimulai kembali, kegagalan demi kegagalan terus berlanjut selama beberapa hari, dan rasa cemas perlahan berubah menjadi rasa terancam. Jika situasi ini terus berlanjut, suasana mau tidak mau akan menjadi berat, bahkan energi Izumi pun mulai menurun.


Wajar jika setiap orang mulai berpikir, 'Apakah memang mustahil untuk menemukannya?', meski tidak ada yang mengucapkannya secara langsung. Justru dalam situasi begini, berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja terdengar terlalu optimis.


Tetap saja, waktu berlalu tanpa ampun, dan sekarang adalah hari keempat sejak pencarian dilanjutkan. Aku sedang berkeliling meninjau kuil berdua saja dengan Aoi-san seperti biasa.


"Sepertinya di sini juga bukan..."


Saat matahari mulai condong ke barat, aku dan Aoi-san sampai di kuil ketiga hari ini. Di tahap ini, lokasi kuil sudah berjarak hampir satu jam perjalanan sekali jalan dengan sepeda, sehingga mobilisasinya sangat melelahkan. Kuil yang kami datangi setelah menempuh jalan pedesaan yang panjang ini pun, sayangnya, tidak sesuai dengan ingatan Aoi-san.


"Begitu ya. Mari kita cek area perumahan di sekitar sini sebentar sebelum pulang."


"...Iya. Benar juga."


Senyum Aoi-san terasa kurang bertenaga. Yah, aku pun sama... aku berusaha keras memasang wajah ceria agar tidak membuatnya cemas, tapi jika ditanya apakah kegelisahanku tidak terlihat, aku tidak punya rasa percaya diri untuk bilang aku baik-baik saja.


Meski begitu, aku tidak boleh menyerah. Sambil menuntun sepeda, kami melihat-lihat area perumahan yang diterangi cahaya senja. Mungkin karena sudah mendekati jam makan malam, tidak ada orang yang terlihat di luar rumah.


"Kalau begini kita tidak bisa bertanya pada warga, ya."


Saat sedang berjalan sambil memandangi deretan rumah...


"...Lho?"


Langkahku terhenti melihat pemandangan di depanku.


"Akira-kun, ada apa?"


"Bukan, itu..."


Sambil mengajak Aoi-san yang bertanya dengan cemas, aku mulai mengitari area perumahan itu. Setelah melihat semua rumah di sana, sebuah kemungkinan muncul di benakku.


"...Aoi-san, boleh aku tanya satu hal?"


"Iya. Ada apa?"


"Nama keluarga nenekmu juga Soutome, kan?"


"Kurasa begitu. Karena Soutome adalah nama keluarga dari pihak ibu, jadi nenek juga seharusnya bermarga Soutome."


Tentu saja begitu. Kecuali ada situasi yang sangat khusus, neneknya pasti bermarga Soutome. Jika benar begitu... aku mencoba mencari sesuatu di ponselku, bertaruh pada kemungkinan tersebut.


Hasil pencarian yang muncul hampir sesuai dengan dugaanku, dan setelah membaca beberapa halaman web, kecurigaanku berubah menjadi sebuah keyakinan.


"Aoi-san, mungkin aku sudah menemukan cara untuk mencari rumah nenekmu."


"Benarkah!?"


"Cerita detailnya nanti saja setelah kita kumpul dengan Eiji dan yang lain."


Aku tidak menyangka akan mendapat petunjuk dengan cara seperti ini. Namun, kesadaran ini mungkin bisa memecah kebuntuan yang ada. Kami pun melangkah pulang dengan perasaan yang berdebar penuh harap.



Sesampainya di vila, ternyata Eiji dan yang lainnya sudah pulang. Sepertinya mereka pulang lebih awal karena aku sudah memberi kabar sebelumnya bahwa ada hal penting yang ingin kubicarakan. Setelah semuanya berkumpul di ruang tamu, Eiji langsung membuka pembicaraan.


"Katanya kamu menemukan ide bagus?"


"Iya. Tapi ini baru sebatas kemungkinan, jadi aku ingin kalian mendengar dan menilainya."


Aku membentangkan peta di atas meja lalu mulai bicara.


"Kesimpulannya, mungkin selama ini kita mencari di tempat yang salah."


"Tempat yang salah?" 


Aoi-san mengulangi perkataanku dengan nada cemas.


"Maksudmu ingatan Aoi-san yang keliru?" 


Sahut Izumi, seolah ingin membela Aoi-san.


"Aku tidak bisa memastikan, tapi kemungkinan itu tidak nol."


"Dari caramu bicara, sepertinya kamu sendiri pun belum punya bukti kuat ya, Akira." 


"Iya. Makanya aku ingin kita memikirkannya bersama-sama."


Setelah memberi pengantar, aku mulai menjelaskan hipotesis yang ada di kepalaku.


"Awalnya, aku terpikir bahwa kita mencari di tempat yang salah saat tadi sedang berkeliling di area perumahan. Tanpa sengaja aku melihat papan nama di gerbang rumah, dan ada satu marga yang menarik perhatianku. Bukan cuma satu rumah, tapi di daerah itu, enam dari sepuluh rumah punya marga yang sama."


"Sebanyak itu!?"


"Iya. Aku sampai sangsi dengan penglihatanku sendiri."


"Begitu ya..." 


Eiji menunjukkan ekspresi seolah mulai paham, sementara Izumi mencondongkan tubuh karena terkejut. Meskipun penjelasanku singkat, Eiji sepertinya sudah menangkap arahnya.


"Memang benar ada marga-marga tertentu yang terkonsentrasi di wilayah spesifik. Biasanya itu marga asli daerah tersebut atau berasal dari nama tempat setempat. Aku pernah dengar kasus ekstrem di mana sepertiga murid dalam satu kelas SD punya marga yang sama."


Seperti kata Eiji, hal ini ternyata bukan hal yang aneh di daerah pedesaan.


"Melihat deretan rumah dengan marga yang sama membuatku berpikir. Marga Soutome itu cukup jarang terdengar, jadi mungkinkah itu juga marga yang mengakar di wilayah tertentu?"


"Lalu hasilnya?" 


Hiyori mendesak jawaban.


"Tepat sasaran. Setelah kucari lebih detail, marga Soutome banyak ditemukan di wilayah Kanto, terutama di prefektur tempat kita tinggal sekarang. Terlebih lagi, marga ini terkonsentrasi di satu area tertentu."


"Di sebelah mana?"


Atas permintaan Eiji, aku menunjuk satu titik di peta.


"Untuk memastikan, aku mencari kata 'Soutome' di aplikasi peta. Ternyata ada beberapa toko pribadi dan perusahaan yang memakai nama Soutome. Aku yakin marga itu memang berkumpul di daerah ini. Tapi..."


Aku mendadak ragu melanjutkan kalimatku. Ada satu kontradiksi besar untuk membuktikan hipotesis ini.


"Daerah ini adalah wilayah yang sebelumnya kita coret dari daftar karena tidak ada kuil di sana."


Eiji dan yang lain bisa langsung paham hanya dengan melihat peta. Daerah itu memang memenuhi kriteria "sekitar satu jam perjalanan mobil" dan "dikelilingi gunung serta sawah", tapi satu-satunya kriteria yang tidak cocok adalah "dekat dengan kuil".


"Artinya, asalkan ada kuil di sana, daerah itu akan jadi kandidat yang sempurna ya."


"Iya..."


Dalam ingatan Aoi-san, rumah itu dekat dengan kuil. Jika kita percaya penuh pada ingatan itu, daerah ini harusnya dicoret. Tapi jika ada bagian ingatan yang sedikit meleset, area ini justru yang paling memungkinkan.


"Aku tidak bermaksud meragukan ingatan Aoi-san. Hanya saja, jika mengabaikan syarat 'dekat kuil' itu, kemungkinannya sangat tinggi jadi kurasa layak untuk diselidiki."


"Benar juga. Karena itu ingatan masa kecil, jadi tidak bisa dibilang pasti seratus persen..." Aoi-san mulai menerawang, mencoba menggali kembali ingatannya.


Saat itulah──


"Hanya karena di peta tidak ada kuil, bukan berarti ingatan Aoi-san salah, kan?"


"Hm? Apa maksudmu?" Izumi bergumam santai, dan aku langsung meresponsnya secara refleks.


"Mungkin dulu ada kuil, tapi sekarang sudah tidak ada?"


“”””Eh...?””””


Semua orang kecuali Izumi serentak mengeluarkan suara terkejut. 


Itu benar-benar titik buta──aku tidak terpikirkan hal itu, tapi kemungkinannya memang ada. Bisa saja dulu memang ada kuil, tapi karena suatu alasan kuil itu dihancurkan atau ditutup sehingga tidak lagi tercantum di peta sekarang.


"Izumi, memangnya kuil bisa ditutup atau dihancurkan?"


"Aku tidak tahu pasti, tapi mungkin saja rusak karena bencana alam, kan?"


"Benar. Atau mungkin dibongkar karena tidak ada lagi yang mengurusnya?" 


Hiyori dan Izumi mulai mendalami kemungkinan tersebut.


Mendengar percakapan mereka, aku teringat sesuatu yang pernah kubaca di internet beberapa waktu lalu.


"Waktu aku riset tentang kuil di internet, aku membaca bahwa belakangan ini banyak kuil yang tidak punya pendeta karena masalah finansial atau kurangnya penerus. Seringkali satu pendeta harus mengurus beberapa kuil sekaligus. Jika tetap tidak tertangani, ada kasus di mana kuil-kuil itu digabung atau dihapuskan."


Artinya, kuil yang ada di daerah tersebut mungkin saja telah digabung dengan kuil lain karena alasan mendesak. Jika demikian, itu menjelaskan mengapa ingatan Aoi-san benar namun kita tetap tidak bisa menemukannya. Kemungkinan besar daerah inilah tempat yang ada dalam ingatan Aoi-san. Namun, ada satu masalah besar yang tersisa──


"Kita tidak punya cara untuk mencari tahu bagaimana situasi di sana pada waktu itu..."


Kira-kira bagaimana cara kita melacak jejak kuil yang sudah tidak ada di peta, ya? Apakah ada cara untuk melihat data lama daerah itu?


"Ada kok," cetus Hiyori seketika.


"Peta ini memang kupicu dari internet, tapi saat sedang mencari-cari situs, aku menemukan situs yang memungkinkan kita melihat foto udara dari berbagai tahun. Kalau kita menelusuri waktu ke belakang di situs itu, mungkin kita bisa mengonfirmasi keberadaan kuil di masa lalu."


Rasanya seperti ada secercah cahaya terang yang menyibak kegelapan, membuat perasaanku membuncah.


"Hiyori, bagikan URL situsnya ke grup. Mari kita selidiki bersama."


Segera setelah Hiyori membagikan tautannya, kami semua mulai mencari. Segalanya bermula dari ketidaksengajaan melihat area perumahan dengan marga yang sama. Berawal dari satu informasi, kami menyelidiki berbagai kemungkinan, bertukar pendapat mengenai kontradiksi dan keraguan, hingga akhirnya hampir mencapai jawaban.


Sambil menahan debar jantung, aku memeriksa situs tersebut. Meskipun peta tidak diperbarui setiap tahun dan ada perbedaan frekuensi tergantung wilayahnya, data tersimpan dengan rentang waktu sekitar lima hingga sepuluh tahun sekali.


Kami mulai menelusuri mundur dari peta terbaru, dan seiring waktu yang diputar balik, detak jantungku semakin kencang. Di dalam ruang tamu yang mendadak hening, jantungku berdegup begitu keras sampai aku merasa suaranya bisa terdengar oleh orang lain.


"Ketemu."


Suara Hiyori memecah keheningan tersebut. Kami semua langsung meletakkan ponsel masing-masing dan berkerumun mengintip layar ponsel Hiyori.


Di sana terpampang peta dari lima belas tahun yang lalu. Karena ini foto udara, aku tidak bisa memastikannya seratus persen, tapi terlihat sebuah bangunan yang sangat menyerupai struktur kuil. Sementara di peta yang kami pegang sekarang, lokasi itu hanyalah sebuah lahan kosong.


"Di sini... tidak salah lagi, pasti di sini!"


Akhirnya kami sampai pada jawaban yang dicari, dan ruang tamu pun pecah oleh sorak kegembiraan.


"Kita berhasil, Aoi-san!"


"Iya!"


Aoi-san dan Izumi bersorak kegirangan sambil melakukan high-five, sementara Hiyori—seolah ingin merayakannya—mengambil puding dari kulkas dan mereka bertiga mulai memakannya. Mungkin itu cara mereka melakukan "bersulang".


Melihat pemandangan mereka bertiga, aku merasa sangat lega sampai seluruh tenagaku serasa menguap dan aku pun terhenyak di sofa.


"Kerja bagus, Akira."


Eiji menyodorkan sebotol jus sebagai bentuk apresiasi.


"Ah... meski ini belum benar-benar pasti," jawabku sambil menerima jus tersebut.


Setelah sekian lama mencari, akhirnya titik terang itu muncul di depan mata. Kira-kira, apa langkah pertama yang akan kita lakukan besok pagi untuk memastikan lokasi ini?


Ya. Kita belum bisa tenang sepenuhnya. Kita tidak akan tahu sampai kita benar-benar melangkah ke sana besok.


Meski begitu, kita sudah sampai sejauh ini dari titik di mana sama sekali tidak ada petunjuk. Untuk saat ini, tak ada salahnya aku ikut bergembira bersama Izumi dan yang lain tanpa perlu mengatakan hal-hal yang merusak suasana.


"Baiklah. Besok kita semua pergi ke sini."


"Sip! Ini pertama kalinya kita semua mencari bersama sejak datang ke vila, aku jadi tidak sabar!"


Suasana terang benderang menyelimuti ruang tamu, seolah-olah atmosfer suram seperti pelayatan tadi pagi hanyalah kebohongan. Dengan sisa waktu tiga hari, akhirnya aku merasa secercah harapan telah terlihat.



Keesokan paginya, kami bangun lebih awal dari biasanya.


Mungkin karena semua orang tidak bisa menahan rasa tidak sabar, tanpa direncanakan pun kami sudah berkumpul di ruang tamu satu jam sebelum sarapan. Aku bahkan terkejut melihat Izumi, yang biasanya hobi bangun siang, sudah bangun.


Yah, aku mengerti perasaannya. Lagipula, aku sendiri yang bangun paling awal. Sepertinya semua orang menaruh harapan besar pada hari ini.


Setelah sarapan dan bersiap-siap seperti biasa, kami meninggalkan vila bertepatan dengan jam buka kantor pengelola untuk menyewa sepeda dan berangkat dari sana. Kami mengayuh sepeda selama empat puluh menit dengan tetap mengutamakan keselamatan sambil menahan debar di dada.


Awalnya kami mengobrol dengan ceria sambil bersepeda, namun semakin dekat dengan tujuan, semua orang perlahan menjadi pendiam. Melihat Izumi yang biasanya berisik jadi setenang itu, aku bisa merasakan tingkat ketegangannya.


Hingga akhirnya kami tiba di sebuah tempat damai yang dikelilingi pemandangan sawah di kaki gunung. Di tengah pemandangan desa nan indah yang mirip seperti film animasi musim panas di televisi, terlihat beberapa orang lanjut usia yang sedang bekerja di sawah dan ladang sejak pagi buta.


"Hiyori, di sebelah mana lokasi kuilnya?"


"Di kaki gunung. Kalau dari sini, arahnya berlawanan dengan pemukiman warga."


Kami memutuskan untuk menuju bekas lokasi kuil terlebih dahulu sebelum ke pemukiman. Di tengah ketegangan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, kami akhirnya sampai di lokasi tujuan.


"...Jadi di sini."


Di sana terbentang sebuah lahan kosong yang cukup luas.


Tembok batu yang tersusun rapi di sekeliling lahan itu masih tersisa, dan melihat pohon cedar besar yang berdiri di tengahnya, sisa-sisa keberadaan kuil di masa lalu masih terasa. Namun, semua bangunannya telah dibongkar tanpa sisa.


Tepat saat aku berpikir akan sulit untuk menentukan apakah ini tempat yang ada dalam kenangan atau bukan...


"—Aoi-san?"


Aoi-san meninggalkan bekas lokasi kuil tersebut.


Sambil melihat sekeliling, ia berjalan menyusuri jalanan yang belum beraspal menuju area perumahan. Sambil mengikuti Aoi-san, aku memperhatikan papan nama di rumah-rumah yang kami lewati, dan beberapa rumah bermarga "Soutome" tertangkap oleh mataku.


Memang tidak salah lagi, di sinilah tempatnya. Tepat setelah aku berpikir demikian—


"Pemandangan di sekitar sini, aku pernah melihatnya..."


Aoi-san mengangguk kecil, lalu langkah kakinya perlahan menjadi lebih cepat.


Akhirnya saatnya tiba. Kami hampir sampai di rumah nenek yang selama ini dicari-cari. Sambil menahan debar jantung, aku mengikuti Aoi-san yang tiba-tiba berhenti setelah berbelok di beberapa tikungan. Ia memasang ekspresi sendu, antara terkejut dan rindu.


Mengikuti arah pandangannya, mataku tertuju pada sebuah rumah kayu dua lantai yang berdiri tak jauh dari sana. Aoi-san mendekat hingga tepat di samping rumah itu lalu berhenti, ia memeluk lengannya sendiri seolah-olah merasa takut.


"Rumah itu?"


"Iya..."


Wajar jika ia merasa begitu. Rumah nenek yang akhirnya ditemukan. Pertemuan kembali setelah sembilan tahun tentu membawa rasa tegang yang lebih besar daripada kegembiraan.


Apakah nenek masih mengingatnya? Jika pun ingat, apakah beliau akan menerimanya? Apakah beliau akan senang dengan pertemuan kembali setelah sekian lama ini?


Semua itu tidak ada jaminannya. Seandainya aku berada di posisi Aoi-san, kakiku pun pasti akan lemas jika membayangkan kemungkinan tidak disambut dengan baik. Perasaan yang berkecamuk di hati Aoi-san pasti jauh lebih rumit daripada yang kami bayangkan.


"Mulai dari sini, biarkan aku dan Aoi-san saja yang pergi."


Aku menoleh ke arah teman-teman dan mengatakannya meski merasa tidak enak hati.


"Kalau kita datang seramai ini sekaligus, aku takut neneknya akan kaget."


"Baiklah. Kalau begitu kami tunggu di bekas lokasi kuil tadi ya." 


Sahut Eiji yang mengerti situasinya, lalu mengajak Izumi dan Hiyori pergi dari sana.


Setelah melihat punggung mereka menjauh, aku kembali menghadap Aoi-san.


"Kamu tidak apa-apa?"


Tanpa sadar aku mengulurkan tanganku padanya.


"Iya... terima kasih."


Aoi-san menggenggam tanganku dengan erat. Biasanya aku pasti akan merasa sangat malu jika bergandengan tangan, tapi kali ini berbeda. Rasa cemas dan tegang Aoi-san yang tersalurkan dari telapak tangannya membuat pikiranku jadi tenang. Ini bukan saatnya untuk malu. Aku balas menggenggam tangannya dengan lembut untuk sedikit meringankan bebannya.


Namun, saat kami sudah berada hanya beberapa meter dari rumah itu, kami mulai merasakan kejanggalan.


"Ini..."


Begitu sampai di depan rumah, kejanggalan itu berubah menjadi keyakinan.


"Aoi-san, tidak salah lagi rumah ini kan?"


"Iya. Tapi..."


Di papan nama memang tertulis "Soutome". Semuanya cocok dengan ingatan Aoi-san, tidak salah lagi. Memang benar nenek Aoi-san pernah tinggal di sini. Tapi, seperti kata "pernah tinggal" yang baru saja kuucapkan, rumah itu tampak begitu terbengkalai sehingga sulit dipercaya kalau masih ada orang yang menempatinya.


Rumahnya terlihat sunyi, tanaman liar tumbuh tidak teratur, dan suasananya sangat berbeda dari rumah yang dihuni. Apakah kita terlambat sampai di sini? Ayo kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada rumah ini.


Rumput liar memenuhi halaman, dan kotak surat dijejali berbagai macam brosur. Mungkin karena terus-menerus terpapar hujan dan angin, sebagian jendela pecah, dan genteng atap berjatuhan berserakan di sana-sini, membuatku berpikir bahwa rumah ini setidaknya sudah kosong selama beberapa tahun.


Yang paling menentukan adalah adanya papan bertuliskan "Properti Dijual" yang tertempel di dinding luar.


"......Mari kita pastikan dulu."


Meski kemungkinan ada orang yang tinggal di sana adalah nol, aku tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak memastikannya. Aku melangkah ke depan pintu masuk bersama Aoi-san dan menekan tombol interkom.


“”............””


Aku menekannya beberapa kali, tapi tidak ada suara yang terdengar, mungkin karena aliran listriknya sudah diputus. Meski hasilnya sudah terduga, ini tetap terasa menyesakkan.


"Sepertinya memang benar-benar tidak ada yang tinggal di sini."


"Iya ya..."


Tidak ada yang menyangka hasilnya akan seperti ini. Kami baru saja menemukan petunjuk, yang juga cocok dengan ingatan Aoi-san, dan kami pikir bisa bertemu dengan neneknya—tapi yang tersisa di sana hanyalah rumah yang terbengkalai tanpa ada sosok nenek.


Ke mana gerangan beliau pergi?


Saat aku berpikir bahwa kami harus kembali ke titik nol...


"Kalian, apakah kenalan keluarga Soutome?"


Tiba-tiba sebuah suara menyapa kami dari belakang. Saat aku menoleh, di sana berdiri seorang wanita lanjut usia.


"Anu..."


Disapa oleh orang yang tidak dikenal membuatku ragu seberapa jauh harus menjelaskan situasinya. Namun, kupikir lebih baik mengatakan yang sebenarnya daripada mengarang cerita.


"Iya. Sebenarnya──"


Lalu kami menjelaskan bahwa Aoi-san adalah cucu dari orang yang dulu tinggal di rumah ini. Kami juga menceritakan situasi Aoi-san dan alasannya datang mencari sang nenek. Bagaimana kami dengan susah payah melacak lokasi rumah ini, namun malah kehilangan arah karena neneknya tidak ada di sana.


Mungkin terdengar terlalu blak-blakan bercerita pada orang yang baru pertama kali ditemui. Namun, kupikir jika orang ini tahu tentang nenek, dia akan lebih bersedia memberitahu jika kami jujur. Seandainya dia tidak tahu pun, aku berharap karena di desa rumor cepat menyebar, mungkin kami bisa dipandu ke orang lain yang mengetahui situasinya.


"Begitu ya. Aku memang pernah dengar beliau punya cucu, jadi itu kamu ya..."


Setelah penjelasan berakhir, wanita itu menunjukkan ekspresi yang rumit.


"Apakah Anda mengetahui sesuatu?"


Namun berlawanan dengan harapan kami, wanita itu menggelengkan kepalanya pelan.


"Soutome-san tinggal di sini sudah lebih dari tujuh tahun yang lalu."


"Lebih dari tujuh tahun yang lalu?"


Lalu wanita itu mulai berbicara dengan tatapan mata yang seolah mengenang masa lalu.


"Soutome-san kehilangan suaminya lebih awal dan tinggal sendirian di sini untuk waktu yang lama. Tapi tujuh tahun lalu, katanya orang tuanya di kampung halaman jatuh sakit dan membutuhkan perawatan. Memanfaatkan momen itu, beliau meninggalkan tempat yang penuh kenangan dengan suaminya ini untuk kembali ke rumah orang tuanya."


Jadi begitu alasannya...


"Apakah ada seseorang yang tahu lokasi rumah orang tuanya atau nomor telepon yang bisa dihubungi?"


Wanita itu kembali menggelengkan kepala seperti sebelumnya.


"Istri beliau itu pendatang dari jauh yang menikah ke sini."


"Begitu ya..."


Setelah itu, atas kebaikan hati wanita tersebut, ia membantu menanyakan kepada tetangga sekitar apakah ada yang tahu kontak nenek, tapi tetap saja tidak ada yang tahu. Sayang sekali, tapi tidak ada gunanya terus mencari di sini. Kami mengucapkan terima kasih kepada warga sekitar lalu meninggalkan area perumahan tersebut.



Saat kembali ke bekas lokasi kuil bersama Aoi-san, ketiga teman kami sudah menunggu di pintu masuk. Dari kejauhan aku bisa melihat ekspresi mereka yang penuh harap, namun mereka pasti menyadari situasinya dari suasana yang aku dan Aoi-san bawa. Saat kami sampai di hadapan mereka, tidak ada senyuman di wajah mereka bertiga.


Di tengah suasana yang berat, aku tetap harus menyampaikan kenyataan yang ada.


"Nenek Aoi-san sudah tidak tinggal di rumah itu lagi."


"Begitu ya... Bisa jelaskan situasinya?"


Atas pertanyaan Eiji, aku mewakili Aoi-san untuk mulai menjelaskan.


"Kesimpulannya, rumah itu memang benar rumah nenek Aoi-san. Tapi rumahnya sudah sangat terbengkalai, sulit dipercaya ada orang yang tinggal di sana. Saat kami bingung, seorang tetangga menyapa kami dan memberitahu bahwa beliau sudah kembali ke kampung halamannya sekitar tujuh tahun yang lalu."


Meski itu fakta, menjelaskannya saja sudah membuat hatiku sesak. Aku bisa merasakan suasana di sekeliling kami perlahan menjadi semakin berat.


"Aku sudah bertanya pada tetangga apakah ada yang tahu rumah asli nenek, tapi karena nenek bukan orang asli sini melainkan pendatang dari jauh yang menikah ke sini, tidak ada yang tahu."


Aku tidak pernah menyangka akan benar-benar menemui jalan buntu di sini. Baru satu jam yang lalu, saat dalam perjalanan ke sini, kami penuh dengan harapan, tapi sekarang rasanya seperti dihempaskan ke dasar jurang keputusasaan. Aku bahkan merasa baru kali ini benar-benar memahami arti kata "putus asa".


Semua orang yang ada di sana menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada lagi cara untuk mencari. Di tengah hasil terburuk ini, semua orang terdiam dan waktu terus berlalu. Suara tonggeret yang tadinya tidak mengganggu, kini terdengar sangat bising di telingaku.


Keesokan harinya, kami memutuskan untuk pulang ke kampung halaman dua hari lebih awal dari jadwal. Karena jejak nenek Aoi-san sudah benar-benar terputus, tidak ada gunanya tetap tinggal di vila.


Bukannya menyerah, keputusan ini diambil setelah diskusi untuk menata ulang rencana, namun sejujurnya tidak ada yang bisa menyembunyikan rasa syok yang mereka alami. Langkah kaki kami dalam perjalanan pulang terasa sangat berat.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close