NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi V2 Epilogue

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Epilogue

Beberapa hari kemudian setelah sepulang sekolah, aku masih tertahan di kelas dan berkutat di meja.


"Bagus sih kamu semangat banget soal urusan Aoi-san, tapi setidaknya kerjakan dong tugas sekolahmu."


"Gunu-nu..."


Izumi yang duduk di depanku menggoda dengan nada jengkel.


Ya. Alasan kenapa aku kena detensi sepulang sekolah adalah karena di kelas ini, cuma aku satu-satunya yang belum mengumpulkan tugas liburan musim panas. Guruku mengamuk dan menyuruhku mengumpulkannya hari ini juga, makanya aku berakhir begini.


"Mau bagaimana lagi... kemarin kan situasinya tidak memungkinkan."


"Bilang tidak mungkin pun, kami semua mengerjakannya dengan benar kok~"


"Gunu-nu-nu-nu..."


Kalau sudah dibilang begitu, aku tidak bisa membalas apa-apa. Tapi, yah──


"Masalah awal yang dihadapi Aoi-san semuanya sudah beres. Kalau menganggap ini sebagai imbalannya, kena detensi buat mengerjakan tugas sih bukan masalah besar. Makanya Eiji, boleh ya aku contek tugasmu?"


"Tidak bisa."


"Kenapa?"


"Punya aku, Izumi, dan Aoi-san sudah dikumpulkan. Kalau mengajarimu sih boleh, tapi kalau menyalin bulat-bulat ya tidak bisa."


Benar juga... aku kan ditahan justru karena belum mengumpulkan. Di sampingku yang sedang lesu, Aoi-san menyatukan kedua tangannya dengan ekspresi merasa bersalah.


"Ya sudahlah. Hal yang belum selesai cuma tugas ini saja. Akan kuselesaikan cepat-cepat──"


Tepat saat aku ingin mulai mengerjakannya kembali dengan semangat baru...


"Aah! Bicara soal hal yang belum selesai!"


Tiba-tiba Izumi berteriak sangat keras sambil berdiri.


Aku yang berada tepat di depannya langsung merasa telingaku berdenging parah gara-gara teriakannya.


"Aduh... apa sih? Ada apa?"


"Misinya masih setengah jalan..."


Nada bicara Izumi yang tadi penuh semangat tiba-tiba berubah lesu saat ia kembali merosot di kursinya.


"Soal itu, apa kamu pikir aku tidak menyadarinya?"


"Eeh... maksudnya apa ya~?"


Izumi mencoba berkelit dengan ekspresi seolah-olah baru saja kecewa karena ketahuan.


Percuma saja pura-pura tidak tahu padahal sudah keceplosan begitu. Apa yang sebenarnya direncanakan Izumi dan yang lain?


Kesimpulannya, intinya mereka bersekongkol untuk menjodohkanku dengan Aoi-san.


Misi pertama adalah bantal pangkuan Aoi-san, misi kedua ciuman tidak langsung, misi ketiga memperpendek jarak di malam festival, dan misi keempat adalah jebakan agar kami masuk ke pemandian bersama. Selain itu, mereka juga berusaha menempatkan aku dan Aoi-san di kamar yang sama.


Kalau diingat-ingat, Izumi dan Hiyori memang selalu ikut campur di setiap kesempatan.


"Sudah ketahuan tahu."


Jadi, di balik perjuangan kami mencari nenek Aoi-san selama liburan musim panas, Izumi dan Hiyori ternyata sibuk menyusun berbagai taktik untuk memajukan hubunganku dengan Aoi-san.


Aku memang sadar mereka merencanakan sesuatu yang tidak beres, tapi... ampun deh.


Tadinya aku ingin protes, tapi di depan Aoi-san yang merupakan orang yang bersangkutan, tidak mungkin aku bilang "Jangan coba-coba menjodohkanku dengan Aoi-san"...


"Kumohon, biarkanlah kami tenang."


Aku hanya memberinya peringatan tidak langsung agar tidak melakukan hal-hal aneh lagi.


"Habisnya... aku kan diminta oleh Aoi-san."


"Hah...?"


Seketika aku meragukan pendengaranku sendiri.


"Izumi-san, jangan──!"


Aoi-san tampak sangat panik melebihi apa pun yang pernah kulihat sebelumnya, sambil menarik-narik lengan baju Izumi. Rasanya dia seperti sedang malu, tersipu, sekaligus ingin menangis. Intinya, dengan wajah yang sangat malu dia mengomeli Izumi, "Padahal aku sudah bilang jangan diberitahu!".


"Anu... maksudnya bagaimana?"


Kepalaku benar-benar penuh dengan tanda tanya.


"Intinya, karena Aoi-san ingin lebih akrab dengan Akira, dia berkonsultasi dengan Izumi dan Hiyori-chan. Tapi mereka berdua malah terlalu bersemangat dan bertindak lebih jauh dari yang diharapkan Aoi-san," jelas Eiji.


"Eiji, kamu juga tahu?!"


Ternyata cuma aku yang tidak tahu apa-apa!


Kalau dipikir-pikir, memang ada beberapa hal yang masuk akal. Waktu aku berpapasan dengan Aoi-san di pemandian, aku sempat merasa aneh karena dia tampak sangat berani. Biasanya, kalau ada laki-laki di tempat mandi, seorang gadis pasti akan menjerit, tapi dia tidak melakukannya. Kalau dipikir dia sudah tahu aku ada di sana, semuanya jadi masuk akal.


Pasti dia sudah termakan omongan Izumi dan Hiyori.


Aoi-san itu terlalu polos jadi mudah percaya apa saja. Mungkin Izumi bilang padanya, "Kalau mau memperdalam hubungan, cara terbaik adalah dengan telanjang bersama!", dan dia pun percaya, lalu menahan rasa malunya untuk masuk ke pemandian.


Tadinya aku mengira Izumi dan Hiyori hanya berinisiatif sendiri memberikan perhatian yang berlebihan, tapi siapa sangka ternyata Aoi-san sendiri yang berkonsultasi kepada mereka berdua.


Maksudku, ingin lebih akrab denganku itu...


"Bukan begitu. Maksudku, tidak salah sih, tapi bukan begitu..."


Aoi-san sepertinya sudah dalam kondisi hampir menangis, merasa bahwa apa pun yang ia katakan sekarang tidak akan ada gunanya. Sementara itu, kerah baju Izumi dicengkeram oleh Aoi-san dan diguncang-guncangkan sampai ia merasa pusing.


Aku sebenarnya ingin bertanya lebih detail, tapi... sepertinya lebih baik tidak menyentuh topik ini untuk sementara waktu. Lagipula, waktu yang tersisa masih ada setengah tahun lagi, jadi tidak perlu terburu-buru. Di tengah teman-teman yang asyik mengobrol, aku pun mulai mengerjakan tugas sekolahku sendirian.



Sudah tiga bulan lebih sedikit sejak aku memungut gadis gyaru penyendiri di kelasku. Musim panas yang sibuk telah berakhir, dan musim gugur akan segera tiba.


Semua orang merasa bahagia karena seluruh masalah Aoi-san telah terselesaikan... namun pada saat itu, tak satu pun dari kami yang membayangkan bahwa masalah yang lebih besar sedang menunggu kami di depan sana.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close