Epilog 2
Aku
ini sebenarnya sedang melakukan apa?
Di
tengah kegelisahan seluruh akademi pembasmi setan yang menyambut hari
penilaian, Kuzunoha Kaede justru berdiri sendirian di belakang gedung sekolah
yang sepi.
Ia
tengah hancur oleh rasa benci pada diri sendiri karena merasa pengumuman
penilaian sudah tidak lagi penting.
Yang
berputar-putar di kepalanya hanyalah kenangan memalukan saat ia dikuasai oleh
emosi-emosi rendah yang hina.
Dulu,
saat Furuya Haruhisa membentuk tim dengan Soya Misaki.
Baru-baru
ini, saat Furuya Haruhisa yang masuk ke Hotel Rapunzel menciptakan sosok wanita
selain dirinya.
Dan
saat Soya Misaki memperbarui segel Climax Exorcism dengan kekuatan
misteriusnya, hampir merebut ikatan antara dirinya dan Furuya Haruhisa.
Ia
jelas-jelas merasa cemburu, dan terombang-ambing oleh emosi buruk itu.
“Padahal
aku tidak punya hak untuk cemburu…”
Karena
terlalu memikirkan hal-hal seperti itu, mungkin ia jadi tidak menyadari bahwa
segel Climax Exorcism semakin rapuh saat pemeriksaan rutin.
Mungkin ia
juga telah tertipu oleh keberadaan misterius bernama Mihoto. Rasa benci pada
diri sendiri semakin mempercepat.
Ponsel kerja
miliknya bergetar, menandakan ada email masuk.
Nada
dering ini—dari neneknya.
Saat
Kaede membuka aplikasi email, seperti biasa, neneknya menuliskan hal serius
dengan nada santai yang khas.
『Pada pertemuan para Dua Belas
Master Surgawi, kami akan membahas masa depan Furuya Haruhisa(^^)/』
“……!”
Kaede menahan
napas dan menggulirkan layar email.
『Maaf ya. Karena iblis juga ikut
terlibat, sepertinya kali ini aku tidak bisa lagi mengelabui para Dua Belas
Master Surgawi.』
『Memang tidak akan sampai seperti
pengadilan guillotine, tapi aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh
orang-orang dengan titik didih rendah itu.』
『Jadwal pastinya belum ditentukan, tapi
tolong sampaikan secara halus kepada bocah itu agar ia bisa mempersiapkan hati.』
Setelah
selesai membaca, Kaede menghela napas panjang sekali lagi.
Benar. Ia
memang tidak punya hak untuk cemburu.
Furuya
Haruhisa berada dalam posisi yang sangat merepotkan ini, dan ia terpesona oleh Climax
Exorcism—semua itu disebabkan oleh kelalaian dirinya.
“……”
Rasa rindu
yang semakin membesar dipaksanya untuk ditekan oleh rasa bersalah.
Kaede lalu
mengetik email yang terdengar seperti laporan bisnis kepada Furuya Haruhisa.



Post a Comment