NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 8 Epilog

Epilog

Hari Valentine


Seminggu telah berlalu sejak Festival Musik usai. Hari ini adalah tanggal empat belas Februari, hari yang di jalanan dikenal sebagai Hari Valentine.

Rasanya anak laki-laki sudah gelisah sejak pagi hari. Maksudku, bukankah biasanya jam segini mereka belum datang ke sekolah? Ada beberapa anak laki-laki yang membuatku berpikir begitu. Jangan berkeliaran di kelas tanpa alasan yang jelas.

……Aku? Tidak, lihatlah, aku kebetulan bangun pagi saja, kok……

"Selamat pagi semuanya!"

Uta, yang baru selesai latihan pagi klub, masuk ke kelas sambil menyapa dengan ceria.

Okajima-kun lewat di depan Uta sambil bersiul-siul. Itu terlalu dibuat-buat.

Uta memiringkan kepalanya dengan tanda tanya melihat tingkah Okajima-kun, lalu meletakkan tasnya di kursi.

"Sebenarnya, aku sudah buat cokelat untuk kalian semua!"

Uta mengangkat kantong kertas yang dibawanya bersama tas.

"Wooo!" seru anak-anak laki-laki dengan semangat. Saat mereka mengerubunginya dengan seruan "Bagi!" atau "Aku juga!", Uta menjulurkan lidahnya dan berkata, "Prioritas perempuan dulu, ya?" lalu bergabung dengan kelompok siswi. Tampaknya banyak siswi yang membuat cokelat persahabatan, mereka saling bertukar cokelat buatan sendiri dengan Uta. Terlihat sangat menyenangkan.

"Jangan lepaskan pandanganmu dari Sakura…… Kita harus memastikan dapat bagian yang 'dibagikan secara massal'."

"Ya! Perbedaan antara nol dan satu itu seperti langit dan bumi! Meskipun nilai cokelatnya hanya sebatas angka."

Okajima-kun dan Tachibana-kun menatap Uta dengan mata yang penuh ambisi. Seram tahu.

"Ya ampun."

Reita menghela napas. Dia duduk dengan anggun di kursinya sambil menyilangkan kaki dan mengedikkan bahu.

"——Padahal cokelat bukanlah alat untuk pamer kejantanan."

Di meja Reita yang berkata begitu, sudah ada beberapa cokelat yang sepertinya adalah cokelat utama (dari orang yang disukai). Benar-benar pamer yang kejam. Reita memang suka melakukan ini.

"Si, sialan……"

"Menjengkelkan sekali…… cuma karena dia populer."

Bukan hanya Okajima-kun dan Tachibana-kun, seluruh laki-laki di kelas menatap Reita dengan tatapan penuh kebencian.

"Nee, Natsuki?"

"Kenapa kau malah menyeretku ke dalam masalah ini! Jangan lempar beban padaku di sini!"

Reita menepuk bahuku. Aku bukan golongan yang sama denganmu!

"Si, si pacar orang ini……"

"Jangan bercanda, dia tidak puas hanya dengan merebut Hoshimiya-san kita……"

"Aku tidak bisa memaafkan bajingan itu……"

Lihat, kan? Aku malah jadi targetnya! Padahal aku belum menerima satu pun cokelat!

"Reita, apa semua itu cokelat utama?"

"Entahlah……? Padahal aku sudah dicegat saat selesai latihan pagi tadi."

"Kalau begitu, tidak mungkin itu cuma cokelat formalitas……"

"Yah, karena sudah tersebar luas bahwa aku putus dengan Miori, sih."

Reita bergumam dengan nada yang agak kesepian.

Masalahnya, karena sudah jadi rahasia umum kalau aku berpacaran dengan Hikari, kupikir aku tidak akan mendapat cokelat sebanyak Reita. Kalau cuma cokelat formalitas yang dibagikan secara massal, mungkin aku bisa dapat satu-dua.

"Kalau begitu, bagi yang laki-laki mau cokelat, aku kasih nih!"

Begitu Uta yang selesai bertukar cokelat dengan para siswi menyatakan hal itu, anak-anak laki-laki langsung mengerubunginya satu per satu.

"Kalau begitu, cokelatnya bakal habis dalam sekejap."

"Natsuki, kau tidak pergi?"

"……Kalau aku ikut mengerubungi sana, itu baru namanya masalah."

Aku melirik Reita sekilas. Reita tersenyum getir, "……Benar juga."

"Yo."

Di saat yang tepat, Tatsuya masuk ke kelas. Tatsuya melirik sekilas ke arah Uta yang sedang dikerubungi laki-laki, lalu meletakkan tasnya di meja.

"Hei Natsuki, soal manga yang kupinjam kemarin——"

Saat aku baru akan merespons Tatsuya, di saat itulah terjadi sesuatu.

"——Ta, Tatsu!"

Uta menerobos kerumunan laki-laki dan berlari menghampiri Tatsuya.

"Ini, untukmu!"

Bungkusan yang diambil Uta dari kantong kertas itu berbeda dengan bungkusan yang ia berikan pada laki-laki lainnya. Tatsuya berkedip karena terkejut.

"……Cuma cokelat formalitas, kok! Jangan salah paham!"

Uta menegakkan jari telunjuknya untuk memperingatkan Tatsuya. Anak laki-laki yang tadi sedang mengerubungi cokelat menatap mereka berdua dengan tatapan sedih.

"Ooh…… makasih."

Tatsuya yang sempat terpaku sejenak, akhirnya melembutkan ekspresinya dan tersenyum.

"Iya! Baiklah, lanjut bagi-bagi cokelatnya!"

Melihat itu, Uta mengangguk lalu kembali ke tengah kerumunan anak laki-laki. Aku memperhatikan Tatsuya yang sedang menatap cokelat pemberian Uta, sementara Tatsuya tampak bingung kenapa anak laki-laki lainnya kehilangan semangat.

"Baguslah, Tatsuya."

Reita tersenyum ke arah Tatsuya.

"……Natsuki. Berapa cokelat yang kau dapat?"

"Apa sih, berisik sekali. Nol."

"Begitu ya. Berarti sejauh ini aku yang menang, kan?"

Begitu aku menjawab dengan nada putus asa, Tatsuya tertawa seolah merasa menang. Anehnya, aku tidak merasa kesal.

Setelah itu, teman sekelas lainnya datang satu per satu. Karena ini pagi Hari Valentine, suasana jauh lebih akrab dari biasanya. Para siswi dengan gembira saling memberikan cokelat persahabatan.

Di sisi lain, para laki-laki saling pamer jumlah cokelat. Ada yang membanggakan jumlah, ada yang berlagak bicara tentang perbedaan nilai cokelat utama dan formalitas, ada yang memasukkan cokelat dari ibu ke dalam hitungan, dan ada yang yakin dirinya adalah raja. Benar-benar…… memalukan.

Ngomong-ngomong, yang membagikan cokelat formalitas ke laki-laki hanyalah Uta dan Fujiwara, dan sepertinya mereka tidak membawa cukup untuk semua orang. Laki-laki yang tidak kebagian terlihat sangat sedih. Di saat yang kacau itulah Hikari dan Nanase datang.

"Selamat pagi semuanya!"

"Selamat pagi. Hari ini terasa ramai sekali, ya."

Keduanya meletakkan tas di meja masing-masing dan segera mendekat ke arahku. Aku sudah tahu apa tujuannya. Hikari menyembunyikan tangannya di belakang punggung.

"Natsuki-kun, ini untukmu!"

Cokelat yang diberikan dengan senyum ceria itu berbentuk hati. Gadis-gadis berteriak "Kyaa!" dengan gembira, sementara laki-laki menatapku dengan tatapan tajam.

"Terima kasih, Hikari."

Aku benar-benar jadi pusat perhatian…… ini memalukan. Namun, tetap saja, menerima cokelat buatan tangan dari pacar sendiri itu menyenangkan. Aku tidak berniat ikut kompetisi pamer cokelat, tapi ini saja sudah membuatku merasa menang.

"Ayo, Yuino-chan juga! Kau kan ikut membuatnya juga, kan!?"

Hikari mengguncang bahu Nanase yang tampak malu-malu.

"Eh, di, di sini……!?"

Nanase bertanya balik dengan gugup karena merasa jadi pusat perhatian.

"Kalau tidak diberikan sekarang, bukankah kau akan melewatkan kesempatan dan tidak akan pernah memberikannya!?"

Nanase tidak bisa membantah desakan Hikari, lalu diam-diam mengulurkan tangan padaku. Di tangannya ada sebuah kotak persegi dengan pita. Tanpa dibuka pun, aku tahu isinya cokelat. Aku menerima kotak itu.

"……Itu. Sebagai bukti terima kasih karena sudah menolongku. Hanya itu saja!"

Nanase berkata dengan cepat sambil memerah. Aku mengucapkan terima kasih, sambil berpikir kalau ini pasti akan memicu kesalahpahaman lagi di kelas.

"Terima kasih juga, Nanase."

Hikari melihat Nanase dan aku lalu tertawa bahagia.

"Bajingan itu……"

"Kenapa? Itu namanya dikelilingi bunga, kan?"

"Sok ganteng sekali. Boleh kupukul nanti?"

Anak-anak laki-laki terus saja mengoceh. Karena aku bisa mendengarnya, ini bahkan bukan lagi gosip, tapi makian langsung! Yah, aku tahu mereka tidak serius.

"Ini untuk Reita-kun dan Tatsuya-kun juga! Ini!"

Hikari juga memberikan cokelat yang ia buat untuk Reita dan Tatsuya. Berbeda dengan milikku yang berbentuk hati, milik mereka berbentuk bintang. Sepertinya milikku memang spesial.

"Aku juga, sudah buatkan untuk Nagiura-kun."

"Eh? Oh…… terima kasih."

Nanase pun memberikan cokelat pada Tatsuya.

"……Loh? Aku bagaimana?"

Reita menunjuk dirinya sendiri dengan bingung.

"Shiratori-kun tidak perlu diberi, kan? Lagipula kau sudah dapat banyak."

"Ti, tidak bisa begitu…… gara-gara aku populer…… kenapa nasibku begini……"

Reita memegangi kepalanya karena sangat terkejut. Entah kenapa, aku sama sekali tidak merasa simpati.

"Bodoh……! Kenapa aku hanya mendapat lima cokelat saja……!?"

Saat pulang sekolah, Reita memegangi kepalanya. Rupanya lima cokelat yang didapat pagi tadi adalah jumlah maksimalnya.

"Memangnya tahun lalu kau dapat berapa?"

"Sekitar dua puluh, kan? Termasuk dari penonton yang memberikannya karena ikut-ikutan. Dulu ada tren di mana semua orang memberi cokelat pada laki-laki populer, kan? Itu dia."

"Tahun ini cuma lima ya…… yah, mungkin karena lingkungan berubah saat masuk SMA."

"Mungkin reputasi kasus kekerasan itu masih membekas? Meski kesalahpahaman sudah selesai, fakta bahwa kau sempat memukul orang tidak berubah. Mungkin banyak gadis yang memikirkan hal itu."

"Tapi bukankah waktu SMP kau juga bergaul dengan kelompok berandalan?"

"Ada masa bergaul dengan berandalan, dan diskors karena kasus kekerasan, itu berbeda. Kalau sebatas yang pertama, gadis-gadis malah menyukainya. Mereka tertarik pada laki-laki yang punya sisi gelap."

Logika unik Tatsuya terasa meyakinkan entah kenapa. Reita masih murung, tapi bukankah lima cokelat saja sudah cukup banyak?

"Lihat teman sekelas kita. Banyak yang pulang dengan tangan kosong."

"……Bisakah kau tidak menyamakan aku dengan mereka?"

"Sifatmu buruk sekali, ya."

Saat aku mengatakannya, Reita mengangkat wajah dan mengedikkan bahu, mungkin itu hanya candaan.

"Anak laki-laki itu bodoh ya."

Uta melihat kami dengan tatapan hambar. Hei, aku tidak melakukan hal aneh! Jangan pukul rata semua laki-laki!

"Ngomong-ngomong, kalian tidak perlu ikut klub?"

Aku bertanya pada mereka yang tidak terlihat terburu-buru meski sudah pulang sekolah.

"Ah, klub sepak bola libur hari ini."

"Hari ini gimnasium tidak bisa dipakai, jadi klub basket putra libur."

"Klub basket putri juga sama! Besok katanya ada acara kota!"

Jawab Reita, Tatsuya, dan Uta berurutan.

"Eh? Lalu bagaimana dengan klub di hari Sabtu-Minggu?"

"Latihan tanding di luar. Klub basket putri juga sama."

"Klub voli juga begitu, kan?"

Benar juga, seingatku guru sempat menyinggung hal itu saat pengumuman di kelas. Karena gimnasium dipakai untuk acara kota, hari ini dipakai untuk persiapan.

"Mumpung begitu, ayo pulang bareng!"

Uta yang mengusulkan dengan bersemangat.

"Klub sastra libur hari Jumat, jadi tidak masalah!"

"Aku tidak ikut klub, jadi hari ini tidak ada urusan."

"……Aku juga tidak ada latihan band atau kerja sambilan hari ini."

Hikari, Nanase, dan aku menjawab. Jarang sekali libur kami semua sinkron seperti ini.

Karena masing-masing punya kegiatan, ini pertama kalinya kami pulang bersama setelah sekian lama. Kami berjalan keluar sekolah menuju gerbang.

"——Oh iya, pengumpulan terakhir lembar pilihan jurusan sudah, kan? Akhirnya kalian memilih apa?"

Di tengah obrolan, Hikari membuka topik baru.

"Aku pilih jurusan IPS!"

"Aku juga, memilih IPS."

Itu adalah Uta dan Nanase. Sepertinya pilihan masa depan Nanase kali ini berbeda dengan kehidupan pertamaku.

"Yuino-chan, kau memutuskan masuk IPS ya."

"Kalau mengincar stabilitas, aku akan pilih IPA…… tapi aku ingin masuk universitas musik. Banyak universitas musik yang syarat masuknya hanya ujian bahasa Jepang dan Inggris, jadi IPS adalah pilihan tepat, bukan?"

"Musik, keren! Berarti jurusan piano, ya!?"

"Iya…… itu adalah mimpi yang sempat kutinggalkan sekali, tapi aku ingin mencapainya kembali."

——Aku akan menjadi pianis profesional, deklarasi Nanase.

Ada cahaya di mata Nanase, keputusasaan yang kulihat hari itu sudah hilang. Kakakmu bangga, Nanase.

"Kalau Hikarin bagaimana?"

"Tentu saja aku IPS. Aku buruk di mata pelajaran IPA."

"Yes! Yui-Yui dan Hikarin sama denganku!"

Uta berdiri di antara Hikari dan Nanase lalu menggenggam tangan keduanya.

"Fufu, benar juga. Mungkin tahun depan kita masih sekelas."

"Bukankah jurusan IPS ada tiga kelas? Bisa berada di kelas yang berbeda itu agak menakutkan……"

"Kalau begitu, biar aku beri tekanan pada guru!"

"Jangan, Uta. Nanti kau malah dimarahi."

Pilihan Hikari sepertinya sudah bulat ke IPS, berbeda dengan kehidupan pertama.

"Kau sudah memutuskannya ya, IPS."

Aku yakin Sei-san pasti mengharapkan Hikari memilih IPA. Namun, Hikari tetap memilih IPS.

"Karena aku ingin belajar hal yang berguna untuk novelku. Agar bisa jadi profesional."

Sepertinya tidak ada keraguan. Faktanya, Hikari tidak berkonsultasi denganku.

Mungkin dia sudah berdialog dengan orang tuanya. Hikari memutuskannya sendiri tanpa bergantung padaku.

"Kalian berdua luar biasa karena sudah menentukan mimpi masa depan dengan jelas. Rasanya berkilau sekali."

Reita bergumam. Nada suaranya terdengar sepi, yang agak mengejutkan.

"Reita-kun, apakah kau sudah mantap memilih IPA?"

"Iya. Karena aku belum tahu ingin jadi apa. Kupikir dengan memilih IPA, pilihanku akan lebih luas. Tatsuya juga sama, kan?"

"Yah. Selain itu, belakangan ini nilai pelajaran IPA-ku lebih baik."

"Eh, bukankah Tatsu-kun akan jadi pemain basket profesional?"

"Aku tidak sejago itu…… orang-orang seperti itu biasanya sudah masuk SMA elit sejak awal."

Pendapat Tatsuya realistis. Sebenarnya, tim basket putra Ryoumei prestasinya mentok di delapan besar tingkat prefektur.

Bukan berarti lemah, tapi tidak bisa dibilang sangat kuat. Dan tingkat tim empat besar jelas beda levelnya.

……Meskipun begitu, Tatsuya di masa depan akan jadi ace Ryoumei yang menghancurkan tim-tim kuat. Meskipun sekarang masih kasar, bakatnya jelas menonjol.

Tubuhnya masih tumbuh dan fisiknya bagus. Mungkin ini karena aku melihatnya sebagai sahabat, tapi aku yakin Tatsuya bisa melakukannya.

"Dulu kau bilang mau jadi profesional!"

Uta mengerucutkan bibir pada Tatsuya. Tatsuya menggaruk kepalanya dengan enggan.

"……Bukan berarti aku tidak mengincarnya. Tapi aku ingin bersiap seandainya tidak bisa. Jadi aku pilih IPA yang prospek kerjanya bagus, mendapat nilai bagus, lalu masuk universitas dengan nilai masuk tinggi yang punya klub basket kuat."

Ini adalah solusi terbaik, Tatsuya menjelaskan dengan datar.

"Kau mengincarnya ya, jadi profesional."

"Malu-maluin kan kalau bilang mau jadi profesional tapi ternyata gagal. Jadi aku tidak mau mengatakannya."

Melihat wajah cemberut Tatsuya, Uta tersenyum puas.

"Untuk ukuran Nagiura-kun, itu pilihan yang sangat tenang."

"Apa maksudnya 'untuk ukuran aku'?"

"Aku memujimu. Tentang pertumbuhanmu. Kalau awal masuk dulu, kau tidak mungkin memikirkan hal itu, kan?"

Nada bicara Nanase terdengar menggoda, tapi Tatsuya menyipitkan mata sedikit.

"……Yah, mungkin saja."

Tatsuya juga salah satu orang yang pilihannya berubah dari kehidupan pertama. Artinya, time leap-ku memberikan pengaruh.

Karena itulah, aku berharap perubahan itu menjadi sesuatu yang baik. Setidaknya, dari apa yang kulihat sekarang, itu bukan perubahan yang buruk. Semua pandangan tertuju padaku.

"Natsu bagaimana?"

Oh iya, aku terlalu banyak memikirkan orang lain sampai lupa menceritakan diriku sendiri.

"Aku memilih IPA."

Setelah Festival Musik usai, aku benar-benar dilema. Pada akhirnya, aku memilih jurusan IPA seperti kehidupan pertama.

"……Berarti laki-laki IPA, perempuan IPS ya."

"Benar-benar terbagi dengan jelas. Berarti tahun depan kita pasti beda kelas."

"Uwaa, tiba-tiba aku merasa kesepian! Padahal aku suka sekali dengan enam orang ini!"

Setelah kata-kata Uta, keheningan menyelimuti kami. Namun, itu bukan keheningan yang buruk. Semua orang merasakan hal yang sama. Tanpa harus diucapkan pun, perasaan itu tersampaikan.

"Natsuki-kun, bukannya kau tadi bimbang soal pilihan jurusan?"

"Iya."

"Ada alasan tertentu memilih IPA?"

"Kurasa hampir sama dengan Tatsuya."

"Eh…… maksudnya bagaimana?"

Hikari bertanya dengan bingung. Lalu aku menyatakan.

"——Band. Aku ingin melakukannya lebih serius lagi."

Meskipun begitu, tentu saja aku tidak akan mengabaikan hal lain demi band.

Aku harus membuat Hikari bahagia. Tidak, itu bukan kewajiban, tapi memang itulah yang ingin kulakukan.




Jadi, aku akan meminimalisir risiko sebisa mungkin, namun tetap melanjutkan apa yang ingin kulakukan.

"Bukan berarti aku sudah berpikir untuk langsung menjadi profesional atau semacamnya. Hanya saja... sambil menempuh jalan yang stabil melalui jurusan IPA yang memang kuasai, aku ingin mencoba melakukan kegiatan band dengan seserius mungkin."

Tidak ada jaminan akan sukses. Kemungkinan gagal justru jauh lebih besar.

Namun, jika aku melewatkan kesempatan saat ini untuk benar-benar menantang apa yang ingin kulakukan, aku pasti akan menyesal.

Karena itu, aku sudah memutuskannya. Kegiatan band yang setengah-setengah tidak cocok untukku.

Jika aku melakukannya, aku akan melakukannya dengan sungguh-sungguh.

Karena aku percaya, itulah masa muda yang paling berharga.

Waktu terus mengalir.

Musim terus berganti.

Satu tahun pun berakhir.

Kami akhirnya naik ke kelas dua.

"Halo, Senior! Akhirnya aku berhasil masuk sekolah ini!"

——Bunga sakura untuk kedua kalinya mekar, dan berbagai hal, mulai berubah.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close