NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 8 Chapter 4

Chapter 4

Menggenggam Erat Keberanian di Dalam Jari Jemari


Hari Festival Musik pun tiba. Tempatnya adalah gimnasium sekolah. Seluruh siswa telah berkumpul dan duduk di kursi yang sudah disiapkan.

Jadwal hari ini dimulai dengan pertunjukan pembuka dari klub musik, seperti klub alat musik tiup dan klub musik ringan, kemudian dilanjutkan dengan penampilan paduan suara dari kelas dua. Omong-omong, siswa kelas tiga tidak ikut serta karena sedang memprioritaskan ujian masuk universitas.

Dilihat dari waktunya, mungkin ini dimaksudkan sebagai perpisahan bagi siswa kelas tiga yang akan segera lulus.

Hingga hari ini, kelas kami, 1-2, telah melakukan banyak latihan. Tidak hanya di jam pelajaran musik, kami juga menggunakan waktu sepulang sekolah. Tentu saja, banyak siswa yang ikut klub, jadi latihannya bersifat opsional bagi yang bisa datang. Meski begitu, bahkan sehari sebelum hari-H, banyak siswa yang rela meliburkan diri dari klub demi ikut berlatih. Kurasa antusiasme kelas ini terhadap paduan suara adalah yang paling tinggi.

Padahal pada awalnya, hampir semua anak laki-laki tidak punya niat sama sekali.

Jika aku tidak sedang kepedean, kurasa peranku sebagai ketua bagian dan memimpin latihan sedikit banyak ada efeknya. Namun, bukankah pengaruh Nanase-lah yang paling besar?

Melihat sosok Nanase yang memainkan piano dengan segenap jiwa meski sesekali tampak tidak stabil, semua orang pasti merasakan sesuatu. Karena itulah, raut wajah mereka perlahan-lahan berubah.

"Kalau begini, aku ingin menang."

"Bukannya menang, maksudmu juara satu itu Medali Emas, kan? Juara dua Medali Perak, juara tiga Medali Perunggu."

"Jadi sistemnya begitu ya? Kalau sudah latihan sampai sejauh ini tapi tidak dapat penghargaan, rasanya lemas juga."

Gimnasium di pagi hari. Masih ada waktu sebelum upacara pembukaan dimulai. Percakapan teman sekelas yang riuh terdengar. Suasananya agak meluap-luap.

Yah, aku mengerti rasa senang dari suasana tidak biasa seperti ini. Tapi sejujurnya, aku tidak bisa menikmati perasaan itu karena gugup. Apakah semuanya akan berakhir dengan lancar?

"Natsu, wajahmu pucat sekali, bukan?"

"Perutku rasanya melilit……"

"Astaga……!? Penampilan kita kan masih lama?"

Tergantung pada jalannya acara, penampilan kami baru akan dimulai setelah lewat tengah hari. Aku tahu kalau gugup dari sekarang hanya akan menghabiskan tenagaku, tapi……

"Pe, perutku sakit……"

"Hi, Hikarin juga……!?"

Hikari juga mengerang seolah kondisi fisiknya sedang tidak baik. Di tengah situasi kami yang seperti ini, Nanase justru menatap panggung dengan ekspresi bengong.

"Ah, sepertinya akan segera dimulai."

Begitu seorang guru berdiri di atas panggung, riuh gimnasium perlahan menghilang. Suara guru yang diperkeras melalui mikrofon menggema di seluruh gimnasium yang sunyi senyap.

"Kalau begitu, saya nyatakan Festival Musik SMA Ryoumei ke-76 resmi dimulai."

Terdapat waktu istirahat selama lima belas menit setiap satu jam.

Penampilan klub musik tiup dan klub musik ringan baru saja selesai. Klub musik ringan diwakili oleh siswa kelas dua yang hanya kukenal wajahnya, tapi mereka sangat hebat dan membuat suasana meriah. Setidaknya, bukankah mereka dua kali lebih jago dariku? Yah, karena mereka wakil klub musik ringan, wajar saja kalau mereka mahir.

"Kaku sekali ya kalau duduk terus."

"Setuju. Lagipula, aku jadi mengantuk."

Reita memutar bahunya untuk mengecek kondisinya, sementara Tatsuya sedang menguap.

"Apa kondisi perutmu sudah membaik, Natsuki?"

"Yah. Karena tadi sudah ke toilet, setidaknya sedikit lebih tenang……"

Sambil berbincang ringan seperti itu, kami berjalan di koridor dan memutar keran wastafel untuk membasahi tenggorokan. Karena seluruh siswa berkumpul di gimnasium, koridor selama jam istirahat jadi sangat padat.

Di tengah kebisingan yang riuh, pundakku ditepuk dari belakang.

"Natsuki-kun."

Saat menoleh, ada Hikari di sana. Ekspresinya tampak khawatir.

"Boleh minta waktunya sebentar?"

Di ruang kelas kosong yang ditunjukkan Hikari, Nanase sedang menatap ke luar jendela.

"Jadi kau memanggil Haibara-kun, ya."

Nanase bergumam begitu menyadari kehadiranku.

"Aku pikir, sebaiknya kita pastikan sekali lagi."

Hikari menatap mata Nanase lekat-lekat dan melanjutkan kata-katanya.

"Hari ini, Yuino-chan akan memainkan iringan di depan seluruh siswa. Jumlah penontonnya tidak bisa dibandingkan dengan yang sudah-sudah. Mungkin lebih banyak daripada kompetisi piano atau resital yang pernah Yuino-chan alami. Memang sudah terlambat untuk bertanya, tapi…… apakah kamu baik-baik saja? Apa ada perubahan pada kondisi fisikmu?"

"Ya, aku baik-baik saja. Kalau soal kondisi fisik, bukankah kalian berdua justru terlihat jauh lebih buruk?"

Nanase tertawa kecil.

"Bi, berisik ah…… Aku cuma sedang gugup."

"Menurutmu, ini salah siapa?"

Saat aku mengeluh, Nanase membalas dengan senyuman dan permintaan maaf, "Maafkan aku."

"Hei, kalian berdua."

Hari ini, ekspresi Nanase tampak begitu cerah. Itu sama sekali berbeda dengan wajahnya belakangan ini yang tampak cemas dan terlihat seperti anak hilang.

"Boleh dengarkan ceritaku?"

Waktu istirahat lima belas menit itu hampir berakhir. Kami harus segera kembali agar tidak terlambat. Bahkan, keributan di koridor sudah mulai menghilang.

"——Awalnya, aku hanya senang saat bisa menyalurkan perasaanku ke dalam musik."

Meskipun begitu, kami memilih untuk mendengarkan cerita Nanase.

"Tidak ada alasan khusus mengapa aku bermain piano. Aku hanya senang berekspresi. Aku senang saat dipuji oleh Ibu, dan hanya dengan itu saja, aku bisa berlatih selama apa pun."

Nanase bercerita seolah sedang mengenang masa lalu.

"Alasan aku mulai ikut resital dan kompetisi adalah karena disarankan oleh Ibu. Sejujurnya, aku lebih senang bermain piano sesukaku di rumah daripada di tempat yang membuat tegang seperti itu."

Nanase mengalihkan pandangannya ke arah Hikari.

"Meski sudah berulang kali melakukannya, aku tetap tidak bisa menyukainya. Alasan hal itu berubah menjadi kenangan manis adalah karena kau, Hikari—karena kau datang ke resital piano dan memujiku."

"Eh……? Benarkah begitu?"

"Karena itu cerita yang sangat lama, wajar kalau kau tidak ingat, Hikari."

Nanase tersenyum pahit melihat Hikari yang memiringkan kepalanya dengan bingung.

"Kau bilang aku hebat sekali. Kau bilang sangat tersentuh dan ingin aku bermain lagi. Hanya untuk mendengar kata-kata itu, aku merasa tidak apa-apa meski harus bermain di panggung besar lagi."

"Yuino-chan…… aku baru pertama kali mendengar itu?"

"Tentu saja. Aku baru mengatakannya sekarang. ……Lagipula, memalukan, kan?"

Mungkin karena malu, Nanase memainkan rambut panjangnya dengan tangan. Melihat Nanase seperti itu, Hikari tersenyum lembut.

"……Hari itu. Hari di mana aku gagal dalam kompetisi piano besar. Itu adalah kenangan buruk, jadi aku berusaha untuk tidak memikirkannya…… tapi belakangan ini, demi mengatasi gejala ini, aku sering memikirkannya kembali. Dan akhirnya, aku menyadari sesuatu. Yang sebenarnya membuatku khawatir bukanlah penonton yang kecewa. ……Tentu saja, aku memang takut akan hal itu, itu benar."

Suaranya yang bergetar saat bercerita pasti karena dia teringat akan kejadian saat itu.

"Alasan utamanya adalah—— karena aku melihat Ibu meminta maaf."

Nanase pasti sedang berhadapan dengan masa lalunya saat ini. Dia sedang berhadapan dengan sesuatu yang enggan diingat dan sesuatu yang selama ini selalu ia hindari.

"Aku tidak tahu siapa orang itu. Mungkin saja orang penting di industri musik. Ibu bilang tidak perlu khawatir, tapi melihat itu membuatku takut. Bahwa jika aku gagal bermain, aku akan merepotkan Ibu. Karena aku tidak pernah membayangkan hal seperti itu sebelumnya."

Itu pasti jawaban sebenarnya yang disadari Nanase sendiri.

"Padahal aku ingin membuatnya senang, tapi jika malah merepotkan, bukankah lebih baik tidak usah bermain saja?"

Setidaknya, Nanase saat itu pasti secara tidak sadar menyimpulkan hal tersebut. Itulah sebabnya dia takut berdiri di atas panggung, dan akhirnya berubah menjadi gejala yang nyata.

"……Alasan aku merasa tenang saat menggenggam tangan Haibara-kun, pasti karena aku tahu kalau aku bersandar padamu, kamu tidak akan menganggapku merepotkan. Karena kamu bilang kita ini…… teman."

"Tentu saja, itu sudah pasti."

"Dan alasan mengapa itu tidak bisa dilakukan oleh Hikari adalah……"

Aku menahan napas. Aku tidak menyangka dia akan menyinggung hal itu. Memang, aku sudah lama penasaran. Mengapa Hikari tidak bisa? Tapi, aku merasa ragu untuk mengejarnya. Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi melihat kondisi Nanase, sepertinya akan ada jawaban yang memengaruhi hubungan Hikari dan Nanase.

Namun, jawaban Nanase di luar dugaanku.

"Karena bermain dengan baik di saat seperti itu pun tidak ada artinya, kurasa."

"Tidak ada, artinya?" Hikari bertanya dengan bingung.

"Sebab, kaulah—orang yang ingin kuperdengarkan permainan pianoku."

Hikari mengerjapkan matanya berulang kali.

"Aku tidak bisa bersandar pada orang yang ingin kuperdengarkan permainanku."

"……E-Eh!?"

Mungkin karena baru memahami arti kata-katanya, Hikari berteriak dengan wajah memerah.

"Bukankah aku sudah bilang kalau aku mengagumi penampilan kalian? Makanya aku berpikir ingin bermain piano sekali lagi. ……Tentu saja itu benar. Tapi, ada alasan lain juga."

Tak lama kemudian, kata-kata yang tak terduga terucap.

"Aku merasa frustrasi."

Itu terlalu tidak terduga, jadi aku tidak mengerti maksudnya.

"……Frustrasi terhadap apa?"

"Bahwa orang yang menggerakkan hati Hikari dengan permainannya, bukanlah aku."

"Eh?" suara Hikari terdengar pelan. Tanpa disangka-sangka, kata-kata itu mirip sekali dengan apa yang dikatakan Hikari kepadaku sebelumnya.

"Hari konser festival budaya, Hikari menangis di sampingku. Setelah itu, kau terus memuji Haibara-kun dan teman-teman betapa hebatnya kalian. Padahal sebelumnya, hak itu hanya milikku……"

"Tu-Tunggu, Yuino-chan…… soal aku yang menangis itu rahasia, tahu……!"

Hikari berusaha menghentikan Nanase dengan panik, tapi Nanase tetap melanjutkannya tanpa peduli. Setelah itu, dia menatapku dengan ekspresi yang seolah sudah lega. Dia mengarahkan jari telunjuknya ke arahku.

"Singkatnya, kau adalah rivalku."

"Menurut standar Nanase, bolehkah rival disandari?"

"A-Apaan sih…… tidak apa-apa, kan. Lagipula, kau kan Haibara-kun."

Sambil mengangkat bahu, aku berpikir, dia sama sekali tidak membantah, ya.

"Rasanya kau sudah baik-baik saja meski sendirian, bukan?"

"Karena seseorang menceramahiku…… aku jadi meninjau kembali perasaanku sendiri."

Siapa, pikirku, tapi langsung terlintas wajah seseorang. Dia itu memang tipe orang yang suka mengurus urusan orang lain. Sepertinya dia sudah menjadi kekuatan bagi Nanase.

"Eh. Itu…… Yu, Yuino-chan?"

Nanase menarik tubuh Hikari hingga jarak mereka sangat dekat dan saling bertatapan. Hikari menatapku sekilas sambil merona merah padam.

"——Aku ingin menyampaikan pada Hikari bahwa aku bisa bermain sekali lagi."

Nanase menyatakan hal itu dengan jarak yang begitu dekat hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.

……Kenapa rasanya aku jadi orang ketiga di sini?

"Aku ingin memperlihatkan padamu sekali lagi, piano yang kau sukai, di panggung terbaik."

"I-Iya…… tolong, ya……"




Hikari mengangguk-angguk kecil. Wajahnya tampak begitu bahagia.

……Eh, tunggu. Sebenarnya apa yang sedang mereka perlihatkan padaku?

"Lalu…… kalau aku bisa memainkannya dengan sempurna, aku ingin Hikari memujiku," ucap Nanase dengan wajah yang tampak malu-malu.

Rasanya ada sebuah pintu baru yang hendak terbuka. Berhenti! Pintu yang itu tidak boleh dibuka!

"Fufu…… kau manis sekali, Yuino-chan."

Hikari menyentuh pipi Nanase yang sedang memalingkan wajah karena malu, lalu memaksanya untuk menatap dirinya.

"Baiklah. Kalau begitu mulai sekarang, aku akan memujimu sepuasnya, ya?"

"Tu, tunggu dulu, aku kan belum tampil!"

"Kalau begitu, nanti setelah festival musik kita sukses, bagaimana kalau kita pulang bersama berdua?"

Sebagai catatan, aku ingin mengingatkanmu bahwa pacarnya ada di sini, jadi tolong jangan lupakan keberadaanku, ya?

Jatah tampil kelas 1-2 kami adalah tepat setelah jam istirahat makan siang. Ngomong-ngomong, fakta bahwa kami bolos dan pergi melarikan diri tentu saja ketahuan, dan kami pun dimarahi habis-habisan. Kami bertiga disemprot bersamaan, jadi kami pun melewatkan waktu makan siang. Yah, meski begitu, kurasa aku juga tidak bisa memasukkan apa pun ke perut karena terlalu gugup.

"Baiklah, semuanya, apa persiapan kalian sudah oke?"

Begitu aku memanggil teman sekelas yang berkumpul di belakang panggung, mereka membalas dengan anggukan. Tampaknya semua orang yang biasanya bersikap santai pun kini merasa gugup tepat sebelum naik ke panggung. Sambil menunggu giliran, aku berbisik kepada Nanase.

"Nanase, kamu benar-benar tidak apa-apa?"

"……Iya. Kali ini, aku benar-benar tidak apa-apa."

Kali ini, kami tidak melakukan ritual menggenggam tangan seperti biasanya. Aku teringat pemandangan Nanase yang roboh saat pelajaran musik. Di tengah tekanan batin yang begitu besar karena tampil di acara resmi, pasti ada rasa cemas yang menghantui.

"Kalau aku tidak bisa melampaui ini di sini, tidak ada artinya aku meminjam kekuatan kalian semua."

Meski begitu, dalam kata-kata Nanase saat ini, aku merasakan kekuatan yang layak untuk dipercayai.

"Lagipula…… kalau misalnya aku gagal, bukankah kamu akan menolongku seperti waktu itu?" bisiknya di telingaku. Rambutnya menyentuh leherku, terasa menggelitik.

Hikari menatap kami berdua dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan.

"Yuino-chan, ya ampun……"

"Ke, ke, kenapa, Hikari? Aku tidak melakukan apa-apa, kok!"

"Boleh kuberikan kau gelar sebagai 'Wanita nomor satu yang tidak diinginkan oleh teman pacarnya'?"

Itu adalah kata-kata yang sangat kejam. Nanase yang biasanya kuat pun sampai menutup wajah dengan kedua tangannya.

"Natsuki-kun juga, malah asyik bermesraan dengan gadis selain aku……"

"Aku tidak bermesraan, dan bukannya Hikari sendiri yang menyuruh Nanase untuk bergantung padaku?"

"Itu…… memang benar sih! Tapi, sekarang aku jadi merasa terancam!"

Karena aku yang mengatakannya akan terdengar aneh, maka aku tidak akan mengucapkannya, tapi sensor ancamanmu itu terlalu lambat, tahu.

"Hikari juga, bukannya tadi kau sendiri yang bermesraan dengan Nanase……"

"Itu beda lagi! Kan kami sesama perempuan!"

Entahlah. Bagiku suasananya tadi sudah seperti melampaui batasan gender.

"Woi, kelas 1-2, giliran kalian," ucap guru musik yang menghampiri kami di tengah percakapan itu.

Aku menatap wajah Nanase. Ia mengangguk dengan mantap.

"Coba ucapkan sepatah kata?"

Fujiwara menepuk bahuku dengan tongkat dirigennya. Saat aku menoleh, teman sekelas lainnya menatapku.

"Ehm…… kalau begitu, mari tunjukkan paduan suara terbaik kita!"

Karena aku tidak bisa mengucapkan kalimat yang keren, aku hanya menyatakan hal yang sangat biasa. Namun, teman-teman sekelasku tetap menyahut dengan semangat.

Kami naik ke panggung dan berbaris rapi. Fujiwara berdiri di depan dengan tongkat dirigen, dan Nanase duduk di kursi depan piano. Gimnasium dipenuhi oleh seluruh siswa yang duduk dengan rapi di kursi mereka.

Pemandangannya sangat megah. Apakah ini kali pertama kami mendapat perhatian sebanyak ini sejak konser festival budaya? Dulu aku terlalu nekat sampai tidak memedulikan jumlah penonton, tapi sekarang aku cukup tenang sehingga bisa melihat wajah tiap orang dengan jelas. Sebagai gantinya, perutku terasa berat karena gugup.

Begitu Fujiwara mengangkat tongkat dirigennya, sedikit suara riuh menghilang sepenuhnya. Gimnasium yang seharusnya menampung ratusan orang itu menjadi sunyi senyap. Bukan berarti mereka semua fokus pada paduan suara kami—hanya saja, mereka pasti akan dimarahi guru kalau berisik.

Dari sini, wajah para siswa terlihat jelas. Mereka yang melihat kami dengan serius justru minoritas, sementara sebagian besar tampak bosan, dan tidak sedikit yang diam-diam tertidur.

——Orang-orang seperti itu, cukup buat mereka sadar melalui musik kita. Setuju?

Aku menatap Nanase. Dia fokus pada tuts piano. Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Fujiwara mulai mengayunkan tongkatnya. Pada saat yang sama, suara piano grand terdengar.

Harmoni yang kuat namun lembut. Iringan itu seolah membuat pemandangan muncul di dalam benakku. Suasana gimnasium yang santai di siang hari itu mulai berubah total. Wajah para siswa mulai mendongak.

Aku mulai bernyanyi.

Agar tidak merusak nilai dari iringan ini.

Semua orang bernyanyi dengan suara yang bagus. Mereka tampak bernyanyi dengan sepenuh hati. Iringan piano Nanase menuntun paduan suara kami. Melodi yang indah namun menyedihkan itu menopang kelompok suara kami dengan lembut. Begitu bagian pertama selesai, aku menarik napas. Saat menatap Nanase yang terus memainkan iringan, dia sedang tersenyum. Senyum itu terlihat lebih memikat daripada ekspresi apa pun yang pernah kulihat dari Nanase sebelumnya.

——Waktu penampilan kami berlalu dalam sekejap.

Tanpa kusadari, kami sudah diselimuti oleh suara tepuk tangan. Karena terlalu fokus pada musik, aku baru menyadari bahwa paduan suara telah usai. Saat kembali ke realitas, semua orang tersenyum dengan puas.

Di antara siswa kelas tiga yang bertepuk tangan, tidak sedikit yang menangis. Karena ini adalah lagu perpisahan yang standar, aku sudah menduga lagu ini akan menyentuh hati banyak orang, tapi pemandangan ini melebihi ekspektasiku. Kami membungkuk dalam-dalam sebelum turun dari panggung.

"Ini sih, kita pasti juara satu, kan?"

"Ya! Orang-orang yang akan bernyanyi setelah ini pasti gemetaran, kan?"

Tatsuya dan Okajima-kun merangkul bahu satu sama lain dan tertawa dengan gembira. Mereka jelas sedang terlalu percaya diri, tapi karena semua orang merasakan hal yang sama, tidak ada yang menghentikan mereka berdua.

"Pemandangan yang tidak terduga dari dua orang yang tadinya bilang paduan suara tidak penting," gumam Fujiwara sambil menghela napas. Namun, ekspresinya tampak puas.

"Yuino-chan!"

Hikari mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Nanase pun memberikan respon yang jarang—dia tersenyum lebar dan melakukan high-five. Suara plak yang renyah terdengar. Setelah itu, mereka berdua saling menggenggam tangan.

"Seperti yang kuduga, piano milik Yuino-chan adalah yang terbaik!"

Nanase meneteskan air mata saat mendengar ucapan Hikari yang masih tampak bersemangat.

"……Terima kasih, Hikari. Aku senang sekali."

"E, eh……!? Yuino-chan, jangan menangis……!?"

Hikari menyeka air mata Nanase yang berjatuhan dengan sapu tangan yang ia keluarkan dari saku. Teman sekelas yang lain hanya bisa melihat mereka berdua dari jauh. Orang pertama yang mendekat adalah Uta. Uta memeluk Nanase dari samping.

"Keren sekali! Berkat piano Yui-Yui, kita pasti menang!"

Fujiwara juga mendekati Nanase dan berkata sambil tersenyum, "……Iya. Semuanya benar-benar berkat Yuino. Terima kasih."

Orang yang menghampiri dengan ragu-ragu adalah Onozawa-san.

"Sa, saya sangat terharu……! Piano Nanase-san, seperti biasa, saya sangat menyukainya……!"

Seolah dipicu oleh hal itu, suara-suara pujian untuk Nanase terdengar satu demi satu.

"Ber, berlebihan…… lagipula," Nanase membantah dengan malu-malu, lalu berkata, "Paduan suara ini dibuat oleh kita semua bersama-sama, kan? Ini bukan karena kekuatanku sendiri."

Uta yang tadi memeluk Nanase tersenyum puas.

"Tentu saja, kita semua juga berusaha! Iya kan? Hikarin!"

"Iya. Meskipun aku tidak terlalu mahir…… menurutku ini menjadi hasil yang bagus."

Hikari tampak meresapi kembali paduan suara tadi.

"Yah, bukankah kita sudah berusaha cukup keras? Kita semua."

"Karena ada si bodoh yang terus berlatih dengan serius, jadi ya mau tidak mau," ucap Reita dan Hino sambil melirik ke arahku dan tertawa sinis. Hei, tidak apa-apa kalau aku dibilang bodoh.

"Bukankah lebih menyenangkan kalau kita membuatnya menjadi paduan suara terbaik?"

Tidak ada niat lain selain itu. Kalau harus dipaksa mencari alasannya, aku hanya ingin menciptakan lingkungan di mana Nanase bisa berlatih dengan lebih mudah.

"Seperti yang diharapkan dari Natsuki, kau sangat berjiwa muda, ya."

"Kau juga seumur denganku, tahu……"

Aku membalas sindiran Hino, tapi kalau dipikir-pikir, kami memang tidak seumur. Maafkan aku karena usia mentalku yang rendah! Aku memang ingin menjalani masa muda seperti ini!

"Menurutku tidak begitu. Dibandingkan dengan orang yang sok cool, kurasa kamu jauh lebih dewasa."

Dukungan alami dari Nanase itu sangat menyentuh hatiku. Terima kasih banyak……

"Nah, saatnya kembali."

Kami sudah berbicara cukup lama, jadi kami harus segera kembali ke kursi masing-masing.

"Iya. Paduan suara kelas berikutnya akan segera dimulai——"

"——Ehm. Sebentar saja, boleh?"

Tepat saat aku dan Fujiwara hendak mengatur barisan, Nanase menarik perhatian semua orang. Kemudian, dia membungkuk dalam-dalam.

"Terima kasih. Berkat kerja sama kalian semua, aku bisa bangkit kembali."

Karena semua orang tidak tahu proses bagaimana dia tidak bisa bermain piano tanpa bergantung padaku, mereka mengira Nanase sudah mengatasi gejalanya sejak lama. Jadi, reaksi mereka pun terasa seperti, "Ah, kau berlebihan sekali……"

……Itu tadinya, sebelum.

"Jadi, kamu sudah tidak perlu menggenggam tangan Haibara-kun lagi?"

Fujiwara menanyakan hal itu. Sesaat kemudian, dia menutup mulutnya karena sadar. Suasana kelas yang tadi hangat langsung membeku.

"Dengan Haibara, pegangan……?"

"Eh, apa maksudnya……?"

"Memang benar, sebelum main piano, mereka berdua keluar bersama, kan……?"

"Eh? Tapi bukankah Hoshimiya-san juga sering bersama mereka……?"

"Aku penasaran apa yang mereka lakukan, ternyata pegangan……!?"

"Eh? Maksudnya, mereka selingkuh!? Di depan pacarnya……!?"

"Se, selingkuh yang direstui……!?"

Suasana menjadi riuh rendah, gosip menyebar dengan sangat cepat. Sudah kuduga akan jadi begini, makanya aku diam saja!

Fujiwara terlihat sangat menyesal. Saat mata kami bertemu, dia menjulurkan lidahnya. Hei! Kau sudah sadar itu tidak benar, jadi jangan katakan di tempat seperti ini!

"Aku memang merasa belakangan ini mereka bertiga terlihat sangat akrab~"

Uta menatapku dengan mata yang sangat dingin. Jangan! Jangan menatapku seperti itu!

"Bu, bukan selingkuh! Tidak apa-apa! Justru aku yang menyarankannya!"

Hikari berusaha menjelaskan dengan panik, tapi itu malah membuat kegaduhan semakin menjadi. Itu langkah yang salah, Hikari!

"Ternyata memang disetujui!?"

"Hu, hubungan yang kacau……!?"

"Ja, jangan-jangan bertiga……!?"

"Hoshimiya-san punya fetis yang bisa membuatmu bersemangat dengan hal-hal seperti itu, ya……"

Mereka membicarakan apa pun yang mereka suka. Situasinya sudah tidak terkendali.

"Tu, tunggu! Aku akan menjelaskan dari awal dengan benar! Jangan salah paham!"

Wajah Nanase memerah hingga ke telinga saat dia mencoba membela diri sambil hampir menangis.

"Ha, Haibara-kun juga, tolong katakan sesuatu!"

"……"

Karena apa pun yang kukatakan justru akan seperti menyiram bensin ke api, aku memutuskan untuk diam saja. Sejujurnya, aku ragu apakah menjelaskan dari awal akan benar-benar meluruskan kesalahpahaman mereka.

Sebagai tambahan, karena kami berisik di belakang panggung dan tidak kunjung kembali ke kursi, kelas 1-2 kami tentu saja dimarahi oleh guru. Ini adalah ceramah kedua hari ini…… padahal aku sudah menjalani hidup untuk kedua kalinya, lho……

"Me, mengerikan sekali tadi……"

Di kelas setelah pulang sekolah. Nanase terkapar di mejanya dengan ekspresi yang sangat lelah.

"Sulit sekali ya……"

Hikari tertawa pahit sambil duduk di meja sebelah Nanase. Kelas kami, 1-2, berhasil meraih Medali Emas, bahkan mengungguli kelas dua. Artinya, kami juara satu.

Kami sempat merayakannya tadi, tapi sekarang hanya tinggal kami bertiga. Semua orang sudah pergi karena ada kegiatan klub.

"Kerja bagus."

Setelah itu, berkat penjelasan putus asa Nanase, kesalahpahaman tentang "selingkuh yang direstui (?)" berhasil diluruskan.

……Yah, mereka setidaknya menerima penjelasannya secara lahiriah, tapi aku ragu apakah mereka benar-benar sudah tidak salah paham.

"Meski sudah dijelaskan semuanya, masih ada orang yang jelas-jelas curiga…… aku merasa frustrasi……"

Nanase memancarkan aura suram. Dia tidak terlihat seperti pahlawan yang baru saja membawa kelas meraih Medali Emas.

"Curiga, maksudnya soal apa?"

"……Bahwa aku diam-diam jatuh cinta pada Haibara-kun."

Nanase mengangkat wajah dari mejanya, bibirnya mengerucut karena tidak terima. Yah…… wajar saja kalau ada yang berpikir begitu. Kalau dijelaskan secara detail, justru orang semakin curiga.

"Mustahil, kan? Untuk meluruskan kesalahpahaman itu."

"……Sejujurnya, aku sendiri tadinya sempat berpikir begitu."

Saat Hikari dan aku mengucapkannya bergantian, Nanase membuka-tutup mulutnya seperti ikan.

Bukan begitu, tentu saja orang lain akan berpikir begitu!

"Ka, kalian berdua pun berpikir begitu!?"

"Yah, soalnya…… kalau kamu merasa tenang hanya dengan menggenggam tangan, itu pasti karena kamu menyukai orang itu, kan?" Hikari menunjuk dengan nada yang datar.

Hei, hentikan. Kau tidak perlu mengeluarkan kemampuan pengamatan tajammu itu ke sahabat sendiri. Yah, mungkin ini bahkan tidak perlu pengamatan tajam. Ada hal-hal di dunia ini yang lebih baik dibiarkan menjadi misteri.

"Bu, bukan begitu! Aku tidak jatuh cinta pada Haibara-kun! Aku, hanya……"

"Kamu, hanya?"

Nanase tampak ragu dan menggeliat gelisah untuk sementara waktu. Kemudian, sambil menatapku dengan malu-malu, dia berbisik.

"……Kalau aku punya kakak laki-laki, mungkin rasanya seperti ini, pikirku……"

Kakak laki-laki.




"Kakak laki-laki", ya?

Wah, ternyata kakak laki-laki, ya……

Bagaimana mungkin oshimen (karakter favorit) yang merupakan gadis cantik rupawan menganggapku sebagai kakak laki-lakinya?

"Ma, maafkan aku, Yuino-chan…… sepertinya tadi aku salah paham……"

Selama aku sibuk merenungi hal itu, Hikari meminta maaf dengan ekspresi yang seolah sedang menahan tawa. Nanase sendiri sudah menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

"……Sudahlah, bunuh saja aku……"

Itu tidak boleh. Aku tidak bisa membiarkan adikku mati.

"Mulai sekarang, panggil aku kakak, ya."

"Aku tidak mau! Benar-benar, bunuh saja aku! Aku sudah tidak sanggup hidup lagi!"

"Berbaik-baiklah dengan Namika, ya."

Nanase hendak membuka jendela sambil merengek, jadi Hikari buru-buru menghentikannya.

"Te, tenanglah, Yuino-chan! Lagipula, Natsuki-kun, apa yang baru saja kau katakan?"

……Eh!? Tadi, apa yang baru saja kulakukan……?

Rasanya seperti jiwaku sedang melayang di dunia mimpi……

Aku tidak terlalu mengerti, tapi kenyataan yang ada di depan mata adalah Hikari sedang menatapku dengan tatapan sedingin kutub utara.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku berjalan pulang berdua saja dengan Hikari. Langit telah diwarnai oleh warna jingga matahari terbenam. Seiring malam yang mendekat, suhu udara perlahan-lahan mendingin.

Nanase sudah pulang duluan dengan terburu-buru sambil berujar, "Aku tidak mau salah paham lagi!"

Selain itu, sepertinya sekarang dia tidak ingin melihat wajahku. Tega sekali. Padahal kan aku kakaknya……

"Wajahmu itu, bukankah itu wajah orang yang sedang memikirkan hal konyol?"

"Jangan bicara sembarangan. Justru aku sedang memikirkan hal yang sangat suci."

Ya, memikirkan tentang deklarasi "kakak" dari sang oshimen. Sepertinya itu bukan mimpi. Hikari menatap wajahku dalam diam, lalu menghela napas panjang.

"……Yah, memang banyak hal yang terjadi, tapi syukurlah semuanya selesai dengan baik."

"Itu benar."

Kalau dilihat hasilnya, paduan suara kami sukses besar dan kami meraih Medali Emas. Kurasa gejala yang dialami Nanase pun sudah berhasil diatasi.

Meski ada banyak hal yang dikorbankan (seperti karakter Nanase, misalnya), hasilnya tetap memuaskan.

"Sekarang tinggal apakah dia bisa bermain di kompetisi piano atau tidak."

"Kurasa sekarang sudah tidak apa-apa sih…… tapi soal itu, mungkin sepenuhnya tergantung pada Yuino-chan sendiri."

Setelah hasil hari ini, katanya dia akan kembali berkonsultasi dengan psikiater. Apakah dia bisa menantang kompetisi piano atau tidak, itu tergantung pada keputusan sang dokter.

"……Maaf ya, Hikari."

"Eh?"

"Hikari pasti mempercayaiku dan menyerahkan ini padaku, tapi kurasa perasaanmu pasti campur aduk, ya."

Sejujurnya, aku tidak tahu cara bertindak yang benar. Sebagai teman, aku ingin menolong Nanase. Sebagai kekasih, aku ingin menghargai Hikari.

Perasaan itu selalu ada di benakku, dan di saat aku bimbang, Hikari-lah yang mendorong punggungku.

"……Rasanya aku terlalu banyak bergantung pada Hikari."

Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin ada cara yang lebih baik. Jarakku dengan Nanase menjadi terlalu dekat. Mungkin saja sebenarnya Hikari merasa gelisah selama ini.

"Tidak begitu, kok. Justru akulah yang terlalu bergantung pada Natsuki-kun."

Hikari menunduk dengan perasaan bersalah.

"Karena aku tidak percaya diri bisa menolongnya sendirian, aku jadi mengandalkan Natsuki-kun. Kupikir jika aku tidak memintanya, Natsuki-kun pasti tidak akan bisa masuk terlalu dalam ke hati Yuino-chan."

Kata-kata Hikari sekali lagi menembus isi kepalaku dengan tepat. Memang benar, jika tanpa izin Hikari, aku pasti akan lebih memprioritaskan posisiku sebagai kekasihnya.

"Jadi, terima kasih ya, Natsuki-kun. Sudah menolong sahabatku."

Hikari tersenyum lebar dan menyampaikan rasa terima kasihnya padaku.

"……Tapi, ini bukan karena kekuatanku sendiri. Ini karena teman-teman sekelas yang mau bekerja sama, karena Hikari-lah yang memberikan ide untuk berpegangan tangan, dan yang paling penting, karena Nanase sendiri yang berjuang. Aku sendiri tidak……"

"Bilang tidak melakukan apa-apa……? Jangan terlalu berlebihan dalam merendah, ya?"

Hikari menusuk-nusuk bahuku dengan kepalan tangannya.

"Apakah ini merendah……?"

Sebenarnya, aku ingin menyelesaikannya dengan cara yang lebih cerdas. Misalnya, memanfaatkan pengalaman kehidupan keduaku untuk menyelesaikannya dengan elegan!

Kalau saja yang melakukan time leap adalah orang lain, mungkin mereka bisa melakukannya.

Namun realitanya, yang ada di sini hanyalah aku, seorang mahasiswa biasa. Jadi, aku tidak bisa menjadi pahlawan yang serba bisa.

"Mungkin aku mulai mengerti apa yang sedang dipikirkan Natsuki-kun."

Eh!? Apakah kau sadar kalau aku seorang time leaper!?

……Tidak, tidak mungkin ada hal seperti itu.

"Jadi, sekarang aku akan mengatakan sesuatu yang terdengar seperti seorang pacar, ya."

Hikari menekankan bahwa dia hanya akan mengatakannya sekali karena ini memalukan. Lalu, dia menarik napas panjang.

"——Natsuki-kun benar-benar pahlawanku!"

Dia berteriak dengan lantang dan menepuk punggungku dengan keras. Kata-kata Hikari benar-benar membaca pikiranku.

"Terima kasih, Hikari."

Itu adalah kata-kata yang menguatkan hatiku.

"Aku jadi merasa sedikit lebih percaya diri."

Melakukan segalanya dengan sempurna setiap saat itu mustahil. Namun, jika tidak ingin menyesal, satu-satunya cara adalah melakukan yang terbaik dengan apa yang bisa kulakukan sekarang.

"……Ngomong-ngomong, boleh aku tanya sesuatu yang sempat kupikirkan?"

"Hm? Tanyakan saja apa pun!"

"Hikari…… saat kau membiarkan aku dan Nanase bersentuhan, apa jangan-jangan kau menikmatinya?"

"Haaa!?"

Hikari berteriak terlalu keras sampai-sampai dia tersedak ludahnya sendiri.

"Ma, maaf. Tentu saja tidak mungkin begitu, ya……"

"Ti, ti, tidak mungkin begitu! Apa sih yang kau bicarakan!?"

Ke, kenapa dia begitu terguncang?

"……Eh? Apa itu benar?"

"Bu, bukan…… bukan begitu! Aku tidak mengakuinya! Aku tidak punya hobi seperti itu, sungguh!"

Hikari menggelengkan kepalanya dengan panik, dan entah kenapa itu terlihat lucu di mataku. Ibarat seorang tersangka yang menyangkal kejahatannya dengan putus asa sambil berteriak, "Tunjukkan buktinya, mana buktinya!"

"……"

"……"

"……Tidak, itu."

"……Iya."

"……Waktu Miori-chan menghilang, Natsuki-kun berlari meninggalkanku, kan."

Hal yang keluar dari mulut Hikari adalah kejadian yang tak terduga. Saat dia membahas kejadian itu, sejujurnya aku tidak bisa berkata apa-apa. Dengan wajah memerah, Hikari melanjutkan kata-katanya, "Aku, tidak mau mengakuinya, tapi……"

"Sa, saat itu…… meskipun hatiku sangat sakit…… rasanya ada sedikit rasa nikmat……"

Apa yang kau katakan? Gadis bangsawan satu ini……

"I, ini semua salah Natsuki-kun, tahu!?"

Saat aku terperangah, Hikari justru balik menyalahkanku dengan mata berkaca-kaca.

"Maaf, ya…… Hikari. Karena aku……"

"Hentikan! Jangan menatapku dengan tatapan melihat orang mesum!"

Sepertinya, aku baru saja membangkitkan selera seksual yang luar biasa dari gadis yang kusukai.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close