NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 8 Prolog

Prolog

Impian yang Pernah Kulihat Suatu Hari Nanti


Aku selalu menyukai musik sejak dulu.

Kurasa, pengaruh dari kedua orang tuaku tentu sangat besar.

Sebab, Ibuku adalah seorang pianis, dan Ayahku adalah seorang produser musik.

Mereka tidak pernah memaksaku melakukan apa pun. Ketertarikanku pada musik klasik, hingga keinginanku untuk mulai bermain piano, semuanya murni keputusanku sendiri.

Namun, jika mempertimbangkan lingkungan tempatku dibesarkan, mungkin ini sudah menjadi sebuah garis takdir yang wajar.

Semuanya berawal saat aku pergi menonton konser piano tempat Ibuku tampil.

Aku yang saat itu diajak oleh Ayah, terus mengucek mata yang mengantuk sambil menunggu giliran Ibu naik ke atas panggung.

Berpadu dengan atmosfer ruangan yang begitu tenang, tanpa sadar aku pun terlelap.

Aku terbangun karena merasakan guncangan pelan di bahuku oleh Ayah yang duduk di sebelahku.

"Lihat, Yuino. Itu Ibu," ucap Ayah dengan nada suara yang terdengar begitu bahagia.

"Wah, itu Mama?"

"Benar. Cantik, kan?"

Mengenakan gaun merah yang mewah dan megah, Ibu yang berdiri di atas panggung terlihat seperti orang yang sama sekali berbeda dari biasanya.

"……Iya, cantik banget."

Tak lama kemudian, pertunjukan Ibu pun dimulai. Ujung jemarinya bergerak lincah di atas tuts piano, seolah-olah sedang menari.

Alunan nadanya begitu indah. Meski kurasa, ada sedikit penilaian subjektif karena beliau adalah Ibuku sendiri yang sedang kudengarkan dengan serius.

Namun, tetap saja, hanya melodi indah itulah yang sampai sekarang masih bisa kuingat dengan jelas, seakan-akan baru terjadi kemarin.

"Aku juga mau jadi seperti Mama!"

Sejak keesokan harinya, aku pun mulai belajar bermain piano.

"……Begitu, ya. Kalau begitu, mau coba main piano sedikit demi sedikit?"

Ibu pasti sudah lama ingin mengajariku. Namun, beliau menahannya karena tidak ingin memaksakan kehendak padanya.

"Ikuti ritmemu sendiri saja, ya. Kamu boleh memainkannya kapan pun kamu mau."

Ibu memang selalu menjadi orang yang terlalu baik.

"Hebat! Kamu sudah bisa memainkannya? Kamu sudah berjuang keras ya, Yuino."

Saat mengajariku piano, Ibu selalu terlihat sangat menikmati momen itu.

Beruntung, sepertinya aku memiliki bakat dalam bidang ini. Aku pun tumbuh besar dengan diselimuti oleh berbagai pujian.

"Hei Yuino. Bagaimana kalau kamu mencoba ikut resital piano?"

"Resital?"

"Benar. Bermain piano di depan banyak orang, sama seperti Mama."

"……Di depan, banyak orang……"

"Apa Yuino tidak mau?"

"……Kayaknya, bakal gugup. Agak takut."

"Mama mengerti. Kalau begitu, kita lanjutkan saja seperti biasanya, ya."

"——T-Tapi! Aku mau coba…… Aku mau coba!"

Sejak saat itu, aku mulai berpartisipasi dalam berbagai resital piano.

"Anak dari keluarga Nanase itu hebat banget, ya."

"Kudengar dia putri dari Nanase Miwako. Pantas saja sehebat itu."

Bahkan saat dibandingkan dengan anak-anak seusiaku di sekitar, aku menyadari bahwa kemampuanku jauh melompat di atas mereka.

Hanya saja, karena Ibuku adalah seorang pianis profesional, orang-orang menganggap bakatku sebagai suatu hal yang sudah sewajarnya.

Lambat laun, aku mulai mengikuti berbagai kompetisi piano dan terus membawa pulang penghargaan. Bermain piano di hadapan semua orang ternyata jauh lebih menyenangkan daripada yang kukira.

Aku juga merasa sangat senang saat dipuji.

"Nanase ikut kompetisi juga, ya?"

"Kalau begitu, medali emasnya sudah pasti jatuh ke tangannya."

Tanpa disadari, orang-orang mulai menjulukiku sebagai anak ajaib.

Saat aku menginjak bangku sekolah menengah pertama, namaku sudah menjadi sangat terkenal.

Gadis yang digadang-gadang harus menjadi seorang profesional. Seperti itulah penilaian orang-orang di sekitarku.

Aku sendiri pun memang berniat untuk mengarah ke sana.

Namun, Ibu tidak hanya menyuruhku berfokus pada piano semata. Beliau memintaku untuk mempelajari banyak hal lainnya.

Saat sekolah dasar aku belajar upacara minum teh dan kaligrafi, lalu saat SMP aku bergabung dengan klub panahan. Meskipun piano tetap menjadi pusat dari kehidupanku, aku merasa seluruh pengalaman itu benar-benar menjadi bekal yang berharga bagiku.

Ibu yang mengetahui realitas betapa kerasnya kehidupan seorang pianis yang tidak laku, mungkin berharap agar aku bisa memilih masa depanku sendiri dari berbagai pilihan yang ada.

Ibu selalu mengharapkan kebahagiaanku.

Aku adalah orang yang sangat beruntung, dan aku sangat menyadari hal itu. Atas dasar kesadaran itulah, aku memilih piano.

Bahkan jika masa depan yang sulit dan kejam sedang menantiku di depan sana——aku sama sekali tidak peduli.

"Hebat, hebat banget! Piano Yuino-chan memang yang terbaik!"

Aku juga memiliki sahabat berharga yang selalu mendukungku.

Dia selalu memberikan reaksi yang luar biasa heboh, dan hal itu selalu berhasil menjadi sumber kekuatanku.

"Ibu. Aku ingin mencoba ikut kompetisi dengan level yang lebih tinggi lagi."

Dan saat aku duduk di kelas dua sekolah menengah pertama.

Aku memohon kepada Ibu untuk mengizinkanku berpartisipasi dalam sebuah kompetisi besar berskala nasional.

Aku berhasil lolos babak penyisihan dan melaju ke babak utama. Babak utama tersebut diselenggarakan di sebuah gedung di Tokyo.

Itu adalah tempat pertunjukan terbesar yang pernah kumasuki sepanjang karierku.

Gedung tersebut dipadati oleh penonton yang sangat banyak, dan di antara mereka, tentu saja ada kedua orang tuaku.

Semua orang menganggapku sebagai bintang utama dalam kompetisi ini.

Sebuah panggung terbaik yang telah dipersiapkan dengan matang. Jika memikirkan masa depan, tidak ada tempat unjuk gigi yang lebih sempurna daripada ini.

——Artinya, aku sama sekali tidak boleh gagal.

Tepat di saat kesadaran itu melintas di benakku, ujung jemariku mendadak bergetar hebat, dan kepalaku langsung kosong seketika.

Aku menjadi takut dengan giliranku sendiri. Padahal, bermain piano seharusnya menjadi hal yang sangat menyenangkan.

Baru beberapa saat setelahnya aku menyadari bahwa perasaan ini adalah sebuah rasa gugup yang luar biasa. Keringat dingin mengucur deras bagaikan air terjun.

Bayangan musik yang biasanya muncul secara alami di dalam kepalaku, kini mengabur dan perlahan lenyap tak berbekas.

Padahal aku sudah berlatih dengan sangat keras. Mengapa bisa jadi seperti ini?

Hanya kalimat-kalimat penuh tanya seperti itu yang terus muncul dan tenggelam di dalam benakku.

Alunan nada dari tuts piano yang sangat kusukai, serta lagu Etude karya Chopin yang seharusnya sudah kulatih ribuan kali, mendadak berubah menjadi rongsokan suara bising yang tak berarti.

Begitu aku menyadari bahwa jemariku sendirilah yang menciptakan suara berantakan itu, aku pun jatuh ke dalam jurang keputusasaan.

Permainan pianoku yang hancur lebur akhirnya selesai juga.

Saat aku berdiri, segala jenis tatapan mata dari penjuru ruangan seolah menusuk langsung ke sekujur tubuhku.

Tidak ada tepuk tangan. Di dalam dunia ini, tidak ada satu orang pun yang berdiri di pihakku.

Tatapan-tatapan itu terasa sangat menakutkan, mengerikan, dan membuatku begitu trauma——hingga pandanganku perlahan berubah menjadi gelap gulita.

"Hanya mimpi, ya……"

Saat kelopak mataku terbuka, yang menyambutku adalah langit-langit kamar yang sudah sangat familier.

Kesadaranku perlahan kembali ke dunia nyata. Aku sedang berada di atas tempat tidur di kamarku sendiri.

Jantungku berdegup dengan sangat kencang, berdegum keras di dalam dada. Area leherku terasa basah kuyup oleh keringat dingin yang tidak menyenangkan.

Sembari menggeser sedikit pandanganku, jarum jam dinding yang terletak di atas bantal menunjukkan tepat pukul tujuh tepat.

"Aku harus segera pergi ke sekolah……"

Aku menyibak selimut yang menutupi tubuh. Sembari memaksakan tubuhku yang terasa sangat berat, aku pun bangkit berdiri.

Begitu melangkah keluar dari kamar, hal pertama yang langsung tertangkap oleh sudut mataku adalah ruang musik yang sudah menemaniku sejak kecil.

Dengan langkah gontai seolah tersedot oleh kekuatan misterius, aku melangkah masuk ke dalam ruang musik tersebut.

Sesuatu yang langsung mencuri perhatianku adalah sebuah grand piano yang duduk dengan anggun tepat di tengah ruangan.

Saat aku mencoba untuk menyentuh tuts-tuts indahnya.

"……Sekarang, aku sedang tidak punya waktu."

Aku langsung membuang muka, lalu melangkah keluar dari ruang musik.

Entah kepada siapa kalimat alasan itu sebenarnya kuucapkan.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close