NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 8 Chapter 1

Chapter 1

Dengan Tenang, Dengan Perlahan


Tiga belas Januari.

Libur tahun baru telah usai, dan atmosfer di dalam ruang kelas perlahan-lahan mulai kembali ke rutinitas harian yang biasa.

Di dalam kelas yang terasa hangat berkat mesin penghangat ruangan, suara kapur yang menulis di papan tulis oleh guru sejarah dunia terdengar menggema.

Meski rasanya malas sekali, aku harus tetap mendengarkan pelajaran sejarah dunia ini dengan serius.

Jika ini mata pelajaran IPA, aku masih bisa mengandalkan pengetahuanku dari kehidupan pertamaku, tapi aku tidak begitu percaya diri dengan mata pelajaran hafalan rumpun IPS.

Ketuk, ketuk. Kapur putih itu mengetuk papan tulis, lalu menggoreskan sebuah garis.

Sembari menanamkan penjelasan sang guru yang terdengar datar ke dalam kepala, aku terus mencatatnya di buku tulis.

Saat jemariku sedang senggang, aku mencuri pandang ke arah bangku di sebelahku.

Seorang gadis dengan rambut sewarna rami yang diselipkan di balik telinga, sedang menatap papan tulis dengan ekspresi yang sangat serius.

Hoshimiya Hikari.

Gadis tercantik di angkatan kami, sekaligus sang idola sekolah (menurut klaimnya sendiri).

Matanya yang bulat besar. Bulu matanya yang lentik. Kulitnya yang putih bersih dan tampak transparan. Serta fitur wajahnya yang begitu proporsional.

Profil wajahnya dari samping benar-benar sangat indah, sampai-sampai aku tidak akan pernah bosan meski terus memandanginya sepanjang waktu.

Rasanya masih sulit dipercayai kalau gadis seperti dia sekarang sudah menjadi pacarku. Bahkan, terkadang aku berpikir apakah ini semua hanyalah sebuah mimpi yang terlalu panjang.

Mungkin karena menyadari tatapan mataku, Hikari menoleh ke arahku dengan ekspresi wajah yang tampak heran.

Mata kami saling bertemu. Hikari memiringkan kepalanya sedikit sambil mengulas senyuman, seolah sedang bertanya, "Ada apa?"

……Dia terlalu imut, sampai-sampai aku refleks membuang muka.

Untuk menyembunyikan perasaan salah tingkah ini, aku menusuk pipi Hikari menggunakan ujung belakang pensil mekanikku.

Astaga, aku ini sudah seperti anak SD saja. Sembari merutuki kebodohanku sendiri di dalam hati, aku kembali mengalihkan pandangan ke arahnya.

Hikari sedang melotot ke arahku dengan tatapan mata yang tajam, seolah ingin memprotes, "Kamu sedang apa, sih~?"

Namun, ekspresi wajahnya yang sengaja menggembungkan pipi itu terlihat dibuat-buat, dan tampaknya dia tidak benar-benar marah. Imut sekali.

Hikari mendekatkan wajahnya ke arah telingaku, lalu berbisik pelan.

"Dasar bodoh."

Sejujurnya, bulu kudukku langsung merinding seketika. Apa ini yang dinamakan dengan sensasi ASMR? Rasanya aku baru saja dicerahkan.

Di saat aku sedang memikirkan hal bodoh seperti itu, Hikari tiba-tiba merebut pensil mekanik dari tanganku tanpa izin, lalu mulai melanjutkan catatannya di papan tulis. ……Hei, asal tahu saja, di dalam tempat pensilku cuma ada satu pensil mekanik, lho?

Apa ini adalah hukuman karena aku sudah menjailinya saat pelajaran berlangsung?

Karena tidak bisa mencatat pelajaran di papan tulis, aku akhirnya hanya bisa terus memandangi sosok Hikari, hingga tak lama kemudian suara bel berbunyi menandakan pelajaran telah berakhir.

Guru sejarah dunia yang hemat bicara itu mengucapkan salam penutup, lalu bergegas melangkah keluar dari ruang kelas.

Tusuk, tusuk.

Hikari balik menusuk pipiku menggunakan pensil mekanik milikku.

"Tolong dengarkan pelajaran di kelas dengan serius."

"Ooh…… Aku tidak menyangka bisa mendengar kalimat seperti itu keluar dari mulutmu, Hikari."

Rasanya sulit dipercaya kalau kalimat itu diucapkan oleh gadis yang baru beberapa waktu lalu menangis tersedu-sedu kepadaku karena nilai ujiannya hancur lebur……

"Memangnya di dalam kepala Natsuki-kun, aku ini tipe karakter yang seperti apa, sih?"

Putar, putar.

Hikari memperkuat tekanannya pada pipiku dengan ekspresi tidak puas. Hei, itu sakit tahu.

"Ah, tidak, maksudku, hahaha……"

Tentu saja aku tidak mungkin bisa menjawab kalau dia itu sebenarnya gadis yang ceroboh, jadi aku memilih untuk membuang muka.

"Ujian yang kemarin hasilnya memang bagus, tapi tidak akan ada artinya kalau cuma sekali. Biar bisa terus mempertahankan nilai yang bagus, kita harus mendengarkan penjelasan guru di kelas dengan serius. Kamu paham, kan?"

Demi mendapatkan izin untuk mengejar impiannya menjadi seorang novelis, Hikari telah membuat janji dengan ayahnya, Sei-san, untuk menaikkan nilai akademisnya.

Namun, belakangan ini nilai-nilai Hikari sempat merosot tajam akibat penyakit kasmaran (?). Oleh karena itu, pada ujian sebelumnya dia sudah berjuang mati-matian untuk menaikkan nilainya secara drastis.

Meski begitu, seperti yang dikatakan oleh Hikari sendiri, berhasil di satu ujian saja belum bisa dikatakan kalau dia sudah menepati janji tersebut sepenuhnya.




Makanya belakangan ini aku mendengarkan pelajaran di kelas dengan jauh lebih serius daripada biasanya.

"……Maaf, ya. Aku malah mengganggu kalian."

"Yah, aslinya nggak masalah, sih. Sejarah dunia itu mata pelajaran yang kusukai dari awal, jadi nilajku memang bagus."

Mata pelajaran yang nilainya hancur lebur bagi Hikari adalah rumpun IPA. Kalau terbatas pada mata pelajaran IPS, dia sama sekali tidak punya masalah.

"Sejarah dunia itu berguna juga untuk membuat cerita, lho. Kalau berpikir ini demi menulis cerita fantasi di masa depan, motivasiku langsung muncul. Selain itu, aku memang merasa sejarah itu seru. Ah, tapi…… jangan salah paham, ya!"

Salah paham? Aku memiringkan kepalaku, bingung dengan maksud perkataannya.

Melihat reaksimu yang seperti itu, Hikari menatapku lekat-lekat dengan wajah yang sedikit memerah saat berbicara.

"Bukannya aku…… nggak senang…… karena sudah diganggu sama Natsuki-kun, kok……"

Meskipun diucapkan dengan gumaman yang sangat lirih, kata-katanya terdengar begitu jelas di telingaku.

"O-Oh, begitu ya……"

Daya hancur dari serangannya barusan benar-benar terlalu besar, sampai-sampai aku hampir saja dibuat tak sadarkan diri. Dia terlalu menggemaskan.

Dalam kasus Hikari, sulit sekali membedakan kapan dia melakukan hal seperti ini secara alami dan kapan dia melakukannya dengan sengaja sebagai bagian dari taktiknya. Namun kalau menurut instingku, yang barusan itu fiks hasil kalkulasi!

"Makanya, kalau cuma sesekali, boleh kok……"

Bahkan saat ini pun, dia masih mencuri-curi pandang untuk mengintip bagaimana reaksiku.

Gadis ini benar-benar memanfaatkan keimutannya sendiri demi keuntungannya!

"O-Oh……"

Namun karena dia terlalu imut, aku tidak bisa membalasnya sama sekali! Menyebalkan sekali!

Melihat interaksi kami yang seperti itu, Hino yang duduk di bangku belakang akhirnya angkat bicara.

"Aduh, tolong dong. Meskipun cuma sesekali, bisa kasihanilah aku nggak?"

Nada suaranya tidak seringan biasanya, melainkan terdengar benar-benar merasa terganggu dari lubuk hatinya.

"Suasana kasmaran kalian berdua itu kadar kelembapannya terlalu pekat, tahu. Lakukan itu di rumah saja sana, di rumah."

Nishimura-san, gadis berkacamata dengan aura keren yang duduk di sebelah Hino, juga tampak mengangguk-angguk setuju.

"Benar juga, ya. Meskipun status kalian berdua sudah menjadi pasangan yang diakui secara resmi oleh sekolah, tapi kalau begini……"

"Lagian kalau sudah sedekat ini, bukannya ini sudah hampir sama saja seperti berhubungan intim?"

Hei, Nishimura-san! Bisa-bisanya kamu mengatakan hal seperti itu dengan wajah yang datar tanpa ekspresi!

Di sisi lain, lelucon itu tampaknya benar-benar mengenai selera humor Hino hingga dia terus memegangi perutnya sambil memukul-mukul meja dengan heboh.

"E-Eh, eeeegh……!?"

Tuh, lihat kan, wajah Hikari langsung berubah menjadi sangat kocak karena syok! Yah, aku juga sama saja, sih!

"M-Maafkan kami……"

Pada akhirnya, aku dan Hikari hanya bisa menyampaikan permohonan maaf dengan wajah yang sudah merah padam bagaikan tomat.

Saat jam pulang sekolah tiba, para murid di dalam kelas satu per satu mulai melangkah pergi meninggalkan ruangan.

"Nah……"

Hari ini adalah hari di mana aku bisa bersantai dengan tenang. Sebab, latihan band maupun sif kerja paruh waktuku sedang libur.

Hikari yang sedang mengemas barang-barangnya di bangku sebelah mengalihkan pandangannya dan menyapaku.

"Natsuki-kun, ayo pulang bareng!"

"Hari ini klubmu sedang libur, ya?"

"Yup! Aku mau langsung pulang ke rumah buat melanjutkan bab baru dari novel baruku~"

"Sekarang kamu lagi menulis genre apa?"

"Romansa! Masa muda! Dan kasus pembunuhan!"

"Genre yang terakhir kok mendadak ekstrem banget, ya……"

Melihat Hikari yang tampak begitu bersemangat, sebuah perasaan hangat yang menyenangkan mengalir di dalam dadaku.

"Semangat, ya."

"Tentu saja!"

"……Ah, kalau Nanase bagaimana?"

Saat aku menyapa Nanase yang juga sedang bersiap-siap untuk pulang, ekspresi wajahnya berubah menjadi sedikit bimbang.

"Hari ini aku harus langsung pulang karena ada latihan piano, sih……"

Artinya, bukannya dia tidak bisa pulang bersama kami. Hanya saja, responsnya terasa agak ambigu.

Yah…… aku juga bisa memahami alasan kenapa Nanase bersikap sungkan seperti itu.

Jangankan dia, aku sendiri pun pasti enggan jika harus pulang bersama dengan sepasang kekasih. Rasanya pasti seperti menjadi obat nyamuk yang terkucilkan.

Aku mengajaknya hanya karena terbawa suasana seperti biasanya, tapi sepertinya tindakan itu kurang tepat.

Tanpa mengetahui apa yang sedang berkecamuk di dalam kepalaku, Hikari melangkah mendekati meja Nanase.

"Kalau begitu, Yuino-chan bisa pulang bareng kami juga, kan?"

"Tentu……"

……Eh? Bukannya merasa sungkan, tapi bukankah dia malah terlihat seperti tidak suka?

"……Apa aku tidak akan menjadi pengganggu bagi kalian berdua?"

"Mana mungkin begitu! Aku kan memang ingin pulang bareng Yuino-chan!"

Hikari yang tampaknya sengaja mengabaikan kepekaan situasi di sekitar, langsung memeluk erat lengan Nanase.

"Anu, bisa tolong baca situasinya tidak? Secara tidak langsung aku sedang mengatakan kalau aku tidak mau, lho."

"K-Kenapa begitu!? Yuino-chan, apa kamu sekarang sudah jadi benci denganku!?"

Karena akhirnya kalimat penolakan yang gamblang keluar dari mulut Nanase, sudut mata Hikari mulai berkaca-kaca karena sedih.

"Bukannya begitu…… Hanya saja, kalian berdua belakangan ini kalau sedang bersama terlihat sangat memalukan, tahu."

"Kamu kejam banget, sih! Lihat nih, Hikari sampai mematung gara-gara syok!"

Akibat kalimat telak yang menusuk itu, tubuh Hikari langsung kaku seketika, bahkan tidak bergerak sedikit pun saat aku mengguncang bahunya.

Kami berdua juga menjalani hubungan ini dengan serius, tahu! Tolong jangan katakan kalau kami memalukan begitu, dong!

"……Bi-Biar begitu, aku tetap mau pulang bareng Yuino-chan!"

Ah, kesadaran Hikari akhirnya sudah pulih kembali. Dia mempererat pelukannya pada lengan Nanase dengan lebih erat lagi.

Dada besar Hikari sampai berubah bentuk karena tertekan, membuat seluruh lengan Nanase tenggelam di dalamnya. Jujur saja, aku merasa iri melihatnya.

"……Astaga, benar-benar tidak ada habisnya ya kalau sudah berurusan denganmu, Hikari."

Mengabaikan pikiran mesumku, Nanase mengulas senyuman yang begitu lembut setelah melihat keras kepalanya sikap Hikari tersebut.

Dia benar-benar terlihat seperti sosok ibu bagi Hikari. Rasanya sulit dipercayai kalau mereka berdua berada di usia yang sama. Eh? Jangan-jangan dia menjalani kehidupan untuk kedua kalinya juga?

"Horeee! Ehehe~ Yuino-chan~"

"Sudahlah, menjauh sedikit, Hikari. Kalau menempel begini kan jadi susah jalan."

Sembari mendengarkan interaksi mereka yang seperti itu, kami bertiga melangkah keluar dari ruang kelas. Namun, di saat itulah aku menyadari sesuatu.

Eh? Kalau situasinya jadi seperti ini, bukannya malah aku yang berubah menjadi pengganggu di sini?

Atmosfer di sekitarku benar-benar sudah sepenuhnya menjadi dunia milik mereka berdua saja.

Bahkan rasanya aura di antara mereka seolah memancarkan pertanyaan, 'Kenapa sih cowok ini masih ada di sini?'

Mendadak, memori trauma dari kehidupan pertamaku kembali terlintas di dalam benak.

Namun, karena aku sudah terlampau sering menghadapi situasi yang mirip seperti ini, mentalitasku sudah membangun imunitas yang cukup kuat jadi posisinya masih aman (?).

Kemampuanku untuk menipiskan keberadaan diri sedalam mungkin ini sebenarnya lahir dari kumpulan pengalaman pahit di masa lalu.

Meski begitu, levelku tentu saja masih belum bisa menandingi Mei, sih. Anak itu memang memiliki bakat alami yang mengerikan untuk urusan menghilang.

"Natsuki-kun, kenapa kamu malah diam saja?"

Padahal aku sudah berusaha keras untuk menyembunyikan keberadaanku, tapi Hikari ternyata masih bisa menyadari kehadiranku.

"Terima kasih ya, Hikari. Seperti yang diharapkan dari pacarku."

"Eh, apa-apaan? ……Seram banget."

Aku malah membuatnya ketakutan. Pacarku sendiri.

Setelah mengganti sepatu kami di loker, kami melangkah keluar menuju halaman sekolah. Hembusan angin dingin yang menusuk kulit seketika membuat bahuku bergetar hebat.

Hikari dan Nanase yang saling bergumam, "Dingin banget, ya," "Benar, dingin sekali," kini tampak sedang berbagi syal yang melingkar di leher Hikari. Bukankah interaksi mereka ini jatuhnya sudah terlalu mesra secara natural? Lalu atas dasar apa tadi dia bisa-bisanya mengejek kami dengan berkata, "Kalian berdua belakangan ini kalau sedang bersama terlihat sangat memalukan, tahu"? Eh, lalu bagaimana denganku? Aku sendirian di sini.

Mengabaikan perasaanku yang mengganjal dan tidak puas ini, Hikari mengalihkan topik pembicaraan ke arah Nanase.

"Eh, iya. Kalau tidak salah acaranya hari Sabtu minggu ini, kan? Kompetisi piano yang akan Yuino-chan ikuti itu."

"Benar. Tapi, aku tidak berniat untuk memaksakan kalian datang mendukungku, kok."

"Aku pasti datang! Soalnya aku suka banget sama permainan pianomu, Yuino-chan!"

"Begitu, ya. Kalau memang itu yang Hikari inginkan, aku bisa memainkannya kapan pun untukmu di rumahku, lho."

"Wah, ini yang namanya hak istimewa sebagai sahabat, ya! Tapi, aku tetap akan datang ke kompetisinya juga, kok!"

Melihat Hikari yang tampak begitu bersemangat hingga energinya meledak-ledak, Nanase hanya bisa mengulas senyuman pasrah yang getir.

"Selain itu, Natsuki-kun juga bilang kalau dia mau ikut datang denganku!"

"Oh, benarkah begitu? Padahal dia tidak terlihat seperti orang yang punya ketertarikan pada musik klasik sama sekali."

"Aku memang tidak begitu paham, tapi aku ingin mendengar permainan pianomu, Nanase."

"……Permainanku tidak sehebat yang kalian bayangkan, kok. Lagipula aku sudah lama vakum, jadi tolong jangan berekspresi terlalu tinggi."

Sembari membuang pandangan matanya ke arah lain, Nanase berbicara dengan nada suara yang terdengar kurang percaya diri. Hal ini terasa sedikit mengejutkan bagiku. Sebab, Nanase biasanya tidak pernah mengucapkan kalimat yang terkesan mencari aman seperti ini. Dia selalu memberikan impresi sebagai sosok yang tenang dan berwibawa dalam situasi apa pun.

"Mana ada begitu! Piano Yuino-chan itu benar-benar luar biasa hebat, tahu!"

Kepada Hikari yang menyuarakan pendapatnya dengan nada lantang, Nanase membalas, "Kalimat itu sudah kudengar tadi," sembari terkekeh pelan.

Kudengar saat masih kecil dulu dia sempat dijuluki sebagai anak ajaib, bahkan memiliki rekam jejak memenangkan berbagai penghargaan di kompetisi piano.

"Aku memang tahu kalau hobimu adalah bermain piano, tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau levelmu ternyata sampai setinggi itu."

"……Tidak ada gunanya juga kan menyombongkan sesuatu yang sudah kutinggalkan? Meskipun dulu aku memang berpikir demikian."

Sikap yang tidak suka memamerkan pencapaian gemilang di masa lalu ini benar-benar mencerminkan kepribadian Nanase yang sesungguhnya.

Coba kalau posisinya dibalik dan akulah yang memiliki prestasi seperti itu, aku pasti sudah mencari-cari kesempatan untuk memancing topiknya keluar demi bisa pamer dengan wajah penuh kebanggaan.

"Nanase sendiri sudah mulai bermain piano sejak kapan?"

"Sejak usia tiga tahun kalau tidak salah? Ibuku adalah seorang pianis, jadi dari awal memang sudah ada piano di rumah."

"Eh? ……Ibumu itu seorang profesional?"

"Dulu. Beliau sudah lama pensiun, dan sekarang hanya menjadi seorang ibu rumah tangga biasa."

Pandangan mata Nanase tampak menerawang jauh ke depan. Seolah-olah dia sedang merindukan kenangan di masa lalunya.

"Ibunya Yuino-chan itu juga hebat banget lho kalau sedang bermain piano."

"Dulu Hikari memang sesekali suka datang berkunjung untuk melihat sesi latihan pianoku bersama Ibu, sih."

"Melihat perjuangan keras Yuino-chan saat berlatih itu seru banget bagi grupku."

Sembari mendengarkan cerita Nanase, kami melewati gerbang tiket Stasiun Maebashi, lalu melangkah masuk untuk menaiki kereta Ryomo Line.

Suasana di dalam gerbong kereta sore itu terasa sedikit padat, sehingga tidak ada satu pun kursi kosong yang tersisa untuk kami. Aku pun mengulurkan tangan untuk meraih pegangan gantungan kereta.

"Kalau begitu, artinya selama ini kamu diajari langsung oleh ibumu, ya?"

"Secara garis besar memang begitu. Meskipun aku juga sempat mendaftarkan diri ke tempat kursus piano untuk beberapa waktu."

"Hebat banget, itu sih namanya pendidikan anak berbakat sejak dini……"

Kisah hidupnya terasa seperti berasal dari dunia yang sama sekali berbeda denganku.

Bagi orang sepertiku yang lahir dan dibesarkan di dalam lingkungan keluarga biasa pada umumnya, hal seperti itu benar-benar berada di luar jangkauan imajinasi.

"Karena pada saat itu, aku memiliki impian untuk menjadi seorang profesional sama seperti Ibu."

Fakta bahwa dia menceritakan impiannya tersebut dalam bentuk masa lampau, sedikit mengusik rasa ingin tahuku.

"Kalau untuk sekarang, apa kamu sudah tidak berpikir demikian?"

"……Belakangan ini aku sudah jarang berlatih, jadi kemampuanku pasti sudah sangat tumpul."

Memang benar jika melihat fakta bahwa Nanase juga mengambil kerja paruh waktu, atmosfer dirinya tidak memancarkan kesan sebagai seseorang yang sedang memberikan seluruh fokus hidupnya untuk piano.

Aku juga sempat mendengar kabar kalau keikutsertaannya dalam kompetisi piano kali ini merupakan momen pertamanya setelah sekian lama absen.

Apakah ada suatu alasan khusus di balik semua ini? Padahal dia dikaruniai dengan bakat yang luar biasa besar seperti itu.

"Sampai kompetisinya selesai nanti, aku sudah meminta agar sif kerja paruh waktuku dikurangi sedikit. Karena hal itu, mungkin jumlah giliran masuk untuk Haibara-kun akan menjadi sedikit lebih banyak, tapi……"

"Ah, kalau soal itu serahkan saja padaku. Malahan, sebenarnya aku memang sedang ingin menambah jam kerja paruh waktuku, kok."

"Oh ya?"

Hikari menyahut dengan ekspresi wajah yang tampak melongo penuh kebingungan.

"Kalau sedang aktif bermain band, uang sebanyak apa pun rasanya tidak akan pernah cukup untuk memenuhi semua kebutuhan."

Meskipun aku ingin membeli beberapa peralatan seperti efektor, kapasitas finansial seorang anak SMA tentu saja memiliki batasan yang jelas. Oleh karena itu, aku ingin menambah jadwal kerjaku sebanyak mungkin selama situasinya memungkinkan. Hubungan antar karyawan di Kafe Mares juga sangat harmonis, sehingga aku bisa bekerja di sana dengan sangat nyaman.

"Terima kasih ya, aku sangat terbantu."

Ekspresi wajah Nanase tampak sedikit lebih rileks setelah mendengar jawabanku.

"Omong-omong, Nanase."

"……Apa kamu ingin bertanya mengenai alasanku kenapa mendadak kembali memiliki motivasi untuk bermain piano lagi?"

Memotong kalimatku yang baru saja ingin terucap, Nanase melontarkan pertanyaan itu terlebih dahulu.

"Apakah tebakanku benar?"

"Yah, kurang lebih begitu."

Sebenarnya hal yang ingin kutanyakan adalah alasan mendasar kenapa dia sampai kehilangan motivasi untuk bermain piano di masa lalu.

Namun karena dia sudah berhasil membaca arah pembicaraanku terlebih dahulu, aku akhirnya tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakan pertanyaannya.

"Ini semua karena dirimu."

"Eh?"

Mendengar kalimat yang diucapkan sembari mengulas seulas senyuman tipis itu, aku langsung membelalakkan mataku karena terkejut.

Otakku membutuhkan waktu beberapa saat sebelum akhirnya bisa mencerna dan memahami makna sesungguhnya di balik kalimat tersebut.

"……Aku memangnya sudah melakukan apa?"

Sama sekali tidak ada satu pun petunjuk yang melintas di dalam kepalaku.

Lagipula, sejak awal aku bahkan tidak mengetahui apa pun mengenai rekam jejak maupun prestasi piano milik Nanase.

"Saat festival budaya kemarin, kamu mengadakan pertunjukan live, kan?"

Mendengar petunjuk dari kalimat yang diucapkannya itu, rasa terkejut yang luar biasa besar sekaligus perasaan bahagia seketika membuncah di dalam dadaku.

"……Aku merasa sangat terharu saat melihatnya."

Pada saat itu, Nanase memang menonton pertunjukan kami bersama dengan Hikari dari bawah panggung. Aku bisa melihat sosok mereka dengan jelas dari atas panggung tempatku berdiri.

"Aku sengaja tidak menyampaikannya secara langsung kepadamu karena rasanya terlalu memalukan, sih."

Mungkin karena merasa malu, kedua belah pipi Nanase tampak merona kemerahan.

"Setelah menyaksikan pertunjukan live kalian saat itu, aku…… kembali berpikir untuk berjuang sekali lagi dalam bermain piano."

"……Terima kasih banyak."

Tanpa sadar, kalimat yang pertama kali meluncur dari mulutku justru adalah sebuah ucapan terima kasih.

"Bukannya seharusnya itu adalah kalimatku?"

Nanase memberikan koreksi dengan nada suara yang terdengar sedikit geli.

"Biarpun begitu, aku tetap ingin mengucapkannya."

Demi mengubah dunia, kami semua telah berjuang bersama untuk mengadakan pertunjukan live tersebut.

Jika musik yang kami mainkan saat itu terbukti bisa mengubah dunia milik seseorang menjadi lebih baik, maka tidak ada pencapaian yang lebih membahagiakan daripada hal itu bagi seorang musisi.

"Aku mulai rutin kembali menjalani latihan piano sejak beberapa hari setelah festival budaya itu berakhir, dan sekarang sudah berjalan sekitar dua bulan. Akhirnya kemampuanku sudah berhasil kembali ke level di mana aku bisa ikut berpartisipasi dalam kompetisi."

"Apakah masa vakum bisa sampai membuat kemampuan seseorang menurun drastis sejauh itu?"

"Pada awalnya aku bahkan sempat merasa putus asa, tahu. Jemariku sama sekali tidak bisa digerakkan sesuai keinginan. Tentu saja, bukannya aku sama sekali tidak menyentuh piano selama ini, hanya saja aku memang sudah lama tidak menantang diriku untuk memainkan lagu-lagu dengan tingkat kesulitan tinggi."

Melihat sosok Nanase yang mengeluh seperti ini memberikan impresi yang sangat segar bagiku.

Dari sana aku bisa merasakan dengan jelas betapa keras dan kompetitifnya dunia piano yang digelutinya itu.

"Saat awal-awal membentuk band bersama Serika dan yang lainnya, aku juga sempat memegang gitar lagi setelah sekian lama tidak menyentuhnya…… Waktu itu aku juga terus bermain sambil mencari-cari alasan seperti, 'Padahal dulu aku bisa memainkannya sedikit lebih bagus dari ini', jadi kurasa aku bisa sedikit memahami perasaanmu."

Meskipun setelah itu Serika langsung membalas kalimatku dengan komentar menohok seperti, "Lagian dari awal kemampuan bermain gitarmu memang tidak sekeren itu, kan?", sih.

Memang benar, sih! Tapi tetap saja, setidaknya dulu permainanku sedikit lebih mendingan daripada saat itu, tahu!

"……Kalian berdua kok rasanya jadi seperti sedang asyik terhubung ke dalam dunia sendiri, ya?"

Hikari yang berdiri sedikit di belakang kami tampak mengerucutkan bibirnya dengan kesal.

Karena tidak bisa ikut membaur ke dalam topik pembicaraan mengenai musik, dia tampaknya mulai merajuk karena merasa diabaikan. Pacarku hari ini juga terlihat sangat imut.

"Ah iya, kalau Hikari sendiri apa pernah mencoba memainkan suatu alat musik sebelumnya?"

"Dia sempat mendaftarkan diri ke tempat kursus piano yang sama denganku dulu, tapi dia langsung berhenti setelah baru berjalan tiga hari."

"H-Habisnya…… tingkat kesulitannya keterlaluan, tahu! Jemariku mana bisa bergerak secepat dan selincah itu!"

Sembari menyaksikan sosok Hikari yang terus mengomel dengan heboh, kereta yang kami naiki akhirnya tiba di Stasiun Takasaki.

Aku berpisah dengan mereka berdua di depan gerbang tiket kereta JR.

Setelah itu, aku beralih menuju kereta swasta untuk melanjutkan sisa perjalanan pulangku.

Sesampainya di rumah, aku langsung melakukan sesi lari sore dan latihan beban sebelum akhirnya membersihkan diri di kamar mandi.

Karena tidak ada agenda kegiatan lain yang harus kukerjakan, aku memutuskan untuk mengisi waktu dengan berlatih gitar.

Aku sendiri menyadari kalau mentalku ini sangat sederhana, tapi kata-kata dari Nanase saat di kereta tadi terbukti berhasil mendongkrak motivasi belajarku dengan sangat pesat.

Uooo, mari kita lakukan! Aku adalah pria yang ditakdirkan untuk menjadi penerus Jimi Hendrix!

"……Ah, kalau dipikir-pikir kembali."

Sebuah pemikiran mendadak melintas di dalam benakku, membuatku refleks menghentikan petikan gitarku.

Kudengar saat masih kecil dulu, Nanase sempat menjadi sangat terkenal hingga dijuluki sebagai anak ajaib.

Jika memoriku tidak salah, seharusnya jejak digital mengenai informasi seputar Nanase bisa dengan mudah kutemukan jika aku mencoba mencarinya di internet.

Aku merogoh saku untuk mengambil ponsel, lalu mengetikkan kata kunci 'Nanase Yuino' di kolom pencarian.

Sesuai dengan dugaanku, beberapa video yang menampilkan performa Nanase saat mengikuti kompetisi piano di masa kecilnya langsung bermunculan di layar ponsel.

Jumlah penayangan pada video-video tersebut juga terhitung cukup tinggi.

Untuk langkah awal, aku mengetuk video yang berada di urutan paling atas.

Sosok Nanase di dalam video tersebut terlihat memiliki postur tubuh yang lebih pendek dan tampak sangat menggemaskan. Jika melihat dari penampilannya, kurasa usia Nanase di video ini berkisar di bangku kelas enam sekolah dasar.

Nanase di dalam video tampak membungkukkan badannya dengan gerakan yang sangat sopan dan anggun, sebelum akhirnya mengambil posisi duduk di kursi depan piano.

Setelah menyesuaikan ketinggian kursi, pandangan matanya tertuju lekat-lekat ke arah deretan tuts di depannya. Gerakan tangannya saat bersiap untuk memetik nada memancarkan aura kewibawaan yang sangat kuat.

Jemari tangannya yang ramping dan mungil mulai menekan tuts-tuts piano di hadapannya.

Setiap butir nada yang lahir dari gerakan lincah jemarinya saling berjalin kelindan dengan indah, membentuk sebuah melodi lagu yang sangat terstruktur.

Chopin. Fantaisie-Impromptu.

Bahkan bagi orang awam yang tidak begitu memahami musik klasik sepertiku pun, aku bisa langsung menyadari betapa luar biasa hebatnya kualitas dari pertunjukan tersebut.

Tanpa disadari, kesadaranku seolah tersedot ke dalam alunan musiknya, membuatku terus terhanyut mendengarkan melodi itu hingga detik terakhir pertunjukan selesai.

Padahal durasi video tersebut mencapai lebih dari lima menit, namun sensasi waktu yang kurasakan berjalan dengan sangat cepat bagaikan satu kedipan mata saja. Aku sempat terdiam selama beberapa saat untuk menikmati sisa-sisa emosi yang ditinggalkan oleh melodi indah tersebut.

"Luar biasa hebat…… Nanase ternyata sekeren ini."

Jujur saja, dari awal aku sama sekali tidak pernah menyangka kalau level kemampuannya akan sampai setinggi ini.

Bukannya aku tidak memercayai cerita dari Hikari selama ini. Hanya saja, di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku secara tidak sadar berasumsi bahwa penilaian tersebut mengandung sedikit unsur hiperbola karena faktor kedekatan mereka yang merupakan sahabat karib. Namun, aslinya akulah yang salah besar di sini.

Saat aku berniat untuk memutar ulang videonya, sudut mataku tidak sengaja menangkap deretan komentar yang ada di bagian bawah.

'Genius.'

'Apa-apaan dengan kualitas permainan di usia sedini ini? Ini gila.'

'Kudengar ibunya adalah seorang pianis profesional.'

'Bakat yang benar-benar luar biasa berlimpah. Karunianya harus terus diasah dengan baik.'

'Sebuah pertunjukan dengan tingkat penyelesaian yang sangat matang. Kesalahan penekanan nadanya bahkan hampir tidak ada.'

Hanya dengan melihat sekilas saja, kolom komentar tersebut sudah dipadati oleh berbagai kalimat pujian yang sangat masif.

'Eh, tapi kalau dipikir-pikir kembali, belakangan ini aku sudah jarang melihat anak ini tampil, ya. Apa dia sudah berhenti bermain piano?'

Di antara sekian banyak baris kalimat yang berjejer, satu komentar yang paling baru mendadak mencuri perhatianku.

Tanggal pengunggahan dari komentar tersebut menunjukkan keterangan dua tahun yang lalu.

Selain itu, masih ada beberapa video lain yang diunggah di platform MeTube.

Semua video tersebut menampilkan performa yang tidak kalah memukau, namun…… tidak ada satu pun video yang memiliki tanggal pengunggahan lebih baru dari tiga tahun yang lalu.

Tiga tahun yang lalu, artinya itu adalah momen di saat Nanase masih duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama.

Setelah melewati fase tersebut, dia tampaknya sudah tidak pernah lagi menginjakkan kakinya untuk bermain piano di panggung-panggung besar seperti itu.

……Sejujurnya, aku menjadi sangat penasaran dengan alasan di balik keputusan tersebut.

Namun, hal ini jelas bukan sebuah topik sensitif yang bisa kutanyakan begitu saja secara kasual kepadanya.

"……Apakah Hikari mengetahui alasan di baliknya, ya?"

Mendadak, ponsel di tanganku bergetar menampilkan panggilan masuk.

Sepertinya ini yang dinamakan dengan istilah 'pucuk dicinta ulam pun tiba'.

'Na~tsu~ki~kun~'

Sosok yang menghubungiku lewat sambungan telepon tersebut tidak lain adalah Hikari.

Karena aku sudah tahu kalau hari ini kami berdua sama-sama tidak memiliki agenda kegiatan lain, aku memang sudah menduga kalau dia pasti akan meneleponku cepat atau lambat.

"Iya, iya."

Aku menjawab panggilannya sembari merebahkan tubuhku dengan santai di atas tempat tidur.

'……Kok rasanya respons Natsuki-kun belakangan ini jadi agak cuek, sih?'

Hikari melayangkan protesnya karena merasa kurang puas dengan nada suara yang kugunakan untuk menjawab sapaannya.

"Mana ada begitu."

'Habisnya, setiap kali menelepon kan selalu aku duluan yang memulai?'

"Masa, sih? Padahal barusan aku juga baru saja berniat untuk menghubungimu, lho."

'Benarkah? Kalau begitu, dimaafkan.'

Yah, meskipun kalimatku barusan itu murni kebohongan belaka, sih. Tapi setidaknya faktanya aku memang sedang memikirkan tentang dirinya tepat sebelum teleponnya masuk.

Belakangan ini Hikari memang menjadi lebih sering mengekspresikan kekesalannya secara blak-blakan, namun karena dia adalah tipe orang yang suasana hatinya sangat mudah untuk ditenangkan kembali, hal itu sangat membantu bagiku.

'Kalau begitu, kita mulai sesi telepon sambil kerjanya, ya~'

Beriringan dengan suara lembut Hikari, sayup-sayup terdengar juga suara ketukan tombol papan tik yang samar dari seberang sambungan telepon.

'Bagian yang ini, mmm…… diubah jadi begini saja, deh……'

Tampaknya dia sedang fokus menulis novelnya saat ini. Belakangan ini Hikari memang sering menggunakan metode meneleponku seperti ini sebagai sarana untuk menemaninya selama proses pengerjaan tulisan. Kemampuannya untuk bisa merangkai jalinan kalimat sembari mengobrol seperti itu benar-benar membuatku kagum.

Aku sendiri adalah tipe orang yang sangat payah dalam urusan multitasking, sehingga sesi telepon sambil bekerja seperti ini sebenarnya bukan keahlianku.

Biasanya fokus perhatianku akan langsung tersedot sepenuhnya ke salah satu aktivitas saja, membuat aktivitas yang satunya lagi menjadi terbengkalai. Namun karena aku tahu Hikari pasti akan langsung membatalkan sesi ini demi mempertimbangkan kondisiku jika aku berterus terang, aku memilih untuk tetap diam dan tidak mengatakan apa pun.

Bagaimanapun juga, aku ingin menghabiskan waktu bersama dengan Hikari selama mungkin.

"Ah iya, omong-omong, Hikari."

'Ada apa~?'

Mengabaikan hal itu, kurasa tidak ada salahnya jika aku mencoba menanyakan hal yang mengusik rasa ingin tahuku sejak tadi.

"Ini mengenai Nanase, sih."

'……Bisa-bisanya kamu menyebut nama gadis lain di depan pacarmu sendiri.'

"Eh, seram banget."

'Cuma bercanda, kok…… Lalu, ada apa dengannya?'

"Apa kamu tahu alasan kenapa Nanase sempat berhenti bermain piano dulu?"

Tentu saja dia pasti memahami kalau arah pertanyaanku ini bukan merujuk pada aktivitas bermain piano sebagai hobi kasual di rumah. Hikari terdiam selama beberapa saat tanpa mengeluarkan suara sedikit pun dari seberang sana.

'……Aku tidak tahu.'

Tak lama kemudian, sebuah jawaban lirih akhirnya terdengar dari mulutnya.

'Aku hanya tahu kapan tepatnya dia memutuskan untuk berhenti. Kalau tidak salah saat kami duduk di kelas dua sekolah menengah pertama. Sejak saat itu, waktu yang bisa dia habiskan untuk menemaniku bermain menjadi jauh lebih banyak. Padahal biasanya waktu-waktu tersebut selalu diisi oleh jadwal latihan pianonya.'

"Apa kamu tidak mencoba untuk menanyakan alasan di baliknya?"

'Tentu saja aku sudah pernah menanyakannya. Tapi, Yuino-chan sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan itu. Karena aku juga tidak tahu seberapa dalam batas privasi yang boleh kumasuki, pada akhirnya…… sampai sekarang pun aku tetap tidak mengetahui alasan pastinya.'

……Bahkan Hikari yang merupakan sahabat masa kecilnya sendiri pun ternyata tidak mengetahui apa-apa mengenai masalah ini.

Nada suara Hikari terdengar diselimuti oleh perasaan sedikit kesepian saat menceritakannya, namun dia kembali melanjutkan kalimatnya dengan nada yang lebih tegar.

'Tapi berkat bantuan dari Natsuki-kun, dia sekarang sudah mau kembali membangkitkan motivasinya untuk bermain piano lagi. Bagiku, fakta itu saja sudah lebih dari cukup. Jika dia memang memilih untuk tidak menceritakan masa lalunya, aku merasa tidak perlu memaksanya untuk berbicara. Keputusan itu sepenuhnya berada di tangan Yuino-chan sendiri.'

Argumen yang dilontarkan oleh Hikari memang sepenuhnya benar.

Meskipun di sisi lain, aku bisa merasakan kalau kalimat bijak itu tidak sepenuhnya mencerminkan isi hatinya yang terdalam.

"……Tadi aku sempat melihat beberapa video pertunjukan piano Nanase di masa lalu. Permainannya benar-benar luar biasa hebat."

"Tentu saja, kan? Sahabat karubku itu memang orang yang sangat keren, tahu."

Hikari mendengus penuh kebanggaan dari seberang telepon. Aku bahkan bisa membayangkan dengan jelas bagaimana ekspresi wajahnya yang sedang pamer saat ini.

'……Dan juga, pacarku sendiri ternyata jauh lebih luar biasa hebat.'

"Jangan mendadak melayangkan pujian setinggi itu, dong."

'Padahal di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku sempat berharap kalau sosok yang berhasil menggerakkan kembali hati Yuino-chan itu adalah novel hasil karyaku sendiri.'

Mendengar isi hati jujur yang diutarakan dengan nada suara yang sangat serius itu, aku seketika kehilangan kata-kata untuk membalasnya.

'Melihatku yang terus berjuang keras demi meraih impian, lalu membaca novel menarik yang kutulis dengan sepenuh hati, aku sempat diam-diam berharap semoga hal-hal itu bisa menjadi pemantik yang membuat Yuino-chan kembali bangkit berdiri.'

Keinginan untuk bisa menjadi pilar kekuatan bagi sahabat karibnya sendiri.

Menciptakan sebuah jalinan kisah yang memiliki kekuatan magis untuk menggerakkan hati pembacanya.

Hikari menceritakan bahwa ambisi tersebut merupakan salah satu pilar fondasi utama yang mendasari alasannya kenapa dia begitu gigih dalam mengejar impiannya menjadi seorang penulis.

'Tapi pada realitasnya, sosok yang berhasil mengubah dunia Yuino-chan justru adalah musik yang dimainkan oleh Natsuki-kun dan teman-teman.'

"……Pertunjukan live saat festival budaya kemarin itu hanyalah sebuah bentuk keajaiban yang lahir dari perpaduan emosi dan kerja keras dari semua anggota tim, kok. Hal seperti itu bukan sesuatu yang bisa kami ulangi dengan mudah, dan aku sendiri pun tidak yakin apakah kami bisa menyajikan kualitas pertunjukan yang sama jika diminta untuk melakukannya lagi sekarang."

Pencapaian itu bukan lahir dari kekuatanku sendiri, dan bukan pula sebuah mahakarya yang tercipta semata-mata karena tingkat kemampuanku yang hebat.

Kalimat ini bukan bentuk rendah hati yang dibuat-buat, melainkan murni sebuah fakta yang apa adanya. Aku memang merasa senang saat dipuji, namun aku juga akan merasa terbebani jika orang-orang memberikan penilaian yang terlalu berlebihan terhadap kapasitas diriku.

Namun.

'Pacarku itu orang yang sangat hebat. Jauh lebih luar biasa hebat jika dibandingkan dengan diriku sendiri.'

Hikari tetap bersikeras pada pendiriannya tanpa menunjukkan tanda-tanks ingin mengalah sedikit pun setelah mendengar penjelasanku.

"……Terima kasih banyak ya, Hikari."

Jika dia begitu memercayai kapasitas diriku dan menganggapku sebagai sosok yang 'hebat' sampai sejauh itu, maka tugas yang harus kukerjakan sekarang bukan lagi sibuk menyodorkan realitas pahit kepadanya, melainkan berjuang mati-matian agar aku bisa tumbuh menjadi sosok pria hebat yang sesuai dengan ekspektasi dan kepercayaannya selama ini.

'Aku juga akan berjuang keras agar bisa menjadi sosok yang tidak kalah hebat dari Natsuki-kun!'

Tak! Suara ketukan tombol papan tik yang terdengar sangat lantang bergema dari seberang telepon. Jika melihat dari kekuatannya, kurasa itu adalah suara penekanan tombol enter.

'Langkah pertamanya, aku harus segera mengamankan jalan untuk bisa melakukan debut! Asal kamu tahu saja, novel yang kukirimkan untuk kompetisi penghargaan penulis pendatang baru kemarin baru saja dinyatakan lolos seleksi tahap kedua, lho!'

"Eh, serius?"

'Benar! Pengumuman hasilnya baru saja keluar tadi malam!'

Sebuah pesan masuk berisi tautan alamat situs web dikirimkan oleh Hikari melalui ruang obrolan aplikasi RINE milikku.

Begitu aku mengetuk tautan tersebut, layarku langsung dialihkan menuju halaman resmi pengumuman penghargaan penulis pendatang baru dari salah satu penerbit ternama.

Di dalam kolom daftar karya yang dinyatakan berhasil lolos dari seleksi tahap kedua pada halaman berjudul 'Pemberitahuan Hasil Seleksi' tersebut, deretan judul novel tampak berjejer dengan rapi. Dan di antara kumpulan judul tersebut, nama 'Gadis Pemecah Misteri yang Tidak Mengenal Cinta' tertera dengan sangat jelas di sana.

……Sementara di kolom nama pena sang penulis, nama yang tercantum di sana adalah 'Natsumi Hikari'.

'Hebat banget, kan?'

Hikari menyuarakan kalimatnya dengan nada yang seolah menuntut agar aku segera menghujaninya dengan berbagai pujian, namun fokus perhatianku saat ini sudah teralihkan sepenuhnya ke hal lain.

"Anu, Hoshimiya-san…… Boleh aku tahu dari mana asal-usul pemilihan nama pena yang satu ini?"

Tanpa sadar, aku kembali memanggilnya dengan menggunakan nama marganya akibat rasa terkejut yang luar biasa.

Hikari menjawab pertanyaanku dengan nada suara yang terdengar sangat riang dan penuh suka cita.

'Ah, kalau soal itu, ya! Aku sempat berpikir kalau menggunakan nama asli sepertinya agak kurang aman, kan? Nah, di saat aku sedang bingung memikirkan nama apa yang kira-kira cocok untuk disisipkan ke dalam nama penaku nanti, pilihan pertamaku tentu saja adalah mengambil karakter "Natsu" dari nama milik Natsuki-kun!'

"B-Begitu ya…… Luar biasa sekali, Hoshimiya-san memang tidak pernah gagal membuatku takjub."

Hahaha.

Untuk sementara waktu, aku memutuskan untuk merespons ceritanya dengan tawa hambar saja terlebih dahulu.

'L-Lho, kok rasanya tanggapanmu malah terdengar asing dan berjarak begitu, sih!? Padahal aku sengaja memilih nama itu karena mengira Natsuki-kun pasti akan merasa sangat senang saat mengetahuinya……'

Waduh, gawat. Sepertinya aku baru saja melakukan kesalahan fatal.

Bahkan aku yang biasanya santai pun dibuat terkejut setengah mati sampai refleks mengambil jarak darinya.

"U-Uhh……"

Sejujurnya, sejak awal aku menerima hadiah ulang tahun berupa novel pendek darinya sebelum kami resmi pacaran, aku sudah menaruh sedikit kecurigaan, sih.

Hanya saja, selama ini aku memilih untuk menutup mata dan pura-pura tidak tahu. Habisnya, itu menyeramkan.

"……Kalau kamu debut pakai nama pena ini, apa tidak bakal merepotkan nantinya?"

Aku sempat ragu apakah harus menyuarakan isi kepalaku ini atau tidak. Namun, demi kebaikan Hikari di masa depan, aku memantapkan hati dan memberanikan diri untuk mengatakannya.

Belakangan ini, entah kenapa aku merasa Hikari terus-menerus memproduksi sejarah kelam masa muda (kurorekishi) dalam jumlah masif.

Sebagai senior yang sudah lebih dulu kenyang makan asam garam di dunia sejarah kelam, aku menilai situasi ini menuntutku untuk memberikan teguran keras kepadanya.

Jika dia terus menambah koleksi sejarah kelamnya lebih banyak dari ini, di masa depan dia bisa berakhir menderita akibat efek flashback memalukan yang membuatnya berguling-guling histeris di atas kasur setiap kali mengingatnya.

Aku sama sekali tidak mau Hikari berakhir mengenaskan sepertiku! Meskipun ada teori yang mengatakan kalau situasinya sudah terlambat, sih.

'Kenapa memangnya?'

Dari seberang telepon, Hikari balik bertanya dengan nada suara yang terdengar heran dari lubuk hatinya yang terdalam.

"Ya, maksudku, siapa tahu kan…… di masa depan nanti ada kemungkinan kalau kita berdua bisa putus atau semacamnya……"

Meskipun ini adalah kalimat yang paling ingin kuhindari, aku terpaksa terus melanjutkan penjelasannya demi memberikan pengertian.

Lagipula, katakanlah hubungan kami berdua berjalan dengan sangat mulus tanpa kendala sampai ke depannya, menyelipkan nama pacar sendiri ke dalam nama pena itu bukankah jatuhnya sudah seperti tipe gadis yang kelewat obsesif? Tindakan itu bisa berpotensi menjadi tato digital yang memalukan, lho.

'……Kita tidak bakal putus, kok.'

Hikari menyahut dengan nada suara yang terdengar tidak puas.

Merasakan atmosfer di seberang sana mendadak berubah menjadi tidak bersahabat, aku pun bergegas memberikan klarifikasi dengan panik.

"B-Bukan begitu! Aku sendiri juga sama sekali tidak punya niat untuk putus denganmu, kok! Tapi maksudku, ya tahu sendiri kan——"

'Aku dan Natsuki-kun itu bakal terus bersama sampai mati, tahu! Kenapa sih kamu malah bicara hal sensitif begitu!?'

Setelah kalimat itu terlontar, Hikari langsung mengamuk hebat, sampai-sampai aku harus menghabiskan waktu hampir satu jam penuh hanya untuk menenangkan suasana hatinya kembali.

Pada titik ini, tampaknya menghentikan laju kereta ekspres cinta bernama Hoshimiya Hikari sudah menjadi suatu misi yang mustahil bagi kekuatan seorang manusia biasa sepertiku.

Maafkan aku ya, Hikari di masa depan. Kamu pasti sedang merutuki nasibmu dan menderita di sana akibat ulah dirimu yang sekarang……

Jam istirahat makan siang keesokan harinya.

Aku sedang berada di area kantin sekolah bersama dengan Tatsuya dan Reita.

Sementara itu, Hikari dan jajaran siswi lainnya memilih untuk menghabiskan waktu istirahat mereka dengan menyantap bekal di dalam ruang kelas.

"Hooahm……"

Karena sesi telepon semalam bersama Hikari berlangsung hingga larut malam, hari ini aku menderita sedikit gejala kurang tidur. Mengantuk sekali rasanya.

"Semalam ada kejadian sesuatu, ya?"

Melihatku yang terus menguap lebar sejak tadi, Tatsuya melayangkan pertanyaan.

Jika ditanya apakah ada sesuatu yang terjadi, jawabannya adalah iya, ada banget.

Hanya saja, aku agak ragu apakah topik sensitif ini boleh diceritakan kepada orang lain atau tidak.

"……Tolong jaga rahasia ini baik-baik, ya?"

Setelah menimbang-nimbang selama beberapa saat, aku memutuskan kalau menceritakannya kepada mereka berdua sepertinya masih tergolong aman. Aku pun mulai membeberkan kronologi masalah yang menimpaku semalam.

"Ah, begitu rupanya……"

Reita mengangguk-angguk berkali-kali tanda memahami situasi.

"Gimana ya bilangnya…… Intinya kamu juga punya porsi perjuangan yang berat ya, Natsuki……"

Tatsuya menatapku dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa simpati yang mendalam.

Benar sekali! Realitasnya, aku ini sebenarnya juga sedang berjuang mati-matian menghadapi tekanan hidup yang berat, tahu!

"Meskipun kalau dipikir-pikir kembali, sisi obsesifnya yang seperti itu sebenarnya terlihat sangat imut, sih."

"Apa-apaan, ujung-ujungnya malah pamer kemesraan. Kesimpulannya kalian berdua itu memang pasangan serasi yang klop banget, sih. Rugi bandar aku repot-repot mendengarkan keluhanmu."

Cuih. Tatsuya mendecih pelan seolah ingin membuang ludah, lalu kembali fokus melahap menu nasi kari katsu miliknya dengan rakus.

"Lagipula, fakta bahwa Hoshimiya-san itu tipe gadis yang memiliki cinta terlalu berat dan cenderung merepotkan kan sebenarnya sudah bisa terbaca dengan jelas hanya dengan melihat gelagatnya sehari-hari."

Sembari melontarkan kalimat menohok tersebut, Reita terus menyuap menu mangkuk nasi ayam dan telur ke dalam mulutnya dengan cepat.

"A-Apakah benar-benar sekelihatan itu?"

"Meskipun ada juga teori yang mengatakan kalau kamulah aktor utama yang membuat gejalanya bertambah semakin parah, Natsuki."

Begitu poin itu disuarakan, aku langsung bungkam seketika tanpa bisa membalasnya. Sebab, aku menyadari kalau tuduhan itu sepenuhnya akurat.

"Yah, mengingat kamu adalah tipe pria yang berani menyatakan cinta secara blak-blakan di tengah-tengah pertunjukan live festival budaya kemarin, kurasa posisi kalian berdua sekarang sudah sama-sama seimbang, sih."

"Ugh……"

Karena bagian sensitif dari masa laluku kembali disentuh, aku refleks mengeluarkan suara erangan pelan karena malu.

"Sudah tidak perlu didebat lagi. Kalian berdua adalah pasangan yang paling serasi di dunia ini, tidak ada yang lebih klop dari kalian."

Reita mengedikkan kedua bahunya dengan santai. Bersama dengan Tatsuya, mereka berdua kini tampak sedang menyunggingkan senyuman jahil ke arahku.

"Tapi biarpun begitu, penggunaan nama 'Natsumi Hikari' sebagai nama pena sih tetap saja tidak masuk akal bagi grupku."

"Mmm…… Benar-benar di luar nalar, sih. Itu adalah jenis nama yang bakal membuat orang langsung memasang wajah datar tanpa ekspresi begitu mendengarnya."

"Hei, aku ingin memperingatkan kalian berdua sekali lagi ya…… Jangan pernah membahas masalah nama ini langsung di depan orangnya, lho!"

"Kami tahu, kok. Mana berani aku mengangkat topik sensitif modelan begini di depannya. Cara penanganannya seram banget, tahu."

"Kurasa kamu masih harus bersyukur karena dia tidak memilih nama 'Haibara Hikari'."

"Kudengar alasan kenapa dia tidak memakai nama itu karena nama tersebut adalah opsi yang sengaja disimpan untuk menjadi nama aslinya di masa depan nanti, jadi statusnya tidak boleh dipakai sekarang."

"Pacarmu itu…… bukannya sudah masuk kategori agak ekstrem, ya?"

"Levelnya sudah bukan lagi sekadar berat atau merepotkan, sih."

"——Kalian sedang asyik membicarakan tentang apa, nih?"

Sreg, sreg. Suara gesekan kursi dan peralatan makan terdengar menggema dari arah belakang kami.

Tanpa disadari oleh kami bertiga, sosok Hikari, Uta, dan Nanase ternyata sudah berdiri di dalam area kantin.

"Eh? Ah, tidak, ini…… kami cuma sedang berdiskusi mengenai menu makanan kantin apa yang kira-kira punya cita rasa paling lezat di sini, kok!"

Melihatku yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan dengan panik, Reita dan Tatsuya langsung mengangguk-angguk dengan gerakan yang sangat cepat.

"B-Benar banget…… Kalau menurut pendapat pribadiku, menu nasi kari katsu yang sedang kumakan sekarang ini adalah pilihan yang terbaik di sini."

Ini adalah momen pertama kalinya bagiku melihat Reita bisa sampai menunjukkan gestur panik yang luar biasa seperti itu. Hei, sadar bodoh! Menu yang sedang kamu makan saat ini itu mangkuk nasi ayam dan telur, tahu! Bukan kari katsu!

"Hahaha, lagipula kalau dipikir-pikir kembali, atmosfer hari ini rasanya sudah seperti musim panas saja ya~"

Tatsuya, tolong tenangkan dirimu! Sekarang ini realitasnya sedang berada di puncak musim dingin! Jangan malah membawa-bawa kata 'musim panas' yang diambil dari nama pena tadi, dong!

"Ahaha, Tatsuya-kun bicara apa, sih? Kamu benar-benar tidak pernah gagal membuat orang tertawa, ya."

Meskipun saat ini keringat dingin sudah mengucur deras bagaikan air terjun di sekujur tubuh kami, namun untungnya mereka bertiga tampaknya tidak mendengar isi percakapan kami sebelumnya.

Setelah saling bertukar pandangan mata dengan kedua temanku, aku diam-diam menghembuskan napas lega di dalam hati.

"L-Lalu, ada perlu apa kalian bertiga datang berkunjung ke area kantin?"

"Kami cuma sedang berjalan-jalan santai saja kok setelah selesai makan siang. Lagipula kalau mengecualikan Uta, kami berdua kan aslinya jarang sekali melakukan aktivitas olahraga."

Tampaknya tujuan mereka ke sini murni hanya sekadar mampir sembari berkeliling area gedung sekolah.

"Selain itu, Hoshimiya-san juga terus mengeluh kalau dia ingin bertemu dengan Haibara-kun, jadi aku terpaksa mengantarkannya ke sini."

"T-Tunggu dulu! Padahal posisi bangku kita saja saling bersebelahan, mana mungkin aku sampai mengatakan hal memalukan seperti itu!?"

Hikari mengayun-ayunkan kedua tangannya dengan panik di udara, berusaha menyangkal kalimat godaan yang dilontarkan oleh Nanase.

"Fufu, itu cuma bercanda, kok."

Sembari terkekeh pelan, Nanase mengulurkan tangannya untuk mengusap-usap puncak kepala Hikari yang tampak cemberut tidak puas.

"Tapi, tadi kamu memang sempat mengeluh kalau atmosfer jam istirahat makan siang terasa sepi karena jajaran anak laki-laki memilih pergi ke kantin, kan~?"

"T-Tunggu sebentar, Uta-chan!"

Kini giliran Uta yang ikut bergabung bersama Nanase untuk menggoda Hikari.

Interaksi di antara mereka sebenarnya terlihat sangat hangat dan menyenangkan untuk ditonton. Dengan catatan, jika posisinya aku bukan merupakan aktor utama yang terlibat di dalamnya. Karena realitasnya akulah pihak yang menjadi bahan pembicaraan, rasanya memalukan sekali.

"Omong-omong, Natsu dan yang lainnya sudah menentukan pilihan untuk pembagian jurusan tahun depan belum?"

Sembari mengambil posisi duduk di sebelah Reita, Uta melayangkan sebuah pertanyaan kepada kami.

Memang benar jika mengingat sekarang kalender sudah menunjukkan bulan Januari di tahun yang baru. Artinya, ini sudah memasuki semester ketiga, masa di mana para murid tingkat pertama harus segera menentukan pilihan untuk fokus jurusan mereka di tingkat selanjutnya.

"Ah, kalau dipikir-pikir kembali, lembar formulir pengisian angket pilihan jurusan memang sudah dibagikan kemarin, ya."

Meskipun batas akhir pengumpulan formulirnya masih terhitung cukup lama, kami memang harus segera memantapkan pilihan sejak dini.

"Kalau aku sendiri sudah memantapkan hati untuk mengambil rumpun IPA."

"Wah, Reita memilih IPA, ya. Kalau aku rencananya mau mengambil jurusan IPS saja!"

Reita dan Uta saling bertukar cerita mengenai pilihan mereka. Keputusan yang mereka ambil ternyata sama persis dengan apa yang terjadi di kehidupan pertamaku dulu.

"Kalau aku…… jujur saja sampai sekarang masih bimbang harus memilih yang mana."

Tatsuya menggaruk kepalanya dengan ekspresi wajah yang tampak beralih penuh kebingungan.

Pada garis waktu di kehidupan pertamaku dulu, Tatsuya berakhir mengambil jurusan IPS. Alasan mendasar yang melatarbelakangi keputusan tersebut adalah karena nilai-nilai akademisnya di bidang sains dan matematika berada dalam kondisi yang hancur lebur.

Namun, kondisi Tatsuya yang sekarang sudah jauh berbeda. Berkat kerja kerasnya, nilai-nilai akademisnya di seluruh mata pelajaran berada dalam kondisi yang sangat seimbang dan memuaskan.

"Tapi dari informasi yang beredar di luar, jajaran jurusan IPA katanya memiliki peluang kerja yang jauh lebih luas dan menjanjikan, sih."

"Benar banget, hal itu yang membuatku bimbang…… Kalau kamu sendiri bagaimana, Natsuki?"

"Aku…… kemungkinan besar akan mengambil jurusan IPA, sih."

Meskipun aku menyuarakan jawaban tersebut, di dalam lubuk hatiku yang terdalam sebenarnya muncul sebuah keraguan, apakah kembali mengambil jalan hidup yang sama persis seperti di kehidupan pertamaku dulu adalah sebuah keputusan yang tepat?

Namun, jika melihat potensi diri, bidang keahlianku jelas berada di rumpun IPA, dan seluruh bekal pengalaman dari masa depan yang bisa kumanfaatkan juga berfokus di bidang sains.

Mengambil jurusan IPA tidak diragukan lagi adalah opsi yang paling aman dan rasional bagiku.

"Begitu, ya. Ternyata Natsuki-kun memilih jurusan IPA……"

Hikari bergumam dengan ekspresi wajah yang mendadak tampak sedikit diselimuti perasaan kesepian.

"……Kalau Hikari sendiri mengambil jurusan IPS?"

"Iya, benar. Habisnya aku kan sangat payah jika sudah berurusan dengan mata pelajaran sains dan matematika."

Hikari menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaanku. Namun, keputusan yang diambilnya kali ini ternyata melenceng dari apa yang terjadi di kehidupan pertamaku.

Pada garis waktu di masa lalu, fokus jurusan yang dipilih oleh Hikari adalah IPA. Aku yakin tingkat kesulitan yang dihadapinya dalam mata pelajaran sains saat itu sama payahnya dengan kondisinya yang sekarang, namun keputusan tersebut diambil karena adanya intervensi dari keinginan ayahnya, Sei-san. Sebab, perusahaan Star Flat yang nantinya akan dipimpin oleh Sei-san adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur komponen mesin. Dengan kata lain, fondasi dasarnya berada di lingkup IPA.

Namun, Hikari yang sekarang sudah bertransformasi menjadi sosok yang lebih tegar. Dia kini memiliki impian besar untuk menjadi seorang novelis, dan dia sudah berani menyuarakan isi kepala serta keinginannya sendiri alih-alih hanya pasrah menuruti segala kehendak orang tuanya. Kurasa hal itulah yang melatarbelakangi alasannya memilih jurusan IPS kali ini.

"Kalau situasinya seperti ini, artinya susunan kelas kita di tahun depan nanti bakal terpisah-pisah, ya."

Uta bergumam dengan nada suara yang lirih.

Setelah kalimat itu terucap, atmosfer di sekitar kami seketika diselimuti oleh keheningan selama beberapa saat.

Sistem pembagian kelas di sekolah kami untuk tingkat kedua nanti diatur dengan ketentuan: kelas 1 sampai 3 dialokasikan untuk rumpun IPS, sedangkan kelas 4 sampai 6 diperuntukkan bagi rumpun IPA.

Meskipun rincian pastinya akan disesuaikan kembali dengan jumlah kuota murid yang ada, namun secara garis besar ketentuannya adalah seperti itu.

Artinya, kecil kemungkinan bagi murid dari rumpun IPS dan IPA untuk bisa berada di dalam satu ruang kelas yang sama.

"……Rasanya bakal sepi sekali, ya."

Mendengar kalimat tulus yang meluncur begitu saja dari lubuk hatiku yang terdalam ini, seluruh temanku tampak mengangguk setuju.

Tentu saja, meskipun susunan kelas kami terpisah di tahun depan, hal itu tidak akan merusak ikatan pertemanan yang sudah terjalin di antara kami.

Namun, aku juga sangat memahami bahwa ada beberapa momen emosional tertentu yang hanya bisa tercipta dan dibagikan jika status kami berada di bawah naungan ruang kelas yang sama sebagai teman sekelas.

"Sisa waktu yang bisa kita habiskan bersama sebagai teman sekelas paling tinggal sekitar dua setengah bulan lagi, ya."

"Tidak terasa sebentar lagi masa-masa tingkat pertama kita bakal selesai. Waktu berjalan cepat sekali, ya."

Setelah menghabiskan seluruh porsi menu kari katsunya, Tatsuya mengusap sisa makanan di area mulutnya menggunakan selembar tisu sambil berbicara.

"Ahaha! Bukankah orang-orang sering bilang kalau momen-momen yang menyenangkan itu jalannya selalu terasa secepat kilat!"

"Yah…… Meskipun untuk bisa melabeli masa-masa ini sebagai momen yang sepenuhnya menyenangkan, ada banyak sekali rentetan drama yang sudah kita lalui bersama selama ini, sih."

"……Benar juga, ya."

Memang tidak bisa dimungkiri, ada banyak sekali rentetan peristiwa yang sudah kami lalui bersama sepanjang tahun ini.

Ada momen-momen di mana kami berhasil meraih kesuksesan, dan ada juga fase di mana kami harus menelan pil pahit kegagalan.

Melalui semua itu, aku belajar memahami sebuah realitas bahwa memilih suatu jalan hidup berarti kita harus siap untuk merelakan jalan hidup yang lainnya.

Kami sempat merasa bimbang, terpuruk, hingga menderita. Masa-masa yang kami lalui bersama jelas bukan sebuah perjalanan yang hanya berisi tawa dan kesenangan semata.

Namun, jika dibandingkan dengan masa laluku yang suram dan kelabu di kehidupan pertama dulu, kualitas hidup yang kujalani saat ini terasa jauh lebih bermakna dan berwarna.

Fakta bahwa Hikari kini berada di sisiku sebagai kekasih, ditambah dengan kehadiran teman-teman luar biasa yang selalu sedia mendampingiku di sekitar.

Berkat kontribusi dari kehadiran mereka semua, dunia di sekitarku kini tampak berkilau indah layaknya warna-warni pelangi. Aku bisa mendeklarasikan dengan penuh kebanggaan bahwa saat ini aku sedang menikmati masa muda terbaik dalam hidupku.

Oleh karena itu, aku sama sekali tidak menyesali keputusan apa pun yang sudah kuambil selama ini.

"Eh, iya. Kalau Yui-Yui sendiri bagaimana?"

Berusaha mencairkan atmosfer sekitar yang mendadak berubah menjadi melankolis (?), Uta bergegas menarik kembali topik pembicaraan ke arah Nanase.

Berdasarkan memoriku dari kehidupan pertama dulu, jurusan yang dipilih oleh Nanase adalah IPA. Aku bisa mengingat informasi tersebut dengan sangat valid karena setelah memasuki tingkat kedua, pemeringkatan nilai ujian harian dipisah berdasarkan rumpun jurusan, dan posisi peringkat pertama di rumpun IPA selalu diamankan oleh Nanase sepanjang waktu.

"Aku masih belum memantapkannya secara penuh, sih…… Tapi kemungkinan besar aku akan mengambil jurusan IPS."

"Eh……!?"

Karena aku berasumsi dia pasti akan mengambil keputusan yang sama seperti di masa lalu, jawaban yang keluar dari mulut Nanase barusan benar-benar sukses membuatku terkejut setengah mati.

"Ada yang salah, Natsuki-kun?"

Nanase mengalihkan pandangannya ke arahku dengan ekspresi heran.

"Ah, tidak, bukan apa-apa. Aku cuma sempat mengira kalau kamu pasti akan mengambil jurusan IPA, sih."

Melihat ekspresi kebingungan dari teman-teman yang kini tertuju ke arahku, aku pun bergegas menyodorkan kalimat klarifikasi untuk meredakan situasi.

"Wah, kalau begitu kita bisa berada di rumpun jurusan yang sama, Yui-Yui! Horeee!"

"Opsi itu belum mutlak kok, karena saat ini aku juga masih bimbang. Lagipula sisa waktu pengumpulannya juga masih sedikit longgar, kan."

Nanase menghembuskan napas pelan dengan ekspresi wajah yang tampak bimbang.

Mendadak, memori percakapan kami saat berada di perjalanan pulang tempo hari kembali terlintas di dalam kepalaku.

'Ini semua karena dirimu.'

……Apakah tindak-tandukku selama ini secara tidak langsung telah berhasil mengubah arah masa depan milik Nanase? Yah, meskipun status pilihannya saat ini masih belum berada di tahap final, sih.

"Omong-omong…… kalau Miori atau Serika sendiri bagaimana?"

"Ah, kalau Miori-chan kemarin sempat bercerita kepadaku kalau dia berniat mengambil jurusan IPA, kok."

Hikari yang belakangan ini hubungannya menjadi semakin akrab dengan Miori menyodorkan jawaban.

"Kalau Celie kurasa sudah pasti mengambil jurusan IPS, sih? Habisnya dia kan sangat anti dengan mata pelajaran sains."

Untuk informasi mengenai Serika, kali ini Uta yang bertindak memberikan penjelasan.

Keputusan yang diambil oleh dua orang tersebut ternyata masih berjalan selaras dengan apa yang terjadi di kehidupan pertamaku dulu. Fakta tersebut setidaknya membuatku bisa sedikit bernapas lega.

Namun di sisi lain, Hikari, Nanase, dan Tatsuya terbukti menunjukkan potensi yang besar untuk mengambil langkah yang berbeda dari garis waktu di masa lalu.

Tercatat sudah sekitar sepuluh bulan berlalu sejak momen pertamaku melakukan time leap ke masa ini. Rasanya perubahan-perubahan nyata yang terjadi di sekitarku kini intensitasnya berjalan semakin masif saja.

Saat jarum jam menunjukkan waktu istirahat makan siang sudah berjalan melewati paruh waktu.

Kami semua melangkah kaki bersama-sama untuk kembali menuju ke ruang kelas sembari asyik mengobrol santai.

Namun begitu kami menginjakkan kaki di depan pintu masuk kelas 1-2, atmosfer di dalam ruangan terasa berisik dan tampak jauh lebih ramai daripada biasanya.

"Ada kejadian sesuatu, ya?"

"Entahlah…… Kira-kira ada apa, ya?"

Begitu sosok kami melangkah masuk, fokus perhatian dari seisi ruang kelas seketika langsung tertuju penuh ke arah kami.

Namun untungnya, aura yang terpancar dari tatapan mereka sama sekali tidak terasa mencekam atau mengintimidasi seperti situasi saat insiden kekerasan Reita terjadi waktu itu.

"Oh, akhirnya kalian kembali juga."

Hino menyapaku dengan menggunakan nada suara kasual yang terkesan santai seperti biasanya. Dia kemudian langsung mengulurkan tangannya untuk merangkul bahuku dengan akrab.

"Kami semua tidak bisa mengambil keputusan final jika kamu tidak ada di sini, Natsuki."

Gaya interaksi anak populer jika sedang bergaul dengan temannya memang selalu melibatkan kontak fisik yang kelewat dekat seperti ini, ya.

Padahal bagi jajaran anak kuper sepertiku, batasan ruang privasi kami itu aslinya sangat luas, tahu!

"Tolong jaga sikap dan sopan santunmu sedikit, Hino."

"Kejam banget, sih! Apa begini cara sikapmu dalam memperlakukan teman sekelas yang sudah menghabiskan waktu berjuang bersama selama hampir satu tahun penuh!?"

Hino merespons kalimatku dengan menampilkan gestur tubuh yang sengaja dibuat kelewat hiperbola.

Melihat interaksi kami berdua, jajaran teman sekelas yang berada di sekitar kami pun langsung meledak dalam tawa.

"Aku sengaja bersikap begini karena kemarin semua orang baru saja mengajariku kalau level penanganan seperti inilah yang paling pas untuk menghadapi tipe orang sepertimu."

"Plot perkembangan cerita macam apa ini!? Jadi maksudmu sekarang seisi kelas sudah berbalik menjadi musuhku, begitu!?"

Meskipun Hino terus memegangi kepalanya dengan ekspresi pasrah, namun gestur tersebut justru menjadi bukti nyata betapa kehadirannya sangat diterima dan disayangi oleh seisi kelas.

Tapi karena dia pasti akan langsung besar kepala jika aku menyuarakan hal itu secara blak-blakan, aku memilih untuk tetap menyimpannya di dalam hati saja.

Melalui dinamika yang kami lalui sepanjang tahun ini, aku tahu betul kalau Hino aslinya adalah sosok pria yang sangat baik.

Dan penilaian tersebut tidak hanya berlaku untuk Hino seorang. Seluruh teman di kelas ini juga memiliki kepribadian yang sama baiknya.

Belakangan ini, intensitas kami berenam untuk terus berkumpul bersama memang intensitasnya menjadi sedikit berkurang.

Namun perubahan tersebut bukan didasari oleh adanya konflik atau keretakan hubungan dalam kelompok kami, melainkan murni karena ruang lingkup pergaulan kami yang kini sudah semakin meluas ke jajaran teman sekelas yang lainnya.

Mengingat durasi kebersamaan kami sebagai teman sekelas sudah berjalan selama hampir satu tahun, wajar rasanya jika hubungan pertemanan di kelas ini bisa terjalin dengan sangat erat tanpa perlu lagi terkotak-kotak berdasarkan kelompok pergaulan tertentu.

Terutama setelah kami semua berhasil melewati dan menyelesaikan konflik insiden Reita tempo hari, aku merasa pilar solidaritas dan persatuan di kelas ini perkembangannya berjalan menjadi jauh lebih kokoh.

Atmosfer keakraban di kelas ini kurasa jauh lebih sehat jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di kehidupan pertamaku dulu.

Pada masa lalu, susunan kelas kami selalu terbelah menjadi beberapa kelompok pergaulan yang kaku, dan keberadaan diriku di sana hanyalah dianggap sebagai angin lalu yang tidak dianggap.

Meskipun di awal semester pertama aku sempat menjadi pusat perhatian seisi kelas, sih. Tentu saja dalam konotasi yang negatif.

Bahkan saat ini pun, begitu kami melangkah masuk ke dalam kelas, Uta dan yang lainnya langsung bergerak lincah membaur ke dalam lingkaran obrolan jajaran anak perempuan yang tampak ceria, sedangkan Tatsuya dan Reita memilih melangkah mendekati Okajima-kun dari klub sepak bola dan Tachibana-kun dari klub basket untuk membuka obrolan.

……Eh? Kalau situasinya seperti ini, bukannya artinya satu-satunya orang yang tertinggal sendirian dalam kesendirian di sini hanyalah aku seorang?

Di saat aku sedang mematung meratapi kenyataan pahit yang menusuk hati ini, sosok Hino yang masih merangkul bahuku setia berdiri di depanku.

"……Maafkan aku ya, Hino. Kamu adalah sahabat terbaik yang paling berharga dalam hidupku. Tolong terus bantu aku ke depannya, ya."

"E-Eh? Apa-apaan, sih? Mengapa kamu mendadak melontarkan kalimat menggelikan seperti itu, seram tahu."

Padahal aku baru saja berniat untuk memperbaiki sikapku setelah menyadari betapa berharganya kehadiran dirinya di sisiku, namun entah kenapa Hino justru langsung melangkah mundur untuk mengambil jarak dariku dengan ekspresi ngeri.

Benar-benar membingungkan. Padahal aku sudah memperlakukannya dengan sangat sopan sesuai dengan keinginannya, lho.

"……Jadi, sebenarnya apa topik yang sedang kalian diskusikan sejak tadi?"

Karena aku menyadari sejak awal diriku sama sekali tidak mengetahui apa yang menjadi inti pembahasan utamanya, aku pun memilih untuk menanyakannya langsung.

"Ah, kalau soal masalah itu…… daripada aku yang menjelaskan, rasanya bakal lebih pas kalau orangnya sendiri yang berbicara. Oi, Kanata!"

Hino berteriak memanggil nama Fujiwara yang saat itu sedang asyik mengobrol bersama dengan Hikari dan yang lainnya.

"Padahal aku sudah berkali-kali memperingatkanmu untuk tidak memanggil nama kecilku secara sembarangan di depan banyak orang, lho……"

Fujiwara melangkah mendekati posisi kami sembari terus melontarkan kalimat omelan kecil ke arah Hino. Karakteristik tsundere-nya terlihat sangat imut.

"Ehem…… Ini mengenai agenda festival musik sekolah nanti, katanya susunan untuk posisi dirigen dan pemain pengiring piano harus segera ditentukan dalam waktu dekat."

"Ah, benar juga. Ternyata sekarang sudah memasuki musim pengerjaan untuk agenda itu, ya."

Sistem kegiatan di sekolah kami mengagendakan sebuah acara perayaan kecil bernama festival musik yang diselenggarakan tepat pada awal bulan Februari.

Meskipun fokus utamanya adalah kompetisi paduan suara antar kelas, namun pihak sekolah juga menyediakan slot pertunjukan hiburan yang diisi oleh jajaran klub musik sekolah sebagai acara selingan.

Klub musik ringan juga terhitung mendapatkan slot tampil di sana, namun untuk tahun ini giliran performa akan diserahkan kepada jajaran band yang lain.

Lagipula, jika mengingat struktur band kami yang melibatkan kehadiran Yamano yang statusnya merupakan pihak luar sekolah, kami baru bisa berpartisipasi dalam agenda resmi sekolah setelah anak itu resmi terdaftar sebagai murid di sini tahun depan.

"Mulai minggu depan nanti, alokasi jam pelajaran musik sepertinya akan mulai dialihkan sepenuhnya untuk agenda latihan paduan suara kelas."

"Kalau ketentuannya seperti itu, artinya penentuan penanggung jawabnya memang harus segera diselesaikan secepat mungkin, ya."

Berdasarkan memoriku dari kehidupan pertama dulu, sosok yang bergerak aktif memimpin seisi kelas sembari terus meneriakkan kalimat, "Dengar dulu dong, jajaran anak laki-laki~!!" dengan ekspresi kesal tidak lain adalah Fujiwara sendiri.

Meskipun tugas tersebut pasti akan sangat menguras energi, aku berharap dia bisa kembali memberikan performa terbaiknya untuk memimpin kelas kali ini.

"Benar sekali. Oleh karena itu, aku ingin meminta saran dan mendiskusikan masalah ini bersamamu, Haibara-kun."

"……Kenapa harus meminta saran dariku?"

Mendengar pertanyaanku yang dilontarkan sembari mengernyitkan dahi, Fujiwara mengerjapkan kedua belah matanya beberapa kali dengan ekspresi wajah yang tampak melongo heran.

"Tentu saja karena statusmu di kelas ini adalah sebagai sosok pemimpin bagi kami semua."

"Sebuah lelucon yang sangat menghibur."

Aku hampir saja meledak dalam tawa karena mengira kalimatnya barusan hanyalah sebuah candaan belaka, namun begitu aku mengalihkan pandangan, seisi kelas ternyata sedang menatap ke arahku dengan ekspresi serius.

Atmosfer yang terpancar dari ekspresi mereka seolah-olah menyiratkan pesan, 'Ya ialah, memangnya siapa lagi kalau bukan kamu?'. Eh? Apakah keadaannya benar-benar seperti itu?

"Aku sama sekali tidak sedang bercanda, tahu."

"……Tuh kan, intinya Kanata-ku yang imut ini juga menaruh harapan yang besar pada kapasitas dirimu, lho. Bagaimana tanggapanmu, Wahai Tuan Pemimpin?"

Hino kembali ikut nimbrung memeriahkan suasana sembari menyunggingkan senyuman jahil yang sangat menyebalkan untuk dilihat.

Sosok pemimpin kelas? Jujur saja, aku sama sekali tidak memiliki ketertarikan untuk mengemban tanggung jawab sebesar itu.

Ya, memang tidak bisa dimungkiri kalau di masa lalu aku sempat menaruh rasa kagum yang besar pada jajaran anak populer yang selalu menjadi pusat perhatian di kelas, sih.

Namun, hal itu bukan berarti aku mau dengan sukarela mengajukan diri untuk memikul tanggung jawab dari sebuah posisi yang melelahkan seperti ini.

"Alur dramanya kok rasanya mirip sekali dengan insiden penunjukan panitia pelaksana turnamen olahraga waktu itu, ya……"

Fujiwara bergumam, "Ah, ternyata taktikku ketahuan, ya," sembari menjulurkan lidahnya dengan ekspresi tanpa dosa.

"Jangan melimpahkan urusan yang merepotkan kepadaku secara sepihak, dong."

"Tapi realitasnya, seisi kelas baru bisa bekerja dengan solid dan kompak jika Haibara-kun yang bertindak memegang kendali kepemimpinan, tahu."

"Eeeh……"

Apakah pada akhirnya aku memang harus turun tangan langsung untuk mengawal jalannya diskusi mengenai penentuan posisi ini?

Meskipun tanggung jawab dari tugas ini terasa sangat melenceng dari kapasitas kepribadianku yang sebenarnya hingga membuat bulu kudukku merinding, namun melihat Fujiwara yang berdiri menanti jawabanku dengan penuh harap membuatku tidak memiliki pilihan lain selain menyodorkan sebuah opini netral yang aman untuk meredakan situasi.

"……Aku sendiri tidak begitu paham dengan urusan seperti ini, tapi bukankah langkah awal yang paling ideal adalah memastikan terlebih dahulu apakah ada kandidat yang tertarik untuk mendaftarkan diri secara sukarela?"

"Poin yang bagus. Kalau memang pada akhirnya tidak ada satu pun orang yang tertarik untuk mengajukan diri, aku tidak keberatan jika harus mengemban posisi sebagai dirigen kelas, tapi masalahnya untuk posisi pemain pengiring——"

Tepat di saat Fujiwara sedang mengutarakan kalimatnya, suara bel yang menandakan berakhirnya jam istirahat makan siang menggema di seluruh penjuru gedung sekolah.

"Mari kita lanjutkan kembali sisa pembicaraan ini nanti, ya."

Aku menganggukkan kepala untuk merespons kalimat Fujiwara, lalu bergegas melangkah kaki untuk kembali ke bangku milikku sendiri.

Posisi dirigen dan pemain pengiring piano, ya. Berdasarkan arah pembicaraannya barusan, kapasitas Fujiwara tampaknya sudah memadai untuk mengamankan posisi sebagai dirigen kelas.

Sementara untuk penanggung jawab posisi pemain pengiring piano…… bukankah menyerahkan tugas tersebut kepada Nanase adalah opsi yang paling sempurna?

……Eh? Tunggu sebentar. Seingatku, sosok yang bertanggung jawab memegang posisi sebagai pemain pengiring piano di kelas kami pada kehidupan pertama dulu bukan Nanase, kan?

Berdasarkan memoriku, posisi tersebut diisi oleh seorang siswi dengan kepribadian pendiam bernama Onozawa-san.

Pada masa lalu, karena aku sama sekali tidak mengetahui informasi bahwa Nanase memiliki kemampuan bermain piano yang sangat hebat, aku tidak pernah menaruh curiga sedikit pun pada keputusan tersebut.

Namun jika dipikirkan kembali sekarang, apa yang melatarbelakangi alasan Nanase sampai memilih untuk tidak mengambil posisi tersebut?

Apakah dia sengaja mengalah karena tahu Onozawa-san tertarik untuk mengajukan diri?

Jam pulang sekolah.

Aku melangkah kaki menuju ke area mimbar kelas dengan didampingi oleh Fujiwara di sisiku.

Karena seisi kelas sudah memahami bahwa agenda yang akan dibahas kali ini berfokus pada persiapan festival musik sekolah, mereka semua dengan sukarela menghentikan aktivitas mengemas barang maupun persiapan klub mereka untuk mendengarkan kalimat kami.

"Tes, berhubung aku tahu banyak di antara kalian yang sedang buru-buru karena ada jadwal kegiatan lain, aku akan menyampaikannya secara singkat saja. Demi kelancaran agenda paduan suara kelas untuk festival musik nanti, kita dituntut untuk segera menentukan penanggung jawab untuk posisi dirigen dan pemain pengiring piano. Apakah ada di antara kalian yang tertarik untuk mengajukan diri secara sukarela?"

Aku mengedarkan pandangan mataku ke seluruh penjuru ruangan, namun sepertinya tidak ada satu pun murid yang menunjukkan ketertarikan untuk mengangkat tangan mereka.

"Jika memang pada akhirnya tidak ada kandidat yang berminat, aku pribadi tidak keberatan untuk mengambil tanggung jawab sebagai dirigen kelas…… Tapi untuk posisi pemain pengiring piano, apa benar-benar tidak ada yang bersedia?"

Melihat situasi yang sudah mulai kondusif, Fujiwara melayangkan pertanyaan susulan untuk memancing respons seisi kelas. Namun, keheningan tetap melanda ruangan tanpa ada satu pun jawaban yang menyahut.

Pandangan mata Nanase tampak lurus menatap ke arah luar jendela sejak tadi, sedangkan Onozawa-san memilih untuk terus menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Di sisi lain, Hikari menatap lekat-lekat ke arah Nanase dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh rasa khawatir.

Atmosfer di dalam ruang kelas seketika berubah menjadi canggung, menampilkan raut wajah bimbang dari hampir seluruh murid di dalam ruangan.

"Bukannya kami enggan untuk membantu, tapi kapasitas kemampuan kami memang tidak memadai untuk bisa memainkan alat musik sesulit itu……"

"Maaf banget ya, tapi kalau pembahasannya masih lama, aku bisa telat menghadiri jadwal latihan klub sore ini."

Beberapa kalimat bernada bimbang mulai terdengar bersahutan dari beberapa sudut ruangan.

Karena aku menyadari situasi ini tidak akan membuahkan hasil jika terus dipaksakan, aku memutuskan untuk menyudahi sesi diskusi sore ini.

"Baiklah, intinya kami sudah paham kalau untuk saat ini tidak ada kandidat yang mengajukan diri secara sukarela. Sisa evaluasinya akan kami diskusikan lebih lanjut nanti. Sesi diskusi resmi kububarkan."

Mendengar kalimat pembubaran tersebut, jajaran murid yang aktif di klub olahraga langsung bergegas merapikan barang mereka dan melangkah keluar meninggalkan kelas dengan terburu-buru. Maaf ya, karena sudah menyita waktu kalian yang berharga.

"Seperti yang diharapkan dari Haibara-kun. Kemampuan diplomasimu luar biasa sekali, jalannya diskusi pasti tidak akan bisa sekondusif ini jika aku yang memimpin sendirian di depan."

Fujiwara menyapaku dengan menampilkan seulas senyuman lebar yang ceria di wajahnya.

"Padahal realitasnya kita sama sekali belum berhasil mencapai kesepakatan final mengenai penentuan posisinya, lho……"

"Ya, memang benar, sih. Tapi setidaknya jajaran anak laki-laki terbukti mau duduk tenang dan mendengarkan seluruh kalimatmu dengan khidmat, kan?"

"Dan kamu menganggap pencapaian itu murni terjadi karena kontribusi dari pengaruh diriku?"

Fujiwara menganggukkan kepalanya dengan yakin, namun aku sendiri sejujurnya tidak merasakan adanya perubahan yang signifikan pada kapasitas diriku.

Apakah bobot pengaruh yang kumiliki di kelas ini memang sudah tumbuh sebesar itu?

"Tapi kalau situasinya mampet seperti ini, ke depannya kita harus bagaimana?"

Fujiwara menyilangkan kedua belah tangannya di depan dada dengan ekspresi wajah yang tampak buntu.

"Karena dari awal tidak ada kandidat yang berminat mengajukan diri, pilihan terakhir yang tersisa hanyalah mendatangi orang yang kompeten secara personal untuk meminta bantuannya, kan?"

"Haibara-kun sendiri tidak memiliki kemampuan untuk bermain piano?"

"Tentu saja tidak bisa. Kalau aku punya keahlian di bidang itu, aku pasti sudah mengajukan diri sejak awal."

"Sayang sekali, padahal di dalam lubuk hatiku yang terdalam aku sempat menaruh harapan siapa tahu Haibara-kun ternyata bisa melakukan segalanya."

Memangnya dia menganggap kapasitas diriku ini sebagai sosok manusia super macam apa, sih? Mengapa dia bisa berasumsi seolah aku memiliki kemampuan untuk menyelesaikan segala hal?

"Eh, tapi omong-omong…… kemarin aku sempat mendengar sedikit cerita dari Hoshimiya-san, katanya Nanase-san itu sebenarnya memiliki kemampuan yang sangat hebat dalam bermain piano, ya?"

Fujiwara melayangkan pertanyaan ke arahku dengan menggunakan nada suara yang sangat lirih.

Sepertinya selama ini Nanase memang memilih untuk tidak pernah membagikan kisah mengenai latar belakang keahlian pianonya kepada jajaran teman sekelas.

Oleh karena itu, bahkan sosok Fujiwara yang memegang kendali sebagai pemimpin bagi jajaran siswi di kelas pun tidak memiliki informasi yang valid mengenai kebenaran berita tersebut.

"……Kurasa berita itu memang benar, sih."

Aku sempat dilanda kebimbangan apakah memberikan jawaban pembenaran adalah opsi yang tepat atau tidak, namun pada akhirnya aku memilih untuk menyodorkan sebuah kalimat jawaban yang menggantung.

"Kalau keadaannya seperti itu, bagaimana jika kita coba mendatangi bangunnya langsung untuk meminta bantuan?"

Tepat di saat fokus perhatian kami sedang tertuju ke arah sudut ruangan, sosok Nanase tampak sedang bersiap-siap untuk mengemas barang-barangnya di atas meja.

Untuk satu momen singkat, pandangan mata kami sempat saling bertemu, sebelum akhirnya dia bergegas membuang mukanya ke arah lain dengan ekspresi wajah yang tampak canggung.

Ini adalah momen pertama kalinya bagiku melihat Nanase bisa sampai menampilkan gestur canggung yang seperti itu.

Biasanya dia selalu menyambut tatapan mataku dengan senyuman manis sembari melambaikan tangan mungilnya dengan ceria.

Padahal ekspresi yang seperti itulah yang paling kusukai dari dirinya. Sisi imut yang menjadi alasan mendasar kenapa aku mengidolakan Nanase sebagai oshi-ku.

"A-Anu…… Nanase-san."

Sosok yang melangkah kaki mendekati meja Nanase untuk membuka percakapan ternyata adalah Onozawa-san.

Berdasarkan pengamatanku, hubungan kedekatan di antara mereka berdua seharusnya tidak berada di tingkat yang terlalu akrab.

Onozawa-san adalah tipe gadis dengan kepribadian yang sangat pendiam, dan ruang lingkup interaksi hariannya biasanya terbatas pada beberapa gelintir teman dekatnya saja.

Realitas tersebut terbukti dari ekspresi terkejut yang kini terpancar jelas dari wajah Nanase saat menatap kehadiran Onozawa-san di depannya.

"A-Ada perlu apa, ya?"

"……Anu, sebenarnya, aku sangat menyukai kualitas permainan piano milik Nanase-san."

Nanase mengerjapkan kedua belah matanya beberapa kali dengan ekspresi wajah yang tampak sangat terkejut setelah mendengar kalimat tersebut.

"……Bagaimana kamu bisa mengetahui informasi bahwa aku memiliki latar belakang sebagai seorang pemain piano?"

"H-Habisnya aku sendiri sebenarnya juga sempat mendalami dunia piano untuk beberapa waktu. Meskipun tingkat kemampuanku jelas tidak ada apa-apa jika dibandingkan dengan kehebatan milik Nanase-san, sih."

Onozawa-san tampaknya memang tipe orang yang tidak begitu mahir dalam merangkai kalimat saat berbicara dengan orang lain.

Meskipun begitu, dia terlihat berjuang mati-matian untuk terus menyampaikan isi kepalanya dengan tulus.

"Oleh karena itu, aku menjadi penasaran saat melihat jalannya diskusi tadi. Mengapa Nanase-san tidak mencoba untuk mengambil posisi sebagai pemain pengiring kelas?"

"……Lalu jika situasinya seperti itu, mengapa kamu sendiri memilih untuk tidak mengangkat tanganmu untuk mengajukan diri?"

Alih-alih menyodorkan jawaban untuk menjelaskan alasannya, Nanase justru memilih untuk melayangkan sebuah pertanyaan balik ke arah Onozawa-san.

"Kalau aku…… statusnya sudah lama berhenti dan tidak pernah lagi menyentuh alat musik itu sekarang. Jika hanya sebatas memainkan melodi pengiring sederhana, aku mungkin masih bisa mengusahakannya, tapi mengingat kelas kita dikaruniai dengan kehadiran sosok hebat seperti Nanase-san, aku merasa posisi tersebut akan jauh lebih sempurna jika diserahkan kepadamu……"

Karena kalimat yang diutarakannya murni lahir dari lubuk hatinya yang terdalam, Onozawa-san rela mengumpulkan seluruh keberanian yang dimilikinya hanya demi bisa menyampaikan pemikiran tersebut secara langsung kepada Nanase.

"……Terima kasih banyak, ya. Aku akan mempertimbangkan usulanmu dengan baik."

Nanase menyunggingkan seulas senyuman manis yang begitu hangat saat menyodorkan kalimat jawaban tersebut kepada Onozawa-san.

Setelah menyelesaikan urusan dan berpisah dengan Fujiwara di area sekolah, aku melangkah kaki bersama dengan Nanase untuk berjalan beriringan menuju ke tempat kerja paruh waktu kami.

Hari ini, Hikari harus menghadiri kegiatan klub sastra, jadi perjalananku menuju tempat kerja paruh waktu hanya dihabiskan berdua saja dengan Nanase.

Sebagai catatan, aku sudah mendapatkan izin resmi dari Hikari untuk pulang bersama Nanase dalam kurun waktu berkala karena tuntutan pekerjaan paruh waktu kami.

Lagipula, rasanya agak aneh jika kami yang bekerja di tempat yang sama harus berangkat secara terpisah.

Sejujurnya, izin ini bisa keluar kemungkinan besar karena pihak yang bersamaku adalah Nanase.

Jika posisinya digantikan oleh Uta atau Miori, aku yakin lampu hijau tidak akan pernah menyala. Namun, jika pelakunya adalah Serika, kurasa izinnya tetap akan keluar. Yah, meskipun ini semua murni barisan spekulasi pribadiku saja, sih.

"……"

"……"

Hanya suara ketukan langkah kaki dari dua orang yang terdengar saling bersahutan di sepanjang jalan.

Intensitas bicara Nanase hari ini terasa jauh lebih sedikit daripada biasanya.

Hal itu membuatku menjadi ragu apakah aku boleh menanyakan perihal kejadian di ruang kelas tadi atau tidak.

"……Raut wajahmu itu seolah sedang menuntut penjelasan kenapa aku tidak mau mengajukan diri sebagai pemain pengiring, ya."

Keheningan di antara kami akhirnya pecah saat Nanase mendadak melontarkan kalimat gumaman tersebut.

Tebakannya sepenuhnya akurat, dia memang selalu bisa membaca dengan jelas hal apa yang sedang mengusik isi kepalaku.

"Sejujurnya…… apakah karena kamu menganggap agenda pengiring piano di sekolah itu hanya sebagai urusan yang merepotkan?"

Jika alasannya karena itu, aku bisa sangat memahaminya. Mengingat dia adalah tipe orang yang sudah terbiasa bermain musik di level yang sangat tinggi, adalah sebuah keputusan yang rasional jika dia enggan membuang-buang waktu berharganya hanya demi mengiringi agenda paduan suara kelas yang kualitasnya biasa saja.

"Alasannya bukan karena hal itu, kok…… Aku hanya merasa kurang percaya diri saja."

"Kurang percaya diri? Seorang Nanase?"

Aku benar-benar tidak percaya kalimat seperti itu bisa meluncur dari mulut seseorang yang memiliki kualitas permainan piano sejenius dirinya.

"Bukan begitu, maksudku…… bukannya aku tidak percaya diri dengan kualitas kemampuanku saat bermain musik…… Hanya saja, setidaknya aku harus memiliki sebuah keyakinan yang pasti terlebih dahulu……"

"Keyakinan yang pasti?"

Apa maksud dari kalimatnya itu?

Saat aku mencoba melayangkan pertanyaan susulan, Nanase justru kembali bungkam dengan ekspresi wajah yang tampak beralih rumit.

"……Sama seperti kalimat yang kusampaikan kepada Onozawa-san tadi, tolong berikan aku sedikit waktu untuk memikirkannya terlebih dahulu, ya."

"……Apakah kamu tidak berniat untuk membagikan alasan di baliknya kepadaku?"

"Untuk saat ini, aku masih belum mau menceritakannya."

"……Baiklah, aku paham."

Sebelum berpisah tadi, aku dan Fujiwara sempat mengobrol sedikit dengan Onozawa-san.

Dari sana, kami sudah mendapatkan kepastian bahwa Onozawa-san tidak keberatan untuk mengambil alih tanggung jawab posisi tersebut jika pada akhirnya Nanase memilih untuk menolak.

Artinya, keputusan final sekarang sepenuhnya berada di tangan Nanase sendiri. Sisa kelonggaran waktu yang kami miliki juga masih terhitung cukup aman.

"……"

"……"

Kami kembali melanjutkan langkah kaki di dalam keheningan tanpa ada satu pun obrolan yang tercipta.

Seiring dengan posisi kami yang semakin berjalan mendekati area stasiun, intensitas pejalan kaki yang berpapasan dengan kami mulai bertambah padat, membuat atmosfer di sekitar kami bertransformasi menjadi semakin bising.

Nanase terbukti menunjukkan gestur yang sangat defensif untuk menutup rapat informasi mengenai urusan pribadinya.

Namun, mengingat fakta bahwa urusan piano miliknya merupakan sebuah area sensitif yang bahkan tidak bisa dimasuki oleh sahabat karibnya sendiri seperti Hikari, aku sadar bukan kapasitas diriku untuk bertindak lancang mengusik bagian tersebut.

Meski begitu, di dalam lubuk hatiku yang terdalam sebenarnya muncul sebuah perasaan mengganjal yang aneh.

Berbeda dengan Reita yang memang memiliki kepribadian super tertutup, Nanase aslinya bukan tipe orang yang terlalu menutup diri dari lingkungan sekitar.

Dia terhitung sering membagikan cerita mengenai dirinya kepadaku, dan bahkan kemarin dia dengan sukarela membeberkan alasan mendasarnya kembali bermain piano tanpa perlu kupancing terlebih dahulu.

"……Ah, kalau tidak salah, tadi Haibara-kun sempat menceritakan kalau kamu berniat untuk mengambil jurusan IPA, kan?"

Nanase mendadak menyodorkan sebuah topik obrolan kasual yang aman untuk meredakan situasi. Dia sengaja mengalihkan arah pembicaraan secara blak-blakan.

"Ya…… Habisnya bidang keahlianku memang berada di mata pelajaran sains dan matematika, sih. Meskipun keputusan itu statusnya masih belum final."

"Begitu, ya. Kondisiku sebenarnya juga kurang lebih sama denganmu. Apakah pada akhirnya mengambil jurusan IPA adalah opsi yang terbaik bagi grupku, ya……"

Mendengar kalimat yang meluncur dari bibirnya tersebut, sebuah deja vu yang aneh mendadak menyergap benakku.

……Benar juga. Di kehidupan pertamaku dulu, aku sempat terlibat dalam sebuah percakapan yang mirip seperti ini bersama dengan Nanase.

Bagi Nanase, momen itu mungkin hanyalah dianggap sebagai satu cuplikan interaksi harian biasa yang tidak berarti.

Namun bagi diriku yang pada masa itu sangat jarang mendapatkan kesempatan untuk mengobrol dengan orang lain, ingatan mengenai momen tersebut terekam dengan sangat valid di dalam kepala.

Aku ingat betul, pada saat itu Nanase sempat mengucapkan kalimat——

'Kondisiku juga sama denganmu. Meskipun aku sama sekali tidak menyukai bidang tersebut.'

'Mengapa kamu tetap bersikeras mengambil jurusan IPA padahal kamu sendiri tidak menyukainya?'

'Sebab bagiku, seluruh akses jalan untuk bisa hidup bersama dengan hal yang kucintai…… saat ini jalurnya sudah sepenuhnya tertutup rapat.'

——Ya, aku yakin betul kalau kalimat tragis itulah yang diucapkannya saat itu.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close