Interlude 2
Di
masa-masa itu, sosok Yuino-chan benar-benar terlihat seperti sebuah cangkang
kosong yang hampa.
Momen itu terjadi
pada liburan musim panas saat kami masih duduk di bangku kelas dua SMP.
Mengingat itu adalah liburan panjang yang berharga, aku menghabiskan waktu
untuk bermain bersama Yuino-chan berkali-kali.
Biasanya,
Yuino-chan pasti akan menolak ajakanku karena dia sangat sibuk dengan kegiatan
latihan piano maupun kelas les lainnya.
Namun entah
mengapa, sepanjang liburan musim panas kali ini, dia selalu menerima ajakanku
dengan senang hati kapan pun aku menghubunginya.
Kami melewati
musim panas yang sangat menyenangkan dengan pergi berbelanja hingga berkunjung
ke tempat karaoke bersama dengan teman-teman yang lain.
Namun di
tengah-tengah momen tersebut, Yuino-chan sering kali mendadak terdiam dan
melayangkan pandangan kosongnya menatap ke arah langit.
Padahal biasanya
dia selalu tertawa lepas bersama kami atau gemar menggoda diriku, namun ada
kalanya sepasang matanya justru memancarkan tatapan yang sangat jauh.
Saat-saat seperti
itu membuat pembawaan diri Yuino-chan entah mengapa terlihat menjadi sangat
dewasa.
"Apakah
kamu…… sudah memutuskan untuk berhenti bermain piano?"
"……Apa yang
membuatmu sampai berpikiran seperti itu?"
"Sebab
belakangan ini, aku sama sekali tidak pernah melihatmu berlatih lagi."
"……Kamu
benar. Aku memang sudah tidak lagi menjalani sesi latihan dengan penuh
totalitas seperti dulu."
"Kenapa?
Padahal aku sangat menyukai alunan musik piano milik Yuino-chan, lho."
"……Aku murni
hanya merasa sedikit lelah dengan semua ini. Alasan utamanya hanya sebatas itu
saja, kok."
Melihat
Yuino-chan yang langsung mengalihkan pandangan matanya ke arah lain, aku pun
akhirnya mengurungkan niat untuk bertanya lebih jauh.
Sebab aku tahu
betul bahwa alasan yang mendasari tindakannya itu jelas bukan sebuah perkara
sepele seperti apa yang baru saja diucapkannya.
Yuino-chan adalah
sosok gadis yang sangat mencintai aktivitas memainkan instrumen piano.
Fakta tersebut
adalah sebuah realitas yang bisa dipahami oleh siapa saja yang melihat
pembawaan dirinya saat sedang bermusik.
Aku sama sekali
tidak bisa memercayai alasan bahwa dia memilih berhenti murni hanya karena
merasa lelah.
Terlebih lagi,
jika alasan itu memang benar adanya, dia seharusnya bisa mengekspresikan
kehidupan barunya saat ini dengan raut wajah yang jauh lebih bahagia.
Namun realitas
yang terpampang di depan mataku saat ini justru memperlihatkan bahwa Yuino-chan
sedang memaksakan diri. Aku sudah menyadari adanya kejanggalan tersebut sejak
awal mula perubahan sikapnya terjadi.
Awalnya aku
berharap intensitas bermain kami yang sering bisa sedikit membantu proses
pemulihan kondisi mentalku.
Namun tampaknya,
akar masalah yang sedang dihadapinya saat ini bukanlah sebuah perkara ringan
yang bisa diselesaikan dengan mudah.
Karena
pertimbangan itulah, hari ini aku memberanikan diri untuk menanyakan hal
tersebut secara langsung kepadanya. Dan respons yang kuterima saat ini adalah
hasil dari keberanianku itu.
"Aku
benar-benar merasa sangat senang karena kamu mau mengkhawatirkan kondisiku,
Hikari."
Melihat diriku
yang hanya bisa terdiam membisu, Yuino-chan pun menyunggingkan seulas senyuman
tipis yang terkesan sangat dipaksakan di wajahnya.
"Namun kamu
tidak perlu cemas, karena kondisiku saat ini benar-benar baik-baik saja,
kok."
Mendengar kalimat
penolakannya barusan, aku akhirnya menyadari untuk pertama kalinya bahwa kata
'baik-baik saja' juga bisa bertindak sebagai sebuah kalimat penolakan yang
halus.
Aku memiliki
keinginan yang sangat besar untuk bisa menjadi pilar kekuatan bagi Yuino-chan.
Aku ingin dia bersedia membagi beban masalahnya dan mengandalkan kehadiranku.
Namun masalahnya,
aku sama sekali tidak memiliki modal pengetahuan apa pun mengenai seluk-beluk
dari dunia musik klasik.
Sekalipun
Yuino-chan bersedia menceritakan seluruh detail masalahnya kepadaku, aku
dipastikan tetap tidak akan bisa melakukan tindakan apa pun untuk membantunya.
Satu-satunya hal
maksimal yang mampu kulakukan saat ini murni hanyalah sebatas bertahan untuk
terus berada di sisi sampingnya seperti biasa.
Di tengah-tengah
bergulirnya hari-hari yang monoton tersebut, sebuah keajaiban sederhana
mendadak berhasil mengembalikan kilau cahaya kehidupan di sepasang mata
Yuino-chan yang tadinya sempat meredup hampa. Fenomena perubahan tersebut bisa
terjadi murni karena dia mendadak jatuh cinta pada dunia idola.
"Gadis
manis yang ada di dalam foto ini adalah sosok oshi nomor satuku! Dia
terlihat sangat imut sekali, bukan? Sepasang matanya tampak begitu
berbinar……"
"Wah,
ini adalah pertama kalinya bagiku melihat Yuino-chan bisa sampai berbicara
dengan penuh ambisi dan menggebu-gebu seperti ini, lho?"
"Apakah
penampilanku saat ini memang terlihat seaneh itu? Namun terlepas dari hal itu,
sosoknya benar-benar sangat luar biasa hebat! Dia selalu berjuang keras
mengejar impiannya dengan penuh totalitas, hingga auranya selalu sukses
menyalurkan energi positif ke dalam diriku. Kebetulan dalam waktu dekat ini
mereka akan menggelar konser live, jadi apakah kamu mau ikut pergi
menonton bersamaku, Hikari?"
Melihat
transformasi instan Yuino-chan yang mendadak berubah menjadi seorang otaku yang
berbicara dengan tempo sangat cepat, aku sejujurnya sempat merasa sangat
kewalahan untuk meresponsnya.
Namun di sisi
lain, aku juga merasa sangat bahagia karena dia akhirnya bisa mengamankan
kembali energi kehidupannya.
Mengingat aku
adalah orang yang sangat awam mengenai dunia idola, aku sejujurnya hampir tidak
bisa memahami arti dari setiap kosakata teknis yang meluncur dari mulutnya
sepanjang waktu.
Namun bagiku,
rincian detail tersebut sama sekali tidak penting selama kilau cahaya
kebahagiaan bisa kembali menghiasi sepasang mata Yuino-chan yang tadinya sempat
hampa seperti cangkang kosong.
"……Tentu
saja aku mau. Aku juga ingin melihat secara langsung hal-hal luar biasa yang
sangat disukai oleh Yuino-chan."
Melihatnya bisa
bangkit berdiri dari keterpurukan adalah sebuah kebahagiaan terbesar bagiku.
Namun di dalam
sudut hatiku yang terdalam, aku sempat meyakini bahwa dia mungkin tidak akan
pernah lagi mau menginjakkan kakinya di atas panggung kompetisi piano sampai
kapan pun.
Bahkan setelah
kami resmi memasuki jenjang kehidupan SMA, dia tetap setia mengemban tanggung
jawab untuk mengawasi dan merawat diriku.
Alih-alih
menganggapnya sebagai seorang sahabat biasa, pembawaan dirinya justru membuatku
merasa seperti sedang memiliki sosok kakak perempuan kandung yang sangat hebat.
Aku sadar bahwa
hidupku selama ini selalu berakhir diselamatkan oleh kebaikan hati Yuino-chan.
Oleh karena itu,
aku juga menyimpan sebuah impian besar untuk bisa menjadi sosok yang berguna
bagi kelangsungan hidup Yuino-chan ke depannya.
Aku bahkan sempat
memelihara sebuah fantasi indah layaknya sebuah cerita fiksi, di mana novel
hasil karyaku sendiri yang nantinya akan berhasil membakar kembali api semangat
piano di dalam hatinya.
Namun sayangnya,
takdir kehidupan nyata memilih untuk tidak mengizinkan impian manisku itu
terkabul.
"Aku sudah
memantapkan hati untuk kembali menekuni dunia piano."
Sosok nyata yang
berhasil mewujudkan impian itu melalui jalan cerita yang berbeda murni hanyalah
Natsuki-kun seorang.
"Setelah
melihat secara langsung kualitas pertunjukan live milik kelompok band
Haibara-kun kemarin, aku akhirnya menyadari bahwa hatiku pada realitasnya masih
belum bisa merelakan dunia musik ini begitu saja."
Mendengar kabar
bahagia tersebut meluncur langsung dari mulutnya, aku murni merasakan sebuah
letupan kebahagiaan yang besar sekaligus rasa sesak yang menghujam dada karena
fakta bahwa akulah yang gagal menjadi pemicu utamanya.
"Wah, begitu
ya! Kalau begitu, aku berjanji akan mengerahkan seluruh tenagaku untuk terus
mendukung perjuangan Yuino-chan dari belakang!"
Pada realitasnya
aku hanyalah sesosok gadis lemah yang tidak memiliki kekuatan apa pun, bahkan
di saat Yuino-chan ambruk tidak sadarkan diri di depan mataku seperti sekarang,
aku tetap tidak bisa melakukan tindakan berguna apa pun untuk menolongnya.
Sejak beberapa
waktu yang lalu, firasat buruk memang sudah terus-menerus mengusik ketenangan
pikiranku. Aku yakin Natsuki-kun pasti juga menyadari adanya kejanggalan aneh
dari pembawaan diri Yuino-chan belakangan ini.
Kami berdua tahu
bahwa masalah utama yang sedang mengganggu kestabilan emosinya dipastikan
memiliki keterkaitan erat dengan dunia piano.
Meskipun logika
di dalam kepalaku terus memaksa diri untuk memercayai bahwa ini adalah bentuk
perubahan ke arah yang positif, namun firasat buruk itu tetap enggan untuk
menyingkir dari hatiku.
Dan tepat pada
hari ini, firasat mengerikan tersebut resmi dibuktikan melalui sebuah skenario
terburuk yang pernah ada.
Sampai detik ini pun, aku ternyata masih tetap bertahan sebagai sosok orang yang sama sekali tidak mengetahui fakta apa pun mengenai realitas masalah yang sesungguhnya.



Post a Comment