NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Henkyou Kizoku ni Tensei shita Akuyaku Reijō Suki ga Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Sang Sword Saint Perawan Tua


Sebuah hutan lebat yang membentang di bagian selatan Wilayah Clover.

 

Tempat tersebut dikenal sebagai habitat para monster dan sangat sulit untuk dilewati. Oleh karena itu, hutan ini menjalankan fungsinya sebagai perbatasan alami antara Kerajaan Suci dan Kerajaan Moroheiya.

 

Tepat di depan pintu masuk hutan tersebut, berdirilah seorang kesatria wanita yang rupawan.

 

(Setelah melewati hutan ini, aku akan tiba di Wilayah Margrave Clover, ya...)

 

Di masa lalu, belum pernah ada satu pun orang yang berhasil menembus hutan perbatasan ini dan menuju wilayah negara lain.

 

Akan tetapi, dirinya adalah pengecualian.

 

(Aku adalah seorang Sword Saint... aku pasti bisa. Lagipula, jika aku berhasil melewati hutan ini...)

 

Dengan menggantungkan secercah harapan, kesatria wanita itu melangkah seorang diri memasuki kedalaman hutan.

Akibat insiden dengan Bruno, sebuah desas-desus mengenai Arl mulai menyebar di kalangan sosialita kelas atas bahwa Arl Clover adalah sosok luar biasa yang bahkan berani menentang keluarga kerajaan demi cinta.

 

Sebagai seseorang yang tinggal di perbatasan dan buta akan gosip pergaulan kelas atas, tentu saja Arl belum mengetahui rumor tersebut.

 

※※※

 

Satu bulan telah berlalu sejak insiden Bruno, tepat saat Christa mulai terbiasa dengan kehidupannya di Keluarga Clover.

 

Aku, Rena, dan beberapa penduduk wilayah sedang mengunjungi Hutan Agung Flawable yang terletak di bagian selatan wilayah kami.

 

Hari ini adalah hari Ekspedisi Penaklukan yang rutin diadakan setiap enam bulan sekali.

 

Demi membasmi monster-monster di dalam hutan, saat ini kami membagi diri ke dalam beberapa kelompok bersama para penduduk yang ahli bertarung untuk mengurangi populasi mereka.

 

“Tuan Muda.”

 

“Oh, Udo.”

 

Sekitar dua jam setelah kami memasuki hutan, seorang pria paruh baya berotot kekar menyapaku.

 

Namanya adalah Udo, pria dengan kemampuan bertarung paling hebat di antara para penduduk. Saat Alan tidak sempat mengawasiku, aku sering meminta Udo untuk menilai ilmu pedangku.

 

Mengingat aku menugaskan Udo di area yang paling dekat dari posisiku, sepertinya ia datang untuk memberikan laporan.

 

“Sudah selesai?”

 

“Sudah. Bagaimana dengan sisi Anda?”

 

“Itu yang terakhir.”

 

Sambil berkata seperti itu, aku mengalihkan pandanganku ke arah Rena yang sedang bertarung melawan seekor monster serigala, disaksikan oleh beberapa anggota kelompok kami.

 

Awalnya Rena hanya dijadwalkan untuk melihat-lihat saja, tetapi karena ia bersikeras ingin ikut bertarung, aku pun menyerahkan satu monster terakhir ini padanya.

 

“Tunangan Anda lumayan juga, ya.”

 

“Yah, begitulah...”

 

Aku mengangguk sambil tersenyum canggung ketika menanggapi kata-kata Udo.

 

Berbeda denganku yang dulu sempat gugup di awal, Rena mengayunkan pedangnya tanpa ragu sedikit pun dan secara pasti menguras tenaga lawannya.

 

“Kalau dia sehebat itu, Anda tidak boleh lengah, Tuan Muda.”

 

“—Ghk. Berhentilah bercanda.”

 

“Haha, maaf, maaf.”

 

Meski Udo tertawa ramah dan menganggapnya sebagai lelucon, bagiku ini sama sekali bukan lelucon. Memang kekuatan fisikku masih lebih unggul, tetapi teknik berpedangnya perlahan tapi pasti mulai mengejar kemampuanku.

 

Akhir-akhir ini aku berlatih mati-matian agar tidak sampai dikejar olehnya.

 

“Oh, sepertinya sudah selesai.”

 

Tepat seperti perkataan Udo, Rena berhasil mendaratkan serangan penutup pada monster serigala tersebut.

 

Melihat kemenangan telak tanpa segores luka pun untuk sebuah pertarungan pertama, membuat semua orang yang menonton memberikan tepuk tangan meriah.

 

“Arl!”

 

“Rena, hebat sekali.”

 

Aku memeluk lembut Rena yang berlari menghampiriku dengan senyuman lebar.

 

“Bagaimana pertarungan pertamamu?”

 

“Aku sangat gugup.”

 

“Sama sekali tidak kelihatan, lho.”

 

“I-Itu karena...”

 

Pipi Rena sedikit merona.

 

“Itu karena ada Arl yang terus mengawasiku.”

 

“—Ghk, b-begitu, ya...”

 

Kepolosan Rena yang begitu tulus membuatku merasa malu karena sempat sedikit iri pada ketenangannya tadi.

 

Di saat aku sedang berpikir seperti itu, orang-orang di sekitar mulai menggoda kami.

 

Rasanya aku ingin menghukum mereka dengan tuduhan tidak sopan, tapi tidak mungkin aku melakukannya pada penduduk wilayahku yang berharga.

 

Karena terus-terusan digoda rasanya kurang nyaman, aku menjaga sedikit jarak dari Rena, lalu kami keluar sebentar dari hutan untuk bergabung dengan kelompok lain. Dan kemudian—

 

“Arl-san~! Rena-san~!”

 

Di antara para wanita yang menunggu sambil menyiapkan makan siang di luar hutan, Christa berlari menghampiri kami dengan senyuman riang.

 

Walaupun sehari-harinya Christa membantu Alan mengurus administrasi wilayah, kemampuannya dalam sihir juga sangat luar biasa.

 

Mengingat Christa juga menguasai sihir penyembuhan yang langka, kali ini ia ikut serta sebagai tim pendukung.

 

“Christa, apa ada yang terluka?”

 

“Sejauh ini belum ada satu pun. Ternyata kalian semua sangat hebat, ya.”

 

“Yah, begitulah.”

 

Di Wilayah Clover yang tidak memiliki hiburan apa-apa, acara semacam ini adalah salah satu dari sedikit kesenangan bagi para pria di desa.

 

Demi hari ini, mereka berlatih dengan tekun setiap hari. Fakta bahwa belum ada korban luka adalah hasil dari kerja keras tersebut.

 

Hanya saja, bagian tersulitnya baru akan dimulai.

 

“Mulai siang ini kita akan masuk lebih dalam ke hutan, pasti akan ada yang terluka nanti. Tolong bersiap-siaplah.”

 

“Baik, aku mengerti.”

 

Setelah memastikan Christa tersenyum ceria layaknya gadis seusianya, kami mulai menyantap makan siang.

 

Begitu selesai, sesuai rencana kami mulai bergerak menuju bagian dalam hutan.

 

“Rena.”

 

“Ya.”

 

“Mulai dari titik ini, jangan pernah sekalipun menjauh dariku.”

 

Tidak lama setelah kami kembali memasuki hutan, aku memberikan peringatan padanya.

 

Di bagian dalam hutan sering kali terdapat sarang monster, sehingga jumlah mereka akan bertambah dan tingkat bahayanya pun meningkat drastis.

 

Beberapa menit setelah Rena mulai bergerak dengan menempel erat padaku. Kami berhadapan dengan puluhan monster serigala dan berhasil memukul mundur mereka.

 

Kami melangkah semakin dalam, dan sambil berhadapan dengan monster-monster selain serigala seperti babi hutan dan beruang, kami terus mengurangi jumlah mereka secara pasti.

 

Hingga pada saat langit mulai menampakkan sinar jingga kemerahan.

 

“Tuan Muda, gawat—!”

 

Udo berlari menghampiriku dengan raut wajah panik.

 

Adanya korban luka adalah hal yang lumrah setiap tahunnya, jadi Udo tidak seharusnya sepanik ini. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, aku pun bertanya.

 

“Apa yang terjadi?”

 

“I-Itu, kami baru saja menemukan seseorang yang terlihat seperti prajurit dari negara lain...”

 

“Apa...?”

 

“Arl.”

 

Mendengar kata ‘negara lain’, aku dan Rena saling bertukar pandang. Tergantung pada situasinya, hal ini bisa menjadi ancaman bagi keamanan negara.

 

“Dari negara mana?”

 

“Sepertinya dari Kerajaan Moroheiya.”

 

“Jumlahnya?”

 

“Hanya satu orang. Kami sudah memeriksa area di sekitarnya, tapi tidak ada orang lain.”

 

Ini aneh. Satu-satunya jalan dari Kerajaan Moroheiya untuk sampai ke sini adalah dengan menerobos langsung perbatasan.

 

Menerobos dengan kelompok kecil saja belum pernah ada yang berhasil melakukannya, apalagi mencoba seorang diri, itu benar-benar tidak masuk akal...

 

“Arl. Untuk saat ini...”

 

“Kau benar.”

 

Seperti kata Rena, kami harus melihat lokasinya terlebih dahulu.

 

Dipandu oleh Udo, kami tiba di tempat kejadian. Di sana, terbaring telentang seorang kesatria wanita cantik berambut cokelat panjang, dikelilingi oleh para penduduk.

Baju zirahnya penuh dengan goresan bekas pertarungan, dan terdapat beberapa luka di tubuhnya yang berada pada tingkat di mana sihir penyembuhan biasa tidak akan cukup untuk menyembuhkannya.

 

“Itu kan...”

 

“Rena. Kau mengenalnya?”

 

“Ya. Kemungkinan besar dia adalah sang Sword Saint dari Kerajaan Moroheiya.”

 

“Sword Saint, katamu...”

 

Mengingat mereka adalah negara tetangga yang berbatasan langsung dengan kami, aku tahu sedikit banyak tentang Kerajaan Moroheiya.

 

Sword Saint adalah sebuah gelar yang diberikan kepada kesatria dengan kemampuan berpedang terbaik di kerajaan tersebut, dan fakta bahwa pemegang gelar generasi saat ini adalah seorang wanita—yang pertama dalam sejarah—sangatlah terkenal.

 

Meskipun aku belum pernah melihat kemampuannya secara langsung, fakta tidak masuk akal bahwa dia berhasil menembus tempat ini seorang diri tiba-tiba terasa masuk akal jika pelakunya adalah sang Sword Saint.

 

“Arl. Apa yang harus kita lakukan?”

 

Rena meminta keputusanku.

 

Jika aku hidup di masa lalu (sebagai orang modern), aku tidak punya pilihan lain selain menyelamatkannya.

 

Tetapi, posisiku sekarang adalah seorang putra bangsawan, terlebih lagi dari keluarga Margrave. Sebagai bangsawan penjaga perbatasan, aku harus memikirkan pilihan lain.

 

Kerajaan Suci dan Kerajaan Moroheiya tidak memiliki hubungan diplomatik yang terlalu erat. Kedua belah pihak saling tidak mencampuri urusan masing-masing, begitulah hubungan kami.

 

Oleh karena itu, di masa-masa darurat, seorang Sword Saint seperti dirinya bisa menjadi ancaman nyata bagi Kerajaan Suci. Jika aku berpura-pura tidak melihatnya di sini, aku bisa melenyapkan potensi ancaman tersebut.

 

Sebagai seorang bangsawan yang memikirkan negaranya, mungkin itulah jawaban yang tepat.

 

Tetapi, aku adalah seorang reinkarnator. Selama ingatan dari kehidupan masa laluku masih ada, jiwaku tidak akan pernah bisa sepenuhnya menjadi seorang bangsawan yang mampu bersikap dingin.

 

“Kita tidak punya pilihan selain menyelamatkannya. Hal semacam ini—“

 

Bagaimanapun aku memikirkannya, ini hanya akan menjadi bibit masalah baru. Meski begitu, aku tetap tidak bisa membiarkannya mati begitu saja.

 

“Aku mengerti. Seperti dugaanku, Arl memang luar biasa.”

 

Rena yang mengatakan itu tersenyum dengan raut wajah yang tampak lega.

 

※※※

 

Setelah Kesatria wanita yang diduga sebagai sang Sword Saint itu mendapat pertolongan pertama dari Christa yang bersiaga di luar hutan, kami membawanya pulang ke kediaman untuk mendapatkan perawatan medis yang lebih intensif.

 

Kemudian, saat sang Sword Saint sedang dirawat, aku dan Rena memberikan laporan kepada Alan mengenai hasil Ekspedisi Penaklukan sekaligus tentang sang Sword Saint.

 

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi...”

 

Alan menghela napas panjang setelah mendengar penjelasan tentang situasinya.

 

Terlepas dari alasan apa pun yang melatarbelakanginya, tindakan sang Sword Saint kali ini sudah terhitung sebagai masuk ke wilayah Kerajaan Suci secara ilegal. Dengan kata lain, ini adalah masalah internasional.

 

Menyusul insiden Bruno sebelumnya, ini adalah masalah internasional kedua kami, dan insiden kali ini berpotensi memicu peperangan.

 

“Aku akan menyiapkan laporan untuk diserahkan ke pihak kerajaan. Tolong kalian berdua interogasi dia begitu dia siuman.”

 

“ “Baik.” “

 

Melihat Alan mulai mengerjakan dokumennya dengan raut wajah yang tampak pusing, aku dan Rena segera undur diri dari ruang kerjanya.

 

“Untuk sekarang, mari kita lihat keadaan di tempat Christa dan yang lainnya.”

 

“Ya, benar.”

 

Saat kami menuju tempat Christa yang sedang menangani perawatan, kebetulan Bertrand yang membantunya baru saja keluar dari ruangan.

 

“Bertrand, bagaimana kondisinya?”

 

“Nyawanya tidak terancam. Kurasa dia akan segera siuman.”

 

Mendengar bahwa sang Sword Saint selamat, aku dan Rena mengelus dada lega.

 

“Bagaimana dengan Christa?”

“Beliau bilang ingin memantau perkembangannya sebentar untuk berjaga-jaga.”

 

“Begitu ya. Bertrand, terima kasih banyak. Kau sangat membantu.”

 

“Suatu kehormatan bagi saya. Kalau begitu, saya permisi.”

 

Setelah membungkuk hormat, Bertrand meninggalkan tempat itu, dan kami berdua masuk ke dalam kamar menggantikannya.

 

“Christa.”

 

“Arl-san, Rena-san.”

 

Melihat kedatangan kami, Christa menyingkir ke arah dinding, dan sosok sang Sword Saint yang sedang terlelap di tempat tidur pun mulai terlihat.

 

“Seperti yang dikatakan Bertrand, kelihatannya dia sudah membaik.”

 

“Ya.”

 

Hembusan napasnya begitu teratur, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru saja menderita luka parah.

 

Benar-benar sesuai dengan gelar Sword Saint yang disandangnya. Daya tahan tubuhnya ada di level yang berbeda.

“Ugh... haah...”

 

“ “ “—Ghk” “ “

 

Sang Sword Saint mengerang pelan, lalu membuka kelopak matanya sedikit sembari menguap kecil.

 

Sepertinya dia sudah terbangun lebih cepat dari perkiraan.

 

“Kalian berdua, berlindung di belakangku.”

 

Untuk berjaga-jaga tentang kemungkinan terburuk, aku meminta Rena dan Christa mundur ke belakangku. Meskipun sedang terluka, orang ini tetaplah seorang Sword Saint.

 

“Ini... di mana...”

 

Sang Sword Saint yang baru siuman menggumamkan pertanyaannya. Suaranya rendah dan menenangkan khas wanita dewasa, sangat nyaman di telinga.

 

“Ini adalah kediaman Keluarga Clover.”

 

“Clover... Keluarga Clover...!”

 

“—Ghk!?”

 

Tepat setelah mendengar jawabanku, sang Sword Saint langsung terduduk tegak dengan cepat.

 

Ia menatap kami dengan mata cokelatnya, warna yang terasa familier dengan kehidupan masa laluku, lalu menghela napas lega.

 

“Syukurlah, sepertinya aku berhasil tiba dengan selamat...”

 

Jika dilihat dari reaksinya, sepertinya dia cukup memahami situasinya sendiri.

 

“Maaf harus melakukan ini tepat setelah kau siuman, tapi aku harus menanyakan beberapa hal padamu, tak apa?”

 

“Tentu, silakan. Malahan aku berharap kau mau mendengarkanku.”

 

“B-Begitu ya...”

 

Entah mengapa dia terlihat sangat antusias untuk berbicara, jadi aku memutuskan untuk mengorek informasi sebanyak-banyaknya darinya.

 

“Pertama-tama, tolong beri tahu identitasmu.”

 

“Namaku adalah Thea Mayqueen. Yah, meski memalukan untuk diakui, di negaraku aku dijuluki sebagai Sword Saint. Maafkan kelancanganku, tapi bolehkah aku tahu siapa kalian?”

 

“Aku Arl Clover. Dua orang di belakangku adalah tunanganku, Rena dan Christa.”

 

“Begitu rupanya, jadi Anda adalah..”

 

Pada saat aku menyebutkan namaku, mata sang Sword Saint—Thea—seketika berbinar terang. Binar mata yang dipenuhi oleh secercah harapan.

 

Sambil merasakan firasat yang sedikit buruk, aku melanjutkan interogasiku.

 

“Kau sadar ‘kan bahwa tindakan yang kau ambil kali ini adalah sebuah pelanggaran hukum?”

 

“Tentu saja. Tindakanku tidak lain dan tidak bukan adalah penyusupan ilegal, atau lebih tepatnya pembelotan. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap negaraku sendiri.”

 

“Benar seka—tunggu, apa?”

 

Barusan, apa yang dia katakan? Pembelotan, pengkhianatan?

 

Aku melirik ke arah dua orang di belakangku, namun mereka berdua juga sama bingungnya denganku.

 

Aku tidak boleh lengah. Alasan pembelotan sering kali digunakan sebagai kedok oleh seorang mata-mata.

 

“Ada apa?”

 

“Tidak, lupakan saja.”

 

Sambil tetap mempertahankan kewaspadaanku, aku kembali bertanya.

 

“Lalu apa tujuanmu datang jauh-jauh ke Wilayah Clover?”

 

“Oh, itu. Singkatnya, aku ingin melamar Arl-dono.”

 

“Ooh, Melamar ya—hah?”

 

Kali ini aku benar-benar gagal mencerna perkataannya, pikiranku berhenti berputar sepenuhnya.




Seolah tidak tahan melihatku yang mematung, Rena melangkah maju.

 

“Bolehkah aku juga mengajukan pertanyaan?”

 

“Tentu saja.”

 

“Melamar itu... apa maksudnya?”

 

“Ceritanya akan sedikit panjang, apa tidak apa-apa?”

 

“A-Apakah akan sangat panjang...?”

 

“Karena situasinya cukup rumit...”

 

“Y-Ya sudah, silakan.”

 

“Terima kasih.”

 

Setelah mengambil napas sejenak, Thea pun mulai bercerita.

 

“Pertama-tama, tahun ini usiaku menginjak dua puluh dua tahun. Tetapi aku belum punya tunangan. Apa kalian tahu kenapa?”

 

Tentu saja aku tidak tahu urusan seperti itu. Namun, dari awal percakapan ini saja...

 

“Keluargaku hanyalah seorang bangsawan bergelar Baronet. Aku mempunyai banyak saudara dan kondisi finansial kami jauh dari kata mewah. Karena itulah sebagai putri tertua, aku harus mencari nafkah untuk menghidupi keluargaku.”

 

Ya, firasatku sepertinya tepat.

 

“Untungnya, aku memiliki bakat dalam berpedang. Jadi aku berusaha mati-matian mengasah kemampuan pedangku, mengabdi pada negara, dan akhirnya bisa membiayai keluargaku. Bahkan sekarang aku sampai dijuluki Sword Saint. Tetapi—“

 

Thea meremas seprai tempat tidurnya erat-erat sambil mengerutkan dahinya.

 

“Tanpa kusadari aku sudah mencapai usia setua ini. Hingga hari ini, tidak pernah ada satu pun desas-desus asmara tentangku. Jadi aku merasa cemas dan gelisah, berpikir bahwa aku tidak bisa membiarkan diriku terus seperti ini.”

 

Setelah mendengar sampai sejauh ini, mau tidak mau aku pasti akan paham arah pembicaraannya.

 

“Jadi begitu, kamu perawan tua ya.”

 

“Jangan panggil aku perawan tua...!”

 

Thea berteriak penuh penderitaan menanggapi Christa yang refleks menyuarakan isi kepalanya.

 

Seperti yang dikatakan Christa, Thea adalah seorang wanita yang telah melewatkan masa ideal untuk menikah—alias Perawan Tua.

 

Menurut standar kehidupanku di masa lalu, hal ini mungkin sulit dipercaya, tetapi di dunia ini, di mana akhir usia belasan dianggap sebagai usia paling ideal untuk menikah, maka akan sangat wajar jika Thea mendapat cap seperti itu.

 

“Maaf atas ketidaksopananku.”

 

Thea yang pembicaranya sempat terputus berdehem dan menata kembali emosinya untuk melanjutkan pembicaraan.

 

“Arl-dono, memang benar... aku ini adalah wanita yang melewatkan masa ideal untuk menikah. Tapi, bukan karena alasan dangkal seperti itu saja aku melakukan tindakan senekat ini.”

 

Yah, tentu saja itu masuk akal. Meskipun dia seorang perawan tua, nekat memasuki wilayah negara lain secara ilegal hanya dengan alasan itu saja benar-benar sudah kelewatan.

 

“Kalau begitu, tolong beri tahu kami alasan yang sebenarnya.”

 

“Tentu. Sebenarnya belakangan ini, akhirnya aku mendapatkan tawaran mengenai hal semacam itu. Hanya saja...”

 

“Hanya saja...?”

“Orangnya adalah Pangeran Kedua dari negaraku.”

 

“Pangeran Kedua...”

 

Kalau aku tidak salah ingat, Pangeran Kedua dari Kerajaan Moroheiya sangat terkenal dengan ketertarikannya pada wanita yang lebih tua.

 

Sepertinya Rena dan Christa juga pernah mendengarnya, terbukti dari senyuman canggung di wajah mereka berdua.

 

“Tempo hari, ketika Perdana Menteri memberitahuku bahwa pertunanganku dengan Pangeran Kedua telah ditetapkan, aku tidak bisa diam saja. Sudah kehilangan masa menikahku, dan sekarang harus menyerahkan kesucianku pada pria mesum seperti dia...”

 

Setelah mendengar sejauh ini, aku setidaknya bisa memahami perasaannya. Meski begitu, masih ada yang mengganjal di benakku.

 

“Beritahu satu hal lagi. Kenapa harus aku?”

 

Thea adalah seorang Sword Saint. Berdasarkan kemampuannya, akan lebih masuk akal jika dia mencari bangsawan dari negara lain yang jauh lebih kaya dariku.

 

Mendengar pertanyaan ini, entah kenapa pipi Thea justru merona kemerahan.

 

“Sebenarnya, aku mendengar rumor tentang Arl-dono.”

“Rumor?”

 

Memangnya ada yang seperti itu? Kalaupun ada, pasti isinya bukan hal yang bagus.

 

“Dari reaksimu, sepertinya kau sendiri tidak tahu, ya. Rumor yang beredar menyatakan bahwa Anda adalah sosok pria luar biasa yang melindungi tunangannya dari bangsawan kerajaan negara lain.”

 

Ternyata begitu. Di negara tetangga insiden Christa diinterpretasikan seperti itu, ya.

 

Aku sempat terkesan mendengarnya, tapi melihat arah pembicaraannya, ini pertanda yang sangat buruk.

 

“Saat mendengar rumor itu, aku langsung berpikir. Jika itu Anda, mungkin akan bersedia untuk melindungiku juga.”

 

“Begitu ya. Aku sudah paham apa tujuanmu.”

 

Singkatnya, sang Sword Saint Perawan Tua ini ingin aku melindunginya dari Pangeran Kedua, sama seperti yang kulakukan pada Christa.

 

Aku tanpa sadar menghela napas panjang. Siapa sangka gertakan yang aku gunakan untuk mengusir Bruno justru akan mendatangkan masalah baru seperti ini.

 

“Bagaimana menurutmu? Jika mengesampingkan masalah umur, kurasa penampilanku ini cukup lumayan, kemampuan berpedangku juga bisa diandalkan. Meski urusan tata krama aku memang sedikit...anu...”

 

Benar seperti yang Thea katakan, dia memang sangat cantik dan ilmu pedangnya tidak perlu dipertanyakan.

 

Usianya yang menginjak dua puluh dua tahun pun tergolong muda menurut standar normalku. Ditambah lagi, tekadnya yang berani mempertaruhkan nyawa demi tujuan hidupnya sangat sesuai dengan tipe idealku.

 

Jika aku bertemu dengannya di kehidupanku yang sebelumnya, aku pasti akan langsung melamarnya.

 

Akan tetapi, betapa pun menariknya Thea sebagai wanita, memasuki wilayah negara lain secara ilegal tetaplah tindakan kejahatan.

 

Terlebih lagi, aku sudah memiliki dua tunangan yang luar biasa, Rena dan Christa. Aku sama sekali tidak punya alasan untuk menerima tawarannya.

 

“Christa. Sementara ini, aku dan Rena akan kembali untuk melapor pada Ayahanda. Bisakah aku menitipkan dia lagi padamu?”

 

“B-Baik. Serahkan padaku!”

 

“Tunggu, Arl-dono...!?”

 

“Terima kasih. Ayo pergi, Rena.”

“B-Baik. Christa, semoga berhasil!”

 

Dengan mengalihkan pembicaraan untuk tidak memberikan jawaban secara langsung pada Thea, aku dan Rena meninggalkan ruangan.

 

Jika aku menolaknya secara langsung di sini, aku tidak tahu apa yang akan Thea perbuat nantinya.

 

Aku merasa bersalah karena terus menerus membebani Christa, tetapi saat ini kami hanya bisa terus memantaunya.

 

Setelah menitipkan pesan pada Bertrand untuk membantu Christa berjaga, kami pun bergegas menuju ruangan Alan.

 

※※※

 

Setelah selesai melakukan interogasi, aku dan Rena kembali ke ruang kerja Alan untuk memberikan laporan mengenai hal tersebut.

 

“Apakah, hal itu benar adanya?”

 

“Benar.”

 

“Astaga, apa yang harus kulaporkan pada Yang Mulia Raja...!?”

 

Setelah mengetahui alasan Thea, Alan menghela napas yang mungkin paling panjang dan berat untuk hari ini.

 

Alasan masuk ke negara lain secara ilegal hanya karena ingin lari dari tunangannya, jelas bukanlah sesuatu yang bisa dilaporkan begitu saja kepada pihak kerajaan.

 

“Maafkan saya, Ayahanda. Karena tindakan saya sebelumnya...”

 

“Tidak, ini bukan murni kesalahanmu, Arl. Tolong, biarkan aku sendirian untuk hari ini.”

 

Ditanggapi dengan suara lemas tanpa daya, kami berdua pun melangkah mundur meninggalkan ruang kerja Alan.

 

Setelah kami menghabiskan makan malam yang sedikit terlambat, aku berjalan beriringan bersama Rena di lorong kediaman yang mulai gelap karena matahari sudah terbenam.

 

“Kira-kira, apakah Ayah akan baik-baik saja?”

 

“Entahlah...”

 

Sepanjang sejarah Keluarga Clover, hampir tidak pernah terjadi insiden besar seperti ini.

 

Jika harus dipaksa mencari contoh terdekat, mungkin kejadian ketika nenekku—yang terkenal sebagai istri yang buruk—kabur meninggalkan kakekku.

 

Bagi Alan yang terbiasa mengelola wilayah yang damai ini, situasi saat ini pasti sangat menguras pikirannya.

 

Yah, anggap saja sekarang Keluarga Clover akhirnya mulai merasakan sensasi menjadi keluarga bangsawan perbatasan sesungguhnya, dan Alan harus belajar bersabar dengan semua ini.

 

“Untuk saat ini, kita hanya bisa menunggu instruksi dari pihak kerajaan.”

 

“Ya, kamu benar...”

 

Sampai instruksi itu turun, satu-satunya yang bisa kami lakukan hanyalah bersiaga agar Thea tidak melakukan pergerakan mencurigakan.

 

“Arl.”

 

“Ada apa?”

 

“Anu, tolong berhati-hatilah pada Thea-san.”

 

“Ya, aku mengerti.”

 

Walaupun aku tidak tahu seberapa banyak yang bisa kulakukan saat melawan seorang Sword Saint, aku harus bersiap untuk bertarung kapan saja. Karena di rumah ini, yang memiliki kemampuan bertarung paling tinggi adalah aku.

 

“Kalau begitu, selamat tidur, Rena.”

 

“Ya, selamat tidur. Arl.”

 

Setelah saling bertukar senyuman tipis sebagai salam perpisahan, kami berdua kembali ke kamar masing-masing.

 

※※※

 

Mungkin karena rentetan acara mulai dari Ekspedisi Penaklukan di hutan hingga insiden masuknya Thea secara ilegal, kelelahanku benar-benar memuncak.

 

Segera setelah kembali ke kamar, aku langsung terlelap.

 

Kemudian, entah sudah berapa lama aku tertidur.

 

Ada apa, ini...?

 

Tiba-tiba, aku merasa tubuhku ditindih oleh sesuatu yang berat. Apakah ini yang sering disebut sebagai ketindihan?

 

Aku pernah mendengar bahwa saat tubuh sangat kelelahan, kejadian semacam ini memang sering terjadi. Namun untuk ukuran ketindihan, beban yang menekan tubuhku ini terasa aneh, begitu lembut dan hangat.

 

Karena aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, aku membuka mataku secara perlahan.

 

“—Ghk!?”

 

Dalam pandanganku yang remang-remang, terlihat Thea yang sedang menindih tubuhku dengan hanya mengenakan pakaian dalam.

Walaupun disebut pakaian dalam, itu hanyalah pakaian tidur yang dipinjamkan oleh rumah kami, sama sekali bukan gaun malam transparan yang provokatif.

 

Tetapi, berkat lekuk tubuh Thea yang sudah provokatif, penampilannya sukses memancarkan sensualitas yang berbeda dari biasanya.

 

Dihadapkan pada situasi yang terasa seperti skenario di dunia eroge, tanpa sadar aku berteriak.

 

“Apa yang sedang kau lakukan...!”

 

Aku berusaha meronta untuk kabur, tetapi cengkeramannya begitu kuat, tubuhku benar-benar tidak bisa digerakkan.

 

Gelar Sword Saint miliknya ternyata bukan sekadar pajangan.

 

“Maaf, Arl-dono. Setelah melihat reaksimu tadi siang, aku menyimpulkan bahwa tidak ada cara lain selain melakukan ini.”

 

“Apa yang, kau rencanakan?”

 

“Tentu saja, aku akan... m-menciptakan fakta yang tidak bisa diubah denganmu...”

 

‘Fakta yang tidak bisa diubah'. Dengan kata lain, ini adalah tindakan menyelinap ke kamar tidur di malam hari (yobai).

 

“Kau masih waras?”

 

“I-iya.”

 

“Kalau kau melepaskanku sekarang, aku akan tutup mata untuk kejadian ini. Karena itu—“

 

“Ka-kalau itu tidak bisa!”

 

Bersamaan dengan teriakannya, Thea menekankan dadanya yang berisi ke dadaku dengan kuat.

 

Mendapat sensasi sentuhan yang belum pernah kualami bahkan di kehidupanku yang sebelumnya, tubuhku hampir memberikan reaksi di luar kendali.




“Anu, kumohon Thea. Aku masih—“

 

Aku tidak boleh kehilangan kesucianku di tempat dan situasi seperti ini. Aku sudah berjanji pada Rena, bahwa untuk melangkah lebih jauh dari ciuman, kami harus menikah terlebih dahulu.

 

“Dari reaksimu, sepertinya Arl-dono juga masih... Mungkin tidak seberapa, tapi ini juga yang pertama bagiku. Jadi, tolong terima aku apa adanya untuk saat ini.”

 

“—Ghk.”

 

Hembusan napas Thea yang memburu terasa menyapu pipiku.

 

Meski akal sehatku menolak keras, instingku perlahan-lahan mulai menginginkan tubuhnya.

 

“Kalau begitu, Arl-dono.”

 

Dengan pipi yang merona merah, Thea perlahan mendekatkan bibir mungilnya ke wajahku.

 

Jika bibir kami bersentuhan, kurasa pertahananku akan hancur lebur.

 

Sesaat sebelum hal itu terjadi, dalam keputusasaan yang memalukan, wajah Rena dan Christa terlintas di pikiranku.

 

Tepat pada saat itulah.

 

“Arl...!” “Arl-san...!”

 

Pintu kamarku yang didobrak terbuka lebar, dan di sana terlihat sosok kedua tunanganku.

 

“K-Kenapa...!?

 

Mungkin karena merasa malu tertangkap basah sedang melakukan perbuatan yang tidak senonoh, kekuatan Thea yang menindihku sedikit melemah.

 

“Kalau begini...!”

 

“Ah...!?

 

Tanpa menyia-nyiakan celah itu, aku segera melompat turun dari tempat tidur dan berlari ke arah mereka berdua untuk berlindung.

 

“Kamu tidak apa-apa, Arl...!”

 

“Ya.”

 

Setelah memastikan kondisiku baik-baik saja, Rena segera memeluk lenganku dengan sangat erat.

 

“Thea Mayqueen.”

 

“I-Iya...!”

 

“Apa maksud dari perbuatanmu ini?”

“I-itu...”

 

Berbanding terbalik dengan Rena yang khawatir padaku, Christa melangkah maju mengintimidasi Thea dengan aura dingin yang mematikan.

 

Sedangkan Thea sendiri, entah karena masih syok atau ketakutan, kata-katanya terbata-bata tidak karuan.

 

“Apa maksudnya?”

 

“E-e-etto...”

 

“Jawab dengan jelas!”

 

“—Ghk!?”

 

Menerima bentakan keras penuh amarah dari Christa, Thea benar-benar menciut dan—langsung jatuh pingsan.

 

Kejadiannya persis seperti saat menghadapi Bruno, tampaknya Christa memiliki aura bawaan yang mampu meremukkan mental lawannya.

 

“Arl-san.”

 

Setelah memastikan Thea tidak sadarkan diri, Christa menundukkan kepalanya dalam-dalam kepadaku.

 

“Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelalaian saya sehingga terjadi insiden memalukan seperti ini!”

Menurut cerita, Christa yang mengira Thea sudah tertidur, sempat meninggalkan ruangan untuk berganti giliran dengan Bertrand, dan di celah itulah Thea berhasil kabur.

 

Bertrand yang baru saja tiba menyusul, ikut membungkuk memohon maaf dengan ekspresi menyesal.

 

“Tuan Muda Arl. Entah bagaimana saya harus menebus kegagalan ini...”

 

“Christa, Bertrand, tolong angkat kepala kalian.”

 

Kejadian ini juga kesalahanku. Dalam keadaan normal, meski sedang tertidur, aku melatih diriku agar bisa segera menyadari jika ada seseorang yang memasuki kamarku.

 

Namun hari ini, efek kelelahan yang luar biasa membuat kewaspadaanku menurun drastis.

 

Mempertimbangkan latar belakang Thea, seharusnya aku tidak boleh lengah sedikit pun meskipun tubuhku sedang sangat lelah.

 

“Arl-san, Rena-san. Kami berdua akan bertanggung jawab penuh memindahkan wanita ini ke sel tahanan, jadi silakan kalian berdua beristirahat dengan tenang.”

 

Dengan raut penuh rasa bersalah yang tidak kunjung hilang, Christa dan Bertrand mengangkut Thea keluar dari kamarku.

 

“Umm, Rena?”

“Ada apa?”

 

“Sampai kapan kamu akan terus seperti ini?”

 

Setelah mereka berdua pergi, aku menanyakan hal itu pada Rena yang masih memeluk erat lenganku.

 

Rena hanya menggelengkan kepalanya sedikit dan menjawab.

 

“Untuk malam ini, aku ingin terus seperti ini.”

 

Nada suaranya menyimpan sedikit rasa kesal, yang membuatku hanya bisa tersenyum canggung.

 

Tadi siang Rena baru saja memperingatkanku untuk berhati-hati, tetapi malamnya aku sudah membuat kekacauan. Tentu saja wajar jika dia merasa marah.

 

“Aku mengerti. Maaf sudah membuatmu cemas.”

 

“Memang begitu. Dasar...”

 

Setelah itu, kami berdua menghabiskan sisa malam bersama dengan cara yang sangat ‘sehat’.

 

Sebagai bayarannya, tidak heran jika keesokan paginya salah satu lenganku mati rasa dan tidak bisa digerakkan.

 

※※※

 

Kerajaan Moroheiya yang sedang kalang kabut mencari Thea yang menghilang, akhirnya menerima kabar dari Kerajaan Suci setengah bulan sejak kedatangannya di Wilayah Clover.

 

“Ini mutlak kelalaian dari pihak kita...”

 

Di ruang kerjanya yang berada di dalam Istana Kerajaan, Perdana Menteri Kerajaan Moroheiya, Donna Tomato, memegangi kepalanya didera pusing akibat laporan dari negara tetangga.

 

Biasanya, pengkhianatan dari kekuatan tempur tertinggi akan memicu kemarahan besar, namun lain ceritanya jika alasan pengkhianatannya adalah karena merisaukan statusnya sebagai perawan tua.

 

“Sudah kuduga, seharusnya kita segera mencarikannya pasangan.”

 

Thea sendiri tidak tahu menahu soal ini, tapi sebenarnya, sejak beberapa tahun lalu sudah banyak sekali tawaran pertunangan yang ditujukan padanya. Hanya saja, menentukan keluarga mana yang berhak menerimanya adalah masalah yang sangat krusial.

 

Meski Thea berasal dari keluarga Baronet, keluarga mana pun yang berhasil memperistri seorang Sword Saint akan mendapatkan lonjakan kekuatan militer yang luar biasa.

 

Mungkin sulit dipercaya, tapi kekuatan tempur Thea seorang diri saja sudah setara dengan seribu prajurit biasa. Karena itulah, pihak kerajaan harus ekstra hati-hati dalam menyeleksi calon pendampingnya.

 

Namun, akibat terus menunda keputusannya, Thea malah berakhir menjadi incaran Pangeran Kedua yang memiliki obsesi pada wanita berusia matang.

 

“Sekarang, langkah apa yang harus kuambil...”

 

Solusi terbaik tentu saja dengan membujuk Thea agar kembali. Jika tidak, kekuatan militer Kerajaan Moroheiya akan anjlok secara signifikan.

 

Namun sayangnya, merealisasikan hal tersebut sangatlah sulit.

 

Alasan utamanya, Thea sendiri pasti akan menolak keras untuk kembali ke tanah airnya.

 

Karena mustahil menggunakan kekerasan untuk menyeretnya pulang, maka keputusan ada di tangan Thea sepenuhnya.

 

Ditambah lagi, Kerajaan Suci yang mendapatkan durian runtuh dengan hadirnya Sword Saint di wilayah mereka, tidak mungkin mereka mau melepaskannya begitu saja.

 

“Kalau situasinya begini, lebih baik kita membangun hubungan persahabatan dengan Kerajaan Suci. Tidak ada pilihan lain.”

 

Berdasarkan informasi yang diketahui Donna, keluarga kerajaan di Kerajaan Suci memiliki watak yang cinta damai.

Selain itu, Donna juga mendengar desas-desus bahwa Putra Mahkota Alphonse memiliki ikatan pertemanan yang dekat dengan Arl.

 

Tindakan yang paling masuk akal adalah pihak kerajaan Moroheiya meminta maaf, merelakan Thea bukan sebagai pengkhianat melainkan sebagai simbol persahabatan, dan memohon agar ia bisa bertunangan dengan Arl.

 

“Masalahnya, bagaimana cara meyakinkan faksi-faksi di dalam kerajaan...”

 

Tidak akan ada masalah dengan Raja yang sekarang beserta faksi Royalis.

 

Raja yang sekarang dikenal dengan sikapnya yang sangat rendah hati dan tidak menyukai konflik.

 

Menjalin persahabatan dengan Kerajaan Suci juga merupakan salah satu ambisi jangka panjang sang Raja, sehingga para bangsawan dari faksi Royalis pun pasti akan mendukung penuh gagasannya.

 

Yang menjadi kendala utama adalah faksi Aristokrat.

 

Faksi Aristokrat sangat mendukung agar Pangeran Kedua naik takhta sebagai Raja berikutnya.

 

Ide untuk menjodohkan Thea dengan Pangeran Kedua juga merupakan buah pemikiran dan dorongan kuat dari faksi Aristokrat.

Melalui pertunangan tersebut, secara tidak langsung mereka berupaya memasukkan Thea ke dalam kekuatan tempur faksi mereka.

 

“Nah, strategi apa yang harus kupakai... hm?”

 

Tepat saat Donna sedang memeras otak mencari celah mengatasi faksi Aristokrat, terdengar ketukan di pintu ruang kerjanya.

 

“Siapa di luar?”

 

“Ini aku, Cirillo.”

 

“Oh, ini...! Saya akan membukakan pintunya sekarang.”

 

Begitu Donna membuka pintu, melangkah masuk seorang pria berusia sekitar tiga puluhan dengan perut yang sedikit membuncit—Pangeran Kedua dari Kerajaan Moroheiya, Cirillo Moroheiya.

 

“Cirillo-sama, apa yang membawa Anda kemari hari ini?”

 

“Kudengar kau sedang mengurus masalah hilangnya Sword Saint. Aku datang membawa sebuah usulan.”

 

“Sebuah usulan, ya...”

 

Donna merasakan firasat buruk. Sebab Donna sangat yakin bahwa usulan yang disebutnya pasti merupakan hasil hasutan dari para faksi Aristokrat.

“Perdana Menteri, kudengar kau berencana mengadakan negosiasi dengan pihak Kerajaan Suci, benarkah begitu?”

 

“Tepat seperti yang Anda katakan.”

 

“Kalau kau tidak keberatan, bisakah kau menyerahkan wewenang negosiasi itu kepadaku?”

 

“...”

 

Donna berpikir keras.

 

Jika Cirillo maju sebagai negosiator, ia pasti akan memaksa menuntut pengembalian Thea. Masalahnya, apakah ia bisa melakukan negosiasi dengan baik atau tidak...

 

(Tidak, tunggu sebentar. Mungkin, situasi ini justru bisa kumanfaatkan.)

 

Cirillo dikenal memiliki temperamen yang buruk dan sangat mudah marah. Jika prediksi Donna tidak meleset, sifat pemarahnya itu justru akan menjadi bumerang dan menggagalkan seluruh negosiasi.

 

Bila itu terjadi, Posisi Cirillo akan merosot tajam, dan pada akhirnya akan berdampak pada melemahnya pengaruh faksi Aristokrat.

 

Memang, ini berarti membiarkan Kerajaan Suci repot meladeni lelucon murahan ini, namun jika Donna memberitahukan tujuannya secara rahasia, mereka kemungkinan besar akan mengantisipasinya dengan baik.

 

“Saya memahami maksud Anda. Peran sebagai negosiator, dengan senang hati saya serahkan sepenuhnya pada Anda, Cirillo-sama.”

 

“Oh, benarkah...!”

 

“Saya akan segera mempersiapkan pertemuan untuk negosiasi ini, sembari menunggu, saya mohon Cirillo-sama untuk menyiapkan perlengkapan perjalanan Anda.”

 

“Baiklah. Aku serahkan padamu, Perdana Menteri. Ah~ Sungguh melegakan memiliki Perdana Menteri yang cepat tanggap~”

 

Cirillo melangkah keluar dari ruangan dengan raut wajah gembira, ia sama sekali tidak menyadari skema yang dirancang Donna.

 

Mungkin di kepalanya Cirillo sedang membayangkan cara-cara menjijikkan untuk mempermalukan Thea nanti.

 

“Sungguh, Pangeran yang sangat menyedihkan.”

 

Padahal, semasa Cirillo masih bertugas di kemiliteran kerajaan, ia merupakan kesatria yang dihormati dan tangguh.

 

Membangkitkan kembali sosoknya di masa kejayaannya melalui kegagalan ini juga merupakan salah satu tujuan tersembunyi Donna.

 

“Nah...”

 

Karena strategi sudah tersusun, yang tersisa hanyalah mengeksekusinya.

 

Tanpa membuang waktu, Donna mulai merumuskan dua versi surat—satu versi resmi sebagai kamuflase, dan satu lagi yang membeberkan maksud aslinya.

 

※※※

 

Satu bulan telah berlalu sejak kedatangan Thea.

 

Akibat mencoba menyelinap ke kamar tidurku waktu itu, Thea kini menghabiskan kesehariannya di dalam sel tahanan.

 

Walaupun disebut sel tahanan, fasilitasnya sangatlah layak—pakaian, makanan, dan tempat tidur disediakan dengan baik.

 

Christa awalnya memprotes keras dan menuntut Thea diperlakukan selayaknya tahanan biasa, tapi aku merasa kasihan dan memberinya kelonggaran. Tentu saja, sebagai gantinya aku meminta kompensasi yang setimpal.

 

“Arl-dono, untuk gerakan barusan, sebaiknya turunkan sedikit pusat gravitasi Anda.”

 

“Begini?”

 

“Ya, tepat. Arl-dono sangat cepat menangkap sesuatu ya.”

 

Walaupun diinstruksikan dari balik jeruji besi, Setiap hari aku meminta Thea mengawasi latihan pedangku.

 

Sesuai julukannya sebagai seorang Sword Saint, instruksi dan koreksinya sangat mendetail, ini benar-benar pengalaman belajar yang sangat berharga.

 

“Ngomong-ngomong, Arl-dono. Kira-kira kapan aku bisa keluar dari tempat ini...?”

 

Pertanyaan yang sangat wajar bagi seseorang yang telah terkurung di sana selama satu bulan.

 

“Entahlah. Seharusnya tidak lama lagi, ‘kan?”

 

“B-Benarkah...!”

 

“Ya... (Mungkin).”

 

Saat ini kami masih menunggu instruksi dari pihak kerajaan, dan jika melihat rentang waktunya, masuk akal bila balasannya akan segera datang.

 

Hanya saja, karena skala masalahnya yang terbilang genting, sulit memastikan apakah balasan tersebut akan tiba sesuai jadwal.

 

“Kalau begitu, mohon bimbingannya lagi untuk besok.”

 

“I-Iya...”

 

Saat aku mengakhiri sesi latihan dan beranjak pergi, Thea menatapku dengan sorot mata yang terlihat kesepian.

 

Kecuali saat aku berlatih bersamanya, satu-satunya orang yang menghampirinya hanyalah pelayan yang mengantar makanan, wajar saja ia merasa kesepian.

 

Sambil berdoa agar instruksi dari kerajaan segera tiba, aku melangkah menjauhi area sel tahanan.

 

“Ah, Arl-san.”

 

“Ada apa, Christa. Tumben sekali ke sini.”

 

Aku merasa sedikit heran saat berpapasan dengan Christa yang biasanya tidak pernah mendekati sel tahanan.

 

“Sebenarnya, surat dari pihak kerajaan baru saja tiba. Tolong periksa isinya.”

 

“Begitu ya. Coba kulihat...”

 

Setelah selesai membaca isi surat yang diberikan Christa, aku menghembuskan napas panjang.

 

Pangeran Kedua yang menjadi sumber masalah dikabarkan akan mendatangi Wilayah Clover minggu depan untuk menjemput Thea.

 

Mengingat aku sudah menduga akan ada semacam negoisasi, jadi berita ini sendiri tidak terlalu mengejutkan. Yang menjadi akar permasalahan adalah instruksi penanganannya.

 

“Jadi, Arl. Apa keputusanmu? Yang Mulia menitipkan pesan bahwa beliau menyerahkan keputusan akhirnya sepenuhnya padamu.”

 

Di tengah aula utama, kami berlima—aku, Rena, Christa, Alan, dan Lucy—berkumpul untuk membicarakan hal ini, dan Alan menuntut jawaban dariku.

 

Jawaban yang harus kupilih adalah: Menyerahkan Thea kembali ke kerajaannya, atau menjadikannya sebagai selirku.

 

Entah atas pertimbangan apa, Yang Mulia Alphonse, yang menangani urusan ini berkata bahwa ia menyerahkan semuanya padaku.

 

Sejujurnya, apa pun pilihan yang kuambil, aku hanya melihat jalan buntu yang suram.

 

Jika aku mengembalikannya ke kerajaannya, aku membuang peluang emas untuk memperkuat militer wilayah ini. Tapi jika aku menjadikannya selir, aku harus rela dihujani tatapan penuh amarah dari kedua tunanganku.

 

Andai saja negara atau Yang Mulia memberikan perintah yang absolut, aku hanya tinggal mematuhinya... Kenapa harus jadi seperti ini.

 

“Arl-san. Apa yang membuatmu bimbang seperti itu?”

 

“Eh...?”

 

Christa menatapku dengan tajam menanggapi keraguanku, seakan berkata bahwa hanya ada satu pilihan yang benar.

 

Selanjutnya, Rena juga menyatakan persetujuannya.

 

“Arl. Aku juga sependapat dengan Christa.”

 

“R-Rena juga...!?”

 

Ini artinya sudah jelas. Mereka menuntutku untuk segera mendepaknya keluar dari sini.

 

Di tengah kepanikan itu, aku mengalihkan pandangan memelas pada Alan dan Lucy, tapi mereka hanya merespons dengan gelengan kepala tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

 

Aku benar-benar harus bagaimana...

 

Karena tidak kunjung menemukan solusi, aku memutuskan untuk melarikan diri sejenak.

 

“Tolong, beri saya sedikit waktu untuk memikirkannya.”

 

“Baiklah. Kita masih punya sedikit waktu. Semua setuju, ‘kan?”

 

Ucapan Alan dibalas dengan anggukan kompak dari semuanya, kecuali aku.

 

“Begitulah. Arl, pastikan untuk mengambil keputusan yang nantinya tidak akan kau sesali.

 

“Baik...”

 

Batas akhir keputusanku ditetapkan pada pagi hari menjelang kedatangan Pangeran Kedua, dan pertemuan pun dibubarkan.

 

Hanya saja, bahkan sejak detik itu, aku sangat yakin bahwa diriku tidak akan mampu memberikan jawaban sampai tenggat waktu tiba.

 

※※※

 

Satu hari sebelum kedatangan Pangeran Kedua.

 

“Arl-dono. Belakangan ini gerakanmu terlihat sedikit kaku , apakah ada sesuatu yang mengganggumu?”

 

Thea, yang sejak tadi mengawasiku berlatih tanpa tahu permasalahannya, bertanya dengan nada penasaran.

 

“Melihat reaksimu, sepertinya memang benar terjadi sesuatu. Jika tidak keberatan, maukah kau menceritakannya padaku?”

 

Thea menatapku dengan raut wajah penuh rasa khawatir.

 

Rencananya aku baru akan memberitahu Thea setelah aku mengambil keputusan akhir, namun kurasa inilah waktu yang paling pas.

 

Aku pun menceritakan situasi yang sedang kuhadapi saat ini kepada Thea.

 

“Apakah itu, benar adanya...?”

 

─Kabar bahwa Pangeran Kedua akan segera tiba di Wilayah Clover untuk menyeret Thea pulang.

 

─Desakan agar aku segera memilih antara mengembalikannya atau menjadikannya sebagai selir.

 

─Serta penentangan keras dari Rena dan Christa terhadap opsi kedua.

 

Mendengar semua itu, rona keputusasaan seketika terukir jelas di wajah Thea.

 

“L-Lalu, Arl-dono akan mengambil keputusan apa?”

 

“Aku belum memutuskan.”

 

“Eh...?”

 

Ya, sampai detik ini pun, aku belum bisa memberikan sebuah jawaban. Itulah penyebab performaku yang buruk akhir-akhir ini.

 

“T-Tapi...”

 

Sesuai perkataan Thea, suka tidak suka, besok aku harus menjatuhkan pilihan.

 

“Menurutmu, apa yang sebaiknya aku pilih, Thea?”

 

“I-Itu...”

 

Meskipun mungkin aku sudah tahu jawabannya, aku tetap nekat bertanya untuk menanyakan pendapatnya.

 

Namun di luar dugaan, Thea tidak merespons dengan cepat.

 

Setelah terdiam cukup lama, Thea akhirnya membuka suara.

 

“Aku akan menghormati keputusan apa pun yang Arl-dono ambil.”

 

“—Ghk, begitu ya.”

 

“Ya. Hanya saja, mungkin ini terakhir kalinya kita bisa berbicara. Maukah kau mendengarkan sedikit cerita masa laluku?”

 

“Cerita masa lalu?”

 

“Iya. Tentang sedikit impianku.”

 

Begitu aku mengangguk, Thea mulai menceritakan tentang impiannya.

 

Jika dirangkum, itu adalah impian yang sangat romantis dan dipenuhi dengan fantasi seorang gadis remaja.

 

Andai yang mendengarnya adalah diriku di kehidupan sebelumnya, aku pasti akan mendengus meremehkan. Namun, memikirkan situasinya saat ini, aku sama sekali tidak bisa melakukan hal itu.

 

“Begitulah ceritanya, meski terdengar egois, jika aku memang harus menjadi selir, aku ingin Arl-dono menginginkanku dengan setulus hati.”

 

“Begitu, ya...”

 

Mendengar cerita Thea, keraguan di dalam hatiku justru semakin bertambah.

 

Seharusnya aku tidak perlu meminta pendapatnya jika akhirnya jadi seperti ini.

 

Membawa pemikiran itu, aku meninggalkan sel tahanan, dan keesokan harinya pun tiba.

 

“Jadi, Arl. Apa kau sudah menemukan jawabannya?”

Sama seperti sebelumnya, di saat semua orang berkumpul di aula utama, Alan bertanya padaku.

 

Tentu saja, aku belum menemukan jawaban. Namun, aku tidak bisa diam saja tanpa memberikan jawaban apa pun.

 

“Saya sudah memutuskannya. Saya rasa keputusan ini adalah pilihan yang paling menguntungkan bagi Wilayah Clover.”

 

Di dalam hati keputusanku sebenarnya sudah bulat, tetapi saat ini aku masih belum bisa mengatakannya.

 

Saat aku menyampaikan jawaban beralasan seperti itu di tengah keputusasaan, Alan dan Lucy menunjukkan raut wajah tegang, sementara kedua tunanganku menghela napas yang cukup terdengar jelas.

 

Tidak salah lagi. Mereka benar-benar bisa membaca pikiranku.

 

“Umm, ma—“

 

“Arl.”

 

“Y-Ya...”

 

“Keputusan yang kau buat itu. Aku menaruh harapan tinggi padanya.”

 

Eh?

 

Tepat ketika aku berniat meminta maaf dengan jujur, Alan memotong ucapanku dan mengatakan hal tersebut. Tiga orang lainnya pun menunjukkan reaksi yang serupa.

 

Bohong, ‘kan...

 

Tanpa sempat mencerna apa yang terjadi, pertemuan itu dibubarkan, dan sama seperti insiden Christa dulu, aku terpaksa membuat keputusan langsung di tempat kejadian.

 

Lewat dari tengah hari, rombongan berskala ratusan orang mendatangi kediaman Keluarga Clover. Dan kemudian—

 

“Itu kan Yang Mulia...?”

 

Di barisan paling depan, aku mendapati sebuah wajah yang familier sedang menunggangi seekor kuda putih.

 

※※※

 

Mendahului kedatangan Pangeran Kedua, Yang Mulia Alphonse memasuki area kediaman Keluarga Clover.

 

“Sudah lama tidak bertemu, Yang Mulia.”

 

Dengan sigap aku menghampiri Yang Mulia yang baru saja turun dari kuda putihnya dan menunduk hormat.

 

“Lama tidak berjumpa, Arl. Bukankah raut wajahmu terlihat lebih baik dari sebelumnya?”

 

“Haha, Anda pasti bercanda.”

 

Padahal, yang raut wajahnya terlihat lebih baik justru Yang Mulia sendiri. Wajahnya tampak semakin tampan dan menawan melebihi sebelumnya.

 

Meskipun belum genap setengah tahun sejak lulus dari Akademi Bangsawan, perkembangan pria tampan memang sungguh mengerikan.

 

“Lalu, Kali ini kenapa Anda turut serta..?”

 

Kupikir kali ini pun kami harus menangani masalah ini sendirian.

 

“Ada banyak alasan, tapi mari kita simpan detailnya untuk nanti.”

 

“Lebih penting dari itu,” lanjut Yang Mulia.

 

“Pertama-tama, biarkan aku mendengar keputusan apa yang sudah kau buat, Arl.”

 

“...”

 

Aku tidak bisa berkata-kata ketika mendapat pertanyaan yang paling ingin kuhindari.

 

“Dari reaksimu, sepertinya kau masih belum bisa memutuskannya, ya.”

 

“Tidak, bukan begi—ah, tidak juga.”

 

Percuma saja menyembunyikan sesuatu dari Yang Mulia.

 

“Benar seperti kata Anda, Yang Mulia.”

 

“Begitu rupanya.”

 

Saat aku menyampaikan keadaan yang sebenarnya secara jujur, seulas senyum kecil terlukis di wajah Yang Mulia.

 

“Ngomong-ngomong, apa pendapat yang lain?”

 

“Ayahanda dan Ibunda tidak berkomentar. Hanya saja, Rena dan Christa mengatakan bahwa hanya ada satu pilihan.”

 

“Oh, begitu ya.”

 

Entah mengapa Yang Mulia terlihat menganggap situasi ini menarik.

 

“Karena ini menyangkut dirimu, Arl. Aku yakin begitu kau bertemu dengan Cirillo-dono, kau akan segera membulatkan tekadmu.”

 

“Apa maksud Anda dengan...”

 

Sebelum sempat menanyakan maksud di balik ucapannya, sebuah kereta kuda yang luar biasa mewah—yang membawa sang tamu utama—menerobos masuk ke area kediaman.

 

Saat kereta itu berhenti, seorang pria melangkah turun dari kereta tersebut.

 

Dilihat dari penampilannya yang agak membuncit layaknya pria paruh baya, kutebak usianya sedikit melewati awal tiga puluhan.

 

Ketika pria itu melihat Yang Mulia dan diriku, lalu berjalan menghampiri kami untuk bertanya.

 

“Alphonse-dono. Inikah orangnya...?”

 

“Benar. Dia adalah Arl Clover yang sempat saya bicarakan sebelumnya.”

 

“Oh, jadi Anda orangnya.”

 

Mendapat jawaban dari Yang Mulia, pria itu mengulurkan tangan sambil tersenyum padaku.

 

“Senang bertemu dengan Anda untuk pertama kalinya. Saya adalah Pangeran Kedua Kerajaan Moroheiya, Cirillo Moroheiya.”

 

“Sebuah kehormatan besar bertemu dengan Anda. Saya Arl Clover.”

 

Setelah membalas sapaan sopan tersebut dengan memperkenalkan diri, aku lalu menerima jabatan tangannya.

 

Ketika mendengar tentang pangeran dari negara lain, kesan Bruno yang datang untuk menyeret pulang Christa sebelumnya terlalu kuat, jadi aku cukup terkejut bisa disapa dengan tata krama normal seperti ini.

 

“Arl-dono. Desas-desus mengenai Anda telah sampai ke telinga saya. Katanya Anda tidak akan ragu menggunakan segala cara demi cinta, bukan?”

 

“I-Itu...”

 

Aku memang tahu ada rumor semacam itu, tapi kedengarannya sedikit berbeda dengan cerita yang kudengar dari Thea.

 

'Tidak ragu menggunakan segala cara’... bukankah itu terdengar agak terlalu mengerikan?

 

“Ah, tidak perlu merasa malu. Saya pun sama, tidak ragu melakukan tindakan tegas demi wanita yang saya cintai. Dalam artian itu, saya merasa kita bisa menjalin hubungan yang baik.”

 

“B-Begitu ya...”

 

Tindakan tegas macam apa yang Cirillo maksud dalam konteks ini? Entah kenapa, aku merasa seolah Cirillo sedang memberikan ancaman kepadaku.

 

“Cirillo-dono. Obrolan berdirinya cukup sampai di sini. Arl.”

 

“Baik. Kalau begitu, izinkan saya memandu Anda menuju meja perundingan.”

 

Mengikuti arahan Yang Mulia, aku mengantarkan Cirillo ke ruangan yang sama dengan ruangan yang digunakan saat negosiasi dengan Bruno.

 

Kali ini yang akan duduk di meja negosiasi kali ini adalah aku, Alan, dan Yang Mulia.

 

Ketika masuk ke ruangan, Alan—yang sama sekali tidak menyangka akan kehadiran Yang Mulia—tentu saja terkejut, namun sekilas ia terlihat senang.

 

Bagiku juga, keberadaan Yang Mulia sangatlah bisa diandalkan, karena aku punya jalan keluar terakhir yaitu menyerahkan semuanya pada beliau saat keadaan mendesak.

 

“Kalau begitu, mari kita segera mulai negosiasinya.”

 

Setelah duduk dalam posisi berhadapan tiga lawan satu dan menyeruput teh yang dihidangkan, Cirillo membuka pembicaraan.

 

“Pertama-tama, aku ingin memastikan keberadaan sang Sword Saint. Bisa ditunjukkan?”

 

Alan memberikan isyarat pandangan kepada Bertrand yang berjaga di ambang pintu, lalu Bertrand membawa masuk Thea yang kedua tangannya diborgol dengan kokoh.

 

“Silakan Anda pastikan.”

 

Mendengar ucapanku, Cirillo memperhatikan Thea dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum akhirnya menyunggingkan senyuman.

 

Entah perasaanku saja, tatapannya seolah sedang menjilati tubuh Thea, dan senyumnya pun terasa sedikit menjijikkan.

 

“Hmm. Benar, tidak salah lagi ini adalah Thea, Sword Saint dari negaraku.”

 

“Kalau begitu, mari kita masuk ke topik utama.”

 

Segala urusan negosiasi kali ini telah diserahkan sepenuhnya kepadaku oleh Yang Mulia. Di bawah pengawasan Alan dan Yang Mulia, aku pun bertanya.

 

“Pertama-tama, bolehkah kami mendengar kembali tuntutan dari pihak Anda?”

 

“Tuntutan negara kami adalah penyerahan sang Sword Saint kembali kepada kami.”

 

“Lalu, apa kompensasinya?”

 

“Pembangunan hubungan persahabatan antara kedua negara kita. Lebih spesifiknya, ekspor produk unggulan negara kami. Tentu saja, kami tidak akan menuntut hal serupa dari negara Anda. Bagaimana?”

 

Persyaratan yang secara garis besar sesuai dugaanku.

 

Kerajaan Moroheiya memiliki tingkat produksi agrikultur yang tinggi seperti sayur-mayur dan gandum, di mana banyak di antaranya hanya bisa dibudidayakan di sana.

 

Meningkatnya hubungan diplomatik dan terbukanya jalur impor untuk hasil panen tersebut sudah cukup sebagai ganti rugi atas insiden masuk secara ilegal ini.

 

“Tawaran yang sangat menarik.”

 

“Oh, benarkah. Kalau begitu—“

 

“Sebelum itu.”

 

“Hmm, Apakah ada suatu masalah?”

 

“Seandainya kami menyerahkannya kembali ke negara Anda, apa rencana Anda terhadap sang Sword Saint ke depannya?”

 

“Oh, maafkan kelancanganku. Tentu saja itu pertanyaan yang sangat wajar.”

 

Seandainya kami benar-benar menyerahkannya, mengingat sifat Thea. Ada kemungkinan besar ia akan mencoba melewati perbatasan lagi dan datang kembali ke Wilayah Clover.

 

Jika itu terjadi, ujung-ujungnya ini hanya akan menjadi pengulangan masalah internasional.

Meskipun Thea pergi bersama Cirillo, semua itu tidak akan ada artinya jika pria ini tidak mampu membahagiakannya.

 

“Seperti yang mungkin telah Anda ketahui, sedang ada pembicaraan pertunangan antara aku dan sang Sword Saint.”

 

“Saya sudah mendengarnya.”

 

“Jika demikian, bisakah Anda menerima itu sebagai jawabannya?”

 

“...”

 

Karena akan menikah dengan anggota keluarga kerajaan, sudah pasti Thea akan menjalani hidup bahagia yang serba berkecukupan.

 

Mungkin itulah yang ingin disampaikan oleh Cirillo. Akan tetapi, di pihakku ada Christa, sosok yang pernah menerima perlakuan buruk pada saat menjadi tunangan seorang anggota kerajaan.

 

“Arl-dono. Jika Anda sedang membandingkanku dengan Pangeran Bruno, saya jamin Anda bisa tenang.”

 

Melihat reaksiku yang belum puas, Cirillo sepertinya teringat akan hal itu dan melanjutkan ucapannya.

 

“Aku sangat mencintai sang Sword Saint. Aku berjanji tidak akan membiarkannya merasa tertekan sedikit pun.”

 

“B-Benarkah kau mencintaiku!? Aku ini sudah perawan tua, lho!”

 

Thea refleks bereaksi saat mendengar ucapan Cirillo.

 

“Sword Saint, kau sepertinya mengkhawatirkan statusmu sebagai perawan tua, tapi kau sama sekali tidak perlu memikirkannya. Bagiku, dirimu yang sekarang ini adalah wanita yang paling sempurna.”

 

Kepada Thea yang kebingungan akibat pujian mendadak itu, Cirillo melanjutkan ucapannya dengan penuh semangat.

 

“Asal kau tahu, aku sangat menyukai wanita yang lebih tua sepertimu!”

 

Pengakuan preferensi seksual yang tiba-tiba itu sukses membekukan suasana meja negosiasi.

 

“Arl-dono. Wanita yang lebih tua itu luar biasa. Karena harga diri mereka rendah, cukup diakali dengan kelembutan sedikit saja, mereka akan langsung menyerahkan diri dan menuruti segala kemauanku.”

 

Apakah ia ingin mengatakan bahwa wanita yang lebih tua itu bagus karena bisa memuaskan hasratnya untuk mendominasi?

 

“Biarpun begini aku sangat percaya diri dengan kemampuanku di malam hari, aku jamin Sword Saint ini akan merasakan kepuasan yang tiada tara.”

 

“Cirillo-dono, saya mohon perhatikan tutur kata Anda sesuai dengan konteks tempat ini.”

 

“Oh, mohon maaf Alphonse-dono. Aku hanya sedikit terbawa suasana.”

 

Setelah ditegur Yang Mulia, Cirillo berdehem keras dan mengembalikan pandangannya padaku.

 

“Mari kita kembali ke topik, Arl-dono. Seperti yang telah kukatakan, aku yang akan menjamin kebahagiaan sang Sword Saint. Tidak ada masalah lagi, bukan?”

 

Aku menatap Cirillo yang menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi berbarengan dengan pandangan mesumnya, lalu beralih menatap Thea yang ketakutan di bawah sorot mata penuh nafsu tersebut.

 

Dan di detik aku membayangkan nasib tragis yang akan menimpa Thea bila ia diserahkan, aku pun memantapkan tekad di dalam hati.

 

“Kami tidak bisa menyerahkannya.”

 

Cirillo tidak akan pernah bisa membahagiakan Thea. Sebagai orang yang mengetahui impian Thea, aku bisa menegaskan hal itu.

 

“Arl-dono. Tadi, Anda bilang apa?”

 

“Daripada menyerahkannya kepada Anda, lebih baik saya yang mengambilnya.”

 

“A-Apakah itu semacam lelucon?”

 

“Tidak, saya sangat serius.”

 

“—Ghk, Apa kau pikir perbuatan selancang itu akan dibiarkan begitu saja!?”

 

Yah, sejak awal aku pun sadar bahwa ia tidak akan mundur semudah itu.

 

“Saya sudah mendengar cerita tentang tradisi Duel di Kerajaan dari Thea.”

 

“Duel? Ah, tentang itu. Kau tahu juga ya tentang budaya yang sudah lama mati itu. Lalu kenapa?”

 

“Jika Anda berkenan, bagaimana kalau kita menentukan siapa yang berhak mendapatkan Thea lewat Duel?”

 

“Apa katamu? Kau pikir aku akan menyetujui usul konyol seperti itu?”

 

“Ya. Karena ini adalah impian Thea.”

 

“—Ghk, tunggu dulu, Arl-dono...!?”

 

Impian yang diceritakan Thea padaku adalah impian di mana para pria berduel memperebutkan dirinya, dan sang pemenang akan datang menjemputnya. Singkatnya, Thea sangat ingin merasakan rasanya diperjuangkan dengan penuh semangat seperti itu.

 

“Jika Anda bilang mampu membahagiakannya, memenuhi satu atau dua mimpi kecil seperti ini bukanlah masalah besar, bukan?”

 

“—Ghk, apa boleh buat. Baiklah.”

 

Cirillo mengeluarkan sepasang sarung tangan putih dari sakunya, lalu melemparnya tepat ke arah dadaku.

 

“Ambil itu. Sesuai keinginanmu, kita Duel.”

 

“Saya menerimanya dengan senang hati.”

 

Setelah berkata seperti itu, aku pun memungut sarung tangan yang tergeletak di lantai.

 

※※※

 

Duel itu diputuskan akan dilaksanakan setengah jam kemudian, di padang rumput yang luas di luar kediaman.

 

“Kalian berdua, aku benar-benar minta maaf!”

 

Segera setelah perundingan bubar, aku menundukkan kepala dalam-dalam di hadapan Rena dan Christa. Lagi-lagi aku bertindak egois dan mengabaikan pendapat mereka berdua. Terutama Christa, aku sama sekali tidak berani menatap wajahnya karena takut.

 

“Tolong angkat wajahmu, Arl-san.”

 

Mendengar ucapan Christa, dengan gemetar aku perlahan mengangkat wajahku. Entah kenapa, wajah mereka berdua terlihat datar tanpa ekspresi. Itu justru jauh lebih menakutkan.

 

“Arl.”

 

“Y-Ya...!”

 

“Sejak awal, untuk apa kamu meminta maaf?”

 

“...Eh?”

 

Saat aku kebingungan menanggapi ucapan Rena, kedua tunanganku menghela napas pasrah.

 

“Begini ya, Arl-san. Sepertinya kamu salah paham akan sesuatu.”

 

“Sejak awal, kami tidak pernah sekalipun menyuruhmu untuk menyerahkan Thea.”

 

“T-Tapi... kalian bilang hanya ada satu pilihan...”

 

“Maksudnya adalah, kamu tidak punya pilihan lain selain menerima Thea-san.”

“Apa...!?”

 

Aku refleks menoleh ke arah Christa, dan ia pun menjawab dengan senyuman masam.

 

“Memang benar aku tidak memiliki kesan yang baik kepada Thea-san. Tetapi, aku tidak akan pernah memintamu menyerahkannya kembali hanya karena perasaan pribadi semacam itu.”

 

“Dengarkan baik-baik”, lanjut Christa seolah sedang mengajariku.

 

“Jika kamu menerima Thea-san sebagai selirmu, Kerajaan Suci akan mendapatkan tambahan kekuatan militer yang luar biasa tanpa ada kerugian sedikitpun.”

 

“Namun jika kita menyerahkannya ke Kerajaan Moroheiya, ceritanya akan berbeda. Memang ada keuntungan dari impor bahan pangan, namun Kerajaan Suci harus bersiap menghadapi ancaman dari Thea-san yang memiliki kekuatan untuk menerobos perbatasan kapan saja.”

 

Bahkan jika Thea tidak menginginkannya, jika itu adalah perintah dari negaranya, kemungkinan besar ia akan memimpin bala tentara menerjang Hutan Perbatasan.

 

Jika itu terjadi, wilayah pertama yang akan menjadi korban adalah Wilayah Clover.

 

“Nah, sekarang kamu sudah paham, ‘kan? Pilihan mana yang paling tepat.”

 

Aku mengangguk sambil merasa kagum betapa luar biasanya kedua tunanganku ini.

 

Meskipun di dalam hati mereka mungkin tidak menyukai Thea, tapi mereka rela menyingkirkan perasaan pribadi demi memprioritaskan negara dan Wilayah Clover.

 

Sementara diriku... sungguh sangat menyedihkan.

 

“Karena itulah, Arl.”

 

Setelah mengetahui aku sudah memahami segalanya, Rena melangkah mendekat dan mendaratkan ciuman lembut di pipiku.

 

“Tolong menangkan Duel ini.”

 

“—Ghk, tentu. Aku tidak akan kalah.”

 

Christa juga mendaratkan ciuman di pipiku yang satunya lagi, membuat tekadku untuk tidak boleh kalah semakin menguat.

 

Mendapat perlakuan lembut dari mereka berdua, pikiranku akhirnya kembali jernih, dan di saat itulah aku menyadari sesuatu.

 

“Tunggu, kalau dari awal kalian sudah tahu jawabannya, kenapa tidak memberitahukannya padaku sejak awal?”

“Ah, kalau soal itu...”

 

Rena saling bertukar pandang dengan Christa, lalu menyunggingkan senyuman usil.

 

“Meskipun Thea-san sudah berbuat selancang itu padamu, rasanya hukuman yang kamu berikan terlalu ringan... jadi kami sengaja sedikit menjahilimu.”

 

Untuk saat ini, sebagai bentuk permintaan maafku, aku memutuskan untuk mempersembahkan kemenangan Duel ini bagi mereka berdua.

 

※※※

 

Duel adalah sebuah tradisi bangsawan Kerajaan Moroheiya zaman dulu, di mana dua pria yang memiliki ketertarikan pada satu wanita yang sama akan saling beradu pedang, dan sang pemenang berhak bersanding dengan wanita tersebut.

 

“Baiklah, silakan kalian berdua menandatangani dokumen ini.”

 

Di tengah lingkaran kerumunan yang mengawasi, aku dan Cirillo menandatangani surat sumpah yang diberikan oleh Yang Mulia Alphonse selaku saksi Duel. Dengan ini, kami berdua tidak bisa lagi mengingkari kesepakatan dari hasil akhir pertarungan ini nantinya.

 

“Arl-dono. Jangan sampai menyesal, ya? Biar begini, aku cukup percaya diri dengan ilmu pedangku.”

“Kata-kata itu saya kembalikan sepenuhnya kepada Anda, Cirillo-sama.”

 

“—Ghk.”

 

Sembari mendecakkan lidah, Cirillo melangkah mundur membuat jarak dan memasang kuda-kuda dengan pedang kayunya.

 

Katanya Duel di masa lalu menggunakan pedang sungguhan, namun untuk mencegah berkembangnya masalah diplomatik baru jika terjadi sesuatu, kali ini kami memutuskan untuk menggunakan pedang kayu.

 

Aturannya sangat sederhana, kemenangan ditentukan jika pihak lawan menyerah atau tak sadarkan diri akibat serangan.

 

Sama seperti Cirillo, aku pun mengambil jarak dan memasang kuda-kuda, lalu mengamati lawanku dengan cermat.

 

Perawakannya yang membuncit di usia paruh baya terlihat sama sekali tidak sehat, namun dari postur kuda-kudanya, secara mengejutkan nyaris tidak ada celah.

 

Tampaknya klaim bahwa Cirillo mempunyai kemampuan berpedang memang bukanlah kebohongan.

 

“Kalian berdua, sudah siap?”

 

Aku dan Cirillo membalasnya dengan anggukan tanpa kata.

“Kalau begitu—Mulai...!”

 

Bersamaan dengan seruan Yang Mulia, Duel resmi dimulai.

 

Awalnya kami saling menjaga jarak, mengukur jangkauan serangan masing-masing.

 

Sesuai ekspektasi dari orang yang percaya diri akan kemampuannya, aku tidak menemukan celah yang jelas.

 

“Ada apa Arl-dono. Cepat serang aku.”

 

“Tidak perlu disuruh...”

 

Melihat bentuk tubuhnya, Cirillo sepertinya tidak terlalu percaya diri dengan kecepatan geraknya. Ia memilih gaya bertarung mengandalkan serangan balasan (counter attack), dan tidak mau berinisiatif menyerang lebih dulu.

 

Karena sudah menebak hal tersebut, ditambah lagi akulah yang menantangnya Duel, mau tidak mau terpaksa akulah yang harus melancarkan serangan perdana.

 

“Hanya segini kemampuanmu, Arl-dono?”

 

“Masih belum selesai...!”

 

Serangan pertamaku berhasil ditahan dengan solid, begitu pula dengan rentetan serangan yang aku berikan selanjutnya.

 

Padahal aku sudah mengerahkan sekitar delapan puluh persen tenagaku, tapi hasilnya nihil.

 

Menghancurkan pertahanan Cirillo tampaknya bukan hal yang mudah. Namun—

 

“Anda hanya bisa bertahan. Apa Anda baik-baik saja?”

 

“—Ghk, besar juga mulutmu.”

 

Sepertinya seranganku juga melampaui perhitungan lawanku. Strateginya untuk melakukan serangan balasan malah berujung kerepotan membuatnya bertahan secara mutlak.

 

Terus menerus menahan serangan pastinya akan menguras stamina. Jika ritme pertahanan mutlak itu terus berlanjut, secara alami kemenangan akan jatuh ke tanganku.

 

Tentu saja, Cirillo juga pasti menyadari fakta itu. Ia mengambil langkah mundur untuk memperbaiki posisinya, lalu menyatakan sesuatu.

 

“Sudah waktunya aku yang menyerang.”

 

Kali ini, giliran Cirillo yang melancarkan serangan.

 

Kecepatannya masih bisa kuikuti, jadi aku berhasil menangkisnya tepat waktu. Namun, serangannya jauh lebih berat dari yang kubayangkan.

 

Dampak dari serangan itu membuatku kesulitan untuk melakukan serangan balasan dengan benar.

 

“Mana semangatmu yang tadi, Arl-dono?”

 

“—Ghk.”

 

Berbanding terbalik dengan sebelumnya, sekarang aku yang terus-terusan berada dalam mode bertahan.

 

Dan setelah situasi itu berlangsung selama sekitar dua menit, sesuatu mulai terjadi pada Cirillo.

 

“Hah... hah... b-boleh juga kau...”

 

“Terima kasih pujiannya.”

 

Napas Cirillo mulai tersengal-sengal dengan bahu yang naik-turun. Sepertinya ini adalah efek samping karena ia jarang melakukan latihan fisik belakangan ini.

 

Meskipun aku masih dalam posisi menerima serangannya, kekuatan serangannya sudah tidak seberat tebasan pertamanya tadi.

 

“Kalau begini...!”

 

“—Ghk.”

 

Aku beralih menyerang balik dan membombardir Cirillo tanpa henti. Staminanya pasti sudah terkuras hingga ia tidak mampu mengambil jarak menghindar lagi.

 

Cirillo terpaksa kembali menahan seranganku, tapi sepertinya ia sudah mencapai batas kemampuannya untuk menangkis.

 

Lalu, lima menit kemudian. Cirillo akhirnya ambruk bertumpu pada lututnya. Ia telah mencapai batas fisiknya. Setelah menyadari hal itu, aku mengarahkan ujung pedangku ke lehernya.

 

“Sudah berakhir. Silakan menyerah.”

 

“...Ghk.”

 

Ia pasti sadar kalau dirinya sudah kalah, namun Cirillo menolak untuk menyatakan kekalahannya.

 

“Anda masih berniat melanjutkannya?”

 

“Diam kau...!”

 

Sambil tetap bertumpu pada lututnya, Cirillo melotot menatapku dengan tajam.

 

“Aku... aku harus membawa pulang sang Sword Saint dan mendapatkan takhta Raja berikutnya!”

 

Cirillo mengacungkan tangannya pada prajurit pengawal yang bersiaga di belakangnya, lalu mengayunkannya dengan paksa menunjuk ke belakangku.

 

Di belakangku ada Rena, Christa, dan Thea yang tangannya masih diborgol.

 

“Cirillo-sama. Apa yang...”

 

“Kalian semua, cepat tangkap Sword Saint itu sekarang juga...!”

 

Para pengawal tampak ragu menanggapi perintah mendadak dari Cirillo. Mungkin karena mereka tahu betapa mengerikannya kekuatan Thea, atau karena takut bisa memicu masalah internasional, atau mungkin keduanya.

 

Melihat prajuritnya terdiam kaku, pembuluh darah menonjol di dahi Cirillo bersamaan dengan bentakannya.

 

“Apa yang kalian tunggu! Apa kalian tuli tidak bisa mendengar perintah dari anggota kerajaan!?”

 

Jika membangkang, mereka akan dituduh melakukan pengkhianatan tingkat tinggi terhadap keluarga kerajaan.

 

Didorong oleh ketakutan itu, sekitar seratus prajurit pengawal Kerajaan Moroheiya serentak berlari menyerbu ke arah Thea.

 

“Cirillo-sama. Ini jelas-jelas masalah internasional yang serius, lho...!?”

 

“Aku adalah calon Raja. Masalah sepele sepele ini bukanlah apa-apa.”

 

Meski setingkat lebih baik dari Bruno, Pangeran yang satu ini juga punya karakter yang sama-sama busuk sampai ke akar-akarnya.

 

“Sial...!”

 

Thea berada tidak jauh dari posisi Rena dan Christa.

 

Prajurit yang dikerahkan Yang Mulia memang berada di dekat sana untuk melindungi mereka, tapi tetap saja jumlah musuh jauh lebih banyak.

 

Aku ingin ke sana sekarang juga, namun sebagian prajurit musuh juga mulai mengepungku.

 

Krak!, Tepat saat aku bingung harus berbuat apa, terdengar suara dari sesuatu yang hancur.

 

Ketika aku menoleh ke arah sumber suara, terlihat Thea yang sudah menghancurkan borgolnya.

 

Thea merampas sebilah pedang dari prajurit terdekat, lalu sendirian menerjang gelombang prajurit Kerajaan Moroheiya. Dan kemudian—

 

“Bohong, ‘kan..”

 

Hanya dalam waktu tiga menit, Thea dengan mudah melumpuhkan kesadaran seluruh prajurit Kerajaan dan membuat mereka tidak berdaya. Semua itu ia lakukan tanpa lecet sedikit pun.

 

Di saat aku masih terpaku melihat pertunjukan yang luar biasa itu, Thea melangkah mendekat ke arahku.

 

“Arl-dono. Apa kau baik-baik saja?”

 

“Y-Ya...”

 

“Begitu ya. Syukurlah.”

 

Seusai memastikan keselamatanku, Thea mengalihkan pandangannya ke arah Cirillo. Tatapannya dipenuhi hawa dingin menusuk yang belum pernah kulihat sebelumnya.

 

“A-Apa yang akan kau lakukan, Sword Saint. Apa kau pikir bisa dimaafkan begitu saja setelah melakukan perbuatan ini...!?”

 

“Aku tidak tahu omong kosong apa yang sedang kau bicarakan. Bukankah kalian yang lebih dulu mengangkat pedang ke arah kami?”

 

“—Ghk.”

 

“Kalau tahu akhirnya seperti ini, seharusnya aku melakukannya sejak awal.”

 

“Andai aku melakukannya, Wilayah Clover tidak perlu ikut terseret dalam masalah ini”, keluh Thea sambil memungut pedang kayu Cirillo dari atas tanah.

 

“Sebagai kata-kata terakhir, asal kau tahu saja, aku paling benci pria yang berfisik lembek.”

 

“A-Apa yang—“

 

Setelah melontarkan kata-kata yang cukup kejam itu, Thea mengayunkan pedang kayunya dan membuat Cirillo pingsan.

 

※※※

 

Orang-orang Kerajaan Moroheiya yang telah dilumpuhkan oleh Thea langsung ditangkap dan diamankan oleh para prajurit yang dibawa Yang Mulia, dan kini berstatus sebagai tawanan.

 

Alasannya adalah karena mereka mengabaikan duel yang diadakan atas nama Yang Mulia dan mencoba mencelakai keluarga Clover serta Yang Mulia sendiri.

 

Aku tidak tahu hukumannya akan seperti apa yang akan diberikan, tapi sudah pasti itu bukan hukuman yang ringan.

 

“Kerja bagus untuk hari ini, Arl.”

 

Yang Mulia memanggilku saat aku sedang membantu persiapan pengiriman para tawanan ke Ibukota.

 

“Tidak, justru saya yang seharusnya berterima kasih pada Anda.”

 

Tanpa kehadiran Yang Mulia, kekacauan hari ini tidak akan mungkin terkendali. Terlebih lagi, jika memikirkan proses penyelesaian sisa masalah ini, pihak yang paling direpotkan tidak lain adalah Yang Mulia.

 

“Arl. Ada hal yang ingin aku bicarakan sebentar, bisa?”

 

“Tentu saja.”

 

Aku bergerak mengikuti Yang mulia menuju tempat yang sepi dari orang-orang.

 

“Jadi, pembicaraan apa yang Anda maksud?”

 

“Pertama-tama, ini untukmu.”

 

Seiring ucapannya, Yang Mulia menyerahkan sepucuk surat kepadaku.

 

“Ini adalah...”

 

“Surat undangan upacara pertunanganku.”

 

“—Ghk, upacara pertunangan, itu artinya...”

 

“Ya, tunanganku sudah ditentukan.”

 

Yang Mulia sedikit merona sambil tersenyum malu-malu.

 

Sebagai orang yang telah menampung Rena, aku terus dihantui rasa khawatir mengenai siapa sosok yang akan menjadi tunangan Yang Mulia.

 

“Selamat, Yang Mulia. Kalau boleh tahu, siapa pasangannya?”

 

“Sayangnya, aku belum bisa memberitahumu sekarang, nantikan saja kejutannya saat diumumkan di hari upacara nanti.”

 

“Saya mengerti.”

 

“Selain itu, ada satu hal lagi yang ingin kumintakan maaf padamu terkait acara ini.”

 

“Hal apa itu?”

 

“Seharusnya, surat undangan ini ditujukan agar tamu hadir didampingi istri sahnya, namun...”

 

“Tidak mungkin membawa Rena, bukan?”

 

“Benar. Maaf.”

 

“Tidak apa-apa.”

 

Memang tidak mungkin mengundang Rena yang merupakan mantan tunangannya. Sekalipun Yang Mulia tidak keberatan, para bangsawan lain pasti akan memandang buruk hal itu.

 

“Sebagai gantinya, aku sangat berharap kau bersedia hadir bersama Christa-jou. Aku juga sudah mengundang ayahnya ke upacara tersebut. Manfaatkanlah kesempatan itu untuk saling bertukar salam secara resmi.”

 

“—Ghk, baiklah. Saya sangat berterima kasih atas kebaikan Anda.”

 

Selama ini komunikasiku dengan Ayahnya Christa hanya sebatas bertukar surat, aku belum pernah berbicara langsung dengannya.

 

Mengingat aku akan menikahi putrinya, wajar jika aku harus melakukan pertemuan perkenalan secara layak. Lebih dari itu, aku belum pernah melakukan tradisi menyapa orang tua calon pendamping sama sekali.

 

Berdasarkan nilai moral dari kehidupanku di masa lalu, ini jelas tidak etis. Terlepas dari orang tua Rena yang telah membuangnya, aku wajib melakukan perkenalan formal pada keluarga Christa dan Thea.

 

“Apakah hanya ini yang ingin Anda sampaikan?”

 

“Masih ada dua hal lagi. Yang pertama adalah tentang masa depan Keluarga Clover.”

 

Senyuman di wajah Yang Mulia mendadak lenyap.

 

“Dengan diterimanya Thea-jou kali ini, keluarga Clover kini telah menjadi salah satu keluarga bangsawan terkemuka di Kerajaan Suci, baik secara nama maupun kenyataan. Kau tahu apa artinya?”

 

“Ya.”

 

Rena yang merupakan mantan putri seorang Marquis, Christa yang merupakan putri dari keluarga Duke Muscat yang nantinya akan memegang kendali kekuasaan sesungguhnya di Kerajaan Teokrasi Dorian, dan Thea sang Sword Saint.

 

Dengan memiliki mereka bertiga, tidak akan ada lagi yang berani menyebut Keluarga Clover sebagai 'Keluarga Margrave Hanya sebatas Gelar'. Dan tentu saja, akan ada golongan bangsawan yang tidak menyukai hal ini.

 

“Meski tidak seharusnya terjadi antar sesama bangsawan negara sendiri, tapi di masa mendatang tidak menutup kemungkinan akan ada upaya sabotase dari keluarga bangsawan lain terhadap Keluarga Clover. Aku akan berusaha mengawasinya dari sana, tapi kumohon kau juga harus tetap waspada.”

 

“Terima kasih atas peringatannya. Saya akan menanamkannya dalam pikiran saya.”

 

Karena puas mendengar jawabanku, raut wajah Yang Mulia tampak lebih rileks, lalu ia kembali melanjutkan.

“Aku sempat ragu untuk menyampaikannya, tapi kupikir aku harus memberitahukannya padamu, Arl.”

 

Nada bicara Yang Mulia berubah lebih serius dibandingkan sebelumnya.

 

“Mengenai insiden Bruno-dono tempo hari, kami mendeteksi adanya jejak bahwa seseorang telah membantu dan mengarahkannya untuk ke sini.”

 

Saat insiden itu terjadi, aku tidak punya waktu untuk merenungkannya karena terlalu mendadak, tapi dipikir-pikir lagi, kedatangan Bruno ke Wilayah Clover memang sebuah kejanggalan.

 

Biasanya, seseorang pasti akan tertahan di pos pemeriksaan sebelum bisa keluar dari ibu kota. Fakta bahwa Bruno bisa lolos berarti ada seseorang yang menarik benang dari balik layar.

 

“Terkait 'seseorang’ yang membantu Bruno-dono, ada satu orang terduga.”

 

“Benarkah itu?”

 

“Leon Hyacinth. Kakak laki-laki Rena.”

 

“—Ghk!?”

 

Aku tahu Rena punya kakak laki-laki. Namun, aku tidak menyangka orang seperti itu akan terlibat.

“Ini masih tahap kecurigaan. Namun, tolong jangan beritahukan hal ini pada Rena.”

 

“Baik. Saya mengerti.”

 

Meski motif sesungguhnya masih menjadi misteri, namun kemungkinan besar ini ada hubungannya dengan pembatalan pertunangan Rena. Jika Rena mengetahuinya, ia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri.

 

“Kalau begitu, aku harus segera kembali ke tempat yang lain.”

 

“Baiklah. Saya akan menyampaikan kabar tentang upacara pertunangan itu kepada Christa nanti.”

 

“Aku sangat menantikan kehadiranmu di upacara pertunangan nanti.”

 

Satu jam kemudian, Yang Mulia dan rombongannya telah selesai bersiap dan segera meninggalkan wilayah Clover.

 

※※※

 

Setelah menerima laporan terkait hasil negosiasi Cirillo, Perdana Menteri Kerajaan Moroheiya, Donna Tomato, diselimuti oleh keputusasaan.

 

(Siapa sangka, perundingannya akan menjadi sangat merugikan bagi kerajaan sampai sejauh ini...)

 

Dalam cetak biru rencana Donna, mereka hanya perlu merelakan sang Sword Saint dan langsung memulai kesepakatan perdagangan.

 

Namun, akibat tindakan brutal Cirillo, diperlukan kompensasi tambahan yang terpisah. Meski begitu, hasil perundingan ini bukan sepenuhnya disebabkan oleh kesalahan Cirillo.

 

(Perhitunganku pada Alphonse-dono ternyata terlalu naif.)

 

Donna sudah menyampaikan secara resmi kepada Kerajaan Suci bahwa ia sudah berniat menyerahkan sang Sword Saint. Seandainya hal itu juga disampaikan kepada keluarga Clover, duel konyol semacam itu tidak mungkin terjadi.

 

Ini juga merupakan hasil dari keputusan Alphonse yang sengaja tidak memberitahukannya kepada keluarga Clover.

 

(Berkat manuvernya, negara kitalah yang menelan pil pahit. Tetapi—)

 

Satu-satunya nilai plus dari kekacauan ini adalah, Cirillo tampaknya mengalami perbaikan akal sehat walau hanya sedikit.

 

Sejak kembali dari Kerajaan Suci, Cirillo mulai kembali menekuni latihan pedangnya dengan giat.

 

Dalam hal tersebut, Dona berpikir bahwa setidaknya ia boleh berterima kasih kepada Arl.

 

※※※

 

Setengah bulan setelah kunjungan Cirillo.

 

Detail kompensasi resmi dari Kerajaan Moroheiya akhirnya ditetapkan.

 

Isinya mencakup pembentukan hubungan persahabatan antara Kerajaan Suci dan Kerajaan Moroheiya, ekspor bahan pangan, serta pertunangan antara aku dan Thea yang merupakan kekuatan tempur tertinggi mereka.

 

Hasilnya, Kerajaan Suci meraup keuntungan mutlak dari kesepakatan sepihak ini.

 

Bersamaan dengan itu, terselip selembar surat yang ditujukan khusus untukku dari sang Perdana Menteri Kerajaan Moroheiya, Donna Tomato.

 

Surat itu berisikan permintaan maaf atas kebodohan Cirillo sekaligus apresiasi tulus karena aku telah mendisiplinkannya.

 

Bahkan setelah negaranya menderita kerugian total, Donna tetap merespons dengan tata krama dan kerendahan hati yang luar biasa, itu benar-benar membuatku kagum.

 

Sekadar info tambahan tentang si pembuat onar Cirillo, gelar hak warisnya dilaporkan telah dicabut.

 

Karena dia mempunyai bakat keahlian berpedang, mengasah kembali kemampuannya dan merintis karier di jalan pedang rasanya bukan pilihan yang buruk baginya.

 

“Baiklah, Thea, silakan sampaikan sepatah dua patah kata pada semuanya... tidak apa... ‘kan?”

 

Sama seperti saat perayaan penyambutan Christa, dalam acara yang merayakan resminya pertunangan ini, Alan dengan raut canggung memberikan waktu pada Thea untuk berbicara.

 

Kecanggungan Alan itu dipicu oleh kondisi Thea yang sangat emosional hingga nyaris meneteskan air mata kapan saja.

 

“Pertama-tama... terima kasih banyak... atas perayaan yang sungguh indah ini... Aku... aku selalu berpikir bahwa hari semacam ini tidak akan pernah hadir di sisa hidupku... jadi aku sungguh, sungguh terharu...”

 

Merespons ucapan Thea yang sesekali terputus karena isakan tangis, kami semua memandangnya dengan sorot mata penuh kehangatan.

 

Mengingat masa lalu Alan yang juga penuh liku dalam mencari pasangan hidup, ia terlihat nyaris menangis terbawa suasana.

 

“Mulai sekarang... aku akan berusaha semaksimal mungkin demi keluarga Clover yang telah menerimaku... Mohon bantuannya untuk waktu yang lama ke depan...”

 

Semua orang memberikan tepuk tangan untuk Thea.

 

Menerima tepuk tangan itu, Thea pun mulai menangis bahagia. Tentu saja, Alan pun ikut menangis bersamanya.

 

“Sepertinya hari-hari ke depan akan menjadi semakin menyenangkan, ya.”

 

“Ya.”

 

Aku menyetujui perkataan Rena yang duduk tepat di sebelahku.

 

Sesuai gelar Sword Saint miliknya, kekuatan tempur yang diperlihatkan Thea tempo hari membuktikan kualitasnya. Kehadiran sosok tangguh sepertinya di Wilayah Clover sungguh menenteramkan.

 

Ke depannya, kami bisa menyerahkan urusan pertahanan wilayah padanya, dan mungkin kesempatan bagi kepala keluarga untuk pergi ke luar wilayah demi urusan sosial akan meningkat.

 

Selain itu, sebagai sosok yang paling dewasa di antara ketiga tunangan, Thea pasti bisa menjadi sandaran emosional bagi Rena dan Christa saat mereka sedang kesulitan.

 

Sesuai peringatan Yang Mulia, memang ada hal-hal yang harus kami waspadai. Meski begitu, aku sempat berpikir bahwa masa depan keluarga Clover akan cerah. Namun—

 

“Thea-san. Coba jelaskan apa maksud semua ini?”

 

“A-Aduh, Christa-dono. Sakit! Telingaku bisa putus!”

 

“Hah, dia ini benar-benar...”

 

Pada malam setelah perayaan berakhir, Thea lagi-lagi berusaha mencoba menyelinap ke kamarku

 

Untungnya, sejak hari itu aku selalu tidur bersama Rena setiap malam, jadi tidak terjadi hal-hal yang gawat, tapi sepertinya aku benar-benar harus menetapkan peraturan.

 

“P-Padahal ini malam pertama kami...”

 

“Urusan seperti itu Rena-san yang memulainya duluan.”

 

“Ugh...”

 

Yah, keributan kecil seperti ini lumayan menghibur juga, jadi biarlah.

 

Melihat Thea yang diseret keluar secara paksa oleh Christa, begitulah kesimpulan yang terlintas di pikiranku malam ini.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close