Chapter
3
Sang Sword Saint Perawan Tua
Sebuah hutan lebat yang membentang di bagian selatan Wilayah Clover.
Tempat tersebut dikenal
sebagai habitat para monster dan sangat sulit untuk dilewati. Oleh karena itu,
hutan ini menjalankan fungsinya sebagai perbatasan alami antara Kerajaan Suci
dan Kerajaan Moroheiya.
Tepat di depan pintu masuk
hutan tersebut, berdirilah seorang kesatria wanita yang rupawan.
(Setelah melewati
hutan ini, aku akan tiba di Wilayah Margrave Clover, ya...)
Di masa lalu, belum pernah
ada satu pun orang yang berhasil menembus hutan perbatasan ini dan menuju
wilayah negara lain.
Akan tetapi, dirinya
adalah pengecualian.
(Aku adalah
seorang Sword Saint... aku pasti bisa. Lagipula, jika aku berhasil melewati
hutan ini...)
Dengan menggantungkan
secercah harapan, kesatria wanita itu melangkah seorang diri memasuki kedalaman
hutan.
Akibat insiden dengan
Bruno, sebuah desas-desus mengenai Arl mulai menyebar di kalangan sosialita
kelas atas bahwa Arl Clover adalah sosok luar biasa yang bahkan berani
menentang keluarga kerajaan demi cinta.
Sebagai seseorang yang
tinggal di perbatasan dan buta akan gosip pergaulan kelas atas, tentu saja Arl
belum mengetahui rumor tersebut.
※※※
Satu bulan telah berlalu
sejak insiden Bruno, tepat saat Christa mulai terbiasa dengan kehidupannya di
Keluarga Clover.
Aku, Rena, dan beberapa
penduduk wilayah sedang mengunjungi Hutan Agung Flawable yang terletak di
bagian selatan wilayah kami.
Hari ini adalah hari
Ekspedisi Penaklukan yang rutin diadakan setiap enam bulan sekali.
Demi membasmi
monster-monster di dalam hutan, saat ini kami membagi diri ke dalam beberapa
kelompok bersama para penduduk yang ahli bertarung untuk mengurangi populasi
mereka.
“Tuan Muda.”
“Oh, Udo.”
Sekitar dua jam setelah
kami memasuki hutan, seorang pria paruh baya berotot kekar menyapaku.
Namanya adalah Udo, pria
dengan kemampuan bertarung paling hebat di antara para penduduk. Saat Alan
tidak sempat mengawasiku, aku sering meminta Udo untuk menilai ilmu pedangku.
Mengingat aku menugaskan
Udo di area yang paling dekat dari posisiku, sepertinya ia datang untuk
memberikan laporan.
“Sudah selesai?”
“Sudah. Bagaimana dengan
sisi Anda?”
“Itu yang terakhir.”
Sambil berkata seperti itu,
aku mengalihkan pandanganku ke arah Rena yang sedang bertarung melawan seekor
monster serigala, disaksikan oleh beberapa anggota kelompok kami.
Awalnya Rena hanya
dijadwalkan untuk melihat-lihat saja, tetapi karena ia bersikeras ingin ikut
bertarung, aku pun menyerahkan satu monster terakhir ini padanya.
“Tunangan Anda lumayan
juga, ya.”
“Yah, begitulah...”
Aku mengangguk sambil
tersenyum canggung ketika menanggapi kata-kata Udo.
Berbeda denganku yang dulu
sempat gugup di awal, Rena mengayunkan pedangnya tanpa ragu sedikit pun dan
secara pasti menguras tenaga lawannya.
“Kalau dia sehebat itu,
Anda tidak boleh lengah, Tuan Muda.”
“—Ghk. Berhentilah
bercanda.”
“Haha, maaf, maaf.”
Meski Udo tertawa ramah
dan menganggapnya sebagai lelucon, bagiku ini sama sekali bukan lelucon. Memang
kekuatan fisikku masih lebih unggul, tetapi teknik berpedangnya perlahan tapi
pasti mulai mengejar kemampuanku.
Akhir-akhir ini aku
berlatih mati-matian agar tidak sampai dikejar olehnya.
“Oh, sepertinya sudah
selesai.”
Tepat seperti perkataan
Udo, Rena berhasil mendaratkan serangan penutup pada monster serigala tersebut.
Melihat kemenangan telak
tanpa segores luka pun untuk sebuah pertarungan pertama, membuat semua orang
yang menonton memberikan tepuk tangan meriah.
“Arl!”
“Rena, hebat sekali.”
Aku memeluk lembut Rena
yang berlari menghampiriku dengan senyuman lebar.
“Bagaimana pertarungan
pertamamu?”
“Aku sangat gugup.”
“Sama sekali tidak
kelihatan, lho.”
“I-Itu karena...”
Pipi Rena sedikit merona.
“Itu karena ada Arl yang terus
mengawasiku.”
“—Ghk, b-begitu,
ya...”
Kepolosan Rena yang begitu
tulus membuatku merasa malu karena sempat sedikit iri pada ketenangannya tadi.
Di saat aku sedang
berpikir seperti itu, orang-orang di sekitar mulai menggoda kami.
Rasanya aku ingin
menghukum mereka dengan tuduhan tidak sopan, tapi tidak mungkin aku
melakukannya pada penduduk wilayahku yang berharga.
Karena terus-terusan
digoda rasanya kurang nyaman, aku menjaga sedikit jarak dari Rena, lalu kami
keluar sebentar dari hutan untuk bergabung dengan kelompok lain. Dan kemudian—
“Arl-san~! Rena-san~!”
Di antara para wanita yang
menunggu sambil menyiapkan makan siang di luar hutan, Christa berlari
menghampiri kami dengan senyuman riang.
Walaupun sehari-harinya
Christa membantu Alan mengurus administrasi wilayah, kemampuannya dalam sihir
juga sangat luar biasa.
Mengingat Christa juga menguasai
sihir penyembuhan yang langka, kali ini ia ikut serta sebagai tim pendukung.
“Christa, apa ada yang
terluka?”
“Sejauh ini belum ada satu
pun. Ternyata kalian semua sangat hebat, ya.”
“Yah, begitulah.”
Di Wilayah Clover yang
tidak memiliki hiburan apa-apa, acara semacam ini adalah salah satu dari
sedikit kesenangan bagi para pria di desa.
Demi hari ini, mereka berlatih
dengan tekun setiap hari. Fakta bahwa belum ada korban luka adalah hasil dari
kerja keras tersebut.
Hanya saja, bagian
tersulitnya baru akan dimulai.
“Mulai siang ini kita akan
masuk lebih dalam ke hutan, pasti akan ada yang terluka nanti. Tolong
bersiap-siaplah.”
“Baik, aku mengerti.”
Setelah memastikan Christa
tersenyum ceria layaknya gadis seusianya, kami mulai menyantap makan siang.
Begitu selesai, sesuai
rencana kami mulai bergerak menuju bagian dalam hutan.
“Rena.”
“Ya.”
“Mulai dari titik ini,
jangan pernah sekalipun menjauh dariku.”
Tidak lama setelah kami
kembali memasuki hutan, aku memberikan peringatan padanya.
Di bagian dalam hutan
sering kali terdapat sarang monster, sehingga jumlah mereka akan bertambah dan
tingkat bahayanya pun meningkat drastis.
Beberapa menit setelah Rena
mulai bergerak dengan menempel erat padaku. Kami berhadapan dengan puluhan
monster serigala dan berhasil memukul mundur mereka.
Kami melangkah semakin
dalam, dan sambil berhadapan dengan monster-monster selain serigala seperti
babi hutan dan beruang, kami terus mengurangi jumlah mereka secara pasti.
Hingga pada saat langit
mulai menampakkan sinar jingga kemerahan.
“Tuan Muda, gawat—!”
Udo berlari menghampiriku
dengan raut wajah panik.
Adanya korban luka adalah
hal yang lumrah setiap tahunnya, jadi Udo tidak seharusnya sepanik ini. Merasa
ada sesuatu yang tidak beres, aku pun bertanya.
“Apa yang terjadi?”
“I-Itu, kami baru saja
menemukan seseorang yang terlihat seperti prajurit dari negara lain...”
“Apa...?”
“Arl.”
Mendengar kata ‘negara
lain’, aku dan Rena saling bertukar pandang. Tergantung pada situasinya, hal
ini bisa menjadi ancaman bagi keamanan negara.
“Dari negara mana?”
“Sepertinya dari Kerajaan
Moroheiya.”
“Jumlahnya?”
“Hanya satu orang. Kami
sudah memeriksa area di sekitarnya, tapi tidak ada orang lain.”
Ini aneh. Satu-satunya
jalan dari Kerajaan Moroheiya untuk sampai ke sini adalah dengan menerobos
langsung perbatasan.
Menerobos dengan kelompok
kecil saja belum pernah ada yang berhasil melakukannya, apalagi mencoba seorang
diri, itu benar-benar tidak masuk akal...
“Arl. Untuk saat ini...”
“Kau benar.”
Seperti kata Rena, kami
harus melihat lokasinya terlebih dahulu.
Dipandu oleh Udo, kami
tiba di tempat kejadian. Di sana, terbaring telentang seorang kesatria wanita
cantik berambut cokelat panjang, dikelilingi oleh para penduduk.
Baju zirahnya penuh dengan
goresan bekas pertarungan, dan terdapat beberapa luka di tubuhnya yang berada
pada tingkat di mana sihir penyembuhan biasa tidak akan cukup untuk
menyembuhkannya.
“Itu kan...”
“Rena. Kau mengenalnya?”
“Ya. Kemungkinan besar dia
adalah sang Sword Saint dari Kerajaan Moroheiya.”
“Sword Saint, katamu...”
Mengingat mereka adalah
negara tetangga yang berbatasan langsung dengan kami, aku tahu sedikit banyak
tentang Kerajaan Moroheiya.
Sword Saint adalah sebuah
gelar yang diberikan kepada kesatria dengan kemampuan berpedang terbaik di
kerajaan tersebut, dan fakta bahwa pemegang gelar generasi saat ini adalah
seorang wanita—yang pertama dalam sejarah—sangatlah terkenal.
Meskipun aku belum pernah
melihat kemampuannya secara langsung, fakta tidak masuk akal bahwa dia berhasil
menembus tempat ini seorang diri tiba-tiba terasa masuk akal jika pelakunya
adalah sang Sword Saint.
“Arl. Apa yang harus kita
lakukan?”
Rena meminta keputusanku.
Jika aku hidup di masa
lalu (sebagai orang modern), aku tidak punya pilihan lain selain
menyelamatkannya.
Tetapi, posisiku sekarang
adalah seorang putra bangsawan, terlebih lagi dari keluarga Margrave. Sebagai
bangsawan penjaga perbatasan, aku harus memikirkan pilihan lain.
Kerajaan Suci dan Kerajaan
Moroheiya tidak memiliki hubungan diplomatik yang terlalu erat. Kedua belah
pihak saling tidak mencampuri urusan masing-masing, begitulah hubungan kami.
Oleh karena itu, di
masa-masa darurat, seorang Sword Saint seperti dirinya bisa menjadi ancaman
nyata bagi Kerajaan Suci. Jika aku berpura-pura tidak melihatnya di sini, aku
bisa melenyapkan potensi ancaman tersebut.
Sebagai seorang bangsawan
yang memikirkan negaranya, mungkin itulah jawaban yang tepat.
Tetapi, aku adalah seorang
reinkarnator. Selama ingatan dari kehidupan masa laluku masih ada, jiwaku tidak
akan pernah bisa sepenuhnya menjadi seorang bangsawan yang mampu bersikap
dingin.
“Kita tidak punya pilihan
selain menyelamatkannya. Hal semacam ini—“
Bagaimanapun aku
memikirkannya, ini hanya akan menjadi bibit masalah baru. Meski begitu, aku
tetap tidak bisa membiarkannya mati begitu saja.
“Aku mengerti. Seperti
dugaanku, Arl memang luar biasa.”
Rena yang mengatakan itu
tersenyum dengan raut wajah yang tampak lega.
※※※
Setelah Kesatria wanita
yang diduga sebagai sang Sword Saint itu mendapat pertolongan pertama dari
Christa yang bersiaga di luar hutan, kami membawanya pulang ke kediaman untuk
mendapatkan perawatan medis yang lebih intensif.
Kemudian, saat sang Sword
Saint sedang dirawat, aku dan Rena memberikan laporan kepada Alan mengenai hasil
Ekspedisi Penaklukan sekaligus tentang sang Sword Saint.
“Sebenarnya apa yang
sedang terjadi...”
Alan menghela napas
panjang setelah mendengar penjelasan tentang situasinya.
Terlepas dari alasan apa
pun yang melatarbelakanginya, tindakan sang Sword Saint kali ini sudah
terhitung sebagai masuk ke wilayah Kerajaan Suci secara ilegal. Dengan kata
lain, ini adalah masalah internasional.
Menyusul insiden Bruno
sebelumnya, ini adalah masalah internasional kedua kami, dan insiden kali ini
berpotensi memicu peperangan.
“Aku akan menyiapkan
laporan untuk diserahkan ke pihak kerajaan. Tolong kalian berdua interogasi dia
begitu dia siuman.”
“ “Baik.” “
Melihat Alan mulai
mengerjakan dokumennya dengan raut wajah yang tampak pusing, aku dan Rena
segera undur diri dari ruang kerjanya.
“Untuk sekarang, mari kita
lihat keadaan di tempat Christa dan yang lainnya.”
“Ya, benar.”
Saat kami menuju tempat
Christa yang sedang menangani perawatan, kebetulan Bertrand yang membantunya
baru saja keluar dari ruangan.
“Bertrand, bagaimana
kondisinya?”
“Nyawanya tidak terancam.
Kurasa dia akan segera siuman.”
Mendengar bahwa sang Sword
Saint selamat, aku dan Rena mengelus dada lega.
“Bagaimana dengan
Christa?”
“Beliau bilang ingin
memantau perkembangannya sebentar untuk berjaga-jaga.”
“Begitu ya. Bertrand,
terima kasih banyak. Kau sangat membantu.”
“Suatu kehormatan bagi
saya. Kalau begitu, saya permisi.”
Setelah membungkuk hormat,
Bertrand meninggalkan tempat itu, dan kami berdua masuk ke dalam kamar
menggantikannya.
“Christa.”
“Arl-san, Rena-san.”
Melihat kedatangan kami,
Christa menyingkir ke arah dinding, dan sosok sang Sword Saint yang sedang terlelap
di tempat tidur pun mulai terlihat.
“Seperti yang dikatakan
Bertrand, kelihatannya dia sudah membaik.”
“Ya.”
Hembusan napasnya begitu
teratur, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru saja menderita luka
parah.
Benar-benar sesuai dengan
gelar Sword Saint yang disandangnya. Daya tahan tubuhnya ada di level yang
berbeda.
“Ugh... haah...”
“ “ “—Ghk” “ “
Sang Sword Saint mengerang
pelan, lalu membuka kelopak matanya sedikit sembari menguap kecil.
Sepertinya dia sudah terbangun
lebih cepat dari perkiraan.
“Kalian berdua, berlindung
di belakangku.”
Untuk berjaga-jaga tentang
kemungkinan terburuk, aku meminta Rena dan Christa mundur ke belakangku.
Meskipun sedang terluka, orang ini tetaplah seorang Sword Saint.
“Ini... di mana...”
Sang Sword Saint yang baru
siuman menggumamkan pertanyaannya. Suaranya rendah dan menenangkan khas wanita
dewasa, sangat nyaman di telinga.
“Ini adalah kediaman
Keluarga Clover.”
“Clover... Keluarga
Clover...!”
“—Ghk!?”
Tepat setelah mendengar
jawabanku, sang Sword Saint langsung terduduk tegak dengan cepat.
Ia menatap kami dengan mata
cokelatnya, warna yang terasa familier dengan kehidupan masa laluku, lalu
menghela napas lega.
“Syukurlah, sepertinya aku
berhasil tiba dengan selamat...”
Jika dilihat dari
reaksinya, sepertinya dia cukup memahami situasinya sendiri.
“Maaf harus melakukan ini
tepat setelah kau siuman, tapi aku harus menanyakan beberapa hal padamu, tak
apa?”
“Tentu, silakan. Malahan
aku berharap kau mau mendengarkanku.”
“B-Begitu ya...”
Entah mengapa dia terlihat
sangat antusias untuk berbicara, jadi aku memutuskan untuk mengorek informasi
sebanyak-banyaknya darinya.
“Pertama-tama, tolong beri
tahu identitasmu.”
“Namaku adalah Thea
Mayqueen. Yah, meski memalukan untuk diakui, di negaraku aku dijuluki
sebagai Sword Saint. Maafkan kelancanganku, tapi bolehkah aku tahu siapa
kalian?”
“Aku Arl Clover. Dua orang
di belakangku adalah tunanganku, Rena dan Christa.”
“Begitu rupanya, jadi Anda
adalah..”
Pada saat aku menyebutkan
namaku, mata sang Sword Saint—Thea—seketika berbinar terang. Binar mata yang
dipenuhi oleh secercah harapan.
Sambil merasakan firasat
yang sedikit buruk, aku melanjutkan interogasiku.
“Kau sadar ‘kan bahwa
tindakan yang kau ambil kali ini adalah sebuah pelanggaran hukum?”
“Tentu saja. Tindakanku
tidak lain dan tidak bukan adalah penyusupan ilegal, atau lebih tepatnya
pembelotan. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap negaraku sendiri.”
“Benar seka—tunggu, apa?”
Barusan, apa yang dia
katakan? Pembelotan, pengkhianatan?
Aku melirik ke arah dua
orang di belakangku, namun mereka berdua juga sama bingungnya denganku.
Aku tidak boleh lengah.
Alasan pembelotan sering kali digunakan sebagai kedok oleh seorang mata-mata.
“Ada apa?”
“Tidak, lupakan saja.”
Sambil tetap
mempertahankan kewaspadaanku, aku kembali bertanya.
“Lalu apa tujuanmu datang
jauh-jauh ke Wilayah Clover?”
“Oh, itu. Singkatnya, aku
ingin melamar Arl-dono.”
“Ooh, Melamar ya—hah?”
Kali ini aku benar-benar gagal mencerna perkataannya, pikiranku berhenti berputar sepenuhnya.
Seolah tidak tahan
melihatku yang mematung, Rena melangkah maju.
“Bolehkah aku juga
mengajukan pertanyaan?”
“Tentu saja.”
“Melamar itu... apa
maksudnya?”
“Ceritanya akan sedikit
panjang, apa tidak apa-apa?”
“A-Apakah akan sangat
panjang...?”
“Karena situasinya cukup
rumit...”
“Y-Ya sudah, silakan.”
“Terima kasih.”
Setelah mengambil napas
sejenak, Thea pun mulai bercerita.
“Pertama-tama, tahun ini
usiaku menginjak dua puluh dua tahun. Tetapi aku belum punya tunangan. Apa
kalian tahu kenapa?”
Tentu saja aku tidak tahu
urusan seperti itu. Namun, dari awal percakapan ini saja...
“Keluargaku hanyalah
seorang bangsawan bergelar Baronet. Aku mempunyai banyak saudara dan
kondisi finansial kami jauh dari kata mewah. Karena itulah sebagai putri
tertua, aku harus mencari nafkah untuk menghidupi keluargaku.”
Ya, firasatku sepertinya
tepat.
“Untungnya, aku memiliki
bakat dalam berpedang. Jadi aku berusaha mati-matian mengasah kemampuan
pedangku, mengabdi pada negara, dan akhirnya bisa membiayai keluargaku. Bahkan
sekarang aku sampai dijuluki Sword Saint. Tetapi—“
Thea meremas seprai tempat
tidurnya erat-erat sambil mengerutkan dahinya.
“Tanpa kusadari aku sudah
mencapai usia setua ini. Hingga hari ini, tidak pernah ada satu pun desas-desus
asmara tentangku. Jadi aku merasa cemas dan gelisah, berpikir bahwa aku tidak
bisa membiarkan diriku terus seperti ini.”
Setelah mendengar sampai sejauh
ini, mau tidak mau aku pasti akan paham arah pembicaraannya.
“Jadi begitu, kamu perawan
tua ya.”
“Jangan panggil aku
perawan tua...!”
Thea berteriak penuh
penderitaan menanggapi Christa yang refleks menyuarakan isi kepalanya.
Seperti yang dikatakan
Christa, Thea adalah seorang wanita yang telah melewatkan masa ideal untuk
menikah—alias Perawan Tua.
Menurut standar
kehidupanku di masa lalu, hal ini mungkin sulit dipercaya, tetapi di dunia ini,
di mana akhir usia belasan dianggap sebagai usia paling ideal untuk menikah, maka
akan sangat wajar jika Thea mendapat cap seperti itu.
“Maaf atas
ketidaksopananku.”
Thea yang pembicaranya
sempat terputus berdehem dan menata kembali emosinya untuk melanjutkan
pembicaraan.
“Arl-dono, memang benar...
aku ini adalah wanita yang melewatkan masa ideal untuk menikah. Tapi, bukan
karena alasan dangkal seperti itu saja aku melakukan tindakan senekat ini.”
Yah, tentu saja itu masuk
akal. Meskipun dia seorang perawan tua, nekat memasuki wilayah negara lain
secara ilegal hanya dengan alasan itu saja benar-benar sudah kelewatan.
“Kalau begitu, tolong beri
tahu kami alasan yang sebenarnya.”
“Tentu. Sebenarnya belakangan
ini, akhirnya aku mendapatkan tawaran mengenai hal semacam itu. Hanya saja...”
“Hanya saja...?”
“Orangnya adalah Pangeran
Kedua dari negaraku.”
“Pangeran Kedua...”
Kalau aku tidak salah
ingat, Pangeran Kedua dari Kerajaan Moroheiya sangat terkenal dengan ketertarikannya
pada wanita yang lebih tua.
Sepertinya Rena dan
Christa juga pernah mendengarnya, terbukti dari senyuman canggung di wajah
mereka berdua.
“Tempo hari, ketika
Perdana Menteri memberitahuku bahwa pertunanganku dengan Pangeran Kedua telah ditetapkan,
aku tidak bisa diam saja. Sudah kehilangan masa menikahku, dan sekarang harus
menyerahkan kesucianku pada pria mesum seperti dia...”
Setelah mendengar sejauh
ini, aku setidaknya bisa memahami perasaannya. Meski begitu, masih ada yang
mengganjal di benakku.
“Beritahu satu hal lagi.
Kenapa harus aku?”
Thea adalah seorang Sword
Saint. Berdasarkan kemampuannya, akan lebih masuk akal jika dia mencari
bangsawan dari negara lain yang jauh lebih kaya dariku.
Mendengar pertanyaan ini,
entah kenapa pipi Thea justru merona kemerahan.
“Sebenarnya, aku mendengar
rumor tentang Arl-dono.”
“Rumor?”
Memangnya ada yang seperti
itu? Kalaupun ada, pasti isinya bukan hal yang bagus.
“Dari reaksimu, sepertinya
kau sendiri tidak tahu, ya. Rumor yang beredar menyatakan bahwa Anda adalah sosok
pria luar biasa yang melindungi tunangannya dari bangsawan kerajaan negara lain.”
Ternyata begitu. Di negara
tetangga insiden Christa diinterpretasikan seperti itu, ya.
Aku sempat terkesan
mendengarnya, tapi melihat arah pembicaraannya, ini pertanda yang sangat buruk.
“Saat mendengar rumor itu,
aku langsung berpikir. Jika itu Anda, mungkin akan bersedia untuk melindungiku
juga.”
“Begitu ya. Aku sudah
paham apa tujuanmu.”
Singkatnya, sang Sword
Saint Perawan Tua ini ingin aku melindunginya dari Pangeran Kedua, sama seperti
yang kulakukan pada Christa.
Aku tanpa sadar menghela
napas panjang. Siapa sangka gertakan yang aku gunakan untuk mengusir Bruno
justru akan mendatangkan masalah baru seperti ini.
“Bagaimana menurutmu? Jika
mengesampingkan masalah umur, kurasa penampilanku ini cukup lumayan, kemampuan
berpedangku juga bisa diandalkan. Meski urusan tata krama aku memang sedikit...anu...”
Benar seperti yang Thea
katakan, dia memang sangat cantik dan ilmu pedangnya tidak perlu dipertanyakan.
Usianya yang menginjak dua
puluh dua tahun pun tergolong muda menurut standar normalku. Ditambah lagi,
tekadnya yang berani mempertaruhkan nyawa demi tujuan hidupnya sangat sesuai
dengan tipe idealku.
Jika aku bertemu dengannya
di kehidupanku yang sebelumnya, aku pasti akan langsung melamarnya.
Akan tetapi, betapa pun
menariknya Thea sebagai wanita, memasuki wilayah negara lain secara ilegal
tetaplah tindakan kejahatan.
Terlebih lagi, aku sudah
memiliki dua tunangan yang luar biasa, Rena dan Christa. Aku sama sekali tidak
punya alasan untuk menerima tawarannya.
“Christa. Sementara ini,
aku dan Rena akan kembali untuk melapor pada Ayahanda. Bisakah aku menitipkan
dia lagi padamu?”
“B-Baik. Serahkan padaku!”
“Tunggu, Arl-dono...!?”
“Terima kasih. Ayo pergi, Rena.”
“B-Baik. Christa, semoga
berhasil!”
Dengan mengalihkan
pembicaraan untuk tidak memberikan jawaban secara langsung pada Thea, aku dan Rena
meninggalkan ruangan.
Jika aku menolaknya secara
langsung di sini, aku tidak tahu apa yang akan Thea perbuat nantinya.
Aku merasa bersalah karena
terus menerus membebani Christa, tetapi saat ini kami hanya bisa terus
memantaunya.
Setelah menitipkan pesan
pada Bertrand untuk membantu Christa berjaga, kami pun bergegas menuju ruangan
Alan.
※※※
Setelah selesai melakukan
interogasi, aku dan Rena kembali ke ruang kerja Alan untuk memberikan laporan mengenai
hal tersebut.
“Apakah, hal itu benar
adanya?”
“Benar.”
“Astaga, apa yang harus
kulaporkan pada Yang Mulia Raja...!?”
Setelah mengetahui alasan
Thea, Alan menghela napas yang mungkin paling panjang dan berat untuk hari ini.
Alasan masuk ke negara
lain secara ilegal hanya karena ingin lari dari tunangannya, jelas bukanlah
sesuatu yang bisa dilaporkan begitu saja kepada pihak kerajaan.
“Maafkan saya, Ayahanda.
Karena tindakan saya sebelumnya...”
“Tidak, ini bukan murni
kesalahanmu, Arl. Tolong, biarkan aku sendirian untuk hari ini.”
Ditanggapi dengan suara
lemas tanpa daya, kami berdua pun melangkah mundur meninggalkan ruang kerja
Alan.
Setelah kami menghabiskan
makan malam yang sedikit terlambat, aku berjalan beriringan bersama Rena di
lorong kediaman yang mulai gelap karena matahari sudah terbenam.
“Kira-kira, apakah Ayah
akan baik-baik saja?”
“Entahlah...”
Sepanjang sejarah Keluarga
Clover, hampir tidak pernah terjadi insiden besar seperti ini.
Jika harus dipaksa mencari
contoh terdekat, mungkin kejadian ketika nenekku—yang terkenal sebagai istri
yang buruk—kabur meninggalkan kakekku.
Bagi Alan yang terbiasa
mengelola wilayah yang damai ini, situasi saat ini pasti sangat menguras
pikirannya.
Yah, anggap saja sekarang
Keluarga Clover akhirnya mulai merasakan sensasi menjadi keluarga bangsawan
perbatasan sesungguhnya, dan Alan harus belajar bersabar dengan semua ini.
“Untuk saat ini, kita
hanya bisa menunggu instruksi dari pihak kerajaan.”
“Ya, kamu benar...”
Sampai instruksi itu
turun, satu-satunya yang bisa kami lakukan hanyalah bersiaga agar Thea tidak
melakukan pergerakan mencurigakan.
“Arl.”
“Ada apa?”
“Anu, tolong berhati-hatilah
pada Thea-san.”
“Ya, aku mengerti.”
Walaupun aku tidak tahu
seberapa banyak yang bisa kulakukan saat melawan seorang Sword Saint, aku harus
bersiap untuk bertarung kapan saja. Karena di rumah ini, yang memiliki
kemampuan bertarung paling tinggi adalah aku.
“Kalau begitu, selamat
tidur, Rena.”
“Ya, selamat tidur. Arl.”
Setelah saling bertukar
senyuman tipis sebagai salam perpisahan, kami berdua kembali ke kamar
masing-masing.
※※※
Mungkin karena rentetan
acara mulai dari Ekspedisi Penaklukan di hutan hingga insiden masuknya Thea
secara ilegal, kelelahanku benar-benar memuncak.
Segera setelah kembali ke
kamar, aku langsung terlelap.
Kemudian, entah sudah
berapa lama aku tertidur.
Ada apa, ini...?
Tiba-tiba, aku merasa
tubuhku ditindih oleh sesuatu yang berat. Apakah ini yang sering disebut
sebagai ketindihan?
Aku pernah mendengar bahwa
saat tubuh sangat kelelahan, kejadian semacam ini memang sering terjadi. Namun
untuk ukuran ketindihan, beban yang menekan tubuhku ini terasa aneh, begitu
lembut dan hangat.
Karena aku tidak bisa
membiarkannya begitu saja, aku membuka mataku secara perlahan.
“—Ghk!?”
Dalam pandanganku yang remang-remang,
terlihat Thea yang sedang menindih tubuhku dengan hanya mengenakan pakaian
dalam.
Walaupun disebut pakaian
dalam, itu hanyalah pakaian tidur yang dipinjamkan oleh rumah kami, sama sekali
bukan gaun malam transparan yang provokatif.
Tetapi, berkat lekuk tubuh
Thea yang sudah provokatif, penampilannya sukses memancarkan sensualitas yang berbeda
dari biasanya.
Dihadapkan pada situasi
yang terasa seperti skenario di dunia eroge, tanpa sadar aku berteriak.
“Apa yang sedang kau
lakukan...!”
Aku berusaha meronta untuk
kabur, tetapi cengkeramannya begitu kuat, tubuhku benar-benar tidak bisa
digerakkan.
Gelar Sword Saint miliknya
ternyata bukan sekadar pajangan.
“Maaf, Arl-dono. Setelah melihat
reaksimu tadi siang, aku menyimpulkan bahwa tidak ada cara lain selain
melakukan ini.”
“Apa yang, kau rencanakan?”
“Tentu saja, aku akan...
m-menciptakan fakta yang tidak bisa diubah denganmu...”
‘Fakta yang tidak bisa diubah'.
Dengan kata lain, ini adalah tindakan menyelinap ke kamar tidur di malam hari (yobai).
“Kau masih waras?”
“I-iya.”
“Kalau kau melepaskanku
sekarang, aku akan tutup mata untuk kejadian ini. Karena itu—“
“Ka-kalau itu tidak bisa!”
Bersamaan dengan
teriakannya, Thea menekankan dadanya yang berisi ke dadaku dengan kuat.
Mendapat sensasi sentuhan yang belum pernah kualami bahkan di kehidupanku yang sebelumnya, tubuhku hampir memberikan reaksi di luar kendali.
“Anu, kumohon Thea. Aku
masih—“
Aku tidak boleh kehilangan
kesucianku di tempat dan situasi seperti ini. Aku sudah berjanji pada Rena,
bahwa untuk melangkah lebih jauh dari ciuman, kami harus menikah terlebih
dahulu.
“Dari reaksimu, sepertinya
Arl-dono juga masih... Mungkin tidak seberapa, tapi ini juga yang pertama
bagiku. Jadi, tolong terima aku apa adanya untuk saat ini.”
“—Ghk.”
Hembusan napas Thea yang
memburu terasa menyapu pipiku.
Meski akal sehatku menolak
keras, instingku perlahan-lahan mulai menginginkan tubuhnya.
“Kalau begitu, Arl-dono.”
Dengan pipi yang merona merah,
Thea perlahan mendekatkan bibir mungilnya ke wajahku.
Jika bibir kami
bersentuhan, kurasa pertahananku akan hancur lebur.
Sesaat sebelum hal itu
terjadi, dalam keputusasaan yang memalukan, wajah Rena dan Christa terlintas di
pikiranku.
Tepat pada saat itulah.
“Arl...!” “Arl-san...!”
Pintu kamarku yang
didobrak terbuka lebar, dan di sana terlihat sosok kedua tunanganku.
“K-Kenapa...!?
Mungkin karena merasa malu
tertangkap basah sedang melakukan perbuatan yang tidak senonoh, kekuatan Thea
yang menindihku sedikit melemah.
“Kalau begini...!”
“Ah...!?
Tanpa menyia-nyiakan celah
itu, aku segera melompat turun dari tempat tidur dan berlari ke arah mereka
berdua untuk berlindung.
“Kamu tidak apa-apa, Arl...!”
“Ya.”
Setelah memastikan
kondisiku baik-baik saja, Rena segera memeluk lenganku dengan sangat erat.
“Thea Mayqueen.”
“I-Iya...!”
“Apa maksud dari
perbuatanmu ini?”
“I-itu...”
Berbanding terbalik dengan
Rena yang khawatir padaku, Christa melangkah maju mengintimidasi Thea dengan
aura dingin yang mematikan.
Sedangkan Thea sendiri,
entah karena masih syok atau ketakutan, kata-katanya terbata-bata tidak karuan.
“Apa maksudnya?”
“E-e-etto...”
“Jawab dengan jelas!”
“—Ghk!?”
Menerima bentakan keras
penuh amarah dari Christa, Thea benar-benar menciut dan—langsung jatuh pingsan.
Kejadiannya persis seperti
saat menghadapi Bruno, tampaknya Christa memiliki aura bawaan yang mampu
meremukkan mental lawannya.
“Arl-san.”
Setelah memastikan Thea tidak
sadarkan diri, Christa menundukkan kepalanya dalam-dalam kepadaku.
“Saya memohon maaf yang
sebesar-besarnya atas kelalaian saya sehingga terjadi insiden memalukan seperti
ini!”
Menurut cerita, Christa
yang mengira Thea sudah tertidur, sempat meninggalkan ruangan untuk berganti
giliran dengan Bertrand, dan di celah itulah Thea berhasil kabur.
Bertrand yang baru saja
tiba menyusul, ikut membungkuk memohon maaf dengan ekspresi menyesal.
“Tuan Muda Arl. Entah
bagaimana saya harus menebus kegagalan ini...”
“Christa, Bertrand, tolong
angkat kepala kalian.”
Kejadian ini juga
kesalahanku. Dalam keadaan normal, meski sedang tertidur, aku melatih diriku
agar bisa segera menyadari jika ada seseorang yang memasuki kamarku.
Namun hari ini, efek
kelelahan yang luar biasa membuat kewaspadaanku menurun drastis.
Mempertimbangkan latar
belakang Thea, seharusnya aku tidak boleh lengah sedikit pun meskipun tubuhku
sedang sangat lelah.
“Arl-san, Rena-san. Kami
berdua akan bertanggung jawab penuh memindahkan wanita ini ke sel tahanan, jadi
silakan kalian berdua beristirahat dengan tenang.”
Dengan raut penuh rasa
bersalah yang tidak kunjung hilang, Christa dan Bertrand mengangkut Thea keluar
dari kamarku.
“Umm, Rena?”
“Ada apa?”
“Sampai kapan kamu akan terus
seperti ini?”
Setelah mereka berdua
pergi, aku menanyakan hal itu pada Rena yang masih memeluk erat lenganku.
Rena hanya menggelengkan
kepalanya sedikit dan menjawab.
“Untuk malam ini, aku
ingin terus seperti ini.”
Nada suaranya menyimpan
sedikit rasa kesal, yang membuatku hanya bisa tersenyum canggung.
Tadi siang Rena baru saja
memperingatkanku untuk berhati-hati, tetapi malamnya aku sudah membuat
kekacauan. Tentu saja wajar jika dia merasa marah.
“Aku mengerti. Maaf sudah
membuatmu cemas.”
“Memang begitu. Dasar...”
Setelah itu, kami berdua menghabiskan
sisa malam bersama dengan cara yang sangat ‘sehat’.
Sebagai bayarannya, tidak
heran jika keesokan paginya salah satu lenganku mati rasa dan tidak bisa
digerakkan.
※※※
Kerajaan Moroheiya yang
sedang kalang kabut mencari Thea yang menghilang, akhirnya menerima kabar dari
Kerajaan Suci setengah bulan sejak kedatangannya di Wilayah Clover.
“Ini mutlak kelalaian dari
pihak kita...”
Di ruang kerjanya yang
berada di dalam Istana Kerajaan, Perdana Menteri Kerajaan Moroheiya, Donna
Tomato, memegangi kepalanya didera pusing akibat laporan dari negara
tetangga.
Biasanya, pengkhianatan
dari kekuatan tempur tertinggi akan memicu kemarahan besar, namun lain
ceritanya jika alasan pengkhianatannya adalah karena merisaukan statusnya
sebagai perawan tua.
“Sudah kuduga, seharusnya
kita segera mencarikannya pasangan.”
Thea sendiri tidak tahu
menahu soal ini, tapi sebenarnya, sejak beberapa tahun lalu sudah banyak sekali
tawaran pertunangan yang ditujukan padanya. Hanya saja, menentukan keluarga
mana yang berhak menerimanya adalah masalah yang sangat krusial.
Meski Thea berasal dari
keluarga Baronet, keluarga mana pun yang berhasil memperistri seorang Sword
Saint akan mendapatkan lonjakan kekuatan militer yang luar biasa.
Mungkin sulit dipercaya, tapi
kekuatan tempur Thea seorang diri saja sudah setara dengan seribu prajurit
biasa. Karena itulah, pihak kerajaan harus ekstra hati-hati dalam menyeleksi
calon pendampingnya.
Namun, akibat terus
menunda keputusannya, Thea malah berakhir menjadi incaran Pangeran Kedua yang
memiliki obsesi pada wanita berusia matang.
“Sekarang, langkah apa
yang harus kuambil...”
Solusi terbaik tentu saja
dengan membujuk Thea agar kembali. Jika tidak, kekuatan militer Kerajaan
Moroheiya akan anjlok secara signifikan.
Namun sayangnya,
merealisasikan hal tersebut sangatlah sulit.
Alasan utamanya, Thea
sendiri pasti akan menolak keras untuk kembali ke tanah airnya.
Karena mustahil
menggunakan kekerasan untuk menyeretnya pulang, maka keputusan ada di tangan
Thea sepenuhnya.
Ditambah lagi, Kerajaan
Suci yang mendapatkan durian runtuh dengan hadirnya Sword Saint di wilayah
mereka, tidak mungkin mereka mau melepaskannya begitu saja.
“Kalau situasinya begini,
lebih baik kita membangun hubungan persahabatan dengan Kerajaan Suci. Tidak ada
pilihan lain.”
Berdasarkan informasi yang
diketahui Donna, keluarga kerajaan di Kerajaan Suci memiliki watak yang cinta
damai.
Selain itu, Donna juga
mendengar desas-desus bahwa Putra Mahkota Alphonse memiliki ikatan pertemanan
yang dekat dengan Arl.
Tindakan yang paling masuk
akal adalah pihak kerajaan Moroheiya meminta maaf, merelakan Thea bukan sebagai
pengkhianat melainkan sebagai simbol persahabatan, dan memohon agar ia bisa bertunangan
dengan Arl.
“Masalahnya, bagaimana
cara meyakinkan faksi-faksi di dalam kerajaan...”
Tidak akan ada masalah
dengan Raja yang sekarang beserta faksi Royalis.
Raja yang sekarang dikenal
dengan sikapnya yang sangat rendah hati dan tidak menyukai konflik.
Menjalin persahabatan
dengan Kerajaan Suci juga merupakan salah satu ambisi jangka panjang sang Raja,
sehingga para bangsawan dari faksi Royalis pun pasti akan mendukung penuh
gagasannya.
Yang menjadi kendala utama
adalah faksi Aristokrat.
Faksi Aristokrat sangat mendukung
agar Pangeran Kedua naik takhta sebagai Raja berikutnya.
Ide untuk menjodohkan Thea
dengan Pangeran Kedua juga merupakan buah pemikiran dan dorongan kuat dari faksi
Aristokrat.
Melalui pertunangan
tersebut, secara tidak langsung mereka berupaya memasukkan Thea ke dalam kekuatan
tempur faksi mereka.
“Nah, strategi apa yang
harus kupakai... hm?”
Tepat saat Donna sedang
memeras otak mencari celah mengatasi faksi Aristokrat, terdengar ketukan di
pintu ruang kerjanya.
“Siapa di luar?”
“Ini aku, Cirillo.”
“Oh, ini...! Saya akan
membukakan pintunya sekarang.”
Begitu Donna membuka
pintu, melangkah masuk seorang pria berusia sekitar tiga puluhan dengan perut
yang sedikit membuncit—Pangeran Kedua dari Kerajaan Moroheiya, Cirillo
Moroheiya.
“Cirillo-sama, apa yang
membawa Anda kemari hari ini?”
“Kudengar kau sedang
mengurus masalah hilangnya Sword Saint. Aku datang membawa sebuah usulan.”
“Sebuah usulan, ya...”
Donna merasakan firasat
buruk. Sebab Donna sangat yakin bahwa usulan yang disebutnya pasti merupakan
hasil hasutan dari para faksi Aristokrat.
“Perdana Menteri, kudengar
kau berencana mengadakan negosiasi dengan pihak Kerajaan Suci, benarkah
begitu?”
“Tepat seperti yang Anda
katakan.”
“Kalau kau tidak
keberatan, bisakah kau menyerahkan wewenang negosiasi itu kepadaku?”
“...”
Donna berpikir keras.
Jika Cirillo maju sebagai
negosiator, ia pasti akan memaksa menuntut pengembalian Thea. Masalahnya, apakah
ia bisa melakukan negosiasi dengan baik atau tidak...
(Tidak, tunggu sebentar.
Mungkin, situasi ini justru bisa kumanfaatkan.)
Cirillo dikenal memiliki
temperamen yang buruk dan sangat mudah marah. Jika prediksi Donna tidak
meleset, sifat pemarahnya itu justru akan menjadi bumerang dan menggagalkan
seluruh negosiasi.
Bila itu terjadi, Posisi
Cirillo akan merosot tajam, dan pada akhirnya akan berdampak pada melemahnya
pengaruh faksi Aristokrat.
Memang, ini berarti
membiarkan Kerajaan Suci repot meladeni lelucon murahan ini, namun jika Donna
memberitahukan tujuannya secara rahasia, mereka kemungkinan besar akan
mengantisipasinya dengan baik.
“Saya memahami maksud
Anda. Peran sebagai negosiator, dengan senang hati saya serahkan sepenuhnya
pada Anda, Cirillo-sama.”
“Oh, benarkah...!”
“Saya akan segera
mempersiapkan pertemuan untuk negosiasi ini, sembari menunggu, saya mohon
Cirillo-sama untuk menyiapkan perlengkapan perjalanan Anda.”
“Baiklah. Aku serahkan
padamu, Perdana Menteri. Ah~ Sungguh melegakan memiliki Perdana Menteri yang
cepat tanggap~”
Cirillo melangkah keluar
dari ruangan dengan raut wajah gembira, ia sama sekali tidak menyadari skema
yang dirancang Donna.
Mungkin di kepalanya Cirillo
sedang membayangkan cara-cara menjijikkan untuk mempermalukan Thea nanti.
“Sungguh, Pangeran yang
sangat menyedihkan.”
Padahal, semasa Cirillo
masih bertugas di kemiliteran kerajaan, ia merupakan kesatria yang dihormati
dan tangguh.
Membangkitkan kembali
sosoknya di masa kejayaannya melalui kegagalan ini juga merupakan salah satu tujuan
tersembunyi Donna.
“Nah...”
Karena strategi sudah
tersusun, yang tersisa hanyalah mengeksekusinya.
Tanpa membuang waktu,
Donna mulai merumuskan dua versi surat—satu versi resmi sebagai kamuflase, dan
satu lagi yang membeberkan maksud aslinya.
※※※
Satu bulan telah berlalu
sejak kedatangan Thea.
Akibat mencoba menyelinap
ke kamar tidurku waktu itu, Thea kini menghabiskan kesehariannya di dalam sel
tahanan.
Walaupun disebut sel
tahanan, fasilitasnya sangatlah layak—pakaian, makanan, dan tempat tidur
disediakan dengan baik.
Christa awalnya memprotes
keras dan menuntut Thea diperlakukan selayaknya tahanan biasa, tapi aku merasa
kasihan dan memberinya kelonggaran. Tentu saja, sebagai gantinya aku meminta
kompensasi yang setimpal.
“Arl-dono, untuk gerakan
barusan, sebaiknya turunkan sedikit pusat gravitasi Anda.”
“Begini?”
“Ya, tepat. Arl-dono
sangat cepat menangkap sesuatu ya.”
Walaupun diinstruksikan
dari balik jeruji besi, Setiap hari aku meminta Thea mengawasi latihan pedangku.
Sesuai julukannya sebagai
seorang Sword Saint, instruksi dan koreksinya sangat mendetail, ini benar-benar
pengalaman belajar yang sangat berharga.
“Ngomong-ngomong, Arl-dono.
Kira-kira kapan aku bisa keluar dari tempat ini...?”
Pertanyaan yang sangat
wajar bagi seseorang yang telah terkurung di sana selama satu bulan.
“Entahlah. Seharusnya
tidak lama lagi, ‘kan?”
“B-Benarkah...!”
“Ya... (Mungkin).”
Saat ini kami masih menunggu
instruksi dari pihak kerajaan, dan jika melihat rentang waktunya, masuk akal
bila balasannya akan segera datang.
Hanya saja, karena skala
masalahnya yang terbilang genting, sulit memastikan apakah balasan tersebut
akan tiba sesuai jadwal.
“Kalau begitu, mohon
bimbingannya lagi untuk besok.”
“I-Iya...”
Saat aku mengakhiri sesi
latihan dan beranjak pergi, Thea menatapku dengan sorot mata yang terlihat
kesepian.
Kecuali saat aku berlatih
bersamanya, satu-satunya orang yang menghampirinya hanyalah pelayan yang
mengantar makanan, wajar saja ia merasa kesepian.
Sambil berdoa agar
instruksi dari kerajaan segera tiba, aku melangkah menjauhi area sel tahanan.
“Ah, Arl-san.”
“Ada apa, Christa. Tumben
sekali ke sini.”
Aku merasa sedikit heran
saat berpapasan dengan Christa yang biasanya tidak pernah mendekati sel
tahanan.
“Sebenarnya, surat dari
pihak kerajaan baru saja tiba. Tolong periksa isinya.”
“Begitu ya. Coba
kulihat...”
Setelah selesai membaca
isi surat yang diberikan Christa, aku menghembuskan napas panjang.
Pangeran Kedua yang
menjadi sumber masalah dikabarkan akan mendatangi Wilayah Clover minggu depan
untuk menjemput Thea.
Mengingat aku sudah menduga
akan ada semacam negoisasi, jadi berita ini sendiri tidak terlalu mengejutkan. Yang
menjadi akar permasalahan adalah instruksi penanganannya.
“Jadi, Arl. Apa
keputusanmu? Yang Mulia menitipkan pesan bahwa beliau menyerahkan keputusan
akhirnya sepenuhnya padamu.”
Di tengah aula utama, kami
berlima—aku, Rena, Christa, Alan, dan Lucy—berkumpul untuk membicarakan hal
ini, dan Alan menuntut jawaban dariku.
Jawaban yang harus kupilih
adalah: Menyerahkan Thea kembali ke kerajaannya, atau menjadikannya sebagai
selirku.
Entah atas pertimbangan
apa, Yang Mulia Alphonse, yang menangani urusan ini berkata bahwa ia
menyerahkan semuanya padaku.
Sejujurnya, apa pun
pilihan yang kuambil, aku hanya melihat jalan buntu yang suram.
Jika aku mengembalikannya
ke kerajaannya, aku membuang peluang emas untuk memperkuat militer wilayah ini.
Tapi jika aku menjadikannya selir, aku harus rela dihujani tatapan penuh amarah
dari kedua tunanganku.
Andai saja negara atau
Yang Mulia memberikan perintah yang absolut, aku hanya tinggal mematuhinya... Kenapa
harus jadi seperti ini.
“Arl-san. Apa yang
membuatmu bimbang seperti itu?”
“Eh...?”
Christa menatapku dengan
tajam menanggapi keraguanku, seakan berkata bahwa hanya ada satu pilihan yang
benar.
Selanjutnya, Rena juga
menyatakan persetujuannya.
“Arl. Aku juga sependapat
dengan Christa.”
“R-Rena juga...!?”
Ini artinya sudah jelas. Mereka
menuntutku untuk segera mendepaknya keluar dari sini.
Di tengah kepanikan itu, aku
mengalihkan pandangan memelas pada Alan dan Lucy, tapi mereka hanya merespons
dengan gelengan kepala tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aku benar-benar harus
bagaimana...
Karena tidak kunjung
menemukan solusi, aku memutuskan untuk melarikan diri sejenak.
“Tolong, beri saya sedikit
waktu untuk memikirkannya.”
“Baiklah. Kita masih punya
sedikit waktu. Semua setuju, ‘kan?”
Ucapan Alan dibalas dengan
anggukan kompak dari semuanya, kecuali aku.
“Begitulah. Arl, pastikan untuk
mengambil keputusan yang nantinya tidak akan kau sesali.
“Baik...”
Batas akhir keputusanku
ditetapkan pada pagi hari menjelang kedatangan Pangeran Kedua, dan pertemuan
pun dibubarkan.
Hanya saja, bahkan sejak
detik itu, aku sangat yakin bahwa diriku tidak akan mampu memberikan jawaban
sampai tenggat waktu tiba.
※※※
Satu hari sebelum kedatangan
Pangeran Kedua.
“Arl-dono. Belakangan ini gerakanmu
terlihat sedikit kaku , apakah ada sesuatu yang mengganggumu?”
Thea, yang sejak tadi
mengawasiku berlatih tanpa tahu permasalahannya, bertanya dengan nada
penasaran.
“Melihat reaksimu,
sepertinya memang benar terjadi sesuatu. Jika tidak keberatan, maukah kau menceritakannya
padaku?”
Thea menatapku dengan raut
wajah penuh rasa khawatir.
Rencananya aku baru akan
memberitahu Thea setelah aku mengambil keputusan akhir, namun kurasa inilah waktu
yang paling pas.
Aku pun menceritakan situasi
yang sedang kuhadapi saat ini kepada Thea.
“Apakah itu, benar
adanya...?”
─Kabar bahwa Pangeran
Kedua akan segera tiba di Wilayah Clover untuk menyeret Thea pulang.
─Desakan agar aku segera
memilih antara mengembalikannya atau menjadikannya sebagai selir.
─Serta penentangan keras
dari Rena dan Christa terhadap opsi kedua.
Mendengar semua itu, rona
keputusasaan seketika terukir jelas di wajah Thea.
“L-Lalu, Arl-dono akan
mengambil keputusan apa?”
“Aku belum memutuskan.”
“Eh...?”
Ya, sampai detik ini pun,
aku belum bisa memberikan sebuah jawaban. Itulah penyebab performaku yang buruk
akhir-akhir ini.
“T-Tapi...”
Sesuai perkataan Thea,
suka tidak suka, besok aku harus menjatuhkan pilihan.
“Menurutmu, apa yang
sebaiknya aku pilih, Thea?”
“I-Itu...”
Meskipun mungkin aku sudah
tahu jawabannya, aku tetap nekat bertanya untuk menanyakan pendapatnya.
Namun di luar dugaan, Thea
tidak merespons dengan cepat.
Setelah terdiam cukup
lama, Thea akhirnya membuka suara.
“Aku akan menghormati
keputusan apa pun yang Arl-dono ambil.”
“—Ghk, begitu ya.”
“Ya. Hanya saja, mungkin
ini terakhir kalinya kita bisa berbicara. Maukah kau mendengarkan sedikit
cerita masa laluku?”
“Cerita masa lalu?”
“Iya. Tentang sedikit impianku.”
Begitu aku mengangguk, Thea
mulai menceritakan tentang impiannya.
Jika dirangkum, itu adalah
impian yang sangat romantis dan dipenuhi dengan fantasi seorang gadis remaja.
Andai yang mendengarnya
adalah diriku di kehidupan sebelumnya, aku pasti akan mendengus meremehkan. Namun,
memikirkan situasinya saat ini, aku sama sekali tidak bisa melakukan hal itu.
“Begitulah ceritanya,
meski terdengar egois, jika aku memang harus menjadi selir, aku ingin Arl-dono menginginkanku
dengan setulus hati.”
“Begitu, ya...”
Mendengar cerita Thea,
keraguan di dalam hatiku justru semakin bertambah.
Seharusnya aku tidak perlu
meminta pendapatnya jika akhirnya jadi seperti ini.
Membawa pemikiran itu, aku
meninggalkan sel tahanan, dan keesokan harinya pun tiba.
“Jadi, Arl. Apa kau sudah
menemukan jawabannya?”
Sama seperti sebelumnya,
di saat semua orang berkumpul di aula utama, Alan bertanya padaku.
Tentu saja, aku belum
menemukan jawaban. Namun, aku tidak bisa diam saja tanpa memberikan jawaban apa
pun.
“Saya sudah memutuskannya.
Saya rasa keputusan ini adalah pilihan yang paling menguntungkan bagi Wilayah
Clover.”
Di dalam hati keputusanku
sebenarnya sudah bulat, tetapi saat ini aku masih belum bisa mengatakannya.
Saat aku menyampaikan
jawaban beralasan seperti itu di tengah keputusasaan, Alan dan Lucy menunjukkan
raut wajah tegang, sementara kedua tunanganku menghela napas yang cukup
terdengar jelas.
Tidak salah lagi. Mereka benar-benar
bisa membaca pikiranku.
“Umm, ma—“
“Arl.”
“Y-Ya...”
“Keputusan yang kau buat
itu. Aku menaruh harapan tinggi padanya.”
Eh?
Tepat ketika aku berniat
meminta maaf dengan jujur, Alan memotong ucapanku dan mengatakan hal tersebut. Tiga
orang lainnya pun menunjukkan reaksi yang serupa.
Bohong, ‘kan...
Tanpa sempat mencerna apa
yang terjadi, pertemuan itu dibubarkan, dan sama seperti insiden Christa dulu,
aku terpaksa membuat keputusan langsung di tempat kejadian.
Lewat dari tengah hari,
rombongan berskala ratusan orang mendatangi kediaman Keluarga Clover. Dan
kemudian—
“Itu kan Yang Mulia...?”
Di barisan paling depan,
aku mendapati sebuah wajah yang familier sedang menunggangi seekor kuda putih.
※※※
Mendahului kedatangan
Pangeran Kedua, Yang Mulia Alphonse memasuki area kediaman Keluarga Clover.
“Sudah lama tidak bertemu,
Yang Mulia.”
Dengan sigap aku
menghampiri Yang Mulia yang baru saja turun dari kuda putihnya dan menunduk
hormat.
“Lama tidak berjumpa, Arl.
Bukankah raut wajahmu terlihat lebih baik dari sebelumnya?”
“Haha, Anda pasti
bercanda.”
Padahal, yang raut
wajahnya terlihat lebih baik justru Yang Mulia sendiri. Wajahnya tampak semakin
tampan dan menawan melebihi sebelumnya.
Meskipun belum genap
setengah tahun sejak lulus dari Akademi Bangsawan, perkembangan pria tampan memang
sungguh mengerikan.
“Lalu, Kali ini kenapa
Anda turut serta..?”
Kupikir kali ini pun kami
harus menangani masalah ini sendirian.
“Ada banyak alasan, tapi
mari kita simpan detailnya untuk nanti.”
“Lebih penting dari itu,”
lanjut Yang Mulia.
“Pertama-tama, biarkan aku
mendengar keputusan apa yang sudah kau buat, Arl.”
“...”
Aku tidak bisa
berkata-kata ketika mendapat pertanyaan yang paling ingin kuhindari.
“Dari reaksimu, sepertinya
kau masih belum bisa memutuskannya, ya.”
“Tidak, bukan begi—ah,
tidak juga.”
Percuma saja
menyembunyikan sesuatu dari Yang Mulia.
“Benar seperti kata Anda,
Yang Mulia.”
“Begitu rupanya.”
Saat aku menyampaikan
keadaan yang sebenarnya secara jujur, seulas senyum kecil terlukis di wajah
Yang Mulia.
“Ngomong-ngomong, apa
pendapat yang lain?”
“Ayahanda dan Ibunda tidak
berkomentar. Hanya saja, Rena dan Christa mengatakan bahwa hanya ada satu
pilihan.”
“Oh, begitu ya.”
Entah mengapa Yang Mulia
terlihat menganggap situasi ini menarik.
“Karena ini menyangkut
dirimu, Arl. Aku yakin begitu kau bertemu dengan Cirillo-dono, kau akan segera
membulatkan tekadmu.”
“Apa maksud Anda
dengan...”
Sebelum sempat menanyakan maksud
di balik ucapannya, sebuah kereta kuda yang luar biasa mewah—yang membawa sang tamu
utama—menerobos masuk ke area kediaman.
Saat kereta itu berhenti,
seorang pria melangkah turun dari kereta tersebut.
Dilihat dari penampilannya
yang agak membuncit layaknya pria paruh baya, kutebak usianya sedikit melewati
awal tiga puluhan.
Ketika pria itu melihat Yang
Mulia dan diriku, lalu berjalan menghampiri kami untuk bertanya.
“Alphonse-dono. Inikah
orangnya...?”
“Benar. Dia adalah Arl
Clover yang sempat saya bicarakan sebelumnya.”
“Oh, jadi Anda orangnya.”
Mendapat jawaban dari Yang
Mulia, pria itu mengulurkan tangan sambil tersenyum padaku.
“Senang bertemu dengan
Anda untuk pertama kalinya. Saya adalah Pangeran Kedua Kerajaan Moroheiya,
Cirillo Moroheiya.”
“Sebuah kehormatan besar
bertemu dengan Anda. Saya Arl Clover.”
Setelah membalas sapaan
sopan tersebut dengan memperkenalkan diri, aku lalu menerima jabatan tangannya.
Ketika mendengar tentang
pangeran dari negara lain, kesan Bruno yang datang untuk menyeret pulang
Christa sebelumnya terlalu kuat, jadi aku cukup terkejut bisa disapa dengan
tata krama normal seperti ini.
“Arl-dono. Desas-desus
mengenai Anda telah sampai ke telinga saya. Katanya Anda tidak akan ragu menggunakan
segala cara demi cinta, bukan?”
“I-Itu...”
Aku memang tahu ada rumor
semacam itu, tapi kedengarannya sedikit berbeda dengan cerita yang kudengar
dari Thea.
'Tidak ragu menggunakan
segala cara’... bukankah itu terdengar agak terlalu mengerikan?
“Ah, tidak perlu merasa
malu. Saya pun sama, tidak ragu melakukan tindakan tegas demi wanita yang saya
cintai. Dalam artian itu, saya merasa kita bisa menjalin hubungan yang baik.”
“B-Begitu ya...”
Tindakan tegas macam apa
yang Cirillo maksud dalam konteks ini? Entah kenapa, aku merasa seolah Cirillo
sedang memberikan ancaman kepadaku.
“Cirillo-dono. Obrolan
berdirinya cukup sampai di sini. Arl.”
“Baik. Kalau begitu,
izinkan saya memandu Anda menuju meja perundingan.”
Mengikuti arahan Yang
Mulia, aku mengantarkan Cirillo ke ruangan yang sama dengan ruangan yang
digunakan saat negosiasi dengan Bruno.
Kali ini yang akan duduk
di meja negosiasi kali ini adalah aku, Alan, dan Yang Mulia.
Ketika masuk ke ruangan,
Alan—yang sama sekali tidak menyangka akan kehadiran Yang Mulia—tentu saja
terkejut, namun sekilas ia terlihat senang.
Bagiku juga, keberadaan
Yang Mulia sangatlah bisa diandalkan, karena aku punya jalan keluar terakhir
yaitu menyerahkan semuanya pada beliau saat keadaan mendesak.
“Kalau begitu, mari kita
segera mulai negosiasinya.”
Setelah duduk dalam posisi
berhadapan tiga lawan satu dan menyeruput teh yang dihidangkan, Cirillo membuka
pembicaraan.
“Pertama-tama, aku ingin
memastikan keberadaan sang Sword Saint. Bisa ditunjukkan?”
Alan memberikan isyarat
pandangan kepada Bertrand yang berjaga di ambang pintu, lalu Bertrand membawa
masuk Thea yang kedua tangannya diborgol dengan kokoh.
“Silakan Anda pastikan.”
Mendengar ucapanku,
Cirillo memperhatikan Thea dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum akhirnya
menyunggingkan senyuman.
Entah perasaanku saja,
tatapannya seolah sedang menjilati tubuh Thea, dan senyumnya pun terasa sedikit
menjijikkan.
“Hmm. Benar, tidak salah
lagi ini adalah Thea, Sword Saint dari negaraku.”
“Kalau begitu, mari kita
masuk ke topik utama.”
Segala urusan negosiasi
kali ini telah diserahkan sepenuhnya kepadaku oleh Yang Mulia. Di bawah
pengawasan Alan dan Yang Mulia, aku pun bertanya.
“Pertama-tama, bolehkah
kami mendengar kembali tuntutan dari pihak Anda?”
“Tuntutan negara kami
adalah penyerahan sang Sword Saint kembali kepada kami.”
“Lalu, apa kompensasinya?”
“Pembangunan hubungan
persahabatan antara kedua negara kita. Lebih spesifiknya, ekspor produk
unggulan negara kami. Tentu saja, kami tidak akan menuntut hal serupa dari
negara Anda. Bagaimana?”
Persyaratan yang secara
garis besar sesuai dugaanku.
Kerajaan Moroheiya
memiliki tingkat produksi agrikultur yang tinggi seperti sayur-mayur dan
gandum, di mana banyak di antaranya hanya bisa dibudidayakan di sana.
Meningkatnya hubungan
diplomatik dan terbukanya jalur impor untuk hasil panen tersebut sudah cukup
sebagai ganti rugi atas insiden masuk secara ilegal ini.
“Tawaran yang sangat
menarik.”
“Oh, benarkah. Kalau
begitu—“
“Sebelum itu.”
“Hmm, Apakah ada suatu
masalah?”
“Seandainya kami
menyerahkannya kembali ke negara Anda, apa rencana Anda terhadap sang Sword Saint
ke depannya?”
“Oh, maafkan
kelancanganku. Tentu saja itu pertanyaan yang sangat wajar.”
Seandainya kami
benar-benar menyerahkannya, mengingat sifat Thea. Ada kemungkinan besar ia akan
mencoba melewati perbatasan lagi dan datang kembali ke Wilayah Clover.
Jika itu terjadi,
ujung-ujungnya ini hanya akan menjadi pengulangan masalah internasional.
Meskipun Thea pergi
bersama Cirillo, semua itu tidak akan ada artinya jika pria ini tidak mampu
membahagiakannya.
“Seperti yang mungkin
telah Anda ketahui, sedang ada pembicaraan pertunangan antara aku dan sang Sword
Saint.”
“Saya sudah mendengarnya.”
“Jika demikian, bisakah
Anda menerima itu sebagai jawabannya?”
“...”
Karena akan menikah dengan
anggota keluarga kerajaan, sudah pasti Thea akan menjalani hidup bahagia yang
serba berkecukupan.
Mungkin itulah yang ingin
disampaikan oleh Cirillo. Akan tetapi, di pihakku ada Christa, sosok yang
pernah menerima perlakuan buruk pada saat menjadi tunangan seorang anggota
kerajaan.
“Arl-dono. Jika Anda
sedang membandingkanku dengan Pangeran Bruno, saya jamin Anda bisa tenang.”
Melihat reaksiku yang
belum puas, Cirillo sepertinya teringat akan hal itu dan melanjutkan ucapannya.
“Aku sangat mencintai sang
Sword Saint. Aku berjanji tidak akan membiarkannya merasa tertekan sedikit
pun.”
“B-Benarkah kau
mencintaiku!? Aku ini sudah perawan tua, lho!”
Thea refleks bereaksi saat
mendengar ucapan Cirillo.
“Sword Saint, kau
sepertinya mengkhawatirkan statusmu sebagai perawan tua, tapi kau sama sekali tidak
perlu memikirkannya. Bagiku, dirimu yang sekarang ini adalah wanita yang paling
sempurna.”
Kepada Thea yang
kebingungan akibat pujian mendadak itu, Cirillo melanjutkan ucapannya dengan penuh
semangat.
“Asal kau tahu, aku sangat
menyukai wanita yang lebih tua sepertimu!”
Pengakuan preferensi
seksual yang tiba-tiba itu sukses membekukan suasana meja negosiasi.
“Arl-dono. Wanita yang
lebih tua itu luar biasa. Karena harga diri mereka rendah, cukup diakali dengan
kelembutan sedikit saja, mereka akan langsung menyerahkan diri dan menuruti
segala kemauanku.”
Apakah ia ingin mengatakan
bahwa wanita yang lebih tua itu bagus karena bisa memuaskan hasratnya untuk
mendominasi?
“Biarpun begini aku sangat
percaya diri dengan kemampuanku di malam hari, aku jamin Sword Saint ini akan
merasakan kepuasan yang tiada tara.”
“Cirillo-dono, saya mohon
perhatikan tutur kata Anda sesuai dengan konteks tempat ini.”
“Oh, mohon maaf Alphonse-dono.
Aku hanya sedikit terbawa suasana.”
Setelah ditegur Yang
Mulia, Cirillo berdehem keras dan mengembalikan pandangannya padaku.
“Mari kita kembali ke
topik, Arl-dono. Seperti yang telah kukatakan, aku yang akan menjamin
kebahagiaan sang Sword Saint. Tidak ada masalah lagi, bukan?”
Aku menatap Cirillo yang
menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi berbarengan dengan pandangan
mesumnya, lalu beralih menatap Thea yang ketakutan di bawah sorot mata penuh
nafsu tersebut.
Dan di detik aku
membayangkan nasib tragis yang akan menimpa Thea bila ia diserahkan, aku pun
memantapkan tekad di dalam hati.
“Kami tidak bisa
menyerahkannya.”
Cirillo tidak akan pernah
bisa membahagiakan Thea. Sebagai orang yang mengetahui impian Thea, aku bisa menegaskan
hal itu.
“Arl-dono. Tadi, Anda
bilang apa?”
“Daripada menyerahkannya kepada
Anda, lebih baik saya yang mengambilnya.”
“A-Apakah itu semacam
lelucon?”
“Tidak, saya sangat
serius.”
“—Ghk, Apa kau
pikir perbuatan selancang itu akan dibiarkan begitu saja!?”
Yah, sejak awal aku pun
sadar bahwa ia tidak akan mundur semudah itu.
“Saya sudah mendengar
cerita tentang tradisi Duel di Kerajaan dari Thea.”
“Duel? Ah, tentang itu.
Kau tahu juga ya tentang budaya yang sudah lama mati itu. Lalu kenapa?”
“Jika Anda berkenan,
bagaimana kalau kita menentukan siapa yang berhak mendapatkan Thea lewat Duel?”
“Apa katamu? Kau pikir aku
akan menyetujui usul konyol seperti itu?”
“Ya. Karena ini adalah
impian Thea.”
“—Ghk, tunggu dulu,
Arl-dono...!?”
Impian yang diceritakan
Thea padaku adalah impian di mana para pria berduel memperebutkan dirinya, dan
sang pemenang akan datang menjemputnya. Singkatnya, Thea sangat ingin merasakan
rasanya diperjuangkan dengan penuh semangat seperti itu.
“Jika Anda bilang mampu
membahagiakannya, memenuhi satu atau dua mimpi kecil seperti ini bukanlah
masalah besar, bukan?”
“—Ghk, apa boleh
buat. Baiklah.”
Cirillo mengeluarkan
sepasang sarung tangan putih dari sakunya, lalu melemparnya tepat ke arah
dadaku.
“Ambil itu. Sesuai
keinginanmu, kita Duel.”
“Saya menerimanya dengan
senang hati.”
Setelah berkata seperti
itu, aku pun memungut sarung tangan yang tergeletak di lantai.
※※※
Duel itu diputuskan akan dilaksanakan
setengah jam kemudian, di padang rumput yang luas di luar kediaman.
“Kalian berdua, aku benar-benar
minta maaf!”
Segera setelah perundingan
bubar, aku menundukkan kepala dalam-dalam di hadapan Rena dan Christa. Lagi-lagi
aku bertindak egois dan mengabaikan pendapat mereka berdua. Terutama Christa,
aku sama sekali tidak berani menatap wajahnya karena takut.
“Tolong angkat wajahmu, Arl-san.”
Mendengar ucapan Christa,
dengan gemetar aku perlahan mengangkat wajahku. Entah kenapa, wajah mereka
berdua terlihat datar tanpa ekspresi. Itu justru jauh lebih menakutkan.
“Arl.”
“Y-Ya...!”
“Sejak awal, untuk apa
kamu meminta maaf?”
“...Eh?”
Saat aku kebingungan menanggapi
ucapan Rena, kedua tunanganku menghela napas pasrah.
“Begini ya, Arl-san.
Sepertinya kamu salah paham akan sesuatu.”
“Sejak awal, kami tidak
pernah sekalipun menyuruhmu untuk menyerahkan Thea.”
“T-Tapi... kalian bilang
hanya ada satu pilihan...”
“Maksudnya adalah, kamu tidak
punya pilihan lain selain menerima Thea-san.”
“Apa...!?”
Aku refleks menoleh ke
arah Christa, dan ia pun menjawab dengan senyuman masam.
“Memang benar aku tidak
memiliki kesan yang baik kepada Thea-san. Tetapi, aku tidak akan pernah
memintamu menyerahkannya kembali hanya karena perasaan pribadi semacam itu.”
“Dengarkan baik-baik”,
lanjut Christa seolah sedang mengajariku.
“Jika kamu menerima Thea-san
sebagai selirmu, Kerajaan Suci akan mendapatkan tambahan kekuatan militer yang
luar biasa tanpa ada kerugian sedikitpun.”
“Namun jika kita
menyerahkannya ke Kerajaan Moroheiya, ceritanya akan berbeda. Memang ada
keuntungan dari impor bahan pangan, namun Kerajaan Suci harus bersiap
menghadapi ancaman dari Thea-san yang memiliki kekuatan untuk menerobos
perbatasan kapan saja.”
Bahkan jika Thea tidak
menginginkannya, jika itu adalah perintah dari negaranya, kemungkinan besar ia
akan memimpin bala tentara menerjang Hutan Perbatasan.
Jika itu terjadi, wilayah
pertama yang akan menjadi korban adalah Wilayah Clover.
“Nah, sekarang kamu sudah
paham, ‘kan? Pilihan mana yang paling tepat.”
Aku mengangguk sambil
merasa kagum betapa luar biasanya kedua tunanganku ini.
Meskipun di dalam hati
mereka mungkin tidak menyukai Thea, tapi mereka rela menyingkirkan perasaan
pribadi demi memprioritaskan negara dan Wilayah Clover.
Sementara diriku...
sungguh sangat menyedihkan.
“Karena itulah, Arl.”
Setelah mengetahui aku
sudah memahami segalanya, Rena melangkah mendekat dan mendaratkan ciuman lembut
di pipiku.
“Tolong menangkan Duel
ini.”
“—Ghk, tentu. Aku tidak
akan kalah.”
Christa juga mendaratkan
ciuman di pipiku yang satunya lagi, membuat tekadku untuk tidak boleh kalah
semakin menguat.
Mendapat perlakuan lembut
dari mereka berdua, pikiranku akhirnya kembali jernih, dan di saat itulah aku
menyadari sesuatu.
“Tunggu, kalau dari awal
kalian sudah tahu jawabannya, kenapa tidak memberitahukannya padaku sejak
awal?”
“Ah, kalau soal itu...”
Rena saling bertukar
pandang dengan Christa, lalu menyunggingkan senyuman usil.
“Meskipun Thea-san sudah
berbuat selancang itu padamu, rasanya hukuman yang kamu berikan terlalu
ringan... jadi kami sengaja sedikit menjahilimu.”
Untuk saat ini, sebagai
bentuk permintaan maafku, aku memutuskan untuk mempersembahkan kemenangan Duel
ini bagi mereka berdua.
※※※
Duel adalah sebuah tradisi
bangsawan Kerajaan Moroheiya zaman dulu, di mana dua pria yang memiliki
ketertarikan pada satu wanita yang sama akan saling beradu pedang, dan sang
pemenang berhak bersanding dengan wanita tersebut.
“Baiklah, silakan kalian
berdua menandatangani dokumen ini.”
Di tengah lingkaran
kerumunan yang mengawasi, aku dan Cirillo menandatangani surat sumpah yang diberikan
oleh Yang Mulia Alphonse selaku saksi Duel. Dengan ini, kami berdua tidak bisa
lagi mengingkari kesepakatan dari hasil akhir pertarungan ini nantinya.
“Arl-dono. Jangan sampai
menyesal, ya? Biar begini, aku cukup percaya diri dengan ilmu pedangku.”
“Kata-kata itu saya
kembalikan sepenuhnya kepada Anda, Cirillo-sama.”
“—Ghk.”
Sembari mendecakkan lidah,
Cirillo melangkah mundur membuat jarak dan memasang kuda-kuda dengan pedang
kayunya.
Katanya Duel di masa lalu
menggunakan pedang sungguhan, namun untuk mencegah berkembangnya masalah
diplomatik baru jika terjadi sesuatu, kali ini kami memutuskan untuk
menggunakan pedang kayu.
Aturannya sangat
sederhana, kemenangan ditentukan jika pihak lawan menyerah atau tak sadarkan
diri akibat serangan.
Sama seperti Cirillo, aku
pun mengambil jarak dan memasang kuda-kuda, lalu mengamati lawanku dengan
cermat.
Perawakannya yang
membuncit di usia paruh baya terlihat sama sekali tidak sehat, namun dari
postur kuda-kudanya, secara mengejutkan nyaris tidak ada celah.
Tampaknya klaim bahwa Cirillo
mempunyai kemampuan berpedang memang bukanlah kebohongan.
“Kalian berdua, sudah
siap?”
Aku dan Cirillo
membalasnya dengan anggukan tanpa kata.
“Kalau begitu—Mulai...!”
Bersamaan dengan seruan
Yang Mulia, Duel resmi dimulai.
Awalnya kami saling
menjaga jarak, mengukur jangkauan serangan masing-masing.
Sesuai ekspektasi dari
orang yang percaya diri akan kemampuannya, aku tidak menemukan celah yang
jelas.
“Ada apa Arl-dono. Cepat
serang aku.”
“Tidak perlu disuruh...”
Melihat bentuk tubuhnya, Cirillo
sepertinya tidak terlalu percaya diri dengan kecepatan geraknya. Ia memilih
gaya bertarung mengandalkan serangan balasan (counter attack),
dan tidak mau berinisiatif menyerang lebih dulu.
Karena sudah menebak hal
tersebut, ditambah lagi akulah yang menantangnya Duel, mau tidak mau terpaksa akulah
yang harus melancarkan serangan perdana.
“Hanya segini kemampuanmu,
Arl-dono?”
“Masih belum selesai...!”
Serangan pertamaku
berhasil ditahan dengan solid, begitu pula dengan rentetan serangan yang aku
berikan selanjutnya.
Padahal aku sudah
mengerahkan sekitar delapan puluh persen tenagaku, tapi hasilnya nihil.
Menghancurkan pertahanan
Cirillo tampaknya bukan hal yang mudah. Namun—
“Anda hanya bisa bertahan.
Apa Anda baik-baik saja?”
“—Ghk, besar juga
mulutmu.”
Sepertinya seranganku juga
melampaui perhitungan lawanku. Strateginya untuk melakukan serangan balasan
malah berujung kerepotan membuatnya bertahan secara mutlak.
Terus menerus menahan
serangan pastinya akan menguras stamina. Jika ritme pertahanan mutlak itu terus
berlanjut, secara alami kemenangan akan jatuh ke tanganku.
Tentu saja, Cirillo juga pasti
menyadari fakta itu. Ia mengambil langkah mundur untuk memperbaiki posisinya, lalu
menyatakan sesuatu.
“Sudah waktunya aku yang
menyerang.”
Kali ini, giliran Cirillo
yang melancarkan serangan.
Kecepatannya masih bisa
kuikuti, jadi aku berhasil menangkisnya tepat waktu. Namun, serangannya jauh
lebih berat dari yang kubayangkan.
Dampak dari serangan itu
membuatku kesulitan untuk melakukan serangan balasan dengan benar.
“Mana semangatmu yang
tadi, Arl-dono?”
“—Ghk.”
Berbanding terbalik dengan
sebelumnya, sekarang aku yang terus-terusan berada dalam mode bertahan.
Dan setelah situasi itu
berlangsung selama sekitar dua menit, sesuatu mulai terjadi pada Cirillo.
“Hah... hah... b-boleh
juga kau...”
“Terima kasih pujiannya.”
Napas Cirillo mulai tersengal-sengal
dengan bahu yang naik-turun. Sepertinya ini adalah efek samping karena ia
jarang melakukan latihan fisik belakangan ini.
Meskipun aku masih dalam
posisi menerima serangannya, kekuatan serangannya sudah tidak seberat tebasan
pertamanya tadi.
“Kalau begini...!”
“—Ghk.”
Aku beralih menyerang
balik dan membombardir Cirillo tanpa henti. Staminanya pasti sudah terkuras
hingga ia tidak mampu mengambil jarak menghindar lagi.
Cirillo terpaksa kembali
menahan seranganku, tapi sepertinya ia sudah mencapai batas kemampuannya untuk
menangkis.
Lalu, lima menit kemudian.
Cirillo akhirnya ambruk bertumpu pada lututnya. Ia telah mencapai batas
fisiknya. Setelah menyadari hal itu, aku mengarahkan ujung pedangku ke
lehernya.
“Sudah berakhir. Silakan
menyerah.”
“...Ghk.”
Ia pasti sadar kalau
dirinya sudah kalah, namun Cirillo menolak untuk menyatakan kekalahannya.
“Anda masih berniat
melanjutkannya?”
“Diam kau...!”
Sambil tetap bertumpu pada
lututnya, Cirillo melotot menatapku dengan tajam.
“Aku... aku harus membawa
pulang sang Sword Saint dan mendapatkan takhta Raja berikutnya!”
Cirillo mengacungkan
tangannya pada prajurit pengawal yang bersiaga di belakangnya, lalu
mengayunkannya dengan paksa menunjuk ke belakangku.
Di belakangku ada Rena,
Christa, dan Thea yang tangannya masih diborgol.
“Cirillo-sama. Apa
yang...”
“Kalian semua, cepat
tangkap Sword Saint itu sekarang juga...!”
Para pengawal tampak ragu
menanggapi perintah mendadak dari Cirillo. Mungkin karena mereka tahu betapa
mengerikannya kekuatan Thea, atau karena takut bisa memicu masalah
internasional, atau mungkin keduanya.
Melihat prajuritnya terdiam
kaku, pembuluh darah menonjol di dahi Cirillo bersamaan dengan bentakannya.
“Apa yang kalian tunggu!
Apa kalian tuli tidak bisa mendengar perintah dari anggota kerajaan!?”
Jika membangkang, mereka
akan dituduh melakukan pengkhianatan tingkat tinggi terhadap keluarga kerajaan.
Didorong oleh ketakutan
itu, sekitar seratus prajurit pengawal Kerajaan Moroheiya serentak berlari
menyerbu ke arah Thea.
“Cirillo-sama. Ini
jelas-jelas masalah internasional yang serius, lho...!?”
“Aku adalah calon Raja.
Masalah sepele sepele ini bukanlah apa-apa.”
Meski setingkat lebih baik
dari Bruno, Pangeran yang satu ini juga punya karakter yang sama-sama busuk
sampai ke akar-akarnya.
“Sial...!”
Thea berada tidak jauh
dari posisi Rena dan Christa.
Prajurit yang dikerahkan
Yang Mulia memang berada di dekat sana untuk melindungi mereka, tapi tetap saja
jumlah musuh jauh lebih banyak.
Aku ingin ke sana sekarang
juga, namun sebagian prajurit musuh juga mulai mengepungku.
Krak!, Tepat saat aku bingung
harus berbuat apa, terdengar suara dari sesuatu yang hancur.
Ketika aku menoleh ke arah
sumber suara, terlihat Thea yang sudah menghancurkan borgolnya.
Thea merampas sebilah
pedang dari prajurit terdekat, lalu sendirian menerjang gelombang prajurit
Kerajaan Moroheiya. Dan kemudian—
“Bohong, ‘kan..”
Hanya dalam waktu tiga
menit, Thea dengan mudah melumpuhkan kesadaran seluruh prajurit Kerajaan dan
membuat mereka tidak berdaya. Semua itu ia lakukan tanpa lecet sedikit pun.
Di saat aku masih terpaku
melihat pertunjukan yang luar biasa itu, Thea melangkah mendekat ke arahku.
“Arl-dono. Apa kau
baik-baik saja?”
“Y-Ya...”
“Begitu ya. Syukurlah.”
Seusai memastikan keselamatanku,
Thea mengalihkan pandangannya ke arah Cirillo. Tatapannya dipenuhi hawa dingin
menusuk yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“A-Apa yang akan kau
lakukan, Sword Saint. Apa kau pikir bisa dimaafkan begitu saja setelah
melakukan perbuatan ini...!?”
“Aku tidak tahu omong
kosong apa yang sedang kau bicarakan. Bukankah kalian yang lebih dulu mengangkat
pedang ke arah kami?”
“—Ghk.”
“Kalau tahu akhirnya seperti
ini, seharusnya aku melakukannya sejak awal.”
“Andai aku melakukannya,
Wilayah Clover tidak perlu ikut terseret dalam masalah ini”, keluh Thea sambil
memungut pedang kayu Cirillo dari atas tanah.
“Sebagai kata-kata
terakhir, asal kau tahu saja, aku paling benci pria yang berfisik lembek.”
“A-Apa yang—“
Setelah melontarkan
kata-kata yang cukup kejam itu, Thea mengayunkan pedang kayunya dan membuat
Cirillo pingsan.
※※※
Orang-orang Kerajaan
Moroheiya yang telah dilumpuhkan oleh Thea langsung ditangkap dan diamankan
oleh para prajurit yang dibawa Yang Mulia, dan kini berstatus sebagai tawanan.
Alasannya adalah karena
mereka mengabaikan duel yang diadakan atas nama Yang Mulia dan mencoba
mencelakai keluarga Clover serta Yang Mulia sendiri.
Aku tidak tahu hukumannya
akan seperti apa yang akan diberikan, tapi sudah pasti itu bukan hukuman yang
ringan.
“Kerja bagus untuk hari
ini, Arl.”
Yang Mulia memanggilku
saat aku sedang membantu persiapan pengiriman para tawanan ke Ibukota.
“Tidak, justru saya yang
seharusnya berterima kasih pada Anda.”
Tanpa kehadiran Yang
Mulia, kekacauan hari ini tidak akan mungkin terkendali. Terlebih lagi, jika
memikirkan proses penyelesaian sisa masalah ini, pihak yang paling direpotkan tidak
lain adalah Yang Mulia.
“Arl. Ada hal yang ingin
aku bicarakan sebentar, bisa?”
“Tentu saja.”
Aku bergerak mengikuti
Yang mulia menuju tempat yang sepi dari orang-orang.
“Jadi, pembicaraan apa
yang Anda maksud?”
“Pertama-tama, ini
untukmu.”
Seiring ucapannya, Yang
Mulia menyerahkan sepucuk surat kepadaku.
“Ini adalah...”
“Surat undangan upacara
pertunanganku.”
“—Ghk, upacara
pertunangan, itu artinya...”
“Ya, tunanganku sudah
ditentukan.”
Yang Mulia sedikit merona
sambil tersenyum malu-malu.
Sebagai orang yang telah menampung
Rena, aku terus dihantui rasa khawatir mengenai siapa sosok yang akan menjadi
tunangan Yang Mulia.
“Selamat, Yang Mulia.
Kalau boleh tahu, siapa pasangannya?”
“Sayangnya, aku belum bisa
memberitahumu sekarang, nantikan saja kejutannya saat diumumkan di hari upacara
nanti.”
“Saya mengerti.”
“Selain itu, ada satu hal
lagi yang ingin kumintakan maaf padamu terkait acara ini.”
“Hal apa itu?”
“Seharusnya, surat
undangan ini ditujukan agar tamu hadir didampingi istri sahnya, namun...”
“Tidak mungkin membawa Rena,
bukan?”
“Benar. Maaf.”
“Tidak apa-apa.”
Memang tidak mungkin
mengundang Rena yang merupakan mantan tunangannya. Sekalipun Yang Mulia tidak
keberatan, para bangsawan lain pasti akan memandang buruk hal itu.
“Sebagai gantinya, aku
sangat berharap kau bersedia hadir bersama Christa-jou. Aku juga sudah
mengundang ayahnya ke upacara tersebut. Manfaatkanlah kesempatan itu untuk
saling bertukar salam secara resmi.”
“—Ghk, baiklah.
Saya sangat berterima kasih atas kebaikan Anda.”
Selama ini komunikasiku
dengan Ayahnya Christa hanya sebatas bertukar surat, aku belum pernah berbicara
langsung dengannya.
Mengingat aku akan menikahi
putrinya, wajar jika aku harus melakukan pertemuan perkenalan secara layak. Lebih
dari itu, aku belum pernah melakukan tradisi menyapa orang tua calon pendamping
sama sekali.
Berdasarkan nilai moral
dari kehidupanku di masa lalu, ini jelas tidak etis. Terlepas dari orang tua Rena
yang telah membuangnya, aku wajib melakukan perkenalan formal pada keluarga
Christa dan Thea.
“Apakah hanya ini yang
ingin Anda sampaikan?”
“Masih ada dua hal lagi.
Yang pertama adalah tentang masa depan Keluarga Clover.”
Senyuman di wajah Yang
Mulia mendadak lenyap.
“Dengan diterimanya Thea-jou
kali ini, keluarga Clover kini telah menjadi salah satu keluarga bangsawan
terkemuka di Kerajaan Suci, baik secara nama maupun kenyataan. Kau tahu apa
artinya?”
“Ya.”
Rena yang merupakan mantan
putri seorang Marquis, Christa yang merupakan putri dari keluarga Duke Muscat
yang nantinya akan memegang kendali kekuasaan sesungguhnya di Kerajaan Teokrasi
Dorian, dan Thea sang Sword Saint.
Dengan memiliki mereka
bertiga, tidak akan ada lagi yang berani menyebut Keluarga Clover sebagai 'Keluarga
Margrave Hanya sebatas Gelar'. Dan tentu saja, akan ada golongan bangsawan yang
tidak menyukai hal ini.
“Meski tidak seharusnya
terjadi antar sesama bangsawan negara sendiri, tapi di masa mendatang tidak
menutup kemungkinan akan ada upaya sabotase dari keluarga bangsawan lain
terhadap Keluarga Clover. Aku akan berusaha mengawasinya dari sana, tapi
kumohon kau juga harus tetap waspada.”
“Terima kasih atas
peringatannya. Saya akan menanamkannya dalam pikiran saya.”
Karena puas mendengar
jawabanku, raut wajah Yang Mulia tampak lebih rileks, lalu ia kembali
melanjutkan.
“Aku sempat ragu untuk
menyampaikannya, tapi kupikir aku harus memberitahukannya padamu, Arl.”
Nada bicara Yang Mulia
berubah lebih serius dibandingkan sebelumnya.
“Mengenai insiden Bruno-dono
tempo hari, kami mendeteksi adanya jejak bahwa seseorang telah membantu dan
mengarahkannya untuk ke sini.”
Saat insiden itu terjadi,
aku tidak punya waktu untuk merenungkannya karena terlalu mendadak, tapi
dipikir-pikir lagi, kedatangan Bruno ke Wilayah Clover memang sebuah
kejanggalan.
Biasanya, seseorang pasti
akan tertahan di pos pemeriksaan sebelum bisa keluar dari ibu kota. Fakta bahwa
Bruno bisa lolos berarti ada seseorang yang menarik benang dari balik layar.
“Terkait 'seseorang’ yang
membantu Bruno-dono, ada satu orang terduga.”
“Benarkah itu?”
“Leon Hyacinth. Kakak
laki-laki Rena.”
“—Ghk!?”
Aku tahu Rena punya kakak
laki-laki. Namun, aku tidak menyangka orang seperti itu akan terlibat.
“Ini masih tahap
kecurigaan. Namun, tolong jangan beritahukan hal ini pada Rena.”
“Baik. Saya mengerti.”
Meski motif sesungguhnya
masih menjadi misteri, namun kemungkinan besar ini ada hubungannya dengan pembatalan
pertunangan Rena. Jika Rena mengetahuinya, ia pasti akan menyalahkan dirinya
sendiri.
“Kalau begitu, aku harus
segera kembali ke tempat yang lain.”
“Baiklah. Saya akan
menyampaikan kabar tentang upacara pertunangan itu kepada Christa nanti.”
“Aku sangat menantikan
kehadiranmu di upacara pertunangan nanti.”
Satu jam kemudian, Yang
Mulia dan rombongannya telah selesai bersiap dan segera meninggalkan wilayah
Clover.
※※※
Setelah menerima laporan
terkait hasil negosiasi Cirillo, Perdana Menteri Kerajaan Moroheiya, Donna
Tomato, diselimuti oleh keputusasaan.
(Siapa sangka,
perundingannya akan menjadi sangat merugikan bagi kerajaan sampai sejauh ini...)
Dalam cetak biru rencana
Donna, mereka hanya perlu merelakan sang Sword Saint dan langsung memulai kesepakatan
perdagangan.
Namun, akibat tindakan
brutal Cirillo, diperlukan kompensasi tambahan yang terpisah. Meski begitu, hasil
perundingan ini bukan sepenuhnya disebabkan oleh kesalahan Cirillo.
(Perhitunganku
pada Alphonse-dono ternyata terlalu naif.)
Donna sudah menyampaikan
secara resmi kepada Kerajaan Suci bahwa ia sudah berniat menyerahkan sang Sword
Saint. Seandainya hal itu juga disampaikan kepada keluarga Clover, duel konyol
semacam itu tidak mungkin terjadi.
Ini juga merupakan hasil
dari keputusan Alphonse yang sengaja tidak memberitahukannya kepada keluarga
Clover.
(Berkat
manuvernya, negara kitalah yang menelan pil pahit. Tetapi—)
Satu-satunya nilai plus
dari kekacauan ini adalah, Cirillo tampaknya mengalami perbaikan akal sehat
walau hanya sedikit.
Sejak kembali dari
Kerajaan Suci, Cirillo mulai kembali menekuni latihan pedangnya dengan giat.
Dalam hal tersebut, Dona
berpikir bahwa setidaknya ia boleh berterima kasih kepada Arl.
※※※
Setengah bulan setelah
kunjungan Cirillo.
Detail kompensasi resmi
dari Kerajaan Moroheiya akhirnya ditetapkan.
Isinya mencakup
pembentukan hubungan persahabatan antara Kerajaan Suci dan Kerajaan Moroheiya,
ekspor bahan pangan, serta pertunangan antara aku dan Thea yang merupakan
kekuatan tempur tertinggi mereka.
Hasilnya, Kerajaan Suci
meraup keuntungan mutlak dari kesepakatan sepihak ini.
Bersamaan dengan itu,
terselip selembar surat yang ditujukan khusus untukku dari sang Perdana Menteri
Kerajaan Moroheiya, Donna Tomato.
Surat itu berisikan
permintaan maaf atas kebodohan Cirillo sekaligus apresiasi tulus karena aku
telah mendisiplinkannya.
Bahkan setelah negaranya
menderita kerugian total, Donna tetap merespons dengan tata krama dan
kerendahan hati yang luar biasa, itu benar-benar membuatku kagum.
Sekadar info tambahan
tentang si pembuat onar Cirillo, gelar hak warisnya dilaporkan telah dicabut.
Karena dia mempunyai bakat
keahlian berpedang, mengasah kembali kemampuannya dan merintis karier di jalan
pedang rasanya bukan pilihan yang buruk baginya.
“Baiklah, Thea, silakan
sampaikan sepatah dua patah kata pada semuanya... tidak apa... ‘kan?”
Sama seperti saat perayaan
penyambutan Christa, dalam acara yang merayakan resminya pertunangan ini, Alan
dengan raut canggung memberikan waktu pada Thea untuk berbicara.
Kecanggungan Alan itu
dipicu oleh kondisi Thea yang sangat emosional hingga nyaris meneteskan air
mata kapan saja.
“Pertama-tama... terima
kasih banyak... atas perayaan yang sungguh indah ini... Aku... aku selalu
berpikir bahwa hari semacam ini tidak akan pernah hadir di sisa hidupku... jadi
aku sungguh, sungguh terharu...”
Merespons ucapan Thea yang
sesekali terputus karena isakan tangis, kami semua memandangnya dengan sorot
mata penuh kehangatan.
Mengingat masa lalu Alan
yang juga penuh liku dalam mencari pasangan hidup, ia terlihat nyaris menangis
terbawa suasana.
“Mulai sekarang... aku
akan berusaha semaksimal mungkin demi keluarga Clover yang telah menerimaku...
Mohon bantuannya untuk waktu yang lama ke depan...”
Semua orang memberikan
tepuk tangan untuk Thea.
Menerima tepuk tangan itu,
Thea pun mulai menangis bahagia. Tentu saja, Alan pun ikut menangis bersamanya.
“Sepertinya hari-hari ke
depan akan menjadi semakin menyenangkan, ya.”
“Ya.”
Aku menyetujui perkataan Rena
yang duduk tepat di sebelahku.
Sesuai gelar Sword Saint
miliknya, kekuatan tempur yang diperlihatkan Thea tempo hari membuktikan
kualitasnya. Kehadiran sosok tangguh sepertinya di Wilayah Clover sungguh
menenteramkan.
Ke depannya, kami bisa
menyerahkan urusan pertahanan wilayah padanya, dan mungkin kesempatan bagi
kepala keluarga untuk pergi ke luar wilayah demi urusan sosial akan meningkat.
Selain itu, sebagai sosok
yang paling dewasa di antara ketiga tunangan, Thea pasti bisa menjadi sandaran
emosional bagi Rena dan Christa saat mereka sedang kesulitan.
Sesuai peringatan Yang
Mulia, memang ada hal-hal yang harus kami waspadai. Meski begitu, aku sempat
berpikir bahwa masa depan keluarga Clover akan cerah. Namun—
“Thea-san. Coba jelaskan
apa maksud semua ini?”
“A-Aduh, Christa-dono.
Sakit! Telingaku bisa putus!”
“Hah, dia ini
benar-benar...”
Pada malam setelah
perayaan berakhir, Thea lagi-lagi berusaha mencoba menyelinap ke kamarku
Untungnya, sejak hari itu
aku selalu tidur bersama Rena setiap malam, jadi tidak terjadi hal-hal yang
gawat, tapi sepertinya aku benar-benar harus menetapkan peraturan.
“P-Padahal ini malam pertama
kami...”
“Urusan seperti itu Rena-san
yang memulainya duluan.”
“Ugh...”
Yah, keributan kecil
seperti ini lumayan menghibur juga, jadi biarlah.
Melihat Thea yang diseret
keluar secara paksa oleh Christa, begitulah kesimpulan yang terlintas di pikiranku
malam ini.



Post a Comment