Interlude
Thea Mayqueen
Keluarga Baronet Mayqueen, tempat Thea dilahirkan, adalah keluarga bangsawan yang hanya memiliki nama tanpa wilayah kekuasaan.
Kehidupan mereka tidak jauh berbeda dengan rakyat biasa, satu-satunya
pembeda hanyalah sebuah rumah kecil yang mereka miliki.
Sebagai anak pertama di Keluarga Mayqueen, Thea terpaksa harus mengurus
adik-adiknya.
Namun, mengurus di sini bukan sekadar menemani mereka bermain. Tugas
yang dibebankan kepada Thea adalah memenuhi biaya hidup adik-adiknya.
Hal ini terjadi karena sebagian besar penghasilan orang tuanya
dihabiskan untuk pergaulan sosial dengan sesama bangsawan, sehingga biaya hidup
untuk anak-anaknya tidak tercukupi.
Sejak usia sepuluh tahun, Thea mulai memikirkan cara untuk menafkahi
adik-adiknya.
Biasanya, anak-anak bangsawan akan bersekolah dan mendapatkan pendidikan
yang baik, lalu bekerja meneruskan bisnis keluarga atau bekerja di istana untuk
mendapatkan gaji yang cukup tinggi. Namun, Keluarga Mayqueen yang hanya
setingkat Baronet tidak punya uang untuk membayar biaya sekolah.
Artinya, ia tidak bisa melakukan pekerjaan yang membutuhkan pendidikan
formal. Kalau sudah begitu, Thea hanya punya satu jalan yang tersisa.
Pekerjaan bergaji tinggi yang bisa didapat tanpa pendidikan tinggi—yaitu
menjadi kesatria di bawah komando langsung kerajaan.
Syarat untuk masuk ke dalam kelompok kesatria adalah berasal dari
keluarga bangsawan (minimal tingkat Kesatria) dan memiliki kemampuan berpedang
yang hebat.
Walaupun miskin, Keluarga Mayqueen tetaplah keluarga Baronet. Ditambah
lagi, Thea percaya diri dengan bakat berpedangnya yang sudah ia asah sejak
kecil.
Tanpa ragu, Thea mendaftarkan diri pada perekrutan kesatria.
Hasilnya, Thea lulus tepat di ambang batas nilai kelulusan.
Nilai tes kemampuan pedangnya sangat luar biasa, tapi nilai ujian
tertulisnya hancur lebur, itulah sebabnya ia lulus dengan nilai pas-pasan. Namun,
setelah resmi bergabung, semuanya seolah menjadi panggung utama bagi Thea.
Di dalam kelompok kesatria, pendidikan tidak lagi menjadi hal utama,
semuanya dinilai berdasarkan kemampuan. Berkat kemampuan berpedangnya yang luar
biasa, Thea berhasil menyelesaikan berbagai masalah di dalam negeri, dan pada
tahun kelimanya ia dianugerahi gelar Sword Saint.
Saat itu Thea baru berusia lima belas tahun. Sejak saat itulah,
teman-teman kesatria wanitanya yang seangkatan mulai sering membicarakan soal
pertunangan.
(Biaya sekolah adik-adikku sudah aman, pasti aku juga
akan segera mendapat tawaran pertunangan yang bagus—)
Seorang wanita yang telah diakui sebagai Sword Saint dan memberikan
banyak jasa untuk negara, pasti akan banyak yang menginginkannya.
Thea berpikir seperti itu saat mendengar teman-temannya membicarakan
pertunangan, namun kenyataannya jauh berbeda.
Meski sudah melewati usia ideal untuk menikah, tidak ada satu pun
tawaran pertunangan yang datang padanya. Justru sebaliknya, para pria bahkan
menjauhinya, mungkin karena merasa terintimidasi oleh gelar Sword Saint
miliknya.
Tentu saja orang tua Thea juga pusing memikirkan hal ini. Mereka sudah
berkali-kali mengajukan tawaran pertunangan kepada kenalan sesama bangsawan,
namun semuanya selalu ditolak.
Bagi Thea yang telah mengorbankan sebagian besar hidupnya demi keluarga,
pukulan dari kenyataan ini sangatlah berat.
(Apa aku akan terus menjadi perawan tua yang menghabiskan
hidupnya hanya untuk mengayunkan pedang...?)
Jika seorang wanita belum menikah setelah melewati usia dua puluh tahun,
ia akan dianggap sebagai perawan tua.
Hidup di dunia yang memegang teguh anggapan tersebut, Thea terus
dihantui oleh rasa cemas.
Di saat itulah, Perdana Menteri memberitahukan bahwa pertunangannya
dengan Cirillo telah ditetapkan. Dan Thea benar-benar putus asa.
Thea tidak menyangka harus menyerahkan kesucian yang selama ini ia jaga
kepada Pangeran Kedua yang terkenal mesum dan menyukai wanita yang lebih tua.
Namun, di tengah keputusasaannya, secercah harapan muncul. Itu adalah
rumor mengenai Arl.
(Ternyata ada pria yang seperti dewa itu...!)
Thea langsung tertarik ketika mendengar rumor yang dibicarakan oleh
juniornya di kelompok kesatria.
(Arl Clover. Jika itu beliau, pasti...)
Itulah alasan Thea memutuskan untuk pergi ke Wilayah Clover sendirian.
※※※
Setelah berhasil sampai di Wilayah Clover dengan tubuh penuh luka, Thea
terlalu agresif mendekati Arl, yang berujung pada dirinya dijebloskan ke dalam
sel tahanan.
“Ugh... habis mau bagaimana lagi ‘kan..”
Di malam hari di dalam sel tahanan, Thea berbicara pada dirinya sendiri.
Arl ternyata pria yang jauh lebih baik dari yang Thea bayangkan. Memang
wajahnya terlihat biasa saja, tapi bentuk tubuhnya menunjukkan bahwa Arl rajin
melatih kemampuan berpedangnya.
Yang paling membuat Thea kagum adalah keberanian Arl untuk
menginterogasinya tanpa rasa takut sedikit pun, keberanian yang tidak pernah ia
temukan pada pria mana pun sebelumnya. Arl benar-benar pria pemberani seperti
yang dikatakan dalam rumor.
“Apa pun yang terjadi, aku harus membuat Arl-dono jatuh cinta padaku.”
Meski Thea sudah bertekad, bagaimana ia bisa bertemu Arl dengan
statusnya sebagai tahanan?
Melihat sikap Christa yang memasukkannya ke dalam sel, Christa pasti tidak
akan membiarkannya bertemu Arl.
Hari berikutnya pun tiba, dan Thea masih merasa pesimis.
Namun ternyata Arl datang menjenguknya dengan santai. Ditambah lagi, Arl
malah memintanya untuk mengajarinya berpedang.
Bagi Arl, ia hanya menganggap hal itu sebagai bentuk biaya kompensasi
karena Thea telah berusaha menyerangnya. Tapi bagi Thea, maknanya sangat
berbeda.
Karena Thea terlalu kuat, belum pernah ada pria yang memperlakukannya
seperti itu. Kegembiraan yang dirasakannya sungguh tak terkira.
Thea pun langsung menyetujui permintaan Arl.
Sejak hari itu, Arl datang menemuinya setiap hari dengan tujuan yang beragam,
kadang untuk berlatih pedang, kadang hanya untuk sekadar mengobrol santai.
Meski hanya sebentar, sekitar kurang dari satu jam, bagi Thea yang
hampir tidak pernah berinteraksi dengan lawan jenis selain keluarganya,
hari-hari bersama Arl adalah saat-saat yang sangat membahagiakan.
Sayangnya, kedamaian itu berakhir tiba-tiba.
Tunangannya, Cirillo, akan datang untuk menjemput Thea.
Tentu saja Thea sama sekali tidak ingin kembali ke negaranya. Jika ia
kembali, ia harus hidup bersama Cirillo.
Arl sempat kebingungan memikirkan cara untuk menghadapi Cirillo.
Di sisi lain, Thea sangat ingin menjadi tunangan Arl. Namun, ia ingin
hal itu terjadi karena Arl yang menginginkannya. Oleh karena itu, Thea sama
sekali tidak memaksa Arl untuk memilihnya.
Pada akhirnya, hingga hari kedatangan Cirillo tiba, Arl tak kunjung
memberikan jawaban pasti.
Lalu, di saat negosiasi dengan Cirillo berlangsung──
“Kami tidak bisa menyerahkannya.”
“Arl-dono. Tadi, Anda bilang apa?”
“Daripada menyerahkannya kepada Anda, lebih baik saya
yang mengambilnya.”
Tepat saat Cirillo membicarakan fantasi mesumnya, dan di saat Thea
diminta untuk diserahkan, Arl dengan lantang menyatakan bahwa ia akan
menjadikan Thea sebagai istrinya.
Pada detik itu juga, Thea merasakan kebahagiaan terbesar dalam hidupnya.
Namun, perasaan bahagia itu langsung tergantikan dengan sesuatu yang
jauh lebih besar lagi dalam sekejap.
“Saya mendengar cerita tentang tradisi Duel di Kerajaan dari Thea.”
“Jika Anda berkenan, bagaimana kalau kita menentukan
siapa yang berhak mendapatkan Thea lewat Duel?”
Arl tidak hanya sekadar memintanya untuk diserahkan, tapi ia menantang
Cirillo berduel untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan Thea.
Soal Duel itu, Thea pernah menceritakannya sebagai salah satu mimpinya
kepada Arl.
Sejak dulu Thea selalu mendambakan situasi di mana ada pria-pria hebat
yang bertarung dengan pedang sungguhan demi memperebutkan dirinya.
Thea menceritakannya kepada Arl karena mengira itu mungkin akan menjadi
perbincangan terakhir mereka, tapi ia tak menyangka Arl benar-benar
mewujudkannya.
Kebahagiaan Thea saat itu melonjak drastis, hingga rasanya takkan ada
lagi hal yang bisa membuatnya lebih bahagia dari ini seumur hidupnya.
Dan kemudian, Duel pun dimulai.
(Arl-dono. Berjuanglah...!)
Melihat Arl dan Cirillo yang saling unjuk kemampuan dalam pertarungan
pedang tingkat tinggi, Thea menyemangati Arl tercintanya dengan perasaan
layaknya seorang gadis kasmaran seutuhnya.
(Cirillo, pertahananmu terbuka. Arl-dono, serang di
sana!)
Saat Cirillo mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan, Thea semakin
antusias mendukung Arl.
“Sudah berakhir. Silakan menyerah.”
“...Ghk.”
Pada saat Arl dinyatakan sebagai pemenang Duel.
(Arl-dono. Aku menyukaimu.)
Thea benar-benar jatuh cinta seutuhnya pada Arl.
Ngmong-ngomong, dalam ingatan Thea, kejadian hari itu sudah berakhir di
titik ini.
Tindakan brutal Cirillo yang memanfaatkan pasukan pengawalnya karena
tidak terima dengan hasil Duel, telah dihapus bersih dari ingatannya, murni
karena Thea terlalu marah karena suasana romantisnya telah dirusak.
※※※
Karena tindakan Cirillo dianggap sebagai penghinaan besar terhadap
keluarga kerajaan Kerajaan Suci, butuh waktu lumayan lama untuk menyelesaikan
masalah ini, namun pada akhirnya Thea berhasil resmi bertunangan dengan Arl.
Mengingat di sana sudah ada Rena dan Christa, Thea tentu saja tidak
menjadi istri sah.
Meskipun begitu, Thea tetap merasa sangat bahagia. Karena Arl, pria yang
ia cintai, adalah pangerannya yang telah menghunus pedang dan bertarung demi
dirinya.
Hanya saja, kalau boleh jujur ada satu hal yang membuatnya tidak puas──
“Christa-dono. Aku juga ingin tidur bersama Arl-dono.”
“Tidak boleh. Urusan seperti itu, Rena-san yang berhak memulainya
duluan.”
Istri sah harus diutamakan, Thea tentu saja paham soal itu. Akan
tetapi──
(Aku ingin Arl-dono menjadi milikku seorang...!)
Begitulah yang dipikirkan Thea saat ia gagal menyelinap ke kamar Arl di
malam hari dan diseret pergi oleh Christa.



Post a Comment