Di dunia permainan yang hampir musnah, ketika aku
mengorbankan diri untuk mengalahkan musuh, semua orang menjadi sakit secara
mental 2
Kata Penutup
Salam kenal bagi
yang baru pertama kali bertemu, dan senang bertemu kembali bagi yang sudah
pernah berjumpa, saya Amagumo Baiu.
Terima
kasih banyak telah berkenan mengambil buku ini. Meskipun tulisan saya masih jauh dari sempurna,
saya sangat berharap kalian menikmatinya.
Setelah melewati
waktu yang cukup lama sejak volume pertama, karya kali ini cukup sulit untuk
dilahirkan. Ini adalah satu karya di mana saya terus melakukan revisi hingga
detik-detik terakhir dan sangat merepotkan pihak editor.
Namun, berkat
itu, saya merasa mampu mengasah unsur "kegelapan/kegilaan" (yami)
dalam cerita ini semaksimal mungkin.
Bagi saya,
"kegelapan" adalah sesuatu yang justru bersinar terang di tengah
kesulitan, di dalam pekatnya kegelapan itu sendiri.
Obsesi, cinta
yang mematikan, atau perasaan kasih sayang yang lembut yang lahir dari
kedalaman penderitaan dan kesedihan... Di volume kedua ini, saya berniat
menggali lebih dalam sisi tersebut.
Mikkanen yang
terus terpojok hingga jiwanya perlahan hancur, dan para heroin yang bergantung
padanya hingga ikut menderita sakit mental.
Bahkan karakter player
dari cerita asli yang muncul mulai volume ini pun membawa beban perasaan yang
sangat berat.
Khususnya di
volume ini, saya menyoroti Alhanzen-sensei. Mungkin ada beberapa dari kalian
yang membaca bagian kata penutup ini terlebih dahulu, jadi saya akan membatasi
pembahasannya.
Namun, Alhanzen-sensei
yang terus-menerus mengukur Mikkanen tanpa banyak bicara. Saya berharap bisa
menyampaikan bentuk kasih sayang yang samar namun tulus—di mana Alhanzen-sensei
tidak mengatakan apa pun kepada Mikkanen yang terpojok, namun tetap diam dan
setia berada di sisinya.
Hingga buku ini
bisa terbit ke dunia, ada bantuan yang tak terhitung jumlahnya. Mulai
dari koreksi, percetakan, promosi, hingga penjualan... Semuanya adalah hal yang
tidak bisa dilakukan sendirian.
Ilustrator Motto-sama telah memberikan ilustrasi yang luar
biasa, berlanjut dari volume pertama. Desain karakter seperti Radim sungguh
bergaya dan tidak akan terpikirkan oleh saya meski saya berusaha sekuat tenaga.
Dan yang terpenting, saya ingin mengucapkan terima kasih
yang sedalam-dalamnya kepada para pembaca sekalian yang sedang memegang buku
ini sekarang.
Berkat kalianlah
saya bisa membuat volume kedua ini. Masih ada banyak adegan "penyiksaan
mental" (kumorase) yang ingin saya tulis, jadi saya berharap bisa
bertemu kalian kembali di volume ketiga. Dengan ini, saya akhiri kata penutup
ini.
Amagumo Baiu
Cerita Sampingan
Kotak Logam
Sepasang mata
bulat itu menatapku lekat-lekat. Karena merasa canggung, aku perlahan
memalingkan muka.
"Itu, Alhanzen-sensei.
Bisakah kau berhenti menatapku?"
"Aku
berpendapat itu mustahil. Karena kotak logam yang kita masuki ini sangat kecil,
sehingga tidak ada cukup ruang bagi diriku untuk memalingkan kepala ke
samping."
Ya, saat ini kami
memang terjebak di dalam kotak logam yang dibuat oleh Alhanzen-sensei dalam
posisi yang sangat sempit.
Tentu saja, aku
dan Alhanzen-sensei terlipat sedemikian rupa hingga tubuh kami seolah saling
melilit, bahkan kehangatan kulitnya yang lembut pun bisa kurasakan.
Dalam situasi di
mana dahi kami bisa saja saling beradu kapan pun, aku hanya bisa menghela
napas.
Perkataan Alhanzen-sensei
adalah logika yang tak terbantahkan.
Hal yang bisa
kulakukan sekarang hanyalah mengenang kembali alasan mengapa kami berakhir di
posisi ini, sembari sedikit menumpahkan kekesalan dalam hati.
"Peri yang
melarikan diri setelah mendeteksi kekuatan sihir?"
Suatu hari, tugas
militer yang diberikan oleh Agrastein adalah sesuatu yang luar biasa, bahkan
bagi seseorang sepertiku yang belum pernah mendengarnya.
Konon,
ada jenis peri yang akan menyadari keberadaan Hunter saat mendekat, lalu
langsung melarikan diri.
Kabarnya,
sudah ada beberapa Hunter yang mencoba menangkap peri itu sebelum mereka
sempat kabur, namun semuanya gagal.
Karena
banyaknya prajurit yang kehilangan nyawa, Agrastein yang sudah kehabisan
kesabaran akhirnya menyerahkan tugas ini kepada kami.
"Meski
dikatakan begitu, tapi ini tetap saja sulit untuk dilakukan……"
Aku mengernyitkan
dahi.
Jika keberadaan
sihirku akan terdeteksi, tidak peduli seberapa keras usahaku, pada akhirnya
mereka pasti akan kabur. Bagaimanapun, aku adalah seorang Hunter.
Aku yakin
Agrastein sudah memikirkan hal itu, tapi apa sebenarnya rencananya? Aku merasa
heran.
Namun, jawabannya
segera ditunjukkan.
"Alhanzen,
gunakan benda itu untuk melenyapkan peri tersebut. Sisanya kuserahkan
padamu."
"……"
"!"
Tanpa kusadari, Alhanzen-sensei
sudah berada di belakangku. Dengan wajah yang tampak agak senang, dia menarik tanganku.
Sesampainya
di laboratorium, aku bertanya pada Alhanzen-sensei.
"Eh,
Alhanzen-sensei. Sebenarnya bagaimana cara agar peri itu tidak menyadari kita? Kita para Hunter terus-menerus
memancarkan kekuatan sihir, jadi kurasa kita tidak akan bisa
menangkapnya."
"Mikkanen,
benda inilah jawabannya."
Aku menatap ke
arah yang ditunjuk Alhanzen-sensei.
Di sana terdapat
sebuah kotak yang terbuat dari logam hitam. Ukurannya hanya cukup untuk
menampung satu orang.
"Ini adalah
kotak yang terbuat dari baja khusus yang kubuat dengan mencampurkan beberapa
logam ke dalam besi. Baja ini memiliki sifat menutup rapat semua kekuatan sihir
yang dipancarkan dari dalam."
Menurut Alhanzen-sensei,
meski masih ada beberapa kendala seperti berat dan kekerasannya untuk dijadikan
senjata, kotak ini setidaknya cukup untuk membuat seseorang bersembunyi di
dalamnya sambil menahan napas sampai peri tersebut muncul.
"Begitu
ya……"
Apakah karena
benda inilah Agrastein memberikan tugas militer ini kepada party kami?
Sembari menatap
kotak logam itu dengan saksama, aku bertanya pada Alhanzen-sensei.
"Jadi, kita
bawa benda ini ke garis depan, lalu aku masuk ke dalamnya sendirian, begitu
kan?"
"?" Mikkanen, bukan hanya kamu sendiri."
……Sepertinya
jawaban yang kudapat sulit dimengerti.
"Ah, begitu
ya. Maksudmu ada kotak lain, kan? Memang Alhanzen-sensei yang hebat, dia membuat beberapa prototipe
sekaligus."
"Tidak,
yang ada sekarang hanya ini."
"Eh?"
"?"
Alhanzen-sensei
memiringkan kepala, seolah tidak mengerti mengapa aku terkejut.
Dengan
ragu-ragu, aku mengangkat tangan untuk menunjukkan masalah terbesarnya.
"Bagaimanapun
juga, kotak ini sepertinya tidak mungkin muat untuk dua orang……"
"Berdasarkan
perhitunganku, tidak akan ada masalah asalkan kita menempelkan kulit kita
sedekat mungkin. Cukup Mikkanen menempel erat padaku, itu saja."
Begitu ya.
Karena tidak bisa
membantah sedikit pun, aku hanya bisa diam. Alhanzen-sensei sendiri tampak sama
sekali tidak keberatan, jadi tidak mungkin aku bisa mengeluh.
Demikianlah, kami
akhirnya terjebak di dalam kotak logam yang keras itu.
Tentu saja, tidak
perlu diceritakan lagi bahwa begitu peri tersebut muncul, aku melompat keluar
dengan tenaga yang bahkan mungkin menjadi yang terkuat dalam hidupku, lalu
segera merobek jantungnya tanpa ampun.
"Hm? Alhanzen,
bukankah kotak dalam desain ini agak terlalu kecil? Jika kau dan Mikkanen yang
akan masuk, bukankah seharusnya kau membuatnya lebih besar……"
"Berdasarkan
perhitunganku, sama sekali tidak ada masalah. Di masa perang, kita harus
menghindari pemborosan sumber daya sekecil apa pun."
Alhanzen
langsung menyanggah teguran Agrastein.
"Tapi,
bagaimanapun juga……"
"Ada
apa?"
Agrastein terus
mencoba meyakinkannya, namun Alhanzen menatapnya dengan lekat. Akhirnya,
Agrastein menyerah dan dengan bosan menandatangani desain tersebut.
"Baiklah,
baiklah terserah kau saja. Buatlah sesuai dimensi ini."
"Dimengerti."
Alhanzen
meninggalkan ruang kerja.
Langkahnya
terasa agak lebih ringan dari biasanya, membuat Agrastein menghela napas pelan.
"Mikkanen
memang pria yang penuh dosa, ya."



Post a Comment