Chapter
1
Sang
Jenius yang Terperosok dalam Obsesi
Aku menatap punggung pria yang bersimbah darah itu,
seolah-olah aku sedang diserang suatu penyakit.
Lukanya begitu dalam hingga jika aku memicingkan
mata, aku hampir bisa melihat tulang putih yang menyembul di baliknya.
Darah yang menetes dari mantelnya perlahan mewarnai
salju putih menjadi merah.
"Oooooooh......"
Raungan bagaikan gemuruh bumi mengguncang pegunungan
salju di malam hari. Dari balik bayang-bayang hutan, sesosok monster berwujud
raksasa muncul.
"Sepertinya itu Peri liar, merepotkan sekali.
Isfana, tetaplah beristirahat di sana. Biar aku yang membunuh makhluk
itu."
Dengan langkah gontai layaknya orang sakit yang sekarat,
pria itu berjalan menuju monster tersebut.
Aku meneriakkan perasaan yang membuncah dari lubuk hatiku
yang terdalam.
"Kenapa, meski sampai saat ini kamu masih berusaha
melindungiku! Bukankah kamu membenciku yang selalu mencaci dirimu bodoh, lalu
kenapa?!"
"Diamlah."
Mantelnya
yang sudah compang-camping tertiup angin.
Dibandingkan
dengan tubuh raksasa itu, pria yang tampak seperti kerikil kecil itu
menggenggam Longsword yang bilahnya sudah sangat usang. Tepat
di atas kepalanya, monster itu mengayunkan batu raksasa.
"Aku ini atasanmu. Tidak ada pilihan bagiku untuk
membiarkanmu mati, ataupun mati begitu saja."
Pecahan batu yang beterbangan melukai kulitnya.
Punggung yang terserempet lengan raksasa itu kini
mekar dengan warna merah yang begitu terang, membuat siapa pun tak sanggup
melihatnya.
Semua orang pasti akan sepakat bahwa tidak mungkin
ada yang bisa menang dalam kondisi ini.
Terlebih lagi, pria itu pasti adalah orang yang
paling menyadari kenyataan tersebut.
Namun, dia tidak melarikan diri.
Meski seharusnya dia bahkan tak mampu melangkah
dengan benar akibat pertempuran sengit sebelumnya, pria itu tetap menginjakkan
kakinya selangkah demi selangkah demi melindungiku yang berada di belakangnya.
Pertarungan itu, sama sekali tidak bisa disebut sebagai
pertarungan seorang pahlawan.
Monster raksasa itu begitu lamban, bahkan ia tidak mampu
mengejar langkah pria yang sudah tampak seperti orang tua tersebut.
Sang pria pun sama; sesekali dia harus bertumpu pada Longsword
miliknya agar tidak ambruk ke tanah.
Tetapi, meski begitu, pria itu tetap bertarung.
Punggung pria yang tampak seolah bisa tumbang hanya
karena embusan angin itu, sama sekali tidak terlihat seperti punggung pahlawan
yang dipuji sebagai sosok yang muncul seribu tahun sekali.
Namun, dia terlihat begitu keren dengan cara yang bodoh.
Pemandangan itu terpatri kuat di ingatanku. Ah, aku akan
mengikuti orang ini seumur hidupku, aku akan bertarung demi dirinya.
Itulah sumpah yang diucapkan oleh seorang pemburu bernama Isfana pada malam badai salju itu.
"Di dunia game yang berada di ambang
kepunahan umat manusia, setelah aku mengorbankan diriku untuk mengalahkan
musuh, ternyata semua orang sudah sakit secara mental/jiwa."
◆◆◆
Di tengah kota yang hancur, seorang prajurit baru
berlari.
"Hah, hah, hah."
Napasnya terengah-engah, matanya gemetar ketakutan akan
ajal. Sebuah bayangan hitam menaungi kepalanya.
Sambil menjerit, prajurit itu berguling ke balik
reruntuhan. Ia menembakkan senjatanya ke arah serigala raksasa—yang ukurannya
setara dengan lima ekor lembu—tanpa benar-benar membidiknya.
Suara tembakan yang memekakkan telinga menggema di
gang sempit yang kosong.
Beruntungnya, peluru prajurit itu melesat tepat ke kepala
sang binatang buas. Namun sialnya, peluru baja itu bahkan tak mampu menggores
sedikit pun bulu serigala tersebut.
Binatang itu memiringkan kepalanya seolah baru saja
dilempar kerikil kecil. Ia bahkan tidak tampak menyadari bahwa dirinya baru
saja ditembak.
"Hi, hiii..."
Prajurit itu mengeluarkan jeritan tertahan.
Sepuluh rekan seperjuangannya sudah habis dimangsa oleh
binatang buas yang menyerupai iblis ini. Teman-temannya yang berlatih sekuat
tenaga hingga bertaruh nyawa, bagi monster itu hanyalah camilan yang bahkan tak
layak disebut makan siang.
Seolah sedang menikmati rasa takut sang prajurit,
binatang itu berjalan mendekat dengan perlahan.
Prajurit
itu sudah menyerah untuk bertarung. Saat hendak meraih senjatanya, tangannya
gemetar hebat hingga tak mampu menggenggam, dan jarinya tak memiliki kekuatan
untuk menarik pelatuk.
Saat
itulah.
Seolah
menyadari keberadaan predator yang jauh lebih menakutkan, bulu kuduk binatang
itu berdiri. Sambil menggeram rendah, ia mengarahkan mata kuningnya yang
waspada ke ujung gang.
Terdengar
suara langkah kaki. Langkah yang ringan, seolah-olah seseorang sedang
berjalan-jalan santai.
Pria
yang mengenakan mantel compang-camping itu datang, dan serigala yang tadi tak
menganggap sang prajurit sebagai ancaman kini tampak ketakutan. Bagi si
prajurit, hal itu sungguh sulit dipercaya.
Angin
menggerakkan awan, membiarkan cahaya matahari menerobos masuk.
"A-Anda
adalah..."
Prajurit
itu mengenal betul wajah pria yang kini tersingkap di balik mantelnya.
Dulu,
ada empat peri yang tak sanggup dikalahkan oleh manusia, yang mendorong umat
manusia ke ambang kepunahan.
Peri-peri
yang ditakuti dan dicemaskan orang-orang, membuat manusia hanya bisa
bersembunyi. Peri-peri tak terkalahkan yang disebut sebagai Raja Iblis, yang
telah memusnahkan banyak pasukan.
Semua orang sudah menyerah dan yakin bahwa manusia akan
punah.
Namun, kenyataannya tidak demikian. Di tengah meredupnya
kejayaan umat manusia, muncul satu cahaya yang bersinar bagaikan meteor.
Ada seorang pahlawan legendaris yang mampu mengalahkan
mereka semua.
Namanya adalah Mikkanen.
Dia adalah pemburu terbaik yang dimiliki umat manusia.
"Kau bertahan dengan sangat baik sampai saat
ini."
Pria itu mencabut Longsword miliknya.
Melihat sosoknya, sang prajurit merasakan tekanan berat,
seolah dirinya sedang tenggelam di dasar laut.
"Kenapa diam saja? Tidak mau menyerang?"
Mikkanen tampak bersantai menghadapi binatang buas yang
terus menggeram itu. Ujung Longsword-nya diarahkan ke tanah, seolah ia
lupa sedang bertarung melawan peri.
Marah dan kehabisan kesabaran karena sikap itu, sang
binatang menerjang.
Penyelesaiannya sungguh di luar dugaan.
Saat Longsword di tangan Mikkanen tampak berkilat
sekejap, angin berembus kencang. Daging yang tadinya adalah seekor binatang
buas itu kini hancur berantakan di atas tanah gang.
Serigala yang bahkan tidak tergores oleh peluru prajurit,
tumbang hanya dalam satu tebasan. Si prajurit yang masih terpaku, menatap
Mikkanen yang kini berlumuran darah.
"Lukamu cukup parah, sebaiknya kau beristirahatlah
di sana."
Padahal serigala itu sudah mati, namun mata Mikkanen
tetap tajam.
Saat menyadarinya, mereka telah dikepung oleh kawanan
serigala raksasa. Binatang yang baru saja dibunuh Mikkanen hanyalah satu ekor
yang terpisah dari kawanannya.
Prajurit itu panik hendak meraih senjatanya, namun
tangannya gemetar hebat hingga tak bisa membidik.
Itu adalah monster serigala yang begitu menakutkan, dan
kini puluhan di antaranya muncul di hadapan mereka. Meski Mikkanen, yang dipuja
sebagai pahlawan, ada di sampingnya, si prajurit merasa hatinya hampir hancur
karena keputusasaan.
"Kau tidak perlu bertarung."
Nada suara Mikkanen yang tenang namun berwibawa
menenangkan prajurit yang ketakutan itu.
"Biar aku saja yang menghadapi mereka."
"...Ma-maafkan aku. Aku hanya menjadi beban, maafkan
aku."
Ia teringat kata-kata yang diucapkannya saat baru masuk
militer.
Ia bersumpah akan memusnahkan para peri dan menyelamatkan
umat manusia.
Namun, lihatlah dirinya sekarang. Ia bahkan tak mampu
menggenggam senjata, bersembunyi di balik punggung pahlawan layaknya seorang
anak kecil. Si prajurit merasa sedih dan sangat ingin menangis karena
ketidakberdayaan dirinya sendiri.
"Tidak perlu merasa malu karena merasa putus asa
atau karena kalah oleh rasa takut."
Terkejut oleh kata-kata yang seolah bisa menembus lubuk
hatinya, sang prajurit mendongak.
Yang ia lihat adalah punggung Mikkanen yang menyampirkan
mantel compang-camping di bahunya. Sebuah punggung yang begitu besar,
seolah-olah ia memikul nasib seluruh umat manusia seorang diri.
"Meski kau terjatuh ke tanah, meski butuh waktu
sepuluh tahun, jika kau bisa melangkah maju kembali, maka kau adalah
pemenangnya. Jadi, jangan terburu-buru, kembali saja ke sini lagi."
Setelah mengatakan itu, Mikkanen memunggungi sang
prajurit dan berjalan menuju para peri.
"Saat itu tiba, kita akan bertemu lagi. Aku tidak akan pernah melarikan diri dari medan perang."
Punggung itu tampak sangat bisa diandalkan, terlihat
keren layaknya pahlawan dalam dongeng.
Sang prajurit melihat cahaya harapan umat manusia pada
sosok Mikkanen tersebut.
◆◆◆
"Kapan aku bisa beristirahat! Aku sudah menjalankan
tugas militer selama tiga puluh hari berturut-turut, sialan..."
Setelah makan malam, aku merosot ke tempat tidur. Sambil
membenamkan wajah ke seprai, aku meluapkan segala emosi yang bergejolak di
dalam dada.
Lagipula, tadi bukannya kau bilang pada prajurit baru itu
kalau kau tidak akan lari dari medan perang?
Itu pasti bohong, bodoh sekali kalau percaya begitu saja.
Tidak mungkin ada orang yang menikmati hidup di medan perang, berlarian
sepanjang hari di tengah lautan darah dan daging peri.
Kalau saja bisa berhenti, aku sudah lama keluar dari
militer.
Tentu saja, awalnya aku pun bertarung dengan
mempertaruhkan nyawa.
Ingat saja, saat aku masuk militer, umat manusia sedang
berdiri di ambang kepunahan.
Karena kota-kota yang tersisa tinggal bisa dihitung jari,
aku menghabisi peri dengan membabi buta dan melakukan segala hal nekat. Entah
mengapa, aku malah dielu-elukan sebagai pahlawan.
Tapi, bagaimana dengan sekarang?
Keempat Raja Iblis yang telah menyiksa umat manusia
selama ratusan tahun sudah tiada. Manusia bahkan sudah mulai menembus Hutan
Peri, yang merupakan sarang musuh.
Dalam perang yang tak kunjung usai ini, secara
mengejutkan, umat manusia justru berada di atas angin.
Ibu kota yang direbut kembali dari peri kini makmur dan
berkembang, sementara jumlah pemburu—yang tadinya bisa dihitung jari—kini terus
bertambah.
Terus terang, meski aku tidak ada, umat manusia tidak
akan kalah dari peri.
Lagipula, ada satu hal yang kusembunyikan.
Aku menatap mantel yang menjadi bukti identitas pemburu
terkutuk yang dulu hanya bisa kulihat lewat layar. Aku tahu bahwa dalam
beberapa tahun lagi, umat manusia akan memenangkan perang melawan peri.
"Ah, aku terkejut sekali saat menyadarinya. Tidak
pernah terpikirkan olehku bahwa aku akan terlahir di dalam game aksi legendaris
'Fairy Hunter' itu."
Sesaat setelah lahir, aku sadar bahwa aku telah masuk ke
dalam dunia game. Aku menyadarinya karena secara kebetulan bertemu dengan
karakter yang muncul di skenario asli.
Game
itu adalah 'Fairy Hunter'.
Dunia di mana manusia dan peri terus terlibat dalam
perang berdarah selama ribuan tahun. Pemain berperan menjadi pemburu yang
membantai peri pemakan daging manusia, terus berlari di neraka yang entah kapan
berakhirnya.
Itulah skenario dari game sampah ini.
Ada musuh-musuh menyebalkan yang hanya bisa dikalahkan
jika kita memanfaatkan celah beberapa frame, serta gimmick yang tidak
akan disadari tanpa melihat situs panduan (walkthrough). Bahkan ada
pemain yang tidak bisa melewati tahap pertama.
Dulu saat memainkannya, aku sangat marah karena
terus-menerus diberi tantangan konyol. Tapi
saat menjadi mob di dalam game, aku justru sangat senang.
Pasalnya, tanpa melakukan apa pun, beberapa tahun lagi
karakter pemain dengan kekuatan cheat akan menyelamatkan umat manusia.
Tidak ada hal yang lebih melegakan dari itu.
"Sudah waktunya aku pensiun dari militer, tidak
masalah, kan?"
Sejak menjadi pemburu, aku terus bertarung berlumuran
darah peri di medan perang. Bukankah wajar jika aku meminta sedikit
kelonggaran?
Aku sudah muak dengan makanan militer.
Menu pagi, siang, dan malam hanyalah dendeng yang
terasa seperti karet dan sup yang hampir berupa air. Kalau di
medan perang, aku hanya bisa memakan roti keras yang bisa membuat gigiku patah.
Sudah sepuluh tahun sejak masuk militer, dan terus
seperti ini.
"Sudah sepuluh tahun aku memakan dendeng itu,
sesekali aku ingin memakan daging yang layak, steak atau apa pun itu."
Tapi, aku menekan wajahku ke bantal.
Meski aku secara tidak langsung mengatakan kepada
atasan bahwa aku ingin berhenti, dia hanya menanggapinya dengan senyuman.
Entah mengapa, atasan tampaknya tidak ingin
melepaskanku yang hanya pahlawan pajangan ini. Setiap kali aku mengutarakan
keinginan untuk berhenti, dia justru memberiku tumpukan dokumen atau tugas
militer yang berat.
Aku sudah muak diseret ke sana kemari di medan
perang.
Masalahnya, aku tidak mungkin menceritakan tentang
game ini kepada atasan.
Pasti dia hanya akan menertawakanku, menganggapnya
sebagai kebohongan agar aku bisa keluar dari militer. Dan aku
tidak yakin atasan akan mengizinkanku berhenti hanya dengan alasan seperti itu.
"Tapi, diriku yang sekarang berbeda. Aku
benar-benar sudah muak dengan kehidupan militer ini."
Bagaimanapun juga, aku harus membuat atasan setuju. Dan,
aku punya satu rencana.
"Benar, pengusiran! Hanya pengusiran
solusinya!"
Aku menemukan petunjuk dari cerita aslinya.
Meskipun atasan adalah orang brengsek yang akan melakukan
apa saja demi kemenangan umat manusia, ada satu mob yang berhasil lolos
dari genggamannya. Perbedaan satu mob itu dengan yang lain hanya satu
hal.
Mob itu diusir.
Karena ia terlalu sering membuat masalah dan terlibat
pertengkaran dengan karakter pemain, atasan pun angkat tangan dan mengusirnya
dari militer. Mungkin
ini adalah bad ending bagi orang lain, tapi bagiku, ini adalah harapan.
Aku
juga harus diusir karena dilaporkan oleh anggota timku.
Jika
dibandingkan denganku, atasan pasti akan cenderung memilih untuk mengusirku. Untungnya,
karena taktik-taktik konyolku selama ini, anggota tim sangat membenciku.
"Jika sudah sejauh ini, aku tidak akan pilih-pilih
cara. Memberi semangat pada anggota tim juga merupakan tugas seorang
pemimpin."
Sambil berbaring di tempat tidur, aku bersumpah.
Apapun yang terjadi, aku harus diusir. Aku akan
menghasut anggota tim untuk melaporkan segala hal buruk tentang diriku—baik
yang benar maupun tidak—kepada atasan.
◆◆◆
"Isfana. Kebetulan sekali kau di sini, ada yang
ingin kubicarakan."
Untungnya, aku tahu anggota tim mana yang sangat
membenciku sampai-sampai bisa mengusirku dalam sekejap.
"Singkat saja. Tidak ada yang lebih membuang waktu
selain mendengarkan omong kosongmu."
Prajurit yang sedang asyik bermain catur sendirian di
ruang santai itu mendecakkan lidah saat melihatku. Rambut pirang pendek yang
jatuh di bahunya serta mata merah yang menyerupai darah yang membeku, terasa
dingin seperti tanah utara.
Sempurna.
"Pertama-tama aku ingin bertanya, kau membenciku,
kan?"
"Hah, tentu saja. Aku yang merupakan jenius sihir
disisihkan ke bayang-bayang, sementara dirimu yang dielu-elukan sebagai
pahlawan... tidak sedetik pun aku menyukaimu."
Dia mengatakannya sambil mendengus sinis.
Luar biasa. Aku menghela napas lega di dalam hati.
Isfana Haiderad. Putri tunggal dari keluarga militer yang
turun-temurun menjadi pemburu, sekaligus jenius yang di usia empat belas tahun
sudah memiliki kemampuan sihir terbaik di antara manusia.
Mengabaikan bagaimana pandangannya terhadapku, dia adalah
pemburu yang bisa diandalkan saat melawan kawanan peri, jumlahnya bisa dihitung
jari.
Meskipun dia punya kekurangan karena suka meremehkan
orang lain sebagai orang bodoh, sekarang justru aku menyukainya.
Justru karena Isfana seperti itulah, dia membenciku—yang
dipuji-puji sebagai pahlawan—seolah-olah aku telah membunuh orang tuanya.
Dalam segala hal, dia sangat cocok untuk rencanaku saat
ini.
"Kalau begitu, kau pasti berharap aku
menghilang, kan?"
"Kau benar-benar tidak berguna, jangan tanya hal
yang sudah jelas. Kalau bukan karena peraturan militer, aku sudah lama
membantai dirimu."
Aku menang. Aku mengepalkan tangan di dalam hati.
Nah, setelah keluar dari militer, apa yang harus
kulakukan? Aku punya banyak uang dari hasil kerja di militer. Mungkin
aku akan kembali ke kampung halaman, lalu berpesta miras dengan teman-teman
desa sambil menceritakan kehidupan militerku.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan? Jangan bilang
kau baru sekarang peduli karena dibenci olehku?"
"Sebenarnya, aku berniat keluar dari militer.
Bagaimana, maukah kau membantuku agar aku diusir dari militer?"
Saat aku mengatakannya, aku merasa ada sesuatu yang aneh.
Mata merah yang biasanya kehilangan sisi manusiawi itu,
kini sedikit gemetar. Itu adalah hal yang baru pertama kali kulihat.
"Bo...hong, kan?"
Pion Ratu yang dipegang Isfana hancur. Mendengar suara itu, punggungku terasa merinding.
Ada yang tidak beres.
Aku yakin dengan apa yang kukatakan, karena selama
ini aku sudah berkali-kali hampir mati dalam pertempuran melawan para peri.
Insting yang selama ini kuandalkan kini berteriak kencang.
Isfana saat ini berada dalam level bahaya yang setara
dengan bencana alam. Insting itu seolah berbisik agar aku segera menganggap
semua pembicaraan tadi sebagai candaan saja.
"Te-tentu saja itu bohong. Tidak
mungkin aku berpikir untuk melarikan diri dari medan perang."
"Hahahaha. Begitu ya, bohong rupanya. Aku yang
jenius ini sampai dibuat kacau oleh kebohongan bodoh dari orang dungu
sepertimu."
Isfana tertawa sambil mencoba mengambil pion catur.
Namun, pion yang dijepit oleh tangannya yang gemetar itu menjerit nyaring
sebelum hancur berkeping-keping.
"Hmm, aneh sekali."
Isfana memiringkan kepalanya, persis seperti robot
yang algoritmanya rusak. Keringat dingin mulai mengucur deras membasahi
punggungku.
Karena gemetar ketakutan, aku memutuskan untuk segera
mundur. Sebaik-baiknya taktik perang adalah melarikan diri.
"Ah, bicara denganmu membuatku lupa waktu.
Ngomong-ngomong, aku harus menyelesaikan laporan itu. Sayang sekali aku tidak
bisa bicara lebih lama, permisi dulu."
"Fufu, aku hanya bicara hal-hal yang mudah agar
orang dungu sepertimu bisa menikmatinya."
Saat itu, Isfana sudah menghancurkan semua pion yang
tersisa. Aku segera bergegas meninggalkan ruang santai dengan
senyum palsu yang kupaksakan.
Saat itulah.
"……Cukup sudah kalau kau mau mempermainkanku."
Suara sedingin es yang membuat bulu kuduk berdiri
terdengar dari belakang.
Dalam sekejap mata, lenganku dicengkeram dan aku
dihempaskan ke lantai. Isfana, yang kini tidak lagi menunjukkan tawa meremehkan
seperti biasanya, menindih tubuhku.
Ia menyentuh pipiku dan memaksa matanya yang semerah
darah itu menatap tajam ke arahku.
"……"
Isfana terdiam membisu. Sambil merasa ngeri melihat
tatapannya yang kehilangan fokus itu, aku benar-benar tidak paham mengapa dia
begitu marah.
Bukankah dia sendiri yang selama ini bilang kalau dia
membenciku atau ingin membunuhku?
"……"
Isfana tetap diam, kaku seperti batu.
"Hei, hei. Menyingkirlah."
Sambil gemetar, aku mulai tidak sabar.
Aku mencoba memberi perintah layaknya seorang atasan,
tapi Isfana tidak bergeming sedikit pun. Aku bahkan ragu apakah dia masih bisa
mendengar kata-kataku.
"……Mana mungkin aku memaafkanmu."
"Ap-apa yang kau katakan barusan?"
Dia menggumamkan sesuatu, tapi suaranya terlalu kecil
hingga aku tidak bisa mendengarnya sama sekali.
Setelah keheningan sesaat.
"Mana mungkin aku memaafkanmu karena meninggalkanku
dan melarikan diri!"
Isfana berteriak meledak-ledak.
"Kau akan menghabiskan sisa hidupmu bertarung
bersamaku di sini! Kau tidak boleh lari atau mati sendirian, aku pasti akan
mengejarmu sampai mati!"
Ah, ini sudah gawat.
Wajah Isfana memerah karena marah, giginya tampak
menyeringai. Aku harus pasrah karena menyadari bahwa cara membujuknya dengan
tenang sudah tidak mungkin lagi.
"Hei, dengarkan aku bicara!"
Aku mendengarnya, tentu saja. Tapi setelah
mendengarnya, aku yakin tidak mungkin bisa bernegosiasi dengan Isfana yang
sekarang. Dalam situasi seperti ini, cara terbaik bagi seorang prajurit adalah
menggunakan kekerasan.
"Permisi."
"Eh, apa—?"
Aku melingkarkan tanganku di leher Isfana dan
mengerahkan tenaga. Isfana yang posisinya kini seolah sedang dipeluk, sempat
merona merah sejenak.
Aku tidak menyia-nyiakan celah itu. Aku langsung
menghantam titik saraf di lehernya dengan teknik neck chop.
"Kyuu..."
Isfana mengerang pelan sebelum akhirnya jatuh
pingsan.
Untung saja ini adalah dunia game.
Kalau tidak, teknik yang mustahil dilakukan di dunia
nyata ini tidak akan mungkin berhasil.
Aku mendudukkan Isfana yang tak sadarkan diri di sofa
ruang santai.
Setelah itu, aku kabur dari ruang santai dengan
sisa-sisa tenaga yang ada.
◆◆◆
Setelah bersembunyi di ruang loker cukup lama, aku
melihat lampu mulai meredup dan memutuskan untuk kembali ke tempat tidur dengan
langkah gontai.
Sungguh, hari ini benar-benar hari yang buruk.
Sambil menundukkan kepala, aku merenungi pertengkaran
di ruang santai tadi.
Padahal itu hanyalah ide iseng demi mewujudkan
impianku untuk diusir, tapi siapa sangka hasilnya malah jadi seperti ini.
Aku bergidik ngeri saat mengingat kemarahan yang membara
di mata merah Isfana.
Lagipula, Isfana juga berlebihan.
Hanya karena aku bilang ingin keluar dari militer, tidak
perlu sampai semarah itu, kan?
Yah,
besok Isfana pasti sudah tenang. Dia pasti akan kembali mengejekku dengan tawa
meremehkannya yang biasa.
Sambil berpikir optimis seperti itu, aku membuka pintu.
"Lama sekali, Mikkanen. Dari mana saja kau?"
Di dalam kegelapan tanpa cahaya lampu, Isfana sudah
menungguku.
Si jenius berambut pirang itu duduk di tempat tidur,
menatapku tajam dengan mata semerah darah. Rasa takut yang menusuk tulang
belakang membuat kesadaranku hampir menghilang.
Aku memaksakan kata-kata keluar dari tenggorokanku.
"Kenapa kau ada di sini?"
"Apakah kau sebodoh itu sampai melupakan kata-katamu
sendiri? Bukankah kau yang mengajak bicara di ruang santai tadi? Jangan harap
kau bisa lolos begitu saja."
Perlahan, sungguh sangat perlahan.
Isfana berjalan mendekat dengan tatapan mata yang
bergetar. Dari kedalaman matanya, terlihat kegelapan pekat yang
kelam dan stagnan. Instingku membunyikan alarm peringatan dengan
nyaring.
Ini benar-benar gawat.
Dikuasai rasa takut, aku mencoba membujuknya dengan
segala macam kata-kata.
"Baiklah, kalau kau sebenci itu, aku akan
membatalkan niatku untuk keluar dari militer. Jadi, masalah selesai, kan?"
Isfana tetap diam dan melangkah maju satu langkah lagi.
Lalu, seolah beban yang menghantuinya telah hilang, dia
bergumam pelan.
"Maafkan aku."
Aku terperanjat mendengar kata-kata yang tak terduga itu.
Kalimat yang mustahil diucapkan oleh Isfana, seseorang
yang percaya bahwa dirinya adalah yang paling hebat di dunia ini. Itu adalah
permohonan maaf pertama yang pernah kudengar darinya.
"Aku kehilangan kendali dan membiarkan emosi
menguasai diriku, itu tidak seperti diriku biasanya. Setelah memikirkannya, aku
merasa malu dengan ketidakdewasaanku."
Isfana menunduk, tampak patuh.
Melihat pemandangan yang baru pertama kali kulihat ini,
aku merasa seolah sedang bermimpi. Aku pun membalas permintaan maafnya.
"Tidak, aku juga minta maaf karena sudah melontarkan
lelucon seperti itu. Aku akan lebih berhati-hati setelah ini."
Ah, syukurlah.
Dengan begini, mulai besok aku bisa bertemu Isfana yang
seperti biasanya. Ejekan dan hinaan yang dulu sangat kubenci, entah mengapa
sekarang justru terasa dirindukan saat tidak terdengar lagi.
Aku menghela napas lega dalam hati.
"Hm?"
Namun, sebuah dentuman besi yang kering dan berat
terdengar.
Dengan gemetar, aku melirik ke pergelangan tanganku.
Sebuah borgol raksasa seperti yang biasa dipakai para
narapidana kejahatan berat kini melingkar di tanganku. Dan di ujung rantai yang
terhubung dengannya adalah Isfana.
"Hei, Isfana. Ini
maksudnya apa..."
"Aku sudah memikirkannya. Sepertinya aku terlalu
memanjakanmu. Karena terlalu percaya padamu, makanya hal seperti ini terjadi.
Kalau begitu, aku hanya perlu memastikan kau tidak bisa lari, sesederhana itu,
kan?"
Tawa kering menggema.
Mulutnya tersenyum, tapi cahaya di matanya telah hilang.
Isfana yang kini terhubung denganku lewat borgol itu tampak tenang, tapi jelas
ada sesuatu yang rusak di dalam dirinya.
"Ka-kan tadi kau bilang tidak akan lari!"
"Apa kau benar-benar mengira aku percaya padamu?
Dasar dungu. Mulai sekarang, jangan pernah menjauh dariku, dengan begitu kau
tidak akan punya waktu luang untuk memikirkan hal-hal konyol seperti melarikan
diri."
Seolah pembicaraan sudah berakhir, Isfana bersiap
masuk ke dalam tempat tidur. Aku panik dan mencengkeram bahunya
untuk menahan.
"Ma-mana mungkin itu bisa dilakukan...! Lagipula,
kalau terikat rantai seperti ini, aku tidak bisa bertarung dengan benar!"
"Berisik, makanya orang dungu itu menyusahkan. Nanti
saat bertarung melawan peri, aku akan memikirkannya, jadi tidak masalah,
kan?"
Isfana menguap, menganggap protes mati-matianku sebagai
omong kosong.
"Ta-tapi pasti ada hal-hal yang tidak nyaman bagimu
maupun bagiku. Saat tidur saja kita tidak bisa menjaga jarak, lalu bagaimana
dengan kamar mandi atau saat mandi?"
"Kita gunakan tempat tidur yang sama saja. Lagipula,
aku... ah, aku tidak keberatan melihat hal-hal itu."
Aku tertegun mendengar ucapannya sembari wajahnya sedikit
merona.
Kegilaan ada di depan mataku.
"Tapi..."
"Diamlah, cepat masuk ke tempat tidur!"
Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan kekuatan
yang luar biasa.
Aku diseret ke tempat tidur, dan Isfana langsung
memelukku.
Mata semerah darah itu menatapku lekat-lekat. Rasanya seperti seekor katak yang sedang ditatap oleh ular.
Dengan situasi seperti ini, mana mungkin aku bisa
beristirahat dengan tenang?
◆◆◆
"Pfft, fufu... itu benar-benar nasib buruk,
ya."
"Diamlah, apa kau pikir aku tidak tahu kalau kau
sedang menertawakanku?"
Di sudut ruang makan. Aku menelungkup di atas meja
sambil menatap tajam salah satu anggota tim yang sedang berusaha menahan tawa.
Rambut perak panjangnya mengalir di bahu bagaikan air
lelehan salju dan bergoyang di pinggangnya.
Mata birunya yang biasanya jernih seperti sungai,
kini bergetar karena menahan tawa.
Namanya adalah Morgraid.
Orang tanpa hati yang menjadikan kemalangan orang
lain sebagai hiburan sambil minum.
Dan yang sangat menyusahkan, dia adalah satu-satunya
anggota tim yang bisa kuajak bicara tentang apa yang kurasakan.
Sebagai rekan seperjuangan sejak lama, hanya pada dia aku
tidak bisa berbohong.
"Ini pertama kalinya kau mengizinkan seorang wanita
masuk ke tempat tidurmu, kan? Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Mata merah itu bersinar terang di kegelapan malam,
terpatri dalam ingatanku dan tidak bisa hilang. Meskipun nantinya aku punya
kekasih baru, ingatan malam itu pasti akan muncul kembali dan menjadi
trauma."
"Hi-hiii! Sudahlah, aku tidak tahan lagi, aku bisa
mati tertawa!"
Morgraid berguling-guling sambil tertawa
terpingkal-pingkal.
Aku yang merasa sudah kehilangan semangat hidup
mengutuk pemburu brengsek yang sedang tertawa puas ini.
Aku ingin menonjok diriku sendiri karena
sempat-sempatnya curhat pada orang seperti ini. Dia bukan temanku, dia adalah
musuh!
Morgraid yang sempat mengalami kejang-kejang karena
tertawa terlalu keras akhirnya mulai tenang meski terlihat tersiksa. Sambil
tetap menyeringai, dia menanyakan kelanjutan ceritaku.
"Jadi, bagaimana caramu kabur? Kalau mendengar
ceritamu, bukankah kau dirantai dengan borgol dan bersama Isfana sepanjang
malam?"
"Saat Isfana memejamkan mata, aku memutus rantainya
lalu kabur. Setelah itu, aku bersembunyi di bawah sofa ruang santai sampai
pagi, dan sekarang aku baru bisa makan."
Morgraid
menatapku dengan wajah tak percaya.
"Sambil
mengeluh soal Isfana, kau sendiri ternyata cukup nekat juga, ya."
Jangan
bicara yang tidak-tidak, bukankah orang yang membawa-bawa borgol itu yang tidak
waras?
Di dalam hati, aku menyanggah perkataan Morgraid.
Dendeng yang baru saja kukunyah terasa asam entah mengapa. Aku
menghela napas pada makanan militer yang bahkan lidah bodohku pun tahu rasanya
sangat buruk.
Meski di medan perang makanan adalah barang berharga yang
harus dimakan, tetap saja.
Di nampan Morgraid hanya ada secangkir teh dan sebutir
kenari. Nafsu makannya memang selalu kecil seperti biasa.
"Kita sudah lama bertemu, tapi aku belum pernah
melihatmu memakan makanan yang layak."
"Ya ampun, kan aku ini perempuan. Aku hidup hanya
dengan teh dan buah-buahan."
Aku bermaksud mengutarakan rasa penasaranku selama
bertahun-tahun, tapi dia menanggapinya dengan santai seolah itu hanya candaan.
Morgraid memang pandai menutupi jati dirinya yang misterius dengan kabut
rahasia.
Namun, sungguh menyedihkan bahwa aku hanya punya teman
konyol seperti ini untuk diajak berkeluh kesah. Aku menghela napas dan
memutuskan untuk menumpahkan segala kekesalanku.
"Pertama-tama, bukankah Isfana yang mengamuk
gara-gara lelucon konyol seperti itu sangat keterlaluan? Bukankah dia harusnya
senang karena dia selalu bilang membenciku?"
Aku mendongak, berharap Morgraid akan mengangguk setuju.
Namun, yang kulihat justru sebaliknya.
Temanku itu menatapku dengan wajah yang justru terlihat
menarik diri.
"Jangan bilang kau benar-benar tidak paham alasan
kenapa Isfana marah?"
"Memang, ada yang salah dengan itu?"
"Itu sudah keterlaluan sampai-sampai aku kehilangan
kata-kata. Tidak, ini mustahil. Bahkan untuk standarku, ini sudah
kelewatan."
Morgraid memeluk bahunya sendiri, menjaga jarak dariku.
Aku merasa sudah mengatakan kebenaran yang logis, jadi
kenapa aku yang harus disalahkan? Aku merasa tersinggung melihat sorot mata
Morgraid, seolah dia sedang melihat orang yang sangat bodoh.
"Dari pembicaraan tadi, bagian mana yang salah? Aku hanya mencoba bertindak secara tenang dan damai sesuai dengan akal
sehat."
"Tidak, aku bisa tegaskan satu hal ini. Kau
benar-benar musuh wanita, Mikkanen."
Aku tidak mengerti logika kenapa aku malah disalahkan
oleh Morgraid, orang yang seharusnya membantuku. Tapi, karena aku tidak mau
terus-terusan diceramahi olehnya, aku segera mengalihkan pembicaraan.
"Omong-omong, di mana Profesor Alhanzen dan
Ingrasius?"
"Profesor tidak akan keluar dari laboratorium
selama lima hari ke depan. Ingrasius sedang dalam bulan perayaan, jadi dia
terus-menerus memanjatkan doa kepada Dewa."
Saat aku bertanya tentang anggota lainnya yang tidak
terlihat, ternyata mereka tidak akan muncul untuk beberapa saat. Memikirkan hal
itu membuat wajahku memucat.
Itu berarti aku tidak bisa mengandalkan siapa pun di
tim ini!
Morgraid tersenyum nakal dan mengedipkan sebelah
matanya.
"Aku kan perempuan yang pengertian. Untuk
sementara, aku akan diam saja. Aku hanya akan menikmati pemandangan saat kau
dan Isfana mempererat ikatan kalian."
"Kumohon, tolong jangan lakukan itu."
Aku segera membenamkan wajahku ke meja dan memohon pada
Morgraid. Sambil mengaduk tehnya dengan sendok, Morgraid
berpura-pura mempertimbangkan dengan penuh kesenangan.
"Hmm, aku merasa lebih suka pada Isfana daripada
orang yang suka mempermainkan perasaan wanita sepertimu. Bagaimana, ya?"
"Sudah kubilang, berhenti bicara seolah-olah aku
menyakiti Isfana. Itu sama sekali bohong."
"Haah, kau masih mau bilang begitu?"
Saat Morgraid menghela napas menyanggahku, tiba-tiba
terdengar teriakan penuh amarah yang menggema di ruang makan. Sepertinya Isfana
baru menyadari ketidakhadiranku dan datang mencari.
"Hei, Mikkanen! Meninggalkan aku si jenius ini, kau
mau lari ke mana!"
Bahu aku spontan bergetar ketakutan. Melihat itu,
Morgraid tertawa dengan sangat puas.
"Mikkanen ada di sini, lho. Katanya dia tidak tahan lagi dengan Isfana."
"Dasar bodoh!"
Aku segera menendang kursi dan berlari. Sambil
melarikan diri dengan nampan di tangan, aku mendengar gumaman Morgraid dari
belakang, suaranya terdengar jernih seperti denting lonceng.
"Yah, aku akan memberimu satu petunjuk. Cobalah berpikir baik-baik tentang Geis milik Isfana."
◆◆◆
"Jadi, malam ini kau berniat menguasai tempat
tidurku lagi?"
"……Berisik."
Isfana mencengkeram erat lengan bajuku sambil memalingkan
wajah.
Lengan kurusnya dan pergelangan tanganku kini terikat
oleh tiga borgol yang jauh lebih besar dari yang dipakai semalam. Rantai itu
mengikatku dengan kuat, seolah menggambarkan perasaannya sendiri.
Tampaknya dia sangat tidak suka karena aku memutus borgol
dan kabur semalam.
Sejak pagi aku terus beralasan ada tugas militer untuk
menghindari Isfana, tapi akhirnya tertangkap juga saat jam makan malam. Di tengah Morgraid yang tertawa terpingkal-pingkal, aku diseret sampai
ke kamar.
Morgraid sempat bilang kalau Isfana itu gadis yang
imut. Aku sangat ingin bertanya padanya, bagian mana dari orang yang suka
merantai orang lain itu yang terlihat manis?
Namun, kalau aku bisa diikat hanya dengan rantai
besi, aku tidak mungkin dijuluki sebagai pahlawan. Aku akan mencari celah lagi
untuk bersembunyi di sofa ruang santai malam ini.
Saat aku berpikir begitu, Isfana melirikku dengan
tajam.
"Kuberitahu padamu, jika malam ini kau berani
kabur lagi, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan padamu."
"Iya, iya."
Genggamannya di tanganku semakin mengerat.
Sambil mengatur napasnya yang pendek, Isfana bersandar di
bahuku seolah sedang menekan monster yang ada di dalam dadanya. Kuku-kukunya
yang tajam melukai kulitku menembus kain baju.
"Ini bukan ancaman. Sekarang, aku benar-benar tidak
tahu apa yang mungkin aku lakukan."
Saat aku memperhatikan matanya, dia ternyata gemetar
ketakutan. Bahkan Isfana pun takut akan apa yang mungkin dia lakukan jika
dikuasai amarah. Aku kehilangan kata-kata.
Kenapa? Hanya itu yang ada di kepalaku.
Bukankah Isfana yang selalu mencaci diriku sebagai orang
dungu? Bukankah dia yang selalu mengerutkan kening setiap kali aku dipuji
sebagai pahlawan?
Bukankah Isfana yang membenciku?
Meski ada banyak hal yang tidak kumengerti, ada satu hal
yang kusadari. Isfana yang sekarang sudah berbeda, dia menjadi sangat
berbahaya.
"Ah, malam ini saja aku tidak akan kabur. Aku akan
tetap di sini."
"Janji itu, aku pegang ya."
Ucap Isfana dengan suara yang nyaris menangis.
Isfana hanya mengenakan piyama dengan bahu yang terbuka. Punggungnya terlihat kecil dan gemetar; sesuatu yang bisa meledak kapan
saja.
Saat kami masuk ke tempat tidur, dia memelukku dengan
erat.
Kehangatan yang menembus kain dan dinginnya rantai
yang terikat berat terasa sangat nyata.
Saat berada di tempat tidur, aku membatin kata-kata
yang diucapkan Morgraid pagi tadi.
"Geis..."
Sihir di dunia ini, entah itu milik manusia atau peri,
memiliki kekuatan yang terasa seperti mukjizat Tuhan.
Sihirku sendiri adalah kemampuan untuk terus bertarung
melawan musuh, tidak peduli seberapa parah luka yang kuderita atau seberapa
hancur tubuhku.
Kekuatannya benar-benar konyol; jika dibunuh aku akan
hidup kembali, jika terluka lukanya akan pulih, dan jika disegel di dalam batu,
aku akan menghancurkan segel itu bersama batu-batunya.
Namun, sihir itu bukanlah kekuatan ajaib yang bisa
mengabulkan segalanya. Tentu saja, ada aturan mainnya.
Misalnya, satu jiwa hanya bisa memiliki satu jenis sihir.
Tidak peduli seberapa hebat seorang pemburu atau betapa
mengerikan seorang peri, hukum ini tidak bisa dilanggar. Bahkan jika ada sihir
yang meniru sihir lain, pada dasarnya itu tetaplah satu sihir.
Misalnya, sihir itu adalah bawaan sejak lahir.
Orang yang bisa mendapatkan sihir sudah memilikinya sejak
lahir. Entah menyadarinya saat masih bayi atau saat sudah tua, sihir tidak bisa
diwariskan atau diturunkan.
Misalnya, kekuatan itu bergantung pada energi sihir.
Tidak peduli seberapa hebat sihirnya, jika energi sihir
habis atau cadangannya kecil, kekuatan sihir akan menurun drastis.
Dan ada aturan yang dimiliki manusia tapi tidak dimiliki
peri.
Itulah Geis.
Geis adalah tabu yang dimiliki manusia
sejak lahir seperti sihir, sebuah sumpah yang tidak boleh dilanggar jika
seseorang ingin mendapatkan sihir.
Berbeda dengan peri, manusia baru bisa menggunakan sihir
setelah terikat oleh sumpah ini.
Entah karena keisengan Tuhan atau memang untuk membuat
game ini lebih mendebarkan, Geis ini biasanya merupakan hal yang sangat
sulit dilakukan bagi sang pemburu.
Misalnya Geis milikku adalah "harus terus
bertarung", yang tentu saja sangat merepotkan.
Jika aku berpikir sedikit saja ingin kabur atau merasa
tidak bisa menang, kekuatan sihirku akan turun drastis. Itu seperti sindiran bagi diriku yang selalu ingin berhenti dari
militer.
Yang paling parah adalah sihir itu berhenti bekerja
saat pertempuran berakhir.
Begitu tidak ada musuh lagi, luka yang kuderita tidak
akan sembuh. Aku sudah tak terhitung berapa kali hampir kehilangan nyawa karena
kondisiku hancur setelah pertempuran sengit.
Benar-benar sihir yang konyol.
Lalu,
bagaimana dengan Geis Isfana? Itu sangat sesuai dengan pribadinya.
"Kalau
tidak salah, itu adalah memiliki seseorang yang bisa ia sumpahi kesetiaan
dengan sepenuh hati."
Itu pasti sumpah yang sangat sulit bagi dia.
Sulit membayangkan Isfana akan setia sepenuh hati pada
seseorang. Dia memiliki harga diri yang tinggi, bahkan perintah dariku sebagai
atasan saja sering dia tolak.
Namun faktanya, Isfana memiliki sihir yang pantas
menyandang gelar jenius.
Itu berarti dia menjaga Geis-nya, dan entah di
mana di dunia ini, ada orang yang kepadanya dia bersumpah setia. Aku sama
sekali tidak bisa membayangkan bagaimana caranya membuat Isfana sampai bertekuk
lutut.
Diam-diam, aku menghormati orang itu.
Tapi, apa hubungannya Geis itu dengan Isfana
yang terus menempel padaku? Morgraid tidak pernah berbohong saat bicara seperti
itu, justru karena itulah aku jadi bingung.
Saat itu larut malam, tak lama setelah lampu dipadamkan.
Aku terbangun tiba-tiba karena merasa sangat panas dan
sesak. Panas tubuh seakan melekat di tangan dan kakiku, membuatku sulit tidur.
Aku segera tahu apa penyebabnya.
Sepasang kaki putih yang ramping melilit tubuhku.
Layaknya seorang anak kecil, Isfana tidur dengan
menempel erat di punggungku. Panas tubuh Isfana perlahan merambat ke kulitku,
dan lengannya yang memeluk kemejaku terasa jauh lebih kuat dari yang
kubayangkan.
"Panas sekali, menyingkirlah."
"……"
Meski aku mengeluh dengan kesal, hanya kesunyian yang
kudengar.
Saat aku menghela napas dan memejamkan mata, kemejaku
terasa basah oleh kelembapan yang menyebar di punggungku.
"Isfana?"
"Jangan, aku tidak mau sendirian lagi……"
Dia gemetar hebat seolah akan hancur kapan saja.
Sambil membenamkan wajah di punggungku, Isfana
mengigau. Tangannya yang mencengkeram kemejaku semakin menguat.
Kuku-kukunya menusuk sampai terasa sakit. Apakah dia sedang bermimpi buruk? Isfana
terus menekan kepalanya ke arahku sambil menitikkan air mata.
Tetesan air mata yang jatuh dari mata Isfana membasahi
kemejaku dengan hangat.
"Mikkanen, Mikkanen, jangan pergi, jangan
pergi……"
Namaku tiba-tiba disebut, membuat hatiku terasa sakit.
Isfana yang sekarang tidak menunjukkan nada sinis atau
ejekan seperti biasanya. Yang ada hanyalah seorang gadis yang ketakutan seperti
anak hilang, gemetar mencari pegangan.
Aku tidak mengenal Isfana yang seperti ini.
Isfana yang selalu mencemoohku sebagai orang dungu,
mengerutkan kening saat diajak bicara, dan dengan jelas mengungkapkan
ketidaksukaannya padaku, kini menangis dan memohon padaku.
Kenapa, kenapa kau memanggil namaku dengan begitu
sedih?
"Tidak, tidak, Mikkanen. Kumohon, jangan tinggalkan
aku……"
Isakan tangis itu perlahan pecah di tempat tidur. Aku belum pernah mendengar Isfana berkata seperti itu, dan aku hanya bisa terdiam membisu.
◆◆ Selingan: Monolog Seorang Jenius ◆◆
Ayahku dulu adalah orang yang dungu. Ibuku pun sama.
Ayah dan Ibu adalah prajurit, dan mereka tewas di medan perang setelah dibunuh oleh peri.
Peri sendiri memiliki perbedaan kekuatan. Peri yang bisa dibunuh oleh peluru tentara atau hujan tembakan artileri hanya disebut sebagai "Peri" biasa. Peri yang hanya bisa dibunuh dengan sihir dan menjadi lawan bagi para pemburu adalah "Peri Besar".
Lebih dari itu, peri yang hanya bisa dilawan oleh pemburu kelas satu disebut sebagai "Bencana".
Terkadang muncul pula peri yang melampaui level Bencana, namun karena jumlahnya sangat sedikit, hal itu jarang dibicarakan.
Empat peri yang ditakuti sebagai Raja Iblis tentu saja semuanya adalah peri yang melampaui level Bencana. Hanya peri-peri terpilih dalam jumlah terbataslah yang disebut melampaui level Bencana.
Lantas, peri jenis apa yang membunuh ayah dan ibuku?
Tentu saja, peri biasa.
Karena mereka berdua adalah pemburu tanpa bakat, saat mereka lengah sedikit saja, mereka terbunuh oleh peri yang bahkan bukan level Bencana maupun Peri Besar, melainkan peri yang benar-benar biasa.
Mau bagaimana lagi, karena mereka memang orang dungu.
Ayah yang kembali ke rumah sudah dalam keadaan tanpa kepala. Dikatakan bahwa di tengah gempuran ganas peri, mustahil untuk mencari bagian tubuh seperti itu.
Ibu bahkan tidak pernah pulang. Itu hal yang wajar karena dia dimakan oleh peri. Tulang, daging, bahkan potongan jarinya pun tidak tersisa. Sebagai gantinya, militer memberikan medali penghargaan.
Itu bukanlah bonus yang didapat karena jasa yang hebat, melainkan sekadar suplemen karena mereka sudah mati.
Karena tidak kubutuhkan, aku membuangnya ke selokan di dekat rumah. Aku tidak benar-benar peduli, tapi sesuai dengan wasiat, kubatu nisan mereka diletakkan di tempat yang bisa memandang seluruh kota tempat mereka lahir dan dibesarkan.
Keluarga yang ditinggalkan pemburu akan menerima banyak uang dari militer dan negara.
Aku membakar semuanya lalu bergabung dengan militer. Aku tahu bahwa aku berbeda dari orang-orang dungu di luar sana, berbeda dari pemburu tanpa bakat seperti orang tuaku.
Sejak kecil, aku sudah memiliki bakat sihir. Orang tuaku memujiku sebagai seorang jenius.
Dulu, aku pernah diajak orang tuaku bertemu dengan rekan-rekan pemburu mereka. Karena ayah dan ibu adalah pemburu senior, banyak pemburu muda yang mengagumi mereka sebagai veteran.
Di sana, aku menunjukkan kemampuan sihirku.
Melihat mata para pemburu di sekeliling yang terpana, orang tuaku tampak sangat bahagia. Hari itu, ayah dan ibu membawaku ke restoran mewah dan berkata mereka tidak sabar melihatku tumbuh dewasa.
Malam itu, di mana ayah dan ibu tertawa dan bersikap lembut padaku.
Hanya kenangan itulah yang tersisa di hatiku tentang orang tua yang selalu berlarian di medan perang dan jarang pulang ke rumah. Pandangan mata ayah dan ibu yang begitu bangga padaku, terpatri kuat di ingatanku.
Karena itulah, aku adalah seorang jenius.
Ayah dan ibu yang mengatakannya sendiri. Maka, aku pasti seorang jenius.
Aku adalah jenius dalam sihir. Aku tidak akan pernah terbunuh oleh peri biasa, dan bahkan jika aku harus bertarung melawan peri level Bencana, aku tidak akan kalah. Aku harus membuktikan hal itu dengan segala cara.
Setelah masuk militer, aku terus belajar siang dan malam tanpa henti.
Entah itu dalam hal menembak, komando, maupun sihir, aku tidak kalah dari siapa pun. Aku berjuang setengah mati agar bisa menang dalam segala hal.
Karena aku adalah seorang jenius, seperti yang dikatakan ayah dan ibu dulu.
Lalu, setelah lulus sebagai lulusan terbaik dari program pelatihan pemburu militer, aku masuk ke dalam party yang dipimpin oleh orang yang paling dungu di antara semua orang bodoh yang pernah kutemui.
Pemimpin yang dipanggil Mikkanen itu tidak berguna.
Dia bahkan lebih dungu daripada ayah dan ibuku. Saat tahu dia menjadi pemburu karena diajarkan oleh ayah, aku hanya bisa berpikir, "pantas saja."
Saat itu, peri sudah menyerang jauh ke dalam wilayah manusia, dan kepunahan sudah di depan mata.
Semua orang putus asa dan bertarung secara membabi buta. Ada pemburu yang gantung diri, ada yang gila dan berlarian telanjang menuju peri; jumlah mereka tak terhitung, bahkan jari tanganku pun tak cukup untuk menghitungnya.
Namun, hanya Mikkanen yang berbeda.
Dia tidak pernah ragu bahwa besok akan selalu ada. Dia percaya dari lubuk hatinya bahwa perang melawan peri yang telah berlangsung seribu tahun ini pasti akan berakhir dengan kemenangan manusia.
Banyak orang menertawakannya sebagai orang bodoh. Aku pun setuju.
Tapi, Mikkanen terus bertarung. Sambil menghancurkan punggungnya sendiri, dia terjun ke dalam operasi yang mustahil dilakukan oleh siapa pun.
Aku tidak bisa menahan rasa kesal pada sosok Mikkanen seperti itu.
Untuk apa melakukan hal yang sia-sia? Orang dungu sepertimu mati-matian pun tidak akan ada gunanya, padahal aku yang jenius saja tidak bisa melakukannya.
Aku benci, sangat benci cahaya yang bersinar di matanya itu.
Aku mengejek Mikkanen. Aku bilang dia akan segera patah semangat dan melarikan diri pada akhirnya.
Meski begitu, Mikkanen tidak pernah memalingkan punggungnya dari medan perang.
Meski hatinya nyaris hancur, dia tetap bertahan hidup sebagai pemburu dan terus bertarung.
Tanpa sadar, orang-orang mulai memanggil Mikkanen sebagai pahlawan.
Mereka menganggapnya pemburu hebat yang tak akan pernah kalah dan memikul harapan umat manusia di pundaknya.
Aku jadi membenci Mikkanen hingga ke titik ingin membunuhnya.
◆◆◆
Itu adalah hari musim dingin yang sangat dingin dan membeku.
Kami berada di pos terdepan di atas gunung salju yang baru saja kami rebut dari tangan peri.
Anggota party lainnya sedang menjalankan tugas militer di tempat lain, jadi kurasa hanya ada aku dan Mikkanen di sana.
"Ini, ada roti hitam dan sup. Makanlah, nanti kau kedinginan."
"……"
"Kalau begitu, aku akan berjaga di sekeliling."
Aku menyambar makanan yang diberikan Mikkanen tanpa sepatah kata pun. Jika bukan karena sedang bertarung, aku tidak ingin bicara dengan orang yang sangat kubenci ini.
Mikkanen tersenyum getir lalu keluar dari tenda.
Sambil meringkuk di dalam mantel di dalam tenda yang sunyi, aku menyeruput sup hangat dengan tenang. Padahal aku membencinya, tapi kenapa dia sering sekali mengajakku bicara?
Benar-benar, kenapa orang bodoh seperti itu dipuja sebagai pahlawan?
Selain kesal dengan Mikkanen, memikirkan Geis milikku sendiri membuat amarahku memuncak hingga gigiku gemeretak. Karena Geis inilah sihirku kalah dari orang dungu itu.
"Apa maksudnya 'memiliki seseorang yang bisa disumpahi kesetiaan dengan sepenuh hati'? Aku adalah jenius, aku bisa bertarung sendiri tanpa bantuan siapa pun."
Memaksa diriku sendiri untuk menganggap Mikkanen sebagai atasan demi mematuhi Geis itu sungguh sangat memalukan.
Tanpa sadar, jemariku yang penuh tenaga membengkokkan sendok besi. Saat aku menghela napas setelah menghabiskan sup, Mikkanen datang.
"Isfana, ada peri. Dan dia memiliki kekuatan yang besar."
Saat aku mendongak, Mikkanen yang kepalanya tertutup salju menyembulkan wajahnya ke dalam tenda.
Aku segera melompat keluar tenda, bersumpah pada diri sendiri bahwa aku akan menorehkan prestasi dan menjadi jauh lebih hebat darinya.
……Sejujurnya, aku tidak terlalu ingat apa yang terjadi setelah itu.
Saat itu, kami diserbu oleh lautan peri level Bencana. Meskipun mereka peri, mereka memiliki koordinasi yang jauh lebih baik daripada prajurit manusia, seolah-olah mereka adalah satu binatang buas yang mengerikan.
Sihirku sama sekali tidak mempan. Longsword miliknya hampir patah seluruhnya.
Jika kupikirkan sekarang, itu mungkin adalah elit musuh yang dikerahkan khusus untuk membunuh kami. Kami berdua bertarung setengah mati, saling mengincar nyawa.
Cakar peri menyerempet punggungku. Darah menyembur keluar dari lukaku.
Ah, ya. Aku telah kalah.
Aku memang jenius, tapi aku tidak mahakuasa. Menghadapi kawanan peri yang menutupi gunung salju ini, aku sudah sekarat meski tubuhku penuh luka.
Pandanganku bergoyang.
Penglihatanku mengabur.
Setelah bertarung selama dua hari, akhirnya aku ambruk di atas salju.
Di kejauhan, Mikkanen masih terus bertarung. Sambil bermandikan darah, dia mengayunkan Longsword-nya layaknya batu raksasa yang tak tergoyahkan oleh badai apa pun.
"Cih, dasar dungu, gigih sekali," batinku.
"Isfana! Hei, Isfana!"
Dari balik salju putih yang terus turun, terdengar teriakan Mikkanen.
Namun, suara itu perlahan menjauh. Pandanganku mulai tertutup oleh kelabu awan dan putihnya salju, lalu tiba-tiba sebuah senyuman lolos dari bibirku.
Syukurlah, aku berbeda dari Ayah dan Ibu.
Sekalipun kekuatanku tidak cukup melawan kawanan peri level Bencana, aku merasa bahagia karena kematianku bukanlah kematian yang dungu seperti mereka. Aku telah berhasil membuktikan bahwa diriku adalah orang yang berbakat.
Menatap salju putih yang perlahan menjauh, aku tersenyum tenang.
Jadi, pasti, aku adalah seorang jenius.
Aku masih hidup.
Saat aku membuka mata dengan samar, yang kulihat tepat di depan hidungku adalah tengkuk Mikkanen.
Aku sadar sedang digendong oleh Mikkanen dan aku pun menggertakkan gigi. Jangan bercanda, aku lebih baik mati daripada harus diselamatkan oleh orang dungu seperti dia.
"Wah, sudah bangun ya? Semua peri di sana sudah kubunuh, tapi lukamu cukup dalam. Untuk sementara, kita akan mundur ke pangkalan militer."
Aku mendengar nada bicara Mikkanen yang santai.
Suara yang ringan itu terdengar seperti penghinaan yang tak terkatakan bagiku.
Aku adalah seorang jenius, aku harus menjadi seorang jenius.
Meski begitu, setelah aku kalah, pria ini masih terus bertarung melawan peri sendirian, bahkan menyelamatkan nyawaku. Bukankah ini berarti malah akulah yang dungu?
Aku adalah seorang jenius, jika bukan, maka ini tidak bisa dimaafkan.
Demi tangan ayah yang besar dan kasar yang biasa mengusap kepalaku, demi kehangatan surat ibu yang ditinggalkan untukku agar aku tidak merasa kesepian, aku harus menjadi jenius.
Aku harus menjadi jenius, tidak boleh tidak.
Satu-satunya ikatan yang kumiliki dengan orang-orang yang mungkin sedang menertawakanku dari surga itu tidak boleh hilang.
Jika tidak, aku benar-benar akan menjadi sendirian.
Pikiran kacau terus berputar di kepalaku seperti gumaman tidak jelas. Hal yang menarikku kembali ke realitas adalah tetesan merah yang mengalir di pipiku.
"Apa ini? Darah siapa ini?"
Saat aku mendongak perlahan, napasku tertahan.
Di kepala Mikkanen, ada luka besar yang menganga. Jika dilihat lebih dekat, luka itu sangat parah sampai-sampai aku hampir bisa melihat tulang tengkoraknya.
Sulit dipercaya dia masih hidup.
"Kalau kita sampai, aku ingin makan. Dendeng yang diberikan militer memang sangat tidak enak, tapi lama-kelamaan malah jadi ketagihan."
Jika kulihat baik-baik, tubuh Mikkanen sudah hancur lebur. Dari sekian banyak Longsword yang dibawanya di pinggang, kini hanya tersisa satu.
Darah yang menetes dari kakinya yang diseret meninggalkan jejak merah di belakangnya.
Seharusnya aku bisa memikirkannya sejak awal, meski itu Mikkanen, tidak mungkin dia tidak terluka setelah bertarung melawan peri level Bencana itu sendirian.
Sihirnya akan berhenti bekerja begitu pertempuran usai.
Bahkan jika tidak begitu, jika energi sihirnya habis, luka-lukanya akan lambat pulih.
Luka Mikkanen jauh lebih dalam daripada lukaku. Bahkan aneh rasanya dia masih bisa berjalan.
Meski begitu, pria ini masih menggendongku hingga saat ini.
Padahal tidak ada yang akan menyalahkannya, tapi di saat kritis ini pun, Mikkanen tetap berusaha menolongku.
Entah mengapa, punggung Mikkanen itu tumpang tindih dengan sosok orang tua yang terakhir kulihat.
Sama persis dengan punggung yang tertutup pintu rumah saat mereka tersenyum dan berkata akan melindungi aku, teman-temanku, dan umat manusia.
"Oooooooh......"
Raungan bagaikan gemuruh bumi mengguncang pegunungan salju.
Dari balik hutan, muncul sosok peri berbentuk raksasa.
Bukan level Bencana, bahkan bukan Peri Besar. Itu hanyalah peri biasa.
Peri seperti yang membunuh ayah dan ibuku dulu, yang bisa mati hanya dengan satu tembakan artileri.
Tapi, bagi kami saat ini, itu adalah ancaman yang membawa keputusasaan.
"Sepertinya Peri liar, merepotkan sekali. Isfana, tetaplah beristirahat di sana. Biar aku yang membunuh makhluk itu."
Dengan langkah gontai layaknya orang sakit, Mikkanen berjalan menuju peri raksasa itu. Aku meneriakkan perasaan yang membuncah dari lubuk hatiku.
"Kenapa, meski sampai saat ini kamu masih berusaha melindungiku! Bukankah kamu membenciku yang selalu mencaci dirimu bodoh, lalu kenapa?!"
"Diamlah."
Mantelnya yang compang-camping tertiup angin.
Dibandingkan dengan tubuh raksasa itu, Mikkanen yang tampak seperti kerikil kecil menggenggam Longsword yang sudah usang. Tepat di atas kepalanya, peri itu mengayunkan batu raksasa.
"Aku ini atasanmu. Tidak ada pilihan bagiku untuk membiarkanmu mati, ataupun mati begitu saja."
Pecahan batu yang beterbangan melukai kulitnya. Punggung yang terserempet lengan raksasa itu kini mekar dengan warna merah yang begitu terang, membuat siapa pun tak sanggup melihatnya. Siapa pun pasti setuju bahwa ini adalah pertarungan yang mustahil dimenangkan.
Terlebih lagi, Mikkanen pasti orang yang paling menyadari kenyataan tersebut.
Namun, dia tidak melarikan diri. Meski seharusnya dia bahkan tidak mampu melangkah dengan benar akibat pertempuran sengit sebelumnya, dia terus menginjakkan kakinya selangkah demi selangkah demi melindungiku.
Pertarungan itu, sama sekali tidak bisa disebut sebagai pertarungan seorang pahlawan.
Peri raksasa itu lamban, bahkan ia tidak mampu mengejar langkah Mikkanen yang seperti orang tua tersebut. Mikkanen pun sesekali harus bertumpu pada Longsword miliknya agar tidak ambruk ke tanah.
Tetapi, meski begitu, Mikkanen tetap bertarung.
Punggung Mikkanen yang tampak seolah bisa tumbang hanya karena embusan angin itu, sama sekali tidak terlihat seperti punggung pahlawan yang dipuji sebagai sosok yang muncul seribu tahun sekali. Namun, dia terlihat begitu keren dengan cara yang bodoh.
Batu yang digenggam peri itu menyerempet lengan Mikkanen.
Meski dari jauh, aku bisa melihat Mikkanen terhuyung-huyung.
"Mikkanen!"
"Biasanya ini bukan masalah besar, tapi luka ini lambat sekali sembuh. Sepertinya energi sihirku mulai menipis."
Mikkanen tersenyum kaku.
Siapa pun bisa melihat bahwa Mikkanen sudah berada di ambang batas untuk ambruk ke tanah. Sambil meneteskan keringat dingin dan mengikat lengannya yang patah dengan kain, dia tetap melangkah maju.
Di depan peri itu, dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaga terakhirnya, Mikkanen menggenggam Longsword-nya.
"Kumohon, cepatlah mati."
Bilah pedang Mikkanen menancap dalam di dada peri itu.
Ia terus diserang oleh peri yang memberontak. Meski begitu, Mikkanen dengan setengah mati tetap menggigit, mencengkeram, dan mendorong Longsword yang tertancap di dada peri itu.
Tak lama kemudian, tubuh raksasa peri itu ambruk ke tanah.
Mikkanen pulang dengan selamat. Penuh luka, berlumuran darah, namun dia tetap kembali kepadaku dengan selamat.
"Ayo, kita pergi. Isfana."
Senyuman Mikkanen saat mengulurkan tangannya terasa kaku, namun sangat hangat. Sambil membenamkan wajahku di punggungnya, aku menangis untuk pertama kalinya sejak mengetahui kematian orang tuaku.
Ah, aku akan mengikuti orang ini seumur hidupku, aku akan bertarung demi dirinya.
Itulah sumpah yang diucapkan oleh seorang pemburu bernama Isfana pada malam badai salju itu.
◆◆ Selingan: Monolog Seorang Jenius Selesai ◆◆
"Haah……"
Desahan napas yang berat dan dalam menggema di lorong tambang jauh di bawah tanah, yang disegel oleh baja dan sihir.
Pena yang kugunakan untuk menandatangani dokumen—yang tandatangannya tampak seolah dicetak oleh mesin saking presisinya—kini dipukulkan ke meja dengan suara tok-tok. Setiap kali suara itu terdengar, bahuku tersentak gemetar.
Di balik komando tambang yang terletak jauh di bawah tanah—tempat yang bahkan tidak terpengaruh oleh sihir tingkat Bencana—seorang bocah laki-laki yang duduk tegak di kursi kasar menatapku tajam.
"Kisah kasih tak sampai antara kau dan Isfana telah menjadi buah bibir di reruntuhan Kastel Ogudanel. Bisakah kau segera membereskannya? Jika terus begini, umat manusia tak akan bisa menang melawan para peri."
Mendengar kalimat mengerikan yang sering kudengar di dalam game itu, wajahku langsung pucat pasi.
Aku tahu betul bahwa atasan yang sedang mengomeliku ini bukanlah bocah biasa.
Agrastein Lorelai.
Atasan yang selalu membujukku untuk tidak keluar dari militer ini adalah sosok "Bocah Gila" yang dibanggakan oleh Pemburu Peri, sosok yang membuat tak terhitung banyaknya pemain game aslinya merasa ketakutan.
Pada awalnya, pemain sering tertawa dan menyebut Agrastein sebagai satu-satunya "hati nurani" di medan perang yang kejam, karena dia selalu memperhatikan laporan hasil pertempuran kami.
Namun, seiring kedalaman karakternya terungkap, kegilaannya pun mulai terlihat.
Dia membangun jalan bagi pemain dengan mayat prajurit yang tak terhitung jumlahnya, bahkan memerintahkan sihir yang menghancurkan seluruh medan perang bersama para peri meski para pemburu masih hidup di sana……
Daftar operasi yang melanggar kemanusiaan itu tidak akan habis dihitung bahkan dalam sehari.
Agrastein adalah karakter ekstrem yang akan menghalalkan segala cara demi kemenangan umat manusia.
Terutama setelah skenario menganggap karakter pemain sebagai kunci untuk mengakhiri perang, dia berubah menjadi atasan iblis yang mengancam dengan segala cara agar pemain tidak melarikan diri dari medan perang.
Pasalnya, hampir semua Bad Ending dalam game itu adalah hasil ulahnya.
Dia pernah membuat karakter pemain yang mencoba kabur menjadi pecandu obat, atau menyandera heroine dan mengirimkan telinga yang dibekukan sebagai peringatan. Dia sudah bukan lagi tentara, melainkan yakuza atau gangster.
Ngomong-ngomong, dalam semua Bad Ending itu, Agrastein berhasil mengakhiri perang dengan kemenangan umat manusia. Sekarang kalian paham kenapa para pemain langsung tersenyum kecut hanya dengan mendengar namanya?
Ditambah lagi, dia mendapatkan julukan memalukan: "Bocah Gila."
Mengetahui bahwa Agrastein mendengar soal Isfana membuat kepalaku terasa sangat sakit.
"Kau juga sama saja. Kupikir kau cuma melarikan diri dari Isfana, ternyata sekarang kau malah melunak karena perasaan. Lagipula, apa kau pernah mencoba membicarakannya baik-baik?"
"Yah, itu……"
Aku kehilangan kata-kata atas pertanyaan Agrastein.
Saat Agrastein menghela napas panjang, aku memalingkan wajah karena merasa tersindir.
Ingatan malam itu, saat Isfana memelukku dan menangis di tempat tidur, terpatri kuat di benakku. Aku teringat sosok Isfana yang jiwanya terasa hancur saat itu.
Jika aku menepis tangannya sekarang, hatinya mungkin akan hancur berkeping-keping layaknya kaca. Karena itulah, aku tidak punya keberanian untuk melakukannya.
Akibatnya, hingga kini aku tak bisa menghentikannya yang terus menempel padaku.
"Kalau soal kamar mandi, itu benar-benar kelewatan. Aku juga sebenarnya tidak ingin membahas hal konyol seperti ini, tapi di dunia ini ada yang namanya disiplin militer dan etika."
Kenapa aku harus membahas hal seperti ini?
Itu tertulis dengan jelas di mata Agrastein. Saat aku memalingkan wajah dari tatapannya, borgol yang terpasang di pergelangan tanganku terasa semakin berat.
Isfana takut setengah mati untuk berjauhan dariku, seolah-olah dia sudah kehilangan akal sehatnya.
Aku berhasil membujuknya agar setidaknya saat di toilet atau kamar mandi kami dipisahkan oleh pintu, tapi dia menolak mentah-mentah dengan kemarahan yang meluap jika aku mencoba melepas borgolnya.
Jadi, aku tidak punya pilihan selain berdiri dengan bodoh menyandar di depan pintu toilet atau kamar mandi.
Di atas tempat tidur, dia masih terus memelukku. Bahkan, rasanya dia menempel semakin erat setiap harinya.
Aku tahu ini tidak bisa dibiarkan, aku tahu, tapi……
Agrastein, si bocah gila itu, menghela napas berat lagi.
"……Kau juga seorang tentara, kan? Lakukan tugasmu sebagai atasan dengan benar."
Aku menundukkan kepala dan menutup pintu besi yang berat itu. Sambil mendengarkan suara gesekan logam yang seperti gemuruh bumi, aku berucap.
"Begitulah katanya. Kita dimarahi, Isfana."
Isfana, yang berdiri di samping pintu selama kami bicara, tetap diam dan membuang muka.
◆◆◆
Di atas kereta tambang yang berguncang koto-koto, keheningan yang berat menyelimuti. Prajurit lain yang menumpang pun menutup mulut, merasakan suasana tidak nyaman dari party-ku.
Reruntuhan Kastel Ogudanel, tempat markas militer berada, dihubungkan dengan berbagai pos melalui kereta tambang bawah tanah. Ini adalah urat nadi militer untuk mengangkut amunisi, makanan, atau prajurit.
Meskipun, mungkin kamilah yang menjadi beban berat di kereta kali ini.
"Terserah kau mau merajuk, tapi tolong lakukan sesuatu dengan tatapan matamu itu. Kau mengganggu prajurit lain, tahu."
"……"
Meski aku mencoba menegurnya dengan lembut, Isfana hanya mengeluarkan suara geraman gigi. Lengannya yang memelukku justru semakin erat.
Aku menghela napas.
Setelah omelan tadi, Agrastein yang seperti biasa memberikan tumpukan tugas militer yang tidak masuk akal. Bagi atasan itu, konflik antara aku dan Isfana bukanlah urusannya.
Di medan perang ini, sang atasan benar-benar berada di pihak yang benar.
"Kau pasti paham, kan? Sulit untuk terus membiarkanmu menempeliku siang dan malam seperti ini."
"……"
Aduh! Aku mengusap tanganku yang dicengkeram dengan kekuatan luar biasa.
"Pos 203, prajurit artileri silakan turun."
Setiap kali kereta sampai di pos, para prajurit turun dengan terburu-buru. Semakin jauh kami menuju ke dalam, jumlah prajurit dan amunisi yang diangkut kereta semakin berkurang.
Sebaliknya, kami semakin sering berpapasan dengan kereta yang mengangkut kain putih.
Itu adalah muatan senyap yang tak bernyawa. Dari ujung kain itu, tangan berlumuran darah menjuntai lemas. Aku spontan memalingkan wajah.
Aku benci melihat orang mati yang dibawa pulang dalam diam seperti itu.
Kereta yang membawa jenazah itu mengajarkan betapa murahnya nyawa para prajurit, dan bahwa tujuan akhir kereta ini adalah garis depan perang antara umat manusia dan para peri.
Sayangnya—atau untungnya—itulah tujuan kami juga.
"Hei, kita hampir sampai di pos. Kau mengerti, kan, Isfana?"
Aku menatap dingin ke arah Isfana yang masih terus mengertakkan gigi.
"Tugas militer."
"……"
Tepat saat Isfana yang membisu itu mengangguk, udara bergetar dengan bunyi zun. Tungku sihir di dada Isfana telah menyala.
Dalam Pemburu Peri, pemburu adalah kartu as umat manusia yang bisa membunuh peri dengan sihir. Mereka yang menanamkan tungku sihir di dada mereka mendapatkan kekuatan yang melampaui manusia.
"Pos 003, satu-satunya pos yang bisa melihat Hutan Peri. Tuan Pahlawan, aku serahkan umat manusia padamu."
Dan, saat skenario game belum dimulai, kami adalah party pemburu terbaik yang ada.
Aku sendiri ingin sekali melarikan diri dari militer, tapi selama aku masih diberi makan makanan basi pun, aku harus bekerja sesuai porsinya.
Menjadi pahlawan yang didoakan oleh para prajurit yang merangkak di tanah dengan berlumuran darah—itulah tugas militer kami.
"Ayo pergi, Isfana."
Mulai dari sini, aku harus menjadi pahlawan umat manusia yang memburu para peri.
Begitu pintu palka menuju pos terbuka, sebuah kepala yang meneteskan darah menggelinding masuk.
Isfana menendang kepala yang tewas dalam ketakutan itu tanpa mengedipkan mata sedikit pun. Kepala yang masih terbuka matanya itu tenggelam ke dalam lumpur.
Tempat kami berpijak benar-benar neraka.
"A-aaargghh! Tanganku! Sialan, mati kalian peri-peri keparat!"
"Hei, kau…… ke mana perginya bagian tubuhmu dari bahu ke bawah……"
Dari pos artileri di belakang, bongkahan logam terus berteriak dan terbang tak henti-hentinya. Prajurit yang berlumuran lumpur menembakkan senjata mereka seperti orang gila.
Telingaku terasa rusak oleh suara ledakan dan jeritan yang tiada henti.
Namun, langkah para peri tetap tidak berhenti.
Mulai dari binatang buas seperti yang ada di hutan, makhluk cacat yang menyerupai manusia dan menghina kehidupan, hingga bayangan hitam yang merayap di tanah; para peri yang mengambil segala bentuk rupa itu sedang mempermainkan manusia.
Para peri yang memakan daging manusia menikmati pesta mereka. Jeritan keputusasaan terdengar dari mana-mana.
"T-tidak mau! Aku tidak mau mati!"
Aku mencabut Longsword yang terselip di pinggangku.
Saat aku menebas peri berkepala babi yang tambun, seorang prajurit yang kakinya hampir dimakan bergumam seperti orang linglung.
"Tuan Pemburu……"
"Ambil senjatamu, peri masih terus berdatangan!"
Sambil melihat prajurit itu dengan panik mengambil senjatanya yang tergeletak di tanah, aku berbicara pada Isfana.
"Kau tahu peri mana yang harus kita incar, kan?"
"Ya, peri yang menyamar menjadi pemburu."
Isfana mengerutkan kening.
Itu adalah peri yang menyamar sebagai pemburu yang sempat terlihat di pos ini beberapa hari lalu.
Peri yang dianggap kelas Bencana itu memanfaatkan kemampuannya untuk mengacaukan militer, seperti membantai para prajurit yang mengira mereka adalah rekan sendiri.
Karena menganggap masalah ini serius, Agrastein memerintahkan kami untuk membunuh peri tersebut.
"Untuk sementara, mari kita putar ke belakang peri-peri itu."
"Ya."
Kami berlari menendang lumpur menuju kawanan peri yang mendekat.
"Hei, peri-peri di sana, mati saja kalian."
Isfana memberi perintah bersamaan dengan uap emas yang bocor dari tungku sihirnya. Sontak, para peri di sekitar mematuhi perintah itu dengan setia dan mengakhiri hidup mereka sendiri.
Siapa pun yang mendengar perintah Isfana akan selalu menurut.
Itulah kekuatan sihir iblis yang diberikan kepada sang jenius.
Di belakang, terdengar bunyi dosun. Raksasa yang memancarkan bau busuk seperti lumpur menimpa Isfana.
Mungkin dia ingin menyeret Isfana bersamanya dengan berat tubuhnya meski harus mati. Namun, akhir hidup peri itu sangatlah kejam.
"Pas sekali. Raksasa di sana, jadilah tamengku."
Raksasa itu berlutut menuruti perintah untuk melindungi Isfana.
Seketika, kilatan cahaya yang ditembakkan oleh peri bermata satu di belakangnya meledakkan daging sang raksasa. Itu adalah taktik khas peri yang bahkan tidak keberatan dengan friendly fire.
Sinar yang menyimpan kekuatan luar biasa itu melenyapkan daging sang raksasa dan terus melesat ke arah kami.
Melihat kilatan yang sudah di depan mata, Isfana mendengus bosan.
"Sinar menyilaukan itu, cepat berputar balik dan bunuh pelakunya."
Begitu diperintah, cahaya itu melengkung membentuk busur.
Kilatan yang terpelintir itu menusuk dada peri pelakunya, seolah-olah seperti anak burung yang kembali ke induknya.
"Hei, kau. Jangan bilang kau berniat membiarkanku melakukan semua pekerjaan ini sementara kau hanya diam?"
Isfana berbalik, tatapan tajamnya menusukku.
……Sial, padahal sihir Isfana jelas lebih unggul untuk membantai kawanan peri. Aku menghela napas dan menendang tanah.
Inti dari sihirku adalah menyembuhkan segala luka selama aku berada dalam pertempuran.
Sihir itu akan terus memaksaku bertarung, memperbaiki otak yang terbakar hingga lengan yang patah tanpa peduli apa pun.
Lalu, apa taktik bertarung yang tepat dengan sihir seperti itu?
Kaki yang dihantamkan ke tanah dengan kekuatan melampaui batas manusia memberiku satu langkah yang luar biasa, meski harus dibayar dengan tulang yang hancur. Kaki yang hancur itu akan sembuh saat kembali menapak di tanah.
Sebuah lari kencang yang menghancurkan diri sendiri, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh makhluk hidup yang mengutamakan kelangsungan hidupnya.
Aku menerjang kawanan peri dan mengayunkan Longsword-ku.
Suara serat otot yang putus terdengar. Pedang yang diayunkan dengan kekuatan yang tak masuk akal itu menebas kulit peri yang sekeras baja seolah-olah itu hanyalah kertas.
Sederhana saja.
Selama aku terus bertarung, meski menderita rasa sakit, aku tidak akan kehilangan nyawaku.
Maka, aku tidak perlu memikirkan apa yang terjadi selanjutnya. Aku hanya perlu mencurahkan seluruh kekuatanku ke dalam satu tebasan untuk menghancurkan musuh.
Taktikku sama sekali tidak bisa dibanggakan.
Taktikku yang berawal dari cacat di mana aku harus menyakiti diriku sendiri, ternyata sangat efektif untuk membunuh para peri.
Aku menerbangkan sepuluh peri dalam satu tebasan.
Urat lenganku putus, tapi tidak masalah. Itu akan segera sembuh.
Aku terus menghantamkan setiap serangan, menukar rasa sakit yang hebat dengan kekuatan. Aku menebas para peri lebih cepat dari angin, lebih berat dari batu, dan setenang hutan.
Aku membangun jalan dari mayat-mayat peri di belakangku.
Aku menerbangkan peri yang tertusuk di ujung Longsword-ku, lalu dengan putaran pedang yang sama, aku menghancurkan jantung peri yang menggigit bahuku bersama peri-peri di sekitarnya.
Membunuh, terus membunuh para peri.
Sambil berlumuran darah, aku dan Isfana membangun gunung daging peri yang telah mati.
Kabut putih menyelimuti.
Aku menghela napas setelah menembus kawanan peri dan sampai di belakang mereka. Mungkin ini adalah sihir dari salah satu peri di sini, kekuatan yang sederhana namun menyusahkan.
"Apa-apaan kabut ini?"
Isfana mengernyitkan wajah.
Karena aku tidak tahu di mana peri yang dimaksud berada, aku akan terus memburu kawanan itu dari belakang. Tadinya begitu rencananya, tapi dengan kabut ini, mencari peri target saja sudah sulit.
Dahi Isfana semakin berkerut dalam.
Jika peri-peri lain berkumpul dan peri target itu melarikan diri di tengah kekacauan, itu akan menyebalkan. Kami ingin segera menyelesaikan tugas ini secepat mungkin……
"Apa yang harus kita lakukan? Berpencar?"
"……Aku sebenarnya tidak suka itu, tapi tidak ada pilihan lain."
Aku mengangguk enggan mendengar kata-kata Isfana.
Sebagai atasan, aku tidak suka membiarkan pemburu bekerja sendirian, tapi di medan perang, kita tidak bisa selalu bertarung bersama dengan kaku.
Saat umat manusia di ambang kepunahan, bertarung sendirian adalah hal yang nekat, tapi sekarang sebagian besar peri hebat sudah diburu. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri.
"Kalau begitu, jangan sampai mati."
"Tentu saja. Tidak seperti orang dungu sepertimu, aku ini seorang jenius."
Isfana mendengus mendengar kata-kataku.
Sosoknya pun lenyap ke dalam kedalaman kabut putih.
◆◆◆
Aku berlari sendirian di dalam kabut. Lenganku yang tidak lagi diborgol terasa ringan, dan saat aku sadar, tanganku melayang di udara seolah mencari Mikkanen.
"Ck!"
Aku berdecak lidah dan menggenggam tanganku sendiri.
Aku harus segera menyelesaikan tugas militer ini dan kembali ke sisi Mikkanen. Aku tidak ingin lagi merasa ketakutan karena Mikkanen mungkin akan menghilang dari sisiku.
Hanya dengan mengikatnya seperti itulah, aku bisa merasa tenang.
Ya, aku hanya perlu membunuh peri yang diperintahkan. Jika aku membuahkan hasil, mungkin aku bisa membuat Mikkanen senang. Dengan begitu, suatu hari nanti aku bisa membuatnya menyerah untuk keluar dari militer.
"Di mana kau? Sembunyi ke mana kau! Di mana peri level Bencana yang tidak berguna, yang bahkan tidak bisa membunuh prajurit biasa tanpa meminjam wujud pemburu!"
Aku membantai peri-peri yang berkerumun.
Daging peri yang mati berhamburan, tulang-tulangnya berserakan memutih. Kabut perlahan memerah.
"Lagipula, kabut ini sangat mengganggu. Cepatlah hilang!"
Sambil berlumuran darah, aku mengumpat.
"Wah, Isfana galak sekali ya. Ayah juga sedang berusaha, lho."
"Ck, siapa itu?"
Saat itulah.
"Ada apa? Ini Ayah. Ayah dari Isfana."
"Kau bohong……?"
Saat aku berbalik, sosok yang kulihat adalah sosok Ayah yang lembut seperti yang tersimpan dalam ingatanku.
"Kau pikir peri berwujud siapa, hah!"
Kepalaku terasa kosong.
Aku mengertakkan gigi, mencoba mengulurkan tangan dan memaksanya mematahkan lehernya sendiri. Namun, Ayah hanya tersenyum tenang padaku.
"Kau sudah tumbuh besar ya."
Jemariku gemetar.
"Kenapa, kenapa……!"
Sihirku tidak bekerja.
Api di tungku sihir perlahan meredup. Apakah ini juga sihir peri?
"Bukan," aku tahu itu. Hati bagian dalamku terasa hangat.
Aku tahu, aku tahu betul. Ayah sudah mati, dan aku datang ke sini untuk membunuh peri yang menyamar menjadi pemburu.
Siapa pun yang melihatnya, pria yang tampak persis seperti Ayah ini pastilah peri tersebut.
"A, ah……"
Meski begitu, aku tidak bisa melawan keinginan untuk membenamkan wajah di dadanya dan menangis. Karena aku sudah lama merasa kesepian, karena aku selalu merasa sedih.
Kesepian ini terlalu dalam untuk bisa disembunyikan dengan kata "jenius".
"Ayah, Ayah!"
Aku bergantung pada ilusi di dalam mataku.
"Lalu, aku terus berusaha, lho."
Aku merasa bahagia saat duduk di pangkuan pria berwujud Ayah itu.
Ada begitu banyak hal yang ingin kuceritakan selama ini, dan sebanyak apa pun waktu yang ada, rasanya tidak akan pernah cukup.
"Aku lulus dari sekolah militer sebagai lulusan terbaik, dan sekarang atasan atasan adalah Mikkanen, sang pahlawan, dan aku juga mendapatkan banyak medali!"
Tatapan mata Ayah yang lembut terasa begitu nyaman, aku ingin terus berada di sini.
"Oh ya? Ayah jadi penasaran dengan anak bernama Mikkanen itu."
"! Orang bernama Mikkanen itu benar-benar hebat. Dia menyelamatkan nyawaku, dia pria yang keren dan bisa diandalkan seperti Ayah, dia orang seperti pahlawan dalam dongeng!"
Aku nyengir senang karena Ayah menunjukkan ketertarikan pada Mikkanen.
"Itu, memalukan sih, tapi…… aku ingin mengikutinya selamanya. Dia orang yang bisa membuatku berpikir begitu."
Wajahku memerah. Meski begitu, hanya pada Ayah aku bisa mencurahkan perasaanku.
Ayah mengusapku dengan tangannya yang kasar saat aku menggeliat di pangkuannya.
Saat aku sedang hanyut dalam kebahagiaan, Ayah berucap seolah baru saja terpikirkan sesuatu.
"Lagipula, kalau Ayah dengar, bukankah anak bernama Mikkanen itu terlihat jauh lebih berbakat daripada Isfana?"
Hatiku membeku.
"Ayah?"
Suaraku bergetar saat bertanya pada Ayah.
Dalam sekejap, sosok Ayah saat ini membuatku merasakan hawa dingin yang mengerikan. Ada apa? Ayah saat ini terasa menakutkan.
"Jenius itu bukan Isfana, tapi Mikkanen. Isfana itu malah tergolong dungu dan hanya menjadi beban, bukan begitu?"
"I, itu……"
Aku kehilangan kata-kata.
Ayah menatap wajahku.
Mata merahnya yang seperti ular melengkung menatapku lekat-lekat. Dengan sangat senang, bibirnya merangkai ejekan.
"Kalau bukan jenius, Ayah tidak butuh Isfana."
"Eh."
Dadaku terasa sesak. Aku tidak bisa bernapas.
Dibuang oleh Ayah—pikiran itu terus berputar di kepalaku. Saat aku selesai mencerna kata-kata itu, aku bergantung pada Ayah karena ketakutan.
"Berhenti, jangan begitu! Ayah, jangan tinggalkan aku!"
Jika bahkan Ayah yang akhirnya bisa kutemui—selain Mikkanen—kecewa padaku, aku tidak akan bisa hidup lagi. Pikiran itulah yang mengejarku.
Namun, Ayah bersikap dingin saat aku bergantung di dadanya.
"Berhenti di situ."
Suara kering terdengar.
Aku yang ditampar pipinya terduduk linglung.
Ayah menendangku sambil berteriak saat aku hampir menangis.
"Jangan ganggu Ayah! Kau juga tahu kan, bahwa Ayah tidak pernah mencintai beban seperti Isfana sejak awal!"
"H, maafkan aku, maafkan aku."
Ayah menjambak rambutku saat aku meringkuk.
"Isfana yang bukan jenius, hanya orang dungu biasa……"
Mulut Ayah terbelah vertikal. Dari mulut yang dipenuhi gigi taring tajam itu, air liur kental menetes jatuh.
"AKAN KU MAKAN."
Aku menatap kosong pada kematian yang sudah ada di depan mata.
Dibuang oleh Ayah—kalau begitu aku tidak perlu hidup lagi. Dimakan oleh Ayah seperti ini jauh lebih baik. Namun, entah kenapa senyum Mikkanen terlintas dan membuat kepalaku berdenyut sakit.
Ayah hendak menelanku.
"Isfana! Apa yang kau lakukan!"
Saat itulah, kilatan cahaya melesat.
Dipeluk oleh lengan yang hangat, aku dijauhkan dari Ayah. Saat aku mendongak, Mikkanen ada di sana dengan tatapan mata yang jujur seperti hari bersalju itu.
Aku merasa sangat ingin menangis.
◆◆◆
Aku berhasil menyelamatkan Isfana di detik-detik terakhir. Tapi, ada yang aneh.
Dia terus menangis di pelukanku. Tatapan matanya kosong, seolah jiwanya telah hilang.
Apa yang dilakukan peri itu padanya? Saat aku bertanya-tanya dan melihat wajah peri itu lagi, aku diserbu amarah yang hebat.
"Ck, kau pikir kau menyamar menjadi wajah siapa, hah!"
"Oh, apakah kau Mikkanen yang sering diceritakan Isfana? Aku minta maaf, tapi apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Mendengar nada bicara yang pura-pura tidak tahu itu, aku mengertakkan gigi.
"Pernah bertemu" katamu? Bukankah kau dan istrimu yang mengajariku dasar-dasar menjadi pemburu saat aku baru masuk militer?
Saat itu, aku teringat jelas sosoknya yang dibawa dengan kepala yang sudah hilang.
Aku tidak bisa memaafkan peri yang menyamar menjadi orang yang telah mengajariku kerasnya medan perang hingga kebahagiaan-kebahagiaan kecil di dalamnya.
"A, ah. Aku ingat sekarang. Sepertinya aku pernah menjadi atasanmu ya. Nostalgia sekali, ceritakan padaku tentang banyak hal."
Aku menepis tangannya.
"Apa yang kau lakukan, tunggu sebentar. Aku sama sekali tidak berniat bertarung……"
Aku menusukkan Longsword ke dadanya, lalu menendangnya dengan gerakan yang mengalir. Aku mengayunkan pedang sekuat tenaga ke leher peri yang terhempas ke batu itu.
Kepala yang terputus itu menyeringai di udara.
"KAU TIDAK PUNYA PERASAAN, YA. BAHKAN PADA ORANG TERDEKAT PUN KAU MENGAYUNKAN PEDANG."
"Tidak punya perasaan? Jangan bercanda."
Bibirku gemetar karena marah.
"Aku tidak pernah, bahkan sedetik pun, melupakan guru sekaligus orang tua asuhku itu. Sosoknya selalu terukir di dalam hatiku."
Mungkin karena ia membaca ingatanku, peri itu terus mengubah wujudnya dengan cepat. Menjadi rekan seperjuangan masa lalu, menjadi Ayah, menjadi Ibu, hingga menjadi sahabat karib di kampung halamanku.
Namun, aku menebas semuanya.
"Oh, kata-kata yang luar biasa."
Menyadari bahwa trik picik tidak mempan padaku, peri itu kembali berubah wujud menjadi sosok guru tersebut.
"Kau benar-benar tidak punya hati, ya. Aku tidak merasa pernah mendidik pemburu sepertimu untuk menjadi seperti ini."
"Aku tidak butuh komentar dari seekor peri."
Peri itu mundur selangkah karena tidak tahan menghadapi gempuranku.
Saat aku mengoyak dagingnya, aku melihat organ berwarna merah yang menggeliat di balik dadanya. Itu adalah kelemahan fatal yang menyimpan jiwa peri tersebut.
Jantungnya.
"Hmm, kau menyadarinya, ya? Demi Ibu Suci Agung, aku tidak boleh sampai terbunuh olehmu."
Sedikit rasa cemas mulai muncul.
Jika itu peri biasa, jantungnya hampir selalu berada di bagian dada. Jika tidak, biasanya organ merah itu akan terlihat samar di balik kulit, jadi aku tidak perlu pusing mencarinya.
Namun, jika berhadapan dengan peri level Bencana, mereka akan menyembunyikan jantungnya.
Bisa jadi di lengan kanan, atau bahkan di kepala. Pada peri level Bencana, kita tidak pernah tahu di mana jantung mereka berada. Bahkan ada peri yang mengambil jantungnya lalu menguburnya di dalam tanah.
Apakah ini keberuntungan atau jebakan, karena jantung itu begitu mudah terlihat sekarang?
"T-tidak mungkin, bilah pedangmu masih bisa lebih cepat lagi……"
Tanganku bergerak bahkan sebelum pikiranku memprosesnya.
Aku menebas lengannya, menebas kakinya, lalu menusuk lehernya sebelum lukanya sempat sembuh dan memakukannya ke tanah. Aku memutuskan untuk mencoba menghancurkan jantung yang terlihat itu terlebih dahulu.
Aku hendak menusukkan Longsword tepat ke jantungnya.
"Ah, Isfana. Aku mencintaimu."
Saat itu, peri tersebut memasang senyum yang tampak seperti lukisan yang dipaksakan.
Dari sudut mataku, aku melihat bahu Isfana tersentak kaget. Pada saat itulah, aku sadar apa yang sebenarnya diincar oleh peri ini.
Tubuh peri itu membesar dengan cepat.
Satu detik setelah Longsword-ku menghancurkan jantungnya, peri itu meledak.
Dari balik dagingnya yang mekar seperti bunga merah, tulang-tulang tajam menyerupai paku terbang dengan kecepatan luar biasa. Itu adalah usaha terakhir peri tersebut untuk membalas, dan targetnya bukanlah aku, melainkan Isfana.
"Ah……"
Isfana, yang pikirannya kacau karena kata-kata peri itu, kini lengah. Tulang-tulang yang diciptakan khusus untuk membunuh manusia itu melesat ke arah tubuhnya yang halus.
Itu bukan jumlah yang bisa kutangani hanya dengan Longsword.
Aku meluncurkan tubuhku untuk melindungi Isfana bahkan sebelum aku sempat berpikir.
"Ah, Mikkanen!"
"Ghk, ugh, argh!"
Tulang-tulang tajam itu menancap dalam ke dagingku. Darah menyembur keluar dari mulutku.
Saat aku menunduk, tubuhku sudah compang-camping. Aku mendengar jeritan pendek dari belakangku, lalu aku terjatuh ke tanah.
"Ghh……"
Darah dan potongan daging terciprat ke tanah. Aku meringis merasakan sakit yang membakar—rasa sakit yang tak pernah bisa kubiasakan.
"Ah, ah……!"
Isfana yang berlumuran darahku kini gemetar dalam kepanikan.
Tentu saja, karena pertarungan sudah berakhir, sihirku tidak bekerja. Aku benci sihirku sendiri karena tidak bisa diandalkan di saat-saat genting seperti ini.
"Aku, aku, apa yang harus kulakukan, apa yang……"
Tangan yang berlumuran darah ini kugunakan untuk mencengkeram dada Isfana, yang kini bertingkah seperti robot rusak.
"Maafkan aku, tolong jaga dirimu sampai ke reruntuhan kastel."
Isfana yang tersentak menatapku dengan mata berkaca-kaca, lalu menggendongku di punggungnya. Hampir bersamaan dengan itu, pandanganku menggelap.
◆◆◆
"Begitu rupanya. Membaca ingatan manusia dan berubah wujud menjadi orang yang sudah tiada, ya. Trik yang cukup cerdas untuk ukuran seekor peri."
Di samping ranjang rumah sakitku, Agrastein memejamkan mata dengan tenang.
Di antara para prajurit, ada yang bertarung demi kerabat atau kenalan yang sudah pergi ke surga. Bagi Agrastein yang seorang komandan, peri seperti itu mungkin menjadi perhatian khusus.
"Sihir itu cukup mengerikan. Aku sudah mengumpulkan sampelnya, jadi nanti para ahli sihir negara bisa mempelajarinya."
Namun, Agrastein kemudian melirik ke sudut ruang rawat dengan tatapan tidak percaya.
"Tapi, siapa sangka pemburu sekaliber Isfana bisa kehilangan fokus hanya karena bayang-bayang ayahnya sendiri? Itu bukan sekadar kelalaian atau kehilangan kewaspadaan lagi."
"……Maafkan saya."
Suara halus seperti dengung nyamuk terdengar.
Di depan mata Agrastein, Isfana duduk di dekat bantal tempat tidurku dengan diam seribu bahasa.
Tatapan matanya yang biasanya tajam kini kehilangan cahayanya sepenuhnya.
"Lagipula, Mikkanen, kau juga punya andil dalam hal ini karena membiarkan Isfana yang mentalnya terguncang langsung terjun ke tugas militer tanpa pengawasan atasan."
Aku tidak bisa membantah, karena itu adalah kebenaran yang mutlak.
"Pokoknya, sekarang fokuslah untuk menyembuhkan lukamu. Kalau perlu, bertarunglah melawan peri-peri kecil di sekitar sini agar sihirmu bisa bekerja."
"Akan saya lakukan."
"Kerja bagus atas tugas militermu."
Setelah mengatakan itu, Agrastein meninggalkan ruang rawat yang gelap. Hanya aku dan Isfana yang tersisa.
Aku tersenyum pada Isfana yang tampak murung.
"Yah, begitulah. Kita kena marah lagi, ya."
"……"
Sejak tadi, Isfana tetap diam membisu sambil berjongkok. Keheningan menyelimuti ruang rawat yang gelap itu.
Namun, aku merasa inilah satu-satunya saat yang tepat untuk meluruskan segalanya dengan Isfana. Jika melewatkan kesempatan ini, aku mungkin tak akan pernah bisa berhadapan dengannya lagi—perasaan itulah yang menyesakkan dadaku.
Mengikuti kata hatiku, aku membuka suara.
"……Bagi Isfana, aku ini apa?"
Isfana yang tidak seperti biasanya itu masih tetap diam. Tapi, ini tidak bisa dibiarkan; aku harus tahu kenapa Isfana begitu takut setiap kali aku mencoba pergi.
"Kenapa kau menghentikanku setiap kali aku mencoba pergi?"
Aku menatap lurus ke wajah Isfana. Isfana yang menahan napas mencoba memalingkan wajah, tapi aku memegang dagunya dan tidak membiarkannya.
Aku bertanya lagi pada matanya yang gemetar.
"Bagi Isfana, sebenarnya aku ini apa?"
Mata Isfana tampak bergetar.
Namun, bibirnya tetap tertutup rapat.
"Apa kau tidak mau memberitahuku? Yah, mungkin wajar jika kau memang membenciku."
Hatiku terasa tenggelam dengan tenang.
Meskipun aku sempat berpikir dia membenciku, aku sebenarnya merasa dekat dengan Isfana. Rasanya sakit sekali mengetahui bahwa aku tidak cukup dipercaya sampai-sampai dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya padaku.
Aku hanya ingin mendengar isi hatinya, meski hanya sedikit.
"Maafkan aku."
Saat aku hendak menjauh setelah mengucapkan itu, tiba-tiba—
"……Tunggu, sebentar."
Jari-jari kurus Isfana mencengkeram tanganku. Sambil mengertakkan gigi, menarik napas panjang, dia akhirnya membuka mulut.
"Di dalam Geis milikku, seseorang yang bisa kuikuti dengan sepenuh hati itu adalah kau."
Seolah-olah baru saja membuka kotak Pandora, Isfana tersenyum getir.
"……Apa kau mengerti? Aku ini memujamu."
Itu mungkin kata-kata yang sudah lama terkunci di dalam hatinya. Isfana mulai menceritakan isi hatinya satu demi satu.
Isfana yang kehilangan orang tuanya sejak dini selalu mengejar bayang-bayang mereka.
Berpegang teguh pada ingatan saat dipuji sebagai orang yang berbakat dalam sihir, dia berusaha sekuat tenaga hingga akhirnya masuk ke dalam party-ku. Pada awalnya, Isfana membenciku.
"Aku kesal melihatmu terus bertarung tanpa ragu bahwa manusia akan menang. Itu adalah hal yang hanya boleh dilakukan oleh seorang pahlawan, dan aku tahu benar bahwa aku tidak punya bakat untuk menjadi pahlawan."
Isfana memasang senyum kering yang seolah mengejek dirinya sendiri.
"Konyol sekali, ya? Aku hanya bergantung pada kata 'jenius' karena aku takut setengah mati kalau harus kalah darimu."
Semua itu berakhir pada malam bersalju itu.
Hari di mana aku menyelamatkan Isfana yang sekarat dalam keadaan berlumuran darah, Isfana merasa kalah dariku—setidaknya, dia merasa tidak bisa menandingiku.
Pada pria yang pertama kali mengalahkannya itu, Isfana menumpuk bayang-bayang punggung orang tuanya.
"Setelah itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Bagi dirimu mungkin ini menyebalkan, tapi setelah kalah, aku malah ingin menyerahkan segalanya padamu. Bukankah itu sangat dungu?"
Karena itulah, dia bertekad untuk mengikutiku bahkan hingga mempertaruhkan nyawanya.
Seolah-olah ingin menitipkan seluruh kesepian karena kehilangan orang tua, dia melekat padaku dengan perasaan yang tidak murni dan dungu seperti itu.
"Meski begitu, aku tidak bisa melepaskan kata 'jenius'. Hanya dengan itu aku bisa merasa terhubung dengan orang tuaku."
Itulah sebabnya dia selalu berusaha menjadi seorang jenius.
"Aku bersikap manja padamu. Aku bersandar padamu dengan mengikutimu, lalu menghibur diriku sendiri bahwa aku seorang jenius dengan mencaci dan mengejekmu. Itu menjijikkan, benar-benar tindakan dungu yang konyol."
Mata Isfana menatap kosong ke kejauhan.
Aku akhirnya mengerti maksud petunjuk Morgraid. Bahwa orang yang bisa ia ikuti dengan sepenuh hati dalam Geis-nya adalah aku—itu adalah segalanya bagi Isfana.
"Karena itulah, saat kau bilang ingin keluar dari militer, seluruh duniaku runtuh. Jika kau tidak ada di depan mataku, jika tidak ada lagi orang yang bisa kuikuti seumur hidupku……"
Bagi Isfana, aku adalah segalanya.
Karena itulah dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah aku pergi; dia merasa ketakutan luar biasa. Itulah sebabnya dia mencoba mengikatku agar aku tidak bisa melarikan diri.
"Lalu, terjadilah kejadian itu."
Isfana mengacak-acak rambutnya. Matanya kehilangan seluruh cahaya.
"Aku disesatkan oleh bayangan orang tuaku, dan malah melukaimu. Tidak bisa dimaafkan, aku yang dungu ini seharusnya tidak boleh melukaimu, orang yang selalu kurepoti dengan sikapku yang menempel padamu."
Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
Aku tidak pernah menyangka bahwa Isfana, yang kukira membenciku, ternyata memendam perasaan seperti itu di baliknya.
"Bagaimana? Apa kau kecewa pada sosokku yang seburuk ini? Apa kau jadi membenciku karena aku begitu tidak tahu malu, selalu mencacimu tapi justru menempel padamu saat sedang takut?"
Isfana yang gemetar memalingkan wajah, seolah terlalu takut untuk menatap wajahku.
Aku menghela napas. Bahu Isfana tersentak.
"Pertama. Aku tidak tahu apakah usahamu untuk menambal rasa kehilangan orang tuamu dengan diriku ini benar atau tidak. Tapi, seandainya saja kau bicara dari awal, aku pasti tidak akan menolaknya."
Jujur saja, aku marah pada Isfana.
Kenapa dia tidak membicarakan masalah itu sampai sejauh ini? Kalau saja dia memberitahuku, aku pasti akan menemaninya, aku pasti akan selalu ada di sisinya.
"Kau bilang aku akan membencimu?"
Jangan bercanda, jika dihitung dengan kehidupan sebelumnya, aku sudah hidup selama puluhan tahun.
Meski merepotkan, aku tidak mungkin membenci rekan seperjuangan yang sudah lama berada di sisiku.
"Perkataanku bahwa aku ingin keluar dari militer itu tidak bohong."
Mendengar kata-kataku, wajah Isfana menjadi gelap. Aku menepuk kepalanya dengan lembut.
"Tapi, setelah mendengar ceritamu, aku memutuskan untuk sedikit mengubah rencanaku. Jika suatu saat aku keluar dari militer, aku akan menculikmu sekalian."
Isfana membelalakkan matanya, dan aku tersenyum padanya.
"Lagipula, kalau orang jenius ceroboh yang berpikir untuk mengikuti orang bodoh sepertiku ini dibiarkan sendirian, itu malah akan menyusahkan militer."
"……!"
Isfana dengan mata berkaca-kaca menerjang ke dadaku. Aku mengusap punggungnya yang gemetar dengan lembut.
◆◆◆
"Jadi, kupikir urusan kita sudah selesai dengan itu."
Kepalaku berdenyut sakit.
Beberapa waktu setelah kejadian itu, lukaku sembuh.
Jangan bilang siapa-siapa, tapi aku bosan di ranjang, jadi aku diam-diam pergi bertarung di medan perang dan menyembuhkan lukaku sendiri dengan sihir.
Setelah kembali karena telah menyelesaikan tugas militer dengan menyenangkan dan berpikir semuanya berakhir bahagia—
Saat aku menyelinap ke tempat tidur karena ingin segera beristirahat, ternyata sudah ada tamu di sana.
"B-berisik. Diamlah dan tidurlah bersamaku!"
Isfana, dengan wajah yang memerah padam, entah kenapa sudah bersembunyi di dalam tempat tidurku.
Begitu kakiku masuk ke dalam tempat tidur, aku diseret ke dalam selimut dan dipeluk erat seolah-olah aku adalah serangga yang terjebak di dalam sarang antlion.
Isfana membenamkan wajahnya ke dadaku.
"Sejak saat itu, aku terus merasa ketakutan kalau-kalau kau menghilang, sampai-sampai aku tidak bisa tidur sekejap pun. Kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan padaku!"
Sambil mengakui hal yang sangat tidak masuk akal itu, Isfana sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menjauh dariku. Rasanya gerah sekali, dan aku hanya bisa melamun dengan bingung.
Ah, seharusnya aku tidak perlu mengatakan kalau aku ingin keluar dari militer.
Sambil membayangkan diriku yang dulu begitu bodoh dan ingin menghajarnya di dalam pikiran, aku hanya bisa pasrah membiarkan Isfana melakukan apa pun yang dia mau.
Sesuatu yang hangat perlahan merambat ke kulitku.
Gawat, kalau begini terus bisa bahaya. Aku harus memikirkan hal lain.
Ngomong-ngomong soal peri yang menyamar menjadi orang itu, dia sempat menyebut-nyebut soal "Ibu Suci Agung" atau semacamnya saat hendak dibunuh.
Mungkinkah peri juga memiliki agama? Meskipun menurutku itu adalah ajaran sesat yang tidak masuk akal.
"……Aduh, sakit! Berhenti menggosokkan kepalamu ke dadaku!"
"K-karena dingin, mau bagaimana lagi! Kau diam saja dan jadilah botol air panas pribadiku!"
Aku hanya bisa mengeluarkan jeritan tanpa suara menghadapi Isfana yang memeluk lenganku sekuat tenaga, persis seperti seekor tonggeret yang menempel erat pada batang pohon.
"……Fufu."



Post a Comment