Chapter 2
Sang
Sarjana yang Tergila-gila pada Pencarian
Itu adalah suatu senja di musim gugur.
Di dalam sebuah ruangan yang diterangi cahaya matahari
kemerahan, pandangan mataku terpaku pada secarik kertas di tangan pria itu.
Itu mustahil. Bagaimana mungkin pemburu yang bahkan
mungkin tidak pernah mengenyam pendidikan universitas dengan layak ini bisa
membaca tesisku—karya yang seharusnya telah disingkirkan dari jurnal ilmiah dan
dikubur dalam kegelapan?
Aku telah ditertawakan oleh semua cendekiawan, tidak ada
satu pun orang yang mempercayaiku.
"Ada apa? Ini tesis yang kau tulis, bukan? Aku
kebetulan membacanya saat sedang mencari berbagai referensi, dan sejujurnya,
aku hampir berhenti bernapas. Itu benar-benar luar biasa."
Tidak, hentikan. Jangan katakan hal seperti itu.
Jika kau memujiku dengan tatapan mata sejernih itu dan
nada suara seceria itu, aku yang seharusnya hanya bisa meragukan segalanya
justru akan mempercayaimu.
Aku akan percaya bahwa pria ini benar-benar mengikuti
jejak penelitianku dari lubuk hatinya.
"Aku hampir jatuh terduduk saat tahu kau berada di
militer. Aku mengira kau pasti sedang menjabat sebagai rektor di universitas
ternama atau semacamnya."
Pria itu tersenyum manis, memegang tesisku yang kini
penuh dengan catatan pinggir.
"Profesor Alhazen, menurutku terlalu sayang jika
penelitian ini diakhiri begitu saja. Kau boleh menertawakanku sebagai orang
awam, tapi aku tidak ingin kau menyerah, Profesor."
"A, ah……"
Kata-kata yang tak lagi bisa dirangkai jatuh begitu saja
dari bibirku. Pria itu menyeringai.
"Soal tugas militer, aku akan mengurusnya agar kau
bisa tetap fokus. Mari kita buat para cendekiawan di komite akademik yang telah
membuangmu sejauh ini merasa menyesal."
Selama ini, hidupku begitu menyiksa.
Terus-menerus meragukan segala hal di dunia ini jauh
lebih berat daripada yang kubayangkan, dan aku hampir saja membenci segalanya.
Tidak bisa mempercayai apa pun yang kulihat, curiga pada setiap hal yang
kudengar—itu seperti neraka.
Namun, ah, ini curang. Ini sungguh tidak adil.
Pria yang akan menjadi atasanku ini justru mempercayai
diriku yang sudah gila ini. Jika diperlakukan seperti ini, mana mungkin akalku
bisa tetap sehat?
Ya, mulai sekarang, aku akan menjadikan orang ini sebagai
satu-satunya orang di dunia yang tidak akan aku ragukan. Aku tidak tahu kenapa
dia bisa begitu bisa diandalkan, tapi aku tidak peduli.
Mulai sekarang, hanya orang ini saja yang tidak akan aku
ragukan sama sekali.
◆◆◆
"Hmm, syukurlah kalau begitu."
Morgraid melemparkan buah stroberi ke dalam mulutnya
seolah itu hal yang tidak penting. Hanya teh dan buah untuk makan malam,
benar-benar sulit dipercaya dia itu manusia.
"Aku masih merasa terganggu karena dia menyelinap ke
tempat tidur, tapi secara garis besar semuanya berjalan lancar. Petunjuk darimu
sangat membantu."
Di ruang makan, aku menceritakan hasil akhirnya setelah
semuanya selesai. Aku membungkuk dalam-dalam kepada Morgraid yang sedang
mengaduk tehnya dengan bosan.
"Tidak masalah. Aku sendiri sudah merasa terhibur
hanya dengan melihat kalian."
Morgraid tertawa kecil, suara dari tenggorokannya
terdengar jarang-jarang.
Belakangan ini aku tidak melihat senyum licik Morgraid
karena kepalaku pening memikirkan Isfana. Entah kenapa, rasanya sedikit
nostalgia.
"Lagipula, Isfana itu memang Isfana."
Aku memajukan bibir sambil membunyikan sendok pada
mangkuk.
"Kalau dia memang memujaku, seharusnya dia katakan
saja langsung. Aku tidak merasa sudah menjadi atasan yang baik, jadi kupikir di
dalam hatinya dia tidak berniat untuk patuh padaku."
Plung. Suara terdengar saat Morgraid
menjatuhkan gula ke dalam cangkirnya. Matanya menatapku seolah tidak percaya.
"……Mungkin ini hanya salah pahamku, tapi, menurutmu
bagaimana Isfana memandangmu?"
"Jangan tanya hal yang tidak jelas, bukankah baru
saja kita bahas? Yah, bagaimanapun juga, aku senang dia menghargaiku sebagai
pemimpin."
Morgraid menghela napas panjang saat melihatku
memiringkan kepala.
"Di novel roman murahan yang dijual di pasaran pun,
tidak ada orang yang se-tumpul dirimu. Benar saja, kau adalah musuh para
gadis."
Aku tidak mengerti maksud ucapannya, tapi aku memutuskan
untuk tidak memedulikannya.
Aku tidak tahu apa yang ingin dikatakan Morgraid, tapi
aku sendiri yang mendengar langsung dari Isfana. Tidak mungkin aku salah paham.
"Yah, sudahlah."
Setelah menghabiskan sup kacang kekuningan yang lebih
mirip air daripada sup, aku mendekatkan mulutku ke telinga Morgraid.
"Selanjutnya, aku berencana meminta Profesor Alhazen
untuk memecatku. Bagaimana menurutmu?"
"Kau baru saja mengalami kejadian menyakitkan
gara-gara Isfana, bukan? Apa fungsi ingatan di kepalamu sudah hilang?"
Morgraid menatapku tajam. Namun, ini adalah hasil
pemikiranku sendiri.
Aku tidak punya waktu lagi untuk menimbang-nimbang cara;
aku sudah muak hidup di militer ini, dan aku tidak ingin berlama-lama lagi.
"Profesor Alhazen adalah orang yang berbicara
berdasarkan logika. Jadi, masalahnya tidak akan berbelit seperti saat dengan
Isfana."
"Ah, begitu."
Morgraid memasang wajah seperti orang suci yang
memahami segalanya. Kemudian, dia mengangguk pelan dengan senyum yang terlalu
ramah.
"Ya sudah, lakukan saja sesukamu. Sepertinya aku
paham betul kalau kau ini tipe orang yang tidak akan belajar kalau tidak
ditikam dari belakang oleh salah satu anggota tim."
"U-uh, aku tidak begitu paham, tapi itu artinya
boleh, kan?"
Aku sedikit gentar melihat perubahan ekspresi Morgraid
yang mendadak, tapi aku menganggapnya sebagai lampu hijau.
◆◆◆
"Profesor Alhazen, lama tidak bertemu."
"……Secara akurat, sudah 158 jam 56 menit 14
detik."
Pintu besi yang berat perlahan terbuka. Sambil
menyeret ujung jas labnya, Profesor Alhazen muncul di balik kepulan asap putih.
"Agrastein ingin kau meneliti peri Bencana yang
baru. Peri yang menyamar jadi manusia yang baru saja kubunuh bersama Isfana
kemarin."
Aku menyerahkan kepala peri yang tersegel dalam stoples,
yang masih dalam wujud guru asuhku, kepada Profesor Alhazen.
"Begitu, peri yang menyamar jadi manusia sepertinya
akan merepotkan. Meniru manusia adalah hal tersulit bagi peri, dan seharusnya
itu bukan kemampuan yang dimiliki oleh peri level Bencana seperti ini, tapi
kenapa ya?"
Profesor Alhazen mulai memaparkan analisisnya layaknya
seorang cendekiawan.
Di balik kacamata bulatnya terdapat sepasang mata
hitam yang keruh seperti orang mati. Rambut hitamnya yang panjang berantakan
dan dipenuhi peniti serta pipet yang tersangkut.
Ogdo Alhazen.
Salah satu anggota tim sekaligus otoritas dalam ilmu
peri yang bahkan muncul dalam skenario permainan.
Dia adalah cendekiawan yang datang ke militer dari
Universitas Allegra, tempat berkumpulnya para cendekiawan terhebat di dunia.
Dalam 'Hunter of Fairies', dia memegang posisi
pedagang yang menjual ramuan sebagai pendukung yang tidak bisa menggunakan
sihir. Namun entah kenapa, Profesor Alhazen yang sekarang bisa menggunakan
sihir.
"……Jadi, kurasa Mikkanen punya hal lain untuk
dibicarakan. Berdasarkan catatan sejauh ini, itu adalah kesimpulan yang paling
masuk akal."
Setelah selesai memaparkan pemikirannya tentang peri
yang menyamar jadi manusia, Profesor Alhazen menatapku lekat-lekat dengan mata
dingin yang seolah sedang menatap marmut.
Ini dia, inilah yang kucari.
Tatapan yang seolah mengatakan bahwa dia tidak
tertarik sedikit pun padaku. Mata yang seakan ingin bilang, "Bisakah kau
berhenti mengganggu pekerjaanku meski kau atasan?"
Inilah yang kubutuhkan.
Aku melakukan gerakan guts pose di dalam hati.
Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa lawan dari rasa suka bukanlah benci,
melainkan tidak dipedulikan, maka Profesor Alhazen-lah yang harus kuandalkan.
Kalau dipikir-pikir, mungkin seharusnya aku meminta
bantuannya sejak awal.
Profesor Alhazen adalah tipe cendekiawan yang bisa
membuat mesin berteknologi mustahil layaknya di dalam game atau anime. Dia
pasti bisa menyelesaikan permintaanku dengan cepat.
Tapi, aku belajar dari kejadian Isfana. Aku memulai dengan serangan ringan terlebih dahulu.
"Ada satu hal yang ingin kutanyakan. Apakah kau
menyukaiku atau membenciku?"
"Aku menganggapmu sebagai mitra yang bisa
diandalkan. Fakta bahwa aku bisa tenggelam dalam penelitian tanpa gangguan apa
pun sangat bergantung pada kontribusimu, Mikkanen."
Apakah ini bisa dianggap bahwa aku diandalkan?
Kata-katanya terdengar berputar-putar. Aku
menganggapnya lebih disukai daripada yang kukira, lalu aku bertanya kembali
tentang isi hati Profesor Alhazen untuk memastikan langkahku.
"……Itu, misalnya jika ada seseorang yang lebih
bisa diandalkan dariku muncul, apakah aku sudah tidak berarti lagi?"
"Secara teori, begitulah. Secara realitas, aku
tidak tahu."
Sambil menyimpan cawan petri ke dalam kotak berisi
es, Profesor Alhazen memasang wajah sulit. Aku menatap anggota timku itu dengan
perasaan cemas.
"Hanya saja, jika Mikkanen bisa mewujudkan hal
itu, kurasa aku tidak keberatan."
Bagus! Aku mengangguk dalam hati.
Ini jauh berbeda dengan kejadian Isfana. Jika itu
Profesor Alhazen yang berpikir berdasarkan logika, bukan perasaan, maka
kata-katanya tidak mungkin bohong.
Aku hanya perlu mencari seseorang yang bisa dipercaya
oleh Profesor Alhazen. Atau malah, mungkin aku tidak perlu pusing sama sekali.
Bagi militer, Profesor Alhazen jauh lebih dibutuhkan
daripada diriku.
Agrastein, si komandan shota maniak itu, tidak
mungkin membiarkan kekalahan manusia. Dia pasti akan segera membawa seseorang
untuk menggantikanku.
Setelah menyadari itu, tidak ada lagi yang perlu
kupikirkan.
"Aku mengerti. Sebenarnya, pembicaraan tadi seperti
ujian untuk melihat apakah aku boleh mengungkapkan isi hatiku padamu."
"Itu hal yang bagus. Menguji segala sesuatu dengan
keraguan adalah fondasi ilmu pengetahuan."
Sambil berbicara denganku, tangannya sibuk
membereskan laboratorium. Melihat sosok Profesor Alhazen, aku yakin akan
kemenanganku.
Aku sudah belajar dari kasus Isfana dan melakukan
tindakan berbelit-belit ini. Profesor Alhazen pasti bisa mengabulkan
keinginanku.
Aku memberanikan diri untuk mengutarakan permintaanku.
"Sebenarnya, aku berniat keluar dari militer. Untuk
itu, aku membutuhkan bantuanmu. Bisakah kau membantuku?"
"Hmm, aku mengerti."
Tanpa menoleh sedikit pun, Profesor Alhazen mengangguk.
"……"
"……"
"……Eh, a-ah, terima kasih."
Tanpa diduga, Profesor Alhazen menyetujui permintaanku
dengan sangat mudah.
Karena pembicaraannya berjalan begitu lancar, aku malah
jadi merasa takut. Tapi, meski memalukan, aku hampir menangis.
Akhirnya, akhirnya aku menemukan anggota yang mau
"membuangku".
Dengan ini, aku bisa melarikan diri dari kehidupan
militer di medan perang ini. Aku bisa menyerahkan segalanya pada pemain game
itu dan beristirahat dengan tenang di belakang garis depan.
"Namun, aku juga punya beberapa hal yang ingin
aku uji seperti yang kau lakukan tadi. Jadi, bisakah kau berbaring di tempat
tidur itu?"
Aku yang sedang berpesta pora di dalam hati langsung
mengangguk patuh pada instruksi Profesor Alhazen.
Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan di tempat
tidur yang ternoda bercak darah di sana-sini ini. Tapi, jika
ini bisa membawaku pada "pemecatan", aku akan berada di atas tempat
tidur ini selama apa pun.
Aku menyipitkan mata saat lampu terang menyilaukan
diarahkan ke wajahku. Sementara itu, Profesor Alhazen
sibuk mengotak-atik sesuatu di bawah tempat tidur.
"Hmm?"
Jika aku tidak salah, ini... bukankah aku sedang
diikat?
Aku mengerahkan tenaga untuk bangkit, tapi tubuhku
tidak bergeming. Tangan dan kakiku yang terikat sabuk tidak bisa digerakkan
sama sekali, bahkan untuk sekadar menekuk jari pun tidak bisa.
Ini sekuat menangkap binatang buas yang sedang
mengamuk.
Aku memiringkan kepala, satu-satunya bagian tubuh yang
tidak diikat.
Kalau diingat-ingat, katanya laboratorium ini sering
digunakan untuk melakukan eksperimen pada peri yang ditangkap hidup-hidup.
Melihat darah di tempat tidur dan sabuk ini, mungkinkah ini untuk menahan peri
yang mengamuk?
Begitu ya, jadi maksudnya, aku akan mengalami nasib yang
kalau tidak diikat sabuk seperti ini, aku akan melarikan diri? Aku
mengangguk-angguk memikirkan hal itu.
Tidak, mana bisa aku tetap tenang!
"Profesor——! Profesor Alhazen——!"
"Tidak perlu berteriak. Aku ada di sini."
Begitu aku berteriak, wajah Profesor Alhazen muncul
dari samping.
Namun, dia mengenakan masker gas.
Sosoknya yang bernapas melalui pipa di sekitar
mulutnya tampak seperti malaikat maut yang menjemput jiwa ke neraka, dan aku
merasa sangat takut.
"Itu, sebenarnya apa yang sedang kau
lakukan?"
"Kurasa aku sudah mengatakannya. Mikkanen adalah
satu-satunya orang yang bisa kupercaya, jadi demi melanjutkan penelitianku di
masa depan, aku memerlukan penggantimu."
Profesor Alhazen menyimpan stoples berisi kepala peri
tadi ke rak.
Apa yang dikatakan Profesor Alhazen sangat sederhana.
Aku ingin melarikan diri dari militer, dan Profesor
Alhazen membutuhkan atasan yang bisa ia percaya sebagai gantinya. Untuk itu,
dia harus meneliti orang seperti apa yang bisa ia percaya.
Karena saat ini Profesor Alhazen paling
mempercayaiku, dia seharusnya bisa mengetahui sumber kepercayaannya dengan
meneliti diriku.
Kira-kira begitulah jalan pikirannya. Aku tidak mengerti.
"Oleh karena itu, aku minta maaf atas
ketidaknyamanannya, tapi aku rasa aku tidak bisa membiarkan Mikkanen keluar
dari militer untuk sementara waktu. Sampai penggantimu didapat, bisakah kau
membantuku?"
"Baiklah, tapi sebagai gantinya, nanti kau harus
membantuku keluar dari militer sampai aku puas."
"Tentu saja, aku mengerti."
Setelah selesai bicara, alis Profesor Alhazen sedikit
turun.
Terus terang, dia agak menakutkan.
Namun, tidak seperti saat dengan Isfana, dia tidak
terlihat enggan melepas kepergianku dari militer. Sepertinya dia mungkin
benar-benar akan membantuku keluar dari sini.
Aku tidak suka diikat di tempat tidur, tapi ini semua
demi keluar dari militer. Aku memutuskan untuk pasrah mengikuti apa pun yang
dilakukan Profesor Alhazen.
Profesor Alhazen berlarian sibuk di dalam
laboratorium.
Suara gesekan alat gelas seperti labu dan tabung
reaksi bergema di telinga. Gas berlendir meletup-letup di dalam labu, dan aku
merasa ada sesuatu yang menggeliat di baliknya.
Aku memalingkan muka dengan tenang.
Aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang dicoba
oleh Profesor Alhazen. Hanya ketakutan samar yang terus menumpuk dan membesar.
Saat itulah, suara basah terdengar.
Saat aku menoleh, daging merah kehitaman yang lembek
tampak jatuh ke cawan petri seperti sesuatu yang dimuntahkan.
Ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman melihat apa
yang dipotong Profesor Alhazen dengan skalpel. Jika aku tidak salah, itu adalah
sesuatu yang sudah terlalu sering kulihat di medan perang.
Ya, itu usus manusia.
"Apa gumpalan daging itu?"
"Itu usus Mikkanen. Lebih tepatnya, lebih baik
menyebutnya sebagai salinan yang kutumbuhkan dari kulitmu."
Napasku berhenti. Apa itu?
Aku tidak mengerti. Sejak kapan dia mengambil sampel
kulit dariku? Aku sama sekali tidak diberitahu bahwa daging tubuhku sedang
ditumbuhkan seperti ini di dalam cawan petri.
Ini sudah melampaui batas penelitian. Ini jelas penistaan
dan kegilaan.
Namun, tanpa memedulikan aku yang gemetar ketakutan,
Profesor Alhazen memasukkan daging yang sudah dipotong-potong ke dalam tabung
reaksi dan melanjutkan eksperimennya.
"Apa gunanya meneliti ususku?"
Sambil gemetar, aku bertanya pada Profesor Alhazen.
"Setidaknya aku jadi tahu bahwa alasan aku
mempercayaimu tidak ada pada usus tersebut."
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dia katakan.
Bagi seseorang yang mempercayai orang lain,
mempertanyakan hal seperti usus atau daging adalah omong kosong. Siapa pun yang
memiliki akal sehat pasti tahu itu.
Padahal Profesor Alhazen, yang dipuji sebagai
otoritas, seharusnya adalah cendekiawan yang jauh lebih pintar dariku.
"Fakta bahwa kau bisa mempercayaiku dan ususku
adalah hal yang sama sekali berbeda, seharusnya kau tahu..."
"Aku tidak tahu, aku tidak tahu! Mengapa
aku bisa mempercayai Mikkanen, aku tidak tahu alasannya!"
Tiba-tiba berteriak, Profesor Alhazen membanting
tabung reaksi di tangannya ke meja. Kaca yang pecah jatuh ke lantai sambil
mengeluarkan suara jeritan.
Darah merah menyala seperti api menetes ke kulit
Profesor Alhazen.
"Ah, sampel berharga telah terbuang sia-sia.
Sungguh menyusahkan."
Profesor Alhazen bergumam seolah kehilangan akal.
Tak lama kemudian, matanya menatap tajam ke arah
Mikkanen. Di baliknya menyala cahaya kegilaan yang dingin dan lembap. Profesor
Alhazen yang sekarang sudah tidak waras.
"Mikkanen, maafkan aku, tapi bisakah aku minta
sampel lagi?"
Di tangan Profesor Alhazen, skalpel berkilau tajam.
"T-tidak, Profesor Alhazen, aku agak keberatan
dengan yang itu..."
"Tapi, jika tidak melakukannya, aku tidak punya
orang lain yang bisa kuandalkan. Jika tidak ada orang lain yang bisa
kuandalkan, aku tidak bisa membiarkan satu-satunya orang yang bisa kupercayai,
Mikkanen, keluar dari militer."
Mata gelap yang tampak seperti terowongan tanpa ujung
itu menangkapku dan tidak melepaskanku. Ah, aku melakukan hal bodoh lagi, aku
menyesal setengah mati.
Seharusnya aku berpikir lebih matang saat berbicara
dengan Morgraid.
Profesor Alhazen jelas sudah tidak beres. Seolah
menderita penyakit, dia meyakini bahwa sumber kepercayaan seseorang pada orang
lain mungkin ada pada darah, daging, atau usus.
Dengan begini, sumber kepercayaan yang dimaksud
Profesor Alhazen tidak akan pernah ditemukan.
Gawat, aku ingin keluar dari militer sekarang juga.
Jika aku terus menemani penelitian Profesor Alhazen yang sejak awal sudah
diketahui tidak akan berjalan lancar, nyawaku tidak akan cukup.
Ada yang aku pelajari dari kasus Isfana.
Tidak ada gunanya berbicara dengan anggota tim yang sudah
sampai di tahap ini. Hanya ada satu cara, yaitu menunggu sampai pikirannya
tenang.
Aku mengertakkan gigi dan memutuskan sabuk pengikat.
Melihat kejadian itu, Profesor Alhazen hanya menatap
tajam dengan mata gelapnya dalam diam. Matanya kosong, tanpa kemarahan maupun
kesedihan.
"……Kau mau lari? Apa niatmu untuk menemaniku
meneliti itu bohong?"
"Kurasa Profesor Alhazen yang sekarang sedang
tidak waras. Mari tenang dulu, setelah itu baru kita bicara."
Profesor Alhazen yang berada di seberang tempat tidur
menundukkan wajah.
"Aku tidak bisa memaafkannya. Ini adalah hal
yang sudah kita sumpah dan sepakati bersama, tidak boleh ada yang
mengingkarinya. Jika kau tetap lari, aku akan menggunakan cara apa pun
yang diizinkan."
Profesor Alhazen terus bergumam pada dirinya sendiri.
Dia tidak memedulikanku sama sekali, seolah-olah
telah tenggelam ke dalam kedalaman pemikirannya sendiri.
Memanfaatkan kesempatan itu, aku merayap menuju pintu
laboratorium tanpa disadari. Tanganku yang berada di belakang meraih gagang
pintu secara meraba-raba.
"Maaf, mari kita bicarakan soal eksperimennya
nanti."
Aku berbalik membelakangi Profesor Alhazen dan
mencoba memutar gagang pintu. Profesor Alhazen yang berada di belakangku
bergumam pelan.
"Tidak bisa dihindari. Aku tidak bisa lagi
memilih cara."
Gas hijau disemprotkan ke wajahku dari nosel yang
terpasang di samping pintu.
Dengan intuisi yang aku asah di medan perang, aku
segera melindungi mulutku dengan lengan. Saat menoleh ke belakang, Profesor
Alhazen, yang menatapku dengan mata tanpa emosi, sedang menurunkan tuas besi.
Melihat masker gas yang dikenakan di wajahnya, aku
langsung sadar.
Sejak awal, Profesor Alhazen sudah merencanakan ini.
Gas hijau yang beracun itu melewati kain baju di
lenganku dan masuk ke mulutku. Kesadaranku perlahan memudar, dan aku jatuh
berlutut ke lantai.
"Ghk, brengsek."
"Tidak ada gunanya. Kain katun biasa tidak bisa
mencegah gas ini bahkan 0,10% pun."
Sambil berkata begitu, Profesor Alhazen meraih
lenganku dan menjauhkannya dari mulutku. Aku tidak mungkin bisa menahan napas
selamanya, dan aku menghirup gas itu dalam-dalam.
Racun itu dengan senang hati menyerangku.
Dari paru-paru ke aliran darah, lalu ke otak. Dalam
sekejap, otakku terbakar oleh kenikmatan yang membuat mati rasa, dan punggungku
gemetar. Profesor Alhazen menatapku yang meronta-ronta di lantai dengan mata
dingin.
"Namun, aku tidak menyangka Mikkanen tidak bisa
menepati kata-katanya sendiri. Aku harus menangkapmu dengan lebih
ketat agar bisa mendalami penelitian ini."
Ah, aku tidak bisa lari lagi. Di tengah pikiranku
yang kabur, saat aku hampir menyerah pada segalanya—
"Hei, si dungu. Kau di sana?"
Terdengar
suara Isfana mengetuk pintu laboratorium.
"Isfana, ya? Tapi kurasa Mikkanen tidak ada di sini.
Dia baru saja pergi setelah bicara sebentar."
Profesor Alhazen berbohong dengan datar, seolah
memberikan laporan administratif. Matanya tidak tersenyum, wajahnya tampak
datar seperti robot yang rusak.
Seketika tangannya mencoba membungkam mulutku.
"Aku di sini! Tolong aku, Mmph!"
Aku berteriak sekuat tenaga.
"Maaf, peri yang kutangkap hidup-hidup untuk
eksperimen sedang mengamuk. Isfana tidak perlu memedulikannya."
Di bawah nada bicaranya yang datar, aku ditekan oleh
Profesor Alhazen.
Profesor Alhazen menatapku yang meronta dengan
tatapan mata cendekiawan yang menyimpan kegilaan, seolah sedang menatap marmut.
Kalau saja sihirku bekerja, aku menggigit bibir.
Jika aku bisa menangani gas beracun itu dengan
sihirku, aku tidak mungkin kalah dalam hal kekuatan melawan Profesor Alhazen
yang meski militer, tetaplah seorang cendekiawan.
Namun, sihirku tidak akan bekerja kecuali terjadi
pertarungan.
Untuk itu, baik aku maupun Profesor Alhazen harus
berniat untuk saling membunuh dengan sepenuh hati. Syarat yang
selama ini tidak terlalu kupikirkan itu, kini terasa sangat menjengkelkan.
Saat anggota tubuhku terasa berat seperti timah, saat
itulah—
"T, terbanglah, pintu!"
Pintu itu terlempar sampai ke bagian dalam laboratorium.
Isfana menerobos masuk menembus gas hijau yang masih
tersisa. Alis Profesor Alhazen sedikit bergetar, dan dia
mendecakkan lidah dengan pelan.
"……Aku tidak menyangka dia benar-benar
mempercayai kebohongan seperti itu."
"——!"
Melihatku yang tergeletak di lantai, kemarahan membara di
mata Isfana.
"Racun yang mengganggu ini, cepatlah menghilang!"
Isfana berteriak, dan gas hijau itu perlahan memudar.
"Kalian para tabung reaksi di sana, jauhkan profesor
gila itu dari Mikkanen!"
Perintah Isfana memberi kehidupan pada botol-botol reaksi
yang bertebaran di seluruh penjuru laboratorium.
"Sungguh, ini sangat merepotkan."
Profesor Alhazen menggeretakkan giginya hingga berbunyi
nyaring.
Isfana menggerakkan sekumpulan botol reaksi untuk
terus mendesak Profesor Alhazen yang mulai mundur. Tiba-tiba, dari balik
punggung profesor itu, muncul sebuah pengeras suara raksasa yang tampak berat
dan mengintimidasi.
"Senjata ciptaanku, No. 27. Alat ini bisa
menghancurkan otak peri dari jarak jauh dengan mudah. Tentu saja, ia juga bisa
membunuh manusia dengan gampang."
Seketika, guncangan udara yang membuat telinga sakit
menghancurkan semua botol reaksi tadi.
Di tengah hujan pecahan kaca yang berkilauan, wajah
Profesor Alhazen tampak begitu datar, tak ada sedikit pun emosi yang terbaca.
Matanya yang melotot menatap tajam ke arah Isfana.
"Lalu, dengan menunjukkan barang rongsokan itu, apa
yang ingin kau katakan?"
Isfana tertawa mengejek. Profesor Alhazen berbicara
kepada Isfana dengan nada yang tenang, seolah-olah guru yang sedang menasihati
muridnya yang keras kepala.
"Aku sedang berbicara dengan Mikkanen. Aku
rasa Isfana tidak diperlukan di sini."
Jika Isfana mundur sekarang, dia tidak akan terluka.
Itu adalah ancaman yang nyata bagi Isfana. Namun, Isfana
hanya tertawa remeh mendengar kata-kata Profesor Alhazen.
"Memang si dungu ini menyebalkan, tapi dia tetaplah
atasan yang benar-benar aku patuhi. Kalau begitu, bukankah tidak pantas jika
kau memerintahku untuk tidak menyelamatkannya?"
Isfana melangkah maju dan menyembunyikan aku di balik
punggungnya.
Melihat pemandangan itu, mata Profesor Alhazen perlahan
terbuka lebar. Giginya beradu, menghasilkan suara gesekan yang menyerupai kaca
yang tergores.
"Aneh. Aku merasa ini tidak sesuai dengan
logika."
Dia mencengkeram rambut hitamnya yang memang sudah
berantakan, lalu menatapku dengan mata yang redup.
"Kenapa, Mikkanen? Aku bertanya padamu. Bukankah aku
hanya mencoba menuruti permintaanmu untuk mencari sumber kepercayaan?"
"Hei, si dungu. Apa yang sudah kau lakukan?"
Mengabaikan Profesor Alhazen yang berteriak seperti
orang gila, Isfana menatapku dengan dingin. Aku memalingkan wajah dengan
perasaan tersiksa, lalu bergumam dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"……H-hanya memintanya melakukan hal yang sama
seperti yang kukatakan padamu. Aku memintanya membantuku keluar dari militer
melalui pengusiran."
"Kau benar-benar bodoh yang tidak tertolong, ya.
Mungkin lebih baik kau mati saja."
Dengan tatapan meremehkan, Isfana menginjak kepalaku
dengan sepatu militernya.
Meskipun aku tidak punya kecenderungan seperti itu, saat
ini aku tidak dalam posisi untuk mengeluh. Aku hanya bisa pasrah membiarkannya
menginjakku sambil menyadari betapa tidak kompetennya diriku.
Profesor Alhazen menggeretakkan giginya lagi, bibirnya
gemetar seolah memuntahkan kegilaan yang meracuni otaknya.
"A-apa kau juga memintanya pada anggota tim yang
lain? Jangan-jangan, kau mencoba melarikan diri dariku yang tidak bisa
memercayai siapa pun selain dirimu?"
Lensa kacamatanya berderit. Cahaya di mata Profesor
Alhazen benar-benar padam.
"……Jika benar begitu, kurasa aku tidak bisa lagi
tetap waras."
"Pintu yang tergeletak di sana, jadilah
tamengku."
Bersamaan dengan gumaman Profesor Alhazen, Isfana
menyeringai.
Pintu laboratorium yang terbang sendiri kini menutupi
sosok Isfana dari pandangan Profesor Alhazen. Sedetik kemudian, pintu itu
diberondong peluru hingga berlubang seperti sarang lebah.
Di belakang Profesor Alhazen, sebuah moncong senjata
mengeluarkan asap putih.
"Peluru tabur yang bahkan bisa meledakkan peri
agung, inilah senjata No. 35 ciptaanku. Sebagai peringatan, jika tidak ingin
mati, sebaiknya Isfana serahkan Mikkanen padaku."
"Seorang cendekiawan rendahan berani
menantangku, seorang jenius sihir? Keangkuhanmu sudah sampai pada tahap yang
indah, tahu."
Isfana tersenyum tanpa rasa takut.
Profesor Alhazen menundukkan kepalanya. Dari
sudut-sudut laboratorium, kawanan senjata yang terbuat dari besi, kayu, dan
kristal mulai bermunculan.
"No. 18. Pembakaran Atmosfer."
Begitu Profesor Alhazen bergumam, udara di sekitar
Isfana mulai menghangus. Sedetik kemudian, tanpa peringatan, gelombang ledakan
menyapu seluruh laboratorium.
Udara di tempat Isfana berdiri menjadi merah membara,
dan uap pun membubung tinggi.
No. 18 adalah senjata yang mengumpulkan laser dari
berbagai penjuru laboratorium untuk membakar habis apa pun. Jika Isfana
hanyalah manusia biasa, dia seharusnya sudah terbakar menjadi abu.
"Sudah kuperintahkan sebelumnya. Baik api maupun
angin, tidak ada yang bisa melukai tubuhku."
Namun,
Isfana adalah seorang pemburu.
Dan
pemburu tidak selemah itu sampai bisa dibunuh dengan serangan seperti tadi.
Dari
balik asap, seragam militernya berkibar tanpa sedikit pun bekas hangus. Isfana
menatap dengan wajah kejam, persis seperti kucing yang tengah memojokkan tikus.
"Sudah
kubilang, kan? Aku tidak akan kalah oleh cendekiawan sepertimu."
"No.
15! Tembus Isfana!"
Seketika
Profesor Alhazen berteriak, lemari laboratorium terbuka.
Sekawanan
jarum yang menyerupai serangga terbang keluar. Ujung jarum yang tajam itu
berkilauan dengan warna pelangi, mungkin karena dilapisi racun yang mematikan.
Itu
adalah senjata yang terlalu kecil untuk ditembak jatuh dengan senapan biasa. Jika
yang melawannya adalah prajurit biasa atau peri rendahan, mereka pasti sudah
tamat.
Namun, Isfana hanya mendengus meremehkan. Senyum dingin
yang membuat bulu kuduk berdiri terpancar di wajahnya.
"Berani-beraninya kau mencoba membunuhku, sungguh
tidak sopan. Patahkanlah."
Hanya satu kata. Itu sudah cukup untuk menyegel senjata
Profesor Alhazen.
Senjata berbentuk jarum itu seolah putus asa, mereka
patah satu per satu di udara dengan sendirinya. Setelah jatuh ke lantai, mereka
diam membisu bagaikan serangga yang kehilangan nyawanya.
Isfana melangkah dengan tenang.
Saat Profesor Alhazen panik mencoba memanggil senjata
berikutnya, Isfana mengangkat tangannya dan memberi perintah.
"Tuan Cendekiawan, mari kita akhiri ini. Berlututlah
di sana dan diamlah."
Perintah itu bersifat mutlak.
Lutut Profesor Alhazen menabrak lantai dengan suara
berderit, seperti boneka yang tali kendalinya ditarik paksa. Tidak mampu lagi
mengendalikan tubuhnya sendiri, Profesor Alhazen hanya bisa mendongak menatap
Isfana.
"Aku melarangmu menyerangku dengan senjata. Selama
kau tidak mengeluarkan perintah semacam itu, aku akan mengizinkanmu untuk
berbicara."
"……Menurutku, Isfana pantas mati di neraka."
Mendengar umpatan Profesor Alhazen yang seperti
rintihan, Isfana hanya tertawa.
Itu adalah perilaku yang hanya boleh dilakukan oleh
seorang pemenang.
"Yah, untuk ukuran seorang cendekiawan yang
tidak benar-benar bertarung, usahamu cukup lumayan. Biarkan aku, sang jenius
sihir ini, memujimu."
Memang benar, Profesor Alhazen adalah otoritas mutlak
dalam ilmu peri. Dia tahu lebih banyak tentang peri dan cara membantai mereka
dibanding siapa pun, itulah alasan dia menciptakan banyak senjata hebat.
Namun, bukan berarti dia bisa menang melawan seorang
pemburu sejati.
Antara seorang pemburu yang selalu berhadapan dengan
peri di medan perang dan seorang cendekiawan yang terkurung di laboratorium
untuk merancang alat pembunuh, sudah jelas sejak awal siapa yang akan menang.
Lagipula, sihir Profesor Alhazen lebih condong ke
arah penelitian—mencari inspirasi dari keraguan yang dia miliki—daripada
pertarungan murni.
Isfana bertanya sebagai pemenang.
"Sekarang, katakan padaku bagaimana cara
menghilangkan efek gas beracun dari si dungu di sana. Bicara cepat."
Tepat saat itu, terdengar bunyi gedebuk yang kering
dan berat. Seperti boneka yang putus talinya, Isfana ambruk ke
lantai laboratorium.
"Hei, Isfana!"
Aku berusaha menahan leherku yang tidak lagi bisa
bergerak akibat gas beracun itu, lalu menatap Isfana.
Dadanya bergerak naik-turun dengan pelan; dia masih
bernapas, tapi dia kehilangan kesadaran.
Kemudian, bayangan hitam jatuh di belakangku. Profesor
Alhazen, yang kini bebas dari kendali sihir Isfana, menatapku tanpa suara.
"Apa yang kau lakukan, Profesor Alhazen?"
Terhadap pertanyaanku, Profesor Alhazen tersenyum dengan
sangat lembut. Senyum itu terasa jauh lebih menakutkan daripada wajah apa pun
yang pernah kulihat darinya selama ini.
"Jika kau tidak ingin Isfana mati, kupikir kau harus
mendengarkan penjelasanku."
Di sekitar Profesor Alhazen, senjata-senjata tadi
menggeliat dengan suara menjijikkan. Mereka tampak siap menerkamku dan Isfana
kapan saja jika aku menolak.
"Meragukan akal sehat dan pengetahuan diri sendiri
adalah fondasi ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, aku berpikir bahwa aku juga
harus meragukan kemungkinan bahwa prajurit militer dicuci otak oleh sihir peri
secara massal."
Profesor Alhazen berbicara dengan nada yang tenang,
seolah kegilaan sesaat tadi hanyalah kebohongan.
"No. 0 adalah senjata yang hanya diketahui olehku
dan para jenderal tertentu. Ini adalah bakteri yang bersemayam di otak semua
prajurit yang tinggal di reruntuhan Kastil Ogdanel. Bakteri ini bekerja secara
otonom untukku dan militer."
Profesor Alhazen mencengkeram daguku dan berbisik ke
telingaku. Suaranya sedingin dan setenang malaikat maut.
"Artinya, jika Mikkanen tidak patuh, aku bisa
mengakhiri nyawa Isfana kapan saja. Kurasa kau tahu apa yang harus kau lakukan
sekarang, bukan?"
Di belakang Profesor Alhazen, aku bertatapan dengan
kepala peri yang menyamar jadi manusia tadi. Di mataku, mata kepala itu tampak
seolah sedang menertawakanku.
◆◆◆
"Ada apa, si dungu? Jangan menatap wajahku terus,
tidak sopan tahu."
"……Ah, iya. Maafkan aku."
Aku memalingkan wajah dari Isfana.
Dalam kereta troli yang terguncang di perjalanan pulang
dari medan perang, Isfana memiringkan kepalanya dengan bingung. Dia sudah benar-benar lupa tentang kejadian dengan Profesor Alhazen.
Otaknya telah dimanipulasi oleh racun yang diberikan
Profesor Alhazen. Bahkan jika dia mencoba mengingatnya kembali, bakteri itu
akan membuatnya pingsan lagi.
Saat itu, aku tidak punya pilihan selain menuruti
keinginan Profesor Alhazen.
Mengapa dia begitu memercayaiku? Sampai aku menemukan
jawabannya, aku harus membiarkan Profesor Alhazen melakukan apa pun yang dia
inginkan terhadap tubuhku.
Dia mengancam akan membunuh Isfana jika aku tidak patuh.
Aku tidak ingin percaya bahwa Profesor Alhazen tega
membunuh rekan seperjuangannya dengan mudah. Namun, aku tidak punya keberanian
untuk mengujinya.
Singkatnya, Profesor Alhazen telah menutup semua jalan
keluar bagiku.
Percuma saja jika aku mencoba melawan atau meminta tolong
pada orang lain. Aku selalu berada dalam genggamannya. Ya, bahkan sampai
sekarang.
Di seberang troli.
Profesor Alhazen menatapku dengan diam. Meskipun
matanya tampak lembut, setelah mengetahui apa yang tersembunyi di balik tatapan
itu, aku merasa sangat takut.
"Mikkanen, kau mengerti, bukan?"
"Aku mengerti. Jadi, jangan berpikir macam-macam."
Saat aku mengatakannya, Profesor Alhazen tersenyum
remang-remang.
Senyuman itu memiliki aroma kekejaman, persis seperti
seorang anak yang sedang mengintip sarang semut.
Mungkin karena merasa kami mencurigakan, Isfana
mengerutkan kening. Namun, keraguan murninya tidak cukup kuat untuk diungkapkan
dengan kata-kata.
Itu hanya membuat dadaku semakin sesak.
"Mikkanen, kau harus segera berbaring di tempat
tidur. Ayo, cepat!"
Sambil menarik tanganku yang baru saja menyelesaikan
tugas militer, Profesor Alhazen membawaku ke ruang dalam laboratorium.
Tatapan mata Profesor Alhazen yang dingin memberiku
instruksi. Aku tidak punya pilihan selain menurut tanpa tahu apa yang akan dia
lakukan.
Saat aku berbaring di tempat tidur, Profesor Alhazen
mulai meraba-raba tubuhku dengan jarinya.
"Aku sudah lama ingin melakukan ini. Etika, peraturan militer, dunia ini memiliki terlalu banyak penghalang
bagi penelitian. Dengan ini, akhirnya..."
Profesor Alhazen meraih tanganku dan menggosokkannya
ke pipinya.
Senyumnya yang terpesona—seolah dia sedang
mabuk—terasa sangat mengerikan hingga membuatku merinding.
Sejak saat itu, aku terus menuruti "penelitian"
yang dia katakan. Sambil terkejut melihat betapa tenang dan datarnya sikapnya
dibandingkan dugaanku, aku membiarkan Profesor Alhazen melakukan apa pun
padaku.
Mulai dari membuat luka kecil di kulitku untuk mengambil
darah, menatap mataku lekat-lekat, hingga mengambil air liurku ke dalam tabung
reaksi. Aku melakukan semua tugas yang aku sendiri tidak tahu tujuannya.
"Hmm, hmm, hmm."
Sambil bersenandung, Profesor Alhazen tampak sangat
bahagia.
"Selama ini, Mikkanen tidak pernah mengizinkan
tubuhmu untukku. Karena itu, aku tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan
ini."
Semua hal yang dia katakan sambil tersenyum lebar
adalah informasi baru bagiku. Keringat dingin mulai bercucuran di keningku.
"Kepercayaan" yang dimaksud Profesor
Alhazen tampaknya jauh lebih dalam daripada yang kubayangkan.
"Sampai sekarang, metodenya terbatas. Paling
banter, aku hanya bisa memasang alat penyadap dan kamera tersembunyi."
"……?"
Aku memiringkan kepalaku mendengar topik yang
tiba-tiba ini.
"Eh, kalau tidak keberatan, bisakah kau beri
tahu hal-hal apa saja tentangku yang sudah kau selidiki?"
"Tentu saja, memiliki rasa ingin tahu yang besar
itu hal yang luar biasa. Ini adalah buku catatan eksperimenku selama ini. Aku
sangat senang akhirnya kita bisa berbagi kegembiraan dalam sains bersama."
Di sela-sela eksperimen, Profesor Alhazen membawa
belasan kotak besi.
Setelah kunci dibuka, isinya adalah tumpukan buku
catatan yang tersusun rapat.
Mengikuti senyum lebar Profesor Alhazen, aku
mengambil salah satu buku itu. Saat aku membuka halamannya, napasku tiba-tiba
terhenti.
Aku meragukan penglihatanku atas apa yang tertulis di sana. Itu benar-benar sebuah catatan gila tentang diriku.
§ 12/14 12:23:33.04: Pada
waktu makan siang, tangan terulur ke botol berisi lada (merica), dan lintasan
tangan saat itu ditunjukkan dalam Figure 234.
§ 12/14 22:44:04.11: Mandi
setelah beberapa hari, namun terjadi kesalahan dalam urutan mencuci tubuh.
Urutan pembersihan sejauh ini adalah lengan → tubuh → kaki. Catatan ini juga
menyebutkan perlunya mempertimbangkan faktor penyebab ("Hoi 13").
§ 12/31 08:11:32.32:
Memasang kamera keenam di atas tempat tidur. Hal ini dilakukan untuk eksperimen
tidur di malam hari, dengan rencana untuk memikirkan "Eksperimen 22"
dalam beberapa hari ke depan.
§ 12/31 23:59:51.42: Empat
kamera rusak di salah satu ruangan Mikkanen pada malam hari. Fenomena ini
direkam menggunakan kamera yang tersisa dan dijelaskan secara rinci dalam Table
223.
Aku hanya bisa tertawa getir.
Terlepas dari apa pun alasannya, terobsesi pada satu
orang sampai sejauh ini hanyalah kegilaan. Ada belasan kotak yang dipenuhi buku
catatan eksperimen, yang mencatat keseharianku hingga ke satuan detik.
"Aku rasa kau tidak perlu bertanya lagi, itu
hanyalah salinannya. Yang asli sudah disegel di ruang dalam, dan diperkirakan
akan tetap tersimpan di bawah tanah setidaknya selama sepuluh ribu
tahun..."
Entah mengapa, saat ini aku merasa bisa memahami perasaan
tokoh-tokoh besar dalam sejarah.
Meskipun setelah kematian mereka, kehidupan pribadi
mereka dibongkar tanpa sisa dan diingat sebagai bagian dari sejarah.
Walau rasanya aku mengalami nasib yang sedikit lebih
buruk dari itu, sih.
Setelah menyimpan kotak-kotak mengerikan itu, Profesor
Alhazen melanjutkan pembicaraannya.
"Aku menetapkan panjang, berat, dan semua standar
lainnya berdasarkan dirimu, Mikkanen. Karena kau adalah satu-satunya keberadaan
di dunia ini yang bisa kupercaya tanpa keraguan sedikit pun."
Aku nyaris tidak percaya dengan pendengaranku.
Karena dunia ini diadaptasi dari sebuah Game,
sistem metrik tentu sudah ada di sini.
Sebagai contoh, standar gram dan liter sudah menjadi
fondasi dasar ilmu pengetahuan.
Namun, Profesor Alhazen berkata dia tidak bisa
memercayai standar itu.
Satu-satunya orang yang bisa ia percayai di dunia ini
hanyalah aku.
Itulah sebabnya, dia menggunakan tinggi badanku
sebagai standar panjang, dan menggunakan air minumku untuk menentukan volume.
Semuanya dia susun berlandaskan diriku.
Tampaknya, standar misterius yang disebut
"Metode Mikkanen" itu sedang dipromosikan oleh Profesor Alhazen di
forum ilmiah.
"Sejauh ini, tidak ada seorang pun di forum yang
mau mendengarkan. Tapi, karena aku sudah memenangkan penghargaan utama untuk
makalah ilmiah selama enam tahun berturut-turut, kurasa suatu saat mereka akan
paham."
Profesor Alhazen tampak sedikit kecewa.
Aku tidak bisa menahan wajahku yang berkedut karena
malu.
Bayangkan saja para cendekiawan terkemuka
mendengarkan penjelasan tentang panjang jari-jariku; tawa getir pun lolos dari
bibirku.
"K-kurasa itu bukan ide bagus. Aku sendiri lebih
akrab dengan sistem metrik, jadi bagaimana kalau Metode Mikkanen itu dihentikan
saja..."
"Aku menolak."
Profesor Alhazen menunjukkan kemarahannya.
"Satu-satunya yang bisa aku percayai hanyalah
Mikkanen!"
Di matanya yang menatap tajam ke arahku, terpancar emosi
yang pekat, besar, dan bergejolak.
Profesor Alhazen kembali memulai eksperimennya dalam
diam, membuatku hanya bisa memegangi kepala.
Aku benar-benar tidak paham mengapa diriku harus
dipercaya sedalam itu.
Di dalam rak, kepala peri yang menyamar menjadi guruku
itu terus menatap kami dengan diam.
Beberapa saat kemudian, Profesor Alhazen berbisik pelan.
"Aku tahu. Aku sadar betapa beban kepercayaan ini
bagi dirimu, Mikkanen."
Suaranya bergetar.
Wajahnya yang biasanya kaku kini tampak terdistorsi oleh
penderitaan, dan matanya yang menyipit tampak sedikit berkaca-kaca.
Itu adalah kesedihan Profesor Alhazen yang baru pertama
kali kulihat, dan itu membuat hatiku berdesir.
"Namun, jika tidak melakukan ini, kurasa aku akan
melakukan hal yang jauh lebih buruk padamu. Satu-satunya hal yang tidak ingin
kulakukan adalah melukaimu lebih dari ini."
Tangannya mencengkeram erat bagian dada jasnya.
Seolah-olah dia sedang berusaha keras menahan sesuatu
yang sedang mengamuk di dalam dirinya.
Matanya yang sendu menatapku, dan di kedalamannya, masih
tersisa cahaya sang cendekiawan yang cerdas seperti dulu.
Orang ini seharusnya adalah cendekiawan luar biasa yang
tidak akan pernah melirik orang sepertiku, orang yang seharusnya bisa mencapai
akar segalanya tanpa perlu memercayai siapa pun.
Namun, matanya yang menatapku justru tampak seolah sedang
meminta pertolongan.
"Karena itu, aku mohon. Tolong, jangan lari dariku.
Jika kau lari, aku tidak akan bisa menahan diriku lagi."
Profesor Alhazen memohon padaku sambil bergantung pada
tubuhku.
Aku tidak tahu harus berkata apa saat melihat sisi tak
terduga dari Profesor Alhazen—orang yang kukira hanyalah cendekiawan yang hanya
peduli pada penelitiannya saja.
◆◆◆
Sampai kapan kehidupan seperti ini akan terus berlanjut?
Aku menghela napas sendirian di laboratorium setelah
Profesor Alhazen pergi untuk menemui Agrastein.
Mengapa Profesor Alhazen bisa menjadi segila itu?
Jika dipikir-pikir, aku juga jarang mengobrol dengannya.
Sebagai atasan dan pemimpin tim, aku selalu memercayakan
segalanya pada anggota tim selama pertempuran ini.
Aku menganggap mereka semua pemburu hebat yang bisa
diandalkan, jadi aku menyerahkan semuanya pada mereka.
Tapi, mungkin saja aku salah.
Mungkin seharusnya yang kulakukan adalah mendengarkan
anggota timku dengan baik.
Jika aku melakukannya, mungkin aku sudah menyadari
kepercayaan yang terdistorsi dari Profesor Alhazen sejak awal.
Sekarang, penyesalanku sudah tidak ada gunanya lagi.
Terlebih lagi, akhir-akhir ini penelitian Profesor
Alhazen juga semakin melenceng.
Awalnya, dia hanya meneliti mengapa aku begitu bisa
dipercaya, namun sekarang hasilnya telah berubah total.
Dia mulai menanyakan hal-hal seperti, "Jika
otakmu dikloning, apakah klon itu bisa disebut Mikkanen?", atau "Di
manakah jiwa manusia sebenarnya berada? Jika itu diketahui, bukankah daging dan
darah tidak lagi diperlukan?"
Dia mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan berbahaya
seperti itu.
Meskipun dia mengucapkannya dengan nada bercanda, jika
aku mengangguk sekarang, Profesor Alhazen akan memercayainya dan benar-benar
lepas kendali. Bahkan jika itu berarti menginjak-injak moralitas dan kebaikan.
Aku duduk di tepi tempat tidur sambil menundukkan bahu.
Apa yang seharusnya kulakukan? Rasanya aku terjebak dalam
kegelapan yang tak berujung.
Saat itulah, aku menyadari kelopak bunga putih melayang
di dalam laboratorium.
Satu per satu, bunga itu masuk melalui celah di bawah
pintu dan menari di dekatku.
Aku sangat mengenal sihir ini.
"Jangan bilang... ini Morgraid?"
"Kau benar-benar pemimpin yang merepotkan, ya.
Kau tahu tidak, bagi diriku pun menyelinap ke laboratorium yang disegel seketat
ini sangat menguras tenaga?"
Suara yang terdengar seperti denting lonceng itu
berbisik di telingaku.
Kelopak bunga itu berkumpul membentuk siluet manusia.
Tak lama kemudian, Morgraid muncul tepat di depan hidungku dengan ekspresi
jengkel.
"Hai,
Morgraid-mu yang tercinta sudah datang."
Dia tersenyum menyeringai seperti biasa.
"Morgraid, terima kasih!"
"Eh, Kya! K-kau ini, apa-apaan?"
Karena terlalu senang, aku langsung menerjang memeluk
Morgraid.
Bagiku, hatiku saat ini seperti orang yang sedang
sekarat di neraka dan baru saja melihat seuntai benang laba-laba bercahaya.
Aku berada dalam situasi yang sangat putus asa hingga
tanpa sadar bergantung pada cahaya itu.
Beberapa saat kemudian, Morgraid menatapku tajam
dengan wajah memerah.
"Benar saja, kau adalah musuh para gadis. Sekarang
semuanya sudah jelas."
"M-maaf. Aku hanya terlalu senang kau datang
menemuiku..."
"Haah, karena itulah kau selalu berakhir dalam
situasi sulit seperti ini."
Morgraid menghela napas panjang.
Lalu, dia melihat ke arah kepala peri yang mengambang di
dalam botol dan wajahnya tampak tegang.
"Lagipula, ruangan ini seleranya buruk sekali."
"Ah, itu tugas militer yang diberikan Agrastein
padaku. Tidak bisa dihindari, bukan?"
"Ah, jadi itu yang kalian bunuh bersama Isfana,
ya?"
Morgraid meletakkan tangan di dagunya seolah sedang
memikirkan sesuatu. Namun tak lama, dia menggelengkan kepala seakan mengusir
pikiran itu.
Tiba-tiba, matanya menyipit tajam ke arahku.
"Sudahlah, bukan saatnya membahas itu. Kau tahu
tidak apa yang sedang direncanakan Profesor sekarang?"
"Tidak, aku bahkan sedang dijadikan objek
penelitiannya sekarang."
Saat aku membelalakkan mata, Morgraid menjentikkan dahi
dengan keras. Sambil meringis memegangi kening, Morgraid memberikan peringatan
padaku.
"Profesor sedang membujuk Agrastein untuk
memindahkanmu ke laboratorium di garis belakang. Kalau itu berhasil, kau akan
dikurung di sana dan tidak akan pernah melihat sinar matahari lagi."
Kata-kata itu meresap ke dalam otakku, merambat dingin di
sepanjang tulang punggung.
Aku bisa merasakan dari kulitku sendiri bahwa situasi ini sudah sangat gawat.
◆◆Selingan: Monolog Seorang Cendekiawan◆◆
Aku pertama kali belajar tentang apa itu keraguan yang sesungguhnya saat masih menjadi mahasiswa.
Hingga saat itu, aku adalah seorang murid teladan.
Aku adalah orang bodoh yang memercayai perkataan guruku mentah-mentah. Aku tidak pernah meragukan literatur dan selalu yakin bahwa kebenaran ada di sana.
Karena itulah, saat aku mengunjungi laboratorium yang melakukan eksperimen pada peri, aku tidak menaruh curiga sedikit pun.
Cendekiawan di laboratorium itu membanggakan pertahanan bawah tanah tempat mereka mengurung peri, mengklaimnya lebih unggul daripada pos pertahanan di medan perang. Karena seorang cendekiawan yang lebih berwenang dariku mengatakannya, aku pun percaya tanpa ragu.
Dengan polosnya, aku memercayai bahwa itu adalah hal yang luar biasa.
Namun, di siang hari itu.
Laboratorium itu berubah menjadi neraka hidup karena peri yang menyelinap masuk melalui toilet.
Singkatnya, itu terjadi karena pemikiran naif sang cendekiawan yang tidak memiliki dasar kuat.
Risiko peri kabur melalui pipa saluran pembuangan laboratorium sudah diketahui. Karena itulah, mereka sudah sangat waspada terhadap peri kecil atau peri yang bisa membuat tubuhnya menjadi ramping.
Hanya saja, tak satu pun dari kami yang menyangka bahwa seekor peri buas yang besar—bahkan setelah merobek daging, anggota tubuh, dan segalanya hingga hanya tersisa kepalanya—tetap bisa merayap melalui pipa tersebut.
Aku selamat murni karena keberuntungan. Aku bersembunyi di dalam lemari obat, mendengarkan jeritan ajal teman-teman dan guru yang kukagumi. Aku hanya bisa gemetar dan meringkuk ketakutan.
Saat itu, yang kudengar hanyalah jeritan teman, rintihan sekarat guruku, serta suara langkah kaki peri yang menyeret lantai. Aku hanya bisa diam dan ketakutan setengah mati.
Waktu yang kuhabiskan menunggu kedatangan pemburu yang berada di dekat laboratorium terasa sangat lama. Dan di tengah penantian itu, sesuatu di dalam diriku seolah hancur.
Sejak saat itu, aku tidak bisa lagi memercayai siapa pun.
"Common sense" atau akal sehat di dunia ini harus dibuktikan setelah seseorang memikirkannya sendiri secara mendalam. Di dunia ini, tidak ada satu hal pun yang boleh dibiarkan untuk sekadar dipercayai.
Begitulah, aku membakar pola pikir untuk selalu meragukan segala sesuatu ke dalam jiwaku.
Sejak hari itu, aku mulai meragukan segalanya.
Hari itu, teman-teman dan cendekiawan yang dagingnya dilahap di laboratorium mati demi ilmu pengetahuan. Mereka dikhianati oleh akal sehat yang mereka percaya, dan kehilangan nyawa karenanya.
Aku merasa bahwa untuk terus melangkah sambil membawa pelajaran tersebut, kita dituntut untuk meragukan bahkan akal sehat itu sendiri.
Namun, sedihnya, hatiku tidak seberani itu.
Di toilet universitas, aku memuntahkan isi perutku bersama dengan rasa takut. Wajahku setelah muntah seperti biasa tampak seperti mayat hidup.
Meragukan segalanya berarti menghadapi ketakutan yang biasanya dihindari dan tidak dipikirkan oleh orang biasa.
Ketakutan akan peri yang mungkin melompat keluar dari toilet kapan saja seperti hari itu, atau ketakutan bahwa teman-temanku yang sudah tiada mungkin membenci diriku yang selamat jika kehidupan setelah mati benar-benar ada.
Aku harus melangkah dengan logika baja tanpa memalingkan wajah dari pemikiran-pemikiran seperti itu.
Sangat memalukan, tetapi hari itu aku melarikan diri dari tangan orang yang meminta pertolongan.
Bagi orang pengecut sepertiku, itu adalah jalan yang sangat sulit.
Rambut hitam yang dulu dipuji teman sebagai rambut yang indah kini kusam dan berantakan, tak lagi bisa dikenali. Tubuhku yang hanya tersisa tulang ini berderit dan tampak sangat menyedihkan.
Tetap saja, aku harus terus melangkah.
Apa yang kucoba tantang adalah misteri tertua dan terbesar dalam ilmu peri: mengapa peri memakan manusia? Dengan kata lain, ini adalah "Holy Grail" dalam ilmu peri.
Sebagian besar pendapat cendekiawan saat itu adalah: Peri hanya memakan manusia sebagai sumber nutrisi layaknya seekor binatang buas. Namun, teori ini tidak terlalu kuat.
Sebagai contoh, peri tidak memakan binatang lain selain manusia. Jika mereka hanya menginginkan nutrisi, bukankah mereka bisa memakan rusa atau anjing?
Sebagai contoh, peri sangat terobsesi mengincar otak manusia. Apakah otak benar-benar bisa disebut sebagai bagian tubuh manusia yang paling kaya akan daging? Mengapa mereka tidak memakan lengan atau pinggang?
Karena itulah, aku memutuskan untuk meragukan segalanya.
Aku mengurung peri di dalam botol yang telah disterilkan dengan api, menuangkan etanol, dan memutus semua asupan nutrisi. Lalu, aku menguji kapan peri itu akan mati.
Setelah tiga hari, sebulan, bahkan setahun kemudian, peri itu tidak mati.
Ia hanya terus menatapku dari balik kaca.
Wah, apa artinya ini? Jika peri hanyalah sejenis binatang buas sebagaimana otoritas akademis katakan, dan mereka bertahan hidup dengan memakan manusia, lalu seberapa lama mereka harus kelaparan sampai mereka mati?
Saat itu, ada tiga kemungkinan yang terpikirkan.
Satu, ada nutrisi yang tidak sengaja masuk ke dalam botol yang tidak bisa kulihat. Dua, peri tidak akan mati kelaparan meskipun tidak memakan manusia selama setahun. Tiga, pada dasarnya peri tidak membutuhkan nutrisi untuk hidup.
Sambil meragukan segalanya, aku terus bereksperimen. Aku mencoba memasukkan peri ke dalam kotak berisi gips untuk mengeraskannya, atau terus mengamati bagian dalam perut peri.
Pada akhirnya, aku tiba-tiba terpikir satu hal.
Peri sangat gemar memakan otak manusia. Jika demikian, bagian otak mana yang mereka cari?
Sebagai makhluk hidup yang diketahui dimakan oleh peri, selain manusia, ada jenis kera yang memiliki otak cukup berkembang. Aku memutuskan untuk mengutak-atik otak kera tersebut.
Aku membuang motorik dari satu kera, dan membuang hipokampus dari kera lainnya. Ada yang diambil bagian matanya, ada pula yang diambil telinganya. Peri melahap semuanya.
Namun, hanya kera yang bagian otaknya yang berkaitan dengan emosi yang dibuang, tidak dimakan oleh peri.
Sebaliknya, ketika aku memberikan kelinci yang otak bagian emosinya telah dibesarkan, peri tersebut dengan gembira melahap kelinci yang sebelumnya bahkan tidak ia lirik sedikit pun.
Singkatnya, yang dimakan oleh peri adalah hati (emosi) manusia.
Jiwaku bergetar.
Membiarkan peri memakan apa yang sebelumnya tidak mereka makan, dan mencegah mereka memakan apa yang biasanya mereka makan. Itu adalah langkah besar yang pertama dalam sejarah panjang ilmu peri. Aku merasa telah meniup habis akal sehat dalam ilmu peri.
Namun, yang kudengar di forum akademis hanyalah cemoohan yang membahana.
Mengatakan bahwa peri memakan "hati" manusia seolah-olah aku menjadi penyair; kita ini cendekiawan, hati adalah hal yang konyol. Para cendekiawan menertawakan dan memaki makalahku.
Hanya satu hal yang tidak aku ragukan: rekan cendekiawan yang seharusnya menjadi teman seperjuanganku.
Dan itu adalah hal yang sangat bodoh.
Aku ditertawakan sebagai penipu dan ditendang keluar dari universitas. Perintah turun agar aku masuk militer sebagai cendekiawan ilmu peri.
Aku tidak peduli lagi.
Terus meragukan seluruh dunia, menatap langsung ke segala ketakutan tanpa menghindar, menjalani hidup sampai muntah darah, dan hasil dari pencarian yang kudapat hanyalah ini?
Jika mereka mengarahkan pandangan penuh keraguan pada eksperimenku dan menyelidiki segalanya, aku tidak akan keberatan. Jika pada akhirnya aku terbukti salah, aku bahkan akan dengan senang hati mengakuinya.
Namun, aku tidak pernah menyangka akan ditertawakan mentah-mentah. Kebohongan berjalan di muka umum dengan wajah "akal sehat" tanpa diragukan sedikit pun, sementara aku yang benar justru dihakimi.
Jika begitu, apa lagi yang harus kupercaya?
Semua penelitianku telah berakhir. Di militer, aku tidak mungkin bisa menghabiskan waktu untuk bereksperimen seperti di universitas; hari-hariku justru habis didorong untuk tugas militer.
Tentu saja, aku tidak bisa menulis makalah. Bahkan jika aku menulisnya, tidak akan ada yang membacanya.
Begitulah, aku yang telah menyerah pada segalanya akhirnya terdampar di partai pahlawan Mikkanen. Aku memiringkan kepala, bertanya-tanya mengapa ia menunjukku padahal aku bahkan tidak mengabdikan diri sepenuhnya pada tugas militer.
Tapi bagaimanapun, seorang tentara tidak bisa menolak perintah.
Aku pun menjadi anggota partai dari sang pahlawan besar, Mikkanen.
"Salam kenal, namaku Ogdo Alhazen."
"Aku Mikkanen. Senang bertemu denganmu."
Saat pertama kali bertemu Mikkanen, entah mengapa aku tidak bisa melepaskan pandangan dari secarik kertas yang digenggamnya. Entah mengapa ada rasa rindu yang mendalam, hingga aku tidak bisa memalingkan wajah.
"Inilah alasanku menunjukmu."
Yang diberikan Mikkanen padaku adalah makalah itu.
Makalah tentang predator "hati" peri yang dulu ditertawakan di forum akademis dan dikubur dalam kegelapan.
"Ba-bagaimana kau bisa..."
"Ada apa? Ini makalah yang kau tulis, kan? Aku tidak sengaja membacanya saat menyelidiki berbagai hal, dan terus terang, aku merasa sesak napas saat membacanya. Itu sangat luar biasa."
Itu seharusnya mustahil.
Makalahku telah dibuang dari jurnal akademis dan hanya mendekam di sudut majalah murahan universitas bersama dengan tawaan. Bagaimana mungkin dia bisa menemukan sesuatu yang seharusnya tidak disadari oleh siapa pun?
"Terutama alur logikanya, itu sangat mengagumkan. Kau meragukan segala kemungkinan, membungkam mereka satu per satu dengan eksperimen yang tak terbantahkan, lalu menarik kesimpulannya."
Jangan. Hentikan, jangan katakan hal seperti itu.
Jika kau memujiku dengan tulus menggunakan mata yang begitu jernih dan nada bicara yang begitu menyenangkan seperti itu... aku, yang seharusnya hanya bisa meragukan segalanya, akhirnya malah memercayainya.
Aku percaya bahwa pria ini benar-benar mengikuti penelitianku dengan sepenuh hati.
"Aku sampai jatuh terduduk saat tahu kau ada di militer. Kupikir kau sedang menjabat sebagai rektor di universitas mana pun."
Mikkanen tersenyum lebar sambil memegang makalahku yang penuh dengan catatan pinggir.
Mengingat betapa sulitnya bagi seseorang seperti Mikkanen—yang mungkin hanyalah seorang tentara tanpa gelar universitas—untuk membaca makalah cendekiawan yang berbasis pengetahuan luas, hatiku terasa seolah akan meledak.
"Tuan Alhazen, mengapa kau ada di militer?"
Sudah sangat lama sejak terakhir kali seseorang memanggilku dengan sebutan "Tuan/Sensei".
"Makalahku ditertawakan oleh forum akademis. Mereka bilang peri memakan hati manusia adalah dongeng belaka, bahkan makalahku pun tidak dibaca."
"Begitu ya."
Mikkanen mengucapkannya dengan singkat, lalu terdiam.
Kemudian, matanya yang jernih menatap lurus ke mataku.
"Tuan Alhazen, menurutku terlalu disayangkan jika penelitian ini harus berakhir. Tidak apa-apa jika kau menganggapku sebagai orang awam yang konyol, tapi aku tidak ingin Tuan Alhazen menyerah."
"A-ah..."
Kata-kata yang tak terucap jatuh dari mulutku. Mikkanen menyeringai.
"Aku akan mengurus tugas militermu dengan baik. Mari kita buat para cendekiawan di forum yang membuang Tuan Alhazen sampai ke titik ini terperangah."
Selama ini aku sangat menderita.
Terus meragukan segalanya di dunia ini jauh lebih menyakitkan daripada yang kubayangkan, dan aku hampir membenci segalanya. Aku tidak bisa memercayai apa pun yang kulihat, meragukan apa pun yang kudengar; rasanya seperti neraka.
Namun, ah... ini curang. Ini sangat curang.
Pria bernama Mikkanen ini memercayaiku, orang gila seperti ini. Sesuatu seperti ini... tidak mungkin tidak membuatku kehilangan akal sehat.
Ya, mulai sekarang, aku akan menciptakan satu orang saja di dunia ini yang tidak akan kuragukan. Aku tidak tahu mengapa aku bisa begitu mengandalkannya.
Mulai sekarang, aku tidak akan meragukan siapa pun kecuali Mikkanen.
◆◆Selingan: Monolog Seorang Cendekiawan Selesai◆◆
Morgraid berbicara dengan nada dingin dan berat seperti besi.
Ia menjelaskan bahwa tujuan Profesor Alhazen adalah mengurungku di laboratorium garis belakang.
"Agrastein pasti akan mengangguk setuju. Lagipula, Profesor Alhazen sendiri yang memohon agar dirinya dikurung oleh militer."
"Maksudmu, No. 1?"
Mendengar sindiran Morgraid, wajahku menjadi masam seperti baru saja menggigit serangga pahit.
Senjata No. 1.
Itu adalah karya terbesar Profesor Alhazen, sebuah senjata strategis yang jauh melampaui pencapaianku. Prinsip kerjanya memanfaatkan fakta bahwa peri memangsa "hati" manusia.
Senjata No. 1 adalah daging mati yang mengeluarkan aroma "hati" yang tidak bisa ditolak oleh peri.
Jika disebarkan di medan perang, peri akan berkerumun seperti orang gila. Namun, tempat yang mereka tuju itulah nerakanya.
Senjata No. 1 yang masuk ke dalam tubuh peri akan membesar dan melahap seluruh sisa hati yang masih ada di dalam diri peri tersebut.
Profesor Alhazen pernah diusir dari forum akademis karena bersikeras bahwa "peri tidak akan merasa lapar."
Setelah itu, Profesor Alhazen yang terus bereksperimen di timku mulai meragukan dirinya sendiri dan melakukan penelitian lebih jauh. Ternyata, peri justru akan merasa lapar saat mereka kehilangan "hati".
Profesor Alhazen membuktikan hal itu melalui senjatanya.
Peri yang kehilangan hati akan merasa begitu lapar hingga membunuh dan memakan peri lainnya, lalu mengamuk di dalam hutan. Tentu saja, di dalam daging mati setelah nyawanya hilang, Senjata No. 1 sudah bersiap menunggu.
Dengan cara inilah, Senjata No. 1 melanjutkan perjalanannya.
Ia menyebar secara diam-diam dari satu daging peri ke daging peri lainnya, menebar kematian. Kekuatannya luar biasa, dan dianggap sebagai penyebab utama musnahnya sebagian besar peri rendahan dalam serangan umat manusia.
Ini adalah alasan mengapa Profesor Alhazen dipuji sebagai cendekiawan yang paling berkontribusi bagi umat manusia, membungkam para periolog yang dulu menertawakannya, dan menjadi otoritas tertinggi.
"Profesor Alhazen sedang meneliti Senjata No. 1 baru yang kemampuan penularannya lebih hebat. Para jenderal sangat meminati itu; bahkan jika Agrastein tidak menyukainya, dia tidak mungkin bisa menolak."
Bagi militer, bisa dikatakan mereka sangat takut jika Profesor Alhazen berhenti memproduksi senjata. Profesor Alhazen yang seperti itulah yang menyatakan ingin mengurungku di garis belakang.
Kini, pihak militer dan para jenderal yang mengendalikannya harus memilih.
Antara senjata tipe baru atau aku, yang meski dipuji sebagai pahlawan, hanyalah seorang prajurit biasa.
"Jangan-jangan, posisiku benar-benar sangat berbahaya?"
"Baru sadar sekarang?"
Morgraid menatapku dengan wajah tak habis pikir.
◆◆◆
"Benar-benar merepotkan, Agrastein itu. Memanfaatkan fakta bahwa aku sedang meminta bantuan, dia malah menumpuk gunung sampel peri yang harus kuteliti."
Profesor Alhazen menggerutu sendirian.
Tangannya memeluk tumpukan tabung reaksi dan botol yang berisi daging peri.
Di samping kepala peri yang menyamar jadi manusia itu, Profesor Alhazen terus menaruh sampel-sampel baru. Entah kenapa, wajahnya tampak sedikit enggan.
Aku bertanya dengan tenang kepadanya.
"Profesor Alhazen, apakah benar kau berniat mengurungku di laboratorium garis belakang?"
Begitu aku mengucapkannya, tangan Profesor Alhazen terhenti seketika.
Setelah hening sejenak, ia perlahan menoleh ke arahku. Matanya menyimpan gairah yang membara seperti api.
"Siapa? Siapa yang memberitahumu? Jika kau tidak mengatakannya, kupikir aku boleh saja melakukan eksperimen No. 0 pada Isfana atau siapa pun sesuka hati Mikkanen."
"Bicaralah padaku, aku tidak bisa lagi diam saja."
Namun, aku harus bertanya.
Orang yang membuat Profesor Alhazen sampai segila ini mungkin adalah aku.
Sebagai atasan, aku tidak boleh memalingkan wajah dari kegilaan itu. Meskipun aku sendiri ingin melarikan diri dari militer, masalah ini berbeda.
Profesor Alhazen tersedak kata-katanya sendiri.
"Hah! Anggap saja itu benar, lalu apa yang bisa kau lakukan, Mikkanen? Mengadu pada Agrastein, atau memaksaku dengan kekerasan? Kupikir kedua cara itu tidak akan ada gunanya."
Namun, matanya segera berubah menantang.
"Mikkanen ingin melarikan diri dari kehidupan militer, itulah sebabnya kau memohon padaku. Maka, aku akan mengabulkan keinginanmu itu."
Profesor Alhazen tertawa suram.
"Sebagai gantinya, aku akan mengorek-ngorek dirimu dan membuktikan mengapa aku bisa memercayaimu. Setelah itu, kau bebas pergi ke mana pun kau mau. Apa ada masalah dengan itu?"
Mendengar kata-katanya, aku menghela napas panjang.
Ah, benar dugaanku. Orang ini sedang memalingkan diri dari esensi penelitiannya.
"Lalu, apakah kau benar-benar berpikir bisa menemukan sumber kepercayaan dengan cara itu? Itu tidak mungkin bisa dilakukan."
"Mulutmu terlalu lancang, Mikkanen. Sudah jelas siapa yang memegang kendali di sini. Akulah yang memegang No. 0."
Mata Profesor Alhazen bergetar saat ia membentak.
Bahkan sekarang, dia berpura-pura tidak tahu apa sumber kepercayaannya. Padahal, jika dia adalah Profesor Alhazen yang biasanya cerdas, dia pasti sudah bisa menemukannya dengan sedikit berpikir.
"Kau pasti sudah lama tahu mengapa seseorang memercayai orang lain. Jika itu Profesor Alhazen yang bisa meragukan segalanya, bahkan akal sehat ilmu pengetahuan sekalipun..."
"Diam kau! Jika kau terus bicara, aku akan segera mengaktifkan No. 0!"
Profesor Alhazen menggetarkan bahunya.
Dia menutup telinganya dengan tangan, seolah tidak ingin mendengar kelanjutan kata-kataku. Dia menggelengkan kepala tanda menolak, sementara aku terus melangkah mendekatinya.
"Ja-jangan mendekat. Aku... aku tidak boleh menyadarinya!"
Mata Profesor Alhazen gemetar.
Dia mundur ketakutan, seolah melihat monster. Punggungnya menabrak rak tempat penyimpanan sampel peri.
Saat itu juga.
Tiba-tiba, mata itu menyeringai.
Kepala peri yang tadi disegel di dalam rak. Mata yang seharusnya sudah dikeringkan dan kubunuh itu, kini menatapku dengan licik.
"Profesor Alhazen, awas di belakangmu!"
"Eh, ah, apa yang..."
Kata-kataku terlambat.
Kaca yang mengurung peri yang seharusnya sudah mati itu pecah berkeping-keping. Daging peri itu memuai dengan cepat, meniup tabung reaksi di sekitarnya dan meremukkan botol-botol.
Dalam sekejap, Profesor Alhazen tertelan oleh daging tersebut.
"Kenapa dia masih hidup!"
Aku melompat maju sambil menggenggam Longsword.
Namun, peri itu seolah tahu dan menepis daging yang sudah membesar itu ke arahku.
Seperti buah yang dihancurkan, daging peri itu memercik ke segala arah di laboratorium. Darah hitam yang kental menetes dari atas kepalaku.
Aku memejamkan mata sejenak.
Keheningan yang terasa seperti seribu tahun berlalu.
Di tengah aroma besi yang membuat mual, aku perlahan membuka mata.
"......!"
Di sana, Profesor Alhazen yang berlumuran darah sedang berdiri. Dia tampak tidak terluka.
Namun, ada yang aneh.
Aku hampir tidak percaya dengan penglihatanku karena ada satu lagi Profesor Alhazen di sampingnya.
"Hah?"
Kepalaku tidak bisa memproses ini.
Ada dua Profesor Alhazen. Keduanya tidak memiliki perbedaan sedikit pun.
Rambut hitam ikal, mata besar dengan kantung mata yang menghitam, serta kacamata besar yang menutupi sebagian wajahnya.
""Apa yang sebenarnya terjadi!""
Bahkan ucapan mereka pun tumpang tindih. Keduanya benar-benar Profesor Alhazen.
""Ke-kenapa ada aku yang lain di sini!""
◆◆◆
Ia terus mengamati.
Peri itu terus memperhatikan pria yang mengira dirinya telah membunuh peri tersebut. Sejak jantungnya tertembus pedang pria itu, peri tersebut terus mengamati sosok bernama Mikkanen.
Jika mengikuti ajaran Alhazen, mungkin ini bisa disebut sebagai "penelitian".
Mengapa peri itu masih hidup?
Itu murni karena keberuntungan dan refleks yang cepat.
Hari itu, saat Longsword hendak menembus jantungnya, peri itu memanipulasi bentuk organ tubuhnya. Ia membuat daging di sekitarnya menyerupai jantung dan memasangnya di tempat jantung yang asli.
Mledakkan dirinya sendiri hari itu juga membuahkan hasil.
Tangan Mikkanen sedikit meleset, sehingga Longsword hanya menggores jantung aslinya. Yang tertusuk hanyalah daging biasa yang mirip jantung.
Meski begitu, nyawanya memang berada di ujung tanduk.
Bagaimanapun, jantungnya terluka. Jika ia tidak segera memakan manusia—memakan hati manusia—ia akan mati kelaparan.
Tentu saja, ia tidak punya kekuatan tersisa untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
Jadi, teknik tipu muslihatnya seharusnya hanya memperpanjang penderitaan hidupnya saja. Jika saja pemburu yang datang untuk mengambil sampel daging itu tidak muncul.
Pertarungan itu terjadi dalam sekejap.
Ia menyamar menjadi gelang yang diberikan mendiang kekasih pemburu itu.
Seharusnya, ia tidak bisa berubah menjadi ukuran yang berbeda seperti itu. Namun, karena kini ia hanya tersisa jantung, itu adalah satu-satunya jurus pamungkas yang diperbolehkan saat ini.
Ia memakan kepala pemburu yang tak sengaja ia pungut dan ia pakai di lehernya. Ia menyesap otaknya, lalu jantung itu berdetak kembali. Sekali lagi, peri itu bangkit.
Menyelinap masuk ke Reruntuhan Kastil Ogdanel.
Semua sistem keamanan ia bungkam dengan sihirnya sendiri. Tidak ada sensor yang menyadari keberadaan peri yang memiliki tulang, daging, dan otak persis seperti pemburu asli.
Jika peri ini memiliki kecerdasan seperti peri lainnya, ia pasti sudah mengamuk sejak awal. Ia pasti sudah membunuh tentara di reruntuhan kastil dan memakan daging mereka.
Namun, peri itu tetap diam dan menahan napas.
Ia tahu, jika ia bertarung sekarang, ia hanya akan dibunuh lagi oleh Mikkanen. Itu adalah ketenangan yang tidak lazim bagi seekor peri. Mungkin ini berkat pengalamannya menyamar sebagai manusia selama ini.
Tetapi, peri itu tidak menyerah.
Artileri, pemburu, pria, wanita, tua, muda—semua yang ia bunuh selama ini memiliki celah.
Maka, tidak mungkin pria itu adalah satu-satunya yang tidak memiliki celah.
Hanya saja, guru yang ia tiru, rekan seperjuangan, maupun sahabat di desa selama ini belum cukup untuk membuat bilah pedang pria itu tumpul.
Sihir untuk mengambil wujud manusia yang ia miliki adalah kekuatan yang luar biasa untuk menyusup ke dalam hati manusia dan melahap dagingnya tanpa harus bertarung. Berkat berkah dari Ibu Agung, sihir ini jauh lebih unggul daripada sihir manusia.
Pria bernama Mikkanen ini pasti juga memilikinya.
Pasti ada seseorang yang membuat bilah pedang tajam itu ragu, seseorang yang bahkan tidak bisa dibunuh oleh peri sekalipun. Itu adalah awal dari penelitian yang sangat panjang.
Melompat keluar dari botol.
Itu bukanlah karena ia tidak bisa menahan laparnya lagi. Itu adalah awal dari perburuan yang sudah dipikirkan matang-matang. Karena itulah sampai saat ini, peri itu masih mengamati pria itu tanpa terbunuh.
Nada bicara yang sama persis, mata yang sama persis, wajah yang sama persis.
Sekarang, apa yang akan dilakukan pria itu?
Peri itu percaya pada sihirnya sendiri. Saat ini, hanya ada dua orang di dunia ini yang tahu mana Profesor Alhazen yang asli.
Orang yang ditiru, dan peri yang menirunya.
Tidak butuh waktu sedetik pun untuk menyadarinya.
Dua Profesor Alhazen yang masuk ke dalam pandanganku—siapa pun pasti tahu apa yang terjadi. Aku tahu betul sihir macam apa yang dimiliki peri yang melarikan diri itu.
Peri yang bisa menyamar menjadi manusia atau pemburu.
Ia bisa membaca hati dan ingatan manusia, lalu menumpuk wujudnya di atas wujud tersebut. Maka, salah satu dari dua Alhazen yang ada di sini adalah peri itu.
"Untuk ukuran peri, kau benar-benar cerdik."
Aku menggigit bibir. Lidahku terasa seperti besi.
Jika ini adalah aku atau anggota partai yang lain, tidak akan ada masalah. Sihir hanyalah sihir. Meskipun ia meniru wujudku, aku bisa membunuhnya dalam hitungan detik.
Namun, Profesor Alhazen berbeda.
Profesor Alhazen tidak memiliki sihir untuk bertarung. Ia membunuh peri dengan senjata yang ia ciptakan sendiri hanya dengan bantuan otaknya. Dan berbicara soal senjata tersebut...
"!"
""Mikkanen! I-ini peri yang meniru diriku!""
Tercium aroma daging terbakar yang tidak sedap.
Laser yang disembunyikan di seluruh laboratorium membakar lenganku. Kilatan Atmosphere Burn dari Senjata No. 18 Profesor Alhazen mengejarku yang sedang melarikan diri.
Aku menundukkan kepala saat berlari di laboratorium.
Tembakan peluru tabur yang menggores telingaku membuat pintu di belakangku berlubang seperti sarang lebah. Tampaknya sebagian besar senjata di laboratorium juga patuh pada peri itu.
""Ke-kenapa! Senjata seharusnya hanya mematuhi perintah berdasarkan pola pikirku yang sudah terbaca...""
Profesor Alhazen pun bukanlah orang bodoh.
Ia tahu bahwa ia telah memasang keamanan yang tak terhitung jumlahnya agar senjata ciptaannya tidak disalahgunakan oleh tangan peri.
Nada bicara, iris mata, pola pikir.
Siapa pun yang memberi perintah akan diuji dari segala aspek.
Dulu, ia pernah menetapkan standar yang terlalu ketat sampai-sampai senjata tidak mau mendengarkan perintah karena adanya sedikit perbedaan sikap Profesor Alhazen di pagi dan malam hari.
Namun kini, ada dua Profesor Alhazen yang tidak memiliki perbedaan sama sekali di laboratorium ini.
Sihir peri itu luar biasa unggul. Bahkan kelompok sensor yang disetel hingga batas ekstrem oleh Profesor Alhazen pun tertipu.
Dua Profesor Alhazen memberi perintah pada senjata dengan pola pikir yang tidak berbeda sama sekali. Senjata-senjata itu tidak tahu perbedaannya dan hanya patuh secara membabi buta.
Senjata akustik raksasa menghancurkan tulang-tulangku.
Sekelompok jarum menembus punggungku, merobeknya, dan keluar dari dadaku.
Aku hanya bisa menahan rasa sakit itu.
Di sana, dua Profesor Alhazen sedang gemetar. Siapa di antara mereka yang merupakan peri yang mencoba membunuhku dengan senjata ini, dan siapa rekan partaiku yang sedang berusaha mengendalikan senjata untuk mencegah hal itu terjadi?
Selama aku tidak tahu, aku tidak bisa menebasnya.
""Ku-kurasa kau harus membunuhku!""
"Jangan bicara bodoh, mana mungkin aku bisa melakukan itu!"
Aku menebas perangkat mekanisme seperti laba-laba yang melompat dari atas kepalaku.
Mengambil kesempatan dari celah itu, aku terlempar ke rak laboratorium oleh tembakan peluru tabur.
Tetap saja, aku tidak bisa membunuh Profesor Alhazen. Dia adalah rekan seperjuangan yang selama ini selalu melindungiku di medan perang; aku tidak bisa membiarkannya mati.
""Ti-tidak bisa! Jika peri ini bisa mengetahui cara mengendalikan senjata No. 0 dari ingatanku, maka Reruntuhan Kastil Ogdanel bisa jatuh dalam sekejap!""
Begitu ya, jadi ada batas waktunya juga.
Senjata No. 0, sebuah jurus pamungkas yang diciptakan karena takut tentara akan dicuci otak oleh sihir peri, justru kini bisa dijadikan cara oleh peri untuk menghancurkan militer. Sungguh lelucon yang ironis.
""Senjata No. 0 bekerja dengan cara yang sedikit berbeda agar tidak ada perintah aneh yang keluar akibat kegilaanku. Tapi jika sekali saja itu diketahui, maka semuanya berakhir!""
Mungkin ingatannya sedang dibaca bahkan sekarang, teriak Profesor Alhazen.
"Itu gawat, ya."
""Benar, jadi bunuh aku!""
Jika Reruntuhan Kastil Ogdanel jatuh, banyak nyawa akan hilang kembali.
Jika sebagian besar kekuatan militer hilang, umat manusia mungkin akan kembali terpuruk menuju kehancuran. Jika itu terjadi, tragedi akan lahir kembali dalam jumlah yang tak terhitung.
Tapi, tetap saja.
Jika itu Agrastein, dia pasti akan langsung membunuh kedua Profesor Alhazen tanpa ragu.
Tapi, hanya itu yang tidak bisa kulakukan.
Aku tidak ingin menimbang nyawa manusia di atas timbangan.
"Gah!"
Darah menyembur dari telinga dan mulutku.
Senjata No. 0 yang tertanam di otakku sepertinya mulai bekerja. Itu artinya, batas waktunya sudah habis.
Aku harus melakukannya.
Aku menggenggam Longsword erat-erat. Di ujung mata pedang itu ada dua Profesor Alhazen.
""Benar, lakukan saja. Daripada membuat Mikkanen menderita, aku lebih baik...""
Seolah menyerah, Profesor Alhazen memejamkan mata.
Aku pun menebas lehernya.
"GYYAAAA, KENAPA, KENAPAAA...!"
Profesor Alhazen tanpa kepala yang tergeletak di lantai laboratorium itu meronta dan berguling.
Meskipun lehernya sudah ditebas, anggota tubuhnya masih gemetar hebat. Sihir peri yang belum hilang itu masih membuatnya tampak seperti rekan seperjuangan yang kukenal.
Daging peri yang kehilangan kepala itu merayap di lantai laboratorium.
Sambil meninggalkan jejak darah hitam, ia mengerahkan sisa kekuatan terakhirnya untuk menuju pintu. Namun, pelarian yang mati-matian itu tidak akan terwujud.
Aroma bunga yang lembut tercium.
Angin berdesir, kelopak bunga bertebaran, dan sesosok pemburu muncul.
Yang muncul adalah pemburu yang sangat cantik sampai membuat napas tertahan, Morgraid. Ia meletakkan tangan di dahi, menghela napas seolah sedang sakit kepala.
"Ya ampun, benar-benar pembuat masalah, Mikkanen. Kupikir suasana sedang bising, ternyata ini yang terjadi. Aku benar-benar sial punya atasan sepertimu."
"Morgraid!"
Di balik nada bicara yang elegan, Morgraid menginjak peri yang sedang merayap itu.
"Gih!"
"Terima kasih, bisa bantu aku?"
"Hal semudah itu."
Dengan suara percikan air yang mengerikan, daging peri yang sekarat itu meronta. Mata Morgraid yang menatapnya terasa sangat dingin hingga membuat bulu kuduk berdiri.
"Ah, ngomong-ngomong, aroma yang sangat nostalgia. Dia juga melakukan hal yang membosankan, ya."
"No. 0, BUNUH WANITA INI!"
Peri itu berteriak.
Namun, pemburu yang menginjaknya tidak bergeming. Padahal, menurut ingatan cendekiawan bernama Alhazen, jika ia memerintahkan senjata itu, siapa pun manusia yang mendengarnya akan memuntahkan darah dan tumbang.
Morgraid, yang tidak terluka sedikit pun, mengangkat bahu dan tersenyum kecil.
Sesaat, kepala peri itu gemetar seolah baru menyadari sesuatu di kejauhan.
Namun, Morgraid tidak akan membiarkannya menyampaikan hal itu kepada siapa pun. Kelopak bunga putih pucat yang menari dari ujung jarinya membungkus peri itu beserta kepalanya.
Hujan bunga yang sangat cantik tersaji di sana.
Pemandangan yang terlalu indah bagi seekor peri yang sedang sekarat untuk disaksikan.
"Baiklah, biar aku antar dengan lembut ke alam baka."
Di tengah hujan bunga, anggota tubuh peri itu layu.
Darahnya mengering, otot-ototnya menyusut, tulangnya hancur, dan ia membusuk layaknya kayu kering.
Saat jantung yang keluar dari sana mencoba melarikan diri dengan gigih, aku menebasnya dengan Longsword.
"Dengan ini, selesai sudah."
Saat mata pedangku menembus daging yang menyimpan jiwa peri itu, sihir yang menyiksaku selama ini pun runtuh. Wajah peri yang tadinya disembunyikan oleh ilusi kini terpampang nyata.
Mata yang terpelintir dan lengan dengan cakar yang tajam seperti binatang buas. Itu adalah monster yang tak terbantahkan.
Keheningan setelah peri itu tewas dipecahkan oleh teriakan seorang cendekiawan.
"Ke-kenapa kau bisa tahu? Darah, daging, kulit, semuanya seharusnya tidak ada bedanya...!"
Profesor Alhazen yang asli menggetarkan bibirnya.
Matanya tidak terlihat seperti sedang merasa lega, melainkan menyembunyikan ketakutan dan penderitaan.
"Tentu saja aku tahu, aku tidak mungkin salah membedakan Profesor Alhazen."
"Kenapa kau bisa berkata begitu? Peri itu bahkan menipu senjata yang kubuat dengan teknologi terbaik yang aku tahu, bagaimana mungkin..."
Aku menatap lekat-lekat mata Profesor Alhazen yang ketakutan.
Saat itu, aku tidak punya bukti apa pun.
Senjata kesayangan Profesor Alhazen tidak bisa mendeteksinya, teknologi ilmiahnya pun tidak bisa membongkarnya, bahkan ingatan orang yang sudah lama bersamanya sepertiku pun ikut tertipu.
Namun, aku tahu pasti bahwa Profesor Alhazen yang kutebas adalah peri yang sedang menyamar.
"Itu cerita yang sangat sederhana."
Aku tidak mungkin salah.
Rekan seperjuangan yang selalu melindungi punggungku di medan perang, seorang cendekiawan yang kuandalkan sebagai orang yang paling tahu soal peri di partai ini. Aku tidak mungkin salah membedakan Profesor Alhazen yang seperti itu.
Aku memercayai Profesor Alhazen.
"Profesor Alhazen pun pasti tahu di suatu sudut kepalamu."
"He-hentikan. Itu, jangan ucapkan hal itu. Aku berpikir bahwa hal itu tidak boleh dibuktikan!"
Seolah-olah seorang kriminal yang ditunjukkan bukti yang selama ini ia hindari.
Profesor Alhazen menggelengkan kepala, menolak untuk mendengarnya. Namun, aku menyampaikan pikiranku tanpa keraguan sedikit pun.
"Terkadang kebenaran ada pada hal dongeng yang disebut sebagai 'hati', bukan begitu?"
Mata Profesor Alhazen bergetar.
"Kenapa kau mengucapkan hal seperti itu..."
Seolah sedang memeluk dirinya sendiri untuk menjauh dariku, Profesor Alhazen melangkah mundur sambil memeluk tubuhnya.
"Aku terus berpura-pura tidak menyadarinya. Jika aku sampai tahu, aku tidak akan bisa berhenti lagi. Aku pikir aku hanya akan mengamuk tanpa memikirkan Mikkanen sedikit pun!"
Profesor Alhazen berteriak.
Itu adalah luapan perasaan yang selama ini ia sembunyikan dengan rasionalitasnya.
"Jika 'hati' adalah sumber dari kepercayaan..."
Aku merasa pedih melihat Profesor Alhazen yang seperti itu.
"Tidak ada orang lain yang bisa kupercaya selain Mikkanen, tidak mungkin ada...!"
Tidak ada lagi cendekiawan yang bisa diandalkan seperti biasanya di sana.
Yang kulihat sekarang hanyalah satu orang yang terluka dan rapuh.
"Jika aku menyadari hal itu, aku tidak akan bisa membiarkan Mikkanen pergi lagi. Aku tidak akan sanggup hidup tanpa ada seorang pun yang bisa kupercaya...!"
Benar.
Aku teringat. Geis (sumpah/janji) Profesor Alhazen adalah adanya seseorang yang bisa ia percayai.
Seorang cendekiawan yang terpaksa harus meragukan segalanya, namun tetap bisa melakukan penelitian karena adanya seseorang yang ia cari meskipun harus melanggar prinsipnya sendiri.
"Aku tidak mau lagi. Aku tidak bisa hidup hanya dengan meragukan segalanya tanpa memercayai siapa pun...!"
Profesor Alhazen menangis tersedu-sedu.
Sambil terisak-isak, aku melangkah mendekati Profesor Alhazen yang sedang menderita.
"Jangan datang. Sekarang aku tidak tahu apa yang akan kulakukan, mungkin saja aku akan memutarbalikkan hatimu dengan obat dan mengikatmu padaku, tahu!"
Meski begitu, aku tahu punggung yang terus berjuang sendirian di laboratorium yang sepi itu.
Seseorang yang tidak diizinkan memercayai apa pun karena kenangan akan temannya yang tewas, seseorang yang ditertawakan dan dibuang setelah mencapai puncak penelitian, namun tetap berjalan maju dengan nekat—aku tahu betul sosok itu.
Jika aku adalah satu-satunya orang yang bisa dipercayai oleh sang profesor.
Maka aku harus meraih tangannya.
"Tidak apa-apa, kau boleh menempel padaku sesukamu."
"Jangan bicara bodoh! Jika kau mengizinkanku begitu, aku tidak tahu apa yang akan kuminta!"
Aku memeluk tubuh kecil Profesor Alhazen yang sedang menangis dan gemetar dengan lembut.
"Itu kalimatku. Aku akan hidup sesukaku, jadi akan sulit kalau kau terus mengikutiku."
◆◆◆
"Ya ampun, kau benar-benar membuat masalah, ya. Hampir saja tadi Mikkanen menyadarinya."
Morgraid berbisik pelan.
"Sayangnya, hal itu tidak mempan padaku."
Mungkin peri itu baru mengetahui rahasia Morgraid di saat-saat terakhirnya. Untungnya, ia berhasil menghabisi nyawa peri itu sebelum rahasia tersebut terucap, tetapi seandainya hal itu tersampaikan kepada Mikkanen...
"Mungkin itu akan menjadi pengalaman yang sedikit—tidak, justru sangat—menyakitkan."
Morgraid benar-benar merasa cemas tadi.
Ia menendang sisa-sisa bangkai peri yang telah kehilangan nyawanya dan mengering itu dengan lesu. Ia kemudian terkekeh kecil saat melihat Profesor Alhazen yang masih terisak dan Mikkanen yang mendekapnya.
"Yah, sepertinya aku hanya menjadi gangguan di sini, jadi mungkin lebih baik aku mundur dengan tenang."
Langkah kaki Morgraid menjauh dari laboratorium yang masih dipenuhi suara isakan sang cendekiawan.
"Lagipula, aku adalah teman bagi gadis-gadis manis setiap saat."
◆◆◆
"Jadi, kau yang tidak pernah belajar dari kesalahan ini akhirnya melakukan hal bodoh lagi seperti yang kulakukan dulu, ya?"
Malam harinya, Isfana yang menyelinap ke tempat tidur menatapku dengan mata setengah menyipit tajam.
Setelah kejadian tadi, aku yang sibuk mengurus sisa-sisa peri yang menyamar itu merasa sangat lelah dan hanya ingin beristirahat, namun ia malah datang dengan omelannya.
Aku menghela napas panjang.
"Mau bagaimana lagi? Profesor Alhazen adalah rekan seperjuanganku. Aku tidak mungkin bisa menolak saat dia meminta bantuan."
"Hah! Justru karena sifat itulah kau dimanfaatkan oleh cendekiawan gadungan itu! Dia adalah tipe orang yang akan diam-diam menanamkan bakteri ke otak orang lain, moralnya pasti sudah rusak!"
Setelah kejadian tadi, ingatan Isfana telah dikembalikan oleh Profesor Alhazen.
Mungkin karena itulah, Isfana melontarkan kata-kata pedas yang lebih tajam dari biasanya sambil terus menggerutu dan menempel padaku. Benar-benar membuatku repot, mungkin karena dia terus menempel seperti ini, aku jadi sering bermimpi buruk.
Lihat, sekarang pun leherku terasa tercekik dan sangat sesak.
...Tunggu, bukannya seharusnya lengan Isfana hanya melingkari pinggangku?
Aku segera bangkit dan menepis selimut.
Di sana, sudah ada sosok lain.
"Menurutku, bangun dengan terburu-buru di malam hari itu berbahaya bagi otak. Sebab, cara terbaik bagi otak adalah memberikan istirahat yang tenang hingga waktu yang ditentukan setiap malam..."
Rambut hitam yang berantakan. Mata hitam bulat di balik kacamata yang sudah lama tidak kulihat.
Sosok yang sedang mengusap mata, kebalikan dari Isfana, adalah kebanggaan partai kita sekaligus otoritas tertinggi dalam ilmu peri, Profesor Alhazen.
"A-ano, Profesor Alhazen. Kenapa kau ada di tempat tidur?"
Aku bertanya sambil menahan Isfana.
Begitu melihat sosok Profesor Alhazen, Isfana mendesis seperti kucing yang marah.
"Bukankah Mikkanen sendiri yang mengatakan bahwa aku boleh menempel padamu sesukaku? Aku hanya mengikuti kata-katamu itu."
Ah, benar juga, aku memang pernah mengatakannya.
Mengapa saat itu aku tidak memilih kata-kata dengan lebih bijak? Aku menyesalinya sekarang, namun akhirnya aku hanya bisa pasrah dan memejamkan mata.
"Hei, Mikkanen! Cepat usir cendekiawan bodoh itu dari tempat tidur! Sang jenius ini tidak berniat berbagi malam dengan siapa pun selain Mikkanen!"
"...Isfana, bukankah kau sendiri yang seharusnya keluar dari tempat tidur Mikkanen, pria yang sering kau ejek bodoh? Aku berada di sini karena Mikkanen adalah satu-satunya orang yang bisa kupercaya."
Entah mengapa, perselisihan sengit kini pecah di atas tempat tidurku.
Aku yang sudah kelelahan hanya bisa menarik selimut dan membungkus diriku sendiri di dalamnya.
Namun, pertengkaran itu justru semakin memanas, dan pelukan kedua orang yang mengapitku itu semakin lama semakin mengencang.
Lambungku terasa perih melilit, dan aku menangis dalam diam.
Tidak cukup dengan terlahir di dunia death game yang mematikan, kini bahkan di dalam tempat tidur pun aku harus terjebak dalam pertengkaran anggota tim.
Oh, Tuhan, dosa apa yang telah kulakukan sampai pantas mendapatkan semua ini?
"Namun, ini... rasanya cukup hangat dan nyaman juga, ya. Sepertinya aku mulai ketagihan."
"Cepat enyah dari sini, kau cendekiawan bodoh!"



Post a Comment