Chapter
3
Sang
Pendeta yang Memanjatkan Doa Pembangkangan
Di kapel yang berlumuran darah itu, ada seorang anak
kecil.
Dengan tatapan hampa, ia terus-menerus memanjatkan doa
kepada Tuhan. Di sekelilingnya, tergeletak tak bernyawa teman-teman yang dulu
pernah tertawa dan bermain bersamanya, serta para guru yang dulu mengajarkannya
ajaran Tuhan.
Di bagian dalam kapel itu, sang kepala biara bersandar di
altar dengan mata terpejam, seolah sedang tidur.
Di leher kepala biara yang telah mendedikasikan seluruh
hidupnya pada ajaran Tuhan itu, terdapat bekas cekikan tangan berwarna merah.
Pelakunya adalah anak yang sedang berdoa itu.
Tragedi ini terjadi semata-mata untuk melahirkan anak
itu.
"Cintailah sesama, jangan memikirkan diri sendiri,
dan selamatkanlah mereka yang kesulitan."
"Kau harus mematuhi ajaran Tuhan."
Anak itu harus mewujudkan permintaan terakhir yang
diucapkan sang kepala biara. Sebagai seorang pastor yang menyerahkan dirinya
pada Tuhan, itulah tugas yang harus ia penuhi.
Anak yang sedang berlutut memanjatkan doa itu pun bangkit
perlahan.
Dengan langkah terhuyung-huyung, ia berjalan menyusuri
biara yang tak menyisakan satu pun nyawa.
Ia berjalan sambil menginjak-injak daging yang berserakan
di lantai, membuat suara bip-bip yang memuakkan. Dari tangannya yang
berlumuran darah, tetesan cairan merah terus jatuh.
Mata teman masa kecilnya yang terhempas ke dinding biara
menatap anak itu dengan tatapan kosong. Di antara mereka, ada pula sahabat
karib yang baru saja ia tipu hingga tewas.
Bagai kilasan memori, kehidupan masa lalu bersama
teman-temannya berlalu di benaknya.
Sahabat karib yang sangat ceria, lembut, dan mencintai
semua orang di biara. Sahabat yang selalu memikirkannya dan selalu mengajaknya
bicara.
Ia tak akan pernah lagi bisa melihat senyum yang mekar
seperti bunga itu. Karena sahabat yang dadanya telah terkoyak itu, tak akan
pernah bisa bernapas lagi.
Dirinyalah yang meremukkan jantung itu. Karena itu, ia
harus menanggung beban hidup dan kematian tersebut di pundaknya.
Ia harus membunuh para peri.
Ia akan membunuh, terus membunuh peri, hingga menumpuk
gunung mayat.
Lalu, ia akan mengamuk hingga mati di akhir
perjalanannya. Itulah jalan Tuhan yang terpikirkan oleh anak itu.
◆◆◆
"Sudahlah, cukup sampai di sini bagian itu. Selera humor kalian berdua benar-benar payah, ya."
"Aku tidak melakukannya dengan niat agar
berakhir seperti itu. Sejujurnya, aku sama sekali tidak ada niat untuk menjadi
atasan yang begitu dipuja seperti ini."
Morgraid mendesah sambil merebahkan diri di atas
meja.
Aku mengerutkan kening, berniat meluruskan salah paham
itu, namun...
"Hal seperti itu seharusnya kau katakan setelah kau
melepaskan dua orang yang bergelayut di lenganmu itu, Mikkanen."
Morgraid menatapku dengan tatapan jengkel.
Aku menoleh pada dua beban berat yang sedari tadi
berusaha kuabaikan. Isfana dan Profesor Alhazen sedang mencengkeram lenganku
tanpa bicara. Tampaknya mereka tidak ada niat sedikit pun untuk melepaskannya.
Tatapan dari para pemburu lain yang sedang makan di dining
hall terasa begitu menusuk.
Bahkan, dari kejauhan, Agrastein tampak
gemetar—alisnya bergetar seolah baru saja melihat sesuatu yang benar-benar
bodoh.
Aku membuka suara dengan wajah kaku.
"Kalian berdua, bukankah tidak perlu menempel
padaku seperti itu?"
"Hah, kau yang bodoh ini berani-beraninya
mengeluh padaku, seorang jenius? Aku tetap berada di sampingmu hanya karena kau
adalah atasanku, benar-benar tidak sopan."
Isfana mengejekku sambil memotong dendeng dengan
pisaunya dengan teliti. Lengan yang ia lilitkan di lenganku mengencang,
memberikan rasa sakit yang samar.
"Menurutku, sebagai cendekiawan, kita tidak
boleh melupakan upaya telaten untuk selalu membandingkannya dengan standar. Demi
menapaki jalan penelitian yang benar, kerja sama dari Mikkanen sebagai standar
mutlak sangatlah dibutuhkan."
Profesor Alhazen mengunyah roti hitam sambil
mengamati lenganku dengan lensa pembesar. Aku bahkan tidak mau memikirkan apa
yang sedang dia selidiki.
Setelah permintaanku ditolak mentah-mentah, aku
meminta bantuan melalui tatapan mata kepada si shotacon yang sedang
duduk tidak jauh dari sana.
Bukankah kau tadi bilang soal peraturan militer dan
disiplin? Sebagai atasan, tolong perintahkan mereka dengan tegas.
Namun, Agrastein hanya melemparkan tatapan tanpa
emosi ke arahku, lalu mengambil nampan dan berjalan menuruni jalan yang menuju
ke lantai bawah tanah.
"Hei, cendekiawan gadungan. Kau pasti sudah puas
menikmati standar yang kau cari itu, kan? Orang bodoh
ini tetaplah atasanku, jadi cepat kembali ke lab sana."
"Isfana benar-benar bodoh. Standar yang bisa
dipercaya adalah sesuatu yang sangat berharga dan tidak mudah didapat.
Penelitian tidak akan cukup hanya dengan hal seperti ini."
Tanpa sadar, Isfana dan Profesor Alhazen kini saling
menatap tajam dari balik bahuku.
Lambungku mulai terasa perih melilit. Aku ingin
menangis—tidak, aku bahkan sudah menangis.
Satu-satunya yang bisa diandalkan di saat seperti ini
hanyalah Morgraid.
Saat aku menatapnya untuk meminta bantuan, ia malah
menertawakanku. Yah, orang pertama yang menyuruhku "lakukan sesukamu"
adalah Morgraid sendiri, bukan? Dia yang memberiku izin.
Benar-benar orang yang tidak punya perasaan.
Namun, Morgraid tetap berjasa karena telah
memberitahuku bahwa Profesor Alhazen berniat membawaku ke lab garis belakang. Aku
harus berterima kasih untuk itu.
Aku sedikit membungkukkan kepala pada Morgraid.
"Omong-omong, terima kasih karena selalu membantuku.
Itu sangat berarti."
"Benar-benar ya, berada di sisimu membuatku tidak
merasa bosan. Meski rasanya umurku jadi lebih pendek karena terus-terusan
menginjak ranjau darat."
Morgraid bergumam sambil memegang pelipisnya.
Mengingatnya lagi, aku merasa sudah lama tidak
melihat senyum Morgraid. Aku merasa nyeri di dada, takut kalau selama ini aku
telah menyusahkannya.
"Tidak, bukan begitu. Akhir-akhir ini aku memang
sering sakit kepala, tapi itu bukan salahmu, mungkin aku sedikit sakit."
Morgraid menggelengkan kepala sambil memijat pelipisnya.
Kemudian, ia bertanya padaku seolah ingin mengalihkan pembicaraan.
"Jadi, bagaimana dengan Ingrasius?"
Aku terkejut Morgraid membahas hal itu. Saat aku
menatapnya, ia mengerutkan kening seolah itu adalah keputusan yang sulit.
"Yah, mengingat apa yang terjadi selama ini, tidak
aneh jika anak itu pun menyimpan ranjau darat di dalam hatinya. Menurutku,
sebaiknya kau juga bicara padanya."
"Ugh..."
Aku terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Isfana dan
Profesor Alhazen di sampingku semakin mengeratkan pelukan mereka.
"Baiklah. Aku rasa Ingrasius tidak mungkin seperti
itu, tapi kalau sudah sejauh ini, anggap saja aku sudah kepalang basah. Aku
akan bicara dengannya."
"Ya, aku juga setuju itu yang terbaik. ...Ngomong-ngomong, kau musuh para
gadis, cepat sana meledak."
Setelah mengatakan itu, Morgraid menghela napas dan
meninggalkan dining hall.
Padahal dia yang menyuruhku melakukannya, menyebalkan
sekali. Aku menyeka butiran air yang mengalir dari mataku.
◆◆◆
Meskipun begitu, aku sama sekali tidak
mengkhawatirkan Ingrasius.
Aku tidak bisa membayangkan Ingrasius menderita
penyakit hati seperti anggota tim yang lain. Alasannya jelas.
Ingrasius Geroveni adalah seorang pastor—tidak, dia
adalah seorang santo.
Secara teknis, dia bukan santo menurut ajaran gereja,
tapi di Reruntuhan Kastil Ogdanel ini, dia dipuja seperti itu. Mungkin dialah
yang paling disayangi oleh para prajurit di partai kami.
Di dunia ini, ada agama monoteistik bernama Agama
Sarius. Posisinya sama seperti Kekristenan di dunia lama, dan
dipercayai oleh cukup banyak umat manusia.
Ajarannya adalah: "Cintailah sesama dan
selamatkanlah orang lain tanpa memikirkan diri sendiri."
Itu ajaran agama yang umum, tapi Ingrasius adalah pastor
yang sangat antusias dan mendedikasikan dirinya pada ajaran tersebut. Karena
itu, dia mempraktikkannya lebih ketat daripada siapa pun.
Jika ada prajurit baru yang tersesat, dia akan
menunjukkan jalannya meski sedang hari libur. Jika ada prajurit yang ketakutan
akan pertempuran melawan peri, dia akan mendengarkan setiap keluh kesahnya.
Sosoknya benar-benar tampak seperti seorang santo yang
turun ke medan perang, dan itulah alasan mengapa dia dipuja seperti dewa di
Reruntuhan Kastil Ogdanel. Ingrasius juga bersikap baik pada kami anggota tim.
Hanya saja, ada satu hal yang mengganjal.
Aku punya satu keraguan tentang geis (sumpah)
Ingrasius. Karena bagi Ingrasius yang sangat religius dan baik pada orang lain
layaknya seorang santo, geis itu terdengar mustahil untuk dipatuhi.
Geis Ingrasius adalah: "Jangan pernah
melanggar ajaran Tuhan."
Saat pertama kali mendengarnya, aku tidak percaya
pendengaranku sendiri.
Bagaimana mungkin Ingrasius yang tidak pernah melewatkan
ibadah siang malam dan menyebarkan kasih sayang sambil mematuhi dogma agama
bisa menjaga geis-nya?
Aku sudah tak terhitung kali melihat sihir Ingrasius di
medan perang—kekuatan yang membuat tubuhnya sekeras baja—jadi aku hanya bisa
memiringkan kepala keheranan.
Bagaimana cara dia menyeimbangkan geis-nya dengan
keyakinannya? Sampai sekarang pun aku tidak memahaminya sama sekali.
Selain keraguan itu, Ingrasius benar-benar sosok yang
layak disebut sebagai teladan seorang rohaniwan.
Jadi, aku tidak percaya kalau Ingrasius sedang sakit
jiwa.
Morgraid memang selalu bisa diandalkan, tapi untuk yang
satu ini, dia pasti salah paham. Sambil berpikir begitu, aku memutuskan untuk
menyambut kepulangan Ingrasius.
Pada bulan festival, sudah menjadi tradisi bagi Ingrasius
sebagai pastor Agama Sarius untuk melakukan ziarah ke tempat suci.
Malam
ini adalah jadwal kepulangannya.
Sebagian
besar prajurit sudah tidur, dan Reruntuhan Kastil Ogdanel terbungkus dalam
kesunyian.
Di
lantai bawah tanah, dari arah garis belakang, terdengar suara kereta tambang koto-koto
yang menggema.
Di
kereta itu, aku melihat rambut merah yang kurindukan. Rambut pendek indah yang
berkilau dan tampak seperti api itu bergoyang-goyang. Wajah yang biasanya
tenang dan lembut itu langsung berbinar cerah begitu melihatku.
Dia melompat keluar dari kereta secepat peluru.
"Selamat datang kembali, apakah perjalanan ziarahnya
menyenangkan?"
Seolah sedang membelai seekor anjing, aku memeluk
Ingrasius dan mengacak-acak rambutnya. Ingrasius kemudian mengambil buku
sketsa.
『Sangat menyenangkan!』
Ingrasius tidak bisa bicara.
Sebagai gantinya, dia berkomunikasi dengan menuliskan
kata-kata di buku sketsa dengan pensil.
Kami mulai berjalan menaiki tangga batu menuju Reruntuhan
Kastil Ogdanel. Kami berdua yang sudah tidak bertemu selama sebulan punya
banyak sekali hal untuk diceritakan.
"...Begitulah ceritanya, entah mengapa Isfana dan
Profesor Alhazen jadi sering menempel padaku. Mereka tidak ada di sini
sekarang, tapi tolong jangan terlalu dipikirkan."
『Roger!』
Sebagai pastor Agama Sarius, Ingrasius mengenakan jubah
hitam (cassock).
Aku merasa hangat melihat Ingrasius yang memberi hormat
dengan bercanda, dan aku berpikir bahwa memang seharusnya aku tidak perlu
khawatir.
Lagipula, mustahil Ingrasius bisa terkena gangguan jiwa.
Tepat saat aku berpikir begitu, Ingrasius menulis satu kalimat di buku sketsanya.
『Sebenarnya, apa yang membuat hati kalian kacau seperti
itu?』
"Aku hanya bilang kalau aku ingin keluar dari
militer, itu saja."
Aku mencoba menertawakannya, berusaha membuat ucapanku
terdengar seperti lelucon. Namun, tepat di saat itu.
Kotori.
Suara buku sketsa yang jatuh di belakangku terdengar
nyaring. Aku menoleh, dan mendapati Ingrasius menatapku dengan wajah yang
seolah hendak menangis. Aku kehilangan kata-kata saat melihat bibirnya gemetar
hebat.
Tak lama kemudian, Ingrasius tersenyum dengan raut wajah
yang penuh kesedihan.
Setelah itu, ia berbalik memunggungiku dengan tenang
dan berlari pergi.
Gawat.
Alarm bahaya berbunyi nyaring di lubuk hatiku.
Firasat bahwa aku akan menyesal jika membiarkan Ingrasius pergi begitu saja
merayap di punggungku.
"Tunggu, Ingrasius!"
Aku berteriak memanggil namanya. Namun, sudah
terlambat.
Ingrasius adalah salah satu petarung paling tangguh
di partai kami, setara denganku.
Berbeda dengan tiga orang lainnya yang bertarung
menggunakan sihir, dia—sepertiku—lebih menyukai pertarungan jarak dekat dengan
menerjang kawanan peri. Kecepatannya bahkan masuk dalam lima besar di militer.
Dalam sekejap mata, sosok Ingrasius sudah hilang
tanpa jejak.
Aku menarik napas dalam-dalam, mengaktifkan tungku
sihir di dalam dadaku.
Menggunakan tungku sihir di luar medan perang adalah
pelanggaran peraturan militer, tapi aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal
itu.
Aku memejamkan mata dan memasang telinga.
Terdengar.
Suara sepatu bot militer yang menghentak lantai batu.
Itu adalah suara yang sangat samar, hampir saja kukira suara tikus atau sesuatu
yang tak berarti jika aku tidak mendengarkannya dengan cermat.
Aku berlari.
Aku melesat seperti angin melewati Reruntuhan Kastil
Ogdanel yang sunyi di tengah malam, hingga akhirnya tiba di depan sebuah
ruangan yang kurasa dimasuki oleh Ingrasius.
Pintu baja yang berat itu memancarkan aura yang tidak
menyenangkan dari balik sana.
"Ingrasius, maafkan aku karena mengatakan hal
bodoh tadi. Aku yang salah, jadi tolong buka pintunya."
Aku mengetuk pintu, namun tidak ada suara kunci yang
terbuka.
Sebagai gantinya, yang terdengar di telingaku adalah
suara kriet, kriet, seolah ada sesuatu yang berderit.
Rasa takut yang luar biasa menjalari punggungku. Tanpa
suara, aku mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang.
"Dengar, buat suara sekarang juga. Kalau
tidak, aku akan meledakkan pintu ini. Tiga, dua, satu...!"
Yang terdengar hanyalah kesunyian yang mencekik.
Dengan jantung yang berdegup kencang karena panik dan
takut, aku menendang pintu baja itu sekuat tenaga. Besi yang ditempa kuat untuk
melindungi tentara dari sihir peri itu melengkung dan penyok ke dalam.
Aku pun menerobos masuk ke dalam ruangan.
Darahku seolah membeku.
Kepalaku menjadi kosong, dan sebagai gantinya, gairah
kemarahan menguasai diriku.
"...Ingrasius!"
Yang kulihat adalah seutas tali yang terikat.
Dan sosok Ingrasius yang sedang bersiap mengalungkan
lehernya.
Aku mengertakkan gigi dan menerjang dengan kekuatan
yang bahkan tak kupercayai bisa kulakukan, memeluknya untuk menjatuhkannya.
Kakinya yang menggantung di udara terhempas ke
lantai, dan tali yang terlepas jatuh di punggungnya.
"Apa yang kau pikirkan, dasar bodoh!"
Aku membentak sambil menindihnya di lantai.
Ingrasius menatapku dengan wajah yang hampir menangis
dan meronta. Di tangannya, ia menggenggam sebuah pistol yang berkilat hitam.
Mataku memerah karena murka.
"Jangan bercanda!"
Aku merampas senjata itu dan menendangnya jauh-jauh. Aku
mencengkeram kerah bajunya dan menempelkan dahi kami.
"Apa kau pikir aku akan membiarkanmu mati, dasar
bodoh!"
Mata Ingrasius bergetar hebat. Mulutnya yang tidak akan
pernah lagi mengeluarkan suara itu bergerak-gerak, seolah berusaha menyampaikan
sesuatu.
Ingrasius meringkuk di tempat tidur, tetap membisu.
Punggungnya yang meringkuk tampak seperti hewan kecil
yang terpojok oleh pemburu, gemetar dengan cara yang tak pernah kubayangkan
dari sosok Ingrasius yang biasanya tenang dan lembut.
"Maaf karena membentakmu. Tapi, Ingrasius, aku
hanya tidak mau kau mati."
Ucapku dengan kalimat yang terbata-bata.
"Bahkan jika itu adalah keinginanmu, aku tidak
bisa memaafkannya."
Aku tidak mengerti.
Ingrasius adalah hati nurani dari partai kami.
Tidak peduli seberapa larut malamnya, ia tidak pernah
menolak mendengarkan keluh kesah prajurit yang tersesat. Ia adalah seorang
pastor yang mendedikasikan hidupnya untuk ajaran Agama Sarius—menyelamatkan
orang lain tanpa memedulikan diri sendiri.
Bahwa Ingrasius yang seperti itu bisa mencoba
mengakhiri hidupnya sendiri, itu di luar nalar.
Dalam Agama Sarius, bunuh diri adalah dosa besar yang
dilarang. Ingrasius pasti lebih tahu hal itu daripada siapa pun.
Itulah sebabnya aku sama sekali tidak mengerti.
Aku hanya bilang ingin keluar dari militer. Mengapa
Ingrasius sampai merasa begitu terbebani hingga melakukan kegilaan ini? Aku
tidak paham.
Tetap tertunduk, Ingrasius tidak bicara sepatah kata pun.
Di depannya, aku melihat sebuah pisau tergeletak di
lantai, aku segera mengambilnya dan menyimpannya di balik pakaianku. Aku tidak
bisa memercayai Ingrasius yang sekarang.
"Aku dan kau sudah kehilangan banyak rekan
seperjuangan di medan perang."
Bahunya tersentak.
"Hal yang paling tidak boleh kita lakukan sebagai
orang yang selamat adalah mengakhiri hidup kita sendiri. Kita harus terus
menjalani hidup ini demi mereka yang telah gugur di tengah jalan."
Isak tangis Ingrasius terdengar.
Aku memberikan buku sketsa dan menaruh pensil di
tangannya. Tangan Ingrasius gemetar hebat, sampai-sampai ia kesulitan memegang
pensil dengan benar.
"Kenapa kau berpikir untuk mati, bodoh?"
Kata-kata yang tertulis di buku sketsa itu hanya satu.
『Misterareta』 (Dibuang/Ditinggalkan)
Halaman dibalik.
『Misterareta, Misterareta, Misterareta...』
Seperti orang gila, hanya kata itu yang memenuhi
kertas putih tersebut.
Melihat tekanan pensil yang begitu kuat hingga hampir
merobek kertas, aku perlahan mengambil pensil itu darinya. Setelah menghela
napas panjang, aku sadar sepenuhnya.
Aku tidak bisa bicara dengan Ingrasius yang sekarang.
Tepatnya, jika aku tidak mengawasinya dengan ketat,
aku tidak tahu apa yang mungkin ia lakukan.
Ingrasius selalu membantu orang lain, dan aku pun selalu
mengandalkannya. Namun, apa yang terjadi jika di balik senyum lembut itu,
hatinya sedang menjerit kesakitan?
Sebagai atasan, aku tidak bisa menyadari hal itu.
Memikirkannya membuat dadaku terasa sangat dingin.
◆◆◆
"Ayo, kau tidak akan bisa hidup jika tidak
makan."
Aku menyuapkan roti yang telah dilembutkan dengan sup ke
mulut Ingrasius. Baru setelah roti lembek itu menyentuh bibirnya, Ingrasius
membuka mulut.
Sejak hari itu, kehangatan Ingrasius yang menyerupai
musim semi telah sirna.
Senyum lembut yang ramah dan disukai semua orang kini tak
berbekas. Seolah ingin memalingkan wajah dari dunia ini, dia terus meringkuk di
sudut tempat tidur sepanjang hari dengan raut wajah muram.
Tidak peduli berapa kali aku bertanya, satu-satunya yang
ditulis di buku sketsa hanyalah:
『Misterareta』
Seolah dia kehilangan semua kata-kata yang lain. Aku
tidak tahu harus berbuat apa lagi terhadap Ingrasius yang tidak bisa bicara.
Yang membuatku pusing bukan hanya karena dia hanya
menyampaikan satu kata itu.
Ingrasius seolah telah menjatuhkan keinginan untuk
hidupnya di suatu tempat.
Dia tidak makan dan tidak minum; jika aku tidak
menyuapinya paksa, dia tidak akan menyentuh makanan sedikit pun. Bahkan di malam hari, dia tidak tidur. Dia terus terjaga sambil menatap
dinding.
Untuk urusan mandi atau cuci tangan, aku meminta bantuan
Isfana, tapi perawatan lainnya kulakukan sendiri.
Sebagai atasan, sebagai rekan seperjuangan, dan sebagai
seseorang yang mengagumi Ingrasius.
Aku tidak bisa membiarkan Ingrasius seperti ini.
Satu-satunya harapan adalah saat dia menjalankan tugas
militer; sosok Ingrasius yang dulu seolah kembali. Jika kami mengunjungi medan
perang, dia akan membantai peri dengan sihir seperti biasanya.
Namun, kupikir itu pun hanya seperti meniru dirinya yang
dulu.
Tidak ada "jiwa" di sana. Ingrasius yang
sekarang tampak seperti hantu yang gagal mati dan kini hanya menjalankan
kewajibannya saja.
Ini benar-benar situasi yang sulit. Terlebih lagi,
Ingrasius yang sekarang terasa seperti saat pertama kali kami bertemu...
Tiba-tiba, Ingrasius menyambar garpu dengan cepat.
Sebelum sempat berpikir, aku menepis garpu itu.
Lengan Ingrasius yang hendak menusukkan garpu ke dadanya sendiri berayun
lunglai setelah kehilangan senjatanya.
Lagi, dia mencoba mengakhiri hidupnya lagi.
"Hah,
aku benar-benar sudah habis kesabaran."
Napasku memburu.
Memikirkan apa yang akan terjadi jika aku terlambat
sedikit saja membuatku ngeri. Perasaan yang bercampur antara marah dan sedih
berkecamuk di dadaku.
Aku menghela napas panjang melihat Ingrasius yang kembali
meringkuk di tempat tidur dengan tatapan kosong. Ingrasius tetap diam, hanya
menatapku dengan tenang.
Tidak ada cahaya di matanya. Yang muncul dari baliknya
hanyalah bayang-bayang kematian.
Mengapa Ingrasius bisa hancur sampai sejauh ini?
Hanya karena aku bilang ingin berhenti dari militer,
tidak mungkin itu alasan yang sebenarnya. Namun, meskipun aku bertanya,
Ingrasius tetap menutup mulutnya rapat-rapat.
Ingrasius tidak bicara apa-apa, dia hanya mencoba untuk
mati.
Malam itu. Terdengar suara kecil gesekan kain.
Disusul pergerakan Ingrasius yang sangat lambat seperti
siput saat ia bangun.
Aku yang tadi tertidur di meja samping tempat tidur
langsung membuka mata tanpa bergerak sedikit pun. Aku tidak bisa beristirahat
dengan tenang karena takut dia akan mencoba bunuh diri lagi.
Bulan mengintip dari jendela dengan tenang. Cahaya
perak yang lembut menyinari ruangan seolah-olah itu adalah berkat dari surga.
Dan di bawah cahaya itulah, aku melihat sosok
Ingrasius.
Ingrasius sedang menangis diam-diam.
Tanpa mengeluarkan suara, hanya membiarkan air mata
jatuh dari matanya, ia memeluk kitab suci kecil di dadanya seolah-olah itu
adalah satu-satunya pegangan. Ingrasius sedang berdoa.
Bibirnya yang tidak akan pernah mengeluarkan suara
lagi sedang menenun kata-kata bisu. Jarinya dengan lembut menelusuri satu ayat
di kitab suci tersebut.
Tuhan, ampunilah dosaku karena tidak bisa memercayaimu.
Tolong palingkanlah wajah-Mu dari aku yang sedang jatuh
ini.
Itu adalah doa penyesalan yang diucapkan oleh raja besar
di zaman kuno yang akhirnya berpaling dari Tuhan. Sebuah pengakuan atas dosa
yang akan segera dia lakukan.
Bibir Ingrasius terus menggumamkan kata-kata itu.
Ingrasius berlutut di altar di bawah sinar bulan.
Sosoknya benar-benar tampak seperti seseorang yang
berada di hadapan Tuhan, doa seorang pastor.
Sangat agung, dan sangat menyakitkan.
Di tengah kesunyian, terdengar isak tangis yang tak
bersuara.
Sebenarnya apa yang membuat Ingrasius merasa begitu
malu?
Kepada siapa dia memohon pengampunan sedalam ini?
Banyak hal yang tidak kumengerti.
Sepanjang malam, Ingrasius terus berdoa kepada Tuhan.
◆◆◆
Seperti biasa, aku meminta bantuan Isfana untuk membawa
Ingrasius mandi.
Aku ditinggal sendirian. Ruangan yang kini kosong setelah
ditinggalkan orang lain terasa luas dan sunyi, seolah kehilangan jiwanya.
Tempat tidur dengan seprai putih yang menyilaukan, kitab
suci dan buku teologi yang tertata rapi, meja yang terawat. Semuanya
menunjukkan kehidupan Ingrasius yang sederhana dan disiplin, layaknya seorang
pastor sejati.
Di ruangan yang diselimuti debu itu, satu-satunya yang
tampak mencolok adalah altar. Di dalam rak yang dihiasi perak dan emas,
terdapat sebuah cawan kayu yang dipuja.
Tuhan menyelamatkan siapa pun yang membutuhkannya.
Seperti saat seseorang yang haus meminta bantuan, Tuhan
akan mengulurkan air kapan pun. Untuk memuji belas kasih Tuhan itulah, cawan
kayu dipuja dalam Agama Sarius.
Sayangnya, aku bukanlah orang yang religius.
Sebagai orang yang membenci medan perang dan ingin
melarikan diri dari militer, kata-kata Tuhan tidak akan pernah menyentuh
hatiku.
Lagipula, aku tidak suka dengan konsep mengorbankan
nyawa sebagai suatu kebajikan.
Di dunia di mana Agama Sarius begitu kuat, aku sudah
melihat banyak rekan seperjuangan yang kehilangan nyawa demi orang lain. Dan
aku sangat benci cerita-cerita seperti itu.
Tentu saja, aku tidak pernah mengatakan hal itu pada
Ingrasius.
Aku tidak cukup bodoh untuk menertawakan agama orang
lain, dan aku juga tidak berniat mencampuri urusan orang lain hanya karena aku
tidak suka ajarannya.
Saat aku sedang memikirkan hal-hal konyol sambil
menatap altar itulah.
Tiba-tiba, selembar kain putih menarik perhatianku.
Kain putih itu mencuat keluar dari rak di bawah altar.
Itu bukan kebiasaan Ingrasius yang disiplin, jadi aku mengulurkan tangan ke rak
itu dengan niat untuk merapikannya.
Paling-paling ini hanyalah kain untuk berdoa atau
pembungkus kitab suci.
Pemikiranku ternyata salah besar.
Di dalamnya ada kemejaku.
Ada namaku yang dijahit di labelnya agar nama bisa
diketahui meskipun tubuhku dimakan peri. Ini pasti kemeja yang diberikan
militer padaku.
Bukan itu saja.
Di baliknya terdapat sapu tangan lama, bahkan sketsa
diriku yang sedang bermain catur yang mungkin digambarnya secara diam-diam saat
kami berada di ruang santai.
Gambar itu sangat mendetail sampai ke helai rambutku, dan
ada banyak bekas revisi di sana.
Obsesi yang melampaui batas kewajaran terpancar dari
barang-barang tersebut.
"Hei, apa ini..."
Aku kehilangan kata-kata. Aku mundur selangkah atau dua
langkah tanpa sadar.
Rasanya seperti sedang berjalan-jalan di hutan lalu
menemukan upacara pemujaan sekte sesat. Rasa takut yang dingin mengalir di
punggungku, membuat bulu kudukku berdiri.
Apakah ini benar-benar altar milik Ingrasius?
Aku teringat senyum lembut Ingrasius yang selalu
mendengarkan keluh kesah orang lain dengan ajaran Agama Sarius-nya. Aku
memeriksa bagian dalam rak itu dengan teliti, memastikan apakah aku sedang
bermimpi.
Namun, kenyataan hanya menertawakanku dengan dingin.
Dulu aku pernah mendengar tentang penggemar stalker
yang begitu mendambakan idolanya sampai-sampai mengumpulkan sampah, kuku, dan
rambut mereka untuk dipuja.
Saat itu aku hanya tertawa, menganggap itu adalah hal
yang tidak akan pernah berhubungan denganku seumur hidup.
"Tidak kusangka, hari di mana aku mengalami hal
seperti ini benar-benar datang."
Aku menghela napas.
Sambil mengeluarkan tawa kering, aku memegang
kepalaku. Apakah aku harus pura-pura tidak tahu, atau membakar isi rak ini dan
menganggapnya tidak pernah ada?
Tiba-tiba, terdengar suara pintu terbuka.
Begitu aku menoleh, yang kulihat adalah Ingrasius
dengan wajah yang pucat pasi.
"A-ah, maaf... aku tidak bermaksud melihat isi
rakmu tanpa izin, maafkan aku."
Bibir Ingrasius gemetar hebat.
Saat aku mundur dengan panik dan mencoba merangkai
kata-kata, Ingrasius berjalan terhuyung-huyung mendekatiku, lalu ambruk begitu
saja.
Seolah-olah istana pasir yang tersapu ombak.
Ingrasius menatapku dengan mata yang ketakutan, lalu
bersimpuh di kakiku tanpa suara. Wajahnya berantakan dengan ingus, tampak
seperti gelas kaca yang pecah dan menyebarkan kelereng di dalamnya.
Meski bingung, aku berjongkok untuk mencoba menatap
matanya.
"Hei, ada apa sebenarnya?"
Mendengar pertanyaanku, bahu Ingrasius tersentak.
Sesaat kemudian, dia bersujud hingga dahinya menyentuh
lantai. Bibirnya mengucapkan ayat kitab suci tadi malam, kata-kata yang
terdengar seperti mantra.
Aku tidak tahu apa yang dia ucapkan di dalam hatinya.
Kalau begini terus, tidak akan ada pembicaraan.
Aku mengambil buku sketsa di atas meja dan mencoba
memberikannya pada Ingrasius. Namun, Ingrasius tidak mengangkat wajahnya
sedikit pun dari lantai batu yang dingin.
Dengan tekad bulat, aku memaksanya duduk dengan memegang
bahunya.
"Tolong, katakan apa yang harus kulakukan. Beritahu aku."
Aku bertanya sambil memegang bahunya.
Sambil meneteskan air mata besar dari mata yang merah
seperti rubi itu, Ingrasius akhirnya memegang pensil.
Akhirnya. Setelah belasan hari, aku akhirnya bisa
bicara dengan Ingrasius.
Tangan Ingrasius gemetar, dan tulisannya lambat serta
tidak jelas. Namun, aku senang, kupikir kami akhirnya bisa mulai melangkah.
Yang tertulis di buku sketsa itu adalah kalimat
pendek.
『Ampuni aku. Berikan hukuman pada pendosa ini..』
Tulisannya sangat gemetar. Kata-kata yang memohon
penghakiman dari seseorang itu penuh dengan kepedihan yang menyayat hati.
Ampunan, pendosa—apa maksudnya semua ini?
Aku yang tidak terlalu paham Agama Sarius hanya pernah
mendengar khotbah secara sekilas. Namun, aku tahu Ingrasius sedang menderita
karena sesuatu dan mencari penyelamatan.
Melihat kebingunganku, mata Ingrasius meredup dalam
keputusasaan.
『Yurushite kudasaranai no desuka, basshite kudasaranai no
desuka?』
(Apakah kau tidak akan memaafkanku? Apakah kau tidak akan menghukumku?)
Dia tampak seperti pendosa yang memohon hukuman mati.
Ingrasius mencengkeram rambutnya dan membuka mulut seolah
berteriak. Air mata terus mengalir dari matanya.
Hyuu, hyuu, terdengar suara angin dari
tenggorokannya.
Sepertinya dia sedang menderita rasa sakit yang luar
biasa, seolah dadanya sedang terkoyak. Melihat Ingrasius seperti itu, aku takut
dia akan mati saat itu juga.
『Misterareta, Misterareta, Misterareta』
Hanya itu yang terus ditulisnya.
Tidak peduli berapa kali aku bertanya, hanya kata itu
yang tertulis.
Aku takut melihat Ingrasius seperti itu, dan aku hampir
saja menangis. Aku sudah melihat banyak prajurit yang menjadi
seperti ini di medan perang. Aku tahu bagaimana akhirnya.
Hati manusia jauh lebih rapuh daripada yang kita
bayangkan.
Selama ini, aku telah melewati banyak suka dan duka
bersama Ingrasius.
Dia bukan hanya rekan petarung yang bisa kuandalkan,
tapi juga teman tak tergantikan yang telah berbagi momen-momen kecil dalam
kehidupan sehari-hari.
Kami tertawa bersama, berduka bersama, dan melewati
perang yang seperti neraka.
Karena itulah, aku ingin dia hidup.
"Baiklah, lakukanlah apa pun yang Ingrasius
inginkan."
Tanpa sadar, kata-kata itu keluar dari mulutku.
Ingrasius perlahan mengangkat wajahnya dan menatapku
dengan mata yang gelap. Aku merasa lega dari lubuk hatiku karena akhirnya
berhasil menarik perhatian Ingrasius.
Lidahku terus bergerak tanpa henti.
"Lakukan sesukamu, hukum dirimu atas dosa-dosamu
itu. Aku tidak akan menolak apa pun yang kau minta. Jadi, berhentilah mencoba
melukai dirimu sendiri."
Mata Ingrasius sedikit bergetar.
Melihat Ingrasius mengangguk pelan, aku menghela napas
lega.
Ini sudah benar, Ingrasius yang lembut dan tenang seperti
dulu pasti akan kembali, seharusnya memang begitu.
Ya, aku meyakini hal itu.
Namun.
"Hah, apa yang..."
Pemikiran itu terlalu bodoh dan naif.
Basari, pakaian itu jatuh ke lantai. Suara
basah bergema.
Ingrasius melepaskan jubah pastornya dengan tenang, lalu
tangannya bergerak ke arah kemeja di baliknya.
Dengan wajah yang sedih namun entah mengapa tampak
tenang, dia melepas kancingnya satu per satu.
Seolah-olah dia akhirnya mendapatkan keselamatan yang dia
cari, dia bahkan tampak bahagia.
Aku menyadari cara apa yang ditempuh Ingrasius. Bagaimana
dia mencoba mendapatkan ampunan atas "dosa-dosanya".
Aku mengulurkan tangan, panik mencoba menghentikannya.
"Ah..."
Namun, saat melihat mata Ingrasius kembali tenggelam
dalam keputusasaan.
Lenganku, yang tadinya berniat mencengkeram tangannya
yang sedang membuka kancing, membeku. Sambil mengertakkan gigi, aku perlahan
menurunkan tanganku.
Di kaki Ingrasius, yang tersenyum dengan kegembiraan yang
suram, pakaian lain kembali jatuh.
Dari balik kemeja yang jatuh, bahu dan dadanya terbuka.
Ingrasius tampak seperti patung kaca.
Pekerjaan kaca yang rapuh, berbahaya, dan menyedihkan
yang akan hancur berkeping-keping hanya dengan sentuhan jari.
Jika aku melawannya, dia akan hancur sampai tidak bisa
diperbaiki lagi.
Kulitnya yang seputih porselen terbuka. Tubuhnya yang
kurus kering tanpa lemak sedikit pun—tubuh yang tampak sangat menyedihkan—kini
terpampang jelas.
Segera setelah hanya mengenakan pakaian dalam,
Ingrasius meraih tanganku.
Tidak ada cinta atau nafsu di sana. Hanya ada sosok
pastor kurus yang mabuk dalam keputusasaan dan kegembiraan yang suram, yang
kini bergantung padaku.
Aku menahan diri agar tidak mundur secara refleks.
Namun, aku juga tidak tahu harus berbuat apa.
Ini salah, tapi jika aku menolaknya, dia akan hancur.
Aku tidak diizinkan untuk melarikan diri.
Aku tidak tahu kata-kata apa yang harus kuucapkan agar
tidak melukai Ingrasius, aku benar-benar tidak tahu.
Tanpa
sadar, aku sudah terbaring di atas tempat tidur.
Ingrasius yang berada di atasku menatap wajahku yang
kacau dengan senyum yang menyiratkan kesedihan.
Butiran air mata mengalir di pipinya, membasahi
bibirku.
Tangannya yang gemetar mulai bergerak turun.
Jika aku membiarkannya sekarang, segalanya akan
berubah secara permanen dan tak terelakkan.
Kita tidak akan pernah bisa kembali menjadi diri kita
yang dulu.
Ini bukanlah sebuah penyelamatan.
Ini hanyalah pelarian.
Sebuah jalan menuju kehancuran yang lambat, tenggelam
dalam keputusasaan yang manis dan bersembunyi dalam kegelapan yang hangat.
Namun, apa yang harus kulakukan?
Bagaimana cara berbicara kepadanya agar aku bisa
meyakinkannya tanpa menghancurkan hatinya?
Aku bahkan tidak tahu lagi apa yang benar di dunia
ini.
"Ugh...!"
Saat jari Ingrasius menyentuh kemejaku, tanganku
bergerak tanpa sadar.
Aku menepis tangannya—gerakan itu terasa begitu lambat di
mataku. Di balik itu, aku melihat senyum Ingrasius hancur berkeping-keping.
"Ah."
Sejenak, rasanya aku mendengar suara dunia ini retak
menjadi serpihan.
Ingrasius, dengan wajah yang tampak ingin menangis,
menatapku sekilas sebelum perlahan bangkit. Ia pun pergi begitu saja ke dalam
kegelapan malam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Ugh... dasar bodoh."
Aku menghantam wajahku sendiri dengan kepalan tanganku.
Suara kering, rasa sakit yang tumpul, dan darah yang
terasa di lidahku. Namun, menurutku itu pun masih terlalu ringan.
Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri yang dengan
enteng mengucapkan "lakukan sesukamu" saat itu.
Kata-kata itulah yang telah memojokkan Ingrasius.
Aku teringat saat pertama kali mengetahui latar belakang
Ingrasius.
Tragedi yang
dipenuhi kekejaman dan kegilaan yang tak terbayangkan dilakukan oleh tangan
manusia. Itulah awal mula Ingrasius.
Aku pernah berharap.
Semoga suatu hari nanti, dia bisa meraih
kebahagiaan—menikmati kehidupan sederhana sambil tertawa.
Karena itulah, aku memanjakannya. Aku terus mengajaknya
bicara, menariknya ke dalam permainan, dan memperhatikannya. Ketika Ingrasius
perlahan mulai bisa tertawa, aku meyakinkan diriku sendiri bahwa segalanya
sudah membaik.
Tapi, aku salah.
Ingrasius masih terperangkap di neraka itu. Tidak peduli
berapa banyak waktu yang berlalu, luka di bawah kulitnya masih terus meradang
dan terasa nyeri.
Jika dipikirkan kembali, Ingrasius selalu menyakiti
dirinya sendiri.
Di medan perang, dia selalu ingin berada di barisan
terdepan, dan dia tidak ragu untuk melukai diri sendiri demi menolong orang
lain.
Meski tangannya patah atau menderita karena penyakit, dia
tetap bersikeras menyelamatkan orang lain.
Kebaikan hatinya itu adalah beban dari dosanya.
Aku tahu itu. Aku hanya membungkusnya dengan kata
"kebaikan" untuk menipu diriku sendiri dan memalingkan muka. Aku
hanya menutup telinga dari jeritan Ingrasius yang sebenarnya sudah hancur sejak
lama.
Karena itulah.
Jika saat ini aku benar-benar ingin menyelamatkan
Ingrasius dari lubuk hatiku, aku harus berani melangkah masuk ke dalam masa
lalunya.
Aku tidak bisa melarikan diri lagi. Tidak ada lagi
jalan untuk mundur.
◆◆ Selingan: Monolog Seorang Pastor ◆◆
Ingrasius tidak tahu siapa orang tuanya.
Saat lahir, Ingrasius sudah berada di biara gereja.
Apakah orang tuanya tewas dibunuh peri, atau mereka menjualnya demi uang
receh—hanya kepala biara yang mungkin mengetahuinya. Bagaimanapun juga,
Ingrasius adalah "anak biara".
Ingrasius tidak mengenal dunia di luar biara. Pintu-pintunya
tertutup rapat dan dingin, dan sama seperti anak-anak biara lainnya, bahkan
sekadar berjalan-jalan pun tidak diizinkan. Satu-satunya hal yang diajarkan
kepadanya adalah ajaran Agama Sarius.
Cintailah sesama, jangan memikirkan diri sendiri, dan
selamatkanlah mereka yang kesulitan.
Di biara itu, kalimat tersebut terdengar seperti
mantra. Saat makan, beribadah, tidur, setiap saat anak-anak biara merapalkan
ajaran tersebut. Para pastor berkata bahwa mereka harus menjaga ajaran itu
bahkan jika harus mempertaruhkan nyawa.
Saat Ingrasius berusia tiga tahun, latihan untuk menjadi
penganut yang taat dimulai.
"Anak kesayangan Tuhan" adalah seseorang yang
tidak keberatan terluka demi orang lain sesuai ajaran-Nya. Agar bisa menjadi
sosok tersebut suatu hari nanti, anak-anak itu harus menghilangkan rasa takut
akan kematian.
Jadi, kuku mereka dicabut.
Mereka tidak boleh memedulikan rasa sakit. Jika tidak,
mereka tidak akan bisa menyelamatkan orang lain.
Jika menangis, mereka akan dibentak. Bahkan saat
merasakan sakit yang luar biasa karena daging hidup mereka dikoyak, mereka
dituntut untuk terus merapalkan ayat-ayat kitab suci.
Cintailah sesama, jangan memikirkan diri sendiri, dan
selamatkanlah mereka yang kesulitan.
Rasa sakit diri sendiri tidak ada artinya dibandingkan
penderitaan dunia. Saat ini pun, di suatu tempat di dunia ini, orang-orang
sedang dibunuh oleh peri. Jika kau benar-benar percaya pada ajaran Agama
Sarius, tidak diizinkan bagimu untuk bersedih hanya karena hal sepele seperti
ini.
Tidak peduli seberapa disiksa pun, kau tidak boleh
bersedih.
Tulang dipatahkan, kulit disayat pisau, dipaksa minum air
hingga lambung terasa mau pecah—namun Ingrasius dan yang lainnya tetap
tersenyum.
Mereka tersenyum, lalu merapalkan kitab suci.
Cintailah sesama, jangan memikirkan diri sendiri, dan
selamatkanlah mereka yang kesulitan.
Seratus anak yang awalnya ada, kini tinggal lima puluh.
Anak-anak yang tersisa pun penuh dengan luka, dan Ingrasius kehilangan suaranya
karena tenggorokannya dihancurkan.
Para pastor mengangguk puas. Mereka memuji anak-anak yang
telah kehilangan hati nurani untuk memedulikan diri sendiri itu sebagai
"anugerah Tuhan".
Selanjutnya, anak-anak itu harus memiliki teknik untuk
menyelamatkan orang yang kesulitan. Karena tidak peduli seberapa tidak
memedulikan diri sendiri pun, anak kecil saja tidak akan bisa menyelamatkan
siapa pun.
Anak-anak itu diajarkan bela diri yang konon diwariskan
oleh para penginjil Agama Sarius untuk melindungi pengikutnya. Agar dengan
tangan kosong saja, mereka bisa mengoyak batang pohon sekalipun.
Namun, itu saja belum cukup.
Para pastor berpikir mereka membutuhkan hati yang
sedingin baja. Saat harus menyelamatkan orang, terkadang keputusan yang
menyakitkan harus diambil. Pada saat itu, tangan mereka tidak boleh ragu.
Dimulai dari anjing yang mereka pelihara.
Anjing yang tumbuh bersama anak-anak itu, anjing yang
selama ini diajak bermain dengan tawa, dipaksa untuk dibunuh. Mereka
diperintahkan untuk merobek telinga, mencabut kaki, dan menghancurkan kepala
anjing yang menjerit kesakitan itu.
Di sini pun, anak yang menangis akan dicungkil
matanya. Digantung di tiang.
Anak-anak harus selalu patuh pada ajaran Agama Sarius
dengan khidmat. Mereka harus tersenyum dan merapalkan ajaran kitab suci.
Cintailah sesama, jangan memikirkan diri sendiri, dan
selamatkanlah mereka yang kesulitan.
Akhirnya, anak-anak itu akan menjadi abdi Tuhan yang luar
biasa. Para pastor dengan penuh semangat memulai ujian terakhir.
Mereka dipaksa untuk saling membunuh.
Jika mereka benar-benar percaya pada ajaran Tuhan dan
rela menyelamatkan orang lain, maka seandainya itu adalah teman yang tumbuh
bersama, menangis, dan tertawa bersama pun, mereka harus mampu membunuhnya demi
tujuan penyelamatan.
Jika bisa melakukan itu, maka anak itu benar-benar
menguasai jalan Tuhan.
Biara itu tenggelam dalam darah merah. Kepala anak-anak
berserakan di mana-mana. Kebetulan, para pastor yang ikut terjun ke dalam
pertempuran saling bunuh itu pun tewas sambil tertawa.
Dari lima puluh anak, hanya tersisa satu orang:
Ingrasius.
Kepala biara menangis bahagia. Bahwa anak yang awalnya
begitu lugu bisa tumbuh menjadi penganut yang luar biasa, tidak ada kebahagiaan
yang lebih besar bagi orang tua asuh seperti dirinya.
"Sekarang, bantai habis peri-peri itu."
Kepala biara dengan senang hati menyodorkan lehernya
sendiri sambil memberikan kutukan. Ia memerintahkan Ingrasius untuk terjun
sendirian ke dalam kawanan peri, mengamuk, membantai habis, lalu mati di akhir.
Menyelamatkan umat manusia yang hampir musnah di tangan
peri.
Itulah keinginan kepala biara, sekaligus sumpah gelap
yang berat dan tidak akan pernah terhapuskan yang dibebankan pada Ingrasius
seumur hidupnya.
Setelah itu, tidak ada yang tahu bagaimana perjalanan
Ingrasius hingga sampai ke medan perang. Namun, di tengah pertempuran melawan
peri, Ingrasius muncul.
Di bawah gempuran sihir yang hebat, militer membutuhkan
pemburu yang menguasai sihir.
Namun, para prajurit takut pada Ingrasius, yang
berlumuran darah busuk peri, diam membisu, dan hanya terus bertempur dengan
sungguh-sungguh.
Tidak ada yang tahu apa yang dia pikirkan.
Dari matanya, segala emosi telah hilang.
Sosoknya yang tidak memedulikan nyawanya sendiri dan
selalu menantang pertempuran ceroboh itu tampak seperti orang gila yang ingin
mati. Dan para tentara membencinya karena itu.
"Bagaimana mungkin kita bisa percaya pada orang gila
seperti itu? Itu sama saja dengan memelihara binatang buas yang tidak tahu
kapan akan mengamuk. Lebih baik segera usir dia dari militer demi kebaikan
bersama."
Seseorang muncul dengan pemikiran seperti itu.
Mungkin karena itulah, Agrastein memberikan batasan pada
Ingrasius.
"Silakan terus bertarung sesukamu mulai
sekarang. Tapi, militer punya disiplin. Aku akan menugaskan Mikkanen sebagai
atasanmu, jadi jangan pernah membangkang perintahnya."
Bagi Ingrasius, itu justru hal yang diinginkan.
Mikkanen adalah elit yang mengambil tugas militer
tersulit di antara banyak pemburu. Dia percaya bahwa di sana, dia bisa memenuhi
kutukannya sendiri.
Namun, ternyata salah.
"Hm, terserah kau kalau ingin mati, tapi di partai
ini hal semacam itu tidak dibutuhkan. Aku katakan padamu, kau tidak akan
kehilangan nyawamu."
Perintah Isfana menggetarkan bumi, senjata Alhazen
mengubah medan perang menjadi lautan api, dan kelopak bunga Morgraid membuat
para peri layu. Ajaran Tuhan yang dipelajari Ingrasius tidak berguna di sini.
Partai Mikkanen berada di level yang berbeda.
Bahkan peri bencana pun bisa mereka bantai dengan mudah.
Tidak ada celah bagi Ingrasius untuk kehilangan nyawanya.
Dan yang terpenting, ada Mikkanen.
Mikkanen tidak pernah mengizinkan Ingrasius mati.
Seberapa parah pun lukanya, dia akan menyeret Ingrasius pulang dalam keadaan
hidup.
Dan bagi Ingrasius, Mikkanen itu menyebalkan.
"Ada apa? Kau tidak makan dengan benar, ya? Nanti
aku dimarahi Agrastein, setidaknya makanlah roti ini."
"Begitu,
ya? Jadi kau belum pernah main catur? Kalau begitu mau kuajari? Kau suka
menolong orang, kan? Bagaimana kalau menolongku dari kebosanan?"
Hampir tidak ada waktu baginya untuk sendirian.
Mikkanen selalu mengajaknya bicara, mengajari
Ingrasius—yang tadinya tidak mau—tentang indahnya hidup di dunia ini.
Itu adalah kemanisan terlarang yang tidak pernah dia
kenal di biara.
Itu adalah dosa besar.
Cintailah sesama, jangan memikirkan diri sendiri, dan
selamatkanlah mereka yang kesulitan. Seseorang yang menyerahkan dirinya
pada Tuhan tidak boleh bermain, bersenang-senang, atau merasa bahagia.
Dia harus selalu memikirkan tentang menyelamatkan orang
lain, seharusnya begitu.
『Kenapa kau selalu mengajakku bicara...』
"Aku tidak suka raut wajahmu itu, itu saja. Meskipun
mulutmu tersenyum, hatimu sudah mati, kan?"
Meskipun dia mengeluh, meskipun dia menunjukkan
kemarahannya, Mikkanen tetap mengajak Ingrasius bicara.
Itu tampak seperti iblis yang menggoda seseorang untuk
murtad, sangat menakutkan.
Namun, dia sadar bahwa hatinya yang seharusnya sudah
diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan kini mulai goyah.
Hati yang selama dia hidup selalu dipaksa untuk membunuh
itu kini menjerit bahwa ia ingin berbicara lebih banyak dengan Mikkanen.
Perasaan yang seharusnya sudah lama mati itu kini bangkit kembali.
"Akhirnya kau tertawa, bukankah itu jauh lebih
baik?"
Itu terjadi saat Ingrasius pertama kali diberi cokelat.
Mikkanen mengelus kepala Ingrasius sambil tersenyum
lembut. Ingrasius, yang sudut bibirnya terangkat karena rasa manis yang baru
pertama kali dirasakannya seumur hidup, hampir menangis.
Kehangatan itu terasa seolah bisa melumerkan hatinya.
Hal seperti ini tidak diizinkan. Ini berarti mengkhianati
ajaran Tuhan.
Jika begini terus, dia akan jatuh ke jalan yang salah.
Keinginan untuk terus hidup, keinginan untuk bahagia—diri yang mulai merasakan
hal itu bukan lagi penganut Agama Sarius yang benar.
◆◆ Selingan: Monolog Seorang Pastor
Selesai ◆◆
Aku
terbangun dari lubang pohon dengan lunglai.
Tubuhku yang hancur dan penuh luka ini sedang
beristirahat saat aku terbuai dalam mimpi.
Mimpi lama yang sangat kurindukan. Di sana, aku sedang berbicara dengan Mikkanen, dan aku tertawa.
Lagipula, kebahagiaan itu terlalu berlebihan bagi
seorang murtad sepertiku.
Sudah sebulan sejak aku melarikan diri dari
Reruntuhan Kastil Ogdanel.
Aku terus mengembara jauh ke dalam hutan peri,
memakan rerumputan, menggigit serangga, jarang mendapatkan makanan layak, dan
bahkan tidak sempat menghitung berapa kali aku terlelap.
Demi memohon ampun, aku terus-menerus membunuh peri.
Aku adalah seorang pendosa.
Aku telah berpaling dari ajaran Tuhan yang kupelajari di
biara dan malah membiarkan diriku terus hidup.
Bahkan, aku telah mencari penyelamatan pada Mikkanen. Namun, aku tidak bisa lagi melarikan diri dari dosaku.
Aku akan memenuhi berkat yang pernah diucapkan kepala
biara. Membunuh peri, kehabisan tenaga, lalu dibunuh dan dimakan
oleh peri.
Hanya itu satu-satunya penebusan dosa bagiku.
Meski begitu, setiap kali berdoa, aku malah memikirkan
senyum Mikkanen.
Seharusnya aku memikirkan Tuhan, tapi entah mengapa,
sosok Mikkanen justru memenuhi pikiranku.
Tolong, maafkanlah aku, si murtad ini.
Maafkanlah aku yang penuh dosa ini karena telah
berpaling dari ajaran dan jatuh cinta pada orang baik seperti Mikkanen.
Aku merasa malu dan menyedihkan karena di saat-saat
tertentu, aku merindukan kehidupan lamaku bersama Mikkanen dan yang lainnya.
Ingrasius mengutuk dirinya sendiri dari lubuk hati yang paling dalam karena
telah jatuh ke dalam kegelapan.
Terdengar langkah kaki.
Sebelum sempat berpikir, Ingrasius segera bersembunyi di
balik bayangan pohon. Pelatihan sekeras baja yang telah mendarah daging—yang
tidak tumpul meski telah bertempur selama sebulan penuh—menenangkan napas
Ingrasius.
Itu adalah peri yang sangat besar. Dilihat
dari kekuatannya, ia setara atau bahkan melampaui tingkat Bencana.
Sudah pasti, ia adalah salah satu dari segelintir peri
yang memiliki kekuatan luar biasa yang pernah kutemui dalam beberapa tahun
terakhir. Atau mungkin, peri dari zaman dahulu kala yang seharusnya sudah
dimusnahkan oleh Mikkanen dan timnya, ternyata masih bertahan hidup?
Aku melirik tanganku sendiri secara diam-diam.
Aku tidak memedulikan kulit yang mengelupas hingga
daging merah terlihat; kepalan tangan yang terus kupakai untuk memukul peri
sampai mati itu sudah hancur lebur. Tangan itu berlumuran darah, dan tidak ada
lagi bagian kulit putih yang terlihat.
Meski Ingrasius menguasai bela diri yang hebat,
dengan tangan yang luka dan remuk seperti ini, keberhasilanku untuk menang
sangat diragukan.
Jika biasanya.
Di sisiku, ada Mikkanen. Ada Isfana, Alhazen, dan
Morgraid. Ada rekan seperjuangan yang bisa kuandalkan, yang membuatku bisa
melompat maju tanpa perlu memedulikan punggungku sendiri.
Namun, sekarang di sini, hanya ada Ingrasius seorang
diri.
Tidak akan ada bantuan yang datang, dan luka-lukaku
mungkin tidak akan pernah sembuh. Tapi, Ingrasius merasa hatinya entah
bagaimana menjadi lapang.
Jika di akhir kehidupan yang penuh dosa ini aku bisa
membunuh peri sebesar ini, bukankah itu sudah cukup?
Aku mengembuskan napas, menenangkan hatiku. Mengikuti
teknik bela diri yang kupelajari di biara, Ingrasius melompat keluar dari balik
pohon tanpa suara.
Tiga langkah lagi. Peri itu belum menyadariku.
Dua langkah lagi. Daging yang buruk rupa itu akhirnya
menangkap sosok Ingrasius.
Satu langkah lagi. Kepalan tangan sekeras baja milik
Ingrasius berniat merobek jantungnya.
"Eh, Ingrasius. Kenapa kau masih hidup?"
Kepalan tangan Ingrasius ditepis.
Ingrasius tidak memercayai matanya.
Itu adalah teknik bela diri biara, teknik kuno yang
seharusnya hanya diketahui olehku seorang. Namun,
peri ini bisa menangkis kepalan tanganku dengan teknik tersebut.
Ini bukan sekadar meniru.
Ada bobot dalam teknik peri itu—teknik yang
mencerminkan latihan keras, pengabdian, dan hati yang telah hancur saat
mempelajarinya. Ingrasius melompat mundur, lalu mencoba melempar batu yang
kugenggam untuk menguji lawannya.
Batu itu terbang lebih cepat dari peluru, namun peri
itu menghancurkannya dengan sangat mudah.
"Apa-apaan itu? Berniat melucu? Ada apa denganmu,
karya agung biara sedang apa di sini?"
Itu mustahil.
Prinsip bela diri yang bersemayam di lengan peri itu
benar-benar milik biara, dan peri ini menguasainya. Sesuatu melintas di kepala
Ingrasius: peri yang pernah diceritakan Mikkanen.
Peri Bencana yang bisa membaca ingatan manusia dan
berubah wujud menjadi pemburu.
Namun, kudengar peri itu sudah dimusnahkan oleh tangan
Mikkanen dan yang lainnya. Jika benar, ia seharusnya tidak mungkin hidup, dan
ada satu pertanyaan besar bagi Ingrasius.
Teknik yang digunakan peri itu. Gerakannya bukan milikku.
Aku lebih suka teknik yang menghancurkan musuh dengan
kekuatan, tapi teknik peri ini berbeda.
Ia mengalirkan energi lawan dan menang dengan sedikit
kekuatan. Itu adalah jenis teknik yang paling tidak kusukai.
Jika peri ini membaca ingatan Ingrasius, ia
seharusnya tidak bisa melakukan trik seperti itu. Tidak mungkin peri ini bisa
menguasai prinsip bela diri yang bahkan tidak kupahami.
Namun, bukan berarti aku tidak mengenali teknik itu.
Kehidupan neraka di biara; kenangan itu mengamuk di
balik pintu yang terkunci rapat. Ingrasius sudah terlalu sering melihat bela
diri peri itu.
Karena itu adalah teknik kepalan tangan sahabat
karibku di masa lalu.
"Kenapa diam saja? Bukankah kau yang merobek
jantungku? Kenapa kau masih hidup sampai sekarang?"
Dagingnya bergejolak dengan menjijikkan.
Gumpalan lemak yang membengkak dan buruk rupa itu dipaksa
masuk ke dalam wujud manusia, seolah sedang menguleni tanah liat.
Dengan satu mata yang masih terbungkus daging berdenyut
merah, peri itu memiringkan kepalanya.
"Ke mana perginya ajaran Tuhan?"
Ingrasius kehilangan kata-kata.
Sahabat karibnya yang dulu—sahabat yang dulu selalu
mendengarkan cerita anak-anak yang menangis di biara yang suram itu—kini sedang
menatapnya sambil memiringkan kepala. Sahabat yang paling kusayangi di atas
segalanya.
"Jangan bilang, kau tidak bisa mengingatku?"
Itu tidak mungkin.
Tangan Ingrasius tahu; tahu rasa sakit saat menembus dada
orang yang kukasihi sebagai sahabat dan tertawa bersama. Ingrasius tidak akan
pernah melupakan sosok sahabat yang paling memercayai ajaran Tuhan itu.
Kenapa? Pertanyaan itu berputar-putar di
kepalaku.
Sahabatku itu seharusnya sudah kubunuh dengan tangan ini
di hari itu di biara. Seharusnya aku sudah menyelinap dari belakang saat ia
dikeroyok oleh lima orang dan menghancurkan jantungnya dalam satu serangan.
Tapi, kenapa.
"Waktu itu merepotkan sekali, kenapa kau pergi tanpa
memastikan nyawaku melayang? Waktu itu aku sudah menguasai sihir, lho. Kau
terlalu ceroboh."
Aku tidak bisa memberinya serangan terakhir.
Meski sahabatku sudah menguasai sihir, kupikir
mustahil ia bisa bertahan hidup dengan luka separah itu.
Aku meyakinkan diriku sendiri, dan Ingrasius tidak
pernah memenggal kepalanya.
Ingrasius merasa takut akan hal yang tidak penting
jika dilihat dari sudut pandang ajaran Tuhan—bahwa aku telah membunuh sahabatku
sendiri dari belakang. Tanganku gemetar hebat dan tidak mau menuruti
perintahku.
Aku tidak menyangka dia masih hidup.
"Setelah kau pergi, aku menghabiskan tiga hari
tiga malam untuk menyembuhkan lukaku. Dan begitulah, aku berhasil bertahan
hidup."
Sahabatku berkata demikian dengan nada bosan.
Namun, tidak peduli seberapa hebat sihir penyembuhan
yang ia miliki, bertahan hidup dengan luka separah itu bukanlah masalah
keberuntungan lagi. Mungkin, ia membutuhkan jiwa sekeras baja agar tidak gila
karena rasa sakit yang luar biasa.
Tapi, itu saja tidak menjelaskan kenapa sahabatku
sekarang ada di sini.
Jika kata-katanya bukan bohong, jika ia berhasil bertahan
hidup dari luka sedahsyat itu, lalu bagaimana caranya? Pertanyaan memenuhi
kepala Ingrasius.
Kenapa mantan sahabat karibku mengambil wujud peri dan
berada di hutan ini?
Kenapa, kenapa, Ingrasius tidak bisa memercayainya. Peri
yang mengambil wujud sahabatnya itu memiringkan kepala dengan wajah polos.
"Kita tidak berbeda, kan? Jika kita berhasil selamat
dari biara itu, bukankah hanya ada satu hal yang harus dilakukan?"
Ah.
Dengan satu kalimat itu, Ingrasius mengerti segalanya.
Sahabatku itu berbeda denganku. Berbeda dengan Ingrasius
yang mencoba melarikan diri dari dosanya dengan bersandar pada kebaikan
Mikkanen, sahabatku itu mengikuti keinginan kepala biara sampai akhir hayatnya.
Hatinya dihancurkan olehku, ia menderita rasa sakit luar
biasa namun tetap menyembuhkan luka itu, lalu sendirian menantang kawanan peri.
Ia bertempur lebih sengit dariku saat ini, berlari lebih
dalam, lalu kehabisan napas di hutan peri ini. Seperti yang diajarkan di biara,
ia mendarma baktikan hidupnya untuk ajaran Tuhan.
Sahabatku itu berbeda denganku.
Sekarang, yang berbicara pada Ingrasius adalah bayangan
dari masa lalu itu. Peri ini bertarung melawan sahabatku yang terus memegang
teguh ajaran Tuhan, melihat teknik bela dirinya, dan merampas prinsipnya.
"Lalu, apa yang kau lakukan? Jangan bilang kau tersesat sampai terlambat sampai di hutan ini? Kau
memang lamban sejak di biara, dasar merepotkan."
Sahabatku memasang wajah kesal.
Namun, dari nada bicaranya, keakraban pada Ingrasius
terasa sangat kental. Seolah-olah saat kami dulu tertawa dan berbicara di kapel
biara.
Memang, sosok yang menyerupai sahabatku ini pasti adalah
peri yang menyamar.
Namun, jika ia bisa meniru teknik, ingatan, dan bahkan
hatinya sampai sedetail ini, maka ia bukan lagi sekadar bayangan. Ia adalah
bayangan dari dosa yang dulu ingin kuhindari.
"Bagaimanapun, mari kita lanjutkan hari itu. Kau
pasti tidak sadar kalau aku masih bernapas, kan? Pasti mengganjal di hatimu.
Jadi, mari kita akhiri, ya?"
Peri yang menyamar sebagai sahabat itu mengayunkan
tinjunya dengan ringan. Angin yang berhembus menyayat pipi Ingrasius, membuat
darah menetes.
"Saatnya janji biara terpenuhi."
Sosok yang menyerupai sahabat itu tersenyum manis.
Saat Ingrasius mengayunkan tinjunya, tanah hancur
berkeping-keping.
Pohon-pohon hutan yang besar seperti raksasa tumbang dari
akarnya dan terbang. Seolah gempa bumi terjadi, batu-batu di mana-mana runtuh.
Seolah menembus badai itu, sahabatnya berlari.
"Hebat, kau benar-benar meningkatkan kemampuanmu
sejak hari itu. Seperti dugaan, kau adalah penyintas biara yang dicintai Tuhan,
abdi Tuhan yang cantik!"
Sahabatnya tertawa dengan tulus dan gembira.
Sahabat yang paling taat pada ajaran Tuhan yang
kukenal itu bahkan tidak mengernyitkan dahi sedikit pun saat diperintahkan
untuk membunuh temannya sendiri hari itu.
Ia memenggal leher teman yang baru saja bermain
dengannya, menggenggam jantungnya, namun ia tersenyum lebar tanpa rasa sedih.
Sahabatku adalah siswa teladan yang memercayai Tuhan
melebihi siapa pun.
Jadi, selama ia mengerti di dalam hatinya bahwa itu
adalah ajaran Tuhan, ia tidak peduli meskipun harus membunuh orang. Ia mungkin
berpikir itu hanyalah bagian dari latihan bersama teman yang berjuang untuk
menjadi pengikut Tuhan.
Namun, sahabatku itu tidak dibenci. Sahabat yang
menjaga ajaran Tuhan lebih dari siapa pun itu adalah sosok seperti kakak
perempuan yang diandalkan semua orang setelah latihan selesai. Semua orang
menyukai kebaikannya.
Ah, pikir Ingrasius.
Betapa benarnya ia, betapa religiusnya ia.
Sebaliknya, bagaimana denganku? Bagaimana dengan
diriku yang selalu gemetar ketakutan di balik altar karena takut kehilangan
nyawa?
Pada akhirnya, aku membunuh sahabatku dengan serangan
licik, membantai seluruh biara, lalu hidup dengan belas kasih orang lain. Aku
bahkan memiliki pemikiran buruk terhadap orang bernama Mikkanen itu.
Di suatu sudut hatiku, aku berpikir aku ingin hidup.
Apanya yang karya agung biara, apanya yang pastor abdi
Tuhan? Mengapa aku yang penuh dosa ini bisa bertahan hidup di biara itu?
Sahabatku jauh lebih hebat dariku.
Sahabat yang terjun ke kawanan peri karena berpikir jika
ia bertahan hidup, ia tidak sama denganku. Sahabat yang terus berlari dengan
ajaran Tuhan di dadanya sampai napas terakhirnya.
Bersama sahabat seperti itu, aku melanjutkan hari itu.
Mungkin Tuhan memberiku kesempatan untuk mengulang dosa
hari itu—dosa karena Ingrasius bertahan hidup.
Di sini aku akan dikalahkan oleh sahabatku, agar aku
tidak mempermalukan nama biara lagi.
Tinju Ingrasius terkulai lemas.
Tepat di ulu hati Ingrasius yang sudah tidak memiliki
pertahanan lagi, tinju sahabatnya menghujam. Ingrasius yang terlempar langsung
menghantam akar pohon.
"Hehehe, telak sekali."
Peri yang menyamar jadi sahabat itu—namun peri yang telah
mempelajari hati sahabatnya itu—tertawa gembira seperti sahabat aslinya.
Ingrasius hanya tersenyum melihat sosok itu.
Di tempat tanpa pertahanan sama sekali, aku menerima
serangan tinju sahabatku. Ingrasius bahkan tidak bisa lagi menggetarkan kaki
dan tangannya.
Jantungnya hancur berantakan oleh tinju sahabatnya, namun
Ingrasius tetap tersenyum.
"Hei, Ingrasius. Cepat bangun, mari kita lanjutkan
segera."
Begini saja sudah cukup.
Sahabatku, meski mengernyitkan dahi seolah bingung, tetap
mengulurkan tinjunya ke dada Ingrasius yang bahkan tidak berniat membela diri.
Dalam sekejap mata, jantung Ingrasius pasti akan diremas
hancur.
Namun,
begini saja sudah cukup.
Ingrasius
tidak bisa lagi tertolong. Begini saja sudah cukup.
Aku
tidak bisa lagi melindungi diriku dari tangan sahabatku.
Bahkan
jika aku bisa bertahan, Ingrasius tidak lagi berniat untuk bertarung.
Jika
dosaku—dosa karena aku bertahan hidup—mungkin bisa dimaafkan oleh tangan
sahabatku, maka aku hanya akan pasrah menerimanya.
Sejak
awal memang sudah aneh.
Hari
itu, aku menjadi satu-satunya yang bertahan hidup di biara. Setelah
itu, aku terus hidup bermalas-malasan tanpa menjaga ajaran Tuhan. Semuanya
sudah salah sejak awal.
Pada Ingrasius yang tersenyum dengan tatapan kosong,
hanya ada satu penyesalan yang muncul.
Orang baik itu, yang mengkhawatirkan diriku yang penuh
dosa dan mencurahkan seluruh hatinya untukku.
"...Seharusnya aku meminta maaf pada
Mikkanen-san."
Sambil memicingkan mata pada tangan pembunuh yang
mendekat, Ingrasius menyesali hal itu.
"Dasar bodoh!"
Sahabatnya terpental di depan mata.
Di mata Ingrasius, punggung yang sangat kukenal itu
muncul.
Sosok yang lebih penuh luka daripada Ingrasius yang
mengembara di hutan selama sebulan.
Mantel yang seharusnya berwarna abu-abu kini menghitam
karena darah kering yang menempel tebal, tak lebih dari kain lusuh.
Sambil mengayunkan Longsword yang sudah patah,
Mikkanen tiba-tiba melompat masuk dan menebas lengan peri yang menyamar jadi
sahabatnya.
Darah muncrat, dan peri itu mundur.
"Hei, hei, tiba-tiba menyerang begitu saja, itu
tidak sopan lho."
"Soal itu aku minta maaf. Tapi, rekan seperjuanganku
sedang melakukan hal bodoh mencoba mengakhiri hidupnya sendiri, aku tidak punya
waktu untuk berbasa-basi."
Sahabatnya mengernyitkan dahi sambil mengikat lengan
yang menyemprotkan darah dengan kain.
Sebaliknya, Mikkanen berjalan menuju peri itu sambil
menyeret kakinya—apakah kakinya patah?
Melihat Mikkanen yang kurus kering itu, Ingrasius
langsung mengerti.
Mikkanen mencari Ingrasius dan terus berlari di hutan ini
selama ini.
Kenapa aku baru sadar? Mikkanen itu sangat baik secara
luar biasa, dan dia adalah orang yang bersedia mempertaruhkan nyawa untuk
melindungi siapa pun.
Sudah jelas dia akan mengejarku jika aku diam-diam
bersembunyi di hutan.
"Jadi, kau ini siapa? Kami sedang melakukan latihan
sesuai ajaran Tuhan, jangan mengganggu, ya."
"Jika itu artinya mengakhiri hidup Ingrasius, aku
tidak akan setuju. Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan itu."
Sahabatnya memiringkan kepala.
"Kenapa kau tidak suka mengorbankan nyawa? Bukankah
itu pekerjaan paling mulia yang bisa dipersembahkan manusia kepada Tuhan
mereka? Ingrasius di sana juga tahu itu benar, kau tidak perlu ikut
campur."
Ah, betapa indahnya kepercayaan itu.
Benar, seperti yang dikatakan sahabatku di sana,
Ingrasius tidak boleh berpaling dari ajaran Tuhan. Aku tidak boleh memedulikan
nyawaku sendiri, hidupku sendiri.
Cintailah sesama, jangan memikirkan diri sendiri, dan
selamatkanlah mereka yang kesulitan.
Aku mencengkeram ujung mantel Mikkanen dengan
tanganku. Aroma yang samar-samar tercium itu membuat jalan yang kulalui bersama
Mikkanen melintas di otakku seperti lentera yang berputar.
Kenapa Mikkanen datang sejauh ini untuk menolongku?
Goyah. Hati ini goyah. Padahal aku datang ke sini dengan
tekad untuk mengakhiri hidupku dan mematuhi ajaran Tuhan, tapi sejak melihat
sosok Mikkanen, keinginan kotor berkecamuk di lubuk hatiku.
Namun, tidak boleh. Ingrasius harus berakhir di sini.
Meskipun itu di tangan sahabat lamaku, meskipun itu dimakan oleh peri, aku
harus mendarma baktikan hidupku.
Karena itu, karena itu, Ingrasius, diriku ini...
"Aku tidak peduli tentang hal itu. Aku
akan melakukan apa yang ingin kulakukan."
Mikkanen melindungi Ingrasius di punggungnya. Sahabatnya
sedikit mengernyitkan dahi.
"Jika Tuhan setuju bahwa mengakhiri hidup Ingrasius
adalah benar, aku tidak akan memaafkannya. Bahkan jika aku harus jatuh ke
neraka, aku akan membiarkan Ingrasius tetap hidup."
Punggung Mikkanen yang mengucapkan hal itu terasa sangat,
sangat lembut.
"Kenapa kau memasang wajah lega? Kenapa kau tampak
tulus gembira? Jangan bilang Ingrasius, kau seorang pastor yang seharusnya
religius, malah termakan omongan pria itu dan berpaling dari ajaran
Tuhan?"
Sahabatnya yang melihat wajah Ingrasius gemetar karena
kata-katanya.
Beberapa saat kemudian, sahabatnya menundukkan kepala dan
berteriak dalam amarah.
"Aku mengerti sekarang, kau adalah iblis! Kau
yang berpaling dari Tuhan, berbohong, dan menyeret orang yang menjalani jalan
kebenaran ke dalam kegelapan!"
Ingrasius telah jatuh ke dalam kebaikan itu tanpa
bisa berbuat apa-apa.
"Kalian para murtad!"
Jari-jarinya menempel di mata pisau Longsword
yang menebas, lalu membelokkannya.
"Para iblis yang tidak takut pada murka Tuhan, akan
kubersihkan kalian dengan ajaran!"
Jantung peri yang bisa berubah wujud menjadi manusia
seharusnya sudah hilang di lab Alhazen-sensei waktu itu.
Jika begitu, wanita yang kini mengarahkan mata merah
padaku ini adalah peri yang berbeda.
"Benar-benar merepotkan karena ada begitu banyak
peri yang bisa meniru wujud manusia."
Aku menangkis tinju yang melesat tepat ke dadaku dan
menendang kepalanya. Peri yang mendarat dengan ringan di tanah itu berteriak
dengan mata yang terbakar gairah.
"Ingrasius, kau murtad! Iblis sepertimu, dan
Ingrasius yang berpaling dari ajaran, kalian semua benar-benar penuh
dosa!"
Peri yang berteriak itu kini bukan lagi peri.
Sihir yang bisa berubah wujud menjadi manusia,
mungkin ia sudah tidak tahu lagi apakah dirinya peri atau manusia setelah
mencapai puncaknya. Peri ini sudah benar-benar menjadi wanita itu.
Jubah hitam yang persis dengan milik Ingrasius dan
bela diri hasil latihan gila-gilaan.
Jika sudah sejauh ini, aku pun mengerti kenapa peri
ini tahu nama Ingrasius, dan kenapa ia marah pada Ingrasius yang masih hidup.
Mungkin wanita yang ditiru peri ini juga salah satu
yatim piatu yang penuh kegilaan mengerikan itu.
Kodoku (racun serangga) yang dilakukan
oleh para fanatik yang bahkan diusir oleh Agama Sarius di tengah kepunahan oleh
peri.
Salah satu kegelapan perang ini yang melakukan segala
macam dosa dengan alasan melahirkan anak kesayangan Tuhan.
Bohong kalau aku bilang tidak mengasihani wanita ini.
Namun, aku tidak boleh membiarkan bayangan masa lalu
membunuh Ingrasius yang hidup saat ini. Tidak seperti mayat yang sudah
kehilangan nyawa, Ingrasius harus menjalani kehidupan yang panjang ke depannya.
"Karena itu, kau harus memejamkan mata."
"Ajaran Tuhan, aku harus menjaga ajaran Tuhan!"
Tinju peri yang gemetar karena amarah menghujam diriku
yang sudah berlari keliling hutan selama sebulan.
Tubuhku yang terus bertarung tanpa makan dan minum sudah
mulai rusak di sana-sini, membuatku tidak bisa bertarung sesuai keinginan.
Namun, aku sudah terlalu sering mengatasi kesulitan
seperti ini.
Bela diri musuh unggul dalam menghindari mata pisauku.
Untuk menusuk jantungnya, aku harus menyegel pergerakannya yang berlarian
seperti angin.
Karena itulah, aku sengaja tidak menghindar dari
tinju yang mendekat.
"Apa kau baru sadar karena takut pada murka Tuhan,
dasar iblis!"
Dengan senyum gila, wanita itu menembus dadaku dengan
tinjunya.
Di tengah rasa sakit luar biasa karena jantungku robek,
aku mencengkeram pergelangan tangan wanita itu. Dengan sihirku, luka seperti
ini masih bisa kutahan.
Aku menarik pisau dari pinggangku dan menusukkannya ke
lehernya.
Kami saling bergumul untuk mengakhiri nyawa satu sama
lain. Kami berdua jatuh ke tanah dan melanjutkan pembantaian bak neraka.
Tungku sihir di dadaku menjerit kesakitan saat
menyembuhkan jantungku yang hancur.
Sementara itu, tinju peri itu meremukkan pergelangan
tanganku, mematahkan tulang leherku, dan mengamuk. Tapi aku juga menusukkan
pisau ke dagingnya.
Mungkin lain ceritanya kalau kami manusia, tapi setelah
menjadi peri, tidak peduli sihir apa pun yang mereka miliki, jika jantungnya
hilang, semuanya berakhir.
Aku tidak bisa melakukan sihir macam-macam pada jantung
seperti yang kulakukan.
Jika tidak membidik titik itu, mustahil bisa
berperang melawan para peri.
Sambil berlumuran tanah, darah, dan daging satu sama
lain, aku dan peri itu saling melukai.
Aku menyayat kulitnya dengan pisau, mengorek isi perut
peri itu.
Menghancurkan kepalanya, memasukkan tangan ke dalam
otaknya mencari jantung.
Dan akhirnya aku menemukan jantung yang berdenyut kencang
di ujung jariku.
"Dasar... iblis..."
Sambil mendengarkan suara serak yang dihasilkan peri itu,
aku menusukkan pisau ke jantungnya.
Apakah ini sudah berakhir?
Aku bangkit dengan napas tersengal-sengal.
Apa pun itu, aku harus segera membawa Ingrasius yang
tergeletak jauh di sana untuk kembali ke Reruntuhan Kastil Ogdanel.
Aku belum makan apa-apa sebulan ini, mungkin sekarang aku
bisa menghabiskan sup yang rasanya cuma seperti air itu dengan gembira. Jadi,
cepatlah.
"Hah?"
Sebuah lengan menembus dadaku.
Sambil memuntahkan darah, aku menoleh ke belakang.
Peri yang seharusnya sudah kubunuh tadi sedang menatapku
dengan mata melotot.
Saat aku menyadarinya, banyak mata yang bersinar di dalam
kegelapan hutan.
"Jangan berpikir kau bisa berakhir hanya dengan
membunuh satu orang."
"Murka Tuhan itu kekal. Tidak ada kehancuran."
"Bunda Suci memberiku kekuatan."
"Ada seribu diriku di sini, aku akan membunuhmu yang
telah menyesatkan Ingrasius yang religius atas nama Bunda Suci."
Begitu rupanya, sepertinya peri yang bisa berubah wujud
menjadi manusia bukan cuma satu atau dua.
Sambil dikelilingi oleh wanita berjubah hitam yang tak
terhitung jumlahnya, aku tersenyum pahit.
Dari mulut Ingrasius, kata-kata yang tidak pernah menjadi
suara terus mengalir. Matanya basah, dan aku melindungi Ingrasius di punggungku
saat menahan serangan gencar peri-peri itu.
Ingrasius di belakangku terluka parah, aku tidak bisa
melarikan diri.
Karena itulah, aku tidak bisa mundur dari sini. Aku harus
terus bertarung melawan para peri ini di sini.
Berlari di hutan seperti angin, aku menghindari tinju
menakutkan yang mengincar leher dan dada dengan selisih tipis, lalu menebas
leher dan tubuh mereka dengan pedangku. Di sekelilingku, mayat peri yang tak
terhitung jumlahnya berserakan.
Namun, aku tidak bisa merasa gembira karenanya.
"Berkatilah Tuhan, dan umat manusia yang dicintai
Tuhan!"
"Ghh!"
Satu lenganku hilang.
Peri yang melompat keluar dari kegelapan di belakang
merobek lenganku sebagai ganti kepalanya yang putus. Peri itu tertawa gembira
saat tewas, lalu jatuh terguling.
Aku segera memindahkan Longsword ke tangan satu
lagi dan mengusir peri-peri yang melompat ke arahku.
Jika hanya satu lengan, sihir penyembuhan pun butuh usaha
ekstra.
Dan sahabat lama Ingrasius yang ditiru peri-peri ini
tidak akan membiarkan celah itu terbuka sedikit pun.
Namun, tidak semudah itu bertarung hanya dengan satu
lengan.
Suatu saat, akhir itu akan tiba.
Saat aku membuat celah dalam serangan gencar peri-peri
ini, dan saat itulah aku akan terbunuh oleh bela diri mereka.
Untuk menunda hal itu sebentar saja, aku bertarung sekuat
tenaga.
Lalu, saat aku mengayunkan Longsword entah untuk
keberapa kalinya...
Aku menyadari lengan satunya lagi sudah putus dari
bahunya. Belum sempat aku sadar kalau aku sedang diincar, tak terhitung
banyaknya tinju dan tangan yang merangsek ke arahku.
Kehilangan senjata untuk bertahan, aku segera dikerumuni
oleh para peri.
"Rasakan murka Tuhan, rasakan murka Sang Ibu
Agung!"
"Benar, benar, takutlah pada kekuatan yang
dianugerahkan oleh Sang Ibu Agung!"
Dadaku ditembus, leherku dicekik, kepalaku dipukul, dan
saat aku masih hidup, ususku ditarik keluar. Napas
yang tersengal pun dibungkam dan disegel, lalu aku mati begitu saja.
Seharusnya begitu.
"Hah, kerja bagus. Sudah beberapa tahun sejak
terakhir kali aku dibunuh."
Sambil mengeluarkan keringat dingin karena rasa sakit
luar biasa yang menjalar di punggungku, aku bangkit.
Melihat para peri yang tampak heboh karena mengira mereka
pasti sudah membunuhku, aku mencabut Longsword dari pinggangku dengan
lengan yang sudah pulih sepenuhnya.
Kalau dibunuh semudah ini, aku tidak akan pernah bisa
menjadi pahlawan.
Sihir sialanku ini punya Geass yang mengharuskanku
untuk terus bertarung, jadi selama sumpah itu terjaga, sihir ini akan terus
membuatku bisa bertarung. Jika aku mati, aku akan bangkit kembali; jika aku
disegel, aku akan menghancurkannya.
Tentu saja, ini adalah sihir yang sangat kubenci dengan
segudang kekurangan.
Hanya dengan menyembuhkan luka saja rasanya sakit luar
biasa, dan saat bangkit dari kematian, aku merasakan penderitaan yang membuatku
berpikir kalau lebih baik jatuh ke neraka saja.
Karena luka tidak akan sembuh setelah pertarungan
berakhir, aku sampai harus akrab dengan dokter militer karena terlalu sering
dibawa ke ruang perawatan. Dari Geass-nya saja, ini benar-benar sihir
yang buruk dan menyebalkan.
Tapi, hanya saat menantang pertarungan yang tidak boleh
kalah seperti ini, sihir ini bisa diandalkan.
"Ayo, ronde kedua. Teruslah melompat ke arahku.
Kalau kalian berniat melukai Ingrasius, aku akan membunuh kalian sebanyak apa
pun yang kalian mau."
Akibat serangan gencar tadi, jumlah peri pun sudah
berkurang. Sekarang, aku hanya perlu terus mengayunkan Longsword-ku
tanpa henti.
Setelah memenggal kepala peri terakhir, pertarungan
berakhir.
Aku pun menderita luka yang cukup parah karena kawanan
peri yang terus menyerang dengan mempertaruhkan nyawa bahkan setelah posisi
mereka terdesak. Namun, kemenangan ada di pihakku karena berhasil melindungi
Ingrasius sampai akhir.
Hanya saja, ada satu hal yang mengganjal.
Para peri yang kehilangan nyawa semuanya serempak
menyebut kata "Ibu Agung". Seolah malu karena mati sebelum berhasil
membunuhku, mereka tampak memohon pengampunan pada sesuatu.
Dalam Agama Sarius, tidak ada yang namanya Ibu Agung.
Gereja yang memercayai satu-satunya Tuhan seharusnya
tidak memiliki sosok lain yang lebih unggul dari Tuhan, dan di antara para
santo yang dipuji atas jasa-jasa besar mereka, tidak ada sosok Ibu Agung.
Sebenarnya, siapa yang diandalkan oleh para peri ini?
Aku merenung sambil menatap daging busuk merah yang
lembek dari para peri yang sihirnya telah pudar di lautan darah. Hanya itu
satu-satunya hal yang benar-benar tidak kupahami.
...Namun, kata "Ibu Agung" itu tersangkut di
suatu tempat di hatiku.
Ada sesuatu di dalam ingatanku, sesuatu yang rasanya
hampir bisa kuingat, perasaan yang membuat frustrasi. Seolah-olah aku melupakan
sesuatu yang sangat besar.
Apa pun itu, saat itulah aku mendongak.
Ada sesuatu di kedalaman hutan.
Itu adalah bayangan yang gelap, hitam, dan kosong,
seolah-olah semua kegelapan di dunia ini telah direbus menjadi satu. Sesuatu
yang hampa dan sunyi sedang menatapku lekat-lekat dari kedalaman hutan.
Apakah layak menyebutnya sebagai peri?
Bayangan itu lebih hitam dari apa pun, lebih merah dari
apa pun, dan lebih mengerikan dari apa pun.
Ini bukan soal Calamity atau semacamnya. Kekuatan
yang terpancar dari sana melampaui akal budi manusia, jauh lebih dalam daripada
peri Raja Iblis yang pernah kulawan dulu.
Aku tidak bisa memalingkan pandangan darinya.
Aku bahkan tidak bisa bernapas menghadapi bayangan
yang menatapku itu. Setelah kami saling tatap selama beberapa saat, bayangan
itu lenyap begitu saja. Wujudnya tidak lagi tertangkap oleh mataku sedikit pun.
Seolah-olah digunting, sesuatu menghilang begitu
saja. Hanya itu yang bisa kukatakan, kejadian yang benar-benar tidak masuk
akal.
Sesuatu yang merah, hitam, dan bergejolak seperti
lumpur menatapku dari kedalaman hutan.
Kegelapan yang lebih dalam dari malam mengirimkan
hawa dingin yang menusuk. Aku menggenggam Longsword-ku dengan tangan
yang gemetar.
Sebenarnya, apa ini?
Rasa takut mencengkeram jantungku erat-erat. Aku hanya
terpaku menatap ketakutan yang ada di depan mata tanpa tahu sudah berapa lama
waktu berlalu.
Angin berhembus di hutan peri.
Seperti saat ia muncul, bayangan itu lenyap tanpa jejak.
Yang tersisa hanyalah hawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri dan air hitam
yang meresap ke dalam tanah.
Aku mengembuskan napas lega dan menyarungkan Longsword.
Sambil berjalan ke arah Ingrasius, aku tiba-tiba terpikir.
Mungkinkah itu sosok yang mereka sebut sebagai Ibu Agung?
◆◆◆
Aku yang memikul beban dua orang berjalan sambil menyeret
kakiku dengan susah payah.
Setelah pertarungan usai, aku membujuk Ingrasius yang
tidak bisa melangkah satu langkah pun untuk kugendong. Saat memandang jauh ke
depan, akhirnya ujung Hutan Peri mulai terlihat.
Itu adalah medan perang, batas tempat manusia yang
datang dari benua dan peri yang datang dari hutan saling beradu.
Meskipun sudah malam, cahaya merah dari peluru meriam
yang ditembakkan terus-menerus dan suar yang bersinar di langit menerangi medan
perang seperti siang hari. Aroma mesiu tercium sampai sejauh ini.
"Yah, entah sampai kapan perang ini akan
berlangsung."
Di punggungku, Ingrasius tetap terdiam.
Menurut "Pemburu Peri", dalam beberapa
tahun lagi karakter pemain akan membunuh bos peri dan mengakhiri perang ini. Tentu
saja, itu jika semuanya berjalan sesuai alur permainan.
Namun, tidak ada yang tahu hal itu selain aku.
Bagi Ingrasius, tidak, bahkan bagi Agrastein sekalipun,
di lubuk hati mereka, mereka mungkin sudah pasrah bahwa perang ini akan terus
berlanjut.
"Benar-benar membuat depresi. Ingrasius, apa ada hal
yang menurutmu menyenangkan dalam hidup ini?"
Aku bisa merasakan dari punggungku bahwa Ingrasius yang
tetap diam sedikit bergetar.
Ingrasius yang masih terikat ajaran Agama Sarius membenci
pembicaraan tentang dirinya menikmati sesuatu atau merasa senang. Namun, justru
saat inilah aku harus menginjakkan kaki ke sana.
"Ingrasius, kau selalu bilang kau harus
menyelamatkan orang, kan? Bahwa benar jika seseorang mengorbankan nyawanya
untuk menolong orang lain. Bahwa merasa senang itu adalah dosa."
Itulah kutukan yang dibebankan pada Ingrasius. Berkat mengerikan dari biara.
Aku harus menghancurkannya. Aku harus menghancurkan
jalan yang selama ini diyakini Ingrasius sebagai jalan yang benar hanya dengan
egoku sendiri.
"Bagiku yang tidak bertarung demi umat manusia,
itu adalah cerita yang tidak kupahami."
Ingrasius kini gemetar hebat. Meski begitu, aku tidak
bisa menghentikan kata-kataku.
Kalau aku bicara seperti ini di Reruntuhan Kastil
Ogdanel, mungkin aku akan dipukuli sampai mati oleh anak laki-laki gila itu.
Aku tersenyum pahit memikirkannya.
Tapi, ini adalah pemikiranku yang sesungguhnya.
"Aku bertarung agar aku sendiri bisa bahagia.
Membunuh peri-peri itu dengan pemikiran bahwa suatu hari nanti aku bisa hidup
dengan tenang."
Manusia sudah berada di batas kemampuannya hanya
dengan menanggung beban satu orang.
Saat aku menjadi pemburu, umat manusia nyaris punah. Kami
berada di ujung tanduk, nyaris musnah bahkan sebelum mencapai skenario aslinya.
Karena itulah, aku yang ingin hidup menjadi seorang
pemburu.
Jika aku bisa melindungi umat manusia sampai karakter
pemain muncul, perang ini akan berakhir. Waktu akan datang di mana kami bisa
hidup santai tanpa rasa takut dibunuh peri.
Aku bertarung hanya demi keinginanku sendiri.
Jika aku memikul keinginan yang terlalu besar seperti
"demi umat manusia", suatu saat aku akan hancur tertindih realita.
Aku akan berhenti tersenyum dan mati tanpa tahu siapa diriku sebenarnya.
"Orang yang tidak bisa hidup demi dirinya
sendiri sudah tidak lagi menjadi manusia. Itu hanyalah roda gigi, tidak ada
bedanya dengan peri."
Ingrasius harus hidup sambil tersenyum. Jika dia
tidak hidup demi dirinya sendiri, bukan demi orang lain, dengan kebahagiaan
kecil di dalam hatinya, suatu saat dia akan mengalami hal yang tak bisa
diperbaiki.
"Tidak ada orang yang bisa menyelamatkan orang
lain tanpa memedulikan dirinya sendiri. Tidak masuk akal jika orang yang
membuat orang lain tersenyum sendiri tidak sedang tersenyum."
Di malam yang terang benderang seperti siang karena
kilatan meriam, aku berbicara pada Ingrasius.
"Aku tidak akan membiarkanmu membuang nyawamu
dengan enteng. Aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia seperti ini dan
pasti akan menyelamatkanmu. Jadi, kau bisa menyalahkan aku untuk
semuanya."
Aku adalah orang tidak berguna yang bebas, yang mencoba
melarikan diri dari medan perang ini demi nyawaku sendiri. Jika begitu, kenapa
tidak sekalian aku hancurkan saja hidup Ingrasius?
"Hiduplah sambil tersenyum, atau aku akan membuatmu
mengalami hal yang mengerikan."
Dari belakang, terdengar isak tangis Ingrasius. Entah
kenapa, aku merasa hal itu jauh lebih manusiawi daripada senyum seperti orang
suci yang biasanya dia tunjukkan.
◆◆◆
"Lagi-lagi kau terseret dalam masalah yang luar
biasa di luar pengetahuanku. Kau ini benar-benar pembuat masalah, atau mungkin
sekadar tidak punya keberuntungan."
Morgraid menghela napas setelah mendengarkan
ceritaku.
Aku tidak suka cara bicaranya yang seolah-olah akulah
sumber ketidakberuntungan, aku tanpa sadar mengernyitkan dahi. Tapi, mungkin
berkat Morgraid inilah kutukan pada Ingrasius bisa terlepas.
"Omong-omong, terima kasih. Kalau saja Morgraid
tidak bilang padaku untuk bicara pada Ingrasius, mungkin aku tidak akan pernah
menyadarinya."
"Yah, terserahlah. Aku kan selalu jadi teman
bagi gadis-gadis manis."
Morgraid menyipitkan mata dan memandang Ingrasius di
kejauhan.
Aku pun ikut memandang Ingrasius.
Beberapa waktu setelah pertarungan di hutan itu,
Ingrasius tampak kembali sebagai pastor baik hati yang dulu. Namun, Ingrasius
yang sekarang bukanlah orang suci biasa.
Dia adalah manusia yang mampu memikirkan
kebahagiaannya sendiri.
"Nah, pergilah bicara padanya. Kau atasan yang
harus melakukan perawatan pasca-kejadian dengan benar, kan?"
"Ah, terima kasih. Ceritakan lagi padaku
nanti."
"Ya.
...Ah, aroma itu menyengat hidung, ya."
Morgraid
yang mengakhiri makan malam dengan buah ara dan teh seperti biasa melambaikan
tangan lalu pergi dari ruang makan. Aku memiringkan kepala mendengar kata-kata
terakhirnya.
Mungkinkah
aku bau?
Sambil merasa sedikit sedih, aku berjalan menuju
Ingrasius.
"Kau melakukan hal bodoh lagi ya, Ingrasius."
"..."
Aku tidak bisa menahan ekspresi heran melihat Ingrasius
yang sedang membuat secangkir minuman misterius hasil campuran kopi dan teh
yang sulit dijelaskan rasanya.
Yah, mungkin ini juga cara Ingrasius bereksperimen.
Ingrasius yang selama ini tidak punya jati diri kini
bahkan tidak tahu hal apa yang menyenangkan. Mungkin tidak ada salahnya mencoba
hal bodoh untuk sementara waktu.
"..."
"Karena sudah dibuat, habiskanlah. Sayang kalau
dibuang."
Entah karena sudah sewajarnya atau bagaimana, dia
baru mencicipinya sedikit saja langsung melotot—sepertinya tidak enak. Dia
meminum sisanya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jadi, apa kau sudah menemukan hal yang
menyenangkan?"
"SEKARANG SAYA KETAGIHAN. TAPI, SAYA SEKARANG
PUNYA TEMPAT UNTUK PULANG."
Sambil memegang buku sketsa, Ingrasius tersenyum
malu-malu.
"Itu bagus. Kalau ada yang bisa kubantu, bilang
saja."
Senyum itu membuat hatiku ikut hangat. Ingrasius sudah
sangat menderita selama ini, kurasa tidak ada yang akan marah kalau dia sedikit
bersenang-senang untuk sementara waktu.
"BENARKAH! KALAU BEGITU, ADA SESUATU YANG INGIN SAYA
MINTA..."
"Katakan saja apa pun."
Sambil meminum kopi, aku mengangguk. Ingrasius
menunjukkan buku sketsanya dengan pipi merona malu-malu.
"BOLEHKAH SAYA MEMINTA KEMEJA ANDA?"
"Uhuk! Uhuk! Gah!"
Kopi itu masuk ke saluran napasku melakukan triple
axel. Sambil menolak dengan isyarat pada Ingrasius yang buru-buru
menyodorkan sapu tangan, aku memukuli dadaku dengan keras.
Hal yang terlintas di kepalaku adalah barang-barangku
yang ada di rak altar.
Mengingat pemandangan yang dulu dibiarkan begitu saja itu
membuat keringat dingin bercucuran.
Tidak, aku belum mendengar alasannya. Mungkin
saja bukan seperti yang kupikirkan.
"I-itu, untuk apa kau memintanya?"
"UNTUK DIPERLUKAN SAAT IBADAH."
"Hah?"
Ingrasius tersenyum lebar. Biasanya, aku pasti akan
memaafkan apa pun karena senyumnya yang manis itu, tapi hari ini saja, aku
tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
"I-ibadah apa maksudmu..."
"ITU... SAAT SAYA MEMANJATKAN DOA PADA
MIKKANEN-SAMA, HATI SAYA MENJADI SANGAT TENANG."
Memanjatkan doa padaku? Tiba-tiba aku punya firasat buruk
yang luar biasa.
Jangan-jangan, kemeja dan gambar-gambarku yang ada di rak
altar itu bukan sekadar disembunyikan, melainkan diletakkan di sana sebagai
barang persembahan?
Terdengar suara klik saat Geass
Ingrasius terpasang sempurna.
Murtad... murtad itu, jangan-jangan maksudnya seperti
itu...? Apakah dia berpura-pura berdoa pada Tuhan Agama Sarius padahal
sebenarnya memuja diriku, apakah seperti itu...?
Di dunia masa lalu, katanya ada penganut Kristen rahasia
(Kakure Kirishitan) yang memuja patung Maria dengan berpura-pura memuja
patung Buddha.
Rasanya tidak sopan sekali menyinggung hal itu sekarang,
tapi...
Aku mencoba memikirkannya.
Di dalam kamar tanpa siapa pun, Ingrasius menoleh ke
sekeliling, lalu dengan hati-hati mengeluarkan kemejaku dari altar.
Kemudian dia berlutut di lantai dan memanjatkan doa.
"A-ah, maaf. Soal itu, nanti kita bicarakan
lagi."
Aku menyembunyikan keringat dingin yang mengucur sambil
menghabiskan sisa kopiku.
Lalu aku segera meninggalkan ruang makan.
Sekarang juga, aku merasa panik.
Sekarang juga, aku harus memasang kunci di semua rak.
Aku tidak ingin membayangkan kalau sewaktu-waktu aku
mengunjungi kamar Ingrasius, aku malah memergokinya sedang memanjatkan doa pada
kemejaku.
Mungkin untuk pertama kalinya dalam hidup, aku bisa
memahami perasaan seorang idola yang menderita karena stalker, aku
memegangi kepalaku.
Mungkin aku tidak perlu tahu tentang hal ini.
Bagaimana cara meluruskan jalan Ingrasius?
Mengapa aku harus takut anggota partiku sendiri mencuri
barang milikku?
Aku terjebak dalam perasaan lemas.
...Ngomong-ngomong, Ingrasius yang ditinggal sendirian
menatap lekat-lekat cangkir sisa minuman Mikkanen.



Post a Comment