Chapter
4
Sang
Pengembara yang Melantunkan Dedikasi
"Kenapa kamu tidak menyerah sampai sejauh ini?"
Hari itu, aku tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu kepada
atasanku.
Atasanku sedang tergeletak di tanah, menggenggam
lengannya yang hampir putus. Dari kejauhan, aku bisa melihat kawanan peri yang
jumlahnya tak terhitung sedang berdatangan.
Tugas militer kami dalam operasi ini adalah menjadi umpan
hingga pasukan utama berhasil menyergap dari belakang.
Berbicara jujur, ini adalah pertempuran nekat yang sama
sekali tidak memedulikan keselamatan nyawa kami.
Meski begitu, atasan yang sedang menyembuhkan lukanya
dengan sihir secara tegar itu mengerutkan kening.
"Karena aku ingin selamat dan makan sepuasnya,
memangnya ada alasan lain?"
Atasanku memang selalu berjiwa santai.
Bukannya aku tidak tahu kalau umat manusia sedang di
ambang kepunahan. Dia juga bukan orang bodoh yang sesumbar bisa menang
tanpa strategi. Dia juga tidak sedang nekat karena putus asa.
Sejak aku pertama kali melihatnya di medan perang,
dia selalu seperti ini.
Aku pun sadar, umat manusia tidak akan bisa menang
melawan peri. Kekuatan sihir, jumlah, semuanya kalah. Mengatakan kita bisa
menang dalam kondisi ini pasti dianggap sebagai kegilaan.
Namun, atasan ini tidak menyerah.
Dia selalu berlari di garda terdepan medan perang, dan
entah bagaimana, dia selalu menang melawan peri. Selalu berjalan di atas tali
tipis yang mempertaruhkan nyawa, namun selalu pulang dengan selamat.
Aku harus tahu, pikirku.
"Tapi, bukankah itu sulit? Bahkan, terasa
mustahil."
Aku merasa harus mengenal atasan yang selalu santai ini.
Karena itulah, aku bahkan sampai menjadi seorang Hunter.
Aku yang sudah hidup lama dan seharusnya sudah menyerah
pada segalanya, kini sampai bergabung dengan militer.
"Maksudku, apa kamu benar-benar berpikir kita bisa
menang melawan peri? Andai saja serangan ini berhasil, lalu apa? Bukankah perang ini hanya akan terus berlanjut?"
"Tidak akan begitu."
Atasanku bangkit berdiri meskipun lukanya belum
sembuh sepenuhnya.
Kawanan peri sudah sampai tepat di depan mata. Sambil
mencabut Longsword miliknya, dia berucap.
"Bukankah lebih baik menyesal setelah mencoba
daripada menyesal karena menyerah begitu saja?"
Kilatan di hatinya itu begitu menyilaukan.
Aku pun berpikir, mungkin tidak ada salahnya menemaninya
sedikit lebih lama lagi.
◆◆◆
"Peri yang bisa menyamar menjadi manusia, ya.
Masalah yang merepotkan karena jumlahnya tidak sedikit."
Agrastein menghela napas.
Aku datang untuk melapor soal peri yang kularang di hutan
saat itu, sekalian menerima teguran karena meninggalkan Reruntuhan Kastil
Ogdanel tanpa izin. Namun, kali ini aku mengerti perasaan si bocah jenius yang
keras kepala ini.
Lagipula, fakta bahwa peri bisa menyamar menjadi manusia
adalah sakit kepala yang jauh lebih besar daripada sihir apa pun.
Menyamar jadi manusia, menyusup ke garis belakang, lalu
saat waktunya tiba, mereka mulai memakan manusia secara massal—siapa pun bisa
memikirkan skenario itu.
Saat akhirnya peri itu terbunuh dan kami bisa sedikit
bernapas lega, justru kabar ini yang datang.
Mungkin saja ada peri lain yang bisa menyamar.
Itu saja sudah cukup membuat Agrastein yang memimpin
pasukan manusia harus memikirkan segudang hal. Wajar saja jika dia ingin
menghela napas.
"Awalnya kupikir cukup dengan membunuh satu peri itu
saja, tapi ceritanya jadi berbeda sekarang. Lagipula, sepertinya ada aroma yang
tidak sedap, bukan?"
Menanggapi pertanyaan Agrastein, aku mengangguk.
Saat aku bertarung melawan kawanan peri yang menyamar itu
demi melindungi Ingrasius, ada sesuatu di kedalaman hutan. Bukan peri biasa,
melainkan sesuatu dengan kekuatan yang jauh di atas rata-rata.
"Ibu Agung, ya. Sayangnya aku tidak tahu. Kamu juga tidak tahu, kan?"
"Ya."
Nama sosok yang dipuja-puja oleh kawanan peri itu. Serta sosok yang muncul setelah pertempuran berakhir, sesosok entitas
mengerikan yang kusebut sebagai peri misterius.
Sulit untuk berpikir bahwa keduanya tidak
berhubungan. Jangan-jangan,
itulah yang disebut sebagai Ibu Agung.
Selain itu, kata "Ibu Agung" itu memang terasa
mengganjal. Seolah-olah ada ingatan di suatu tempat jauh di masa lalu saat aku
pernah mendengarnya.
"Dia punya kekuatan yang tidak kalah dengan raja
iblis yang pernah kita lawan dulu. Aku rasa levelnya sudah jauh melampaui Calamity."
"Begitu rupanya, itu merepotkan."
Empat peri yang pernah mengejar umat manusia hingga ke
ambang kepunahan, yang ditakuti manusia sebagai raja iblis.
Peri-peri yang dulu pernah kulawan dan seharusnya sudah
kubasmi sampai tuntas.
Sesuatu yang mengawasi kami di hutan itu memiliki
kekuatan setara dengan mereka.
Sungguh cerita yang tidak menyenangkan.
Pertarungan melawan para raja iblis itu selalu
panjang dan menyakitkan, kenangan yang tidak ingin kuingat kembali.
Jika peri di balik ini sampai sekuat itu, tidak heran
kalau helaan napas tak kunjung usai.
Agrastein menatapku lekat-lekat.
Aku yang sudah bisa menebak arah pembicaraan ini hanya
bisa merasa ingin menangis.
"Singkatnya, mungkin nanti aku akan membutuhkan
bantuanmu lagi. Aku andalkan kamu."
"...Ya."
Artinya, tugasku bertambah lagi. Tentu saja, aku tidak
bisa menolak ini.
Aku seorang prajurit, dan lagipula, tidak banyak Hunter
yang bisa bertarung dengan benar jika peri sekuat itu datang. Jika aku
melarikan diri, akan ada korban jiwa yang tak terhitung jumlahnya.
Tapi, keinginan untuk berhenti dari militer jadi makin
jauh dari jangkauan. Kalau begini terus, aku mungkin akan terikat di medan
perang seumur hidupku.
Aku menghela napas dan hendak meninggalkan ruangan
Agrastein.
"...Begitu ya, sepertinya apa yang dikatakan
Morgraid benar adanya."
"Tentang apa?"
Tiba-tiba, Agrastein bergumam seolah tidak sengaja.
Aku hanya bisa memiringkan kepala, bertanya-tanya mengapa dia menyebut nama
Morgraid sekarang.
Agrastein berdecak.
"Bukan urusanmu, atau malah mungkin urusanmu ya?
Singkatnya, itu hal yang tidak perlu kamu tahu. Masih banyak tugas militer yang
kuberikan padamu, tolong kerjakan."
Karena Agrastein menghela napas seolah baru saja
mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengarnya, aku pun terpaksa diusir dari
ruangannya.
◆◆◆
Menjadi prajurit membuat uang tabungan terus bertambah.
Lagipula, selama aku di Reruntuhan Kastil Ogdanel,
meskipun rasanya tidak enak, makanan dan tempat tidur sudah disediakan.
Mengingat gaji Hunter cukup besar, uangku jadi
semakin menumpuk.
Namun, Reruntuhan Kastil Ogdanel ini bukannya tanpa toko.
Terutama menjual makanan dan minuman keras yang dibawa
dari garis belakang, itu adalah tempat berharga bagi para prajurit yang selalu
hidup berdampingan dengan kematian untuk menenangkan pikiran.
Ada juga buah-buahan kesukaan Morgraid. Karena tidak bisa
dibekukan, harganya sangat mahal, sih.
Tapi, karena hanya di sanalah tempat untuk
mendapatkannya, mau bagaimana lagi.
Sambil membawa buah-buahan yang kuborong di tangan, aku
mengetuk pintu kamar Morgraid.
"Ini Mikkanen, boleh masuk?"
"Silakan. Kamu ini benar-benar punya
perhatian di hal-hal yang aneh."
Begitu masuk, aku melihat Morgraid meringkuk di balik
selimut dengan napas yang berat.
"Sedang sakit, tapi masih saja hanya makan
buah-buahan. Menurutku,
itu justru membuatmu makin tidak sembuh."
"Berisik sekali, aku kan bisa bertahan hidup
hanya dengan buah dan teh... uhuk, uhuk!"
Saat aku menyodorkan buah, Morgraid mengambilnya
dengan tangan gemetar.
Aku mengusap punggung Morgraid yang tersedak sambil
merasa jengkel.
Benar saja, dia memang tidak akan bisa menelan kenari
saat tenggorokannya kering begitu.
Setelah napasnya kembali teratur, Morgraid kembali
masuk ke balik selimut.
"Hm."
"Dasar, merepotkan sekali."
Morgraid hanya menyembulkan wajahnya dari selimut dan
menatapku. Aku mau tidak mau mengambil buah anggur di dekatnya.
Aku menyuapkan butiran anggur yang segar ke mulutnya.
Morgraid mengunyahnya, lalu membuka mulutnya lagi tak
lama kemudian.
Dasar merepotkan, aku menyuapinya seperti sedang memberi
makan remahan roti pada burung.
Morgraid memang sudah seperti ini sejak dulu.
Sejak pertama kali kami membentuk party berdua
saja, dia selalu saja jatuh sakit seperti ini. Terutama setelah pertempuran
besar, itu sudah jadi rutinitas.
Dan saat seperti itulah, dia menjadi sangat manja.
"Hm, aku sudah bosan makan anggur."
"Kalau begitu makan saja stroberi ini."
Morgraid bersandar padaku yang duduk di sisi tempat
tidur. Harusnya dia pergi ke dokter militer, tapi karena dia
keras kepala tidak mau, aku jadi kesulitan.
Tak lama kemudian, Morgraid yang menghabiskan gajiku
selama sebulan akhirnya tampak bisa bernapas lega. Dia menyeruput teh hangat
yang baru saja diseduh.
"Jadi, apa kutukan Ingrasius sudah berhasil
dilepas?"
"Kamu tahu?"
"Tentu saja, aku ini punya pengamatan tajam, tahu.
Lagipula, aku kan teman bagi gadis-gadis manis, aku selalu menyemangati
rekan-rekanku."
Dengan wajah yang masih memerah, Morgraid tersenyum
kecut. Meskipun sedang sakit, kenapa dia masih saja memaksakan diri?
Aku mencengkeram bahunya dan membaringkannya.
"Oh ya ampun, kamu mau memakan diriku, ya? Pria itu
serigala, tapi memakan wanita yang sedang menderita sakit pun sepertinya
Mikkanen juga cukup... uhuk, uhuk!"
"Diam dan tutup matamu. Akan makin sakit kalau kamu
terus terjaga."
Aku menutupi kepala Morgraid dengan selimut karena dia
terus saja bicara yang tidak-tidak. Sepertinya sudah kapok, Morgraid kembali
masuk ke tempat tidurnya.
"Aku permisi dulu. Ingat, istirahatlah yang
cukup."
Tak lama setelah aku hendak pergi, tangan Morgraid
menjulur dari balik selimut dan mencengkeram ujung bajuku.
"Maaf, tolong... aku ingin kamu menggenggam tanganku
sedikit lebih lama lagi, mungkin?"
Sambil menunduk malu dan pipinya merona, Morgraid
berbisik.
Benar-benar rekan seperjuangan yang merepotkan. Aku
menghela napas, lalu menggenggam tangan Morgraid yang tampak senang entah
karena apa.
◆◆◆
"...Jadi begitulah, aku bingung harus berbuat
apa. Si Ingrasius itu, akhir-akhir ini dia sudah tidak ragu lagi, dan sendok
yang kutinggalkan di nampan pun..."
Sembari menidurkan Morgraid, aku menceritakan
keresahanku. Setelah beberapa saat, aku menyadari suara napas halusnya yang
tertidur.
"Akhirnya tidur juga."
Aku menatap Morgraid yang sedang dihempas demam.
Kalau dipikir-pikir, aku sudah lama sekali mengenalnya.
Pertama kali bertemu adalah sekitar sebulan setelah aku menjadi Hunter, dan sejak saat itu, selama sepuluh tahun kami selalu saling memunggungi dalam pertempuran.
Meski
begitu, aku tidak terlalu mengenal Morgraid.
Dari mana dia berasal, bagaimana dia tumbuh besar,
mengapa dia hanya makan buah-buahan; aku tidak tahu apa pun. Morgraid jarang
sekali bercerita tentang dirinya sendiri.
Karena itulah, memalukan sekali, aku bahkan tidak
tahu Geass miliknya.
Dia adalah anggota yang bisa dibilang paling dekat
denganku di party ini, tapi aku tidak tahu apakah Morgraid juga
berpikiran sama.
Mungkin karena itu, aku terus menunda keinginan untuk
meminta agar aku didepak dari pasukan. Aku benar-benar tidak bisa menebak apa
yang akan dilakukan Morgraid jika dia mendengar permintaanku.
Bahkan saat aku bilang pada Isfarna kalau aku ingin
didepak, dia hanya terkikik geli, dan aku tidak bisa membaca apa yang dia
pikirkan.
Karena itulah, aku tidak pernah memintanya pada siapa pun
kecuali Morgraid.
Namun, Ingrasius, Profesor Alhanzen, bahkan Isfarna
pun tidak mendepakku. Malahan, hal itu berujung pada keributan yang hebat.
Padahal, aku sama sekali tidak berniat menjadi atasan
yang baik.
"Apakah dari awal rencana untuk mencari cara
agar didepak ini adalah ide yang salah? Kalau begini, sepertinya aku tidak akan
bisa keluar dari militer."
Kata-kata kepasrahan itu meluncur lirih dari bibirku.
Mengandalkan prestasi satu-satunya mob yang
berhasil keluar dari militer dalam skenario permainan, aku telah berusaha keras
agar bisa didepak dari pasukan.
Tapi, apakah Agrastein akan mengizinkan hal seperti itu
sejak awal?
Kemungkinan besar, alasan mob itu bisa keluar dari
militer adalah karena bocah jenius yang keras kepala itu sudah samar-samar
menyadari bakat terpendam si karakter pemain.
Agar umat manusia bisa menang, kekuatan karakter pemain
sangat dibutuhkan, dan dibandingkan dengan itu, kemampuan si mob sebagai
Hunter dianggap tidak penting.
Karena itulah, bocah jenius itu mengizinkan satu Hunter
pergi.
Namun, saat ini karakter pemain masih belum mengunjungi
Reruntuhan Kastil Ogdanel. Dengan kata lain, aku ragu Agrastein akan
membiarkanku pergi begitu saja.
Selama ini, aku hanya berpegang pada pengetahuan
permainan dan terus menyakinkan diri bahwa aku hanya perlu didepak. Jika itu
berhasil, aku bisa hidup tenang di garis belakang.
Tapi, apakah itu benar-benar hal yang tepat?
Karakter pemain belum muncul, dan terlebih lagi,
tidak ada keuntungan sedikit pun bagi perang melawan peri jika aku mengundurkan
diri.
Mungkin saja, pola pikirku dari awal memang sudah salah.
Kalau dipikir-pikir lagi, mustahil bocah jenius itu akan membiarkanku lolos
dari medan perang.
Terutama sekarang, ada isu tidak sedap mengenai peri yang
bisa menyamar menjadi manusia.
Jika aku tidak bisa menangani peri kelas raja iblis yang
melampaui Calamity yang berada di balik itu semua, aku tidak akan bisa
keluar dari militer. Untuk peri sekuat itu, jumlah Hunter yang mampu
bertarung sangat terbatas, dan aku adalah salah satunya.
Alasan aku ingin keluar dari militer adalah karena aku
merasa cerita aslinya bisa tercapai bahkan tanpaku.
Saat karakter pemain muncul dan menyelamatkan umat
manusia, aku yang bahkan namanya tidak ada dalam skenario asli hanyalah
pengganggu. Lagipula, aku sudah benar-benar muak dengan makanan militer yang
rasanya seperti kotoran itu.
Karena itulah, aku ingin didepak dari pasukan. Tapi, jika
ternyata ada peri yang hanya bisa dibunuh olehku, maka ceritanya jadi berbeda.
Bagaimanapun juga, aku tidak bisa melarikan diri.
"...Sepertinya aku tidak bisa didepak
lagi."
Ya, tepat saat aku hendak menyerah pada segalanya.
"Sepertinya itu masih terlalu dini, bukan?"
Tangan yang menggenggam Morgraid ditarik. Tanpa
sengaja, aku jatuh tersungkur hingga menindih tempat tidur, dan aku terpesona
oleh mata biru yang tenang itu.
Morgraid tersenyum nakal, seolah-olah sedang
menggodaku.
"Kamu ingin keluar dari militer, ya? Baiklah, aku
akan mengabulkan keinginanmu itu. Untungnya, aku tahu cara untuk membungkam
Agrastein."
Aku tidak bisa memalingkan pandangan dari matanya yang
dalam seperti lautan luas. Sambil mendekap kepalaku ke
dadanya, Morgraid berbisik.
"Aku... yang akan mendepakmu."
Sebagai ganti karena secara diam-diam mengikuti
Ingrasius, aku dihukum dengan tugas militer selama sepuluh hari oleh bocah
jenius itu. Setelah menyelesaikannya, aku benar-benar kelelahan.
Itu benar-benar tugas militer yang mengerikan. Sialan,
dia menyuruhku menerjang hutan peri lagi.
"SAYA MINTA MAAF, SAYA TELAH MENYUSAHKAN ANDA."
"Tidak apa-apa, Ingrasius. Aku sendiri yang salah
karena sebagai atasan tidak menyadari bahwa mental anggotaku sedang
terganggu."
Ingrasius yang menempel padaku karena merasa bersalah
terus menunduk berkali-kali. Sebenarnya aku senang dia membantuku dalam tugas
militer ini.
Tapi, ada hal lain yang lebih membuatku penasaran.
Simbol Agama Sarius adalah cangkir, dan biasanya para
pastor selalu mengalungkan cangkir yang terbuat dari emas di dada mereka.
Ingrasius pun biasanya begitu, tapi sekarang berbeda.
"Apa sebenarnya yang kamu masukkan ke dalam liontin
itu? Kamu terus menggenggamnya bahkan saat bertarung selama tiga hari tiga
malam melawan peri."
"TIDAK, INI BUKAN SESUATU YANG PENTING..."
Karena Ingrasius memasang wajah panik, aku punya
firasat sangat buruk dan langsung mengambil liontin itu.
Sambil menghindar dari Ingrasius yang mencoba
merebutnya kembali dengan nekat, aku membuka liontin itu.
Di dalamnya, terdapat helai rambut hitam yang diikat
dengan benang.
"Hei, Ingrasius."
Omong-omong, rambutku juga hitam. Aku sampai
merinding.
Kalau dipikir-pikir, di Reruntuhan Kastil Ogdanel,
para prajurit biasanya meminta orang lain untuk memotongkan rambut mereka, dan
seingatku Ingrasius ada di dekat sana saat itu.
Bahkan aku pun terdiam dibuatnya. Sementara itu,
Ingrasius gemetar dengan wajah yang memerah dari leher hingga ke ubun-ubun.
"I-INI KEJUTAN. APAKAH INI SAMPAH YANG TIDAK
SENGAJA MASUK?"
"O-oh, begitu ya. Ini hanya
kebetulan, ya, hanya kebetulan saja."
Bagaimanapun juga, itu jelas rambutku yang diambil
Ingrasius tanpa izin. Maksudku, bagaimana ceritanya rambut bisa terikat benang
dengan sendirinya lalu masuk ke dalam liontin?
Namun, aku tidak punya keberanian untuk mengungkitnya
lebih jauh.
Aku berpura-pura percaya pada kebohongan yang sudah jelas
itu. Bagi Ingrasius yang wajahnya merah padam seolah hendak terbakar, dan
bagiku, inilah pilihan terbaik.
"KALAU
BEGITU, SAYA PERMISI."
Setelah Ingrasius pergi melesat seperti angin, aku
menghela napas panjang. Ya ampun, apa yang sebenarnya harus kulakukan sekarang?
Saking terkejutnya, aku menyandarkan tubuh ke dinding
sambil memegangi kepala.
Saat aku sedang tersiksa oleh sakit kepala yang hebat
memikirkan hubungan dengan Ingrasius ke depannya, tiba-tiba aku merasa mencium
aroma bunga yang manis.
Tiba-tiba, sebuah tangan terulur dan menyeretku masuk ke
dalam ruangan di belakangku. Aku yang diseret ke dalam kegelapan hanya bisa
menatap pintu yang tertutup perlahan.
"Kamu ini benar-benar keterlaluan, ya. Melihatmu
bermesraan tepat di depan mata dan hidungku seperti itu membuatku sedih."
"Kalau itu terlihat seperti bermesraan bagimu,
mungkin kamu harus mempertimbangkan untuk pergi ke dokter militer. Bagaimana
menurutmu, Morgraid?"
Morgraid, pelaku yang menculikku, membenamkan wajahnya di
tengkukku. Aku menghela napas karena dia masih saja bermanja-manja padahal
kukira penyakitnya sudah sembuh.
"Apa, demammu kambuh lagi? Cepat sana, masuk ke
dalam tempat tidur."
"Wah, jahat sekali. Padahal aku sudah membantumu
keluar dari militer, tapi kamu malah bicara begitu. Kamu benar-benar musuh para
gadis."
Lagi-lagi soal itu, aku mengerutkan kening.
Sejak hari aku membawakannya buah sebagai buah tangan,
Morgraid tidak henti-hentinya bilang akan mendepakku dari pasukan. Kalau itu
diriku yang dulu, mungkin aku akan senang, tapi sekarang, aku merasa hal itu
tidak mungkin terjadi.
Isfarna, Profesor Alhanzen, bahkan mungkin Ingrasius
juga.
Jika aku keluar dari militer, mereka pasti akan ikut
menempel dengan merepotkan. Lagipula, karena aku sudah terlanjur berjanji
seperti itu, jika aku tidak membawa mereka, aku sendiri yang akan kena batunya.
Saat memikirkan hal itu, aku sama sekali tidak yakin
Agrastein akan mengangguk setuju.
Kalau hanya diriku sendiri mungkin masih ada cara, tapi
betapapun misterius dan mampunya Morgraid, menurutku didepak dari pasukan
hanyalah mimpi di siang bolong.
"Makanya, aku bilang hentikan pembicaraan itu.
Bagaimanapun juga, kamu tidak akan bisa membujuk Agrastein."
"Tapi, kamu akan senang kan, kalau itu
terwujud?"
Mata Morgraid menusuk tepat ke arahku. Aku tanpa sadar
mengangguk.
"Yah, itu sih iya."
"Kalau begitu, masalah selesai."
Morgraid tersenyum lebar dan memelukku lagi. Saat
aku mencoba melepaskan pelukannya karena ingin dia berhenti mode
bermanja-manja, saat itulah dia bicara.
"Tidak apa-apa, kan? Kalau kamu keluar dari militer,
kita tidak akan bisa bertemu lagi. Lagipula, membujuk Agrastein itu menguras
tenaga bahkan bagiku."
Morgraid berbisik tepat di telingaku dengan nada yang
terdengar seperti akan menangis. Kata-kata Morgraid yang baru pertama
kali kudengar itu membuatku membeku seketika.
"Jadi, jadi tidak apa-apa kan kalau aku sedikit
menikmati saat-saat ini?"
Morgraid pun menyandarkan tubuhnya padaku.
Kulitnya yang dingin hingga membuatku bergidik menempel
erat, dan aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Morgraid memelukku hingga terasa
sakit.
Setelah itu, untuk beberapa saat, Morgraid tidak mau
melepaskanku.
◆◆◆
"Mikkanen, aku mengeluarkan surat perintah untukmu. Jadilah instruktur di Universitas Militer di Ibu Kota."
"Siap, saya mengerti—tunggu, apa?"
Lengan yang kuangkat untuk memberi hormat terhenti di
udara. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar, aku menatap
Agrastein seolah melihat hantu.
Bocah jenius keras kepala yang akan membangun gunung
mayat hanya demi kemenangan umat manusia itu, mengizinkan seorang Hunter
mundur ke garis belakang?
Sambil tetap menunduk menatap dokumen, Agrastein
bicara dengan nada bosan.
"Apa kamu tidak dengar? Kalau begitu akan
kukatakan lagi. Naiklah kereta api lusa dan pergilah ke Universitas Militer di
Ibu Kota. Ini adalah perintah terakhir yang kuberikan padamu."
Aku mencoba mencubit pipiku dan rasanya sakit. Jadi,
ini bukan mimpi.
"Ngomong-ngomong, Isfarna dipindah tugaskan ke
Departemen Propaganda Militer, dan Ingrasius mendapatkan tawaran dari Seminari
Gereja. Alhanzen dikirim ke laboratorium di Ibu Kota."
Mendengar Agrastein melanjutkan ucapannya, kepalaku
rasanya mau pecah karena heran dan terkejut. Jangan-jangan, dia tidak hanya
melepaskanku, tapi hampir seluruh anggota party keluar dari medan
perang?
Tidak mungkin. Terutama bocah jenius itu, mustahil dia
mengizinkan hal ini.
"Ke-kenapa tiba-tiba...? Bukankah Anda selalu bilang
kalau medan perang ini butuh berapa pun jumlah Hunter yang ada? Lalu
bagaimana dengan peri yang bisa menyamar itu?"
"Mikkanen."
Agrastein menatap lekat-lekat ke arahku yang terus
melontarkan pertanyaan.
"Bukankah ini yang kamu inginkan? Setidaknya, begitulah yang kudengar dari Morgraid. Kalau begitu,
seharusnya kamu bersenang hati."
Morgraid. Mendengar nama itu, aku teringat kejadian
beberapa saat lalu. Tentang Morgraid yang menyeretku ke dalam ruangan dan
bermanja-manja setelah tugas militer berakhir.
Kan sudah kubilang, aku yang akan mendepakmu dari
militer.
Entah dari mana, aku merasa seolah bisa mendengar tawa
menyeringai Morgraid. Jadi, bagaimana cara Morgraid membujuk bocah jenius ini?
"Apa yang sebenarnya Anda katakan pada
Morgraid?"
"Aku tidak akan bicara. Membicarakan hal ini
padamu berarti melanggar strategi militer. Kalau sudah mengerti, segera
berkemas dan terbanglah ke Ibu Kota."
Seolah ingin memutus percakapan, Agrastein mulai
menandatangani dokumen yang dibacanya dengan suara keras. Dia bahkan
tidak melirikku lagi.
"Te-terima kasih, saya permisi."
Tidak tahan dengan keheningan, aku memberi hormat dan
memegang gagang pintu.
Tentu saja, ada ribuan tanda tanya berputar di kepalaku.
Tapi, di lubuk hatiku, ada bagian dari diriku yang kegirangan karena bisa
menjauh dari medan perang.
"...Bagaimanapun juga, aku yakin kamu akan kembali
lagi, tidak peduli seberapa besar usaha Morgraid untukmu."
Saat pintu hampir tertutup, Agrastein bergumam pelan.
Pintu baja itu menutupi sosok Agrastein tepat saat aku menoleh.
"Hei, si lamban, apa yang kamu bengongkan? Kamu
menghalangi jalan!"
Isfarna menendang kakiku dengan kesal. Aku yang
sedang melamun saat hendak naik ke kereta api pun tersadar.
"Maaf."
Aku terburu-buru memasukkan koper. Di belakang, Profesor
Alhanzen sedang dibantu Ingrasius untuk menaikkan peralatan laboratoriumnya ke
atas kereta.
Isfarna melirik wajahku lalu mengerutkan kening.
"Kamu, wajahmu pucat sekali. Bukankah lebih baik
kamu istirahat?"
"Ti-tidak, aku tidak apa-apa."
Aku menggeleng lemah.
Isfarna masih tampak curiga, tapi dia segera
dipanggil oleh Profesor Alhanzen untuk membantu barang bawaan yang lain. Aku
yang ditinggal sendirian menghela napas.
Aku masih merasa tidak percaya. Bahkan lebih bisa
dipercaya jika ini hanyalah ilusi yang diciptakan peri.
Keinginan yang selalu kupendam untuk hidup santai di
garis belakang terkabul begitu saja dengan mudahnya. Aku masih memiringkan
kepala karena keberuntungan yang seperti memenangkan lotre ini.
"Wah wah, wajahmu terlihat sangat suram, ya.
Bukankah keinginanmu sudah kukabulkan? Karena itu, aku ingin kamu tersenyum
untukku."
Saat aku mendongak, Morgraid sedang tersenyum.
Berbeda dengan anggota lainnya, tidak ada surat
perintah untuk Morgraid. Itu berarti, Morgraid akan tinggal sendirian di
Reruntuhan Kastil Ogdanel ini.
"Tidak, aku hanya belum bisa
mempercayainya."
"Ahaha, padahal kakimu sudah menginjak kereta api,
lho. Jangan bilang kamu masih ragu bahkan setelah sampai
di Universitas Militer nanti?"
Morgraid mungkin bermaksud bercanda, tapi aku sama
sekali tidak bisa tertawa. Melihat reaksiku, ekspresi Morgraid menjadi kaku.
"...Ya, yah, setelah sebulan berlalu, kamu pasti
akan terlalu sibuk dengan tugas instruktur sampai tidak punya waktu untuk ragu
lagi."
Semoga saja begitu.
Di kereta api di belakang, Profesor Alhanzen
sepertinya selesai berkemas. Dia mengikat tabung reaksi raksasa dengan sabuk
pengaman yang ketat.
"Ah, begitu ya. Jaga dirimu baik-baik, Morgraid.
Berhati-hatilah agar tidak mati."
"Haha, ini medan perang, tahu. Aku juga bisa mati
kalau memang waktunya."
Aku menyadari wajah Morgraid tampak suram.
Aku merasa ada yang tidak beres dan mengerutkan kening.
Padahal seharusnya penyakitnya sudah sembuh, tapi Morgraid yang sekarang tampak
begitu rapuh seolah bisa lenyap kapan saja.
Tanpa sadar, aku keceplosan bicara.
"Baik soal anggota party yang lain maupun
soal surat perintah kita, aku sangat berhutang budi pada Morgraid. Apa ada yang
bisa kulakukan untukmu?"
"Tidak perlu, kita kan rekan seperjuangan. Hal
seperti itu sudah biasa."
Ditolak mentah-mentah, aku pun terdiam. Entah karena
semua barang sudah dimuat atau bagaimana, kereta api mulai bergerak.
Profesor Alhanzen yang berjalan dari belakang menepuk
bahu Morgraid.
"Morgraid, sudah waktunya. Mikkanen, sebaiknya
kamu duduk di kereta jika tidak ingin kepalamu terbentur. Morgraid, kamu juga
harus mundur selangkah."
Mengikuti saran Profesor Alhanzen, aku naik ke
kereta. Kendaraan uap yang menarik kereta itu meraung bersamaan dengan asap
putih.
Seolah baru teringat sesuatu, Morgraid mendongak.
"...Maaf, bolehkah aku meminta satu hal
lagi?"
"Tentu, apa yang harus kulakukan—muph!"
Tepat saat aku mencondongkan tubuh, dia menciumku. Sedetik kemudian, bibir bunga sakura milik Morgraid menjauh.
"A-apa-apaan ini!"
Berbeda denganku yang wajahnya memerah padam,
Morgraid tertawa dengan wajah kusut dan mata yang menggodaku. Melihatnya
seperti itu, aku entah kenapa kehilangan kata-kata.
"Terima kasih, berkatmu aku tidak punya penyesalan
lagi."
Kereta berdecit dan melaju. Dalam sekejap, sosok
Morgraid menghilang dari pandangan.
◆◆◆
Ibu Kota terasa sangat tenang.
Di Reruntuhan Kastil Ogdanel, tidak pernah ada waktu
untuk beristirahat. Peri terus-menerus menyerang, dan banyak prajurit
yang telinganya rusak karena suara ledakan meriam.
Sudah hal lumrah bagi seorang Hunter untuk
selalu waspada kapan pun peri akan mendobrak pintu saat tidur, bahkan ada yang
memeluk bahan peledak agar bisa mengakhiri hidup mereka sendiri saat keadaan
sudah kritis.
Tapi, di sini berbeda.
Memang benar, bayang-bayang perang yang sudah
berlangsung sejak zaman kuno yang kita pelajari di buku sejarah masih ada di
mana-mana, namun ada pemandangan yang mustahil terlihat di medan perang.
Anak-anak bermain Hunter-hunteran dan
mengayunkan pistol mainan di gang-gang. Saat libur, jalanan dipadati orang yang
lalu-lalang, dan senyuman bahagia merekah di sana-sini.
Ini semua mungkin berkat perjuangan mati-matian umat
manusia dari ambang kepunahan hingga akhirnya bisa mengurung para peri di
Reruntuhan Kastil Ogdanel.
Karena itulah, umat manusia kini perlahan meraih kembali
kejayaan masa lalu. Ini adalah hasil dari kegigihan orang-orang hebat yang
menuntut agar garis belakang harus makmur demi perang melawan peri.
Sepuluh tahun sejak masuk militer, aku terus saling
membunuh dengan peri.
Yang selalu kulihat hanyalah hutan dan rawa yang
tenggelam dalam abu, tempat aku berlari tanpa henti sambil berlumuran tanah dan
serpihan daging. Itulah pemandangan yang baru pertama kali kulihat seumur
hidupku.
"Umat manusia benar-benar sudah berkembang
pesat, ya."
"Ti-tidak! Ini semua berkat jasa pahlawan seperti
Anda, Tuan Mikkanen!"
Sekretaris yang ditugaskan padaku sejak tiba di
Universitas Militer tampak seperti prajurit baru dan selalu ketakutan. Duh,
aku menghela napas.
Meskipun dipuji sebagai pahlawan, aku hanyalah Hunter
biasa.
Jika alasanku bertarung melawan peri hanyalah demi
kebahagiaanku sendiri, maka aku tidak ada bedanya dengan prajurit baru ini.
Meskipun aku hanya instruktur biasa, aku diberi
sekretaris, dan itu membuatku merasa canggung.
Medan perang yang dulu ingin kutinggalkan mati-matian,
entah kenapa sekarang justru terasa dirindukan.
Berbagai makanan Ibu Kota yang dulu kunanti-nantikan pun
terasa hambar saat kucicipi.
Kadang, aku jadi merindukan dendeng yang dulu biasa
kumakan di Reruntuhan Kastil Ogdanel.
...Tidak, itu bohong. Aku berani jamin, sampai kapan pun,
aku tidak akan pernah merindukan dendeng yang kering seperti karet itu.
Apapun itu, ada satu beban pikiran besar yang selalu
mengganjal di dadaku sejak datang ke Universitas Militer.
Morgraid, yang ditinggal sendirian.
Hatiku merasa gelisah memikirkan senyuman sedih yang
kulihat saat meninggalkan Reruntuhan Kastil Ogdanel.
Aku jadi khawatir kalau-kalau ada sesuatu yang sangat
besar yang disembunyikan dariku.
Tapi, meskipun begitu, tidak ada yang bisa kulakukan saat
ini.
Mahasiswa baru akan masuk tahun depan, dan tugasku di
Universitas Militer adalah melatih mereka menjadi Hunter yang hebat.
Melihat tumpukan dokumen yang begitu damai, entah kenapa aku menghela napas.
"Permisi, aku datang berkunjung."
Saat itu, ketika aku baru pulang ke rumah sewaan di
pinggiran Ibu Kota.
Di kursi rumah yang gelap, jas putih yang sangat sering
kulihat di Reruntuhan Kastil Ogdanel sedang duduk dengan tenang.
Profesor Alhanzen, yang kini memimpin proyek besar
sebagai Senior Fellow di laboratorium Ibu Kota, ada di sana.
"Apa, kamu datang untuk menyelinap ke tempat tidurku
lagi?"
Aku menghela napas sambil mengambil kunci dari saku.
Profesor Alhanzen, yang dulu selalu tidur menempel
padaku di Reruntuhan Kastil Ogdanel, rupanya juga mengincar tempat tidurku di
Ibu Kota. Dia selalu menyelinap masuk ke rumah dan menungguku pulang.
Sejak tiba di Ibu Kota, aku sudah mengganti kunci
rumah berkali-kali, tapi aku selalu gagal melindungi hidupku dari Profesor
Alhanzen.
Yah, mungkin masih lebih baik daripada Isfarna yang
menyelinap masuk menggunakan sihir di tengah malam.
Dia bersantai membaca jurnal ilmiah seolah itu
rumahnya sendiri. Aku menatap Profesor Alhanzen dengan wajah lesu.
"Aku akan menyeduh teh, mau?"
"Tolong, ya."
Aku menyalakan kompor dan mengobrol tentang hal-hal
sepele sambil menunggu air mendidih.
Tapi karena sejak di Ibu Kota aku hanya melihat
dokumen membosankan, aku lebih banyak mendengar cerita Profesor Alhanzen saja.
"Aku rasa setiap laboratorium memiliki
konteksnya masing-masing. Butuh waktu sampai peneliti baru bisa
memahaminya."
Profesor Alhanzen menghela napas.
Rupanya, dia memasang sistem jebakan gas beracun di
ruang kerjanya agar siapa pun yang masuk langsung terkena gas tersebut, dan
ternyata ada seseorang yang terjebak sehingga muncul keluhan.
"Sangat merepotkan. Karena ada berbagai senjata
berbahaya di dalam ruangan, aku sudah menulis di pintunya bahwa dilarang masuk
tanpa izin."
Rupanya sifat penuh curiga Profesor Alhanzen tidak
berubah meskipun sudah di Ibu Kota.
Aku yang tidak tahu harus bilang apa hanya bisa
tersenyum getir. Yah, karena sebagian besar penelitian Profesor Alhanzen adalah
rahasia kelas negara, mungkin itu tidak bisa dihindari.
Di Reruntuhan Kastil Ogdanel pun, satu-satunya orang
yang bisa masuk ke ruangan Profesor Alhanzen hanyalah segelintir jenderal
seperti Agrastein. Mungkin tidak ada seorang pun yang bisa menyelinap masuk.
...Tunggu, bukankah Morgraid masuk begitu saja dengan
wajah tanpa dosa?
Aku teringat rekan seperjuangan yang terus kupikirkan
sejak meninggalkan medan perang. Entah bagaimana caranya Morgraid menyelinap
masuk ke laboratorium itu saat itu.
Tanpa sadar, aku bertanya pada Profesor Alhanzen.
"Ngomong-ngomong, apa Profesor Alhanzen tahu
kalau Morgraid pernah menyelinap masuk ke laboratorium? Maksudku, sekitar waktu
keributan soal peri yang menyamar itu."
"? Aku tidak tahu kalau Morgraid pernah masuk ke
lab."
Aku sedikit terkejut dengan kata-kata Profesor
Alhanzen.
Profesor Alhanzen adalah orang yang sangat penuh
curiga, tipe orang yang tidak percaya pada jembatan batu dan lebih memilih
membangun jembatan baru.
Jadi, aku mengira dia sudah sadar sejak lama kalau
Morgraid menyelinap masuk dan sudah menyiapkan langkah pencegahan.
"Apakah benar Morgraid pernah masuk ke lab-ku
tanpa izin?"
"Ya, aku bahkan sempat bicara dengan Morgraid di
sana. Apa Profesor Alhanzen tidak tahu?"
Profesor Alhanzen memasang wajah serius.
"Aku rasa aku selalu memasang sensor pendeteksi
manusia di lab tempatku bekerja. Dan aku rasa sensor itu tidak pernah
meloloskan siapa pun. Jika ada yang menyelinap masuk, seharusnya aku segera
mendapat pemberitahuan."
Profesor Alhanzen membelalakkan mata seolah baru
menyadari sesuatu. D
ia mengambil buku catatan lusuh dari sakunya,
membaliknya, dan menatap lekat-lekat pada salah satu halaman.
"...Begitu ya, benar bahwa ada seseorang yang
menyelinap masuk ke laboratorium. Memang benar ada peak yang jelas pada
sensornya."
Jarang sekali Profesor Alhanzen melakukan kesalahan
seperti ini. Mungkin ini yang disebut "kera pun bisa jatuh dari
pohon".
"Begitu rupanya, aku mengerti teka-tekinya. Jika
mempercayai kata-kata Mikkanen, Morgraid menyimpan sesuatu yang
mengejutkan."
Profesor Alhanzen bergumam pelan.
Aku tidak tahan untuk bertanya. Bukankah ini hanya soal Profesor
Alhanzen salah membaca sensor?
"Hal yang kubicarakan adalah sensor pendeteksi
peri."
Profesor Alhanzen menatapku dengan tenang.
◆◆◆
Aku menatap lekat-lekat grafik yang ditempel Profesor
Alhanzen di buku catatannya. Jari ramping Profesor Alhanzen menunjuk ke bagian
di mana garis grafik itu melonjak naik secara drastis.
"Sensor manusia tidak mendeteksi siapa pun selain
Mikkanen dan aku. Namun, di sensor peri, ada peak yang tidak bisa
dijelaskan hanya dengan kelinci percobaan di lab. Ini pastilah Morgraid."
"..."
Seharusnya aku sadar dari awal kalau ada yang aneh.
Seseorang tidak bisa hidup hanya dengan buah dan teh.
Aku tahu betul hanya ada satu pengecualian untuk hal itu—makhluk yang tidak
perlu makan daging pun tetap tidak akan mati kelaparan.
Morgraid tidak pernah merahasiakan Geass
miliknya bukan karena dia tidak mau memberi tahu, tapi karena dia adalah
seorang peri.
Geass itu sendiri tidak diperlukan
baginya. Sebab, aturan mengenai Geass yang menjadi syarat untuk
menguasai sihir hanyalah berlaku bagi manusia.
Semua itu adalah bukti nyata bahwa Morgraid adalah
seorang peri.
Profesor Alhanzen mengerutkan kening.
"Mikkanen, apakah kamu tidak terkejut? Selain
merasa malu karena tidak menyadarinya sampai sekarang, aku merasa kita perlu
mempertimbangkan kembali hubungan pertemanan kita selama ini."
Bicara seenaknya saja, batinku sambil tersenyum kecut.
Tentu saja aku sangat terkejut. Aku hampir pingsan saat
tahu bahwa teman lama yang kupercayai sebagai manusia ternyata adalah jenis
peri yang selama ini kami bunuh dalam pertempuran hidup dan mati.
Namun, ada hal yang tidak berubah.
"Tidak, aku hanya tertegun saja. Tapi, meskipun
dia seorang peri, Morgraid tetaplah rekan seperjuanganku."
"Apakah memang begitu adanya?"
Ya, Morgraid akan tetap menjadi rekan seperjuanganku.
Kami telah berjuang bahu-membahu dalam perang yang
tak berujung melawan peri ini. Dia adalah teman yang bisa diandalkan, yang
saling menyelamatkan nyawa dan selalu bisa kupasrahi punggungku.
Jika begitu, perasaanku terhadap Morgraid tidak akan
berubah.
Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu.
"Morgraid tidak pernah memakan manusia. Peri
yang tidak memakan hati manusia pada akhirnya akan mati kelaparan, bukan?"
"Menurut eksperimen, benar begitu. Peri yang
kehilangan hatinya akan menderita karena gangguan fungsi tubuh pada awalnya,
lalu saat melewati titik tertentu, mereka akan mengamuk. Jika rasa lapar itu
tidak segera diatasi, mereka akan binasa."
Gangguan fungsi tubuh.
Selama ini, Morgraid sering jatuh sakit dan terbaring
di tempat tidur.
Jika itu adalah bentuk kelaparan hati seorang peri,
maka masuk akal mengapa dia selalu menolak pergi ke dokter militer. Dan itu
berarti, kondisi Morgraid adalah bukti nyata bahwa dia tidak pernah memakan
manusia.
Dia memprediksi bahwa suatu hari nanti, dia akan
kehilangan nyawanya.
Si bodoh itu, apakah aku sebegitu tidak bisa
diandalkannya sampai dia tidak memberi tahuku hal itu? Aku menggertakkan gigi,
marah pada ketidakmampuanku sendiri.
"Tunggu... bagaimana caranya Morgraid membujuk
Agrastein? Bagaimana bisa dia diizinkan melepaskanku dari medan perang?"
"Entahlah, hanya itu yang masih menjadi
misteri."
Ibu Agung.
Tiba-tiba, sebuah kata melintas di kepalaku.
Ada sesuatu, aku pasti tahu sesuatu. Ibu Agung—nama peri
yang disebutkan itu, aku pasti pernah mendengarnya di suatu tempat.
"Ibu
Agung... Peri Asal."
"?"
Baru
sekarang, aku akhirnya menyadarinya.
Selama
ini, umat manusia telah berkali-kali berada di ambang kepunahan. Dalam
permainan, hampir semua kejadian itu disebabkan oleh satu sosok peri saja.
Namanya adalah Peri Asal.
Peri yang menjadi Final Boss dalam skenario
permainan.
Sosok yang akan dilawan karakter pemain di akhir cerita,
akar dari segala peri, dan sosok peri misterius yang belum pernah dilawan umat
manusia sebelumnya.
Sihir Peri Asal sangat sederhana namun memiliki ancaman
yang tidak masuk akal; itulah alasan mengapa dia menjadi Final Boss di
permainan aslinya.
Sihirnya adalah sihir untuk melahirkan peri.
Sebagian besar peri di dunia ini adalah anak dari Peri
Asal. Hutan Peri itu sebenarnya hanyalah sarang dari Peri Asal.
Peri Asal bersembunyi di kedalaman hutan dan
terus-menerus mengerahkan sihirnya.
"Melahirkan" di sini bukan berarti menyakiti
diri sendiri untuk menciptakan kehidupan seperti manusia. Peri-peri itu
tiba-tiba muncul dari balik bayang-bayang pepohonan hutan, seolah-olah seperti
kabut.
Jika boleh dibilang, hutan itu sendiri adalah rahim dari
Peri Asal.
Namun, Peri Asal pun tidak bisa lolos dari kutukan
seorang peri. Jika hanya bersembunyi di kedalaman hutan, dia tidak bisa
menyembunyikan rasa lapar di hatinya.
Oleh karena itu, Peri Asal akan melakukan pemangsaan
setiap seratus tahun sekali.
Dia melahirkan banyak peri unggul untuk melindungi
dirinya sendiri, lalu memimpin mereka menyerbu negeri manusia.
Empat raja iblis yang dulu mengamuk di tanah ini dan
hampir memusnahkan umat manusia, semuanya lahir pada saat itu.
Itulah Ibu Agung.
Tentu saja aku tahu tentang Peri Asal, bahkan sejak
sebelum aku lahir. Tapi, mengapa aku tidak menyadarinya?
Itu karena Peri Asal sejak awal tidak memiliki nama.
Peri Asal sangat berhati-hati. Saat
memangsa pun, dia hanya memakan sisa-sisa manusia yang telah dihancurkan oleh
anak-anaknya.
Karena itulah, tidak ada satu pun orang yang bisa
bertahan hidup untuk menyampaikan pengetahuannya.
Itulah mengapa umat manusia seharusnya tidak tahu tentang
Peri Asal, dan itu juga berlaku dalam skenario permainannya.
Hanya di babak akhir, nama Peri Asal baru muncul saat
melawannya. Begitulah tipe bosnya.
Peri Asal tidak pernah menampakkan diri selain di babak
akhir skenario permainan. Hanya ada peri-peri yang menyamar menjadi manusia
untuk menjebak karakter pemain yang sesekali menyebut kata Ibu Agung.
Peri yang menyamar menjadi manusia?
Wajahku memucat seketika.
"Mikkanen, apakah kamu menyadari sesuatu?"
Tunggu, apa yang tertulis dalam teks flavor pada
misi itu? Aku memegangi kepalaku, memeras ingatan yang tersisa sedikit demi
sedikit.
'Peri yang menyamar menjadi manusia adalah bencana yang
pernah mengamuk di medan perang. Muncul bersama kawanan peri dalam jumlah
besar. Selain itu, ada rumor bahwa peri raksasa yang disebut peri-peri itu
sebagai Ibu Agung telah melahap segalanya. Reruntuhan
Kastil Ogdanel terlindungi berkat satu Hunter yang mengorbankan nyawanya.'
"Jangan-jangan, ini adalah kejadian itu?"
Seorang Hunter mengorbankan nyawanya.
Peri yang lapar akan jatuh dalam kondisi mengamuk.
Peri yang mengamuk memiliki kekuatan yang luar biasa.
Morgraid membujuk Agrastein.
Satu per satu kepingan teka-teki mulai terpasang di
kepalaku. Gigiku semakin kuat menggertak, dan kepalan tanganku memutih.
"Terima kasih, Profesor Alhanzen. Berkat Anda, aku
tahu apa yang harus kulakukan sekarang."
"...Mikkanen?"
Aku meraih Longsword yang tergantung di dinding.
Sejak pindah dari medan perang ke Ibu Kota, ini pertama
kalinya aku menyarungkan pedang ini di pinggangku. Sebab, dalam kehidupan Ibu
Kota yang damai, benda ini sama sekali tidak dibutuhkan.
Tapi, sekarang berbeda.
Aku mengelus Longsword di pinggangku.
Benar, aku memang atasan yang tidak berguna. Aku
samar-samar menyadari bahwa rekan seperjuanganku sedang dalam kesulitan, namun
hatiku malah terlena oleh kehidupan tenang di garis belakang.
Tapi, tetap ada hal yang tidak bisa kulepaskan.
"Berhenti dari militer bisa kulakukan nanti
saja."
"Ke mana kamu pergi di tengah malam begini? Lagipula,
membawa senjata tanpa izin itu melanggar aturan militer."
Aku tidak boleh merepotkan Profesor Alhanzen. Ini
adalah tugasku sebagai atasan Morgraid, sebagai rekan seperjuangan Morgraid.
"Aku hanya perlu pergi memarahi si bodoh
itu."
"Mikkanen?"
Meninggalkan kata-kata itu, aku melompat ke dalam
kegelapan malam.
◆◆Selingan: Monolog Seorang Pengembara◆◆
Celah di antara kaki peri yang telah bercampur dengan
manusia, itulah kampung halamanku. Sejak lahir, aku sudah tahu diriku ini apa.
Seorang anak haram, perpaduan antara manusia dan peri yang seharusnya tidak
boleh ada.
Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa terlahir ke
dunia ini sampai sekarang. Mungkin itu hanyalah keisengan ibuku. Anak yang
dilahirkan dengan menyakiti rahimnya sendiri—anak yang lahir dari benih
manusia—sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Itulah diriku. Jadi, aku tidak tahu nama maupun rupa
ayahku. Bahkan, aku ragu apakah ingatan tentang ibuku masih tersisa di
kepalaku, karena ibuku adalah peri yang benar-benar sejati.
Namun, aku sama sekali tidak peduli tentang ayahku yang
mungkin sudah mati sejak lama. Bagaimanapun juga, sejak lahir, hidupku memang
sudah berakhir.
Seperti peri, ada kekosongan besar yang menganga di
hatiku. Tapi, karena aku memiliki kecerdasan manusia yang tanggung, aku justru
bisa membenci para peri itu.
Singkatnya, aku adalah Frankenstein yang tidak
tertolong. Sejak lahir, dadaku selalu terasa dingin, dan aku sangat mendambakan
kehangatan hati manusia dengan cara yang buruk.
Namun di sisi lain, aku merendahkan peri yang hanya
jatuh menjadi binatang buas yang rakus akan hati manusia. Aku sangat
mendambakan menjadi manusia yang bisa tertawa, marah, dan sedih, sampai-sampai
aku ingin berteriak.
Namun, rasa lapar di hati selalu berbisik di kepalaku
agar aku memangsa manusia saja. Seharusnya aku bisa memilih salah satu jalan:
entah menjadi peri yang tanpa berpikir panjang memangsa manusia demi memuaskan
nafsu, atau mengakhiri hidupku sebagai manusia—meskipun hanya tiruan.
Tapi aku terus saja hidup. Aku hanya ingin memiliki hati
manusia.
Aku berpura-pura menjadi bayi manusia dan dipungut oleh
pasangan yang berhati mulia. Awalnya, kupikir semuanya akan berjalan lancar.
Karena aku bisa hidup dengan manusia sejak kecil, pasti aku akan mendapatkan
hati itu.
Itu adalah pemikiran yang naif. Kebohonganku segera
terbongkar.
Seberapa besar pun kasih sayang yang dicurahkan pasangan
itu, aku tidak mengerti apa itu "hati". Aku tidak diajari kapan, di
mana, dan bagaimana cara tertawa.
Aku tidak mengerti bahwa lelucon ayah angkatku adalah
sebuah lelucon. Setelah melihat wajah kaku ayah angkatku, barulah aku sadar aku
telah melakukan kesalahan.
Aku berpikir telah melakukan hal bodoh, jadi ketika ibu
angkatku mematahkan tulang kakinya, aku tertawa terbahak-bahak dengan wajah
yang kaku. Bahkan saat dimarahi, aku tidak tahu ekspresi apa yang harus
kutunjukkan.
Lagipula, apa itu tertawa? Orang bilang manusia tertawa
saat mereka merasa senang, tapi situasi macam apa yang membuat orang merasa
senang?
Aku tidak mengerti apa pun. Akhirnya, jati diriku
sebagai peri segera terbongkar.
"Monster, kau!"
Orang yang aku dambakan, orang yang kuharapkan bisa
hidup bersama, malah mengejarku. Aku terus melarikan diri, dan masih
berniat untuk kembali ke desa jika suasana sudah tenang.
Namun, sialnya, mereka semua sudah mati. Dibunuh oleh
peri.
Apa yang dilakukan manusia di saat seperti ini? Karena
tidak tahu, aku melakukan satu-satunya hal yang kupahami.
Aku memutar wajahku menjadi seringai yang kacau. Sejak
saat itu, aku berpindah-pindah dari satu pasangan ke pasangan lain, mungkin
sekitar sepuluh kali.
Paling lama kami hidup bersama hanya setahun, dan dalam
kasus terburuk, aku diusir dalam sehari. Aku selalu terbongkar sebagai peri dan
hampir dibunuh.
Semua itu hanya karena aku tidak mengerti hati manusia.
Aku menangis di tempat yang seharusnya tidak perlu menangis.
Karena aku tidak mengerti apa itu amarah, aku bahkan
tidak tahu apakah orang sedang membentak atau tertawa. Dengan kondisi seperti
itu, mustahil aku bisa hidup tanpa dicurigai.
Sungguh, bagaimana cara manusia memahami emosi mereka
sendiri? Itu adalah pertanyaan yang sangat ingin kuketahui sampai mati, dan
sebuah keinginan yang buruk.
Aku mencoba berguru pada pengrajin di pegunungan.
Dipekerjakan oleh pedagang untuk menyeberangi lautan.
Menggenggam beliung berdampingan dengan penambang. Di
mana pun itu, aku selalu diusir.
Begitulah, aku terus hidup dengan memendam keinginan yang
tidak pernah terwujud. Aku tidak tahu apa itu persahabatan, jadi mustahil
bagiku membuat teman.
Aku tidak pernah disukai oleh orang lain, dan setiap kali
aku mengenal seseorang, tak lama kemudian mereka mencoba membunuhku. Meski
hidup lama, aku tidak pernah mahir berpura-pura menjadi manusia.
Kekosongan di dadaku semakin membesar, seolah siap
menelanku kapan saja. Akhirnya, aku menjadi pengembara yang berkelana.
Sekitar seribu tahun setelah aku lahir. Umat manusia
hampir punah karena terdesak oleh para peri.
Aku hanya menonton dalam diam saat wilayah mereka yang
tersisa terus jatuh satu per satu. Sudah bisa diduga.
Manusia tidak seahli peri dalam menggunakan sihir. Aku
juga tidak peduli saat kota tempatku tinggal dulu hancur.
Dunia ini akan menjadi milik peri, dan dengan begitu,
konsep "hati" akan hilang selamanya. Manusia
yang bertahan hidup pun sudah kehilangan hati mereka sejak awal.
Banyak yang menjadi gila dan mengakhiri hidup sendiri.
Bahkan tentara yang masih bertarung melawan peri di medan perang memiliki mata
yang redup karena keputusasaan.
"Terserah apa yang terjadi," pikirku. Keinginan
untuk memiliki hati manusia tidak akan pernah tercapai.
Kalau begitu, biarlah anak haram sepertiku punah bersama
dengan manusia lainnya. Saat aku sudah menyerah pada segalanya itulah.
Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada satu anak. Sudah
seribu tahun aku hidup, baru kali ini aku melihat hati yang menyala-nyala
sekuat itu.
Yang terpenting, matanya belum kehilangan cahaya.
Meskipun semua orang berpikir manusia tidak bisa selamat karena jumlahnya sudah
di bawah satu juta, prajurit baru bernama Mikkanen itu tidak menyerah pada hari
esok manusia.
Tanpa ragu sedikit pun, dia menerjang kawanan peri dan
mengayunkan Longsword-nya seperti iblis. Langkahnya tidak menunjukkan
keraguan bahwa kehidupan yang damai akan kembali.
Karena terlalu menyilaukan, aku tidak bisa memalingkan
pandangan. Punggung Mikkanen yang terus bertarung itu membangkitkan semangat
para prajurit yang seharusnya sudah putus asa.
Artileri yang tadinya bergumam dengan mata gelap,
kini mengangkut peluru dengan nekat. Penembak yang tadinya hendak melarikan
diri, kini berbalik arah.
Hunter baru bernama Mikkanen itu, sendirian menerangi
medan perang. Dadaku terasa tidak tenang.
Terpikat oleh hati Mikkanen yang bangkit kembali
meski berlumuran darah, aku yang seharusnya sudah menyerah pada segalanya,
melangkahkan kaki.
◆◆◆
Sebagai Hunter yang menyusup ke militer, aku
segera menjadi satu-satunya anggota party Mikkanen. Setelah seribu tahun
perang, jumlah Hunter hanya bisa dihitung dengan jari.
Begitulah, aku yang seharusnya tidak memiliki hati,
berlari menembus medan perang bersama Mikkanen. Aku yang seharusnya tidak
peduli pada apa pun, entah mengapa kini bertarung sambil saling melindungi
punggung dengan manusia.
Hanya dengan bertarung bersama Mikkanen, dadaku
terasa hangat. Dan yang terpenting, untuk pertama kalinya seumur hidup, aku
tidak diusir.
Saat aku tertawa melihat mayat prajurit yang tewas,
Mikkanen memukulku. Dia memukulku dan mengajariku bahwa kematian seorang
prajurit adalah sesuatu yang harus diratapi dan disedihkan.
Kepada diriku yang tidak mengenal hati, dia
mengajariku tentang hati sedikit demi sedikit.
"Ini, anggur gunung. Manis, kan?"
"Jangan
memasang wajah cemberut."
"Bodoh.
Manis itu artinya senang, kalau begitu kamu harus tertawa."
Saat
memakan buah yang manis, aku hanya perlu tertawa. Itulah yang
diajarkan Mikkanen saat kami dikepung peri dan nyawa kami bisa terenggut kapan
saja.
"Ini? Ini namanya teh."
"Memangnya kenapa kalau tertawa meskipun tidak
manis?"
"Minuman seperti ini harus dinikmati aromanya.
Hal-hal kecil seperti ini menyenangkan, kan?"
Saat meminum teh yang berkilau bak ambar, aku hanya
perlu menikmatinya. Di kota yang dulu hilang direbut manusia, di rumah
puing-puing yang kini dikuasai peri, Mikkanen mengambil daun teh berdebu dan
mengajariku hal itu.
Tangan bayi yang tidak tahu apa-apa tentang hati ini
diraih oleh Mikkanen, dia mengajariku segalanya dengan sabar. Dia selalu ada di
sisiku.
Aku hampir gila.
"Tentu saja, kita adalah rekan yang saling
melindungi punggung di medan perang. Kalau kamu kesusahan, aku akan
mengulurkan tangan. Jadi, andalkanlah aku."
Untuk pertama kalinya, seseorang menyebutku sebagai
teman. Hanya dengan itu saja, dadaku terasa hangat.
Saat berlari dengan gegabah, Mikkanen semakin banyak
mendapatkan rekan seperjuangan. Melihatnya bercanda dengan
orang-orang yang dia percayai, aku merasa sangat iri.
Karena hati itu adalah sesuatu yang tidak aku miliki.
Hati manusia itu sungguh indah saat dilihat dari dekat.
Ah, untuk pertama kalinya seumur hidup, aku merasa
bersyukur pernah lahir ke dunia. Meskipun tubuhku ini sebentar lagi akan
ditelan kegilaan dan akhirnya menemui ajal.
Rasa lapar ini semakin parah. Aku memang mendapatkan hati
dari peri melalui sihir, tapi aku tahu itu tidak akan cukup karena aku tidak
memakan otak manusia.
Namun, aku sudah tidak ingin menjadi peri lagi. Sampai
ajalku tiba, aku ingin terus berpura-pura menjadi manusia yang diajarkan oleh
Mikkanen.
"Sebenarnya aku berniat keluar dari militer. Jadi
aku sempat meminta Isfarna untuk mengeluarkanku dari party..."
Ini dia, pikirku. Pura-pura menjadi manusia yang gagal
kulakukan setelah mendambakannya, inilah akhirnya.
Aku akan mengabulkan keinginan Mikkanen, lalu mati. Sejak
saat itu, segalanya berjalan sangat lancar.
Aku mengajak Mikkanen secara halus, dan meluluhkan hati
rekan seperjuangannya yang sempat renggang. Kini, hati mereka yang bisa
mengungkapkan perasaan dengan jujur itu sangat indah.
Karena itulah, aku bisa berusaha. Sejak mendengar peri
yang bisa menyamar muncul, aku semakin bersemangat membujuk Agrastein.
Aku tidak bisa membiarkan Mikkanen bertarung melawan
makhluk itu. Meskipun Mikkanen baru saja bangkit, dia tetap akan terbunuh
olehnya.
Hanya itu satu-satunya hal yang tidak bisa kubiarkan,
tidak bisa kusetujui. Aku bertanya-tanya, apakah sekarang Mikkanen dan yang
lain bisa hidup bahagia di Ibu Kota?
Rasa
lapar membuat tubuhku mulai berderit. Sudah waktunya.
Peri yang menyamar itu, dan dalang yang
melahirkannya, pastilah dia. Saat pertama kali mencium aroma peri
itu di laboratorium, hidungku terasa sakit.
Aku tahu betul tentang dia—makhluk yang memiliki kekuatan
tak terhingga dan membuat perutku mual. Termasuk diriku, peri hebat bisa
menyembunyikan jantung mereka.
Semakin kuat mereka, semakin sulit menemukan tempat
persembunyian jantung itu. Tentu saja, aku tidak tahu di mana dia
menyembunyikan jantungnya.
Mustahil aku bisa membunuhnya. Bahkan jika aku menjadi
liar karena kelaparan, paling tidak aku hanya bisa memojokkannya ke kedalaman
Hutan Peri.
Setelah memberinya beberapa luka, aku akan menemui ajal
sendirian di dalam hutan. Tapi, jika itu bisa membeli kehidupan Mikkanen yang
bahagia, maka tidak masalah.
Berakhir di kedalaman Hutan Peri, lalu mati dengan saling
menusuk bersama makhluk keparat itu. Itulah sumpah yang kuucapkan saat membujuk
Agrastein.
"Sudah lama kita tidak bertemu, ya, Ibu. Mari kita bertengkar selayaknya ibu dan anak."
Meskipun aku sedang menuju kematian yang selama ini
kutakuti, langkah kakiku terasa sangat ringan. Rasanya aku bisa terbang hingga
menembus awan.
"Ah, ternyata ini..."
Mungkin ini yang disebut manusia sebagai cinta, atau
setidaknya tiruannya.
◆◆Selingan: Monolog Seorang
Pengembara - Selesai◆◆
Gerobak
tambang yang kutumpangi secara diam-diam melaju tenang di dalam lorong bawah
tanah.
Sembari bersembunyi di balik peti amunisi, aku
mengernyitkan dahi. Aneh, seharusnya gerobak yang mengangkut prajurit ke medan
tempur ini berisik, bukan?
Lorong itu tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan,
hanya keheningan yang menyesakkan yang melayang di udara. Melihat kondisi medan
tempur yang tak terduga itu, wajahku perlahan menegang.
Aku menghentikan gerobak itu di Pos 003 dengan
tenang.
Meski telah tiba di bawah pos pertempuran sengit yang
pernah kudatangi dulu, tak ada suara satu pun. Biasanya,
raungan peluru meriam dan jeritan para prajurit akan menggetarkan kulitku.
Tempat tidur yang seharusnya dipenuhi prajurit yang
terluka, kini hanya menyisakan seprai putih bersih.
"Apakah tidak ada orang?"
Tanganku meraih tuas palka. Aku melompat keluar dengan
sigap menuju pos yang seharusnya penuh dengan hujan peluru.
"……A-apa ini?"
Seharusnya aku sudah menajamkan saraf dengan tangan yang
menyentuh Longsword, siap menghadapi apa pun yang menerjang pandanganku.
Namun, aku justru tertegun melihat pemandangan yang mustahil ini.
Di pos yang seharusnya menjadi mozaik lumpur dan genangan
darah, bunga-bunga putih bermekaran dengan indahnya.
Kicauan
burung terdengar picit-picit. Suara kepakan sayap lebah yang terbang
kian kemari mengumpulkan nektar seharusnya menjadi suara yang paling jauh dari
medan tempur.
Apa
yang sebenarnya terjadi di sini?
Aku
tersadar dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Aku pun menyadari para
prajurit yang sedang duduk melamun dengan wajah yang kehilangan jiwanya.
Aku
buru-buru mengguncang bahu mereka.
Prajurit yang terus menggumamkan kata-kata tak jelas
sembari meneteskan air liur itu sama saja dengan memohon pada peri untuk
memakan mereka. Namun, mereka hanya memiringkan kepala.
"Hei, kalau tidak bisa bertarung, segera kabur dari
sini!"
Dalam kepanikan mencoba menyadarkan para prajurit, aku
baru menyadari bahwa tidak ada satu pun sosok peri di sekitar. Padahal
biasanya, kawanan peri yang cukup untuk menutupi permukaan bumi pasti sedang
menyerang.
Rasanya terlalu tenang.
"Apa ini, bunga apa ini? Apakah ini sihir atau
semacamnya?"
Medan tempur yang seharusnya masih menjadi tempat peri
dan manusia saling bunuh demi kelangsungan hidup masing-masing, kini terbentang
ladang bunga sejauh mata memandang. Seolah-olah perang tragis itu tidak pernah
terjadi sejak awal.
Aku benar-benar bingung. Apa sebenarnya semua ini?
"Datang sangat terlambat, ya. Aku sudah lelah
menunggu kepulanganmu."
Mendengar suara yang sangat kukenal, baik di dalam game
maupun dunia ini, aku menoleh dengan cepat. Di
balik hamparan bunga putih, Agrastein, sang dalang di balik semua ini, berdiri
dengan tangan bersedekap.
"Ini, sebenarnya apa maksudnya?"
"Bukankah karena kamu menyadarinya, kamu kembali
ke medan tempur yang begitu kamu benci? Ini adalah sihir agung terakhir dari
peri bernama Morgraid."
Agrastein menunjuk ke arah belakang punggungku.
Aku menahan napas saat menatap ke arah telunjuknya, ke
arah hutan peri. Hutan yang seharusnya dipenuhi pepohonan hitam pekat kini
seolah tertutup oleh badai kelopak bunga raksasa yang menjulang melampaui awan.
Melihat kelopak bunga putih murni yang kukenal itu, aku
mau tak mau menyadarinya.
"Apakah itu artinya, Morgraid sudah menjadi peri
yang kehilangan akal sehatnya?"
"Tepat sekali. Sekarang, dia sedang menciptakan
neraka yang melenyapkan peri di sekitarnya, bahkan jika itu adalah mala petaka
sekalipun. Saat itu berakhir, dia akan mati."
Dikatakan bahwa para prajurit biasa telah kehilangan
kewarasan mereka karena sihir agung yang luar biasa itu. Katanya, saat ini
hanya para Hunter berpengalaman yang masih bisa menjaga kesadaran di
medan tempur ini.
"Aku tidak bisa begitu saja meninggalkan pertahanan
hanya karena Morgraid mengamuk. Aku membiarkan para prajurit menjaga pos sampai
batas maksimal, tapi keadaan menjadi lebih merepotkan dari yang kukira."
Agrastein memperlihatkan roti yang melunak karena air di
genggamannya.
Katanya, bahkan shota sinting yang biasanya
bersembunyi jauh di bawah tanah untuk memimpin seluruh operasi pun harus turun
tangan, menyuapi makanan ke mulut para prajurit yang telah kehilangan jiwanya.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Kamu datang untuk menyelamatkan Morgraid, kan? Kalau tidak segera
pergi, rekan seperjuanganmu itu benar-benar akan mati."
Mendengar kata-kata Agrastein, aku membelalakkan
mata.
Aku sempat berpikir bahwa aku harus melawan
Agrastein. Meskipun aku tidak ingin memikirkannya setelah tahu sihirnya, aku
tahu aku tidak bisa menghindarinya.
"Itu... bukankah Anda akan menghentikanku?"
"Tidak. Kupikir lebih baik kamu pergi sebelum aku
berubah pikiran."
Aku tidak tahu mengapa.
Bukankah shota sinting inilah yang membuat
kesepakatan dengan Morgraid untuk membiarkan kami hidup di garis belakang
sebagai ganti waktu beberapa tahun?
Namun, sekarang bukan saatnya bagiku untuk menanyakan
keraguan seperti itu.
"Terima kasih banyak."
Aku segera memberi hormat dan berbalik. Tanpa menoleh
lagi, aku berlari menuju badai kelopak bunga yang menjulang ke langit, menuju
ke tempat Morgraid berada.
◆◆◆
Setiap langkah yang kuambil, badai kelopak bunga
raksasa itu tampak semakin besar seolah-olah hendak menimpaku. Bersamaan dengan
itu, hawa dingin yang membuat bulu kuduk merinding menjalar di punggungku.
Perasaan tidak enak seperti ini mungkin hanya
kurasakan saat bertarung melawan peri yang melampaui mala petaka. Itu berarti
Morgraid telah jatuh sedalam itu.
"Si bodoh itu……"
Aku menggertakkan gigi. Padahal dia adalah rekan
seperjuangan yang selalu saling menjaga punggung, kenapa dia tidak menceritakan
hal ini padaku sampai sekarang?
Kelopak-kelopak bunga menghantam kulitku.
Batu di dekatku hancur seketika, bahkan tidak
menyisakan bentuk sedikit pun. Meskipun masih jauh, kekuatannya sungguh
mengerikan.
Morgraid pasti berada di tengah badai bunga ini. Aku
memutar otak, bagaimana cara menembus sampai ke sana?
"Hanya ada satu hal yang bisa dilakukan, ya."
Aku mencabut Longsword dan menatap badai kelopak
bunga yang menjulang ke langit.
Untungnya, sihirku sangat cocok untuk situasi seperti
ini. Berlari masuk ke tempat yang tampak berbahaya seperti orang bodoh sudah
menjadi rutinitas bagiku.
Aku melangkah masuk ke dalam badai kelopak bunga.
Seketika, kawanan kelopak bunga menerjangku. Kelopak
bunga yang menyimpan kekuatan setara satu serangan mematikan bagi manusia itu
mengincarku seolah hendak membunuh.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Kemampuan Longsword untuk bertahan sangat
terbatas. Maka, bagian yang paling mematikan jika terluka—yaitu kepala dan kaki
untuk berlari—harus tetap utuh.
Saat aku melangkah maju, bagian samping tubuhku teriris.
"Argh!"
Seketika, sihirku bereaksi dan rasa sakit luar biasa
menjalar di punggungku.
Sembari memercikkan darah, aku terus berlari menuju badai
bunga. Semakin jauh aku melangkah ke dalam badai tempat Morgraid berada,
kekuatannya meningkat berkali-kali lipat.
Tanah hancur, dan yang kulihat hanyalah putihnya kelopak
bunga.
Keahlian Longsword yang kulatih selama ini tidak
cukup untuk melindungiku dari segalanya; darah mengalir dari leher, dan tulang
tengkorakku retak karena hantaman kelopak bunga yang melaju kencang.
Tetap saja, aku harus berlari.
Di depan sana, ada rekan seperjuanganku. Ada orang bodoh
yang berniat mati tanpa memberitahuku. Jika begitu, aku harus mencapainya
dengan cara apa pun. Aku terus berlari menembus jalan yang tak beraspal sembari
menggertakkan gigi.
Aku dijuluki pahlawan atau apalah, maka aku harus
berhasil melakukan hal ini.
Setelah waktu yang terasa seperti keabadian, aku akhirnya
menembus badai kelopak bunga tersebut.
Tempat di balik badai kelopak bunga itu tampak putih dan
sangat sepi. Di dalam dunia yang dikelilingi kelopak bunga putih di segala
arah, aku melangkah dengan menapak kuat.
"Kenapa... kamu di sini?"
Morgraid, yang bahkan matanya telah ternoda warna putih,
membelalakkan mata.
"Aku datang ke sini untuk memukul rekan bodoh yang
berniat mati tanpa permisi, lalu membawanya pulang."
Saat aku melangkah lagi, separuh kakiku hancur
berkeping-keping. Karena hanya tersisa tulang putih, aku kesulitan menjaga
keseimbangan.
Saat melangkah sekali lagi, aku menyadari lengan kiriku
sudah hilang.
Sihir Morgraid terletak pada kemampuannya merenggut
vitalitas. Entah itu peri, tumbuhan, bahkan batu, semuanya akan
layu, membusuk, dan memudar.
Jika sihir itu menjadi lebih mengerikan karena kehilangan
kendali, mungkin beginilah jadinya. Aku mengalihkan pandangan dari dagingku
sendiri yang membusuk.
Tampaknya selama aku berada di sini, aku akan terus menua
dan hancur tertiup angin sesuka hati.
Namun, aku mendesah lega. Dengan sihirku, hal ini
bukanlah masalah; tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Hanya rasa sakit luar biasa yang terasa seperti akan mati
saja.
Saat aku menatap Morgraid lurus-lurus, tulang yang
terkikis tumbuh kembali dengan cepat, daging menutupi tulangnya, dan kakiku
kembali seperti semula. Lengan pun muncul kembali.
Aku menahan rasa sakit yang nyaris membuatku gila.
Sihir terkutukku akan selalu menjagaku tetap bisa
bertarung selama aku mematuhi Geis untuk terus bertarung. Jika aku mati,
aku akan bangkit kembali; jika aku terkunci, aku akan meloloskan diri.
Sebagai gantinya, aku hanya perlu menelan rasa sakit
seperti di neraka.
Aku melangkah lagi, dan kali ini separuh kepalaku hilang.
Sembari mendorong otakku yang meleleh keluar, aku tidak menghentikan langkahku.
Morgraid menahan napas dengan wajah yang tampak ingin
menangis.
"K-kau tahu kalau bahkan kau pun tidak bisa
menyelamatkanku! Aku ini peri, untuk bisa hidup aku hanya bisa memakan manusia,
aku ini monster!"
"Morgraid yang kukenal bukanlah monster, dia adalah
rekan seperjuanganku. Jika kau sedang kesulitan, aku akan menyelamatkanmu
dengan cara apa pun."
Selanjutnya, dadaku mengembang dan paru-paruku meledak.
Aku tidak bisa bernapas, tapi aku tetap melangkahkan kaki. Selain itu, aku tahu
cara untuk menyelamatkan Morgraid.
"Karena itu, makanlah aku."
Pupil mata Morgraid bergetar.
"……Jangan katakan hal bodoh. Aku sudah hidup seribu
tahun, kau tahu berapa banyak nyawa yang dibutuhkan untuk mengisi kekosongan
peri itu! Seribu atau sepuluh ribu saja tidak cukup!"
"Bunuh saja aku sesukamu."
Seketika, kesadaranku terputus. Sesaat kemudian, saat aku
kembali sadar, aku menyadari bagian pinggang ke atas tubuhku telah tertebas.
Rupanya aku sempat mati sekali.
Seketika, rasa sakit luar biasa yang tak tertandingi
sebelumnya membuatku hampir kehilangan kesadaran.
Rasa sakit yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka dan
mati itu berbeda levelnya. Lagipula, aku baru bisa menghitung dengan jari
berapa kali aku mati, dan setiap kali itu terjadi, hatiku nyaris hancur.
Namun, aku tidak boleh menyerah.
Jika aku kalah oleh rasa sakit ini sekarang, aku
tidak bisa menjaga Geis, dan jika tidak bisa menjaga Geis,
berarti aku mati. Selain itu, aku tidak bisa menyelamatkan Morgraid.
Karena itu, aku tidak boleh hancur meski aku mati
berkali-kali.
Sembari meneteskan air liur karena rasa sakit yang luar
biasa, aku hampir menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Meski begitu, Morgraid mengernyitkan bibir melihatku yang tidak
berhenti melangkah.
"Lihat, kau hampir mati, kan! Seharusnya kau
meninggalkanku saja dan hidup bahagia di garis belakang!"
Kepalaku meledak lagi, dan setelah kesadaranku
terputus, aku kembali diserang rasa sakit yang hebat.
"Sudahlah, bunuh aku cepat. Setelah itu,
hiduplah."
Meski keringat dingin bercucuran di dahi, aku
tersenyum menyeringai untuk memancingnya. Katanya ini akan berlanjut sampai
sepuluh ribu kali, ini ternyata lebih berat dari dugaanku.
Mungkin aku berjalan lebih lambat daripada kungkang.
Setiap kali aku melangkah sedikit saja, setipis kertas, kepala atau jantungku
pasti meledak.
Setiap saat itu pula aku mati dan menderita rasa
sakit yang tidak masuk akal.
"Masih... masih... bisa. A-aku...
masih..."
Leherku tertebas dan jatuh dari bahu. Sesaat kemudian,
aku hampir berlutut karena rasa sakit seperti disiram seikat jarum ke dalam
perut.
Namun, aku mengangkat wajah.
Morgraid, yang terus terisak dengan wajah tertutup
tangan, kini kulitnya tampak kembali merona. Strategiku memang benar, dan hanya
itu yang bisa kuharapkan.
"Nah, berikutnya."
Di belakangku, tumpukan mata, rahang, dan darah daging
dari tanganku yang meledak terus berserakan. Tanpa sadar berapa banyak waktu
yang telah berlalu, akhirnya jari tanganku menyentuh Morgraid.
"A-ah..."
Morgraid menunjukkan wajah yang merupakan campuran dari
kebahagiaan, kesedihan, dan segalanya.
Begitu aku sadar, badai kelopak bunga yang tadi begitu
riuh telah mereda, dan langit biru mulai tampak. Dengan
tangan yang nyaris tidak bisa digerakkan, aku mengelus pipi Morgraid.
"Ah, ini... sudah selesai, ya?"
Kepalaku tidak bisa berpikir jernih, kesadaranku memudar.
Namun, di tengah kondisi itu, aku mengerti dari
anggukan Morgraid.
Seketika, kekuatanku menghilang.
Morgraid memelukku erat saat aku roboh. Sembari
menghisap ingus dan tubuh yang gemetar, Morgraid membuka mulut seolah memeras
suara dari lubuk hatinya.
"Kenapa, kenapa..."
Melihat Morgraid yang melantur hal-hal bodoh, aku
merasa jengkel.
"Bodoh, a-aku dan kau... adalah teman, kan?"
"Apa yang kau... katakan..."
Tetesan air jatuh ke wajahku satu per satu.
Tangan yang memelukku itu gemetar hebat, dan mata
Morgraid berkilau seperti permata.
Tetesan air kembali jatuh membasahi pipi Morgraid.
Pada saat itu, hati yang bukan tiruan, perasaan yang
sesungguhnya, benar-benar bersemayam di dalam diri Morgraid. Bibirnya yang
bergetar, matanya yang menyipit, dan giginya yang terkatup rapat.
Ini adalah pertama kalinya aku melihat Morgraid seperti
itu.
"Apa ini? Seolah-olah seperti manusia... Padahal aku
ini peri, kenapa..."
Aku merasa itu sangat indah.
Itu adalah pemandangan yang membuatku tidak merasa
menyesal sama sekali telah mempertaruhkan nyawa.
"I-indah."
"Berisik, berisik sekali... Diamlah..."
Sosok Morgraid yang menangis tertahan itu terasa
sangat manusiawi.
Sang pengembara yang telah mengakhiri kesendirian
seribu tahunnya, kini meneteskan air mata dengan tenang.
Hari ini, seorang peri mengetahui apa itu hati, dan apa artinya mencintai seseorang dengan begitu mendalam.



Post a Comment