NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinrui Metsubou Sunzen Game Sekai de Jibun wo Gisei ni Teki wo Taoshitetara Volume 1 Chapter 4

Chapter 4

Sang Pengembara yang Melantunkan Dedikasi


"Kenapa kamu tidak menyerah sampai sejauh ini?"

Hari itu, aku tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu kepada atasanku.

Atasanku sedang tergeletak di tanah, menggenggam lengannya yang hampir putus. Dari kejauhan, aku bisa melihat kawanan peri yang jumlahnya tak terhitung sedang berdatangan.

Tugas militer kami dalam operasi ini adalah menjadi umpan hingga pasukan utama berhasil menyergap dari belakang.

Berbicara jujur, ini adalah pertempuran nekat yang sama sekali tidak memedulikan keselamatan nyawa kami.

Meski begitu, atasan yang sedang menyembuhkan lukanya dengan sihir secara tegar itu mengerutkan kening.

"Karena aku ingin selamat dan makan sepuasnya, memangnya ada alasan lain?"

Atasanku memang selalu berjiwa santai.

Bukannya aku tidak tahu kalau umat manusia sedang di ambang kepunahan. Dia juga bukan orang bodoh yang sesumbar bisa menang tanpa strategi. Dia juga tidak sedang nekat karena putus asa.

Sejak aku pertama kali melihatnya di medan perang, dia selalu seperti ini.

Aku pun sadar, umat manusia tidak akan bisa menang melawan peri. Kekuatan sihir, jumlah, semuanya kalah. Mengatakan kita bisa menang dalam kondisi ini pasti dianggap sebagai kegilaan.

Namun, atasan ini tidak menyerah.

Dia selalu berlari di garda terdepan medan perang, dan entah bagaimana, dia selalu menang melawan peri. Selalu berjalan di atas tali tipis yang mempertaruhkan nyawa, namun selalu pulang dengan selamat.

Aku harus tahu, pikirku.

"Tapi, bukankah itu sulit? Bahkan, terasa mustahil."

Aku merasa harus mengenal atasan yang selalu santai ini.

Karena itulah, aku bahkan sampai menjadi seorang Hunter.

Aku yang sudah hidup lama dan seharusnya sudah menyerah pada segalanya, kini sampai bergabung dengan militer.

"Maksudku, apa kamu benar-benar berpikir kita bisa menang melawan peri? Andai saja serangan ini berhasil, lalu apa? Bukankah perang ini hanya akan terus berlanjut?"

"Tidak akan begitu."

Atasanku bangkit berdiri meskipun lukanya belum sembuh sepenuhnya.

Kawanan peri sudah sampai tepat di depan mata. Sambil mencabut Longsword miliknya, dia berucap.

"Bukankah lebih baik menyesal setelah mencoba daripada menyesal karena menyerah begitu saja?"

Kilatan di hatinya itu begitu menyilaukan.

Aku pun berpikir, mungkin tidak ada salahnya menemaninya sedikit lebih lama lagi.

◆◆◆

"Peri yang bisa menyamar menjadi manusia, ya. Masalah yang merepotkan karena jumlahnya tidak sedikit."

Agrastein menghela napas.

Aku datang untuk melapor soal peri yang kularang di hutan saat itu, sekalian menerima teguran karena meninggalkan Reruntuhan Kastil Ogdanel tanpa izin. Namun, kali ini aku mengerti perasaan si bocah jenius yang keras kepala ini.

Lagipula, fakta bahwa peri bisa menyamar menjadi manusia adalah sakit kepala yang jauh lebih besar daripada sihir apa pun.

Menyamar jadi manusia, menyusup ke garis belakang, lalu saat waktunya tiba, mereka mulai memakan manusia secara massal—siapa pun bisa memikirkan skenario itu.

Saat akhirnya peri itu terbunuh dan kami bisa sedikit bernapas lega, justru kabar ini yang datang.

Mungkin saja ada peri lain yang bisa menyamar.

Itu saja sudah cukup membuat Agrastein yang memimpin pasukan manusia harus memikirkan segudang hal. Wajar saja jika dia ingin menghela napas.

"Awalnya kupikir cukup dengan membunuh satu peri itu saja, tapi ceritanya jadi berbeda sekarang. Lagipula, sepertinya ada aroma yang tidak sedap, bukan?"

Menanggapi pertanyaan Agrastein, aku mengangguk.

Saat aku bertarung melawan kawanan peri yang menyamar itu demi melindungi Ingrasius, ada sesuatu di kedalaman hutan. Bukan peri biasa, melainkan sesuatu dengan kekuatan yang jauh di atas rata-rata.

"Ibu Agung, ya. Sayangnya aku tidak tahu. Kamu juga tidak tahu, kan?"

"Ya."

Nama sosok yang dipuja-puja oleh kawanan peri itu. Serta sosok yang muncul setelah pertempuran berakhir, sesosok entitas mengerikan yang kusebut sebagai peri misterius.

Sulit untuk berpikir bahwa keduanya tidak berhubungan. Jangan-jangan, itulah yang disebut sebagai Ibu Agung.

Selain itu, kata "Ibu Agung" itu memang terasa mengganjal. Seolah-olah ada ingatan di suatu tempat jauh di masa lalu saat aku pernah mendengarnya.

"Dia punya kekuatan yang tidak kalah dengan raja iblis yang pernah kita lawan dulu. Aku rasa levelnya sudah jauh melampaui Calamity."

"Begitu rupanya, itu merepotkan."

Empat peri yang pernah mengejar umat manusia hingga ke ambang kepunahan, yang ditakuti manusia sebagai raja iblis.

Peri-peri yang dulu pernah kulawan dan seharusnya sudah kubasmi sampai tuntas.

Sesuatu yang mengawasi kami di hutan itu memiliki kekuatan setara dengan mereka.

Sungguh cerita yang tidak menyenangkan.

Pertarungan melawan para raja iblis itu selalu panjang dan menyakitkan, kenangan yang tidak ingin kuingat kembali.

Jika peri di balik ini sampai sekuat itu, tidak heran kalau helaan napas tak kunjung usai.

Agrastein menatapku lekat-lekat.

Aku yang sudah bisa menebak arah pembicaraan ini hanya bisa merasa ingin menangis.

"Singkatnya, mungkin nanti aku akan membutuhkan bantuanmu lagi. Aku andalkan kamu."

"...Ya."

Artinya, tugasku bertambah lagi. Tentu saja, aku tidak bisa menolak ini.

Aku seorang prajurit, dan lagipula, tidak banyak Hunter yang bisa bertarung dengan benar jika peri sekuat itu datang. Jika aku melarikan diri, akan ada korban jiwa yang tak terhitung jumlahnya.

Tapi, keinginan untuk berhenti dari militer jadi makin jauh dari jangkauan. Kalau begini terus, aku mungkin akan terikat di medan perang seumur hidupku.

Aku menghela napas dan hendak meninggalkan ruangan Agrastein.

"...Begitu ya, sepertinya apa yang dikatakan Morgraid benar adanya."

"Tentang apa?"

Tiba-tiba, Agrastein bergumam seolah tidak sengaja. Aku hanya bisa memiringkan kepala, bertanya-tanya mengapa dia menyebut nama Morgraid sekarang.

Agrastein berdecak.

"Bukan urusanmu, atau malah mungkin urusanmu ya? Singkatnya, itu hal yang tidak perlu kamu tahu. Masih banyak tugas militer yang kuberikan padamu, tolong kerjakan."

Karena Agrastein menghela napas seolah baru saja mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengarnya, aku pun terpaksa diusir dari ruangannya.

◆◆◆

Menjadi prajurit membuat uang tabungan terus bertambah.

Lagipula, selama aku di Reruntuhan Kastil Ogdanel, meskipun rasanya tidak enak, makanan dan tempat tidur sudah disediakan.

Mengingat gaji Hunter cukup besar, uangku jadi semakin menumpuk.

Namun, Reruntuhan Kastil Ogdanel ini bukannya tanpa toko.

Terutama menjual makanan dan minuman keras yang dibawa dari garis belakang, itu adalah tempat berharga bagi para prajurit yang selalu hidup berdampingan dengan kematian untuk menenangkan pikiran.

Ada juga buah-buahan kesukaan Morgraid. Karena tidak bisa dibekukan, harganya sangat mahal, sih.

Tapi, karena hanya di sanalah tempat untuk mendapatkannya, mau bagaimana lagi.

Sambil membawa buah-buahan yang kuborong di tangan, aku mengetuk pintu kamar Morgraid.

"Ini Mikkanen, boleh masuk?"

"Silakan. Kamu ini benar-benar punya perhatian di hal-hal yang aneh."

Begitu masuk, aku melihat Morgraid meringkuk di balik selimut dengan napas yang berat.

"Sedang sakit, tapi masih saja hanya makan buah-buahan. Menurutku, itu justru membuatmu makin tidak sembuh."

"Berisik sekali, aku kan bisa bertahan hidup hanya dengan buah dan teh... uhuk, uhuk!"

Saat aku menyodorkan buah, Morgraid mengambilnya dengan tangan gemetar.

Aku mengusap punggung Morgraid yang tersedak sambil merasa jengkel.

Benar saja, dia memang tidak akan bisa menelan kenari saat tenggorokannya kering begitu.

Setelah napasnya kembali teratur, Morgraid kembali masuk ke balik selimut.

"Hm."

"Dasar, merepotkan sekali."

Morgraid hanya menyembulkan wajahnya dari selimut dan menatapku. Aku mau tidak mau mengambil buah anggur di dekatnya.

Aku menyuapkan butiran anggur yang segar ke mulutnya.

Morgraid mengunyahnya, lalu membuka mulutnya lagi tak lama kemudian.

Dasar merepotkan, aku menyuapinya seperti sedang memberi makan remahan roti pada burung.

Morgraid memang sudah seperti ini sejak dulu.

Sejak pertama kali kami membentuk party berdua saja, dia selalu saja jatuh sakit seperti ini. Terutama setelah pertempuran besar, itu sudah jadi rutinitas.

Dan saat seperti itulah, dia menjadi sangat manja.

"Hm, aku sudah bosan makan anggur."

"Kalau begitu makan saja stroberi ini."

Morgraid bersandar padaku yang duduk di sisi tempat tidur. Harusnya dia pergi ke dokter militer, tapi karena dia keras kepala tidak mau, aku jadi kesulitan.

Tak lama kemudian, Morgraid yang menghabiskan gajiku selama sebulan akhirnya tampak bisa bernapas lega. Dia menyeruput teh hangat yang baru saja diseduh.

"Jadi, apa kutukan Ingrasius sudah berhasil dilepas?"

"Kamu tahu?"

"Tentu saja, aku ini punya pengamatan tajam, tahu. Lagipula, aku kan teman bagi gadis-gadis manis, aku selalu menyemangati rekan-rekanku."

Dengan wajah yang masih memerah, Morgraid tersenyum kecut. Meskipun sedang sakit, kenapa dia masih saja memaksakan diri?

Aku mencengkeram bahunya dan membaringkannya.

"Oh ya ampun, kamu mau memakan diriku, ya? Pria itu serigala, tapi memakan wanita yang sedang menderita sakit pun sepertinya Mikkanen juga cukup... uhuk, uhuk!"

"Diam dan tutup matamu. Akan makin sakit kalau kamu terus terjaga."

Aku menutupi kepala Morgraid dengan selimut karena dia terus saja bicara yang tidak-tidak. Sepertinya sudah kapok, Morgraid kembali masuk ke tempat tidurnya.

"Aku permisi dulu. Ingat, istirahatlah yang cukup."

Tak lama setelah aku hendak pergi, tangan Morgraid menjulur dari balik selimut dan mencengkeram ujung bajuku.

"Maaf, tolong... aku ingin kamu menggenggam tanganku sedikit lebih lama lagi, mungkin?"

Sambil menunduk malu dan pipinya merona, Morgraid berbisik.

Benar-benar rekan seperjuangan yang merepotkan. Aku menghela napas, lalu menggenggam tangan Morgraid yang tampak senang entah karena apa.

◆◆◆

"...Jadi begitulah, aku bingung harus berbuat apa. Si Ingrasius itu, akhir-akhir ini dia sudah tidak ragu lagi, dan sendok yang kutinggalkan di nampan pun..."

Sembari menidurkan Morgraid, aku menceritakan keresahanku. Setelah beberapa saat, aku menyadari suara napas halusnya yang tertidur.

"Akhirnya tidur juga."

Aku menatap Morgraid yang sedang dihempas demam.

Kalau dipikir-pikir, aku sudah lama sekali mengenalnya.

Pertama kali bertemu adalah sekitar sebulan setelah aku menjadi Hunter, dan sejak saat itu, selama sepuluh tahun kami selalu saling memunggungi dalam pertempuran.




Meski begitu, aku tidak terlalu mengenal Morgraid.

Dari mana dia berasal, bagaimana dia tumbuh besar, mengapa dia hanya makan buah-buahan; aku tidak tahu apa pun. Morgraid jarang sekali bercerita tentang dirinya sendiri.

Karena itulah, memalukan sekali, aku bahkan tidak tahu Geass miliknya.

Dia adalah anggota yang bisa dibilang paling dekat denganku di party ini, tapi aku tidak tahu apakah Morgraid juga berpikiran sama.

Mungkin karena itu, aku terus menunda keinginan untuk meminta agar aku didepak dari pasukan. Aku benar-benar tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan Morgraid jika dia mendengar permintaanku.

Bahkan saat aku bilang pada Isfarna kalau aku ingin didepak, dia hanya terkikik geli, dan aku tidak bisa membaca apa yang dia pikirkan.

Karena itulah, aku tidak pernah memintanya pada siapa pun kecuali Morgraid.

Namun, Ingrasius, Profesor Alhanzen, bahkan Isfarna pun tidak mendepakku. Malahan, hal itu berujung pada keributan yang hebat.

Padahal, aku sama sekali tidak berniat menjadi atasan yang baik.

"Apakah dari awal rencana untuk mencari cara agar didepak ini adalah ide yang salah? Kalau begini, sepertinya aku tidak akan bisa keluar dari militer."

Kata-kata kepasrahan itu meluncur lirih dari bibirku.

Mengandalkan prestasi satu-satunya mob yang berhasil keluar dari militer dalam skenario permainan, aku telah berusaha keras agar bisa didepak dari pasukan.

Tapi, apakah Agrastein akan mengizinkan hal seperti itu sejak awal?

Kemungkinan besar, alasan mob itu bisa keluar dari militer adalah karena bocah jenius yang keras kepala itu sudah samar-samar menyadari bakat terpendam si karakter pemain.

Agar umat manusia bisa menang, kekuatan karakter pemain sangat dibutuhkan, dan dibandingkan dengan itu, kemampuan si mob sebagai Hunter dianggap tidak penting.

Karena itulah, bocah jenius itu mengizinkan satu Hunter pergi.

Namun, saat ini karakter pemain masih belum mengunjungi Reruntuhan Kastil Ogdanel. Dengan kata lain, aku ragu Agrastein akan membiarkanku pergi begitu saja.

Selama ini, aku hanya berpegang pada pengetahuan permainan dan terus menyakinkan diri bahwa aku hanya perlu didepak. Jika itu berhasil, aku bisa hidup tenang di garis belakang.

Tapi, apakah itu benar-benar hal yang tepat?

Karakter pemain belum muncul, dan terlebih lagi, tidak ada keuntungan sedikit pun bagi perang melawan peri jika aku mengundurkan diri.

Mungkin saja, pola pikirku dari awal memang sudah salah. Kalau dipikir-pikir lagi, mustahil bocah jenius itu akan membiarkanku lolos dari medan perang.

Terutama sekarang, ada isu tidak sedap mengenai peri yang bisa menyamar menjadi manusia.

Jika aku tidak bisa menangani peri kelas raja iblis yang melampaui Calamity yang berada di balik itu semua, aku tidak akan bisa keluar dari militer. Untuk peri sekuat itu, jumlah Hunter yang mampu bertarung sangat terbatas, dan aku adalah salah satunya.

Alasan aku ingin keluar dari militer adalah karena aku merasa cerita aslinya bisa tercapai bahkan tanpaku.

Saat karakter pemain muncul dan menyelamatkan umat manusia, aku yang bahkan namanya tidak ada dalam skenario asli hanyalah pengganggu. Lagipula, aku sudah benar-benar muak dengan makanan militer yang rasanya seperti kotoran itu.

Karena itulah, aku ingin didepak dari pasukan. Tapi, jika ternyata ada peri yang hanya bisa dibunuh olehku, maka ceritanya jadi berbeda.

Bagaimanapun juga, aku tidak bisa melarikan diri.

"...Sepertinya aku tidak bisa didepak lagi."

Ya, tepat saat aku hendak menyerah pada segalanya.

"Sepertinya itu masih terlalu dini, bukan?"

Tangan yang menggenggam Morgraid ditarik. Tanpa sengaja, aku jatuh tersungkur hingga menindih tempat tidur, dan aku terpesona oleh mata biru yang tenang itu.

Morgraid tersenyum nakal, seolah-olah sedang menggodaku.

"Kamu ingin keluar dari militer, ya? Baiklah, aku akan mengabulkan keinginanmu itu. Untungnya, aku tahu cara untuk membungkam Agrastein."

Aku tidak bisa memalingkan pandangan dari matanya yang dalam seperti lautan luas. Sambil mendekap kepalaku ke dadanya, Morgraid berbisik.

"Aku... yang akan mendepakmu."

Sebagai ganti karena secara diam-diam mengikuti Ingrasius, aku dihukum dengan tugas militer selama sepuluh hari oleh bocah jenius itu. Setelah menyelesaikannya, aku benar-benar kelelahan.

Itu benar-benar tugas militer yang mengerikan. Sialan, dia menyuruhku menerjang hutan peri lagi.

"SAYA MINTA MAAF, SAYA TELAH MENYUSAHKAN ANDA."

"Tidak apa-apa, Ingrasius. Aku sendiri yang salah karena sebagai atasan tidak menyadari bahwa mental anggotaku sedang terganggu."

Ingrasius yang menempel padaku karena merasa bersalah terus menunduk berkali-kali. Sebenarnya aku senang dia membantuku dalam tugas militer ini.

Tapi, ada hal lain yang lebih membuatku penasaran.

Simbol Agama Sarius adalah cangkir, dan biasanya para pastor selalu mengalungkan cangkir yang terbuat dari emas di dada mereka. Ingrasius pun biasanya begitu, tapi sekarang berbeda.

"Apa sebenarnya yang kamu masukkan ke dalam liontin itu? Kamu terus menggenggamnya bahkan saat bertarung selama tiga hari tiga malam melawan peri."

"TIDAK, INI BUKAN SESUATU YANG PENTING..."

Karena Ingrasius memasang wajah panik, aku punya firasat sangat buruk dan langsung mengambil liontin itu.

Sambil menghindar dari Ingrasius yang mencoba merebutnya kembali dengan nekat, aku membuka liontin itu.

Di dalamnya, terdapat helai rambut hitam yang diikat dengan benang.

"Hei, Ingrasius."

Omong-omong, rambutku juga hitam. Aku sampai merinding.

Kalau dipikir-pikir, di Reruntuhan Kastil Ogdanel, para prajurit biasanya meminta orang lain untuk memotongkan rambut mereka, dan seingatku Ingrasius ada di dekat sana saat itu.

Bahkan aku pun terdiam dibuatnya. Sementara itu, Ingrasius gemetar dengan wajah yang memerah dari leher hingga ke ubun-ubun.

"I-INI KEJUTAN. APAKAH INI SAMPAH YANG TIDAK SENGAJA MASUK?"

"O-oh, begitu ya. Ini hanya kebetulan, ya, hanya kebetulan saja."

Bagaimanapun juga, itu jelas rambutku yang diambil Ingrasius tanpa izin. Maksudku, bagaimana ceritanya rambut bisa terikat benang dengan sendirinya lalu masuk ke dalam liontin?

Namun, aku tidak punya keberanian untuk mengungkitnya lebih jauh.

Aku berpura-pura percaya pada kebohongan yang sudah jelas itu. Bagi Ingrasius yang wajahnya merah padam seolah hendak terbakar, dan bagiku, inilah pilihan terbaik.

"gaiji-p243.pngKALAU BEGITU, SAYA PERMISI."

Setelah Ingrasius pergi melesat seperti angin, aku menghela napas panjang. Ya ampun, apa yang sebenarnya harus kulakukan sekarang?

Saking terkejutnya, aku menyandarkan tubuh ke dinding sambil memegangi kepala.

Saat aku sedang tersiksa oleh sakit kepala yang hebat memikirkan hubungan dengan Ingrasius ke depannya, tiba-tiba aku merasa mencium aroma bunga yang manis.

Tiba-tiba, sebuah tangan terulur dan menyeretku masuk ke dalam ruangan di belakangku. Aku yang diseret ke dalam kegelapan hanya bisa menatap pintu yang tertutup perlahan.

"Kamu ini benar-benar keterlaluan, ya. Melihatmu bermesraan tepat di depan mata dan hidungku seperti itu membuatku sedih."

"Kalau itu terlihat seperti bermesraan bagimu, mungkin kamu harus mempertimbangkan untuk pergi ke dokter militer. Bagaimana menurutmu, Morgraid?"

Morgraid, pelaku yang menculikku, membenamkan wajahnya di tengkukku. Aku menghela napas karena dia masih saja bermanja-manja padahal kukira penyakitnya sudah sembuh.

"Apa, demammu kambuh lagi? Cepat sana, masuk ke dalam tempat tidur."

"Wah, jahat sekali. Padahal aku sudah membantumu keluar dari militer, tapi kamu malah bicara begitu. Kamu benar-benar musuh para gadis."

Lagi-lagi soal itu, aku mengerutkan kening.

Sejak hari aku membawakannya buah sebagai buah tangan, Morgraid tidak henti-hentinya bilang akan mendepakku dari pasukan. Kalau itu diriku yang dulu, mungkin aku akan senang, tapi sekarang, aku merasa hal itu tidak mungkin terjadi.

Isfarna, Profesor Alhanzen, bahkan mungkin Ingrasius juga.

Jika aku keluar dari militer, mereka pasti akan ikut menempel dengan merepotkan. Lagipula, karena aku sudah terlanjur berjanji seperti itu, jika aku tidak membawa mereka, aku sendiri yang akan kena batunya.

Saat memikirkan hal itu, aku sama sekali tidak yakin Agrastein akan mengangguk setuju.

Kalau hanya diriku sendiri mungkin masih ada cara, tapi betapapun misterius dan mampunya Morgraid, menurutku didepak dari pasukan hanyalah mimpi di siang bolong.

"Makanya, aku bilang hentikan pembicaraan itu. Bagaimanapun juga, kamu tidak akan bisa membujuk Agrastein."

"Tapi, kamu akan senang kan, kalau itu terwujud?"

Mata Morgraid menusuk tepat ke arahku. Aku tanpa sadar mengangguk.

"Yah, itu sih iya."

"Kalau begitu, masalah selesai."

Morgraid tersenyum lebar dan memelukku lagi. Saat aku mencoba melepaskan pelukannya karena ingin dia berhenti mode bermanja-manja, saat itulah dia bicara.

"Tidak apa-apa, kan? Kalau kamu keluar dari militer, kita tidak akan bisa bertemu lagi. Lagipula, membujuk Agrastein itu menguras tenaga bahkan bagiku."

Morgraid berbisik tepat di telingaku dengan nada yang terdengar seperti akan menangis. Kata-kata Morgraid yang baru pertama kali kudengar itu membuatku membeku seketika.

"Jadi, jadi tidak apa-apa kan kalau aku sedikit menikmati saat-saat ini?"

Morgraid pun menyandarkan tubuhnya padaku.

Kulitnya yang dingin hingga membuatku bergidik menempel erat, dan aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Morgraid memelukku hingga terasa sakit.

Setelah itu, untuk beberapa saat, Morgraid tidak mau melepaskanku.

◆◆◆

"Mikkanen, aku mengeluarkan surat perintah untukmu. Jadilah instruktur di Universitas Militer di Ibu Kota."

"Siap, saya mengerti—tunggu, apa?"

Lengan yang kuangkat untuk memberi hormat terhenti di udara. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar, aku menatap Agrastein seolah melihat hantu.

Bocah jenius keras kepala yang akan membangun gunung mayat hanya demi kemenangan umat manusia itu, mengizinkan seorang Hunter mundur ke garis belakang?

Sambil tetap menunduk menatap dokumen, Agrastein bicara dengan nada bosan.

"Apa kamu tidak dengar? Kalau begitu akan kukatakan lagi. Naiklah kereta api lusa dan pergilah ke Universitas Militer di Ibu Kota. Ini adalah perintah terakhir yang kuberikan padamu."

Aku mencoba mencubit pipiku dan rasanya sakit. Jadi, ini bukan mimpi.

"Ngomong-ngomong, Isfarna dipindah tugaskan ke Departemen Propaganda Militer, dan Ingrasius mendapatkan tawaran dari Seminari Gereja. Alhanzen dikirim ke laboratorium di Ibu Kota."

Mendengar Agrastein melanjutkan ucapannya, kepalaku rasanya mau pecah karena heran dan terkejut. Jangan-jangan, dia tidak hanya melepaskanku, tapi hampir seluruh anggota party keluar dari medan perang?

Tidak mungkin. Terutama bocah jenius itu, mustahil dia mengizinkan hal ini.

"Ke-kenapa tiba-tiba...? Bukankah Anda selalu bilang kalau medan perang ini butuh berapa pun jumlah Hunter yang ada? Lalu bagaimana dengan peri yang bisa menyamar itu?"

"Mikkanen."

Agrastein menatap lekat-lekat ke arahku yang terus melontarkan pertanyaan.

"Bukankah ini yang kamu inginkan? Setidaknya, begitulah yang kudengar dari Morgraid. Kalau begitu, seharusnya kamu bersenang hati."

Morgraid. Mendengar nama itu, aku teringat kejadian beberapa saat lalu. Tentang Morgraid yang menyeretku ke dalam ruangan dan bermanja-manja setelah tugas militer berakhir.

Kan sudah kubilang, aku yang akan mendepakmu dari militer.

Entah dari mana, aku merasa seolah bisa mendengar tawa menyeringai Morgraid. Jadi, bagaimana cara Morgraid membujuk bocah jenius ini?

"Apa yang sebenarnya Anda katakan pada Morgraid?"

"Aku tidak akan bicara. Membicarakan hal ini padamu berarti melanggar strategi militer. Kalau sudah mengerti, segera berkemas dan terbanglah ke Ibu Kota."

Seolah ingin memutus percakapan, Agrastein mulai menandatangani dokumen yang dibacanya dengan suara keras. Dia bahkan tidak melirikku lagi.

"Te-terima kasih, saya permisi."

Tidak tahan dengan keheningan, aku memberi hormat dan memegang gagang pintu.

Tentu saja, ada ribuan tanda tanya berputar di kepalaku. Tapi, di lubuk hatiku, ada bagian dari diriku yang kegirangan karena bisa menjauh dari medan perang.

"...Bagaimanapun juga, aku yakin kamu akan kembali lagi, tidak peduli seberapa besar usaha Morgraid untukmu."

Saat pintu hampir tertutup, Agrastein bergumam pelan. Pintu baja itu menutupi sosok Agrastein tepat saat aku menoleh.

"Hei, si lamban, apa yang kamu bengongkan? Kamu menghalangi jalan!"

Isfarna menendang kakiku dengan kesal. Aku yang sedang melamun saat hendak naik ke kereta api pun tersadar.

"Maaf."

Aku terburu-buru memasukkan koper. Di belakang, Profesor Alhanzen sedang dibantu Ingrasius untuk menaikkan peralatan laboratoriumnya ke atas kereta.

Isfarna melirik wajahku lalu mengerutkan kening.

"Kamu, wajahmu pucat sekali. Bukankah lebih baik kamu istirahat?"

"Ti-tidak, aku tidak apa-apa."

Aku menggeleng lemah.

Isfarna masih tampak curiga, tapi dia segera dipanggil oleh Profesor Alhanzen untuk membantu barang bawaan yang lain. Aku yang ditinggal sendirian menghela napas.

Aku masih merasa tidak percaya. Bahkan lebih bisa dipercaya jika ini hanyalah ilusi yang diciptakan peri.

Keinginan yang selalu kupendam untuk hidup santai di garis belakang terkabul begitu saja dengan mudahnya. Aku masih memiringkan kepala karena keberuntungan yang seperti memenangkan lotre ini.

"Wah wah, wajahmu terlihat sangat suram, ya. Bukankah keinginanmu sudah kukabulkan? Karena itu, aku ingin kamu tersenyum untukku."

Saat aku mendongak, Morgraid sedang tersenyum.

Berbeda dengan anggota lainnya, tidak ada surat perintah untuk Morgraid. Itu berarti, Morgraid akan tinggal sendirian di Reruntuhan Kastil Ogdanel ini.

"Tidak, aku hanya belum bisa mempercayainya."

"Ahaha, padahal kakimu sudah menginjak kereta api, lho. Jangan bilang kamu masih ragu bahkan setelah sampai di Universitas Militer nanti?"

Morgraid mungkin bermaksud bercanda, tapi aku sama sekali tidak bisa tertawa. Melihat reaksiku, ekspresi Morgraid menjadi kaku.

"...Ya, yah, setelah sebulan berlalu, kamu pasti akan terlalu sibuk dengan tugas instruktur sampai tidak punya waktu untuk ragu lagi."

Semoga saja begitu.

Di kereta api di belakang, Profesor Alhanzen sepertinya selesai berkemas. Dia mengikat tabung reaksi raksasa dengan sabuk pengaman yang ketat.

"Ah, begitu ya. Jaga dirimu baik-baik, Morgraid. Berhati-hatilah agar tidak mati."

"Haha, ini medan perang, tahu. Aku juga bisa mati kalau memang waktunya."

Aku menyadari wajah Morgraid tampak suram.

Aku merasa ada yang tidak beres dan mengerutkan kening. Padahal seharusnya penyakitnya sudah sembuh, tapi Morgraid yang sekarang tampak begitu rapuh seolah bisa lenyap kapan saja.

Tanpa sadar, aku keceplosan bicara.

"Baik soal anggota party yang lain maupun soal surat perintah kita, aku sangat berhutang budi pada Morgraid. Apa ada yang bisa kulakukan untukmu?"

"Tidak perlu, kita kan rekan seperjuangan. Hal seperti itu sudah biasa."

Ditolak mentah-mentah, aku pun terdiam. Entah karena semua barang sudah dimuat atau bagaimana, kereta api mulai bergerak.

Profesor Alhanzen yang berjalan dari belakang menepuk bahu Morgraid.

"Morgraid, sudah waktunya. Mikkanen, sebaiknya kamu duduk di kereta jika tidak ingin kepalamu terbentur. Morgraid, kamu juga harus mundur selangkah."

Mengikuti saran Profesor Alhanzen, aku naik ke kereta. Kendaraan uap yang menarik kereta itu meraung bersamaan dengan asap putih.

Seolah baru teringat sesuatu, Morgraid mendongak.

"...Maaf, bolehkah aku meminta satu hal lagi?"

"Tentu, apa yang harus kulakukan—muph!"

Tepat saat aku mencondongkan tubuh, dia menciumku. Sedetik kemudian, bibir bunga sakura milik Morgraid menjauh.

"A-apa-apaan ini!"

Berbeda denganku yang wajahnya memerah padam, Morgraid tertawa dengan wajah kusut dan mata yang menggodaku. Melihatnya seperti itu, aku entah kenapa kehilangan kata-kata.

"Terima kasih, berkatmu aku tidak punya penyesalan lagi."

Kereta berdecit dan melaju. Dalam sekejap, sosok Morgraid menghilang dari pandangan.

◆◆◆

Ibu Kota terasa sangat tenang.

Di Reruntuhan Kastil Ogdanel, tidak pernah ada waktu untuk beristirahat. Peri terus-menerus menyerang, dan banyak prajurit yang telinganya rusak karena suara ledakan meriam.

Sudah hal lumrah bagi seorang Hunter untuk selalu waspada kapan pun peri akan mendobrak pintu saat tidur, bahkan ada yang memeluk bahan peledak agar bisa mengakhiri hidup mereka sendiri saat keadaan sudah kritis.

Tapi, di sini berbeda.

Memang benar, bayang-bayang perang yang sudah berlangsung sejak zaman kuno yang kita pelajari di buku sejarah masih ada di mana-mana, namun ada pemandangan yang mustahil terlihat di medan perang.

Anak-anak bermain Hunter-hunteran dan mengayunkan pistol mainan di gang-gang. Saat libur, jalanan dipadati orang yang lalu-lalang, dan senyuman bahagia merekah di sana-sini.

Ini semua mungkin berkat perjuangan mati-matian umat manusia dari ambang kepunahan hingga akhirnya bisa mengurung para peri di Reruntuhan Kastil Ogdanel.

Karena itulah, umat manusia kini perlahan meraih kembali kejayaan masa lalu. Ini adalah hasil dari kegigihan orang-orang hebat yang menuntut agar garis belakang harus makmur demi perang melawan peri.

Sepuluh tahun sejak masuk militer, aku terus saling membunuh dengan peri.

Yang selalu kulihat hanyalah hutan dan rawa yang tenggelam dalam abu, tempat aku berlari tanpa henti sambil berlumuran tanah dan serpihan daging. Itulah pemandangan yang baru pertama kali kulihat seumur hidupku.

"Umat manusia benar-benar sudah berkembang pesat, ya."

"Ti-tidak! Ini semua berkat jasa pahlawan seperti Anda, Tuan Mikkanen!"

Sekretaris yang ditugaskan padaku sejak tiba di Universitas Militer tampak seperti prajurit baru dan selalu ketakutan. Duh, aku menghela napas.

Meskipun dipuji sebagai pahlawan, aku hanyalah Hunter biasa.

Jika alasanku bertarung melawan peri hanyalah demi kebahagiaanku sendiri, maka aku tidak ada bedanya dengan prajurit baru ini.

Meskipun aku hanya instruktur biasa, aku diberi sekretaris, dan itu membuatku merasa canggung.

Medan perang yang dulu ingin kutinggalkan mati-matian, entah kenapa sekarang justru terasa dirindukan.

Berbagai makanan Ibu Kota yang dulu kunanti-nantikan pun terasa hambar saat kucicipi.

Kadang, aku jadi merindukan dendeng yang dulu biasa kumakan di Reruntuhan Kastil Ogdanel.

...Tidak, itu bohong. Aku berani jamin, sampai kapan pun, aku tidak akan pernah merindukan dendeng yang kering seperti karet itu.

Apapun itu, ada satu beban pikiran besar yang selalu mengganjal di dadaku sejak datang ke Universitas Militer.

Morgraid, yang ditinggal sendirian.

Hatiku merasa gelisah memikirkan senyuman sedih yang kulihat saat meninggalkan Reruntuhan Kastil Ogdanel.

Aku jadi khawatir kalau-kalau ada sesuatu yang sangat besar yang disembunyikan dariku.

Tapi, meskipun begitu, tidak ada yang bisa kulakukan saat ini.

Mahasiswa baru akan masuk tahun depan, dan tugasku di Universitas Militer adalah melatih mereka menjadi Hunter yang hebat. Melihat tumpukan dokumen yang begitu damai, entah kenapa aku menghela napas.

"Permisi, aku datang berkunjung."

Saat itu, ketika aku baru pulang ke rumah sewaan di pinggiran Ibu Kota.

Di kursi rumah yang gelap, jas putih yang sangat sering kulihat di Reruntuhan Kastil Ogdanel sedang duduk dengan tenang.

Profesor Alhanzen, yang kini memimpin proyek besar sebagai Senior Fellow di laboratorium Ibu Kota, ada di sana.

"Apa, kamu datang untuk menyelinap ke tempat tidurku lagi?"

Aku menghela napas sambil mengambil kunci dari saku.

Profesor Alhanzen, yang dulu selalu tidur menempel padaku di Reruntuhan Kastil Ogdanel, rupanya juga mengincar tempat tidurku di Ibu Kota. Dia selalu menyelinap masuk ke rumah dan menungguku pulang.

Sejak tiba di Ibu Kota, aku sudah mengganti kunci rumah berkali-kali, tapi aku selalu gagal melindungi hidupku dari Profesor Alhanzen.

Yah, mungkin masih lebih baik daripada Isfarna yang menyelinap masuk menggunakan sihir di tengah malam.

Dia bersantai membaca jurnal ilmiah seolah itu rumahnya sendiri. Aku menatap Profesor Alhanzen dengan wajah lesu.

"Aku akan menyeduh teh, mau?"

"Tolong, ya."

Aku menyalakan kompor dan mengobrol tentang hal-hal sepele sambil menunggu air mendidih.

Tapi karena sejak di Ibu Kota aku hanya melihat dokumen membosankan, aku lebih banyak mendengar cerita Profesor Alhanzen saja.

"Aku rasa setiap laboratorium memiliki konteksnya masing-masing. Butuh waktu sampai peneliti baru bisa memahaminya."

Profesor Alhanzen menghela napas.

Rupanya, dia memasang sistem jebakan gas beracun di ruang kerjanya agar siapa pun yang masuk langsung terkena gas tersebut, dan ternyata ada seseorang yang terjebak sehingga muncul keluhan.

"Sangat merepotkan. Karena ada berbagai senjata berbahaya di dalam ruangan, aku sudah menulis di pintunya bahwa dilarang masuk tanpa izin."

Rupanya sifat penuh curiga Profesor Alhanzen tidak berubah meskipun sudah di Ibu Kota.

Aku yang tidak tahu harus bilang apa hanya bisa tersenyum getir. Yah, karena sebagian besar penelitian Profesor Alhanzen adalah rahasia kelas negara, mungkin itu tidak bisa dihindari.

Di Reruntuhan Kastil Ogdanel pun, satu-satunya orang yang bisa masuk ke ruangan Profesor Alhanzen hanyalah segelintir jenderal seperti Agrastein. Mungkin tidak ada seorang pun yang bisa menyelinap masuk.

...Tunggu, bukankah Morgraid masuk begitu saja dengan wajah tanpa dosa?

Aku teringat rekan seperjuangan yang terus kupikirkan sejak meninggalkan medan perang. Entah bagaimana caranya Morgraid menyelinap masuk ke laboratorium itu saat itu.

Tanpa sadar, aku bertanya pada Profesor Alhanzen.

"Ngomong-ngomong, apa Profesor Alhanzen tahu kalau Morgraid pernah menyelinap masuk ke laboratorium? Maksudku, sekitar waktu keributan soal peri yang menyamar itu."

"? Aku tidak tahu kalau Morgraid pernah masuk ke lab."

Aku sedikit terkejut dengan kata-kata Profesor Alhanzen.

Profesor Alhanzen adalah orang yang sangat penuh curiga, tipe orang yang tidak percaya pada jembatan batu dan lebih memilih membangun jembatan baru.

Jadi, aku mengira dia sudah sadar sejak lama kalau Morgraid menyelinap masuk dan sudah menyiapkan langkah pencegahan.

"Apakah benar Morgraid pernah masuk ke lab-ku tanpa izin?"

"Ya, aku bahkan sempat bicara dengan Morgraid di sana. Apa Profesor Alhanzen tidak tahu?"

Profesor Alhanzen memasang wajah serius.

"Aku rasa aku selalu memasang sensor pendeteksi manusia di lab tempatku bekerja. Dan aku rasa sensor itu tidak pernah meloloskan siapa pun. Jika ada yang menyelinap masuk, seharusnya aku segera mendapat pemberitahuan."

Profesor Alhanzen membelalakkan mata seolah baru menyadari sesuatu. D

ia mengambil buku catatan lusuh dari sakunya, membaliknya, dan menatap lekat-lekat pada salah satu halaman.

"...Begitu ya, benar bahwa ada seseorang yang menyelinap masuk ke laboratorium. Memang benar ada peak yang jelas pada sensornya."

Jarang sekali Profesor Alhanzen melakukan kesalahan seperti ini. Mungkin ini yang disebut "kera pun bisa jatuh dari pohon".

"Begitu rupanya, aku mengerti teka-tekinya. Jika mempercayai kata-kata Mikkanen, Morgraid menyimpan sesuatu yang mengejutkan."

Profesor Alhanzen bergumam pelan.

Aku tidak tahan untuk bertanya. Bukankah ini hanya soal Profesor Alhanzen salah membaca sensor?

"Hal yang kubicarakan adalah sensor pendeteksi peri."

Profesor Alhanzen menatapku dengan tenang.

◆◆◆

Aku menatap lekat-lekat grafik yang ditempel Profesor Alhanzen di buku catatannya. Jari ramping Profesor Alhanzen menunjuk ke bagian di mana garis grafik itu melonjak naik secara drastis.

"Sensor manusia tidak mendeteksi siapa pun selain Mikkanen dan aku. Namun, di sensor peri, ada peak yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kelinci percobaan di lab. Ini pastilah Morgraid."

"..."

Seharusnya aku sadar dari awal kalau ada yang aneh.

Seseorang tidak bisa hidup hanya dengan buah dan teh. Aku tahu betul hanya ada satu pengecualian untuk hal itu—makhluk yang tidak perlu makan daging pun tetap tidak akan mati kelaparan.

Morgraid tidak pernah merahasiakan Geass miliknya bukan karena dia tidak mau memberi tahu, tapi karena dia adalah seorang peri.

Geass itu sendiri tidak diperlukan baginya. Sebab, aturan mengenai Geass yang menjadi syarat untuk menguasai sihir hanyalah berlaku bagi manusia.

Semua itu adalah bukti nyata bahwa Morgraid adalah seorang peri.

Profesor Alhanzen mengerutkan kening.

"Mikkanen, apakah kamu tidak terkejut? Selain merasa malu karena tidak menyadarinya sampai sekarang, aku merasa kita perlu mempertimbangkan kembali hubungan pertemanan kita selama ini."

Bicara seenaknya saja, batinku sambil tersenyum kecut.

Tentu saja aku sangat terkejut. Aku hampir pingsan saat tahu bahwa teman lama yang kupercayai sebagai manusia ternyata adalah jenis peri yang selama ini kami bunuh dalam pertempuran hidup dan mati.

Namun, ada hal yang tidak berubah.

"Tidak, aku hanya tertegun saja. Tapi, meskipun dia seorang peri, Morgraid tetaplah rekan seperjuanganku."

"Apakah memang begitu adanya?"

Ya, Morgraid akan tetap menjadi rekan seperjuanganku.

Kami telah berjuang bahu-membahu dalam perang yang tak berujung melawan peri ini. Dia adalah teman yang bisa diandalkan, yang saling menyelamatkan nyawa dan selalu bisa kupasrahi punggungku.

Jika begitu, perasaanku terhadap Morgraid tidak akan berubah.

Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu.

"Morgraid tidak pernah memakan manusia. Peri yang tidak memakan hati manusia pada akhirnya akan mati kelaparan, bukan?"

"Menurut eksperimen, benar begitu. Peri yang kehilangan hatinya akan menderita karena gangguan fungsi tubuh pada awalnya, lalu saat melewati titik tertentu, mereka akan mengamuk. Jika rasa lapar itu tidak segera diatasi, mereka akan binasa."

Gangguan fungsi tubuh.

Selama ini, Morgraid sering jatuh sakit dan terbaring di tempat tidur.

Jika itu adalah bentuk kelaparan hati seorang peri, maka masuk akal mengapa dia selalu menolak pergi ke dokter militer. Dan itu berarti, kondisi Morgraid adalah bukti nyata bahwa dia tidak pernah memakan manusia.

Dia memprediksi bahwa suatu hari nanti, dia akan kehilangan nyawanya.

Si bodoh itu, apakah aku sebegitu tidak bisa diandalkannya sampai dia tidak memberi tahuku hal itu? Aku menggertakkan gigi, marah pada ketidakmampuanku sendiri.

"Tunggu... bagaimana caranya Morgraid membujuk Agrastein? Bagaimana bisa dia diizinkan melepaskanku dari medan perang?"

"Entahlah, hanya itu yang masih menjadi misteri."

Ibu Agung.

Tiba-tiba, sebuah kata melintas di kepalaku.

Ada sesuatu, aku pasti tahu sesuatu. Ibu Agung—nama peri yang disebutkan itu, aku pasti pernah mendengarnya di suatu tempat.

"Ibu Agung... Peri Asal."

"?"

Baru sekarang, aku akhirnya menyadarinya.

Selama ini, umat manusia telah berkali-kali berada di ambang kepunahan. Dalam permainan, hampir semua kejadian itu disebabkan oleh satu sosok peri saja.

Namanya adalah Peri Asal.

Peri yang menjadi Final Boss dalam skenario permainan.

Sosok yang akan dilawan karakter pemain di akhir cerita, akar dari segala peri, dan sosok peri misterius yang belum pernah dilawan umat manusia sebelumnya.

Sihir Peri Asal sangat sederhana namun memiliki ancaman yang tidak masuk akal; itulah alasan mengapa dia menjadi Final Boss di permainan aslinya.

Sihirnya adalah sihir untuk melahirkan peri.

Sebagian besar peri di dunia ini adalah anak dari Peri Asal. Hutan Peri itu sebenarnya hanyalah sarang dari Peri Asal.

Peri Asal bersembunyi di kedalaman hutan dan terus-menerus mengerahkan sihirnya.

"Melahirkan" di sini bukan berarti menyakiti diri sendiri untuk menciptakan kehidupan seperti manusia. Peri-peri itu tiba-tiba muncul dari balik bayang-bayang pepohonan hutan, seolah-olah seperti kabut.

Jika boleh dibilang, hutan itu sendiri adalah rahim dari Peri Asal.

Namun, Peri Asal pun tidak bisa lolos dari kutukan seorang peri. Jika hanya bersembunyi di kedalaman hutan, dia tidak bisa menyembunyikan rasa lapar di hatinya.

Oleh karena itu, Peri Asal akan melakukan pemangsaan setiap seratus tahun sekali.

Dia melahirkan banyak peri unggul untuk melindungi dirinya sendiri, lalu memimpin mereka menyerbu negeri manusia.

Empat raja iblis yang dulu mengamuk di tanah ini dan hampir memusnahkan umat manusia, semuanya lahir pada saat itu.

Itulah Ibu Agung.

Tentu saja aku tahu tentang Peri Asal, bahkan sejak sebelum aku lahir. Tapi, mengapa aku tidak menyadarinya?

Itu karena Peri Asal sejak awal tidak memiliki nama.

Peri Asal sangat berhati-hati. Saat memangsa pun, dia hanya memakan sisa-sisa manusia yang telah dihancurkan oleh anak-anaknya.

Karena itulah, tidak ada satu pun orang yang bisa bertahan hidup untuk menyampaikan pengetahuannya.

Itulah mengapa umat manusia seharusnya tidak tahu tentang Peri Asal, dan itu juga berlaku dalam skenario permainannya.

Hanya di babak akhir, nama Peri Asal baru muncul saat melawannya. Begitulah tipe bosnya.

Peri Asal tidak pernah menampakkan diri selain di babak akhir skenario permainan. Hanya ada peri-peri yang menyamar menjadi manusia untuk menjebak karakter pemain yang sesekali menyebut kata Ibu Agung.

Peri yang menyamar menjadi manusia?

Wajahku memucat seketika.

"Mikkanen, apakah kamu menyadari sesuatu?"

Tunggu, apa yang tertulis dalam teks flavor pada misi itu? Aku memegangi kepalaku, memeras ingatan yang tersisa sedikit demi sedikit.

'Peri yang menyamar menjadi manusia adalah bencana yang pernah mengamuk di medan perang. Muncul bersama kawanan peri dalam jumlah besar. Selain itu, ada rumor bahwa peri raksasa yang disebut peri-peri itu sebagai Ibu Agung telah melahap segalanya. Reruntuhan Kastil Ogdanel terlindungi berkat satu Hunter yang mengorbankan nyawanya.'

"Jangan-jangan, ini adalah kejadian itu?"

Seorang Hunter mengorbankan nyawanya.

Peri yang lapar akan jatuh dalam kondisi mengamuk.

Peri yang mengamuk memiliki kekuatan yang luar biasa.

Morgraid membujuk Agrastein.

Satu per satu kepingan teka-teki mulai terpasang di kepalaku. Gigiku semakin kuat menggertak, dan kepalan tanganku memutih.

"Terima kasih, Profesor Alhanzen. Berkat Anda, aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang."

"...Mikkanen?"

Aku meraih Longsword yang tergantung di dinding.

Sejak pindah dari medan perang ke Ibu Kota, ini pertama kalinya aku menyarungkan pedang ini di pinggangku. Sebab, dalam kehidupan Ibu Kota yang damai, benda ini sama sekali tidak dibutuhkan.

Tapi, sekarang berbeda.

Aku mengelus Longsword di pinggangku.

Benar, aku memang atasan yang tidak berguna. Aku samar-samar menyadari bahwa rekan seperjuanganku sedang dalam kesulitan, namun hatiku malah terlena oleh kehidupan tenang di garis belakang.

Tapi, tetap ada hal yang tidak bisa kulepaskan.

"Berhenti dari militer bisa kulakukan nanti saja."

"Ke mana kamu pergi di tengah malam begini? Lagipula, membawa senjata tanpa izin itu melanggar aturan militer."

Aku tidak boleh merepotkan Profesor Alhanzen. Ini adalah tugasku sebagai atasan Morgraid, sebagai rekan seperjuangan Morgraid.

"Aku hanya perlu pergi memarahi si bodoh itu."

"Mikkanen?"

Meninggalkan kata-kata itu, aku melompat ke dalam kegelapan malam.


◆◆Selingan: Monolog Seorang Pengembara◆◆

Celah di antara kaki peri yang telah bercampur dengan manusia, itulah kampung halamanku. Sejak lahir, aku sudah tahu diriku ini apa. Seorang anak haram, perpaduan antara manusia dan peri yang seharusnya tidak boleh ada.

Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa terlahir ke dunia ini sampai sekarang. Mungkin itu hanyalah keisengan ibuku. Anak yang dilahirkan dengan menyakiti rahimnya sendiri—anak yang lahir dari benih manusia—sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

Itulah diriku. Jadi, aku tidak tahu nama maupun rupa ayahku. Bahkan, aku ragu apakah ingatan tentang ibuku masih tersisa di kepalaku, karena ibuku adalah peri yang benar-benar sejati.

Namun, aku sama sekali tidak peduli tentang ayahku yang mungkin sudah mati sejak lama. Bagaimanapun juga, sejak lahir, hidupku memang sudah berakhir.

Seperti peri, ada kekosongan besar yang menganga di hatiku. Tapi, karena aku memiliki kecerdasan manusia yang tanggung, aku justru bisa membenci para peri itu.

Singkatnya, aku adalah Frankenstein yang tidak tertolong. Sejak lahir, dadaku selalu terasa dingin, dan aku sangat mendambakan kehangatan hati manusia dengan cara yang buruk.

Namun di sisi lain, aku merendahkan peri yang hanya jatuh menjadi binatang buas yang rakus akan hati manusia. Aku sangat mendambakan menjadi manusia yang bisa tertawa, marah, dan sedih, sampai-sampai aku ingin berteriak.

Namun, rasa lapar di hati selalu berbisik di kepalaku agar aku memangsa manusia saja. Seharusnya aku bisa memilih salah satu jalan: entah menjadi peri yang tanpa berpikir panjang memangsa manusia demi memuaskan nafsu, atau mengakhiri hidupku sebagai manusia—meskipun hanya tiruan.

Tapi aku terus saja hidup. Aku hanya ingin memiliki hati manusia.

Aku berpura-pura menjadi bayi manusia dan dipungut oleh pasangan yang berhati mulia. Awalnya, kupikir semuanya akan berjalan lancar. Karena aku bisa hidup dengan manusia sejak kecil, pasti aku akan mendapatkan hati itu.

Itu adalah pemikiran yang naif. Kebohonganku segera terbongkar.

Seberapa besar pun kasih sayang yang dicurahkan pasangan itu, aku tidak mengerti apa itu "hati". Aku tidak diajari kapan, di mana, dan bagaimana cara tertawa.

Aku tidak mengerti bahwa lelucon ayah angkatku adalah sebuah lelucon. Setelah melihat wajah kaku ayah angkatku, barulah aku sadar aku telah melakukan kesalahan.

Aku berpikir telah melakukan hal bodoh, jadi ketika ibu angkatku mematahkan tulang kakinya, aku tertawa terbahak-bahak dengan wajah yang kaku. Bahkan saat dimarahi, aku tidak tahu ekspresi apa yang harus kutunjukkan.

Lagipula, apa itu tertawa? Orang bilang manusia tertawa saat mereka merasa senang, tapi situasi macam apa yang membuat orang merasa senang?

Aku tidak mengerti apa pun. Akhirnya, jati diriku sebagai peri segera terbongkar.

"Monster, kau!"

Orang yang aku dambakan, orang yang kuharapkan bisa hidup bersama, malah mengejarku. Aku terus melarikan diri, dan masih berniat untuk kembali ke desa jika suasana sudah tenang.

Namun, sialnya, mereka semua sudah mati. Dibunuh oleh peri.

Apa yang dilakukan manusia di saat seperti ini? Karena tidak tahu, aku melakukan satu-satunya hal yang kupahami.

Aku memutar wajahku menjadi seringai yang kacau. Sejak saat itu, aku berpindah-pindah dari satu pasangan ke pasangan lain, mungkin sekitar sepuluh kali.

Paling lama kami hidup bersama hanya setahun, dan dalam kasus terburuk, aku diusir dalam sehari. Aku selalu terbongkar sebagai peri dan hampir dibunuh.

Semua itu hanya karena aku tidak mengerti hati manusia. Aku menangis di tempat yang seharusnya tidak perlu menangis.

Karena aku tidak mengerti apa itu amarah, aku bahkan tidak tahu apakah orang sedang membentak atau tertawa. Dengan kondisi seperti itu, mustahil aku bisa hidup tanpa dicurigai.

Sungguh, bagaimana cara manusia memahami emosi mereka sendiri? Itu adalah pertanyaan yang sangat ingin kuketahui sampai mati, dan sebuah keinginan yang buruk.

Aku mencoba berguru pada pengrajin di pegunungan. Dipekerjakan oleh pedagang untuk menyeberangi lautan.

Menggenggam beliung berdampingan dengan penambang. Di mana pun itu, aku selalu diusir.

Begitulah, aku terus hidup dengan memendam keinginan yang tidak pernah terwujud. Aku tidak tahu apa itu persahabatan, jadi mustahil bagiku membuat teman.

Aku tidak pernah disukai oleh orang lain, dan setiap kali aku mengenal seseorang, tak lama kemudian mereka mencoba membunuhku. Meski hidup lama, aku tidak pernah mahir berpura-pura menjadi manusia.

Kekosongan di dadaku semakin membesar, seolah siap menelanku kapan saja. Akhirnya, aku menjadi pengembara yang berkelana.

Sekitar seribu tahun setelah aku lahir. Umat manusia hampir punah karena terdesak oleh para peri.

Aku hanya menonton dalam diam saat wilayah mereka yang tersisa terus jatuh satu per satu. Sudah bisa diduga.

Manusia tidak seahli peri dalam menggunakan sihir. Aku juga tidak peduli saat kota tempatku tinggal dulu hancur.

Dunia ini akan menjadi milik peri, dan dengan begitu, konsep "hati" akan hilang selamanya. Manusia yang bertahan hidup pun sudah kehilangan hati mereka sejak awal.

Banyak yang menjadi gila dan mengakhiri hidup sendiri. Bahkan tentara yang masih bertarung melawan peri di medan perang memiliki mata yang redup karena keputusasaan.

"Terserah apa yang terjadi," pikirku. Keinginan untuk memiliki hati manusia tidak akan pernah tercapai.

Kalau begitu, biarlah anak haram sepertiku punah bersama dengan manusia lainnya. Saat aku sudah menyerah pada segalanya itulah.

Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada satu anak. Sudah seribu tahun aku hidup, baru kali ini aku melihat hati yang menyala-nyala sekuat itu.

Yang terpenting, matanya belum kehilangan cahaya. Meskipun semua orang berpikir manusia tidak bisa selamat karena jumlahnya sudah di bawah satu juta, prajurit baru bernama Mikkanen itu tidak menyerah pada hari esok manusia.

Tanpa ragu sedikit pun, dia menerjang kawanan peri dan mengayunkan Longsword-nya seperti iblis. Langkahnya tidak menunjukkan keraguan bahwa kehidupan yang damai akan kembali.

Karena terlalu menyilaukan, aku tidak bisa memalingkan pandangan. Punggung Mikkanen yang terus bertarung itu membangkitkan semangat para prajurit yang seharusnya sudah putus asa.

Artileri yang tadinya bergumam dengan mata gelap, kini mengangkut peluru dengan nekat. Penembak yang tadinya hendak melarikan diri, kini berbalik arah.

Hunter baru bernama Mikkanen itu, sendirian menerangi medan perang. Dadaku terasa tidak tenang.

Terpikat oleh hati Mikkanen yang bangkit kembali meski berlumuran darah, aku yang seharusnya sudah menyerah pada segalanya, melangkahkan kaki.

◆◆◆

Sebagai Hunter yang menyusup ke militer, aku segera menjadi satu-satunya anggota party Mikkanen. Setelah seribu tahun perang, jumlah Hunter hanya bisa dihitung dengan jari.

Begitulah, aku yang seharusnya tidak memiliki hati, berlari menembus medan perang bersama Mikkanen. Aku yang seharusnya tidak peduli pada apa pun, entah mengapa kini bertarung sambil saling melindungi punggung dengan manusia.

Hanya dengan bertarung bersama Mikkanen, dadaku terasa hangat. Dan yang terpenting, untuk pertama kalinya seumur hidup, aku tidak diusir.

Saat aku tertawa melihat mayat prajurit yang tewas, Mikkanen memukulku. Dia memukulku dan mengajariku bahwa kematian seorang prajurit adalah sesuatu yang harus diratapi dan disedihkan.

Kepada diriku yang tidak mengenal hati, dia mengajariku tentang hati sedikit demi sedikit.

"Ini, anggur gunung. Manis, kan?"

"Jangan memasang wajah cemberut."

"Bodoh. Manis itu artinya senang, kalau begitu kamu harus tertawa."

Saat memakan buah yang manis, aku hanya perlu tertawa. Itulah yang diajarkan Mikkanen saat kami dikepung peri dan nyawa kami bisa terenggut kapan saja.

"Ini? Ini namanya teh."

"Memangnya kenapa kalau tertawa meskipun tidak manis?"

"Minuman seperti ini harus dinikmati aromanya. Hal-hal kecil seperti ini menyenangkan, kan?"

Saat meminum teh yang berkilau bak ambar, aku hanya perlu menikmatinya. Di kota yang dulu hilang direbut manusia, di rumah puing-puing yang kini dikuasai peri, Mikkanen mengambil daun teh berdebu dan mengajariku hal itu.

Tangan bayi yang tidak tahu apa-apa tentang hati ini diraih oleh Mikkanen, dia mengajariku segalanya dengan sabar. Dia selalu ada di sisiku.

Aku hampir gila.

"Tentu saja, kita adalah rekan yang saling melindungi punggung di medan perang. Kalau kamu kesusahan, aku akan mengulurkan tangan. Jadi, andalkanlah aku."

Untuk pertama kalinya, seseorang menyebutku sebagai teman. Hanya dengan itu saja, dadaku terasa hangat.

Saat berlari dengan gegabah, Mikkanen semakin banyak mendapatkan rekan seperjuangan. Melihatnya bercanda dengan orang-orang yang dia percayai, aku merasa sangat iri.

Karena hati itu adalah sesuatu yang tidak aku miliki. Hati manusia itu sungguh indah saat dilihat dari dekat.

Ah, untuk pertama kalinya seumur hidup, aku merasa bersyukur pernah lahir ke dunia. Meskipun tubuhku ini sebentar lagi akan ditelan kegilaan dan akhirnya menemui ajal.

Rasa lapar ini semakin parah. Aku memang mendapatkan hati dari peri melalui sihir, tapi aku tahu itu tidak akan cukup karena aku tidak memakan otak manusia.

Namun, aku sudah tidak ingin menjadi peri lagi. Sampai ajalku tiba, aku ingin terus berpura-pura menjadi manusia yang diajarkan oleh Mikkanen.

"Sebenarnya aku berniat keluar dari militer. Jadi aku sempat meminta Isfarna untuk mengeluarkanku dari party..."

Ini dia, pikirku. Pura-pura menjadi manusia yang gagal kulakukan setelah mendambakannya, inilah akhirnya.

Aku akan mengabulkan keinginan Mikkanen, lalu mati. Sejak saat itu, segalanya berjalan sangat lancar.

Aku mengajak Mikkanen secara halus, dan meluluhkan hati rekan seperjuangannya yang sempat renggang. Kini, hati mereka yang bisa mengungkapkan perasaan dengan jujur itu sangat indah.

Karena itulah, aku bisa berusaha. Sejak mendengar peri yang bisa menyamar muncul, aku semakin bersemangat membujuk Agrastein.

Aku tidak bisa membiarkan Mikkanen bertarung melawan makhluk itu. Meskipun Mikkanen baru saja bangkit, dia tetap akan terbunuh olehnya.

Hanya itu satu-satunya hal yang tidak bisa kubiarkan, tidak bisa kusetujui. Aku bertanya-tanya, apakah sekarang Mikkanen dan yang lain bisa hidup bahagia di Ibu Kota?

Rasa lapar membuat tubuhku mulai berderit. Sudah waktunya.

Peri yang menyamar itu, dan dalang yang melahirkannya, pastilah dia. Saat pertama kali mencium aroma peri itu di laboratorium, hidungku terasa sakit.

Aku tahu betul tentang dia—makhluk yang memiliki kekuatan tak terhingga dan membuat perutku mual. Termasuk diriku, peri hebat bisa menyembunyikan jantung mereka.

Semakin kuat mereka, semakin sulit menemukan tempat persembunyian jantung itu. Tentu saja, aku tidak tahu di mana dia menyembunyikan jantungnya.

Mustahil aku bisa membunuhnya. Bahkan jika aku menjadi liar karena kelaparan, paling tidak aku hanya bisa memojokkannya ke kedalaman Hutan Peri.

Setelah memberinya beberapa luka, aku akan menemui ajal sendirian di dalam hutan. Tapi, jika itu bisa membeli kehidupan Mikkanen yang bahagia, maka tidak masalah.

Berakhir di kedalaman Hutan Peri, lalu mati dengan saling menusuk bersama makhluk keparat itu. Itulah sumpah yang kuucapkan saat membujuk Agrastein.

"Sudah lama kita tidak bertemu, ya, Ibu. Mari kita bertengkar selayaknya ibu dan anak."

Meskipun aku sedang menuju kematian yang selama ini kutakuti, langkah kakiku terasa sangat ringan. Rasanya aku bisa terbang hingga menembus awan.

"Ah, ternyata ini..."

Mungkin ini yang disebut manusia sebagai cinta, atau setidaknya tiruannya.

◆◆Selingan: Monolog Seorang Pengembara - Selesai◆◆


Gerobak tambang yang kutumpangi secara diam-diam melaju tenang di dalam lorong bawah tanah.

Sembari bersembunyi di balik peti amunisi, aku mengernyitkan dahi. Aneh, seharusnya gerobak yang mengangkut prajurit ke medan tempur ini berisik, bukan?

Lorong itu tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan, hanya keheningan yang menyesakkan yang melayang di udara. Melihat kondisi medan tempur yang tak terduga itu, wajahku perlahan menegang.

Aku menghentikan gerobak itu di Pos 003 dengan tenang.

Meski telah tiba di bawah pos pertempuran sengit yang pernah kudatangi dulu, tak ada suara satu pun. Biasanya, raungan peluru meriam dan jeritan para prajurit akan menggetarkan kulitku.

Tempat tidur yang seharusnya dipenuhi prajurit yang terluka, kini hanya menyisakan seprai putih bersih.

"Apakah tidak ada orang?"

Tanganku meraih tuas palka. Aku melompat keluar dengan sigap menuju pos yang seharusnya penuh dengan hujan peluru.

"……A-apa ini?"

Seharusnya aku sudah menajamkan saraf dengan tangan yang menyentuh Longsword, siap menghadapi apa pun yang menerjang pandanganku. Namun, aku justru tertegun melihat pemandangan yang mustahil ini.

Di pos yang seharusnya menjadi mozaik lumpur dan genangan darah, bunga-bunga putih bermekaran dengan indahnya.

Kicauan burung terdengar picit-picit. Suara kepakan sayap lebah yang terbang kian kemari mengumpulkan nektar seharusnya menjadi suara yang paling jauh dari medan tempur.

Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

Aku tersadar dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Aku pun menyadari para prajurit yang sedang duduk melamun dengan wajah yang kehilangan jiwanya.

Aku buru-buru mengguncang bahu mereka.

Prajurit yang terus menggumamkan kata-kata tak jelas sembari meneteskan air liur itu sama saja dengan memohon pada peri untuk memakan mereka. Namun, mereka hanya memiringkan kepala.

"Hei, kalau tidak bisa bertarung, segera kabur dari sini!"

Dalam kepanikan mencoba menyadarkan para prajurit, aku baru menyadari bahwa tidak ada satu pun sosok peri di sekitar. Padahal biasanya, kawanan peri yang cukup untuk menutupi permukaan bumi pasti sedang menyerang.

Rasanya terlalu tenang.

"Apa ini, bunga apa ini? Apakah ini sihir atau semacamnya?"

Medan tempur yang seharusnya masih menjadi tempat peri dan manusia saling bunuh demi kelangsungan hidup masing-masing, kini terbentang ladang bunga sejauh mata memandang. Seolah-olah perang tragis itu tidak pernah terjadi sejak awal.

Aku benar-benar bingung. Apa sebenarnya semua ini?

"Datang sangat terlambat, ya. Aku sudah lelah menunggu kepulanganmu."

Mendengar suara yang sangat kukenal, baik di dalam game maupun dunia ini, aku menoleh dengan cepat. Di balik hamparan bunga putih, Agrastein, sang dalang di balik semua ini, berdiri dengan tangan bersedekap.

"Ini, sebenarnya apa maksudnya?"

"Bukankah karena kamu menyadarinya, kamu kembali ke medan tempur yang begitu kamu benci? Ini adalah sihir agung terakhir dari peri bernama Morgraid."

Agrastein menunjuk ke arah belakang punggungku.

Aku menahan napas saat menatap ke arah telunjuknya, ke arah hutan peri. Hutan yang seharusnya dipenuhi pepohonan hitam pekat kini seolah tertutup oleh badai kelopak bunga raksasa yang menjulang melampaui awan.

Melihat kelopak bunga putih murni yang kukenal itu, aku mau tak mau menyadarinya.

"Apakah itu artinya, Morgraid sudah menjadi peri yang kehilangan akal sehatnya?"

"Tepat sekali. Sekarang, dia sedang menciptakan neraka yang melenyapkan peri di sekitarnya, bahkan jika itu adalah mala petaka sekalipun. Saat itu berakhir, dia akan mati."

Dikatakan bahwa para prajurit biasa telah kehilangan kewarasan mereka karena sihir agung yang luar biasa itu. Katanya, saat ini hanya para Hunter berpengalaman yang masih bisa menjaga kesadaran di medan tempur ini.

"Aku tidak bisa begitu saja meninggalkan pertahanan hanya karena Morgraid mengamuk. Aku membiarkan para prajurit menjaga pos sampai batas maksimal, tapi keadaan menjadi lebih merepotkan dari yang kukira."

Agrastein memperlihatkan roti yang melunak karena air di genggamannya.

Katanya, bahkan shota sinting yang biasanya bersembunyi jauh di bawah tanah untuk memimpin seluruh operasi pun harus turun tangan, menyuapi makanan ke mulut para prajurit yang telah kehilangan jiwanya.

"Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Kamu datang untuk menyelamatkan Morgraid, kan? Kalau tidak segera pergi, rekan seperjuanganmu itu benar-benar akan mati."

Mendengar kata-kata Agrastein, aku membelalakkan mata.

Aku sempat berpikir bahwa aku harus melawan Agrastein. Meskipun aku tidak ingin memikirkannya setelah tahu sihirnya, aku tahu aku tidak bisa menghindarinya.

"Itu... bukankah Anda akan menghentikanku?"

"Tidak. Kupikir lebih baik kamu pergi sebelum aku berubah pikiran."

Aku tidak tahu mengapa.

Bukankah shota sinting inilah yang membuat kesepakatan dengan Morgraid untuk membiarkan kami hidup di garis belakang sebagai ganti waktu beberapa tahun?

Namun, sekarang bukan saatnya bagiku untuk menanyakan keraguan seperti itu.

"Terima kasih banyak."

Aku segera memberi hormat dan berbalik. Tanpa menoleh lagi, aku berlari menuju badai kelopak bunga yang menjulang ke langit, menuju ke tempat Morgraid berada.

◆◆◆

Setiap langkah yang kuambil, badai kelopak bunga raksasa itu tampak semakin besar seolah-olah hendak menimpaku. Bersamaan dengan itu, hawa dingin yang membuat bulu kuduk merinding menjalar di punggungku.

Perasaan tidak enak seperti ini mungkin hanya kurasakan saat bertarung melawan peri yang melampaui mala petaka. Itu berarti Morgraid telah jatuh sedalam itu.

"Si bodoh itu……"

Aku menggertakkan gigi. Padahal dia adalah rekan seperjuangan yang selalu saling menjaga punggung, kenapa dia tidak menceritakan hal ini padaku sampai sekarang?

Kelopak-kelopak bunga menghantam kulitku.

Batu di dekatku hancur seketika, bahkan tidak menyisakan bentuk sedikit pun. Meskipun masih jauh, kekuatannya sungguh mengerikan.

Morgraid pasti berada di tengah badai bunga ini. Aku memutar otak, bagaimana cara menembus sampai ke sana?

"Hanya ada satu hal yang bisa dilakukan, ya."

Aku mencabut Longsword dan menatap badai kelopak bunga yang menjulang ke langit.

Untungnya, sihirku sangat cocok untuk situasi seperti ini. Berlari masuk ke tempat yang tampak berbahaya seperti orang bodoh sudah menjadi rutinitas bagiku.

Aku melangkah masuk ke dalam badai kelopak bunga.

Seketika, kawanan kelopak bunga menerjangku. Kelopak bunga yang menyimpan kekuatan setara satu serangan mematikan bagi manusia itu mengincarku seolah hendak membunuh.

Aku menarik napas dalam-dalam.

Kemampuan Longsword untuk bertahan sangat terbatas. Maka, bagian yang paling mematikan jika terluka—yaitu kepala dan kaki untuk berlari—harus tetap utuh.

Saat aku melangkah maju, bagian samping tubuhku teriris.

"Argh!"

Seketika, sihirku bereaksi dan rasa sakit luar biasa menjalar di punggungku.

Sembari memercikkan darah, aku terus berlari menuju badai bunga. Semakin jauh aku melangkah ke dalam badai tempat Morgraid berada, kekuatannya meningkat berkali-kali lipat.

Tanah hancur, dan yang kulihat hanyalah putihnya kelopak bunga.

Keahlian Longsword yang kulatih selama ini tidak cukup untuk melindungiku dari segalanya; darah mengalir dari leher, dan tulang tengkorakku retak karena hantaman kelopak bunga yang melaju kencang.

Tetap saja, aku harus berlari.

Di depan sana, ada rekan seperjuanganku. Ada orang bodoh yang berniat mati tanpa memberitahuku. Jika begitu, aku harus mencapainya dengan cara apa pun. Aku terus berlari menembus jalan yang tak beraspal sembari menggertakkan gigi.

Aku dijuluki pahlawan atau apalah, maka aku harus berhasil melakukan hal ini.

Setelah waktu yang terasa seperti keabadian, aku akhirnya menembus badai kelopak bunga tersebut.

Tempat di balik badai kelopak bunga itu tampak putih dan sangat sepi. Di dalam dunia yang dikelilingi kelopak bunga putih di segala arah, aku melangkah dengan menapak kuat.

"Kenapa... kamu di sini?"

Morgraid, yang bahkan matanya telah ternoda warna putih, membelalakkan mata.

"Aku datang ke sini untuk memukul rekan bodoh yang berniat mati tanpa permisi, lalu membawanya pulang."

Saat aku melangkah lagi, separuh kakiku hancur berkeping-keping. Karena hanya tersisa tulang putih, aku kesulitan menjaga keseimbangan.

Saat melangkah sekali lagi, aku menyadari lengan kiriku sudah hilang.

Sihir Morgraid terletak pada kemampuannya merenggut vitalitas. Entah itu peri, tumbuhan, bahkan batu, semuanya akan layu, membusuk, dan memudar.

Jika sihir itu menjadi lebih mengerikan karena kehilangan kendali, mungkin beginilah jadinya. Aku mengalihkan pandangan dari dagingku sendiri yang membusuk.

Tampaknya selama aku berada di sini, aku akan terus menua dan hancur tertiup angin sesuka hati.

Namun, aku mendesah lega. Dengan sihirku, hal ini bukanlah masalah; tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Hanya rasa sakit luar biasa yang terasa seperti akan mati saja.

Saat aku menatap Morgraid lurus-lurus, tulang yang terkikis tumbuh kembali dengan cepat, daging menutupi tulangnya, dan kakiku kembali seperti semula. Lengan pun muncul kembali.

Aku menahan rasa sakit yang nyaris membuatku gila.

Sihir terkutukku akan selalu menjagaku tetap bisa bertarung selama aku mematuhi Geis untuk terus bertarung. Jika aku mati, aku akan bangkit kembali; jika aku terkunci, aku akan meloloskan diri.

Sebagai gantinya, aku hanya perlu menelan rasa sakit seperti di neraka.

Aku melangkah lagi, dan kali ini separuh kepalaku hilang. Sembari mendorong otakku yang meleleh keluar, aku tidak menghentikan langkahku.

Morgraid menahan napas dengan wajah yang tampak ingin menangis.

"K-kau tahu kalau bahkan kau pun tidak bisa menyelamatkanku! Aku ini peri, untuk bisa hidup aku hanya bisa memakan manusia, aku ini monster!"

"Morgraid yang kukenal bukanlah monster, dia adalah rekan seperjuanganku. Jika kau sedang kesulitan, aku akan menyelamatkanmu dengan cara apa pun."

Selanjutnya, dadaku mengembang dan paru-paruku meledak. Aku tidak bisa bernapas, tapi aku tetap melangkahkan kaki. Selain itu, aku tahu cara untuk menyelamatkan Morgraid.

"Karena itu, makanlah aku."

Pupil mata Morgraid bergetar.

"……Jangan katakan hal bodoh. Aku sudah hidup seribu tahun, kau tahu berapa banyak nyawa yang dibutuhkan untuk mengisi kekosongan peri itu! Seribu atau sepuluh ribu saja tidak cukup!"

"Bunuh saja aku sesukamu."

Seketika, kesadaranku terputus. Sesaat kemudian, saat aku kembali sadar, aku menyadari bagian pinggang ke atas tubuhku telah tertebas. Rupanya aku sempat mati sekali.

Seketika, rasa sakit luar biasa yang tak tertandingi sebelumnya membuatku hampir kehilangan kesadaran.

Rasa sakit yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka dan mati itu berbeda levelnya. Lagipula, aku baru bisa menghitung dengan jari berapa kali aku mati, dan setiap kali itu terjadi, hatiku nyaris hancur.

Namun, aku tidak boleh menyerah.

Jika aku kalah oleh rasa sakit ini sekarang, aku tidak bisa menjaga Geis, dan jika tidak bisa menjaga Geis, berarti aku mati. Selain itu, aku tidak bisa menyelamatkan Morgraid.

Karena itu, aku tidak boleh hancur meski aku mati berkali-kali.

Sembari meneteskan air liur karena rasa sakit yang luar biasa, aku hampir menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Meski begitu, Morgraid mengernyitkan bibir melihatku yang tidak berhenti melangkah.

"Lihat, kau hampir mati, kan! Seharusnya kau meninggalkanku saja dan hidup bahagia di garis belakang!"

Kepalaku meledak lagi, dan setelah kesadaranku terputus, aku kembali diserang rasa sakit yang hebat.

"Sudahlah, bunuh aku cepat. Setelah itu, hiduplah."

Meski keringat dingin bercucuran di dahi, aku tersenyum menyeringai untuk memancingnya. Katanya ini akan berlanjut sampai sepuluh ribu kali, ini ternyata lebih berat dari dugaanku.

Mungkin aku berjalan lebih lambat daripada kungkang. Setiap kali aku melangkah sedikit saja, setipis kertas, kepala atau jantungku pasti meledak.

Setiap saat itu pula aku mati dan menderita rasa sakit yang tidak masuk akal.

"Masih... masih... bisa. A-aku... masih..."

Leherku tertebas dan jatuh dari bahu. Sesaat kemudian, aku hampir berlutut karena rasa sakit seperti disiram seikat jarum ke dalam perut.

Namun, aku mengangkat wajah.

Morgraid, yang terus terisak dengan wajah tertutup tangan, kini kulitnya tampak kembali merona. Strategiku memang benar, dan hanya itu yang bisa kuharapkan.

"Nah, berikutnya."

Di belakangku, tumpukan mata, rahang, dan darah daging dari tanganku yang meledak terus berserakan. Tanpa sadar berapa banyak waktu yang telah berlalu, akhirnya jari tanganku menyentuh Morgraid.

"A-ah..."

Morgraid menunjukkan wajah yang merupakan campuran dari kebahagiaan, kesedihan, dan segalanya.

Begitu aku sadar, badai kelopak bunga yang tadi begitu riuh telah mereda, dan langit biru mulai tampak. Dengan tangan yang nyaris tidak bisa digerakkan, aku mengelus pipi Morgraid.

"Ah, ini... sudah selesai, ya?"

Kepalaku tidak bisa berpikir jernih, kesadaranku memudar. Namun, di tengah kondisi itu, aku mengerti dari anggukan Morgraid.

Seketika, kekuatanku menghilang.

Morgraid memelukku erat saat aku roboh. Sembari menghisap ingus dan tubuh yang gemetar, Morgraid membuka mulut seolah memeras suara dari lubuk hatinya.

"Kenapa, kenapa..."

Melihat Morgraid yang melantur hal-hal bodoh, aku merasa jengkel.

"Bodoh, a-aku dan kau... adalah teman, kan?"

"Apa yang kau... katakan..."

Tetesan air jatuh ke wajahku satu per satu.

Tangan yang memelukku itu gemetar hebat, dan mata Morgraid berkilau seperti permata.

Tetesan air kembali jatuh membasahi pipi Morgraid.

Pada saat itu, hati yang bukan tiruan, perasaan yang sesungguhnya, benar-benar bersemayam di dalam diri Morgraid. Bibirnya yang bergetar, matanya yang menyipit, dan giginya yang terkatup rapat.

Ini adalah pertama kalinya aku melihat Morgraid seperti itu.

"Apa ini? Seolah-olah seperti manusia... Padahal aku ini peri, kenapa..."

Aku merasa itu sangat indah.

Itu adalah pemandangan yang membuatku tidak merasa menyesal sama sekali telah mempertaruhkan nyawa.

"I-indah."

"Berisik, berisik sekali... Diamlah..."

Sosok Morgraid yang menangis tertahan itu terasa sangat manusiawi.

Sang pengembara yang telah mengakhiri kesendirian seribu tahunnya, kini meneteskan air mata dengan tenang.

Hari ini, seorang peri mengetahui apa itu hati, dan apa artinya mencintai seseorang dengan begitu mendalam.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close