NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V5 Chapter 2

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 2

Hak Istimewa Kekasih

Setibanya di rumah, Haruto melakukan pengecekan terakhir pada barang bawaannya untuk tinggal di kediaman keluarga Toujou.


Insiden sebelumnya mungkin akan menimbulkan banyak kesalahpahaman, tetapi mulai sekarang ia akan tinggal bersama di kediaman Toujou. Ia hanya perlu menjelaskannya dengan benar di sana. Sambil berpikir demikian, Haruto memeriksa barang bawaannya satu per satu.


“Baju ganti, charger, alat tulis, terus... sip, harusnya sudah cukup.”


Setelah melihat isi tas boston-nya dan memastikan tidak ada yang tertinggal, Haruto menyandang ranselnya, mengunci pintu rumah, dan berangkat menuju kediaman Toujou. Omong-omong, neneknya sudah pergi duluan sekitar lewat tengah hari dan sudah mulai bekerja sebagai asisten rumah tangga.


Haruto berjalan seraya memendam rasa terima kasih kepada keluarga Toujou karena telah memberikan pekerjaan baru untuk neneknya.


Langkah kakinya kemudian terhenti sejenak di depan sebuah rumah mewah yang megah.


Sebelum menekan interkom, ia mengeluarkan ponselnya untuk mengecek apakah ada chat yang masuk. Kemudian, ia menghela napas kecil setelah tahu tidak ada satu pun chat di sana.


Dalam benak Haruto, terbayang ekspresi Ayaka yang melotot lebar-lebar saat melihat dirinya diseret pergi oleh Shizuku. Haruto tadinya yakin 100 persen bahwa gadis itu akan menanyakan sesuatu mengenai hal itu lewat chat, namun di luar dugaan, Ayaka sama sekali tidak memberi reaksi apa pun.


“Yah, toh sebentar lagi kami akan ketemu langsung, aku akan membicarakannya nanti saja.”


Haruto bergumam sendirian, lalu menekan interkom kediaman Toujou.


‘Yaa~’


“Aku Ootsuki.”


‘Ara, Ootsuki-kun, pintunya akan kubuka sekarang, ya.’


Beberapa detik setelah suara ceria Ikue terdengar, pintu depan terbuka dan sosoknya pun muncul.


“Selamat pulang, Ootsuki-kun.”


“Ah, ya. Permisi.”


Ikue menyambut Haruto dengan senyum hangat. Haruto merasa sedikit tersipu mendengar ucapan “Selamat pulang”-nya, lalu menundukkan kepala sekilas dan melangkah masuk ke dalam rumah.


“Ootsuki-kun, di saat seperti ini kamu tidak boleh bilang ‘Permisi’, tapi harus bilang ‘Aku pulang’, oke?”


“Ah, be-benar, ya.”


Menanggapi perkataan Ikue yang masih dibarengi senyum ramah, Haruto menyunggingkan senyum kecut bercampur rasa malu.


“Ucapan ‘Aku pulang’ itu, bukan hanya ditujukan pada tempatmu berpulang, tapi juga diucapkan ketika kamu kembali ke tempat orang-orang yang menunggumu, tahu?”


“Iya... Aku pulang.”


“Ufufu, selamat pulang.”


Senyuman lembut Ikue membuat Haruto merasakan rasa malu yang menggelitik. Namun, di saat yang sama, ia juga bisa merasakan kehangatan yang perlahan menjalari hatinya.


Dengan membawa perasaan tersebut, Haruto memasuki ruang keluarga. Di sana, Ayaka sedang menemani Ryota bermain.


Ayaka yang tengah memegangi pedang plastik dan berhadapan dengan Ryota, memekarkan senyumannya begitu melihat kedatangannya.


“Ah, Haruto-kun. Selamat pulang.”


“Ah, ya. Aku pulang.”


Disambut dengan ucapan “Selamat pulang” beserta senyum manis dari Ayaka, Haruto merasakan kebahagiaan yang sedikit berbeda dari saat Ikue menyambutnya tadi.


“Ayaka, um... soal kejadian di sekolah hari ini...”


Haruto berniat menjelaskan perihal Shizuku kepadanya. Namun, perkataannya terpotong oleh Ryota yang memancarkan senyum semringah.


“Onii-chan, selamat pulaaang!!”


Ryota melempar pedang plastik di tangannya, lalu berlari menerjang Haruto.


“Hap, aku pulang, Ryota-kun.”


Haruto membungkukkan badannya dan menangkap tubuh Ryota.


“Onii-chan mulai hari ini akan tinggal sama kita, ‘kan?”


“Benar sekali. Mulai sekarang mohon bantuannya, ya.”


“Ya!! Mohon bantuannya!!”


Terpancing oleh Ryota yang menatapnya dengan mata berbinar-binar dan senyum lebar yang memancarkan kebahagiaan luar biasa, ekspresi Haruto pun ikut melunak. Saat itu, sang nenek yang tengah menyiapkan makan malam di dapur, melihat Haruto dan Ryota, lalu menyipitkan mata dengan hangat.


“Selamat pulang, Haruto.”


“Aku pulang, Nek.”


Itu percakapan yang biasa dilakukan Haruto dan neneknya ketika tiba di rumah.


Melakukan rutinitas tersebut bukan di rumah sendiri melainkan di kediaman Toujou, membuat Haruto merasakan sensasi yang sedikit canggung.


Sang nenek sedang membumbui paha ayam di dalam mangkuk besar. Sepertinya menu makan malam hari ini adalah karaage. Melihat hal itu, Haruto berucap pada neneknya seperti biasa.


“Nek, ada yang bisa kubantu?”


“Tidak, untuk hari ini tidak perlu. Lebih baik kau bereskan barang bawaanmu, lalu bermainlah dengan Ryota-kun.”


Biasanya, Haruto akan memasak bersama neneknya untuk mencuri ilmu memasaknya. Namun, karena kini adalah hari pertamanya tinggal di keluarga Toujou, sang nenek menyuruhnya bermain bersama Ryota.


Ia mengangguk, lalu meletakkan satu tangannya dengan lembut di atas kepala Ryota.


“Ryota-kun, setelah membereskan barang, bagaimana kalu kita main bareng sampai waktu makan malam tiba?”


“Asyiiik!!”


Haruto tersenyum melihat Ryota yang teriak kegirangan. Kemudian, Ayaka memanggilnya.


“Haruto-kun, aku bantu bawa barang-barangmu, ya.”


Pacarnya berkata seraya meraih tas boston yang dibawa Haruto.


“Ah, ini berat, jadi bagaimana kalau bawakan ransel ini saja?”


“Baiklah. Kalau begitu, Ryota, aku mau beresin barang Haruto-kun dulu, kamu bisa tunggu sebentar?”


Sambil menerima ransel dari Haruto, Ayaka meminta pengertian adiknya.


Tepat pada saat itu, Ikue yang baru kembali ke ruang keluarga berkata pada Ryota.


“Sambil menunggu mereka kembali, mainnya sama Ibu saja.”


“Uum... baik!”


Ryota melirik sekilas ke arah Haruto dan Ayaka, lalu mengangguk patuh pada perkataan ibunya.


Melihat adiknya mengangguk tanpa banyak bantahan, Ayaka tampak sedikit terkejut, seolah mengira adiknya akan sedikit lebih rewel. Kepada kakaknya, Ryota memamerkan ekspresi bangga.


“Onee-chan kan mulai sekarang akan tinggal bareng Onii-chan, jadi kalian harus memupuk cinta agar bisa menjadi keluarga sungguhan. Aku pengin Onii-chan cepat-cepat jadi keluarga sungguhan, makanya kubantuin.”


“Ah, be-begitu ya... terima kasih...”


Mendengar adiknya yang menyatakan bantuannya, wajah Ayaka merona merah karena malu.


“Omong-omong, soal... memupuk cinta itu, tahu dari mana?”


“Ibu dan Ayah yang bicarain berdua! Makanya, akan kubantu supaya Onee-chan dan Onii-chan bisa berduaan!”


Setelah bilang begitu, Ryota menatapnya dengan mata berbinar sambil menyemangati, “Semangat, Onee-chan!”. Menghadapi reaksi adiknya, Ayaka memaksakan senyum kaku, lalu menatap tajam ke arah ibunya.


Menerima tatapan tajam putrinya, Ikue hanya tersenyum manis sambil berucap, “Ara, ara.”


“Ternyata kedengaran, ya.”


“Jangan malah ‘ternyata kedengaran, ya’! Ampun deh... Haruto-kun, ayo pergi.”


Dengan wajah lelah, Ayaka menarik pelan lengan Haruto dan berjalan keluar dari ruang keluarga. Sambil tersenyum kecut, Haruto membiarkan lengannya ditarik menaiki tangga dan masuk ke kamar Ryota.


Selama Haruto menginap di kediaman Toujou, ia ditempatkan di kamar Ryota. Saat Haruto mulai membongkar barang bawaannya di kamar yang bersebelahan dengan kamar Ayaka, Ayaka berkata padanya dengan wajah merah dan ekspresi rumit.


“Maaf ya, Haruto-kun, Papa dan Mama memang suka ngomong aneh-aneh.”


“Tidak, aku sama sekali tak keberatan kok. Lagian, bisa tinggal seatap dengan Ayaka juga bikin aku senang, dan yah, ungkapan ‘memupuk cinta’ memang agak berlebihan, sih... tapi kurasa ini kesempatan yang bagus untuk lebih saling mengenal satu sama lain.”


“Y-Ya. Benar juga... Aku juga pengin lebih mengenal Haruto-kun.”


Mendengar perkataan Haruto, rona kebahagiaan terpancar di pipi Ayaka.


Melihat reaksi pacarnya yang tampak begitu gembira, Haruto pun ikut tersenyum.


“Ah ya, soal kejadian di sekolah hari ini.”


“Ah, um. Kalau tidak salah... Doujima-san, ya?”


Setelah mereka hanya berdua, Haruto mulai menjelaskan soal Shizuku kepada Ayaka.


“Iya. Shizuku itu putri dari guru dojo tempatku berlatih. Kami belajar karate bersama sejak kecil, jadi yah... bisa dibilang dia seperti teman masa kecilku.”


“Oh, begitu toh. Pantas saja Haruto-kun dan Doujima-san terlihat sangat akrab, kalau teman masa kecil, wajar saja kalau kalian dekat.”


Mendengar penjelasan mengenai Shizuku, Ayaka menanggapi sambil mengangguk-angguk memaklumi.


Haruto menatap mata pacarnya dalam-dalam dan berkata dengan raut wajah serius.


“Aku memang dekat dengan Shizuku, dan dia teman yang berharga. Tapi, orang yang kusuka adalah Ayaka. Hanya Ayaka seorang.”


“Um... terima kasih, aku sangat senang.”


Mendengar ucapan Haruto, sudut bibir Ayaka mengendur. Kemudian, ia menundukkan kepala seolah ingin menyembunyikan senyum malu-malu dari pandangan pemuda itu.


“Sebenarnya, aku sudah memberitahu Shizuku kalau aku berpacaran denganmu, dan ketika aku menceritakan tentang situasi kita di sekolah, dia bilang ingin membantu... Makanya hari ini dia sampai datang ke kelas...”


Haruto memutus kalimatnya, seolah sedang merangkai kata-kata yang tepat untuk diucapkan, lalu perlahan kembali bersuara.


“Shizuku itu anaknya sangat baik, aku yakin dia murni pengin bantu, tapi... um... maafkan aku.”


Dibarengi permintaan maaf, Haruto menundukkan kepalanya.


Mendengar permintaan maafnya, Ayaka yang wajahnya masih memerah buru-buru mengibaskan kedua tangannya.


“K-Kenapa Haruto-kun minta maaf? Kamu sama sekali nggak perlu minta maaf, kok?”


“Habisnya, kupikir hal itu mungkin bikin Ayaka resah.”


Haruto mengingat kembali ekspresi terkejut Ayaka yang sempat ia lihat sebelum keluar kelas.


Namun, Ayaka menggelengkan kepalanya seraya menjawab.


“Enggak, enggak, kok. Memang sih, aku sempat kaget waktu tiba-tiba ada gadis yang kelihatan dekat dengan Haruto-kun muncul, tapi...”


Ayaka membalas tatapan Haruto sejenak, lalu melanjutkan kata-katanya dengan gestur malu-malu dan gelisah.


“Aku, um... merasa benar-benar dicintai oleh Haruto-kun, jadi aku tidak merasa resah dan semacamnya, oke?”


“B-Begitu, ya...”


“Um...”


Keheningan yang diliputi rasa canggung nan malu menyelimuti mereka berdua.


Seolah ingin menutupi keheningan yang manis itu, Ayaka membusungkan dadanya dengan gerakan berlebihan sambil berucap, “Ehem”.


“Gimana, Haruto-kun? Aku yang bersikap toleran pada teman perempuan pacarku ini, pacar yang baik, ‘kan?”


Ia memamerkan wajah bangga yang imut untuk mengalihkan perhatian dari pipinya yang merah merona. Haruto merasakan gelombang cinta yang meluap-luap di dalam dadanya, dan langsung merengkuh Ayaka dalam pelukan lembut.


“Benar sekali. Bagiku, Ayaka adalah pacar terbaik dan paling sempurna yang pernah ada.”


Begitu Haruto membisikkan itu dengan lembut di telinga Ayaka yang masih dipeluknya, gadis itu menggeliat di dalam dekapannya.


Setelah itu, Haruto yang telah selesai meletakkan barang bawaannya di kamar Ryota bersama Ayaka, bermain dengan Ryota di ruang keluarga sembari menunggu makan malam siap. Belakangan ini, Ryota tampaknya sedang suka bermain pedang-pedangan, sehingga Haruto pun berhadapan dengan Ryota sambil memegang sebilah pedang mainan.


“Nah, Ryota-kun, mari kita bertarung dengan adil.”


“Fufufu, Onii-chan. Aku ini pengguna aliran Niten Ichi-ryu, loh.”


Sembari menyunggingkan senyuman angkuh yang menggemaskan, Ryota mengangkat tinggi-tinggi kedua pedang mainan di tangannya.


Entah dari mana ia mempelajarinya, Ryota menyebutkan nama aliran sang ahli pedang yang tersohor dengan teknik dua pedangnya itu, membuat Haruto tanpa sadar tertawa lepas.


“Ryota-kun suka Miyamoto Musashi, ya?”


“Miyamoto Musashi? Siapa, tuh?”


Mendengar ucapan Haruto, Ryota memiringkan kepalanya dengan raut wajah bingung. Haruto pun jadi penasaran, bagaimana bisa anak ini tahu istilah Niten Ichi-ryu tapi tidak mengenal siapa Miyamoto Musashi. Menangkap secuil keajaiban pola pikir anak TK, Haruto ikut memiringkan kepalanya atas pertanyaan yang tak ada jawabannya itu. Melihat reaksinya, Ryota langsung mengayunkan pedang di kedua tangannya dan menegaskan pada Haruto.


“Onii-chan! Aliran Niten Ichi-ryu itu yang terkuat, loh!”


“Begitu rupanya. Kalau Ryota-kun pengguna aliran Niten Ichi-ryu, kurasa aku akan jadi pengguna aliran Ganryu saja, kali ya?”


Ucap Haruto sembari memasang kuda-kuda dengan pedang mainannya melalui gerakan yang dilebih-lebihkan.


“Aliran Ganryu? Apaan, tuh?”


“Itu aliran pedang milik Sasaki Kojiro.”


“Sasaki... Siapa pula itu. Tapi, aliran Ganryu kedengaran keren, aku pun mau pakai itu!”


Haruto menyunggingkan senyum menantang pada Ryota yang matanya berbinar cerah.


“Kalau begitu, ini akan jadi duel di Pulau Ganryu.”


“Ya! Duel!”


Meskipun tampaknya ia tidak terlalu memahami artinya, nuansa dari kata-kata itu sepertinya berhasil menyentuh jiwa anak laki-lakinya. Ryota mengayun-ayunkan pedang di kedua tangannya dan mengobarkan semangat juangnya. Ayaka yang duduk di sofa ruang keluarga, tersenyum kecut sambil memperingatkan adiknya yang sedang asyik bermain adu pedang dengan Haruto.


“Ryota, kalau kamu mainnya terlalu kasar, nanti bisa terluka, loh.”


“Aman, kok! Soalnya aku kan aliran Niten Ichi-ryu!”


“Tidak, alasanmu sama sekali nggak masuk akal, tahu.”


Mendengar jawaban Ryota, Ayaka menunjukkan ekspresi pasrah. Kemudian, Haruto menimpali dengan kalimat pembelaan.


“Gaya dua pedang adalah romansa sejati bagi anak laki-laki.”


“Hm? Apa Haruto-kun juga mengidolakan pendekar pedang zaman dulu?”


“Yah, begitulah.”


“Onii-chan, ada celah!”


Ryota langsung menyerang tanpa ampun saat Haruto sedang mengobrol dengan Ayaka.


Haruto berhasil menangkisnya, dan setelah itu ia terus menahan sabetan pedang Ryota yang diayunkan secara asal-asalan tanpa kesulitan.


Bagi Haruto yang ketajaman visual dinamisnya sudah terlatih sejak lama lewat karate, menghindari serangan Ryota adalah perkara sepele. Namun, kalau ia terus menghindar, Ryota pasti akan cepat bosan, maka dari itu Haruto sengaja membiarkan dirinya terkena serangan saat dirasa waktunya pas.


“Gwaah! Aku kalah.”


Mendapat tebasan diagonal sempurna dari bahu hingga pinggang, Haruto memekik dengan nada penderitaan yang didramatisir dan bertekuk lutut.


Merespons reaksi Haruto yang kelewat dramatis itu, Ryota mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan bersorak kegirangan.


“Hore! Aku berhasil mengalahkan Onii-chan!”


“Ryota-kun hebat banget, ya.”


“Fufufu.”


Ryota membalas pujian Haruto dengan wajah super angkuh andalannya.


Tingkahnya itu terlihat begitu menggemaskan, membuat Haruto tak bisa menahan senyum hangatnya.


Dan, tepat pada saat itu, Shuuichi pulang dan masuk ke ruang keluarga.


“Selamat pulang, Ayah!”


“Ayah pulang, Ryota. Oh? Lagi tanding sama Haruto-kun, ya?”


Ryota berlari menghampiri ayahnya untuk menyambut kedatangannya. Menanggapi itu, Shuuichi berjongkok untuk menyetarakan pandangannya, lalu menunjuk pedang mainan yang dipegang anaknya.


“Iya! Ayah, ini duel di Pulau Ganryu, loh!”


“Wah, wah. Lalu, siapa yang menang?”


“Jelas aku, dong!”


“Kalau begitu Ryota adalah Miyamoto Musashi, ya.”


Melihat putranya yang antusias menjelaskan, raut wajah Shuuichi langsung berubah menjadi senyuman penuh kasih.


“Bukan, Ayah! Aku bukan Miyamoto Musashi, aku tuh pengguna aliran Niten Ichi-ryu!”


“Oh, begitu rupanya! Ryota adalah pendekar pedang era Reiwa, ya.”


“Hooh!! Pendekar pedang era Reiwa!”


Mendengar perkataan ayahnya, Ryota memasang wajah penuh semangat, menyiagakan pedang di kedua tangannya dengan sigap, dan mengambil pose keren.


Setelah mengusap pelan kepala putranya, Shuuichi menoleh ke arah Haruto.


“Haruto-kun, terima kasih sudah mau temanin Ryota main.”


“Sama-sama, saya juga senang lihat Ryota-kun terhibur.”


Shuuichi mengangguk puas mendengar balasan Haruto, lalu melangkah menuju dapur.


“Kiyoko-san. Terima kasih sudah membuatkan makan malam.”


Shuuichi menundukkan badannya dengan sopan saat berbicara kepada nenek Haruto.


“Justru saya yang harusnya berterima kasih. Mulai hari ini, saya akan bekerja semaksimal mungkin sebagai asisten rumah tangga.”


Kiyoko pun membalas ucapan terima kasih Shuuichi dengan sama hormatnya.


“Makan malam hari ini karaage, ya. Kelihatannya sangat lezat, jadi tak sabar ingin segera memakannya.”


Ketika Shuuichi berkata begitu usai melihat karaage yang baru saja mulai digoreng, Kiyoko tersenyum hangat.


“Sebentar lagi akan matang, kok.”


“Fumu, fumu, saya sangat menantikannya. Omong-omong Ayaka, Ibumu di mana?”


“Mama sedang bekerja di ruang kerja.”


“Begitu ya, kalau begitu Ayah akan memberitahunya bahwa makan malam hampir siap.”


Shuuichi meninggalkan ruang keluarga dengan langkah riang gembira.


Ayaka mengikuti sosok ayahnya dengan pandangannya, lalu memanggil Ryota.


“Ryota. Karena sebentar lagi waktu makan malam, bereskan mainanmu.”


“Baiiik. Onii-chan, nanti kita duel lagi, ya!”


“Tentu saja. Lain kali aku tidak akan kalah.”


“Aku tuh aliran Niten Ichi-ryu, jadi aku ini yang terkuat, tahu?”


Ryota menyunggingkan senyum puas, seolah memancarkan aura tak terkalahkan, lalu membereskan mainannya bersama Haruto.


Setelah itu, Shuuichi kembali ke ruang keluarga bersama Ikue. Begitu Haruto dan yang lainnya menempati kursi di meja makan, Kiyoko menghidangkan menu makan malam yang sudah matang di atas meja.


“Maaf sudah menunggu. Silakan dinikmati.”


Selain karaage, di meja makan juga tersaji salad berbahan tahu dan rumput laut wakame, asinan gurita dan mentimun, serta sup miso.


“Fumu, semuanya tampak menggugah selera.”


“Kiyoko-san, terima kasih banyak.”


Pasangan Toujou serempak berterima kasih kepada Kiyoko.


“Sama-sama, silakan disantap selagi hangat.”


“Kalau begitu, selamat makan.”


Begitu Shuuichi merapatkan kedua tangannya, semua orang pun mengikutinya sebelum mulai menyantap hidangan makan malam.


“Onii-chan, karaage yang ini warnanya sedikit berbeda, ya?”


“Mungkin rasanya yang berbeda, kali ya?”


Haruto menjawab rasa penasaran Ryota yang menatap tumpukan karaage dengan wajah keheranan.


“Nek, karaage hari ini rasa apa saja?”


“Untuk hari ini, yang ini dibumbui kecap asin dan bawang putih, lalu yang di sebelahnya itu shio koji. Yang warnanya agak kekuningan ini rasa kari, dan yang agak kemerahan ini rasa ume shiso.”


Kiyoko menjelaskan keempat jenis varian rasanya satu per satu.


“Begitu katanya, Ryota-kun. Mau coba rasa apa dulu?”


“Rasa kari!”


Menanggapi jawaban cepat Ryota, Haruto dengan riang memindahkan sepotong karaage rasa kari ke piring kecil anak itu.


Sembari melirik interaksi tersebut, Shuuichi pun ikut mengulurkan sumpitnya untuk mengambil karaage.


“Kurasa aku akan mencoba yang rasa kecap bawang putih.”


“Yang rasa ume shiso tampak sangat lezat.”


Menyusul suaminya, Ikue juga mengambil sepotong karaage. Begitu pasangan Toujou itu memasukkan karaage ke dalam mulut, ketegangan di wajah mereka pun mencair.


“Mmm! Lezatnya! Aroma gurih kecap dan wangi bawang putihnya, benar-benar luar biasa!”


“Yang ume shiso juga enak. Dagingnya sangat juicy, tapi rasanya ringan dan menyegarkan.”


Mendengar pujian setinggi langit dari pasangan Toujou atas karaage buatannya, Kiyoko tersenyum gembira.


“Mm, ini... sudah pasti cocok dengan bir...”


Shuuichi memelototi karaage di tangannya sambil mengerang kesakitan, seolah sedang menahan hasrat terhadap sesuatu.


“Namun... hari ini adalah hari libur minum alkohol... kuh.”


“Sayang, satu gelas saja, oke?”


“Boleh, nih!?”


Mendengar satu kalimat dari Ikue, ekspresi Shuuichi langsung berbinar-binar.


Ayaka tersenyum kecut melihat tingkah kedua orang tuanya, lalu mengambil dan menggigit sepotong karaage rasa shio koji. Sontak, matanya terbelalak.


“Luar biasa... dagingnya sangat empuk.”


Melihat reaksinya, Haruto tersenyum manis seraya mengambilkan karaage rasa kecap bawang putih untuk Ryota.


“Itu karena daging ayamnya direndam di dalam larutan brine terlebih dahulu. Ya kan, Nek?”


“Iya, benar sekali.”


“Larutan brine?”


Ayaka memiringkan kepalanya dengan heran sembari memandang Haruto dan neneknya secara bergantian.


“Larutan brine itu fungsinya untuk membuat daging jadi empuk dan juicy, dibuat dari campuran air, garam, dan gula. Dagingnya direndam di dalam larutan tersebut.”


“Oalah, ternyata ada teknik semacam itu, ya. Aku baru tahu.”


Mendengar penjelasan Haruto, Ayaka mengangguk kagum seraya terus menyantap karaagenya.


Di sela-sela obrolan, Ikue yang sedang asyik menikmati asinan gurita dan mentimun memanggil Haruto.


“Oh ya Ootsuki-kun, mulai sekarang bolehkah aku pun memanggilmu Haruto-kun?”


Ikue beralasan, “Mulai sekarang kan ada Kiyoko-san juga,” sehingga ia ingin mengubah panggilan Haruto menjadi nama aslinya. Sebagai informasi, Shuuichi sudah lama mengganti panggilan ‘Ootsuki-kun’ menjadi ‘Haruto-kun’.


“Iya, tentu saja boleh.”


“Syukurlah. Kalau begitu sekali lagi, mohon bantuannya mulai sekarang ya, Haruto-kun.”


Ikue tersenyum manis dengan raut gembira. Penampilannya itu tampak tumpang tindih dengan sosok Ayaka di mata Haruto, membuatnya refleks memalingkan wajah.


“Mo-Mohon bantuannya juga.”


Dalam hati, ia mulai membayangkan apakah Ayaka kelak akan terlihat seperti Ikue ketika ia dewasa, yang sukses membuat detak jantungnya berdebar kencang. Saat ia sedang memikirkan hal semacam itu, tawa gembira meluncur dari bibir Ikue.


“Ara ara, tatapan mata Ayaka kok sedikit nyeremin gitu?”


“E-Enggak, tatapanku biasa saja, kok!”


“Hmm? Tenang saja, cintaku hanya untuk Papa seorang.”


“D-Dibilangin! Bukan begitu maksudnya!”


Gadis itu membantah ucapan ibunya dengan wajah merah.


Mengabaikan Ayaka yang wajahnya memerah karena dijahili Ikue, Ryota memakan karaage rasa ume shiso dan tersenyum lebar ke arah Haruto.


“Onii-chan, rasa yang ini enak sekali! Aku suka ini!”


“Benarkah? Mau tambah satu lagi?”


“Ya!!”


Melihat pemandangan di meja makan tersebut, Kiyoko menatap dengan senyum bahagia dalam diam.


Dengan bergabungnya keluarga Ootsuki, meja makan keluarga Toujou menjadi ajang makan malam yang jauh lebih ramai dan ceria dari biasanya.


Usia makan malam, Haruto kembali bermain bersama Ryota, mandi bersama, dan bersantai. Kemudian, malam pun larut, dan semua orang masuk ke kamar masing-masing untuk tidur.


Haruto juga masuk ke kamar Ryota dan membentangkan alat tulis yang ia bawa di atas meja.


“Aku sungguh berterima kasih pada keluarga Toujou...”


Gumam Haruto lirih seraya menghadap meja belajar.


Semenjak kedua orang tuanya tiada di usia belia, Haruto selalu hidup bersama kakek-neneknya. Lalu, setelah kakeknya wafat saat baru masuk SMP, ia hidup berdua saja dengan neneknya.


Kehidupannya dengan sang nenek, jika dipikir-pikir lagi sekarang, merupakan sebuah kehidupan yang sangat sunyi.


Bila tidak ada percakapan, seisi rumah akan diselimuti keheningan, atau hanya ada terdengar suara televisi yang berdengung keras. Bukan berarti ia membenci suasana itu, dan bukan pula ia merasa kesepian. Sebab, begitulah lingkungan tempat Haruto dibesarkan, dan begitulah definisi ‘normal’ bagi keluarga Ootsuki. Namun, setelah merasakan kehidupan seperti hari ini, ia benar-benar menyadari bahwa keluarga yang ramai itu merupakan sesuatu yang menyenangkan. Hatinya berbunga-bunga, dan perasaannya pun terasa lebih enteng.


Sambil merasakan kehangatan yang perlahan menyelimuti hatinya kala memikirkan kehidupan di keluarga Toujou yang baru akan dimulainya ini, Haruto membuka buku referensinya. Setelah itu, ketika ia sedang berkonsentrasi belajar selama beberapa saat, tiba-tiba terdengar ketukan pintu.


“Ya, masuklah.”


Haruto mendongak dari buku referensi dan menatap ke arah pintu sembari menjawab. Pintu kemudian terbuka perlahan dengan ragu, dan dari celah pintu, muncullah wajah Ayaka.


“...Haruto-kun, sudah mau tidur?”


“Belum, aku belum mau tidur, kok.”


“...Kalau begitu, bolehkah aku... berada di kamarmu sebentar?”


“Iya, boleh.”


Mendengar jawaban Haruto, Ayaka masuk ke kamar dengan senyum gembira, lalu menutup pintu di belakangnya.


Sembari masuk ke dalam kamar dengan langkah perlahan, Ayaka menatap alat belajar yang berserakan di atas meja.


“Lagi belajar, ya.”


“Iya, yah, toh ini sudah jadi rutinitas harian.”


“Begitu rupanya. Haruto-kun memang hebat. Aku juga harus mencontohmu, apalagi bentar lagi ada ujian.”


Mungkin karena teringat akan ujian rutin seusai libur musim panas yang sudah di depan mata, raut wajah Ayaka sedikit murung melihat Haruto. Pemuda itu menatap gadis di hadapannya dengan tatapan lembut.


“Omong-omong, dikasih hadiahnya kalau nilaimu 80 ke atas di semua mata pelajaran, ‘kan?”


“Ya, kamu masih ingat janjinya, ya.”


“Tentu saja.”


Melihat Haruto mengangguk, rona kebahagiaan terukir di wajah Ayaka.


“Aku tidak sabar menunggu hadiah dari Haruto-kun.”


“Oooh, jadi sudah pede nih bisa dapat nilai 80 ke atas di semua mata pelajaran?”


Haruto sedikit menggoda Ayaka yang seakan sudah pasti akan mendapat hadiah darinya.


“Soalnya, aku berjuang keras belajar untuk ujian kali ini demi hal itu. Tapi...”


Ia menghentikan kata-katanya sejenak, lalu sedikit menundukkan kepala sembari menatap memelas dengan tatapan ke atas.


“Kalau aku gagal, maukah kamu menghiburku?”


“...Tentu. Pasti akan kuhibur.”


“Fufu, asyik.”


Meskipun dari gerak-geriknya itu adalah godaan yang sudah diperhitungan Haruto harus takluk pada pesonanya dan membalas dengan senyuman kecut. Saat itulah ia menyadari bahwa sejak masuk ke kamarnya, Ayaka masih berdiri.


“Maaf, Ayaka, kamu dari tadi berdiri terus, ya. Dudu...”


Haruto nyaris mengatakan ‘duduk saja dulu’, tapi buru-buru mengatupkan mulut.


Kamar yang ditempati Haruto sekarang sebenarnya nantinya akan jadi kamar Ryota. Tapi untuk saat ini, ruangan itu nyaris kosong dan belum dilengkapi perabotan apa pun.


Satu-satunya yang ada hanyalah meja yang Shuuichi buru-buru siapkan untuk Haruto. Selebihnya, tidak ada ranjang, bantal duduk, atau apa pun yang bisa dipakai untuk duduk.


Satu-satunya benda di lantai adalah futon yang tadi Haruto gelar untuk tidur.


“Kayaknya nggak ada tempat duduk, ya...” ucap Haruto sambil menatap sekeliling kamar.


Mendengar itu, Ayaka membuka mulut dengan ragu, pipinya merona.


“Kalau begitu... boleh aku duduk di atas Haruto-kun?”


“Eh? Itu... boleh aja, sih... tapi, gimana caranya?”


Haruto, yang sedang duduk di kursi depan meja, menjawab dengan nada bingung.


“Begini caranya...”


Dengan wajah masih merona Ayaka perlahan mendekat, lalu duduk di atas paha Haruto, menghadap langsung ke arahnya.


“Duduknya begini,” katanya sambil meletakkan kedua tangannya dengan lembut di bahu Haruto.


Jarak di antara mereka mendadak menghilang. Sentuhan dan kehangatan yang menjalar dari pahanya membuat detak jantung Haruto begitu rusuh sampai-sampai ia bisa mendengarnya dengan jelas.


“A-Ayaka? Ini... nggak kedekatan?”


“...Kamu nggak suka?”


“Bukan nggak suka, cuma... jantungku deg-degan banget sampai jadi sesak.”


“Kamu deg-degan sampai segitunya?”


“Yah... siapa pun bakal deg-degan kalau duduk sedekat ini sama cewek yang disukainya.”


“Fufufu, begitu, ya. Aku juga deg-degan, kok,” bisik Ayaka sambil membalas tatapan Haruto dengan bola matanya yang berkaca-kaca.


Meski rona merah padam menjalar hingga ke lehernya karena malu, gadis itu masih terus merapatkan tubuhnya seakan bermanja. Menyadari hal tersebut, Haruto pun menundukkan wajahnya dengan perasaan bersalah.


“Maaf, Ayaka. Kejadian soal Shizuku itu sungguh membuatmu gelisah, ya.”


Mendengar penuturan itu, tubuh Ayaka tersentak kecil.


“............”


Gadis itu menundukkan kepalanya dalam diam.


Ketika mereka membahas Shizuku tadi, Ayaka mengaku tidak mempermasalahkannya. Akan tetapi, walau mulutnya berkata demikian, sepertinya di dalam hatinya tetap terpendam rasa cemas akan hubungan antara Haruto dan Shizuku.


Haruto menerka-nerka seraya mengingat kembali betapa terkejutnya raut wajah Ayaka di sekolah. Saat itulah Ayaka yang masih menunduk mulai bersuara lirih.


“...Bukan begitu, aku tidak... cemas, kok...” ucap Ayaka sebelum perlahan mengangkat wajahnya dan membalas tatapan pemuda di hadapannya.


“Hei, Haruto-kun...”


“Hm?”


“Bolehkah aku bersikap... sedikit manja untuk sesaat... saja?”


Bagai bisikan yang terselip rasa bersalah, gadis itu memberanikan diri untuk bersikap manja, membuat Haruto menyunggingkan senyum hangat kepadanya.


“Iya. Jangan cuma sedikit, kamu boleh bersikap semanja mungkin, kok.”


“...Haruto-kun manis banget, sih. Kalau kamu bilang begitu, aku bisa makin serakah nantinya.”


“Memangnya kenapa? Aku sama sekali nggak keberatan, kok.”


“Kamu tuh, ya...”


Ayaka mungkin mencoba berpura-pura ngambek, tetapi sayangnya ia gagal total dan malah memperlihatkan wajah merayu yang luluh lantak. Gadis itu menggerakkan tangan yang tadinya menempel di kedua bahu Haruto, lalu menautkan jemarinya tepat di tengkuk pemuda itu.


“Dengar ya, aku sudah bilang sebelumnya kalau aku benar-benar menerima perasaan Haruto-kun, jadi aku tidak merasa cemas. Hanya saja... aku merasa cemburu.”


“Cemburu pada Shizuku?”


“...Ung.”


Ayaka mengangguk pelan. Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat ke Haruto seraya memaparkan alasannya.


“Ketika aku melihat Doujima-san bisa ngobrol denganmu secara terang-terangan di sekolah, jujur saja aku merasa iri. Aku jadi berpikir, kenapa aku tidak bisa mengobrol dengan Haruto-kun.”


“Begitu, ya...”


“Padahal pacar Haruto-kun itu kan aku, tapi kenapa malah Doujima-san yang bisa mengobrol denganmu, sedangkan aku tidak.”


Usai berkata demikian, Ayaka menyunggingkan senyuman getir yang sedikit mencela diri.


“Perkataanku benar-benar egois dan sukar dimengerti, ya. Padahal aku sendiri yang minta agar hubungan kita dirahasiakan di sekolah...”


Gadis itu berucap dengan nada sendu. Haruto masih mempertahankan senyum lembut di wajahnya sembari mengucapkan kalimat-kalimat penghibur baginya.


“Tapi wajar saja kan, kamu kan masih punya trauma dari masalah di SMP dulu? Jadi, apa boleh buat.”


“...Ung. Tapi asal kamu tahu, setelah melihat Doujima-san hari ini, aku sadar kalau aku juga pengin berinteraksi dengan normal sama Haruto-kun di sekolah. Tapi, mau bagaimana pun aku masih merasa sedikit takut...”


“Ayaka...”


Haruto mengulurkan kedua lengannya kepada Ayaka yang sedang duduk di pangkuannya, lalu memeluk gadis itu dengan penuh kelembutan.


“Kamu nggak perlu memaksakan dirimu sejauh itu, tahu? Meskipun di sekolah kita tidak bisa bersama, tapi pas di rumah kan kita berdua bisa selalu bersama seperti ini. Untuk masalah di sekolah, mari kita pikirkan sama-sama dengan perlahan, ya.”


“Haruto-kun... makasih.”


Ayaka menyunggingkan senyum gembira. Ia menarik pelan lengannya yang melingkari leher Haruto, seraya menyandarkan pipinya ke leher pemuda tersebut.


“Aku sangat mencintaimu...”


“Aku juga,” jawab Haruto sembari perlahan mengelus rambut lembut gadis itu.

“Hei, Haruto-kun...”


Ayaka sedikit mengangkat wajahnya dari leher Haruto dan memanggil namanya dengan nada manja.


“Ada apa?”


“Boleh nggak aku pakai hak istimewa sebagai pacarmu?”


Haruto memiringkan kepalanya sedikit karena jarak mereka begitu dekat sampai hidung keduanya nyaris bersentuhan ketika Ayaka mengatakan hal itu.


“Hak istimewa? Boleh saja sih, tapi...”


Mendengar kata-kata itu, Ayaka langsung mencondongkan wajahnya ke arah Haruto.


Karena mengira gadis itu hendak menciumnya, Haruto refleks sedikit mengangkat wajahnya. Namun, di luar dugaan, bibir Ayaka tidak menuju ke arah mulutnya, melainkan melewati samping pipinya.


Sesaat setelah tebakannya meleset dan ia membatin, ‘Eh?’, sensasi sedikit basah nan linu merayap pelan di telinga kirinya.


“Ugh!?”


Sensasi yang belum pernah Haruto rasakan itu sukses membuatnya secara tak sadar mengeratkan kekuatan lengannya yang tengah memeluk Ayaka.


“Ngh.”


Tiba-tiba saja, hembusan napas hangat gadis itu menyapu telinga kirinya, membuat jantung Haruto bak di ambang ledakan.


Jantung Haruto berdebar sedemikian gila, hingga ia membayangkan apakah degupannya terdengar oleh Ayaka yang badannya merapat ke tubuhnya. Entah menyadari perasaan paniknya atau tidak, gadis itu kembali menggigit pelan cuping telinga kirinya. Ayaka terus-menerus memberikan gigitan-gigitan lembut dan kecil di telinganya.


Haruto menutup kedua matanya rapat-rapat demi menahan sensasi yang merayapi telinga kirinya.


Usai puas menikmati cuping telinga Haruto selama beberapa saat, Ayaka akhirnya melepaskan gigitannya dari telinga kiri pemuda itu dan kembali beringsut ke hadapannya.


“Cuping telinga Haruto-kun sudah kugigit, ya.”


Bagi mata Haruto, seringai jahil yang terukir manis di wajah gadis itu memancarkan daya pikat yang begitu seksi.


“...Padahal sebelumnya sudah kubilang jangan digigit, ‘kan.”


Haruto melayangkan protes sebagai upaya perlawanan agar tak terhanyut oleh aura yang membalut sosok gadis itu.


“Ya, kamu memang bilang. Tapi, sebagai pacar, menggigit telinga kekasihnya itu hal yang wajar, bukan?”


Kelucuan paripurna Ayaka yang bertanya sembari memiringkan kepalanya, sontak meluluhlantakkan wajah datar Haruto yang tak sanggup lagi menahannya.


“Sebenarnya sejak kita latihan jadi pacar aku sudah merasakannya, tapi menurutku standar pacaran yang Ayaka anggap wajar benar-benar tidak wajar...”


Gadis itu penikmat manga dan novel romance. Dari unsur-unsur cerita fiksi itulah standar pacaran ala Ayaka lahir.


“Kamu nggak suka telingamu digigit?”


“Bukannya nggak suka, hanya saja um... rasanya aneh, atau gimana gitu...”


“Berarti kamu tidak membencinya, ‘kan? Kalau begitu, telinga kananmu boleh kugigit juga?”


“Ayaka-san, barusan kamu dengerin kata-kataku, nggak sih?”


“Tentu, kamu bilang kamu nggak benci telingamu digigit.”


Mendapati respons Ayaka yang melontarkan kalimatnya lengkap dengan senyum lebar, Haruto pun menyerah dan sedikit mengangkat kedua tangannya ke udara.


“Iya deh, iya. Terserah kamu mau ngapain aja.”


“Asyik.”


Ayaka memasang wajah ceria kendati pemuda itu mengatakannya dengan nada sedikit pasrah.


Pada saat yang sama, gadis itu mendekap tengkuk Haruto erat-erat.


“Apa sensasi menggigit telingaku seenak itu?”


“Um, luar biasa pokoknya.”


Pertanyaan Haruto dijawab oleh bisikan lembut di dekat telinganya. Sesaat kemudian, gigi Ayaka langsung melahap cuping telinga kanannya. Merasakan sentuhan yang masih saja terasa asing itu, Haruto hanya bisa mematung untuk menahannya.


Sama sekali bukan sensasi yang tidak mengenakkan, tetapi geli-geli menggelitik yang sulit diuraikan dengan kata-kata itu sukses memaksa Haruto untuk setengah mati mempertahankan kewarasannya.


Sama halnya dengan telinga kirinya, sesudah cuping telinga kanannya dihinggapi gigitan kecil penuh afeksi selama beberapa saat, Ayaka pun kembali mengalihkan wajahnya menghadap wajah Haruto dengan senyum puas.


“Kayaknya aku bakal ketagihan gigit cuping telinga Haruto-kun.”


“Pliiis, jangan sampai ketagihan, dong. Jantungku nggak bakal sanggup menahannya.”


Menanggapi Ayaka yang melontarkan kalimat mengerikan itu dengan senyum manisnya, Haruto hanya bisa meringis dan menunduk lemas.


“Kalau Haruto-kun coba gigit cuping telinga juga, kurasa kamu bakal paham apa pesonanya, loh?”


Usai bilang itu, Ayaka perlahan melepas tautan tangan kanannya pada leher Haruto, lantas menggunakan tangan itu untuk menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


Gerak-gerik feminin saat merapikan rambut ke balik telinga yang berhasil menohok hatinya itu ditonton oleh Haruto dari jarak begitu dekat, membuatnya langsung memusatkan pandangannya ke arah telinga kanan Ayaka.


“Boleh kok, Haruto-kun. Kalau kamu pengin gigit telinga kananku.”


Sembari melengos kecil ke arah kiri, Ayaka melakukan gerakan yang seolah-olah memang sengaja menyodorkan telinga kanannya.


Haruto sontak menelan ludah pelan-pelan agar tidak ketahuan, lantas mengerahkan seluruh akal sehatnya dan merangkai kata.


“...Tidak, mending nggak usah, deh.”


“Kok gitu?”


“Soalnya, gimana ya... kalau aku lakuin, takutnya rem-ku jadi blong.”


“......?”


Mendengar perkataan Haruto, gadis itu memiringkan kepalanya dengan segenap ekspresi kepolosan yang lugu.


Memandangi tingkah gadis kesayangannya, Haruto hanya bisa tersenyum kecut.



Sambil berbaring di ranjang, aku teringat kembali interaksiku dengan Haruto-kun tadi, dan dengan lembut meletakkan tangan di dadaku yang berdebar-debar.


“Apa aku sedikit berlebihan, ya...” gumamku pelan, sedikit merenungi perbuatanku.


Padahal, awalnya aku cuma berpikir untuk mengobrol berdua saja dengannya, tapi saat melihat wajah Haruto-kun, aku jadi tidak bisa menahan perasaanku sendiri.


Penyebabnya adalah kejadian di sekolah hari ini. Kehadiran seorang gadis bernama Doujima-san, yang tiba-tiba muncul di kelas dan pergi berduaan dengan akrab bersama Haruto-kun, memberikan pengaruh yang besar.


Haruto-kun bilang gadis itu adalah teman masa kecilnya, dan aku sama sekali tidak meragukan kata-katanya. Malahan, karena Haruto-kun adalah orang yang sangat menarik, wajar saja kalau banyak orang yang menyukainya, dan sebagai pacar, aku merasa bangga akan hal itu. Hanya saja, di balik pemikiran tersebut, ada sebuah emosi yang belum pernah kurasakan sebelumnya sedang berkecamuk di sudut hatiku, itu juga sebuah kenyataan.


“Cinta yang sesungguhnya baru dimulai setelah resmi berpacaran, ya... Omongan Saki ternyata benar...”


Aku teringat kembali kata-kata sahabatku itu.


Saat aku mengabari Saki bahwa aku jadian dengan Haruto-kun, dia bilang kepadaku, ‘Dengan begini, kamu akhirnya berdiri di garis start percintaan, ya’, dan sekarang aku benar-benar menyadari kebenarannya.


Novel dan manga romance yang kubaca selama ini sebagian besar adalah kisah-kisah di mana perasaan kedua tokoh saling bersambut, lalu mereka bersatu dan happy ending.


Tapi di dunia nyata, ceritanya terus berlanjut bahkan setelah kita bersatu.


Sebelum menjadi pacar Haruto-kun, aku kerap memikirkannya, merasa bimbang dan cemas, atau sebaliknya, merasa bahagia dan berbunga-bunga. Melalui dirinya, aku merasakan berbagai macam emosi. Namun, setelah menjadi pacarnya... tidak, justru karena menjadi pacarnyalah aku bisa merasakan semakin banyak emosi baru yang lahir di dalam diri ini.


Di antaranya memang ada rasa suka cita dan kebahagiaan, tapi aku juga merasakan banyak hal lainnya.


Emosi yang saat ini benar-benar bersarang di relung hatiku. Ini mungkin rasa cemburu.


Selama ini, aku jarang sekali merasakan yang namanya cemburu.


Memang sih, terkadang aku merasa iri saat lihat pasangan mesra, tapi aku tidak pernah sampai cemburu. Namun, semenjak melihat Haruto-kun mengobrol dengan Doujima-san di sekolah hari ini, di dalam diriku meluap rasa cemburu yang bahkan bisa dirasakan diriku sendiri dengan sangat jelas.


Aku juga ingin mengobrol dengannya.


Aku ingin memeluk lengannya erat-erat.


Aku ingin menyentuhnya. Aku ingin merasakan kehangatannya....


Di sekolah pun... aku ingin dia ada di sisiku.


Aku ingin dia hanya melihatku.


Aku ingin dia hanya tersenyum padaku, hanya berbicara kepadaku....


Perasaan cemburu yang campur aduk dengan rasa posesif itu, menjalar di dalam hatiku dalam sekejap.


Aku berusaha menekan perasaan ini. Habisnya, akulah penyebab kenapa aku dan Haruto-kun tidak bisa mengobrol di sekolah. Akulah yang memintanya agar kami tidak saling berdekatan. Makanya, aku sadar betul kalau rasa cemburu seperti ini adalah keegoisan yang konyol.


Berpikir begitu, aku mati-matian mencoba mengendalikan hasratku. Tapi, semakin aku mencoba mengendalikannya, semakin aku ingin menekannya...


Rasa cemburu egois di dalam diriku malah semakin memberontak. Sampai-sampai aku tidak bisa menahannya lagi, aku begitu mendambakan Haruto-kun.


Karena tak ada cara lain, aku pergi ke kamarnya untuk mengobrol sebentar agar bisa mendistraksi perasaan ini. Tapi saat Haruto-kun benar-benar ada di depan mataku, hatiku sudah tidak mau lagi mendengarkan perintahku.


Hatiku sepenuhnya mengambil alih tubuhku dan bergerak menuntut Haruto-kun.


Lalu, seolah ingin meredakan rasa cemburu yang terus berkecamuk ini, demi memuaskan rasa posesifku, aku memeluknya, menempelkan tubuhku padanya... dan menggigitnya.


Aku ingin Haruto-kun merasakan keberadaanku, meski hanya sedikit lebih kuat.


Aku ingin mengukir keberadaanku di dalam hatinya....


Tapi, setelah aku kembali ke kamarku dan hatiku mulai tenang, begitu aku bisa berpikir dengan kepala dingin, aku mulai merenungkan tindakanku tadi sambil menggelepar menahan rasa malu yang luar biasa.


Aku tidak ingin menjadi pacar yang hanya menerima dari Haruto-kun, aku ingin menjadi pacar yang juga bisa memberikan sesuatu padanya. Aku tidak mau hubungan ini menjadi hubungan di mana hanya aku saja yang bergantung padanya.


Saat ini, rasanya aku hanya menjadi pacar yang merepotkan dan ‘posesif’. Haruto-kun itu baik, jadi dia pasti akan menerima sifatku itu dan memanjakanku, tapi kalau aku terus menerima saja perlakuan itu, aku akan semakin terpuruk dan menjadi parasit.


Seandainya... seandainya saja hubunganku dengan Haruto-kun terus berjalan lancar, dan suatu saat kami tinggal bersama, saat itu aku juga harus rajin mengerjakan pekerjaan rumah tangga.


Kalau kondisinya terus begini, rasanya aku hanya akan menjadi eksistensi yang sebatas dinafkahi oleh Haruto-kun....


“Apa aku minta tolong Kiyoko-san untuk mengajariku memasak saja, ya...”


Agar aku bisa setara dengannya sebagai kekasihnya, aku perlahan-lahan tertidur sambil memikirkan hal-hal seperti itu.



Keesokan harinya, aku berjalan sendirian menuju sekolah.


Haruto-kun berangkat lebih dulu untuk mengakali agar jam berangkat kami tidak barengan.


“Padahal aslinya aku pengin berangkat sekolah bareng, jalan sebelahan sambil pegangan tangan...”


Aku bergumam pelan, masih sedikit terbawa perasaan soal kejadian kemarin.


Seolah gumaman itu menari ditiup angin dan menyelimutiku, hasrat yang sempat mereda kemarin kini kembali terangkat di dalam hati. Aku memalingkan wajah dari hasrat itu, lalu mencoba mengingat kembali kebahagiaanku di pagi hari.


“Sarapan buatan Kiyoko-san enak banget, ya.”


Masakan Kiyoko-san, yang merupakan guru bagi Haruto-kun, sangatlah lezat, membuatku seakan-akan sedang memakan kebahagiaan itu sendiri. Pagi ini menunya adalah sup miso isi bawang bombai dan tahu, salmon panggang, tamagoyaki, serta rebusan rumput laut hijiki dan kacang kedelai.


Memang bukan menu mewah yang bikin melongo, tapi sarapan sederhana buatan Kiyoko-san itu terasa sangat memuaskan, sebuah masakan lembut yang menenangkan hati.


Bisa memakannya bersama seluruh keluarga, termasuk Haruto-kun dan Kiyoko-san, membuatku merasa Keluarga Ootsuki seolah sudah menjadi keluargaku sungguhan, dan itu membuatku sangat bahagia.


“Kelak, kalau Haruto-kun benar-benar jadi keluargaku... fufufu....”


Tanpa sadar aku melontarkan hal yang sama seperti yang sering dikatakan Ryota, dan aku tak sanggup menahan tawa saat membayangkan masa depan itu.


Saat aku sedang berjalan sendirian sambil senyum-senyum sendiri, kelihatan kayak orang sinting, tiba-tiba sebuah suara memanggilku.


“Toujou-senpai?”


“Eh?”


Saat aku menoleh ke arah suara itu berasal, berdiri seorang gadis berambut hitam dengan ekspresi yang sulit ditebak.


“Ah, um, Doujima... san?”


Gadis itu adalah teman masa kecil Haruto-kun, sekaligus sosok yang aku cemburui kemarin.


Tanpa mengubah raut wajahnya sedikit pun, Doujima-san menatapku lurus dan mulai berbicara.


“Iya. Salam kenal, aku Doujima Shizuku, kelas satu.”


“Umm, aku Toujou Ayaka, kelas dua.”


Melihat Doujima-san yang membungkuk dan menyapaku dengan sopan, aku pun membalas sapaannya dengan agak kebingungan.


Apa Doujima-san tipe gadis yang jarang memperlihatkan emosinya? Habisnya, sejak tadi dia terus menatapku dengan wajah datar?


Tapi, dia gadis yang sangat imut....


Matanya besar dan bulat, rambut hitamnya juga indah.... Tinggi badannya agak pendek dengan postur tubuh mungil, tapi justru itulah yang membuatnya kelihatan semakin menggemaskan.


Saat aku sedang asyik mengamati Doujima-san, dia kembali mengajakku bicara tanpa mengubah ekspresi datarnya.


“Toujou-senpai, apa sudah dengar tentangku dari Haru-senpai?”


“I-Iya. Yah, dia sudah menjelaskannya kemarin.”


“Begitu, ya. Kalau begitu, Senpai juga sudah dengar kalau aku bakal bantu, ‘kan?”


“Iya, aku juga dengar soal itu.”


Mendengar jawabanku, Doujima-san bergumam “Fumu fumu,” lalu mengangguk pelan dan maju selangkah mendekatiku.


“Kalau begitu, Toujou-senpai, tolong jadilah sahabatku.”


“Saha... eh? Umm... maksudnya?”


Tawaran yang tiba-tiba itu seketika membuatku terkejut.


Melihat reaksiku, Doujima-san pun menjelaskan.


“Toujou-senpai pengin bisa terus bareng Haru-senpai pas di sekolah juga, ‘kan?”


“Kalau itu, iya sih.”


“Kalau begitu, kita perlu jadi sahabat. Sobat kentel, malah.”


“Sobat kentel....”


Doujima-san menatapku lekat-lekat, sementara aku memasang ekspresi sedikit kaku.


“Yah, kalau Toujou-senpai keberatan, aku tak akan memaksa....”


“Eh? Ah, tidak... aku cuma agak kaget, bukan berarti aku keberatan....”


“Berarti mulai sekarang kita resmi jadi sobat kentel, ya?”


“Eh? Ah, i-itu... rasanya terlalu mendadak... aku belum tahu apa-apa soal Doujima-san....”


“Tidak masalah. Aku juga tidak tahu apa-apa soal Toujou-senpai, dan sampai detik ini pun aku tidak punya ketertarikan apa-apa pada Senpai.”


Doujima-san menegaskan sambil mengacungkan jempol ke arahku.


Kalau bilangnya blak-blakan begitu, sejujurnya aku jadi agak tersinggung, loh.... Lebih tepatnya, aku sama sekali tidak mengerti apanya yang ‘tidak masalah’.


Mendadak jadi sahabat di pertemuan pertama begini, rasanya agak dipaksakan....


Apa maksudnya kita harus berakting menjadi sepasang sahabat? Atau Doujima-san benar-benar ingin menjadi sahabatku...? Dari awal, bukankah yang namanya sahabat itu bukan sesuatu yang terjadi hanya dari ucapan ‘tolong jadilah’?


Saat aku sedang memikirkan hal-hal itu, Doujima-san dengan cepat menyamakan langkahnya denganku.


“Maka dari itu, mulai sekarang kita adalah sohib. Jadi, ayo kita berangkat sekolah bareng dengan akrab. Ya kan, Aya-senpai?”


“D-Doujima-san, anu...”


“Tolong panggil aku Shizuku.”


Doujima-san semakin agresif memangkas jarak di antara kami tanpa memedulikanku yang tak bisa menyembunyikan kebingungan karena semua kejadian mendadak ini.


“Ayo Aya-senpai, kalau tidak buru-buru nanti terlambat loh.”


“Ah, tunggu dulu, Doujima-san!”


Saat aku menghentikan langkah Doujima-san yang sudah bersiap melangkah pergi, dia menoleh padaku dengan ekspresi yang tak bisa kutebak apa isi kepalanya.


“Tolong panggil Shizuku. Kita kan sudah jadi sohib.”


“K-Kalau begitu... S-Shizuku-chan.”


“Ada apa, Aya-senpai?”


“Umm, soal kita perlu jadi sahabat itu, apa ada hubungannya dengan kerja sama yang mau kamu lakukan untuk kami...?”


“Tentu saja.”


Doujima-san langsung menjawab pertanyaanku sambil mengangguk.


“Kenapa... Shizuku-chan bersedia membantu kami sejauh itu?”


Saat aku menanyakan hal tersebut, bayangan kedekatannya dengan Haruto-kun kemarin berkelebat di kepalaku.


“Itu karena, aku ingin Haru-senpai bahagia.”


Setelah menggumamkan kalimat itu dengan suara pelan, dia menatap lurus ke mataku dan mulai berbicara.


“Aya-senpai sudah tahu soal kondisi keluarga Haru-senpai, ‘kan?”


“Iya... aku sudah dengar.”


“Fumu... kalau begitu, Senpai juga sudah tahu kalau kakek Haru-senpai wafat saat hendak masuk SMP, ‘kan?”


“I-Iya. Aku juga sudah dengar soal itu dari Haruto-kun.”


Ketika aku merespons demikian, Doujima-san bergumam “Begitu, ya...” lalu tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mulai berbicara perlahan.


“Aku tidak ingin melihat Haru-senpai bersedih lagi. Senpai waktu itu... kelihatannya akan hancur jika disentuh sedikit saja, melihatnya sungguh menyiksa bagiku. Karena itulah, aku bersedia membantu agar Haru-senpai bisa menghabiskan waktunya dengan senyuman bersama Aya-senpai. Aku tidak ingin melihatnya bersedih lagi.”


Setelah membicarakan hal itu, Doujima-san menatapku lekat-lekat dengan mata yang begitu serius dan berkata.


“Karena itu, Aya-senpai juga, jangan pernah melakukan hal yang bisa bikin Haru-senpai bersedih, ya?”


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close