NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V5 Chapter 3

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 3

Rencana Shizuku

Di halaman tengah sekolah yang disinari terik mentari sisa musim panas.


Sambil duduk bersila di atas rumput di bawah rimbunnya naungan pohon, Haruto bengong menatap kotak bekal yang dibawanya. Melihat bekal Haruto yang sama sekali tak tersentuh sumpit, Tomoya yang duduk di sebelahnya pun angkat bicara.


“Hei, Haru, kau kena penyakit musim panas? Kalau tidak nafsu makan, berikan karaage itu untukku.”


“Oke...”


“Seriusan nih mau kasih? Boleh nih? Aku makan, loh?”


“Oke...”


Entah kata-kata Tomoya masuk ke telinganya atau tidak, Haruto terus mengulang jawaban datar dengan tatapan kosong.


Tomoya pun mengambil karaage dari bekal Haruto sambil menegaskan, “Aku sudah izin, ya.”


“Fumu, bekalmu lezat seperti biasa.”


“Oke...”


“...Hei, Haru-san, telingamu kenapa? Sejak tadi kau terus menyentuh cuping telingamu, loh.”


Sejak tadi, Haruto menjepit cuping telinganya dengan jari telunjuk dan ibu jari, menariknya perlahan dan memijatnya dengan lembut.


“...Hei, Tomoya.”


Terlambat satu ketukan, dia menoleh perlahan ke arah Tomoya.


“Cuping telingamu pernah digigit, nggak?”


“Hah? Cuping telinga? Nggak sih, belum pernah...”


Tomoya memasang wajah bingung mendengar pertanyaan Haruto.


“Kau kenapa sih, Haru? Apa kau habis diserang anjing liar?”


“Mungkin... aku memang habis diserang...”


“Seriusan!? Kau nggak apa-apa!?”


“Ah... sebenarnya aku tidak membencinya, malah bisa dibilang aku merasa senang, atau bagaimana, ya... meski telingaku digigit, rasanya tidak buruk juga...”


“Yang bener aja lu?”


Tomoya memasang raut wajah kaku. Sebaliknya, Haruto masih merespons sambil bengong, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.


Saat kedua orang itu sedang sibuk melakukan percakapan yang tidak nyambung, sebuah suara memanggil mereka dari kejauhan.


“Ah, itu dia. Ootsuki-kun.”


Yang memanggil adalah Saki.


Begitu melihat sosok Haruto dan Tomoya di halaman tengah, dia mendekat sambil melambai pelan.


“Aizawa-san, ada apa?”


Haruto menatap Saki yang kini ikut berteduh di bawah naungan pohon yang sama dengan mereka.


“Aku cuma ingin tanya sesuatu padamu, Ootsuki-kun. Boleh duduk di sini?”


Saki berkata demikian sambil menunjuk tempat kosong di sebelah Tomoya.


“Monggo, monggo.”


“Terima kasih.”


“Toujou-san tidak ikut bersamamu?”


“Ah... Ayaka sampai kini masih diberondong pertanyaan.”


Saki yang biasanya selalu kelihatan lengket dengan Ayaka, kini tidak ditemani olehnya. Membayangkan Ayaka yang saat ini mungkin sedang dikelilingi dan dicecar pertanyaan oleh banyak siswa, Saki tersenyum kecut tanda bersimpati.


“Ketertarikan murid-murid sekolah kita pada Toujou-san rasanya agak nggak wajar, ya.”


“Iya, ‘kan? Tapi seandainya semua orang tahu rahasia Ayaka, pasti satu sekolah bakal gempar,” Saki menyetujui ucapan Tomoya, sambil menatap jahil ke arah Haruto.


“...Jadi, apa yang ingin Aizawa-san tanyakan padaku?”


Menerima tatapan Saki, Haruto bertanya padanya sambil menggaruk kepala dengan sebelah tangan untuk menyembunyikan rasa malunya.


“Oh iya, aku dengar dari Ayaka, apa Doujima-san itu semacam teman masa kecilmu, Ootsuki-kun?”


“Shizuku? Yah, dia itu putri tunggal pemilik dojo karate tempatku berlatih sejak dulu, jadi kalau dibilang teman masa kecil, mungkin ada benarnya.”


“Hoho, begitu ya...”


Mendengar penjelasan Haruto, Saki mengangguk penuh arti sambil meletakkan tangan di dagunya.


“Memangnya ada apa dengan Shizuku?”


“Tadi pagi, saat Ayaka berangkat sekolah, katanya dia ketemu Doujima-san. Terus, Doujima-san bilang, mari kita berteman.”


Haruto sedikit membelalakkan mata karena terkejut dengan perkataan Saki.


“Eh? Shizuku?”


“Iya. Karena itu, hari ini mereka berangkat sekolah bareng.”


“Yang bener aja...” gumam Haruto pelan. Dia mencoba menerka-nerka isi pikiran Shizuku dan apa niat di balik keputusannya untuk mendekati Ayaka. Tomoya lalu menyela lamunan Haruto.


“Kau sudah menceritakan soal hubunganmu dengan Toujou-san pada Shizuku-chan, ‘kan?”


“Iya, terus Shizuku bilang dia mau membantu...”


“Hmm? Jadi, Shizuku-chan ingin berteman dengan Toujou-san demi membantu kalian, begitu?”


Menanggapi keraguan Tomoya, Haruto memiringkan mulutnya.


“Kurasa begitu...”


Haruto benar-benar tidak bisa menebak bantuan macam apa yang akan Shizuku berikan lewat pertemanannya dengan Ayaka. Melihatnya yang kebingungan, Saki berkata sambil tersenyum kecut.


“Tadi pagi Ayaka cerita padaku. Katanya Doujima-san mengajaknya jadi ‘sobat kentel’.”


“Ah, cara bicaranya memang Shizuku banget, sih.”


Haruto tanpa sadar menyunggingkan senyum karena bisa dengan mudah membayangkan Shizuku mengatakan hal itu.


“Shizuku memang agak aneh, tapi dia anaknya sangat baik. Jadi, menurutku tawaran bantuannya itu bisa dipercaya.”


“Begitu, ya. Kalau Ootsuki-kun bilang begitu, berarti Doujima-san memang anak baik.”


Saki mengiyakan perkataan Haruto seraya mengangguk.


Tepat pada saat itu, bel peringatan berakhirnya jam istirahat siang bergema di halaman sekolah.


“Anjir, aku belum memakan bekalku sama sekali.”


Haruto buru-buru menunduk menatap kotak bekal di pangkuannya. Dan menyadari bahwa lauk utamanya, karaage, telah raib tak bersisa, lalu menatap tajam ke arah Tomoya.


“Hei, Tomoya...”


“Sebelum ambil aku sudah dapat izin darimu, loh!”


“Iya, tapi bukan berarti kau boleh memakan semuanya!”


“Ahahaha, kalian berdua akur banget, ya.”


Saki tertawa geli dan nampak terhibur melihat Haruto dan Tomoya berdebat hanya karena lauk makan siang.


Setelah itu, pelajaran sore pun usai. Saat jam pulang sekolah tiba, Haruto mulai bersiap-siap untuk pulang. Saat dia melirik ke arah Ayaka di tengah kelas, gadis itu rupanya sudah dikelilingi oleh banyak siswi lainnya.


Haruto menghela napas pelan melihat hal itu dan menyampirkan tas di pundaknya. Lalu, saat ia baru saja hendak melangkahkan kaki, sama seperti kemarin, sosok Shizuku muncul di pintu belakang kelas.


Mengira Shizuku datang untuk mengajaknya pulang bersama lagi, Haruto pun melangkah mendekatinya. Namun, Shizuku hanya melirik sekilas ke arah Haruto sebelum berseru dengan suara keras ke arah tengah kelas.


“Aya-senpaaaaai! Pulang bareng, yuk!”


Teriakan Shizuku yang benar-benar di luar dugaan membuat Haruto terkejut dan menatapnya lekat-lekat.


Sementara itu, Shizuku terus menerobos ke dalam kelas, menyingkirkan kerumunan siswi yang memblokir jalannya menuju Ayaka.


“Ayo Senpai, mari kita pulang. Kita harus cabut.”


“Ah, tunggu sebentar, Shizuku-chan.”


Shizuku meraih lengan Ayaka dan menariknya kuat-kuat. Menanggapi tarikan itu, Ayaka menunjukkan gelagat yang kebingungan. Melihat tingkah mereka berdua, salah satu siswi yang tadi didorong Shizuku menatap tajam dengan raut wajah tidak suka.


“Heh kamu, ada apa sih tiba-tiba? Toujou-san jadi kerepotan, ‘kan?”


“Hm? Kamu bicara apa, sih? Mana mungkin Aya-senpai kerepotan. Kami kan sobat kentel.”


“Hah? Kamu nggak ngomong apaan, sih.”


Siswi itu tersenyum mengejek. Namun, Shizuku tidak gentar sedikit pun dan malah membalas dengan nada bicara yang seolah terheran-heran.


“Hadeh, hal segampang ini saja tidak paham. Lagian, bukannya kalian ya yang bikin Aya-senpai kerepotan? Sudah jam pulang begini malah mengerumuninya.”


“Asal tahu saja, kami tuh sedang ngobrol. Kami menikmati obrolan itu. Paham?”


“Oh begitu. Terus-terusan melempar pertanyaan secara sepihak itu disebut obrolan? Senpai tahu tidak istilah timbal balik dalam percakapan?”


Shizuku mungkin mulai kesal dengan siswi yang sedari tadi terus mendebatnya, karena kata-kata yang diucapkannya mulai terdengar tajam.


Sikap Shizuku itu sontak membuat alis si siswi terangkat kesal.


“Kamu ini apa-apaan sih. Anak kelas satu, ‘kan? Nggak ada rasa hormat sama sekali pada kakak kelas? Kamu nggak punya sopan santun, ya.”


“Kalau orangnya pantas dihormati, aku pasti akan bersopan santun sepenuhnya tanpa memandang angkatan, kok.”


“Heh kamu... Namamu Doujima, ‘kan? Kau pikir kau itu siapa?”


Siswi itu menatap tajam ke arah Shizuku sambil memelintir ujung rambutnya yang disemir terang menggunakan telunjuknya.


Menerima tatapan tajam itu secara langsung, Shizuku membalas tatapannya tanpa rasa takut sedikit pun dan mempertahankan wajah datarnya.


“Menurutku, aku ini Shizuku-sama. Kenapa emang?”


“Hah!?”


Suasana yang tidak mengenakkan menyelimuti si siswi dan Shizuku.


Ayaka yang sedari tadi memandang mereka berdua berkali-kali dengan panik, mengangkat kedua tangannya di depan dada dengan gerakan canggung, berusaha meredakan suasana.


“K-Kalian berdua, tolong tenanglah, ya?”


“Toujou-san, apa kamu benar-benar berteman dengan anak ini?”


“Aya-senpai, tolong beri tahu dia bahwa kita ini sahabat karib sejak kehidupan sebelumnya.”


“Eh!? Ah, u-umm, itu...”


Shizuku dan siswi itu serentak menoleh dan mendesak Ayaka. Tertekan oleh intimidasi keduanya, Ayaka jadi gelagapan dan tak bisa berkata-kata. Tiba-tiba, Saki yang sedari tadi terus memantau situasi dari dekat Ayaka, menyelusup masuk ke antara Ayaka dan Shizuku sambil menyunggingkan senyum ceria.


“Oke, oke, oke! Tenang, tenang semuanya. Dari dulu, Shizuku-chan ini memang sangat menyukai Ayaka.”


“Hm? ...Begitulah. Kami kan sohib.”


Shizuku sempat memunculkan tanda tanya di atas kepalanya melihat kemunculan Saki yang tiba-tiba, tapi ia segera mengikuti permainannya.


“Bisa dibilang aku hanya sedikit lebih menyukai makan tiga kali sehari daripada Aya-senpai.”


“Bukan begitu! Harusnya kamu bilang kamu lebih suka Ayaka daripada makan tiga kali sehari dong!”


Saki langsung menyanggah perkataan Shizuku yang membusungkan dada dengan bangga walau wajahnya tetap datar.


“Hei, Aizawa? Anak ini benaran temannya Toujou-san?”


“Iya, benar kok. Ya kan, Ayaka?”


“Ah, iya, iya.”


Menerima tatapan Saki, Ayaka mengangguk berulang kali.


“Hmph...”


Melihat reaksi Ayaka dan Saki, siswi itu menatap Shizuku dengan ekspresi tidak puas.


Saki dikenal luas oleh orang-orang di sekitar sebagai teman masa kecil sekaligus sahabat terdekat Ayaka. Mengingat Saki membenarkan bahwa Shizuku adalah teman Ayaka, ditambah Ayaka sendiri juga mengangguk mengiyakan, situasi ini memaksanya untuk mengakui hal tersebut mau tak mau.


Siswi itu membuang muka dari Shizuku dengan tak senang sambil mendengus, lalu keluar dari kerumunan yang mengelilingi Ayaka. Shizuku mengikuti punggung siswi tersebut dengan pandangannya sebentar, sebelum akhirnya menoleh ke arah Saki.


“Aizawa-senpai mau ikut pulang bareng juga?”


“Eh? ...Boleh juga. Ayo kita pulang bertiga.”


Saki tampak terkejut sesaat oleh ajakan Shizuku, namun segera mengukir senyuman di wajahnya.


Tampak puas dengan tanggapan Saki, Shizuku pun memegang lengan Ayaka dan menariknya penuh semangat.


“Ayo, ayo, mari kita pulang, Aya-senpai. Let’s go kita meluncur pulang ke rumah.”


“Ah, tunggu sebentar, Shizuku-chan!”


Ayaka buru-buru menyambar tasnya yang tergantung di samping meja, membiarkan lengannya ditarik begitu saja oleh Shizuku. Saki membuntuti mereka di belakang sambil tersenyum kecut.


Mereka bertiga melangkah menuju pintu keluar kelas, namun di tengah jalan, langkah Shizuku tiba-tiba terhenti.


“Ada apa, Haru-senpai? Kok dari tadi menatap kami terus dengan pandangan penuh gairah.”


“Hah? Ti-Tidak, bukan apa-apa...”


Haruto tampak terkejut karena tiba-tiba ditegur oleh Shizuku.


“Apa boleh buat. Kalau begitu, Haru-senpai ikut pulang bareng kami juga, ya.”


“Eh? Ah... O-Oke.”


Menangkap maksud Shizuku, Haruto membalas dengan anggukan sedikit panik.


“Apa Tomo-senpai juga mau ikut pulang bareng?”


Setelah Haruto, Shizuku juga mengajak Tomoya yang ada di sampingnya.


“Boleh nih aku ikut?”


“Tentu saja.”


“Kalau begitu aku terima ajakannya.”


“Hm, jangan sungkan, sini, sini.”


Dengan bertukar percakapan semacam itu, kelompok gadis berisikan Ayaka, Saki, dan Shizuku, kini ditambah Tomoya dan Haruto. Mereka membentuk sirkel lima orang yang segera menarik perhatian para siswa saat meninggalkan kelas. Setelah keluar dari kawasan sekolah dan berjalan sejenak, Shizuku lantas berlari kecil ke depan Haruto dan yang lainnya, lalu membalikkan badan. Raut wajahnya tampak sangat puas dan bangga.


“Bagaimana, Haru-senpai? Rencanaku yang sempurna ini.”


Sambil bertolak pinggang, Shizuku membusungkan dada dengan angkuhnya.


“Aku benar-benar takjub. Shizuku memang hebat.”


“Fumu fumu, pujilah aku lebih banyak lagi.”


“Ha ha, sungkem, Shizuku-sama.”


Menanggapi ucapan Shizuku yang mood-nya jelas-jelas sedang bagus walau wajahnya datar, Haruto menundukkan kepala dalam-dalam dengan sedikit berlebihan.


Rencana Shizuku. Yaitu dengan menjadi teman Ayaka, Shizuku kini berstatus sebagai ‘teman bersama’ bagi Haruto dan Ayaka. Lalu, dia memanfaatkan koneksi tersebut untuk mendekatkan jarak di antara mereka berdua secara alami.


Kini, hubungan Haruto dan Ayaka di sekolah telah berubah menjadi ‘teman dari teman’ melalui perantara Shizuku.


“Anu, Shizuku-chan... terima kasih.”


“Aya-senpai juga harus memujiku.”


“Ah, u-ung. Kamu memang hebat, Shizuku-chan.”


“Fufufu.”


Mendapat pujian dari Ayaka, Shizuku mendengus bangga. Tomoya, yang sejak tadi berjalan di samping Haruto dengan senyum geli, kini ikut ninbrung.


“Omong-omong, kami beneran boleh nih ikut denganmu?” tanyanya pada Shizuku sambil melirik sekilas ke arah Saki.


“Tidak masalah. Justru, akan lebih nyaman jika di awal-awal ada orang lain selain Aya-senpai dan Haru-senpai.”


Menjawab pertanyaan Tomoya, Shizuku mengacungkan jempolnya.


“Dibanding tiba-tiba hanya mengajak Haru-senpai dan Aya-senpai berduaan saja, kehadiran para karakter figuran akan membuat suasana terasa lebih alami.”


“Ahaha, karakter figuran ya.”


“Ya, karakter figuran.”


Menghadapi Shizuku yang bicaranya terlampau blak-blakan, Tomoya tertawa lepas karena merasa terhibur.


Mendengar penjelasan Shizuku, Saki mengangguk-angguk seolah mengaguminya.


“Doujima-san, kupikir kamu orang yang bertindak seenaknya tanpa mikir, ternyata kamu sudah memikirkannya matang-matang, ya.”


“Tentu saja. Omong-omong, aku tadi asal ajak gara-gara terbawa suasana, tapi Senpai ini siapa, ya?”


Shizuku menoleh ke Saki dengan sedikit memiringkan kepalanya. Mendapat reaksi tersebut, Saki tersenyum kecut dan mulai memperkenalkan diri.


“Ahaha, aku Aizawa Saki. Bisa dibilang, aku teman masa kecil sekaligus sahabat karib Ayaka.”


“Hoo, ternyata Aya-senpai punya sahabat sungguhan. Kukira kamu ini penyendiri, loh.”


“Kenapa kamu bisa mikir aku ini penyendiri!?”


“Kan, ini sudah jadi hal yang klise. Setting cerita di mana seorang gadis yang saking cantiknya jadi kesulitan bersosialisasi dan nggak punya teman.”


“Aku nggak punya setting-an kayak gitu, kok!”


“Kecewa berat.”


“Kecewa berat!?”


Ayaka terus mencecar Shizuku dengan bertanya, “Apa yang kau maksud ‘kecewa berat’!?”, namun Shizuku mengabaikannya dengan lihai, dan tetap mempertahankan ekspresi tenangnya.


Dengan suasana ceria, kelima orang itu terus berjalan.


Saat tiba di sebuah perempatan, Tomoya mengangkat sebelah tangannya.


“Aku ada urusan di depan stasiun, jadi kita pisah di sini saja, ya.”


“Ah, aku pulangnya juga naik kereta, jadi mau pergi ke stasiun bareng?”


Mendengar perkataan Tomoya, Saki langsung memberikan tawaran.


“Aizawa-san ternyata naik kereta, ya. Ya sudah, ayo pergi sama-sama.”


“Ya, sampai jumpa semuanya.”


“Dah, Saki.”


Ayaka menghentikan perdebatannya dengan Shizuku sejenak, dan melambaikan tangan. Menyusulnya, Haruto dan Shizuku juga ikut mengangkat tangan.


Setelah ditinggal Tomoya dan Saki, mereka bertiga kembali berjalan dengan Haruto di tengah-tengah, sementara Ayaka dan Shizuku di kedua sisinya.


Haruto kemudian melirik ke arah Shizuku yang berjalan di sebelah kanannya.


“Tapi, serius, terima kasih banyak ya, Shizuku. Berkat ini, sepertinya aku sedikit demi sedikit bisa mendekatkan jarak dengan Ayaka di sekolah.”


“Meski tadi pagi aku kaget banget waktu tiba-tiba diajak sahabatan, tapi makasih ya, Shizuku-chan.”


“Kecil ini, mah. Bantuanku baru saja dimulai. Aku akan sering-sering mampir ke kelas kalian mulai sekarang.”


“Begitu ya, makasih banyak. Nanti biarkan aku balas budi.”


“Wah, nggak perlu sampai segitunya. Asal dikasih kue sus dari minimarket depan stasiun... wah, aku jadi nggak enak memintanya langsung dari mulutku sendiri.”


“O-Oke.”


Menghadapi candaan khas Shizuku yang tidak pernah berubah itu, Haruto hanya mengangguk sambil tersenyum pasrah.


Melihat interaksi keduanya, Ayaka pun menutupi bibirnya dengan tangan dan terkikik pelan.


Saat itulah, seakan baru teringat sesuatu, Haruto berkata pada Shizuku.


“Aku benar-benar berterima kasih kau mau membantu kami, tapi, umm... alangkah baiknya jika kau tidak menimbulkan terlalu banyak masalah.”


“Maksudmu soal para kakak kelas yang mengerumuni Aya-senpai tadi?”


“Ya, begitulah.”


Mungkin karena sedari kecil ia tumbuh di dunia bela diri, mental Shizuku telah tertempa. Ditambah lagi, keterampilan karatenya yang cukup ahli membuatnya tidak pernah merasa takut menghadapi lawan yang lebih tua sekali pun laki-laki; ia selalu menyampaikan secara gamblang tentang apa yang tak disukainya.


Sifat tersebut memang suatu kelebihan, namun di saat yang bersamaan itu juga bisa jadi magnet pembuat masalah.


“Fumu, membuat kekacauan di kelas Haru-senpai juga bukan niatku yang sebenarnya... baiklah. Sebisa mungkin aku akan berhati-hati agar tidak sampai memicu keributan.”


“Terima kasih, itu akan sangat membantu.”


Haruto menundukkan kepalanya kepada Shizuku. Mendengar percakapan keduanya, Ayaka perlahan angkat bicara.


“Hei, Shizuku-chan.”


“Ya?”


“Apa Shizuku-chan tidak merasa takut? Maksudku... mengungkapkan apa yang ada di pikiranmu secara terang-terangan, atau membenturkan pendapatmu langsung ke lawan bicaramu seperti tadi?”


“...Kadang-kadang aku merasa takut juga.”


Shizuku menjawab pertanyaan Ayaka setelah jeda sesaat.


“Karena melawan kakak kelas, aku mungkin bakal diusili. Bahkan mungkin berujung pada perundungan. Dan karena perundungan itu, temanku mungkin akan semakin berkurang. Tapi bagiku, semua itu tidaklah penting. Saat menganggapnya tidak penting, secara otomatis rasa takut pun akan hilang.”


“Eh? A-Apa iya itu tidak penting?”


Ayaka melebarkan matanya karena terkejut dan bertanya balik.


“Sama sekali tidak penting. Orang yang langsung jaga jarak hanya karena melihatku dirundung kakak kelas, jelas bukan teman sejati. Meskipun ada 100 orang bermental seperti itu yang menghilang dari hidupku, bagiku hal itu tidak masalah.”


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Shizuku melirik ke arah Haruto.


“Daripada memusingkan hal itu, aku lebih memilih untuk menghargai hubunganku dengan orang-orang yang sikapnya tak pernah berubah terhadapku bahkan ketika situasi seperti itu terjadi.”


“Kenapa kau bilang begitu sambil melihat ke arahku.”


Haruto menggaruk belakang kepalanya dengan malu-malu.


“Karena Haru-senpai akan tetap menjadi temanku, tidak peduli apa pun yang terjadi.”


“...Kalau kau tidak mandi selama sebulan penuh, jelas aku bakal jaga jarak.”


“Kalau begitu, Haru-senpai saja yang memandikanku.”


Begitu ia mengatakan hal tersebut, Shizuku melompat dan memeluk erat lengan kanan Haruto.


Sontak, alis Ayaka berkerut tajam.


“S-Shizuku-chan!”


Ayaka menyebut nama Shizuku seolah memprotes, lalu ia meraih dan memeluk erat lengan kiri Haruto, berusaha melepaskan pelukan Shizuku di sisi lainnya.


“Aku senang kamu mau bantu, tapi tidak boleh peluk Haruto-kun!!”


“Mu, Aya-senpai sendiri juga sedang peluk, ‘kan?”


Shizuku, yang tampak tak senang karena ditarik paksa dari Haruto, memonyongkan bibir dan melayangkan protes kepada Ayaka yang kini tengah memeluk lengan kiri Haruto dengan dua tangannya.


“A-Aku kan pacarnya Haruto-kun! Sudah sewajarnya peluk pacar sendiri!”


“Kalau begitu, teman masa kecil juga wajar dong peluk temannya. Eiyaaah.”


Bersamaan dengan pekikan penuh semangat, Shizuku kembali menerjang lengan kanan Haruto.


“Ah! Dibilangin nggak boleh, Shizuku-chan!”


“Aya-senpai, perempuan posesif itu biasanya bakal cepat dicampakkan oleh Haru-senpai, loh?”


“Enggak, kok! Haruto-kun benar-benar mencintaiku, kok!”


Sambil terus menarik kuat lengan kiri Haruto, Ayaka ngotot. Menghadapi kepanikan Ayaka, Shizuku melontarkan kata-katanya dengan nada bicara yang tetap tenang tanpa ekspresi.


“Hanya berharap dicintai saja tidak cukup loh, Aya-senpai?”


“Aku tidak hanya mengharapkannya, kok! A-Aku juga cinta Haruto-kun!!”


Tepat saat Ayaka meneriakkan ungkapan cintanya pada Haruto, Shizuku dengan sigap melepaskan lengan Haruto.


Lalu, hal yang langka terjadi, wajahnya yang selalu datar kini luntur digantikan oleh senyum seringai.


“Tuh, dengar, Haru-senpai. Wah, bahagia banget, deh.”


“Kau ini...”


“Aya-senpai, terima kasih atas hidangan ungkapan cinta yang panas buat Haru-senpai barusan.”


Saat itulah Ayaka baru sadar kalau dirinya baru saja dijebak Shizuku, seketika wajah hingga telinganya merona.


“U-Uugh... Shizuku-chan bodoooh...”


Ayaka merengek dengan suara lirih yang gemetar seraya menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat di balik kedua tangannya.


Melihat hal tersebut, Shizuku mendongak kepada Haruto.


“Bagaimana Haru-senpai? Pemandangan gadis cantik yang menggeliat malu dengan wajah merah merona begini. Apa hatimu tidak berdesir?”


“Shizuku... jangan jahili Ayaka terus.”


“Akan kuusahakan.”


Shizuku dengan santai mengesampingkan perkataan Haruto, pandangannya masih tertuju pada Ayaka yang masih merona.


Di mata Haruto, seolah ada kilau keceriaan yang terpancar dari pupil Shizuku.


Meskipun dari mulutnya Shizuku berkata “Akan kuusahakan”, kelihatannya ia masih belum puas menjahili Ayaka, terlihat dari senyum tipis di wajahnya yang sangat jarang ia perlihatkan.


“Nah loh, Aya-senpai? Kalau kamu tidak meneriakkan ungkapan cintamu lagi, aku bakal peluk dia lagi, loh?”


Sambil berjalan di sebelah kanan Haruto, Shizuku mengolok-olok Ayaka seraya berpura-pura mau memeluknya sambil berseru, “Hayo, hayo”. Ayaka yang kedua telinganya masih merah memelototi Shizuku dengan mata berkaca-kaca menahan luapan emosi malu.


“Uuuh... Shizuku-chan jahil... mulai sekarang kita putus hubungan!”


“Kalau kau melakukan itu, jarak antara kau dan Haru-senpai di sekolah nggak bakal kunjung dekat, loh? Emang rela?”


“Uuu...”


“Buruan Aya-senpai, teriakkan cintamu sekali lagi seperti barusan.”


Meski wajahnya tidak banyak berekspresi, Shizuku terlihat sangat terhibur merecoki Ayaka habis-habisan.


Haruto lagi-lagi meninggikan suaranya untuk menegur gadis itu.


“Kan sudah kubilang, jangan ganggu Ayaka terus.”


Memperhatikan interaksi keduanya sejak tadi, lama-lama rasanya semakin membingungkan siapa sebenarnya yang menjadi kakak kelas di antara mereka.


“Oh, begitu, ya. Rupanya Haru-senpai lebih berpihak pada pacar tercintanya, ya.”


“Ya iyalah, aku kan pacarnya Ayaka.”


“Haruto-kun...”


Mendengar pengakuan Haruto, Ayaka tersipu gembira. Melihat kemesraan mereka, Shizuku menggembungkan pipinya tanpa merubah wajahnya.


“Hmph. Toh aku ini hanyalah nyamuk bagi kalian berdua.”


Mendengar celotehan ngambek Shizuku, Haruto terkekeh pelan.


“Tapi aku benar-benar berterima kasih padamu, Shizuku. Berkat bantuanmu, kami jadi punya jembatan penghubung untuk bisa berinteraksi di sekolah.”


“Terima kasihnya tulus, nggak?”


Shizuku menatap Haruto dengan tatapan memicing.


“Ya, aku berterima kasih.”


“Aya-senpai juga?”


“Ya, soal itu aku juga berterima kasih dari lubuk hatiku yang terdalam.”


“Kalau begitu Haru-senpai, tolong cium aku.”


Tanpa basa-basi, Shizuku melontarkan perkataan yang luar biasa gila dengan wajah super serius.


Karena Haruto sudah sangat kebal dengan candaan konyolnya, dia menganggap itu hanya angin lewat seraya tertawa pelan, “Haha”. Tapi bagi Ayaka yang belum punya ketahanan batin menghadapi Shizuku, wajahnya langsung dilanda kepanikan hebat dan seketika memprotes keras.


“Kamu ngomong apa sih, Shizuku-chan!?”


“Karena kalian sama-sama bilang sangat berterima kasih, kupikir aku pantas menagih tanda ucapan terima kasih itu.”


“Kok tanda terima kasihnya malah minta ciuman dari Haruto-kun!?”


“Ah, Aya-senpai langsung bersikap protektif begitu memonopoli Haru-senpai.”


“Tentu saja, aku kan pacarnya!”


Ayaka lagi-lagi memeluk erat lengan kiri Haruto dan menyuarakan protesnya dengan sekuat tenaga. Melihat reaksi ekstrem Ayaka, Shizuku menyipitkan sebelah matanya.


“Melindungi pacar sampai segitunya, jangan-jangan Aya-senpai... belum pernah ciuman ya, sama Haru-senpai?”


Terpancing oleh provokasi Shizuku, Ayaka langsung naik darah dan menyahut dengan emosi.


“Su-Sudah kok!”


“Bukan ciuman di pipi, loh? Tapi ciuman langsung dari mulut ke mulut.”


“D-Dari mulut ke mulut juga sudah!”


“Terus, ciuman pakai lidah juga pernah?”


“P-P-Pakai... pa-pakai lidah... pa-pakai li-lidah juga... pernah!”


Di bawah tatapan mematikan penuh rasa curiga dari Shizuku, Ayaka berusaha keras untuk menjawab meskipun pipinya sudah semerah kepiting rebus saking malunya, membuat tutur kata gadis itu sampai tersendat-sendat dan berantakan. Tak tega melihat Ayaka terus disiksa, Haruto akhirnya kembali turun tangan.


“Sudahlah Shizuku, hentikan saja. Ayaka, kamu pun yang tenang.”


“Auu... ung...”


Wajah Ayaka sangat merah sampai-sampai seolah akan menyemburkan uap layaknya panci mendidih dengan bunyi psssh, dan menundukkan wajahnya dalam-dalam.


“Melihat Aya-senpai yang tersipu malu begini, imut juga ya rasanya.”


“Aku benci Shizuku-chan...”


“Kelihatannya aku akan semakin menyukai Aya-senpai.”


Mendengar dua gadis di kedua sisinya terlibat percakapan seperti itu dengan dirinya di tengah-tengah, Haruto menyunggingkan senyum canggung, pasrah seakan berkata “Hadeh”.


Beberapa menit selanjutnya pun dipenuhi siklus: Shizuku lagi-lagi menggoda Ayaka, dan Haruto yang berusaha menghentikannya; sebuah percakapan yang terus berulang tanpa henti. Setelah mereka kembali mencapai sebuah persimpangan, Shizuku akhirnya menghentikan langkahnya.


“Baiklah, Aya-senpai, aku pulang lewat sini.”


“Ah, begitu, ya. Kalau rumahku lewat sini, jadi kita beda arah.”


Shizuku menunjuk ke arah kanan jalan di perempatan tersebut, sementara Ayaka menunjuk ke arah sebaliknya.


“Kalau begitu, kita berpisah di sini. Jumpa besok, Shizuku-chan.”


Wajah Ayaka tampak lega karena akhirnya ia terbebas dari keusilan Shizuku. Ia langsung mengibaskan telapak tangan kanannya dengan sigap untuk mengucapkan ‘dadah’ kepada Shizuku. Namun, menanggapi kalimat perpisahan Ayaka, Shizuku justru merespons dengan mengangkat salah satu alisnya .


“Kita...? Bukannya arah rumah Haru-senpai harusnya lewat jalan yang lurus ke depan?”


Mendengar pertanyaan Shizuku yang memiringkan kepalanya dengan penuh tanda tanya, Haruto menggaruk kepalanya sendiri dengan sebelah tangan dan menjawab dengan agak malu-malu.


“Ah... Sebenarnya, sekarang aku numpang nginap di rumah Ayaka.”


“Apa katamu!?”


Pernyataan blak-blakan Haruto tersebut tampaknya begitu mengejutkan Shizuku, sehingga raut wajah datarnya yang ikonik kini hancur lebur; matanya melotot karena syok.


“Aya-senpai! Ternyata selama ini kamu diam-diam sudah kumpul kebo sama Haru-senpai!?”


“Ah, tidak, anu... Kalau dibilang kumpul kebo, sepertinya kurang pas...”


“Kurang pas apanya!? Kalau sepasang pria dan wanita yang berpacaran tinggal seatap tidak bisa disebut kumpul kebo, lantas aktivitas macam apa lagi yang bisa dikategorikan sebagai kumpul kebo!?”


Sambil mengomel begitu, Shizuku mendesak Ayaka. Sebaliknya, Ayaka langsung memosisikan kedua telapak tangannya di depan dada bagai pawang yang menahan kuda agar tidak mengamuk, berusaha mati-matian menenangkan amarah Shizuku yang mendadak meledak.


“U-Umm, begini ceritanya. Alasan Haruto-kun menginap di rumahku itu karena neneknya tinggal di rumahku sebagai asisten rumah tangga...”


“Neneknya Haru-senpai bekerja jadi pembantu di rumah Aya-senpai?”


Mendengar keterangan Ayaka, Shizuku mengerutkan dahinya lalu serta-merta mengarahkan tatapan tajamnya ke wajah Haruto. Mengerti maksud lirikan tersebut, Haruto mulai menguraikan kronologi dari nasibnya saat ini.


“Sebenarnya, warung makan tempat nenekku biasa bekerja mendadak tutup permanen. Waktu nenek sedang kesusahan keliling nyari kerjaan baru, orang tua Ayaka akhirnya mau berbaik hati menerima nenekku sebagai asisten rumah tangga mereka.”


“Masuk akal juga... Tapi tetap saja, kok bisa kejadian itu bisa berujung pada Haru-senpai yang pindah dan tinggal seatap dengan Aya-senpai?”


“Ah, yah... itu karena Shuuichi-san... maksudnya ayahnya Ayaka sendiri yang mengusulkanku untuk sekalian numpang di sana.”


Haruto memaparkan rentetan penjelasan kronologis secara utuh mengenai bagaimana ia bisa sampai berakhir menumpang tinggal di kediaman mewah milik keluarga Ayaka.


Setelah menyimak penjelasan Haruto dari awal hingga akhir, Shizuku melipat kedua tangannya di depan dada seraya manggut-manggut perlahan dan bergumam pelan, “Mmm.”


“Begitu ya ceritanya... Berkomplot melibatkan satu keluarga demi menjerat dan menawan Haru-senpai, dan lebih parahnya lagi sampai menyandera neneknya yang jadi titik lemah Senpai untuk ikut masuk ke dalam skenario... Aya-senpai, kamu benar-benar seorang ahli siasat yang licik.”


“A-Apa maksudnya, Shizuku-chan? Niatku tulus hanya ingin meringankan beban Haruto-kun, tahu.”


Ayaka menyahut dengan kecepatan berbicara yang mendadak lebih cepat dari biasanya sembari mati-matian mempertahankan senyum kaku. Menanggapi pembelaan itu, Shizuku memelototinya dengan pandangan memicing curiga dan membalas sinis, “Waaah, perbuatannya sungguh mulia sekali.”


“Lupakan soal itu, hal yang lebih penting sekarang, karena bisa mempekerjakan seorang asisten rumah tangga secara khusus berarti keluarga Aya-senpai aslinya tajir melintir, ‘kan?”


“Oh... Soal itu...”


Haruto kesulitan untuk menjawab dan menoleh pasrah ke arah Ayaka.


“Umm... yah, bagaimana ya bilangnya, Papa dan Mama masing-masing mendirikan dan mengelola suatu perusahaan...”


“Aya-senpai ini aslinya pewaris perusahaan alias anak gadis konglomerat, ya?”


“Dipanggil ‘gadis konglomerat’ kedengarannya agak aneh sih, tapi mungkin memang bisa dibilang... begitu?”


Ayaka dengan sedikit canggung memiringkan kepalanya lalu memandang ke arah Haruto mencari pembelaan.


“Yah, kalau dilihat dari posisinya sih faktanya memang begitu, ‘kan? Shuuichi-san dan Ikue-san dua-duanya menyandang gelar presiden direktur.”


Mendengar konfirmasi pasti dari mulut Haruto, Shizuku seketika menengadah menatap hamparan langit luas.


“Paras wajah jelita yang nggak ngotak, proporsi badan fantastis yang aduhai, dan silsilah kekayaan keluarga elit... Seriusan... Keadilan di dunia ini rupanya tak lebih dari sekadar fatamorgana belaka...”


Mendengar keluhan yang terucap dengan tatapan kosong dari Shizuku, Ayaka tidak bisa melakukan apa-apa selain tetap memaksakan senyum kaku di wajahnya.


“Aya-senpai, berhubung kamu sekaya itu, apa rumahmu aslinya besar banget?”


“Eh, b-bagaimana, ya? Kalau dibanding rumah-rumah pada umumnya, ya, ukurannya mungkin sedikit lebih luas.”


Usai melirik sejenak ke arah Ayaka yang gelagapan menjawab seraya mengalihkan pandangannya ke sana ke mari, Shizuku beralih melirik Haruto di sampingnya.


“Yah, setidaknya bisa dibilang kalau rumah Ayaka itu tergolong sebagai mansion besar yang mewah.”


“Hoho.”


Haruto menambahkan penjelasan singkat untuk mengoreksi jawaban Ayaka. Mendengarnya, Shizuku mengangguk pelan sembari meletakkan sebelah tangannya di bawah dagu; raut wajahnya seakan mengisyaratkan bahwa otak jeniusnya sedang memproses suatu gagasan penting. Lantas, usai keheningan jeda sesaat, sepasang matanya menatap bergantian antara Haruto dan Ayaka.


“Aku baru saja menyusun strategi selanjutnya.”


“Eh? Strategi apa?”


Ayaka maju setengah langkah, tertarik dan bertanya.


“Fufufu, masih rahasia, dong. Oh ya, karena rumah Aya-senpai merupakan mansion mewah, berarti dalamnya super luas, ‘kan?”


Layaknya sedang mengonfirmasi sesuatu, Shizuku mengarahkan sorot matanya ke arah Haruto dan bertanya.


“Ya, sangat luas.”


“Kalau begitu tak ada halangan. Oh iya, Aya-senpai, ayo saling bertukar kontak ponsel.”


“Eh? Ah, ya.”


Meski masih agak bingung, Ayaka dengan patuh mengeluarkan ponselnya dari saku dan mereka pun saling bertukar kontak.


Shizuku memandangi foto profil Ayaka yang kini telah bertambah ke friendlist di aplikasi chattingnya, sebelum perlahan beralih menatap wajah aslinya.


“Baiklah, kalau begitu, jumpa besok. Nanti kita akan mendiskusikan rencananya lebih lanjut.”


Usai mendeklarasikan ucapan perpisahan tersebut, Shizuku segera berbalik lalu bergegas meninggalkan Haruto dan Ayaka berdua.


“Haruto-kun, kira-kira apa ya yang direncanakan Shizuku-chan?”


“Hmm, biarpun aku sudah lama kenal anak itu, tindakannya sering kali tetap sulit ditebak.”


Menanggapi Ayaka yang kebingungan sembari memiringkan kepala, Haruto pun hanya bisa membalas pertanyaannya dengan senyum pasrah.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close