NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V5 Chapter 7

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 7

Sebagai Kekasih yang Sesungguhnya

Setelah menempuh perjalanan kereta selama sekitar satu setengah jam, berganti kereta beberapa kali, Haruto dan Ayaka akhirnya tiba di tempat tujuan.


"Sampaiii!"


Ayaka berseru dengan raut wajah gembira sambil menatap gerbang masuk taman hiburan yang melengkung. 


Melihatnya, Haruto ikut menyunggingkan senyum lembut di bibirnya.


"Ayaka, kamu kelihatan senang banget, ya."


"Dari dulu aku pengin banget ke sini, dan aku senang banget karena pengalaman pertamaku ke sini bareng Haruto-kun!"


"Gitu, ya. Kalau gitu, hari ini mari kita bersenang-senang sepuasnya."


"Ya!!"


Ayaka tersenyum ceria.


Melihat gadis itu tampak begitu dipenuhi kebahagiaan, Haruto pun yakin kalau kencan hari ini akan menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan dan membahagiakan.


Memasuki taman hiburan, Ayaka menggumam "Hmm" dengan nada bimbang sambil menatap brosur yang ia ambil dari loket tiket.


"Haruto-kun, pertama-tama kita mau ke mana?"


"Hmm. Oh, gimana kalau ke area laut dalam?"


Keduanya saling mendekatkan wajah untuk melihat peta taman bersama-sama. Haruto menunjuk satu titik di peta dan memberikan usulnya.


"Boleh juga. Laut dalam kayaknya tipe kesukaan Haruto-kun banget, ya."


"Luar angkasa dan laut dalam itu romansa laki-laki, tahu."


"Fufu, entah kenapa omonganmu mirip Papa."


Mendengar ucapan Haruto, Ayaka menutupi mulutnya dengan tangan dan tertawa pelan.


"Yah, namanya juga laki-laki, kami kan makhluk pencari romansa."


"Hee... Haruto-kun juga cari romansa, nih?"


"Iya lah, aku kan laki-laki."


"Oh, gitu. Kalau begitu, gandengan tangan sama pacar pas kencan romansa laki-laki juga, nggak?"


Ayaka memiringkan kepalanya sedikit, lalu menyodorkan tangan kanannya ke arah Haruto.


Haruto meraih dan menggenggam tangan itu dengan lembut disertai senyum tenang.


"Tentu saja. Ini malah romansa laki-laki tingkat paling tinggi."


"Gitu, ya. Fufu, senang, deh"


Ayaka menempelkan tubuhnya seakan memeluk lengan kiri Haruto, menunjukkan senyum gembira. Menanggapinya, raut wajah Haruto pun melembut.


Taman hiburan yang mereka kunjungi bertema laut, di mana pengunjung dapat mengamati dan berinteraksi dengan berbagai hewan laut. Saat ini, sedang ada pameran ikan laut langka dalam waktu terbatas.


Ayaka menatap lekat-lekat awetan ikan laut dalam bermata besar dan bergigi tajam dari jarak dekat.


"...Entah kenapa, ikan laut dalam itu mirip alien, ya."


"Iya. Entah dari bentuk atau auranya, rasanya kayak bukan makhluk bumi."


Keduanya berjalan sambil mengamati pameran makhluk-makhluk aneh yang hidup di laut dalam dengan penuh minat.


"Ah, Haruto-kun! Lihat, lihat! Kalau yang ini lumayan lucu!"


Sambil menarik tangan Haruto yang digenggamnya, Ayaka melangkah menuju akuarium yang memamerkan makhluk laut dalam seukuran telapak tangan.


"Ini mendako, ya."


"Ternyata dia gurita, ya. Tapi kalau dilihat-lihat lagi memang mirip gurita, sih."


Saat Ayaka mendekatkan wajahnya ke akuarium untuk mengamati, mendako itu mulai berenang dengan lancar.


"Ah, lihat Haruto-kun. Ada yang berkibar-kibar kayak telinga kelinci! Imut banget."


"Yang kayak telinga itu katanya sirip, loh."


Haruto memberi tahu Ayaka sambil membaca papan penjelasan tentang ekologi mendako yang dipasang di samping akuarium.


"Ngomong-ngomong, mendako itu nggak punya kantong tinta, jadi dia nggak bisa nyemburin tinta."


"Meskipun gurita?"


"Iya, meskipun gurita."


"Oh, gitu. Tapi dia imut dan mungil, entah kenapa lihatnya bikin adem, ya."


"Katanya mendako itu disebut-sebut sebagai idol-nya laut dalam."


"Wah, aku harus ngefans, nih."


Ucap Ayaka melihat mendako yang berhenti berenang dan kembali menempel rata di dasar akuarium. Menanggapi ucapan gadis itu, Haruto merespons dengan sedikit hiperbolis dan bercanda.


"Kalau kamu sampai tergila-gila begitu, sebagai pacar aku bisa cemburu loh sama mendako."


"Fufu, nggak apa-apa, kok."


Mendengar ucapan Haruto, Ayaka mengalihkan pandangannya dari akuarium dan tersenyum.


"Bagiku, Haruto-kun itu sosok yang jauh lebih berharga daripada idol atau apa pun."


Gadis itu mengucapkannya sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Haruto.


Mendapat serangan kalimat dengan damage tinggi seperti itu, Haruto tak kuasa menahan senyumnya.


"Ayaka, aku senang banget sih dengarnya... tapi ini agak bikin malu...."


"Eh? Ah...."


Melihat Haruto yang tersipu malu dengan rona merah tipis di pipinya, ekspresi Ayaka sempat bingung sejenak, namun ia segera menyadari situasi di sekitarnya dan wajahnya langsung memerah sampai ke telinga. Ayaka membeku saking malunya.


Seorang bocah yang terlihat aktif menunjuk gadis itu dan berkata dari jarak dekat.


"Wah, lihat deh. Itu yang namanya pernyataan cinta, ya?"


"Hush! Jangan nunjuk-nunjuk orang sembarangan! Nggak sopan!"


Ibu anak itu membungkuk sopan sambil bergumam "Maaf" pada Haruto dan Ayaka, lalu bergegas pergi sambil menarik tangan anaknya.


"Uuuh...."


Wajah Ayaka memerah persis seperti mendako. Haruto tersenyum masam dan menarik tangan gadis itu.


"Kita lihat akuarium yang lain, yuk."


"...Iya."


Ayaka mengangguk pelan dan dengan pasrah ditarik oleh Haruto.


Setelah buru-buru mundur dari area pameran mendako, mereka berdua menikmati berbagai makhluk laut dalam lainnya.


Melihat ikan-ikan laut dalam yang aneh dan agak menyeramkan, serta ubur-ubur bercahaya yang misterius, perlahan-lahan mengembalikan semangat Ayaka yang sebelumnya sempat menunduk menahan malu.


Setelah puas menikmati keajaiban dunia laut dalam, Haruto dan Ayaka keluar dari gedung pameran khusus.


Haruto menyipitkan mata, silau oleh sinar matahari yang bersinar cerah di langit. Di sebelahnya, Ayaka yang sudah sepenuhnya kembali ceria sedang melihat-lihat peta taman dengan wajah berseri-seri.


"Area laut dalamnya seru banget, ya! Selanjutnya kita ke mana?"


Mendengar pertanyaan Ayaka, Haruto memeriksa waktu di ponselnya.


"Kalau jam segini, pas banget buat nonton parade penguin. Gimana?"


"Aku mau lihat parade penguin!!"


Mata Ayaka langsung berbinar mendengar usul Haruto.


"Kalau gitu, kita lihat penguin, yuk."


Melihat Ayaka yang ekspresinya terlampau antusias, Haruto menyunggingkan senyum yang sama sambil menuntun tangan gadis itu. Mereka pun berjalan bergandengan tangan menuju tempat parade penguin.


Haruto melirik Ayaka yang berjalan di sebelahnya dengan langkah ringan.


"Hm? Kenapa, Haruto-kun?"


"Aku cuma mikir, apa hadiah ujiannya cukup dengan ini aja."


Haruto sendiri benar-benar sangat menikmati kencan hari ini, dan dari raut wajahnya, ia tahu Ayaka juga menikmatinya dari lubuk hatinya.


Namun, mereka berdua kini sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Jadi, tanpa perlu menjadikan hadiah ujian sebagai alasan, mereka bisa kencan kapan saja selama jadwal mereka pas.


Apalagi kali ini Ayaka sudah belajar mati-matian demi mencapai nilai di atas 80 di semua mata pelajaran.


Haruto yang melihat sendiri usahanya dari dekat, merasa ingin memberikan sesuatu yang terasa lebih spesial untuk gadis itu.


"Ayaka kan udah berusaha banget buat ujian kali ini, jadi aku sempat mikir apa hadiah ini udah sepadan dengan usahamu."


Mendengar penuturan Haruto, Ayaka bergumam, "Haruto-kun..." dengan raut wajah penuh kegembiraan.


"Asal kamu tahu, ya. Buatku, menghabiskan waktu bersama Haruto-kun, membuat kenangan sama-sama... itu semua udah jadi waktu yang luarrr biasa membahagiakan, loh."


"Benarkah?"


"Ya. Makanya, kencan hari ini tuh udah lebih dari cukup buat jadi hadiah."


Sambil berkata begitu, Ayaka tersenyum lebar pada Haruto, senyum yang bahkan bisa mengaburkan teriknya sinar mentari di atas kepala mereka.


Senyuman yang sangat menyilaukan itu membuat rasa bahagia ikut merayapi hati Haruto.


"Syukurlah kalau begitu. Aku senang kalau Ayaka suka."


"Ya!!"


Keduanya saling tersenyum.


Haruto baru saja hendak menarik tangan Ayaka dan kembali berjalan ketika gadis itu dengan agak sungkan kembali angkat suara.


"Sebagai hadiah, kencan hari ini udah sempurna banget... tapi... anu, aku mau minta satu hal lagi pada Haruto-kun. Boleh, nggak?"


"Tentu saja."


Ditatap dengan pandangan memohon dari bawah oleh Ayaka, Haruto langsung mengiyakan tanpa ragu.


"Gini, loh. Sebenarnya, sejak resmi jadian aku pengin mengubahnya, tapi nggak nemu waktu yang pas...."


Ayaka berbicara dengan wajah malu-malu, memberikan sedikit jeda sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Kalau Haruto-kun nggak keberatan... um... mulai sekarang... boleh nggak aku panggil kamu... Haruto? Tanpa embel-embel 'kun'?"


Detik itu juga, Haruto merasa jantungnya seperti tertembus sesuatu.


Pacarnya sedikit menunduk malu, matanya berkaca-kaca yang bergetar cemas menantikan seperti apa reaksi pemuda itu dari balik raut salah tingkahnya...


Haruto merasa semua itu terlalu manis, terlalu menggemaskan.


"Iya. Tentu saja boleh."


Rasanya ia ingin memeluk gadis ini erat-erat sekarang juga.


Namun, melakukan pelukan mesra di tempat umum seperti ini tidak memungkinkan. Sebagai gantinya, Haruto mengeratkan genggaman tangannya pada Ayaka dan mengangguk tegas.


Mendengar jawaban Haruto, senyum kebahagiaan seketika merekah di wajah Ayaka.


"Serius!? Asyik!"


Sambil memperlihatkan ekspresi paling bahagianya di sepanjang hari itu, Ayaka berbicara pada Haruto dengan riang.


"Habisnya, sepasang kekasih pada umumnya kan saling panggil nama secara langsung! Makanya, dari dulu aku pengin banget panggil kamu 'Haruto' aja!"


"Oh, gitu, ya. Kalau gitu, padahal tinggal bilang aja dari awal jadian."


"Yah, iya, sih...."


Ayaka kembali terlihat gelisah menanggapi ucapan Haruto.


"Tapi kan, panggil nama langsung itu butuh keberanian, rasanya agak malu gitu. Agak susah kalau tiba-tiba, makanya aku cari-cari alasan."


"Ah, iya sih, aku paham perasaan itu."


Haruto memahami maksud Ayaka.


Kadang memang ada rasa canggung saat hendak memanggil teman secara langsung tanpa honorifik untuk pertama kalinya.


"Nggak enak juga sih kalau tiba-tiba main panggil nama terus bikin orang mikir 'Sok asik nih orang'."


"Nah, kan! Itu maksudku!"


"Tapi kan, kita berdua udah pacaran, jadi kamu nggak perlu mikirin hal yang enggak-enggak."


Setelah mengatakan itu, Haruto sedikit menarik tubuh Ayaka ke arahnya.


"Apa pun permohonan Ayaka pasti akan kukabulkan, loh."


Haruto berbisik sambil mendekatkan wajahnya. Ayaka tersenyum kegelian mendengarnya.


"Ya...."


Dengan rona merah yang masih tersisa di wajahnya, gadis itu berjalan satu langkah.


"Kalau gitu, kita lihat penguin bareng, yuk... Haruto!"


Mendengar panggilan baru yang masih terdengar sedikit kaku itu, Haruto merasakan kebahagiaan yang menggelitik hatinya seraya membiarkan tangannya ditarik oleh Ayaka menuju lokasi berikutnya.


Parade penguin adalah salah satu acara paling populer di taman hiburan ini. Karena itu, banyak pengunjung sudah berkerumun di sepanjang rute untuk melihat burung-burung lucu itu berjalan tertatih-tatih.


"Orangnya banyak banget, ya."


"Kayaknya di sebelah sana lebih sepi dan penguinnya lebih gampang dilihat."


Agar tidak terpisah di tengah keramaian, Haruto menggenggam tangan Ayaka lebih erat dari biasanya dan menuntunnya ke tempat yang relatif lebih sepi.


"Dari sini kita bisa lihat dari dekat."


"Kayaknya ini pertama kalinya aku lihat penguin dari jarak sedekat ini."


Ucap Ayaka dengan raut wajah penuh harap saat mereka tiba tepat di samping tali pembatas rute parade. Tak lama, dari kejauhan, sekitar sepuluh ekor penguin datang di bawah panduan petugas.


Melihat tingkah penguin yang berjalan susah payah mengepakkan kaki kecilnya, tawa penuh afeksi dan sorakan gembira anak-anak terdengar dari arah penonton.


Ayaka yang berada di sebelah Haruto pun ikut bersorak melihat betapa menggemaskannya penguin-penguin itu.


"Ah! Penguinnya datang, Haruto! Imut banget!"


Seiring gerombolan penguin itu mendekat, Ayaka terus menyerukan "Imut!" berulang kali.


Melihat gadis itu bersorak kegirangan, sebuah bayangan terlintas di benak Haruto.


Kalau di sini aku peluk Ayaka dari belakang dan membisikkan 'Daripada penguin-penguin itu, kamu yang lagi kesenengan nonton penguin kelihatan puluhan kali lebih imut, tahu' di telinganya... kira-kira reaksi macam apa yang akan dia tunjukkan?


Haruto buru-buru menggelengkan kepala, membuyarkan khayalan yang baru setengah jalan itu.


"Sok banget sih aku..."


Haruto mencela dirinya sendiri. Mendengar gumamannya, Ayaka berbalik dari penguin dan menatap Haruto, "Hm?"


"Haruto, kamu barusan bilang apa?"


"Tidak, bukan apa-apa. Yang lebih penting, tuh penguinnya udah di depan mata."


"Wah! Lihat, Haruto, lihat!"


Ayaka menatap Haruto dengan senyum merekah saat penguin-penguin itu melintas tepat di depan mereka.


"Imut banget, ya!"


Melihat gadis itu berbicara dengan penuh semangat dan senyum yang begitu memikat, khayalan yang baru saja dikubur Haruto kembali muncul ke permukaan otaknya.


"...Ayaka yang lagi kesenengan jauh lebih imut, kok."


"Fweh!?"


Sesuai dugaan, Haruto tak sanggup mengucapkannya dengan wajah keren.


Ia menggumamkannya dengan cepat sambil membuang muka ke arah acak karena malu. Namun rupanya kalimat itu masuk dengan jelas ke telinga Ayaka, membuat wajah gadis itu memerah dalam sekejap.


"M-Makasih...."


"Ya...."


Sementara keduanya sama-sama memalingkan wajah dan salah tingkah, rombongan penguin itu sudah lewat begitu saja.


Setelah acara parade selesai dan kerumunan mulai bubar, Haruto dan Ayaka baru mulai bergerak satu langkah lebih lambat.


"Umm... kalau gitu... kita lihat ke akuarium yang di sebelah sana, yuk?"


"I-Iya, ayo."


Untuk menyembunyikan rasa canggungnya, Haruto menunjuk bangunan pertama yang tertangkap matanya.


Ayaka pun mengangguk, pasrah saat tangannya kembali dituntun.


Taman hiburan yang Haruto kunjungi memiliki beberapa akuarium yang dibagi berdasarkan karakteristiknya, seperti khusus memamerkan lumba-lumba, atau zona interaksi hewan laut.


Akuarium yang mereka masuki kali ini memiliki tangki raksasa di mana berbagai jenis ikan berenang dengan bebas.


Di antara semuanya, yang paling menarik perhatian adalah kawanan besar ikan sarden.


Kawanan raksasa yang terdiri dari ikan sarden dalam jumlah tak terhitung itu bergerak layaknya satu kesatuan makhluk hidup.


"Wah! Haruto, lihat! Keren banget, ya!"


Ayaka menempelkan wajahnya pada kaca akuarium raksasa.


Gadis itu berbicara pada Haruto sambil menatap lekat pemandangan di dalam air seolah terhipnotis.


"Kawanan sarden itu besar banget, ya!"


"Menurut brosurnya jumlah sarden yang dipelihara di sini termasuk yang paling banyak di Jepang, loh."


"Oh, gitu, ya. Kira-kira ada berapa ekor, ya?"


"Katanya sih, sekitar lima puluh ribu ekor."


"Lima puluh ribu!?"


Ayaka membelalakkan matanya, terkejut dengan jumlah sarden yang melebihi perkiraannya.


Mulutnya terbuka kecil karena syok mendengar angka itu. Di sebelahnya, Haruto menopang dagu dengan tangan sambil menatap lekat-lekat gerombolan sarden tersebut.


"Jumlah yang fantastis, ya. Tapi kalau ada lima puluh ribu sarden, ini sih udah all-you-can-eat. Dijadikan sashimi, dibakar, kabayaki, kalau musim dingin dibikin sup bakso ikan juga enak. Terus, direbus pakai jahe atau dimasak dengan kecap manis juga mantap, sisanya...."


"Ih, Haruto! Jangan mikirin menu masakan pakai ikan-ikan akuarium, dong!"


"Ahahaha, maaf, maaf. Habisnya ikan sarden kan enak, cara masaknya juga bervariasi, jadi tanpa sadar aku mikir gitu."


"Dasar... tapi, aku lumayan penasaran sih sama sarden rebus manis buatan Haruto...."


Meski protes, perut Ayaka rupanya sudah terlanjur ditaklukkan. Gadis itu kesulitan menolak masakan apa pun yang keluar dari mulut Haruto dan akhirnya menambahkan gumaman pasrah.


Haruto menambahkan sambil tersenyum lembut.


"Kalau direbus pakai panci presto sampai tulangnya lunak, Ryota-kun pasti gampang makannya. Bumbu manis gurihnya juga bakal cocok buat teman minum Shuuichi-san."


"Uuuh... kedengarannya enak banget...."


"Nanti, kalau ada yang jual sarden bagus, aku beli, ya."


"Tolong, ya."


Takluk pada pesona masakan Haruto, Ayaka memandangi kawanan sarden di dalam akuarium dengan ekspresi campur aduk.


"Gimana, ya... sekarang pas lihat sarden-sarden itu, di mataku mereka cuma kelihatan kayak bahan makanan yang menggugah selera...."


"Lima puluh ribu ekor sarden itu bagai mimpi, loh."


Setelah berbincang santai seperti itu, Haruto dan Ayaka akhirnya beranjak dari depan akuarium raksasa.


Setelahnya, mereka berkeliling melihat ikan tropis berwarna-warni di terumbu karang, menonton hiu-hiu yang ganas, dan menikmati isi akuarium itu sepuasnya.


"Kayaknya kita udah keliling semua tempat, ya?"


Ayaka bergumam saat mereka kembali ke area pintu masuk setelah mengitari seluruh ruangan.


"Selanjutnya mau ke mana?"


"Masih agak awal sih, tapi mau makan siang sekarang aja? Nanti kalau pas jam makan siang pasti bakal penuh banget."


"Boleh juga, tuh."


Karena ini hari Sabtu, sudah pasti restoran akan dipenuhi pengunjung saat jam makan siang tiba. Mengantre lama dan membuang waktu di taman hiburan tentu akan sangat disayangkan. Karena itu, keduanya memutuskan untuk makan siang lebih awal.


"Mau makan siang di mana?"


Tanya Ayaka sambil mengamati daftar restoran di brosur.


"Hmm, kalau yang ini gimana? Rice bowl seafood-nya kelihatan enak."


"Haruto lagi pengin makan seafood?"


"Kayaknya. Habis lihat ikan-ikan tadi aku jadi pengin makan seafood."


"Penginnya sih protes 'Masa habis lihat ikan di akuarium jadi pengin makan mereka, sih!', tapi aku agak paham perasaanmu, rasanya nyebelin."


Melihat bibir Ayaka yang sedikit monyong, Haruto tertawa ramah.


"Jadi, fix ya makan siangnya di restoran seafood ini?"


"Ya, ayo."


Setelah menentukan tujuan, mereka segera menuju restoran yang tercantum di brosur.


Berkat datang lebih awal dari jam makan siang normal, mereka langsung diantar ke meja.


"Lautnya kelihatan jelas, ya."


Ucap Ayaka dengan riang saat duduk di kursi dekat jendela.


Haruto duduk di hadapannya dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


"Makan seafood sambil menikmati pemandangan laut. Mewah banget sih ini."


"Setuju. Tinggal di rumah yang ada pemandangan lautnya di masa depan nanti kayaknya boleh juga."


"Pagi-pagi minum teh di balkon sambil memandangi laut, gitu?"


"Wah, mantap banget, gaya banget nggak, sih?"


"Saking mantapnya sampai nggak mau gerak dari balkon."


Sambil membicarakan mimpi indah mereka, Ayaka meraih daftar menu di atas meja.


"Haruto mau makan apa? Seafood yang tadi?"


"Iya. Aku mau pesan Rice Bowl Aneka Tuna yang ada di brosur tadi. Kalau Ayaka?"


"Hmm..."


Berkebalikan dengan Haruto yang langsung memilih, Ayaka malah mengerang sambil terus memelototi daftar menu.


"Lagi bingung milih yang mana sama mana?"


"Aku bingung mau milih Rice Bowl Mewah Tuna-Salmon atau Paket Aji Fry..."


Sambil berkata begitu, mata Ayaka bolak-balik menatap dua menu tersebut.


Haruto mencondongkan tubuhnya untuk melihat menu yang membuat Ayaka bimbang.


"Salmon memang susah dilewatkan, tapi Aji Fry ini juga kelihatan enak, ya."


"Iya, 'kan! Kayaknya sih Paket Aji Fry aja... tapi, salmonnya, uuuh...."


Melihat Ayaka yang tak kunjung bisa memutuskan, Haruto memberikan sebuah usulan.


"Kalau gitu, gimana kalau aku yang pesan Rice Bowl Tuna-Salmon ini, nanti aku bagi salmonnya ke kamu. Sebagai gantinya, kamu kasih aku Aji Fry-nya dikit?"


Haruto menawarkan untuk menukar pesanannya agar mereka bisa berbagi hidangan.


Mendengar usulan itu, Ayaka menatap wajah Haruto dari bawah dengan ragu.


"Nggak apa-apa? Kamu kan tadi pengin Rice Bowl Aneka Tuna."


"Iya. Pas lihat-lihat menu ini aku jadi pengin makan salmon juga."


Mendengar Haruto membalas dengan senyum tulus, Ayaka membalasnya dengan senyum lembut.


"Makasih, Haruto. Kalau gitu aku pesan Paket Aji Fry, ya."


"Oke. Permisi, mau pesan."


Haruto mengangkat tangannya dan memanggil pelayan yang kebetulan lewat.


Ayaka terus memandangi Haruto yang memesan makanan sambil senyum-senyum sendiri. Begitu pelayan itu pergi, ia masih tersenyum dan berbicara.


"Haruto ini emang baik banget, ya."


"Masa, sih? Kayaknya biasa aja, deh."


"Enggak, ah. Haruto tuh selalu manjain aku. Kalau aku lengah dikit aja, aku bisa makin manja sama kamu."


"Kayaknya aku pernah bilang, deh... kalau mau manja-manja ke aku, kamu bebas-bebas aja, loh?"


"Tuh, kan, gampang banget keluarin bisikan iblisnya."


Mendengar ledekan Ayaka, Haruto membalas sambil tertawa, "Masa dibilang iblis, sih?"


Menanggapi itu, Ayaka sedikit mencondongkan tubuh ke depan dan menatap tajam Haruto.


"Padahal, aku juga pengin Haruto manja ke aku, loh."


"Tapi, cowok yang manja itu kan rasanya agak... lemah, gitu?"


Dibesarkan oleh kakek dan neneknya sejak kecil membuat Haruto memiliki nilai-nilai yang sedikit kuno.


"Enggak, kok. Kalau Haruto mau manja-manja ke aku, aku bakal senang banget, loh."


"Oh, begitu."


"Iya, lah! Ah, ngomong-ngomong aku harus kasih hadiah ujian buat Haruto, 'kan?" kata Ayaka, melontarkan sebuah tawaran.


"Gimana kalau hadiahnya, Haruto bebas bermanja-manja ke aku seharian penuh?"


"Eh?...bermanja-manja itu, lebih tepatnya aku harus ngapain?"


Mendapat pertanyaan kikuk dari Haruto, Ayaka sedikit memiringkan kepala.


"Itu, umm... minta bantal paha, misalnya?"


"Bantal paha, ya...."


Haruto teringat kembali saat mereka latihan pacaran pada libur musim panas lalu.


Kalau diingat-ingat, bantal paha dari Ayaka adalah hadiah yang sangat menggiurkan bagi Haruto.


"Kalau begitu, hadiahnya itu aja, ya."


"Oke, siap."


Ayaka tersenyum lebar.


Hari-hari setelah jadian dengan Ayaka terasa selalu diselimuti oleh kebahagiaan.


Melihat senyuman Ayaka saat ini membuat Haruto kembali menyadari fakta itu.


"Oh ya, pas kasih bantal paha nanti, aku boleh elus-elus kepalamu, 'kan?"


"Iya, boleh."


"Soalnya rambut Haruto itu lembut dan enak banget buat dielus," kata Ayaka dengan senyum berseri.


Keduanya lalu melanjutkan obrolan santai, membicarakan ikan mana yang paling indah untuk dilihat. Tak lama, pesanan mereka tiba di meja.


Di depan Haruto, tersaji Rice Bowl Mewah Tuna-Salmon yang warna merah dan pink-nya sangat menggoda, sedangkan di depan Ayaka tersaji Paket Aji Fry berwarna cokelat keemasan yang menggugah selera.


"Kelihatannya enak banget."


"Iya! Benar-benar menggugah selera!"


Melihat hidangan lezat di depan mata, raut wajah keduanya seketika melunak dan mereka langsung meraih sumpit.


"Mmm, sashiminya fresh banget, enak."


"Beneran?"


Ayaka memandangi Haruto yang sedang asyik menikmati Rice Bowl Mewah Tuna-Salmon miliknya.


Merasakan tatapan itu, Haruto tertawa kecil, "Fufu," lalu menawarinya.


"Mau coba?"


"Mau!" jawab Ayaka cepat.


Meski gadis itu belum menyentuh Aji Fry miliknya, Haruto langsung menyodorkan mangkuknya ke depan Ayaka.


"Kita tukaran dulu," ucap gadis itu sambil mendorong Paket Aji Fry-nya ke depan Haruto, lalu menyuapkan sepotong salmon dari mangkuk Haruto.


"Mmm, salmon emang nggak pernah gagal!"


Wajah Ayaka meleleh saking bahagianya.


"Mau makan tunanya juga boleh, loh."


"Beneran? Kalau gitu aku minta satu suap lagi."


Dengan gembira, Ayaka melahap potongan tuna itu dan kembali menampilkan senyum bahagianya, "Enaaak". Memperhatikan senyum gadis itu, Haruto menggigit seporsi Aji Fry hasil bertukar dengan Ayaka.


Dari balik tepung goreng yang krispi, daging ikan aji yang lembut memancarkan kelezatan kaldu seafood gurih yang lumer seketika di lidahnya.


Mungkin raut wajah Haruto benar-benar menunjukkan kepuasannya. Ayaka yang duduk di seberangnya menatapnya sambil tertawa pelan, "Fufu."


"Enak?"


"Iya. Enak banget."


"Boleh makan lagi, loh."


"Tapi Aji Fry-nya kan cuma ada dua?"


"Nggak apa-apa, daripada makan Aji Fry yang lezat, aku lebih suka lihat Haruto makan Aji Fry dengan ekspresi lezat itu."


"B-Begitu, ya...."


Ucapan Ayaka yang dilontarkan dengan senyum riang itu membuat Haruto terjebak dalam perasaan campur aduk antara senang dan malu.


Dengan susah payah, Haruto berhasil menghabiskan satu dari dua potong Aji Fry sambil terus ditatap oleh Ayaka.


"Mmm, makasih. Enak banget. Ayaka, kamu udah puas sama tuna dan salmonnya?"


"Udah. Makasih juga udah mau bagi makanannya ke aku."


Setelah saling berterima kasih, Haruto mengembalikan Paket Aji Fry ke depan Ayaka dan menarik kembali mangkuk Rice Bowl-nya.


"Nggak salah ya kita milih makan siang di sini."


Haruto mengangguk puas setelah melahap sisa tuna dan salmon beserta nasinya.


Di seberangnya, Ayaka menggigit Aji Fry dan menampakkan wajah bahagia.


Haruto pun menghabiskan Rice Bowl-nya dengan perut kenyang dan rasa puas. Setelah meneguk air putih, ia melihat ke arah Ayaka yang tampaknya masih butuh waktu sedikit lebih lama untuk menghabiskan makanannya.


Gadis itu terus makan dengan raut wajah kendur yang sama bahagianya.


Melihat Ayaka, Haruto tiba-tiba mendapat sebuah ide, dan langsung ia praktikkan.


Ia sedikit mencondongkan badannya dan mulai memandangi Ayaka yang sedang asyik makan. Belum menyadari tingkah Haruto, Ayaka memakan acar dari mangkuk kecil, lalu mengangkat mangkuk sup miso dan menyeruput isinya sedikit. Saat itulah, dari atas mangkuk supnya, mata Ayaka bertemu dengan mata Haruto.


Begitu menyadari tatapannya, wajah Ayaka perlahan mulai memerah.


"K-Kenapa, Haruto? Apa ada nasi yang nempel di wajahku?"


Karena ditatap sedemikian rupa, Ayaka mulai gelisah.


Namun, tanpa memutuskan kontak mata, Haruto menjawab santai.


"Tidak, aku cuma mikir betapa imutnya pemandangan kamu makan dengan ekspresi bahagia itu, makanya aku lihatin. Silakan nikmati makananmu tanpa memedulikanku."


"M-Masalahnya aku jadi nggak nyaman..." jawab Ayaka pelan dengan telinga yang sudah merah padam.


Meskipun pemuda itu tak kunjung mengalihkan pandangannya, Ayaka yang masih salah tingkah mencoba lanjut makan. Sayangnya, karena terus kepikiran dengan tatapan Haruto, gadis itu terus curi-curi pandang ke arahnya.


Makan dengan cara seperti itu jelas tak akan bertahan lama. Pada akhirnya, Ayaka mengangkat tangan dengan pasrah dan berucap pelan, "Aku menyerah."


"Kalau ditatap kayak gitu, aku mana bisa makan, malu tahu...."


"Tadi Ayaka juga terus-terusan tatap aku, 'kan?"


"Uuh, soalnya Haruto yang lagi menikmati makanan itu kelihatan manis, sih."


"Aku juga ngerasa kalau wajah bahagia Ayaka pas makan kelihatan sangat memikat, loh."


"T-Tapi, 'kan..."


Mendengar kata "memikat" keluar dari mulut Haruto, pundak Ayaka bergetar karena senang sekaligus malu. Untuk menutupi rasa gugupnya, ia menjepit sisa acar dengan sumpit lalu menyodorkannya ke arah mulut Haruto.


"...Nih."


"Hm, makasih."


Dihadapkan dengan serangan "Aaam" yang tiba-tiba, Haruto tersenyum dan melahap acar tersebut.


"Masih mau?"


"Tidak, udah cukup."


Sambil mengunyah acar perlahan, Haruto menggelengkan kepalanya dan akhirnya berhenti memandangi Ayaka lekat-lekat.


"Kapan-kapan, aku bikin Aji Fry, ah."


"Wah, aku mau coba Aji Fry buatannya Haruto."


Sambil berkata begitu, Ayaka memakan habis sisa Aji Fry-nya dan wajahnya berbinar mengatakan, "Enaaak."


Setelah menyelesaikan makan siang mereka lebih cepat, Haruto dan Ayaka menghabiskan waktu menikmati berbagai fasilitas di taman hiburan tersebut.


Di pertunjukan lumba-lumba yang populer, mereka dibuat takjub oleh lumba-lumba yang melakukan trik dengan gesit. Saat mencoba memberi makan berang-berang, Ayaka gemas melihat makhluk mungil itu dengan putus asa menggapai-gapai umpan di telapak tangannya. Di zona sentuh, Ayaka kegirangan saat menyentuh kulit hiu tanduk yang terasa unik baginya, sementara hati Haruto merasa terhangatkan melihat kebahagiaan gadis itu.


Kencan pertama mereka sejak resmi berpacaran.


Bagi keduanya, momen-momen itu sangat membahagiakan, membuat waktu seolah mengalir begitu cepat bagai air.


"Hei, Haruto. Selanjutnya ke sini, yuk."


"Boleh."


Ayaka menarik tangan Haruto dengan senyum polosnya.


Tempat tujuan mereka berikutnya adalah terowongan transparan yang membelah akuarium raksasa.


Terowongan berbentuk lengkung ini berada di dasar air, sehingga pengunjung dapat mengamati ikan dan lumba-lumba yang berenang gemulai dari bawah.


"Wah! Indahnya!"


"Iya. Rasanya kita kayak lagi nyelam, ya."


"Benar!"


Haruto dan Ayaka merasa seolah sedang berjalan-jalan di dasar laut.


Keduanya mendongak melihat lumba-lumba yang mendekat tepat di atas terowongan transparan tersebut.


"Mungkin ini pertama kalinya aku lihat lumba-lumba dari bawah begini."


Lumba-lumba itu rupanya penasaran pada Haruto dan Ayaka yang ada di terowongan, berputar-putar dan mondar-mandir di dekat mereka.


"Setuju. Suasananya jadi terasa fantastis, ya."


Sinar mentari menembus dari atas permukaan akuarium yang berseberangan langsung dengan langit biru, memantul di riak air dan berkilauan bagai permata.


"Haruto."


"Hm?"


Mendengar namanya dipanggil, Haruto mengalihkan pandangannya dari lumba-lumba ke arah gadis itu.


"Asyik, ya!"


"Iya, asyik banget."


Ketika Haruto membalas dengan senyuman, Ayaka membalasnya dengan senyum gembira. Gadis itu lalu membalikkan seluruh tubuhnya menghadap Haruto.


"Ke depannya, ayo kita pergi ke berbagai tempat sama-sama, melakukan banyak hal bersama, dan mengukir kenangan lebih banyak lagi!"


Pancaran cahaya dari langit membentuk pilar-pilar cahaya di dalam air, diselingi oleh lumba-lumba yang menari-nari dengan anggun. Berbagai jenis ikan berenang mengelilingi karang yang berwarna-warni, menciptakan pemandangan yang sangat menakjubkan.


Bagi Haruto, Ayaka yang diselimuti suasana fantastis itu terlihat jauh lebih cantik, indah, dan memikat dari biasanya.


"Iya, tentu saja. Mulai sekarang dan seterusnya, kita akan selalu bersama."


Haruto menggenggam tangan kekasih tercintanya itu dan menariknya perlahan ke arahnya, lalu melangkah perlahan sambil merekam pemandangan fantastis di depan matanya ke dalam ingatan.



Cahaya senja yang jingga menerobos masuk ke dalam gerbong kereta.


Haruto dan Ayaka duduk dengan saling menempel erat.


"Aaah... rasanya kencannya cepat banget selesainya."


Ayaka berucap dengan nada enggan berpisah sembari mengelus boneka mendako yang ada di pangkuannya.


"Taman hiburan itu ternyata jauh lebih seru dari yang kubayangkan."


Haruto membalas sambil mengeratkan pegangannya pada kantong kertas berisi suvenir untuk keluarga Toujou.


"Kalau kita ajak Ryota-kun pas ke sana lagi, pasti bakal senang banget."


"Dari awal dia pasti bakal lari-lari kegirangan, sih."


"Nggak masalah, sih. Lihat Ryota-kun senang aja udah cukup menghibur."


Mengingat senyum Ryota yang secerah mentari pagi, Haruto menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Pandangannya lalu tertuju ke dalam kantong kertas, di mana terdapat sebuah boneka lumba-lumba yang dibelinya untuk bocah itu.


"Tapi kalau Ryota ikut, masalahnya aku nggak bisa monopoli Haruto seharian, dong," kata Ayaka sambil memeluk erat boneka mendako di pangkuannya.


Sebagai informasi, boneka itu ia temukan saat sedang memilih-milih suvenir dan langsung ia beli tanpa pikir panjang lantaran jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Kalau begitu, kita tinggal kencan berdua lagi aja di lain waktu?"


"Ya. Kita bakal sering kencan."


Melihat Ayaka yang enggan melepaskan bonekanya, Haruto sengaja memonyongkan bibir dengan sedikit dilebih-lebihkan agar gadis itu tahu bahwa ia sedang bercanda.


"Ayaka. Sepertinya aku benar-benar cemburu deh sama mendako itu."


"Eh?"


Merespons candaan Haruto, Ayaka melihat boneka di pelukannya lalu terkikik kecil.


"Kalau gitu, begini aja gimana?"


Ayaka mengembalikan mendako-nya ke pangkuan dan sebagai gantinya, ia meraih lengan Haruto lalu memeluknya erat di dadanya.


"...Boleh, sih... tapi rasanya lumayan bikin malu."


Untung saja gerbong kereta yang mereka tumpangi tidak terlalu padat. Penumpang lainnya juga sibuk dengan ponsel masing-masing, ada pula yang tidur sambil menunduk, sehingga tak ada yang memperhatikan kelakuan mereka.


Masih memeluk erat lengan Haruto, Ayaka menyandarkan kepalanya pelan ke pundak pemuda itu.


"Hari ini benar-benar hari yang sangat membahagiakan," bisik Ayaka pelan.


Mendengar kalimat yang terucap di dekat telinganya itu, Haruto merasa dadanya digelitik oleh kebahagiaan sambil terus menikmati guncangan kereta yang membawa mereka pulang.


Perjalanan yang saat berangkat terasa cukup lama, kini terasa sangat cepat berlalu bagi Haruto. Dari stasiun terdekat kediaman Toujou, Haruto dan Ayaka berjalan berdampingan sambil berpegangan tangan dan mengobrol tentang kunjungan mereka hari ini. Tak terasa, mereka sudah tiba di depan rumah.


"Kami pulang."


"Aku pulang."


Begitu Haruto dan Ayaka sama-sama masuk ke ruang depan, Ryota segera berlari keluar dari ruang tamu dengan semangat.


"Onee-chan! Onii-chan! Selamat datang!!"


Ryota berlari kencang di sepanjang lorong sebelum berhenti mendadak di hadapan mereka berdua.


"Kencannya menyenangkan? Onee-chan udah berhasil menumbuhkan cinta sama Onii-chan belum?"


"Eh!? Y-Ya, tentu saja udah, kok."


Ditodong pertanyaan oleh adiknya yang menatap dengan mata polos, Ayaka menjawab dengan sedikit gelagapan.


Keluguan Ryota dan caranya bicara yang blak-blakan rasanya masih terlalu memalukan bagi Ayaka.


"Ryota-kun, aku bawa suvenir, loh."


"Beneran!?"


Mendengar kata "suvenir" dari Haruto, saking senangnya Ryota sampai melompat-lompat kecil di tempat.


"Nih, ini suvenirnya."


"Wah!! Lumba-lumba!!"


Menerima boneka lumba-lumba dari Haruto, Ryota mendekapnya di kedua tangannya lalu kembali melesat ke ruang tamu sambil berteriak, "Ibuuu!! Onii-chan beliin aku suvenir!!"


Melihat tingkah Ryota yang tidak berubah, Haruto dan Ayaka saling pandang lalu tersenyum bersamaan sebelum melangkah menuju ruang tamu.


Memasuki ruang tamu, bau harum menyambut mereka dari dapur, tempat Kiyoko tengah menyiapkan makan malam.


Di ruang tamu itu sendiri, tampak Ryota yang sedang memamerkan boneka lumba-lumbanya pada Ikue.


"Ibu, lihat! Boneka lumba-lumba, loh!"


"Wah, bagus, dong. Tapi kamu sudah bilang makasih ke Haruto-kun belum?"


Mendengar perkataan ibunya, Ryota tersentak dan buru-buru berlari menghampiri Haruto.


"Onii-chan! Makasih suvenirnya!"


"Sama-sama. Oh iya, Onee-chan juga bantu pilihin suvenir itu, loh."


"Onee-chan, makasih ya suvenirnya!"


"Sama-sama. Dijaga baik-baik, ya."


"Ya!"


Ryota mengangguk kuat-kuat, lalu segera bermain dengan figur sentai dan boneka lumba-lumbanya.


Nampaknya, lumba-lumba itu dijadikan penjahat dari organisasi jahat yang harus dilawan oleh pahlawan sentai.


"Haruto-kun, terima kasih banyak, ya," ujar Ikue yang tersenyum lembut melihat tingkah laku Ryota.


"Sama-sama. Oh, ini untuk Ikue-san dan Shuuichi-san, saya belikan suvenir juga, silakan dimakan nanti."


Haruto mengeluarkan sekotak kue kering berbentuk lumba-lumba dari kantong kertas dan meletakkannya di atas meja.


"Wah! Terima kasih banyak, ya."


Melihat senyum manis Ikue, Haruto membungkuk kecil, lalu melangkah ke dapur.


"Nek, aku belikan buat Nenek juga, nanti dimakan ya."


"Ara, yang benar? Terima kasih, ya."


"Iya. Sekalian aku bantu siapin makan malam juga, deh."


Haruto langsung berdiri di sebelah Kiyoko dan mulai membantu memasak makan malam.


Melihat pemandangan itu, Ayaka pun ikut bergabung di dapur.


"Kiyoko-san, aku juga bantu, ya."


"Wah, Ayaka-san, terima kasih banyak. Kalau begitu, bisa tolong urus sayuran ini?"


"Baiklah."


Di dapur, Haruto, Ayaka, dan Kiyoko memasak makan malam bersama-sama. Sementara di ruang tamu, Ryota tengah asyik bermain sambil diawasi Ikue dengan tatapan lembut.


Kehidupan sehari-hari keluarga Toujou yang ramai.


Meski rutinitas ini baru saja dimulai, Haruto perlahan-lahan mulai merasakan bahwa rumah ini adalah "tempatnya berpulang".


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close