Penerjemah: Ramdhian
Proffreader: Ramdhian
Afterword
Terima kasih telah membaca buku ini.
Berkat dukungan kalian semua, tanpa terasa karya ini sudah mencapai volume kelima.
Aku benar-benar berterima kasih yang setulus-tulusnya dari lubuk hati terdalam.
Bisa terus melanjutkan penerbitan volume baru dengan lancar seperti ini adalah hal yang sangat menggembirakan. Di tengah hari-hari yang sibuk dan dikejar-kejar deadline, aku benar-benar menyadari betapa mewahnya bisa merasa bingung memikirkan apa yang harus ditulis pada halaman afterword ini.
Saat masih duduk di bangku SD, aku punya prinsip mutlak: baru mulai kerjakan PR musim panas pada hari terakhir sebelum liburan usai. Lalu, setelah masuk SMP, sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk baru menyentuh tugas sekolah setelah liburan benar-benar berakhir. Mengingat masa lalu yang seperti itu, melihat diriku sekarang bisa mematuhi deadline naskah dengan baik membuatku membatin, “Wah, ternyata aku sudah jauh lebih dewasa, ya,” dan benar-benar merasakan pertumbuhan pada diri sendiri.
Setelah berhasil mematuhi deadline untuk volume kelima ini dengan sangat baik, aku melapor kepada istriku dengan wajah bangga, “Kali ini aku juga menepati deadline, loh!” Namun, dia justru merespons dengan tatapan yang sangat dingin sambil berkata, “Ya sudah semestinya, ‘kan.”
Tampaknya, istriku adalah tipe orang yang sudah menyelesaikan semua PR musim panas bahkan sebelum liburan dimulai. Aku sama sekali tidak habis pikir. Benar-benar tidak masuk akal bagiku. Kalau tugas-tugas sudah selesai padahal liburan baru saja dimulai, bukankah kita malah akan merasa gelisah dan tidak bisa menikmati liburan sama sekali?
Bukankah kenikmatan sejati dari liburan musim panas adalah bermain dengan mengerahkan seluruh jiwa raga, sambil menutup mata dan mengosongkan pikiran dari PR yang masih menggunung? Lalu, pada malam hari sebelum hari pertama masuk sekolah, rasa penyesalan mendalam dan kepanikan karena mempertanyakan apa saja yang telah dilakukan selama ini akan berubah menjadi bahan bakar utama. Dengan kesiapan untuk begadang semalaman, kita pun menyelesaikan tumpukan buku soal matematika dan buku tulis kanji dengan kecepatan yang luar biasa. Bagiku, itulah esensi dari liburan musim panas yang sesungguhnya. Namun, bagaimana dengan kalian?
Setiap kali menyambut liburan musim panas, mentalku seolah dipaksa untuk melatih diri dalam situasi penuh tekanan. Namun, di antara itu semua, tugas yang paling tidak aku kuasai, atau lebih tepatnya paling aku benci, adalah menulis resensi buku.
Kenyataannya, periode dalam hidupku di mana aku paling banyak membaca buku justru adalah saat aku masih di sekolah dasar.
Pada masa itu, aku membaca novel-novel seperti The War of the Worlds, The Time Machine, dan King Solomon’s Mines. Selain itu, aku juga membaca buku yang menjelaskan tentang Sutra Hati, buku yang memperkenalkan berbagai Situs Warisan Dunia, hingga ensiklopedia yang menjelaskan rahasia dan mekanisme terbentuknya Bumi. Entah mengapa, di rumahku ada sebuah rak buku besar yang memuat berbagai novel, buku penjelasan, dan ensiklopedia semacam itu. Sebanyak apa pun aku membaca, selalu saja ada banyak buku lain yang ingin aku lahap. Oleh karena itu, aku sangat benci jika harus menyisihkan waktu untuk menuliskan kesan-kesan dari buku yang sudah selesai aku baca.
Ketika aku yang masih SD membaca penjelasan seperti, “Beginilah makna dari Sutra Hati,” aku sama sekali tidak memahaminya. Pikiranku paling-paling hanya mentok pada, “Oh, intinya Buddha mendapat pencerahan, ya. Keren, sih.” Begitu pula dengan novel. Setelah membaca satu cerita, yang tersisa hanyalah kesan samar setelah membaca. Menuangkan kesan tersebut ke dalam bentuk tulisan adalah hal yang sangat sulit bagiku. Daripada harus bersusah payah melakukan itu, aku ingin cepat-cepat membaca dan menyelami cerita berikutnya.
Jika dipikirkan sekarang, aku paham bahwa tujuan dari tugas resensi buku sebenarnya adalah untuk mengekspresikan dengan jelas kesan samar yang ada di dalam diri kita ke dalam bentuk tulisan. Namun, bagi aku yang dulu, hal itu adalah sebuah siksaan besar.
Sebagai informasi, saat pertama kali ditugaskan menulis resensi buku di kelas satu SD, aku mengumpulkan tugas yang isinya murni menyalin ulang kalimat demi kalimat dari cerita yang aku baca. Aku masih ingat sampai sekarang bagaimana wali kelasku saat itu merasa heran dan berkata, “Ini bukan resensi buku, melainkan salinan naskah kuno.” Pada saat itu, aku langsung merasa putus asa dan membatin, “Padahal aku sudah menghabiskan waktu berjam-jam, tetapi kenapa harus mengulanginya dari awal?!”
Mengingat diriku yang dulu malah menyalin isi buku saat diminta menulis resensi, aku benar-benar merasakan pertumbuhan yang mendalam karena kini aku justru bisa menerbitkan buku sendiri.
Bicara soal masa SD yang menjadi puncak masa membacaku, novel yang paling aku sukai di antara semuanya adalah novel berjudul The Mysterious Island.
......Memikirkan perkembangan cerita di mana Haruto dan Ayaka terdampar di pulau tak berpenghuni, lalu bertahan hidup dan membangun peradaban di sana, belakangan ini aku merasa premis tersebut sepertinya boleh juga.
Previous Chapter | ToC |



Post a Comment