NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nise Yuusha, Honmono ni Naru ~ Utsuge Sekai no Gokuaku Yuusha ni Tensei Shita node V1 Chapter 1

 Penerjemah: Wibi

Proffreader: Wibi


Chapter 1

PAHLAWAN PALSU YANG ANGKUH

Ketika terbangun pada pagi hari, aku mendapati diriku berada di tempat yang sama sekali tidak kukenal.

Entah kenapa, tangan dan kakiku juga mengecil. Suaraku menjadi lebih tinggi. Aku berubah menjadi seorang anak kecil.

Saat mengedarkan pandangan, aku menyadari ada sebuah peta tergantung di dinding. Peta itu sangat mirip dengan peta dunia dari game yang sangat kugemari di kehidupan sebelumnya, 【Viridistella Quest】.

【Viridistella Quest】 adalah RPG dunia terbuka berlatar dark fantasy. Omong-omong, ratingnya R18.

Dunia yang serba buntu, para penjahat keji yang lebih buruk daripada binatang, NPC dengan moralitas sampah, serta skenario yang membuat darah mendidih—itulah ciri khas game tersebut.

Jangan-jangan... aku bereinkarnasi ke dunia lain, tepatnya ke dalam dunia 【Viridistella Quest】?

Serius...?

Kenapa harus dark fantasy menjijikkan dengan bad ending yang sudah pasti terjadi—dan bahkan sebuah eroge pula?!

Aku ingin dilahirkan di dunia yang lebih hangat dan menenteramkan...

Tidak. Tunggu dulu.

Mungkinkah ini wahyu dari Tuhan agar aku menyelamatkan karakter favoritku?

Karakter favoritku, Liese, adalah heroine utama dari sang protagonis yang menyandang gelar “Pahlawan”.

Dia heroine yang luar biasa malang dan selalu mengalami kejadian-kejadian mengerikan. Setiap rutenya hampir pasti berujung pada perkembangan cerita yang membuat muak. Tiap kali sesuatu terjadi, dirinya pun selalu dinodai.

Yang paling membuat isi perutku mendidih adalah alur ketika dia di-〇〇〇 oleh Elmika, si “Pahlawan Palsu” yang hanya berperan sebagai pecundang pengangkat pamor karakter lain.

Elmika benar-benar karakter bajingan. Setengah dari seluruh kemalangan dan penyebab kematian Liese berasal dari dirinya.

Baiklah, sudah kuputuskan.

Aku akan membunuh Elmika, lalu membuka rute Liese yang sesungguhnya.

Jangan remehkan aku. Aku sudah menamatkan 【Viridistella Quest】 lebih dari seratus kali. Mulai dari trik tersembunyi sampai latar rahasia, semuanya sudah kuketahui.

Aku pasti dapat memilih pilihan yang tak bisa diambil sang protagonis dan mengalahkan musuh yang tak mampu dikalahkannya.

Tunggu aku, Liese!

Aku akan menyelamatkanmu!!

Katanya hanya dunia atau heroine yang bisa diselamatkan? Akan kuselamatkan keduanya sekaligus!!

Tepat ketika aku membulatkan tekad sekeras itu...

“...Permisi.”

Setelah mengetuk pintu, seorang wanita yang tampaknya pelayan masuk ke kamar. Begitu melihatku, matanya langsung membelalak.

“Tuan Elmika bangun pagi-pagi sekali?!”

Elmika? Aku?! Astaga, ini yang paling buruk!!

Dari sekian banyak kemungkinan, kenapa aku justru bereinkarnasi menjadi penjahat?!

◆ ◆ ◆

“Pahlawan Palsu” Elmika.

Nama lengkapnya adalah Elmika Angelos Simeon.

Dia merupakan putra sulung keluarga bangsawan ternama Simeon, keturunan “Pahlawan Legendaris” yang konon menyelamatkan dunia pada masa lampau.

Sejak lahir, Elmika memiliki kekuatan sihir yang luar biasa besar dan kemampuan fisik yang unggul. Karena itu, orang-orang keliru menganggapnya sebagai “Pahlawan Legendaris” yang hanya lahir sekali setiap lima ratus tahun. Memang, bakatnya sehebat itu.

Dunia berada di ambang kehancuran akibat ancaman Raja Iblis. Semua orang mendambakan kemunculan kembali sang Pahlawan. Ditambah berbagai kepentingan politik, Elmika pun dipuja-puja sebagai Pahlawan.

Akibatnya, ia tumbuh menjadi sosok yang angkuh.

Meski begitu, Elmika tetap lebih kuat daripada siapa pun. Tak seorang pun mampu menghentikannya. Harga dirinya yang semakin menggembung akhirnya menyeret orang-orang di sekitarnya ke dalam malapetaka...

Begitulah Elmika tumbuh menjadi karakter sampah yang sempurna. Pada akhirnya, ia dikalahkan oleh protagonis—sang Pahlawan sejati—dan menerima balasan yang memuaskan para pemain.

Cara matinya berbeda-beda tergantung rute, tetapi semuanya tragis, seakan seluruh perbuatannya akhirnya dibayar lunas.

Rasakan itu!

Begitulah yang ingin kukatakan. Masalahnya, dalam keadaan sekarang, akulah yang akan menjadi sasaran ucapan “rasakan itu”.

Walau begitu, kehancuran si Pahlawan Palsu memang terjadi karena perilakunya kelewat keji. Tentu saja orang-orang akan membencinya kalau ia sesuka hati menyerang desa, memperbudak gadis-gadis desa, dan menodai perempuan kota.

Namun, tampaknya tujuan untuk membunuh Elmika dapat kucapai dengan sangat mudah.

Kalau aku bunuh diri sekarang, misi selesai... Tidak. Itu saja masih belum cukup.

Memang benar, Elmika bertanggung jawab atas separuh kemalangan Liese, tetapi tetap hanya separuh. Masih ada banyak orang lain yang akan menyakitinya.

Kalau begitu, aku harus menyingkirkan semua penyebab lainnya terlebih dahulu, baru setelah itu bunuh diri.

Tetapi... rasanya aneh kalau aku, si Pahlawan Palsu, bertindak seolah-olah merupakan Pahlawan sejati. Seakan aku merampas posisi sang protagonis. Rasanya tidak nyaman.

Namun, di saat yang sama, aku ingin protagonis dan para heroine hidup bahagia.

Aku harus menghapus semua alur fatal yang menjijikkan, sebisa mungkin tidak merampas kesempatan protagonis untuk bersinar, dan sesekali mendorong perkembangan dirinya beserta para heroine.

Posisi yang seenak itu... bukankah sebenarnya ada?!

Senior protagonis, gurunya, pendahulunya, sosok yang ia kagumi!!

Benar. Aku akan menjadi “Pahlawan Pendahulu”.

Karakter terkuat yang muncul dalam kisah masa lalu protagonis atau prolog, lalu menyelamatkannya dengan gagah!

Setelah itu, dia akan menitipkan pedang atau suatu benda penting sambil berkata:

“Pedang ini kutitipkan kepadamu.”

Ia lalu mengawasi protagonis dari balik bayang-bayang, sebelum akhirnya bertemu kembali pada saat yang telah ditentukan dan mengungkap kebenaran.

“Aku bukanlah Pahlawan. Pahlawan sejati adalah dirimu.”

Setelah itu, ia menyerahkan kedudukan Pahlawan yang selama ini dijaganya, Pedang Pahlawan, serta masa depan kepada protagonis.

“Berikutnya adalah zamanmu.”

Lalu pada akhirnya, ia meninggal dengan wajah damai!!

Baiklah. Kita pakai rencana itu!

Kalau sudah diputuskan, aku harus mulai berlatih sekarang juga.

Seperti biasa, pertama-tama latihan otot...

Begitulah yang ingin kukatakan, tetapi aku harus memastikan kemampuanku terlebih dahulu.

Di dalam game, kemampuan dapat diperiksa melalui layar status. Sayangnya, di dunia ini tidak ada layar yang memungkinkan seseorang mengetahui angka kemampuannya hanya dengan sekali pandang.

Karena itu, aku memanggil pria yang bertugas sebagai instruktur ilmu pedang keluarga Simeon.

Sebagai catatan, dalam cerita asli ia dibunuh oleh si Pahlawan Palsu sebelum permainan dimulai, sehingga keluarganya tercerai-berai. Putrinya sendiri merupakan salah satu heroine.

“Tuan Elmika? Apakah gerangan keperluan Anda memanggil saya...?”

“Tentu saja untuk berlatih pedang.”

Alasan memanggil seorang instruktur ilmu pedang memang hanya ada satu, bukan?

Ketika aku menjawab demikian, matanya membelalak lebar.

“Berlatih pedang?! A-apa yang terjadi dengan Anda?! Jangan-jangan kondisi tubuh Anda masih...”

Oh, benar juga. Elmika si Pahlawan Palsu selalu bermalas-malasan dan menghindari latihan.

Kalau tiba-tiba kukatakan bahwa aku sudah bertobat, tentu akan terasa mencurigakan.

“...Ayahanda gugur dalam pertempuran melawan kaum iblis baru-baru ini, bukan?”

Kedua orang tua Elmika memang meninggal ketika dirinya masih kecil. Itulah salah satu alasan tak ada orang yang mampu menahan perilakunya kelak.

“Seandainya aku lebih kuat, mungkin Ayahanda tidak akan gugur. Aku sudah bertekad... Aku tidak ingin kehilangan orang yang berharga untuk kedua kalinya.”

Ketika aku merangkai alasan seadanya, sang instruktur ilmu pedang mendadak menangis tersedu-sedu karena terlalu terharu.

Jujur, aku agak merinding melihatnya.

“Hiks... M-maafkan kelancangan saya. Saya akan mengerahkan jiwa dan raga agar dapat menjadi kekuatan bagi Tuan Elmika.”

Setelah tangisnya reda, instruktur itu menyerahkan sebilah pedang kayu kepadaku.

“Kalau begitu, mari kita mulai dengan ayunan dasar. Pertama-tama, saya akan memperlihatkan contohnya.”

Ia mengayunkan pedang kayu. Bahkan mata orang awam sepertiku dapat melihat bahwa gerakannya indah dan hanya mungkin dilakukan seorang ahli.

“Sekarang, silakan Tuan Elmika mencobanya.”

“...Kira-kira seperti ini?”

Aku meniru gerakannya dan mengayunkan pedang kayu.

Pada saat itu juga, debu tanah beterbangan.

Yang tertinggal hanyalah serpihan pedang kayu dan permukaan tanah yang terbelah.

...Usia Elmika baru lima tahun, tetapi kemampuan fisiknya tampaknya sudah luar biasa tinggi. Dengan kekuatan sebesar ini, aku bisa memahami kenapa ia menjadi besar kepala.

Tetapi...

“L-luar biasa, Tuan Elmika. Sepertinya pengajaran saya memang tidak lagi dibutuhkan...”

“Tidak. Aku membutuhkannya.”

Aku memang kuat. Namun, itu hanyalah serangan kasar yang mengandalkan kemampuan fisik dan kekuatan otot mentah. Gerakan tadi sama sekali belum pantas disebut ilmu pedang.

Seharusnya aku dapat menghasilkan daya hancur yang jauh lebih besar.

“Aku ingin mampu mengendalikan kekuatan ini. Tolong ajari aku.”

“Tuan Elmika... Anda benar-benar telah tumbuh menjadi sosok yang luar biasa... Baik! Saya akan mengajarkan seluruh ilmu yang saya miliki!”

Begitulah latihan keras yang kujalani akhirnya dimulai.

...Walaupun, dalam waktu satu minggu saja aku sudah berhasil menguasai dasar-dasar ilmu pedang.

Tubuh ini benar-benar memiliki performa yang luar biasa...

◆ ◆ ◆

Speedrun penyelamatan seluruh heroine resmi dimulai!

Aku ingin segera pergi menyelamatkan mereka, tetapi memulai pertempuran dalam kondisiku sekarang masih terasa terlalu berisiko.

Di dalam game, aku dapat melanjutkan permainan meski kalah. Namun, tidak ada jaminan aku dapat “kembali setelah mati” di dunia ini.

Aku akan bertindak hati-hati. Pertama-tama, aku harus menjadi cukup kuat sebelum mulai bergerak.

Karena itu, aku memasukkan tumpukan besar besi tua ke dalam alat sihir bernama Item Box, lalu mulai berlari sambil membawanya.

Item Box dibuat menggunakan teknologi kuno yang kini telah hilang. Selama tidak melewati batasnya, benda itu dapat menyimpan materi tanpa memedulikan volumenya.

Satu buah saja bernilai cukup mahal untuk membangun sebuah kastel. Namun, karena leluhur Elmika merupakan Pahlawan, untungnya ada beberapa Item Box tersimpan di dalam gudang harta keluarga.

Ada satu hal penting. Item Box dapat mengabaikan volume benda, tetapi tidak dapat menghilangkan massanya.

Dengan kata lain, aku dapat melatih kekuatan otot dengan berolahraga sambil mengisi Item Box dengan beban dalam jumlah besar.

Kekuatan otot adalah status terpenting yang memengaruhi daya serang, kecepatan bergerak, dan berat perlengkapan yang dapat dikenakan. Sebanyak apa pun nilainya, tidak akan pernah merugikan.

Otot menyelesaikan segalanya.

Pada akhirnya, aku bahkan mampu menjalani kehidupan sehari-hari sambil terus membawa beban.

Kecepatan pertumbuhanku melampaui perkiraan.

Memang pantas untuk tubuh seorang pria yang mampu menjadi bos menengah meskipun sepanjang hidupnya malas berlatih. Bakatnya luar biasa besar sampai terasa mubazir.

Tentu saja, bukan hanya kekuatan otot yang kulatih.

Untuk meningkatkan stamina dan kapasitas paru-paru, aku berulang kali mendaki dan menuruni gunung. Untuk memperkuat daya tahan terhadap pukulan, aku meminta orang lain terus-menerus menghantam tubuhku dengan batang logam.

Aku juga mempelajari ilmu pedang dan pertarungan tangan kosong dari para pengajar.

Namun, metode latihanku tampaknya terlihat tidak normal di mata mereka.

“Tuan Elmika sudah lebih dari cukup kuat. Mengapa Anda harus menyiksa diri sampai sejauh ini?”

Mereka beberapa kali menanyakan hal semacam itu.

...Padahal aku sama sekali tidak memakai trik tersembunyi. Aku hanya menjalankan pola latihan standar yang pasti dilakukan setiap pemain.

Untuk sementara, aku menjawab dengan alasan seperti “demi menyelamatkan dunia”, lalu mengalihkan pembicaraan.

Tanpa terasa, setelah terus berlatih seperti itu, usiaku menginjak sepuluh tahun.

Status yang dapat ditingkatkan melalui latihan biasa sudah mencapai batas. Untuk berkembang lebih jauh, aku harus memperoleh pengalaman dari pertarungan sesungguhnya.

Setelah mengambil keputusan itu, aku meninggalkan rumah dan membantai satu demi satu bawahan Raja Iblis—kaum iblis.

Sambil melakukannya, aku juga berkeliling menyelamatkan tokoh-tokoh yang memegang peranan penting dalam cerita asli: “pandai besi tersohor yang berhenti menempa setelah kehilangan keluarga dan para muridnya”, “gadis yang seharusnya kehilangan kedua orang tuanya, dirampas hartanya oleh kerabat, lalu dijual sebagai budak”, serta “apoteker yang seharusnya dieksekusi karena dituduh sebagai penyihir bersama gadis yang menjadi muridnya”.

Mungkin berkat rangkaian tindakanku itu, ketika berusia dua belas tahun, orang-orang mulai mengakuiku sebagai seorang Pahlawan.

Karena itulah aku memperoleh kesempatan untuk mendapatkan “Pedang Pahlawan Legendaris”.

Pedang tersebut hanya dapat ditarik dari sarungnya ketika dikenakan oleh Pahlawan Legendaris. Dengan kata lain, itu adalah perlengkapan khusus protagonis yang hanya dapat digunakan olehnya.

Orang yang bukan Pahlawan memang masih dapat mengenakannya—atau lebih tepatnya membawanya—tetapi status pemakainya akan turun drastis.

Artinya, pedang itu dapat memberikan beban latihan yang jauh lebih besar.

Efisiensi latihan ototku pun akan meningkat.

Dengan kata lain, “Pedang Pahlawan Legendaris” adalah alat latihan otot paling efisien di dalam game ini!

Dalam cerita asli, alat latihan otot ini baru diperoleh menjelang akhir permainan.

Penyebabnya adalah Elmika berkata, “Pedang Pahlawan apanya! Ini cuma barang antik terkutuk!” lalu menyimpannya secara sembarangan sampai akhirnya dicuri.

Orang itu benar-benar tidak pernah melakukan sesuatu yang berguna.

Namun, aku mengetahui bahwa pedang tersebut merupakan alat latihan otot terbaik. Sampai tiba waktunya menyerahkannya kepada Pahlawan sejati, aku akan menjaganya baik-baik dengan terus mengenakannya siang dan malam.

Sekalian berlatih bergerak secara diam-diam, aku juga pergi mengamati keadaan sang protagonis dan Liese.

Keduanya tinggal di sebuah panti kaum miskin. Meski hidup serba kekurangan, tampaknya mereka menjalani hari-hari yang bahagia.

Berlatih, membunuh kaum iblis, dan mengawasi karakter favoritku...

Tanpa terasa, tiga tahun berlalu dalam kehidupan seperti itu.

Ketika usiaku lima belas tahun...

“Liese... saat kita sudah dewasa nanti, maukah kau menikah denganku?”

“Iya!”

Sang protagonis menyatakan cintanya kepada Liese. Setelah menerimanya, Liese mengecup pipi sang protagonis.

Aku berhasil menyaksikan langsung salah satu adegan legendaris dari cerita asli.

Sungguh berharga...

Tanpa sadar, air mataku sampai menetes.

Mungkin aku memang bereinkarnasi hanya demi menyaksikan adegan ini.

Apa? Bukankah Liese karakter favoritku? Aku tidak keberatan kalau dia direbut protagonis?

Haaah...!

Kalian benar-benar tidak memahami apa pun.

Yang kusukai adalah Liese yang mencintai sang protagonis. Bukan Liese yang jatuh cinta kepada protagonis orisinal buatan orang lain.

Lagi pula, Liese adalah “heroine teman masa kecil”. Kalau dia malah berakhir bersama diriku yang sama sekali bukan teman masa kecilnya, seluruh konsep karakternya akan hancur!!

Liese yang menyukaiku tidak akan pernah kuakui sebagai Liese.

...Tunggu. Kalau peristiwa ini sudah terjadi, bukankah hari ini adalah hari ketika Liese diculik pasukan Raja Iblis?

Gawat sekali!!

Aku hampir saja pulang dengan puas. Aku segera berbalik dan bergegas kembali menuju panti tersebut.

Ketika tiba, salah satu petinggi pasukan Raja Iblis—anggota Tujuh Jenderal Iblis—baru saja membakar panti dan hendak menyerang protagonis beserta Liese.

Aku menyelip di antara mereka tepat pada saat terakhir, lalu bertarung melawan iblis berwajah babi itu.

Namun, karena terlalu terburu-buru, aku lupa melepaskan Pedang Pahlawan dan Item Box.

“Pedang Pahlawan Legendaris” hanya dapat ditarik dari sarungnya oleh Pahlawan Legendaris yang terpilih—Leonard.

Walau begitu, aku masih dapat memukul musuh menggunakan pedang beserta sarungnya.

Lagi pula, karena sudah menguasai ilmu pedang sampai batas tertinggi, aku bahkan mampu membelah musuh tanpa perlu menarik bilahnya.

Sambil menutupi kenyataan itu sekenanya, aku berhasil mengalahkan sang Jenderal Iblis.

Namun, karena secara refleks melindungi protagonis, lengan dominanku terkena kutukan.

Itu adalah status buruk yang sangat keji: rasa sakit luar biasa setiap kali lengan digerakkan, sekaligus memangkas kemampuan fisik menjadi setengahnya.

Yah, kutukan itu sebenarnya dapat dihapus dengan sihir suci. Jadi tidak ada masalah besar...

Namun, aku telanjur memperlihatkan sesuatu yang buruk bagi perkembangan mental seorang anak.

Bahkan sang protagonis tampak sangat terpukul dan mulai menangis.

Sambil menenangkannya seadanya, aku memastikan luka keduanya.

Bagus. Leonard dan Liese tidak mengalami luka serius. Syukurlah.

Apa? Bagaimana cara menjadi kuat?

Tentu saja jawabannya otot.

Otot menyelesaikan segalanya. Karena itu, latihan otot adalah hal wajib.

Baiklah! Kalau begitu, akan kuberikan pedang lamaku kepadamu—“Pedang Terkutuk” yang kugunakan sebelum memperoleh “Pedang Pahlawan Legendaris”.

Apa? Terlalu berat untuk diayunkan? Tubuhmu kehilangan tenaga? Tentu saja, karena pedang itu memang memiliki kutukan semacam itu.

Sekarang aku sudah mempunyai “Pedang Pahlawan Legendaris”, jadi aku tidak lagi memerlukan alat latihan otot tersebut.

Kenakan pedang itu dan mulailah melatih ototmu.

Efisiensinya memang tidak setinggi “Pedang Pahlawan Legendaris”, tetapi seharusnya tetap cukup baik.

Kalau suatu hari kemampuanmu sudah pantas bagi seorang Pahlawan, mari kita bertemu kembali.

Pada saat itu, kembalikan pedang tersebut kepadaku.

Sebagai gantinya, aku akan menyerahkan “Pedang Pahlawan Legendaris” kepadamu.

◆ ◆ ◆

Sekitar lima ratus tahun telah berlalu sejak “Pahlawan Legendaris” meninggalkan dunia.

Dunia berada di ambang kehancuran.

Kerusakan paling parah dialami oleh “Federasi Kota”, wilayah yang letaknya dekat dengan Benua Kegelapan—markas utama Raja Iblis.

Sepertiga kota yang tergabung di dalam federasi telah dimusnahkan. Sepertiga lainnya jatuh ke bawah kekuasaan Raja Iblis.

Seolah penderitaan itu masih belum cukup, wabah penyakit menyebar, gelombang pengungsi bermunculan, dan krisis pangan melanda.

Demi bertahan hidup sampai esok hari, manusia bahkan saling membunuh.

Di tengah jeritan kebencian dan keputusasaan manusia, serta gelak tawa Raja Iblis yang menggema...

Dia—Elmika—lahir ke dunia.

Sejak lahir, Elmika memiliki kekuatan sihir dan kemampuan fisik yang menakjubkan.

Orang-orang memujanya sebagai kelahiran kembali sang Pahlawan.

Bagi manusia yang berdiri di tepi jurang keputusasaan, anak itu merupakan harapan terakhir.

Elmika dibesarkan dengan penuh kasih, tanpa pernah kekurangan apa pun, sekaligus dimanjakan secara berlebihan.

Pada akhirnya, ia menjadi besar kepala dan tumbuh sebagai anak egois.

Ia membenci latihan, hanya ingin bermain, dan tidak pernah menekuni apa pun sampai selesai. Kalau ada sesuatu yang tidak disukainya, ia akan langsung menjerit dan mengamuk. Ia merendahkan serta menyiksa rakyat jelata yang kedudukannya lebih rendah.

Bahkan seandainya ia benar-benar Pahlawan, dengan sifat seperti itu...

Manusia kembali kehilangan harapan.

Elmika mulai berubah saat berusia lima tahun.

Perubahan itu terjadi satu minggu setelah ayahnya gugur dalam pertempuran melawan pasukan Raja Iblis.

Sifatnya yang dahulu angkuh, pemalas, dan gemar menyiksa orang tiba-tiba menghilang. Ia berubah menjadi anak yang rendah hati, rajin, dan penuh belas kasih.

Seolah dirasuki sesuatu, ia mulai mencurahkan seluruh dirinya ke dalam latihan.

Ia membebani tubuhnya dengan latihan keras yang bahkan tidak akan sanggup ditahan orang dewasa. Bukan hanya sekali atau dua kali ia nyaris kehilangan nyawa.

Mengapa ia harus memaksa dirinya sampai sejauh itu?

Mereka ingin ia lebih menghargai dirinya sendiri.

Ketika salah seorang pengajarnya memohon demikian, Elmika menggeleng kuat-kuat.

“Maaf sudah membuat kalian khawatir. Namun, sebagai Pahlawan, aku mempunyai tanggung jawab untuk menyelamatkan dunia. Untuk itu, aku membutuhkan kekuatan. Aku... tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya.”

Penyesalan.

Jelas sekali bahwa yang dimaksudnya adalah kematian sang ayah.

“Aku ingin menjadi kuat dan membawa harapan bagi dunia ini. Aku ingin menjadi lambang keadilan—tiang penyangga dunia.”

Elmika menyampaikan tekadnya dengan suara penuh kekuatan.

Para pengajarnya meneteskan air mata menyaksikan pertumbuhan anak yang dahulu begitu egois.

Mereka pun bertekad mengerahkan seluruh jiwa dan raga untuk membesarkannya menjadi seorang Pahlawan.

Lima tahun kemudian...

Elmika yang telah berusia sepuluh tahun mengalahkan kaum iblis satu demi satu dan membebaskan kota-kota yang diduduki pasukan Raja Iblis.

Setelah diakui masyarakat sebagai Pahlawan sejati, pada usia dua belas tahun Elmika memperoleh izin untuk memegang “Pedang Pahlawan Legendaris”.

Pedang yang bahkan tidak mampu diayunkan orang selain Pahlawan terpilih itu digerakkannya dengan ringan.

Dialah Pahlawan yang sesungguhnya!

Manusia akhirnya mendapatkan kembali harapan mereka.

◆ ◆ ◆

Pria itu adalah seorang maestro pandai besi.

Begitu menggenggam palu, ia mampu menciptakan tombak yang menembus pertahanan apa pun dan perisai yang menahan serangan apa pun.

Saat itu adalah zaman peperangan.

Semua orang membutuhkan senjata dan zirah yang sedikit saja lebih kuat. Karena itu, pekerjaannya tidak pernah sepi.

Para kesatria dan petualang tersohor menundukkan kepala, memohon agar ia membuatkan perlengkapan bagi mereka.

Meskipun harus menunggu bertahun-tahun dan membayar harga yang tidak masuk akal, siapa pun tetap rela bergantung kepadanya.

Lambat laun, ia menjadi congkak.

Setelah mengumpulkan kekayaan yang luar biasa besar, sudah sewajarnya hartanya menarik perhatian para bandit.

Bengkelnya dihancurkan. Keluarga dan para muridnya diculik untuk dijadikan budak. Ia kehilangan segalanya.

Namun, hal yang paling membuatnya putus asa adalah kenyataan bahwa perlengkapan yang dikenakan para bandit itu merupakan hasil tempaan tangannya sendiri.

Seharusnya, sejak hari itu ia tidak akan pernah mampu mengangkat palu lagi.

“Seluruh keluarga dan muridmu selamat. Tidak ada yang mengalami luka berat. Syukurlah aku masih sempat tiba tepat waktu.”

Orang yang menyelamatkan keluarga beserta para murid sang maestro adalah seorang anak berambut pirang.

Meskipun masih sangat muda, sang pandai besi mengetahui identitasnya.

“Pahlawan Elmika?!”

“Merupakan kehormatan bagiku karena seorang maestro sepertimu mengingat namaku.”

Anak itu berbicara dengan cara yang jauh lebih dewasa daripada usianya.

Tak ada kesombongan maupun rasa puas diri dalam sikapnya.

Sang maestro mendadak merasa malu pada betapa kecil dirinya selama ini.

“Izinkan aku membalas budi. Tolong biarkan aku menempa sesuatu untukmu.”

Ia tidak membutuhkan uang.

Sang maestro memohon agar diizinkan membuat senjata atau perlengkapan untuk Elmika, tetapi...

“Tidak perlu membalas apa pun. Kalau ada benda yang ingin kubuat, aku akan mengajukan permintaan secara resmi. Sebaliknya, kumohon teruslah gunakan keahlianmu demi para petualang dan kesatria. Perlengkapan buatanmu akan melindungi kedamaian masyarakat. Bagiku, itulah imbalan yang jauh lebih berharga daripada apa pun.”

Anak itu—tidak, Pahlawan Elmika—menyampaikannya dengan suara tenang.

Mendengar kata-katanya, sang maestro semakin malu terhadap kesombongan yang selama ini ia pertontonkan.

Kalau dipikir-pikir, selama ini ia hanya mengejar uang dan ketenaran.

Adakah sesuatu yang dapat ia lakukan untuk membantu? Tidak—ia benar-benar ingin diizinkan membantu.

Sang maestro pun menyampaikan permohonan tersebut kepada Elmika.

Elmika mengangkat pandangan ke udara, seolah menatap sesuatu yang sangat jauh.

“Begitu, ya...”

Mata birunya memancarkan cahaya redup.

“Sepuluh tahun dari sekarang, seorang anak laki-laki berambut dan bermata merah akan datang mencarimu untuk meminta dibuatkan zirah. Pada saat itu, tolong tempakan zirah terbaikmu untuknya.”

“Sepuluh tahun lagi...? Aku tidak keberatan. Tetapi bagaimana kau dapat mengetahui sesuatu yang masih begitu jauh?”

Mendengar pertanyaan sang maestro, Elmika tersenyum penuh makna.

“Aku dapat melihat masa depan. Aku melihat masa depan ketika anak itu, mengenakan zirah buatanmu, menyelamatkan dunia. Tolong rahasiakan ini dari siapa pun.”

Sang maestro terdiam, tak mampu menanggapi kisah yang terdengar begitu mustahil.

“Aku akan membuka jalan menuju masa depanmu. Kalau kau bertemu dengannya nanti, sampaikan kata-kata itu kepadanya.”

Setelah berkata demikian, Elmika pergi meninggalkannya.

Sang maestro kembali menggenggam palunya.

◆ ◆ ◆

Di sebuah panti kaum miskin yang berada dalam wilayah Federasi Kota...

Aku akhirnya mengungkapkan perasaanku kepada Liese, teman masa kecilku, dan kami berjanji akan menikah.

Masa depan kami seharusnya cerah.

“Tidak... Tolong aku!!”

Jeritan teman masa kecilku—Liese—menggema di seluruh tempat.

Sesosok iblis berwajah babi mencengkeram tubuhnya sambil menampilkan senyum keji.

Pasukan iblis yang tiba-tiba menyerang panti telah menginjak-injak masa depan bahagia kami.

“L-lepaskan dia! Sialan, lepaskan Liese!! Kumohon, lepaskan dia...”

Aku berteriak dan meronta sekuat tenaga demi menyelamatkannya.

Namun, bawahan kaum iblis menahan tubuhku sehingga aku sama sekali tidak dapat melawan.

Iblis berwajah babi itu—Schwein, salah satu anggota Tujuh Jenderal Iblis—tertawa keras.

“Lihat baik-baik. Sekarang juga, aku akan membuat gadis ini—”

Sesaat sebelum Schwein menyelesaikan kalimatnya, darah menyembur ke udara.

“Guaaaah!!”

Sambil mencengkeram lengannya yang telah terpotong, Schwein melangkah mundur.

Ketika menyadarinya, kaum iblis yang tadi menahanku sudah berubah menjadi potongan-potongan daging.

Apa yang baru saja terjadi?

Saat aku masih kebingungan, seseorang menyapaku.

“Kau tidak terluka?”

Seorang anak laki-laki berambut pirang yang tampak berusia sekitar lima belas tahun berdiri di sana.

Liese berada dalam pelukannya.

Ketika aku mengangguk, ia menurunkan Liese ke tanah dengan lembut.

“Di sini berbahaya. Mundurlah. Aku yang akan mengalahkannya.”

“Bajingan... Siapa kau?!”

Schwein yang kehilangan sebelah lengannya menggeram marah sambil menatap tajam pria berambut pirang itu.

Dengan ekspresi santai, pria tersebut menjawab:

“Hanya seorang petualang yang kebetulan lewat... mungkin?”

“Petualang? Gwahahaha!! Kau pikir petualang rendahan sepertimu dapat mengalahkanku?”

Schwein tertawa terbahak-bahak.

Potongan pada lengannya menggembung, lalu anggota tubuh yang seharusnya terputus itu mulai beregenerasi.

“Aku sudah membunuh lima puluh enam orang angkuh yang tidak memahami tempat mereka, persis sepertimu. Kau akan menjadi korban kelima puluh tujuh.”

“He-he...”

“Apa yang lucu?!”

“Tidak. Aku hanya berpikir... ternyata seluruh anggota Tujuh Jenderal Iblis mengatakan hal yang sama.”

Anak berambut pirang itu mengangkat sudut bibirnya dalam senyum tanpa rasa takut.

“Kau adalah yang ketiga.”

“Jangan-jangan... kau Pahlawan Elmika?!”

Pahlawan Elmika.

Bahkan aku yang berasal dari daerah terpencil pernah mendengar namanya.

Pahlawan umat manusia yang telah mengalahkan dua dari Tujuh Jenderal Iblis dan menghancurkan hampir setengah pasukan Raja Iblis.

Jadi, orang ini adalah...

“Begitu rupanya. Kau memang seangkuh yang kudengar.”

Schwein tertawa kegirangan, mengeluarkan suara mendengus seperti babi.

“Akhirnya lawan yang sepadan! Aku, Schwein si Kerakusan—yang terkuat dalam pasukan Raja Iblis—akan membunuhmu!!”

Kekuatan sihir Schwein membengkak. Tubuhnya membesar dengan cepat di depan mata.

Ternyata sampai sekarang ia sama sekali belum bertarung dengan serius.

Kakiku kaku karena ketakutan. Aku tidak mampu bergerak.

Namun, ketenangan tidak pernah meninggalkan wajah Elmika.

“Ayo, cepat tarik pedangmu! Lawan aku!”

“...Pedang?”

“Jangan-jangan kau ketakutan?”

“...Ah.”

Seolah baru teringat setelah mendengar ucapan Schwein, Elmika menyentuh Pedang Pahlawan yang tergantung di pinggangnya.

Ia menggenggam gagangnya dengan ringan dan membuat gerakan seolah hendak menariknya. Setelah itu, ia tersenyum mengejek ke arah Schwein.

“Sepertinya kau bukan lawan yang layak membuat pedang ini keluar dari sarungnya. Pedang ini sendiri yang mengatakannya.”

“Bajingaaaan!!”

Pertempuran antara Elmika dan Schwein pun dimulai.

Tidak. Itu sama sekali tidak pantas disebut pertempuran. Yang terjadi hanyalah pembantaian sepihak.

Elmika menangkis serangan Schwein yang bergerak secepat kilat dengan kecepatan yang bahkan jauh melampauinya.

Dalam sekejap, Schwein terdesak.

“Kalau begini... aku akan menyeret kalian mati bersamaku!!”

Tubuh Schwein kembali menggembung.

Tembakan yang memuat seluruh kekuatan sihirnya mengarah kepada Elmika—tidak.

Serangan itu ditembakkan ke arahku dan Liese.

“Uwaaaah!!”

Tanpa sadar, aku memejamkan mata.

Namun, sekeras apa pun aku menegangkan tubuh, benturan itu tidak pernah datang.

Dengan takut-takut, aku membuka mata.

“Syukurlah aku masih sempat.”

Elmika berdiri tepat di hadapanku.

Ia menatap tajam Schwein.

“Dengan ini, perlawanan terakhirmu juga berakhir.”

“Hih! T-tolong ampuni aku. Aku...”

Kepala Schwein terlempar ke udara.

Salah satu anggota Tujuh Jenderal Iblis, “Schwein si Kerakusan”, akhirnya ditaklukkan.

Tetapi...

“Kalian berdua tidak terluka, bukan? Kenapa menangis seperti itu? Apa ada bagian tubuh kalian yang sakit...?”

“Karena... lenganmu...!”

Serangan terakhir Schwein—tembakan sihir yang menggunakan seluruh kekuatannya.

Elmika menahannya dengan lengan kanan.

Kini lengan kanannya berubah menjadi hitam pekat.

Itu adalah kutukan yang muncul setelah seseorang terluka oleh kaum iblis—kutukan iblis.

Semua ini salahku.

Karena aku tidak segera membawa Liese melarikan diri...

Lengan dominan seorang pahlawan besar menjadi...

“Ah... maaf. Aku sudah memperlihatkan sesuatu yang tidak sedap dipandang.”

“Demi orang seperti kami, lenganmu...”

“Dibandingkan nyawa kalian, satu lengan adalah harga yang murah.”

Elmika tersenyum setelah mengatakannya. Ia mencoba menggerakkan lengan kanan, tetapi alisnya sedikit berkerut menahan sakit.

Kemudian ia mengusap kepala Liese dan kepalaku menggunakan tangan kiri.

Aku yakin lengan kanannya tidak akan pernah dapat digerakkan lagi...

“Kalau begitu, aku akan mengejar sisa-sisa musuh. Kalian harus segera meninggalkan tempat ini...”

“Tunggu!”

“Ada apa?”

Tanpa sadar, aku memanggilnya agar berhenti.

Aku tahu tidak boleh terus merepotkannya.

Namun, ada sesuatu yang benar-benar ingin kutanyakan.

“Bagaimana caranya... agar aku dapat menjadi kuat?”

Aku baru saja menyadari betapa tidak berdayanya diriku.

Kalau tetap seperti ini, aku tidak akan mampu melindungi teman masa kecilku.

Aku ingin menjadi kuat. Aku menginginkan kekuatan yang cukup untuk melindungi orang yang berharga bagiku.

“Hanya ada satu jalan: teruslah berlatih. Tekad yang kuat dan usaha yang dilakukan tanpa berhenti tidak akan pernah mengkhianatimu.”

“Tekad dan usaha...”

“Akan kuberikan ini kepadamu.”

Elmika mengambil pedang lain yang tergantung di pinggangnya—pedang yang berbeda dari Pedang Pahlawan—lalu menyerahkannya kepadaku.

Aku mencoba menerimanya... tetapi tidak mampu.

Pedang itu terlalu berat.

“A-apa ini...?”

“Aku sudah tidak membutuhkannya lagi.”


 “...!”

Selama ini, Elmika bertarung menggunakan dua pedang.

Namun, lengan kanannya kini tidak dapat digerakkan lagi.

“Kalau suatu hari kau sudah mampu menggunakan pedang itu, mari kita bertemu kembali. Aku menantikan hari ketika kita dapat berdiri sejajar dan bertarung bersama, Leonard.”

“B-bagaimana kau mengetahui namaku...?!”

“Ups. Maaf. Rupanya baru pada masa depan yang lebih jauh aku mendengar namamu langsung darimu.”

Setelah mengucapkan kata-kata penuh makna itu, Elmika mengangkat tangan kirinya perlahan dan pergi meninggalkan tempat tersebut.

Keren sekali...

“Suatu hari nanti, aku juga...”

Aku akan menjadi Pahlawan yang mampu melindungi orang lain seperti Elmika!

Aku akan menjadi Pahlawan terbaik!!

Itulah “asal mula” diriku—Leonard.

Konon, beberapa hari kemudian, masyarakat bertanya kepada Elmika yang telah kehilangan lengan kanannya.

Siapa yang telah merenggut lengan sang Pahlawan?

Mengapa ia harus kehilangan lengan tersebut?

“Aku sudah menitipkannya kepada generasi berikutnya.”

Konon, Elmika menjawab demikian sambil memperlihatkan senyum puas.

Tak seorang pun memahami maksud ucapannya.

Namun, karena Elmika tampak begitu bahagia, tidak ada yang sanggup mendesaknya lebih jauh.

Kalau kupikirkan sekarang...

Elmika yang mengetahui masa depan mungkin sudah memahami satu hal.

Waktu yang dimilikinya tidak akan pernah panjang.

◆ ◆ ◆

Malam setelah aku berhasil menyelamatkan Leonard, meninggalkan ucapan yang terdengar penuh makna meskipun sebenarnya tidak berarti apa-apa, lalu pergi dengan gaya sekeren mungkin...

Aku mengalami sesuatu yang disebut mimpi sadar.

Namun, mimpi itu terasa aneh.

Aku berdiri sendirian dalam ruang biru yang memenuhi seluruh pandangan.

Bukan sekadar biru. Di sekelilingku ada kilauan-kilauan aneh. Bagaimana mengatakannya... warna biru itu terasa menjijikkan.

Anehnya, aku merasa pernah melihat warna ini sebelumnya.

Yah, warna bukan hal penting.

Yang menarik perhatianku adalah sebuah ponsel pintar penuh misteri di hadapanku.

Ponsel murah buatan Tiongkok.

Casing-nya dihiasi ilustrasi karakter dua dimensi tertentu dan terlihat sangat kental dengan selera otaku.

Kalau dibandingkan, sosok aslinya memang jauh lebih manis.

Sambil memikirkan itu, aku mengambil ponsel tersebut.

Aku memasukkan tanggal lahirku.

Ponsel itu berhasil menyala tanpa masalah.

Sepertinya memang ponsel yang kugunakan dalam kehidupan sebelumnya.

Yah, tentu saja. Ini mimpiku sendiri.

Anehnya, ponsel itu juga terhubung ke internet. Karena sudah ada kesempatan, aku mencoba menggunakannya.

Aku menyentuh kolom pencarian lalu mengetik 【Elmika】.

Setelah itu, muncul deretan saran pencarian:

【Pemungutan suara popularitas Elmika】

【Elmika penuh celah】

【Identitas asli Elmika】

【Elmika Pahlawan Palsu】

【Kematian Elmika】

【Elmika terkuat】

【Ilustrasi Elmika】

【Ulang tahun Elmika】

【Kemampuan Elmika】

【Penglihatan masa depan Elmika】

Apa-apaan ini?

Ada orang yang mencari ilustrasi Elmika?

Siapa yang membutuhkan hal semacam itu?

Lalu, apa maksudnya pemungutan suara popularitas?

Bahkan kalau game erotis minor seperti itu mengadakan pemungutan suara, jumlah pemilihnya pasti sangat sedikit.

Untuk sementara, aku menekan hasil 【Pemungutan suara popularitas Elmika】.

【Tuan Elmika menempati posisi pertama dalam pemungutan suara popularitas, WWWW】

Judul sebuah forum internet muncul di layar.

...Hah?

Aku benar-benar kebingungan.

Kalaupun ada pemungutan suara popularitas, karakter sampah seperti itu mustahil berada di posisi pertama.

Atau jangan-jangan ini pemungutan suara karakter paling tidak populer?

Kalau begitu, aku dapat memahami kenapa Elmika menjadi nomor satu...

...Ooh, aku mengerti.

Ini pasti yang disebut pemungutan suara untuk bahan lelucon.

Semacam gerakan, “Ayo jadikan karakter tidak populer sebagai pemenang!”

Elmika memang cukup populer sebagai bahan lelucon.

Lagi pula, posisi 【Viridistella Quest】 bukanlah game yang populer secara luas. Game itu lebih dikenal sebagai mahakarya—erotis—yang hanya diketahui kalangan tertentu.

Jumlah orang yang memilih sejak awal pasti tidak banyak. Dengan pengerahan suara terorganisasi, mendapatkan posisi pertama tentu mudah.

Setelah puas dengan kesimpulan itu, aku membuka utas forumnya.

• Tuan Elmika menempati posisi pertama, WWW.

• Sudah sesuai perkiraan.

• Kali ini juga berhasil mempertahankan posisi pertama.

• Perolehan suaranya tiga kali lipat posisi kedua, ngakak.

• Sudah, masukkan saja dia ke Hall of Fame.

• Suara dari para fangirl yang ingin menjadi pasangannya memang kuat.

...Hm?

Bukankah suasana pembicaraan ini terasa aneh?

Mereka memperlakukan Elmika seolah-olah ia benar-benar karakter yang sangat populer.

• Pedang Pahlawan Legendaris dirampas, tetapi bukannya melemah, dia justru menjadi semakin kuat. Kocak.

• Berarti selama ini dia sengaja menahan diri saat bertarung.

• Elmika: “Meski bukan ‘Pahlawan Terpilih’, seseorang masih dapat menjadi ‘pahlawan’ bagi orang lain.”

• Awalnya kupikir, “Orang curang sepertimu bicara apa?” Ternyata itu memang berasal dari pengalaman pribadinya...

• Rupanya Pedang Pahlawan Legendaris sama sekali tidak dibutuhkan.

• Para pembenci yang bilang Elmika cuma bergantung pada Pedang Pahlawan Legendaris masih bernapas?

Pembicaraan ini tidak terdengar seperti membahas karakter lelucon.

Mereka benar-benar sedang membicarakan karakter populer.

Jangan-jangan Elmika yang mereka bicarakan bukanlah Elmika yang kukenal...

• Bohong... Schwein-sama kita hanya berada di posisi kesebelas...

• Nilai sahamnya jatuh bebas dalam episode terbaru.

• Dari awal dia memang terlalu dibesar-besarkan.

• Padahal dulu gelar “Pembantai Lima Puluh Enam Pahlawan” dipuji habis-habisan...

• “Sepertinya kau bukan lawan yang layak membuat pedang ini keluar dari sarungnya.” (Padahal memang tidak bisa ditarik.)

• Siapa juga yang bisa “keluar” gara-gara Schwein.

• Schwein-sama berubah dari Pembantai Lima Puluh Enam Pahlawan menjadi pecundang yang dibunuh Elmika ketika Elmika bahkan tidak bertarung serius. Aku menangis.

Elmika yang mereka bicarakan ini... jangan-jangan aku?!

• Elmika: “Leonard akan menjadi Pahlawan yang melampauiku!”

• Mustahil banget.

• Dari mana datangnya kepercayaan misterius Elmika kepada Leonard?

• Maksudnya, “Kalau belum cukup kuat untuk mengalahkanku, Liese tidak akan kuserahkan kepadamu.”

• Memangnya kau siapanya Liese?

• Liese: “Entahlah...?”

• Bahkan Liese ikut kebingungan. Ngakak.

• Pasti ujung-ujungnya terungkap kalau mereka sebenarnya kakak beradik atau semacamnya.

• Jadi nanti Elmika akan berkata, “Aku adalah kakakmu”?!

Apa yang sebenarnya terjadi?

Jangan-jangan tindakanku di dunia ini memengaruhi game di dunia nyata dan mengubah skenarionya?

Lalu, apa maksud mereka dengan “episode terbaru”?

Game itu bahkan sudah diadaptasi menjadi manga?!

• Kalau Elmika adalah Pahlawan Palsu, mungkin Pahlawan sejatinya sebenarnya Leonard.

• Lucu juga. Setelah sampai sejauh ini, teori bahwa Elmika adalah Raja Iblis justru semakin kuat.

• Memang, kecuali ternyata identitas aslinya Raja Iblis, kekuatannya sama sekali tidak dapat dijelaskan.

• Bagaimana ceritanya dia bisa sekuat Krushna, seorang manusia setengah dewa?

Kesadaranku perlahan-lahan menjauh.

Tunggu sebentar. Masih ada banyak hal yang ingin kucari...

• Karakter yang terlalu kuat seperti ini biasanya keluar dari cerita di tengah jalan.

• Atau malah menjadi bos terakhir.

• Apa pun yang terjadi, pasti akan menimbulkan keributan.

• Aku benar-benar menantikan cerita sampingan dengan Elmika sebagai protagonis.

Cerita sampingan dengan diriku sebagai protagonis?

A-apa-apaan benda terkutuk kelas khusus itu?

Ah, tunggu. Kesadaranku...

Ketika menyadarinya kembali, aku sudah berada di atas ranjang.

“Haaah... mimpi yang menjijikkan.”

Begitu bangun, hal pertama yang kurasakan adalah rasa malu—malu karena ikut merasakan aib dari tindakan diriku sendiri.

Pada akhirnya, semua itu hanyalah mimpi.

Namun, kalau itu mimpi, berarti semuanya merupakan khayalan yang diciptakan oleh otakku sendiri.

Tampaknya, tanpa kusadari, aku sebenarnya ingin menjadi “peringkat pertama dalam daftar karakter populer”.

...Yah, memang benar aku lebih ingin menjadi karakter populer daripada karakter yang dibenci.

Rupanya jauh di dalam hati, aku memiliki keinginan semacam itu.

“Tidak ada gunanya terus memikirkannya.”

Hari ini aku akan bertemu salah satu karakter dari cerita asli—sang “Gadis Suci”.

Aku harus mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close