NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kodoku Datta Kokuminteki Bishoujo no Imouto wo Hitoban Tometara Natsukareta V1 Chapter 6

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 6

Hilangnya untuk Kedua Kalinya

Sekitar dua minggu setelah kencan di taman hiburan. Di saat Yuu terus mengumpulkan pengalaman demi pengalaman, aku melangkah menuju sekolah tempat Yuu belajar. Sebab, meski memahami emosi itu penting, hal itu akan sia-sia jika tidak bisa diterapkan pada peran yang diberikan. 


Untuk mengajarkannya, aku perlu melihat langsung bagaimana cara Yuu berakting. Terlebih lagi, akting baru bisa terwujud jika ada interaksi dengan lawan main.


Sebagai pengajar, tidak mungkin aku yang menjadi lawan mainnya. Jadi, dengan modal nekat aku sempat bertanya, "Apakah orang luar dilarang masuk ke dalam sekolah?" dan dijawab, "Keluarga bebas datang melihat, kok." Karena itulah aku datang berkunjung.


Lagi pula, aku juga penasaran dengan metode pengajaran seperti apa yang diterapkan di sana, jadi ini adalah kesempatan yang bagus.


"Suasana ini... membuat rindu, ya..."


Sebuah studio dengan lantai kayu dan dinding yang dipenuhi cermin di satu sisi. Aku teringat kembali masa lalu ketika aku sendiri sering menghabiskan waktu untuk berlatih keras di tempat seperti ini.


Sambil tenggelam dalam nostalgia, aku memandangi para siswa yang sedang melakukan pemanasan. Tak lama kemudian, Yuu yang sudah berganti pakaian olahraga datang mendekat.


Entah mengapa dia terlihat agak tegang, mungkin karena kehadiranku di sini. Begitu menemukan keberadaanku, Yuu melambaikan tangan dengan senyum yang sedikit tersipu. Bagi Yuu yang tidak memiliki orang tua, mungkin rasanya seperti seorang anak kecil yang pertama kali dihadiri hari kunjungan orang tuanya di sekolah.


Aku membalas lambaian tangannya sembari menyemangatinya dalam hati, 'Semangat, ya.' Waktu mulai pun tiba, dan latihan pun dibuka di bawah bimbingan sang instruktur.


"Hari ini, mari kita lakukan latihan berulang untuk setiap adegan."


Ini adalah proses untuk meningkatkan kualitas adegan, dengan fokus pada bagian awal pertunjukan. Layaknya sebuah lokakarya yang mengutamakan kemandirian, semua orang saling mengeluarkan pendapat dan berdiskusi demi menemukan cara terbaik untuk menyempurnakan penampilan mereka.


Dibandingkan dengan siswa lain yang aktif menyampaikan opini, Yuu lebih banyak diam karena kurangnya pengalaman. Meski begitu, sikapnya yang berusaha keras untuk mengimbangi yang lain terlihat sangat serius.


Lantas, bagaimana dengan kemampuan akting Yuu? ...Bisa dibilang, persis seperti yang kubayangkan. Tentu bukan dalam arti buruk, melainkan murni memberikan kesan sebagai seorang pemula. Dengan kata lain, dia bagaikan warna putih bersih—sebuah bahan yang murni, polos, tanpa kerutan maupun noda.


Caranya mengekspresikan apa yang diajarkan instruktur dengan jujur memberikan kesan yang baik. Sikapnya yang menerima saran dengan tulus juga membuat dia sangat berharga untuk diajar; benar-benar mencerminkan kepribadian Yuu yang bersahaja. Namun yang disayangkan adalah... tingkat kesulitan perannya.


Aku sudah merasakannya sejak pertama kali membaca naskah, tetapi ini bukanlah peran yang cocok untuk seorang pemula. Meski bukan peran utama, dia memiliki banyak giliran tampil dan berinteraksi dengan hampir seluruh karakter. Alih-alih dituntut untuk menonjol, dia justru harus berakting demi menghidupkan karakter pemeran lainnya. Ditambah lagi, karakter ini memiliki ekspresi emosi yang sangat kaya, sehingga membuatnya jauh lebih sulit.


Bagi yang berpengalaman pun ini adalah peran yang sukar, jadi tidak mengherankan jika Yuu belum bisa memainkannya dengan baik. Namun, karena tingkat kesulitan peran lain pun hampir setara, masalah ini tidak bisa diselesaikan begitu saja hanya dengan mengubah pembagian peran.


Tampaknya, baik Yuu maupun siswa di sekitarnya pun menyadari hal tersebut.


"Tachibana-san, meskipun kamu seorang pemula, apa tidak bisa berusaha sedikit lebih baik lagi?"


Seorang siswi yang memegang peran utama melontarkan kata-kata tajam kepada Yuu.


"Memang patut dikasihani karena kamu tiba-tiba harus menjadi pengganti untuk peran yang sulit ini. Tapi begitu kamu berdiri di atas panggung, kamu harus melakoninya dengan serius. Kalau begini terus, pertunjukan kita bisa hancur gara-gara kamu!"


"Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya."


Yah... dengan siswa sebanyak ini, pasti ada satu atau dua orang yang egonya sangat kuat. Cara penyampaiannya memang tidak bisa dipuji, tetapi apa yang dikatakannya tidak salah. Alasan siswa lain tidak mencoba menghentikannya kemungkinan karena mereka pun merasakan hal yang kurang lebih sama.


"Saya akan berusaha keras agar tidak menjadi beban, jadi mohon berikan masukan Anda."


"Kalau begitu, biar kukatakan—"


Meski Yuu menunjukkan sikap yang positif, pendapat-pendapat yang menyudutkan tetap saja berondong datang.


Mengingat ini adalah format lokakarya, saling bertukar argumen secara aktif memang bagus. Namun jika diteruskan, ini bisa berubah menjadi serangan personal. Tepat saat aku berpikir ini sudah keterlaluan dan berniat untuk menengahi—


"Lagipula, kenapa orang yang benar-benar awam sepertimu bisa—"


"Cukup sampai di situ dulu."


Instruktur yang sedari tadi diam akhirnya menengahi dan menenangkan situasi. Meski begitu, Yuu tidak patah semangat dan tetap mencatat dengan penuh keseriusan.



Sore hari setelah workshop selesai. Aku membawa Yuu ke sebuah gerai makanan cepat saji terdekat. Meskipun masih agak terlalu awal untuk makan malam, ini adalah permintaan dari Yuu yang perutnya berbunyi sambil berkata, "Perut saya lapar setelah selesai latihan..." Jadi, kami memutuskan untuk makan sebelum pulang sekaligus mengevaluasi latihan tadi.


Setelah menerima pesanan paket hamburger, kami menuju ke kursi di lantai dua.


"Selamat makan!"


Tampaknya dia benar-benar lapar. Yuu merasa paket hamburger saja tidak cukup, sehingga dia menambah porsi kentang goreng. Melihat kentang goreng yang melimpah hingga hampir tumpah dari tatakan, hamburger di sana malah terlihat seperti hidangan pendamping saja. Begitu duduk, Yuu langsung menggigit hamburgernya dengan lahap, lalu pipinya mengembang memperlihatkan ekspresi yang sangat bahagia.


Sambil memandangi sosok Yuu dengan secangkir kopi di tangan, aku memikirkan cara penyampaian yang tepat. Setelah menimbang berbagai hal, tampaknya lebih baik menyampaikan apa adanya saja. Begitu Yuu selesai menghabiskan hamburgernya, aku langsung beralih ke topik utama.


"Nah, mengenai kesan setelah melihat latihanmu tadi."


"Ya."


Yuu menghentikan tangannya yang hendak mengambil kentang goreng, lalu mendongak.


"Jika boleh jujur tanpa menutup-nutupi, kamu masih sangat amatir."


Yuu tampaknya menyadari hal itu sendiri, terlebih setelah mendapat kritik dari siswa lainnya.


"Namun, itu bukan hal yang buruk. Jika kamu bisa berakting sampai dipuji padahal baru masuk sekolah ini belum genap dua bulan, kamu pasti sudah menjadi genius yang melampaui Haruka Tachibana. Tidak perlu berkecil hati, ini hanyalah langkah untuk memastikan di mana posisimu sekarang."


Meskipun caraku bicara terdengar tegas, dia tidak tampak syok.


"Pertama-tama, aku ingin mendengar interpretasi Yuu sendiri mengenai peran kali ini."


"Interpretasi saya sendiri... letak kelebihannya, ya?"


Yuu menurunkan pandangannya seolah sedang berpikir.


"Apakah rasanya seperti sosok di balik layar yang memiliki banyak giliran tampil?"


Mendengar itu, aku sungguh tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutku. Aku tidak menyangka dia bisa memahami esensi perannya secara tepat sampai sejauh itu.


"Meskipun begitu, ungkapan 'sosok di balik layar padahal sering tampil' rasanya terdengar kontradiktif, ya..."


"Sama sekali tidak. Peran ini memang tidak semegah tokoh utama, tetapi ini adalah peran penting yang menjaga keseimbangan seluruh pertunjukan. Karena karakternya memiliki emosi yang mudah dipahami, peran ini sangat disukai penonton. Lagipula, kualitas sebuah pementasan sering kali ditentukan oleh bagaimana aktor pendukung seperti ini membawakan perannya."


"Jika memang begitu, peran ini rasanya terlalu berat untuk saya..."


Mendengar kata-katanya saja, kalimat itu mungkin terdengar pesimistis. Namun, dari sorot mata Yuu, aku bisa melihat semangat positif yang seolah bertanya, 'Kalau begitu, apa yang harus kulakukan?' Tampaknya itu karena dia memahami kekurangannya sendiri tanpa harus merasa rendah diri secara berlebihan.


Sebagai seorang pengajar, dia adalah tipe pemula yang sangat ideal.


"Memang benar ini peran yang berat, tetapi kamu tidak perlu berpikir bahwa penampilanmu akan menentukan hidup-matinya pertunjukan ini. Hal seperti itu adalah beban pikiran bagi para pemeran utama. Peranmu di sini lebih berfungsi untuk mendongkrak kualitas secara keseluruhan."


Dengan kata lain, peran ini bukan penentu mutlak hasil akhir, melainkan poin nilai tambah. Benar-benar definisi yang tepat untuk seorang aktor pendukung yang hebat—sosok pahlawan di balik layar.


"Jadi tenang saja, pementasan ini tidak akan hancur hanya karena dirimu."


"Terima kasih atas perhatiannya. Namun, saya tetap ingin berusaha semaksimal mungkin."


"Baiklah, karena kamu sudah memahami porsi peranmu dengan benar, mari kita masuk ke bagian saran."


"Baik!"


Yuu mengeluarkan buku catatannya dan bersiap mendengarkan perkataanku.


"Hal terpenting dalam peran ini adalah membuat aktor lain merasa nyaman."


"Merasa nyaman...?"


Mungkin dia mengira aku akan memberikan saran yang jauh lebih teknis. Yuu memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan penuh tanda tanya setelah mendengar kalimat abstrakku.


"Jika dijelaskan dengan lebih sederhana, berusahalah untuk memberikan akting yang diinginkan oleh lawan mainmu. Misalnya, membalas dialog dengan jeda waktu yang mereka butuhkan, atau berinteraksi dengan cara yang dapat menonjolkan kemampuan akting mereka. Alih-alih menonjolkan diri sendiri, kamu harus mengangkat performa lawan mainmu. Dalam artian, kamu perlu memiliki kesadaran untuk membuat rekan sesama aktor merasa nyaman saat berakting."


"Kesadaran untuk membuat mereka nyaman saat berakting..."


Seketika itu juga, ekspresi Yuu berubah seperti baru saja mendapatkan sebuah pencerahan. Ekspresi ini adalah raut wajah yang sudah berulang kali kulihat di lokasi syuting saat aku masih aktif dulu. Sebuah momen ketika seorang aktor atau aktris berhasil mencerna dengan baik saran dari sutradara maupun lawan main mereka. Raut wajah yang ditunjukkan ketika mereka akhirnya berhasil memahami sebuah intuisi yang sebelumnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, atau emosi yang selangkah lagi hampir mereka kuasai.


Meski masih seorang amatir, Yuu tampaknya mulai berhasil menangkap sesuatu.


"Sensei, tolong jelaskan kepada saya dengan lebih detail lagi."


Yuu bahkan sampai lupa memakan kentang goreng kesukaannya dan mencondongkan tubuhnya ke depan. Rasanya baru pertama kali ini aku benar-benar memahami arti dari ungkapan "matanya berbinar penuh tekad".


"Makanya, berhenti panggil aku 'Sensei'."


"Kanata-sensei, tolong bimbing saya!"


"............"


Padahal biasanya penurut, tetapi sifat keras kepalanya yang muncul di saat-saat aneh seperti ini benar-benar mirip seperti seekor anjing. Hari itu, kami terus berbincang mengenai akting sampai kedai ditutup.



Setelah hari itu, hari-hari untuk menemani Yuu berlatih di kala senggang terus berlanjut. Aku mendampinginya ke sekolah untuk mengawasi latihannya, dan saat hari libur, kami pergi ke berbagai tempat untuk mengasah kepekaan rasanya.


Awalnya aku mengira waktunya tidak akan sempat, namun mungkin karena kepribadiannya yang tulus dan gigih, dia menyerap segalanya dengan cepat. Jujur saja, aku terus dibuat takjub oleh sosoknya yang berkembang dengan kecepatan di luar dugaan.


Jika begini terus, penampilannya mungkin sudah bisa terbentuk matang saat hari pementasan tiba.


Di suatu sore ketika ekspektasi semacam itu mulai tumbuh di dalam benakku. Sepulang sekolah, aku menyempatkan diri mampir ke supermarket di depan stasiun. Sebab, hari ini pekerjaanku sedang libur dan sekolah Yuu pun juga sedang libur.


Akhir-akhir ini, karena terus-menerus berlatih baik di luar maupun di rumah, kami tidak punya waktu luang untuk memasak sendiri, sehingga kami selalu bergantung pada makanan cepat saji atau aplikasi pesan-antar makanan. Oleh karena itu, aku ingin menikmati waktu makan malam yang santai setelah sekian lama.


"Berniatnya begitu, tapi malah bingung mau beli apa..."


Ini sudah putaran ketigaku mengitari area dalam toko sambil kebingungan memikirkan masakan apa yang harus dibuat. Kalau dipikir-pikir, meski sudah lumayan lama tinggal bersama, aku belum tahu masakan apa yang disukai Yuu.


Yuu hanya selalu membicarakan tentang akting atau tentang kakaknya, dan jarang bercerita mengenai dirinya sendiri.


"Lain kali aku harus coba bertanya lebih banyak tentang Yuu."


Untuk hari ini, mari kita buat masakan yang paling kukuasai saja. Maka dari itu, menu makan malam hari ini diputuskan: nasi goreng untuk yang kesekian kalinya.


Yuu juga sempat meminta dengan berkata, "Saya ingin memakannya lagi!", dan lagipula sudah agak lama sejak terakhir kali aku membuatnya. Selain itu, aku juga ingin menebus kegagalan total dari gyoza yang waktu itu malah berakhir mirip pangsit.


Bisa gawat kalau dia mengira itu adalah batas kemampuan terbaikku yang sebenarnya.


Sambil memikirkan hal tersebut, aku menyelesaikan belanjaan dan keluar dari supermarket. Di luar, langit tampak tidak menentu, benar-benar khas cuaca di musim hujan. Tepat saat aku sedang bergegas pulang agar tidak kehujanan di jalan—


"...Yuu?"


Di sebuah kafe yang berada di jalur menuju apartemen. Aku melihat sosok Yuu yang sedang duduk di kursi dekat jendela. 


Begitu sosok yang duduk di hadapannya tertangkap oleh mataku, aku langsung kehilangan kendali diri. Aku melangkah masuk ke dalam kafe, bahkan mengabaikan sapaan dari pelayan, lalu berjalan lurus menuju meja mereka.


"Apa maksudnya semua ini..."


"Kanata-san—?!"


Yuu spontan memekik terkejut menyadari kehadiranku yang tiba-tiba.


"Kenapa Anda bisa berada di sini bersama Yuu—Sutradara Rokujou!"


Orang yang duduk di kursi seberang tidak lain dan tidak bukan adalah dia. Dalang utama yang mengajukan tawaran kepada Yuu untuk bermain di film Zoku Kimi.


"Apa maksudmu 'kenapa'? Seperti yang kau lihat, kami hanya sedang menikmati minum teh bersama."


"Mana mungkin aku percaya kalian bersama hanya untuk sekadar minum teh!"


Berbeda terbalik denganku yang menunjukkan kemarahan secara terang-terangan, Sutradara Rokujou tampak sangat tenang. Sikapnya yang sama sekali tidak menunjukkan kepanikan justru membuat emosiku semakin tersulut.


"Sembari mengesampingkan lelucon, akulah orang yang menawarkan Yuu-san untuk tampil di Zoku Kimi. Tidak mungkin aku menelantarkannya begitu saja setelah menyarankannya untuk menjadi aktris. Jadi, wajar saja jika sesekali aku datang untuk melihat keadaannya, bukan?"


"Sudah kukatakan, aku tidak akan membiarkan Yuu menjadi aktris!"


Tanpa sadar, suaraku meninggi lebih keras dari yang kukira. Aku bisa merasakan pandangan orang-orang di dalam kafresh yang seketika menjadi hening kini tertuju padaku. Meski begitu, aku tetap tidak mampu menjaga ketenanganku.


"Meskipun bicaramu begitu, kudengar kau malah mengajarinya berakting?"


"Itu..."


Tanpa perlu bertanya pun, sudah pasti Yuu yang menceritakannya kepada Sutradara Rokujou. Alasan mengapa aku mendadak kelu adalah karena diriku sendiri pun merasakan adanya kontradiksi. 


Bahkan tanpa perlu ditunjukkan oleh Sutradara Rokujou, aku sadar bahwa aku mengajarinya berakting padahal sempat berkata tidak akan mengajarinya, dan aku membantunya menjadi aktris padahal sempat berkata tidak akan membiarkannya menjadi aktris. Bahwa perkataan dan perbuatanku tidak selaras, akulah yang paling memahaminya dibanding siapa pun. Namun, aku sendiri tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi.


"............"


Mungkin situasi seperti inilah yang dimaksud dengan istilah 'kehabisan kata-kata'. Sebanyak apa pun aku mencari, tidak ada satu pun alasan yang kaubisa kutemukan, dan atmosfer di sekitar kami pun berubah menjadi tidak menyenangkan.


"Aku tidak sedang menyalahkanmu. Tolong jangan pasang wajah seperti itu."


Seolah tidak tega melihat keadaanku, Sutradara Rokujou melanjutkan perkataannya dengan nada suara yang lembut.


"Sebaliknya, aku justru merasa senang saat mendengar Kanata mengajari Yuu-san berakting. Meskipun hanya dalam posisi mengajar, kau kembali berhadapan dengan dunia akting. Sebagai salah satu orang yang telah bekerja bersamamu sejak kecil dan menyaksikan perkembanganmu, tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan daripada ini."


"Anda salah... Sama sekali tidak ada niat seperti yang Sutradara Rokujou harapkan."


"Meskipun Kanata tidak memiliki niat seperti itu, bukankah aku bebas untuk berharap?"


Baik Sutradara Rokujou maupun Presiden Direktur Igarashi... apa sebenarnya yang masih mereka harapkan dariku di saat seperti ini?


"Sampai sekarang aku masih menyesal. Di saat Kanata sedang bimbang mengenai masa depannya sebagai aktor, aku terlalu sibuk dengan padatnya jadwal syuting hingga tidak sempat menyadarinya. Seandainya waktu itu aku berada di sisimu—"


"Cukup bicarakan tentang diriku!"


Sekali lagi, suaraku menggema di dalam kafe. Aku sudah benar-benar kehilangan akal sehatku.


"Apa pun yang Anda katakan, aku tetap tidak akan membiarkan Yuu menjadi aktris."


Mungkin karena aku telah menunjukkan penolakan yang begitu jelas.


"Aku mengerti perasaanmu, Kanata..."


Setelah itu, Sutradara Rokujou tidak lagi melanjutkan pembahasan tentang diriku.


"Namun, orang yang menentukan apakah Yuu-san akan menjadi aktris atau tidak, bukanlah dirimu, kan?"


"Itu memang bukan aku yang menentukan, tapi harusnya itu juga bukan sesuatu yang ditentukan oleh Sutradara Rokujou."


"Tepat sekali. Apa pun yang dikatakan oleh orang-orang di sekitar, pada akhirnya yang memutuskan adalah Yuu-san sendiri. Jika demikian, fakta bahwa aku dipanggil ke tempat ini adalah jawaban yang paling mutlak, bukan?"


"Eh...?"


Artinya, Yuu yang telah memanggil Sutradara Rokujou ke sini? Didorong rasa tidak percaya, aku mengalihkan pandanganku ke arahnya. Yuu hanya terdiam sambil menundukkan kepala.


"Aku punya satu janji dengan Yuu-san."


"...Janji?"


Sutradara Rokujou mengeluarkan sebuah buku dari tasnya dan meletakkannya di atas meja. Di sampul buku tersebut tertulis: Melanjutkan Cinta yang Tak Sampai, Bersamamu (Bagian Adik).


"Ini adalah naskah untuk 'Bagian Adik' yang rencananya akan kuminta dia perankan. Tidak ada gunanya memberikan ini jika dia sama sekali tidak memiliki prospek untuk menjadi aktris. Tapi, kami berjanji bahwa aku akan menyerahkannya begitu dia berhasil melangkah maju. Lebih spesifiknya—yaitu saat dia sudah berhasil membuat Kanata mengajarinya berakting."


Sutradara Rokujou... sudah tahu kalau Yuu sedang berusaha agar aku mengajarinya berakting?


Seketika, aku teringat kembali saat pertama kali aku mempersilakan Yuu masuk ke kamarku—Yuu pernah bilang bahwa seseorang memberi tahu dia kalau aku bekerja di Second House, dan dia sengaja menungguku di depan kantor. Bahkan, dia sampai tahu kalau aku menyukai kue sus dan roti goreng. Orang yang bisa mengetahui selera sedetail itu barulah mereka yang sudah lama berhubungan denganku. 


Jangan-jangan, orang yang mengarahkan Yuu agar belajar dariku adalah—.


"Kira-kira sampai di sini saja untuk hari ini, aku pamit undur diri."


Sutradara Rokujou beranjak berdiri sambil membawa nota pesanan.


"Kanata, ke depannya aku titip Yuu-san kepadamu, ya."


Setelah meninggalkan pesan itu, beliau pun melangkah keluar dari kafe.


"............"


Keheningan yang mencekam menyelimuti diriku dan Yuu. Aku tidak tahu harus mengucapkan kata-kata seperti apa.


"—Yuu?"


Tak lama, Yuu memasukkan naskah tersebut ke dalam tasnya lalu beranjak pergi meninggalkan kafe. Aku mengejarnya sambil berulang kali memanggil namanya, tetapi dia sama sekali tidak menoleh.


Tepat saat kami hampir sampai di taman dekat apartemen, gerimis tiba-tiba mulai turun. Di bawah langit yang seolah mencerminkan perasaan kami saat ini, Yuu melangkah masuk ke dalam taman yang sepi tanpa pengunjung.


Saat aku ikut melangkah menyusulnya ke dalam area taman, barulah dia menghentikan langkahnya.


"Apa maksud dari semua itu...?"


Yuu berdiri mematung sambil bergumam dengan nada suara yang sulit diartikan emosinya.


"Mengenai perkataan Anda kepada Sutradara Rokujou bahwa Anda tidak akan membiarkan saya menjadi aktris."


"Bukan begitu. Ada alasan di balik semua ini—"


Baru saja hendak menjelaskan, aku mendadak bungkam.


Tidak, tidak ada yang salah... Memang benar aku telah mengatakannya. Apa pun alasannya, apa yang kukatakan sekarang hanya akan terdengar seperti sebuah dalih.


"Awalnya saya pikir wajar saja jika Kanata-san tidak bisa mengajari saya berakting. Anda sudah pensiun dari dunia hiburan, dan terlebih lagi, salah satu alasan pensiun Anda adalah kakak saya. Saya berpikir mungkin kehadiran saya di sisi Anda hanya akan membuat Anda merasa menderita... Karena pemikiran itu, saya tidak bisa memaksakan kehendak untuk memohon kepada Anda."


Di tengah butiran hujan yang perlahan semakin membesar, Yuu terus berbicara tanpa membalikkan badannya.


"Tapi... saya mengira Anda tidak menentang saya untuk menjadi aktris. Saya pikir Anda hanya sekadar tidak berniat mengajari saya, karena Anda bahkan sempat menawarkan untuk mengenalkan saya pada pihak Second House."


Seperti yang Yuu katakan, pada awalnya aku memang tidak menentangnya menjadi aktris. Sebab pada saat itu, posisiku adalah membebaskannya melakukan apa pun yang dia suka, seperti yang pernah kukatakan: 'Jika kamu tidak bisa menyerah untuk menjadi aktris, maka menyerahlah untuk belajar dariku, lalu incarlah impianmu itu melalui Second House atau agensi lain.'


Itu semua sebelum aku mengetahui bahwa Sutradara Rokujou berniat memanfaatkan Yuu sebagai alat publisitas.


"Namun, meski demikian..."


Nada suaranya yang semula datar kini mulai bergetar pelan.


"Kenapa Anda malah menghalangi jalan saya—?!"


Yuu berbalik dengan cepat sembari berteriak histeris. Raut wajahnya tampak tersiksa menahan kepedihan, dan air mata mengalir deras dari matanya yang telah kehilangan binar cahayanya.


"Saya merasa sangat senang ketika Kanata-san akhirnya mau mengajari saya berakting... Meskipun ada banyak hal yang terjadi, saya sungguh percaya tanpa ragu bahwa Anda telah menerima keputusan saya untuk menjadi aktris. Kalau memang begitu... kenapa Anda mau mengajari saya? Kenapa Anda melakukan hal yang memberi saya harapan palsu seperti ini?!"


Yuu mencengkeram dadaku, suaranya bergetar hebat hingga hampir melengking tinggi.


"Kenapa... kenapa Anda bersikap baik kepada saya..."


Aku tidak bisa membalas sepatah kata pun, karena aku sendiri sangat menyadarinya. Bahwa aku memang telah melakukan hal yang pantas disebut sebagai pemberi harapan palsu.


Padahal, aku tahu dari awal bahwa segalanya akan berakhir seperti ini.


"...Maafkan aku."


Tanpa bisa membela diri, hanya kata maaf klise itulah yang sanggup lolos dari bibirku. Meski tahu ini adalah jawaban terburuk bagi Yuu, tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain meminta maaf.


"Sudahlah, lupakan saja..."


Di bawah guyuran hujan yang semakin lebat, tanganku yang terulur untuk menahannya hanya mampu mencengkeram udara kosong.


Yuu bergumam lirih dengan sisa-sisa tenaganya, lalu melangkah pergi meninggalkan taman.


—Malam itu, Yuu tidak kunjung pulang ke rumah.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close