NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kodoku Datta Kokuminteki Bishoujo no Imouto wo Hitoban Tometara Natsukareta V1 Chapter 7

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 7

Tekad yang Salah Dipahami

Sudah dua hari penuh berlalu sejak Yuu menghilang—


Aku terus mencari keberadaan Yuu dengan bantuan dari Ema-san dan Direktur Igarashi. Ini adalah kedua kalinya Yuu tidak pulang ke rumah. Namun, kali ini dia tidak menumpang di tempat Ema-san seperti sebelumnya. Direktur Igarashi juga sudah mencoba menghubungi panti asuhan tempat asalnya, tetapi tampaknya dia tidak kembali ke sana.


Tentu saja, aku juga sudah menanyakannya kepada Misaki-sensei di sekolah menengah atas khusus putri tempat Yuu bersekolah, tetapi dia dikabarkan absen. Aku bahkan sempat mendatangi tempat kursus aktingnya, namun dua hari ini kegiatan latihan di sana memang sedang diliburkan.


Sebenarnya dia ada di mana?


Di zaman sekarang, anak di bawah umur tidak akan bisa menginap di fasilitas penginapan tanpa izin dari orang tua atau wali, dan mereka juga dilarang menggunakan warnet pada larut malam. Pemeriksaan identitas usia saat ini sudah sangat diperketat, jadi dia tidak akan bisa mengelabui mereka dengan berbohong.


Satu-satunya cara yang tersisa hanyalah menghabiskan waktu di taman hingga pagi hari, tetapi sosoknya tidak terlihat di taman-taman sekitar sini. Jika sudah dicari sejauh ini dan masih belum ditemukan, pikiran-pikiran buruk pun mulai terlintas di kepalaku.


Selama dua hari ini, aku sudah berlari ke sana kemari siang dan malam, tetapi tetap tidak membuahkan hasil.


"Kira-kira Yuu-chan ada di mana, ya..."


Suara Ema-san memecah keheningan di dalam kantor agensi yang diselimuti atmosfer berat. 


Sore itu, kami berkumpul di kantor untuk mendiskusikan langkah selanjutnya.


"Jika seorang siswi SMA menghilang selama dua hari, kemungkinan dia terlibat dalam suatu kasus atau tindak kriminal tidak bisa dianggap nol. Maaf karena bertindak tanpa berdiskusi terlebih dahulu, tetapi per pagi ini aku sudah menghubungi pihak kepolisian."


"Tidak... Terima kasih banyak."


Di saat seperti ini, aku sudah tidak bisa lagi memedulikan gengsi untuk tidak membesarkan masalah.


Justru seharusnya aku sudah melakukan hal itu sejak kemarin.


"Ini semua karena aku... Mohon maaf yang sebesar-besarnya."


"Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri, Kanata-kun."


"Tapi, fakta bahwa Yuu pergi adalah kesalahanku yang tidak bisa dicarikan dalihnya. Aku melakukan hal yang memberinya harapan palsu, sementara di balik layar aku justru mengkhianatinya... Wajar saja jika Yuu marah."


Saat mengabarkan hilangnya Yuu kepada mereka berdua, aku menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi.


Tentu saja termasuk seluruh rangkaian kejadian hingga saat ini, serta kontradiksi dan ketidakselarasan antara perkataan dan perbuatanku sendiri. Aku bercerita dengan kesiapan untuk dicaci maki, namun mereka berdua sama sekali tidak menyalahkanku dan justru bersedia mengulurkan bantuan.


"Apa yang dikatakan Ema itu benar. Baginya, hal itu pasti sangat mengejutkan. Namun, kau melakukannya karena memiliki alasan tersendiri, kan? Ini hanya karena kalian berdua sama-sama terbawa emosi sehingga maksudmu tidak tersampaikan. Jika kalian bisa berbicara lagi dengan kepala dingin, dia pasti akan mengerti."


Aku sangat berharap semuanya bisa seperti itu. Namun, aku bahkan tidak bisa mengajaknya bicara jika tidak menemukan keberadaannya terlebih dahulu. Kemungkinan terburuk bahwa aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi pun ada.


Memikirkan hal itu membuatku tidak bisa diam saja.


"Aku... akan pergi mencarinya lagi sebentar—"


Tepat saat aku hendak beranjak berdiri, kakiku mendadak lemas hingga aku terduduk lemas. Meskipun aku berhasil berdiri kembali dengan dipapah oleh Ema-san, tubuhku sudah meneriakkan rasa lelah yang amat sangat.


"Kanata-kun, jangan memaksakan diri lebih dari ini."


"Selama dua hari ini, kau tidak tidur dengan benar, kan?"


"Itu..."


Ternyata sudah ketahuan, ya... Aku sendiri sadar kalau raut wajahku saat ini pasti terlihat sangat berantakan.


"Jika kau pergi mencari dengan kondisi tubuh seperti itu lalu terjadi sesuatu padamu, semuanya akan menjadi tidak terkendali. Aku paham kau sangat mengkhawatirkannya, tetapi untuk hari ini, serahkan urusan ini kepadaku dan Ema, lalu pulanglah."


"Jika ada perkembangan apa pun kami pasti akan menghubungimu, jadi beristirahatlah di kamar."


"Baiklah... Kalau begitu, saya titip perihal ini kepada Anda berdua."


Aku membungkukkan badan kepada mereka berdua lalu melangkah keluar dari kantor agensi.



30 menit kemudian, aku tiba di kamar dengan menggunakan taksi.


"Tentu saja dia belum pulang, ya..."


Meskipun sudah tahu jawabannya, aku tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak berharap. Begitu pintu dibuka, bagian dalam ruangan tampak remang-remang dan tidak ada tanda-tanda keberadaan orang lain. Ini adalah pemandangan yang biasa kulihat saat masih hidup sendirian. Fakta tidak adanya seseorang yang menunggu kepulanganku pun merupakan hal yang wajar dan seharusnya tidak membuatku merasakan apa-apa... Namun kini, aku mendapati diriku merasa kesepian.


Mungkin itu karena aku terlanjur mengingatnya kembali setelah mulai tinggal bersama Yuu. Kebahagiaan dari sebuah kehidupan di mana ada seseorang yang menunggu kepulanganku, dan di mana aku menunggu kepulangan seseorang. Itu adalah kebahagiaan yang pernah kumiliki di masa lalu. Ketika keluargaku berantakan, aku sempat berpikir tidak ingin lagi merasakan kepedihan seperti ini... Namun sekarang, aku justru hampir menghancurkannya dengan tanganku sendiri.


"Sialan—"


Karena tidak tahu harus meluapkan kemarahan pada diriku sendiri ke mana, aku melemparkan tas ke atas sofa.


Seketika itu juga, di antara barang-barang yang tercecer berantakan, tampak sebuah cakram Blu-ray yang tidak asing di mataku.


"Ini... film Zoku Kimi yang diberikan oleh Sutradara Rokujou..."


Itu adalah film Zoku Kimi (Bagian Kakak) yang proses syutingnya telah selesai dengan menempatkan Tachibana Haruka sebagai pemeran utama. Sebuah drama yang seharusnya tidak pernah ditayangkan, namun telah diedit kembali oleh Sutradara Rokujou.


Meskipun benda itu diberikan kepadaku saat berada di kantor agensi, aku sama sekali tidak berniat untuk menontonnya. Namun, karena khawatir Yuu akan menemukannya jika diletakkan di dalam kamar, aku terus menyimpannya di dalam tas.


"Karya terakhir Tachibana Haruka, ya..."


Bisa dikatakan, benda inilah awal dari segalanya. 


Aku memasukkannya ke dalam pemutar cakram, lalu menekan tombol putar pada remot kendali. Episode pertama langsung dimulai, menampilkan sosok Tachibana Haruka yang dahulu pernah dipuja-puja sebagai aktris genius. Setelah itu, hanya dalam beberapa menit awal, aku langsung hanyut ke dalam drama tersebut. Tidak, lebih tepatnya, aku terseret masuk oleh kemampuan akting Tachibana Haruka.


Tachibana Haruka di dalam layar kaca tetap terlihat menawan seperti biasa, dan kemampuan aktingnya yang luar biasa berhasil memikat siapa saja yang melihatnya. Mungkin karena atmosfer kepedihan yang menyelimuti dirinya—akibat perpisahan kematian dengan sang kekasih yang akan segera terjadi—sangat selaras dengan karismanya di sana. Pada momen-momen tertentu, mataku benar-benar terpaku pada ekspresi penuh kemurungan yang tertangkap oleh kamera.


Kemampuan aktingnya jauh lebih tinggi daripada saat dia beradu peran bersamaku dulu. Sama sekali bukan hal yang berlebihan jika menyebutnya sebagai puncak tertinggi dari bakat yang mampu mengubah kebohongan menjadi sebuah kenyataan murni.


Tanpa terasa waktu pun berlalu, dan episode pertama akhirnya selesai ditayangkan.


"──Hm?"


Dering ponsel mendadak menarikku kembali ke realitas. Melihat nama Ema-san tertera di layar, aku bergegas mengangkat telepon.


"Halo──"


『Kanata-kun, Yuu-chan sudah ditemukan!』


Begitu mendengar kabar itu, aku langsung menyadari bahwa situasi buruk sedang terjadi. Sebab, suara Ema-san terdengar sangat panik.


"Apa yang terjadi?!"


『Dia sedang bersama beberapa pria dewasa yang terlihat sangat mencurigakan, lalu dibawa ke sebuah gedung di gang yang sepi. Saat aku mencari nama perusahaannya di internet, ternyata itu adalah perusahaan agensi hiburan, tapi...』


"Apakah itu perusahaan yang mencurigakan?"


『Iya...』


Sambil mendengarkan penjelasannya, aku segera bersiap-siap dan berlari keluar kamar. Dalam situasi seperti ini, rasa lelah sudah tidak penting lagi.


"Ema-san, aku akan ke sana menggunakan taksi. Tolong beri tahu lokasi dan nama perusahaannya."


『Baiklah. Aku akan segera mengirimkan titik lokasinya ke ponselmu.』


"Satu lagi, tolong hubungi pihak kepolisian juga."


『Tapi... mereka belum tentu akan berbuat macam-macam, kan?』


"Fakta bahwa orang dewasa membawa anak di bawah umur ke tempat seperti itu pada jam sebegini sudah termasuk sebuah tindak kriminal."


『Benar juga, kamu ada benar... Baiklah. Aku akan segera menghubungi polisi!』


Aku memutus sambungan telepon lalu bergegas menuju jalan raya di depan stasiun untuk mencari taksi. Mungkin karena bertepatan dengan jam pulang para pekerja kantoran, taksi yang berlalu-lalang sangat banyak, tetapi semuanya sudah berpenumpang dan aku tidak bisa menemukan satu pun armada yang kosong.


"Sialan!"


Taksi justru sulit didapat justru di saat setiap menit dan detiknya begitu berharga. Setelah akhirnya berhasil menyetop sebuah taksi, aku langsung melompat masuk dan menyebutkan tempat tujuan.


Jika tidak terjebak macet, jaraknya tidak sampai dua puluh menit. Selama perjalanan menuju lokasi, aku mencari nama perusahaan yang dikirimkan oleh Ema-san melalui internet, dan hasilnya menunjukkan bahwa itu adalah agensi yang sangat mencurigakan.


Mereka memang aktif sebagai agensi hiburan, tetapi ada banyak rumor hitam yang beredar. Secara spesifik, banyak ulasan yang menyebutkan bahwa mereka memaksa korbannya melakukan pekerjaan bermuatan dewasa dengan iming-iming akan didebutkan sebagai artis. Ada pula keluhan dari para korban yang terpaksa bungkam karena pasrah.


"Ini benar-benar situasi terburuk..."


Yuu pasti berpikir bahwa dia tidak bisa lagi mengandalkanku, sehingga dia berusaha mencari jalannya sendiri untuk menjadi aktris.


Di zaman sekarang dengan ponsel yang sudah mendarah daging, informasi semacam itu bisa ditemukan di mana saja. Meski tidak semuanya, agensi hiburan bodong seperti itu jumlahnya memang banyak.


Orang dewasa yang waras tentu bisa menilai bahwa tempat itu mencurigakan. Namun bagi remaja yang masih buta akan realitas dunia, wajar saja jika mereka tertipu. Terlebih lagi, ketika seorang siswi SMA yang manis menceritakan impiannya untuk menjadi aktris, sudah pasti orang-orang dewasa berhati busuk akan datang mendekat. Tanggung jawab atas situasi ini sepenuhnya ada padaku yang tidak menghadapi Yuu dengan sungguh-sungguh.


Semua ini terjadi karena aku memberikan harapan palsu di saat aku tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya.


"Kuhonon... semoga sempat," gumamku dalam hati yang berdoa sembari menahan rasa penyesalan yang mendalam.


Lima belas menit kemudian, aku akhirnya tiba di tujuan dan turun dari taksi. Di sana, aku melihat sosok Ema-san yang berdiri di depan gedung.


"Bagaimana dengan polisi?"


"Mereka belum datang. Bagaimana ini...?"


"Aku akan masuk duluan. Tolong urus sisanya saat polisi tiba nanti."


"Kanata-kun, berbahaya kalau kamu pergi sendirian──"


Aku merasa bersalah kepada Ema-san yang mengkhawatirkanku, tetapi aku tidak punya waktu untuk menunggu polisi. Karena tidak ingin membuang waktu untuk menunggu lift, aku berlari menaiki anak tangga dua demi dua.


Begitu tiba di lantai tempat agensi itu berada, aku mendapati meja resepsionis dalam keadaan kosong tanpa penjaga.


"Benar di sini tempatnya, kan...?"


Saat aku mengamati situasi di dalam, terdengar suara obrolan beberapa pria dari ruangan bagian belakang.


Aku menyelinap masuk ke dalam agensi yang sepi itu dengan langkah pelan tanpa suara, lalu mendekatkan telinga ke pintu ruangan tersebut untuk menguping.


"Apa maksudnya semua ini...?"


Aku tidak mungkin salah mengenali suara orang yang selama ini selalu berada di dekatku. Suara yang terdengar dari dalam kamar itu jelas-jelas adalah suara Yuu.


"Bukankah Anda sudah berjanji akan menjadikan saya seorang aktris?"


"Tentu saja, karena itulah kami membawamu ke studio foto milik kami ini."


"Tapi, meskipun judulnya aktris, ada dua huruf tambahan di depannya, yaitu 'AV'."


Gelak tawa para pria tersebut menggema setelah percakapan menjijikkan itu. Dorongan untuk segera mendobrak masuk dan menghajar mereka seketika memuncak, namun aku berusaha menahannya sembari menggenggam ponsel di tangan.


"Di zaman sekarang, banyak pelanggan yang tidak puas dengan aktris yang hanya berpenampilan mirip anak SMA, atau aktris yang hanya berpura-pura menjadi pemula. Karena itulah, siswi SMA yang asli memiliki nilai jual yang sangat tinggi."


"Bocah ini punya wajah yang tampak dewasa untuk usianya, dan bentuk tubuhnya juga bagus. Dia bisa dijual dengan harga mahal."


"Perbuatan Anda ini tidak akan berakhir baik, karena saya masih di bawah umur."


Berlawanan dengan kata-katanya yang mencoba tegar, suara Yuu terdengar bergetar hebat.


"Kalau kamu berniat mengancam kami, lupakan saja karena itu tidak ada gunanya. Justru kamilah yang akan mengancammu. Kalau kamu berani macam-macam, kami tidak akan segan-segan menyebarkan video yang akan kami rekam ini ke internet. Ini dinamakan jejak digital, tahu? Sekali tersebar di internet, videomu tidak akan pernah bisa dihapus sepenuhnya."


"Kamu akan menjadi bahan pemuas nafsu bagi pria di seluruh dunia seumur hidupmu!"


Entah sudah berapa banyak wanita yang terpaksa bungkam dan pasrah karena ancaman seperti ini. Tindakan mereka benar-benar mencerminkan sosok bajingan kelas teri, yang justru membuatku merasa muak sekaligus geram.


"Tapi omong-omong, rasanya aku pernah melihat wajahnya di suatu tempat..."


"Pernah melihatnya atau tidak, itu tidak penting. Yang jelas, dia adalah mangsa kelas atas yang sudah lama tidak kita temukan."


"Benar juga. Cukup omong kosongnya, mari kita mulai rekamannya."


Pada detik itu juga, aku mendobrak pintu dengan tendangan keras dan menerobos masuk ke dalam ruangan.


"Cukup sampai di situ!"


Ketiga pria tersebut seketika bungkam karena terkejut. Sementara itu, mata Yuu langsung terbelalak begitu melihat kehadiranku.


"...Kanata-san?"


Aku melangkah maju untuk berdiri di depan Yuu, menghalangi pandangan ketiga pria tersebut.


"Kenapa Kanata-san bisa ada di sini?"


"Penjelasannya nanti saja."


Pria-pria di hadapanku tampaknya tidak akan memberikan kami waktu untuk mengobrol. Mereka menatapku dengan sorot mata yang memancarkan permusuhan yang sangat jelas.


"Siapa sih, kamu? Apa kamu pacar bocah ini?"


"Aku tidak punya kewajiban untuk menjelaskan apa pun kepada kalian."


Aku mengacungkan ponselku ke arah pria yang tampaknya adalah pemimpin mereka.


"Semua percakapan tadi sudah kurekam. Kamu bilang kalianlah pihak yang mengancam, tapi sekarang situasinya berbalik. Jika tidak ingin rekaman ini kuserahkan kepada polisi, menjauhlah dari anak ini."


Tentu saja mereka bukan tipe orang yang bisa diajak bicara baik-baik, dan mereka tidak akan gentar hanya dengan ancaman seperti itu.


"Heis. Beri dia pelajaran."


Tepat setelah pria itu memberikan perintah—


"Kanata-san──!"


Salah satu dari mereka tanpa ragu melayangkan pukulan keras tepat ke daguku. Lebih dari rasa sakit, hantaman itu membuat otakku berguncang hingga aku kehilangan keseimbangan dan berlutut di lantai.


"Kanata-san, Anda tidak apa-apa?!"


"Yuu, mundur──!"


Setelah itu, aku terus-menerus dipukuli tanpa ampun. Mungkin karena dampak dari pukulan pertama terlalu besar, bisa tetap berdiri tegak saja sudah merupakan perjuangan mati-matian bagiku. Namun, begini saja sudah cukup. Aku tidak perlu menang, dan aku juga tidak berpikir bisa menang melawan orang sebanyak ini.


Sudah lebih dari lima belas menit berlalu sejak Ema-san menghubungi polisi, jadi dalam hitungan menit petugas pasti akan segera tiba. Sampai saat itu tiba, aku hanya perlu menjadi dinding pelindung agar mereka tidak bisa menyentuh Yuu. Seberapa banyak pun aku dipukuli, aku pasti akan melindungi Yuu.


Entah sudah berapa lama aku terus dipukuli. Satu menit, lima menit, atau mungkin sepuluh menit──aku hanya terus bertahan, hingga akhirnya kesadaranku mulai kabur, rasa sakit pun mati rasa, dan aku tidak bisa lagi membedakan apakah diriku sedang berdiri atau sudah tumbang ke lantai.


"Kanata-san──!"


Suara yang memanggil namaku menarik kembali kesadaranku yang hampir tenggelam. Saat membuka mata, aku melihat sosok Yuu yang sedang menatap wajahku dengan raut penuh kecemasan.


"...Yuu?"


"Kanata-san, bertahanlah!"


Melihat posisi diriku yang mendongak menatap wajah Yuu dan sensasi dingin lantai yang terasa di punggungku, serta kelembutan nyaman yang kurasakan di bagian belakang kepalaku, aku tersadar bahwa saat ini aku sedang tidur di pangkuan Yuu.


Air mata Yuu yang menetes satu demi satu membasahi pipiku.


"Yuu... kamu tidak apa-apa?"


"Iya. Ini semua berkat Kanata-san yang sudah melindungi saya."


Rasa lega yang luar biasa membuat seluruh kekuatan di tubuhku seketika sirna.


"Orang-orang itu...?"


"Ema-san datang membawa petugas kepolisian."


"Begitu ya... Baguslah mereka sempat datang."


Sebenarnya aku berharap mereka datang sebelum tubuhku babak belur seperti ini, tetapi aku tidak boleh mengeluh. Aku harus tetap bersyukur karena mereka tiba sebelum Yuu sempat diapa-apakan.


"Katanya ambulans akan segera datang."


"Ya... Sampai saat itu... biarkan aku istirahat sebentar."


Rasa sakit yang mendera tubuhku memang menjadi penyebabnya, tetapi rasa lega yang teramat sangat jauh lebih mendominasi.


Setelah memastikan bahwa Yuu baik-baik saja, perlahan kesadaranku pun mulai tenggelam.



"...Di mana ini?"


Saat terbangun, aku mendapati diriku sedang berbaring di sebuah ruangan yang asing. Sembari menahan rasa sakit di sekujur tubuh, aku bangkit dari tempat tidur dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.


"Ah... benar juga."


Tampaknya setelah kehilangan kesadaran waktu itu, aku langsung dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans.


Tepat saat aku sedang mengingat-ingat kembali kejadian setelah menerobos masuk ke agensi tersebut—


"...Kanata-san?"


Sesaat setelah pintu terbuka, terdengar suara yang memanggil namaku hingga membuatku menoleh. Di sana, berdiri sosok Yuu yang sedang menatapku dengan tatapan penuh rasa khawatir.


"Anda sudah sadar...!"


"Ya, baru saja──Ugh!?"


Terbawa oleh emosinya, Yuu langsung menghambur dan memelukku dengan cukup keras. Hantaman dari pelukannya memicu rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhku hingga membuatku terengah menahan napas.


"Anda tidak apa-apa? Apakah ada bagian yang terasa sakit?"


"Y-Ya... Setidaknya aku baik-baik saja."


Sebenarnya keadaanku sama sekali tidak baik-baik saja, tetapi aku mencoba membaca situasi dan berusaha keras untuk menahannya. Mana mungkin aku tega mengatakan bahwa hantaman barusan justru membuat kondisiku semakin memburuk.


"Syukurlah. Saya sempat sangat panik memikirkan bagaimana jadinya jika Anda tidak kunjung terbangun..."


"Kamu berlebihan. Ini bukan cedera yang parah, jadi tenang saja."


Yuu membenamkan wajahnya di dadaku sembari terisak pelan. Aku menunggu sampai Yuu merasa agak tenang, lalu memintanya untuk menceritakan apa yang terjadi setelah kejadian waktu itu.


Setelah itu, begitu petugas kepolisian tiba, semua pria tersebut kabur dibawa oleh mereka.


Yuu dan Ema-san juga harus pergi ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Namun, setelah memberikan seluruh penjelasan, karena hari sudah larut, mereka diizinkan pulang hari itu dan langsung menuju ke rumah sakit.


Selagi aku tidak sadarkan diri, seluruh rangkaian pemeriksaan telah selesai dilakukan. Kini, Ema-san dan Direktur Igarashi yang baru saja bergegas datang sedang mendengarkan penjelasan dari dokter mengenai kondisiku.


Tepat saat penjelasan tersebut selesai diberikan.


"Sepertinya dia sudah sadar, ya."


Ema-san dan Direktur Igarashi melangkah masuk ke dalam kamar rawat.


"Maaf... saya sudah membuat kalian khawatir."


"Sebagai orang dewasa, sebenarnya aku ingin marah dan menegurmu agar tidak bertindak ceroboh lagi. Tapi, karena semua orang selamat, aku tidak akan mempermasalahkannya. Jadi, bagaimana keadaan tubuhmu? Berdasarkan hasil pemeriksaan, tidak ada masalah besar dan tampaknya akan sembuh total dalam waktu sekitar dua minggu. Kamu juga boleh tetap dirawat di sini selama beberapa hari untuk berjaga-jaga."


Aku mencoba menggerakkan tubuh kembali untuk memastikan kondisiku. Meskipun terasa sakit di sana-sini, aku rasa aku bisa berjalan tanpa masalah.


"Jika dirawat di rumah sakit pun, saya hanya akan berdiam diri saja. Saya bisa beristirahat dengan lebih tenang jika berada di kamar sendiri."


"Tapi, bukankah sebaiknya kamu tetap dirawat setidaknya untuk hari ini saja...?"


"Saya yang akan merawat Kanata-san, jadi tidak apa-anak kok."


Yuu mengutarakan pembelaannya seolah berusaha meyakinkan Ema-san yang merasa khawatir. Ema-san tampaknya bisa memahami perasaan Yuu.


"Jika Yuu-chan yang merawatnya, aku bisa tenang. Tapi, jangan memaksakan diri, ya."


"Baik. Terima kasih banyak."


Sembari mengucapkan terima kasih kepada Ema-san, aku turun dari tempat tidur.


"Kalau begitu, mari kita pulang. Aku akan mengantar kalian sampai ke kamar Kanata-kun dengan mobil."


Dengan begitu, kami pun meninggalkan rumah sakit.



"Terima kasih banyak."


Kami tiba di apartemen saat hari sudah berganti. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Ema-san dan Direktur Igarashi serta melepas kepergian mobil mereka, kami melangkah menuju kamar.


"Anda tidak apa-apa?"


"Ya. Jangan terlalu khawatir."


"Tapi, Anda dipukuli sampai kehilangan kesadaran. Jangan sungkan untuk bersandar pada saya."


"Orang-orang itu tidak bodoh, jadi mereka pasti menahan diri. Seandainya mereka memukulku dengan sungguh-sungguh, saat ini aku pasti sudah berada di dalam ruang ICU. Lagipula, jika terjadi sesuatu yang fatal sampai aku mati, merekalah yang akan berada dalam kesulitan."


Geng preman seperti itu, dalam artian yang buruk, sangat pandai dalam menyalahgunakan kekerasan. Mereka sangat ahli dalam menanamkan rasa takut tanpa harus menyiksa korbannya terlalu parah.


Aku teringat kembali suatu waktu ketika aku membintangi film yang disutradarai oleh Sutradara Rokujou. Saat itu, beliau memberikan arahan kepada aktor yang berperan sebagai preman dengan berkata, 'Hal yang bisa mengendalikan manusia bukanlah rasa sakit, melainkan rasa takut.' Memang benar, setelah mengalaminya sendiri, aku bisa merasakan langsung makna dari kata-kata tersebut.


Alasan mengapa aku sampai kehilangan kesadaran salah satunya karena aku merasa lega setelah memastikan keselamatan Yuu, namun rasa lelah yang melanda setelah terbebas dari rasa takut juga menjadi penyebabnya. Meskipun aku sudah melewati berbagai macam pengalaman sejak masih menjadi aktor cilik, jujur saja aku belum pernah mengalami kejadian semacam ini.


"Meski begitu, fakta bahwa Anda terluka tidak akan berubah."


"Baiklah... Terima kasih banyak, ya."


Untuk saat ini, mari kita terima kebaikan hati Yuu dengan jujur. 


Sembari meminjam bahunya sebagai sandaran, aku masuk ke dalam lift dan menuju ke kamar. Begitu pintu dibuka, berkas cahaya samar tampak merembes dari bagian dalam ruangan yang gelap gulita.


"Ah──"


Seketika itu juga, aku teringat apa yang sedang kulakukan sebelum meninggalkan kamar ini. Mendengar suara yang bergema dari ruang tengah, Yuu tampaknya menyadari sesuatu lalu melangkah masuk ke dalam ruangan. Saat aku menyusulnya selangkah terlambat, Yuu tampak berdiri terpaku di dalam kegelapan sembari menatap tajam ke arah televisi.


Bagi Yuu, itu adalah momen pertemuan pertamanya kembali dengan sang kakak setelah satu tahun berlalu.


"Ini...?"


"Ini adalah bagian pertama dari karya utama pertama Tachibana Haruka yang berjudul 'Melanjutkan Cinta yang Tak Sampai, Bersamamu'. Aku sempat lupa kalau Sutradara Rokujou memberikan cakram hasil editannya kepadaku... Jadi, aku sedang menontonnya sebelum meninggalkan kamar tadi."


Meski berjam-jam telah berlalu sejak saat itu, bagian pertama film ini memiliki total dua belas episode. Berdasarkan waktu yang telah berjalan, ceritanya mungkin sudah mendekati bagian akhir.


"Yuu...?"


Yuu tetap berdiri mematung di depan televisi, mengabaikan panggilanku dan terus menatap layar.


Tidak, bukan begitu... Dia bukan mengabaikanku, melainkan suaraku memang tidak terdengar olehnya.


Aku mengambil remot kendali lalu menghentikan sementara tayangan video yang sedang berjalan. Seketika itu juga Yuu tersadar kembali ke realitas, lalu mengarahkan tatapan matanya yang tampak sedih kepadaku.


"Jangan pasang wajah seperti itu. Aku hanya akan memutarnya kembali dari episode pertama."


Di saat seperti ini, aku tidak berniat untuk menyembunyikannya lagi, dan yang terpenting adalah diriku sendiri pun ingin melihat kelanjutannya. Aku mengambil dua botol teh dari dalam lemari es. Karena malam semakin larut dan udara mulai terasa dingin, aku mengambil selimut dari dalam lemari pakaian, lalu kami duduk berdampingan di depan televisi dengan berselimutkan kain yang sama.


"Apakah dingin?"


"Bolehkah... saya bergeser sedikit lebih dekat lagi?"


Tanpa menunggu jawabanku, Yuu langsung merapatkan tubuhnya di balik selimut. 


Sembari merasakan kehangatan tubuhnya, aku menekan tombol putar pada remot kendali. Setelah itu, kami terus menonton Zoku Kimi tanpa jeda sedikit pun.


Tidak, lebih tepatnya, kami begitu terhanyut hingga lupa untuk sekadar beristirahat. Sebagai karya utama pertama dari aktris genius yang dahulu pernah memikat seluruh Jepang, tidak hanya kemampuan aktingnya saja yang luar biasa, namun alur cerita, struktur, arahan, hingga pergerakan kamera, semuanya memiliki kualitas tinggi yang mampu menyeret siapa saja yang melihatnya.


Di atas segalanya, karisma Tachibana Haruka yang menjadi pusat dan menghidupkan kisah tersebut terasa begitu mendominasi. Akting adalah sebuah kebohongan──bahkan diriku yang sangat memahami esensi tersebut pun sampai ikut tertipu oleh kemampuan aktingnya.


Benar-benar definisi nyata dari ungkapan bahwa kebohongan bisa berubah menjadi sebuah kenyataan murni. Kemampuan aktingnya yang menyuguhkan realitas yang jauh melampaui kenyataan sesungguhnya bahkan memicu ilusi seolah-olah kami sedang mengintip kehidupan nyata dari seseorang yang benar-benar ada.


Melihat pemandangan tersebut, hal yang bergejolak di dalam benakku bukanlah rasa kagum, melainkan rasa cemburu. Dia berdiri di sebuah tingkatan yang tidak akan pernah bisa kucapai selama karierku sebagai aktor. Titik pencapaian tertinggi dari dunia seni peran yang telah kuabaikan dan kutinggalkan.


Hingga akhirnya, rasa cemburu itu pun perlahan berubah menjadi bentuk emosi yang lain.


──Kenapa aktor yang berdiri di sampingnya bukanlah diriku?


Itu adalah sebuah pemikiran yang tidak pernah sekalipun terlintas di benakku sejak aku berhenti menjadi aktor.


Untuk pertama kalinya sejak memutuskan pensiun, aku menyesali keputusanku untuk berhenti.


“"............"”


Saat kami selesai menonton episode terakhir, keadaan di luar jendela sudah benar-benar terang benderang.


Sembari merasakan silau dari pancaran sinar matahari pagi yang merembes di sela-sela gorden, aku tenggelam dalam impresi yang mendalam dari film tersebut.


"Kakak... benar-benar seorang aktris yang luar biasa, ya."


Yuu bergumam lirih, namun seolah meresapi setiap suku katanya. Itu adalah hal yang baru bisa dia sadari justru karena dirinya telah mulai melangkah di jalan sebagai seorang aktris.


"Ya... Dia adalah aktris yang sangat layak untuk disebut sebagai seorang genius."


Tepat saat membalas perkataannya sembari menatap wajah Yuu, aku seketika tercekat oleh pemandangan yang tersaji di depan mataku. Sebab, Yuu sedang menatap ke arah layar televisi dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.


Tidak, bukan begitu──untuk menyebutnya sebagai menangis, raut wajahnya saat itu terasa terlalu indah. Jika semua tindakan meneteskan air mata disebut sebagai menangis, maka dia memang sedang menangis. Namun, tanpa mengeluarkan suara, tanpa merusak raut wajahnya, melainkan dengan ekspresi yang bahkan memperlihatkan sebuah ketetapan tekad, seluruh perasaannya meluap dan menjelma menjadi butiran air mata.


Tanpa sengaja, aku terpesona melihat air mata Yuu yang berkilauan karena pantulan cahaya matahari. Untuk pertama kalinya, aku melihat secercah rona harapan terpancar dari sepasang matanya.


"Yuu... maafkan aku, ya," gumamku pelan sembari terus menatapnya.


Yuu kemudian menyeka air matanya dan balas menatapku.


"Mungkin ini akan terdengar seolah-olah aku sedang mengungkit kebaikan... tapi alasanku mengatakan kepada Sutradara Rokujou bahwa aku tidak akan membiarkanmu menjadi aktris adalah murni karena aku memikirkan kebaikan dirimu sendiri. Adik dari Tachibana Haruka menjadi seorang aktris, lalu membintangi karya terakhir mendiang kakaknya. Aku tidak bisa memaafkan tindakan yang memanfaatkan perasaan tulusmu hanya demi menciptakan sensasi dan bahan perbincangan publik semacam itu."


Aku merasa bahwa akulah orang yang paling memahami betapa murninya perasaan Yuu terhadap kakaknya dibanding siapa pun. Karena itulah, aku tidak ingin membiarkan perasaannya dimanfaatkan demi kepentingan orang-orang dewasa.


"Namun, meski begitu, aku malah mengajarimu berakting dan melakukan hal yang memberimu harapan palsu... Setelah bersentuhan langsung dengan besarnya perasaanmu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengulurkan bantuan. Di matamu, sangat wajar jika kamu merasa telah dikhianati olehku."


Saat aku menundukkan kepala, Yuu menggelengkan kepalanya pelan.


"Sebenarnya saya sudah memahaminya... Perkataan Kanata-san bahwa Anda tidak akan membiarkan saya menjadi aktris adalah bentuk kebaikan karena Anda memikirkan diri saya. Alasan Anda tidak mau mengajari saya pun karena Anda adalah orang yang paling tahu betapa kejamnya dunia hiburan dibanding siapa pun. Meski begitu, fakta bahwa Kanata-san melarang saya menjadi aktris tetap saja membuat saya merasa sedih..."


Yuu melanjutkan perkataannya, "Saya... tidak mampu membendung emosi saya lagi." Yuu bergumam seolah sedang meresapi kembali perasaan yang berkecamuk di dalam dirinya pada saat itu. Tindakan yang seolah-olah sedang mengubah pengalaman yang pernah kuajarkan dahulu menjadi sebuah penghayatan nyata.


"Saya ini... benar-benar gadis yang merepotkan, ya."


Yuu menekuk lutut dan memeluknya dengan raut wajah yang tampak murung.


"Padahal saya sendiri yang egois dan memaksa tinggal di kamar ini, tetapi saya malah kabur begitu saja. Lalu setelah kembali, saya malah pergi dari rumah hanya karena mendengar hal yang tidak menyenangkan... dan ujung-ujungnya saya justru tertipu oleh orang dewasa yang berniat buruk sampai harus ditolong seperti ini."


"Jika tolok ukurnya seperti itu, akulah yang jauh lebih merepotkan. Padahal sudah bilang tidak akan mengajari akting tetapi malah mengajarinya. Padahal sudah bilang silakan lakukan sesukamu jika ingin menjadi aktris, tetapi ujung-ujungnya malah melarangmu. Aku sendiri pun merasa heran dan bodoh dengan betapa merepotkannya diriku ini."


Jika dipikir-pikir kembali, perkataan dan perbuatanku memang sangat tidak konsisten hingga membuat kepalaku terasa pening.


Wajar saja jika aku dipukuli dan tidak punya hak untuk mengeluh.


"Kita berdua mungkin adalah tipe orang yang mirip satu sama lain, ya."


"Benar... mungkin memang begitu."


Tanpa sadar, kami berdua saling melempar senyum kecut. Berkat hal tersebut, entah mengapa atmosfer di antara kami terasa sedikit lebih mencair.


"Benar-benar... maafkan aku karena sudah membuatmu mengalami masa-masa sulit hingga hampir berbuat nekat."


"Berbuat nekat... maksud Anda?"


Yuu tampak kebingungan dan memiringkan kepalanya seolah tidak mengerti.


"Saya sama sekali tidak merasa sedang berbuat nekat, kok."


"Tapi, kamu sampai mencoba mengandalkan agensi hiburan yang mencurigakan seperti itu, kan?"


"Itu bukan karena saya sedang bertindak nekat."


Jika demikian, lantas apa alasan yang sebenarnya?


"Saya sudah memiliki kesiapan untuk mempersembahkan segalanya demi bisa menjadi seorang aktris."


"...Hah?"


Seketika aku meragukan pendengaranku sendiri. Namun, raut wajah yang ditunjukkan oleh Yuu saat ini benar-benar terlihat sangat serius.


"Saya tahu kalau agensi hiburan itu mencurigakan. Meski begitu, jika itu bisa membuat saya menjadi seorang aktris, menyerahkan satu atau dua bagian dari tubuh saya adalah harga yang sangat murah. Saya memang tidak menyangka kalau mereka akan memaksa seorang siswi SMA untuk tampil dalam video dewasa. Tapi kalau hanya sekadar pemotretan gravure yang berani atau semi-nude, saya sudah berniat untuk menerimanya."


Yuu melanjutkan perkataannya dengan nada santai, seolah-olah hal tersebut adalah perkara sepele yang tidak berarti.


"Mungkin ini adalah cerita dari generasi masa lalu, tetapi ada banyak sekali aktris yang mengeluarkan album foto semi-nude di usia muda mereka, dan justru banyak dari mereka yang namanya melejit setelah merilis album foto tersebut. Jika dilihat dari sudut pandang sebuah karya seni murni, memperlihatkan tubuh tanpa busana justru memberikan keuntungan tersendiri dan tidak memiliki kerugian sama sekali."


"Memang benar ada kasus-kasus seperti itu, tapi..."


Itu bukanlah sebuah kesiapan mental yang wajar untuk dimiliki oleh seorang siswi SMA biasa. 


Tepat saat pemikiran itu terlintas, aku teringat kembali masa-masa awal ketika kami baru mulai tinggal bersama. Alasan mengapa Yuu memasang raut wajah dengan ketetapan tekad yang aneh saat pertama kali kuizinkan masuk ke dalam kamar. Alasan mengapa dia bertanya kepadaku yang baru saja pulang kerja dengan pilihan: apakah ingin makan malam, mandi, "Atau... diri saya?" sembari tersipu malu. Dan saat aku menegurnya dengan berkata jangan lakukan jika merasa malu, dia sempat menjawab, "Jika ini demi menjadi aktris, hal sebegini bukan apa-apa."


Jika diingat-ingat kembali, ada banyak sekali petunjuk yang mengarah ke sana, termasuk jarak di antara kami yang terasa sangat dekat secara tidak wajar. Perihal tanggung jawab atas insiden 'aturan tiga detik' waktu itu pun, mungkin dia sebenarnya juga berniat memanfaatkan kesempatan yang ada.


Selama ini aku mengira semua itu hanyalah lelucon belaka, namun...


"Tentu saja saya bersungguh-sungguh. Seandainya Kanata-san meminta tubuh saya sebagai imbalan karena telah mengajari saya berakting, saya sudah berniat untuk menyerahkannya. Malah, saya berpikir prosesnya akan jauh lebih cepat jika seperti itu, bahkan saya sudah menyelesaikan persiapan mental saya."


Mendengar kata-kata itu, aku akhirnya menyadari satu hal.


──Tampaknya, aku telah benar-benar salah menilai besarnya ketetapan tekad yang dimiliki oleh Yuu.


Apa yang ada pada diri Yuu bukanlah sebuah ketetapan tekad ataupun sejenisnya. Apalagi sebuah bentuk pengabdian kepada kakaknya. Dia hanya tidak punya kendali diri yang rasional lagi, bahkan hingga ke tahap yang destruktif, demi bisa menjadi pengganti bagi sang kakak.


Menjadi aktris dan menyelesaikan film Zoku Kimi sebagai pengganti kakaknya──selain keinginan tunggal itu, hal lain sama sekali tidak penting baginya. Demi tujuan tersebut, tubuhnya sendiri pun hanyalah sebuah alat belaka, dan dia bahkan berpikir bahwa dirinya memang harus memperlakukannya demikian. Kegelapan yang merembes dari lubuk matanya, yang telah beberapa kali kulihat sejak pertama kali kami bertemu di depan kamar.


Begitu memahami makna di balik hal tersebut, sebuah pemikiran langsung terlintas di benakku. Cepat atau lambat, Yuu pasti akan mencoba mengambil risiko berbahaya seperti kali ini lagi. Meskipun tahu bahwa itu adalah jalan yang berbahaya, dia akan tetap melangkah tanpa mencoba memastikannya terlebih dahulu. Malah, jika itu bisa membuatnya menjadi aktris, dia tidak akan peduli meskipun harus tenggelam, dan tidak keberatan jika harus ikut jatuh bersama jembatan yang runtuh.


Tiba-tiba aku berpikir──jika Yuu memang berniat mengincar posisi sebagai aktris, dia membutuhkan seorang mitra yang dapat membimbingnya ke jalan yang benar. Seseorang yang memahami seluk-beluk dunia hiburan, dan dapat melindunginya agar tidak tertipu oleh orang-orang dewasa yang berhati busuk. Seseorang yang memiliki nilai moral yang waras, dan yang terpenting, sosok seperti manajer yang bisa dipercayai oleh Yuu dari lubuk hatinya.


Jika tidak, dia hanya akan berakhir dengan dimanfaatkan secara habis-habisan oleh orang lain.


"Namun, setelah tertipu oleh agensi itu, saya akhirnya menyadarinya."


Genggaman tangannya yang bertautan di balik selimut terasa sedikit lebih erat.


"Bagi saya... sepertinya memang harus Kanata-san, tidak bisa orang lain."


Itu adalah kalimat pertama yang menyatakan bahwa diriku dibutuhkan, sejak aku memutuskan pensiun dari dunia hiburan.


"Saya tahu saya egois karena mengatakan hal yang menguntungkan diri sendiri, padahal sebelumnya saya sempat mencoba mengandalkan orang lain. Namun, jika Anda bersedia memaafkan saya, jika ini demi menyelesaikan Zoku Kimi sebagai pengganti kakak, dan jika untuk itu saya harus mempersembahkan segalanya... saya ingin orang tersebut adalah Kanata-san."


Untuk ukuran seorang siswi SMA, aku merasa ini adalah pernyataan yang terlalu agresif. 


Tentu saja aku tidak bisa langsung mengiyakan dan menerimanya begitu saja dengan polos. Namun, setelah mendengar kesungguhan dari niat Yuu yang sebenarnya, rasanya ketetapan tekadku sendiri pun akhirnya mulai terbentuk matang.


"Aku juga seorang pria normal. Aku punya ketertarikan pada tubuh wanita sama seperti orang lain pada umumnya."


Sembari berkata demikian, aku mendekatkan wajahku ke arah Yuu. Seketika itu juga, wajah Yuu langsung merona merah karena merasa malu.


"K-Kanata-san...?"


"Kamu bilang sudah punya kesiapan untuk mempersembahkan segalanya, kan?"


"Memang benar... tapi setidaknya berikan saya waktu untuk mempersiapkan mental."


"Bukankah tadi kamu bilang sudah menyelesaikan persiapan mentalmu?"


"I-Itu memang benar, tapi..."


Entah ke mana perginya ketetapan tekad yang baru saja dia ucapkan tadi. Yuu menunjukkan reaksi yang polos dan lugu, sangat sesuai dengan gadis seusianya.


"Lagipula, aku tidak punya hobi untuk bernafsu pada anak-anak, sih."


"A-Anak-anak... Begini-begini, bentuk tubuh saya tidak jauh berbeda dari kakak, tahu!"


Begitu menyadari bahwa dirinya sedang digoda, Yuu langsung menggembungkan pipinya sembari menatapku dengan tajam. Tanpa perlu kamu membusungkan dada sambil marah-marah seperti itu pun, aku sudah tahu, kok.


"...Apakah kamu benar-benar yakin denganku?"


Yuu menatapku dengan pandangan yang lurus.


"Iya. Saya tidak bisa memikirkan orang lain lagi."


"Meskipun aku mengajarimu, tidak ada jaminan bahwa kamu pasti bisa menjadi seorang aktris, lho."


"Meski begitu, saya percaya bahwa orang yang bisa menjadikan saya seorang aktris adalah Kanata-san."


"Kamu mungkin akan mengalami masa-masa yang menyakitkan. Di zaman sekarang, figur publik sering kali dijadikan target fitnah dan cacian secara berlebihan. Rasa sakit akibat diserang oleh masyarakat luas sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan perundungan dari teman sekelas."


"Apakah ada rasa sakit yang lebih besar daripada kegagalan untuk mewujudkan impian sebagai pengganti kakak?"


"Kamu harus mempersembahkan seluruh kehidupan normal yang dijalani oleh orang-orang pada umumnya. Padahal, kemungkinan untuk gagal tetap jauh lebih tinggi, dan sisa kehidupan dari seorang mantan aktor yang gagal itu sangatlah tragis. Meskipun begitu, apakah kamu tetap ingin menjadi aktris?"


"Itu adalah keinginan terbesar saya. Jika ada peluang meski hanya satu persen saja, saya akan dengan senang hati mempersembahkan segalanya."


Apa pun yang kukatakan, sorot mata Yuu sama sekali tidak goyah sedikit pun.


"Saya mohon. Tolong jadikan saya seorang aktris."


Mendengar permohonan yang diucapkannya untuk kesekian kali ini, ada satu hal yang kupikirkan. Ternyata, orang yang kekurangan ketetapan tekad selama ini adalah diriku sendiri.


Jika boleh jujur... aku merasa takut untuk kembali ke dunia hiburan. Alasanku tidak mau mengajari Yuu berakting adalah karena aku benci bermimpi maupun membuat orang lain bermimpi. Alasanku melarang Yuu menjadi aktris adalah karena aku tidak ingin dia tunduk pada rencana tersembunyi dari Sutradara Rokujou.


Perasaan itu memang tidak bohong, namun jika aku membantu Yuu, artinya aku akan terlibat sangat dalam dengan dunia hiburan. Ini adalah hal yang sama sekali berbeda dengan pekerjaan di balik layar yang kulakukan di Second House; suka atau tidak, aku harus melangkah kembali ke tempat yang disorot oleh cahaya lampu panggung.


Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku merasa sangat takut untuk kembali ke tempat di mana aku pernah merasakan keputusasaan yang teramat sangat. Meskipun bicaranya adalah demi kebaikan Yuu, separuh dari alasanku sebenarnya adalah demi keselamatan diriku sendiri.


"Baiklah..."


Kalau begitu, aku pun harus memantapkan tekadku. Jika bersamamu, aku tidak keberatan untuk kembali ke tempat itu.


"Namun, ada tiga syarat."


"Tiga syarat...?"


Aku mengacungkan tiga jari di depan wajah Yuu.


"Pertama, agensi tempatmu bernaung haruslah Second House. Tentu saja ini baru bisa berjalan jika Direktur Igarashi memberikan persetujuannya, tapi aku yang akan maju untuk bernegosiasi agar kamu bisa diterima di sana. Aku tidak akan mengizinkan agensi lain."


"Baik. Saya sangat memohon bantuan Anda untuk hal itu."


"Kedua, manajermu adalah aku sendiri. Tidak hanya mengajari akting, urusan manajemenmu pun akan kupegang langsung. Kamu harus mengikuti seluruh kebijakan yang kutetapkan, dan jika kamu keberatan, aku tidak akan membantumu untuk menjadi aktris."


"Malah, hal seperti itulah yang justru ingin saya minta dari Anda."


Aku sudah menduga bahwa dia akan menerima kedua syarat ini tanpa keberatan. Oleh karena itu, jika ada hal yang bisa memicu masalah, itu adalah syarat yang terakhir──.


"Ketiga... tolong beri tahu aku sekali lagi, apa alasan sebenarnya mengapa kamu begitu bersikeras ingin belajar berakting dariku."


Ini adalah pertanyaan yang sudah beberapa kali kuajukan, namun selalu saja dia hindari setiap kali topik ini muncul.


"Kamu pernah bilang bahwa ada makna penting di balik alasan mengapa harus aku yang mengajarimu. Fakta bahwa kamu begitu terpaku pada hal ini, artinya hal tersebut memiliki arti yang sangat krusial bagimu, kan? Karena itulah, aku benar-benar ingin mengetahuinya."


Yuu menurunkan pandangannya, lalu mengangguk seolah sedang memastikan sesuatu kepada seseorang sebelum akhirnya membuka suara.


"Alasannya adalah──karena kakak merupakan penggemar berat dari Souma Kanata."


"...Hah?"


Sebuah kalimat yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam imajinasiku sedikit pun kini menusuk tajam ke telingaku. Karena terlalu terkejut, tanpa sadar sebuah seruan bodoh lolos begitu saja dari mulutku.


"Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, kami menghabiskan masa kecil kami bersama di panti asuhan. Demi bisa membangun hubungan yang baik dengan orang banyak, kakak selalu memainkan peran sebagai 'gadis yang disukai oleh siapa saja' secara bergantian."


Siasat bertahan hidup itulah yang menjadi akar dari bakat Tachibana Haruka sebagai seorang aktris. Hasilnya, dia dicintai oleh orang-orang di sekitarnya dalam taraf yang tidak wajar.


"Namun, mungkin karena terus menjalani hari-hari seperti itu... tanpa disadari kakak mulai kehilangan 'dirinya yang sejati'. Wajar saja, karena selama bertahun-tahun dia dituntut untuk terus menjadi anak yang ideal bagi semua orang. Sampai-sampai, di hadapan saya pun dia tidak pernah lagi menunjukkan wujud aslinya."


"Hampir kehilangan dirinya yang sejati...?"


Itu adalah sebuah kalimat yang sangat mengerikan. Sebuah efek samping dari tindakan yang terus-menerus memainkan peran sebagai anak ideal demi orang lain.


Dengan kata lain, itu adalah harga mati yang harus dia bayar sebagai ganti atas bakatnya yang tiada tara. Sebagai akibat dari terus membohongi orang-orang yang terlibat bersamanya, dan untuk itu dia juga terus membohongi dirinya sendiri, tanpa disadari kebohongan yang dia tujukan pada dirinya sendiri pun ikut berubah menjadi kenyataan murni. Dia telah melewati batas suci yang tidak boleh dilanggar dan tidak bisa kembali lagi.


Bagi manusia biasa hal itu mustahil dilakukan, namun itulah akhir tragis nan memilukan yang menjeratnya justru karena dia seorang genius.


"Di saat itulah, kakak melihat Kanata-san di televisi."


Nada bicara Yuu yang semula dipenuhi kesedihan kini mulai diselimuti secercah harapan.


"Kakak menjadi penggemar berat Kanata-san yang saat itu aktif sebagai aktor cilik genius. Dia mulai memeriksa seluruh drama yang Kanata-san bintangi, mulai dari karya masa lalu hingga yang paling baru tanpa ada yang terlewat. Jika menggunakan istilah zaman sekarang, mungkin itu dinamakan 'melakukan oshi-katsu'. Hanya di saat sedang mengidolakan Kanata-san itulah kakak bisa menjadi dirinya yang sejati."


Seketika, aku teringat kembali saat pertama kali bertemu dengan Tachibana Haruka di lokasi syuting.


Apakah alasan mengapa dia terlihat tersipu malu secara tidak wajar pada saat itu adalah karena hal ini?


"Siapa pun pasti bisa menjadi diri sendiri saat sedang melakukan hal yang benar-benar mereka sukai dari lubuk hati. Menurut saya, seandainya tidak bertemu dengan Kanata-san, kakak pasti sudah kehilangan jati dirinya sendiri. Bagi kakak, Kanata-san adalah sosok idola sekaligus sosok penolong. Jadi, meskipun Anda adalah orang yang jauh dari jangkauannya, rasanya wajar saja jika kakak jatuh cinta kepada Anda."


...Cinta?


"Kanata-san adalah cinta pertama kakak."


"Tunggu dulu, kalau yang itu mana mungkin benar!"


Karena benar-benar tidak bisa memercayainya, aku langsung memotong perkataannya.


"Meskipun mengetahui keberadaanku bisa menyelamatkannya dari kehilangan jati diri, tidak mungkin seseorang bisa jatuh cinta kepada orang yang bahkan belum pernah ditemuinya langsung. Kalau kamu bilang dia menaruh kekaguman yang besar kepada sosok idolanya, itu masih masuk akal. Tapi, kalau sampai disebut cinta pertama..."


Mendengar sanggahanku, Yuu tersenyum kecil seolah telah menyadari sesuatu.


"Kanata-san ternyata belum pernah merasakan jatuh cinta, ya."


"Memang benar begitu... tapi bagaimana kamu bisa tahu?"


"Di dunia ini, ada jenis perasaan cinta yang justru semakin membara karena tidak bisa saling bertemu."


Kata-kata yang diucapkan oleh Yuu tersebut memiliki daya pikat yang aneh dan sangat meyakinkan. Apakah itu adalah sebuah bukti bahwa Yuu sendiri pun pernah merasakan jatuh cinta?


"Kakak pernah bilang bahwa dia mengincar posisi sebagai aktris agar bisa bertemu dengan orang yang disukainya."


"Serius...?"


Sejujurnya aku masih tidak bisa memercayai fakta bahwa aktris genius itu menyukaiku. 


Yuu kemudian mengeluarkan ponsel dari balik selimut.


"Ini adalah buktinya."


Layar ponsel itu menampilkan sosok Tachibana Haruka dengan wajah yang merah padam──.



“Onee-chan, apakah sudah bisa dimulai?”


“Tunggu sebentar. Persiapan mentalku belum──eh, kenapa kamu malah merekamnya!?”


“Menurutku, akan lebih bagus sebagai referensi jika direkam dan lihat sendiri nanti. Lagipula, Onee-chan sendiri yang memintaku menemani latihan menyapa Kanata-san, jadi jangan mengeluh dan biarkan aku merekamnya.”


“Uu... tapi ini malah membuatku semakin tegang, tahu.”


“Aku rasa ini bukan hal yang perlu membuatmu setegang itu, sih.”


“Aku akan bertemu untuk pertama kalinya dengan orang yang selama ini selalu kukagumi, lho! Bagaimanapun juga, kesan pertama itu sangat penting. Aku tidak mau kalau sampai gagal lalu dia menganggapku sebagai gadis yang aneh... Ah, sudahlah, saking tegangnya perutku sampai mulai terasa sakit!”


“...Sebenarnya ada hal yang sudah lama ingin aku tanyakan.”


“Ya. Apa?”


“Apakah Onee-chan menyukai Kanata-san dalam artian romantis?”


“Eh... Ah, tidak... Iya. Aku menyukainya...”


“Sudah kuduga. Pantas saja wajah Anda terlihat seperti seorang gadis yang hendak menyatakan cinta.”


“Mana mungkin menyatakan cinta... Besok kami bertemu untuk urusan pekerjaan, jadi aku tidak akan menyatakan cinta! Lagipula, anggap saja obrolan barusan tidak pernah ada. Menghalangi video ini disimpan sungguh membuatku malu, jadi hapus videonya!”


“Karena ini momen yang berharga, mari kita perlihatkan kepada Kanata-san suatu hari nanti.”


“Yuu jahat!”



──Setelah itu, video pun berakhir dengan menampilkan latihan menyapa yang terus berlanjut seperti sebuah lelucon.


Setelah mendengar langsung kalimat yang bersifat mutlak tersebut, mau tidak mau aku harus memercayai perkataan Yuu.


"Inilah alasan mengapa saya ingin belajar dari Kanata-san. Sosok yang telah menyelamatkan kakak saya di saat dia hampir kehilangan jati dirinya sendiri. Karena Anda adalah idola sekaligus sosok yang dikagumi oleh kakak, dan merupakan orang pertama sekaligus terakhir yang kakak cintai..."


Memang benar, hal itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan mengapa dia ingin belajar dariku. Namun, jika memang itu alasannya, seharusnya dia tidak perlu menyembunyikannya sejak awal.


Justru hal tersebut bisa menjadi argumen yang kuat untuk meyakitkanku, bukannya malah menjadi alasan untuk disembunyikan. Meskipun perkataan Yuu tidak bohong, aku mendapat kesan bahwa dia tidak menceritakan seluruh kebenaran yang sesungguhnya. Seolah-olah, dia hanya mengungkapkan salah satu poin saja dari sekian banyak alasan yang dia miliki.


Kunci untuk bisa berbohong dengan mahir konon adalah dengan menyelipkan sedikit fakta di dalam kebohongan tersebut. Yuu mungkin memiliki kemampuan berbohong yang sama hebatnya dengan kakaknya.


"Tachibana Haruka menyukaiku, ya..."


Perasaan yang kurasakan saat pertama kali bertemu dengannya adalah rasa cemburu dan keputusasaan. Namun, emosi itu sebenarnya adalah bentuk lain dari rasa hormat dan kekagumanku atas pesonanya sebagai seorang aktris.


Seandainya pertemuan kami terjadi dengan cara yang berbeda, mungkin akan ada masa depan di mana aku bisa beradu peran kembali dengannya. Dan seiring intensitas pertemuan kami di lokasi syuting, mungkin akan ada masa depan di mana aku juga akan terpikat olehnya, lalu tanpa disadari kami saling jatuh cinta... 


Apakah tindakan membayangkan sebuah kisah cinta yang mustahil terwujud ini terjadi karena aku adalah seorang mantan aktor?


Meski begitu, senyuman Tachibana Haruka yang hadir di dalam dunia imajinasiku terlihat sangat indah.


"Apakah sekarang Anda sudah memercayainya?"


"Jujur saja, aku sangat terkejut."


"Kalau begitu..."


"Aku berjanji. Aku pasti akan menjadikanmu seorang aktris."


Kalimat itu terdengar lebih seperti sebuah sumpah pada diriku sendiri ketimbang sebuah janji biasa.


"Bahkan seandainya kamu gagal menjadi aktris pun, aku yang akan bertanggung jawab atas kehidupanmu ke depan, jadi tenang saja."


"Eh..."


Maksud dari perkataanku sebenarnya adalah aku akan tetap merawatnya atau mengenalkan pekerjaan lain agar dia tidak kesulitan mencari nafkah seandainya dia gagal menjadi aktris, tapi...


Entah mengapa... Yuu kini memasang raut wajah yang persis seperti Tachibana Haruka di dalam video tadi.


"Apakah itu... sebuah lamaran?"


"Tentu saja bukan, kenapa logikanya bisa melompat ke sana──?!"


Aku bergegas membantahnya dengan cepat, namun apa yang dikatakan Yuu memang ada benarnya.


Jika dipikir-pikir kembali, kalimat bertanggung jawab atas kehidupan seseorang memang terdengar seperti sebuah lamaran pernikahan. Melihat diriku yang panik dan sibuk mencari alasan pembelaan tampaknya menjadi hiburan tersendiri bagi Yuu, hingga dia tertawa kecil.


"Saya hanya bercanda, kok. Saya tahu maksud Anda yang sebenarnya."


"Benar-benar... tolong jangan mempermainkan pria yang lebih tua darimu ini."


"Tapi saya merasa senang. Terima kasih banyak."


Sembari berkata demikian, Yuu menyandarkan kepalanya di bahuku. Mungkin karena merasa sangat lega, atau mungkin karena efek dari terjaga semalaman demi menonton drama.


Dalam hitungan menit, suara napas Yuu yang teratur dan nyenyak mulai terdengar.


Sembari menatap wajah tidurnya, sekali lagi aku bersumpah di dalam hati untuk menjadikan Yuu seorang aktris.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close