Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 4
Karya Terakhir Sang Aktris Jenius
Akhir pekan setelah Yuu kembali ke rumah. Hari Minggu dengan cuaca yang sangat cerah di bulan Mei, di mana langit biru yang menyegarkan membentang dengan indahnya.
Aku dan Yuu pergi berdua mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan kompleks yang besar di pusat kota. Tempat ini sangat ramai dan populer di kalangan semua generasi karena terhubung langsung dengan gedung stasiun sehingga aksesnya mudah, ditambah lagi setiap lantainya dipenuhi berbagai macam toko, mulai dari area bahan pangan di lantai bawah tanah hingga kawasan restoran di lantai 14.
Asalkan datang ke sini, sebagian besar barang yang dibutuhkan biasanya bisa langsung terpenuhi, karena itulah aku cukup sering memanfaatkannya. Dan tujuan kami datang ke tempat seperti ini adalah...
"Saya senang sekali Kanata-san mengajak saya pergi berbelanja bersama♪"
Persis seperti yang diucapkan oleh Yuu yang sedang berjalan di sampingku dengan suasana hati yang sangat riang, tujuan kami ke sini adalah untuk membeli barang-barang kebutuhan sehari-harinya.
"Ayo, cepat!"
Yuu meraih tanganku lalu menariknya dengan tidak sabar untuk bergegas.
"Tidak usah terburu-buru begitu, tokonya tidak akan lari ke mana-mana, kok. Tenang saja."
"Itu memang benar, sih. Tapi barang yang kita incar bisa saja keburu habis terjual."
Sejak malam itu──malam di saat aku tidur di atas ranjang yang sama dengan Yuu, aku merasa dia menjadi jauh lebih manja kepadaku ketimbang sebelumnya. Rasanya persis seperti seekor anjing terlantar yang karena suatu pemicu mendadak membuka hatinya, lalu menjadi sangat penurut seolah-olah gurat kewaspadaan yang ditunjukkannya selama ini hanyalah sebuah dusta belaka.
Alasan mengapa aku sampai berpikiran seperti itu tidak lain adalah karena intensitas skinship yang kini menjadi jauh lebih meningkat dari sebelumnya.
Contohnya seperti saat ini, di saat dia secara alami menggenggam tanganku, atau di saat kami sedang bersantai di atas sofa dan dia akan mendudukkan diri tepat di sebelahku hingga tubuh kami menempel rapat, bahkan saat aku hanya ingin pergi sebentar ke minimarket pun dia pasti akan selalu mengekor ikut.
Dia pasti merasa sangat senang karena akhirnya bisa menemukan sesosok figur baru yang bisa dijadikan sebagai tempat bermanja-manja untuk menggantikan posisi kakaknya.
"Wah, baju yang dipajang di sana imut sekali, ya!"
Yuu melontarkan pekikan kekaguman sembari matanya tertuju pada sepotong pakaian yang dipajang di depan etalase sebuah toko busana.
"Mumpung kita lagi di sini, bolehkah saya mampir sebentar untuk melihat-lihat?"
"Ah, iya. Pergi saja, aku akan menunggu di sekitaran sini."
"Terima kasih banyak!"
Selepas melepas kepergian sosok punggungnya yang menjauh, aku memilih untuk mendudukkan diri di atas salah satu deretan kursi yang berjejer di sepanjang area koridor jalan.
"Aduh, bagaimana ini......"
Begitu posisiku kembali seorang diri, sebuah embusan napas panjang spontan lolos dari mulutku. Aku benar-benar merasa bersalah kepada Yuu, namun sejujurnya, aku tidak bisa menikmati agenda belanja ini dari lubuk hatiku yang terdalam.
Selagi menunggu Yuu kembali, aku pun mulai merenungkan kembali apa alasan utama di balik hal tersebut beserta kronologi yang mendasari mengapa kami sampai berakhir pergi berbelanja ke tempat ini hari ini──.
Perkara itu terjadi pada hari sebelumnya, tepatnya pada Sabtu siang.
"Sutradara Rokujou, apa sebenarnya maksud dari tindakan Anda ini!?"
Aku sengaja memanggil Sutradara Rokujou untuk datang berkunjung ke kantor agensi Second House.
Sutradara Rokujou adalah sosok sutradara yang mengomandoi proyek serial drama 'Meneruskan Kisah Cinta yang Tak Sampai Bersama Adikmu'. Beliau adalah orang yang sudah sangat berjasa membimbingku sejak aku masih berkarier sebagai aktor cilik dulu, dan tidak berlebihan rasanya jika aku menyebut beliau sebagai sosok guru spiritualku.
Di masa-masa awal debutku, di saat aku masih buta dan tidak tahu apa-apa mengenai dunia hiburan, beliaulah yang bersedia mengasuh dan mengajariku banyak hal, serta berulang kali mempercayakan diriku untuk tampil di dalam karya-karya buatannya. Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, fakta bahwa aku bisa mendulang kesuksesan besar sebagai seorang aktor cilik dulu adalah murni berkat andil dari Sutradara Rokujou. Namun, kepada sosok guru yang sangat kuhormati itulah, aku kini tidak mampu membendung rasa amarah yang membuncah di dalam dada.
"Anda sengaja melayangkan tawaran kepada adik kandung Tachibana Haruka agar dia bersedia tampil di dalam karya terakhir mendiang kakaknya, kan?"
"Oh, jadi kamu memanggilku ke sini demi membahas perkara itu, toh."
Sutradara Rokujou memberikan sebuah anggukan kepala kecil dengan raut wajah yang tampak memaklumi. Namun, ekspresi yang dipancarkannya saat itu terlihat menyiratkan sedikit rasa kekecewaan.
"Padahal saat mendadak menerima panggilan telepon darimu setelah beberapa tahun kita tidak saling berkontak, aku benar-benar percaya tanpa ragu bahwa tujuanmu mengajakku mengobrol hari ini adalah untuk berkonsultasi mengenai rencana kembalinya dirimu ke dunia akting. Aku bahkan sangat menantikan momen pertemuan kita hari ini, lho."
"Tolong jangan bercanda."
"Aku sama sekali tidak bernaksud bercanda. Di masa lalu, jumlah orang yang menyayangkan keputusan pensiun dini seorang Kanata terhitung sangat banyak, baik dari kalangan internal industri hiburan maupun masyarakat luas. Kamu sendiri pun pasti tahu betul kan kalau sampai detik ini──bahkan setelah dua tahun berlalu──suara-suara yang mendambakan kepulanganmu ke dunia akting masih belum juga padam?"
"Perkara semacam itu...... murni hanya disuarakan oleh sebagian kecil dari basis penggemar saja, kok."
"Meskipun begitu, fakta bahwa eksistensimu belum sepenuhnya terhapus dari balik ingatan orang-orang adalah sebuah kebenaran yang nyata."
Urusan mengenai diriku sendiri sama sekali tidak penting untuk saat ini.
"Tujuan utama saya meminta Anda datang ke sini hari ini adalah murni untuk membahas perkara mengenai Yuu."
Sembari menahan rasa kesal karena topik pembicaraan kami sejak awal terus berjalan melenceng, aku berusaha menarik kembali benang merah obrolan kami ke tujuan semula.
"Apa alasan Anda sampai merekomendasikan Yuu untuk terjun menjadi seorang aktris?"
"Begitu rupanya...... Jadi anak perempuan itu pada akhirnya memang serius berlari meminta bantuan kepadamu, ya."
Memang serius──Meskipun aku sempat merasa janggal dengan maksud tersembunyi di balik pilihan kata tersebut, namun untuk saat ini biarlah kusisihkan dulu perkara itu.
"Mengapa Anda sampai berpikiran untuk menghidupkan kembali proses syuting dari sebuah serial drama yang proyeknya sebenarnya sudah resmi dibatalkan dan diarsipkan? Tidak, urusan mengenai menghidupkan kembali proyeknya sih silakan saja...... Tapi mengapa dari sekian banyak pilihan yang ada, Anda malah sengaja menyodorkan peran sang adik tersebut langsung kepada Yuu!?"
Karena emosiku sudah terlanjur meluap, untaian kalimat dari mulutku menjadi terus meluncur tanpa bisa dihentikan.
Tanpa sudi menunggu jawaban dari pertanyaan pertamaku, aku terus memberondongnya dengan rentetan pertanyaan berikutnya.
"Apakah Anda sengaja berniat memanfaatkan identitas Yuu hanya demi menjadikannya sebagai alat penarik minat penonton belaka?"
"Iya. Persis seperti apa yang kamu katakan."
Sutradara Rokujou memberikan jawaban konfirmasi tersebut dengan raut wajah santai tanpa menunjukkan gelagat merasa bersalah sedikit pun. Sikapnya yang terlampau tenang dan tanpa keraguan itu justru sukses membuat emosiku menjadi semakin tersulut naik.
"Di era modern seperti sekarang ini, di mana penyebaran fungsionalitas ponsel pintar telah membuat beragam jenis konten hiburan menjadi sangat melimpah ruah. Di zaman di mana semua orang bisa dengan bebas menikmati konten apa pun yang mereka sukai kapan saja mereka mau, sebuah tayangan serial drama televisi yang hanya bisa disaksikan pada hari dan jam tertentu secara berkala, serta membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan hanya untuk mengetahui bagaimana akhir ceritanya, telah berubah menjadi sebuah konten yang tidak praktis dan ketinggalan zaman."
Perkara tersebut adalah sebuah realitas yang aku sendiri pun bisa merasakannya secara nyata saat masih aktif berprofesi sebagai aktor dulu.
Jika menggunakan istilah populer anak muda zaman sekarang, mungkin fenomena ini bisa digambarkan sebagai sesuatu yang 'memiliki efisiensi waktu yang buruk' (bad time-performance).
Tentu saja, jika tolok ukurnya didasarkan pada alasan-alasan yang telah disebutkan tadi, beberapa orang mungkin akan menganggap bahwa industri anime pun berada di posisi yang sama. Namun, industri animasi memiliki perluasan pasar yang sangat kaya, mulai dari ketersediaan karya orisinal, adaptasi media mix, kolaborasi dengan berbagai sektor industri, hingga fenomena ziarah ke lokasi nyata yang menjadi latar belakang ceritanya.
Ada terlalu banyak aspek yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh industri serial drama televisi biasa, dan dari segi fundamentalnya sendiri pun, kedua ranah hiburan ini memang memiliki perbedaan budaya yang sangat mencolok sejak awal.
"Meskipun fenomena ini sering kali diejek secara sarkas oleh masyarakat sebagai bentuk dari tren 'menjauhnya generasi muda dari hal-hal konvensional', kenyataannya serial drama televisi memang menjadi salah satu korban dari pergeseran zaman tersebut. Pemikiran kuno yang menganggap bahwa sebuah karya dipastikan akan mendapat apresiasi tinggi asalkan kita membuatnya dengan kualitas yang bagus, kini sudah berubah menjadi sebuah ilusi belaka. Realitas pahitnya adalah sedahsyat apa pun serial drama yang kamu racik, tayangan tersebut tidak akan pernah dilirik oleh masyarakat jika tidak memiliki nilai jual yang unik. Agar sebuah serial drama bisa kembali mencuri perhatian di tengah gempuran jutaan konten hiburan yang ada saat ini, kamu pasti bisa memahami bukan kalau kita memerlukan sebuah 'kartu as yang kuat' yang mampu memikat rasa penasaran masyarakat luas?"
"Dan kartu as yang dimaksud adalah identitas dari adik kandung sang aktris genius yang telah tiada──yaitu Tachibana Haruka, begitu kan?"
Pihak yang menyahut pertanyaan dari Sutradara Rokujou bukanlah diriku, melainkan Direktur Igarashi yang sejak tadi ikut duduk mendampingiku di dalam ruangan.
"Tachibana Haruka adalah sesosok aktris yang meninggal dunia di usianya yang masih sangat muda, tepat di saat langkah kakinya sedang berjalan dengan sangat mantap menuju puncak karier sebagai aktris berskala nasional. Terlebih karena insiden tersebut terjadi di tengah-tengah proses syuting, gelombang kecaman dari masyarakat luas terhadap kelalaian tanggung jawab manajemen dari pihak-pihak terkait tentu saja tidak akan bisa dihindari, yang mana pada akhirnya berujung membuat proyek drama tersebut terpaksa diarsipkan total. Namun jika beberapa tahun kemudian──adik kandung aslinya mendadak muncul untuk mewarisi wasiat dari mendiang kakaknya dengan terjun menjadi aktris demi merampungkan mahakarya tersebut, nilai publisitas dan daya tarik dari narasi itu dipastikan akan menjadi sangat luar biasa. Tidak ada alasan bagi kisah dramatis se-mengharukan itu untuk tidak mampu menggetarkan lubuk hati para penggemar."
"Tepat sekali seperti apa yang Anda katakan. Sebuah narasi drama kehidupan yang senyata dan se-dramatis ini benar-benar merupakan sebuah fenomena langka yang belum pernah ada tandingannya."
Namun, premis dari rencana tersebut adalah──.
"Rencana itu hanya akan berhasil jika anak itu memang terbukti dianugerahi bakat akting yang luar biasa setingkat mendiang kakaknya, bukan?"
Persis seperti yang diutarakan oleh Direktur Igarashi, skenario itu hanya akan berjalan mulus jika Yuu memang benar-benar mampu bertransformasi menjadi seorang aktris yang sehebat Tachibana Haruka.
Jika tidak demikian, masyarakat dipastikan akan merasa kecewa karena membanding-bandingkan kemampuannya dengan Tachibana Haruka, dan gelombang kritik pun tidak akan bisa dihindari.
Hal itu benar-benar berpotensi memicu sebuah kontroversi dan kecaman massal yang dahsyat yang belum pernah ada tandingannya.
"Sutradara Rokujou...... Apakah Anda sebenarnya menyadari apa yang sedang Anda perbuat saat ini?"
Aku sengaja menaikkan intonasi suaraku seolah-olah sedang menyodorkan kenyataan pahit itu tepat di hadapannya.
"Bagi Yuu, rencana itu tidak lebih dari sebuah kutukan."
Mustahil bagi seorang Sutradara Rokujou untuk tidak menyadari akan konsekuensi tersebut.
"Dia adalah seorang anak yang bahkan baru saja lulus dari bangku SMP beberapa waktu lalu. Meminta seorang anak gadis yang baru kehilangan kakaknya setahun lalu, dan yang luka batinnya bahkan masih belum sepenuhnya sembuh, untuk terjun menjadi aktris demi menggantikan posisi sang kakak...... Itu bukanlah tindakan yang pantas dilakukan oleh seorang manusia dewasa yang waras. Yuu mungkin menganggap bahwa merampungkan proyek drama tersebut adalah sebuah harapan hidup baginya. Namun, memaksanya mengorbankan seluruh sisa jalan hidupnya sendiri hanya demi menjadi sesosok figur pengganti bagi orang lain, sama sekali tidak layak disebut sebagai sebuah harapan!"
Perkara itu bukanlah sebuah harapan, melainkan murni sebuah kutukan. Tindakannya itu sama sekali tidak mencerminkan sebuah bentuk dedikasi, melainkan murni sebuah tindakan mengorbankan diri sendiri secara membabi buta. Bahkan jika boleh dikatakan lebih ekstrem lagi, alih-alih dibilang sebagai sosok pengganti kakaknya, posisinya saat ini tidak lebih dari sekadar dijadikan sebagai tumbal.
"Aku sangat memahami apa yang ingin kamu sampaikan, Kanata."
Sutradara Rokujou melembutkan nada suaranya seolah-olah berniat untuk menyudahi perdebatan kami.
"Namun, aku di sini murni hanya sebatas menunjukkan sebuah jalan alternatif untuknya."
"Jadi maksud Anda, dengan dalih itu Anda merasa bisa lepas tangan dan tidak memiliki tanggung jawab sama sekali dalam masalah ini?"
"Aku tidak pernah bilang kalau aku tidak punya tanggung jawab. Malahan, aku berniat untuk pasang badan dan bertanggung jawab penuh atas keputusan ini. Namun, fakta bahwa dia akhirnya memilih untuk melangkah di jalan dunia akting ini adalah murni lahir dari kehendak dirinya sendiri. Sama persis seperti keputusan pensiun dini yang kamu ambil dulu, yang mana hal itu murni lahir dari kehendak dirimu sendiri, bukan?"
"............"
Begitu beliau menarik perkara masa laluku sebagai bahan komparasi, aku seketika langsung terbungkam dan tidak mampu melayangkan kalimat bantahan.
"Tentu saja, rencana ini masih belum bersifat final. Jika kemampuan aktingnya nanti terbukti sama sekali tidak memenuhi standar dan tidak bisa diselamatkan, maka kesepakatan ini otomatis akan dibatalkan. Aku selaku sutradara pun tidak akan sudi membiarkan mahakarya terakhir dari seorang Tachibana Haruka digarap dengan kualitas yang asal-asalan."
Sutradara Rokujou menjeda kalimatnya sejenak, lalu melanjutkan, "Meski begitu, proyek ini bukanlah sebuah perkara yang bisa ditunda hingga bertahun-tahun lamanya."
"Proses syuting untuk kelanjutan dari serial drama tersebut baru akan dimulai dua tahun lagi."
Dua tahun lagi──?
"Di dalam naskah orisinalnya, Tachibana Haruka seharusnya memainkan peran ganda sebagai sosok sang kakak sekaligus sosok sang adik. Latar cerita untuk bab sang adik di musim kedua dikonfirmasi mengambil latar waktu tiga tahun pasca-kematian sang kakak──di mana sang adik yang kala itu masih berusia 15 tahun diatur telah tumbuh dewasa menjadi seorang gadis berusia 18 tahun. Karena itulah, aku ingin dia memanfaatkan sisa waktu yang ada ini untuk mengasah kemampuannya agar bisa bertransformasi menjadi sesosok aktris hebat sekaliber Tachibana Haruka, tepat di saat usianya sudah menyentuh angka delapan belas tahun, sama persis seperti usia tokoh sang adik di dalam naskah."
Dengan kata lain, batas waktu yang diberikan kepada Yuu murni hanya berkisar selama 2 tahun saja.
Sampai di sini, aku rasa aku akhirnya mulai bisa memahami apa alasan utama yang membuat Yuu tampak begitu terburu-buru selama ini. Bagi seorang amatir, rentang waktu 2 tahun tentu saja teramat sangat singkat untuk bisa mempelajari seluruh teknik dasar akting dari nol.
Terlebih lagi karena standar kemampuan yang dituntut darinya berada di tingkat yang sama dengan level seorang Tachibana Haruka......
Alasan mengapa Yuu selalu menunjukkan raut wajah yang teramat sangat tertekan hingga ke tahap yang menyayat hati selama ini, tidak lain adalah bentuk dari rasa cemasnya karena dia sendiri pun sebenarnya sangat paham betapa mustahilnya tuntutan tersebut.
Permintaan yang dilayangkan oleh Sutradara Rokujou ini, alih-alih dibilang memiliki standar yang tinggi, sebenarnya sudah masuk ke dalam kategori sebuah tindakan yang nekat dan tidak masuk akal.
"Saya benar-benar merasa kecewa...... Sosok Sutradara Rokujou yang saya kenal di masa lalu, bukanlah seorang pria yang tega menggunakan metode picik semacam ini."
Kalimat itu adalah sebuah isi lubuk hati terdalam yang spontan lolos dari mulutku setelah berhasil memahami bagaimana duduk perkara yang sebenarnya.
"Aku pribadi pun, selaku mantan aktor, tentu saja ikut merasa prihatin dengan kondisi industri serial drama televisi saat ini...... Aku juga sangat paham kalau nilai publisitas dan strategi promosi adalah sebuah aspek krusial yang sangat dibutuhkan agar sebuah karya bisa menjangkau masyarakat luas. Namun, sosok Sutradara Rokujou yang kukenal dulu, dipastikan tidak akan pernah tega memanfaatkan seorang anak yang baru saja kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang dimilikinya hanya demi dijadikan sebagai alat pendongkrak popularitas belaka."
Sutradara Rokujou adalah sosok guru yang sangat kuhormati, dan aku bahkan sudah menganggap beliau layaknya sesosok figur ayah kedua di dalam hidupku. Saat menyadari bahwa beliau telah berubah sedemikian rupa selama beberapa tahun kami tidak saling bersua, rasanya hatiku jauh lebih dipenuhi oleh rasa kesedihan ketimbang rasa amarah.
"Aku tahu betul kalau tindakan yang kulakukan saat ini memang wajar jika memicu pandangan semacam itu darimu. Aku tidak akan melayangkan bantahan sedikit pun jika kamu mencapku sebagai sesosok manusia yang sudah kehilangan hati nurani, dan aku pun merasa maklum jika kamu menjadi merasa ilusi terhadap diriku──Namun, ketahuilah bahwa idealisme dan visi hidup yang kupegang teguh selama ini masih belum berubah sedikit pun."
Visi hidup yang diutarakan oleh Sutradara Rokujou, adalah sebuah simbol dari dedikasi dan kesetiaan mendalam yang selalu dicurahkannya di sepanjang kariernya dalam menggarap sebuah serial drama.
Motto hidup yang selalu dipegangnya teguh adalah, 'Dunia fiksi diciptakan untuk bisa menyelamatkan hidup seseorang'.
"Aku sudah memutuskan bahwa proyek drama ini akan menjadi mahakarya terakhir yang menutup akhir dari perjalanan hidupku."
Sorot mata yang dipancarkannya saat mengutarakan kalimat tersebut terlihat sama persis seperti sorot mata yang ditunjukkannya saat beliau sedang memegang megafon komando di lokasi syuting dulu.
"Bagaimanapun juga, perkara ini masih menjadi urusan masa depan. Bagaimana akhir dari hasilnya nanti, semuanya mutlak tergantung pada kerja keras Yuu-san sendiri. Namun, karena sekarang dia sudah berlari meminta bantuan kepadamu, aku bisa bernapas sedikit lega. Tolong bimbing dan didiklah anak itu dengan baik agar dia bisa menjelma menjadi seorang aktris hebat yang mampu menyamai pesona Tachibana Haruka."
Sutradara Rokujou beranjak bangkit berdiri dari posisinya, seolah-olah ingin mengisyaratkan bahwa sesi diskusi kami hari ini sudah selesai.
"Ah, benar juga. Ada satu barang yang sengaja kubawa karena berniat untuk menyerahkannya kepadamu."
Beliau menghentikan langkah kakinya sejenak, lalu merogoh tasnya demi mengeluarkan selembar piringan cakram Blu-ray.
"Ini...... apa, ya?"
Aku melontarkan sebuah pertanyaan keheranan sembari menerima piringan cakram tersebut dari tangannya. Namun, begitu mataku menangkap untaian tulisan bertuliskan 'Zoku Kimi' yang tertera di atas permukaannya, aku bisa langsung menebak dengan instan apa isinya.
"Itu adalah hasil suntingan rekaman dari seluruh adegan musim pertama yang proses syutingnya sudah berhasil dirampungkan sepenuhnya kemarin."
Cih, apanya yang dibilang benar-benar percaya tanpa ragu kalau tujuan utamaku mengajaknya bertemu adalah untuk berkonsultasi mengenai rencana kembalinya diriku ke dunia akting. Benda ini adalah sebuah bukti nyata bahwa sejak awal beliau memang sudah tahu kalau agenda utamaku mengajaknya bertemu hari ini adalah untuk membahas perkara mengenai Yuu.
"Kalau begitu, mari kita bertemu kembali dalam waktu dekat, ya."
Setelah meninggalkan untaian kalimat penutup tersebut, Sutradara Rokujou segera melangkah keluar dari dalam kantor agensi.
“””"............ "””
Sebuah atmosfer keheningan yang tidak menyenangkan sempat menyelimuti ruangan kantor selama beberapa saat.
"Tapi jujur aku sama sekali tidak menyangka, lho, kalau Yuu ternyata memiliki keinginan yang begitu besar untuk menjadi seorang aktris."
Sosok yang pertama kali membuka suara untuk memecah keheningan tersebut tidak lain adalah Direktur Igarashi. Sebelum aku meminta Sutradara Rokujou datang untuk dimintai keterangan hari ini, aku memang sengaja membeberkan seluruh kronologi dan latar belakang masalah yang terjadi selama ini kepada Direktur Igarashi tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Mengingat masalah ini menyeret keterlibatan dari karya terakhir mendiang Tachibana Haruka, mustahil bagiku untuk tidak mendiskusikannya dengan beliau. Lagipula, jika aku nekat menemui Sutradara Rokujou secara diam-diam di belakangnya pun, ruang lingkup industri hiburan ini terhitung sangat sempit, sehingga lambat laun perkara ini dipastikan akan tetap terendus olehnya cepat atau lambat.
"Apakah Direktur Igarashi sebelumnya sudah saling mengenal dekat dengan Yuu?"
"Tentu saja sudah, karena dulu Haruka sendiri yang mengenalkannya langsung kepadaku. Kami bahkan sering melewatkan waktu untuk makan bersama bertiga. Momen terakhir kali aku bertemu dengannya adalah tepat di hari upacara pemakaman Haruka. Setelah insiden itu berlalu, aku sebenarnya rutin menghubungi pihak panti asuhan tempatnya bernaung untuk menanyakan bagaimana kondisinya. Namun, saat aku mencoba menelepon mereka beberapa hari lalu, pihak panti bilang kalau Yuu sudah lama tidak kunjung pulang ke panti karena terus-menerus menginap di luar, alhasil aku sempat merasa sangat cemas kemarin...... Aku benar-benar tidak pernah menyangka bahkan dalam mimpi sekalipun jika dia ternyata selama ini tinggal menumpang di dalam kamarmu, Kanata-kun."
"Mohon maaf...... karena saya sempat memilih untuk bungkam dan menyembunyikannya dari Anda."
"Aku sama sekali tidak marah, kok, jadi tidak usah terlalu dipikirkan. Malahan, aku justru merasa sangat lega setelah mengetahui fakta bahwa kamulah pihak yang bersedia mengasuh dan menjaga anak itu selama ini. Apalagi setelah mendengarkan seluruh penjelasanmu tadi, aku bisa memahami dengan sangat logis apa alasan mendasar yang melatarbelakangi situasi kalian."
Sikap dan pilihan kata yang ditunjukkan oleh Direktur Igarashi benar-benar menyiratkan sebuah rasa lega sekaligus bentuk pemakluman yang mendalam atas situasi kami.
"Lalu, langkah apa yang berencana kamu ambil untuk menyikapi masa depan Yuu selanjutnya, Kanata-kun?"
"Saya sama sekali tidak memiliki niat untuk membiarkan Yuu terjun menjadi seorang aktris."
Aku memberikan jawaban penegasan tersebut dengan nada mantap tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Pada awalnya, motif utamaku menolak permohonannya murni hanya sebatas karena aku pribadi tidak memiliki keinginan untuk mengajarinya berakting. Namun, jika dia memang tetap bersikeras ingin menjadi aktris atas kemauannya sendiri, aku awalnya sama sekali tidak berniat untuk menghalangi impiannya tersebut. Aku bahkan sempat berpikir untuk menyerahkan pilihannya kepada dia, entah itu dengan cara memperkenalkannya masuk ke agensi Second House ini, atau membiarkannya mencari agensi lain yang disukainya secara bebas. Faktanya, aku dan Ema-san bahkan sempat melayangkan tawaran resmi untuk merekomendasikannya masuk ke agensi Second House ini kemarin, bukan? Namun, jika tujuan utamanya terjun ke industri ini adalah demi bisa tampil di dalam proyek drama 'Zoku Kimi' tersebut, maka ceritanya akan menjadi sangat berbeda."
Persis seperti apa yang telah kusampaikan kepada Sutradara Rokujou tadi, skenario itu tidak lebih dari sebuah kutukan belaka bagi masa depannya. Entah itu di sebuah tempat yang berada di bawah jangkauan pengawasanku langsung maupun di tempat yang tidak mampu kujangkau sekalipun, aku mutlak tidak akan pernah sudi membiarkan Yuu melangkah menjadi seorang aktris.
Sembari memikirkan hal tersebut, sebuah lintasan pemikiran mendadak terbersit di dalam benakku──Alasan mengapa Yuu memilih untuk bungkam mengenai motif utamanya ingin menjadi aktris selama ini, pasti karena dia sudah tahu betul kalau aku pasti akan langsung menghalanginya jika dia sampai jujur bilang bahwa tujuannya adalah demi merampungkan proyek drama 'Zoku Kimi'.
"Meski begitu, bagaimana jika dia tetap bersikeras bilang ingin mengejar jalan menjadi seorang aktris?"
"Saya akan meluangkan waktu secara perlahan untuk membujuknya. Yuu sendiri sempat bilang kalau tujuannya bukan sekadar ingin menjadi aktris saja, melainkan ada sebuah arti penting jika akulah pihak yang mengajari teknik akting kepadanya. Jadi, jika aku tetap bersikeras tidak mau mengajarinya, cepat atau lambat dia pasti akan menyerah dengan sendirinya."
Tentu saja aku tidak berpikir bahwa dia akan menyerah begitu saja dengan mudah, namun jika dibalik, premis dari situasinya murni seperti itu.
"Kalau begitu, bolehkah berganti aku yang bertanya kepada Anda?"
"Mau bertanya apa?"
"Seandainya kemarin saya benar-benar merekomendasikan dan memperkenalkan Yuu untuk masuk ke agensi Second House, apakah Anda akan bersedia menerimanya?"
"Hmm, bagaimana, ya......"
Direktur Igarashi melayangkan pandangan matanya ke arah samping dengan raut wajah yang tampak bimbang.
"Aku sangat bisa memahami bagaimana besarnya rasa sayang dan kepedulian yang dimilikinya terhadap mendiang Haruka. Namun, industri hiburan ini bukanlah sebuah dunia yang teramat ramah hingga seseorang bisa sukses hanya dengan berbekal alasan ingin menjadi sesosok figur pengganti bagi orang lain. Ini adalah sebuah dunia kejam di mana tidak ada jaminan bagi seseorang untuk pasti mendulang kesuksesan, bahkan di saat dia sudah rela mempertaruhkan seluruh sisa jalan hidupnya sekalipun. Dalih berjuang demi kebaikan orang lain sama sekali tidak akan bisa dijadikan sebagai bahan pembelaan di saat kita mencicipi kegagalan, dan aku sudah berulang kali menyaksikan pemandangan pahit semacam itu di depan mataku sendiri."
Aku benar-benar sepakat total dengan untaian kalimat beliau, dan di atas segalanya, aku pribadi pun sangat memahami kebenaran dari realitas tersebut. Bagi seorang Direktur Igarashi yang sudah kenyang menyaksikan jajaran aktor dan aktris yang silih berganti berguguran meninggalkan dunia hiburan, pandangan tersebut tentu saja terasa jauh lebih nyata.
"Ditambah lagi, mengingat pihak yang dimintai bantuan oleh anak itu sejak awal bukanlah agensi Second House melainkan dirimu, Kanata-kun, aku rasa aku tidak memiliki hak untuk ikut campur terlalu jauh dalam masalah ini. Tidak peduli seberapa besarnya status agensi ini sebagai tempat bernaung mendiang kakaknya dulu, hal itu sama sekali tidak memberikan hak kepadaku untuk ikut mendikte bagaimana masa depan dari sang adik."
Mendengar penuturan tersebut, aku seketika bisa bernapas lega sembari mengelus dada. Meskipun sejak awal aku sudah menaruh kepercayaan yang besar kepadanya, namun aku merasa sangat bersyukur karena Direktur Igarashi terbukti bukanlah sesosok orang picik yang tega memanfaatkan situasi Yuu demi keuntungan pribadi.
"Untuk sementara waktu, biar kupercayakan urusan penyelesaian masalah ini sepenuhnya kepadamu, Kanata-kun. Mengenai pihak panti asuhan, nanti biar aku yang menghubungi mereka agar mereka tidak perlu merasa cemas lagi. Jadi jika ke depannya terjadi suatu kendala apa pun, jangan sungkan-sungkan untuk segera berkonsultasi denganku, ya."
"Terima kasih banyak."
Aku murni hanya ingin dia bisa menapaki sisa jalan kehidupannya demi kebahagiaan dirinya sendiri, bukan demi memikul beban dari mendiang kakaknya. Setelah berhasil mengetahui bagaimana latar belakang situasi yang menjerat Yuu saat ini, hal itulah yang kini menjadi sebuah isi lubuk hati terdalamku yang paling jujur.
"Omong-omong, apakah saat ini Yuu baik-baik saja?"
"Iya. Mengingat duduk perkaranya yang pelik seperti ini, saya memang tidak bisa bilang kalau kondisinya benar-benar bebas dari rasa cemas, namun setidaknya dia saat ini terlihat sangat sehat, jadi Anda bisa tenang saja. Baru-baru ini pun, saya sempat mendapatkan laporan dari guru wali kelasnya kalau dia sudah mulai rutin masuk sekolah kembali. Dia juga tampaknya sudah mulai terbiasa dengan pola kehidupan tinggal bersama kami, dan sejauh ini dia tidak terlihat menunjukkan gelagat seperti sedang merasa kesulitan atau terkendala──"
"Tunggu sebentar, Kanata-kun!"
Tepat di saat aku baru saja ingin menyelesaikan kalimatku, Ema-san mendadak masuk memotong pembicaraan. Sebenarnya, Ema-san pun sejak tadi ikut berada di dalam ruangan kantor agensi ini, hanya saja dia memilih untuk terus bungkam tanpa melontarkan sepatah kata pun.
"Perkara itu kan cuma dari sudut pandangmu saja yang mengira kalau dia tidak merasa kesulitan."
Ema-san melayangkan kalimat penegasan tersebut dengan intonasi suara yang terdengar agak sedikit ditekan. Namun, sepanjang pengamatanku saat memperhatikan Yuu selama ini, aku sama sekali tidak bisa menangkap poin apa yang dimaksud olehnya.
"Apakah benar begitu?"
"Aduh, dasar anak laki-laki memang selalu begini, deh......"
Ema-san menggeleng-gelengkan kepalanya secara perlahan seolah-olah ingin menyuarakan rasa herannya atas ketidakpekaanku.
"Saat tempo hari kamu meminta bantuanku untuk pergi memeriksa kondisi kamarmu, sejujurnya aku sempat diam-diam mengintip bagaimana penataan ruang kehidupan kalian berdua di sana, lho. Mulai dari area ruang tengah, wastafel, kamar mandi, dan bahkan meskipun aku tahu tindakan ini agak kurang sopan, aku juga sempat mengintip ke dalam area kamar tidurmu."
"K-Kapan Anda sempat melakukan hal itu......?"
"Tepat di saat kamu sedang sibuk memasak nasi goreng untuk kami di dapur."
"Bisa-bisanya Anda malah kelayapan berbuat begitu di saat orang lain sedang bersusah payah memasak!"
Pantas saja selama proses memasak kemarin aku sama sekali tidak melihat batang hidungnya di sekitaran ruangan.
"Dan hasil akhir dari penyelidikanku membuktikan bahwa tidak ada satu pun barang pribadi milik Yuu-chan yang diletakkan secara permanen di sana."
"Eh......?"
Ema-san terus melanjutkan penjelasannya dengan raut wajah yang tampak sedikit mendung.
"Secara presisi, satu-satunya barang milik Yuu-chan yang tersimpan di dalam ruang tengah hanyalah selembar tas sekolahnya saja. Di area wastafel tidak ada sikat gigi miliknya, dan di dalam kamar mandi pun tidak ada botol sampo kepunyaannya. Kamu tampaknya benar-benar rajin membersihkan kamarmu dengan sangat resik, ya...... Sampai-sampai helai rambutnya satu lembar pun sama sekali tidak ada yang tertinggal berceceran di lantai."
Mendengar poin-poin yang disebutkan olehnya, aku seketika langsung tersentak kaget. Jika dipikir-pikir kembali, satu-satunya barang pribadi yang dibawa oleh Yuu ke apartemenku memang murni hanya selembar tas tersebut saja.
"Mengingat status dirinya yang hanya menumpang tinggal di tempatmu, aku rasa dia sengaja menahan diri agar tidak sembarangan meletakkan barang-barang pribadinya di sana demi menjaga kesopanan. Besar kemungkinan dia selalu merapikan dan menyimpan kembali sikat gigi maupun samponya ke dalam tas setiap kali selesai menggunakannya, bukan? Urusan mencuci pakaian pun, jangan-jangan selama ini dia tidak pernah memakai mesin cuci yang ada di dalam kamarmu, melainkan sengaja pergi mencucinya sendiri ke tempat coin laundry?"
Begitu perkara itu diutarakan secara gamblang oleh Ema-san, aku tersadar bahwa aku memang tidak pernah sekalipun melihat Yuu mencuci pakaiannya sendiri di rumah selama ini.
Mengingat mesin cuci di apartemenku sudah dilengkapi dengan fitur pengering otomatis sehingga kami hampir tidak pernah memiliki agenda menjemur pakaian, aku menjadi sama sekali tidak menyadari adanya kejanggalan tersebut. Padahal, jika kuingat-ingat kembali, tumpukan pakaian yang selalu dilipat dengan rapi oleh Yuu selama ini murni hanya terdiri dari jajaran baju maupun handuk milikku seorang. Bisa-bisanya aku sampai tidak peka dan melewatkan detail sekrusial itu......
"Melihat bagaimana pembawaan sifat yang dimiliki oleh Yuu-chan, aku rasa kamu harus mengutarakannya secara langsung dan tegas dari mulutmu sendiri kalau dia tidak perlu sungkan begitu. Jika agenda tinggal bersama kalian masih akan terus berlanjut untuk beberapa waktu ke depan, kalian harus segera pergi berbelanja bersama demi mencukupi seluruh barang kebutuhan dasarnya, bukan? Aku rasa ada baiknya jika kalian meluangkan waktu untuk mendiskusikan perkara ini berdua."
"Saya mengerti. Terima kasih banyak karena sudah bersedia memberi tahu saya mengenai hal ini."
"Sama-sama. Pasti rasanya melelahkan ya harus mengurus banyak hal sekaligus, tapi tetap semangat, ya!"
Berangkat dari rentetan kronologi itulah, pada malam harinya, aku langsung mengajak Yuu untuk berdiskusi serius mengenai bagaimana pola kehidupan tinggal bersama kami ke depannya nanti.
Aku menegaskan kepadanya bahwa dia diperbolehkan untuk meletakkan barang-barang pribadinya di dalam kamar secara bebas tanpa perlu merasa sungkan, serta memberikan izin penuh agar dia mau menggunakan mesin cuci di apartemenku kapan saja dia butuh.
Selain itu, di saat aku mencoba menyerahkan sejumlah uang demi mengganti seluruh biaya konsumsi yang selama ini sempat ditalangi olehnya, dia sempat menolak dengan halus sembari berkata, 'Mengingat status saya di sini hanya menumpang, saya tidak berhak untuk menerima uang ini'. Namun, aku langsung mematahkan argumennya dengan berkata, 'Pihak yang selama ini selalu diurus dan dirawat di rumah ini justru adalah diriku sendiri, tahu', hingga akhirnya dia mau menerimanya.
Meskipun Yuu sempat terlihat sangat kebingungan untuk menyikapi sikap tegasku, dia akhirnya luluh dan berkata, 'Kalau begitu, saya akan menggunakan uang ini untuk membeli barang-barang kebutuhan dasar yang sekiranya diperlukan untuk menunjang kehidupan saya sehari-hari'. Dan berkat adanya kesepakatan itulah, aku akhirnya bersedia menemani agenda belanjanya hari ini hingga kami berakhir di tempat ini sekarang.
──Tepat di saat aku selesai merenungkan kembali seluruh jalinan memori tersebut di dalam kepala.
"Kanata-san!"
Mendengar pekikan suara Yuu yang memanggil namaku, aku segera mendongakkan kepala demi mencari sumber suara. Di sana, tampak sosoknya yang sedang melambaikan tangan ke arahku dari depan pintu masuk toko busana.
"Apakah kamu berhasil menemukan baju yang kamu sukai?"
"Iya! Baju yang ini terlihat sangat imut sekali, bukan!?"
Dengan raut wajah yang memancarkan keriangan yang menggebu-gebu, dia mengangkat sepotong gaun terusan (one-piece) bermotif bunga yang terlihat sangat manis.
Sebuah busana tanpa lengan berdesain sejuk yang sepertinya akan sangat sering digunakan di sepanjang musim panas yang akan datang nanti. Secara garis wajah, Yuu memang mewarisi aura kecantikan dewasa yang sangat mirip dengan mendiang kakaknya, namun mengingat usianya yang sebenarnya masih belia, busana dengan desain imut seperti ini rasanya jauh lebih cocok untuk melekat di tubuhnya.
"Kalau kamu memang menyukainya, mengapa tidak langsung dibeli saja?"
"Iya! Kalau begitu saya akan──"
Namun, tepat di saat dia melayangkan pandangan matanya ke arah bawah demi memeriksa label harga yang tertera, raut wajahnya seketika langsung berubah menjadi mendung seketika.
Aku rasa aku tidak perlu repot-repot bertanya apa alasan utama yang membuat grafik perubahan emosinya mendadak anjlok drastis seperti itu.
"Apakah harganya ternyata jauh lebih mahal daripada perkiraanmu?"
"Iya......"
Saat aku ikut melayangkan pandangan menatap label harga yang sedang dipegang oleh Yuu, nominal yang tertera di sana memang terhitung lumayan mahal.
Pakaian wanita biasanya cenderung relatif lebih murah jika dibandingkan dengan pakaian pria, namun karena busana ini ditujukan untuk menyambut musim yang akan datang, pihak toko mungkin sengaja memasang harga yang cukup tinggi.
Seandainya ini sudah menginjak masa akhir musim panas, harganya pasti sudah dipotong setengahnya.
Memang tidak hanya terbatas pada pakaian saja, barang-barang yang memiliki ketergantungan pada musim seperti ini selalu membuat kita dilema untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk membelinya, ya. Sembari membatin hal tersebut, aku langsung merebut gaun terusan itu dari tangan Yuu.
"Eh......?"
"Biar aku yang membelikannya untukmu."
"Eh, jangan begitu, saya merasa tidak enak!"
Yuu berusaha mengulurkan tanganku demi merebutnya kembali, namun aku sengaja mengangkat gaun itu tinggi-tinggi di atas kepala untuk menghindarinya.
Melihat gelagatnya yang sampai melompat-lompat kecil sembari menggapai-gapaikan tangannya seperti itu, entah mengapa dia terlihat sangat mirip dengan seekor anjing dan itu lumayan lucu.
"Seperti yang kukatakan tempo hari, sejak kamu datang ke rumahku, aku sudah terus-menerus dirawat dan diurus olehmu, kan? Aku merasa bisa kualat jika tidak memberikan satu pun bentuk balas budi atau hadiah kepadamu, jadi momen ini benar-benar terasa sangat pas."
"Tapi kalau untuk urusan itu, kan Kanata-san sudah menyerahkan sejumlah uang kepada saya sebelumnya."
"Uang yang itu kan murni untuk mengganti biaya konsumsi yang sempat kamu talangi kemarin."
"Tapi...... ah, tunggu sebentar!"
Tanpa memedulikan penolakannya lagi, aku langsung melangkah mantap menuju ke arah meja kasir.
"Sudahlah, tidak usah sungkan begitu. Kalau kamu memang masih merasa tidak enak hati, kamu tinggal memperlihatkan bagaimana penampilanmu saat mengenakan baju ini kepadaku nanti, itu saja sudah cukup."
"Eh......?"
"Ini kan hadiah dariku. Setidaknya aku punya hak untuk meminta hal sekecil itu, bukan?"
"Kanata-san...... apakah Anda begitu ingin melihat saya mengenakan baju ini?"
"Iya. Aku rasa baju ini akan terlihat sangat cocok untukmu."
"............"
Setelah menyelesaikan proses pembayaran dan menerima baju yang sudah dikemas rapi di dalam kantong kertas, aku segera menyerahkannya kepada Yuu.
Yuu tampak menatap lekat-lekat ke arah kantong kertas tersebut seolah-olah sedang merenungkan sesuatu di dalam pikirannya, lalu...
"Kanata-san, maukah Anda menunggu saya di sini sebentar lagi?"
"Ah, iya. Boleh saja, sih."
Tepat setelah mengutarakan kalimat tersebut, sosok Yuu kembali menghilang ke dalam area bagian dalam toko.
Aku sempat mengira jika dia mungkin lupa membeli suatu barang, namun setelah melewatkan waktu menunggu selama kurang lebih lima belas menit...
"Maaf ya sudah membuat Anda menunggu lama."
Begitu aku mendongakkan kepala, pemandangan yang tersaji tepat di depan mataku seketika sukses membuatku kehilangan kata-kata. Sebab, di hadapanku saat ini, Yuu sudah berdiri anggun sembari mengenakan gaun terusan yang baru saja kubelikan tadi.
"Apakah penampilanku sudah sesuai dengan bayangan yang ada di dalam benak Kanata-san......?"
"O-Oh, wow......"
Karena terlampau terkejut, aku bahkan tidak mampu melontarkan satu patah kata pujian pun dari mulutku. Namun, jika harus jujur mengekspresikan apa yang kurasakan, rasa terkejut ini muncul karena penampilannya saat ini tidak hanya sebatas sesuai dengan bayanganku, melainkan sudah jauh melampaui ekspektasiku.
Meskipun gaun bermotif bunga ini sejatinya memiliki desain yang imut, namun saat melekat di tubuh Yuu, aksen karet yang menjepit bagian pinggangnya sukses membentuk sebuah lekukan tubuh yang proporsional, memberikan sebuah impresi anggun yang jauh lebih elegan daripada yang kubayangkan sebelumnya.
Di atas segalanya, desain busana yang tidak memiliki lengan tersebut otomatis mengekspos bagian lengan atasnya yang mulus, memancarkan sebuah aura dewasa yang sensual.
Sebuah perpaduan kontras yang sangat memikat, mengingat busana tersebut justru dikenakan oleh Yuu yang sebenarnya masih menyisakan gurat kepolosan anak-anak di wajahnya.
"Kanata-san?"
Yuu sedikit memajukan wajahnya sembari menatapku, seolah-olah sedang menuntut untuk segera mendengarkan bagaimana opiniku.
"Ah, iya. Baju itu benar-benar terlihat sangat cocok dan pas untukmu."
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu......"
“"............"”
Tanpa bisa dicegah, kami berdua pun seketika langsung terbungkam dan kompak mengalihkan pandangan mata ke arah lain secara perlahan.
Baik pihak yang melayangkan pujian maupun pihak yang menerima pujian, sama-sama merasakan sebuah sensasi canggung yang teramat sangat memalukan.
"......Kalau begitu, mari kita lanjut ke toko berikutnya."
"I-Iya, benar juga, ya!"
Aku mengambil alih kantong kertas yang sedang dipegang oleh Yuu, lalu mulai melangkah memimpin jalan.
"Tidak apa-apa, biar saya bawa sendiri saja, Kak."
"Tugas utamaku hari ini adalah menjadi seorang kuli pengangkut barang, jadi kamu tidak usah sungkan begitu."
"Terima kasih banyak, ya...... Kanata-san benar-benar sesosok orang yang sangat baik dan lembut, ya."
"Tidak juga, kok."
Benar, aku sama sekali tidak sebaik apa yang dipikirkannya. Malahan, tindakan yang kuperbuat justru merupakan sebuah antipoda dari arti sebuah kebaikan yang sesungguhnya.
──Sama halnya seperti kamu yang sudah menyelamatkan hidupku, aku pun memiliki sebuah keinginan untuk bisa menjadi kekuatan yang menopang dirimu.
Malam itu, di saat aku baru saja melontarkan kalimat manis yang seolah-olah mengisyaratkan bahwa aku siap sedia untuk mengulurkan bantuan kepadanya, namun tepat di detik berikutnya saat aku mengetahui bahwa alasan utamanya ingin menjadi aktris adalah 'demi menjadi sosok pengganti bagi kakaknya', aku langsung membalikkan telapak tangan dan memantapkan tekad di dalam hati untuk tidak akan pernah membiarkan anak ini terjun ke dunia akting. Meskipun keputusan tersebut kuambil demi kebaikan masa depan Yuu sendiri, namun rasa bersalah yang teramat sangat pekat terus membayangi hatiku hingga saat ini. Sikap manis dan lembut yang kutunjukkan kepada Yuu saat ini tidak lebih dari sekadar bentuk pelampiasan dari rasa penyesalan yang tertanam di dalam alam bawah sadarku.
Sejak malam itu berlalu, aku masih belum meluangkan waktu lagi untuk mendiskusikan perkara masa depan bersama Yuu.
"Tidak, Anda salah. Anda memang orang yang sangat baik, kok."
Yuu bergumam pelan sembari jemari tangannya bergerak menggenggam erat telapak tanganku yang sedang menganggur.
"Aku pribadi pun sebenarnya sangat sadar kalau permohonan yang kulayangkan kepada Kanata-san waktu itu adalah sebuah permintaan yang egois dan tidak masuk akal. Karena itulah, seandainya Kanata-san mau mendepak dan mencampakkanku sejauh mungkin pun, tindakan Anda itu adalah sebuah hal yang wajar. Namun, Anda justru memilih untuk tetap sudi menemaniku di sini seperti ini. Bahkan keputusan Kanata-san yang melarangku untuk menjadi aktris pun, aku tahu hal itu murni lahir karena Anda teramat mengkhawatirkan keselamatanku...... Jika sikap semacam ini masih belum bisa dikategorikan sebagai sebuah kebaikan, lalu esensi dari sebuah kebaikan yang sesungguhnya itu seperti apa?"
Melalui kehangatan yang menjalar dari balik genggaman jemari tangannya, aku merasa bisa menangkap bagaimana besarnya rasa syukur dan terima kasih yang teramat sangat jujur dari dalam hatinya.
"............"
Mungkin situasi di mana seseorang sampai benar-benar kehilangan kata-kata untuk membalas sebuah argumen adalah persis seperti apa yang sedang kualami saat ini.
Untuk saat ini, diriku yang sekarang sama sekali tidak mampu menemukan untaian kalimat yang pantas untuk menyahut ketulusan dari perasaan yang didekap oleh Yuu.
Setelah momen tersebut berlalu, kami melanjutkan agenda berbelanja dengan berfokus mengitari area stan barang-barang grosir kebutuhan rumah tangga.
Barang pertama yang kami beli adalah sebuah lemari laci susun yang akan dialokasikan sebagai tempat untuk menata barang-barang pribadi milik Yuu, disusul dengan sebuah kotak kontainer penyimpanan untuk merapikan jajaran pakaiannya.
Untuk urusan handuk kecil maupun handuk mandi, selama ini aku memang selalu meminjamkan handuk koleksi milikku pribadi kepadanya. Namun karena saat ini adalah momentum yang tepat, aku memutuskan untuk sekalian membelikan jajaran handuk baru yang gres untuknya. Di luar itu, kami juga memborong berbagai perlengkapan mandi mulai dari sampo, kondisioner, dan yang lainnya secara sekaligus.
Meskipun dia sebenarnya sudah membawa beberapa barang keperluan mendasar seadanya dari panti asuhan dulu, tampaknya dia memang tetap merasakan adanya rasa tidak nyaman selama tinggal menumpang di rumahku selama ini.
Mungkin karena atmosfer berbelanja ini terasa sangat menyenangkan baginya, Yuu terlihat sangat bersemangat memborong berbagai macam barang seolah-olah ingin menghabiskan seluruh nominal uang yang dipegangnya saat itu juga tanpa sisa.
Di tengah-tengah proses berbelanja, Yuu sempat melontarkan sebuah kalimat polos dengan raut wajah tanpa dosa yang berbunyi, "Wah, kalau kita sedang memilih barang-barang seperti ini, vibes kita jadi terlihat seperti sepasang kekasih yang baru saja memulai kehidupan tinggal bersama, ya!". Entah bagaimana aku harus menyikapinya......
Di luar pemilihan kalimatnya yang terkesan sangat memancing reaksi itu, gelagatnya yang terus-menerus menggenggam tanganku secara alami sepanjang jalan menunjukkan bahwa tingkat kedekatan dan rasa sukanya kepadaku sudah berada di tahap yang tidak akan bisa dijelaskan hanya dengan dalih bahwa dia 'sudah mulai penurut' semata.
Mengingat sejak kecil aku sudah berulang kali berhadapan dengan lawan jenis karena tuntutan profesi sebagai aktor, aku pribadi sebenarnya sudah sangat terbiasa dan tidak akan merasa gugup maupun baper hanya karena menerima sedikit skinship. Namun, jika posisi diriku saat ini digantikan oleh anak laki-laki usia SMA pada umumnya, tindakan Yuu dipastikan sudah berada di level yang sangat rawan untuk memicu kesalahpahaman.
Apakah anak-anak zaman sekarang memang sudah sewajarnya memiliki pembawaan sifat yang ekspresif seperti ini, ataukah hal ini murni dipicu karena dia merasa teramat gembira karena aku bersedia menemaninya pergi berbelanja hari ini, atau jangan-jangan...... karena selama ini dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk bermanja-manja kepada mendiang kakaknya, dia kini memproyeksikan diriku sebagai sesosok figur kakak laki-laki tempatnya bernaung dan menumpahkan seluruh rasa sayangnya?
Sangat kecil kemungkinannya dia sudah menaruh perasaan suka sebagai lawan jenis dalam waktu sesingkat ini, tapi......
Sembari membatin hal tersebut, aku terus menemani agenda belanja Yuu.
"Setelah puas berbelanja banyak, perut saya jadi merasa lapar, ya."
Tepat di saat seluruh barang yang sekiranya diperlukan selesai dibeli, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat belas lewat. Kami pun memutuskan untuk melangkah menuju ke kawasan lantai restoran demi menyantap makan siang yang terhitung agak sedikit terlambat.
"Kalau terus-menerus berjalan berkeliling sebanyak itu, wajar saja kalau perutmu jadi lapar......"
Untaian kalimat yang menyiratkan separuh rasa heran itu spontan lolos dari mulutku murni karena saat ini kedua belah tanganku sudah penuh sesak terisi oleh jajaran kantong belanjaan.
Setelah momen di toko baju tadi, Yuu benar-benar menjelajahi seisi mal dengan antusiasme tinggi yang seolah-olah sanggup melibas seluruh toko pakaian hingga toko pernak-pernik yang ada di sana. Kalau hanya sebatas melihat-lihat saja sih aku tidak keberatan, tapi dia berulang kali bolak-balik sembari berkata, "Aku ingin melihat-lihat toko yang tadi sekali lagi, deh".
Ya, tapi melihat bagaimana Yuu yang tampak sangat menikmati momen tersebut, aku rasa hal itu sama sekali tidak masalah.
"Anu...... kawasan lantai restoran ada di lantai tiga belas dan empat belas, ya."
Yuu mengonfirmasi posisinya sembari menatap ke arah papan denah panduan lantai.
"Apakah ada jenis hidangan tertentu yang sedang ingin kamu santap?"
"Saya tidak memiliki incaran yang spesifik, sih, tapi saya ingin melihat-lihat berbagai opsi yang ada dulu sebelum menentukan pilihan."
"Kalau begitu, mari kita turun di lantai tiga belas terlebih dahulu. Jika di sana tidak ada toko yang menarik perhatianmu, kita tinggal naik ke lantai empat belas."
"Iya. Mari kita lakukan itu."
Kami pun segera melangkah masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai tiga belas. Begitu melangkah keluar dari dalam lift, atmosfer di sekitar koridor jalan tampak tidak terlalu padat oleh pengunjung, mungkin karena waktu puncak makan siang memang sudah lewat.
Melihat kondisi tersebut, aku bisa bernapas lega karena itu berarti kami tidak perlu menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengantre, sembari kaki kami terus melangkah mengitari area kawasan restoran tersebut. Di tengah-tengah momen saat kami sedang berjalan sembari mengamati jajaran replika makanan (food model) yang dipajang di depan etalase toko, mendadak...
"Kanata-san!"
Yuu yang sudah melangkah lebih dulu untuk mengintip toko di sebelah kami, memanggil namaku sembari melambaikan tangannya.
"Apakah kamu sudah berhasil menemukan jenis hidangan yang ingin kamu makan?"
"Iya!"
Yuu menyahut sembari sepasang bola matanya tampak berbinar cerah menatap lekat ke arah dalam lemari kaca pajangan.
Saat aku ikut melemparkan pandangan mata ke arah ke mana sudut matanya tertuju, di sana tampak dipajang sebuah menu omurice yang terlihat sangat lezat. Tempat ini adalah sebuah kedai jaringan restoran spesialis omurice terkenal yang memiliki beberapa cabang di dalam wilayah ibu kota.
Di tengah sengitnya peta persaingan industri kuliner omurice, restoran populer ini berhasil mempertahankan cinta dari para pelanggannya selama bertahun-tahun berkat keunikan karakteristik hidangan omurice-nya yang khas. Kedai ini bahkan sudah resmi beroperasi sejak aku masih kanak-kanak dulu.
"Hari ini suasana hati saya sedang ingin menyantap omurice."
"Kebetulan aku juga sudah lama tidak memakannya, jadi mari kita makan di sini saja."
Kami pun segera melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam area restoran.
Sesuai perkiraan, seorang pelayan wanita langsung menyambut dan memandu kami masuk tanpa perlu melewati proses mengantre sama sekali. Kami dipandu menuju ke sebuah area meja makan berkapasitas dua orang yang terletak di bagian dalam, dan aku pun segera mengalihkan pandangan mata menatap lemari menu yang tersedia. Meskipun di bagian depan toko tadi sudah dipajang banyak sekali replika omurice, di dalam buku menu ini jajaran hidangannya yang melimpah ruah dimuat dengan jauh lebih lengkap beserta teks penjelasannya masing-masing.
Melihat variasi sebanyak ini sebenarnya berpotensi membuat seseorang menjadi plinplan untuk memilih, namun...
"Yuu, kamu mau pesan yang mana?"
"Saya mau yang ini."
Tampaknya Yuu sudah memantapkan pilihannya sejak pertama kali melihat pajangan di depan toko tadi.
Ujung jarinya bergerak menunjuk ke arah menu paling populer yang bertuliskan, 'Fuwari Soufflé Omurice'. Alasan utama di balik tingginya popularitas dan kedahsyatan cita rasa dari hidangan ini tidak lain terletak pada keunikan teksturnya yang teramat sangat lembut dan empuk. Dengan cara mengocok adonan putih telur hingga mengembang sempurna baru kemudian dicampurkan bersama adonan kuning telur setiap kali ada pesanan masuk sebelum akhirnya dimasak di atas wajan, hidangan ini mampu menyuguhkan sebuah sensasi tekstur unik nan ajaib yang tidak akan bisa dicicipi di tempat lain.
Ditambah lagi, penggunaan krim segar sebagai bumbu rahasianya sukses menambahkan sebuah aksen rasa gurih yang lembut di lidah.
Sebuah mahakarya kuliner yang dijamin akan langsung membuat siapa saja yang pernah mencicipinya ketagihan untuk kembali berkunjung.
"Kalau begitu, aku juga akan memesan menu yang sama dengannya."
Aku memanggil seorang pelayan yang kebetulan sedang melintas di dekat meja kami, lalu segera merampungkan proses pemesanan.
Meskipun kami memesan menu omurice yang sama, namun karena pihak toko memberikan kebebasan untuk memilih jenis sausnya, aku memutuskan untuk memilih saus demi-glace. Sedangkan Yuu memilih saus kecap tomat klasik. Mumpung kami sedang di sini, aku sengaja memesan menu paket komplet yang sudah dilengkapi dengan porsi salad dan hidangan pencuci mulut sekalian. Dan setelah melewatkan waktu menunggu selama kurang lebih lima belas menit...
"Mohon maaf telah membuat Anda menunggu lama, ini pesanannya."
“"Ooh......!"”
Menyaksikan wujud dari hidangan omurice yang baru saja disajikan di hadapan kami, kami berdua spontan kompak melontarkan pekikan kekaguman. Sebab, tepat di detik ketika piring tersebut diletakkan di atas meja makan, hidangan omelet yang bertengger di atasnya tampak bergoyang dengan sangat lembut akibat getaran.
Sebuah menu paket dengan komposisi yang sangat seimbang, di mana di atas chicken rice tampak bertumpuk sebuah omelet yang terlihat teramat sangat lembut, disusul dengan kehadiran porsi salad yang kaya akan warna, serta dilengkapi dengan hidangan puding karamel dengan limpahan saus manis yang menggiurkan di sebelahnya.
Aroma harum yang pekat dari siraman saus demi-glace-nya benar-benar sukses membangkitkan nafsu makan dengan seketika.
“"Selamat makan!"”
Sembari serentak menyuarakan kalimat tersebut, tangan kami segera bergerak mengambil sendok. Pertama-tama, aku berniat untuk menyendok bagian omeletnya saja demi bisa merasakan teksturnya secara murni.
Tepat di detik saat omelet yang sempat bergoyang-goyang di atas sendok itu masuk ke dalam mulutku──sebuah ledakan cita rasa dari kelezatan telur yang pekat, gurihnya mentega, serta kelembutan krim segar seketika langsung menyatu dan meleleh memenuhi seisi rongga mulut.
"Mmm~ hmmm♪"
Yuu menyuarakan sebuah lengkingan kepuasan tanpa kata sembari kedua belah telapak tangannya bergerak menempel di pipinya yang menggembung akibat sibuk mengunyah makanan.
Setelah meresapi kelezatannya selama beberapa saat lalu menelannya secara perlahan, dia mendongakkan kepalanya menatap ke arah langit-langit dengan raut wajah yang dipenuhi oleh rasa takjub yang mendalam.
"Saya rasa...... hari ini, tujuan utama saya dilahirkan ke dunia ini tidak lain adalah demi bisa menyantap hidangan omurice yang luar biasa ini."
"Masa sampai membawa-bawa arti tujuan hidup segala, itu sih terlampau berlebihan namanya."
Meskipun aku spontan melayangkan kalimat retorik tersebut untuk memotong kalimatnya, namun sejujurnya aku sangat bisa memahami bagaimana perasaannya.
Keinginan untuk mengekspresikan kedahsyatan cita rasa ini dengan untaian kalimat pujian setinggi langit pun sebenarnya sama persis seperti apa yang ada di dalam benakku saat ini. Tapi, jika esensi dari tujuan hidup seorang manusia di dunia murni hanya demi menyantap sepiring omurice, rasanya nilai dari sebuah kehidupan jadi terkesan agak sedikit sepele, ya.
Ya, tapi tentu saja aku sama sekali tidak memiliki niat untuk melontarkan pemikiran konyol itu keras-keras hanya demi merusak suasana hatinya yang sedang takjub saat ini.
"Tapi memang tidak salah lagi, hidangan omurice di tempat ini adalah yang nomor satu, ya."
"Apakah Kanata-san sebelumnya sudah pernah menyantap hidangan di tempat ini?"
"Meskipun di cabang yang berbeda, tapi dulu...... di masa-masa saat aku masih aktif berkarier sebagai aktor cilik, aku cukup sering diajak makan ke tempat ini."
Selain bersama dengan kedua orang tuaku sendiri tentunya, sosok yang paling intens membawaku berkunjung ke tempat ini tidak lain adalah Sutradara Rokujou.
"Tiap kali proses syuting selesai lebih cepat dari jadwal, atau di saat proyek film kami resmi rampung. Bahkan di saat aku berhasil menyuguhkan sebuah kualitas akting yang memuaskan, Sutradara Rokujou pasti akan selalu mentraktirku makan di tempat ini sebagai bentuk hadiah penghargaan. Sembari menyantap makanan bersama seperti ini, beliaulah yang mengajariku banyak hal mengenai teknik akting hingga seluk-beluk mengenai bagaimana kondisi di dalam industri hiburan."
"Sutradara Rokujou yang Anda maksud itu...... adalah sosok sutradara yang tempo hari melayangkan tawaran kepada saya untuk tampil di dalam proyek drama, kan?"
"Iya. Beliau adalah sosok orang yang sudah sangat berjasa mengasuh dan membimbingku di masa lalu."
Persis seperti apa yang telah kusampaikan sebelumnya, bagi diriku pribadi, sosok Sutradara Rokujou sudah layaknya seperti figur ayah kedua di dalam hidupku. Jika ayah kandungku adalah sosok orang tua yang melahirkan dan membesarkan fisikku, maka Sutradara Rokujou adalah sosok orang tua yang melahirkan dan membesarkan identitas dari seorang aktor bernama Kanata Souma.
Sampai di tahap itulah kedekatan hubungan kami terjalin, di mana aku di masa lalu benar-benar dirawat dengan sangat baik dan sangat menaruh rasa hormat yang besar kepada sosok Sutradara Rokujou. Namun, mengapa sekarang......
"Kanata-san?"
Mungkin karena aku secara tidak sengaja kembali teringat akan jalinan peristiwa yang terjadi di dalam kantor agensi kemarin. Tanpa kusadari, jemari tanganku yang sedang menggenggam erat gagang sendok tampak mengeras dan bergetar kecil akibat emosi.
"Apakah terjadi sesuatu kepada Anda?"
"Ah, tidak. Sama sekali tidak ada apa-apa, kok."
Ini bukanlah sebuah perkara yang pantas untuk kupikirkan di saat kami sedang melewatkan waktu bersenang-senang bersama seperti ini. Aku berusaha sebisa mungkin memalsukan ketenangan sembari menyunggingkan seulas senyum tipis di wajah.
Setelah momen itu, kami berdua terus menikmati hidangan omurice sembari asyik bertukar obrolan ringan. Menyaksikan bagaimana lahap dan bahagianya Yuu saat menyantap makanan di hadapannya seperti ini, membuatku tersadar bahwa bagaimanapun juga dia tetaplah sesosok anak perempuan yang memiliki pembawaan sifat polos yang sangat sesuai dengan usianya.
Meskipun gurat wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Tachibana Haruka membuatnya terlihat memiliki aura kecantikan dewasa, ditambah lagi dia juga sempat menunjukkan sebuah untaian tekad kokoh yang terlampau berat untuk dipikul oleh ukuran anak seusianya demi bisa menjadi aktris sebagai sosok pengganti bagi kakaknya, namun realitasnya dia tetaplah murni seorang anak perempuan yang baru saja lulus dari bangku sekolah menengah pertama.
Justru karena aku sudah mengetahui betul bagaimana peliknya latar belakang situasi yang menjerat dirinya selama ini, melihat gurat senyuman tanpa dosa yang terpancar di wajahnya saat ini benar-benar sukses membuat hatiku merasa tenang.
Jika diizinkan, aku murni hanya ingin agar Yuu bisa terus mengulas senyuman bahagia seperti ini untuk selamanya.
"......Eh?"
Tepat di saat aku sedang menyantap makanan sembari merenungkan hal tersebut di dalam kepala. Mendadak aku merasakan adanya sebuah tatapan mata yang intens, dan begitu aku mendongakkan kepala, tampak sosok Yuu yang sedang menatap lekat-lekat ke arah piring makananku.
Ada apa, ya...... Apakah ini hanya sekadar perasaan kasat mataku saja, ataukah sepasang bola matanya saat ini memang sedang memancarkan sebuah binar keinginan yang teramat sangat murni seolah-olah sedang mendambakan sesuatu?
“"............"”
Tanpa bisa dicegah, aku dan Yuu pun seketika saling beradu pandang selama beberapa saat.
"Anu...... apakah kamu juga ingin mencicipi bumbu saus demi-glace milikku?"
"Iya!"
Sebuah sahutan jawaban yang teramat sangat bersemangat. Dari seluruh rangkaian interaksi yang kami lewati sejak awal pertemuan kami hingga hari ini, aku berani jamin kalau intonasi suaranya yang barusan adalah yang memiliki tingkat kelantangan nomor satu.
"Kalau kamu mau, ini silakan ambil satu suap──"
"Apakah benar-benar boleh!?"
Yuu langsung memotong kalimatku dengan intonasi menggebu-gebu sembari sedikit mencondongkan badannya ke depan.
Setidaknya, tolong tunggu sampai aku selesai menawarkan pertanyaannya secara komplet dulu baru kamu sahut, dong.
"Ini."
Aku menggeser piring paketku secara perlahan ke arah depan agar dia bisa menjangkaunya dengan mudah. Menyaksikan hal itu, Yuu segera menyuarakan kalimat terima kasih sembari jemari tangannya bergerak menyendok porsi omurice-ku lalu melahapnya ke dalam mulut.
"......Wah, iya. Saus demi-glace-nya juga terasa sangat lezat, ya!"
Melihat ulasan senyuman puas yang merekah di wajahnya tentu saja merupakan sebuah pemandangan yang bagus, namun masalahnya tidak berhenti sampai di situ.
"Ini. Kanata-san juga silakan cicipi satu suap milik saya."
Yuu menyendok seporsi omurice miliknya sendiri, lalu menyodorkannya tepat di depan bibirku.
"Anu...... tindakan apa yang sedang kamu lakukan sekarang ini?"
"Ini adalah bentuk aksi balas budi karena Kanata-san sudah bersedia membagi satu suap milik Anda kepada saya tadi."
"Aku sangat menghargai niat baikmu, tapi......"
Mengapa metodenya harus menggunakan sendok pribadimu sendiri untuk menyuapiku seperti ini?
Padahal, jika dia meniru metode yang kulakukan tadi dengan cara menggeser piringnya ke arahku, aku kan bisa menyendoknya sendiri dengan menggunakan sendokku, lagipula jarak di antara posisi duduk kami juga tidak sejauh itu sampai-sampai tanganku tidak bisa menjangkaunya, jadi dia tinggal bilang 'silakan' saja maka aku bisa mengambilnya sendiri dengan mudah. Namun, di sepanjang waktu saat aku sedang sibuk menimbang logika tersebut di dalam kepala, Yuu terus bergeming sembari memamerkan ulasan senyuman manisnya menunggu sampai aku mau melahap suapan tersebut.
"......Terima kasih."
Tindakan menyuapi ini pun aku rasa lahir murni sebagai bentuk ekspresi rasa terima kasih yang tulus dari dalam lubuk hati Yuu. Merasa tidak enak jika harus merusak suasana hatinya yang sedang bagus, aku pun akhirnya memilih pasrah dan diam-diam melahap suapan tersebut.
"Bagaimana bagaimana, bagaimana rasanya?"
"Ah, iya. Saus kecap tomatnya benar-benar menyuguhkan cita rasa klasik yang sangat kuat dan lezat."
"Mumpung kesempatannya sedang bagus, mari kita saling bertukar satu suap lagi!"
Aksi saling menyuapi makanan yang sedang kami lakukan di ruang publik tanpa memedulikan pandangan orang-orang di sekitar saat ini benar-benar sudah mutlak menyerupai kelakuan dari sepasang kekasih bodoh yang sedang dimabuk cinta.
Ya, tapi karena Yuu terlihat sangat puas dan bahagia saat melakukannya, jadi kuputuskan untuk membiarkannya saja, sih...... Meskipun akibat dari tindakan tersebut, aku bisa merasakan adanya jajaran tatapan mata dari para pelayan toko yang sedang mengawasi kami dari kejauhan dengan raut wajah yang tampak gemas bercampur geli karena suasana restoran kebetulan sudah lengang akibat jam sibuk makan siang yang telah lewat, dan jujur saja situasi ini rasanya canggung sekaligus memalukan setengah mati bagiku.
Sebagai informasi tambahan, alasan mengapa aku sama sekali tidak pernah menyentuh menu omurice yang notabene merupakan salah satu dari 'Tiga Menu Hidangan yang Paling Sering Dikuasai oleh Pria yang Tinggal Sendirian' seperti yang sempat kuceritakan sebelumnya, tidak lain adalah karena aku merasa kualitas masakanku tidak akan pernah memiliki peluang untuk bisa menang melawan kedahsyatan cita rasa dari hidangan omurice milik kedai ini.
Hingga akhirnya, di saat kami sedang bersantai menikmati sisa waktu pascamakan sembari memegang segelas minuman di tangan masing-masing.
"Bolehkah aku menanyakan satu hal kepadamu?"
"Iya. Mau bertanya tentang apa?"
"Mengenai masalah yang terjadi setelahnya, bagaimana kondisi situasi di sekolahmu saat ini?"
Meskipun pertanyaan tersebut adalah sebuah perkara yang sudah terus-menerus mengusik pikiranku sejak tempo hari, namun mengingat duduk perkaranya yang teramat sangat sensitif, aku selalu melewatkan momentum yang pas untuk menanyakannya. Berangkat dari pemikiran bahwa atmosfer obrolan kami saat ini sedang terasa sangat menyenangkan, aku rasa aku bisa menanyakannya sekarang tanpa perlu memicu kesan obrolan yang terkesan berat.
"Berkat bantuan dari Kanata-san, sejauh ini saya bisa melewatkan waktu di sana dengan tanpa adanya kendala yang berarti."
"Begitu, ya...... Syukurlah kalau begitu."
Mendengarkan jawaban lugas dari mulut Yuu membuat seulas napas lega spontan lolos dari tenggorokanku.
"Tentu saja situasinya tidak seindah sampai di tahap di mana saya bisa langsung mendapatkan teman baru, dan saya pribadi pun sadar kalau keberadaan diri saya saat ini masih dianggap layaknya seperti sesosok 'benda tajam' yang dihindari oleh teman-teman sekelas. Namun, hanya dengan hilangnya jajaran aksi perundungan di sana saja sudah sangat membuat pola kehidupan saya di sekolah menjadi jauh lebih mudah untuk dijalani."
Jika harus mengutarakan skenario yang paling ideal, aku murni ingin agar dia bisa mendapatkan teman dekat dan menikmati masa-masa muda yang indah layaknya seperti siswi SMA normal pada umumnya. Namun, mengingat jalinan peristiwa buruk yang menimpanya baru saja mereda kemarin sore, aku sangat tahu betul bahwa mengharapkan perubahan instan yang seindah itu tentu saja merupakan hal yang sulit untuk diwujudkan saat ini.
Untuk saat ini, fakta bahwa situasinya sudah berhasil mengalami sebuah grafik perubahan ke arah yang jauh lebih baik saja sudah patut untuk disyukuri.
"Akan tetapi...... saat ini sebenarnya saya sedang berada di dalam sebuah dilema."
"Berada di dalam dilema?"
Yuu melayangkan pandangan matanya ke arah bawah menatap lekat ke arah gelas yang sedang dipegangnya.
"Meskipun saya tahu tindakan ini terkesan sangat tidak tahu diri dan kurang ajar karena Kanata-san sudah bersusah payah mengusahakan segala cara agar saya bisa kembali bersekolah dengan tenang...... namun jika harus jujur mengekspresikan apa yang ada di dalam lubuk hati saya, seandainya saya memang memiliki sisa waktu yang dialokasikan untuk pergi bersekolah, saya justru ingin memanfaatkan seluruh waktu tersebut demi fokus mempelajari ilmu akting agar bisa menjadi seorang aktris. Sebab, tanpa terasa sudah satu setengah bulan lamanya waktu berlalu sejak pertama kali saya bertemu dengan Kanata-san......"
Batas waktu toleransi yang diberikan oleh sutradara kepada kami adalah 2 tahun.
Tepatnya sampai usia Yuu menginjak 18 tahun, sebuah angka usia yang sama persis dengan karakter adik perempuan yang ada di dalam proyek drama 'Zoku Kimi'.
Aku sangat bisa memahami bagaimana besarnya rasa tidak sabar dan kecemasan yang berkecamuk di dalam hatinya hingga membuat dia merasa bahwa waktu yang dihabiskan untuk pergi ke sekolah adalah sebuah tindakan yang sia-sia. Akan tetapi──
"Justru jika tujuan utamamu adalah ingin menjadi seorang aktris, kamu malah harus tetap berkomitmen untuk menempuh pendidikan di bangku SMA."
"Malah harus...... maksudnya bagaimana?"
"Modal paling krusial yang harus dimiliki oleh seorang aktor adalah jajaran pengalaman hidup. Sama halnya seperti seorang pelukis yang tidak akan pernah bisa melukis sebuah wujud bunga yang tidak pernah diketahuinya, seorang aktor pun tidak akan pernah bisa mengekspresikan sebuah emosi yang tidak pernah dirasakannya sendiri di dalam hidup. Ada sebuah pepatah di dunia hiburan yang berbunyi bahwa seluruh rekam jejak perjalanan hidup dari seorang aktor akan bertransformasi menjadi pupuk yang menyuburkan kualitas seninya, dan untaian kalimat itu murni merupakan sebuah kebenaran yang mutlak. Jika ingin menggunakan analogi yang paling mudah untuk dipahami, seseorang yang tidak pernah mencicipi bagaimana rasanya duduk di bangku sekolah tidak akan pernah bisa membawakan peran sebagai seorang anak SMA dengan baik."
Tentu saja seseorang tetap bisa memainkannya hanya dengan mengandalkan modal daya imajinasi semata, namun kualitas akting yang dihasilkan dipastikan akan terasa sangat hambar karena absennya elemen realitas di dalamnya.
Mendengar seratus kali tentu tidak akan pernah bisa menandingi pembuktian dari melihat satu kali secara langsung, sebab ada sebuah dinding pembatas yang teramat sangat tebal dan tidak akan pernah bisa diseberangi hanya dengan mengandalkan modal imajinasi tanpa adanya jajaran pengalaman konkret.
"Aku minta maaf jika kalimatku ini terkesan seperti membuka kembali luka lama, namun saat seseorang dihadapkan pada sebuah tuntutan untuk membawakan peran sebagai korban perundungan, hasil akhir yang disuguhkan oleh aktor yang memiliki rekam jejak pengalaman pernah dirundung di masa lalu dengan aktor yang sama sekali tidak pernah merasakannya dipastikan akan memunculkan sebuah jurang perbedaan kualitas akting yang teramat sangat masif. Aku sama sekali tidak memiliki niat untuk menyuruhmu menyikapi peristiwa perundungan itu sebagai sebuah memori yang positif, namun jika kamu memang berniat untuk menapaki jalan sebagai seorang aktor, jalinan peristiwa itu murni merupakan sebuah modal pengalaman yang teramat sangat berharga."
"Sebuah pengalaman yang...... berharga, ya."
"Ada banyak sekali tipe dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang aktor di dunia ini. Aku tidak memiliki niat untuk menjabarkan seluruh teorinya secara mendetail kepadamu saat ini, namun satu-satunya benang merah yang berlaku mutlak bagi seluruh tipe aktor tersebut tidak lain adalah fakta bahwa setiap jalinan pengalaman hidup yang dialami oleh sang aktor akan bertransformasi menjadi sebuah harta kekayaan yang teramat sangat berharga bagi kualitas seninya. Aku sangat bisa memahami bagaimana besarnya rasa tidak sabar yang menggelayuti hatimu demi bisa segera menjadi aktris, namun jika kamu memang benar-benar serius ingin mengejar impian tersebut, setidaknya luangkanlah waktumu untuk merasakan bagaimana rasanya menikmati masa muda yang normal seperti anak-anak lainnya."
Begitu aku selesai berbicara, Yuu menyahut dengan kalimat, "Baik, saya mengerti," sembari menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Namun saat dia kembali mendongakkan kepalanya, entah mengapa seulas senyuman yang tampak sangat bahagia justru merekah di wajahnya.
"Ada yang salah?"
"Bukankah sebelumnya Kanata-san sempat bilang kalau Anda sama sekali tidak memiliki niat untuk mengajari saya teknik akting?"
Tepat di detik ketika untaian kalimat itu lolos dari mulutnya, sebuah alarm tanda bahaya langsung berbunyi di dalam kepalaku sembari aku membatin, 'Gawat, aku keceplosan', namun segalanya sudah terlambat.
"Bukan begitu...... Perkara sepele seperti ini sama sekali tidak bisa dikategorikan sebagai sebuah proses belajar-mengajar, tahu."
Meskipun aku refleks melayangkan argumen sanggahan tersebut dengan cepat, namun realitasnya kalimat itu tidak lebih dari sekadar sebuah alasan pembelaan belaka.
Mengapa bisa begini, ya...... Padahal di dalam lubuk hati terdalam aku sudah memantapkan tekad yang begitu kuat untuk tidak akan pernah membiarkan anak ini terjun menjadi seorang aktris, namun tanpa sadar aku justru malah memberikan wejangan yang berharga untuk menunjang kariernya. Aku benar-benar tidak mampu menyembunyikan rasa terkejut atas tindakan bodoh yang baru saja kuperbuat sendiri.
"Baiklah, saya mengerti. Anggap saja duduk perkaranya memang seperti yang Kanata-san katakan tadi, ya."
Berbanding terbalik dengan kondisiku yang sedang panik kelabakan demi mengalihkan pembicaraan, Yuu justru terlihat memancarkan raut wajah yang teramat sangat puas.
Setelah momen tersebut berlalu, kami segera menitipkan seluruh jajaran barang belanjaan yang telah kami beli ke dalam loker penitipan barang yang ada di stasiun, lalu kembali melanjutkan agenda untuk berjalan-jalan santai mengitari area kawasan kota.
Kami menyempatkan diri untuk mampir mengintip ke dalam setiap toko menarik yang kami temukan di sepanjang jalan, mengisi perut yang mulai terasa agak keroncongan di sebuah kedai crepe yang tidak sengaja kami jumpai, serta meluangkan waktu sejenak untuk beristirahat di sebuah kafe sembari menikmati segelas minuman di tangan masing-masing saat kaki kami mulai terasa lelah setelah terus-menerus berjalan. Tanpa terasa sang surya sudah mulai bergerak turun ke arah ufuk barat, mengisyaratkan sebuah tanda bahwa waktu luang kami sudah hampir habis dan kami harus segera bersiap-siap untuk pulang ke rumah.
Menghabiskan waktu seharian penuh murni hanya untuk bermain-main sepuasnya seperti ini, mungkin merupakan sebuah pengalaman berharga yang baru pertama kali kurasakan di sepanjang lembaran hidupku selama ini.
"Hari ini benar-benar terasa sangat menyenangkan sekali! Terima kasih banyak, ya!"
Yuu yang sejak tadi masih tetap setia menggenggam erat telapak tanganku tanpa ada niat untuk melepaskannya sedikit pun, menyuarakan untaian kalimat terima kasih tersebut dengan pameran senyuman lebar yang teramat sangat cerah di wajahnya.
Menyaksikan pancaran kebahagiaan dari gurat senyumannya itu, membuatku tanpa sadar ikut terhanyut dan menyunggingkan senyuman yang sama.
"Iya, kamu benar. Aku pribadi pun juga merasa sangat menikmati momen hari ini, kok."
"Apakah benar begitu? Kalau begitu, maukah ke depannya Kanata-san bersedia untuk menemani saya pergi berjalan-jalan bersama lagi?"
"Tentu saja. Meskipun di saat akhir pekan aku lebih sering disibukkan oleh jadwal pekerjaan agensi, namun jika kebetulan sedang mendapati hari libur, aku pasti akan bersedia untuk menemanimu pergi."
"Terima kasih banyak, ya! Kanata-san sudah berjanji, lho."
Melihat bagaimana besarnya pancaran kebahagiaan yang ditunjukkannya seperti ini, membuatku berpikir bahwa aku tidak akan keberatan jika harus terus menemani agenda jalannya setiap kali aku mendapati hari libur kerja. Meskipun jika dipikir-pikir kembali, apakah perubahan sikap yang kutunjukkan saat ini terkesan sudah terlampau drastis jika dibandingkan dengan diriku yang sebelumnya?
"Kebetulan hari Sabtu depan jadwal pekerjaanku sedang libur, jadi jika kamu mau, bagaimana kalau kita pergi mengunjungi suatu tempat bersama lagi?"
"Hari Sabtu, ya──?"
Tepat setelah Yuu sempat melayangkan sebuah lengkingan suara yang terdengar sangat gembira, raut wajahnya seketika langsung berubah menjadi mendung sembari kedua belah bahunya tampak merosot turun dengan lemas.
Sebuah grafik perubahan emosi yang teramat sangat ekstrem, di mana kondisinya benar-benar terlihat persis seperti seseorang yang mendadak dilemparkan jatuh dari atas langit tertinggi menuju ke dalam dasar neraka terpekat dalam sekejap mata.
"Mohon maaf, ya...... Di hari Sabtu besok kebetulan saya sudah terlanjur memiliki sebuah agenda kegiatan yang lain."
"Ah, begitu, ya. Tidak apa-apa, kok. Nanti jika jadwal hari liburku yang berikutnya sudah resmi keluar lagi, aku akan segera memberi tahumu, ya."
"Aku benar-benar minta maaf."
Sembari melayangkan untaian kalimat lembut demi menenangkan suasana hatinya yang tampak dirundung rasa bersalah, aku mulai mengayunkan langkah kaki membimbingnya berjalan menuju ke arah stasiun kereta.
Sepertinya besok aku harus meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan Direktur Igarashi mengenai penyesuaian jadwal hari kerjaku, deh.



Post a Comment