Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 5
Awal Hubungan Guru dan Murid
Beberapa hari setelah pergi berbelanja bersama Yuu.
"Mohon maaf, ya. Saya jadi menyita waktu Ema-san lagi."
"Sama sekali tidak apa-apa, kok. Hari ini kebetulan aku sedang tidak ada agenda kegiatan apa pun, jadi tidak usah terlalu dipikirkan, ya."
Dalam perjalanan pulang kerja, aku dan Ema-san menyempatkan diri untuk mampir berdua ke kedai kopi langganan kami.
"Kalau kamu mendadak mengajakku ke tempat ini, tujuannya pasti ingin membahas perkara mengenai Yuu-chan lagi, kan?"
Sesuai dengan tebakan Ema-san, alasan utamaku mengajaknya bertemu hari ini memang murni karena ada suatu hal mengenai situasi Yuu yang ingin kukonsultasikan dengannya. Tanpa disadari, pergi ke kedai kopi ini setiap kali ingin membahas perkara mengenai Yuu tampaknya sudah resmi bertransformasi menjadi sebuah rutinitas bagi kami berdua.
"Jadi, perkara apa yang ingin kamu konsultasikan hari ini?"
"Sebenarnya baru-baru ini, Yuu sering sekali pulang terlambat ke rumah."
"Sering pulang terlambat?"
Tidak, jika dipikir-pikir kembali...... fenomena ini sebenarnya bukan baru terjadi akhir-akhir ini saja.
Sekarang setelah kurenungkan kembali, tepat di hari saat Ema-san berkunjung ke apartemenku tempo hari pun, waktu kepulangan Yuu ke rumah terhitung sudah cukup larut.
"Pada awalnya, aku sempat mengira kalau dia mungkin hanya sebatas mampir bermain di suatu tempat dalam perjalanan pulang sekolah. Namun karena situasi semacam itu terus berlanjut selama beberapa waktu...... aku bermaksud untuk menanyakan bagaimana kondisinya saat Yuu masih dirawat di kamar Ema-san dulu."
Ema-san tampak menempelkan jemari tangannya di dagu sembari melemparkan pandangan mata ke arah atas secara perlahan.
"Kalau diingat-ingat kembali, dulu memang ada beberapa hari di mana dia baru pulang ke kamar saat hari sudah larut, sih."
"Ternyata dugaan saya benar, ya......"
Jika situasinya memang demikian, berarti perkara ini bukanlah sebuah masalah yang baru terjadi kemarin sore.
Setidaknya, kebiasaan tersebut dipastikan sudah berlangsung sejak kurang lebih dua minggu yang lalu.
"Saya pribadi sebenarnya sama sekali tidak memiliki niat untuk mengusik ranah privasi milik Yuu. Namun, mengingat statusnya yang merupakan seorang anak gadis kelas satu SMA, membiarkannya terus-menerus pulang larut malam tentu saja membuatku selaku pihak yang tinggal bersamanya tidak bisa untuk tidak merasa cemas. Meskipun begitu, andai aku nekat menanyakannya secara langsung mengenai apa yang dilakukannya di luar sana, aku merasa dia tidak akan sudi untuk memberikan jawaban yang jujur."
Sebab seandainya dia memang memiliki niat untuk berterus terang, dia dipastikan sudah memberi tahuku terlebih dahulu sejak awal.
Setidaknya, aku memiliki rasa percaya diri yang cukup besar bahwa hubungan kedekatan yang terjalin di antara diriku dan Yuu saat ini sudah sedalam itu.
"Apakah itu berarti dia sedang menyembunyikan suatu perkara yang teramat sangat sulit untuk diutarakan kepadamu, Kanata-kun?"
"Besar kemungkinan memang begitu."
“"Emmm......"”
Kami berdua pun kompak menyuarakan lengkingan kebimbangan dengan raut wajah yang sama-sama tampak didera oleh rasa bingung. Dan tepat di saat kami sedang sibuk memutar otak sembari memegang gelas minuman di tangan masing-masing, mendadak...
"......Ah, benar juga!"
Ema-san mendadak menaikkan intonasi suaranya seolah-olah baru saja mendapatkan sebuah kilasan inspirasi yang brilian.
"Aku baru saja memikirkan sebuah metode yang sangat bagus, lho."
"Tolong beri tahu saya bagaimana metodenya."
"Akan tetapi, agar rencana ini bisa berjalan mulus, kita harus bisa memastikan terlebih dahulu kapan jadwal tepatnya di saat Yuu-chan dipastikan akan pergi keluar rumah."
"Jadwal pasti saat dia pergi keluar rumah, ya...... Kalau untuk urusan itu, kemarin dia sempat bilang kalau di hari Sabtu besok dia ada agenda kegiatan di luar. Kebetulan di hari Sabtu besok jadwal pekerjaan agensi milikku dan Ema-san sedang libur, dan aku pribadi pun tidak memiliki rencana kegiatan apa pun. Jadi rencana ini bisa dibilang sangat aman asalkan Ema-san bersedia meluangkan waktu saja."
"Kebetulan jadwalku di hari Sabtu besok juga sedang luang, jadi tidak ada masalah, kok. Mari kita eksekusi rencananya di hari itu, ya!"
Meskipun aku merasa lega karena penentuan tanggal eksekusinya bisa berjalan dengan sangat mulus dan lancar, namun...
"Lantas, secara konkret apa yang akan kita lakukan nanti?"
"Mengenai detailnya, silakan dinantikan saja saat hari H nanti, ya♪"
Tepat setelah mengutarakan untaian kalimat tersebut, Ema-san tampak memamerkan seulas senyuman misterius yang sarat akan makna terselubung.
Entah mengapa aku mendadak merasakan adanya sebuah firasat buruk yang mengusik benak, namun kuputuskan untuk menganggap bahwa aku murni hanya sedang terlalu banyak pikiran saja.
"Karena tanggalnya sudah resmi diketuk, mari kita langsung susun jadwal untuk hari H nanti──Waktu kumpul kita ditetapkan pukul delapan pagi, lokasinya tepat di depan area stasiun kereta lokal di dekat rumahmu, Kanata-kun. Oh, satu lagi, aku akan sangat merasa senang jika kamu mau datang dengan mengenakan pakaian yang modis hari itu nanti."
"Mengenakan pakaian yang modis, ya...... Baik, saya mengerti."
Ema-san tampak bersenandung kecil dengan suasana hati yang terlihat teramat sangat riang.
Apakah ini hanya perasaan kasat mataku saja, ataukah tingkat antusiasme yang dipancarkannya saat ini memang terasa agak terlampau tinggi dari biasanya? Ditambah lagi, mengapa dia sampai harus repot-repot memberikan instruksi spesifik agar aku datang dengan mengenakan pakaian yang modis segala, ya?
Meskipun ada banyak sekali butir pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepala, namun mengingat status diriku di sini adalah pihak yang sedang meminta bantuannya, aku tentu saja tidak berada di posisi yang pantas untuk melayangkan keluhan.
『Akhir pekan...... bersama idola...... kencan!』
Meskipun Ema-san sempat terlihat menggumamkan suatu kalimat misterius yang serupa seperti biasanya, namun karena atmosfer di sekitar kami kebetulan sedang sangat bising oleh obrolan seputar percintaan yang menggebu-gebu dari gerombolan siswi SMA yang duduk di meja sebelah, aku sama sekali tidak mampu menangkap apa isi kalimat yang diucapkannya tersebut dengan jelas.
*
Hingga akhirnya, tibalah momentum hari Sabtu pagi tepat pukul 8. Saat ini aku sedang melewatkan waktu sarapan bersama Ema-san di dalam sebuah kedai restoran cepat saji yang terletak di depan stasiun.
"......Boleh saya tahu mengapa kita harus melewatkan waktu pagi-pagi sekali dengan menyantap burger berdua seperti ini?"
"Pertanyaanmu itu lucu sekali, deh. Bukankah ada sebuah pepatah kuno yang berbunyi bahwa seseorang tidak akan pernah bisa melakukan aksi pembuntutan dengan baik jika perutnya berada di dalam kondisi yang keroncongan?"
"Jika merujuk pada pepatah aslinya, bukankah frasa yang digunakan itu adalah pergi berperan, bukan...... tunggu, aksi pembuntutan?"
Ema-san memberikan sebuah anggukan kepala tanda konfirmasi sembari jemarinya bergerak mengambil sebatang kentang goreng.
"Jika kita diam-diam mengekor di belakang Yuu-chan, kita dipastikan akan langsung bisa mengetahui apa alasan utama yang membuat waktu kepulangannya selalu terlambat selama ini, bukan?"
"Metode yang Ema-san katakan itu memang tidak salah lagi merupakan cara yang paling akurat untuk membuktikannya, sih. Namun tetap saja......"
Tindakan mengintai ranah privasi orang lain secara diam-diam seperti ini bagaimanapun juga tetap membuatku merasa agak sedikit sungkan dan tidak nyaman.
Akibat didera oleh rasa gejolak batin dan rasa bersalah yang berkecamuk di dalam dada, gerakan tanganku yang baru saja ingin menyuapkan burger ke dalam mulut bahkan sampai terhenti seketika di udara.
"Aku sangat bisa memahami bagaimana perasaanmu, Kanata-kun. Namun untuk saat ini, mari kita kesampingkan dulu ego tersebut dan fokus memosisikan diri sebagai sosok wali pelindung yang bertanggung jawab atas keselamatan Yuu-chan. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menakut-nakuti dirimu, ya, namun seandainya di luar sana dia sampai terjerumus ke dalam suatu pusaran masalah yang berbahaya, penyesalan kita dipastikan tidak akan pernah bisa mengembalikan keadaan lagi, bukan?"
"Iya, Anda benar."
Apa yang diutarakan oleh Ema-san murni merupakan sebuah realitas yang tidak terbantahkan.
Aku pun mencoba untuk menasihati diriku sendiri agar mau menerima fakta bahwa tindakan pembuntutan ini adalah sebuah perkara krusial yang memang mutlak diperlukan demi kebaikan Yuu.
"Apakah kemarin Yuu-chan sempat memberi tahu perkiraan jam berapa dia akan beranjak keluar dari apartemen?"
"Tidak. Namun di saat aku bersiap-siap pergi meninggalkan rumah tadi, dia terlihat masih mengenakan pakaian piyamanya."
"Kalau begitu berarti kita masih memiliki banyak sisa waktu yang longgar, jadi mari kita nikmati saja agenda sarapan pagi ini dengan santai."
Setelah obrolan tersebut, kami berdua melanjutkan sesi sarapan sembari asyik bertukar berbagai cerita ringan yang mengalir apa adanya.
Mulai dari seputar bagaimana kondisi kehidupan perkuliahan di universitas tempat Ema-san bernaung, hingga kisah seputar sekolah menengah atas tempatku belajar saat ini. Mengingat status diriku saat ini sudah menginjak bangku kelas tiga SMA, Ema-san bahkan sempat berbaik hati untuk memberikan beberapa wejangan dan konsultasi seputar rencana karier masa depanku selanjutnya.
Meskipun relasi hubungan yang terjalin di antara diriku dan Ema-san selama ini murni hanya sebatas rekan kerja profesional tanpa adanya keterlibatan dalam ranah kehidupan pribadi sama sekali, namun semenjak adanya momentum untuk mendiskusikan perkara mengenai masalah Yuu belakangan ini, intensitas obrolan kami menjadi semakin meningkat pesat, yang mana hal itu otomatis memberikan sebuah kesempatan berharga bagiku untuk bisa mengenal sisi-sisi unik dari kepribadian Ema-san yang belum pernah kuketahui sebelumnya.
Aku menjadi tersadar secara nyata bahwa meskipun kami sudah saling mengenal dalam kurun waktu yang terhitung cukup lama, ternyata masih ada banyak sekali detail informasi mengenai dirinya yang belum berhasil kuketahui selama ini.
Sembari membatin bahwa meluangkan waktu santai untuk mengobrol seperti ini sesekali adalah sebuah perkara yang penting, di sisi lain aku tidak bisa membohongi fakta bahwa menyantap menu paket burger lengkap dengan porsi kentang goreng di pagi hari seperti ini terasa sangat berat untuk dicerna oleh kapasitas lambungku. Dan tepat di saat aku sedang sibuk mengoper sisa porsi kentang gorengku yang tidak habis ke dalam nampan milik Ema-san, mendadak...
"Kanata-kun, target sudah bergerak!"
Ema-san langsung melahap sisa kentang goreng yang ada di tangannya secara sekaligus, lalu beranjak bangkit berdiri dari kursi sembari merapikan nampan makanan kami.
Begitu aku mengalihkan pandangan mata mengikuti ke arah mana sudut matanya sedang membidik, di sana tampak sosok Yuu yang sedang melangkah berjalan menuju ke arah area stasiun kereta. Kami berdua pun bergegas melangkah cepat untuk keluar meninggalkan area kedai restoran cepat saji tersebut.
"Kalau begitu, mari kita mulai aksinya."
"Baik──eh, tunggu?"
Tepat di detik ketika kami baru saja ingin memulai aksi pembuntutan, Ema-san secara tidak terduga mendadak mengulurkan kedua belah tangannya demi melingkarkan lengannya erat-erat ke arah lenganku.
"Anu...... bukankah agenda kita hari ini adalah untuk melakukan aksi pembuntutan?"
"Tentu saja iya. Memangnya ada masalah?"
"Bukan masalah yang bagaimana-bagaimana, sih...... Tapi kalau posisinya seperti ini, bukankah pergerakan jalan kita jadi terasa agak sedikit sulit?"
Akibat dari aksi gandengan tangan yang dilayangkannya tersebut, posisi tubuh kami otomatis menjadi menempel dengan sangat rapat satu sama lain, yang mana hal itu membuat pergerakan langkah kakiku menjadi terasa agak kurang leluasa saat berjalan. Dan seandainya kendala yang ditimbulkannya murni hanya sebatas masalah sulit berjalan saja sih mungkin aku masih bisa menahannya dengan mudah.
Namun, aroma keharuman manis yang khas dari seorang wanita yang mendadak menguar menggelitik penciumanku, ditambah lagi dengan adanya sensasi kelembutan fisik yang terasa nyata menyentuh bagian siku tanganku, benar-benar sukses membuat alam kesadaranku menjadi terdistraksi hebat dan memicu kesulitan dalam arti kata yang lain bagi diriku.
Tampaknya Ema-san termasuk ke dalam kategori tipe wanita yang terlihat langsing dari luar namun sebenarnya berisi.
"Kalau mau melakukan aksi pembuntutan, bukankah dengan berpura-pura menjadi sepasang kekasih yang sedang berkencan akan membuat pergerakan kita jadi lebih aman dan tidak mudah dicurigai, kan?"
"Ah, benar juga, ya......"
Meskipun aku sempat dibuat kebingungan saat mendengarkan instruksinya yang meminta agar aku datang dengan mengenakan pakaian modis kemarin, namun setelah mendengarkan alasannya hari ini, aku bisa memahaminya dengan sangat logis.
Bicara soal pakaian, gaya busana yang dikenakan oleh Ema-san hari ini mengusung tema konsep feminin yang sejuk untuk menyambut awal datangnya musim panas.
Sebuah perpaduan gaya yang sangat elegan, di mana dia memadukan atasan berbahan sifon warna krem berdesain semi-transparan yang anggun, dengan bawahan rok panjang bermotif bunga. Aksen motif bunga-bunga kecil yang tersemat pada roknya sukses mengekspresikan gurat keimutan yang pas tanpa memunculkan kesan yang berlebihan.
Gaya rambutnya yang biasanya selalu diikat rapi selama jam kerja pun kini sengaja digerai bebas demi menyesuaikan dengan tema busananya hari ini, dan itu terlihat sangat menawan.
"Sekarang saya bisa paham sepenuhnya mengapa Ema-san sampai bersusah payah berpenampilan secantik ini hari ini."
"B-Benarkah? Apakah menurutmu pakaian ini terlihat cocok untukku......?"
"Iya. Saya rasa penampilan Anda terlihat sangat anggun dan dewasa."
"A-Ah, terima kasih banyak, ya......"
Ema-san menyahut sembari menundukkan wajahnya perlahan dengan gelagat yang tampak tersipu malu.
"Mendengar kamu memujinya seperti itu, rasanya kerja kerasku yang sampai pusing memilih baju kemarin jadi terasa sangat sepadan, deh......"
"Seandainya sejak awal saya tahu kalau konsepnya akan seperti ini, saya pasti akan menyamakan kombinasi warna pakaian saya agar kita bisa terlihat seperti sepasang kekasih sungguhan (couple look)."
"T-Tapi penampilan Kanata-kun hari ini juga sudah terlihat sangat tampan sekali, kok, jadi tidak ada masalah sama sekali, lho......"
"Ah, i-iya, terima kasih banyak, ya......"
Sesuai dugaan, momen di saat kami harus saling melayangkan pujian secara blak-blakan dengan beradu pandang langsung seperti ini benar-benar terasa sangat memicu rasa canggung dan salah tingkah.
“"............"”
Sebuah atmosfer keheningan yang mendadak terasa sarat akan nuansa romantis yang manis seketika langsung menyelimuti posisi kami berdua selama beberapa saat.
"K-Kalau begitu, mari kita langsung berangkat sekarang!"
Ema-san menaikkan intonasi suaranya seolah-olah berniat untuk menghempaskan kabut atmosfer romantis berwarna merah muda yang sempat merayapi kami tadi.
Bersamaan dengan itu, jemari tangannya bergerak merogoh tas miliknya demi mengeluarkan sepasang kacamata hitam.
"Meskipun peluang penyamaran kita terendus terhitung sangat kecil, namun tidak ada salahnya jika kita tetap waspada demi berjaga-jaga. Ini, untuk Kanata-kun juga."
"Terima kasih banyak atas segala persiapannya yang teramat sangat matang ini."
Berbekal jajaran atribut itulah, kami berdua akhirnya mulai melangkah pergi untuk mengekor di belakang posisi Yuu sembari terus memosisikan diri layaknya seperti sepasang kekasih yang sedang asyik menikmati momen kencan bersama. Namun, di luar sandiwara peran kami sebagai sepasang kekasih, mengapa tingkat antusiasme dan keceriaan yang ditunjukkan oleh Ema-san hari ini rasanya terlihat agak terlalu menggebu-gebu, ya?
Mengingat Ema-san juga merupakan seorang mantan calon aktris di masa lalu, besar kemungkinan saat ini dia murni sedang terlalu mendalami karakter peran yang dibawakannya saja, sih.
Setelah momen itu berlalu, aksi pembuntutan kami terus berlanjut di mana Yuu tampak melangkah masuk ke dalam gerbong kereta, lalu kembali turun di area stasiun beberapa pemberhentian ke depan untuk melakukan transit berpindah ke jalur maskapai kereta yang lain.
Melewatkan waktu perjalanan selama kurang lebih 15 menit dari titik transit, begitu langkah kakinya menapak keluar meninggalkan area stasiun tujuan, Yuu tampak melangkah masuk ke dalam area gedung pertokoan stasiun demi membeli selembar buku di dalam toko buku yang ada di sana.
Tidak berhenti sampai di situ, dia kembali melanjutkan pergerakannya dengan mengitari area stan jajaran pertokoan dalam gedung demi menikmati agenda melihat-lihat window shopping. Setelahnya, dia bergerak berpindah menuju ke kawasan lantai restoran untuk memesan menu makan siang yang terhitung agak sedikit lebih awal, sembari sepasang bola matanya tampak fokus membaca lembaran buku yang baru saja dibelinya tadi dengan penuh konsentrasi.
Tepat setelah porsi makanannya habis tak bersisa, Yuu beranjak bangkit meninggalkan area kawasan stasiun sekitar pukul 12:30 menit.
Tujuan akhir ke mana langkah kakinya mengarah kali ini adalah sebuah gedung bangunan yang letaknya berada agak sedikit terpisah dari kawasan area stasiun sekitar.
"Tempat ini adalah......"
Tepat setelah mendapati wujud Yuu yang sudah melangkah masuk ke dalam lift, kami berdua pun bergegas menyusul untuk melangkahkan kaki masuk ke dalam area lobi gedung tersebut.
Melihat dari struktur bangunannya, tempat ini murni merupakan sebuah gedung sewa komersial pada umumnya, yang mana tempat semacam ini jelas bukanlah sebuah lokasi yang lazim dikunjungi oleh anak-anak usia gadis SMA zaman sekarang murni hanya untuk melewatkan waktu bermain. Sembari membatin hal tersebut di dalam kepala, aku segera melemparkan pandangan mata menatap jajaran papan daftar nama penyewa gedung yang tertera di dekat area lift demi mencari tahu kebenaran dari duduk perkaranya.
"......Actors School?"
Sesosok pihak yang membacakan untaian nama penyewa yang bertengger di area lantai tiga tersebut tidak lain adalah Ema-san.
Mengingat indikator lampu lift tadi resmi berhenti tepat di area lantai tersebut, maka sudah bisa dipastikan secara mutlak bahwa di sinilah tempat di mana Yuu selama ini diam-diam mengasah bakat aktingnya.
"Apakah itu berarti fakta bahwa Yuu-chan selalu pulang terlambat ke rumah belakangan ini murni karena dia sibuk menghadiri kelas pelatihan di sekolah akting ini, Kanata-kun?"
"Besar kemungkinan memang begitu. Jarak tempuh dari rumah kami menuju ke tempat ini terhitung hanya berkisar tiga puluh menit saja meski harus transit kereta, sehingga lokasinya bisa dibilang sangat strategis untuk dijangkau. Di atas segalanya, stasiun terdekat dari gedung ini kebetulan berada di dalam satu jalur perlintasan yang sama dengan rute perjalanannya menuju ke sekolah SMA khususnya. Jadi jika dia berniat untuk menghadiri kelas pelatihan sepulang sekolah, tempat ini murni merupakan lokasi yang paling sempurna."
"Lantas, langkah apa yang akan kita ambil sekarang, Kanata-kun?"
Untuk saat ini, alasan mendasar yang melatarbelakangi misteri kepulangan Yuu yang selalu larut malam akhirnya sudah berhasil terungkap sepenuhnya.
Pada skenario normal, mengetahui fakta bahwa dia tidak sedang terjerumus ke dalam suatu pusaran masalah yang aneh di luar sana tentu saja sudah sangat cukup untuk membuat hatiku merasa tenang dan memilih untuk langsung pulang. Namun, mengingat esensi dari tempat yang dikunjunginya saat ini adalah sebuah sekolah akting, maka konclusi dari masalahnya otomatis akan menjadi sangat berbeda. Aku tidak bisa begitu saja bersikap abai dan langsung melangkah pulang dengan dalih bersyukur karena kondisinya aman-aman saja.
Akan tetapi, nekat melabrak masuk ke dalam area kelasnya saat ini pun tentu saja merupakan sebuah tindakan yang kurang bijaksana, alhasil aku menjadi didera kebimbangan mengenai langkah apa yang harus kuambil selanjutnya.
"Kanata-kun, coba lihat ke arah sana, deh."
Ema-san mendadak menarik pelan lengan bajuku sembari jemari tangannya bergerak menunjuk ke arah suatu sudut di luar jendela.
Begitu aku melemparkan pandangan mata mengikuti ke arah mana sudut jarinya membidik, tepat di seberang jalan raya di hadapan kami, tampak sebuah kedai kopi yang beroperasi di lantai tiga dari gedung bangunan seberang.
"Jika kita memantau dari dalam kedai tersebut, aku rasa kita akan bisa mengintip bagaimana kondisi situasi yang terjadi di dalam area ruangan kelas mereka dengan cukup jelas, lho."
"Pikiran yang bagus. Mari kita segera pergi ke sana."
Kami pun segera bergegas keluar meninggalkan lobi gedung menuju ke gedung seberang demi menaiki lift untuk menuju ke lantai tiga. Begitu pintu lift terbuka, sebuah pemandangan interior ruang yang sarat akan atmosfer nostalgia bernuansa klasik ala retro zaman Showa seketika langsung terhampar luas menyambut kedatangan kami.
Demi menyelaraskan dengan tema konsep yang diusung oleh pihak kedai, seorang pelayan wanita yang mengenakan seragam pelayan khas zaman dulu langsung menyambut kami dengan ramah sembari berkata, "Silakan pilih posisi tempat duduk yang Anda sukai". Kami pun beruntung karena berhasil mendapatkan posisi area kursi di dekat jendela yang masih kosong, lalu segera mengambil posisi duduk saling berhadapan satu sama lain.
Sesuai dengan prediksi akurat yang dicanangkan oleh Ema-san sebelumnya, dari titik koordinat kursi kami saat ini, kami benar-benar bisa mengintip bagaimana pemandangan proses latihan yang sedang berlangsung di dalam ruangan kelas sekolah akting seberang dengan sangat jelas.
Di dalam sana, tampak sudah ada beberapa anak usia SMP hingga SMA yang diduga merupakan jajaran murid dari sekolah tersebut, namun aku masih belum bisa menangkap di mana keberadaan batang hidung Yuu saat ini.
Tampaknya jadwal dimulainya kelas pelatihan mereka memang masih menyisakan sedikit waktu lagi.
"Meskipun waktunya terhitung sudah agak sedikit terlambat, mari kita manfaatkan momen luang ini untuk sekalian memesan menu makan siang kita."
"Ide yang bagus. Lagipula gara-gara terlalu fokus melakukan aksi pembuntutan tadi, kita jadi melewatkan waktu makan siang kita, kan."
Aku segera membuka lembaran buku menu yang bertumpuk di atas meja lalu mengalihkan pandangan mata ke arah bawah untuk memeriksa jajaran hidangan yang tersedia.
Selaras dengan desain interior ruangannya, buku menu di tempat ini pun didominasi oleh jajaran kuliner klasik yang sangat menggugah rasa nostalgia. Aku memutuskan untuk memesan hidangan Napolitan lengkap dengan segelas es kopi. Sedangkan Ema-san menjatuhkan pilihannya pada menu pancake yang dipadukan dengan segelas Melon Soda, ditambah dengan hidangan Pudding à la Mode sebagai menu pencuci mulutnya.
Sembari melewatkan waktu menunggu sampai jajaran pesanan kami diantarkan ke meja, kami berdua memutuskan untuk memanfaatkan momen ini demi mencari tahu seluk-beluk informasi mengenai sekolah akting seberang tersebut melalui internet.
Berdasarkan hasil penelusuran informasi yang kami temukan melalui mesin pencari di ponsel, tempat ini merupakan sebuah lembaga bimbingan akting yang menyediakan kelas pelatihan baik untuk kalangan pemula yang murni hanya ingin belajar dari dasar, hingga kelas intensif bagi kalangan profesional yang berniat untuk memantapkan karier industri mereka. Rentang usia dari jajaran murid yang terdaftar di dalam lembaga ini pun terhitung sangat bervariasi luas, di mana kelompok usianya membentang mulai dari anak usia taman kanak-kanak hingga kalangan pekerja dewasa.
Sistem metode pembelajaran yang diterapkan oleh pihak lembaga di dalam ruang kelasnya sendiri mengusung konsep format workshop yang dibagi berdasarkan kategori kelompok usia masing-masing.
"Konsep format workshop itu maksudnya bagaimana, ya?"
Ema-san melayangkan pertanyaan tersebut sembari sepasang bola matanya tampak ikut mengamati tampilan situs web yang sedang kubuka di ponsel.
"Jika ingin menjelaskannya dengan menggunakan analogi yang paling sederhana, konsep ini merupakan sebuah wadah pembelajaran di mana para peserta didik dituntut untuk aktif dan mandiri dalam menyerap ilmu."
Melihat raut wajah Ema-san yang tampak masih agak kurang familier dengan istilah tersebut, aku pun berinisiatif untuk menjabarkan teorinya secara lebih mendetail.
"Di dalam penerapannya, jajaran peserta didik akan dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil, lalu mereka akan diminta untuk saling bertukar opini, berdiskusi, dan memecahkan setiap mosi masalah maupun tugas yang diberikan oleh pihak pengajar secara mandiri. Melalui metode berpikir dan berdiskusi secara aktif inilah, tingkat pemahaman dari para murid akan bisa terasah dengan jauh lebih matang dan mendalam. Ditambah lagi, proses interaksi tersebut juga otomatis memberikan sebuah kesempatan bagi mereka untuk bisa bersinggungan langsung dengan pola pikir orang lain, yang mana hal itu murni merupakan sebuah sarana belajar yang sangat bagus. Jadi, alih-alih menggunakan gaya pembelajaran pasif di mana murid hanya duduk diam mendengarkan ceramah dari satu arah saja, metode ini mengedepankan gaya pembelajaran aktif dua arah yang dinamis dari sudut pandang sang murid."
"Ah, begitu, ya...... Ternyata ada banyak sekali variasi format metode yang bisa diterapkan untuk memberikan bimbingan di dunia akting, ya."
Sebagai informasi tambahan, gaya pembelajaran satu arah yang bersifat pasif di mana pihak pengajar memegang kendali penuh untuk menyuapi materi secara mutlak kepada peserta didik biasanya disebut dengan istilah seminar.
Tepat di saat aku baru saja selesai menjabarkan penjelasan tersebut kepada Ema-san, seorang pelayan datang mengantarkan seluruh jajaran menu pesanan kami ke atas meja.
Menyaksikan wujud dari hidangan Napolitan yang menyuguhkan aroma harum pekat dari tumisan saus tomat yang menggugah selera di hadapanku saat ini, membuat nafsu makanku seketika langsung bergejolak hebat hingga tidak bisa ditahan lagi.
Sensasi keriangan yang sama tampaknya juga sedang dirasakan oleh Ema-san yang saat ini sedang memamerkan seulas senyuman manis nan lebar di wajahnya saat menatap ke arah sepiring kue pancake hangat yang baru saja selesai dipanggang di hadapannya. Namun, meski kami kembali melemparkan pandangan mata ke arah dalam ruangan kelas seberang, wujud dari keberadaan Yuu di sana masih belum kunjung menampakkan batangnya hingga saat ini.
"Mumpung makanannya masih hangat, mari kita sege──?"
Sembari mengutarakan untaian kalimat tersebut, aku bermaksud untuk memalingkan kembali pandangan mataku ke arah depan meja, namun aku justru refleks memiringkan kepala karena merasa heran.
Bagaimana tidak, saat ini Ema-san tampak sedang memegang gelas berisi Melon Soda dengan salah satu tangannya, sementara tangan yang satunya lagi tampak terangkat tinggi mengacungkan ponsel demi mengambil foto selfie. Pada tampilan layar kamera depan ponselnya, tampak jelas potret wujud diriku yang sedang ikut terbingkai tepat di samping posisinya berada.
Terlepas dari apa pun alasan yang melatarbelakanginya, melihat dari sudut pengambilan gambar yang dibidiknya, dia dipastikan sedang sengaja mengincar sebuah jepretan foto yang terkesan estetik.
"Apakah Ema-san berniat untuk mengunggah foto tersebut ke media sosial?"
"B-Bukan begitu, kok! Ini sama sekali bukan karena aku mendadak ingin punya foto berdua dengan Kanata-kun, atau karena ingin mengabadikan momen kenangan kencan kita hari ini, ya! Apalagi sampai punya niat terselubung untuk menjadikan foto berdua kita sebagai wallpaper di ponselku, itu benar-benar salah paham besar! Perkara ini murni merupakan sebuah tindakan krusial yang mutlak diperlukan agar penyamaran kita sebagai sepasang kekasih bisa terlihat meyakinkan, tahu...... Pokoknya begitulah konsepnya!"
Ema-san memberondongku dengan jajaran kalimat pembelaan diri yang teramat sangat cepat dengan tatapan mata yang tampak bergerak gelisah ke sana kemari karena terlampau panik kelabakan.
Padahal aku pribadi sama sekali tidak menanyakan detail perkara sejauh itu, namun mengapa isi penjelasan yang dilayangkannya barusan terdengar sangat spesifik sekali, ya?
"Mengingat saat ini posisi kita sedang berada di dalam ruangan kedai kopi, saya rasa kita tidak perlu sampai seserius itu dalam bersandiwara menjadi sepasang kekasih, deh."
"Tentu saja perlu, tahu!"
Ema-san melayangkan sanggahan tegas dengan intonasi suara yang penuh akan penekanan.
"Kita tidak akan pernah bisa memprediksi hal sekecil apa yang nantinya bisa memicu kedok aksi pembuntutan kita terendus dan terbongkar di luar sana. Ingat pepatah lama bahwa dinding pun memiliki telinga dan pintu pun memiliki mata, bahkan bisa jadi tepat di detik ini pun sebenarnya ada beberapa orang di dalam kedai ini yang diam-diam menaruh curiga terhadap gerak-gerik kita berdua. Oleh karena itulah, saat ini aku sedang berusaha mendalami peran sebagai sosok pacar wanita yang sedang merasa sangat bahagia karena bisa mengabadikan momen foto berdua dengan sang kekasih!"
"Ah, benar juga, ya......"
Jika dipikir-pikir kembali, apa yang diutarakan oleh Ema-san barusan memang ada benarnya juga, sih.
Fakta bahwa ada sepasang muda-mudi yang nekat berkunjung ke dalam sebuah kedai kopi klasik bernuansa Showa yang didominasi oleh kalangan pelanggan usia paruh baya saja sebenarnya sudah cukup membuat posisi kami terlihat mencolok. Ditambah lagi dengan adanya gestur kami yang terus-menerus duduk di dekat jendela sembari mengintai ke arah gedung seberang, tentu bukan hal yang aneh jika pada akhirnya ada pihak yang menaruh curiga. Namun dengan adanya bukti dokumentasi foto semacam ini, andai kata kedok kami sampai terbongkar pun, kami bisa menggunakannya sebagai sebuah alasan alibi yang sangat kuat. Apalagi atmosfer retro klasik Showa yang disuguhkan oleh kedai kopi ini terhitung sedang sangat naik daun dan digandrungi oleh kalangan generasi muda zaman sekarang karena dinilai memiliki keunikan tersendiri.
Aku pribadi sebenarnya juga sudah lama menaruh ketertarikan pada kedai semacam ini, namun karena level rintangan untuk nekat berkunjung seorang diri terhitung agak terlalu tinggi, fakta bahwa aku akhirnya datang berkunjung ke tempat ini karena meminta bantuan Ema-san untuk menemani, lalu secara kebetulan mendapati posisi kedainya berada tepat di depan sekolah akting tempat Yuu bernaung, murni merupakan sebuah rentetan alasan logika yang sangat masuk akal.
Sebuah skenario pembelaan diri yang bisa dibilang sangat sempurna.
"Jika tujuannya memang demi kelancaran alibi, mari kita ambil beberapa foto lagi kalau begitu."
"A-Apakah benar-benar tidak apa-apa......?"
"Iya, tentu saja. Malahan saya rasa hal itu akan sangat membantu."
"Terima kasih banyak, ya!"
Raut wajah Ema-san seketika langsung berubah menjadi sangat gembira, lalu dia mulai memasang berbagai macam pose estetik layaknya seorang gadis selebgram profesional di hadapan kamera sembari diiringi oleh bunyi klik potret ponsel yang saling bersahutan.
Tampaknya satu lembar foto saja masih dirasa kurang cukup bagi dirinya, alhasil dia mulai sibuk mengubah sudut pengambilan gambar, mengganti properti foto di tangannya dari yang semula memegang gelas Melon Soda menjadi sepiring kue pancake, lalu berganti lagi menjadi hidangan pencuci mulut Pudding à la Mode, menciptakan sebuah sesi pemotretan bertema retro Showa dadakan yang teramat sangat meriah di atas meja kami.
Melihat bagaimana sepasang bola matanya tampak terus terpaku menatap layar ponsel dengan suasana hati yang teramat sangat riang, dia tampaknya benar-benar berhasil mendapatkan hasil jepretan foto yang sangat memuaskan dan estetik.
『Bisa foto berdua...... dengan idola...... akan kusimpan sampai mati!』
Hari ini pun dia lagi-lagi tampak menggumamkan suatu kalimat misterius yang serupa, namun karena volume suara dari keributan adu mulut seputar masalah asmara yang mendadak meletus dari sepasang kekasih usia paruh baya di meja sebelah terdengar sangat bising, aku sama sekali tidak mampu menangkap apa isi gumamannya tersebut dengan jelas.
Berlandaskan atmosfer semacam itulah, kami berdua terus melanjutkan agenda makan siang kami sembari tetap setia mendalami karakter peran sebagai sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.
Hingga akhirnya seusai makan, tepat di saat kami sedang meluangkan waktu sejenak untuk menghela napas santai sembari menikmati segelas minuman di tangan masing-masing...
"Yuu──?"
Sosok Yuu yang kini sudah resmi berganti pakaian mengenakan setelan jersey tampak melangkah masuk ke dalam area ruangan kelas seberang.
"Melihat situasinya, tampaknya sudah tidak ada keraguan lagi bahwa alasan utama yang membuat waktu kepulangannya terlambat belakangan ini murni karena dia mulai belajar akting di tempat ini, ya......"
Aku sangat tahu bahwa intonasi suara Ema-san yang mendadak merendah saat mengutarakan kalimat tersebut murni merupakan sebuah bentuk rasa empati dan kepedulian yang mendalam terhadap gejolak batinku.
Sebab bagaimanapun juga, sebelumnya Yuu sempat melayangkan sebuah ikrar tegas kepadaku dengan berkata, "Tindakan mengasah bakat akting ini baru akan memiliki arti yang esensial jika sosok pihak yang membimbingku adalah Kanata-san sendiri". Jika faktanya demikian, maka pemandangan situasi yang tersaji di hadapan mataku saat ini merupakan sebuah bentuk perwujudan nyata dari pernyataan sikapnya yang tetap bersikeras untuk mengejar impian menjadi seorang aktris, bahkan meski hal itu berarti dia harus mengubur asa untuk bisa dimentori oleh diriku.
Sebuah pembuktian konkret atas betapa teguh dan kokohnya rasa tekad yang bersemayam di dalam dadanya demi bisa menyukseskan proyek film Zoku Kimi apa pun yang terjadi.
Dengan kata lain...... realitas ini murni merupakan sebuah buah hasil dari keputusanku yang telah mencampakkan dan mengecewakan harapannya selama ini. Padahal pihak yang melayangkan penolakan mentah-mentah sejak awal adalah diriku sendiri, namun entah mengapa lubuk hatiku saat ini justru terasa sangat berkecamuk dan perih.
"Lantas, apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
"Pendirian dan pemikiranku sama sekali tidak akan pernah berubah."
Aku tidak akan pernah membiarkan Yuu terjun menjadi seorang aktris. Aku tidak akan sudi membiarkannya mengemban peran sebagai sosok adik perempuan di proyek film Zoku Kimi.
Aku dipastikan akan menjegal segala bentuk intrik rencana busuk yang telah dicanangkan oleh Sutradara Rokujou apa pun taruhannya.
"Hanya saja......"
Meskipun saat ini aku hanya bisa memantau pergerakannya dari jarak yang terhitung cukup jauh, namun aku tetap bisa menangkap gurat ketulusannya dengan sangat jelas. Sepasang bola matanya memancarkan kilatan aura tekad yang teramat sangat kuat untuk mempelajari ilmu akting dengan sungguh-sungguh meski kapasitasnya saat ini masih murni sebatas seorang amatir.
Mengingat kepribadian aslinya yang cenderung tertutup dan tidak sehangat atau sesosial kakak perempuannya, menyaksikan bagaimana besarnya usaha keras yang dikerahkannya demi bisa membaur ke dalam lingkaran pergaulan kelas di sana benar-benar membuatku tersentuh. Ditambah lagi dengan wujud siluet tubuhnya yang tampak sampai membungkuk dalam-dalam demi bisa mencatat setiap detail masukan maupun opini dari murid-murid lain ke dalam buku catatannya agar tidak ada satu poin pun yang terlewat, membuat hatiku terasa semakin teriris.
Karena baik diriku maupun Ema-san sama-sama pernah merangkak melewati rute jalan terjal yang serupa di masa lalu, fakta bahwa kami bisa memahami dengan sangat tepat bagaimana bentuk gejolak perasaan yang sedang berkecamuk di dalam dada Yuu saat ini, justru menjadi sebuah bumerang yang membuat untaian kata seperti 'Hanya saja', 'Namun', ataupun 'Oleh karena itu', terus mengalir beruntun menahan kalimatku selanjutnya.
Setidaknya, dengan menyaksikan besarnya perjuangan yang sedang dikerahkannya saat ini, aku merasa diriku sudah tidak memiliki hak maupun muka yang pantas untuk menyuruh Yuu mundur dan melupakan impiannya untuk menjadi seorang aktris.
“"............"”
Kami berdua pun kembali tenggelam ke dalam keheningan total, murni hanya bisa terus terpaku melemparkan pandangan mata menatap ke arah sosok Yuu yang sedang berjuang mengerahkan seluruh fokus dan energinya di sepanjang sesi latihan.
Pada akhirnya, kami terus setia berdiri memantau posisinya dari seberang jalan hingga sesi format workshop tersebut resmi berakhir saat hari sudah menjelang petang.
*
Sejak momentum hari itu berlalu, Yuu terpantau terus konsisten menghadiri kelas pelatihan di sekolah akting tersebut beberapa kali dalam seminggu.
Aku pribadi pun selalu meluangkan waktu di setiap hari libur kerjaku untuk memantau proses latihannya dari dalam kedai kopi seberang jalan, sembari terus menunggu di sana hingga jam kelasnya usai dengan harapan bisa mencari momentum yang tepat untuk mengajaknya mengobrol. Namun pada realitasnya, keberanianku selalu surut di tengah jalan dan aku tidak pernah berhasil mengumpulkan nyali untuk menyapanya, hingga tanpa terasa sang waktu sudah resmi bergulir memasuki minggu pertama di bulan Juni.
Sadar bahwa aku tidak bisa terus-menerus melarikan diri dan menunda penyelesaian masalah ini selamanya, hari ini aku memantapkan tekad untuk berdiri menunggu di depan area lobi gedung, menanti sampai wujud Yuu melangkah keluar dari dalam sana.
"Akan tetapi, kalimat pembuka seperti apa yang sebaiknya harus kuucapkan kepadanya nanti, ya......"
Bahkan di saat momentum pertemuannya sudah berada tepat di depan pelupuk mata sekalipun, aku masih belum kunjung berhasil menemukan untaian kata yang tepat.
Mengingat aku adalah pihak yang sudah melayangkan pernyataan tegas bahwa aku tidak akan pernah sudi untuk mengajarinya ilmu akting, aku secara logika tentu sudah tidak memiliki hak maupun otoritas sama sekali untuk ikut campur dalam ranah pilihannya. Aku tidak memiliki kombinasi susunan kalimat ajaib yang bisa memintanya untuk mengubur impian menjadi seorang aktris, tanpa harus melukai ketulusan perasaannya ataupun menginjak-injak besarnya rasa tekad dan pengorbanan yang telah dikerahkannya selama ini.
Tepat di saat kepalaku sedang sibuk didera oleh pergulatan batin yang teramat sangat pelik tersebut...
Sosok Yuu yang telah resmi menyelesaikan agenda latihannya tampak melangkah keluar dari dalam gedung bangunan.
"......Kanata-san?"
Begitu sepasang bola matanya menangkap keberadaan wujud diriku yang sedang berdiri di sana, Yuu spontan menyuarakan sebuah lengkingan ekspresi yang sarat akan rasa terkejut. Namun di luar dugaan, tepat di detik berikutnya sebelum aku sempat melayangkan sepatah kata pun demi membuka pembicaraan, Yuu justru sudah bergerak lebih cepat dengan cara membungkukkan badannya dalam-dalam di hadapanku.
"Mohon maafkan saya!"
"......Eh?"
Aku benar-benar dibuat tertegun kebingungan, sama sekali tidak mampu memahami apa alasan mendasar yang membuat Yuu sampai harus melayangkan permohonan maaf yang seserius ini kepadaku.
Sebab jika ingin merujuk pada duduk perkara yang sebenarnya, pihak yang memegang status bersalah dan sudah sepantasnya bersujud memohon maaf di sini murni adalah diriku, yang sudah bertindak lancang dengan cara menguntit seluruh agenda kegiatan pribadinya secara diam-diam selama ini.
"Padahal saya sendiri yang dulu sempat bilang kalau tindakan mengasah bakat akting ini baru akan memiliki arti yang esensial jika sosok yang membimbing saya adalah Kanata-san sendiri, namun saya malah lancang mendaftar ke sekolah akting ini...... Tapi, saya bersumpah, maksud saya bukan seperti itu! Saya sama sekali tidak memiliki niat untuk menyerah ataupun mengubur asa agar bisa dimentori langsung oleh Kanata-san!"
Ah...... Jadi begitu duduk perkaranya, ya.
Dengan kata lain, ternyata Yuu juga sedang merasa terbebani oleh adanya rasa gejolak batin akibat dari ketidakselarasan antara untaian kalimat yang sempat diikrarkannya dulu dengan realitas perbuatan yang dilakukannya saat ini.
"Maksud saya, sebelum momentum di saat saya akhirnya dinilai pantas dan diizinkan untuk bisa belajar langsung di bawah bimbingan Kanata-san itu tiba, saya berniat untuk mengerahkan seluruh kemampuan saya demi mengusahakan apa saja yang bisa saya lakukan secara mandiri terlebih dahulu. Mulai dari membaca berbagai lembaran buku yang menunjang ilmu akting, hingga mendaftar ke sekolah akting ini demi bisa menguasai dasar-dasarnya. Saya berpikir, jika saya sudah memiliki modal fondasi tersebut, maka di saat hari di mana Kanata-san akhirnya sudi untuk mengajari saya itu tiba, tingkat pemahaman saya dipastikan akan bisa bertransformasi menjadi jauh lebih matang dan mendalam."
Harus kuakui, langkah yang diambil oleh Yuu saat ini murni merupakan sebuah opsi pilihan yang paling terbaik dan paling logis bagi dirinya. Mengingat adanya batas waktu toleransi selama dua tahun yang telah mutlak dipatok oleh Sutradara Rokujou, maka tindakan murni hanya duduk diam berpangku tangan sembari menunggu sampai pendirian hatiku berubah tentu saja merupakan sebuah pilihan yang teramat sangat berisiko. Jika dia nekat melakukannya, skenario terburuk di mana sang waktu dua tahun itu menguap habis begitu saja tanpa menghasilkan apa pun dipastikan akan sangat rawan untuk terjadi.
Langkah proaktif di mana dia tetap konsisten melayangkan pendekatan kepadaku sembari secara paralel terus mengasah ilmunya di luar sana jelas jauh lebih efisien. Dan persis seperti apa yang diutarakannya barusan, tingkat penyerapan dan pemahamannya dipastikan akan mengalami grafik lompatan yang sangat masif di saat aku akhirnya resmi turun tangan untuk mengajarinya nanti.
Ditambah lagi, jika diingat-ingat kembali, Yuu sebenarnya tidak pernah melayangkan sebuah ikrar mutlak bahwa dia bersumpah tidak akan pernah sudi menerima ilmu dari pihak pengajar selain diriku, kan?
Sama sekali tidak ada satu pun landasan alasan yang valid yang bisa membenarkan diriku untuk melayangkan amarah ataupun menyalahkan keputusan yang diambil oleh Yuu saat ini.
"Anu...... Kanata-san saat ini pasti sedang merasa sangat marah kepada saya, ya?"
Yuu tampak sedikit menyusutkan siluet tubuhnya dengan gelagat yang teramat sangat cemas, persis layaknya seekor anak anjing yang sedang takut karena mengira akan dipukul.
"Aku sama sekali tidak marah kepadamu, kok."
"Apakah...... apakah hal itu benar?"
"Iya, benar. Jadi, tolong hilangkan raut wajah yang penuh akan rasa gelisah dan ketakutan seperti itu dariku, ya."
Yuu segera mendaratkan sebelah telapak tangannya di atas dada sembari mengembuskan seulas napas lega yang teramat sangat panjang. Namun jika harus jujur merefleksikan apa yang terjadi saat ini, pihak yang sebenarnya merasa paling lega dan bersyukur di sini murni adalah diriku sendiri, bukan Yuu.
Padahal aku adalah pihak yang sudah berulang kali melayangkan penolakan mentah-mentah dan mencampakkan ketulusan harapannya dengan egois, sehingga seandainya saat ini Yuu nekat memaki diriku dengan kalimat, 'Jangan bertindak tidak tahu diri dan sok mengatur hidupku setelah semua penolakan yang kamu berikan!' pun aku pantas menerimanya. Namun mengetahui fakta bahwa realitasnya Yuu sama sekali belum mencampakkan diriku, benar-benar sukses membuat lubuk hatiku terasa sangat tenang.
Jika ingin berbicara mengenai kadar kepemilikan dosa atas ketidakselarasan antara ucapan dan perbuatan (munafik), maka posisiku terhitung jauh lebih menjijikkan dan lebih parah daripada dirinya......
"Lantas, setelah mencicipi bagaimana atmosfer pembelajaran di sekolah akting tersebut selama beberapa waktu ini, bagaimana kesan yang kamu rasakan?"
"Meskipun sampai saat ini masih ada banyak sekali butir perkara yang belum bisa saya pahami dengan baik, namun saya merasa seluruh proses pembelajarannya teramat sangat menyenangkan sekali! Di sana juga ada banyak sekali orang-orang baik yang sudi memperlakukan seorang amatir seperti saya dengan sangat ramah, sehingga dari dalam lubuk hati yang terdalam, saya benar-benar merasa sangat bersyukur karena telah menjatuhkan pilihan untuk bergabung di kelas tersebut."
Melihat bagaimana binar sepasang bola matanya tampak memancarkan kilatan aura kegembiraan yang teramat sangat cerah nan berkilau saat mengutarakan untaian kalimat tersebut, aku bisa tahu secara nyata bahwa dia benar-benar sangat menikmati hari-harinya di sana.
"Akan tetapi...... baru-baru ini ada sebuah kendala pelik yang mendadak menghampiri saya."
Namun secara tidak terduga, dalam sekejap mata raut wajahnya yang semula dipenuhi oleh pancaran kebahagiaan langsung berubah menjadi mendung sembari sudut matanya tampak bergerak turun menatap ke arah bawah.
Menyaksikan grafik perubahan emosinya tersebut, aku bisa dengan sangat mudah mengendus adanya sebuah indikasi keterlibatan masalah yang terhitung cukup serius.
"Apakah terjadi suatu masalah di dalam kelasmu?"
"Sebenarnya...... di dalam agenda pementasan teater yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat nanti, saya mendadak diminta untuk ikut berpartisipasi tampil di atas panggung."
Bagaimana bisa? Padahal durasi waktu yang dihabiskannya untuk mempelajari ilmu akting di tempat tersebut terhitung baru berjalan kurang lebih kisaran satu bulan saja, kan?
"Lembaga bimbingan kami memiliki sebuah regulasi wajib di mana mereka akan menyelenggarakan sebuah pementasan drama teater berkala setiap setengah tahun sekali, yang metodenya dibagi berdasarkan kategori kelompok usia masing-masing. Jadwal pementasan terdekat kami dijadwalkan akan bergulir pada akhir bulan Juli nanti, namun secara tidak terduga, salah seorang aktor yang memegang posisi penting mendadak mengalami cedera serius di tengah sesi latihan...... dan pihak medis menyatakan bahwa mustahil baginya untuk bisa pulih dalam waktu dekat."
"Ah, begitu, ya. Jadi karena alasan itulah pihak lembaga akhirnya meminta dirimu untuk maju mengemban posisi sebagai aktor pengganti, begitu?"
"Iya, benar......"
Yuu memberikan sebuah anggukan kepala tanda konfirmasi dengan raut wajah yang tampak dipenuhi oleh besarnya rasa cemas yang teramat sangat pekat.
"Bagi seorang amatir yang masih sangat hijau seperti saya, nekat melangkahkan kaki ke atas panggung pementasan tentu saja dikhawatirkan hanya akan berakhir menjadi benalu yang menyusahkan semua orang. Akan tetapi, pihak pengajar bilang kalau mereka sudah tidak memiliki kandidat lain lagi yang tersisa untuk menggantikan posisi tersebut, sehingga satu-satunya jalan keluar agar pementasannya bisa tetap diselamatkan murni hanya dengan meminta saya untuk bersedia naik ke atas panggung."
Besarnya rasa cemas dan ketakutan yang saat ini sedang menggerogoti hati Yuu benar-benar bisa kupahami dan kurasakan dengan sangat nyata.
Sebab dulu, di saat aku baru pertama kali dinyatakan resmi lolos untuk membawakan peran di dalam sebuah proyek drama, emosi yang pertama kali mendominasi benakku murni bukanlah sebuah rasa kegembiraan, melainkan sebuah gelombang kecemasan yang teramat sangat masif.
Sebuah memori kelam di mana aku harus membaca lembaran naskah dialog secara berulang-ulang hingga puluhan kali, melatih satu baris kalimat pendek hingga ratusan kali secara konsisten, namun meski seluruh usaha itu telah dikerahkan, rasa cemas yang berkecamuk di dalam dada tetap saja sukses merenggut nafsu makan dan waktu tidurku demi bisa menyelami karakteristik peran tersebut, hingga akhirnya aku harus melangkah menuju ke arah set lokasi syuting dengan kondisi tubuh yang berulang kali mual ingin muntah akibat stres.
Sensasi ketegangan hebat yang teramat sangat sulit untuk dilukiskan dengan untaian kata-kata tersebut bahkan masih membekas dengan sangat nyata di dalam ingatan kepalaku meski waktu sudah resmi bergulir selama lebih dari sepuluh tahun lamanya. Apalagi jika posisi tersebut kini harus dihadapi oleh seorang pemula yang masih murni buta akan dunia akting, tingkat emosi yang dirasakannya dipastikan sudah melompat jauh melewati batas rasa cemas dan telah bertransformasi menjadi sebuah horor ketakutan yang nyata.
"Mengapa kamu tidak mencoba untuk me──"
Mencoba untuk melayangkan penolakan saja?──Aku hampir saja meloloskan untaian kalimat tanya tersebut dari mulutku, sebelum akhirnya aku memilih untuk menelannya kembali dalam-dalam.
Sebab tanpa perlu repot-repot menanyakannya pun, aku sudah tahu betul apa alasan mendasar yang membuatnya bersedia menerima tanggung jawab berat tersebut: semuanya murni demi bisa menjadi seorang aktris.
Meski seisi dadanya didera oleh rasa cemas dan ketakutan yang hebat, dia tetap memilih untuk memosisikan kendala pelik ini sebagai sebuah ujian pendewasaan diri yang mutlak diperlukan demi menunjang impiannya, yang mana hal itu membuatnya mantap mengambil keputusan untuk menerima tawaran tersebut meski dia sangat sadar akan besarnya kekurangan dan ketidakberdayaan yang dimilikinya saat ini.
Sekali lagi, aku dibuat tertegun karena ternyata aku bisa memahami betapa besarnya kadar tekad pengorbanan yang bersemayam di dalam dadanya sejauh ini.
"Kanata-san, izinkan saya untuk memohon perkara ini kepada Anda sekali lagi."
Yuu melayangkan tatapan mata yang dipenuhi oleh pancaran aura tekad yang teramat sangat kokoh tepat ke arah sepasang bola mataku.
"Tolong...... bimbing dan ajarilah saya ilmu akting."
Untaian kalimat permohonan yang sama, yang sudah berulang kali disuarakannya kepadaku di sepanjang waktu, dan selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari mulutku. Padahal di sepanjang waktu aku sudah memantapkan pendirian hatiku untuk bersikap keras kepala demi menolaknya, namun entah mengapa saat ini...
"Nanti begitu kita sudah sampai di apartemen, segera tunjukkan lembaran naskah dialogmu kepadaku."
"......Baik!"
Menyaksikan besarnya ketulusan dari perasaan yang didekap oleh Yuu di hadapanku saat ini, membuat benteng pertahananku seketika langsung runtuh total dan aku tidak mampu lagi untuk melayangkan penolakan kepadanya.
*
Tepat setelah langkah kaki kami resmi menapak kembali ke dalam apartemen, kami berdua bahkan memilih untuk langsung mengesampingkan agenda makan malam demi bisa fokus berhadapan langsung membedah lembaran naskah dialog yang dibawanya.
"Ah, jadi begini konsep ceritanya, ya......"
Sebuah kalimat gumaman spontan lolos dari mulutku sembari sepasang bola mataku tampak bergerak menyapu setiap detail teks baris kalimat yang tertera di dalam buku naskah pemberian Yuu.
Garis besar plot yang diusung di dalam pementasan drama teater ini mengambil latar belakang konsep kehidupan modern, dengan fokus cerita yang berpusat pada kisah romansa dan dinamika kehidupan remaja sekolah.
Di dalam struktur narasinya, karakter peran yang dialokasikan kepada Yuu sejatinya bukanlah termasuk ke dalam kategori jajaran main character. Akan tetapi, intensitas kemunculan dari karakter ini di atas panggung terhitung memiliki screentime yang teramat sangat padat, serta memiliki jalinan relasi interaksi yang sangat kompleks dengan hampir seluruh tokoh penting yang ada di dalam cerita.
“"............"”
Nah...... kalau sudah begini, langkah penanganan seperti apa yang sebaiknya harus kuambil, ya?
Andai kata sosok pihak yang menjadi lawan bicaraku saat ini adalah seorang aktor yang setidaknya sudah memiliki modal sedikit rekam jejak pengalaman akting sebelumnya, aku tentu akan bisa dengan sangat mudah memberikan berbagai masukan taktis untuk menunjang performanya. Namun, di hadapan seorang pemula yang baru saja menginjakkan kakinya untuk belajar akting dan masih berada di dalam kondisi buta arah seperti Yuu saat ini, nekat memberikan wejangan teknik akting yang mendalam dipastikan hanya akan berakhir menjadi sebuah kesia-siaan karena materinya tidak akan bisa terserap dengan baik oleh logikanya.
Untuk urusan yang berkaitan dengan dasar mekanik maupun aspek teknis akting, hal itu harusnya sudah diakomodasi dan diajarkan oleh pihak pengajar di sekolah aktingnya sendiri. Jika faktanya demikian, maka poin utama yang paling krusial untuk kuajarkan kepadanya saat ini murni harus dimulai dari ranah fondasi mindset dan kesiapan mental terlebih dahulu.
"Aku ingin kamu mendengarkan seluruh pemaparan yang akan kusampaikan setelah ini murni sebagai bentuk dari teori personal milikku sendiri──"
Aku menutup lembaran buku naskah di tanganku, lalu memutar posisi dudukku agar bisa berhadapan langsung secara simetris dengan posisi Yuu yang duduk di sebelahku.
"Mengapa aku harus menekankan hal ini sejak awal? Karena di dalam dunia akting, jumlah teori mengenai metode akting itu terhitung sangat melimpah ruah, bahkan tidak akan berlebihan jika ada pepatah yang mengatakan bahwa jumlah teori yang tercipta di dunia ini adalah sebanyak jumlah dari aktor itu sendiri. Akibat dari masifnya variasi tersebut, di dalam realitasnya tidak jarang kita akan menemukan adanya momentum di mana para aktor sampai terlibat adu mulut yang sengit hanya karena adanya benturan perbedaan prinsip ideologi seni yang mereka anut. Namun, satu hal krusial yang wajib kamu tanamkan di dalam kepala adalah: esensi utama dari sebuah teori akting murni bukanlah terletak pada perkara mengenai apakah teori tersebut 'benar' atau 'salah', melainkan pada perkara mengenai apakah teori tersebut 'cocok' atau 'tidak cocok' saat diaplikasikan oleh dirimu sendiri."
Yuu tampak memberikan sebuah anggukan kepala yang teramat sangat fokus sembari jemari tangannya bergerak dengan sangat tekun menuliskan setiap bait kalimatku ke dalam buku catatannya.
"Seiring dengan berjalannya waktu nanti, kamu dipastikan akan bersinggungan langsung dengan berbagai macam variasi teori maupun pola pikir akting yang ada di luar sana. Andai di dalam perjalanan tersebut kamu menemukan adanya sebuah prinsip ideologi yang dirasa sangat bertentangan dan tidak bisa diterima oleh logikamu, hal itu murni bukan berarti bahwa teori tersebut adalah sebuah kekeliruan, melainkan hanya sebatas karena teorinya tidak memiliki kecocokan saja dengan karakteristik dirimu. Oleh karena itulah, termasuk untuk seluruh wejangan yang akan kusampaikan setelah ini, aku ingin kamu selalu mengingat prinsip dasar untuk mengambil dan menyerap setiap poin yang dirasa cocok bagi dirimu, serta tidak ragu untuk membuang dan mengabaikan setiap poin yang dirasa tidak selaras dengan hatimu."
"Iya. Saya paham."
Melihat dia sudah berhasil menangkap esensi dasarnya dengan baik, aku pun memilih untuk langsung melompat masuk memaparkan konklusinya secara lugas.
"Poin pertama yang wajib kita jadikan sebagai premis dasar adalah: fakta bahwa sebuah akting pada hakikatnya murni merupakan sebuah 'kebohongan'."
"Sebuah...... kebohongan?"
Reaksi berupa untaian kalimat tanya bernada bingung yang refleks diloloskan oleh Yuu barusan terhitung sangat wajar, mengingat materi pembukaku memang terdengar sangat blak-blakan dan terkesan menjatuhkan mental. Namun tanpa memedulikan gurat kebingungannya, aku tetap memilih untuk terus melanjutkan penjelasanku.
"Kadar nilai moral yang terkandung di dalam sebuah akting pada dasarnya akan selalu memiliki ribuan variasi yang berbeda-beda, tergantung dari sudut pandang pengajar yang membimbing maupun aktor yang membawakannya. Akan tetapi, satu titik kesamaan mutlak yang tidak akan pernah bisa didebat oleh siapa pun adalah: fakta bahwa selama sebuah proyek drama menempati posisi sebagai karya fiksi, maka visualisasi akting yang tersaji di dalamnya pun otomatis murni berstatus sebagai sebuah kebohongan."
Sebuah premis nyata yang sebenarnya juga berlaku secara universal pada mayoritas sektor industri hiburan lainnya, termasuk dalam ranah pembuatan manga maupun novel.
Meskipun jika aku nekat menyuarakan opini metafiksi semacam ini di luar sana, aku dipastikan akan langsung diamuk oleh berbagai pihak dari segala penjuru arah, namun realitasnya perkara ini murni merupakan sebuah fakta absolut yang tidak akan pernah bisa disangkal.
"Singkat cerita, sebuah kebohongan bagaimanapun cara penyampaiannya tetaplah akan selalu berakhir menjadi sebatas kebohongan belaka. Tidak peduli seberapa genius atau seberapa lihai dirimu dalam merangkai skenario dusta, kebohongan tersebut tidak akan pernah bisa menjelma menjadi sebuah realitas kenyataan yang sesungguhnya. Akan tetapi, jika ditanya apakah itu berarti sebuah kebohongan selamanya mustahil untuk bisa melampaui keindahan dari sebuah realitas nyata, maka jawabannya adalah: tentu saja sangat bisa."
Mendengarkan rangkaian teoriku yang mendadak melompat masuk ke dalam ranah filosofi yang cukup pelik, sepasang alis Yuu tampak bergerak menyatu sembari kepalanya kembali refleks dimiringkan perlahan demi mencerna maknanya. Namun karena poin ini merupakan bagian yang teramat sangat krusial, aku memutuskan untuk melanjutkan penjelasanku sembari secara berkala memeriksa sejauh mana tingkat penyerapan logikanya.
"Menurut pemikiranmu sendiri, mengapa jajaran penonton bisa sampai ikut terhanyut dan meneteskan air mata haru saat menyaksikan sebuah tayangan drama, padahal sejak awal nalar mereka sangat tahu kalau kisah yang tersaji di sana murni hanyalah sebatas cerita fiksi?"
"Hmm, kalau menurut saya...... apakah hal itu bisa terjadi karena adanya keterlibatan unsur realisme yang kuat di dalam pembawaannya?"
Jawaban yang tidak salah, dan bisa dibilang merupakan salah satu dari pecahan kunci jawaban yang benar.
"Alur cerita yang disuguhkan memang memegang peranan penting, namun faktor utama yang berhasil menggerakkan emosi penonton murni dipicu oleh adanya visualisasi akting dari sang aktor yang teramat sangat sarat akan nilai realisme. Jika ingin mengubah susunan kalimatnya ke dalam analogi yang lebih sederhana: para penonton bisa sampai ikut menangis haru murni karena visualisasi akting tersebut berhasil memaksa nalar mereka untuk melupakan fakta bahwa apa yang sedang mereka saksikan saat ini sebenarnya adalah sebuah kebohongan. Dengan kata lain, sang aktor telah berhasil menciptakan sebuah ilusi magis yang mengecoh nalar penonton untuk meyakini kebohongan tersebut sebagai sebuah realitas nyata, hingga pada akhirnya faset dusta itu pun mengalami proses metamorfosis menjadi sebuah 'kebohongan yang menjelma', yang memiliki kadar realitas yang jauh lebih hidup dan jauh lebih nyata daripada realitas kehidupan yang sesungguhnya."
Sebab pada realitasnya, perkara yang mampu menggetarkan lubuk hati manusia murni bukanlah sebatas pada hal-hal nyata yang tersaji di depan pelupuk mata saja.
Sebuah kebohongan, dalam beberapa momentum tertentu, justru memiliki kapasitas magis yang jauh lebih kuat untuk membius dan memikat hati jutaan orang secara masif. Fakta bahwa manusia tetap tidak akan pernah bisa membendung gelombang haru di dalam dada mereka meski nalar mereka sangat sadar kalau karya tersebut murni fiksi, merupakan sebuah bukti konkret yang menunjukkan bahwa level dari karya tersebut secara mutlak telah berhasil melompat naik melampaui batas realitas yang ada.
Sebuah untaian dusta yang diloloskan dari mulut seorang aktor yang telah berhasil mencapai puncak kepiawaian tertinggi di dalam akting, terhitung memiliki nilai value yang jauh lebih berharga daripada sebuah realitas nyata. Dan inilah yang dimaksud dengan arti esensi dari sebuah nilai realisme yang sesungguhnya di dalam isi kepalaku.
"Mendengar penjelasan dari Kanata-san barusan...... membuat konsep tersebut jadi terdengar persis seperti sebuah kemampuan supernatural yang sangat istimewa, ya."
"Apresiasi yang sangat tepat, karena realitasnya memang persis seperti itu. Di dalam dunia akting, aktor kelas tiga murni hanya akan bisa melayangkan sebuah kebohongan yang hambar. Aktor kelas dua akan memiliki kapasitas untuk merangkai kebohongan tersebut dengan sangat rapi dan lihai. Sementara untuk ukuran aktor kelas satu, mereka sudah mampu melahirkan sebuah kebohongan yang wujudnya teramat sangat menyerupai sebuah kebenaran asli. Namun, level dusta yang mampu disemburkan oleh seorang aktor yang berada di tingkatan ultra profesional berada di dalam dimensi yang benar-benar berbeda──mereka mampu melahirkan sebuah kebohongan yang sanggup melampaui realitas dunia nyata. Di dalam kamus personal milikku, aku biasa melabeli kemampuan supernatural tersebut dengan istilah: 'Bakat untuk Menjelmakan Kebohongan'."
"Bakat untuk menjelmakan kebohongan......"
Persis layaknya hukum logika di mana sisi balik dari sebuah area ruang belakang akan selalu berakhir menjadi area ruang depan, maka sebuah kebohongan yang berhasil dijelmakan ke dalam tingkat absolut otomatis akan bertransformasi menjadi sebuah realitas baru.
Hanya individu-individu terpilih yang mendekap bakat supernatural itulah yang akan memiliki kapasitas magis untuk melampaui realitas dunia nyata melalui perantara sebuah karya fiksi.
Sepanjang rekam jejak pengalamanku selama berkecimpung di dalam kejamnya industri hiburan, aku sudah berulang kali menyaksikan keberadaan dari para aktor yang mampu mengoperasikan bakat supernatural tersebut dengan tingkat kesadaran penuh, maupun mereka yang mengeksekusinya murni berdasarkan dorongan insting bawah sadar belaka. Bahkan di antara jajaran elit tersebut, ada segelintir sosok jenius yang eksistensinya membuatku sampai membatin bahwa orang ini murni dilahirkan ke dunia hanya demi menjelmakan sebuah kebohongan.
Jika dipikir-pikir kembali saat ini, aku terkadang suka merasa heran sendiri mengapa dulu ukuran kapasitas orang normal sepertiku bisa sampai nekat bertahan hidup mengemban profesi sebagai seorang aktor di sana. Sebab bagi jajaran figur elit yang menduduki posisi garda terdepan di industri tersebut, karakteristik mereka secara harfiah sudah tidak bisa lagi dikategorikan sebagai manusia normal.
Jika aku boleh mengutarakannya secara blak-blakan tanpa perlu menyaring jajaran kalimatku, tempat tersebut murni merupakan sebuah sarang perkumpulan dari para monster.
"Mohon maaf karena kalimat pembukaku tadi terhitung agak sedikit terlalu panjang, ya, namun mulai dari titik inilah kita akan resmi masuk membahas inti topiknya."
"Baik."
"Di dalam upaya untuk melayangkan sebuah kebohongan yang berkualitas tinggi demi menunjang visualisasi aktingmu, ada dua poin poin penting yang wajib kamu kuasai secara mutlak."
Aku menegakkan satu jari telunjukku tepat di hadapan wajah Yuu.
"Poin pertama: kamu wajib memperluas kekayaan emosimu."
Atau jika ingin menggunakan padanan istilah yang lain, poin ini bisa dibilang sebagai sebuah proses untuk mempertajam kadar kepekaan rasa.
"Perkara ini sebenarnya sudah pernah kusampaikan kepadamu sebelumnya, di mana modal utama yang paling krusial untuk dimiliki oleh seorang aktor murni terletak pada seberapa masifnya kuantitas rekam jejak pengalaman hidup yang didekapnya. Mengapa demikian? Karena seorang aktor selamanya tidak akan pernah memiliki kemampuan untuk memvisualisasikan sebuah bentuk emosi yang belum pernah dirasakan atau diketahui oleh logikanya sendiri. Sampai di titik ini, apakah kamu masih mengingat isi wejanganku waktu itu?"
"Tentu saja saya masih mengingatnya dengan sangat jelas. Bagaimanapun juga, itu adalah untaian ilmu pertama yang Kanata-san ajarkan kepada saya."
Yuu menambahkan kalimat penegasan dengan tatapan mata yang berbinar serius, seolah ingin menyiratkan kalimat, 'Setiap bait dan satu suku kata dari ucapan Kanata-san hari itu telah terpatri mati di dalam lubuk hati saya'.
"Sebuah kebohongan baru akan bisa tercipta karena adanya keterlibatan dari sebuah realitas kenyataan yang menjadi landasannya. Agar kamu bisa melahirkan sebuah kebohongan yang rapi dan berkualitas, kamu dituntut untuk mengetahui bagaimana wujud dari realitas asli itu terlebih dahulu──yang mana artinya, kamu wajib merasakan bagaimana esensi dari sebuah emosi yang murni, dan emosi murni tersebut selamanya hanya akan bisa didapatkan melalui perantara pengalaman hidup yang nyata. Sebuah bentuk kebahagiaan yang teramat sangat masif hingga membuat seluruh tubuhmu bergetar haru, sebuah amarah yang teramat sangat pekat hingga membuatmu kehilangan akal sehat, sebuah kesedihan yang teramat sangat mendalam hingga membuatmu tidak bisa berhenti meloloskan jerit tangis, ataupun sebuah horor ketakutan yang teramat sangat mencekam hingga sanggup membuat seluruh aliran darah di tubuhmu terasa membeku seketika. Berbekal dari modal jajaran emosi murni itulah, setiap butir kebohongan yang kamu semburkan di atas panggung secara perlahan akan berasimilasi menjadi darah dan daging bagi kemampuan aktingmu, hingga akhirnya momentum di mana kebohongan tersebut resmi menjelma menjadi sebuah realitas baru pun pasti akan datang menghampirimu."
"Momentum di saat sebuah kebohongan menjelma menjadi realitas baru...... yang artinya, sebuah kondisi di mana kebohongan tersebut sukses melampaui realitas dunia nyata?"
"Tepat sekali."
Melihat bagaimana grafik kecepatan otaknya dalam menangkap esensi penjelasanku terhitung sangat cepat, aku benar-benar merasa sangat terbantu.
"Oleh karena itulah, seorang aktor dituntut untuk terus konsisten menumpuk berbagai macam variasi pengalaman hidup demi memperkaya emosi yang didekapnya. Meskipun secara teori kita memang tetap bisa memvisualisasikan sebuah peran murni hanya dengan mengandalkan kekuatan imajinasi belaka, namun tidak perlu diragukan lagi bahwa hasil kualitas realisme yang tercipta antara aktor yang mengandalkan imajinasi dengan aktor yang berbicara berdasarkan pengalaman nyata dipastikan akan memiliki jurang perbedaan yang teramat sangat masif."
Tentu saja selain berfokus pada proses penyerapan materi, proses penyaluran bakat juga memegang peranan yang tidak kalah krusial. Namun, jika aku nekat membombardirnya dengan terlalu banyak materi berat sekaligus dalam satu waktu, aku khawatir kapasitas otaknya tidak akan mampu menampung seluruh ilmu tersebut dengan optimal. Jadi, untuk pembahasan mengenai aspek penyaluran, aku memutuskan untuk menyimpannya terlebih dahulu dan baru akan membahasnya pada kesempatan berikutnya.
"Lalu, mari kita masuk ke poin kedua: kamu wajib memahami dengan baik mengenai apa karakteristik atribut personal yang ada di dalam dirimu."
"Karakteristik atribut...... maksudnya bagaimana?"
Atau jika ingin menggunakan istilah yang lebih familier, poin ini bisa dibilang sebagai proses untuk mengenali apa tipe tipe kepribadian aktingmu.
"Berdasarkan hasil analisis personal milikku, aku mengategorikan jajaran aktor ke dalam tiga tipe klasifikasi yang berbeda."
──Pertama, Tipe Genius (天才タイプ): Sosok aktor yang memiliki kapasitas magis layaknya seorang dukun yang sedang mempraktikkan ritual pemanggilan arwah, di mana dia mampu memasukkan karakteristik peran tersebut ke dalam jiwanya lalu melebur menjadi satu kesatuan yang utuh.
──Kedua, Tipe Rekonstruksi (再現タイプ): Sosok aktor yang memvisualisasikan perannya dengan cara menarik dan merekonstruksi kembali memori emosi terdekat yang pernah dialaminya di masa lalu.
──Ketiga, Tipe Analitis (分析タイプ): Sosok aktor yang membangun performa aktingnya melalui proses bedah analisis yang teramat sangat mendalam dan radikal demi bisa memahami bagaimana seluk-beluk isi perasaan dari karakter peran yang diembannya.
"Fakta mengenai mengapa agensi Second House yang meskipun secara skala ukuran terhitung masih tergolong sebagai agensi kecil namun berhasil mendapatkan posisi kehormatan dan sangat disegani di dalam lingkaran industri hiburan, salah satu alasan mendasarnya murni dipicu karena tiga aktris yang bernaung di bawah bendera kami merupakan representasi dari masing-masing tipe tersebut, yang mana ketiganya telah berhasil mencapai titik puncak tertinggi dari keahlian tipe mereka masing-masing."
Sosok aktris yang menjadi pilar pondasi awal saat agensi kami pertama kali didirikan, dan kini telah resmi mengukuhkan posisinya sebagai salah satu aktris papan atas baik secara nama maupun reputasi nyata, tidak lain adalah Yoshioka Satomi yang merupakan representasi mutlak dari Tipe Genius.
Lalu untuk posisi aktris mahasiswa yang baru saja resmi melangsungkan debutnya tahun kemarin, yaitu Amamiya Kaede, dia merupakan sosok aktris pendatang baru yang mendekap sebuah bakat langka yang teramat sangat mengerikan dalam ranah Tipe Rekonstruksi, di mana dia memiliki kapasitas untuk menarik keluar memori emosi yang pernah dialaminya ke dalam tingkat keberhasilan mutlak mencapai seratus persen tanpa cela.
Sementara untuk sosok aktris yang memiliki latar belakang rekam jejak yang serupa denganku sebagai mantan aktor cilik namun tetap konsisten mempertahankan posisinya di garda terdepan industri hingga detik ini, yaitu Kozakura Mio, dia merupakan perwujudan dari puncak tertinggi Tipe Analitis, di mana dia tidak hanya fokus membedah karakteristik perannya sendiri secara radikal, melainkan sampai nekat menganalisis seluruh jajaran karakter dari lawan main yang akan berkomunikasi dengannya di dalam cerita tanpa ada satu pun yang terlewat.
Jika aku boleh melayangkan penilaian subjektif, seluruh aktris yang bernaung di dalam agensiku saat ini murni tidak lebih dari sekumpulan monster yang mengerikan.
Ah, maaf, fokus pembicaraanku mendadak jadi agak sedikit melenceng dari topik utama.
"Dengan berhasil mengidentifikasi dan memahami masuk ke dalam kategori tipe manakah karakteristik dirimu yang sebenarnya, kamu akan bisa melatih dan mendongkrak kualitas aktingmu dengan tingkat efisiensi yang jauh lebih masif. Jika ingin membalik logikanya, nekat memaksakan diri untuk belajar tanpa memahami dasar poin ini hanya akan berakhir menjadi sebuah tindakan yang teramat sangat tidak efisien, dan dalam banyak kasus, justru menjadi faktor utama yang membuat proses belajar seorang aktor berakhir buntu di tengah jalan."
"Apakah itu berarti saya sebaiknya memosisikan konsep tipe ini persis seperti sebuah indikator bakat kesesuaian di dalam diri saya?"
"Iya, benar. Mengambil jalur pemahaman dengan menggunakan sudut pandang semacam itu murni sama sekali tidak salah, kok."
Jika ingin dicari sebuah analogi yang sederhana, konsep ini bisa dibilang sangat mirip dengan hubungan antara jenis pekerjaan dan senjata di dalam sebuah permainan bergenre RPG.
Sebagai contoh, setiap kategori pekerjaan tentu sudah memiliki setelan bawaan mengenai jenis senjata apa saja yang menjadi keahlian utamanya dan mana yang bukan. Di saat karaktermu melengkapi diri dengan senjata yang menjadi keahlian utamanya, maka grafik efek serangan maupun bonus penambahan status nilai kemampuannya secara otomatis akan mendongkrak jauh lebih tinggi.
Intinya, segala sesuatu di dunia ini pasti memiliki kadar kecocokan masing-masing, dan hukum yang sama pun berlaku secara mutlak di dalam dunia akting.
"Kalau boleh tahu, dulu Kanata-san sendiri termasuk ke dalam kategori aktor tipe yang mana?"
"Aku dulu merupakan representasi dari Tipe Rekonstruksi. Oleh karena itulah, demi bisa mendalami karakteristik peran yang dialokasikan kepadaku, aku rela melakukan dan mencari bentuk pengalaman nyata apa saja yang sekiranya dibutuhkan oleh karakter tersebut. Di saat aku harus mengemban peran sebagai sosok karakter yang bercita-cita menjadi seorang atlet profesional, aku akan sengaja menyewa pelatih khusus demi bisa ikut menjalani porsi latihan mereka. Di saat ada sebuah adegan yang menuntutku untuk melukis, aku akan sengaja mendaftar ke kelas seni lukis demi bisa memahami bagaimana insting rasa dan jiwa seorang pelukis yang sebenarnya. Bahkan di saat aku mendapatkan proyek drama yang mengambil latar belakang tempat di sebuah desa terpencil, aku sampai nekat menghabiskan waktu selama kurang lebih satu minggu di sana demi bisa mencicipi langsung bagaimana rasanya hidup sebagai orang desa."
Tindakan semacam itu sebenarnya bukan merupakan sebuah fenomena yang langka, melainkan sebuah proses bedah karakter standar yang lumrahnya memang dipraktikkan oleh hampir semua aktor di luar sana. Namun jika hanya merujuk pada tolok ukur kuantitas rekam jejak pengalaman hidup yang berhasil dikumpulkan, aku pribadi memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi bahwa posisiku berada di jajaran kelas kakap teratas jika dibandingkan dengan aktor-aktor lain yang berada di generasi usiaku.
Hanya saja, satu hal yang teramat sangat kusayangkan adalah: fakta bahwa di masa-masa keemasanku dulu, aku sama sekali tidak memiliki kesadaran penuh bahwa karakteristik atributku murni berada di dalam lingkup Tipe Rekonstruksi.
Benar-benar sebuah fakta yang memalukan, namun karena aku sudah berhasil mereguk kesuksesan yang sangat masif sejak usia yang teramat sangat belia, aku sempat hidup dalam kesombongan dan percaya sepenuhnya tanpa ada keraguan sedikit pun bahwa diriku murni merupakan seorang jenius alami.
Aku baru benar-benar berhasil menyadari keaslian tipe atributku ini tepat di saat momentum masa pensiunku sudah berada di depan mata. Andai saja aku bisa menyadarinya sejak masih kanak-kanak dulu, jalannya takdir dipastikan akan berujung ke arah yang berbeda.
Setidaknya, jatah usia produktifku untuk berkarier sebagai seorang aktor mungkin akan bisa bertahan sedikit lebih lama lagi.
Ah, namun memikirkan perkara itu sekarang murni hanyalah sebuah tindakan sia-sia yang sudah terlambat, atau yang biasa disebut orang-orang sebagai pepatah 'nasi sudah menjadi bubur', ya.
"Lantas...... kalau kakak perempuan saya, Tachibana Haruka, dulunya merupakan sosok aktris yang termasuk ke dalam kategori tipe yang mana?"
Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah sangat kuprediksi akan meluncur dari mulutnya tepat di saat aku mulai menyinggung masalah klasifikasi tipe akting barusan. Dan untuk pertanyaan spesifik yang satu ini, aku sangat yakin siapa pun orang di luar sana yang pernah mengenal sosoknya pasti akan melayangkan satu jawaban seragam yang sama.
"Kakakmu murni tanpa ada keraguan sedikit pun merupakan bagian dari Tipe Genius──"
Persis seperti makna harfiah dari kata 'sempurna' itu sendiri, dia adalah sosok aktris yang eksistensinya sama sekali tidak memiliki celah maupun cacat sedikit pun.
Jika ada 100 orang yang pernah menyaksikan bagaimana sepak terjangnya di industri ini, maka seratus orang tersebut dipastikan akan langsung melayangkan jawaban konfirmasi yang sama tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Dalam kehidupan sehari-hari, dia murni hanyalah seorang gadis biasa yang memiliki kepribadian yang sangat polos, ceria, jenaka, dan entah bagaimana caranya bisa dengan sangat mudah disukai oleh semua orang layaknya sebuah keajaiban. Akan tetapi, tepat di detik saat kedua kaki dan siluet tubuhnya sudah resmi melangkah naik ke atas panggung pementasan, dia bisa memutarbalikkan karakteristik perannya secara instan dengan tingkat kesempurnaan mutlak, persis seperti kecepatan jemari tangan kita di saat sedang menekan tombol sakelar pemindah saluran di televisi. Saat pertama kali mendapatkan kesempatan untuk beradu akting dengannya dulu, aku benar-benar dibuat terbelalak takjub...... aku sampai terus-menerus membatin di dalam kepala mengenai takdir kehidupan seperti apa yang telah dilaluinya hingga bisa melahirkan sosok manusia genius sekaliber dirinya."
Aku meloloskan seluruh untaian impresi jujurku tersebut sembari ingatan kepalaku kembali bernostalgia mengenang memori di masa-masa lalu.
Mendengarkan penjelasanku, Yuu tampak menggeser arah pandangan matanya perlahan ke arah samping sembari merenungkan sesuatu.
"Saya rasa...... hal itu bisa terjadi karena sepanjang hidupnya, Kakak selalu konsisten memaksa dirinya untuk mendalami peran sebagai sosok 'anak yang baik'."
Yuu menyuarakan baris kalimat tersebut dengan pancaran sepasang bola mata yang tampak dirundung oleh seulas kabut melankolis yang teramat sangat tipis, seolah dia sedang merindukan sebuah memori hangat sekaligus menyakitkan di masa lalu.
"Persis seperti apa yang telah Kanata-san ketahui selama ini, saya dan Kakak menjalani masa pertumbuhan kami sejak kecil di dalam sebuah panti asuhan. Di dalam sana ada banyak sekali jajaran staf pengasuh yang bertugas...... dan jika harus jujur, lingkungan tempat kami bernaung saat itu sama sekali tidak bisa dikategorikan sebagai sebuah tempat yang ideal untuk membesarkan anak-anak. Oleh karena itulah, demi bisa mengamankan sebuah kehidupan yang damai dan tenteram di tengah pusaran lingkungan yang keras tersebut, Kakak selalu memutar otak agar bisa disukai oleh jajaran orang dewasa di sana, di mana dia secara konsisten terus mengubah karakteristik perannya demi bisa menjelma menjadi sosok perwujudan dari 'anak idaman' yang ideal bagi masing-masing individu yang dihadapinya."
"Mengubah karakteristik peran demi menjadi anak idaman...... maksudmu, dia nekat mempraktikkan metode sandiwara tersebut di hadapan masing-masing staf pengasuh secara spesifik satu per satu?"
"Iya. Dan sebagai buah hasil dari strategi tersebut, Kakak berhasil memenangkan hati dan disukai oleh seluruh orang dewasa yang bekerja di dalam panti asuhan tanpa ada satu pun yang terlewat."
"Kamu...... pasti sedang bercanda, kan?"
Sebuah fakta yang teramat sangat mencengangkan hingga rasanya benar-benar mustahil untuk bisa diterima oleh nalar sehat orang normal. Akan tetapi, di saat yang bersamaan, ada bagian dari dalam lubuk hatiku yang mendadak langsung tersadar dan membenarkan isi cerita tersebut. Sebab bagaimanapun juga, pesona daya pikat yang mendekap eksistensi seorang Tachibana Haruka di dunia nyata memang berada di dalam tingkatan yang teramat sangat tidak masuk akal, di mana dia selalu bisa dengan mudah memenangkan hati siapa saja tanpa terkecuali.
"Ah, jadi karena alasan itulah semuanya bisa terjadi, ya......"
Akar dari letak misteri yang menjadi sumber kekuatan utama dari bakat kejeniusan mutlak milik Tachibana Haruka.
Sebuah bakat supernatural yang pada hakikatnya terpaksa harus terasah secara paksa sejak dia masih berusia teramat sangat dini murni demi bisa bertahan hidup di dalam kerasnya lingkungan panti asuhan. Berlandaskan sebuah motif mulia demi memastikan agar jalan kehidupan dirinya beserta sang adik tercinta bisa terus berjalan dengan aman dan terjamin tanpa ada kendala kekurangan apa pun di tengah rumitnya lingkaran faset hubungan sosial di dalam panti, taktik adaptasi sosial yang dipraktikkannya sehari-hari untuk mendalami peran menjadi sosok anak idaman di hadapan orang dewasa itulah yang akhirnya bermutasi menjadi fondasi utama dari bakat aktingnya.
Fakta bahwa seorang anak kecil sudah mampu mengeksekusi metode manipulasi psikologis sekompleks itu saja sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk mengukuhkan statusnya sebagai seorang genius sejati. Namun, jika realitasnya dia sudah konsisten bersandiwara mendalami peran bahkan sebelum usianya resmi menginjak bangku Sekolah Dasar, maka itu artinya panjang rekam jejak karier akting yang didekapnya terhitung setara, atau bahkan mungkin sudah melompat jauh melampaui total durasi karier akting milikku sendiri. Apalagi jika mengingat bahwa dia mempraktikkan metode sandiwara tersebut di sepanjang waktu dalam kehidupan sehari-harinya secara nonstop...
"......Wajar saja kalau aku selamanya tidak akan pernah bisa menang melawannya."
Tampaknya selama ini aku telah mendekap sebuah kesalahpahaman yang teramat sangat besar di dalam kepala.
Ada sebuah rasa sesal yang mendadak menyeruak naik ke dalam dadaku saat ini, menyesali mengapa dulu aku malah memilih untuk langsung melarikan diri dan menyerah begitu saja hanya karena menjadikannya sebagai sebuah alasan pembenaran.
Andai kata dulu aku mau sedikit menurunkan ego untuk membuka mata dan berhadapan langsung secara sehat demi memahami sosok Tachibana Haruka yang sebenarnya, aku mungkin tidak akan pernah perlu sampai membebani diriku sendiri dengan kepemilikan rasa inferioritas yang teramat sangat berlebihan semacam ini. Dan yang paling penting, mengubur dan melabeli seluruh perjuangan keras hidupnya murni dengan menggunakan satu kata instan berupa 'genius' padahal aku sama sekali tidak mengetahui apa-apa mengenai latar belakang hidupnya, merupakan sebuah tindakan yang teramat sangat tidak sopan dan tidak beretika.
Jika dulu aku mau membuka diri untuk melangkah lebih jauh demi mengenal sosoknya, garis masa depan yang tersaji hari ini dipastikan akan berjalan ke arah yang berbeda.
"Kanata-san......?"
Yuu tampak memajukan sedikit posisi kepalanya sembari menatap lekat-lekat ke arah wajahku dengan gurat ekspresi yang dipenuhi oleh rasa cemas.
"Ah, maaf...... tidak apa-apa, kok."
Sekarang murni bukanlah momentum yang tepat bagi diriku untuk meratapi nasib buruk ataupun terjebak merenungkan pengandaian masa lalu yang tidak nyata.
"Akan tetapi, untuk saat ini kamu masih belum perlu sampai harus pusing-pusing memikirkan masuk ke dalam kategori tipe manakah karakteristik atribut personalmu yang sebenarnya. Sebab perkara semacam itu baru akan bisa disadari dan dipahami dengan baik setelah kamu berhasil mengumpulkan modal kuantitas pengalaman hidup yang cukup terlebih dahulu. Untuk langkah awal ini, aku ingin kamu murni memfokuskan seluruh perhatianmu pada proses untuk mengenali berbagai macam bentuk emosi dan mempertajam kadar kepekaan rasa saja. Mengingat sisa waktu persiapanmu menuju ke arah pementasan teater resmi terhitung hanya tinggal menyisakan durasi dua bulan lagi, aku sangat tahu bahwa kamu pasti akan sangat rawan tergoda untuk mengambil jalan pintas dengan cara mengandalkan berbagai trik ataupun teknik akting instan luaran belaka. Namun, memperkaya isi kotak penyimpanan emosimu melalui perantara penumpukan berbagai macam bentuk pengalaman hidup yang nyata, pada realitasnya justru akan membuahkan hasil yang jauh lebih optimal demi melahirkan kualitas akting yang kokoh."
"Artinya, ini merupakan sebuah prinsip konsep di mana kita dituntut untuk berani mengambil jalan memutar yang aman demi bisa mencapai tujuan dengan selamat, begitu?"
"Iya, tepat sekali."
"Baik. Saya mengerti."
Yuu menerima dan menyerap seluruh butir nasihatku barusan dengan sikap yang teramat sangat patuh nan tulus. Meskipun sampai detik ini dia masih tetap bersikeras bungkam dan enggan membeberkan apa alasan mendasar yang membuatnya sampai begitu keras kepala menuntut ilmu dariku, serta fakta bagaimana dia sempat nekat mogok berdiam diri di dalam ruang apartemenku sebelum aku bersedia meloloskan kata sepakat untuk mengajarinya, yang mana sekilas rentetan gestur tersebut mungkin akan membuat orang luar salah paham dan menilainya sebagai sosok gadis yang egois dan keras kepala, namun realitas aslinya sama sekali tidaklah demikian.
Selama kita mau meluangkan waktu untuk merapikan struktur bahasanya dan menyampaikannya secara rasional, dia dipastikan akan selalu menunjukkan faset kepribadiannya yang sangat penurut dan berhati bersih seperti sekarang.
Mungkin karena alasan itulah...... jemari tanganku pada akhirnya selalu refleks bergerak mengulurkan bantuan untuk menopang hidupnya tanpa bisa dibendung.
"Kalau begitu, Sensei, kira-kira bentuk pengalaman hidup seperti apa yang sebaiknya harus saya cicipi untuk pertama kalinya?"
"......Maaf, kamu bilang apa barusan?"
Bukannya aku tidak mampu menangkap isi kalimatnya dengan jelas, namun aku murni sengaja melayangkan pertanyaan konfirmasi ulang demi memastikan pendengaran telingaku tidak salah.
"Dulu Kakak pernah berpesan kepada saya, bahwa kepada siapa pun sosok pihak yang kita jadikan sebagai mentor tempat bernaung untuk menuntut ilmu, maka kita diwajibkan untuk memanggil sosok tersebut dengan sebutan hormat berupa Sensei."
"Meskipun nilai moral dari wejangan kakakmu itu secara esensi memang benar, sih, akan tetapi......"
Benar-benar, deh, aktris genius yang satu itu terkadang suka sekali membuatku pusing karena sifatnya yang terlampau kaku dan kelewat serius di dalam ranah-ranah perkara yang tidak terduga semacam ini.
"Tolong hentikan panggilan itu. Panggil saja aku Kanata seperti biasa."
"Tidak boleh. Aturan ini mutlak wajib ditaati. Setidaknya, izinkan saya untuk tetap setia menggunakan panggilan Sensei khusus di sepanjang sesi jam pelatihan kita saja."
Yuu langsung melayangkan penolakan keras dengan sikap defensif yang teramat sangat kokoh, persis layaknya gestur seekor anjing ras Shiba Inu yang mendadak mogok berdiri dengan kaki kaku karena enggan ditarik pulang saat sedang asyik berjalan-jalan sore.
"Mulai hari ini dan seterusnya, mohon bimbingannya selalu ya, Sensei~♪"
......Oke, aku resmi menarik kembali seluruh untaian kalimat pujianku yang sebelumnya.
Jika sudah sampai di titik ini, kadar kekerasbepalaan yang mendekap jiwa Yuu terhitung sudah masuk ke dalam fase yang terlampau akut. Namun entah mengapa, mendengar untaian panggilan tersebut meluncur dari mulutnya, lubuk hatiku secara ajaib sama sekali tidak merasa terganggu ataupun kesal.
*
Dan tepat sejak momentum hari itu resmi bergulir, aku pun mulai konsisten mengajaknya melangkah pergi mengunjungi berbagai macam destinasi tempat yang berbeda.
Demi bisa membantunya memahami bagaimana rasanya meletuskan tawa yang mengalir jujur dari lubuk hati yang terdalam, aku sengaja mengajaknya pergi menonton pertunjukan komedi Manzai. Demi membiarkannya mencecap rasa haru, aku mengajaknya pergi menonton tayangan film melodrama yang mustahil untuk disaksikan tanpa meneteskan air mata. Dan terkadang, demi mengasah guratan kepekaan seninya, aku akan meluangkan waktu membimbing langkah kakinya menyusuri ruang-ruang galeri museum seni.
Di mata orang awam, rentetan agenda kami belakangan ini mungkin akan terlihat murni layaknya sepasang manusia yang hanya sedang asyik bermain-main saja. Namun pada realitasnya, ini semua merupakan sebuah proses akumulasi pengalaman yang mutlak diperlukan demi bisa mengenali karakteristik dari berbagai macam faset emosi.
Sebab jika ingin berkaca pada kenyataan yang ada, intensitas momen di mana seorang manusia bisa benar-benar merasakan gejolak emosi gembira, marah, sedih, maupun tawa secara murni di dalam dinamika kehidupan sehari-hari sebenarnya terhitung teramat sangat jarang.
Oleh karena itulah, aku ingin dia bisa mencicipi dan menguji seluruh spektrum emosi tersebut melalui perantara stimulasi yang paling mudah untuk dicerna.
Berlandaskan pemikiran itulah, tepat pada momen akhir pekan di pertengahan bulan Juni...
"Ini adalah kali pertama bagi saya untuk berkunjung ke sebuah taman bermain!"
Persis seperti apa yang disuarakan melalui pekik kegembiraan Yuu barusan, hari ini kami berdua resmi melangkahkan kaki berkunjung ke sebuah taman hiburan (theme park).
Destinasi yang kami pilih saat ini adalah sebuah kawasan taman bermain raksasa ternama yang berlokasi tepat di bawah hamparan kaki Gunung Fuji, yang mana letaknya membutuhkan durasi perjalanan selama kurang lebih dua jam dengan menggunakan bus ekspres dari pusat kota Tokyo.
Di dalam area ini, tersaji kisaran hampir empat puluh variasi jenis wahana permainan, yang mana beberapa di antaranya bahkan sukses mengukuhkan diri dengan menyabet gelar kehormatan sebagai wahana terbaik nomor satu di Jepang maupun di kancah dunia. Sebuah titik lokasi populer yang teramat sangat digandrungi oleh faset generasi lintas usia karena dinilai mampu menyuguhkan keseruan bagi kalangan anak-anak hingga orang dewasa sekalipun.
"Akan tetapi, kalau boleh tahu apa alasan mendasar yang membuat Kanata-san tiba-tiba melayangkan ajakan untuk pergi ke taman bermain?"
Sosok Yuu yang sedang menyuarakan baris kalimat tanya di samping posisiku saat ini tampak memancarkan riak atmosfer yang terasa jauh lebih dewasa daripada biasanya.
Alih-alih mengenakan jajaran pakaian yang menonjolkan kesan imut seperti hari-hari biasa, hari ini dia tampak memilih perpaduan busana yang teramat sangat elegan nan berkelas, lengkap dengan polesan riasan wajah (make-up) yang terhitung sangat sempurna tanpa cela. Untaian rambut panjangnya pun tampak ditata sedemikian rupa membentuk model gelombang ikal yang lembut, memancarkan siluet bayangan dari sosok sang kakak yang membuat paras cantiknya hari ini benar-benar menjelma bagai hidup kembali dalam wujud diri Tachibana Haruka.
Sebagai bukti konkret atas pesona visualnya tersebut, mayoritas dari jajaran kaum pria yang kebetulan berpapasan jalan dengan posisi kami tampak tidak mampu menahan diri untuk tidak memutar kembali tubuh mereka demi bisa memandang wajah Yuu sekali lagi.
Benar-benar tidak masuk akal...... meski statusnya adalah seorang adik kandung sekalipun, kemiripan visual di antara mereka berdua benar-benar sudah berada di dalam fase yang terlampau identik.
"Kanata-san, apakah Anda sedang mendengarkan ucapan saya?"
"Ah, maaf...... setengah dari isi kalimatmu tadi tidak sempat tertangkap oleh fokus kepalaku."
Sebab bagaimanapun juga, mustahil bagi diriku untuk melayangkan pengakuan jujur secara blak-blakan di hadapannya bahwa fokus pikiranku mendadak sempat terhipnotis karena terpesona melihat kecantikan parasnya hari ini, kan?
Namun tampaknya, meski mulutku memilih bungkam, rona emosi tersebut sudah telanjur terlukis dengan sangat jelas di atas permukaan wajahku.
"Jangan-jangan...... Kanata-san baru saja sempat terpesona saat sedang memandangi wajah saya, ya?"
Yuu tampak memajukan sedikit posisi kepalanya demi bisa mengintip ke arah ekspresi wajahku sembari melayangkan seulas senyuman jahil yang teramat sangat menggoda.
"Bisa dibilang begitu, sih...... aku murni hanya merasa bahwa garis atmosfer yang melekat di tubuhmu hari ini benar-benar terasa sangat berbeda dari biasanya."
"Tentu saja berbeda. Mengingat hari ini Kanata-san sudah meluangkan waktu untuk mengajak saya pergi berkencan, maka sudah menjadi sebuah kewajiban moral bagi saya untuk bersolek dan berdandan secantik mungkin, kan? Lantas, bagaimana menurut penilaian Anda sendiri? Apakah penampilan saya yang sekarang sudah dinilai cukup pantas dan tidak akan membuat Kanata-san merasa malu saat harus berjalan bersandingan dengan saya di tempat umum?"
Yuu tampak memutar siluet tubuhnya dengan anggun sebanyak satu putaran tepat di hadapan pelupuk mataku, seolah dia sedang memamerkan hasil mahakarya busana yang melekat di tubuhnya.
Meskipun aku pribadi memilih untuk mengesampingkan terlebih dahulu perkara mengenai fakta mengapa dia bisa dengan begitu ringannya melabeli agenda hari ini sebagai sebuah 'kencan' belaka...
"Tenang saja. Bukan hanya di hadapanku, siap pun sosok pria yang berdiri mendampingimu hari ini dipastikan tidak akan pernah merasa malu sedikit pun, jadi hilangkan rasa cemasmu itu, ya."
"Apakah hal itu benar? Saya benar-benar merasa sangat bahagia karena bisa mendengarkan kalimat penegasan semacam itu langsung keluar dari mulut Kanata-san."
Yuu tampak menundukkan wajahnya perlahan sembari menyembunyikan seulas senyuman malu-malu yang teramat sangat manis, sebelum akhirnya dia kembali melayangkan baris pertanyaan yang serupa dengan sebelumnya.
"Lantas, kalau boleh tahu apa alasan esensial yang membuat Kakak bersedia membawa saya pergi berkunjung ke taman bermain ini?"
"Tentu saja tujuan utamanya murni dialokasikan demi kelancaran proses pembelajaran aktingmu, kan."
"Memangnya agenda pergi berkencan ke sebuah taman bermain bisa dikategorikan sebagai bagian dari proses pembelajaran ilmu akting?"
"Di dalam upaya untuk memahami berbagai macam bentuk faset emosi manusia, sebuah kawasan taman bermain pada realitasnya justru merupakan sebuah lokasi yang teramat sangat ideal dan fungsional, tahu."
Mendengarkan baris kalimat penjelasanku yang dirasa masih belum mampu menyentuh logika nalarnya, Yuu tampak mendaratkan salah satu jari tangannya di atas dagu sembari refleks memiringkan kepalanya ke arah kanan dan kiri perlahan.
Sebab murni dipicu oleh adanya perbedaan garis atmosfer tubuhnya yang terasa jauh lebih dewasa hari ini, gestur-gestur kecil yang dilakukannya tersebut entah mengapa justru jadi terlihat berkali-kali lipat lebih menggemaskan di dalam mataku, dan hal ini benar-benar sukses membuat kepalaku pusing sendiri.
"Mari kita ambil contoh kecil dari satu wahana kereta luncur roller coaster saja. Di saat kamu naik ke atasnya, emosi yang meletus di dalam dadamu dipastikan bukan hanya sebatas rasa kesenangan murni belaka, melainkan juga adanya keterlibatan dari sebuah sensasi ketegangan yang memacu adrenalin. Demi memastikan agar jajaran pengunjung tidak pernah merasa jenuh, setiap wahana permainan sengaja dicanangkan dengan konsep daya tarik keseruan yang berbeda-beda; di mana ada beberapa titik tempat yang sengaja dirancang untuk memicu gelombang ketakutan maupun kecemasan, sementara di sisi lain ada juga beberapa wahana yang sengaja dibangun demi menyuguhkan sebuah nilai keharuan. Singkat cerita, taman bermain adalah sebuah wadah lokasi di mana gejolak emosi manusia bisa terstimulasi dan bergerak aktif dengan cara yang paling mudah untuk dipahami."
Khususnya jika kita merujuk pada kawasan taman bermain milik kerajaan tikus ternama di luar sana, konsep implementasinya dipastikan akan jauh lebih mudah untuk diidentifikasi. Sebab seluruh tatanan konsep dunianya memang sengaja dibangun secara radikal demi bisa menggerakkan gejolak emosi dari para pengunjungnya.
"Dan fakta mengenai adanya 'gejolak emosi yang bergerak aktif' inilah, yang sebenarnya menempati posisi sebagai pilar pondasi paling dasar dari arti sebuah keseruan di dalam industri hiburan."
"Pilar pondasi paling dasar dari sebuah keseruan......"
"Benar. Karena pada hakikatnya, manusia baru akan bisa menilai sebuah karya atau tontonan itu terasa 'seru' murni di saat faset emosi di dalam dada mereka berhasil digerakkan secara aktif. Tidak peduli apa pun jenis genre emosi yang terlibat di dalamnya, selama faset tersebut berhasil digoyang, maka entah itu berupa genre komedi romantis, kisah drama yang mengharukan, untaian cerita dinamika remaja, kisah konflik cinta dan benci yang pekat layaknya opera sabun paruh baya, horor mencekam, atau bahkan sampai ke ranah ekstrem seperti kisah perselingkuhan maupun tayangan sadis erotis sekalipun, jajaran penonton akan tetap bisa menilai karya tersebut memiliki sisi keseruan yang menarik. Namun sebaliknya, andai faset emosi tersebut sama sekali tidak bergerak aktif, maka karya tersebut dipastikan tidak akan mampu memicu rasa ketertarikan sedikit pun di dalam nalar penonton. Dan perkara inilah yang menjadi salah satu alasan mendasar mengapa seorang aktor mutlak dituntut untuk menguasai berbagai macam bentuk emosi manusia terlebih dahulu. Sebab bagaimana mungkin kamu bisa memiliki kapasitas untuk menggerakkan emosi orang lain, jika kamu sendiri bahkan tidak memahami bagaimana struktur rasa dari emosi tersebut?"
"Ah, begitu, ya...... Memang benar, jika mendengarkan untaian penjelasan dari Kanata-san barusan, tempat ini mendadak jadi terasa bagai sebuah lokasi pembelajaran yang sangat menjanjikan."
"Terutama di dalam sebuah ruang lingkup atmosfer yang terlepas dari realitas kehidupan sehari-hari seperti taman bermain ini, mental manusia dipastikan akan menjadi jauh lebih rentan untuk terbawa oleh arus emosional. Momentum ini tidak hanya bisa kamu manfaatkan sebagai sarana untuk menemukan faset emosi baru yang belum pernah kamu ketahui di dalam dirimu sendiri, melainkan juga bisa bertransformasi menjadi sebuah wadah yang sangat baik untuk meluapkan seluruh emosimu melalui perantara jeritan ataupun tangisan."
Sebuah lokasi strategis di mana proses penyerapan materi dan proses penyaluran bakat bisa dicicipi secara paralel dalam satu waktu yang sama.
"Mendengarnya membuat saya merasa seolah hari ini saya akan bisa menemukan sosok versi baru dari dalam diri saya sendiri."
"Meskipun begitu, kamu juga tidak perlu sampai membebani isi kepalamu dengan memikirkannya secara terlampau rumit atau kaku, sih."
Mengingat momentum hari ini merupakan pengalaman pertama baginya untuk berkunjung ke sebuah taman bermain, maka mengalir secara alami mengikuti insting tubuh murni merupakan pilihan yang terbaik.
Menikmati setiap detiknya dengan segenap jiwa dan suasana hati yang lepas justru akan membuahkan sebuah rekam jejak pengalaman yang jauh lebih berharga bagi dirinya.
"Baik, saya paham. Kalau begitu, mari kita nikmati agenda kencan hari ini dengan normal dan santai!"
Yuu segera menyambar pergelangan tanganku, lalu mulai melangkahkan kaki dengan ritme yang tergesa-gesa seolah dia sudah tidak sabar lagi.
"Wahana apa yang sebaiknya harus kita naiki untuk pertama kalinya?"
"Aku serahkan seluruh keputusannya kepadamu, Yuu. Wahana mana yang paling ingin kamu coba?"
"Kalau begitu, sebagai menu pembuka, saya ingin kita mencoba wahana yang ada di sebelah sana!"
Dengan sepasang bola mata yang tampak berbinar-binar penuh akan antusiasme, jari tangannya tampak menunjuk lurus ke arah sebuah wahana permainan yang menduduki peringkat popularitas nomor satu di tempat ini.
Sebuah jet coaster yang sengaja dianugerahi nama berdasarkan nama gunung tertinggi yang ada di dataran Jepang. Wahana berperingkat dunia ini mendekap spesifikasi monster yang teramat sangat mengerikan, di mana kecepatan maksimumnya mampu melesat menembus angka di atas 130 km/jam, dengan jarak titik jatuh vertikal maksimum mencapai ketinggian lebih dari 70 meter tanpa ampun. sebuah wahana super ikonik yang menempati kasta tertinggi di dunia ekstrem.
Menyaksikan bagaimana tingginya struktur besi wahana tersebut menjulang ke angkasa hingga membuat leherku terasa pegal hanya untuk sekadar menatap puncaknya, sukses membuat nyali di dalam dadaku seketika langsung mengkerut drastis.
"Ayo, mari kita segera berangkat!"
"............"
Yang benar saja...... masa sebagai menu pembuka untuk wahana pertama kami langsung dihajar oleh monster kereta luncur paling mengerikan di tempat ini?
Melihat bagaimana garis wajahku saat ini tampaknya sudah terlukis dengan ekspresi yang berbanding terbalik 180 derajat dari pancaran senyuman lebar milik Yuu...
"Kanata-san, jangan-jangan Anda adalah tipe orang yang tidak terlalu bersahabat dengan wahana kereta luncur ekstrem semacam ini, ya?"
"Bukannya aku tidak bisa naik, ya, hanya saja jika harus berhadapan dengan monster yang satu ini, aku rasa level kengeriannya benar-benar berada di tingkatan yang berbeda, tahu......"
Sembari melangkahkan kaki beriringan menuju ke arah barisan antrean yang mengular panjang di ujung belakang, aku mencoba melayangkan pertanyaan konfirmasi untuk memastikan apakah kondisi mental Yuu benar-benar baik-baik saja menghadapi wahana ini.
"Mengingat ini adalah pengalaman pertama bagi saya untuk menaikinya, saya pribadi sebenarnya juga tidak terlalu paham bagaimana efek pastinya nanti, sih, Kak. Namun saya rasa kondisi saya dipastikan akan aman-aman saja."
"Dari mana sebenarnya asal-muasal rasa percaya dirimu yang teramat sangat kokoh itu......"
Tepat di saat kami sedang sibuk berdialog, barisan antrean di depan kami terpantau terus bergerak maju dengan sangat cepat hingga akhirnya tibalah momentum giliran kami untuk naik.
Entah ini harus dikategorikan sebagai sebuah keberuntungan atau justru sebuah kesialan murni──yang mana isi kepalaku secara mutlak lebih meyakini opsi yang kedua──kami berdua didudukkan tepat pada barisan kursi paling depan dari badan kereta luncur tersebut.
Klak, klak, klak...
Diringi oleh gema bunyi ketukan mekanik rel yang berisik, kereta kami mulai merangkak naik secara perlahan mendaki ketinggian struktur menara yang menjulang setinggi 79 meter di atas permukaan tanah. Di dalam lembaran brosur panduan wisata yang sempat kubaca tadi, tertera sebuah kalimat promosi manis yang menjanjikan bahwa sebuah lanskap panorama megah dari Gunung Fuji akan tersaji dengan sangat indah tepat di hadapan pelupuk mata para penumpang. Namun pada realitasnya, jangankan untuk menikmati keindahan alam, menyisakan sedikit ruang di dalam dada agar tidak mati ketakutan saja rasanya sudah menjadi sebuah perjuangan yang mati-matian bagi diriku saat ini.
Gema bunyi gesekan besi rel yang terasa bagai sebuah alarm hitung mundur menuju ke arah gerbang kematian tersebut benar-benar sukses melipatgandakan level horor di dalam kepalaku.
Sial, harusnya aku tadi bersikap keras kepala saja untuk menolak naik──tepat di detik saat rasa sesal yang teramat sangat pekat itu resmi meletus di dalam benakku...
“”"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!! "””
Seketika itu juga, badan kereta kami langsung dihempaskan jatuh menukik ke arah bawah dengan kecepatan ekstrem, menyuguhkan sebuah sensasi jatuh bebas yang teramat sangat mengerikan seolah kami benar-benar sedang dilempar jatuh dari langit tanpa pengaman.
Di tengah gema hiruk-pikuk suara yang bersahutan entah berupa pekik kesenangan ataupun jerit tangis histeris dari jajaran penumpang lain di belakang, posisiku saat ini jangankan untuk bisa memproduksi suara teriakan, bahkan untuk sekadar menarik napas demi mengisi pasokan oksigen ke dalam paru-paru saja rasanya sudah benar-benar mustahil untuk dilakukan.
Di sepanjang lintasan, seisi organ dalam tubuhku secara konisten dipaksa untuk terus merasakan sensasi melayang yang teramat sangat menyiksa, sembari seluruh tubuhku terus-menerus diombang-ambingkan dan dilempar secara brutal ke arah atas, bawah, kanan, dan kiri dengan grafik kecepatan monster yang terasa seolah siap mematahkan persendian leherku kapan saja. Rasa-rasanya, aku benar-benar ingin kembali ke masa beberapa menit yang lalu demi bisa memukuli sosok diriku sendiri yang sempat membatin bodoh bahwa wahana ini masih terhitung ramah murni hanya karena lintasannya tidak mengusung konsep looping.
Sumpah, orang yang merancang wahana ini pasti ada beberapa sekrup di kepalanya yang sudah lepas!
Sembari mendekap rasa dendam yang teramat sangat pekat kepada sang perancang wahana, petualangan non-keseharian yang berlangsung selama tiga setengah menit itu pun akhirnya resmi berakhir dengan selamat.
"Seru banget!"
"............"
Tepat setelah turun dari wahana, kondisi Yuu yang tampak mengulas senyuman penuh kepuasan terlihat berbanding terbalik 180 derajat dengan kondisiku yang sudah megap-megap kehabisan napas. Aku bahkan merasa belum pernah menyaksikan sebuah ekspresi wajah manusia yang bisa terlihat begitu segar bugar dan sekongruen itu dengan frasa 'suasana hati yang menyenangkan'.
"Kanata-san, Anda baik-baik saja?"
"Hampir mati, tapi setidaknya nyawaku masih terkumpul......"
"Duh, dasar, tidak ada pilihan lain kalau begitu, ya."
Melihat kondisiku yang sudah tidak keruan, Yuu tampak berinisiatif merapatkan tubuhnya lalu mendekap lengan tanganku demi memberikan topangan.
"Kanata-san, jika Anda memang tidak terlalu bersahabat dengan wahana ekstrem, mengapa Anda tetap bersikeras membawa saya ke tempat ini?"
"Meskipun tujuan utamanya murni demi proses pembelajaranmu, namun jika aku tega melepasmu pergi dan menyuruhmu naik seorang diri, rasanya hal itu teramat sangat kasihan, kan."
"Kanata-san......"
Walaupun jika harus jujur, aku saat ini sebenarnya agak sedikit menyesali keputusanku yang nekat menemaninya naik tadi, sih.
"Baik, saya paham!"
Seketika itu juga, Yuu menyuarakan sebuah untaian kalimat dengan pancaran aura tekad yang teramat sangat kokoh.
"Demi memastikan agar segala bentuk kebaikan hati dan pengorbanan yang telah Kanata-san kerahkan hari ini tidak berakhir menjadi sebuah kesia-siaan, saya memutuskan untuk menaklukkan seluruh wahana roller coaster yang ada di dalam taman bermain ini!"
"Hei, tunggu, jangan semuanya juga, dong......"
"Berikutnya, mari kita coba wahana yang ada di sebelah sana!"
Sembari berkata demikian, jari tangannya tampak menunjuk lurus ke arah sebuah wahana roller coaster yang menduduki peringkat kedua dalam faset indeks monster paling mengerikan di tempat ini.
Wahana yang satu ini mengusung daya pikat utama berupa kombinasi akselerasi instan, tanjakan radikal, kelokan tajam, serta turunan curam ekstrem; seolah sang perancang sengaja memasukkan segala faset kata 'mendadak' ke dalam konsep pembuatannya.
Ditambah lagi, wahana ini juga sedang sangat viral diperbincangkan karena menyuguhkan sensasi jatuh dengan sudut kemiringan mencapai 120 derajat yang teramat sangat mengoyak nyali. Padahal jika tujuannya murni hanya untuk jatuh bebas vertikal, batas sudut kemiringan 90 derajat saja sebenarnya sudah lebih dari cukup, jadi aku benar-benar tidak habis pikir apa motif esensial dari sang desainer sampai nekat menambahkan bonus 30 derajat lagi ke dalamnya.
"Yuu, untuk yang satu ini tolong biarkan aku beristirahat di bawah saja, kamu pergi──"
"Ayo, tidak ada waktu untuk bersantai, mari kita berangkat!"
Dan sebagai buah hasil dari aksi penyeretan tubuhku yang dilakukan secara setengah paksa tersebut...
"Wah, ini benar-benar sangat menyenangkan, ya!"
"HIIIIIIIIIIIIK!!"
Persis seperti apa yang sudah diprediksi sebelumnya, visual yang tersaji di sepanjang lintasan murni menampilkan sosok Yuu yang sedang menikmati momen dengan segenap jiwa, bersanding tepat di samping wujud diriku yang terus-menerus melayangkan jeritan histeris karena terlampau ketakutan.
Setelah momen mengerikan itu berlalu, petualangan kami terus berlanjut dihajar oleh wahana roller coaster bertipe gantung yang memaksa tubuh kami berputar terbalik (looping) dan meliuk-liuk ekstrem di udara, lalu berpindah lagi ke wahana roller coaster berkecepatan supersonik yang mampu menembus batas kecepatan tertinggi hanya dalam kurun waktu dua detik sejak awal peluncuran...... Hingga pada akhirnya, tepat di saat sistem organ keseimbangan di dalam rongga telingaku sudah resmi dinyatakan rusak total akibat guncangan, persis seperti ikrar maklumat yang sempat disuarakan oleh Yuu sebelumnya, kami berdua telah resmi berhasil menaklukkan seluruh variasi wahana roller coaster ekstrem di tempat ini tepat saat jam dinding baru saja menyentuh batas waktu siang hari.
Rasanya, jatah kuota seumur hidupku untuk naik wahana roller coaster sudah lunas dihabiskan dalam waktu setengah hari ini saja......
Berlandaskan rentetan petualangan ekstrem tersebut, begitu waktu sudah resmi bergulir melewati jam dua belas siang, kami pun memutuskan untuk meluangkan waktu sejenak demi beristirahat sembari mengisi perut.
Mengandalkan sepasang kaki yang jalannya sudah tampak terhuyung-huyung lemas, aku mengarahkan langkah menuju ke sebuah area terbuka hijau bernama Central Park yang terletak di dalam kawasan taman bermain.
Area ini pada hakikatnya merupakan sebuah ruang serbaguna yang lumrahnya difungsikan sebagai lokasi penyelenggaraan festival kuliner, acara panggung hiburan, hingga pasar loak (flea market). Namun di saat sedang tidak ada agenda acara apa pun yang bergulir seperti hari ini, lokasi tersebut otomatis berubah fungsi menjadi sebuah tempat peristirahatan yang sangat damai, di mana para pengunjung bisa bersantai dengan nyaman sembari menikmati keindahan lanskap panorama sekitar.
Di sana juga tersaji sebuah area perbukitan kecil yang permukaannya diselimuti oleh hamparan rumput hijau yang sangat bersih, menjadikannya sebagai sebuah titik lokasi yang teramat sangat ideal untuk melepas lelah.
Aku pun segera merebahkan seluruh siluet tubuhku seorang diri di atas hamparan rumput tersebut sembari melemparkan pandangan mata menatap lurus ke arah langit luas.
"Sumpah, ini benar-benar sangat menyiksa......"
Kondisi fisik dan suasana hatiku saat ini benar-benar berada di dalam fase yang paling buruk, sampai-sampai hamparan langit biru cerah yang membentang luas di hadapan pelupuk mataku saat ini pun terlihat sangat menyebalkan di dalam mataku.
Mengingat kondisiku sepertinya masih belum memungkinkan untuk digerakkan dalam waktu dekat, Yuu akhirnya mengajukan diri untuk pergi membelikan menu makan siang untuk kami berdua. Meskipun lubuk hatiku sempat didera rasa cemas karena membiarkannya pergi seorang diri, namun mengingat dia sudah bukan lagi seorang anak kecil dan kondisinya dipastikan akan baik-baik saja, aku memutuskan untuk menurunkan ego dan menerima tawaran kebaikan hatinya tersebut dengan penuh rasa syukur.
Meskipun isi kepalaku mendadak terasa sangat berat dan stres setiap kali teringat mengenai rentetan agenda wahana apa lagi yang harus kami hadapi di waktu sore nanti, namun menyaksikan bagaimana besarnya kebahagiaan yang terpancar dari wajah Yuu sepanjang hari ini, membuatku memantapkan tekad untuk kembali berjuang mengerahkan seluruh sisa tenaga yang kumiliki.
Tepat di saat pergulatan batin tersebut sedang berputar di dalam kepalaku...
"Mohon maaf ya karena sudah membuat Anda menunggu lama!"
Sebuah warna intonasi suara yang sudah sangat familier di dalam ingatan kepalaku perlahan menyapa gendang telinga, memaksaku untuk segera menegakkan kembali posisi tubuhku.
Begitu mataku terbuka, aku mendapati sosok Yuu yang kini sedang berdiri sembari mendekap sebuah tas berukuran cukup besar di jemari tangannya.
"Lho, bukankah tadi agenda utamamu pergi keluar murni untuk membelikan menu makan siang kita?"
"Sebenarnya...... ta-daaa!"
Sembari menyuarakan nada kejutan tersebut, dia tampak menarik keluar sebuah keranjang piknik (picnic basket) anyaman dari dalam tas besar yang dibawanya.
Begitu bagian penutup keranjangnya dibuka, pemandangan di dalam sana langsung menyuguhkan deretan menu sandwich beraneka warna yang tertata dengan sangat padat dan rapi.
"Ini...... dari mana kamu mendapatkannya?"
"Saya sengaja bangun sedikit lebih pagi untuk menyiapkannya. Karena mustahil bagi saya untuk terus mendekap dan membawa-bawa keranjang ini saat kita sedang asyik bermain di berbagai wahana tadi, jadi tepat setelah kita tiba di sini, saya langsung menitipkannya di dalam loker koin yang berada di dekat gerbang pintu masuk."
Memang benar, jika ingatan kepalaku ditarik mundur kembali, aku ingat dia sudah membawa tas besar tersebut sejak pertama kali kami melangkahkan kaki keluar dari ruang apartemen.
Tadi aku sempat merasa heran sendiri kapan tepatnya dia meluangkan waktu untuk menitipkan tas tersebut ke dalam loker koin, namun mengingat dia sempat izin pamit pergi ke toilet sesaat setelah kami resmi tiba di lokasi ini, kemungkinan besar dia mengeksekusi rencananya pada momentum tersebut.
"Saya akan menggelar tikar alas duduknya terlebih dahulu, apakah Kanata-san sudi membantu saya untuk memegangi ujungnya?"
"Ah, iya. Serahkan saja denganku."
Kami berdua saling bekerja sama memegangi masing-masing sudut ujung tikar, lalu membentangkannya dengan rapi di atas permukaan rumput sebelum akhirnya duduk bersandingan menghadap ke arah keranjang piknik.
Begitu sepasang bola mataku kembali melayangkan pandangan menatap ke arah isi dalam keranjang, aku disuguhkan oleh pemandangan jajaran menu sandwich dengan variasi isian yang teramat sangat masif, menyajikan sebuah gradasi perpaduan warna yang terhitung sangat indah dan estetik. Mulai dari menu variasi standar seperti tamago sando, daging ham, hingga tuna mayones; hingga variasi menu padat gizi lainnya seperti salad kentang dan korokke.
Bahkan di salah satu sudut wadah, tersaji juga menu sandwich manis berisi potongan buah pisang yang dibalut dengan lelehan fresh cream.
"Ini. Silakan diminum."
"Ah, terima kasih banyak, ya."
Benda yang mendarat di atas telapak tanganku saat ini adalah segelas teh hangat yang dituangkan dari dalam botol termos bawaannya. Sebab kondisi tenggorokanku saat ini memang sudah berada dalam fase yang sangat kering akibat terlampau lelah berteriak histeris di sepanjang hari, tegukan cairan teh dingin ini benar-benar terasa sangat nikmat menyegarkan leherku.
"Menyiapkan sandwich dengan variasi jenis isian yang sebanyak ini...... proses pembuatannya pasti memakan waktu yang sangat melelahkan, kan?"
"Sama sekali tidak melelahkan, kok. Karena seluruh bahan isiannya sudah sengaja saya cicil dan siapkan sejak tadi malam, jadi prosesnya terhitung sangat instan. Malahan, saking asyiknya memasak, saya sampai tidak sadar kalau kuantitas hasil jadinya justru menjadi kelewat banyak seperti yang Kanata-san lihat saat ini. Oleh karena itu, tolong habiskan yang banyak, ya."
"Kalau begitu, kira-kira aku sebaiknya memulai dari menu yang mana dulu, ya?"
Karena seluruh sajian di hadapanku terlihat teramat sangat lezat, sepasang bola mataku sempat dibuat kebingungan untuk menjatuhkan pilihan, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk mencicipi menu standar berupa sandwich isian telur terlebih dahulu.
“Selamat makan....uhn”
Tepat di detik saat kunyahan pertama resmi mendarat di dalam mulutku, sebuah ledakan rasa gurih yang teramat sangat nikmat langsung menyapu seluruh rongga lidah, memaksaku untuk meloloskan sebuah kalimat gumaman kagum secara spontan.
Keputusan cerdasnya untuk sengaja mencincang putih telur dengan potongan yang agak sedikit kasar berhasil menyisakan sebuah tekstur kenyal yang sangat khas di setiap gigitan, berpadu dengan sangat serasi bersama kelembutan kuning telur yang gurih nan legit serta takaran mayones yang teramat sangat pas. Bumbu dasarnya pun terasa sangat meresap, melahirkan sebuah cita rasa umami yang teramat sangat kuat.
Padahal niat awal kepalaku ingin mengunyahnya secara perlahan demi menikmati setiap sesapan rasanya, namun realitasnya aku justru langsung melahap habis sandwich tersebut dalam sekejap mata.
"Duh, tidak perlu sampai tergesa-gesa begitu saat mengunyahnya, kok. Stok makanan kita masih tersaji sangat banyak di sini."
Yuu tampak mengulurkan jari tangannya mendekat ke arah area wajahku, lalu menyentuh sudut bibirku dengan sangat lembut. Tepat di ujung jari jemarinya tersebut, tampak melekat sebutir potongan sisa guratan telur.
"Ah, maaf. Soalnya masakanmu ini benar-benar terasa teramat sangat lezat, sih......"
Selain karena aku merasa malu akibat telah melayangkan sebuah kelakuan ceroboh yang kekanak-kanakan di hadapannya, fakta bahwa Yuu baru saja menyeka sudut bibirku secara langsung murni sukses membuat rona merah di wajahku seketika langsung menyala hebat.
Sembari melayangkan baris kalimat pembelaan diri tersebut demi menyembunyikan rasa gengsi, jemari tanganku bergerak meraba isi kantong celana demi mencari selembar tisu.
"Nah, pakailah lembaran tisu ini untuk menyeka jarimu──lho, eh?"
Tepat di detik saat aku baru saja hendak menyodorkan lembaran tisu tersebut ke hadapannya, sebuah lanskap pemandangan yang sama sekali tidak pernah terprediksi oleh nalar sehatku mendadak tersaji secara nyata, sukses memaksa mulutku untuk seketika bungkam seribu bahasa karena terlampau terkejut.
Tanpa ada keraguan sedikit pun, Yuu tampak langsung memasukkan jari tangannya yang masih ternoda oleh sisa telur tadi tepat ke dalam rongga mulutnya sendiri.
"Hmm. Jika dicicipi kembali, saya rasa hasil masakan saya hari ini memang terhitung sangat sukses dan lezat."
Buset, yang benar saja...... aksi mesra semacam itu bukankah merupakan sebuah bentuk agenda visual yang murni hanya boleh dipraktikkan oleh sepasang manusia yang sudah resmi menyandang status sebagai kekasih saja?
Apakah Yuu pada dasarnya memang merupakan tipe gadis polos yang sama sekali tidak pernah ambil pusing mengenai perkara-perkara sensitif semacam ini, ataukah faset kepribadiannya saat ini murni sedang berada dalam fase terlampau bersemangat akibat atmosfer taman bermain, atau jangan-jangan... mentalnya saat ini murni sedang terstimulasi akibat terlalu banyak menyaksikan pemandangan sepasang kekasih lain di sekitar kami yang sedang asyik memamerkan kemesraan mereka sepanjang hari?
Ya, jika dipikir-pikir kembali, tepat di detik saat aku mengedarkan pandangan mata ke arah sekeliling, posisi tempat duduk kami berdua saat ini faktanya memang sudah resmi dikepung rapat oleh jajaran pasangan kekasih yang sedang memancarkan aura merah muda yang teramat sangat pekat.
Ah, sudahlah...... selama pihak Yuu sendiri memilih untuk bersikap biasa saja dan tidak menganggapnya sebagai masalah besar, maka opsi terbaik bagi diriku murni hanyalah mengesampingkan perkara tersebut dan bersikap seolah tidak ada hal aneh yang terjadi.
"Untuk menu selanjutnya, Kanata-san ingin mencicipi yang mana?"
"Bagaimana kalau kita coba sandwich isi daging ham?"
"Ini, silakan dinikmati~♪"
"......Anu, maksudku......"
Sebab alih-alih menyerahkan potongan sandwich tersebut ke atas telapak tanganku, kali ini dia justru memilih untuk menggenggamnya sendiri lalu menyodorkannya tepat di hadapan celah bibirku.
Bagaimanapun cara mataku memandang gestur tersebut, dia murni sedang berniat untuk mempraktikkan aksi menyuapi makanan kepadaku secara langsung. Tindakan yang menurutku pribadiku sudah terasa teramat sangat kelewat berbakti, atau mungkin lebih tepatnya sudah masuk ke dalam fase memamerkan kemesraan yang terlampau berlebihan. Jarak faset kedekatan fisik yang dalam hari-hari biasa saja sebenarnya sudah terhitung cukup intim, kini justru terasa berkali-kali lipat jauh lebih melekat rapat tanpa ada jarak pemisah sedikit pun.
Akan tetapi, menyaksikan bagaimana pancaran senyuman lebar yang teramat sangat bahagia terlukis di atas permukaan wajah Yuu saat ini, lubuk hatiku murni sama sekali tidak akan pernah tega untuk melayangkan sebuah kalimat penolakan yang dapat merusak suasana hatinya.
"Ayo, buka mulutnya...... aa~m."
"A...... aa~m......"
Sumpah, ini benar-benar terasa teramat sangat memalukan sekali! Akan tetapi, rasa dari sandwich daging ham hasil mahakaryanya ini murni harus kuakui teramat sangat lezat luar biasa.
"Nah, ini untuk segelas teh hangat tambahannya, silakan diminum."
"Terima kasih banyak, ya......"
Sebuah pelayanan mutlak yang benar-benar berada di dalam faset kemewahan tertinggi.
Andai kata suatu saat nanti aku ditakdirkan untuk memiliki sosok kekasih yang mendekap faset kepribadian tipe pelayan, aku rasa atmosfer kehidupan yang akan kuhadapi dipastikan akan berjalan persis seperti apa yang kurasakan saat ini.
Berbekal dari adanya rentetan rangkaian aksi kemesraan yang kualitasnya murni sama sekali tidak kalah saing jika dibandingkan dengan jajaran pasangan kekasih lain di sekitar tempat tersebut, agenda makan siang kami pun akhirnya resmi dituntaskan dengan sangat baik. Setelah membersihkan dan merapikan kembali gulungan tikar alas duduk, kami berdua memilih untuk merebahkan diri secara berdampingan di atas hamparan rumput hijau sembari melemparkan pandangan mata menatap lurus ke arah langit luas demi menikmati atmosfer ketenangan.
Gemburan hembusan angin paruh musim panas yang tampak bergerak lembut menyapu permukaan kulit pipi terasa teramat sangat nyaman, membuat kesadaran kepalaku berada di dalam fase yang sangat rawan untuk langsung terbuai masuk ke dalam alam tidur jika aku nekat menurunkan kewaspadaan sedikit saja.
"Atmosfer kedamaian yang seperti ini...... benar-benar terasa sangat indah, ya."
"Iya, kamu benar...... sesekali meluangkan waktu untuk menikmati momen semacam ini murni sama sekali tidak buruk."
"Saya rasa, konsep agenda kencan romantis yang seperti inilah yang sebenarnya selama ini selalu diimpikan dan didambakan oleh──"
Namun tepat di detik sebelum bibirku sempat meloloskan baris kalimat tanya bernada konfirmasi seperti, 'Apakah hal itu benar?', Yuu sudah terlebih dahulu menyambung untaian kalimatnya dengan baris kata kunci: "──Kakak."
"Begitu, ya......"
Aktris sekelas monster genius itu pun, pada hakikatnya tepat di saat kakinya sudah resmi melangkah turun dari atas panggung pementasan, tetaplah akan kembali bertransformasi menjadi sebatas seorang gadis remaja normal pada umumnya.
Keinginan untuk bisa mencicipi momen kencan romantis bersama dengan sosok pria yang dicintainya di dalam sebuah taman bermain murni merupakan sebuah faset impian yang teramat sangat wajar bagi ukuran gadis-gadis di generasinya. Akan tetapi, mengingat betapa masifnya tingkat popularitas dan dominasi nama besar yang mendekap eksistensi seorang Tachibana Haruka di puncak industri hiburan dulu, jangankan untuk menikmati kencan dengan tenang, melangkahkan kaki ke ruang publik saja sudah dipastikan akan langsung memicu sebuah kehebohan besar, dan keterlibatan partner lawan jenis di sampingnya otomatis akan langsung digoreng menjadi sebuah skandal media yang sangat masif.
Bagi ukuran seorang Tachibana Haruka, impian sederhana tersebut pada realitasnya justru merupakan sebuah faset khayalan yang paling mustahil dan paling sulit untuk diwujudkan di dalam hidupnya.
"Segala bentuk perkara dan impian yang gagal diwujudkan oleh Kakak semasa hidupnya...... aku memiliki tekad untuk menggantikan posisinya demi merealisasikan seluruh impian tersebut tanpa ada satu pun yang terlewat."
Yuu tampak menegakkan kembali posisi siluet tubuhnya, lalu jemari tangannya bergerak menahan untaian rambut panjangnya yang tampak berkibar cantik akibat sapuan angin, sembari sepasang bola matanya melemparkan pandangan lurus menatap ke arah lanskap pemandangan yang membentang luas di kejauhan sana.
Fakta mengenai mengapa visualisasi garis atmosfer tubuh Yuu hari ini bisa memancarkan sebuah aura kemiripan yang teramat sangat identik dengan sosok sang kakak, kemungkinan besar murni merupakan sebuah bentuk manifestasi nyata dari adanya luapan perasaan mendalam tersebut yang bersemayam di dalam dadanya.
"Meskipun keputusanmu untuk terus mendekap erat memori dan menghormati perasaan mendalam milik kakakmu itu adalah sebuah perkara yang teramat sangat mulia, namun aku rasa, memastikan agar dirimu sendiri bisa menikmati jalannya momen hari ini dengan segenap jiwa juga menempati posisi yang tidak kalah krusial, lho, Yuu."
"Kanata-san tidak perlu cemas mengenai hal itu. Sebab berkat adanya bantuan dan kebaikan hati dari Kanata-san sepanjang hari ini, saya benar-benar sudah bisa merengkuh rasa kebahagiaan yang teramat sangat melimpah, kok."
Meskipun untaian kalimat yang diloloskannya terdengar sangat positif, namun sepasang bola mata Yuu saat mengutarakannya tampak dirundung oleh seulas kabut melankolis yang teramat sangat tipis.
"......Nah, sepertinya waktu istirahat kita sudah cukup, bagaimana kalau kita mulai bersiap untuk melangkah masuk menuju ke arah agenda sesi sore?"
"Iya, ayo."
Kami berdua segera merapikan kembali seluruh barang bawaan kami, lalu melangkahkan kaki meninggalkan area hijau Central Park.
Pada momentum detik tersebut, wujud diriku yang sebenarnya murni masih belum memiliki kapasitas untuk bisa membaca dan memahami dengan benar mengenai apa arti esensi terdalam yang bersembunyi di balik untaian kalimat yang disuarakan oleh Yuu barusan.
Begitu waktu sudah resmi bergeser masuk ke area paruh sore, kami berdua kembali melanjutkan petualangan kami demi menikmati berbagai macam variasi wahana permainan yang tersaji di sana.
Kami bergerak menjelajahi dan mencoba wahana apa saja yang kebetulan melintas di depan pelupuk mata kami tanpa pilih-pilih. Di saat kondisi tenggorokan kami sudah berada dalam fase yang terlampau lelah akibat terlalu banyak berteriak, kami akan segera membasahi leher kami dengan membeli kesegaran minuman dingin. Lalu di saat perut kami mulai memancarkan sinyal lapar, kami akan segera mengganjal lambung kami dengan membeli menu roti bagel beraneka warna yang visualnya terhitung sangat estetik dan sangat layak untuk dipajang di laman media sosial.
Roda sang waktu yang berjalan di tengah momen kegembiraan memuncak memang selalu bergerak dengan grafik kecepatan yang teramat sangat masif, hingga tanpa terasa jarum jam dinding kini sudah resmi merangkak naik menyentuh batas waktu di mana kami harus mulai memperhatikan jadwal keberangkatan bus pulang kami.
Sebagai menu hidangan penutup yang akan bertindak sebagai gong penyempurna dari seluruh rangkaian agenda petualangan kami di sepanjang hari ini, aku pun melangkahkan kaki membimbing Yuu berjalan menuju ke arah sebuah wahana permainan spesifik yang sudah kutargetkan sejak awal.
"......Kanata-san, apakah kita benar-benar harus masuk ke dalam tempat ini?"
"Tentu saja. Karena pada hakikatnya, tujuan paling utama dari agendaku membawamu pergi ke taman bermain hari ini murni terletak di tempat ini, tahu."
"Aduh, tolong batalkan saja, yuk......"
Yuu tampak menarik-narik ujung lengan bajuku sembari melayangkan sebuah kalimat permohonan dengan sepasang bola mata yang sudah berkaca-kaca menahan tangis. Siluet tubuhnya terlihat bergetar hebat, persis layaknya seekor anjing ras Pomeranian yang sedang mengalami trauma akibat terpaksa harus dibawa pergi mengunjungi klinik dokter hewan.
Respons ketakutan yang sebenarnya teramat sangat wajar, mengingat titik lokasi tempat kaki kami berpijak saat ini merupakan salah satu spot horor legendaris yang pamor level kengeriannya sukses menduduki peringkat kasta tertinggi di seantero wilayah Jepang. Sebuah wahana rumah hantu super ikonik yang faset popularitasnya terhitung paling masif di dalam kawasan taman hiburan ini, yang mana antreannya saat ini tampak mengular sangat panjang.
"Sejak awal sama sekali tidak pernah bilang kalau kita akan masuk ke dalam wahana rumah hantu......"
"Tapi aku juga tidak pernah melayangkan kalimat janji bahwa kita tidak akan memasukinya, kan?"
"Duh, Kanata-san jangan sengaja melayangkan kalimat usil yang menyebalkan begitu, dong!"
Yuu tampak meluapkan emosi kekesalannya secara berapi-api sembari menggembungkan kedua belah pipinya, sebuah pemandangan yang teramat sangat langka untuk disaksikan.
Akan tetapi, karena ekspresi wajahnya saat ini murni masih diselimuti oleh rasa trauma ketakutan yang teramat sangat pekat, gertakan marahnya sama sekali tidak memancarkan aura menyeramkan sedikit pun di dalam mataku.
"Nah, mari kita segera melangkah masuk."
"Tidak mau!"
Yuu segera menyambar pergelangan tanganku, lalu mengerahkan seluruh riak tenaga di tubuhnya demi bisa menahan langkah kakiku agar tidak bergerak maju.
Menyaksikan kondisinya yang seperti itu sebenarnya sempat membuat lubuk hatiku diserang oleh rasa kasihan yang cukup mendalam, akan tetapi...
"Anggap saja ini sebagai bagian dari proses akumulasi pengalaman hidup yang mutlak diperlukan demi menunjang kariermu untuk bertransformasi menjadi seorang aktris profesional kelak."
"Anda sengaja berlindung di balik kalimat bijak semacam itu...... padahal motif aslinya murni berniat untuk membalas dendam karena sepanjang hari tadi saya terus-menerus memaksamu naik wahana ekstrem, kan?"
"Hmm, jika harus jujur, persentase keterlibatan dari motif balas dendam tersebut di dalam kepalaku sebenarnya memang ada kisaran 20%...... ah, tidak, mungkin tepatnya sekitar 30%, sih."
"Ternyata takarannya lumayan besar, ya!"
Meskipun aku sempat melayangkan untaian kalimat gurauan semacam itu, namun kali ini aku memantapkan tekad untuk mengeraskan hati demi bisa membimbing langkah kakinya melangkah masuk menuju ke arah gerbang wahana.
Mungkin karena dia sudah berada dalam fase pasrah ataukah mentalnya memang sudah resmi memantapkan kesiapan diri, Yuu akhirnya bersedia membiarkan jemari tangannya ditarik olehku berjalan menuju ke arah meja registrasi pendaftaran.
Sembari berdiri berdampingan mengalir mengikuti ritme barisan antrean yang mengular panjang, aku dan Yuu meluangkan waktu sejenak untuk membaca lembaran brosur panduan yang sempat dibagikan oleh staf pengasuh wahana di meja depan tadi.
Berdasarkan deskripsi teks yang tertera di sana, wahana horor yang satu ini mengusung tatanan konsep latar tempat berupa sebuah bangunan rumah sakit terbengkalai. Wahana legendaris ini tercatat sudah berulang kali mengalami proses renovasi dan perombakan total secara berkala demi mendongkrak kualitas visual horornya, di mana total kuantitas pengunjung yang sukses dibuat menangis histeris hingga dihempaskan masuk ke dalam jurang ketakutan terdalam di tempat ini dilaporkan telah resmi menembus angka jutaan orang.
Bahkan, saking masifnya level horor yang disuguhkan, tercatat ada kisaran sekitar 30% pengunjung yang terpaksa harus melayangkan bendera putih menyerah di tengah jalan sebelum berhasil mencapai gerbang keluar.
"......Murni hanya dengan membaca untaian kalimat deskripsi di dalam lembaran brosur ini saja sudah sukses membuat seluruh bulu kudukku merinding ketakutan."
Yuu tampak merapatkan siluet tubuhnya ke arahku sembari menyuarakan untaian kalimat dengan warna nada yang bergetar hebat.
"Apakah Kanata-san sendiri sama sekali tidak merasakan adanya gelombang ketakutan di dalam dada?"
"Tentu saja aku juga merasa takut, tahu. Jika boleh jujur, aku pribadi sebenarnya juga sama sekali tidak memiliki keinginan untuk melangkahkan kaki masuk ke dalam tempat semacam ini. Akan tetapi, persis seperti kalimat penegasan yang sempat kuutarakan kepadamu setelah kita turun dari wahana kereta luncur siang tadi, melepaskanmu berjalan menyusuri tempat horor ini seorang diri murni merupakan sebuah tindakan yang teramat sangat kejam, kan? Jadi, tepat di detik saat aku memutuskan untuk melayangkan ajakan ini kepadamu, aku otomatis sudah memantapkan seluruh kesiapan mental di dalam dadaku."
"Kanata-san......"
Tepat di saat kami sedang sibuk bertukar cerita, momentum giliran kami akhirnya resmi tiba. Berjalan di bawah arahan bimbingan dari salah seorang staf pemandu, kami berdua diarahkan untuk melangkah masuk menuju ke sebuah ruangan yang desain interiornya tampak sengaja dirancang menyerupai sebuah ruang tunggu pasien.
Berdasarkan regulasi yang berlaku, seluruh rombongan pengunjung diwajibkan untuk berkumpul bersama di dalam ruangan ini terlebih dahulu demi menyaksikan sebuah tayangan video singkat yang memaparkan regulasi keselamatan serta aturan main wahana. Namun, atmosfer di dalam ruangan tersebut faktanya sudah dikondisikan dalam faset yang teramat sangat gelap gulita, lengkap dengan adanya berbagai macam reka rekaman properti medis yang tampak berserakan secara berantakan di berbagai sudut ruangan demi menonjolkan kesan rumah sakit terbengkalai, menyuguhkan sebuah stimulus visual yang teramat sangat mengerikan sejak awal.
Sebagai bukti nyata atas dampak horor tersebut, Yuu bahkan sama sekali tidak memiliki keberanian untuk mengarahkan pandangan matanya menatap ke arah layar video, dan memilih untuk terus memeluk erat lengan tanganku dengan sangat rapat sepanjang waktu.
Begitu tayangan video regulasi keselamatan resmi berakhir, jajaran pengunjung mulai dipecah ke dalam beberapa kelompok kecil untuk kemudian diarahkan melangkah masuk menuju ke ruang pemeriksaan dokter.
Di dalam ruangan kedua inilah, kami disuguhkan oleh tayangan video utama yang memaparkan detail latar belakang cerita sinopsis wahana. Jika ingin merangkum jalan ceritanya ke dalam bahasa yang sederhana: kisah horor ini bermula dari adanya sekelompok pemuda lokal yang nekat melakukan ritual uji nyali di dalam bangunan rumah sakit terbengkalai ini. Namun anehnya, tepat beberapa hari setelah aksi nekat tersebut berlangsung, seluruh pemuda tersebut dilaporkan tewas secara misterius tanpa ada penyebab medis yang jelas.
Di tengah gema rumor miring dari masyarakat sekitar yang meyakini bahwa rentetan kematian tersebut murni dipicu oleh adanya kutukan kuno yang bersemayam di dalam bangunan rumah sakit, wujud kami sebagai rombongan pengunjung pun diposisikan sebagai pihak ketiga yang nekat melangkah masuk demi menyelidiki kebenaran di balik rumor tersebut. Meskipun plot ceritanya terhitung standar, namun kualitas visualisasi video dan efek suara yang disuguhkan benar-benar berada di dalam tingkatan yang teramat sangat mengerikan.
Bahkan sebelum video sinopsis tersebut resmi menyentuh bait akhir penceritaan, kondisi mental Yuu sudah berada di dalam fase setengah menangis sembari terus merengek pelan, "Saya ingin pulang sekarang juga......"
Tepat setelah tayangan video resmi berakhir, sang staf pemandu tampak mengulurkan sebuah senter kecil ke arah genggaman tanganku, menandakan bahwa petualangan horor kami telah resmi dimulai.
“”"............"”
Melangkah menyusuri lorong bangunan yang remang-remang murni hanya dengan modal mengandalkan sebilah pancaran cahaya senter kecil di tangan benar-benar sukses melahirkan sebuah sensasi ketidakberdayaan yang teramat sangat menyiksa batin.
Lanskap pemandangan interior rumah sakit yang tampak porak-poranda nan hancur, bersanding dengan adanya gempuran aroma obat antiseptik menyengat yang menusuk rongga hidung, ditambah lagi dengan gema bunyi ketukan langkah kaki kami sendiri yang terdengar bergema secara berlebihan di sepanjang lorong, benar-benar sukses mewarnai seluruh panca indra di tubuh kami dengan faset ketakutan yang teramat sangat absolut.
Mungkin karena level horor yang dirasakannya sudah benar-benar melompat melampaui batas toleransi, jangankan untuk sebatas memeluk erat lengan tanganku, Yuu kini bahkan sudah nekat melingkarkan kedua belah lengan tangannya melingkari area dadaku dengan sangat rapat, memosisikan siluet tubuhnya menempel mati di atas tubuhku layaknya seekor hewan koala yang sedang mendekap erat batang pohon eukaliptus, sebuah gestur yang murni sukses membuat ritme langkah kakiku menjadi teramat sangat sulit untuk digerakkan.
"Yuu...... jika kamu memang ingin memelukku, tolong setidaknya geser posisimu ke arah lengan tanganku saja──"
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!"
Gema bunyi dering telepon usang yang mendadak meletus dari arah kegelapan lorong seketika langsung memicu pekik jeritan histeris dari mulut Yuu.
Meskipun wujud diriku pribadi sejujurnya juga sempat dibuat terkejut setengah mati oleh efek kejut tersebut, namun fakta mengenai mengapa aku bisa mempertahankan kondisi mentalku untuk tidak sampai berteriak histeris layaknya Yuu sebenarnya berlandaskan pada sebuah alasan esensial yang cukup krusial.
Meskipun memikirkan perkara semacam ini di tengah situasi horor terhitung sebagai sebuah tindakan yang teramat sangat tidak sopan dan tidak etis, namun merasakan bagaimana sensasi kelembutan dari area dadanya yang kini sedang tertekan dengan sangat rapat di atas tubuhku akibat efek kejut barusan murni merupakan sebuah respons insting bawaan yang mustahil untuk dikontrol oleh kaum pria, kan?
Fakta mengenai bagaimana insting libido seksual di dalam kepalaku secara ajaib justru berhasil melompat naik mengalahkan dominasi rasa takut, murni membuat diriku merasa sebagai sosok manusia yang teramat sangat tidak bermoral dan tidak punya harga diri.
Tapi aku sangat yakin, jajaran kaum pria di luar sana dipastikan akan bisa memahami posisiku saat ini dengan sangat baik. Sebab bagaimanapun juga, faset erotisme pada realitasnya memang selalu memiliki kapasitas magis untuk melampaui segala jenis emosi manusia yang ada, kan?
"Yuu...... ritme jalanku benar-benar terasa sangat terhambat, dan situasinya juga agak sedikit kurang baik bagi kesehatan mentalku, jadi tolong setidaknya pindahkan posisi pelukanmu ke arah lengan tanganku saja, ya."
"Tidak mau! Sebelum kita berhasil melangkahkan kaki keluar dari tempat mengerikan ini, saya bersumpah tidak akan pernah mau melepaskan dekapan tubuh saya dari Kanata-san sedikit pun!"
Mendengarkan untaian kalimat penegasan setegas itu dari mulutnya di satu sisi sebenarnya melahirkan sebuah letup kebahagiaan tersendiri di dalam dadaku, namun hal itu murni tidak serta-merta membuat level kengerian dari wahana ini langsung merosot turun menjadi nol persen......
Sebab setelah momentum tersebut berlalu, kami berdua benar-benar dipaksa untuk mencicipi hidangan horor absolut yang kualitasnya murni sama sekali tidak mengecewakan reputasi besarnya sebagai wahana terseram nomor satu di Jepang.
Di dalam area ruang rawat inap pasien, sesosok manekin medis yang awalnya kukira murni hanyalah sebatas boneka peraga mati biasa, secara mengejutkan langsung bergerak bangkit secara mendadak tepat di saat posisi kami melintas di dekatnya. Lalu bergeser masuk ke area ruang bayi baru lahir, meskipun sepasang bola mata kami sama sekali tidak mendapati adanya visualisasi wujud sesosok bayi satu pun di sana, namun ruangan tersebut tampak dipenuhi oleh gema suara tangisan bayi yang bersahutan secara memekakkan telinga. Berlanjut menuju ke ruang perawat, sesosok aktor hantu berkostum perawat yang penampilannya sudah bermutasi menjadi zombi tampak melangkah maju dengan gerakan patah-patah demi menyergap posisi kami.
Puncaknya terjadi tepat di saat kami melintasi area ruang operasi. Di sana, tampak berdiri sesosok aktor berkostum dokter dengan jubah medis yang sudah berlumuran darah segar, yang digambarkan sedang sibuk melakukan proses pembedahan secara hidup-hidup kepada seorang pasien. Tepat di detik saat sosok dokter gila tersebut menyadari eksistensi kehadiran kami, dia langsung mengangkat tinggi-tinggi sebilah pisau bedah di jemari tangannya sembari melayangkan pekik tawa histeris yang melengking tinggi, lalu bergerak berlari mengejar posisi kami dengan sangat brutal, menyuguhkan sebuah stimulus teror yang teramat sangat mengerikan luar biasa.
Berkat adanya rentetan gempuran teror tanpa henti tersebut, tepat setelah durasi empat puluh menit sejak awal peluncuran kami berlalu...
"Haa...... haa...... Kanata-san, saya...... saya benar-benar sudah tidak kuat lagi......"
Kondisi fisik Yuu saat ini benar-benar sudah berada di dalam fase kelelahan total akibat terlampau sering dikejutkan, kehabisan tenaga karena terlalu banyak menangis, serta pasokan oksigennya yang menipis akibat melayangkan jeritan histeris secara nonstop.
Siluet kedua belah kakinya tampak bergetar sedemikian hebatnya hingga membuat tubuhnya dipastikan akan langsung ambruk ke atas lantai jika dia nekat melepaskan dekapan tangannya dari tubuhku, menyuguhkan sebuah pemandangan visual yang sekilas teramat sangat mengingatkan diriku pada sosok seekor anak anjing yang baru saja terlahir ke dunia. Namun sangat disayangkan, atmosfer yang menyelimuti kami saat ini murni sama sekali tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi diriku untuk bisa mengagumi arti dari sebuah nilai keindahan misteri kehidupan tersebut.
"Bertahanlah sedikit lagi, Yuu, gerbang keluar kita sudah berada di depan mata."
"Saya benar-benar sudah tidak memiliki sisa tenaga lagi untuk berjuang......"
Satu-satunya rintangan terakhir yang tersisa di hadapan kami murni hanyalah sebatas area ruang kamar mayat (kamar jenazah).
Sembari mendekap erat siluet tubuh Yuu, aku memantapkan tekad untuk mengayunkan satu langkah kaki maju ke depan demi menembus ruangan tersebut.
Sreeek...
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!"
Tepat di detik saat sepasang bola mata Yuu menyaksikan bagaimana sesosok mayat yang awalnya tergeletak pasrah di atas ranjang dorong sudut lorong mendadak bergerak bangkit secara radikal...
"Saya...... sudah...... mencapai batas......"
Kondisi mental Yuu yang tampaknya sudah resmi meledak melampaui batas toleransi stres tertinggi seketika langsung mengalami fase shutdown, membuat kesadaran tubuhnya hilang sepenuhnya dalam sekejap mata.
"Hei, Yuu! Buka matamu! Tolong pertahankan kesadaranmu!"
Tidak peduli seberapa keras pun aku mencoba mengguncang-guncang siluet tubuhnya, sama sekali tidak ada tanda-tanda atau riak respons bahwa dia akan kembali terjaga dalam waktu dekat.
Meskipun lubuk hatiku saat ini didera oleh rasa cemas yang teramat sangat pekat memikirkan kondisi keselamatannya, namun di saat yang bersamaan, hilangnya kesadaran Yuu murni sukses memicu sebuah gelombang rasa kesepian dan ketakutan yang teramat sangat masif di dalam dadaku.
Sumpah, tolonglah, aku benar-benar memohon dengan sangat jangan biarkan diriku terpaksa harus berjuang menghadapi area klimaks akhir di mana level kengerian wahana ini sedang berada dalam grafik puncak tertingginya seorang diri seperti ini.
"Tidak ada pilihan lain kalau begitu...... aku terpaksa harus menerobos tempat ini dengan kecepatan penuh!"
Aku segera merubah posisi dekapanku lalu mengangkat siluet tubuh Yuu ke dalam posisi menggendong, kemudian mulai mengayunkan kedua belah kaki berlari sekencang mungkin menerobos sepanjang koridor, sembari sesekali melempar tatapan tajam demi memporak-porandakan fokus mental dari para staf aktor hantu yang mencoba menghadang langkah jalanku.
Berkat aksi nekat tersebut, petualangan horor kolosal yang memakan total durasi waktu selama kurang lebih lima puluh menit penuh itu pun akhirnya resmi dituntaskan dengan selamat. Rasanya, jatah kuota rasa takut di dalam hidupku untuk ukuran seumur hidup sudah resmi lunas dihabiskan dalam waktu satu jam ini saja.
"Eungh......"
"Kamu sudah sadar?"
"Kanata-san...... kita ada di mana?"
Yuu membuka sepasang kelopak matanya sembari menggumam lirih dengan kesadaran yang tampak masih belum terkumpul sepenuhnya.
Sembari berkata demikian, dia mengangkat kembali kepalanya yang sejak tadi bersandar di atas pundakku, lalu mulai mengedarkan pandangan mata ke arah sekeliling.
"Kita sedang berada di bangku taman yang terletak di dekat wahana rumah hantu tadi. Bagaimana kondisimu? Apakah sudah membaik?"
"Saya...... tampaknya benar-benar sempat jatuh pingsan karena terlampau ketakutan, ya."
"Stimulasi teror yang disuguhkan di dalam sana sepertinya memang agak sedikit terlalu kuat untuk ukuranmu, sih."
Yuu tampak menganggukkan kepalanya perlahan demi membenarkan kalimatku.
"Meskipun rasanya teramat sangat mengerikan...... namun saya rasa, sekarang saya sudah bisa memahami dengan baik apa arti esensi dari untaian kalimat yang Kanata-san sampaikan sebelumnya. Sebuah rekam jejak pengalaman horor ekstrem yang bahkan sampai sanggup merenggut kesadaran tubuh manusia seperti ini...... fakta mengenai apakah seorang aktor pernah mencicipi langsung bentuk pengalaman nyata semacam ini atau tidak, dipastikan akan melahirkan sebuah jurang perbedaan yang teramat sangat masif di saat dia harus memvisualisasikan sebuah akting ketakutan."
Meskipun ini merupakan sebuah bentuk pengalaman yang teramat sangat berat dan menyiksa fisik bagi dirinya, namun Yuu tampaknya berhasil menyerap dan menyikapi nilai moral dari pelajaran hari ini dengan cara yang sangat tepat.
"Di dalam naskah cerita pementasan teater yang akan kamu emban dua bulan lagi nanti, karakter peranmu sebenarnya memang sama sekali tidak memiliki adegan yang menuntutmu untuk memvisualisasikan ekspresi ketakutan, sih. Namun, agenda ini sengaja kurencanakan murni agar kamu bisa memetik pelajaran penting mengenai seberapa krusialnya arti dari sebuah pengalaman hidup melalui media stimulasi yang paling mudah untuk dipahami. Walaupun begitu, aku tetap ingin meminta maaf ya karena telah memaksamu melalui sebuah momen yang mengerikan tadi."
"Memang sudah seharusnya Kakak meminta maaf, tahu......"
Tampaknya, meskipun secara nalar logika isi kepalanya sudah bisa menerima alasan tersebut dengan sangat baik, namun rasa tidak puas di dalam hatinya murni tetaplah sebuah perkara yang berbeda.
"Sebagai gantinya, aku berjanji akan mentraktirmu menu makanan apa saja yang kamu sukai hari ini, jadi tolong pulihkan kembali suasana hatimu, ya."
"Apakah hal itu benar? Kalau begitu, saya ingin makan es krim soft serve!"
Sebuah pancaran senyuman lebar yang teramat sangat ceria seketika langsung terlukis di atas permukaan wajahnya, membuat momen di mana dia sempat menangis histeris akibat ketakutan beberapa menit yang lalu mendadak terasa bagai sebuah kebohongan belaka.
Andai kata modal yang dibutuhkan demi bisa memulihkan kembali suasana hatinya terhitung semurah ini, maka anggaran biaya traktiranku murni bukanlah sebuah masalah yang besar. Akan tetapi, sebelum aku melangkahkan kaki pergi untuk membelikannya, ada satu tugas penting yang wajib kutuntaskan terlebih dahulu.
"Aku akan pergi membelikannya sekarang, namun sebelum aku kembali ke tempat ini, aku ingin kamu meluangkan waktu sejenak untuk memikirkan mengenai apa alasan mendasar yang membuatmu bisa sampai merasakan gelombang ketakutan yang begitu masif tadi."
"Memikirkan mengenai alasan dari rasa takut...... kalau boleh tahu, mengapa saya harus melakukan hal tersebut, Kak?"
"Jika ingin merangkum jalannya poin ini ke dalam satu kalimat yang sederhana: tujuan utamanya murni dialokasikan agar kamu bisa meningkatkan kasta dari sebuah 'Aktivitas Mencicipi' menjadi sebuah 'Rekam Jejak Pengalaman Hidup yang Hakiki'."
Mari kita ambil contoh analogi kecil dari sebuah momentum di saat seseorang sedang membaca sebuah karya manga yang dinilainya sangat menarik.
Alih-alih menyudahi aktivitas tersebut murni hanya dengan meloloskan satu kesimpulan instan berupa kalimat, 'Wah, ceritanya sangat seru dan menghibur', dia dituntut untuk melangkah lebih jauh demi membedah dan menganalisis apa alasan esensial yang membuat karya tersebut bisa sampai terasa begitu menarik di dalam kepalanya.
Jika statusmu di dunia ini murni hanyalah sebatas seorang pembaca awam, maka menyudahi aktivitas tersebut sebagai sebuah pengalaman membaca yang menyenangkan tentu saja murni sama sekali tidak salah. Akan tetapi, andai kata sejak awal kamu memiliki ambisi besar untuk meniti karier sebagai seorang mangaka profesional, maka kamu mutlak diwajibkan untuk bisa memahami struktur anatomi dari arti keseruan itu sendiri secara struktural. Kamu wajib membedah dan menganalisisnya secara radikal; apakah daya pikat utamanya terletak pada faset jalinan alur ceritanya, tatanan komposisinya, ataukah pada pembagian layout koma-wari, untuk kemudian diserap dan dijadikan sebagai modal berharga demi menunjang kemampuan dirimu sendiri.
Di dalam ranah sektor industri apa pun, jika tujuan utamanya adalah untuk menggapai kasta profesional, maka kemampuan untuk mengeksplorasi dan menyublimasikan sebuah 'Aktivitas Mencicipi' menjelma menjadi sebuah 'Rekam Jejak Pengalaman Hidup' menempati posisi yang teramat sangat krusial.
Meskipun kedua padanan istilah tersebut sekilas terdengar sangat mirip di telinga orang awam, namun pada realitasnya, esensi makna yang terkandung di antara keduanya mendekap jurang perbedaan yang teramat sangat masif.
"Ah, begitu, ya...... Baik, saya paham."
"Jika memungkinkan, aku harap kamu tidak hanya berfokus pada emosi ketakutan yang baru saja kamu rasakan barusan saja, melainkan cobalah untuk menengok kembali dan merenungkan seluruh spektrum emosi yang sudah berhasil bergejolak di dalam dadamu di sepanjang hari ini."
Tepat setelah aku meloloskan untaian kalimat penjelasan tersebut, Yuu tampak mendaratkan salah satu telapak tangannya di atas dada sembari perlahan memejamkan kedua belah matanya.
Jika sosok yang sedang kuhadapi saat ini adalah Yuu, aku memiliki keyakinan yang sangat penuh bahwa dia dipastikan akan selalu memiliki kapasitas untuk bisa menyublimasikan faset aktivitas hari ini menjadi sebuah rekam jejak pengalaman hidup yang murni dan berkualitas tanpa cela.
Sebab bagaimanapun juga, perkara-perkara berat semacam ini pada realitasnya memang akan selalu jauh lebih mudah untuk diserap dengan sangat sempurna oleh sosok individu yang mendekap karakteristik kepribadian yang jujur, polos, nan berhati bersih seperti dirinya.
Akan tetapi...... tepat di detik saat aku sedang memandangi siluet tubuh Yuu yang sedang berfokus merenung saat ini, sebuah untaian pertanyaan mendadak menyeruak naik menghantam lubuk hatiku yang terdalam.
──Sebenarnya...... apa yang sedang berusaha kulakukan saat ini?
Padahal di masa-masa awal dulu, aku adalah sosok pihak yang paling keras melayangkan kalimat penolakan dan bersumpah tidak akan pernah sudi untuk membiarkannya melangkahkan kaki masuk ke dalam industri akting, namun realitasnya hari ini aku justru sedang duduk di sini sembari mengerahkan seluruh isi kepalaku demi mengajarinya ilmu akting secara radikal.
Meskipun jika ditanya mengenai bagaimana keteguhan prinsip dasarku, isi kepalaku sampai detik ini murni masih tetap mendekap erat sebuah keyakinan yang sama, di mana aku selamanya tetap tidak akan pernah menginginkan Yuu bertransformasi menjadi seorang aktris profesional. Akan tetapi, tepat di saat aku menyaksikan langsung bagaimana besarnya kadar kebulatan tekad serta pengorbanan jiwa yang didekap oleh Yuu di hadapan pelupuk mataku, ada bagian dari dalam diriku yang secara ajaib selalu refleks bergerak mengulurkan bantuan untuk menopang hidupnya......
Sebuah kontradiksi nyata antara perkataan dan perbuatan yang murni sukses membuat diriku didera oleh rasa bersalah yang teramat sangat pekat.
Tidak, ini salah──aku melakukan ini semua murni hanya sebatas demi memastikan agar proyek pementasan teater bersamanya dua bulan lagi bisa berjalan dengan sukses, dan sama sekali bukan bertujuan untuk menuntunnya meniti karier menjadi seorang aktris di masa depan.
Meskipun aku terus-menerus memutar otak demi merangkai jajaran kalimat pembelaan diri semacam itu, namun realitasnya kebohongan tersebut murni sama sekali tidak akan pernah memiliki kapasitas untuk bisa mengecoh isi hatiku yang sesungguhnya......
Pada akhirnya, aku pribadi bahkan sudah mulai kehilangan arah dan tidak lagi mampu memahami mengenai apa sebenarnya keinginan terdalam yang sedang diimpikan oleh jiwaku sendiri saat ini.





Post a Comment