NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saikyou Degarashi Ouji no An’yaku Teii Arasoi V16 Chapter 1

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 1

Kembali ke Kadipaten

Bagian 1

Saat Al tengah menempuh perjalanan menuju Kadipaten. 

Terjadi sebuah pergerakan di perbatasan barat Kekaisaran. 

“Komandan...! Sudah terlihat...! Itu perkemahan tempat musuh menyimpan persediaan logistik mereka...!" 

Terhadap pasukan penjaga perbatasan barat yang ditinggalkan oleh Leo, pasukan Kerajaan telah berulang kali melancarkan serangan. 

Meskipun secara resmi sedang dalam masa gencatan senjata, wilayah itu tetaplah garis depan. 

Hal semacam itu sebenarnya bukan pemandangan langka. 

Pasukan Kekaisaran pun telah melakukan serangan balik dengan unit penyihir sebagai intinya dan berhasil memukul mundur semua serangan tersebut. 

Namun, dalam prosesnya, pasukan penjaga perbatasan barat berhasil mendapatkan rencana invasi musuh. 

Walaupun hanya berupa potongan informasi, rencana tersebut bertujuan untuk memberikan pukulan telak kepada pasukan penjaga perbatasan sebelum Leo menjabat sebagai komandan di sana. 

Hanya tersisa beberapa hari hingga pelaksanaan rencana itu. 

Seolah memperkuat informasi tersebut, Jenderal Baland yang merupakan jenderal ternama dari Kerajaan Perlan, telah menghilang bersama lima puluh ribu tentara. 

Tidak diragukan lagi bahwa mereka sedang menuju perbatasan, dan jika digabungkan dengan pasukan Kerajaan Perlan yang sudah berhadapan di sana, jumlahnya akan menjadi tentara besar yang melebihi delapan puluh ribu personel. 

Jika harus menunggu konfirmasi dari Ibu Kota, musuh akan lebih dulu mengambil langkah pertama. 

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari tawanan perang tentara Kerajaan Perlan dalam pertempuran sebelumnya, pasukan penjaga perbatasan barat telah memastikan lokasi penyimpanan logistik musuh. 

Kolonel Riegul, komandan divisi dari unit penyihir, mengusulkan untuk melancarkan serangan kejutan ke lokasi tersebut. 

Saat ini, jumlah pasukan penjaga perbatasan barat adalah empat puluh ribu orang. 

Jika mereka menunggu sampai jumlah musuh membengkak menjadi delapan puluh ribu, mereka tidak akan sanggup menandinginya. 

Walaupun pertahanan mungkin tidak akan jebol, mereka pasti akan menerima kerusakan yang sangat besar. 

Namun, musuh adalah tentara yang besar. Tanpa logistik, mereka tidak akan bisa bergerak. Setidaknya, hal ini bisa mengulur waktu sampai Leo tiba. 

Akan tetapi, ada dua masalah dalam rencana ini. 

Pertama, secara formal mereka sedang dalam masa gencatan senjata. 

Jika hanya pertikaian kecil mungkin masih bisa dimaklumi, tetapi serangan kejutan ke gudang logistik tentara musuh adalah serangan yang nyata. 

Kekaisaran bisa saja dituduh sebagai pihak yang pertama kali melanggar perjanjian gencatan senjata. 

Masalah kedua adalah perkemahan tempat logistik tersebut dijaga dengan sangat ketat. 

Lokasinya berada di dalam pegunungan. Jalur resminya dipenuhi penjagaan yang sangat rapat, sementara jalur lainnya sangat terjal dan mustahil untuk ditembus. Bagian belakangnya adalah tebing curam yang juga mustahil untuk dilewati. 

Tidak mungkin bagi mereka untuk mendekat tanpa ketahuan. 

Namun, unit penyihir berhasil memanfaatkan sihir mereka untuk menembus tebing curam di bagian belakang tersebut. 

Sebagai antisipasi jika mereka sampai ketahuan, mereka menyamar sebagai kelompok bandit. 

Dengan begini, Kekaisaran memiliki alasan untuk mengelak. 

“Mana mungkin ada bandit yang bisa menembus tebing curam seperti ini...” 

Kolonel Riegul bergumam sambil tersenyum pahit. 

Dalam dunia politik, celah kecil untuk melarikan diri seperti itu sangatlah penting. 

Selama tidak ada bukti bahwa Kekaisaran yang melakukannya, maka tidak masalah. 

Meskipun jelas-jelas itu adalah perbuatan Kekaisaran, para pakar diplomasi akan tetap bersikap seolah tidak tahu apa-apa dan bersikeras bahwa itu bukan perbuatan mereka. 

Itu adalah langkah antisipasi demi tujuan tersebut. 

Kolonel Riegul pun sangat memahami hal itu. 

Namun, lima ratus prajurit elit yang berpartisipasi dalam operasi kali ini tidak akan dianggap sebagai tentara Kekaisaran. 

Mereka tidak akan mendapatkan kehormatan sebagai pahlawan yang gugur dalam tugas. 

Mereka adalah para prajurit elit yang menjadi inti dari unit penyihir. 

Mereka semua adalah penyihir yang direkrut langsung oleh Riegul, dan dilatih bersama-sama dengan Zandra. 

Karena itulah, setelah kematian Zandra, mereka sempat berada dalam status tahanan rumah. 

Meskipun mereka tidak terlibat dalam pemberontakan Zandra, Zandra tetap memiliki andil dalam pembentukan unit tersebut. 

Para petingginya pun memiliki hubungan dekat dengan Zandra. Faktanya, Zandra telah berulang kali meminta kerja sama mereka. 

Namun, mereka selalu menolaknya, karena bagaimanapun juga mereka adalah prajurit militer. 

Meski begitu, mereka tetap tidak dipercaya. 

Seharusnya yang menanti mereka hanyalah pembubaran unit. 

Namun, ada seseorang yang menarik unit penyihir itu kembali ke garis depan. 

Orang itu tidak lain adalah Leo, sosok yang bertarung melawan Zandra. 

Hampir menyerupai keputusan sepihak, Leo membawa Riegul beserta unit penyihirnya ke garis depan. 

Jika ingin membersihkan kecurigaan, tidak ada jalan lain selain menorehkan pencapaian. 

Aku akan memberi kalian kesempatan untuk itu.

Begitulah kata Leo saat menggunakan unit penyihir dengan sangat tepat. 

Percaya pada kata-kata Leo, unit penyihir pun bertarung dengan sekuat tenaga. 

Kini, di kalangan pasukan penjaga perbatasan barat, tidak ada lagi satu pun orang yang menaruh kecurigaan pada unit penyihir. 

Namun, di pusat Kekaisaran, mereka masih belum dipercaya. 

Mereka butuh lebih banyak prestasi. 

Jika tidak, para bawahannya akan terus merasa rendah diri seumur hidup mereka. 


“Bergerak...!” 

Riegul memberi perintah kepada bawahannya dan mulai menyusup ke dalam perkemahan musuh dengan senyap. 

Jika ketahuan di sini, semuanya akan sia-sia. 

Mereka harus membakar logistik musuh dengan diam-diam. 

Namun, dia segera menyadari adanya keanehan. 

Tidak ada seorang pun di dalam perkemahan tersebut. 

Bahkan penjaga pun tidak ada. 

“Apa maksudnya ini...?” 

“Komandan! Tidak ada bahan pangan di sini! Hanya minyak yang ada di sini!” 

“Cih! Ini jebakan!! Mundur!!” 

Saat Riegul berteriak, semuanya sudah terlambat. 

Seolah mengepung unit penyihir yang sudah masuk ke dalam perkemahan, tentara Kerajaan Perlan muncul satu demi satu dalam jumlah besar. 

Di tangan mereka tergenggam anak panah api. Di gudang logistik tersebut, minyak disimpan sebagai pengganti bahan pangan. 

Jika anak panah api sebanyak itu dilepaskan, mereka tidak akan punya tempat untuk melarikan diri. 

Namun, para prajurit itu tidak segera melepaskan anak panah api mereka. 

“Serangan kejutan yang luar biasa, Kolonel Riegul.” 

Dari balik barisan prajurit, muncul seorang pria berambut hitam yang menunggangi kuda. 

Usianya mungkin sekitar empat puluh tahun lebih. Dia adalah pria tampan yang bertubuh tegap. 

Riegul bisa langsung menebak siapa dia. 

Dia adalah Baland, jenderal ternama dari Kerajaan Perlan yang pernah bertarung bersama Santa Leticia dalam perang melawan Persatuan Kerajaan Egret. 

“Siapa yang kamu panggil Kolonel Riegul?” 

“Kamu sangat teguh pada penyamaranmu. Harus kuakui, itu mengesankan. Pantas saja Yang Mulia bersusah payah menjebak kalian.” 

“Yang Mulia katamu?” 

“Benar. Semuanya sudah direncanakan. Fakta bahwa aku bergerak bersama pasukan, hingga bocornya berbagai informasi. Semuanya adalah jebakan untuk memancing kalian ke sini. Ini adalah siasat yang dipikirkan oleh Yang Mulia Pangeran Anthem.” 

“Pangeran Ketiga Kerajaan...” 

Dia adalah seorang jenius yang pernah diharapkan akan menjadi raja penakluk terhebat dalam sejarah Kerajaan Perlan. 

Namun, harapan itu hancur setelah kesehatannya terganggu akibat racun. 

Beberapa tahun terakhir dia sedang dalam masa pemulihan, sehingga tidak pernah muncul di hadapan publik. 

Namun, sang jenius itu akhirnya kini taringnya mulai mengincar Kekaisaran. 

“Aku membawa pesan dari Yang Mulia untuk kalian. Akan kusampaikan apa adanya. Yang Mulia Zandra telah membangun pasukan yang sangat bagus. Sebagai bentuk rasa hormat, aku tidak akan bertarung secara langsung dari depan. Begitulah pesannya.” 

“Sungguh sebuah kehormatan...” 

Jika semuanya sudah direncanakan, maka tidak ada harapan untuk melarikan diri, bahkan satu berbanding sepuluh ribu sekalipun. 

Kalau begitu. 

“Incar jenderal musuh, Baland! Dia memiliki nilai lebih tinggi dari sekadar logistik! Tebas kepalanya!!” 

Mereka sudah siap untuk mati sejak awal. 

Mereka menyusup ke wilayah musuh sambil menyadari bahaya. 

Mereka tidak bisa pulang dengan tangan hampa. 

Setidaknya, dia akan menyeret musuh bersamanya ke neraka. 

Dipimpin oleh Riegul, anggota unit penyihir mulai bergerak. 

Pada saat yang sama, anak panah api dilepaskan. 

Perkemahan langsung dilalap api, dan banyak anggota divisi yang tubuhnya terbakar oleh jago merah. 

Namun, meski tubuh mereka terbakar, para anggota divisi tetap merangsek mendekati Baland. 

“Uwoooooooo!!” 

Para prajurit yang melindungi Baland tewas satu demi satu di tangan mereka. 

Namun, Baland pun sudah memperkirakan hal itu, sehingga pasukan penjaga terus datang berbondong-bondong. 

“Sial! Apa orang-orang ini tidak bisa mati!?” 

“Jangan panik! Mereka melindungi tubuh mereka dengan pelindung sihir! Mereka tidak bisa menggunakan sihir untuk menyerang!” 

Tepat saat Baland meneriakkan itu. 

Sebuah bola api besar mendarat di dekatnya, dan banyak prajurit penjaga yang terpental jauh. 

“Apa!?” 

Bola api itu terbang dari arah dalam perkemahan.

Saat diamati lebih saksama, tampak sosok Riegul di sana. 

“Jadi dia menyerang tanpa peduli dengan pertahanannya sendiri!” 

Serangan Riegul tidak berhenti sampai di situ. 

Sejumlah bola api melesat menyerang Baland. 

Namun, Baland berhasil menangkis seluruh serangan itu dengan pedangnya. 

Pada akhirnya rentetan serangan itu mereda, dan para anggota divisi yang berhasil lolos dari kobaran api tewas terbunuh satu demi satu. 

“Jenderal Baland! Anda tidak apa-apa!?” 

“Aku tidak baik-baik saja.” 

Ucap Baland sambil menatap pedang kesayangannya yang tergenggam di tangan kanannya. 

“Ini adalah pedang kesayangan yang telah menemaniku selama lebih dari dua puluh tahun. Kehilangannya sama saja dengan kehilangan sebelah lenganku.” 

Bilah pedang itu telah meleleh separuhnya, membuatnya sama sekali tidak bisa digunakan lagi. 

“Aku tidak akan sanggup menahan serangan selanjutnya. Padahal kita sudah menjebak mereka, tetapi ini bayarannya. Jika saja kita menerima serangan kejutan di medan pertempuran di bawah komando Leonard, nyawaku pasti sudah melayang.” 

Mendengar analisis tenang dari Baland, wajah prajurit di sebelahnya seketika memucat. 

Baland kemudian menyerahkan pedang kesayangannya kepada prajurit tersebut dan memanggil seorang pembawa pesan. 

“Sampaikan kepada Yang Mulia bahwa operasi kita berjalan lancar.” 

“Jenderal, Yang Mulia yang Anda maksud, apakah Yang Mulia Lucien? Ataukah Yang Mulia Anthem?” 

“Aku tidak sudi menyematkan gelar kehormatan seperti Yang Mulia kepada orang yang telah mengurung Raja dan mengangkat dirinya sendiri sebagai Putra Mahkota! Cepat pergi kalau kamu sudah mengerti!” 

“T-Tapi, pihak Ibu Kota pasti sedang menunggu laporan kita...” 

“Kalau begitu, sampaikan saja bahwa semuanya berjalan lancar setelah kamu melapor kepada Yang Mulia!” 

Setelah membentak pembawa pesan itu, Baland menghela napas panjang. 

Karena Anthem memilih untuk tunduk, Baland pun ikut tunduk, tetapi ketidakpuasan terhadap sang Putra Mahkota masih membekas di hatinya. 

Hal ini karena sebagian besar jenderal berprestasi yang maju ke garis depan adalah mereka yang pernah berjuang bersama Santa Leticia demi melindungi Kerajaan Perlan. 

“Seandainya Yang Mulia yang mewarisi singgasana, aku tentu tidak akan banyak mengeluh begini...” 

Barand bergumam, meski tahu betul bahwa harapan itu tidak akan pernah terwujud. 

Setelah itu, dia memerintahkan seluruh pasukannya untuk mundur. 

Riegul dan unit penyihirnya adalah bidak yang luar biasa. 

Itulah sebabnya mereka menjadi target sasaran. 

Namun, hal yang sama juga berlaku bagi Baland. 

Dia hanyalah sebuah bidak, bukan pemain. 

Menyusul kejadian ini, Leonard pasti akan segera bergegas menuju pasukan penjaga perbatasan barat. 

Jika saat itu tiba, giliran dirinya yang akan berada di posisi Riegul. 

Pertempuran berskala penuh baru akan dimulai setelah para pemain berkumpul. 

“Kalian bukanlah satu-satunya pihak yang memiliki pangeran berbakat, Kekaisaran.” 

Setelah menggumamkan kata-kata itu ke arah Kekaisaran, Baland memacu kudanya.


Bagian 2

Kekaisaran tengah bersiap untuk perang total melawan Kerajaan.

Namun, ada satu hal yang menjadi rintangan dalam menghadapi Kerajaan.

Yakni pergerakan dari Kadipaten Albatro.

Jika Kadipaten Albatro yang memiliki armada laut yang luar biasa itu memberikan dukungan lewat jalur perairan, Kekaisaran tidak akan sanggup menaklukkan benteng-benteng Kerajaan sepenuhnya.

Sebab, begitulah yang terjadi pada perang di masa lalu.

Lain halnya jika Elna atau Pahlawan maju ke medan laga dengan menggenggam Pedang Suci, namun ada rasa enggan untuk menggunakan Pedang Suci dalam pertempuran antar sesama manusia.

Karena itulah aku menuju ke Kadipaten Albatro.

Demi menarik mereka agar berpihak kepada kami.


* * *


Wilayah barat daya Kekaisaran. 

Kami telah tiba di sebuah kota pelabuhan bernama Hamma. 

Alasannya adalah karena dari sinilah kami akan bertolak menuju Kadipaten Albatro. 

Sebenarnya, Kadipaten Albatro bisa dicapai melalui jalur darat. 

Saat aku dan Leo ditugaskan sebagai duta besar, awalnya kami berencana menuju Kadipaten Rondine yang letaknya lebih jauh lagi dari Albatro. 

Itulah sebabnya kami menggunakan kapal. Singkatnya, meskipun kali ini kami bisa memilih jalur darat, kami sengaja menempuh jalur laut. 

Alasannya adalah... 

“Kapal yang besar ya...” 

“Kaiser Alphons, kapal bendera baru Angkatan Laut Kekaisaran. Katanya, ini adalah kapal perang terkuat dalam sejarah Angkatan Laut Kekaisaran yang menyandang nama kaisar pertama.” 

Penampilannya memang layak sebagai kapal bendera Angkatan Laut Kekaisaran. 

Karena statusnya sebagai kapal utama, ukurannya jauh melampaui kapal-kapal lainnya. 

Wibawanya mengintimidasi siapa pun yang melihatnya, namun karena menyandang nama kaisar, desainnya pun dibuat sangat mendetail. 

Dekorasinya didominasi warna emas dan biru, dengan lambung kapal yang ramping dan indah. Siapa pun yang melihatnya pasti akan terpana oleh keelokannya. 

Menteri Teknologi Kuber, yang terlibat dalam perancangannya bahkan menyebut kapal ini sebagai sebuah mahakarya. 

Berkat bantuan teknologi dari Rondine, kabarnya performa kapal ini jauh mengungguli kapal perang yang sudah ada sebelumnya. 

Baik rupa maupun kemampuannya merupakan salah satu yang terbaik. 

Lantas, mengapa kapal semacam itu berlabuh di sini? 

“Apa kita akan pergi ke Kadipaten Albatro dengan kapal itu?” 

“Begitulah keputusannya. Suka atau tidak, kita harus naik.” 

Saat aku terang-terangan menunjukkan raut masam, Fine memiringkan kepalanya. 

Dia mungkin tidak paham alasan kenapa aku merasa begitu keberatan. 

“Apa Anda tidak menyukai kapal?” 

“Bukannya aku tidak suka. Hanya saja, aku tidak senang dengan motif di balik penggunaan kapal itu untuk menuju Kadipaten Albatro.” 

“Motif?” 

“Benar. Aku sengaja memperkecil jumlah pengawal demi menghindari provokasi terhadap Kadipaten Albatro. Memang setelah aku dan Leo menangani naga laut, posisi Albatro mulai condong ke arah Kekaisaran, tapi itu hanya di kalangan generasi muda. Para pejabat tinggi yang berpusat pada Duke masih memihak Kerajaan karena hubungan persahabatan yang sudah terjalin lama. Karena itulah kita pergi ke sana untuk mengubah pola pikir mereka.” 

“Begitu ya. Jadi meski kita berusaha untuk tidak memancing keributan, jika kita datang dengan kapal itu, kita justru akan memprovokasi Kadipaten Albatro.” 

Aku menggelengkan kepala mendengar jawaban Fine. 

Itu baru lima puluh poin. 

Memang benar bahwa makna dari pengurangan jumlah pengawal jadi berkurang. Sebaiknya kami menggunakan kapal biasa saja daripada kapal perang. 

Namun, masalah utamanya adalah Kadipaten Albatro merupakan negara maritim, sedangkan Kekaisaran adalah negara kontinental. 

Angkatan Laut Kekaisaran memang kuat. Kami tidak pernah kalah saat bentrok dengan angkatan laut Kerajaan maupun Kekaisaran Suci. Namun, pada dasarnya keduanya adalah negara kontinental. Kekuatan utamanya ada pada angkatan darat. 

Di sisi lain, Kadipaten Albatro adalah negara maritim. Kekuatan utamanya adalah angkatan laut. Itu adalah urat nadi mereka, dan kemampuan mereka berada di level yang berbeda dari negara lain. 

Setelah menerima bantuan teknologi dari Rondine yang merupakan negara sejenis, Kekaisaran akhirnya mengembangkan Kaiser Alphons ini. 

Dalam hal lautan, Kekaisaran hanyalah pemain baru. 

Terlepas dari jumlahnya, dalam hal kualitas, kita tertinggal satu atau dua langkah di belakang. 

Singkatnya, menuju Kadipaten Albatro dengan kapal ini tidak akan memberikan tekanan apa pun pada lawan. 

Akan lain ceritanya jika kita punya waktu untuk memproduksinya secara massal, tapi ini hanyalah satu kapal baru yang baru saja selesai dibuat. 

Dampak yang bisa diberikan oleh satu kapal saja sangatlah terbatas. 

Kenapa kami dikirim sebagai duta persahabatan ke Rondine sebagai hadiah dari Festival Perburuan Kesatria? 

Itu karena Kadipaten Albatro adalah sebuah ancaman. 

Rondine, yang bisa meredam Albatro, akan menjadi mitra yang sangat kuat mulai sekarang. Itulah alasan kami dikirim ke sana. 

Meski rencana sempat kacau karena berbagai masalah, esensinya tidak berubah. 

Kekaisaran tidak bisa menahan Kadipaten Albatro di lautan. 

Hal itu sudah terbukti dalam perang melawan Kerajaan Perlan di masa lalu. 

Angkatan Laut Kekaisaran tidak mampu mencegat kapal-kapal Kadipaten Albatro yang menyuplai logistik ke benteng-benteng lawan. 

“Benar-benar orang-orang yang tidak mau belajar...” 

“Apa kita sebaiknya mengganti kapalnya sekarang?” 

“Kalau bisa begitu, aku tidak akan pusing. Kebijakan Ayahanda sudah jelas. Mulai sekarang, beliau berniat mengandalkan Albatro atau Rondine untuk kekuatan tempur di laut. Jika tidak bisa menang, maka manfaatkan saja. Itu cara yang cerdas, tapi akan ada pihak-pihak yang merasa dirugikan.” 

“Angkatan Laut Kekaisaran...?” 

“Tepat sekali. Mereka itu tipe orang yang terus mengeluh karena anggaran yang sedikit. Kapal ini pun dibuat seolah-olah untuk meredam ketidakpuasan mereka. Jika mereka tidak menunjukkan taringnya di sini, mereka tidak akan punya masa depan lagi. Itulah kenapa kali ini mereka memaksa untuk menyertakan kapal bendera ini ke dalam misi.” 

Angkatan Laut Kekaisaran bukannya tidak kompeten, mereka bahkan selalu memberikan hasil yang nyata. Namun, mengingat letak geografis Kekaisaran, pertempuran antar angkatan laut jarang sekali menentukan hasil akhir sebuah perang. 

Terlebih lagi, membangun kapal membutuhkan biaya yang sangat besar. 

Jika bisa meminjam kekuatan negara lain, maka itu adalah pilihan yang lebih baik. 

Strategi menyeluruh Kekaisaran adalah menempatkan negara sekutu di utara dan selatan, guna bersiap menghadapi negara-negara kuat di timur dan barat. 

Itulah kesimpulan yang diambil oleh Ayahanda dan Kanselir. 

Bagi angkatan laut, mungkin ini terasa menyakitkan, tapi ini adalah langkah terbaik untuk saat ini. 

Mereka boleh saja meronta, tapi tolong jangan libatkan aku dalam urusan ini. 

“Ah, benar juga. Fine.” 

“Ya, ada apa?” 

“Aku ingin menyelesaikan masalah ini sedamai mungkin, tapi mengingat situasinya seperti ini, bawalah ini.” 

Aku menyerahkan selembar jimat kepada Fine. 

Sekilas, itu tampak seperti kertas biasa yang tidak istimewa. 

“Apa ini?” 

“Ini adalah alat sihir yang disebut Jimat Resonansi. Jika salah satunya sobek, maka yang satunya juga akan sobek. Efeknya hanya sesederhana itu, namun jangkauan efektivitasnya bahkan lebih luas dari seluruh wilayah Kekaisaran.” 

Aku menunjukkan jimat bagianku sendiri. 

“Bukankah ini benda yang sangat berharga?” 

“Memang berharga. Tapi, kegunaannya sangat terbatas. Kali ini segalanya tidak akan berjalan seperti biasanya. Aku harus bergerak sebagai Arnold, dan ini bukan di wilayah Kekaisaran. Pasti akan banyak hal yang terjadi di luar dugaan. Jadi, anggap saja ini sebagai jaminan. Jika menurutmu perlu digunakan, gunakanlah. Aku akan segera datang menyusul.” 

“Baik!” 

Fine tersenyum dan mendekap jimat itu seolah itu adalah benda yang sangat berharga. 

Aku sebenarnya ingin bertanya apa dia benar-benar paham bahwa ini bukan untuk sekadar disayang-sayang.

Tapi...


“Kurasa sudah waktunya Anda memasang senyum formal Anda.” 

Sebas, yang sedari tadi diam di belakangku, akhirnya membuka suara. 

Saat aku mengalihkan pandangan, tampak seorang pria berdiri di depan kapal bendera tersebut. 

Usianya sekitar lima puluh tahun. Perawakannya sangat tinggi. 

Dia menungguku dengan raut wajah yang tangguh. 

Dia adalah Menteri Kelautan, Gellesberger. 

Sosok yang secara praktis memimpin Angkatan Laut Kekaisaran. 

Dia juga orang yang memimpin pembangunan kapal bendera ini bekerja sama dengan Menteri Teknologi Kuber. 

“Yang Mulia Arnold, saya sudah menunggu Anda.” 

“Menteri Gellesberger. Kapal yang luar biasa. Aku sampai terpana melihatnya. Aku juga mendengar dari Menteri Teknologi Kuber bahwa ini adalah kapal terkuat milik Kekaisaran.” 

Aku tersenyum sembari menjulurkan tangan kanan untuk bersalaman dengan Gellesberger. 

Di sampingku, Fine tampak terperangah melihat betapa cepatnya aku mengubah sikap, tapi aku tidak sempat memedulikannya. 

“Seperti dugaan saya, Anda bisa mengerti, Yang Mulia.” 

“Sejak ditunjuk sebagai duta persahabatan, aku mulai tertarik pada kapal. Tidak biasanya bagiku, tapi aku sudah membaca beberapa buku tentang perkapalan.” 

“Anda ternyata seorang pembaca yang rajin. Kapal yang menyandang nama Kaisar Pertama ini memikul masa depan Angkatan Laut Kekaisaran. Ia pasti akan menjadi kekuatan bagi Anda.” 

“Aku pun berharap demikian. Leo akan menyerang Kerajaan. Hambatan di sana adalah benteng-benteng yang dulu tidak bisa ditaklukkan. Mustahil menjebolnya hanya dari darat. Untuk memutus jalur logistik mereka, aku akan pergi ke Kadipaten Albatro, namun jika harus menaklukkannya, kekuatan angkatan laut sangatlah krusial. Aku mohon bantuanmu.” 

“Tentu saja. Atas nama martabat Angkatan Laut Kekaisaran, kami akan membuktikan bahwa kami bisa meruntuhkan benteng itu.” 

“Terima kasih. Leo pasti tidak akan melupakan budi ini.” 

Gellesberger adalah sosok yang merangkak naik dari bawah di angkatan laut. 

Hingga beberapa waktu lalu, jabatan Menteri Kelautan itu tidak pernah ada. 

Angkatan Laut dulunya berada di bawah wewenang Menteri Kemiliteran. 

Namun, Menteri Kemiliteran tidak pernah dipilih dari kalangan angkatan laut karena mereka adalah kelompok minoritas. 

Oleh karena itu, Gellesberger melobi Ayahanda untuk membentuk jabatan menteri yang mengoordinasi angkatan laut. 

Segalanya dilakukan demi angkatan laut. 

Itulah jati diri seorang Gellesberger. 

Karena itulah dia tidak menunjukkan ketertarikan pada perebutan takhta, sebab hampir tidak ada situasi di mana angkatan laut bisa berperan. 

Namun, situasinya telah berubah. 

Kandidat kaisar berikutnya telah mengerucut menjadi dua orang, dan salah satu dari mereka akan menyerang Kerajaan. 

Kekuatan angkatan laut sangat diperlukan untuk menaklukkan benteng. 

Itulah alasan Gellesberger bersusah payah datang untuk melepas keberangkatanku. 

Aku bisa saja memprotes bahwa membawa kapal bendera itu tidak ada gunanya, namun jika kulakukan, aku akan kehilangan dukungan Gellesberger. 

Bagi Gellesberger, orang yang menghargai angkatan lautlah yang pantas menjadi Kaisar. 

Jika aku tidak menyambut tangannya dan menunjukkan keramahan di sini, ada kemungkinan dia akan memihak Eric. 

“Jika bicara soal budi, justru pihak kamilah yang merasa berutang. Berkat keputusan Anda yang mengatakan bahwa pengawal sedikit saja sudah cukup, usulan saya untuk setidaknya menyediakan kapal yang kuat akhirnya diterima.” 

“Aku tidak bermaksud begitu, tapi aku senang jika itu bisa membantumu.” 

Sambil tetap mempertahankan senyum, di dalam hati aku mengumpat karena dia melakukan hal yang tidak perlu. 

Alasan aku memperkecil jumlah pengawal adalah untuk memberikan tekanan secara tersirat. 

Mengirimkan dua orang yang sangat mudah dijadikan sandera adalah bukti bahwa kami memercayai Kadipaten Albatro. 

Sebuah tekanan tanpa kata yang bermakna: Kalian tahu apa konsekuensinya jika mengkhianati kepercayaan ini, bukan? 

Tekanan inilah yang akan menekan faksi radikal di Kadipaten Albatro. Pedang Kekaisaran yang saat ini terarah ke Kerajaan, bisa saja berbalik ke arah Kadipaten Albatro. 

Demi menanamkan pemikiran itu, aku bahkan membawa Fine. Terlepas dari apakah hal itu benar-benar akan terjadi, keberadaan Fine sudah cukup untuk membuat mereka berpikir demikian. 

Itulah sebabnya pengawal sedikit saja sudah cukup. Jika terjadi sesuatu yang darurat, aku ada di sana. 

Segalanya seharusnya sudah sempurna, namun kemunculan kapal bendera ini merusak segalanya. 

Bagaimana Kadipaten Albatro akan bergerak nantinya, sekarang aku menjadi tidak yakin. 

Saat aku tengah menghela napas dalam hati, Gellesberger tiba-tiba mendekatkan wajahnya. 

“Yang Mulia, ada seorang tamu yang sedang menunggu Anda di dalam kapal.” 

“...Baiklah.” 

Fakta bahwa dia baru menyampaikannya di sini berarti tamu itu ingin bertemu secara rahasia. 

Siapa sebenarnya orang yang bersikeras ingin bertemu di tempat seperti ini?


Bagian 3

Karena diminta untuk pergi sendiri, aku pun berpisah dengan Fine dan mulai melangkahi lorong-lorong di dalam kapal bendera tersebut. 

Aku dipandu menuju salah satu ruangan di dalam kapal. 

Di sana, aku menemukan sosok yang tak terduga.

“Wah, wah. Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Paman.” 

Sosok di sana adalah seorang pria berusia sekitar empat puluh tahunan. 

Rambutnya dipotong pendek, dan berkat perawakannya yang ramping, dia tampak lebih muda dari usia sebenarnya. Sifat ini mirip dengan kakakku. 

“Lama tidak jumpa, Arnold.” 

Pria itu bernama Duke Diethelm von Bergwein. 

Dia adalah adik dari Ayahanda. 

Ayahanda memiliki lima saudara laki-laki; tiga di antaranya tewas setelah memusuhi Ayahanda, sementara dua lainnya mendukung beliau dan dianugerahi gelar Duke. 

Meskipun berstatus sebagai pangeran ketiga, Paman adalah sosok penting yang memberikan dukungan pertama kali kepada Ayahanda dan berkontribusi besar dalam memperkokoh basis kekuatan beliau. 

Berkat keberadaan Paman pulalah Ayahanda bisa berlagak tidak kompeten demi mengelabui lawan, yang akhirnya membuat para kandidat lain kehilangan takhta karena meremehkan beliau. 

Meski memiliki jasa sebesar itu, setelah Ayahanda naik takhta, Paman justru menerima wilayah kekuasaan yang terlalu kecil untuk ukuran seorang Duke dan memilih untuk mengasingkan diri di sana. Dia adalah tipe orang yang hanya sesekali muncul saat ada acara kumpul keluarga. 

Tentu saja, tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan terlibat dalam perebutan takhta yang kedua ini, namun... 

“Aku ingin meminta maaf lebih dulu. Maaf karena datang tiba-tiba.” 

“Tidak apa-apa, tapi ada urusan apa sebenarnya? Apakah ada pesan dari Ayahanda?” 

“Urusan kali ini tidak ada hubungannya dengan kakakku. Meskipun aku sudah mengundurkan diri, aku masih menjalin komunikasi dengan teman-teman di berbagai daerah. Dan beberapa hari yang lalu, sebuah kabar tentang situasi genting sampai ke telingaku.” 

“Tentang Kadipaten Albatro?” 

“Benar. Utusan dari Kerajaan Perlan sudah berhasil masuk ke wilayah Kadipaten. Duke Albatro dikabarkan tampak sangat terdesak oleh tekanan mereka. Ya, kalau hanya itu mungkin tidak masalah, tapi para bangsawan di sekitarnya sepertinya mulai menganggap Duke tidak bisa diandalkan.” 

Kurang lebih, aku mulai memahami arah pembicaraan ini. 

Sepertinya perjalanan ini akan menjadi lebih merepotkan dari yang kubayangkan. 

“Kurasa kamu sudah mengerti, tapi semangat untuk melakukan pemberontakan sedang meningkat di Kadipaten. Alasan Duke belum bisa menentukan sikap adalah karena dia bimbang antara memihak Kekaisaran atau Kerajaan. Pihak Kerajaan tentu lebih menyukai penguasa yang berada di pihak mereka daripada raja yang sekarang, jadi mereka pasti akan memberikan dukungan penuh. Jika kamu pergi sekarang, kamu pasti akan terseret ke dalam kekacauan. Kemungkinan besar kamu akan dijadikan sandera.” 

“Tapi jika aku tidak pergi, Kadipaten akan jatuh ke tangan mereka. Duke membutuhkan bala bantuan.” 

“Biarkan Kadipaten Rondine yang memberikan bantuan. Tidak perlu bagimu untuk sengaja melangkahkan kaki ke tempat berbahaya.” 

Aku terdiam sejenak merenungkan bujukan Paman. 

Pihak lawan telah mengambil langkah pertama. 

Posisi kami sekarang tertinggal. Hal yang bisa dilakukan sangat terbatas. 

Namun... 

“Kudengar yang memegang komando di pihak Kerajaan Perlan adalah Pangeran Ketiga. Usianya sedikit lebih tua dariku. Meskipun dia tidak pernah muncul lagi di panggung utama sejak diracuni, kabarnya bakatnya dulu sempat memunculkan firasat akan lahirnya seorang Raja Penakluk.” 

“Memang benar. Dia sempat ikut bertempur di tahap awal perang melawan Persatuan Kerajaan. Selama dia ada, Persatuan Kerajaan bahkan tidak bisa mendarat. Namun, setelah dia diracuni, pasukan Kerajaan mengalami kekacauan besar dan terus terdesak sampai akhirnya Santa muncul. Pria seperti itu yang sudah mengambil langkah pertama. Jika kamu memaksakan diri, kamu bisa kehilangan nyawa, tahu?” 

“Mungkin saja... tapi jika Kadipaten jatuh ke tangan mereka, situasi perang akan menjadi krusial. Karena dia tahu hal itulah, dia mengambil langkah pertama. Pertempuran sudah dimulai, dan saat inilah yang menjadi titik penentu kemenangan. Apa pun yang terjadi, aku harus pergi.” 

“Aku mengerti kamu ingin Leonard mendapatkan prestasi. Tapi Leonard masih muda. Kakakku juga masih sangat bugar. Di sisi lain, pangeran ketiga Kerajaan itu sedang digerogoti racun. Tidak ada perlunya kamu meladeni tantangannya sekarang. Jika kamu mengkhawatirkan pendapat kakakku, aku yang akan membujuknya. Kamu tidak perlu terburu-buru dalam persaingan ini.” 

Kata-kata Paman sangat mudah dimengerti. 

Semuanya sangat masuk akal. 

Namun, ada satu bagian yang luput dari perkiraannya. 

Yakni kekuatan lawan. 

“Paman. Lawan kita ini adalah musuh yang tangguh. Dia pasti sudah sangat memahami kondisi tubuhnya sendiri. Aku tidak yakin dia akan puas hanya dengan menciptakan situasi buntu dengan Kekaisaran. Aku yakin jika kita membiarkan Kadipaten jatuh sekarang, dia akan bekerja sama dengan Kekaisaran Suci untuk menyerang Kekaisaran. Itu karena dia tahu waktunya tidak banyak.” 

“Aku juga sempat memikirkan hal itu, tapi apakah Kekaisaran Suci mau mengambil risiko sebesar itu?” 

“Ayahanda memang bugar, tapi Kaisar Suci sudah lanjut usia. Putra Mahkota mereka pasti ingin segera menggenggam kekuasaan di tangannya. Jika kita terus membiarkan lawan mengambil langkah pertama, segalanya akan berjalan sesuai rencana mereka. Kita harus mengambil inisiatif di suatu tempat. Lagipula...” 

“Lagipula, apa?” 

“Aneh rasanya jika informasi ini hanya sampai ke jaringan informasi milik Paman dengan begitu cepat. Harus dilihat bahwa dia sengaja membocorkan informasi ini karena dia tidak ingin aku datang.” 

“Apa...?” 

Apakah informasi akan sampai lebih dulu kepada Paman yang sudah pensiun? 

Mereka sengaja membocorkan informasi agar aku tertahan. Aku bisa melihat niat seperti itu. 

Lawanku ini benar-benar orang yang sangat ahli. 

“Maksudmu aku telah dipermainkan olehnya...?” 

“Paman tidak salah apa-apa. Ini memang berbahaya, dan langkah yang paling pasti adalah menggunakan Kadipaten Rondine dengan cerdik. Tapi, karena kita sudah tertinggal, langkah bernilai delapan puluh poin tidak akan bisa mengejar mereka. Aku menuntut nilai seratus dua puluh poin meskipun itu berbahaya. Mohon maafkan aku, aku terpaksa menyia-nyiakan perhatian Paman.” 

Setelah mengatakan itu, aku membuka pintu ruangan. 

Bujukan lebih lanjut tidak akan ada gunanya. 

Menyadari hal itu, Paman pun berjalan keluar ruangan. 

“Arnold. Aku cukup percaya diri dengan kecerdasanku.” 

“Tentu saja, karena Paman-lah yang berhasil menaikkan ayahanda ke takhta.” 

“Benar. Tapi lawan kita ini menggunakanku dengan begitu mudahnya. Dia musuh yang berat, kamu tahu itu?” 

“Tenang saja. Aku cukup ahli dalam hal tipu daya.” 

“Begitu ya... aku akan pergi ke tempat pasukan penjaga perbatasan selatan. Jika terjadi keadaan darurat, aku akan bergegas datang bersama tentara. Jangan melakukan hal yang nekat.” 

“Aku sangat berterima kasih.” 

Setelah membungkuk hormat, aku melepas keberangkatan Paman dari tempat itu. 

Paman adalah orang yang sudah pensiun. 

Terlepas dari fakta bahwa dia mengkhawatirkan keselamatanku, tidak akan baik jika pertemuan kami sampai ketahuan, karena itu tidak ada hubungannya dengan perebutan takhta. 

Paman sendiri pun pasti tidak ingin terseret ke dalam konflik faksi. 

Namun, orang ini benar-benar hebat karena bisa memanfaatkan Paman yang sudah pensiun dengan begitu rapi. 

Dia memang musuh yang tangguh. 

Baik Pangeran Ketiga yang memegang komando Kerajaan, maupun utusan yang datang ke Kadipaten, keduanya pasti orang-orang yang sangat ahli. 

“Nah, sekarang apa yang harus kulakukan?” 

Seperti yang dikatakan Paman. 

Jika aku hanya sekadar datang begitu saja, itu sama saja dengan menyerahkan diri untuk dijadikan sandera. 

Aku butuh sebuah rencana.


Bagian 4

Kapal bendera Alphons yang baru saja bertolak dari pelabuhan membawa serta seseorang yang tidak asing bagiku. 

“Aku benar-benar tidak menyangka akan membawa pangeran yang satunya lagi setelah sebelumnya membawa adiknya.” 

“Sepertinya kamu sangat membantu Leo waktu itu. Terima kasih, Kapten.” 

Dia adalah kapten kapal yang dulu mengangkutku saat aku sedang menyamar menjadi Leo dalam insiden naga laut. Dialah dalang di balik ide gila untuk mengibarkan bendera putih waktu itu. 

Entah karena kemampuannya yang mulai diakui atau karena pengalamannya yang sudah pernah mengunjungi Kadipaten.

Tampaknya dia terpilih menjadi kapten di kapal bendera Alphons kali ini. 

“Mendengar Anda berterima kasih begitu membuat saya tersipu. Tenang saja, saya akan mengantarkan Anda sampai tujuan dengan selamat.” 

“Itu melegakan. Ngomong-ngomong, apa kargo-kargonya sudah dibuka?” 

“Ya, saya baru saja memberikan instruksi kepada bawahan saya.” 

Sang kapten tampaknya bertanya-tanya.

Mengapa aku menyuruh membuka kargo di tengah laut? 

Namun, jawaban atas rasa penasarannya segera muncul. 

“Akhirnya aku bisa keluar juga...” 

Sambil berkata begitu, seekor beruang kecil muncul dengan langkah yang masih agak limbung. 

Dia adalah Sieg. 

“Sungguh, Yang Mulia selalu saja berhasil membuat saya terkejut.” 

Menyusul setelahnya adalah Kolonel Lars dari Narbe Ritter.

Dengan para bawahannya. 

Dan yang terakhir muncul adalah Lynfia. 

“Sesuai instruksi Anda, sepuluh orang termasuk saya dan Sieg telah menyelinap di antara tumpukan barang bawaan.” 

“Kerja bagus.” 

“T-Tunggu sebentar!? Yang Mulia!? Apa maksudnya ini!?” 

“Secara resmi, pengawalku hanyalah kru kapal ini dan Finn, Kapten Kesatria Pengawal yang berada di angkasa. Pihak lawan pasti sudah menyebar mata-mata untuk mengawasi kita sampai kapal ini bertolak. Karena itulah aku menyembunyikan mereka di dalam kargo.” 

“Bukan itu yang ingin saya tanyakan! Kenapa Anda membawa pengawal sebanyak ini!? Bukankah misinya adalah negosiasi!?” 

“Tentu saja untuk negosiasi. Hanya saja, aku harus bersiap seandainya negosiasi itu gagal. Meski sebenarnya ini hanya untuk berjaga-jaga jika terjadi kemungkinan terburuk, tapi...” 

Aku menghela napas panjang sambil melanjutkan kalimatku. 

Strategiku sebenarnya adalah memperkecil jumlah pengawal demi memberikan tekanan pada Kadipaten. Sebuah tekanan agar mereka tidak mengkhianati kepercayaan kami. 

Namun, jika aku terlalu jujur mengikuti rencana itu, aku akan berada dalam kesulitan jika segalanya gagal. Itulah sebabnya aku membawa beberapa orang ahli. 

Ini adalah rencana cadangan. 

Akan tetapi... 

“Apakah ada masalah?” 

“Ya, masalahnya banyak sekali. Situasinya sudah hampir mendekati perkiraan terburukku.” 

“Y-Yang Mulia...? Bukankah misinya adalah negosiasi...?” tanya sang kapten lagi dengan wajah yang tampak tegang. 

Menggunakan kapal bendera Angkatan Laut Kekaisaran untuk memberi tekanan dalam negosiasi; mungkin itulah misi yang didengar oleh kapten kapal. 

Namun, situasinya kini sudah jauh melampaui level tersebut. 

“Utusan Kerajaan Perlan sudah masuk ke Kadipaten dan mulai memberikan tekanan. Karena sikap Duke yang tidak tegas, para bangsawan mulai merasa tidak puas dan kabarnya ada tanda-tanda pemberontakan. Dalam situasi seperti itu, negosiasi formal tidak mungkin dilakukan.” 

“Artinya... misi ini sudah gagal bahkan sebelum kita sampai...?” 

“Bisa dibilang begitu. Duke sedang bimbang antara Kekaisaran dan Kerajaan, dan para bangsawan menganggap sikapnya itu memalukan dan tidak bisa diandalkan. Pada dasarnya, Kadipaten Albatro adalah negara yang pro-Kerajaan. Sekalipun negosiasiku dengan Duke berhasil, penguasa baru yang muncul dari pemberontakan itu pasti akan membatalkannya.” 

Ketidakpuasan memuncak karena penguasa mereka tidak segera memutuskan untuk memihak Kerajaan. 

Generasi yang lebih muda mungkin tidak terlalu merasa berutang budi pada Kerajaan, namun generasi tua sangat menghargai hubungan persahabatan yang telah terjalin turun-temurun. 

Duke berada di posisi sulit karena dia memahami hubungan lama dengan Kerajaan, namun di sisi lain dia juga tahu bahwa dia berutang pada Kekaisaran. 

“Saat ini Duke sedang mencari bantuan. Kerajaan Perlan berencana mengganti posisinya, sementara para bangsawan mengincar takhtanya. Dalam kondisi terjepit begini, satu-satunya yang bisa diandalkan oleh Duke adalah kita, Kekaisaran Adrasia.” 

“Kalau begitu, mari kita tunjukkan kehebatan kita dengan kapal bendera Alphons ini!” seru sang Kapten dengan penuh semangat. 

Namun, itu adalah langkah yang sangat buruk. 

“Kapten... aku minta maaf, tapi kapal ini tidak memiliki nilai setinggi itu di mata mereka.” 

“Eh...? Ini adalah kapal tercanggih milik Kekaisaran, lho...?” 

“Kapal ini dibuat dengan bantuan teknologi dari Kadipaten. Secara performa mungkin lebih unggul dari kapal mereka, tapi satu kapal saja tidak cukup untuk mengubah arah peperangan. Kapal ini tidak cukup mumpuni jika tujuannya adalah untuk memamerkan keagungan Kekaisaran.” 

“Yah, jangan begitu...” 

Sang kapten tampak sangat lesu setelah kapal yang dipimpinnya dengan penuh percaya diri itu dianggap tidak terlalu istimewa. 

Hatiku sedikit sakit mengatakannya, tapi fakta tetaplah fakta. 

Jika kami masuk dengan penuh percaya diri hanya dengan kapal ini, Duke mungkin malah akan berpaling ke Kerajaan karena Kekaisaran akan terlihat tidak cukup kuat di matanya. 

“Kadipaten unggul dalam angkatan laut, sementara Kekaisaran unggul dalam angkatan darat. Mencoba bersaing dalam hal angkatan laut adalah sebuah kesalahan. Jika ingin menunjukkan kekuatan, lebih baik membawa pasukan militer atau kesatria yang tangguh.” 

“Apakah kita harus meminta pasukan penjaga perbatasan selatan bergerak dengan alasan latihan militer?” 

Aku menggelengkan kepala atas usulan Lynfia. 

Jika melakukan itu, kita malah akan dianggap mengancam seluruh wilayah Kadipaten. 

Hal terpenting adalah menunjukkan sikap bahwa kita bergerak demi masa depan Kadipaten itu sendiri. 

“Fine, maaf, tapi ada sesuatu yang ingin kuminta darimu.” 

“Ya, apa pun itu.” 

Dalam misi ini, ada dua orang yang berstatus sebagai utusan, yaitu aku dan Fine. 

Mari kita manfaatkan hal itu. 

“Dalam situasi sekarang, jika kapal bendera ini masuk ke pelabuhan, kekuatan militer Kekaisaran mungkin akan diragukan. Karena itu, kita tidak akan langsung masuk ke Kadipaten Albatro. Ubah haluan menuju Kadipaten Rondine.” 

“K-Ke Rondine? Apa yang harus saya lakukan di sana...?” 

“Sejak insiden naga laut, Rondine dan Albatro telah menjalin aliansi. Surat pribadi dari Duke Rondine akan memiliki pengaruh yang cukup besar. Fine, aku ingin kamu mendapatkan surat pribadi dari Duke Rondine yang menyatakan dukungannya terhadap keputusan Duke Albatro.” 

“Saya mengerti. Lalu, apa yang akan Anda lakukan?” 

“Aku akan menyusup ke Kadipaten Albatro.” 

Kapten kapal memegang kepalanya setelah mendengar kata-kataku. 

Dia pasti bingung setengah mati. 

“Kita sedang menuju Rondine, lalu bagaimana caranya Anda masuk ke Albatro!? Jika menempuh jalur darat dari Rondine, itu akan memakan waktu lama!” 

“Tidak masalah. Kolonel Lars, apa kamu percaya diri dengan kemampuan memanjat tali?” 

“Kami sudah dilatih untuk itu.” 

“Kalau begitu, pilih enam orang. Sieg akan ikut denganku lewat jalur udara.” 

“Lalu, apakah saya akan menjadi pengawal Nona Fine?” 

“Kamu akan menjadi pengawal sekaligus penasihatnya. Aku akan bergerak agar Duke tidak menyerah pada tekanan, tapi jika dia sudah tersudut, utusan Kerajaan Perlan pasti akan memancing pemberontakan. Saat itulah dukungan dari Rondine akan menjadi sangat penting.” 

Jika Kadipaten Rondine berada di pihak kami, maka para pemberontak akan terisolasi. 

Hal ini dikarenakan tindakan yang memusuhi Rondine setelah hubungan mereka baru saja membaik akan dianggap merugikan masa depan Kadipaten Albatro. 

“Yang Mulia, bukannya tidak ada tempat untuk merapat di dekat sini, lho?” 

“Kami akan mendekat dengan perahu kecil, lalu memanjat tebing dengan tali.” 

“Anda serius...?” 

“Hanya ini satu-satunya jalan. Tidak akan ada gunanya jika hanya aku yang pergi ke Albatro. Aku butuh pasukan elit.” 

“Serahkan pada kami.” 

Mendengar jawaban Lars, sang Kapten tampaknya sadar bahwa memprotes pun tidak akan ada gunanya. Dia terdiam dan mulai memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan tali. 

Baiklah, kurasa aku harus segera menyapa sang Duke. 

“Kalau begitu, mulai sekarang kita akan berpencar. Fine, aku titip semuanya padamu, ya?” 

“Ya, serahkan pada saya. Semoga keberuntungan menyertai perjuangan Anda, Tuan Al.” 

“Ya, doakan saja. Sebas, tetaplah di sisi Fine.” 

“Baik, saya mengerti.” 

Kali ini pihak lawan benar-benar telah mengambil langkah yang jauh lebih maju. 

Jatuhnya Kadipaten Albatro ke tangan Kerajaan Perlan memang tidak akan langsung membawa kehancuran bagi Kekaisaran. 

Namun, dalam jangka panjang, hal itu akan menjadi langkah yang perlahan-lahan menyudutkan kami. 

Utusan yang dikirim oleh pihak lawan adalah seseorang yang bisa melihat visi masa depan itu dan ingin memastikannya terwujud. Dia pasti bukan orang sembarangan. 

Sambil memikirkan hal itu, aku memanggil Finn yang berada di langit.


Bagian 5

“Fiuuh... Benar-benar menguras tenaga ya.” 

“Yah, tebingnya lumayan tinggi juga.” 

Aku dan Sieg mendarat bersama Finn, lalu kami menurunkan tali untuk membantu Lars dan yang lainnya naik. 

Lars dan anak buahnya berhasil memanjat tempat yang biasanya mustahil untuk didaki hanya dengan seutas tali. 

Dari situ saja, aku bisa membayangkan betapa beratnya latihan rutin yang mereka jalani selama ini. 

“Yang Mulia, bagaimana rencana kita selanjutnya?" tanya Finn. 

Alasan kami mendarat secara terpisah adalah karena aku harus segera menemui sang Duke, apa pun yang terjadi. 

Dan itu harus dilakukan sambil memberikan kesan sekuat mungkin bahwa Kekaisaran adalah pihak yang bisa diandalkan. 

“Kita akan menuju istana, tapi masalahnya adalah bagaimana cara menghubunginya. Duke sedang berada di bawah tekanan besar dari utusan Kerajaan. Jika dibiarkan terlalu lama, dia pasti akan menyatakan dukungannya pada Kerajaan. Namun, jika dia menganggap Kekaisaran tidak bisa diandalkan, hasilnya akan sama saja. Repotnya, sang Duke yang berada di posisi paling tidak stabil ini justru adalah orang yang paling teliti dalam mengamati perkembangan situasi.” 

Dia enggan memihak Kerajaan bukan hanya karena merasa berutang budi pada Kekaisaran. 

Dia sedang menimbang-nimbang, memihak siapa yang saat ini akan memberikan keuntungan lebih besar bagi Kadipaten. 

Justru karena dia tidak ingin salah mengambil keputusan itulah, dia belum menjatuhkan pilihan hingga sekarang. 

Jika diingat kembali, saat insiden naga laut dulu, sang raja segera menundukkan kepala. Keputusan itu sangat tepat. 

Meskipun yang dihadapinya adalah pangeran dari negara besar, sebenarnya hampir mustahil bagi seorang raja untuk menundukkan kepala begitu saja. 

Namun, hanya itulah satu-satunya cara agar tidak menyinggung perasaan pihak Kekaisaran. 

Karena itulah situasi ini menjadi sulit. 

Meski kedudukannya terancam, dia tetap mengamati situasi karena dia telah memantapkan tekadnya. 

Begitu dia menjatuhkan pilihan, dia pasti tidak akan mengubah pendiriannya meskipun harus kehilangan jabatannya. 

Singkatnya, kami harus menunjukkan kepada Duke bahwa Kekaisaran memiliki keunggulan dibandingkan Kerajaan. 

“Ayo kumpulkan informasi. Kita masih terlalu buta dengan keadaan di sini.” 

“Baik.” 

“Dimengerti.” 

Setelah itu, kami mulai melangkah menuju ibu kota tempat istana berada.


* * *


Kota pelabuhan tempat aku dulu datang dengan mengibarkan bendera putih. Di sanalah letak ibu kota kadipaten ini. 

Aku dan Lars sedang berada di dalam sebuah penginapan yang terletak di pusat kota tersebut. 

Sementara itu, Finn bertugas berjaga di luar kota. Aku tidak bisa membiarkannya membawa Nova masuk ke sini.

Karena naga itu terlalu mencolok. 

Yah, sebenarnya aku sendiri juga cukup mencolok di sini. 

“Bagaimana hasilnya?” 

“Ya, sepertinya dua hari lagi akan diadakan festival untuk merayakan ulang tahun Marquis, adik sang penguasa.” 

“Apakah Marquis yang dimaksud adalah Marquis Pastore?” 

“Benar, tampaknya begitu. Apakah Anda mengenalnya?” 

“Dia adalah pria yang bertarung memperebutkan takhta dengan Duke saat ini sampai titik darah penghabisan. Sekarang, dia adalah pion utama yang sangat pro terhadap Kerajaan.” 

“Apa alasan mereka merayakan ulang tahun pria semacam itu di Ibu Kota?” 

“Kurasa itu bukan keinginan Duke. Mungkin dia didesak oleh menteri-menteri di sekitarnya, atau mungkin ada alasan lain. Yang jelas, utusan dari Kerajaan pasti ikut bermain di balik layar.” 

Mungkinkah tujuannya agar sang Marquis datang ke Ibu Kota? 

Ataukah ulang tahun itu hanya kedok, dan tujuan sebenarnya adalah festival itu sendiri? 

Yang pasti, mereka memiliki niat terselubung. 

“Ada hal lain yang kamu temukan?” 

“Jika hanya melihat dari kondisi kota, saya belum bisa memastikan detailnya. Namun, kemungkinan besar ada griffon di dalam istana.” 

“Membawa Kesatria Griffon yang berharga, ya? Mereka benar-benar serius.” 

Meskipun itu adalah Kerajaan Perlan, bukan berarti mereka memiliki Kesatria Griffon dalam jumlah yang melimpah. 

Sangat jarang bagi mereka untuk membawa kesatria semacam itu dalam kunjungan ke negara lain. 

Biasanya, perlakuan seperti itu hanya diberikan untuk tingkat orang seperti Leticia. 

“Mungkin untuk pengawalan... tapi ini bisa kumanfaatkan.” 

“Bisa dimanfaatkan?” 

“Mereka adalah lawan yang sangat cocok untuk memamerkan kehebatan militer Kekaisaran. Untungnya, di pihak kita ada kesatria yang tidak terkalahkan di angkasa.” 

Kesatria Griffon adalah simbol Kerajaan Perlan. 

Hal itu sudah menjadi rahasia umum, bahkan di dalam kadipaten ini. 

Karena itulah, tindakan mereka akan memengaruhi citra Kerajaan. 

Meski begitu, jika kami menyerang tiba-tiba, kecaman tentu tidak bisa dihindari. 

“Aku butuh lebih banyak informasi. Tindakan yang bisa kita ambil akan berubah tergantung pada peran apa yang dimainkan para griffon itu di dalam festival nanti.” 

“Apakah Anda akan menyerang mereka jika perannya memungkinkan?” 

“Aku tidak akan melakukan hal senekat itu.” 

Festival akan menarik banyak orang. Terlebih lagi, kejadiannya akan berlangsung di langit. 

Jika terjadi keributan, banyak pasang mata yang akan menyaksikannya. 

Tidak boleh ada kabar bahwa Kapten Kesatria Pengawal Kekaisaran menyerang pengawal dari utusan Kerajaan. 

Karena itu, aku tidak akan melakukan penyerangan. 

“Tanpa perlu menyerang pun, pertempuran tetap bisa terjadi.” 

“Jadi Anda akan tetap bertempur?” 

“Entahlah apa itu bisa disebut pertempuran atau bukan. Jika memungkinkan, aku tidak ingin hal itu terjadi. Dengan begitu, Duke pun akan merasa lebih tenang. Jika aku bisa membuktikan bahwa Kesatria Naga Putih kebanggaan Kekaisaran mampu mempermainkan Kesatria Griffon kebanggaan Kerajaan selayaknya anak kecil, maka itu sudah lebih dari cukup.” 

“Tugas yang berat bagi Kapten Finn. Namun, Kapten Finn memang istimewa bahkan di dalam Kekaisaran. Bagaimanapun juga, beliau adalah Kapten Kesatria Pengawal.” 

“Tidak masalah. Selama mereka bisa diingatkan kembali bahwa Kekaisaran memiliki Kapten Kesatria Pengawal, itu sudah cukup. Kekuatan Kapten adalah cerminan kekuatan Kekaisaran. Jika kita bisa membuat mereka berpikir bahwa memihak Kerajaan Perlan adalah langkah yang berbahaya, maka kebenaran yang sebenarnya tidaklah penting.” 

Hampir tidak pernah ada situasi di mana Kesatria Pengawal dikerahkan dengan kekuatan penuh. 

Bahkan jika kaisar maju ke medan perang, tidak semua anggota akan ikut serta. 

Hal seperti itu tidak akan terjadi kecuali dalam keadaan yang benar-benar darurat. 

Karena itulah, sekuat apa pun para Kapten Kesatria Pengawal, kekuatan itu tidak akan dikerahkan seluruhnya untuk menghadapi Kerajaan. Sejarah telah membuktikannya. 

Kekaisaran memiliki kekuatan terpendam. Jika kekuatan itu dikeluarkan, sudah pasti Kekaisaran akan menjadi yang terkuat. Kesatria Pengawal dan Keluarga Pahlawan adalah bagian dari kekuatan terpendam itu. 

Namun, kekuatan itu tidak sembarangan dikeluarkan. Kekaisaran bisa menang tanpa harus mengeluarkannya, dan untuk mengeluarkannya pun diperlukan alasan yang sangat kuat. 

“Dalam peperangan, yang terjadi adalah bentrokan antar pasukan. Kesatria Pengawal hanyalah pengecualian. Itu adalah fakta yang diketahui semua orang, namun bagi Duke yang sedang kesulitan menghadapi tekanan Kerajaan, hal itu tidak terlalu relevan.” 

Hanya satu hal yang dicari oleh Duke. 

Jika Kerajaan Perlan dan Kekaisaran Adrasia berperang, siapa yang kemungkinan besar akan menang? 

Jika demikian, aku hanya perlu menyodorkan alasan-alasan mengapa kami akan menang. 

Pihak Kerajaan pun pasti sedang melakukan hal yang sama. 

“Kalau begitu, dengan asumsi semuanya berjalan sesuai rencana Anda... pada saat kapan Anda akan menghadap Duke?” 

“Tentu saja pada saat yang sama dengan Finn, bukan?” 

“Ya?” 

“Tergantung pada apa peran Kesatria Griffon itu nanti... kemungkinan besar mereka bertugas menjaga langit atau menjadi bagian dari pertunjukan. Apa pun itu, mereka pasti akan terbang. Di sanalah Finn akan muncul dengan membawaku. Para Kesatria Griffon pasti akan mengira itu serangan musuh dan mencoba mencegat, lalu Finn akan mempermainkan mereka seperti anak kecil sebelum mendarat. Setelah itu, aku akan menghadap Duke.” 

Ini rencana yang sempurna. 

Ketika aku bertanya bagaimana pendapatnya, Lars tampak sedikit bingung sebelum akhirnya bergumam. 

“Sungguh berani...” 

“Ya. Masalahnya adalah... sebagian besar operasi ini bergantung pada kemampuan Finn. Apakah dia benar-benar bisa mempermainkan para Kesatria Griffon itu sambil membawaku atau tidak.” 

“Sepertinya akan sulit... dalam banyak hal.” 

“Yah, dia pasti bisa mengatasinya. Dia ‘kan Kapten Kesatria Pengawal.” 

“Bukankah ini terlalu nekat?”

“Tidak apa-apa. Sudah menjadi tugas Kesatria Pengawal untuk mewujudkan permintaan nekat dari keluarga kekaisaran.” 

“Ini pertama kalinya saya mendengar hal itu.” 

“Itu sudah menjadi rahasia umum di kalangan keluarga kekaisaran.” 

Sambil berkata demikian, aku menatap ke luar jendela. 

Suasananya tidak terlalu meriah. Meski ini adalah festival, tidak terasa ada kegembiraan yang meluap-luap. 

Ini pertanda bagus. Semakin sepi suasananya, semakin besar kemungkinan para Kesatria Griffon akan terbang ke langit. Mereka pasti ingin menyemarakkan suasana meski hanya sedikit.


Bagian 6

Dua hari kemudian. 

Perayaan hari kelahiran Marquis Pastore, sang adik penguasa, tengah berlangsung meriah di Ibu Kota. 

Sesuai dugaan, utusan Kerajaan Perlan menerbangkan para Kesatria Griffon ke langit untuk menyemarakkan suasana festival. 

Meskipun Kadipaten Albatro memiliki hubungan dekat dengan Kerajaan Perlan, rakyat jelata hampir tidak pernah memiliki kesempatan untuk melihat Kesatria Griffon secara langsung. 

Sorak-sorai membahana hanya dengan melihat mereka terbang, apalagi saat para kesatria itu memamerkan berbagai manuver akrobatik di angkasa. 

Perhatian seluruh rakyat seolah terpaku pada mereka. 

“Hanya tiga kesatria yang terbang ya. Syukurlah jumlahnya tidak terlalu banyak.” 

“Tiga Kesatria Griffon itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi ancaman yang mematikan, bukan begitu?” 

“Kita hanya akan memberi kejutan dan bermain-main sebentar dengan mereka.” 

“Anda bicara seolah hal itu sangat mudah dilakukan...” 

Di langit. 

Di atas punggung Nova, aku dan Finn sedang berbincang seperti itu. 

Menanggapi permintaanku yang tidak masuk akal, Finn menjawab agar aku tidak menaruh harapan terlalu tinggi. 

Namun, fakta bahwa dia tidak mengatakan tidak bisa melakukannya, berarti dia merasa sanggup mengatasinya. 

Itu adalah sebuah kepercayaan diri. 

Pihak lawan tidak terbang dengan asumsi akan terjadi pertempuran. 

Mereka akan dipaksa merespons kemunculan mendadak seorang Kesatria Naga. 

Artinya, kami bisa mengambil inisiatif sepenuhnya dengan serangan kejutan. 

Hal itu memberikan keuntungan besar bagi Finn. 

Dengan keunggulan sebanyak itu, tidak ada yang tidak mungkin. Begitulah penilaiannya. 

Finn yang tidak bisa bertarung seperti dulu sudah tidak ada lagi. 

Sekarang dia adalah Kapten Kesatria Pengawal yang dibanggakan Kekaisaran. 

Melawan tiga Kesatria Griffon bukanlah masalah besar baginya. 

“Tolong berpegangan erat!” 

“Ya! Aku mengerti!” 

Sebuah tali pengaman terikat di pinggangku.

Antisipasi jika aku terjatuh. 

Namun, itu mungkin hanya sekadar penenang pikiran. 

Jika aku jatuh saat terbang dalam kecepatan tinggi, tali itu pasti akan putus. 

Finn tentu memahami hal itu. 

Tapi aku yakin, jika aku sampai terjatuh, Finn akan segera menangkapku sebelum aku menghantam tanah. 

Dia harus memiliki kepercayaan diri setingkat itu jika ingin mempermainkan lawan sambil membawa seorang pangeran di punggung naganya. 

“Kita mulai!” 

Manuver terjun bebas dimulai secara tiba-tiba. 

Kami mendekati Ibu Kota dari ketinggian. 

Tentu saja, kami tidak menyembunyikan keberadaan kami. 

Finn sengaja mengambil jalur turun yang sangat mudah disadari oleh para Kesatria Griffon. 

Kemunculan Kesatria Naga yang tiba-tiba membuat para Kesatria Griffon kebingungan, namun mereka segera menyiagakan tombak dan terbang mendekat. 

“Berhenti! Sebutkan identitasmu!” 

Finn mengabaikan peringatan itu. 

Tidak ada alasan bagi kami untuk menuruti perintah berhenti dari kesatria Kerajaan di dalam wilayah Kadipaten. 

Melihat Finn tidak berhenti, para Kesatria Griffon semakin mendekat seolah tidak punya pilihan lain. 

Pada saat itulah. 

Finn memacu kecepatan Nova. 

Dia meninggalkan para Kesatria Griffon di belakang dan melesat menuju Ibu Kota. 

“Apa!?” 

“Jangan biarkan dia lolos!” 

Hanya dua kesatria yang mampu bereaksi cepat. 

Mereka memacu kekuatan griffon mereka untuk mengejar. 

Namun, keunggulan Finn dan Nova bukan hanya pada kecepatan akselerasinya. 

Tepat saat dua pengejar itu mulai mendekat, Finn melakukan perlambatan mendadak. 

Dalam sekejap, dia sudah berada di posisi belakang kedua kesatria tersebut. 

Namun, seolah sedang mengejek, dia tidak melakukan apa pun dan justru mengambil rute lain menuju Ibu Kota. 

“Beraninya kamu mempermainkan kami!” 

“Kejar dia!” 

Kedua kesatria itu berusaha keras untuk menempel, namun manuver udara Finn dan Nova berada jauh di atas level mereka. 

Mereka berputar, mempercepat laju, lalu melambat kembali. 

Fakta bahwa para pengejar itu bisa mendekat hanyalah karena mereka sedang diajak bermain. 

Jika Finn serius, dia pasti sudah meninggalkan mereka jauh di belakang sejak tadi. 

Setelah berkali-kali posisi belakang mereka diambil, kesabaran para kesatria itu pun habis. 

Mereka mulai menusukkan tombak yang tadinya hanya digunakan sebagai peringatan dengan sungguh-sungguh. 

Itu adalah serangan dengan niat membunuh. 

Finn menghindarinya dengan akselerasi penuh yang belum dia tunjukkan sejak tadi. 

Dalam sekejap, jarak antara kami dan kedua kesatria itu merenggang jauh. 

Kemudian, Finn meluncurkan serangan kilat tepat ke arah tombak mereka. 

Ujung tombak itu seketika lenyap terbakar, membuat kedua kesatria itu kehilangan senjata mereka.

“Bagaimana mungkin...?”

“Mustahil...” 

Suara gumaman tidak percaya mereka hanya bisa terdengar olehku. 

Mereka pasti Kesatria Griffon yang sudah menjalani latihan keras.

Dan ini mungkin pertama kalinya mereka dipermalukan sedemikian rupa di angkasa. 

Tapi ya, mereka tidak perlu merasa malu. 

Finn dan Nova memang berada di luar standar normal. 

Tidak akan ada peluang menang jika menghadapinya dengan cara biasa. 

“Kurasa sudah cukup.” 

“Kalau begitu, kita mendarat.” 

“Ya, tunjukkan dengan jelas kepada rakyat.” 

“Dimengerti.” 

Menuruti permintaanku, Finn terbang rendah menyisir Ibu Kota. 

Rakyat terkejut dan menjerit melihat Kesatria Naga yang muncul tiba-tiba.

Namun di saat yang sama terdengar pula sorak-sorai. 

Mungkin mereka mengira ini adalah bagian dari pertunjukan. 

Diiringi suara-suara itu, Finn perlahan mendaratkan Nova tepat di hadapan tempat Duke dan para pejabat lainnya duduk. 

“Kepung dia! Jangan sampai lolos! Tidak apa-apa jika kalian harus membunuhnya!” 

Di samping Duke. 

Seorang pria yang sangat gemuk berteriak dengan suara kasar. Sulit dipercaya bahwa pria itu adalah saudara dari Duke yang tampak sakit-sakitan. 

Dia pasti Marquis Pastore. 

Mengabaikan teriakan Marquis Pastore, ada orang lain yang menyadari identitasku dan segera memberikan perintah kepada para prajurit yang mulai mengepung kami. 

“Tarik pedang kalian! Aku tidak akan mengizinkan siapa pun bersikap tidak sopan kepada tamu Kadipaten kita!” 

Sosok yang berseru lantang itu adalah Julio, pangeran muda yang berdiri di samping Duke. 

Julio tampak jauh lebih tangguh dibandingkan saat terakhir kali kami bertemu. Dia kembali berseru kepada para prajurit. 

“Mundurlah!” 

Itu adalah perintah tegas yang tidak menerima bantahan. 

Namun, aku tidak merasa heran. 

Meski dulu dia tampak lemah, dia memiliki keteguhan hati yang kuat. 

Dia adalah pangeran yang terus menyemangati para prajurit saat terombang-ambing di laut. 

Aku sudah menduga dia akan tumbuh menjadi sosok yang hebat. 

“Seharusnya adikku yang datang ke sini, namun karena ada urusan mendesak, dia tidak bisa hadir. Sebagai gantinya, aku datang mewakili Ayahanda. Meskipun aku tidak membawa surat undangan, apakah masih tersedia kursi untuk pihak Kekaisaran, Paduka Duke?” 

“Oh! Pangeran Arnold! Saya senang sekali Anda sudi berkunjung!” 

Setelah turun dari punggung Nova dan memberi hormat, Duke segera melangkah mendekatiku. 

Aku hanya pernah bertemu dengannya beberapa kali secara langsung.

Karena biasanya Leo yang mengambil peran tersebut. 

Namun, Duke menghampiriku dengan sikap yang sangat ramah, mungkin sebagai bentuk penegasan posisi. 

“Mari, silakan lewat sini. Mohon maafkan ketidaksopanan prajurit kami. Kursi untuk Kekaisaran akan selalu tersedia kapan pun juga.” 

“Terima kasih banyak. Aku pun memohon maaf atas kunjungan yang tiba-tiba ini. Keputusan ini diambil mendadak dan aku segera berangkat, sehingga tidak sempat mengirimkan kabar terlebih dahulu.” 

“Jangan dipikirkan. Anda dan Pangeran Leonard akan selalu disambut dengan tangan terbuka di sini.” 

Sambil berkata demikian, Duke membimbingku menuju panggung kehormatan untuk tamu VIP.

Dengan begitu, sosokku pun tertangkap oleh mata para penduduk. 

Seketika, seruan mulai bergema dari berbagai sudut. 

“Itu Pangeran Arnold dari Kekaisaran!”

“Kakak Pangeran Leonard telah datang!” 

“Hidup Pangeran Kembar Hitam!!”

Suara-suara itu berasal dari Lars dan kawan-kawan yang telah kuselundupkan. 

Namun, tugas mereka hanyalah memicu teriakan pertama. 

Perlahan-lahan, identitasku mulai tersebar di antara penduduk. 

Tidak lama kemudian, sorak-sorai yang luar biasa pun pecah. 

Pencapaian besar dalam insiden naga laut adalah milik Leo. Karena itulah popularitas Leo di Kadipaten Albatro sungguh luar biasa. Berkat popularitasnya, aku pun ikut diperlakukan layaknya seorang pahlawan. 

Saat aku melambaikan tangan dengan ringan, sorak-sorai itu semakin bergemuruh. 

“Popularitas yang luar biasa, Yang Mulia Pangeran Arnold.” 

“Aku memang punya ikatan dengan negara ini. Meski pada dasarnya ini semua berkat adikku.” 

Seorang pemuda duduk di sebelah Marquis Pastore. 

Rambutnya pirang platina dengan mata biru muda yang jernih serupa es. Pemuda yang sangat pantas disebut pria tampan itu memasang senyum yang terkesan angkuh. 

“Begitu ya. Maaf, aku terlambat memperkenalkan diri. Namaku Marcel de Vantal. Aku adalah seorang Count dari Kerajaan Perlan dan menjabat sebagai utusan untuk Kadipaten ini. Jika ingin kujelaskan agar lebih mudah kamu mengerti... mungkin lebih tepat jika disebut sebagai orang kepercayaan Pangeran Ketiga dari Kerajaan Perlan?”

“Oh... jadi kamu adalah tangan kanan Pangeran Ketiga. Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu.” 

“Sama halnya denganku. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Yang Mulia Pangeran Arnold di sini.”

“Adikku sayangnya sedang sibuk. Ah, benar juga. Aku berniat meminta maaf. Aku merasa tidak enak kepada Kesatria Griffon yang menjadi pengawalmu. Karena mereka mengancamku, aku terpaksa membalasnya sedikit. Yah, tolong sampaikan agar mereka tidak terlalu berkecil hati. Lawan mereka adalah Kesatria Naga Putih kebanggaan Kekaisaran kami, Kapten Kesatria Pengawal, Finn. Lawan mereka memang terlalu berat.” 

“Jangan dipikirkan. Pengawal-pengawalku tidak mungkin berkecil hati hanya karena serangan mendadak yang tidak terduga di tengah pertunjukan. Yah, rakyat tampaknya terhibur, dan pengawal-pengawalku pasti merasa puas.”


Percakapan kami berakhir di sana. 

Kami saling meraba niat satu sama lain. Aku melontarkan kata-kata sindiran, namun tidak ada reaksi yang mencolok darinya. 

Tidak ada gunanya melanjutkan pembicaraan ini lebih jauh. 

Untuk saat ini, aku sudah menunjukkan dominasi atas Kesatria Griffon dan membuktikan bahwa popularitasku di mata rakyat masih tetap kuat. Menunjukkan hal itu kepada Duke sudah cukup bagi kami. 

Namun, aku tidak bisa tenang begitu saja. 

Pria bernama Marcel ini berbahaya.

Dia benar-benar penuh tipu muslihat.

Aku tidak boleh lengah sedikit pun.

Aku bisa mencium aroma yang sama dengan diriku pada orang ini.


Bagian 7

“Terima kasih sudah datang, Yang Mulia Pangeran Arnold.” 

“Paduka terlalu baik hati. Terjepit di antara Kekaisaran dan Kerajaan pasti sangat menyulitkan. Aku bersedia mendengarkan jika Anda ingin melontarkan sedikit keluh kesah.” 

“Begitulah nasib seorang raja.” 

Setelah festival berakhir. 

Aku mengadakan pertemuan dengan Duke Donato di Albatro. 

Donato tersenyum pahit sembari menuangkan sendiri anggur ke dalam gelasnya. 

“Meski pada akhirnya, ini semua karena ketidaktegasanku saja...” 

“Sejujurnya, aku datang dengan kapal hingga ke dekat sini. Begitu mengetahui utusan Kerajaan sudah masuk ke wilayah Kadipaten, kapal itu kuperintahkan menuju Rondine. Aku sengaja muncul dengan cara seperti tadi demi menunjukkan kehebatan militer Kekaisaran kepada Paduka.” 

“Begitu ya. Itu cara yang sangat efektif. Aku benar-benar merasa goyah.” 

“Tentu saja. Alasan Anda tidak bisa begitu saja memihak Kerajaan adalah karena Kerajaan Perlan belakangan ini tidak bisa dipercaya, termasuk dalam insiden yang melibatkan Santa. Selain itu, Paduka juga merasa cemas akan kekuatan Kerajaan.” 

“Tepat sekali. Dulu, Kerajaan Perlan adalah sekutu yang paling bisa diandalkan. Namun, Kerajaan yang sekarang dikendalikan oleh sang Putra Mahkota. Dan Putra Mahkota itu dengan ringannya membuang Santa yang telah mengabdi demi negara selayaknya bidak sekali pakai. Tidak ada jaminan bahwa kami tidak akan diperlakukan serupa.”

Leticia berhasil selamat dan kini berada di pihak Kekaisaran. 

Dia secara terbuka menceritakan alasannya. 

Nahwa Kerajaan telah merencanakan pembunuhan terhadap dirinya. 

Pihak Kerajaan menggunakan hal itu sebagai dalih untuk menyerang Kekaisaran. 

Fakta ini sudah menyebar luas ke negara lain. 

Kerajaan sendiri tidak mengakuinya, dan berkilah bahwa itu hanyalah kebohongan Leticia untuk menutupi pengkhianatannya. 

Memang benar bahwa di mata Kerajaan, Leticia adalah seorang pengkhianat. 

Namun, pengabdian Leticia terhadap Kerajaan Perlan sudah sangat dikenal luas. Siapa pun pasti berpikir bahwa dia memiliki alasan kuat untuk berkhianat. 

Karena itulah, kata-kata Leticia lebih dipercayai. 

Ini benar-benar sebuah salah perhitungan besar bagi sang Putra Mahkota. 

“Selain tidak bisa dipercaya, mereka juga tidak memiliki keunggulan yang mutlak. Meskipun akan ada penolakan dari para pengikut Paduka, kurasa lebih aman bagi Anda untuk memihak Kekaisaran.” 

“Tidak semudah itu. Tadi pagi, utusan Kerajaan Perlan memberikan sebuah informasi. Setelah kupastikan, tampaknya informasi itu memiliki kredibilitas yang cukup tinggi.” 

Donato mengeluarkan selembar kertas. 

Begitu kubuka, di sana tertulis kejadian yang terjadi di perbatasan barat Kekaisaran. 

“Unit Penyihir musnah...?” 

“Kabarnya Pangeran Anthem telah menyusun sebuah siasat. Musnahnya Unit Penyihir yang pernah berjasa besar dalam perang melawan Kerajaan adalah informasi yang mengesankan bahwa saat ini Kerajaan berada di atas angin.” 

“Mungkin memang terlihat begitu. Namun, bagaimanapun juga, mereka hanyalah satu unit pasukan. Hal itu tidak akan memengaruhi jalannya perang secara keseluruhan.” 

“Tetapi faksi pro-Kerajaan akan semakin bersemangat. Selama ini, karena situasinya masih samar, mereka hanya bisa mencelaku sebagai pecundang karena tidak segera mengambil keputusan. Namun jika informasi seperti ini masuk, aku akan didesak untuk segera menentukan sikap.” 

“Lalu, apa pertimbangan Anda?” 

“Semua tergantung pada seberapa serius Kekaisaran. Apakah Kekaisaran Adrasia berniat menghadapi Kerajaan Perlan dengan sungguh-sungguh? Itulah yang ingin kuketahui.” 

“Bisa kukatakan bahwa kami sangat serius. Meski tidak resmi, sempat ada rencana untuk menunjuk Marsekal Lizelotte dari pasukan penjaga perbatasan timur sebagai panglima tertinggi.” 

“Sampai sejauh itu...?” 

“Pada akhirnya, posisi panglima tertinggi jatuh kepada Leo, namun Ayahanda tidak berniat membiarkan Kerajaan begitu saja. Beliau akan mempercayakan pasukan yang mumpuni kepada Leo, dan jika perang berlarut-larut, beliau juga mempertimbangkan untuk mengerahkan Kesatria Pengawal.” 

Donato mengangguk berkali-kali mendengar penjelasanku. 

Kekuatan Kesatria Pengawal baru saja dia saksikan sendiri hari ini. 

Jika mereka benar-benar turun tangan, Kerajaan Perlan pun akan berada dalam posisi sulit. 

Sekuat apa pun Pangeran Anthem menampakkan dirinya di panggung utama, pasti ada batasnya. 

“Kalau begitu... apakah ada kemungkinan Sang Pahlawan juga akan dikerahkan?” 

“Tergantung pada reaksi negara-negara tetangga, khususnya Kekaisaran Suci. Namun, Kerajaan Perlan dicurigai ada hubungannya dengan iblis. Jika mereka dicap sebagai musuh umat manusia, Sang Pahlawan pasti akan menjadi yang pertama dikerahkan.” 

“Begitu ya... memang benar, aku tidak bisa melihat masa depan jika memihak Kerajaan. Singkatnya, mereka tidak bisa dipercaya.” 

“Itu keputusan yang bijak. Seandainya Kerajaan memenangkan perang melawan Kekaisaran pun, segalanya tidak akan berakhir di sana. Kadipaten Albatro pasti akan diminta untuk menyerang dan memberikan tekanan pada Kekaisaran dari arah selatan. Jika Kekaisaran membalas menyerang Kadipaten, Kerajaan pasti tidak akan menolong. Karena jika Kekaisaran sudah melemah, mereka tidak lagi membutuhkan Kadipaten.” 

“Benar sekali... kami hanya akan dimanfaatkan seperlunya. Bolehkah aku meminta jaminan bahwa Kekaisaran Adrasia tidak akan bersikap seperti itu?” 

“Kekaisaran memiliki kekuatan besar di timur dan barat. Jika ada negara sekutu seperti Negara Bagian Cornix di utara dan Kadipaten Albatro di selatan, kami bisa fokus menghadapi ancaman di timur dan barat. Aku percaya Kekaisaran Adrasia dan Kadipaten Albatro bisa menjadi mitra yang baik.” 

“Baiklah. Aku sudah memantapkan hati. Sebenarnya sejak awal aku sudah condong ke Kekaisaran, tapi setelah mendengar penjelasan Pangeran Arnold, keyakinanku semakin bulat. Aku akan memihak Kekaisaran. Namun, ada masalah.” 

“Aku mengerti. Masalahnya adalah Kadipaten Albatro saat ini tidak berada dalam satu suara, bukan?” 

Meskipun Duke sudah memutuskan, bukan berarti para pengikutnya akan patuh begitu saja. 

Terutama Marquis Pastore yang pasti mengincar takhta. 

Sejauh ini, tekanan dari utusan Kerajaan masih tertahan karena Duke belum mengambil keputusan. 

Namun jika beliau memutuskan untuk memihak Kekaisaran, Marcel yang merupakan utusan Kerajaan pasti akan bergerak mendukung Marquis Pastore. 

Jika mendapat dukungan dari Kerajaan, Marquis itu pasti akan bergerak. 

Pihak Kerajaan pun akan berpikir lebih baik memicu pemberontakan melalui faksi pro-Kerajaan daripada membiarkan Kadipaten jatuh ke tangan Kekaisaran. 

Terlebih jika peluang keberhasilan pemberontakan itu tinggi, mereka pasti akan melakukannya. 

“Sebagian besar petinggi ingin mempertahankan hubungan manis dengan Kerajaan Perlan seperti yang sudah-sudah. Mereka takut akan perubahan, dan tidak memiliki mata untuk melihat perubahan zaman.” 

“Itu hal yang wajar, mengingat Kadipaten Albatro dan Kerajaan Perlan sudah lama menjalin aliansi. Di sinilah generasi muda harus menunjukkan kekuatannya. Mereka yang muda dan memiliki kemampuan mampu melihat arah aliran zaman. Mereka pasti berpikir harus memihak Kekaisaran. Tentu saja, rasa perlawanan terhadap generasi tua juga menjadi salah satu alasannya.” 

“Generasi muda ya... Maksudmu, aku harus membiarkan Julio yang memegang kendali?” 

“Benar. Saat ini Paduka berada dalam posisi sulit. Menyatakan sikap sekarang tidak akan memberikan keuntungan. Karena itu, biarkan Pangeran Julio yang menyatukan faksi pro-Kekaisaran. Banyak generasi muda yang pasti akan setuju.” 

“Aku tidak tahu apakah Julio memiliki kekuatan sebesar itu...” 

“Tenang saja. Adikku telah menjamin kapabilitas Pangeran Julio. Dan aku ingin memercayai hal itu.” 

Donato tersenyum pahit kemudian menandaskan anggurnya. 

Dan kemudian. 

“Julio sangat mengagumi Pangeran Leonard. Dia pasti ingin menjadi seperti dirinya. Dia pasti akan senang mendengarnya.” 

“Dia pasti bisa, aku yakin itu.” 

Arah rencana telah ditentukan. 

Donato tetap berperan sebagai pihak yang mengambil keputusan akhir. 

Sedangkan tugas untuk menyuarakan bahwa mereka harus memihak Kekaisaran adalah peran Julio. 

Mereka yang saat ini mengikuti Marquis Pastore yang bersuara lantang, pasti akan beralih jika kaum muda mulai bersatu. 

Pokoknya, aku harus melemahkan momentum Pastore. 

Ini adalah perang proksi antara Kekaisaran dan Kerajaan. 

Jika tidak mengumpulkan faksi pro-Kekaisaran untuk melawan, kami akan tertelan. 

Fine akan membawakan kartu as kami. Mari kita bertahan hingga saat itu tiba.


Bagian 8

Keesokan harinya.

Aku bertemu dengan Pangeran Julio.

“Ini pertemuan pertama kita sejak yang di Ibu Kota Kekaisaran, bukan? Pangeran Julio.”

“Benar. Banyak hal yang telah terjadi di Ibu Kota waktu itu.”

“Syukurlah kamu bisa meloloskan diri dengan selamat.”

“Itu karena saya berada bersama rombongan Paduka Kaisar. Karena Paduka selamat, saya pun bisa selamat. Semua itu berkat andil besar Anda.”

“Kamu berlebihan. Leo-lah yang memberikan langkah penentu.”

“Namun, saya yakin Anda-lah yang telah menyusun strateginya. Saya sudah bertekad untuk menyampaikannya secara langsung saat kita bertemu. Anda sungguh luar biasa.” 

Julio membungkuk dalam, menunjukkan rasa hormatnya kepadaku.


Anak-anak memang cepat sekali tumbuh besar.

Saat pertama kali kami bertemu, Julio selalu bersembunyi di balik punggung kakaknya, Eva.

Dia tampak tidak percaya diri dan benar-benar tidak bisa diandalkan.

Namun, sekarang dia telah menjadi seorang pangeran yang gagah.

Musibah dalam insiden naga laut, serta keterlibatannya dalam pemberontakan besar di Ibu Kota Kekaisaran.

Sepertinya semua peristiwa itu telah menempanya hingga tumbuh dewasa. 

“Kejadian di Ibu Kota itu menyangkut nyawaku juga. Itu hanyalah hasil dari upayaku yang mati-matian. Namun, kali ini berbeda.”

“Saya mengerti. Kali ini, sayalah yang harus berjuang mati-matian. Jika kami menjalin kerja sama dengan Kerajaan Perlan yang tega membuang sang Santa, maka Kadipaten kami pun cepat atau lambat akan mengalami nasib yang sama. Menurut saya, pilihan yang harus diambil adalah beraliansi dengan Kekaisaran Adrasia.”

“Baguslah. Itu menghemat tenagaku untuk meyakinkanmu. Namun, situasinya serius. Kita sudah tertinggal langkah. Sebagian besar petinggi di Kadipaten ini sudah memihak Kerajaan Perlan. Informasi yang disebarkan utusan Kerajaan semuanya adalah kerugian bagi Kekaisaran. Gara-gara itu, jumlah pengikut mereka terus bertambah. Jika kita tidak melawan, Paduka Duke akan benar-benar terdesak.” 

“Tenang saja. Saya sudah menghubungi banyak bangsawan muda. Mayoritas dari generasi kami merasa harus memihak Kekaisaran.” 

Julio bicara dengan berapi-api. 

Aku menghargai semangatnya, tapi antusiasme saja tidak akan cukup untuk menang. 

Generasi tua adalah mereka yang selama ini memimpin Kadipaten. Mereka punya rekam jejak, dan karena itulah mereka punya pengaruh. 

Sebaliknya, generasi muda adalah mereka yang akan memimpin Kadipaten di masa depan. Mereka belum punya prestasi, dan otomatis tidak punya pengaruh. 

Mereka memang punya momentum dan pemikiran baru, tetapi hal-hal itu saja tidak akan membuat orang-orang mau mengikuti. 

Orang yang bisa bergerak dengan melihat jauh ke depan itu langka. 

Karena mampu memprediksi, mereka bergerak lebih awal, sementara orang-orang yang tidak memiliki pandangan serupa takkan bisa memahami pergerakan tersebut, bahkan meski sudah dijelaskan berkali-kali. 

Mereka baru akan paham saat masalah sudah berada tepat di depan mata. 

Contohnya, saat Kerajaan mencoba menggunakan Kadipaten sebagai bidak sekali pakai. 

Mereka pasti akan ribut saat itu terjadi. 

Namun, kala itu segalanya sudah terlambat. 

Itulah sebabnya kita harus bergerak sekarang. 

“Menggerakkan orang-orang konservatif itu sulit. Mereka punya pembenaran sendiri yang didasari oleh pengalaman masa lalu. Karena itulah, mereka menganggap situasi tidak akan pernah berubah. Tentu saja, terkadang memang begitu. Namun di dunia ini, hanya sedikit hal yang benar-benar tidak berubah.” 

“Apa suara dari generasi muda tidak bisa mengubah pemikiran mereka...?” 

“Sepertinya tidak. Anak muda tanpa rekam jejak otomatis akan dipandang sebelah mata sebagai bocah ingusan. Kata-kata dari orang yang mereka remehkan tidak akan pernah sampai ke telinga mereka. Jadi, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mendapatkan pengakuan.” 

Alasan Duke terdesak pun sebenarnya bermuara pada hal yang sama. 

Beliau diremehkan karena dianggap lemah, sehingga para bangsawan berpengaruh berani mengabaikannya. 

Jika beliau adalah raja kuat yang disegani hingga bawahan patuh tanpa kata, masalah ini tidak akan terjadi. 

Tentu saja, jika situasinya begitu, pilihan sang Duke bisa saja merugikan Kekaisaran. 

Ada sisi baik dan buruknya. 

Justru karena situasinya sedang kacau, ada celah bagi kita untuk campur tangan. 

Marcel, utusan Kerajaan Perlan itu, pasti juga memikirkan hal yang sama. 

“Apa itu berarti saya sendiri yang harus menorehkan pencapaian...?” 

“Itu salah satu caranya, tapi ada cara yang lebih mudah.” 

“Cara apakah itu?” 

“Carilah tokoh berpengaruh untuk menjadi pendukungmu. Ayahmu sebenarnya ideal, tapi karena posisi beliau sedang sulit, seseorang dari jajaran petinggi lain akan menjadi pilihan terbaik.” 

“Jika begitu... saya punya satu nama di pikiran.” 

“Mengejutkan. Siapa orangnya?” 

Dalam kasus seperti ini, biasanya kita harus menarik seseorang dari kubu lawan. 

Untuk itu, diperlukan berbagai trik kecil. 

Entah itu dengan memegang kelemahan mereka, menawarkan keuntungan, atau melakukan konfrontasi langsung untuk membuktikan kebenaran pihak kita. 

Jika hal-hal merepotkan itu tidak diperlukan, tentu akan sangat membantu, tapi... 

“Count Adornart, sang abdi berjasa, memang sedikit condong ke Kerajaan tapi posisinya netral. Saya sangat akrab dengan putranya.” 

“Tentu saja dia target yang bagus jika bisa ditarik ke pihak kita, tapi...” 

Perang proksi antara Kekaisaran Adrasia dan Kerajaan Perlan ini hanya terjadi di pusat Kadipaten. 

Para bangsawan di wilayah perbatasan tidak terlibat. 

Mereka berbatasan langsung dengan Kadipaten Rondine dan Kekaisaran, sehingga tidak punya kemewahan untuk ikut campur dalam urusan semacam ini. 

Jika tidak ada jalan lain, aku berniat menggerakkan pasukan penjaga perbatasan selatan untuk melibatkan para bangsawan perbatasan di sisi Kekaisaran. 

Jika militer Kekaisaran mengadakan latihan perang, atmosfer bahwa memusuhi Kekaisaran adalah ide buruk akan menyebar di antara mereka. 

Masalahnya adalah apakah pasukan penjaga akan bergerak sesuai rencanaku, tapi untungnya ada Paman di sana. 

Atas permintaanku dan Paman, mereka setidaknya pasti mau melakukan latihan militer. 

“Seberapa jauh putra beliau bisa dipercaya?” 

“Saya memercayainya... tapi jika Anda khawatir, apa Anda ingin menemuinya?” 

“Benar juga. Kumpulkanlah orang-orang yang memiliki hubungan dekat denganmu. Jika mereka tampak bisa dipercaya, aku akan menjadikannya sebagai salah satu rencana.” 

“Hanya salah satu rencana...?” 

“Berjaga-jaga bukanlah hal yang buruk. Saat ini Fine sedang menuju Rondine. Jika kita berhasil mendapatkan dukungan dari Rondine, situasi akan berbalik sepenuhnya. Tugas kita sekarang adalah memastikan pihak lawan tidak mengambil tindakan militer sampai saat itu tiba.” 

Jika kekuatan kita besar, pihak lawan juga akan sulit untuk melancarkan serangan fisik. 

Pertama-tama, kita harus menciptakan situasi seperti itu.


* * *


Keesokan harinya.

Julio memperkenalkan dua orang temannya kepadaku. 

“Yang Mulia Arnold, ini adalah teman-teman dekat saya.” 

Yang diperkenalkan adalah seorang remaja laki-laki bertubuh besar dan seorang lagi bertubuh kecil. Keduanya tampaknya berusia pertengahan belasan tahun. 

Remaja bertubuh besar itu melangkah maju satu tindak. 

“Nama saya Oscar di Adornart. Merupakan suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan Anda, Yang Mulia.” 

“Jadi kamu putra Count Adornart, ya. Kudengar sang Count belum menentukan posisinya secara jelas, bukan? Apa tidak apa-apa kamu menemui kami?” 

“Ayah dan saya adalah pribadi yang berbeda. Namun, saya percaya suatu saat nanti beliau akan memiliki tujuan yang sama dengan kita.” 

“Begitu ya. Lalu bagaimana denganmu?” 

Aku mengalihkan pandangan pada remaja yang sedari tadi memasang senyum di belakang. 

Punggungnya membungkuk, dan senyum palsunya terlihat sangat jelas. 

Dia tipe yang mungkin tidak pandai membangun hubungan dengan orang lain. 

“S-Saya Raul di Pinto... Keluarga Pinto adalah keluarga Count perbatasan yang sudah turun-temurun, dan kami telah menjaga perbatasan di sisi Kekaisaran selama bertahun-tahun...” 

“Yang Mulia Arnold pasti sudah tahu hal itu tanpa perlu kamu jelaskan. Tidak bisakah kamu bicara yang lebih berguna sedikit?” 

Yah, itu memang informasi yang sudah kuketahui. 

Hal semacam itu pasti kuselidiki lebih dulu. 

Mendengar kata-kata Oscar, Raul langsung menciut. 

Terhadap Raul yang seperti itu, Julio menyahut dengan lembut. 

“Raul, Yang Mulia tidak akan marah hanya karena hal sepele seperti ini.” 

“Y-Ya...” 

Mungkin Julio merasa sedang melihat dirinya yang dulu. 

Sikap Julio terhadap temannya itu tampak penuh perhatian. 

“Yang Mulia Arnold, apakah alasan Anda memanggil saya karena berniat menarik Ayah ke pihak Anda?” 

“Yah, aku memang memikirkannya, tapi sebelum itu aku ingin memastikan apakah kalian bisa dipercaya atau tidak.” 

“Saya tidak akan pernah melakukan tindakan yang mengkhianati Pangeran Julio. Kami adalah teman yang telah bersumpah untuk melangkah bersama.” 

“A-Anu... s-saya juga sama...” 

“Katakan dengan jelas kalau kamu tidak akan berkhianat! Itu hal penting! Beraninya kamu hanya bilang ‘sama’ denganku?” 

Mendengar teguran Oscar, Raul kembali menciut. 

Tampaknya hubungan mereka berdua memang tidak terlalu seimbang. 

“Soal bisa dipercaya atau tidak, aku akan menilainya nanti. Namun, yang akan menilai adalah aku yang tidak mengenal kalian, sedangkan Pangeran Julio menaruh kepercayaan penuh pada kalian. Aku ingin kalian memahami hal itu.” 

“Tentu saja. Terima kasih telah mengundang kami ke sini.” 

“T-Terima kasih banyak...” 

Aku memberi isyarat mata pada Julio agar mereka berdua undur diri terlebih dahulu. 

“Nah... Finn, bagaimana menurutmu?” 

Finn, yang sedari tadi bersembunyi sebagai pengawal, muncul dari balik bayangan. 

Namun, dia memasang ekspresi yang tampak bingung. 

“Bagaimanapun juga, saya hanyalah seorang kesatria...” 

Melihat dia menggunakan kata ganti orang pertama yang biasa digunakannya seperti saat kami pertama kali bertemu, dia pasti benar-benar merasa terpojok oleh pertanyaanku. 

Sambil tersenyum kecut melihat Finn, aku memanggil pengawal yang satu lagi. 

“Bagaimana menurutmu, Kolonel Lars?” 

“Jika bicara soal selera, orang yang bisa bicara dengan tegas di depan umum memberikan kesan yang lebih baik.” 

“Jawaban yang sangat cari aman, ya.” 

“Karena saya tidak ingin mengatakan sesuatu yang meleset.” 

“Sepertinya kamu bisa membalas seperti itu saat sedang bingung, Finn.” 

“Saya belajar sesuatu yang baru...” 

Pendapat Lars ada benarnya. 

Oscar memiliki pendirian yang kuat. 

Itulah sebabnya dia bisa bicara dengan percaya diri di depan umum, bahkan di hadapan pangeran Kekaisaran sekalipun. 

Di sisi lain, Raul tampak tidak memiliki pendirian sendiri. 

Biasanya, orang seperti itu sangat mudah terbawa arus. 

“Bolehkah saya mendengar pendapat Anda, Yang Mulia?” 

“Aku mungkin akan menjelek-jelekkan temanmu, lho?” 

“Apa boleh buat.” 

“Baguslah kalau kamu bisa bersikap dewasa. Kesimpulannya, aku belum tahu. Karena itu, biarkan aku menguji mereka sedikit.” 

Sambil berkata demikian, aku menyeringai.


Bagian 9

Setelah menyatakan niat untuk menguji mereka berdua, aku berjalan menyusuri istana bersama Julio untuk melakukan persiapan. 

Di sanalah aku berpapasan dengan pihak lawan. 

“Wah, wah, Yang Mulia Arnold dan Pangeran Julio. Kalian berdua hendak ke mana?” 

“Duta Besar Marcel. Aku hanya ingin Pangeran Julio menemaniku berkeliling ibu kota sebentar. Lalu, Duta Besar Marcel sendiri mau ke mana? Apa kamu hendak menemui Marquis Pastore?” 

Orang yang berpapasan denganku adalah Marcel. 

Di sampingnya ada seorang kesatria wanita dan satu orang lagi yang belum pernah kulihat sebelumnya. 

Seorang pemuda. Namun, dia bertubuh agak tambun dan sama sekali tidak terlihat seperti seorang pengawal. 

“Bukan, bukan. Hari ini saya punya urusan lain.” 

“Beliau sedang mengadakan pertemuan denganku,” ucap pemuda tambun itu sambil melangkah maju. 

Kemudian, dia memberi hormat dengan raut wajah yang tampak sangat membanggakan diri. 

Kalau dia mau pamer, setidaknya aku berharap dia melakukannya dengan sedikit lebih elegan. 

“Dan Anda sendiri?” 

“Namaku Barnaba di Pastore. Aku putra Marquis Pastore.” 

“Oh, jadi Anda putranya. Begitu ya, apakah Anda datang mewakili ayah Anda?” 

“Bukan, bukan. Saat ini akulah yang lebih banyak bergerak dibandingkan Ayah. Secara praktis, akulah kepala keluarga kami.” 

Mungkin karena tidak suka disebut sebagai perwakilan, Barnaba sengaja menekankan statusnya sebagai kepala keluarga. 

Sepertinya dia punya harga diri yang agak aneh. Orang yang rumit. 

Mungkin dia pikir akan lebih terhormat jika diperlakukan sebagai kepala keluarga daripada sekadar putra sang Marquis. 

Naif sekali. 

Bagi seorang pangeran Kekaisaran, keduanya sama saja. 

“Begitu ya, selamat berjuang. Duta Besar Marcel, apakah wanita di sebelah Anda itu pengawal?” 

Barnaba tampak mematung. 

Dia mungkin mengira akan ada percakapan lebih lanjut. 

Memang benar, jika Marquis Pastore naik takhta sebagai raja, maka Barnaba akan menjadi seorang pangeran. 

Namun, saat ini ayahnya belum menjadi raja. 

Dia bukanlah sosok yang patut kuberikan penghormatan khusus. 

Dibandingkan dia, Marcel yang merupakan utusan Kerajaan Perlan jauh lebih penting. 

“Benar, ini Lisette, pengawal yang paling kupercayai. Lisette, beri salam kepada Yang Mulia.” 

“Nama saya Lisette.” 

Rambut merahnya dipotong pendek rapi. Matanya yang merah gelap memancarkan ketajaman. 

Zirah ringan berwarna merah dan biru yang dikenakannya mungkin merupakan pesanan khusus yang dibuat hanya untuknya. 

Sangat cocok. 

Wajahnya lebih cenderung cantik daripada imut, namun dia sama sekali tidak ramah. 

Saat ini pun dia memasang ekspresi seolah sedang merasa direpotkan. 

“Kudengar Yang Mulia Arnold dekat dengan si anak ajaib dari Keluarga Pahlawan. Bukankah seharusnya dia yang datang sebagai pengawal? Kudengar terakhir kali memang begitu.” 

“Kekaisaran punya banyak musuh yang harus diwaspadai. Mungkin saat ini dia sedang dikirim ke negara lain.” 

Meski aku hanya menyebut negara lain, sebenarnya hanya ada satu pilihan yang masuk akal. 

Saat aku mendengus sambil tersenyum sinis, Lisette melangkah maju. Mungkin karena aku bersikap terlalu angkuh. 

Namun... 

“Hentikan, Lisette.” 

“Tetapi!” 

“Kerajaan kami memang takut pada Pedang Suci. Yah, kurasa hal itu berlaku untuk negara mana pun. Bukan sesuatu yang perlu dipermalukan. Hanya saja, bukan berarti kami takut pada Keluarga Pahlawan itu sendiri. Tanpa Pedang Suci, mereka hanyalah petarung hebat biasa. Kami bisa mengatasinya dengan kekuatan pasukan.” 

“Jadi kamu berasumsi kami tidak akan menggunakan Pedang Suci?” 

“Jika Anda punya alasan yang cukup kuat untuk menggunakannya, saya ingin sekali mendengarnya.” 

“Markas iblis ada di wilayah Kerajaan Perlan.” 

“Setelah itu, pihak Guild Petualang telah melakukan penyelidikan menyeluruh. Kerajaan juga telah memberikan kerja sama penuh. Jika ternyata iblis-iblis itu masih bersembunyi di sana, maka kita harus memuji kemampuan mereka dalam menyamar. Itu bukan kelalaian Kerajaan kami. Penggunaan pedang itu baru boleh dilakukan setelah iblis benar-benar menampakkan diri.” 

“Jadi kamu bersikeras bahwa Kerajaan Perlan tidak menjalin hubungan kerja sama dengan iblis?” 

“Saya paham jika orang-orang berpikir demikian, tapi kami pun sedang berusaha membuktikan bahwa kami tidak bersalah. Anda tidak bisa begitu saja mengabaikan hal itu dan memperlakukan kami sebagai musuh umat manusia.” 

Semua yang dikatakan Marcel benar adanya. 

Tidak ada bukti bahwa Kerajaan Perlan terhubung dengan iblis. Itu semua hanyalah spekulasi dari Guild dan Kekaisaran. 

Jika Pedang Suci digunakan hanya berdasarkan spekulasi, Kekaisaran bisa dituduh menyalahgunakan senjata yang seharusnya untuk melindungi umat manusia. 

“Apakah Anda sudah bisa menerimanya?” 

“Untuk saat ini.” 

“Itu sudah cukup. Selama masalah Pedang Suci tidak ada, kami punya banyak cara untuk menghadapi kalian.” 

Setelah berkata demikian, Marcel berjalan melewati kami diikuti oleh Lisette dan Barnaba. 

“Dia benar-benar pantas disebut sebagai tangan kanan Pangeran Ketiga. Dia sangat memahami situasi.” 

“Beliau sangat berbakat hingga terasa menakutkan. Beliau selalu menyodorkan informasi yang tepat di saat yang tepat pula. Gara-gara hal itu, banyak petinggi di negara kami yang beralih menjadi faksi pro-Kerajaan...” 

Fakta bahwa dia sudah tiba di Kadipaten dengan sangat cepat saja sudah hebat. 

Aku harus memuji Pangeran Ketiga yang mengirimnya. 

Dia tahu betul tempat mana yang bisa menguras kekuatan Kekaisaran dan memberikan keuntungan maksimal bagi mereka. 

Terlebih lagi, orang yang dikirim ke sini adalah Marcel, orang yang bisa melihat gambaran besar dengan sangat jernih. 

Punya bawahan yang mampu melihat segalanya seperti itu pasti sangat memudahkan pekerjaan. 

“Ternyata ada orang hebat yang tersembunyi seperti dia.” 

Alasanku mencium aroma yang sama denganku pada dirinya mungkin karena dia juga sedang memalsukan jati dirinya. 

Aku belum pernah mendengar nama Marcel sampai sekarang. 

Pria sehebat itu seharusnya bisa dengan mudah mencetak banyak prestasi. 

Entah karena dia sangat setia kepada Pangeran Ketiga, atau mungkin ada alasan lain yang membuatnya tidak pernah muncul di panggung utama. 

“Pangeran Julio, sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini...” 

“Apa itu?” 

“...Jika pria itu ternyata lebih cerdas dari dugaanku, maka ini mungkin tidak akan berakhir hanya dengan perebutan pengaruh.” 

“Maksud Anda?” 

“Artinya, darah akan mengalir. Dalam jumlah banyak.” 

Dalam urusan apa pun yang melibatkan lawan, kita biasanya bergerak berdasarkan prediksi tentang apa yang akan dilakukan lawan tersebut. 

Namun, bagaimana jika pergerakan lawan tidak bisa diprediksi? 

Dalam kebanyakan kasus, situasinya akan menjadi hal yang paling kita benci. 

Saat ini, kami ingin menghindari konflik bersenjata. Pihak lawan pun mungkin menganggapnya sebagai pilihan terakhir. 

Namun, jika mereka berpikir akan kalah jika tidak melakukannya, mereka pasti akan bergerak. 

“Saya akan berjuang sampai akhir. Saya tidak akan membiarkan mereka berbuat sesuka hati.” 

“Semangatmu boleh saja, tapi menantang pertempuran yang mustahil untuk dimenangkan adalah perbuatan orang bodoh. Pertama-tama, mari kita cari peluang untuk menang.” 

Untuk itu, kami butuh seorang pendukung. 

Seseorang yang disegani oleh orang-orang di sekitar. 

“Untuk sekarang, mari kita uji Oscar dan Raul.” 

“Yang Mulia Arnold, apa yang akan Anda lakukan jika ternyata mereka berdua tidak bisa dipercaya?” 

“Sudah jelas. Aku akan tetap menggunakan mereka meskipun tidak memercayai mereka. Meski aku tidak terlalu menyukainya, tapi saat ini kita sedang kekurangan tenaga kerja.”


Bagian 10

Bisa dipercaya atau tidak. 

Menguji hal itu bukanlah perkara mudah. 

Seberapa pun besarnya rasa percaya kita pada seseorang, manusia adalah makhluk yang bisa berkhianat karena berbagai alasan. 

Karena itulah, aku hanya menguji kemungkinan.

Apakah mereka bisa dipercaya. Sayangnya, tidak ada yang namanya kepastian mutlak. 

“Bagaimana sebenarnya cara Anda menguji apakah mereka bisa dipercaya?” 

Setelah menyelesaikan beberapa persiapan, kami kini berada di sebuah penginapan di Ibu Kota. 

Tempat ini menjadi lokasi kami berjaga. 

“Atas namamu, aku sudah mengirim orang untuk memanggil mereka. Aku berpesan agar mereka datang tepat waktu, dengan tenggat waktu yang sangat mepet.” 

“Jadi Anda ingin melihat apakah mereka mampu memenuhi janji itu?” 

“Begitulah. Setelah baru saja kembali ke rumah, dipanggil lagi secara mendadak pasti terasa merepotkan. Apalagi lokasinya berbeda dengan tempat tadi. Jika mereka meremehkan pihak yang memanggil, mereka pasti berpikir tidak apa-apa kalau terlambat sedikit. Ditambah lagi, aku sudah menyiapkan rintangan. Keberhasilan mereka untuk sampai ke sini akan menjadi salah satu indikator.” 

Sambil berkata demikian, aku menghela napas panjang. 

Rintangan yang kusiapkan untuk mereka berdua cukup istimewa. 

Jika mereka bisa melewatinya dengan baik, mereka akan segera muncul di hadapan kami. 

“Tapi, apakah indikator semacam itu cukup untuk mengetahui apakah seseorang bisa dipercaya?” 

“Ini hanya tolok ukur. Namun, tindakan sehari-harilah yang membentuk jati diri seseorang. Jika ingin memercayakan sesuatu, bukannya lebih baik memilih orang yang tulus?” 

“Memang benar.” 

Julio mengangguk, meski wajahnya menunjukkan bahwa dia belum sepenuhnya merasa yakin. 

Wajar saja. 

Justru aku akan khawatir jika dia adalah tipe orang yang langsung setuju begitu saja. 

Saat aku tengah memikirkan hal itu, seekor kuda tiba di depan penginapan. 

Tidak lama kemudian, Oscar masuk ke ruangan kami dengan nafas tersengal-sengal. 

“Saya mendengar panggilan Anda... Oscar hadir...!” 

Napasnya memburu dengan berat. 

Jika melihat waktu, dia berhasil sampai tepat pada waktunya. 

Meski permintaanku cukup tidak masuk akal, tampaknya dia memacu kudanya sekuat tenaga agar tidak terlambat. 

“Oscar, terima kasih sudah datang. Silakan duduk.” 

“Terima kasih, Pangeran.” 

Oscar menandaskan air yang disuguhkan dan meminta tambah. 

Tubuhnya bersimbah peluh, dan dia berkali-kali menyeka keringat di keningnya. 

Itu menunjukkan betapa terburu-burunya dia datang ke sini. 

“Aku memanggilmu secara mendadak untuk melihat kesiapan mentalmu. Duta Besar Marcel berniat mendukung Marquis Pastore agar faksi pro-Kerajaan bisa menggenggam kekuasaan. Kita tidak punya banyak waktu. Pangeran Julio butuh seorang pendukung untuk melawan mereka. Tidak ada sosok yang lebih tepat selain ayahmu. Aku mohon, bujuklah ayahmu. Kekaisaran menjamin imbalan yang setimpal setelah ini.” 

“Ayah adalah orang yang condong memihak ke Kerajaan... saya tidak tahu apakah bisa membujuknya...” 

“Saat ini, memihak Marquis Pastore seharusnya memberikan keuntungan yang sedikit. Jelaskan hal itu padanya, dan kamu harus bisa membuatnya berpihak pada kami. Hanya kamu yang bisa melakukannya, dan hanya kamu yang bisa kami andalkan. Aku mohon, terimalah tugas ini.” 

Aku dan Julio berdiri, lalu membungkuk hormat kepada Oscar. 

Oscar segera menjatuhkan diri berlutut dengan panik. 

“M-Mohon hentikan...! Tidak pantas bagi seorang Pangeran Kekaisaran dan Pangeran Kadipaten membungkuk seperti ini. Kami adalah abdi, dan kami melayani keluarga kerajaan. Saya pasti akan membujuk Ayah dan membawakan kemenangan bagi Anda berdua.” 

“Aku sangat berterima kasih. Tapi ingat, ini adalah pertempuran demi melindungi rakyat Kadipaten. Bisakah kamu bertarung bukan hanya untuk keluarga kerajaan, tapi juga demi rakyat?” 

“Tentu saja!” 

Jawabannya sangat mantap. Mendengar itu, aku mengangguk beberapa kali. 

Setelah berbincang ringan sejenak, Oscar meninggalkan penginapan untuk membujuk ayahnya yang berada di wilayah kekuasaannya. 

“Sepertinya... Oscar tidak berhasil memenuhi kriteria Anda, ya, Yang Mulia?” 

“Dia pemuda yang menyenangkan. Aku mengakuinya. Jika ini bukan di panggung politik, dia pasti bisa dipercaya. Namun, untuk memercayainya dalam urusan politik, dia masih kurang cerdas dan kurang tulus.” 

“Cerdas mungkin saya paham, tapi apa maksud Anda dia kurang tulus?” 

Bagi Julio, kata-kataku mungkin terdengar membingungkan. 

Rintangan yang kusiapkan hanya satu. 

Dan Oscar berhasil melaluinya begitu saja. 

“Akan kujelaskan setelah Raul datang.” 

Akan merepotkan jika sikap Julio berubah sekarang. 

Tidak lama kemudian, Raul pun tiba. 

Waktu yang ditentukan sudah lama lewat. 

“M-Mohon maaf atas keterlambatan saya...” 

“Bukannya pesannya adalah segera?” 

“M-Mohon ampuni saya... j-jalannya sedang macet...” 

Raul menjawab dengan tubuh gemetar ketakutan. 

Melihat pemandangan itu, raut wajah Julio tampak sedih. 

Dia pasti sedang melihat bayangan dirinya yang dulu. 

“Jika kamu terlambat sampai di medan perang... apa kamu akan beralasan bahwa jalannya macet?” 

“I-Itu...” 

“Yang Mulia, Raul sebenarnya...” 

Julio mencoba membela Raul, namun aku segera menghentikannya dengan isyarat mata. 

Bagian terpentingnya baru akan dimulai. 

“Alasan aku memanggil kalian hari ini karena ada tugas penting yang ingin kupercayakan. Namun, aku tidak bisa memercayai orang yang tidak menepati janji waktu. Benar begitu?” 

“Benar... apa yang Anda katakan itu benar...” 

“Jika jalannya macet, kamu tinggal menyingkirkan rakyat yang menghalangi. Apa hal sekecil itu pun tidak bisa kamu lakukan?” 

“...M-Mohon maaf atas kedangkalan pemikiran saya...” 

“Hmm... Raul di Pinto. Kalau begitu, jika berada di situasi yang sama, apakah selanjutnya kamu sanggup menyingkirkan rakyat?” 

“I-Itu...” 

Raul berpikir sejenak, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam seolah sudah menyerah. 

Dan kemudian. 

“S-Saya tidak bisa berbohong... jika hal yang sama terjadi, saya rasa saya akan terlambat lagi... Mohon maaf karena saya tidak berguna... t-tugas penting ini mohon percayakan saja pada Oscar...” 

Mendengar jawaban Raul, aku mengangguk sekali. 

Kemudian, aku mengeluarkan selembar surat dari saku pakaianku. 

“Sayangnya, Oscar sudah gugur. Tugas penting ini akan kupercayakan padamu. Di perbatasan selatan Kekaisaran, ada pamanku, adik dari Ayahanda. Tolong antarkan surat ini kepada beliau. Beliau akan memberimu instruksi selanjutnya.” 

“Eh...? Anu...” 

Aku menyerahkan surat itu kepada Raul yang tampak kebingungan. 

Lalu, aku memanggil Lars yang sedang berjaga. 

“Kolonel Lars, tidak ada masalah dengan ini, ‘kan?” 

“Menurut saya tidak ada masalah. Tuan Raul adalah orang yang tulus.” 

“Anu, Yang Mulia... bisakah Anda menjelaskannya? Mengapa Oscar tidak boleh, sementara Raul boleh?” 

“Rintangan yang kusiapkan hanya satu. Aku menyewa seorang wanita untuk pura-pura pingsan di pinggir jalan. Hanya itu saja. Otomatis akan terjadi keributan dan jalanan akan tertutup. Oscar menunggangi kudanya dan menerobos keributan itu begitu saja.” 

“Tuan Raul membawa wanita itu ke tempat peristirahatan terlebih dahulu sebelum datang ke sini,” tambah Lars melengkapi penjelasanku. Julio pun mengalihkan pandangannya pada Raul. 

“Kenapa kamu tidak jujur mengatakannya?” 

“I-Itu... saya takut jika Yang Mulia marah, wanita itu mungkin akan dihukum... m-mohon ampuni saya karena telah menipu Anda!” 

“Tidak, hal itu sendiri adalah bagian dari ujiannya. Kamilah yang menipumu.” 

Sambil berkata begitu, Julio menenangkan Raul yang berkali-kali menunduk meminta maaf, lalu memintanya duduk di kursi. 

Aku pun memberikan penjelasan kepada mereka berdua. 

“Yang kuuji kali ini adalah ketulusan dan kecerdasan. Soal bertindak tulus, Raul sudah membuktikannya. Sedangkan soal bertindak cerdas, itu tentang apakah kamu menyadari bahwa kamu sedang diuji atau tidak. Aku sengaja bertanya pada Oscar apakah dia bisa bertarung demi rakyat. Meski dia mengabaikan rakyat yang pingsan di depannya, Oscar tanpa ragu menjawab bisa bertarung demi rakyat. Jika dia cerdas, jawabannya pasti berbeda. Karena dia akan sadar bahwa dia sedang diuji.” 

Oscar tidak sepenuhnya tulus, namun juga tidak cerdas. 

Sosok yang setengah-setengah seperti itu tidak cukup untuk dipercaya. 

Dalam hal ini, Raul telah membuktikan bahwa dia tetap teguh pada ketulusannya.

“Jika surat itu tidak sampai ke tangan pamanku, kita akan kehilangan rencana perlawanan kita. Ini berarti aku memercayakan nasib kami kepadamu. Karena itulah aku melakukan cara yang sedikit berputar-putar ini. Aku minta maaf atas ketidaksopananku.” 

“T-Tidak... s-saya bisa mengerti...” 

“Jadi maksud Anda, Anda tidak menaruh harapan pada Oscar, Yang Mulia?” 

“Jika dia berhasil, tentu bagus. Tapi aku tidak berniat mempertaruhkan segalanya padanya. Dia pasti menyadari ada rakyat yang terkapar, namun dia memilih untuk mengabaikannya karena sedang memenuhi panggilan kami. Itu masih bisa dimaklumi. Namun, setelah itu dia bisa mengatakan tanpa ragu bahwa dia sanggup bertarung demi rakyat... aku terpaksa menilainya sebagai orang yang tidak memiliki pendirian.” 

Terlepas dari pendapatku sendiri, Julio membenci hal-hal semacam itu. 

Bahkan seandainya Oscar menyadari sedang diuji lalu sengaja menjawab seperti itu, tetap saja itu bukan tindakan yang cerdas. 

Justru orang-orang setengah matang seperti itulah yang paling mudah dimanfaatkan. 

“Bisakah kamu berangkat sekarang juga? Lawan kita jauh lebih licin dari dugaanku. Aku tidak bisa mengandalkan para pengawalku untuk tugas ini, karena jika terjadi keadaan darurat, mereka harus membantu Pangeran Julio melarikan diri dari Ibu Kota.” 

“...Serahkan kepada saya.” 

Kepada Raul, aku menyerahkan sebuah cincin. 

Cincin yang diukir dengan lambang Ardler. 

Itu adalah milik Kaisar yang dipinjamkan kepadaku dalam kapasitas sebagai utusan. 

“Tunjukkan ini, maka dia akan percaya. Namun, selama benda ini ada di tanganmu, kamu tidak akan bisa mengelak. Jika tertangkap, semuanya tamat.” 

“...S-Saya akan mengingatnya baik-baik.” 

Setelah berkata demikian, Raul undur diri dengan wajah tegang. 

Dengan ini, persiapanku sudah selesai. 

“Kolonel Lars. Pastikan kembali rute pelariannya.” 

“Baik, saya mengerti. Namun, apakah menurut Anda mereka akan segera menggunakan kekuatan militer secepat ini?” 

“Jika aku jadi mereka, aku akan menghancurkan lawan selagi posisi masih menguntungkan. Itulah keunggulan dari mengambil langkah pertama.”


Bagian 11

Sehari setelah Raul meninggalkan Ibu Kota.

Marquis Pastore beserta putranya, Barnaba meninggalkan istana.

Marcel pun juga menghilang. 

“Meskipun aku berniat menjadikan Julio sebagai penantang mereka... pergerakan mereka ternyata cepat sekali.” 

“Menurut saya, kemampuan Yang Mulia dalam membaca situasi memang luar biasa.” 

“Bukannya aku bisa membaca situasi. Aku hanya berpikir akan sangat merepotkan jika mereka melakukan itu.” 

Sambil berbincang dengan Lars, aku berjalan menyusuri koridor istana. 

Tujuanku adalah ruang takhta, tempat di mana Duke dan Julio berada. 

Kami harus membicarakan langkah antisipasi mulai dari sekarang. 

“Mohon maaf. Karena situasinya darurat, izinkan aku melewati formalitas salam.” 

“Tentu saja. Yang Mulia, menurut pandangan Anda, apa arti dari pergerakan mereka ini?” 

“Mereka pasti pergi untuk bergabung dengan pasukan di wilayah kekuasaan mereka.” 

Duke yang duduk di singgasananya tampak mengernyitkan dahi. 

Itu berarti sebuah perang saudara akan segera pecah. 

“Mengapa mereka tiba-tiba memilih jalan pintas dengan menggunakan kekuatan militer...?” 

“Mungkin karena aku telah menarik Pangeran Julio ke tengah panggung.” 

“Hanya karena hal itu...? Padahal pergeseran kekuatan pun belum benar-benar terjadi?” 

Aku mengangguk menanggapi ucapan sang Duke. 

Tidak ada alasan lain yang terpikirkan olehku. 

Begitu melihat tanda-tanda perlawanan, mereka memutuskan untuk segera menghancurkannya. 

Itu semua dilakukan agar kami tidak memiliki waktu untuk mencari celah kemenangan. 

“Duta Besar Marcel itulah yang kemungkinan besar memimpin rencana ini... tapi untuk bergerak secepat ini...” 

“Baru-baru ini di Kekaisaran Adrasia ada dua contoh kasus di mana faksi baru yang tidak segera dihancurkan justru berhasil melancarkan serangan balik yang telak.” 

“Jadi maksud Anda, mereka takut Julio akan menjadi seperti Pangeran Leonard...?” 

“Yang lebih buruk lagi, situasi di Kekaisaran dan Kadipaten ini berbeda. Di Kekaisaran, situasinya adalah persaingan tiga kubu, sehingga masih ada celah untuk menyusup. Namun di Kadipaten, pihak lawan memegang kendali mutlak. Jika mereka bergerak secepat ini, kita hampir tidak punya cara untuk melawan.” 

Kekuatan militer yang menjaga Ibu Kota hanya sekitar seribu personel. 

Di sisi lain, Marquis Pastore dikatakan mampu mengerahkan setidaknya tiga ribu pasukan atau lebih. 

Hal itu bisa terjadi karena sebagian besar bangsawan yang wilayahnya berada di jalur menuju Ibu Kota bersedia bekerja sama dengan sang Marquis. 

“Pasukan yang berada di perbatasan Rondine tidak mungkin digerakkan, dan para bangsawan di sisi Kekaisaran pun tidak akan bergerak kecuali terjadi sesuatu yang sangat luar biasa.” 

Sampai belum lama ini, Kadipaten Albatro terus bersitegang dengan Kadipaten Rondine. 

Pasukan dipusatkan di perbatasan Rondine, dan sistem itu tetap bertahan bahkan setelah aliansi terbentuk. 

Sistem tersebut bisa berjalan karena Kekaisaran selama ini tidak menunjukkan ketertarikan pada Kadipaten. 

Dengan negara besar di timur dan barat serta Negara Bagian di utara, Kekaisaran memiliki terlalu banyak musuh. Mereka tidak punya waktu untuk mencampuri urusan wilayah selatan. 

Karena itulah, sebagian besar militer bisa dipusatkan ke Rondine. Dan karena tetangga mereka adalah negara yang agresif dalam menyerang, persatuan di dalam negeri pun terjaga dengan baik. 

Maka dari itu, lemahnya pertahanan Ibu Kota tidak pernah menjadi masalah sebelumnya. 

Namun sekarang, ancaman dari luar itu telah memudar. 

“Dalam situasi sekarang, hanya ada satu rencana jika ingin bertahan di Ibu Kota. Yakni meminta kerja sama dari Angkatan Laut Kadipaten.” 

Angkatan laut adalah kebanggaan Kadipaten Albatro. Sebagian besar prajurit elit ditempatkan di sana. 

Begitulah betapa pentingnya angkatan laut bagi Kadipaten ini. 

Urat nadi negara ini bukanlah jalur darat, melainkan jalur laut. 

Jika keamanan jalur itu tidak terjamin, Kadipaten Albatro akan segera runtuh. 

Itulah sebabnya mereka sangat memprioritaskan angkatan laut. 

Fakta bahwa Kadipaten Rondine dulu sering menyerang lewat jalur laut juga menjadi salah satu faktor pendorongnya. 

Jika kami bisa meminjam kekuatan angkatan laut, kami akan bisa memukul mundur lawan. 

Namun. 

“Laksamana yang memimpin angkatan laut adalah faksi pro-Kerajaan. Tidak... mungkin lebih tepat jika dikatakan angkatan laut itu sendiri adalah faksi Kerajaan. Para kapten veteran yang menyokong angkatan laut saat ini adalah mereka yang dulu mempertaruhkan nyawa demi membantu Kerajaan Perlan. Bagi mereka, Kerajaan Perlan adalah rekan seperjuangan. Ikatan itu tidak akan bisa diputus dengan mudah.” 

“Meski begitu, kita tidak punya cara lain. Mari kita coba temui mereka lebih dulu.” 

“...Akan kusiapkan pertemuannya. Namun, jika ini berakhir dengan kegagalan, aku ingin Anda membawa Julio melarikan diri dari Ibu Kota. Aku akan tetap tinggal di sini.” 

“...Jika itu sudah menjadi tekad Anda, aku tidak akan menghentikannya. Tapi, Anda akan dijadikan sandera, bukan begitu?” 

“Namun, keberadaanku bisa digunakan sebagai alasan. Dengan dalih menyelamatkan raja, kita masih bisa mengumpulkan pasukan.” 

“...Aku mengerti.” 

Merasakan keteguhan hati sang Duke, aku membungkuk hormat. 

Sengaja membiarkan diri jatuh ke tangan musuh adalah tindakan yang penuh risiko. 

Namun, jika menyerahkan Ibu Kota begitu saja, musuh bisa berbuat sesuka hati. 

Itu adalah keputusan yang berani. 

“Paduka, menurut penuturan para pelayan, Putri Eva sedang sakit sehingga aku tidak bisa menemuinya. Karena waktu kita sempit, izinkan aku bertanya langsung, ke mana beliau sebenarnya pergi?” 

“Eva... dia pergi menuju Rondine. Atas kemauannya sendiri.” 

“Begitu ya. Jadi dia menilai bahwa dukungan Rondine sangat diperlukan. Memang benar begitu, tapi...” 

Pergi tanpa izin dari raja. 

Sejak awal bertemu, aku sudah merasa dia adalah gadis yang memiliki inisiatif tinggi, tapi ini benar-benar di luar dugaanku. 

“Kalau begitu, biarkan Putri Eva ditangani oleh Fine. Jika itu Fine, dia pasti bisa menanganinya dengan tepat.” 

Asalkan tidak ada gangguan dari pihak Kerajaan. 

Sambil menambahkan kalimat itu di dalam hati, aku membalikkan badan. 

Waktu kami tidak banyak. Pihak lawan terus melancarkan langkah mereka satu demi satu. 

Jika kami ragu, jalur pelarian pun bisa saja tertutup. 

“Ayo berangkat, Pangeran Julio.” 

“Baik... Ayahanda, mohon jaga diri Anda baik-baik.” 

“Jangan cemaskan aku. Pergilah.” 

Hanya itu kata perpisahan mereka. 

Bagi mereka yang lemah, bahkan tidak ada waktu untuk tenggelam dalam perasaan haru.


* * *


Laksamana Laut. Itulah jabatan tertinggi dalam Angkatan Laut Kadipaten. 

Secara turun-temurun, posisi ini dipilih dari mereka yang memiliki pengalaman sebagai kapten kapal. 

Artinya, dia adalah orang yang paham betul dengan situasi di lapangan. 

“Laksamana masih belum datang juga!?” 

“Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saat ini Laksamana sedang sangat sibuk.” 

Meskipun aku dan Julio sudah datang berkunjung, sang Laksamana terus membuat kami menunggu. 

Niatnya sudah sangat jelas. Dia pasti sedang mengulur waktu. 

“Kalau hanya bersikap netral sih masih mending, tapi ternyata dia sudah jelas-jelas memihak Marquis Pastore.” 

Aku bergumam sambil beranjak dari tempat dudukku. 

Kurasa tidak seluruh angkatan laut berada di pihak Marquis Pastore. 

Namun, jika laksamananya sudah memihak ke sana, kami tidak bisa mengharapkan bantuan apa pun. 

“Aku pulang. Minggir.” 

“Mohon maaf. Laksamana akan segera tiba sebentar lagi, jadi...” 

Anak buah Laksamana itu menghalangi jalanku. 

Pada saat itu juga, Lars yang sedari tadi berjaga langsung meringkus orang tersebut. 

“A-Apa yang Anda lakukan!?” 

“Harusnya aku yang bertanya begitu.” 

Saat pintu terbuka, beberapa prajurit sudah dilumpuhkan oleh anggota Narbe Ritter. 

“Apa kamu diperintahkan untuk tidak membiarkan kami keluar dari sini?” 

“I-Itu...” 

“Yah, itu cuma perintah. Aku akan mengampuni nyawamu. Tapi, tolong sampaikan sebuah pesan. Untuk Laksamana dan para kapten kapal.” 

“P-Pesan...?” 

“Ya, sederhana saja. Jika Kerajaan Perlan adalah rekan seperjuangan mereka, lantas adikku itu apa? Sampaikan begitu. Di sekelilingku ada banyak pasukan elit. Jika aku tahu pesan ini tidak sampai, aku akan datang untuk mengambil nyawamu. Mengerti?” 

Aku mencabut pisau yang dibawa prajurit itu, lalu menancapkannya tepat di samping wajahnya. 

Prajurit itu mengangguk berkali-kali dengan tubuh gemetar hebat karena ketakutan. 

Dengan begini, pesanku pasti akan tersampaikan dengan baik. 

“Kolonel Lars, kita pergi.” 

“Baik.” 

Tidak kusangka aku akan berakhir membawa lari seorang pangeran dari ibu kota Kadipaten. 

Jika tetap tinggal, kami hanya akan dijadikan sandera. Mengingat angkatan laut sudah memihak lawan, Ibu Kota pasti akan dikuasai. Kalau sudah begitu, mustahil untuk membalikkan keadaan dari sini. 

Sekalipun aku melarikan diri sendirian, rakyat negeri ini tidak akan mau mengikutiku. 

Tidak ada pilihan selain menjadikan Julio sebagai pemimpin untuk membentuk kekuatan perlawanan. 

Aku merasa sudah bergerak secepat mungkin, tapi pihak lawan selalu selangkah lebih maju. 

Aku tidak menyangka akan dipaksa mengambil langkah pelarian bersama Julio semudah ini. 

Kamu sungguh hebat, Duta Besar Marcel.


Bagian 12

Marquis Pastore telah menggerakkan pasukan besar dan mulai berbaris mendekati Ibu Kota. 

Menanggapi situasi tersebut, Angkatan Laut Kadipaten segera menggelar pertemuan yang dihadiri oleh laksamana serta para kapten kapal utama. 

“Ini sudah jelas merupakan sebuah pemberontakan, bukan?” 

“Kudengar Yang Mulia Pangeran telah melarikan diri bersama Yang Mulia Arnold...” 

“Bukannya seharusnya kita melindungi Paduka Raja?” 

“Marquis dan Paduka adalah saudara kandung. Beliau tidak akan melakukan hal bodoh.” 

“Paduka memutuskan untuk tetap tinggal... yang penting, kita harus mencegah Ibu Kota menjadi medan perang.” 

Para kapten kapal saling melontarkan pendapat mereka. 

Laksamana Volta, yang sedari tadi menyimak dalam diam, berdehem pelan untuk memusatkan perhatian semua orang kepada dirinya. 

“...Aku sudah memahami pendapat kalian masing-masing.” 

Volta adalah pria berkepala botak yang tahun ini akan menginjak usia lima puluh tahun. 

Dia telah menghabiskan seluruh hidupnya di atas geladak kapal, bertempur demi Kadipaten. 

Namun, alasan Volta bisa menjabat sebagai laksamana bukanlah karena dia mencetak prestasi perang yang luar biasa. Justru sebaliknya. 

Pencapaian Volta selalu biasa-biasa saja. 

Di dalam angkatan laut pun terdapat faksi-faksi tertentu. 

Posisi puncak diberikan kepada Volta sebagai bentuk kompromi karena faksi-faksi besar itu saling menjatuhkan satu sama lain. 

Dia adalah sosok yang telah ditetapkan akan menyerahkan jabatan laksamana kepada penerus yang lebih berpengaruh setelah menjabat selama beberapa tahun. 

Dengan kata lain, dia hanyalah laksamana perantara. 

Kepada Volta yang memiliki posisi seperti itulah, Marquis Pastore menjanjikan masa jabatan laksamana yang lebih panjang. 

Sejak awal pun, Volta memang lebih condong memihak Kerajaan daripada Kekaisaran. 

Alasannya, saat insiden naga laut terjadi, Volta sedang bertugas di luar negeri. 

Dia tidak menyaksikan kejadian itu secara langsung dan hanya mendengarnya dari cerita orang. 

Di sisi lain, dia pernah ikut serta dalam pertempuran untuk menyokong Kerajaan. 

Wajah para prajurit Kerajaan Perlan yang memberikan perlawanan gigih meski dikepung oleh Kekaisaran. 

Serta rasa terima kasih mereka saat menerima bantuan logistik. 

Kejadian itu masih terekam jelas di benaknya hingga sekarang. 

Dia mengerahkan kapalnya sekuat tenaga demi mereka. 

Bagi Volta, itulah segalanya. Baginya, mustahil untuk bekerja sama dengan Kekaisaran Adrasia yang dulu merupakan musuh mereka. 

“Angkatan laut pada dasarnya adalah militer untuk menghadapi ancaman luar. Terlebih lagi, jika kita menunjukkan pergerakan untuk melindungi Ibu Kota sekarang, Ibu Kota justru akan berubah menjadi medan tempur. Demi menghindari hal itu, angkatan laut kita akan tetap bersikap netral.” 

“Aku tidak bisa setuju dengan itu.” 

Seorang kapten kapal menyuarakan keberatannya terhadap kebijakan Volta. 

Pria yang mengenakan seragam kapten dengan sangat rapi itu sedikit lebih tua dari Volta. 

Dia memiliki kumis tebal dan pembawaan berwibawa yang membuat siapa pun menaruh hormat kepadanya. 

Nama pria itu adalah Mest. 

Dialah kapten yang dulu mencegat Al saat menyamar sebagai Leo ketika hendak memasuki pelabuhan. 

“Jadi menurutmu netralitas itu salah, Kapten Mest?” 

“Mungkin Laksamana tidak melihatnya secara langsung, tetapi negara kita yang sempat berada di ambang kehancuran karena naga laut telah diselamatkan oleh Kekaisaran Adrasia. Pangeran dan Putri kita yang menjadi korban, serta banyak rekan kita lainnya, diselamatkan oleh pangeran dari Kekaisaran. Kekaisaran jugalah yang menjembatani aliansi dengan Rondine, dan meminjamkan kekuatan Pedang Suci saat kita menghadapi naga laut. Bisa dikatakan bahwa Kadipaten yang sekarang ada adalah berkat jasa Kekaisaran Adrasia.” 

“Jadi karena itu kita harus memihak Kekaisaran?” 

“Keputusan untuk memihak Kekaisaran memiliki dasar yang sangat kuat. Kerajaan Perlan telah membuang Santa selayaknya bidak. Sedangkan Kekaisaran Adrasia, meski memiliki kesempatan untuk mengirim pasukan ke negeri kita, mereka justru memilih penyelesaian melalui Pedang Suci. Itu adalah bukti bahwa mereka tidak memiliki niat untuk menginvasi kita. Kita juga menerima banyak bantuan logistik. Bahkan anak kecil pun tahu pihak mana yang lebih bisa dipercaya. Mengerahkan militer hanya karena tidak puas dengan keputusan itu tidak lebih dari sebuah tindakan sewenang-wenang.” 

“Tetapi, Kapten Mest. Kamu pasti juga ingat. Kerajaan Perlan dan kita pernah berjuang bersama. Aku masih ingat wajah para prajurit Kerajaan Perlan saat kami mengantarkan bantuan logistik.” 

“Benar, Kerajaan Perlan memang rekan seperjuangan kita. Namun, kitalah yang membantu mereka, dan merekalah yang dibantu. Di saat negara kita sendiri mengalami krisis kepunahan, yang membantu kita adalah Kekaisaran Adrasia. Jika di matamu terekam wajah para prajurit Kerajaan Perlan, maka di mataku terekam sosok kapal Kekaisaran Adrasia yang mengibarkan bendera putih demi rekan-rekan kita. Putri kita sampai memohon kepada petualang demi rakyat, dan Pangeran kita mempertaruhkan nyawanya di hadapan naga laut demi rakyat. Bagiku, fakta-fakta itu sudah lebih dari cukup.” 

Banyak kapten kapal yang mengangguk mendengar perkataan Mest. 

Kerajaan Perlan memang sekutu lama. 

Namun bersama Kekaisaran Adrasia, mereka telah menghadapi krisis terbesar yang pernah ada. 

Kekaisaran juga merupakan sekutu bagi mereka. 

Bagi kapten seperti Mest yang merasakan hal tersebut, tindakan Marquis Pastore yang menuntut aliansi dengan Kerajaan Perlan melalui ancaman kekuatan militer terlihat sangat arogan. 

Volta terdiam seribu bahasa menghadapi perlawanan yang tidak terduga ini. 

Di tengah keheningan itu, seorang bawahannya masuk ke dalam ruangan. 

“M-Mohon maaf atas gangguan saya!” 

“Ada apa?” 

“M-Mohon ampun! Saya membawa sebuah pesan untuk Laksamana dan para Kapten!” 

Dia adalah prajurit yang sebelumnya diancam oleh Al. 

Setelah Al dan Julio melarikan diri, prajurit itu tidak langsung melaporkan pesan tersebut kepada Laksamana Volta. 

Dia tahu jika dia hanya melapor pada Volta, dia pasti akan disuruh tutup mulut. 

Namun, pesan itu ditujukan untuk Laksamana dan para Kapten. 

Jika tidak tersampaikan, nyawanya terancam. 

Bagi prajurit itu, tidak ada cara lain selain mengatakannya di tempat ini. 

“Pesan apa?” 

“A-Ada pesan dari Yang Mulia Pangeran Arnold! Beliau berkata, ‘jika Kerajaan adalah rekan seperjuangan, lantas adikku itu apa?’” 

“Baiklah, aku mengerti! Sekarang pergilah!” 

Volta segera berusaha menyuruh prajurit itu keluar. 

Namun, Mest tidak membiarkannya. 

“Tunggu. Mengapa kamu yang menerima pesan itu?” 

“I-Itu...” 

“Bicaralah yang jujur. Pangeran Arnold adalah sosok yang mengerikan. Jika tidak disampaikan dengan akurat, kita semua bisa terkena balas dendamnya.” 

“S-Sebenarnya... Yang Mulia Pangeran Arnold dan Yang Mulia Pangeran Julio datang menemui Laksamana. Saya menerima instruksi untuk mengulur waktu, jadi saya menahan mereka berdua. Saat menyadari hal itu, Pangeran Arnold pergi dan memberikan pesan itu kepadaku... Beliau berkata... jika tidak disampaikan, beliau akan membunuhku...” 

Prajurit itu mulai gemetar hebat karena ketakutan. 

Mest memerintahkan prajurit lain untuk membawa rekannya itu keluar. 

Kemudian, dia perlahan mengalihkan pandangannya kepada Volta. 

“Apa maksud dari semua ini... bisa kamu jelaskan, Laksamana?” 

“...Mereka hanya salah paham saja.” 

“Jika memang Angkatan Laut bersikap netral seperti yang kamu katakan kepada kami, bukankah seharusnya masalah selesai dengan mengatakannya saja? Mengapa harus menahan mereka?” 

“Itu bukan menahan! Aku hanya butuh waktu untuk berpikir!” 

“Kamu pikir kebohongan seperti itu akan mempan? Berbicara soal netralitas di depan kami, padahal kamu sudah bersekongkol dengan Marquis...” 

“Demi negara ini, kita harus bekerja sama dengan Kerajaan Perlan! Kenapa kalian tidak mengerti!?” 

Volta meluapkan amarahnya. 

Mest menatapnya dengan pandangan dingin. 

Kemudian, Mest berkata, “Sebaiknya kamu merenungkan baik-baik makna dari pesan sang Pangeran. Jika Kerajaan Perlan adalah rekan seperjuangan, maka Pangeran Leonard dan Pangeran Arnold, dengan kata lain Kekaisaran Adrasia, juga sekutu kita.” 

“Kekaisaran adalah pihak yang pernah berperang dengan kita!” 

“Kita juga dulu bermusuhan dengan Rondine. Kawan dan lawan bisa berubah seiring waktu dan posisi. Sungguh mengherankan kamu menjabat sebagai laksamana tanpa memahami hal semacam itu... Karena kamu bergerak atas kehendak sendiri, maka kamu pulalah yang harus memikul tanggung jawabnya.” 

“Apa katamu...?” 

“Kamu pasti tahu bahwa Pangeran Arnold pernah menindas para bangsawan secara kejam saat menjabat sebagai Kanselir di Negara Bagian. Jika aku menjadi kamu, aku tidak akan berani bermain-main mengulur waktu terhadap pangeran seperti itu. Jika hal ini dipermasalahkan, mohon maaf, aku akan menjadi orang pertama yang menyerahkanmu kepadanya.” 

Setelah mengatakan itu, Mest meninggalkan ruangan seolah pembicaraan telah berakhir. 

Para kapten kapal lainnya pun ikut meninggalkan ruangan satu demi satu. 

Volta yang ditinggalkan sendirian merasakan ketakutan yang tidak terbendung, sembari berharap Marquis Pastore segera tiba di Ibu Kota.


Bagian 13

Kapal bendera Angkatan Laut Kekaisaran, Kaiser Alphons.

Di atas kapal yang telah menangkap bayangan pelabuhan Rondine dalam jangkauan pandangan, Lynfia bertanya kepada Sebas. 

“Apakah tidak apa-apa?” 

“Apa yang Anda maksud?” 

“Fakta bahwa Anda tidak ikut mendampingi Tuan Al. Mengingat pihak lawan sudah mengambil langkah pertama, Tuan Al pasti membutuhkan informasi. Narbe Ritter pada dasarnya adalah prajurit. Mereka tidak bisa bergerak secara rahasia sepertimu.” 

“Analisis yang tepat, tapi saya tidak diperintahkan untuk ikut.” 

Bukannya Sebas yang memutuskan untuk mendampingi Fine. 

Al sendirilah yang menyuruhnya untuk tetap berada di sisi gadis itu. 

Sebas tidak memiliki alasan untuk menentang perintah tersebut. 

“Memang benar begitu, tapi...” 

“Anda khawatir?” 

“Ya... menurut saya pengawalannya terlalu sedikit.” 

“Itu adalah keinginan beliau sendiri. Lagipula, Tuan Arnold pasti menyadari bahwa informasi itu penting. Alasan beliau menempatkan saya di sisi Nona Fine pastilah karena beliau merasa saya dibutuhkan di Kadipaten Rondine.” 

“Apakah akan terjadi sesuatu di Kadipaten Rondine?” 

“Saya tidak tahu sejauh itu, tapi secara kepribadian, jika ada yang mengambil langkah pertama darinya, beliau adalah tipe orang yang akan merebutnya kembali. Mungkin saja beliau memilih untuk menerima kerugian di Kadipaten Albatro demi mendapatkan keuntungan di tempat lain.” 

Lynfia mengangguk tanda setuju dengan penjelasan Sebas. Kemudian dia kembali untuk mempersiapkan pendaratan.

Tetapi, sebenarnya Sebas sendiri pun tidak sepenuhnya memahami niat Al.

Mungkin saja sebenarnya tidak ada pemikiran yang terlalu mendalam di balik itu.

Al adalah tipe orang yang bisa melakukan apa saja, selama dia memang berniat melakukannya.

Itulah sebabnya, meski tanpa Sebas, Al pasti bisa mengatasinya sendiri.

Maka dari itu, dia menempatkan Sebas di sisi Fine. Demi ketenangan hatinya sendiri.

Memikirkan hal itu, Sebas menyadari bahwa pertimbangannya tidak ada gunanya. 

“Beliau memang tipe orang yang menyembunyikan niat asli di balik alasan formal.” 

Perasaan jujur bahwa beliau mencemaskan Fine pastilah disembunyikan di balik alasan formal bahwa Sebas dibutuhkan di Kadipaten Rondine. 

Jika ditanya pun, pasti alasan formal itulah yang akan keluar sebagai jawaban.

Memikirkan hal yang sia-sia itu, Sebas tersenyum kecut dan membalikkan badannya.

Kapal mulai bersiap untuk mendarat.

Gerak-gerik para kru kapal yang sangat sigap membuktikan bahwa mereka memang layak dipercaya untuk mengawaki kapal bendera ini.

Namun, gerakan para kru seketika terhenti.

Itu karena dari dalam kapal, muncullah Fine yang mengenakan gaun panjang berwarna biru langit.

Semua pasang mata mengikuti gerak-gerik Fine. Bahkan kapten kapal yang seharusnya menegur bawahannya pun ikut terpesona oleh kecantikannya. 

“Sebas-san, bagaimana menurutmu? Apakah terlihat aneh?” 

“Sangat cantik. Duke Rondine pun pasti akan terpana melihatnya.” 

“Entahlah. Kudengar Duke Rondine pernah bertemu dengan Nona Elna sebelumnya.” 

“Keindahan sebilah pedang hanya bisa dipahami oleh mereka yang mengerti, namun kecantikan sekuntum bunga bisa dipahami oleh siapa saja. Saya yakin hal itu akan sampai kepada sang Duke.” 

Ucap Sebas sembari tersenyum ramah.


* * *


“Sial!? Di mana mereka!?” 

Al dan Julio telah meloloskan diri dari Ibu Kota. 

Tentu saja, sejumlah pengejar dikerahkan untuk memburu mereka berdua. 

Namun, para pengejar itu tidak pernah berhasil mendekat. 

Ini sudah pasukan pengejar ketiga. 

Unit pertama dan kedua sudah kehilangan kontak sama sekali. 

Oleh karena itu, unit ketiga bergerak dengan sangat hati-hati, namun mereka tetap saja diserang di tengah kegelapan. 

Lokasinya di jalan raya, tidak jauh dari Ibu Kota. 

Al dan Julio melewati jalan ini. 

Karena mengetahui hal itu, pasukan tersebut memilih jalur ini, namun rupanya sebuah jebakan telah menanti mereka. 

Sebuah jebakan sederhana: menempatkan seorang petarung tangguh di sana. 

“Uwaaa!?”

“Sial! Dari mana datangnya!?”

“Merapat! Bentuk formasi lingkaran!” 

Di tengah kegelapan, mata mereka tidak bisa melihat dengan jelas, apalagi lawan yang dihadapi sangatlah kuat. 

Jika tidak merapat, mereka akan kalah. 

Atas instruksi komandan, pasukan itu menyiagakan senjata dan membentuk formasi lingkaran. 

Karena misi mereka adalah pengejaran, pasukan ini hanya mengenakan perlengkapan ringan. 

Tanpa perisai, mereka sulit mengatasi serangan yang tak terduga. 

Saat sang komandan tengah memikirkan hal itu, sesuatu hinggap di bahu kanannya. 

“Tuan Sieg, datang dari atas!” 

Tangan kiri sang komandan bergerak refleks untuk mengempaskannya. 

Namun, tangan kiri itu langsung tertebas putus dalam sekejap. 

“Guwaaaakh!?!?” 

Rasa panas yang luar biasa menyengat membuat sang komandan berlutut. 

Rasa panas itu segera menghilang, sebab kepala sang komandan pun telah melayang. 

“Uwaaaa!?!?”

“Ada sesuatu di sana! Berukuran kecil!”

“Apa ini!? Apa yang terjadi!?” 

Para prajurit panik karena tidak mampu memahami situasi. 

Hal semacam ini tidak pernah ada dalam latihan mereka. 

Meski telah dilatih untuk tetap tenang menghadapi situasi tidak terduga, ini benar-benar di luar nalar. 

Sesuatu yang bukan manusia melompat ke sana kemari dan menebas kepala orang-orang. 

“Monster!!”

“Lari!!” 

Setelah kehilangan komandannya, pasukan yang tidak lagi terorganisir itu lari kocar-kacir. 

Penyerangnya tidak berniat untuk mengejar. 

Di tengah lokasi yang kini dipenuhi beberapa mayat bergelimpangan, Sieg sang penyerang sedang berusaha keras menyeka darah musuh yang menempel di tombaknya. 

“Duh! Tidak mau hilang!”

“Biar saya yang lakukan, Tuan Sieg.”

“Oh! Kamu sangat perhatian, Pak Kolonel!”

“Tidak perlu sungkan, karena kali ini saya tidak melakukan apa-apa.” 

Yang ditempatkan di jalan raya itu adalah Sieg serta Lars dan anggota Narbe Ritter lainnya. 

Finn sendiri bertugas mengawal Al dan Julio. 

Pasukan pertama dan kedua dihancurkan oleh Lars dan kawan-kawan. 

Setelah bergantian posisi dengan mereka, Sieg-lah yang menyerang pasukan ketiga. 

Tugas yang diberikan adalah intersepsi. Intinya, sebuah perintah agar jangan membiarkan lawan lewat. 

Namun, sepertinya sudah waktunya untuk mundur. 

“Selanjutnya pasti pasukan besar yang akan datang.”

“Benar. Namun, beberapa orang yang Tuan Sieg biarkan lolos pasti akan melaporkan keberadaan monster, jadi mereka akan bergerak dengan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi.”

“Parah sekali. Mana ada monster yang seimut aku.” 

Sambil berkata demikian, Sieg menerima kembali tombaknya dari Lars. 

Sengaja membiarkan musuh lolos memang bagian dari rencana. 

Tujuannya adalah untuk menimbulkan kekacauan di pihak lawan. 

“Mari kita juga mundur. Yang Mulia dan Pangeran Julio pasti sudah berhasil kabur cukup jauh.”

“Benar-benar deh... kenapa ya setiap tempat yang kita datangi selalu saja berujung masalah?”

“Dalam kasus kali ini, kita sudah tahu akan ada masalah bahkan sebelum berangkat.”

“Jadi kita sengaja mendatangi masalah? Itu sih namanya gila.” 

Sambil mengoceh begitu, Sieg melompat ke bahu Lars. 

Kadipaten Albatro hanyalah negara kecil. 

Tidak ada sosok ternama yang perlu diwaspadai secara militer. 

Jika di lautan mungkin lain cerita, namun di daratan, jumlah prajurit sebanyak apa pun bukanlah tandingan bagi Lars dan kawan-kawan. 

Namun, Al memberikan perintah tegas agar mereka tidak lengah sedikit pun. 

Karena itulah Lars dan yang lainnya memilih untuk mundur selagi masih ada kesempatan. 

Al begitu waspada karena ada Marcel di pihak lawan. 

Tingkat kewaspadaannya kali ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close