Penerjemah: Chesky Aseka
Proffreader: Chesky Aseka
Epilogue
Setelah malam berlalu, aku menatap hamparan laut Kadipaten Albatro.
Lokasinya berada di pinggiran pelabuhan. Saat aku sedang duduk melamun sambil memandangi garis cakrawala yang jauh, terdengar suara memanggil dari belakang.
“Tuan Al, udaranya cukup dingin.”
Sambil berkata demikian, Fine menyampirkan mantel ke pundakku dengan lembut.
Aku tersenyum tipis menerima perhatian itu, lalu kembali mengalihkan pandangan ke arah laut.
“Apa ada sesuatu yang terlihat?”
“Tidak ada. Aku hanya sedang memikirkan musuh tangguh yang kelak harus kuhadapi.”
“Maksud Anda Pangeran Anthem?”
“Iya... Aku tidak tahu apakah bisa menang lagi di pertemuan berikutnya. Sulit untuk memprediksi langkah apa yang akan dia ambil nanti.”
“Masalah ini baru saja tuntas, bukankah sebaiknya Anda berhenti memikirkannya sejenak?”
Fine duduk di sampingku sambil terus berbicara.
Itu adalah godaan yang manis. Berani-beraninya dia mengatakan hal seperti itu kepadaku yang pemalas ini.
“Maksudmu, aku boleh tidur?”
“Tentu. Anda sudah berjuang keras. Nona Elna pun pasti tidak akan menegur Anda meski Anda bermalas-malasan.”
“Entahlah... Kemenangan kali ini berkat bantuanmu. Dia pun sangat menyadari hal itu. Karena aku juga berpikiran sama, aku jadi merasa sedikit cemas.”
“Apakah pertemuan berikutnya adalah saat perang melawan Kerajaan nanti?”
“Kemungkinan besar.”
“Kalau begitu, kurasa semua akan baik-baik saja.”
“Apa alasannya?”
“Sebab Tuan Al memiliki Tuan Leo di sisi Anda. Beliau adalah bala bantuan yang jauh lebih kuat dariku.”
Fine mengucapkannya sambil tersenyum, lalu dia bangkit berdiri dan mengulurkan tangan kepadaku.
Di saat aku sedang ragu untuk menyambut tangannya...
“Jika Anda bilang kemenangan ini berkat bantuanku, maukah Anda mengabulkan satu permintaanku?”
“Tergantung permintaannya apa.”
“Aku baru saja mendapatkan daun teh baru. Maukah Anda menikmatinya bersamaku?”
Melihat senyuman tipis di wajah Fine, aku hanya bisa tertawa kecut karena menyadari bahwa aku tidak akan pernah bisa menang melawannya.
Lagipula, apa pun yang kukatakan, dia pasti akan berhasil membujukku.
“Kalau begitu, dengan senang hati.”
Aku menyambut tangannya dan bangkit berdiri. Entah mengapa, rasa cemas itu sirna begitu saja.
Bonus Cerita Pendek: Boneka Baru
“Kota pelabuhan memang selalu ramai ya!”
“Kadipaten Albatro adalah negara maritim yang memperkaya diri melalui perdagangan jalur laut. Wajar jika banyak orang dan barang berkumpul di sini.”
Tepat setelah Marcel dan pasukannya mundur.
Kadipaten Albatro sedang sibuk bukan main dalam membereskan kekacauan yang tersisa.
Aku ingin membantu, namun sebagai orang asing, aku dan Fine tidak bisa berbuat banyak.
Singkatnya, kami tidak punya pekerjaan sampai kekacauan itu mereda ke tingkat tertentu.
Berada di dalam istana pun hanya akan membuat orang-orang di sana merasa sungkan.
Karena itulah, atas usulan Fine, kami memutuskan untuk pergi ke kota.
Menjelajahi barang-barang unik di negara yang perdagangan lautnya sangat maju sepertinya menjadi salah satu cara untuk menikmati waktu.
Mungkin itu hanya alasan saja.
Niat sebenarnya pasti untuk menghiburku yang terus-menerus menunjukkan wajah serius.
Aku kembali membuatnya merasa khawatir.
Oleh karena itu, aku memutuskan untuk berhenti berpikir sejenak.
“Tuan Al! Ada banyak kedai kaki lima yang unik berderet di sana!”
“Karena barang-barang berkumpul dari segala penjuru, suasananya jadi terasa campur aduk ya.”
Tidak ada kesan keseragaman di sini.
Ada kedai bergaya Kekaisaran, ada yang bergaya Kerajaan.
Bahkan ada kedai dengan gaya yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Barang yang dijual pun sangat beragam.
“Ini apa ya?”
“Ini ikan bakar tusuk yang ditangkap di wilayah Kerajaan.”
“Bentuknya asing sekali.”
Ikannya panjang dan ramping, sama sekali tidak terlihat lezat.
Namun, Fine dengan riang membeli satu tusuk ikan tersebut.
“Kamu benar-benar akan memakannya...?”
Bentuknya, maaf saja, terlihat menjijikkan.
Melihat Fine memegang benda itu saja rasanya benar-benar tidak seimbang.
Namun, Fine menggigitnya dengan senyum lebar yang ceria.
“Hmm! Enak sekali! Kenapa makanan ini tidak populer ya?”
“Ikan ini cepat sekali busuk sehingga jarang bisa sampai ke wilayah pedalaman. Anda hanya bisa memakannya di daerah sekitar sini.”
“Begitu ya. Apakah makanan seperti ini masih ada banyak lagi?”
“Tentu, saya rasa Anda akan menemukan berbagai macam hal jika berkeliling di kedai-kedai lain.”
Mata Fine berbinar mendengar perkataan sang pemilik kedai.
Kemudian, Fine menyodorkan ikan bakar itu ke arahku.
“Mari kita berburu kuliner unik! Tuan Al! Ayo, buka mulutnya. Aaa.”
“A-Ah, ya...”
Ini artinya aku disuruh makan.
Padahal bentuknya saja sudah menjijikkan, ditambah lagi mata putih ikan itu akibat dibakar semakin menurunkan selera makan.
Aku tidak ingin memakannya, tapi melihat Fine yang sedang dalam suasana hati yang sangat baik, aku tidak punya pilihan selain memakannya.
Aku memberanikan diri membuka mulut, lalu Fine memasukkan sedikit bagian ikan itu ke dalam mulutku.
Saat aku mengunyahnya, ternyata teksturnya jauh lebih lembut dari dugaanku, dan rasa yang sangat gurih langsung menyebar di dalam mulut.
Rasanya sangat lezat, tidak terbayangkan dari penampilannya.
“Ternyata lumayan juga...”
“Bisa memakan sesuatu yang hanya ada di tempat asalnya seperti ini adalah bagian paling menyenangkan dari sebuah perjalanan ya!”
“Ini bukan sedang perjalanan wisata sih...”
“Ini sama saja seperti wisata kok. Ayo, kita pergi!”
Seolah memberi isyarat keberangkatan, Fine menarik tanganku dan mulai berjalan.
* * *
“Perut saya sudah cukup kenyang.”
Fine tampak masih bertenaga saat dia melongok ke dalam sebuah toko pernak-pernik.
Ini pasti berkat dirinya yang belajar dari kegagalan saat berkeliling kedai kaki lima waktu itu, sehingga dia memilih untuk berbagi makanan denganku.
Setidaknya dia tidak sampai kekenyangan hingga tidak bisa bergerak.
Sepertinya dia sudah berkembang sejak Festival Perburuan Kesatria.
“Apa yang sedang kamu cari?”
“Saya sedang mencari oleh-oleh untuk Putri Christa.”
“Untuk Christa? Kalau ingin membeli oleh-oleh, kurasa kamu bisa bicara pada Julio, dia pasti bisa menyiapkan barang-barang yang cukup langka.”
“Saya juga sempat berpikir begitu, tapi saya merasa Putri Christa mungkin sudah bosan dengan barang-barang semacam itu.”
Kalau dipikir-pikir, memang agak sulit membayangkan Christa merasa gembira hanya karena menerima oleh-oleh biasa.
Bukannya dia tidak suka, tapi lebih karena pemberian tersebut biasanya terasa kurang segar atau sudah biasa baginya.
Standar untuk oleh-oleh anggota keluarga kekaisaran memang sangat tinggi.
Kerajinan kaca, perhiasan, atau lukisan.
Meskipun bernilai tinggi, itu bukanlah benda yang akan membuat Christa merasa senang.
“Menurut Tuan Al, apa yang sebaiknya kubeli?”
“Bagaimana ya... mungkin mencari boneka baru?”
“Boneka, ya...”
Fine mengedarkan pandangan ke sekeliling toko pernak-pernik itu, seolah setuju bahwa itu adalah ide yang bagus.
Kemudian matanya tertuju pada satu benda.
Sebuah boneka buaya yang ukurannya cukup besar.
“Yah...”
“Saya rasa ini sangat manis.”
“Yah, mungkin saja, tapi...”
Itu adalah boneka buaya dengan ekspresi wajah yang tampak konyol.
Apa Christa akan menyukainya?
Saat aku sedang membatin demikian, Fine memeluk erat boneka itu dan menatap ke arahku.
“Bagaimana menurut Anda?”
“Bagaimana apanya...”
“Apa menurut Anda, Putri Christa akan menyukainya?”
“Kalau soal itu, aku tidak bisa memastikannya...”
“Tuan Al juga harus menyentuhnya!”
Fine menyodorkan boneka itu kepadaku.
Saat aku menerimanya, ternyata teksturnya terasa jauh lebih lembut dari yang kubayangkan.
Sensasi saat memeluknya pun tidak buruk.
Tapi, wajahnya benar-benar konyol.
“...Apa ini lucu?”
“Iya!”
“Kalau begitu... mari kita beli ini.”
Melihat senyumannya yang begitu cerah, aku jadi merasa tidak keberatan lagi.
Karena aku yakin, jika Fine memberikan oleh-oleh itu dengan wajah gembira, Christa pasti akan senang menerimanya.
Dan yang terpenting, hanya dengan melihat senyuman Fine saja, aku sudah merasa sangat puas.
Previous Chapter | ToC |



Post a Comment