NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saikyou Degarashi Ouji no An’yaku Teii Arasoi V16 Chapter 2

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 2

Putri dan Putri

Bagian 1

Setelah meloloskan diri dari ibu kota, kami kini berada di wilayah Baron Grandi yang terletak di sebelah barat Kadipaten Albatro. 

Baron Grandi adalah salah satu dari sedikit bangsawan faksi pro-Kekaisaran yang tersisa. 

Namun, wilayah kekuasaannya sempit dan dia sama sekali tidak memiliki pengaruh politik. 

“Berdasarkan laporan dari Baron, bahkan jika seluruh pasukan dikumpulkan, jumlahnya mungkin tidak akan sampai tiga ratus orang.” 

“Sedangkan tentara Marquis yang sudah masuk ke Ibu Kota berjumlah lebih dari tiga ribu orang... Perbandingannya satu lawan sepuluh, ya.” 

Aku menghela napas panjang mendengar laporan Julio. 

Benar-benar merepotkan karena kami selalu dipaksa berada dalam posisi tertinggal seperti ini. 

“Marquis Pastore yang telah menguasai Ibu Kota bersikeras bahwa tindakannya semata-mata demi kepentingan negara. Dia menyatakan bahwa jika Kadipaten memihak Kekaisaran, maka tidak akan ada masa depan bagi Albatro, dan beraliansi dengan Kerajaan Perlan adalah satu-satunya jalan untuk mempertahankan eksistensi negara. Karena itulah, sebagai abdi setia, dia datang untuk meluruskan kekeliruan sang Raja. Begitulah klaimnya.” 

“Mengerahkan pasukan untuk menduduki Ibu Kota lalu menyebut dirinya abdi setia... Semua orang pasti sadar bahwa itu hanya bohong belaka.” 

“Masalahnya tidak sesederhana itu. Sang Marquis telah menyebarkan surat seruan ke berbagai bangsawan di seluruh penjuru negeri. Aku sudah membaca isinya, dan harus kuakui, itu adalah tulisan yang disusun dengan sangat rapi.” 

Sudah jelas itu bukan karya sang Marquis sendiri. 

Isinya kurang lebih seperti ini: 

Kadipaten Albatro telah lama menjalin aliansi dengan Kerajaan Perlan. 

Saat ini, perpecahan faksi terjadi akibat perselisihan antara Kekaisaran Adrasia dan Kerajaan Perlan. 

Namun, jika Kadipaten Albatro beraliansi dengan Kekaisaran, maka Albatro akan tamat. 

Kekaisaran hanya membutuhkan kekuatan armada laut kita untuk menjatuhkan benteng-benteng Kerajaan. Mereka berniat menaklukkan benteng yang dulu tidak sanggup mereka tembus dengan memanfaatkan kekuatan kita. 

Coba pikirkan baik-baik. 

Faksi pro-Kekaisaran berkata bahwa kita harus memihak mereka karena wilayah kita berbatasan langsung. Mereka bilang kita tidak boleh memancing amarah Kekaisaran. 

Lantas, apa jaminannya bahwa Kekaisaran yang telah memenangkan perang tidak akan menyerang Albatro di kemudian hari? 

Secara historis, Kekaisaran adalah bangsa penjajah. Terutama setelah perselisihan takhta berakhir dan kondisi internal stabil, mereka pasti akan melakukan ekspansi ke luar. 

Begitu benteng-benteng itu jatuh, kekuatan Albatro tidak akan mereka butuhkan lagi. 

Di sisi lain, Kerajaan Perlan membutuhkan Kadipaten Albatro justru untuk menahan laju Kekaisaran Adrasia. 

Bagi Kerajaan, ini adalah perang pertahanan. Meskipun mereka menang, mereka tidak berniat menghancurkan Kekaisaran. 

Selama Kerajaan tetap berdiri tegak, Kekaisaran akan selalu waspada terhadap wilayah timur serta barat dan tidak akan bisa melakukan ekspansi ke selatan. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. 

Oleh karena itu. 

Kitalah yang seharusnya beraliansi dengan Kerajaan, dan mereka yang menuntut aliansi dengan Kekaisaran sebenarnya sedang membawa negara ini menuju kehancuran. 

Pelakunya pasti Marcel. 

Mengabaikan kondisi Kekaisaran saat ini dan justru mengungkit sisi historis Kekaisaran adalah langkah yang sangat cerdik. 

“M-Mereka hanya bicara sesuai dengan kepentingan mereka sendiri!” 

“Tapi mereka tidak berbohong. Menilik sejarah, Kekaisaran Adrasia memang bangsa penjajah, dan kami memang membutuhkan kekuatan laut Albatro untuk menaklukkan benteng lawan. Terlepas dari apakah kami akan melakukannya atau tidak, jika Kekaisaran memenangkan perang dan berhasil melemahkan Kerajaan, maka Kekaisaran memang akan memiliki keleluasaan untuk berekspansi ke selatan.” 

“Kalau memang Kekaisaran punya ambisi wilayah di selatan, bukankah seharusnya mereka mengirim pasukan saja saat insiden naga laut terjadi!? Pahlawan Kekaisaran-lah yang langsung membunuh naga itu, dan negara kami bahkan tidak bisa menolaknya!” 

“Itulah sebabnya tulisan ini sangat cerdik. Penulisnya sama sekali tidak menyinggung kejadian-kejadian baru. Bagi pembaca yang tidak menyadari bahwa Kekaisaran yang sekarang sudah berbeda, surat ini akan menjadi tulisan yang sangat persuasif.” 

Dan kemungkinan besar, mayoritas orang tidak akan menyadarinya. 

Bagi Kadipaten Albatro, Kekaisaran adalah entitas yang hingga baru-baru ini posisinya hampir menyerupai negara musuh. 

Bagaimanapun, mereka telah berulang kali berperang melawan Kerajaan yang merupakan sahabat dekat Albatro. 

Sebuah negara besar yang tidak diketahui kapan akan menyerang ke selatan.

Bahkan negara yang sama yang pernah menjalin hubungan dengan Rondine. 

Di dasar hati rakyat Albatro, rasa takut dan curiga terhadap Kekaisaran masih tersisa. 

Aku dikirim ke sini sebenarnya untuk menghapus perasaan itu, tapi aku benar-benar kecolongan. Pihak lawan sudah mengambil langkah pertama dengan sangat telak dan mengendalikan situasi sesuai keinginan mereka. 

“Y-Yang Mulia... kalau begitu, apa yang harus kita lakukan...?” 

Wajah Julio memancarkan kecemasan.

Namun ada secercah harapan yang terselip di sana. 

Sebuah harapan bahwa aku pasti punya rencana hebat untuk membalikkan keadaan. 

“Kita tidak bisa melakukan apa-apa. Yang bisa kita lakukan hanyalah menyerukan kepada para pendukung kita untuk berkumpul. Tujuannya agar kita bisa bertahan jika mereka melancarkan serangan.” 

“H-Hanya itu...?” 

“Kamu pikir aku ini apa? Ahli strategi jenius? Atau penyihir yang bisa melakukan segalanya? Sayangnya, dalam situasi sekarang, hampir tidak ada langkah yang bisa kuambil.” 

“Kalau begitu, apakah kita akan tetap di sini... dan membiarkan tindakan mereka begitu saja...?” 

“Bukannya kita membiarkan mereka, tapi merekalah yang tidak akan membiarkan kita. Cepat atau lambat mereka pasti akan datang untuk menghancurkan kita dengan kekuatan militer. Dan justru itulah satu-satunya kesempatan kita.” 

“Kesempatan? Bukankah itu berarti bahaya...?” 

“Trik-trik kecil tidak akan bisa membalikkan papan permainan yang sudah kacau ini. Namun, jika lawan yang menggunakan kekuatan militer itu kalah di medan perang, maka seluruh papan permainan akan berbalik secara instan. Jika mereka mau berdiri di medan pertempuran, barulah kita bisa melakukan serangan balik.” 

Masalahnya adalah apakah mereka akan memberikan kita waktu untuk melakukan serangan balik itu atau tidak. 

Saat ini, posisi mereka unggul mutlak. 

Seharusnya mereka tidak ingin mengambil risiko dengan melakukan pertempuran yang bisa memberikan lawan peluang menang dalam sekejap. Pilihan paling aman bagi mereka adalah menunggu sampai kami menyerah. 

Jika mereka melakukan itu, aku akan sangat terbantu. 

Karena aku punya beberapa bidak yang sedang kusiapkan di balik layar. 

Namun, jika mereka justru bergerak cepat untuk menyerang, maka bidak-bidak itu tidak akan sempat berfungsi. 

“Kalau begitu, mari kita segera kumpulkan prajurit!” 

“Tidak, jangan terburu-buru. Pelan-pelan saja.” 

“Tapi bagaimana jika musuh datang!?” 

“Jika kita terburu-buru mengumpulkan pasukan, itu justru akan memberikan rasa terancam kepada mereka. Yang kita butuhkan sekarang adalah waktu.” 

“Lawan kita adalah orang yang mampu mengambil langkah pertama sebelum Anda, Yang Mulia! Mana mungkin dia akan memberikan kita waktu!” 

“Mungkin akan begitu jika Marcel yang menjadi panglimanya. Tapi panglima pihak lawan adalah Marquis Pastore. Saat ayahmu naik takhta dulu, Marquis Pastore tidak menggunakan kekuatan militer hingga akhir. Lebih tepatnya, dia tidak sanggup melakukannya. Meskipun dia memiliki pasukan, dia tidak bisa mengambil keputusan. Padahal itu adalah kesempatannya untuk menjadi raja.” 

“Saya pernah mendengar tentang hal itu...” 

“Manusia tidak bisa berubah dalam hal yang paling esensial. Kurasa Marquis Pastore adalah orang yang terlalu waspada, atau bisa dibilang penakut. Seberapa kuat pun Marcel membujuknya, aku tidak yakin dia akan berani menginjakkan kaki di medan perang saat posisinya sudah unggul mutlak.” 

“Tapi bagaimana jika dia sudah belajar dari masa lalu...?” 

Manusia memang belajar dari masa lalu. 

Julio pun begitu. 

Dengan begitulah manusia berkembang. 

Namun, seseorang tidak akan bisa berubah menjadi sosok yang benar-benar berbeda. 

“Karena dia belajar dari masa lalulah, dia berani menduduki Ibu Kota sekarang. Tapi keberanian bukanlah sesuatu yang bisa diperas berulang kali dalam waktu singkat.” 

Aku yakin sang Marquis tidak akan segera bergerak. 

Waktu pasti akan memihak kepada kami. 

Setelah ini, semuanya bergantung pada hasil kerja keras dari bidak-bidak yang telah kusebar. 

Seberapa cepat rekan-rekan kami bisa bergerak membawa bantuan, itulah kunci permainannya.


Bagian 2

Setelah berhasil menduduki Ibu Kota dan menjadikan istana sebagai markasnya, Marquis Pastore mengurung kakak laki-lakinya sendiri, sang Duke, dan duduk di singgasana dengan angkuh. 

Singgasana yang akhirnya jatuh ke tangannya. 

Terlebih lagi, hampir tidak ada orang yang berani mengancam posisinya sekarang. 

Perjalanan ini sungguh terasa panjang. 

Sambil memejamkan mata, Marquis Pastore mengenang kembali segala jerih payah yang telah dia lalui hingga sampai ke titik ini. 

Namun, seseorang datang mengusik ketenangannya. 

“Kamu tampak sangat puas setelah mendapatkan singgasana itu, Marquis Pastore.” 

“Rupanya kamu, Duta Besar Marcel...” 

Marquis Pastore mengernyitkan dahi dengan raut wajah yang tampak terganggu. 

Dia sadar betul bahwa keberadaannya di tempat ini adalah berkat andil Marcel. 

Meski begitu, dia sudah mulai merasa jengah dengan segala tuntutan pria itu. 

“Berapa kali pun kamu datang, jawabanku tetap sama. Aku tidak akan mengerahkan pasukan.” 

“Padahal jika kamu menyerang sekarang, kamu bisa memastikan kemenanganmu?” 

“Jika kalah, aku akan kehilangan segalanya. Lawan kita itu lemah. Kita hanya perlu mengulur waktu dan menyudutkan mereka perlahan-lahan.” 

“Bukankah sudah kujelaskan bahwa hal itu hanya akan memberikan waktu bagi lawan untuk membalikkan keadaan?” 

“Tidak akan ada serangan balik dari mereka.” 

Marquis Pastore menegaskan hal itu dengan penuh keyakinan. 

Pasalnya, hampir seluruh bangsawan di negeri ini telah memihak kepadanya, atau setidaknya memilih untuk bersikap oportunis dan melihat situasi. 

Sekalipun para bangsawan yang masih bimbang itu pada akhirnya memihak lawan, keunggulan mereka tidak akan tergoyahkan. 

“Tidak akan ada serangan balik? Kekaisaran Adrasia memiliki pasukan penjaga perbatasan selatan, dan di perbatasan Rondine pun ada kekuatan militer yang cukup besar yang sedang bersiaga. Jika salah satu dari mereka bergerak, situasi akan berbalik dalam sekejap, kamu tahu itu?” 

“Mana mungkin Kekaisaran menggerakkan pasukan penjaga perbatasan mereka. Tidak ada alasan maupun keuntungan bagi mereka untuk melakukannya. Mereka menginginkan dukungan negara kita demi memenangkan perang melawan Kerajaan. Jika mereka sampai melakukan tindakan ceroboh yang meninggalkan celah di pertahanan mereka sendiri, itu sama saja dengan melakukan tindakan yang sia-sia. Apalagi pasukan di perbatasan Rondine, mereka tidak akan bergerak karena pasukan Rondine ada tepat di depan mata mereka.” 

“Tidakkah kamu berpikir bahwa Rondine mungkin akan menarik pasukannya demi kepentingan Kekaisaran? Atau bagaimana jika pasukan penjaga perbatasan selatan Kekaisaran mengancam para bangsawan di sekitar perbatasan? Saat ini, peluang kemenanganmu adalah sembilan puluh persen. Namun, jika kamu terus mengulur waktu, peluang itu akan merosot menjadi seimbang dalam sekejap.” 

“Itu hanya spekulasimu saja. Sudahlah. Aku lelah.” 

Setelah berkata demikian, Marquis Pastore bangkit dari singgasana dan melangkah pergi. 

Marcel menatap punggung pria itu dengan pandangan getir, lalu membalikkan badannya. 

“Lisette! Di mana Barnaba, putra sang Marquis!?” 

“Dia sedang sering mengunjungi rumah bordil di Ibu Kota.” 

“Bisa-bisanya dia bermain wanita di saat seperti ini!? Benar-benar punya nyali yang besar!” 

Mendengar laporan itu, Marcel menghela napas panjang. 

Mereka sudah menguasai Ibu Kota dan menahan raja, yang perlu dilakukan sekarang hanyalah menumbangkan pangeran dengan latar belakang perbedaan kekuatan militer yang mencolok. 

Tinggal selangkah lagi. 

Padahal begitu, mereka sudah merasa seolah-olah telah memenangkan segalanya. 

“Tanpa bantuan, mereka memang tidak akan pernah bisa menyentuh singgasana itu! Ayah dan anak sama saja tidak bergunanya! Padahal sang Duke yang merupakan kakaknya saja rela menjadi sandera demi memberikan alasan kuat bagi pangeran untuk bergerak! Marquis itu dan putranya bahkan tidak sanggup menginjak seekor serangga! Padahal jika dibiarkan, serangga itu akan menggerogoti rumah mereka sampai hancur!” 

“Tuan Marcel, mohon tenangkan diri Anda. Ini tidak baik bagi kesehatan Anda.” 

“Bagaimana aku bisa tenang! Lawan kita adalah Arnold Lakes Ardler! Di balik setiap kemenangan Leonard, selalu ada pria itu di sana! Banyak orang yang meremehkannya telah berakhir di alam baka! Aku tidak sudi mengalami nasib yang sama seperti mereka!” 

“Memang benar begitu, tapi ini bukan di Kekaisaran. Sama seperti segalanya tidak berjalan sesuai keinginan Anda, pangeran itu pun tidak akan bisa membuat segalanya berjalan sesuai keinginannya.” 

“Itulah yang membuatku risau! Bidak yang kumiliki hanyalah Marquis itu dan putranya. Sementara di pihak lawan, mereka memiliki pangeran yang sah. Jika ini menjadi persaingan wibawa pemimpin, kita tidak punya peluang menang!” 

Tepat setelah menyelesaikan kalimatnya, tubuh Marcel tiba-tiba limbung. Lisette dengan sigap segera menopang tubuhnya. 

“Mohon beristirahatlah. Sehebat apa pun Pangeran Arnold dalam menyusun siasat, tidak akan mudah baginya untuk membalikkan keadaan dari posisi sekarang.” 

“Pria itu... dia tidak mungkin membiarkan Rondine diam saja. Menurut informasi, dia seharusnya berangkat bersama Putri Camar Biru... Saat ini, dia pasti sudah berada di Rondine.” 

“Bukankah kita juga sudah menyiapkan rencana untuk menghadapi hal itu?” 

“Segalanya belum sempurna... kita harus menyelesaikan masalah ini sebelum Rondine bergerak...” 

“Kalau begitu, mari kita sebarkan rumor di kalangan rakyat. Semakin rakyat merasa cemas, sang Marquis pun pasti akan ikut merasa tidak tenang. Dia pasti akan mempercepat penyelesaian masalah ini karena takut akan terjadinya kerusuhan.” 

“Hanya cara seperti itu yang tersisa...? Kalau tahu akan jadi begini, seharusnya aku menyuruh mereka menandatangani surat perjanjian yang menyatakan mereka akan mematuhi kata-kataku...” 

“Tidak semua orang mampu melihat jauh ke depan seperti Anda, Tuan Marcel. Anda tidak perlu memikul kebodohan orang lain di pundak Anda sendiri...” 

Marcel tersenyum kecut mendengar perkataan Lisette. 

Tidak perlu memikul kebodohan orang lain. Bagi orang biasa, mungkin hal itu benar. Namun, ada beberapa orang yang tidak diizinkan untuk melakukannya. 

“Aku tidak bisa memanjakan diri dengan kata-kata itu... Aku harus memikul segalanya.” 

“Tetapi...” 

“Selagi tubuh ini masih bisa digerakkan... aku harus menciptakan jalan menuju kemenangan... Ini menyangkut keselamatan kakakku... dan masa depan kerajaanku.” 

Sambil berkata demikian, Marcel menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan botol kecil dari balik pakaiannya. 

Di dalamnya terdapat sesuatu yang berbentuk butiran kecil. 

Marcel mengambil satu butir dan menelannya. 

Seketika, dia memegang dadanya dan mengerang kesakitan. 

Namun perlahan-lahan, napasnya mulai kembali teratur. 

“Tubuhku ini hanya bisa digerakkan secara normal dengan bantuan obat bius yang tidak jelas asal-usulnya, tapi... masih ada hal yang bisa kulakukan.” 

“Yang Mulia...” 

“Hentikan panggilan itu. Jika ketahuan, kerajaanku akan diserang saat aku tidak ada di sana. Ayo berangkat... Jika aku tidak bisa menarik negara ini menjadi sekutu, maka kita akan menghadapi perang total melawan Kekaisaran. Meraih kemenangan di sana bukanlah hal yang mudah. Di sinilah... kita harus mendapatkan kemenangan itu.” 

“Serahkan kepada saya. Jika saatnya tiba, saya sendiri yang akan membunuh pangeran itu.” 

“Jangan lakukan itu... Jangan samakan aku dengan kakakku... Berapa banyak pun siasat yang kugunakan, aku tidak berniat merendahkan diri menjadi seorang pengecut.” 

Setelah berkata demikian, Marcel mulai berjalan perlahan. 

Menatap punggung pria itu, Lisette menundukkan matanya dengan sedih. 

Dulu, dia sangat berharap bisa melihat pria itu berjalan kembali. 

Sebab setelah diracuni, pria itu hanya bisa terbaring tidak berdaya di atas ranjang. 

Namun, obat-obatan untuk mengembalikan kesehatannya sampai ke tingkat tertentu justru dikirimkan oleh orang yang meracuninya. 

Bersama dengan sepucuk surat yang menjadikan kakaknya, yang selama ini merawat Marcel, sebagai sandera. 

Mengapa orang ini harus berjuang sekeras ini? 

Dunia ini benar-benar tidak adil. 

Air mata tampak menggenang di mata Lisette. 

Tapi... 

“Jangan menangis... Tidak selamanya hal buruk akan terjadi.”

“Memangnya ada hal baik yang bisa diharapkan...?” 

“Dulu... ada seorang pria yang lebih tua dariku, yang sempat membuatku berpikir bahwa aku mungkin takkan bisa mengalahkan Kekaisaran. Dia adalah tujuanku... Akhirnya, aku tumbang oleh racun, dan dia tumbang oleh anak panah nyasar... Namun, kesempatan itu akhirnya datang. Kondisiku memang tidak lagi prima, dan lawanku kali ini adalah adik dari pria itu... tapi dia adalah pria yang kemampuannya sama sekali tidak bisa diremehkan. Dia lawan yang sangat sepadan.” 

Setelah menyelesaikan perkataannya, Marcel menyunggingkan senyum penuh tantangan. 

Gairah yang seharusnya telah padam setelah dia memercayakan segalanya kepada Leticia yang menggenggam Tongkat Suci, kini kembali berkobar di dalam dadanya. 

Nama asli dari pria yang melangkah maju dengan gagah berani itu adalah Anthem de Perlan. 

Dialah sang pangeran ketiga dari Kerajaan Perlan.


Bagian 3

Kadipaten Rondine. 

Di dalam istana itu, Fine dan rekan-rekannya telah dipaksa menunggu untuk waktu yang cukup lama. 

“Jadi sang Raja masih belum berniat menemui kami?” 

“Mohon dimaafkan...” 

Kesatria yang didesak oleh pertanyaan Lynfia itu menundukkan kepala dengan raut penuh sesal. 

Biasanya, membiarkan duta besar dari negara lain menunggu adalah sesuatu yang mustahil terjadi. 

Duta besar adalah representasi sebuah bangsa, perwakilan langsung dari sang penguasa. 

Mengabaikan mereka sama saja dengan mengabaikan negara yang mereka wakili.

Kecuali jika terjadi insiden yang benar-benar luar biasa, seorang raja biasanya akan segera menemui duta besar yang datang berkunjung. 

Akan tetapi, Duke Rondine tidak kunjung menunjukkan niat untuk menemui Fine. 

“Nona Fine adalah utusan resmi Kekaisaran. Jika beliau membiarkan perwakilan Paduka Kaisar menunggu begini, kami akan menganggap hal ini sebagai bentuk penghinaan terhadap Kekaisaran, kamu tahu? 

“M-Mohon tunggu sebentar lagi...! Saya akan segera mengonfirmasi kembali kepada Paduka Raja!” 

Mendengar teguran Lynfia, kesatria itu pun bergegas lari dengan panik. 

Sejak insiden naga laut, Rondine telah membangun hubungan yang baik dengan Kekaisaran. 

Seharusnya tidak ada keuntungan bagi Rondine untuk merusak hubungan tersebut dengan sengaja. 

“Mungkin ini gangguan dari pihak Kerajaan. Apakah kita perlu menerobos masuk saja?” 

“Bisa jadi, tapi kita tidak boleh bergerak gegabah. Aku adalah perwakilan Paduka. Jika terjadi sesuatu, itu akan mencoreng nama baik beliau.” 

Meski sudah dipaksa menunggu selama berjam-jam, Fine sama sekali tidak menunjukkan kegelisahan. Dia tetap menunggu dengan tenang. 

Padahal jika itu duta besar lain, perlakuan semacam ini sudah cukup menjadi alasan untuk pulang seketika. 

Justru karena pembawaan Fine yang lemah lembutlah, protes tersebut hanya tertahan pada kata-kata. 

“Nona Fine.” 

“Apa kamu menemukan sesuatu, Sebas-san?” 

“Benar. Sepertinya belakangan ini Duke Rondine mulai melalaikan urusan pemerintahan.” 

“Melalaikan? Apakah beliau sedang sakit?” 

“Jika bisa disebut sakit, maka inilah penyakitnya. Kabarnya Duke Rondine sedang tergila-gila pada seorang penari yang datang dari Kerajaan Perlan. Beliau menghabiskan setiap waktu luangnya hanya untuk menonton tarian wanita itu.” 

“Jadi maksudmu beliau membiarkan Nona Fine menunggu selama ini hanya demi menonton tarian seorang penari...?” 

Lynfia memasang ekspresi tidak percaya. 

Namun, Fine sendiri tidak tampak terkejut. 

“Duke Rondine adalah sosok yang mewarisi perang melawan Kadipaten Albatro dari generasi sebelumnya. Beliau memang ambisius, namun informasinya beliau tidak terlalu tertarik pada wanita, bukan?” 

“Sepertinya itu informasi yang agak usang. Begitu perang melawan Albatro berakhir dalam bentuk aliansi, mungkin muncul kelonggaran di dalam hatinya. Tidak mengherankan jika beliau mulai menaruh minat pada hal-hal yang sebelumnya beliau abaikan.” 

“Artinya bukan hanya di Kadipaten Albatro, di Kadipaten Rondine pun pihak lawan sudah mengambil langkah pertama ya...” 

Fine tenggelam dalam pemikiran. 

Bagi Duke Rondine, perang dengan negara tetangga selama ini adalah segalanya dalam hidupnya. Ketika tujuan hidupnya berakhir dalam bentuk aliansi yang terasa tanggung, beliau pasti sedang dalam proses mencari tujuan baru. 

Di saat itulah sang penari dikirimkan. 

Semakin disiplin seseorang, biasanya mereka akan semakin mudah jatuh ke dalam dekadensi. 

Beliau pasti telah terseret ke dalam hari-hari malas yang terasa manis. 

“Bagaimana langkah kita selanjutnya?” 

“Ini bukan lagi masalah kita sendiri. Rakyat Kadipaten Rondine pun pasti sedang merasa panik melihat situasi ini. Kalau tidak salah, beliau memiliki seorang putra, bukan?” 

“Benar. Kabarnya dia pemuda yang pemalu dan tidak terlalu disukai oleh sang ayah.” 

“Apakah dia disukai atau tidak oleh ayahnya, itu tidak relevan dalam situasi sekarang. Selama hati Paduka Raja masih dicuri oleh penari itu, maka Putra Mahkota adalah satu-satunya sosok yang bisa diandalkan. Baik oleh kita, maupun oleh para bawahan Paduka.” 

Tepat saat Fine berkata demikian. 

Seorang pemuda jangkung masuk ke dalam ruangan. 

“Duta Besar Fine! Mohon maaf telah membuat Anda menunggu lama! A-Aku, ah, maksud saya, saya adalah Danio di Rondine. Putra mahkota Kadipaten Rondine.” 

“Senang bertemu dengan Anda, Pangeran Danio. Nama saya Fine von Kleinert. Saya datang sebagai perwakilan Paduka Kaisar.” 

“S-Saya benar-benar mohon maaf atas ketidaksopanan ini! Ayahanda pasti akan segera menerima kabar kedatangan Anda, jadi sampai saat itu tiba, biarkan saya yang menemani Anda!” 

“Tidak perlu, pertemuan yang hanya sekadar formalitas tidak akan ada artinya. Lebih dari itu, saya akan sangat senang jika bisa melakukan pembicaraan yang konstruktif dengan Pangeran Danio.” 

“D-Dengan saya? Itu...” 

Danio memalingkan wajahnya ke arah lantai. 

Ekspresinya jelas menunjukkan bahwa dia merasa tugas itu terlalu berat untuknya. 

Namun, sebuah suara terdengar dari balik punggung Danio. 

“Sudah kubilang, ‘kan? Duta besar itu pasti ingin bicara denganmu.” 

“E-Eva...” 

Sosok yang muncul adalah seorang gadis dengan rambut cokelat yang dipotong rapi setinggi bahu. 

Mata hijaunya menatap lurus ke arah Fine. 

“Senang bertemu dengan Anda, Nona Fine. Nama saya Evangelina di Albatro. Silakan panggil saya Eva saja.” 

“Putri Eva... Senang bertemu dengan Anda. Namun, mengapa Anda berada di sini?” 

“Alasanku kemungkinan besar sama dengan Nona Fine. Aku datang ke sini karena merasa dukungan dari Kadipaten Rondine sangat diperlukan untuk menyelesaikan masalah di dalam Kadipaten Albatro.” 

“Apakah Paduka Duke yang mengutus Anda?” 

“Tidak, aku merasa mendiskusikan pengutusan hanya akan membuang-buang waktu, jadi aku datang kemari secara diam-diam. Meski begitu, sepertinya aku tetap terlambat...” 

Fine tersenyum kecut melihat inisiatif Eva yang luar biasa. 

Meskipun sudah bersekutu, Rondine dan Albatro adalah dua negara yang telah lama berseteru. 

Bisa dibilang Rondine adalah tempat yang penuh masalah bagi seorang putri yang datang dengan pengawalan minim. 

“Ayah Anda pasti sangat mencemaskan Anda. Mari kita selesaikan masalah ini secepat mungkin agar Anda bisa segera pulang.” 

“Aku pun ingin begitu, tapi... aku tidak punya cara untuk menemui Duke Rondine.” 

“Apakah Pangeran Danio pun tidak bisa menemui beliau?” 

Mendengar pertanyaan Fine, Danio kembali menunduk. 

Melihat Danio yang tidak kunjung menjawab, Eva tampak mulai menunjukkan rasa tidak sabarnya. 

“Cepat jawab.” 

“I-Itu, soalnya... aku tidak pandai bicara dengan wanita...” 

“Kamu bisa bicara denganku, ‘kan?” 

“Itu karena kalau aku tidak bicara, kamu akan marah...” 

“Aku akan benar-benar marah kalau kamu tidak menjawab sekarang.” 

“I-Iya, aku mengerti... Anu... A-Aku dan Ayahanda tidak memiliki hubungan yang terlalu baik, jadi...” 

“Jangan tegang, bicaralah seperti biasa. Aku pun akan bersikap begitu.” 

“T-Terima kasih banyak... Mendengar Anda berkata begitu, saya merasa sedikit lega...” 

Warna ketegangan sedikit memudar dari wajah Danio yang sedari tadi menjawab dengan gemetar. 

Ternyata bukan hanya utusan dari negara lain, bahkan Danio yang merupakan putra satu-satunya pun tidak bisa menemui sang ayah dengan layak.

Kini Duke sudah tidak lebih dari seorang tawanan. 

“Siapa yang menjalankan pemerintahan saat ini?” 

“Para menteri yang menjalankannya. Sebenarnya kami tetap meminta konfirmasi Ayahanda, tapi beliau hanya menjawab menyerahkan semuanya pada kami. Jadi, pada akhirnya keputusan jatuh kepadaku...” 

“Jadi urusan teknis ditangani oleh para menteri, sedangkan keputusan ada di tangan Pangeran?” 

“Itu hanya formalitas. Jika Ayahanda merasa ada yang tidak berkenan, beliau bisa segera membatalkannya...” 

Setelah memahami situasinya, Fine terdiam sejenak untuk berpikir. 

Seandainya Danio pun sudah berada di bawah pengaruh mereka, mungkin tidak akan ada jalan keluar lagi. Namun, setidaknya Danio masih memiliki kesadarannya sendiri.

Para bawahan pun tampak sangat kewalahan menghadapi situasi ini. 

“Bagaimanapun, kita perlu bertemu dengan Paduka Duke terlebih dahulu.” 

“Tapi... wanita yang membuat Ayahanda tergila-gila itu bukanlah penari biasa. Dia adalah Putri Tari dari Kerajaan Perlan.” 

“Putri Tari... maksud Anda penari kelas atas yang mengabdi pada Kerajaan Perlan?” 

“Benar. Seseorang tidak bisa menjadi Putri Tari jika tidak memiliki kecantikan luar biasa dan bakat menari yang mumpuni. Tarian mereka hanya dipersembahkan bagi tamu-tamu agung, dan status mereka bahkan lebih tinggi daripada putri bangsawan.” 

Mendengar penjelasan Sebas, Fine mengangguk beberapa kali. 

Seorang Putri Tari yang telah memikat hati sang Duke dengan kecantikan dan tarian yang begitu halus. 

Sudah tidak diragukan lagi bahwa dia adalah pion pengacau yang dikirim oleh Kerajaan Perlan. 

“Lynfia-san, apa kamu punya sebuah rencana?” 

“Saya sebenarnya agak enggan mengusulkannya... tapi hanya ada satu cara.” 

“Silakan katakan saja, apa pun itu.” 

“Kalau begitu... Nona Fine adalah putri tercantik di seantero Kekaisaran Adrasia. Semua orang mengakui hal itu. Kita akan menyebarkan rumor melalui para bawahan agar sang Duke mulai menaruh minat. Kemudian, dengan kecantikan Nona Fine, kita akan merebut perhatian sang Duke dari Putri Tari itu.” 

“Itu berarti... Nona Fine harus menggoda Duke...?” 

“Kita hanya perlu membuat sosok Putri Tari itu tidak lagi terlihat di matanya. Tidak perlu melakukan hal-hal yang aneh. Jika Nona keberatan, kita akan mencari cara lain.” 

Namun, kenyataannya memang tidak ada cara lain yang tersisa. 

Jika mata sang Duke hanya tertuju pada sang penari, maka mereka harus menunjukkan sosok yang jauh lebih bersinar di hadapannya. 

Dan satu-satunya yang mampu melakukan hal itu hanyalah Fine. 

“Tidak, waktu kita terbatas. Mari kita gunakan cara itu. Jika gagal, kita tinggal memikirkan rencana lain. Hanya saja... Sebas-san, bolehkah aku memintamu menjagaku dari bayang-bayang?” 

“Saya akan melakukannya meski Anda tidak memintanya. Baik sang Duke maupun penari itu, saya tidak akan membiarkan seujung jari pun menyentuh Anda.” 

Sebas mengatakannya dengan nada bicara yang tidak biasa, terdengar sangat tajam dan tegas. 

Namun. 

“Beruntung sekali Tuan Arnold tidak ada di sini... benar-benar beruntung.” 

Lynfia pun mengangguk setuju atas ucapan Sebas. 

Kata-kata Sebas itu sebenarnya ditujukan untuk keselamatan seantero Kadipaten Rondine. 

Sebab jika Arnold ada di tempat ini, entah apa yang akan dia lakukan jika mengetahui hal ini.


Bagian 4

Sisi utara Kadipaten Albatro. 

Di dekat perbatasan selatan Kekaisaran Adrasia. 

Di sana berdiri sebuah benteng pertahanan yang dibangun oleh pasukan penjaga perbatasan Kekaisaran. 

Benteng itu begitu kokoh hingga mustahil bagi Kadipaten Albatro untuk menaklukkannya, dan di dalamnya bersiaga puluhan ribu prajurit penjaga perbatasan. 

“Komandan benteng, jadi kamu ada di sini.” 

Sosok yang mengelola benteng tersebut adalah Jenderal Plannert, sang panglima pasukan penjaga perbatasan. 

Usianya sudah melampaui enam puluh tahun dengan rekam jejak militer selama lebih dari empat dekade. 

Dia merupakan salah satu veteran tertua di jajaran militer Kekaisaran. 

Plannert sangat gemar memandang ke luar dari atas benteng. 

“Oho, ternyata Anda, Pangeran Diethelm.” 

“Jangan panggil aku Pangeran. Aku sudah menjadi Duke sekarang.” 

“Hahaha, bagi saya, Anda akan selamanya menjadi Pangeran.” 

Plannert dulunya adalah jenderal yang sangat aktif di pusat pemerintahan. 

Dia telah berkali-kali berangkat ke medan perang bersama Kaisar. Saat Diethelm, pamannya Al, masih menyandang status pangeran, Plannert jugalah yang memberikan bimbingan ilmu pedang dan taktik militer kepadanya. 

“Kamu tidak berubah sedikit pun.” 

“Apakah Pangeran... maksud saya, Adik Kaisar, sudah berubah?” 

“Sedikit. Sejak aku menyadari bahwa aku tidak layak menduduki takhta, aku berjuang mati-matian untuk menaikkan kakakku ke kursi kaisar. Kakak menyiapkan banyak jabatan untukku, tapi aku memilih untuk menarik diri. Aku sudah muak dengan perebutan kekuasaan.” 

“Sepertinya Anda menyesal?” 

“Ya, aku menyesal. Seandainya aku tetap berada di Ibu Kota... mungkin aku bisa meringankan beban kakakku sedikit lebih banyak.” 

Dalam masa pensiunnya, Diethelm terus mengamati perubahan yang terjadi di Kekaisaran. 

Informasi yang sampai kepadanya sebagian besar adalah kabar yang mengkhawatirkan. 

Meski begitu, orang-orang hebat tetap berada di sisi kakaknya. 

Dia percaya jika dia bergerak, hal itu hanya akan memicu kekacauan yang tidak perlu. 

Karena itulah dia bertekad untuk tetap menjalani hidup tenang dalam pengasingan. 

Apalagi, menghabiskan waktu seharian dengan membaca buku memang sangat cocok dengan kepribadiannya. 

Namun. 

“Bagi kakakku, Wilhelm adalah segalanya. Dia adalah putra yang bisa dipercaya untuk mewarisi cita-citanya. Setelah kehilangan putra itu, kakak tidak bisa melawan tradisi Kekaisaran. Beliau terpaksa membiarkan anak-anak yang dicintainya saling bertarung dan menyerahkan takhta kepada siapa pun yang berhasil bertahan. Aku menyesal karena tidak tetap tinggal di Ibu Kota untuk menyokongnya saat itu.” 

“Perebutan takhta adalah perebutan kekuasaan. Pasti sulit bagi Anda yang merupakan adik Kaisar untuk tetap bersikap netral. Keberadaan Anda mungkin memberikan bantuan di satu sisi, namun di sisi lain pasti menjadi beban bagi Paduka Kaisar. Begitulah cara dunia bekerja.” 

Tidak ada hal yang hanya memberikan keuntungan semata. 

Keuntungan bagi seseorang bisa menjadi kerugian bagi orang lain. 

Keadilan bagi satu pihak bisa menjadi kejahatan bagi pihak lain. 

Plannert, yang telah melewati banyak medan pertempuran, telah menyadari hakikat tersebut. 

Dan Diethelm, yang berhasil bertahan dalam perebutan takhta, pun memahaminya. 

Jika tidak ingin terlibat dalam masalah. 

Jika tidak ingin dimusuhi oleh siapa pun. 

Maka pilihannya hanyalah hidup tanpa mempedulikan apa pun. 

Diethelm pikir itu sudah cukup. 

Sampai saat ini. 

“Bergerak akan membawa kerugian bagi seseorang. Aku tidak bergerak karena membenci hal itu. Namun, meski tahu hal ini akan merugikan pihak lain... ada seseorang yang ingin kubantu.” 

“Maksud Anda, Pangeran Arnold...?” 

“Anak itu sama sepertiku yang dulu. Sebagaimana aku berusaha menaikkan kakakku ke takhta, dia pun sedang berusaha menaikkan Leonard ke takhta. Aku ingin membantunya. Itulah yang kupikirkan.” 

“Karena itulah Anda menemui saya?” 

“Ya. Aku ingin kamu mengubah status pasukan penjaga perbatasan selatan menjadi siaga tempur. Berikan tekanan kepada para bangsawan Kadipaten di sekitar perbatasan.” 

“Saya rasa itu siasat yang bagus, namun sebagai orang yang dipercaya menjaga perbatasan Kekaisaran, meskipun ini adalah perintah dari adik Paduka Kaisar, saya tidak bisa mengambil keputusan sepihak.” 

“Aku yang akan memikul seluruh tanggung jawabnya. Hanya dengan memberikan tekanan, itu akan menjadi bantuan besar bagi Arnold.” 

“Saya tidak bisa menggerakkan pasukan tanpa permintaan dari Paduka Kaisar, atau dari orang yang telah diberikan wewenang oleh beliau. Pasukan penjaga perbatasan, sesuai namanya, adalah pasukan untuk bertahan. Tugas utamanya adalah mencegah invasi. Tanpa perintah dari Kaisar, menunjukkan gelagat seolah akan melakukan invasi adalah tindakan yang tidak boleh terjadi.” 

“Aku sangat memahami itu. Namun, situasinya sangat mendesak. Kadipaten sudah berada dalam kondisi perang saudara. Arnold tidak akan sanggup membalikkan keadaan sendirian.” 

Mendengar permohonan Diethelm, Plannert memejamkan mata dan berpikir keras. 

Diethelm adalah pria yang cerdas. 

Jika pria itu sampai memohon sembari menyatakan siap menanggung segala risiko, maka situasinya pasti sangat gawat. 

Menolaknya sebenarnya mudah. 

Sebab argumen Plannert memanglah yang paling benar. 

Namun, hal yang benar tidak selalu menjadi yang terbaik. 

Plannert memahami hal itu dengan sangat baik. 

Tiba-tiba, suara tiupan peluit peringatan sampai ke telinga Plannert. 

“Ada apa!?” 

“Seorang penunggang kuda sedang mendekat ke arah sini! Kami siap melumpuhkannya kapan saja!” 

“Jangan menembak sebelum ada perintah! Ini perintah mutlak!” 

“Baik!” 

Setelah memberikan instruksi kepada prajurit pelapor, Plannert menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas. 

Memang benar ada seorang penunggang kuda yang mendekati benteng. 

Jika dia adalah orang Kadipaten, dia pasti paham apa konsekuensi mendekati benteng ini. 

Tidak ada pula informasi mengenai orang dari Kadipaten yang akan masuk ke wilayah Kekaisaran. 

Ini adalah tamu yang tidak terduga. 

Di atas tembok benteng, para prajurit sudah menarik busur mereka kuat-kuat. 

Begitu perintah diberikan, mereka bisa langsung menghujani penunggang itu dengan anak panah. 

Ketegangan menyelimuti para prajurit. 

Di tengah situasi itu, pemuda di atas kuda tersebut berteriak lantang. 

“S-Saya membawa surat dari Pangeran Arnold untuk Yang Mulia Adik Kaisar! Mohon izinkan saya menghadap!” 

“Turunkan busur kalian! Buka gerbangnya!” 

Saat Plannert memberikan instruksi tersebut, Diethelm sudah tidak ada lagi di tempatnya. 

Dia sudah berlari menuju gerbang. 

Sambil memerintahkan prajurit untuk tetap waspada, Plannert menyusul ke gerbang. 

Di sana, pemuda yang turun dari kudanya sedang meneguk air dengan lahap. 

Dia pasti datang tanpa istirahat sedikit pun. 

Pakaiannya kotor penuh debu, dan kudanya pun tampak sangat kelelahan. 

“Yang Mulia, apa isi suratnya?” 

“Ini permintaan dari Arnold. Atas nama aku dan dia, dia memohon agar pasukan penjaga perbatasan selatan melakukan latihan militer.” 

“Begitu ya... Jadi ini permintaan dari sang Duta Besar...” 

Di tangan Diethelm tergenggam cincin Kaisar yang sebelumnya dibawa oleh Arnold. Itu adalah bukti status duta besar. 

Sehebat apa pun seorang duta besar, dia tidak memiliki wewenang untuk menggerakkan pasukan perbatasan. 

Namun, ini bisa menjadi alasan yang sah. 

“Utusan, kemari!” 

“Baik!” 

“Sampaikan ke seluruh pasukan! Mulai saat ini, seluruh pasukan akan melakukan latihan militer skala besar! Begitu persiapan selesai, segera bangun perkemahan di sisi Kadipaten!” 

“Dimengerti!” 

Mendengar instruksi Plannert, Diethelm menghela napas lega. 

Jika pasukan penjaga perbatasan selatan bergerak dengan dalih latihan militer, para bangsawan Kadipaten akan panik. 

Saat kekuatan militer Kekaisaran menampakkan wujudnya sebagai ancaman nyata, keputusan mereka pasti akan berubah. 

“Namamu Raul, bukan?” 

“B-Benar!” 

“Kamu sudah bekerja keras mengantarkan surat ini. Namun, aku butuh bantuanmu sekali lagi.” 

“A-Apa pun itu!” 

“Ikutlah denganku menuju kediaman keluargamu.” 

Itu adalah kata-kata yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh Raul.


Bagian 5

Count Pinto. 

Dia adalah salah satu bangsawan perbatasan yang menjaga garis depan di sisi Kekaisaran. 

Sebagai ayah dari Raul, dia menjalani hidupnya dengan memegang teguh kebanggaan sebagai bangsawan Kadipaten. 

Suatu hari, sebuah kabar mendesak sampai ke telinganya. 

“Tuan! Laporan baru saja masuk bahwa Tuan Muda Raul sedang menuju ke sini bersama seorang Duke Kekaisaran!” 

“Duke Kekaisaran!? Mengapa Raul bisa bersama sosok seperti itu!?” 

“Kami tidak tahu! Namanya dikabarkan adalah Duke Bergwein.” 

“Bergwein? Nama yang asing bagi telingaku.” 

Di antara para Duke Kekaisaran, memang ada beberapa yang tidak memiliki wilayah kekuasaan besar. 

Count Pinto menghela napas lega, menduga bahwa tamu itu hanyalah seorang Duke tanpa nama besar. 

Namun, biar bagaimanapun, statusnya tetaplah seorang Duke Kekaisaran. 

Derajatnya berbeda jauh dengan keluarga Count di Kadipaten. 

“Siapkan penyambutan. Entah apa sebenarnya tujuan mereka datang ke sini...” 

Count Pinto mencoba menerka-nerka. 

Kemungkinan besar ini berkaitan dengan perebutan kekuasaan yang tengah bergejolak di pusat Kadipaten. 

Pangeran Arnold dari Kekaisaran berada di pihak Pangeran Kadipaten. Melalui koneksi tersebut, mungkin sang Duke datang dengan tuntunan Raul untuk meminta bantuan dari keluarga Count Pinto. 

Begitulah asumsi yang dia bangun. 

Itu artinya, Raul juga telah resmi memihak sang Pangeran. 

Namun, keluarga Count Pinto sama sekali tidak ingin terlibat. 

“Padahal aku tidak berniat mencampuri perebutan kekuasaan di pusat...” 

Raul yang polos mungkin tidak tega melihat sang Pangeran dalam bahaya. 

Pinto paham betul perasaan putranya itu. 

Namun, memihak Pangeran yang sedang terdesak hanya akan menghancurkan masa depan mereka. 

Dia harus memikirkan cara untuk membujuk Raul agar kembali bersikap netral. 

Tepat saat sedang berpikir, tubuh Count Pinto mendadak kaku. 

Duke Bergwein. 

Rasanya dia pernah mendengar nama itu di suatu tempat. 

Di mana? 

Dia mencoba mengaduk-aduk ingatannya, namun tidak membuahkan hasil. 

Akhirnya dia bertanya kembali pada pelayannya. 

“Siapa nama lengkap Duke yang akan datang itu?” 

“Nama lengkapnya...? Kalau tidak salah... Diethelm von Bergwein.” 

Dalam sekejap, kesadaran Count Pinto nyaris melayang. 

Sambil terhuyung, dia menumpukan tangannya pada meja terdekat untuk menopang tubuhnya yang mendadak lemas. 

Namun, detak jantungnya yang berdegup kencang tidak mau berhenti. 

Napasnya memburu, dan kepalanya mulai pening. 

Nama itu memberikan guncangan yang luar biasa besar baginya. 

“T-Tuan!? Ada apa dengan Anda!?” 

“D-Dari sekian banyak orang... mengapa harus dia yang datang...” 

Count Pinto memang tidak mengetahui tentang sosok Diethelm sejak pria itu mulai memakai nama Bergwein. 

Hal itu wajar karena pria itu hidup dalam pengasingan dan tidak melakukan apa pun yang menonjol. 

Namun, dia sangat mengenal nama itu saat masih menyandang identitas Diethelm Lakes Ardler. 

Sang adik yang menyokong Kaisar saat ini. 

Nama itu benar-benar bergema di telinga para bangsawan Kadipaten, meski peristiwa yang melambungkannya sudah terjadi lebih dari dua puluh tahun yang lalu. 

“A-Apakah dia orang yang sangat berpengaruh...?” 

“Dia adalah adik kandung Kaisar saat ini... Duke tanpa nama besar...? Mana mungkin... Dia adalah salah satu Duke dengan pengaruh terkuat di seantero Kekaisaran Adrasia...” 

Kaisar bahkan pernah menyiapkan posisi Kanselir khusus untuk adiknya itu. 

Namun, Diethelm menolaknya dan memilih untuk pensiun. 

Meski begitu, kepercayaan Kaisar padanya sangatlah dalam, dan pengaruhnya akan langsung terasa begitu dia kembali ke panggung utama. 

Sosok yang tidak mengherankan jika tiba-tiba diangkat menjadi Kanselir kapan saja. 

Itulah Diethelm. 

Sosok sehebat itu kini sedang dalam perjalanan bersama Raul. 

Untuk apa mereka ke sini? 

“B-Bagaimana bisa Tuan Muda Raul... bersama orang sehebat itu!?” 

“Mana kutahu! Pokoknya segera sambut mereka!” 

Sambil bicara, Count Pinto bergegas keluar dari ruangan dan mulai melangkah cepat. 

Tamunya adalah adik Kaisar. 

Jika pria itu bergerak hanya karena koneksi Pangeran Arnold, dia terlalu penting untuk tugas tersebut. 

Secara derajat, dia berada di atas Pangeran Arnold. 

Dia tidak akan repot-repot melintasi perbatasan hanya untuk meminta bantuan dalam perebutan kekuasaan internal Kadipaten. 

Pasti ada tujuan lain yang jauh lebih besar dan mengerikan. 

“Jangan-jangan... Kekaisaran berniat menyerang Kadipaten...?” 

Invasi dengan dalih menyelamatkan pangeran mereka sendiri. 

Itu adalah skenario yang masuk akal. 

Setelah itu, mereka akan menaikkan Pangeran Kadipaten ke takhta dan menjadikan Albatro sebagai negara bagian. 

Ada contoh serupa yang belum lama terjadi. 

Negara Bagian Cornix di utara. 

Sebelum perang melawan Kerajaan Perlan pecah, Kekaisaran ingin melenyapkan segala kekhawatiran di wilayah selatan. 

Yang diinginkan Kekaisaran adalah kekuatan angkatan laut, dan mereka tidak peduli seberapa kacaunya internal Kadipaten asalkan mereka patuh. 

Semakin dia membayangkannya, semakin dia yakin itulah satu-satunya kemungkinan. 

“Kalau begitu, dia datang untuk membujukku agar menyerah...” 

Keluarga Count Pinto termasuk keluarga besar dan berpengaruh di wilayah perbatasan. 

Jika mereka tunduk pada Kekaisaran, keluarga-keluarga lain pasti akan kehilangan nyali dan ikut menyerah. 

Yang menjaga perbatasan di sisi Kekaisaran adalah para bangsawan pinggiran. 

Jika para bangsawan ini menyerah, tidak akan ada lagi yang bisa menghalangi gerak maju tentara Kekaisaran hingga ke pusat. 

Demi menghemat tenaga sebelum perang melawan Kerajaan, Kekaisaran mengirim adik Kaisar untuk mendesak mereka agar menyerah tanpa syarat. 

Begitulah kesimpulan yang diambil oleh Count Pinto. 

“Jika memang begitu, aku pun punya rencana sendiri...!”


* * *


“Ini pertemuan pertama kita, Count Pinto. Aku adalah Duke Diethelm von Bergwein.” 

“Suatu kehormatan bertemu dengan Anda, Duke Bergwein. Urusan apa yang membawa Yang Mulia Adik Kaisar ke kediaman hamba? Terlebih lagi dengan membawa putra hamba sebagai penunjuk jalan.” 

“Sepertinya ada kesalahpahaman, putramu bukanlah sekadar penunjuk jalan.” 

“Lalu apakah dia sandera!? Perlu hamba katakan sebelumnya, jika Anda datang untuk membujuk hamba menyerah, itu sia-sia! Keluarga Count Pinto telah menjaga tanah ini turun-temurun! Bahkan jika seluruh bangsawan tunduk pada Kekaisaran, hanya kami yang tidak akan melakukannya! Jika Anda berniat menyerang, hamba akan menyeret sebanyak mungkin prajurit Kekaisaran menuju maut bersama hamba!” 

Akhirnya kukatakan juga. 

Count Pinto bergumam dalam hati. 

Kepada seorang Duke Kekaisaran, terlebih lagi kepada adik Kaisar, dia telah menyuarakan tantangannya. 

Biasanya, jika adik Kaisar datang berkunjung, siapa pun pasti akan gemetar ketakutan. 

Beliau pasti mengira hamba akan menyerah dengan mudah, pikirnya. 

Namun, tidak semua orang akan membuang harga diri mereka hanya karena rasa takut. 

Hamba telah menunjukkan keteguhan keluarga Count Pinto. 

Dalam gejolak emosi yang meluap, Count Pinto merasa puas dengan tindakannya. 

Namun. 

“Biarkan aku mengatakannya sekali lagi. Sepertinya ada kesalahpahaman. Jika Kekaisaran berniat menginvasi Kadipaten ini, kami tidak akan menggunakan cara bujuk rayu. Kami hanya perlu menelan kalian dengan kekuatan militer yang melimpah.” 

“L-Lalu untuk apa Anda ke sini...?” 

“Mari kita luruskan kesalahpahaman ini satu per satu. Pertama, putramu Raul bukanlah penunjuk jalan. Kalau hanya butuh penunjuk jalan, ada banyak orang lain yang bisa kusewa. Alasan aku membawa Raul adalah karena keponakanku, Arnold, sangat menghargainya. Oleh karena itu, aku membawanya ke sini sebagai wakil dari Arnold. Dan alasan aku mendatangi keluarga Count Pinto adalah karena keluarga ini merupakan pihak penting di wilayah perbatasan ini. Selain itu, aku berpikir bukankah ayah dari Raul yang jujur ini adalah sosok yang layak dipercaya?” 

Putranya adalah wakil dari Pangeran Kekaisaran. 

Karena menghargai putranya, sosok sehebat itu sudi datang menemuinya. 

Count Pinto merasa segalanya penuh dengan hal yang tidak dia mengerti. 

Putranya, Raul, bukanlah anak yang begitu hebat sampai-sampai layak dipuji oleh orang lain. 

Meski begitu, dia memang merasa telah membesarkannya menjadi manusia yang baik. 

Namun, selain itu, dia merasa tidak ada hal lain yang bisa dibanggakan dari anaknya. 

“Hamba masih belum menangkap intinya...?” 

“Kami datang untuk meminta bantuan. Saat ini pasukan Kekaisaran sedang bergerak dalam bentuk latihan militer. Ini adalah siasat yang kususun bersama Arnold untuk memberikan rasa terancam kepada para bangsawan perbatasan Kadipaten. Namun, jika seandainya Kadipaten jatuh ke tangan faksi Kerajaan dan sesuatu terjadi pada Arnold, maka invasi akan menjadi kenyataan. Kami ingin menghindari hal itu.” 

“Mengapa Anda membeberkan siasat Anda sendiri kepada hamba?” 

“Seseorang harus bersikap jujur kepada mereka yang layak dihormati. Aku tidak berniat menipumu. Bagaimanapun juga, aku adalah adik Kaisar dan seorang Duke Kekaisaran. Antara bangsawan perbatasan Kadipaten dan aku terdapat perbedaan derajat yang bagaikan orang dewasa dan anak kecil. Sejujurnya, aku sempat mengira kamu akan langsung membungkuk kepadaku. Namun, kamu memang benar-benar ayah Raul. Kamu sangat tegar. Meski didasari kesalahpahaman, gertakanmu tadi sungguh luar biasa. Tampaknya Raul mewarisi sifatmu itu. Aku mohon, pinjamkanlah kekuatanmu untuk menyelamatkan keponakanku.” 

Diethelm membungkukkan kepalanya dengan sopan. 

Count Pinto yang tidak bisa mengikuti kecepatan situasi itu hanya bisa menatap Raul yang berada di samping Diethelm. 

Raul mengangguk sekali. 

“A-Ayah... Paduka Duke ingin Ayah menyatukan para bangsawan perbatasan... dan memihak Pangeran Julio.” 

“M-Memintaku menyatukan para bangsawan perbatasan...? Terlebih lagi memihak Pangeran Julio?” 

“Rencananya begini. Atas permintaan Raul, kamu sebagai ayahnya akhirnya turun tangan. Jelaskan kepada para bangsawan perbatasan mengenai situasi di mana pasukan Kekaisaran bisa saja bergerak, lalu satukan mereka. Ini adalah pertempuran untuk menghindari jatuhnya korban jiwa. Meskipun ini adalah permintaan sepihak dari Kekaisaran... aku mengharapkan keputusanmu yang bijaksana.” 

“Begitu ya... Benar-benar sepihak. Apakah Anda berpikir hamba akan setuju hanya karena Anda menceritakan semuanya dengan jujur? Bagaimana Anda akan bertanggung jawab jika pihak Pangeran Julio kalah?” 

“Jika kalah, Kekaisaran akan melindungi kalian. Namun, kalian tidak akan kalah. Atas keputusanku sendiri, aku telah menyiapkan seribu kuda perang dari pasukan perbatasan. Gunakanlah kuda-kuda itu untuk menyerbu ke pusat kota.” 

“Seribu kuda perang Kekaisaran!?” 

Kuda perang Kekaisaran yang berkualitas sangatlah mahal harganya. Terlebih lagi jumlahnya mencapai seribu ekor. 

Bagi Count Pinto, fakta bahwa seseorang bisa memberikannya atas keputusan pribadi adalah sesuatu yang tidak terbayangkan. 

Sekali lagi, dia menyadari bahwa derajat orang di hadapannya ini benar-benar berbeda dengannya, dan Count Pinto pun menghela napas panjang. 

“Lagipula, jika hamba tidak setuju, Anda pasti akan menggerakkan orang lain...” 

“Meski itu bukan keinginanku. Bagaimanapun, urusan besar sebaiknya dipercayakan kepada orang yang bisa dipercaya. Dibandingkan orang yang merendahkan diri, seseorang yang menunjukkan harga diri jauh lebih bisa dipercaya berkali-kali lipat. Aku mohon, terimalah permintaan ini.” 

“...Baiklah. Jika hamba ikut campur dalam perselisihan di pusat, para bangsawan perbatasan juga akan menumpahkan darah. Namun, jika pasukan Kekaisaran bergerak, hanya para bangsawan perbatasan yang akan bersimbah darah. Ini jauh lebih baik daripada kemungkinan itu.” 

“Terima kasih. Aku akan mengirimkan beberapa prajurit asalkan tidak ketahuan. Komando kuserahkan pada Raul. Kamu bisa melakukannya, ‘kan?” 

“S-Siap!” 

“Karena posisiku, aku tidak bisa ikut berangkat ke sana. Aku titipkan keponakanku padamu.” 

Sekali lagi, Diethelm membungkukkan kepalanya dengan sopan. 

Count Pinto pun membalasnya dengan rasa hormat. 

“...Hamba berjanji akan memberikan bantuan untuk mengurangi jatuhnya korban di kedua belah pihak. Namun, meski hamba menyatukan bangsawan perbatasan, posisi kita paling-paling hanya seimbang. Apakah Anda memiliki rencana lain?” 

“Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan. Arnold-lah yang akan mengambil langkah selanjutnya. Ini hanya prediksiku... kemungkinan besar pasukan di perbatasan Rondine juga akan datang membantu. Jika itu terjadi, pihak Pangeran Julio akan menang telak.” 

“Maksud Anda, menggerakkan pasukan perbatasan?” 

“Yang menggerakkannya adalah pihak Rondine. Arnold adalah anak dari kakakku. Dia pasti mampu melakukan setidaknya hal sebesar itu.”


Bagian 6

Beberapa hari telah berlalu semenjak Fine tiba di Rondine. 

Di dalam istana, pembicaraan mengenai kecantikan Fine menjadi buah bibir yang tidak kunjung usai. 

“Apakah Anda sudah menemuinya?” 

“Tentu saja. Belum pernah aku melihat wanita secantik itu.” 

“Nona Elna dari Keluarga Pahlawan memang cantik, tapi Nona Fine jauh melampauinya.” 

“Jika tidak menemuinya sekarang, Anda akan menyesal seumur hidup.” 

“Kudengar Pangeran pun sampai berkunjung setiap hari ke sana.” 

“Wajar saja kalau begitu.” 

Para abdi dalem tidak henti-hentinya membicarakan sosok Fine. 

Tentu saja, desas-desus itu akhirnya sampai ke telinga sang Duke. 

Pagi-pagi buta, Pangeran Danio datang menghadap ayahnya karena sangat ingin menceritakan perihal kecantikan Fine. 

Biasanya sang Duke akan langsung mengusirnya, namun karena sudah telanjur penasaran, beliau memutuskan untuk mendengarkan perkataan Danio guna memastikannya sendiri. 

“Hmm, jadi sang Putri Camar Biru itu benar-benar secantik itu...?” 

“Y-Ya! Kecantikannya benar-benar tidak kalah dengan kilau bintang di langit malam!” 

Danio menceritakan perihal kecantikan Fine dengan sangat antusias. 

Mendengar hal itu, Duke Carlo tersenyum dengan tatapan yang seolah menerawang jauh. 

“Aku jadi ingin menemuinya...” 

“Akan segera saya atur pertemuannya.” 

Danio berkata demikian sebelum akhirnya berpamitan untuk undur diri.


* * *


“Ayahanda bersedia menemui Nona Fine. Padahal sebelumnya, meski aku pergi menemuinya, aku selalu diusir... ini efek yang luar biasa.” 

“Itu hal yang wajar jika melihat kecantikan Nona Fine.” 

Danio tampak terkejut, sementara Eva hanya mengangguk seolah hal itu tidak mengherankan. 

Berbeda dengan mereka berdua, Lynfia dan Fine justru tampak tenggelam dalam pemikiran. 

“Lynfia-san, mungkinkah...” 

“Prediksi Nona Fine mungkin benar. Kudengar jika Paduka Duke sarapan bersama sang penari, beliau akan terus bersamanya sepanjang hari, bukan?” 

“Ya, benar sekali.” 

“Bagaimana kondisi Paduka Duke saat itu?” 

“Beliau tampak linglung. Tapi, mungkin karena saat itu masih pagi.” 

“Begitu ya... Lagipula, kabarnya pada malam hari beliau merasa tidak bersemangat dan langsung tidur karena mengeluh mengantuk...” 

Demi menghindari gangguan dari sang penari, mereka memang sengaja mengutus Danio untuk menghadap pada pagi buta. 

Meski begitu, rencana ini berjalan terlalu mulus. 

Sang penari pasti sudah mewanti-wanti sang Duke agar tidak menemui Fine. 

Seandainya beliau hanya sekadar tergila-gila, beliau tidak akan setuju untuk bertemu semudah itu. 

Ada kemungkinan sang Duke tidak hanya sekadar terpesona oleh penari itu. 

Begitulah dugaan Fine, dan sepertinya tebakannya tidak meleset. 

“Harap berhati-hati. Lawan kita adalah Putri Tari dari Kerajaan Perlan. Entah apa yang dia gunakan.” 

“Paduka sering merasa tidak bersemangat dan mengeluh mengantuk... Yang Mulia, bolehkah saya meminjam dapur?” 

“Eh? Ya... tentu saja.” 

“Apa Anda menyadari sesuatu?” 

“Ini baru sebatas dugaan. Namun, jika benar sang penari melakukan sesuatu, maka ini adalah serangan terhadap Paduka Duke. Kalau sudah begitu, kita juga bisa mengambil langkah yang sedikit lebih keras. Sebas-san.” 

“Ada apa, Nona?” 

“Jika dugaanku benar, maukah kamu meringkus sang penari itu?” 

“Tetapi itu mungkin akan memancing amarah Duke, bukan?” 

“Untuk itulah aku akan memastikannya terlebih dahulu agar hal itu tidak terjadi.” 

“Kalau begitu, berikanlah isyarat padaku nanti.” 

“Baik.” 

Fine menjawab sambil tersenyum manis. 

Namun, Sebas menyadarinya. 

Sorot mata gadis itu sama sekali tidak sedang tersenyum.


* * *


“Hormat saya, Paduka Duke. Nama saya Fine von Kleinert.” 

“Selamat datang... Akulah Carlo di Rondine.” 

Duke menyebutkan namanya, menatap Fine dengan pandangan kosong. 

Pikirannya tampak menerawang. Saat

 Fine sedang mengamati kondisi sang Duke, seorang wanita berdiri di samping pria itu. 

“Paduka, apakah hari ini Anda tidak ingin melihat tarian hamba?” 

Usianya mungkin sedikit lebih tua dari Fine. 

Wanita yang mengikat rambut pirang panjangnya ke belakang itu memang terlihat cantik. 

Seorang wanita dewasa yang sangat ahli dalam memikat pria. 

Itulah kesan yang ditangkap oleh Fine. 

“Ooh, Putri Tari-ku.” 

“Salam, Putri Tari Kerajaan.” 

“Salam, Putri Camar Biru. Sepertinya saya belum memperkenalkan diri. Saya Milene. Putri Tari dari Kerajaan Perlan.” 

Milene tersenyum lembut. 

Fine membalas senyuman itu. 

“Putri Tari kebanggaan Kerajaan. Saya tidak menyangka bisa bertemu denganmu di Kadipaten Rondine ini.” 

“Putri Camar Biru kebanggaan Kekaisaran. Saya pun tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Bukankah Anda berencana pergi ke Kadipaten Albatro?” 

“Rencana saya sedikit berubah. Saya belum pernah melihat tarian Putri Tari Kerajaan. Ini adalah sebuah kebetulan yang berharga. Bolehkah saya melihatnya?” 

“Wah? Tidak kusangka Anda sendiri yang meminta tarian dariku. Benar-benar di luar dugaan. Tapi sebagai seorang Putri Tari, saya tidak bisa menolak jika diminta untuk menari. Perhatikan baik-baik ya, Paduka?” 

“Ya, aku mengerti, aku mengerti.” 

Milene menjauh dari sang Duke. 

Memanfaatkan kesempatan itu, Fine mendekat ke sisi sang Duke. 

Dan kemudian. 

“Paduka. Bagaimana jika menikmati teh sambil menonton tarian? Saya cukup ahli dalam menyeduh teh.” 

“Teh, ya... Boleh juga.” 

“Kalau begitu, izinkan saya.” 

Fine memerintahkan pelayan untuk membawakan perlengkapan teh yang telah disiapkannya. 

Milene sempat mengamati Fine untuk mencari tahu apa yang direncanakan gadis itu, namun Fine hanya menyeduh teh biasa. 

Milene menyimpulkan bahwa ini hanyalah taktik untuk menarik perhatian sang Duke dengan keahliannya, lalu dia pun mulai bersiap untuk menari. 

Sementara itu, Fine menyeduh teh dengan sangat teliti. 

“Sudah siap. Silakan, Paduka. Hati-hati, tehnya masih panas.” 

“Akan kucicipi...” 

Sang Duke meminum teh itu sedikit. 

Pada saat itu juga. 

Beliau tersedak dengan hebatnya. 

“Uhuk! Uhuk...!!” 

“Paduka!?” 

“Anda baik-baik saja?” 

Fine mengusap punggung sang Duke. 

Sambil mengangguk beberapa kali, sang Duke mengernyitkan dahi dan bertanya pada Fine. 

“Ini... apa-apaan ini? Belum pernah aku meminum teh sepahit ini.” 

“Ini adalah campuran dari berbagai jenis daun teh. Memiliki khasiat untuk menyegarkan pikiran. Bagaimana perasaan Anda?” 

“Hmm, benar. Rasanya sudah lama sekali kepalaku tidak terasa secerah ini. Rasa lesu dan kantukku menghilang.” 

Terkejut dengan kondisinya sendiri, sang Duke kembali menyesap teh tersebut. 

Meski sambil mengernyitkan dahi, beliau meminum habis teh itu sampai tidak tersisa. 

Beliau benar-benar menghabiskannya. 

Milene hanya bisa terpaku melihat pemandangan itu. 

Dia sama sekali tidak menyangka tekniknya yang selama ini tidak pernah terbongkar oleh siapa pun, justru berhasil dipatahkan oleh seorang gadis muda dari Kekaisaran. 

“...Boleh aku bertanya bagaimana kamu mengetahuinya?” 

“Aku sudah sangat lama menekuni seni menyeduh teh. Aku memesan berbagai jenis daun teh dari segala penjuru, mempelajari mana yang enak, mana yang baik bagi tubuh, hingga yang buruk sekalipun. Tentu saja, termasuk jenis daun teh khusus yang berasal dari Timur.” 

“Aku benar-benar lengah...” 

“Teh yang menggunakan daun dari Timur dengan cara penyeduhan yang unik memiliki efek memulihkan kelelahan dan menenangkan pikiran. Ada juga efek yang sedikit memicu rasa kantuk. Namun jika digunakan berlebihan, itu akan menjadi racun bagi tubuh, dan jika dicampur dengan daun lain, efeknya akan meningkat secara drastis. Karena khasiatnya tidak bertahan lama, pengguna harus meminumnya atau menghirup aromanya setiap hari... Namun jika digunakan dengan tepat, sangat mungkin untuk membuat seseorang jatuh ke dalam kondisi tanpa gairah hidup.” 

“Sampai meneliti sejauh itu hanya demi teh, kamu benar-benar tidak waras ya.” 

Milene mengangkat ujung pakaiannya seolah mengakui kekalahannya. 

Di sana tersimpan kantong aroma khusus. 

Racun aroma yang diracik langsung oleh Milene ada di dalamnya. 

Itu tidak berbahaya bagi tubuh manusia dan tidak menyebabkan kecanduan. 

Itu adalah benda yang digunakan untuk melumpuhkan semangat mereka yang terpesona oleh tarian, dan aslinya digunakan untuk mencuri informasi. 

Namun, tujuan Milene kali ini hanyalah untuk mengulur waktu. 

“Apa kamu tidak memiliki kebanggaan terhadap tarianmu sendiri?” 

“Tentu saja aku punya. Berkat tarian ini aku bisa naik status menjadi seorang Putri Tari. Namun, kebanggaanku bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan tujuanku.” 

Milene mengangkat kedua tangannya dengan anggun lalu mengayunkannya ke bawah. 

Bersamaan dengan itu, dua bilah pisau melesat ke arah Fine. 

Sebas dengan tangkas menangkis pisau-pisau itu dan merangsek maju ke arah Milene. 

Namun, bawahan Milene yang bersembunyi segera menghalangi jalan Sebas. 

“Biarkan kami yang menanganinya!” 

“Putri Tari, segera pergi ke tempat Yang Mulia!” 

Ada tiga orang bawahan. 

Meski begitu, mereka bukan tandingan bagi Sebas, dan dalam sekejap semuanya menderita luka parah. 

Namun, para bawahan itu tetap mencengkeram Sebas. 

“Wah, wah...” 

“Tidak akan... kubiarkan lewat...” 

Meskipun menderita luka yang mematikan, mereka tetap menahan gerakan Sebas. 

Kesetiaan mereka benar-benar mengejutkan, bahkan bagi Sebas sekalipun. 

Luka-luka itu seharusnya membuat mereka mati dalam sekejap. 

Namun, mereka bertahan hanya dengan kekuatan tekad demi menghentikan gerakannya. 

Ini bukanlah hal yang biasa. 

“Tadi mereka menyebut Yang Mulia...” 

Kira-kira Yang Mulia yang mana yang dimaksud. 

Tepat saat Sebas memikirkan hal itu. 

Terdengar suara sesuatu yang terjatuh di belakangnya. 

“Paduka!” 

Saat menoleh, sang Duke sudah tergeletak pingsan. 

Kemungkinan itu adalah efek sampingnya. 

Jika sang Duke tidak bisa bergerak, itu artinya Rondine pun tidak akan bisa bergerak. 

Di saat waktu yang tersisa sudah sangat sempit, ini adalah situasi yang fatal. 

“Jadi meskipun terbongkar, kamu tetap berhasil menahan langkah kami ya.” 

Pihak lawan benar-benar memiliki bawahan yang hebat. 

Sambil memikirkan hal itu, Sebas pun bergegas menghampiri untuk menolong sang Duke.


Bagian 7

“Apa yang sebenarnya terjadi...?” 

Karena sang Duke jatuh pingsan, suasana di dalam istana menjadi gempar. 

Saat Danio melontarkan pertanyaan itu, Fine menjawab dengan jujur. 

“Sang Putri Tari telah meracik ramuan tertentu untuk membuat kesadaran Paduka menjadi kabur. Saya mencoba menyajikan teh untuk menetralkannya, namun sepertinya efeknya tidak bisa dinetralkan sepenuhnya.” 

“A-Apakah Ayahanda dalam bahaya!?” 

“Saya bukan dokter jadi tidak bisa memastikan, tapi kemungkinan besar beliau hanya tertidur. Lagi pula, itu bukan jenis obat yang berbahaya bagi nyawa.” 

Obat itu memang tidak merusak tubuh. 

Jika digunakan berlebihan, efeknya hanya akan seperti yang dialami sang Duke sekarang, dan kondisi akan kembali normal jika konsumsinya dihentikan. 

Namun, karena sudah terpapar terlalu lama, tubuh beliau sepertinya menuntut istirahat total. 

Sang Duke pun jatuh ke dalam tidur yang sangat panjang. 

“Di mana sang penari itu?” 

“Setelah menyerang Nona Fine, dia langsung melarikan diri.” 

“Menyerang!? Melakukan hal serendah itu terhadap utusan Kekaisaran di depan mata Ayahanda!?” 

“Dia hanya mencoba menarik perhatian Sebas-san agar bisa kabur. Jika benar-benar berniat membunuh, dia pasti punya cara yang lebih efektif. Selain itu, tidak ada saksi mata di sana. Paduka memang menyaksikannya, tapi dengan kondisinya yang seperti itu, sulit dipastikan apakah beliau akan mengingatnya atau tidak... Kurasa itu semua sudah masuk dalam perhitungannya.” 

Ruang takhta saat itu memang benar-benar dikosongkan.

Semua karena pengaruh sang Putri Tari. 

Tanpa adanya saksi mata, maka satu-satunya orang yang berada di lokasi saat raja pingsan hanyalah Fine dan Sebas. 

Sekalipun mereka berdua menuduh sang penari, hal itu bisa dianggap sebagai fitnah belaka, dan kecurigaan justru bisa berbalik menyerang mereka berdua. 

“Tidak kusangka penari itu begitu licin...” 

“Jika melihat gerak-geriknya, tidak diragukan lagi dia telah menerima pelatihan khusus.” 

“Masalah utama sekarang bukanlah soal saya yang diserang, melainkan soal Paduka yang jatuh tertidur. Dalam kondisi di mana kita tidak tahu kapan beliau akan bangun, Rondine tidak bisa mengambil tindakan apa pun.” 

Tindakan kriminal sang Putri Tari tidak bisa dibuktikan. 

Meski begitu, setidaknya mereka telah berhasil mengusirnya. 

Bisa dikatakan tujuan awal telah tercapai. 

Namun, Fine dan yang lainnya datang ke sini untuk meminta bantuan Rondine. Jika sang Raja terus tertidur, pembicaraan ini tidak akan bisa berlanjut. 

“Pangeran Danio, bagaimana dengan masalah penerus takhta?” 

“Tidak ada... belum ada keputusan...” 

Artinya, jika sang Raja tidak bangun, tidak ada keputusan yang bisa diambil. 

Jika ini masalah internal mungkin lain cerita, tapi ini adalah urusan yang melibatkan negara tetangga, Albatro. 

Hal ini juga akan memengaruhi masa depan Kekaisaran dan Kerajaan. 

Mengambil keputusan besar saat sang Raja sedang tidak sadarkan diri adalah hal yang sangat terlarang. 

Jika sang Raja mengingat kejadian dengan Putri Tari, beliau mungkin akan bersedia memihak Kekaisaran. Namun, sejauh mana ingatannya tetap utuh baru akan diketahui setelah beliau siuman. 

Jika beliau tidak ingat apa-apa, mungkin hubungan dengan Kekaisaran akan tetap diprioritaskan, namun ceritanya akan menjadi rumit jika beliau masih menyimpan perasaan terhadap sang Putri Tari. 

Saat Fine tengah merenungkan hal itu, Eva masuk ke dalam ruangan dengan terburu-buru. 

“Danio!” 

“Eva... ada apa?” 

“Segera kirimkan bala bantuan! Aku baru saja mendapat kabar bahwa pasukan adikku dan Marquis Pastore sudah berada di ambang pertempuran!” 

“Bukannya seharusnya situasinya masih buntu?” 

Fine dan yang lainnya pun terus menerima informasi terbaru mengenai situasi di Kadipaten Albatro. 

Mereka tahu Arnold dan Julio telah diusir dari Ibu Kota, namun Marquis Pastore seharusnya tidak bergerak dari sana dan kedua belah pihak hanya saling mengawasi. 

Karena itulah Fine merasa perlu bergegas. 

Jika mereka mendapat dukungan dari Duke Rondine, Arnold dan yang lainnya bisa membalikkan keadaan. 

“Masalahnya... dikabarkan bahwa Count Adornart yang tadinya diperkirakan akan memihak Julio, ternyata justru menyeberang ke pihak Marquis... Karena merasa berada di atas angin, sang Marquis memutuskan untuk keluar dari Ibu Kota dan menyerang...” 

“Jika kekuatan musuh bertambah, ini adalah masalah besar.” 

Fine mengangguk setuju atas ucapan Sebas. 

Namun, pemerintahan Rondine saat ini sedang lumpuh. 

“...Aku tidak punya wewenang untuk mengambil keputusan...” 

“Bagaimana bisa...” 

Danio menunduk dengan wajah penuh sesal. 

Seolah-olah tidak sanggup lagi berada di sana, dia pun melangkah keluar dari ruangan. 

Dia merasakan ekspektasi besar dari Eva, namun dia tahu tidak bisa memenuhinya. 

Danio berjalan dengan kepala tertunduk. 

Di tengah jalan, seseorang menghentikannya. 

“Pangeran Danio.” 

“Anda... pengawal Nona Fine... Lynfia-san?” 

“Benar. Anda punya waktu sebentar?” 

“Silakan... lagipula aku tidak punya pekerjaan apa pun.” 

Danio adalah anak yang selama ini tidak pernah dipedulikan oleh sang Duke. 

Dalam situasi seperti ini, tidak ada satu pun abdi dalem yang mengusulkannya untuk menjadi pengganti raja, dan Danio sendiri pun tidak memiliki niat tersebut. 

Namun. 

“Apakah Anda ingin menolong Putri Eva?” 

“...Tentu saja aku ingin menolongnya. Begitu juga dengan kalian semua. Tapi, aku tidak bisa...” 

“...Ini adalah sebuah pertaruhan, namun ada sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Anda, Pangeran Danio.” 

“Apa yang bisa kulakukan...?” 

“Obat yang digunakan sang penari pada Paduka adalah sesuatu yang memicu kelesuan dan rasa kantuk. Karena digunakan secara berlebihan, ada kemungkinan ingatannya akan menjadi kacau. Jika ingatan di dunia nyata saja sudah kabur, tidak mungkin beliau bisa mengingat apa yang terjadi saat beliau sedang tertidur.” 

“E-Eh... aku tidak begitu paham...” 

“Sederhananya, Anda harus merekayasa cerita bahwa Paduka secara sementara menyerahkan kekuasaan kepada Anda. Lakukan itu saat hanya ada Anda dan Paduka di dalam kamar.” 

“M-Memalsukan titah raja...!? Itu juga menyangkut masalah penerus takhta!” 

Danio terkejut dan melangkah mundur. 

Dia tidak menyangka Lynfia akan mengatakan hal seberani itu dengan ekspresi wajah yang datar. 

“Ini hanya untuk sementara. Paduka masih hidup. Namun, kita tidak punya waktu untuk menunggu dalam urusan negara tetangga ini. Jika Anda berhasil menyelesaikannya dengan baik, saya rasa Anda tidak akan disalahkan.” 

“Bahkan jika aku tidak disalahkan... membuat keputusan untuk ikut campur dalam masalah negara lain adalah hal yang...” 

“Anda tidak perlu memutuskan untuk ikut campur. Cukup perintahkan pasukan perbatasan untuk mundur sementara, itu sudah lebih dari cukup. Sisanya, Putri Eva sendiri yang akan memimpin pasukan perbatasan negaranya untuk pergi menyelamatkan sang Pangeran.” 

“Jika begitu, memang itu akan menjadi masalah internal negara mereka sendiri, tapi...” 

Danio tetap merasa enggan. 

Dia bukan orang yang pandai berbohong. 

Pikiran tentang bagaimana jika kebohongannya terbongkar jauh lebih mendominasi kepalanya. 

Lynfia membungkukkan badan di hadapan Danio. 

“Saya tahu ini permintaan yang sulit. Saya akan sangat menghargai jika Anda mau mempertimbangkannya. Saya akan mendiskusikan hal ini lebih lanjut dengan Nona Fine.”

Setelah berkata demikian, Lynfia pun melangkah pergi. 

Danio yang tertinggal sendirian hanya bisa menghela napas.


* * *


“Apakah Pangeran Danio menerima tawaran itu?” 

“Belum, beliau belum memberikan jawaban langsung. Mohon ampuni saya karena telah bertindak lancang atas kemauan sendiri.” 

“Meski begitu, memang benar jika kita tidak punya pilihan lain selain meminta Pangeran Danio untuk bergerak.” 

Fine mengangguk menanggapi ucapan Sebas, lalu meyakinkan Lynfia agar tidak terlalu memikirkannya.

 Selama sang Duke belum siuman, masalah ini tidak akan selesai kecuali jika Danio mengambil alih komando. 

Namun, jika Danio melakukannya atas inisiatif sendiri, dia berisiko terjerat masalah hukum. 

Memalsukan titah raja adalah sebuah pelanggaran serius, meski pada kenyataannya, kemungkinan besar sang Duke tidak akan mengingat apa pun saat dia bangun nanti. 

Mengingat kejadian dengan sang penari saja sudah diragukan, apalagi kata-kata yang diucapkan saat setengah tidur; beliau pasti tidak akan ingat. 

Dalam kondisi ingatan yang kacau, jika diberitahu bahwa beliau pernah mengatakannya, beliau kemungkinan besar akan percaya.

Tapi...

“Aku tidak bisa memaksanya hanya demi kepentingan Kekaisaran...” 

“Namun, jika Rondine bergerak sekarang, mereka akan menjadi penolong bagi Adrasia dan Albatro. Mereka bisa menanam budi. Ini bukan pilihan yang buruk bagi Rondine. Apalagi bergabung dengan Kerajaan Perlan sudah menjadi pilihan yang mustahil dalam situasi ini.” 

Antara Kekaisaran atau Kerajaan. 

Dari dua pilihan yang ada, satu pilihan telah lenyap. 

Melalui proses eliminasi, jalan yang akan dipilih oleh Rondine sebenarnya sudah hampir pasti. 

Jika memang begitu, akan lebih baik bagi mereka untuk membuat Kekaisaran dan Albatro berutang budi. 

“Meskipun ada keuntungan di baliknya, sebuah pelanggaran tetap tidak bisa dibenarkan. Jika bergerak, Pangeran Danio akan memendam kebohongan di dalam hatinya...” 

Haruskah dia menghentikannya, atau tidak? 

Tepat saat Fine sedang bergulat dengan pikirannya, pintu ruangan terbuka lebar. 

“Lapor! Paduka Duke telah menyerahkan mandat sementara kepada Pangeran Danio untuk mengurus segala sesuatunya! Pangeran Danio kini memohon dukungan dari Kekaisaran!” 

“...Aku mengerti. Sebagai perwakilan Kekaisaran, aku menyatakan dukunganku kepada Pangeran Danio.” 

Setelah terdiam sejenak, Fine menyatakan dukungannya. 

Itu adalah satu-satunya jalan yang tersisa. 

“Dengan ini, Putri Eva dapat memimpin pasukan perbatasan untuk segera memberikan bantuan. Kurasa arah pertempuran sudah bisa ditentukan.” 

“Tidak... Selama sang Duke masih berada di Ibu Kota dan angkatan laut Kadipaten tetap utuh, Marquis Pastore tidak akan menyerah begitu saja. Kita sudah meminta Pangeran Danio untuk mengambil risiko besar dengan bertindak. Kita tidak boleh mengabaikan kemungkinan terjadinya kekalahan. Mari kita lakukan apa yang bisa kita lakukan.” 

Ucap Fine sembari bangkit dari kursinya.


Bagian 8

“Sekali lagi, sebagai perwakilan Kekaisaran Adrasia, saya, Fine von Kleinert, menyatakan dukungan saya kepada Pangeran Danio.” 

“Saya sangat berterima kasih...” 

Danio yang duduk di singgasana mengalihkan pandangannya ke bawah sembari berucap. 

Fine sempat mengira itu karena rasa canggung setelah berbohong, namun dia segera menyadari ada faktor lain yang menjadi penyebabnya. 

Itu karena para pejabat tinggi negara yang berada di sekeliling Danio menatapnya dengan penuh arti. 

Tatapan-tatapan itu seolah mendesak Danio untuk segera bicara. 

Dengan raut wajah yang tampak sulit bicara, Danio membuka dan menutup mulutnya berulang kali. 

“Yang Mulia. Jika ada masalah tertentu, Kekaisaran berniat mengerahkan segenap kemampuan untuk menyelesaikannya. Jangan ragu untuk mengatakannya.” 

“Mendengar Anda berkata demikian, saya jadi lebih mudah untuk menyampaikannya... Pak Menteri, tolong jelaskan.” 

“Baik. Saat ini, kondisi di dalam istaa sedang sangat kacau. Di tengah situasi tersebut, ada sebuah benda yang dicuri.” 

“Dicuri?” 

“Benar. Yang dicuri adalah sebuah tongkat. Benda itu menyerupai tongkat yang dulu digunakan oleh Kadipaten Albatro untuk menyegel naga laut.” 

“Menyegel naga laut...? Jadi, apakah tongkat itu menyegel monster dengan tingkat kekuatan yang sama?” 

“Itulah yang tidak kami ketahui. Kadipaten Albatro didirikan oleh keluarga yang menjaga tongkat penyegel naga laut, namun Rondine tidaklah demikian. Kami hampir tidak memiliki informasi mengenai tongkat tersebut; kenyataannya, kami hanya menyimpannya begitu saja. Apakah tongkat itu akan kehilangan kekuatannya jika dicuri, atau justru jika dihancurkan? Sejujurnya, hal sesederhana itu pun kami tidak tahu.” 

Sebuah alat sihir kuno yang tidak jelas asal-usulnya. 

Karena prinsip lebih baik membiarkannya agar tidak memancing malapetaka, benda itu pun disimpan jauh di dalam gudang harta. 

Fine bisa memahami alasan itu. 

Namun, masalahnya adalah mengapa benda yang kekuatannya tidak pasti itu dicuri justru di saat seperti sekarang? 

“Apakah pelakunya sudah diketahui?” 

“Penanggung jawab gudang harta itu sendiri. Kami tidak tahu motif kejahatannya, namun... telah terkonfirmasi bahwa dia beberapa kali melakukan kontak dengan sang penari.” 

“Begitu rupanya...” 

Sang penari pasti telah menggoda si penanggung jawab dan menyuruhnya mencuri benda itu. 

Menyadari situasinya, Fine menundukkan matanya. 

Dengan mengacaukan Kadipaten Rondine, dia bisa melumpuhkan pergerakan negara ini sekaligus menghambat para pengejar yang memburunya. 

Terlebih lagi, jika terjadi kehebohan monster di dalam wilayah Rondine, pasukan di perbatasan pun tidak akan bisa bergerak dengan bebas. 

Fine harus bergerak dengan asumsi skenario terburuk. Salah langkah sedikit saja, monster setingkat naga laut bisa saja muncul. 

Tentu saja ada kemungkinan lain. 

Kecil kemungkinannya alat sihir yang perawatannya diragukan itu masih memiliki efek hingga sekarang. 

Namun, selama kemungkinan itu ada, dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja. 

“Kadipaten Rondine tidak bisa bergerak sampai masalah ini tuntas. Dalam kondisi di mana Paduka juga masih belum siuman, kami tidak tahu harus mengambil langkah seperti apa. Mohon Anda maklum bahwa penarikan pasukan dari perbatasan juga didasari oleh situasi pelik ini.” 

Kadipaten Rondine sudah bergerak sesuai dugaan. 

Pasukan perbatasan telah ditarik mundur, sehingga pasukan yang berada di perbatasan Kadipaten Albatro kini seharusnya bisa memfokuskan perhatian ke dalam wilayah mereka sendiri. 

Ya, seharusnya begitu. 

Namun.

Kenyataannya situasi justru bergeser ke arah yang jauh lebih buruk dari perkiraan. 

Apa yang terjadi di Kadipaten Albatro adalah konflik politik antarorang cerdas. Akan tetapi, saat ini di Kadipaten Rondine, ada kemungkinan ancaman dan kekerasan yang lebih nyata sedang dilepaskan. 

Selama masalah ini belum terselesaikan, mereka tidak bisa bergerak gegabah. 

Baik bagi Kadipaten Rondine, Kadipaten Albatro, maupun Fine sendiri. 

“Sebagai Duta Besar Kekaisaran, saya berjanji akan bekerja sama sekuat tenaga untuk menyelesaikan masalah ini. Sebagai saran, saya rasa kita harus segera memberikan laporan kepada Guild Petualang.” 

“A-Aku pun berpikir demikian, tapi...” 

Danio melirik sekilas ke arah para menteri. 

Para menteri menggelengkan kepala seolah-olah menganggap sang pangeran tidak mengerti apa-apa. 

“Selama tidak ada bukti bahwa sang penari menghasut penanggung jawab tersebut, maka kejadian ini akan menjadi tanggung jawab negara kami sepenuhnya. Jika demikian, Guild Petualang pasti akan menuntut biaya kompensasi yang besar kepada negara kami. Apabila ada kemungkinan monster setingkat naga laut muncul, bahkan ada peluang petualang peringkat SS akan dikerahkan. Begitu mereka bergerak, sekalipun pada akhirnya monster tersebut tidak muncul, kami tetap harus membayar biaya permintaan tersebut. Negara kami tidak memiliki kemewahan finansial seperti itu.” 

Memang akan terlambat jika menunggu sampai jatuh korban. 

Namun, mereka juga akan kesulitan jika harus menggerakkan kekuatan militer yang berlebihan hanya berdasarkan sebuah kemungkinan. 

Selama situasi belum pasti, mereka tidak bisa menghubungi Guild Petualang. 

Oleh karena itu. 

“Pertama-tama kita harus menyelidiki terlebih dahulu, barulah setelah mengetahui kepastiannya...” 

“Kalau begitu, biarkan kami yang menangani penyelidikan tersebut.” 

Mendengar ucapan Fine, menteri itu melebarkan matanya. 

Dia seolah tidak percaya bahwa seorang Duta Besar Kekaisaran akan menawarkan diri untuk ikut campur dalam masalah internal Kadipaten Rondine. 

Namun, bagi Fine, hal ini adalah sesuatu yang lumrah. 

Jika masalah ini dibiarkan, maka siasat Arnold akan berantakan. 

Terlebih lagi, rakyat Kadipaten Rondine akan menderita kerugian besar. 

Dari sudut pandang mana pun, Fine merasa tidak bisa tinggal diam. 

“Para pengawal pribadi saya adalah tenaga ahli dalam hal penyelidikan. Apakah Anda bersedia menyerahkannya kepada kami, Pangeran Danio?” 

Fine menunjukkan senyum manisnya kepada Danio. 

Namun, Danio sama sekali tidak terpesona oleh senyuman itu. 

Pasalnya, dia merasakan sesuatu yang sangat dalam dan tida terduga di balik permukaan wajah itu. 

Karena itulah, Danio hanya bisa mengangguk sambil memendam rasa takut di dalam hatinya. 

“Aku serahkan semuanya kepada Anda...”


* * *


“Aku menyuruhmu mencurinya, ‘kan? Kamu masih ingat?” 

Sambil berusaha mengendalikan diri, Milene sang Putri Tari berupaya menjaga nada bicaranya tetap tenang saat bertanya kepada pria di hadapannya. 

Pria itu menjawab sambil nyengir lebar, merasa terharu sekaligus bangga karena bisa berbicara langsung dengan Milene. 

“Aduh, begini, setelah berhasil kucuri aku malah ketahuan oleh penjaga gerbang... Jadi aku pukul saja mereka pakai tongkat ini lalu kabur... dan jadinya ya begini.” 

Orang yang sedang berbicara itu adalah seorang pria paruh baya yang dulunya merupakan penanggung jawab gudang harta. 

Bagi Milene, merayu dan memanfaatkannya adalah perkara yang sangat mudah. 

Namun, dia tidak bisa melakukan apa pun untuk memperbaiki kebodohan pria itu. 

“Yah, yang penting aku berhasil kabur dengan selamat! Sekarang aku bisa pergi ke Kerajaan bersama Anda, Putri Tari!” 

Bagi Milene, yang terpenting adalah fakta bahwa pencurian itu telah terjadi. 

Dengan begitu, pergerakan para pengejar seharusnya terhenti. 

Seharusnya begitu. 

Namun, pria bodoh ini telah mengacaukan segalanya. Milene merasa muak dengan kebodohan pria yang benar-benar percaya bahwa dirinya jauh lebih berharga daripada tongkat itu di mata Milene, lalu dia pun membuat pria itu tertidur dengan tenang. 

“Ini jadi merepotkan...” 

Milene bergerak demi menciptakan situasi di mana Kadipaten Rondine tidak bisa berkutik. 

Namun, bukan berarti dia ingin menimbulkan kerugian besar bagi Kadipaten Rondine. 

Setidaknya, tuannya tidak menginginkan hal semacam itu. 

Jika tidak segera diselesaikan, dia tidak akan bisa kembali ke sisi tuannya. 

Akan tetapi, Milene yang kini menjadi buronan tidak punya banyak pilihan langkah yang bisa diambil. 

“Seandainya monster kuat bangkit kembali... Kadipaten Rondine tidak punya kekuatan militer maupun personel yang sanggup menanganinya... Kalau sudah begitu...” 

Cara terbaik adalah memberikan informasi kepada pihak yang mampu menggerakkan sosok kompeten. 

Pihak lawan pasti juga sedang mencari petunjuk. 

“Aku hanya perlu membuatnya lebih mudah ditemukan.” 

Konon naga laut Leviathan sangat terobsesi dengan alat sihir yang telah menyegelnya. 

Jika monster dengan tingkat kekuatan yang sama mulai bergerak. 

Ada kemungkinan besar ia akan melakukan hal yang serupa. 

Karena itulah, dia akan membiarkan tongkat ini ditemukan. 

“Putri Camar Biru... aku serahkan urusan bersih-bersih ini padamu.” 

Sambil bergumam demikian, Milene pun mulai melakukan sesuatu pada tongkat tersebut.


Bagian 9

“Yang berhasil ditemukan hanyalah pria yang tertidur dan alat sihir yang sudah rusak.” 

Sebas-lah yang segera bergerak untuk mencari petunjuk. 

Dan yang dia temukan adalah pria penanggung jawab gudang itu beserta sebuah tongkat yang telah patah menjadi dua bagian. 

Meskipun permata yang menjadi intinya tetap utuh, merasa tenang hanya karena hal itu merupakan sikap yang terlalu optimis. 

Alat sihir yang berfungsi menyegel monster memanglah sedemikian rumit dan halus pembuatannya. 

“Apa keberadaan sang penari tetap tidak bisa ditemukan?” 

“Benar. Namun, ada jejak yang tampak sengaja ditinggalkan, sepertinya dia memang ingin agar kita menemukannya.” 

“Bagaimana menurutmu, Lynfia-san?” 

“Kemungkinan besar... situasi ini pun di luar dugaan sang penari. Itulah sebabnya dia sengaja membiarkan petunjuk itu ditemukan oleh orang yang dirasa paling mampu menyelesaikannya.” 

“...Segera hubungi Guild Petualang.” 

“Pihak Kadipaten Rondine mungkin akan menunjukkan keberatan.” 

“Keselamatan rakyat jauh lebih penting. Tolong lakukan kontak atas namaku.” 

Jika Fine yang meminta, Guild pasti akan bergerak dengan kekuatan penuh. 

Bahkan Clyde, guildmaster saat ini, berutang budi kepada Fine karena telah membela Silver dan membantu membangun sistem yang ada sekarang. 

Itulah yang diharapkan oleh sang penari, Milene. 

Meskipun Fine seolah-olah sedang menari di atas telapak tangan lawan, hal itu memang sesuai dengan keinginan Fine. 

Sebab sejak awal, dia memang berniat untuk bertindak. 

“Bagaimana Nona akan menjelaskannya kepada pihak Kadipaten Rondine?” 

“Aku akan bicara jujur.” 

“Bagi Pangeran Danio mungkin tidak masalah, tapi meyakinkan para menteri bukanlah perkara mudah, bukan? Mereka memiliki kepentingan mereka sendiri.” 

Ada alasan mengapa Lynfia berkata demikian kepada Fine. 

Jika membuang terlalu banyak waktu, semuanya akan terlambat. 

Dia ingin memberi tahu Fine bahwa bertindak tanpa bicara terlebih dahulu pun bisa menjadi salah satu pilihan. 

Namun. 

“Tuan Al sedang bergerak di Kadipaten Albatro dengan memikul nama Kekaisaran di pundaknya. Aku pun harus bergerak dengan memikul nama Kekaisaran. Sebab, saat ini aku adalah pengganti beliau. Meski begitu, mari kita lakukan semuanya secara bersamaan. Aku akan membujuk mereka secepat mungkin. Urusan menghubungi Guild kuserahkan padamu.” 

Fine menyunggingkan senyum tipis lalu mulai melangkah. 

Sebab, waktu yang mereka miliki memang tidak banyak.


* * *


“Hanya fakta bahwa monster yang setara dengan Naga Laut mungkin muncul sudah menjadi alasan yang lebih dari cukup untuk melapor ke Guild! Segera hubungi mereka!” 

Saat Fine melangkah menuju ruang takhta, ternyata sudah ada orang lain yang mendahuluinya. 

Adalah Eva yang sedang berusaha keras meyakinkan Danio dan para menteri. 

“Yang Mulia Putri Evangelina. Kami pun ingin melakukannya jika memungkinkan. Namun, Guild bukanlah lembaga amal.” 

“Aku sangat sadar bahwa ini akan memakan biaya secara realistis. Tapi, jika kita tidak bergerak sekarang, nyawa rakyat dalam bahaya!” 

“Kami tidak bisa bertindak hanya berdasarkan kemungkinan.” 

“Sudah kukatakan, akan terlambat jika menunggu sesuatu terjadi!” 

“Lalu apa yang harus kami sampaikan kepada Guild? Meminta mereka mengirim petualang karena monster mungkin muncul? Petualang yang bisa datang dengan cepat itu jumlahnya terbatas! Kami tidak bisa meminta petualang peringkat SS dikerahkan hanya berdasarkan kemungkinan!” 

“Tuan Silver pasti akan datang! Jika dia, dia pasti akan menerima permintaan dengan mempertimbangkan keadaan kita. Memang ini berarti kita memanfaatkan kebaikan dan rasa budinya, tapi jika dengan memanfaatkannya rakyat bisa selamat, maka lakukan saja! Faktanya, sekitar setahun yang lalu, dia telah menyelamatkan negara kami! Kalian pun seharusnya tahu hal itu!”


“E-Eva, tenanglah sedikit.” 

“Yang Mulia terlalu memaksakan kehendak. Bagaimanapun, ini adalah urusan negara lain bagi Anda. Kami mohon jangan mencampuri hal ini lebih jauh lagi.” 

Berbicara lebih jauh hanya akan sia-sia. 

Menghadapi Eva yang semakin emosional, sang menteri memotongnya dengan tegas. 

Danio tampak tersinggung mendengar ucapan sang menteri, namun dia tetap bungkam. Tidak, dia memang tidak bisa berkata apa-apa.

Bagaimanapun, dia merasa rendah diri karena hanya menjadi pengganti ayahnya. 

Namun, Eva tidak tinggal diam. 

“Dulu, saat Naga Laut muncul, aku tidak bisa melakukan apa pun selain memohon. Kota hancur, dan banyak orang kehilangan nyawa. Aku yang tidak berdaya hanya bisa memohon bantuan... Semua itu terjadi karena petinggi negara kami salah mengambil keputusan. Kadipaten Rondine dan negaraku memang telah berperang selama bertahun-tahun. Namun, sekarang kita adalah sekutu dekat! Aku tulus berharap agar hal yang sama tidak menimpa kalian! Saat itu, negaraku yang menjadi medan perang! Sebagai orang yang telah melihat negaranya terbakar, aku memperingatkan kalian! Segera hubungi Guild! Demi anak-anak yang berlarian, para wanita yang sedang berbincang, pria yang bekerja keras bermandikan keringat, dan para lansia yang mengawasi semua orang. Demi melindungi rakyat negara ini!” 

Para menteri terperangah melihat sosok Eva yang tidak mundur selangkah pun. 

Melihat Eva yang tampak begitu bertekad hingga memancarkan aura mengerikan, Danio pun melebarkan matanya. 

Ini adalah pertama kalinya dia melihat Eva begitu gigih. 

“Saya pun setuju dengan pendapat Putri Eva.” 

Fine yang sedari tadi mengawasi keadaan, akhirnya berucap dengan tenang. 

Ekspresi para menteri berubah seolah-olah menghadapi orang yang merepotkan, namun wajah Eva seketika cerah. 

Tidak ada bantuan yang lebih bisa diandalkan daripada ini. 

“Nona Fine... ini adalah masalah internal Kadipaten Rondine.” 

“Bawahan pribadi saya telah menemukan alat sihir yang dicuri. Benda itu sudah rusak, dan saya ragu apakah masih bisa berfungsi sebagai alat sihir. Selain itu, pria yang mencurinya juga sudah tertangkap. Kami akan menyerahkannya nanti agar kalian bisa menginterogasinya di lain hari.” 

“Sudah tertangkap!?” 

Danio sontak mengangkat pinggulnya dari singgasana. 

Pihak Kadipaten sendiri bahkan belum mendapatkan informasi apa pun. 

“Pangeran Danio, fakta bahwa alat sihir tersebut telah rusak adalah hal yang jauh lebih penting. Kemungkinan bangkitnya monster yang kuat meningkat drastis. Dalam situasi ini, bukankah seharusnya kita segera memberi tahu Guild?” 

“Itu...” 

“Belum pasti monster itu akan bangkit, jadi sebaiknya kita diskusikan dahulu di sini.”

“Saya sedang bertanya kepada Pangeran Danio.” 

Begitu Fine menyipitkan matanya, sang menteri langsung terbungkam. 

Hanya karena ditatap dengan dingin oleh Fine yang jauh lebih muda dan bisa dibilang masih gadis kecil, menteri itu merasa seperti seekor katak yang dipelototi ular. 

Meski bingung, dia mencoba mengeluarkan suara, namun tidak ada kata yang terucap. 

Fine tidak melakukan sesuatu yang istimewa. 

Dia hanya memantapkan tekad untuk menyanggah dan membungkam kata apa pun yang keluar. 

Para menteri yang telah lama berkecimpung di dunia politik secara naluriah menyadari bahwa mereka tidak boleh menentang Fine. 

Mereka tidak akan menang dalam adu argumen. 

Mereka sadar bahwa kancah pertarungan yang pernah dilewati gadis ini jauh lebih kejam daripada mereka. 

“Yang Mulia, apa keputusan Anda?” 

“A-Aku...” 

Danio tidak tahu harus berkata apa. 

Namun, dia menyadari keberadaan Eva yang menatapnya dengan penuh harap, seolah sedang berdoa. 

Hal itu seketika menghapus keraguan Danio. 

“Aku juga berpikir bahwa kita harus menghubungi Guild...” 

“Kalau begitu, mari kita lakukan. Aku akan menghubungi Guild atas namaku sendiri. Aku mengenal baik Guildmaster dan para petualang peringkat SS. Guild pasti akan menyadari tingkat urgensinya, dan jika namaku yang muncul, mereka akan menganggap ini sebagai permintaanku, bukan permintaan dari Kadipaten Rondine.” 

“T-Tapi, bukankah itu berarti biaya permintaannya akan ditagihkan kepada Anda, Nona Fine...?” 

“Biaya besar hanya diperlukan jika kita menunjuk petualang peringkat SS secara pribadi. Apa yang saya sampaikan hanyalah sebuah peringatan. Jika mereka tetap tidak bergerak setelah menerima peringatan, maka itu akan menjadi masalah pihak Guild. Meski begitu, jika tagihan datang, saya tinggal membayarnya. Tentu saja jumlahnya terlalu mahal jika saya bayar secara pribadi, namun jika alasannya demi rakyat, saya yakin Pangeran Leonard maupun Pangeran Arnold akan bersedia membantu.”

“K-Kalau begitu, segera...” 

“Saya sudah melakukannya. Saya telah mengutus bawahan saya ke Guild atas inisiatif sendiri. Mohon maafkan kelancangan saya.” 

Segalanya berjalan dengan sangat cepat. 

Tidak ada yang berani menyalahkan Fine yang membungkuk hormat dengan anggun. Pasalnya, Fine telah menyatakan bahwa dia akan menanggung segala tanggung jawab. 

“Serikat akan bergerak dengan cara mereka, namun kita juga harus bergerak. Jika kita meneliti catatan kuno, mungkin kita bisa mengetahui sesuatu tentang monster tersebut.” 

Mendengar kata-kata yang mengalir lancar dari bibir Fine, Danio merasa sedikit takut. 

Segalanya berjalan sesuai perhitungan. Dia menyadari bahwa perkembangan situasi ini telah diprediksi oleh Fine. 

“Sejauh mana Anda telah memperkirakan ini...?” 

“Saya tidak memperkirakannya. Saya hanya berpikir agar bisa menghadapi situasi apa pun. Jika saya tidak bisa melakukan setidaknya hal seperti ini... saya tidak akan bisa berguna di kancah perebutan takhta.”

Mereka bertarung di dimensi yang berbeda. 

Danio menyadari hal itu dan melemaskan tubuhnya. 

Perebutan takhta di Kekaisaran yang merupakan negara besar. 

Dia sering mendengarnya, namun ternyata di dalamnya terjadi intrik yang melampaui imajinasinya. 

Sebuah dunia penuh tipu daya yang mengerikan. 

Dan di dalam sana, Fine adalah orang kepercayaan terdekat dari Leonard, salah satu kandidat terakhir. 

Derajat mereka sudah berbeda. Danio hanyalah pangeran dari negara kecil di pinggiran. 

“Aku mengerti... Sekali lagi, aku serahkan semuanya kepada Anda, Nona Fine. Silakan berikan instruksi.” 

Tepat setelah Danio berkata demikian. 

Seorang utusan berlari masuk dengan wajah panik. 

“Lapor! Dari langit timur, ada banyak sekali! Banyak sekali!” 

“Laporkan dengan jelas! Apa yang jumlahnya banyak!?” 

“B-Banyak sekali kelelawar yang terbang menuju ke arah sini!” 

Mendengar laporan itu, semua orang melihat ke luar jendela. 

Untuk sesaat, tidak ada yang bisa memahami maksud dari laporan tersebut. 

Di langit timur hanya terlihat awan mendung. 

Namun, mereka segera menyadarinya. 

Awan mendung itu, semuanya adalah kelelawar.


Bagian 10

Kelelawar yang jumlahnya begitu banyak hingga menutupi langit. 

Tentu saja, itu bukan kelelawar biasa. 

Kemungkinan besar itu adalah monster jenis kelelawar. 

“Nona Fine!” 

“Lynfia-san, apa itu?” 

“Sepertinya itu adalah Wild Hunt.” 

“Wild Hunt?” 

“Nama resmi monster itu adalah Battalion Bat. Monster berbentuk kelelawar dengan karakteristik utama yang terletak pada kawanannya, bukan pada individunya. Tiap-tiap kelelawar tidak memiliki kesadaran sendiri; seluruh kawanan itulah yang bertindak sebagai satu organisme hidup. Lalu, dalam kasus yang sangat jarang terjadi, muncul sebuah kawanan dengan skala yang luar biasa besar. Itulah Wild Hunt. Di dalam catatan Guild pun, keberadaannya baru terkonfirmasi beberapa kali saja.” 

Sebuah monster langka yang bahkan baru ditemui beberapa kali oleh Guild Petualang. 

Jika salah mengambil langkah penanganan, kerusakan yang ditimbulkan akan meluas dalam sekejap. 

“Bagaimana dengan laporan ke Guild?” 

“Sudah saya lakukan.” 

“Kalau begitu, mari kita menuju pelabuhan. Pangeran Danio, bolehkah saya meminjam alat sihir yang rusak itu?” 

“T-Tentu saja boleh, tapi apa yang Anda rencanakan...?” 

“Konon Naga Laut Leviathan menganggap alat sihir yang menyegelnya sebagai ancaman. Ada kemungkinan monster itu pun berpikiran sama. Jika kita tetap menyimpannya di istana, maka tempat ini akan menjadi sasarannya.” 

“Lalu ke mana Anda akan membawanya...?” 

“Ke laut.” 

Ucap Fine sembari menyunggingkan senyum. 

Ada tiga tujuan yang dia incar. 

Pertama, untuk mengalihkan perhatian Wild Hunt kepada mereka sebisa mungkin. 

Kedua, untuk menjauhkan ancaman tersebut dari kawasan penduduk sejauh mungkin. 

Demi sosok yang akan segera tiba nanti.


* * *


Setelah mengamankan alat sihir itu, Fine dan yang lainnya bersiap pindah ke pelabuhan menggunakan kereta kuda. 

“Nona Fine!” seru Eva yang menunggangi kuda sembari memacu langkahnya sejajar dengan kereta yang mulai bergerak. 

“Putri Eva, apakah Anda akan ikut bersama kami?” 

“Tidak... aku akan pergi untuk memimpin evakuasi dan perlindungan rakyat. Aku tidak tahu apakah ini akan berarti banyak... tapi aku tidak bisa membiarkan mereka begitu saja.” 

“Begitu rupanya... Semoga keberuntungan menyertai Anda.” 

“Semoga menyertai Anda juga, Nona Fine.” 

Fine berada dalam posisi yang paling berbahaya. 

Itulah sebabnya Eva melepas kepergiannya dengan rasa hormat yang setinggi-tingginya. 

Namun, tugas Eva pun tidaklah mudah. 

“E-Eva!” 

“Danio? Tetaplah di dalam istana. Di luar berbahaya!” 

“A-Aku juga akan ikut!” 

“Haa...” 

Mengingat sang Duke tengah terkapar, saat ini Danio-lah yang menjadi kepala negara sementara. 

Mengajak diri ke medan tempur bisa dibilang adalah pemikiran yang konyol. 

Namun, Eva pun setali tiga uang. 

Meskipun merupakan negara sekutu, dia tetaplah orang asing yang mencampuri urusan negara lain dan kini hendak menerjang bahaya. 

Keduanya sama-sama keras kepala. 

Karena itulah. 

“Semangat para prajurit pasti akan bangkit jika sang pangeran turun tangan langsung menyelesaikan masalah ini... Kalau kamu tidak bisa mengimbangi langkahku, akan kutinggalkan, ya?” 

“Aku mengerti!” 

Hanya segelintir kesatria yang mendampingi Eva saat dia mulai memacu kudanya. 

Kekuatan tempur mereka memang meragukan.

Namun Eva tetap memantapkan langkah menuju area pemukiman warga. 

“Masuklah ke dalam bangunan!” serunya kepada rakyat yang masih kebingungan dengan situasi yang ada, memerintahkan mereka untuk segera berlindung di dalam ruangan. 

Hanya itu yang bisa dia katakan sekarang. 

Jika dia sembarangan menentukan tempat pengungsian, tidak ada jaminan bahwa tempat itu benar-benar aman. 

“Tenanglah! Bala bantuan dari para petualang akan segera tiba! Sampai saat itu, tetaplah di dalam rumah!” 

Dia berteriak lantang sembari terus memacu kudanya. 

Dia berusaha agar suaranya menjangkau sebanyak mungkin orang. 

Akan tetapi, kemunculan monster yang tiba-tiba membuat orang-orang diselimuti kepanikan. 

Suaranya sulit menembus kebisingan itu. 

Di tengah kekacauan tersebut, Eva merasakan seekor kelelawar terbang menukik ke arah mereka. 

Ukurannya sebesar kepala manusia.

Bergerak sangat cepat bagaikan sebutir peluru. 

Menyadari sasarannya adalah seorang gadis kecil di dekatnya, Eva segera menghunus pedangnya dan berdiri di depan anak itu untuk melindunginya. 

Terjadi suara benturan yang keras. 

Eva terpental dari kudanya dan menghantam dinding rumah warga. 

Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. 

Dia ingin sekali berteriak dan meringkuk menahan pedih. 

Namun Eva tetap memaksakan matanya untuk terbuka. 

Dulu, saat Naga Laut menyerang Kadipaten Albatro. 

Eva tidak bisa melakukan apa pun. 

Dia hanya bisa memohon bantuan dengan putus asa. 

Karena tidak ingin merasakan ketidakberdayaan itu lagi, dia telah berjuang mati-matian selama setahun terakhir. 

Namun, dia hanya menemukan kenyataan bahwa dirinya tidak berbakat dalam pertempuran sihir maupun pedang. 

Seberapa keras pun dia berusaha, dia hanya bisa mencapai tingkat kelas dua. 

Meski begitu, dia terus menumpuk usahanya. 

Sebab dia percaya bahwa meskipun kemampuannya terbatas, dia tetap bisa menjadi sosok yang mampu menolong orang lain. 

“Jangan... meremehkanku!” 

Teriak Eva sembari mengayunkan pedangnya, membelah dua kelelawar yang kembali menerjangnya. 

Dia adalah seorang putri yang tidak berdaya dan tidak berbakat. 

Namun, jika dia hanya meratapi ketidakberdayaannya, maka selamanya dia akan tetap begitu. 

Hari itu, dia telah diperlihatkan perbedaan kasta yang sesungguhnya sebagai seorang bangsawan. 

Demi bisa mengejar bayang-bayang klan Elang Emas yang terpatri jelas di benaknya. 

Eva memantapkan hatinya dan menahan rasa sakit itu. 

“Kamu tidak terluka, ‘kan...? Segera berlindunglah di dalam ruangan.” 

“I-Iya...!” 

Setelah memberikan instruksi kepada gadis itu, dia bangkit berdiri dengan langkah gontai. 

“Eva! Kamu tidak apa-apa!? Ada darah!” 

“Luka seperti ini... hanya goresan saja!” 

Darah merembes di lengannya karena luka sayat kecil. 

Eva menyeka darah itu dan kembali menaiki kudanya. 

Di sekelilingnya masih banyak warga yang mematung. 

Seolah-olah membeku melihat pemandangan yang begitu tidak masuk akal di depan mata mereka. 

Suaranya sendiri tidak akan mampu menggerakkan mereka. 

Menyadari hal itu, Eva mengubah taktiknya. 

“Pangeran Danio akan lewat! Berikan jalan!” 

Seorang pangeran ingin lewat.

Seruan itu membuat perhatian rakyat yang tadi membeku seketika beralih kepada rombongan Eva. 

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Eva kembali berteriak, “Masuklah ke dalam! Pangeran sendiri yang akan menyelesaikan situasi ini! Pokoknya masuklah ke dalam!” 

Dia tidak tahu apakah itu hal yang benar untuk dikatakan. 

Tapi setidaknya berlindung di dalam jauh lebih baik daripada berada di luar. 

Akhirnya suara Eva mulai membuahkan hasil, orang-orang pun mulai bergegas masuk ke dalam rumah. 

Saat satu orang mulai bergerak, orang-orang di sekitarnya pun ikut mengikutinya. 

Rantai evakuasi pun tercipta, membuat Eva bisa mengembuskan napas lega sejenak. 

Namun, awan kelelawar itu sudah mulai mendekati area tembok kota. 

“Ayo kita berikan bantuan!” 

Eva memacu kudanya lebih kencang. 

Demi bisa berguna bagi orang lain, meski hanya sedikit. 

Demi menyelamatkan mereka yang memohon bantuan, sama seperti dirinya di masa lalu.


* * *


“Saya sangat menghargai keberangkatan cepat ini, Kapten.” 

Kaiser Alphons, kapal laut milik Kekaisaran. 

Sebagai kapal paling modern yang menjadi kebanggaan Kekaisaran, para awaknya pun adalah orang-orang terpilih. 

Saat Fine dan yang lainnya tiba di kapal, persiapan keberangkatan sudah selesai. 

“Itu tidak masalah...” 

Kapten kapal yang telah mengatur keberangkatan luar biasa itu memperbaiki letak topinya sambil menatap Wild Hunt yang mulai menutupi langit ibu kota Rondine. 

“Namun, harus saya akui, bahkan untuk kapal ini pun, sulit rasanya menghadapi makhluk itu.” 

“Tenang saja. Tujuan kita hanyalah menarik perhatiannya.” 

Begitu Fine menyelesaikan kalimatnya, Lynfia membuka kain penutup alat sihir yang rusak itu. 

Seketika, pergerakan Wild Hunt terhenti.

Seluruh kawanan itu mengarahkan pandangannya ke arah Kaiser Alphons. 

“Mereka menyadarinya! Maju dengan kecepatan penuh!” 

Semua orang di atas kapal Alphons segera mengambil posisi siaga tempur. Wild Hunt yang semula menyebar bagaikan awan kini membentuk sosok kelelawar raksasa dan terbang melesat ke arah mereka. 

Sang kapten mengerang melihat pemandangan itu. 

“Itu lebih mirip seperti naga daripada kelelawar!” 

Mereka tahu itu adalah sebuah kawanan. 

Mereka juga tahu setiap individu di dalamnya berukuran kecil. 

Namun, ukuran kawanan kelelawar itu kini melampaui ukuran Naga Laut Leviathan. 

Meskipun Alphons berusaha kabur dengan kecepatan penuh, jarak di antara mereka terus menyusut. 

“Nona Fine, tolong masuk ke dalam kapal.” 

Sebas meminta Fine yang berdiri di tengah geladak untuk segera berlindung ke dalam. 

Namun, Fine tidak bergeming sedikit pun. 

“Aku berada di sini sebagai Duta Besar Kekaisaran. Akulah yang menggiring situasi menjadi seperti ini. Aku memiliki kewajiban untuk menyaksikannya sampai akhir.” 

“Tapi...” 

“Semua akan baik-baik saja.” 

Di tangan Fine, telah tergenggam Jimat Resonansi yang sudah sobek. 

Situasi ini pasti telah sampai kepada Arnold. 

Namun, dia tidak tahu apakah Arnold bisa segera datang. 

Arnold pun punya urusannya sendiri. Jika dia tidak bisa meloloskan diri, dia tidak akan bisa bergerak sebagai Silver. 

Tidak ada jaminan dia akan segera tiba. 

Meski begitu. 

“Beliau adalah orang yang sangat memegang janjinya. Jika beliau bilang akan datang, beliau pasti akan datang, mengesampingkan segalanya. Itulah yang selalu membuatnya kesulitan... Setidaknya, aku harus percaya dan menunggunya agar usahanya tidak sia-sia, bukan?” 

Di tengah hiruk-pikuk di atas geladak, Fine bergumam dengan suara yang begitu pelan hingga hanya Sebas yang bisa mendengarnya. 

Kepercayaan yang diselimuti sedikit kepasrahan. 

Merasakan hal itu dari Fine, Sebas pun menyarungkan kembali pisau yang telah dikeluarkannya. 

“Anda benar.” 

Wild Hunt semakin mendekat. 

Ketegangan menyelimuti seluruh kapal. 

Namun, sebuah gerbang tiba-tiba muncul di atas kapal, dan dari sana terulur sebuah lengan. Para awak kapal tampak terkejut, namun peluru sihir yang ditembakkan dari lengan itu berhasil mencerai-beraikan Wild Hunt. 

“Silver, petualang peringkat SS... berafiliasi dengan Guild Petualang Cabang Ibu Kota Kekaisaran. Targetnya adalah makhluk itu, bukan?” 

Petualang bertopeng perak muncul dari gerbang teleportasi. 

Petualang terkuat dalam sejarah Kekaisaran. 

Sosok luar biasa yang tidak tertandingi. 

Namun, Fine sama sekali tidak terlihat terkejut melihat sosoknya. 

Pasalnya, jika dia bilang akan datang, maka dia pasti akan datang. 

“Ya, tolong atasi masalah ini.” 

Menerima kata-kata yang dilandasi kepercayaan itu, Silver melayang naik dengan penuh semangat. 

“Baiklah.” 

Dengan senyum menyeringai di balik topengnya.


Bagian 11

Syukurlah. 

Aku benar-benar merasa lega saat memandangi kawanan kelelawar raksasa itu. 

Saat ini aku sedang berada dalam masa menunggu para pendukung berkumpul setelah Ibu Kota dikuasai, jadi aku bisa menyendiri tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun. 

Sebab jika aku mengatakan sedang ingin menyusun rencana, tidak akan ada seorang pun yang berani masuk ke kamarku. 

Aku juga sudah memasang penghalang di dalam ruangan itu. 

Rahasiaku tidak akan mungkin terbongkar. 

Mungkin situasinya akan menjadi sulit jika hal ini terjadi di tengah-tengah pertempuran. 

Saat aku melirik ke belakang, kulihat semua orang di atas kapal, termasuk Fine, berada dalam keadaan selamat. 

Artinya, aku datang tepat waktu. 

“Meski begitu.” 

Hatiku sempat mencelos saat Jimat Resonansi itu robek. 

Biarlah kawanan kelelawar ini yang membayar rasa cemas yang sempat kurasakan tadi. 

“Sudah lama aku tidak beraksi. Kurasa mereka cocok menjadi lawan untuk pemanasan.” 

Monster jenis kelelawar yang bergerak dalam kawanan. 

Ini pasti Battalion Bat, tapi ukuran kawanan ini sungguh tidak wajar. 

Mungkinkah ini yang disebut Wild Hunt dalam desas-desus itu? 

Meskipun sempat terpencar karena serangan pertamaku, kelelawar-kelelawar itu segera menyatu kembali membentuk wujud kelelawar raksasa. 

Kemudian seluruh kawanan itu menerjang ke arahku. 

Aku membentangkan penghalang untuk melindungi seluruh kapal Alphons di belakangku, mengambil langkah pertahanan. 

Aku bisa saja menyerang, tapi butuh waktu lama untuk menghabisi jumlah sebanyak ini, bahkan bagiku sekalipun. 

Tidak ada gunanya aku datang kemari jika kapal Alphons sampai menderita kerusakan. 

Awalnya, terjangan kelelawar-kelelawar itu hanyalah serudukan fisik biasa. 

Namun, seolah mulai menyadari kekerasan penghalangku, mereka mengubah cara dan mulai merangsek sambil menyelimuti seluruh tubuh dengan sihir. 

Saat mereka menyadari penghalangku masih tidak tergoyahkan, sebagian dari kawanan itu mulai menabrakkan diri ke satu titik di penghalang. 

Terjangan kali ini bukan sekadar tubrukan biasa. 

Itu adalah serangan bunuh diri. 

Mereka mengerahkan seluruh kekuatan sihir ke dalam satu terjangan lalu meledakkan diri. 

Hal itu terus berlanjut hingga puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali. 

Tindakan yang hanya bisa dilakukan oleh kawanan tanpa ego individu. 

Terjangan yang mempertaruhkan nyawa. 

Jangan remehkan mereka meski hanya kelelawar. 

Serangan itu jauh lebih kuat daripada pukulan penyihir amatir. 

Kenyataannya, mulai muncul retakan di penghalangku. 

Bukan hal mudah untuk bisa membuat penghalangku retak. 

Aku bisa saja menambah lapisan penghalang untuk mempertebal pertahanan, tapi itu tidak akan ada habisnya. 

“Soal jumlah serangan, aku pun punya trik tersendiri.” 

Aku membentangkan ribuan peluru sihir dan melepaskannya ke arah kelelawar-kelelawar itu. 

Namun, kawanan kelelawar itu mencerai-beraikan diri dalam sekejap untuk menghindari peluru sihirku. 

Ada beberapa yang berhasil kuhabisi, tapi jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan keseluruhan kawanan. 

Yang lebih merepotkan lagi, kelelawar-kelelawar itu mulai menggetarkan tubuh di depan mataku. 

Lalu. 

“Replikasi mandiri, ya...” 

Satu ekor membelah menjadi dua, membuat jumlah mereka bertambah dua kali lipat dengan cepat. 

Jumlah mereka yang sempat berkurang karena serangan bunuh diri dan seranganku, kini justru bertambah lebih banyak dari semula. 

Pantas saja mereka bisa melakukan serangan bunuh diri secara membabi buta. 

Serangan menabrak dimulai kembali, dan aku terpaksa membentangkan penghalang lagi untuk menahannya. 

Lapisan pertama hancur, kupasang lapisan kedua. 

Lapisan kedua nyaris pecah, kupasang lapisan ketiga. 

Namun, kecepatan hancurnya penghalang ini terus meningkat. 

Siapa pun yang melihat pasti akan menganggapku sedang terdesak. 

Karena merasa sedikit penasaran, aku melirik ke belakang. Fine masih berdiri di geladak kapal Alphons seperti sebelumnya. 

Tidak ada gurat kecemasan di wajahnya. 

Dia hanya menatapku dengan lekat. 

“Aku harus menjawab kepercayaan itu,” ucapku sambil menjentikkan jari. 

Seketika, penghalang yang kupasang berbalik arah, memerangkapku dan kawanan kelelawar itu ke dalam sebuah sangkar. 

“Jika kalian bisa membelah diri, maka aku hanya perlu melenyapkan kalian hingga tidak bersisa satu ekor pun.” 

Kupasang penghalang tiga lapis agar tidak ada satu pun yang bisa meloloskan diri. 

Kawanan kelelawar yang terkurung itu menyerbuku, namun sebelum mereka mencapaiku, aku sudah merapalkan mantra. 

“Akulah sang Perampas. 

“Yang merampas kehitaman dari dasar neraka. 

“Hitam itu lebih kelam dari kegelapan. 

“Hitam itu lebih pekat dari malam. 

“Kegelapan awal penciptaan. 

“Kegelapan mutlak di akhir segalanya. 

“Segala hal lahir dari hitam itu.

“Dan segala hal akan kembali padanya.

“Infinity Darkness.” 

Sebuah bola hitam raksasa muncul di atas kepalaku. 

Gumpalan hitam yang melenyapkan segalanya. 

Bersama dengan penghalangnya, Wild Hunt pun lenyap tidak bersisa. 

Setelah memastikan tidak ada musuh yang tersisa di sekitar, aku membuka gerbang teleportasi dengan tenang. 

Orang-orang di Rondine pasti bertanya-tanya mengapa Silver ada di sini, tapi seberapa banyak pun aku memberi alasan, keraguan mereka tidak akan hilang. 

Jadi, percuma saja menjelaskan sekarang. 

Aku bisa memberikan penjelasan kepada Guild Petualang nanti. 

Katakan saja aku sedang menjalankan tugas mengawal Fine atas permintaan Arnold. Jika kubilang Arnold sudah memesan jasa pengawalan lebih awal sebagai pelajaran dari insiden naga laut, alasannya akan terasa masuk akal. 

Kebanyakan orang akan menerimanya, dan Clyde yang mengetahui identitas asliku pasti akan membantu mengaturnya dengan baik. 

Aku melangkah masuk ke gerbang teleportasi untuk kembali ke Kadipaten Albatro. 

Demi menghadapi lawan yang sesungguhnya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close