NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Seijitsu Sugiru Shounen no Tsuihou-saki ga, Otokogiraina Bishoujo Shika Inai Saikyou Butaidattara? V1 Chapter 1

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 1

Pasukan Garis Depan Militer Kekaisaran Luvankrum

Beberapa hari kemudian.


Aku duduk diam di dalam kereta kuda yang menuju garis depan.


Seiring suara roda kereta yang berguncang, muncul perasaan seolah-olah aku sedang dibawa menuju tempat eksekusi.


"Pasukan garis depan terkuat militer Kekaisaran Luvankrum... orang-orang seperti apa ya mereka itu?"


Bagaimanapun juga, mereka biasanya berada di garis depan.


Tempat yang tidak mungkin bisa didatangi oleh murid pelatihan, apalagi rakyat jelata sepertiku.


Karena itu, aku hampir tidak tahu apa-apa tentang mereka. Yang kutahu hanya bahwa mereka adalah orang-orang terkuat di negeri ini.


Bahwa semuanya wanita. Dan juga, seperti yang dikatakan atasanku tempo hari, mereka membenci pria.


"...Membenci pria, ya."


Kalau mereka memang membenci pria, maka aku yang seorang pria hampir pasti akan diperlakukan dingin.


Kalau begitu, bahkan jika aku berada dalam bahaya, mungkin mereka tidak akan repot-repot mengorbankan tenaga untuk menyelamatkanku.


Dan lagi, ucapan atasanku itu didasarkan pada pertarunganku selama ini, di mana aku selalu menahan diri karena takut tanpa sengaja merenggut nyawa lawan──


"Dari semua pertarungan antar manusia yang kulihat darimu sejauh ini, mungkin akan sulit bagimu untuk bertahan hidup di garis depan yang dipenuhi musuh tanpa henti."


Seperti yang dikatakan atasan itu.


Aku tidak tahu sejauh mana kekuatanku bisa berguna di garis depan, tapi bahkan jika aku bertarung serius sekalipun, aku tidak yakin bisa bertarung setara melawan tentara negara musuh.


Dengan kata lain──


"Menjadi lebih kuat dari siapa pun dan melindungi negeri ini... mimpi yang samar, tapi sudah kujaga dengan sangat berharga selama lima belas tahun ini... apa semuanya akan berakhir di sini...?"


Kalau begitu, setidaknya. Meski aku tak bisa membayangkan seberapa buruk perlakuan yang akan kuterima di tempat tujuan nanti.


Paling tidak, aku akan bangga karena secara resmi aku bisa gugur sebagai anggota sementara pasukan terkuat negeri ini.


Tepat ketika aku memantapkan tekad itu, kereta kuda berhenti.


Katanya markas garis depan berada sedikit lebih jauh dari sini jika berlari.


"...Ayo."


Begitu turun dari kereta, aku langsung berlari menuju tempat markas garis depan berada.


Saat aku menikmati sensasi membelah angin yang entah masih bisa kurasakan berapa kali lagi dalam hidupku.


Tak lama kemudian, aku tiba di depan sebuah bangunan mirip menara yang tampaknya adalah markas garis depan.


Lalu──


"Hm?"


Wanita berambut merah cerah yang berada di sana tampaknya menyadari kehadiranku.


Dengan ekspresi penasaran, dia menoleh ke arahku.


Orang yang sangat cantik. Namun untuk wanita ini, mungkin kata anggun lebih cocok daripada cantik.


Wanita anggun itu mengenakan seragam militer Kekaisaran Luvankrum yang sama denganku.


Dan sepertinya dia memakai versi rok mini dari seragam tersebut.


"Ada apa? Jangan-jangan kau tersesat?"


Sambil berkata begitu, wanita berambut merah itu mendekatiku dengan ekspresi ramah.


Dilihat dari fakta bahwa dia mengenakan seragam militer yang sama denganku dan berada di tempat ini, tak mungkin salah lagi.


Wanita ini adalah salah satu anggota pasukan garis depan terkuat militer Kekaisaran Luvankrum.


"Tapi kurasa ini bukan tempat yang bisa didatangi orang karena tersesat sih~"


...Karena mereka adalah orang-orang yang terus bertarung di garis depan, medan maut itu, aku membayangkan mereka akan memiliki suasana yang jauh lebih tegas.


Namun wanita ini justru kebalikan dari bayanganku.


Dia memiliki suasana yang sangat ceria dan anggun.


"..."


Aku sama sekali tidak menyangka ada orang seperti ini di garis depan.


Karena itu aku sempat kehilangan kata-kata... lalu ketika hendak membuka mulut lagi.


Karena lawan bicaraku berbicara santai, aku hampir ikut melonggarkan cara bicaraku.


Namun karena sedang bertugas militer, aku kembali menegakkan sikap dan berkata.


"Aku tidak tersesat. Entah pemberitahuannya sudah sampai atau belum, tapi aku adalah murid pelatihan Finn Teraword yang mulai hari ini ditugaskan sementara ke pasukan garis depan ini."


"Eh...? Ah, memang aku dengar kalau mulai hari ini akan ada murid pelatihan yang datang untuk penugasan sementara... tapi... itu kau?"


"Ya.”


Begitu aku mengangguk menjawab, wanita berambut merah itu membelalakkan mata seolah terkejut.


Tadi dia mengira aku tersesat dan memperlakukanku dengan ramah.


Namun bagi dirinya yang membenci pria, fakta bahwa seorang pria sepertiku akan bergabung ke unit ini meski hanya sementara seharusnya mengubah banyak hal.


Tak aneh jika kepalanya kini dipenuhi penolakan dan rasa jijik terhadapku, bahkan mungkin ingin langsung memakiku saat ini juga.


Namun, aku sudah datang ke tempat ini dengan kesiapan menghadapi semua itu.


Saat aku berpikir demikian.


Wanita di depanku berbicara dengan suara begitu tinggi dan cepat hingga sulit ditangkap.


"Jadi yang dibicarakan itu ternyata cowok...! Dan lagi, cowok super tampan...! Bohong...! Eh!? Jadi mulai hari ini aku bisa tinggal bersama anak ini!? Serius!? ...Kalau diperhatikan baik-baik, dia memang pakai seragam militer Kekaisaran Luvankrum! Berarti ini benar-benar nyata!?"


"A-anu, ada apa den──"


Karena tiba-tiba tingkahnya berubah aneh, aku mencoba memperhatikan reaksinya.


Lalu saat itu.


"Eh...!?"


Aku melihat medali di dada wanita itu dan tanpa sadar menghentikan perkataanku.


Tadi karena jaraknya cukup jauh dan aku fokus pada percakapan, aku tidak menyadarinya.


Medali itu adalah Medali Luvankrum, simbol yang menandakan pemiliknya merupakan salah satu kekuatan tempur tertinggi militer Kekaisaran Luvankrum, dan jumlahnya hanya ada empat di dunia ini.


Artinya, wanita ini bukan sekadar salah satu anggota pasukan garis depan terkuat militer Kekaisaran Luvankrum...


Melainkan salah satu pemimpin pasukan garis depan itu──salah satu orang yang memiliki kekuatan terhebat di negeri ini.


"...Hei."


Saat aku memperbarui pemahamanku tentang wanita berambut merah di depanku.


Wanita itu memanggilku.


Entah kenapa pipinya tampak memerah.


"Ya, ada apa?"


Aku menjawab dengan sedikit gugup, lalu wanita itu berkata dengan suara manis.


"Dari tadi kau terus melihat dadaku, dan karena Finn-kun juga laki-laki... apa kau memang suka payudara atau semacamnya?"


"Eh...? Eehh...!?"


Dalam tugas militer, menyembunyikan emosi adalah hal paling dasar.


Karena itu, bahkan saat diputuskan dikirim ke garis depan, medan maut, dengan alasan yang terasa tidak masuk akal, aku tidak pernah meninggikan suara.


Tapi──


"Ti-tidak! Bukan itu! Aku bukan melihat dadamu, aku sedang melihat medali yang ada di dadamu!"


Aku sama sekali tidak menyangka akan ditanya apakah suka dada wanita oleh salah satu pemilik gelar terkuat di negeri ini.


Karena panik, aku buru-buru memalingkan pandangan dan menyangkalnya.


Wanita itu lalu berkata dengan terkejut.


"A-ah, medalinya? Jadi bukan melihat dadaku?"


"T-tentu saja tidak...! Sedang bertugas militer begini, mana mungkin aku melakukan hal seperti itu..."


Sebenarnya aku memang tidak benar-benar melihat dadanya. Namun aku tiba-tiba merasa sangat malu dan wajahku mulai memanas.


"Be-begitu ya. Umm, maaf ya? Tiba-tiba aku malah bicara soal dada segala."


"Ti-tidak apa-apa..."


Walaupun memang yang kulihat adalah medalinya, mengingat letak medalinya berada di sana, mungkin memang aku seharusnya lebih berhati-hati.


"Maaf karena aku terlalu lama menatapnya..."


"........"


Begitu aku meminta maaf, wanita berambut merah itu mencondongkan wajahnya dan mengintip ekspresiku.


"A-ada apa...?"


"Bukan apa-apa. Aku cuma berpikir, padahal Finn-kun tidak salah apa-apa, tapi kau tetap meminta maaf."


"Meski tidak disengaja, kalau aku membuat orang lain tidak nyaman, bukankah wajar untuk meminta maaf?"


"Anak laki-laki yang bisa meminta maaf dengan jujur bukan demi melindungi dirinya sendiri itu langka, tahu? Bukan cuma secara umum, terutama di militer. Bahkan bukan sekadar langka... ini pertama kalinya aku bertemu cowok seperti dirimu yang tidak membuatku merasa tidak nyaman meski diajak bicara selama ini!"


"Te-terima kasih... kalau begitu, apakah alasan orang-orang di unit ini membenci pria juga karena hal seperti itu?"


"Eh...? Membenci pria...?"


"Ah...!"


Ga-gawat...! Aku hanya penasaran mengikuti alur pembicaraan lalu menanyakannya, tapi membahas alasan seseorang membenci lawan jenis...


Dan lagi saat baru pertama kali bertemu, jelas itu sangat tidak sopan.


"M-maaf! Sebenarnya aku sedikit mendengar soal itu dari atasanku... maafkan aku! Tolong lupakan saja!"


Aku menundukkan kepala, menyesali karena terlalu terbawa suasana dan kecemasanku sendiri. Namun wanita berambut merah itu tetap berbicara seperti biasa.


"Oh, aku memang pernah dengar ada rumor seperti itu beredar di militer... tapi itu salah paham."


"Salah paham...?"


Saat aku mengangkat kepalaku kembali dan bertanya, wanita berambut merah itu mengangguk.


"Yang kami benci itu pria-pria seperti yang tadi kubilang, bukan berarti kami otomatis membenci semua pria hanya karena mereka laki-laki. Yah, karena selama ini kami cuma bertemu pria-pria seperti itu, jadi wajar kalau rumor kalau kami membenci pria jadi menyebar."


"Be-benarkah? Kalau begitu, misalnya kalian tidak akan sengaja melemparkanku ke tempat berbahaya atau──"


"Mana mungkin kami melakukan hal seperti itu! Malah kalau cowoknya jujur dan imut seperti Finn-kun, kami bakal menyambutmu dengan senang hati!"


"Me-menyambut...?"


Saat mendengar itu, seluruh tenagaku seolah langsung lepas dan aku jatuh berlutut.


"Eh!? Tu-tunggu, kau tidak apa-apa!?"


"M-maaf... walaupun aku masih murid pelatihan, aku tetap seorang tentara, jadi aku sudah siap mati. Tapi setelah berusaha mati-matian sejauh ini, kalau akhirnya aku ditinggalkan mati oleh rekan sendiri... rasanya tetap menyedihkan... jadi saat tahu itu mungkin tidak akan terjadi, tanpa sadar aku..."


"...Jadi kau menanggung beban sebesar itu ya."


Dengan suara lembut, wanita berambut merah itu mengelus kepalaku.


"Tenang saja. Selama aku, Elena Endyheart, ada di sini, aku pasti akan melindungi Finn-kun."


"..."


Kata-kata Elena-san membuatku sangat senang.


Benar-benar menyentuh hatiku.


Aku bahkan merasa seperti diselamatkan.


Tapi...


Aku perlahan berdiri sambil berkata.


"Terima kasih atas perhatian Anda. Dan mulai sekarang saya rasa saya akan banyak merepotkan Anda. Tapi suatu hari nanti... suatu hari nanti, aku akan menjadi cukup kuat untuk melindungi Elena-san."


Elena-san membelalakkan matanya karena terkejut, lalu tersenyum kecil dengan ekspresi bahagia.


"Ini juga pertama kalinya ada yang mengatakan itu padaku. Mulai sekarang, senang bekerja sama denganmu ya, Finn-kun!"


"Ya...! Senang bekerja sama dengan Anda!"


Rasanya seperti bohong kalau beberapa saat lalu aku sempat putus asa dan siap menghadapi kematian.


Sekarang, aku justru sangat menantikan kehidupan baruku bersama Elena-san.


◆ ◇ ◆


Saat Finn tiba di markas pasukan garis depan.


Di ruang rapat markas besar militer Kekaisaran Luvankrum.


Petinggi militer. Tepatnya, tiga jenderal dari kalangan bangsawan tingkat tinggi dan seorang bangsawan pria yang memberikan dana besar kepada militer Kekaisaran Luvankrum sedang berbicara bersama.


Walaupun disebut empat orang.


Salah satu dari mereka, wanita berambut ungu dengan kecantikan luar biasa yang terasa tidak cocok berada di tempat itu, hanya berbicara seperlunya saja karena kemampuan dan statusnya sebagai putri Duke membuatnya bisa duduk di jajaran petinggi sejak usia muda.


Karena itu, pada dasarnya percakapan berjalan di antara tiga orang lainnya.


Di sana juga ada Deandre, atasan Finn yang beberapa hari lalu memberitahunya soal penugasan ke garis depan.


Dia membuka mulut dan berkata.


"──Kurasa murid pelatihan itu, Finn Teraword, sekarang sudah tiba di markas garis depan."


Mendengar itu, pria bertubuh gemuk yang menjabat posisi birokrasi mengangguk.


"Benar. Saat ini kira-kira dia sedang diperlakukan seperti apa oleh pasukan terkuat militer Kekaisaran Luvankrum, para wanita yang juga terkenal membenci pria itu... ah, sungguh membuat khawatir."


Meski berkata khawatir, nada suaranya justru terdengar seperti sedang menikmati hiburan.


Lalu pria berpakaian mewah dengan sedikit janggut di dagunya, bangsawan yang memberikan dana besar kepada militer ini, membuka mulut.


"Para anggota pasukan garis depan itu katanya bukan hanya membenci rakyat jelata, tapi juga pria bangsawan seperti kita, bukan? Dan kudengar mereka bukan hanya kuat, tapi juga memiliki kecantikan luar biasa."


Setelah berkata begitu, pria berpakaian mewah itu mengarahkan pandangannya pada wanita berambut ungu.


"Aku belum pernah melihat wanita secantik dirinya, tapi apakah para wanita itu setingkat dengannya?"


"Benar. Para wanita di garis depan itu dan wanita yang ada di sana memiliki tiga kesamaan. Mereka memiliki kekuatan dan kecantikan luar biasa, serta sama sekali tidak tertarik pada pria."


"Betapa sia-sianya..."


"Benar sekali."


"Namun justru karena mereka seperti itulah, mereka pasti akan membuat Teraword yang seorang pria dan rakyat jelata itu mati dengan sangat kejam... sekalipun dia berbakat, dia tetap hanya murid pelatihan. Teraword tidak akan mampu berbuat apa-apa."


"Dengan kata lain, kekurangan kemampuan saat bertarung sendirian... bisa dibilang itu hukuman karena rakyat jelata sepertinya berani bermimpi terlalu tinggi."


Mendengar kata-kata itu, tiga pria di ruangan tersebut tak mampu lagi menahan tawa mengejek mereka.


Tak mungkin mereka mendapat hukuman karena menertawakan kematiannya di sini.


Bagaimanapun juga, dia akan ditinggalkan mati oleh para wanita pasukan garis depan.


Dia akan kalah melawan pasukan musuh karena kekurangan kemampuan dan mati sendirian.


Tak mungkin dia malah disambut hangat oleh pasukan garis depan dan berhasil bertahan hidup──karena itulah mereka tertawa sepuasnya.


"........"


Wanita berambut ungu itu memandangi para pria tersebut dengan tenang.


Dan dengan tatapan yang dingin──


◆ ◇ ◆


Saat aku sedang memikirkan masa depanku dengan penuh harapan. 


Elena-san berkata dengan ceria.


"Karena perkenalannya sudah selesai, sekarang kita harus segera mengenalkan Finn-kun ke anak-anak yang lain juga!"


"Orang lain... maksudnya..."


"Tentu saja anggota pasukan garis depan selain aku. Sekarang mereka mungkin sedang latihan di hutan dekat sini."


"Orang-orang pasukan garis depan selain Elena-san..."


Elena-san yang ada di depanku sekarang memang menerima keberadaanku dengan baik. Tapi aku tidak tahu bagaimana dengan yang lain.


Kalau mereka selama ini hidup hanya bersama sesama wanita, mungkin ada yang merasa lebih baik tetap seperti itu.


Dan mungkin juga ada yang tidak menyukaiku hanya karena aku laki-laki.


"Kalau mereka tidak menerimamu, atau malah menganggapmu merepotkan... itu yang kau khawatirkan?"


"...iya."


Saat aku mengangguk jujur, Elena-san tersenyum cerah.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal seperti itu! Semua orang di sini baik, jadi mereka pasti juga akan menerima Finn-kun yang baik hati!"


Lalu dia melanjutkan.


"Dan kalaupun yang lain tidak menerimamu... Finn-kun masih punya aku."


"Elena-san...?"


"Iya. Walaupun kita baru bicara sebentar, aku sudah bisa tahu kalau Finn-kun benar-benar anak baik, berbeda dari pria-pria yang pernah kutemui selama ini... jadi aku tidak akan membiarkan Finn-kun sendirian."


"Elena-san..."


Betapa baiknya orang ini. Padahal kami baru saja bertemu, tapi dia mau mengatakan sejauh itu untukku.


...Kalau begitu, aku juga.


Mendengar kata-kata Elena-san, aku tidak bisa terus murung seperti sebelumnya.


"Terima kasih banyak, Elena-san... ayo kita temui semuanya."


"Yup! Karena tempatnya dekat, kita jalan kaki saja ya!"


Karena itu, kami meninggalkan depan menara yang menjadi markas garis depan.


Lalu aku dan Elena-san berjalan bersama menuju hutan yang terlihat tak jauh dari sana.


Begitu masuk ke dalam hutan, aku bisa merasakan aura sihir terpancar dari berbagai tempat.


"...Hebat. Tidak ada kebocoran mana sama sekali."


Aku tanpa sadar mengucapkan kekaguman.


Di sekolah sihir maupun latihan para murid pelatihan, saat menggunakan sihir pasti selalu ada sedikit kebocoran mana sehingga mana tersebar keluar.


Namun orang-orang di sini berbeda.


Artinya, mereka hampir bisa mengendalikan mana dengan sempurna.


"Itu pengamatan yang bagus sekali, Finn-kun!"


"Te-terima kasih!"


Selama ini aku hampir tidak pernah dipuji di militer, jadi dipuji bahkan untuk hal kecil seperti ini terasa sangat menyenangkan.


"Oh iya...! Finn-kun, aku ingin membuatnya terasa seperti kejutan, jadi bisakah kau menyembunyikan kehadiranmu dan bersembunyi di balik pohon itu?"


"Eh...? Kejutan...? Maksudnya──"


"Sudah sudah! Anggap saja ini latihan untuk menyembunyikan keberadaanmu!"


Latihan...!


"Mengerti!"


Begitu mendengar itu, aku langsung mengubah fokus pikiranku dan bergerak ke balik pohon yang ditunjuk.


Aku membayangkan tempat ini sebagai medan perang sungguhan, dan kalau keberadaanku ketahuan maka nyawaku akan melayang, lalu mulai menyembunyikan kehadiranku.


Menyembunyikan kehadiran berarti.


Menahan mana yang biasanya tanpa sadar keluar dari tubuh, menahan napas, dan menghentikan seluruh gerakan tubuh sepenuhnya.


"..."


Saat mengintip, Elena-san tampak terkejut sesaat sambil menatap ke arahku.


Namun dia segera tersenyum lalu menghadap ke depan.


"Semuanyaa~! Latihannya berhenti dulu~! Kumpul ke sini sebentar!!"


Dia berseru dengan suara keras hingga menggema ke seluruh hutan. Lalu aura mana yang tadi terasa menghilang, dan kehadiran banyak orang mulai mendekat ke arah kami.


"Elena-senpai, ada apa?"


"Jangan-jangan Elena-senpai mau memberi kami makanan manis karena sudah latihan keras!?"


"Aku maunya buah!"


"Aku mau kue cokelat!"


"Kalau memang sudah dibeli, bukannya sekarang minta juga sudah terlambat?"


"Yang benar ajaaa...!"


"Kue cokelatku..."


Banyak wanita berkumpul di sekitar Elena-san. Dan itu bukan cuma empat atau lima orang, tapi puluhan orang sekaligus.


Malah, Elena-san memang begitu, tapi orang-orang lain juga tampak sangat ceria dan cantik sampai sulit dipercaya mereka bertarung di garis depan yang disebut medan maut.


"Oke oke! Buah dan kuenya nanti kubelikan lain waktu, jadi lupakan dulu itu!"


Elena-san menepukkan kedua tangannya hingga terdengar bunyi kering "pak!" di tempat itu.


"Lagi pula, hari ini ada kejutan super besar buat kalian~!"


"Kejutan...?"


Para anggota pasukan tampak bingung tidak mengerti maksudnya.


Malah Elena-san...! Kalau kamu bilang "super besar" begini, aku jadi makin susah keluar, jadi tolong jangan tambah apa-apa lagi...!


Namun harapanku sia-sia, Elena-san malah berkata dengan semangat.


"Betul! Menurut kalian, apa yang selama ini kurang dari pasukan garis depan militer Kekaisaran Luvankrum ini?"


"Makanan manis!"


"Waktu tidur!"


"Jalan-jalan!"


"He-hei! Kalau disebut berurutan begitu jadi terdengar seperti lingkungan pasukan kita buruk dong! Kita tetap tidur dan punya waktu bebas kok, dan soal makanan manis itu karena kita semua terlalu suka sampai makan banyak! Kalau jalan-jalan... memang benar kita hampir tidak pernah bisa meninggalkan garis depan, tapi itu bakal kita perbaiki mulai sekarang!"


Setelah merangkum semuanya, Elena-san melanjutkan.


"Yang kurang dari kita selama ini adalah interaksi dengan anak laki-laki!"


"Anak laki-laki... maksudnya pria-pria di militer itu!?"


"Eh, tidak mungkin..."


"Menjijikkan banget..."


"Pria itu makhluk yang sombong, tidak punya kemampuan tapi kebanggaannya tinggi, malas, dan seolah cuma dipenuhi niat mesum, tahu?"


"Kita tidak butuh yang begitu. Lebih baik tetap seperti biasa, hanya kita saja──"


Mungkin karena Elena-san sangat dihormati di unit ini.


Tak ada yang terang-terangan mengkritiknya, tapi...


Suasana yang tadi ceria langsung berubah agak tegang hanya karena kata "pria" disebutkan.


Seperti dugaanku, keberadaanku di unit ini benar-benar akan merepotkan mereka──


"Kalau!"


Dengan suara cerah seolah mengusir suasana buruk itu, Elena-san berkata.


"Kalau ada anak laki-laki yang baik hati, serius, keren... atau mungkin imut? Itu tergantung cara melihatnya sih, tapi pokoknya jujur, tidak punya harga diri aneh, dan baik hati, bagaimana? Bukankah kalian ingin dia datang ke unit ini?"


"Kalau memang ada pria seperti itu, semangat kami pasti naik lebih dari sebelumnya..."


"Aku belum pernah bertemu pria seperti itu!"


"Malah menurutku pria seperti itu pasti tidak ada!"


Mendengar itu, Elena-san mengangguk berkali-kali.


"Aku paham banget perasaan kalian! Aku juga belum pernah bertemu pria seperti itu kok... sampai hari ini."


"...Sampai hari ini?"


Saat mereka balik bertanya, Elena-san menyeringai kecil.


"Keluar sini!"


Dia menoleh ke arahku dan berkata dengan suara cerah.


Karena tadi aku dipuji setinggi itu di depan semua orang, rasanya jadi sedikit susah untuk keluar...


Tapi setelah sampai sejauh ini, aku tak punya pilihan selain maju.


Aku perlahan keluar dari balik pohon. Lalu berdiri di samping Elena-san dan berhadapan dengan para anggota pasukan.


Wajah-wajah cantik mereka dan aroma manis yang samar membuatku hampir gugup.


Namun aku mengusir rasa gugup itu dan memaksakan suaraku keluar.


"Mulai hari ini, aku adalah murid pelatihan Finn Teraword yang ditugaskan sementara ke pasukan garis depan militer Kekaisaran Luvankrum! Aku akan berusaha sekuat tenaga agar bisa segera menyusul kemampuan kalian semua, jadi mulai sekarang mohon bantuannya...!"


Setelah selesai bicara dengan gugup, aku menundukkan kepala.


Aku sudah menyampaikan perasaanku saat ini.


Kalau setelah ini mereka tetap tidak menerimaku, maka akulah yang harus menerima kenyataan itu.


"......."


Untuk beberapa saat, keheningan menguasai tempat itu.


Sambil dipenuhi kecemasan besar, aku perlahan mengangkat kepalaku.


Lalu──


"Eh... imut banget!"


"Bohong...! Dia punya aura selembut itu tapi ternyata laki-laki!?"


"Dia laki-laki katanya...! Tatapan matanya juga keren...!"


"Dia benar-benar berbeda dari pria-pria yang pernah kutemui... imut..."


Semua orang mulai berbicara bersamaan. Namun karena suasananya terasa seperti obrolan antar wanita.


Aku jadi tidak tahu harus bereaksi bagaimana.


Dan akhirnya hanya bisa berdiri terpaku di tempat.


"A-anu, umm…”


Baik saat menjalani kehidupan di sekolah sihir maupun saat berlatih di markas besar militer.


Aku sering berbicara dengan wanita, jadi bukan berarti aku buruk dalam berinteraksi dengan mereka. Namun, suasana percakapan antar wanita seperti ini.


Dan orang-orang berpangkat tinggi berbicara di depanku dengan sikap yang sangat jauh dari suasana militer yang kaku.


Itu adalah sesuatu yang belum pernah kualami sebelumnya, sehingga aku mencoba membuka mulut tapi malah kehilangan kata-kata.


"Finn-kun."


Elena-san yang berdiri di sampingku memanggilku dengan ekspresi lembut.


"Seperti yang kubilang tadi, semua orang menerima Finn-kun, kan? Tidak ada seorang pun yang akan meninggalkanmu."


"Elena-san..."


Beberapa saat lalu aku merasa seperti berdiri di ambang kematian. Namun kata-kata Elena-san kembali membuatku merasa diselamatkan.


Berkebalikan dengan perasaanku, para anggota pasukan berkata dengan nada kuat kepada Elena-san.


"Elena-senpai! Apa-apaan cara menyemangatinya seperti sedang memanfaatkan kelemahannya begitu!"


"Benar! Bukan cuma tidak akan meninggalkannya, kami malah menyambutnya dengan senang hati!"


"Tunggu tunggu, bukannya aku juga tadi langsung bilang menyambut Finn-kun dengan senang hati waktu pertama bertemu? Hanya saja, Finn-kun bilang dia sampai siap mati karena mengira kami akan meninggalkannya, jadi aku ingin bilang kalau itu tidak benar."


"Ditinggalkan oleh kami... meski bukan karena bertarung melawan musuh?"


"Teraword-kun, kenapa kau sampai memikirkannya sedalam itu?"


"Itu... karena..."


Karena aku sudah membicarakannya dengan Elena-san dan tahu itu hanya salah paham.


Sebenarnya aku merasa tak perlu mengungkitnya lagi di sini.


Namun mereka bertanya karena mengkhawatirkanku, jadi aku tidak ingin menyembunyikannya.


Aku menatap semua orang yang diam menunggu kelanjutan perkataanku lalu berkata.


"Sebenarnya, aku diberi tahu oleh atasanku bahwa kalian semua membenci pria... dan karena aku masih murid pelatihan dan tidak punya kekuatan, aku pikir tidak mungkin bisa bertahan hidup sendirian di garis depan, atau lebih tepatnya, sampai sekarang pun aku masih merasa begitu, jadi aku sudah siap mati."


Begitu aku mengatakan itu, semua orang sempat terdiam sebelum mulai berbicara satu sama lain.


"Kami membenci pria...? Kedengarannya cuma alasan mereka saja supaya kegagalan mereka berhubungan baik dengan kami terasa wajar."


"Apa mereka tidak pernah berpikir kalau masalahnya justru ada pada diri mereka sendiri?"


"Faktanya, Teraword-kun memang pria pertama yang kutemui, tapi aku sama sekali tidak merasa jijik padanya... malah, kalau mereka mengatakan itu pada Teraword-kun, berarti mereka menyamakan dirinya dengan mereka cuma karena sama-sama laki-laki?"


"Menjijikkan banget..."


"Benar sekali. Gara-gara itu sampai membuat Teraword-kun tertekan seperti ini, benar-benar tidak masuk akal."


Karena mereka bicara masing-masing, aku tidak terlalu bisa menangkap isi semuanya. Namun aku masih punya sesuatu yang ingin kusampaikan.


"Tapi!"


Begitu aku berkata dengan suara keras, semua orang kembali diam dan aku melanjutkan.


"Setelah benar-benar bertemu dengan kalian semua seperti ini, dan kalian menerima keberadaanku, sekarang aku justru dipenuhi rasa antusias untuk menjalani kehidupan di sini mulai sekarang. Tentu saja, walaupun aku bilang antusias, ini tetap tugas militer jadi aku akan bersikap serius, tapi yang paling ingin kusampaikan adalah──"


Lalu aku menuangkan perasaanku saat ini langsung ke dalam kata-kata.


"Terima kasih karena telah menerima diriku! Aku tidak akan hanya bergantung pada kebaikan kalian, malah aku akan berusaha agar bisa menjadi kekuatan bagi kalian semua, jadi seperti yang sudah kusampaikan tadi, sekali lagi mohon bantuannya mulai sekarang!"


Setelah kali ini benar-benar menyampaikan semuanya.


Semua orang mendekat padaku.


"Iya! Mulai sekarang senang bekerja sama denganmu, Teraword-kun!"


"Mohon bantuannya!"


"Senang bertemu denganmu. Kalau ada masalah, tanya apa saja ya."


"Ya...!"


Pasukan garis depan terkuat militer Kekaisaran Luvankrum yang bertarung di medan maut.


Sampai beberapa saat lalu aku masih cemas memikirkan orang-orang seperti apa mereka.


Namun semuanya... benar-benar orang yang sangat baik.


Saat aku merasakan kebaikan mereka hingga menyentuh hatiku. Elena-san berkata padaku dengan suara ceria.


"Ngomong-ngomong, Finn-kun hebat ya dalam menyembunyikan kehadiranmu! Aku sampai kaget!"


"Se-serius itu!?"


"Iya! Kalian juga tadi tidak sadar kalau Finn-kun ada di balik pohon itu, kan?"


"Karena emosiku campur aduk sampai lupa, tapi benar juga!"


"Itu memang hebat sih."


Elena-san yang merupakan salah satu kekuatan tempur tertinggi militer Kekaisaran Luvankrum.


Dan para anggota pasukan garis depan.


Mereka benar-benar memujiku seperti itu...!


Karena aku tidak terbiasa dipuji dengan hangat seperti ini, aku sedikit malu sambil berkata.


"Te-terima kasih! Aku sangat senang dipuji seperti itu...!"


Begitu aku menyampaikan rasa terima kasihku, semua orang membelalakkan mata dan mulai berbisik satu sama lain.


"Hei, tadi kalian lihat ekspresi Teraword-kun?"


"Lihat lihat...!"


"Imut banget...!"


"Ini gawat sih...!"


Karena suasana mereka berubah setelah mendengar perkataanku.


"Semua orang...? Ada apa...?"


Saat aku bertanya begitu.


Mereka buru-buru menggeleng seolah tidak terjadi apa-apa. Lalu, seakan ingin mengganti suasana, salah satu dari mereka membuka mulut.


"Teraword-kun! Boleh aku memanggilmu Tera-kun?"


"Eh...?"


Semacam nama panggilan, ya?


"Apa itu!?"


"Imut banget!"


"Aku juga mau manggil begitu!"


"E-ehm, silakan panggil sesuka kalian..."


Aku tidak tahu kenapa mereka jadi begitu bersemangat.


Namun karena aku tidak terlalu memedulikan soal panggilan, aku menjawab begitu.


Lalu Elena-san berkata dengan suara keras.


"Oke semuanya! Mulai sekarang kalian bisa hidup bersama Finn-kun setiap hari, dan aku juga ingin menunjukkan isi markas pada Finn-kun, jadi sekarang kita kembali ke markas──"


"Tolong tunggu."


Seolah memotong perkataan Elena-san. Terdengar suara wanita yang kuat dan tegas dari sedikit kejauhan.


Lalu dari balik pohon yang agak jauh dari sana.


Seorang wanita berambut pirang yang sangat cantik berjalan mendekati kami di tengah hutan yang sunyi.


"Ah...!"


Saat melihat dadanya, aku tanpa sadar berseru kaget.


Itu adalah... Medali Luvankrum.


Artinya, wanita ini──sama seperti Elena-san, salah satu dari empat kekuatan tempur tertinggi militer Kekaisaran Luvankrum.


Saat aku menyadari hal itu dan langsung menjadi semakin tegang.


Wanita pirang yang sudah berjalan sampai depan kami itu ditanya oleh Elena-san.


"Sephia-chan? Ada apa?"


Jadi wanita pirang ini bernama Sephia-san.


"Aku tidak keberatan dengan fakta bahwa Finn-san adalah laki-laki ataupun bahwa dia masih murid pelatihan meski ditempatkan di pasukan garis depan, setelah melihat kepribadiannya secara langsung. Cara dia menyembunyikan kehadirannya tadi juga luar biasa untuk ukuran murid pelatihan.”


"Namun," lanjutnya.


"Selama berada di garis depan, kekuatan minimum tetap diperlukan. Jika Finn-san tidak memiliki kekuatan tersebut, maka aku tidak bisa mengizinkanmu berada di pasukan garis depan ini."


Mungkin terdengar seperti perkataan yang keras.


Tapi apa yang dikatakan orang ini benar.


Sebenarnya, aku sendiri masih merasa cemas apakah aku akan menjadi beban dan merepotkan semua orang di unit ini.


"Walaupun hanya sementara, mengirim murid pelatihan ke garis depan adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya, jadi aku paham kalau memastikan hal seperti itu penting... tapi, bagaimana rencanamu untuk memastikannya, Sephia-chan?"


"Sederhana saja. Mulai sekarang, Finn-san akan memperlihatkan kemampuannya dengan asumsi ada musuh dalam jumlah besar di hadapannya."


Kemampuan...


Aku tidak tahu apakah kekuatanku cukup untuk diterima oleh mereka semua. Tapi ada satu hal yang kutahu.


Aku...


Aku ingin berada di sini.


Aku ingin melindungi negeri ini bersama semua orang yang telah menerimaku.


Karena itu...


"Mengerti."


Begitu aku menjawab, semua orang termasuk Elena-san dan Sephia-san bergerak ke belakangku.


"..."


Sambil menatap ke depan, aku perlahan mengangkat tangan kananku.


Tadi banyak hal terjadi sampai pikiranku agak kacau, tapi sekarang aku sedang bertugas. Dan kondisi yang diasumsikan adalah ada banyak musuh di depanku.


Artinya, mulai sekarang aku sedang bertaruh nyawa.


──Matikan emosi.


Demi Kekaisaran Luvankrum.


Demi semua orang di unit ini.


Sebagai seorang prajurit, demi menjalankan tugasku.


Aku bisa merasakan sendiri bahwa ekspresiku sekarang benar-benar berbeda dari sebelumnya, meski tanpa bercermin... tapi itu tidak penting.


Aku memusatkan mana ke tangan kananku.


Dan ketika mana dalam jumlah besar telah terkumpul di sana, aku melepaskan sihir itu.


"Topan Besar."


Detik berikutnya.


Angin kencang bertiup, membuat seluruh daun pohon di depan beterbangan. Pohon-pohon pun terangkat ke udara, melayang sejenak sebelum jatuh kembali ke tanah.


Karena sihirnya sudah selesai kulepaskan, aku menoleh ke belakang. Dan semua orang menatapku dengan ekspresi tercengang.


Ada apa dengan mereka semua?


"Ah...!"


Ja-jangan-jangan. Walaupun diminta menggunakan kekuatan penuh, memakai sihir mencolok seperti ini di garis depan yang penuh musuh itu tidak boleh ya?


Lagi pula, aku sampai menerbangkan pepohonan di hutan tempat latihan.


Artinya, aku malah merusak tempat latihan mereka...


"M-maaf! Aku menggunakan sihir yang terlalu mencolok untuk garis depan, dan lagi di garis depan yang sulit menemukan tempat latihan seperti ini aku malah menghancurkan area latihan──"


Sambil berkata begitu, aku mulai menundukkan kepala.


Namun saat itu.


"Te-Teraword-kun hebat banget...!"


"...Eh?"


Perkataan satu orang itu menjadi pemicu, lalu semua orang mulai berbicara bersamaan.


"Yang tadi itu sihir angin tingkat super tinggi, kan!?"


"Padahal bahkan orang yang punya afinitas angin pun hampir tidak ada yang bisa memakainya, tapi dia melakukannya dengan satu tangan...!"


"Mana-nya luar biasa banyak...!"


"Kalau lihat kualitas dan tekniknya, kelihatan banget kalau Tera-kun sudah bekerja keras selama ini...!"


"Serius dia ini masih murid pelatihan...!?"


"Teraword-kun ternyata bisa membuat ekspresi seperti itu juga ya..."


"Biasanya imut, tapi waktu serius jadi keren itu gap-nya gawat banget..."


"E-ehm..."


Dari suasananya, aku tahu mereka mungkin sedang memujiku.Tapi karena semua orang berbicara bersamaan, aku jadi tidak tahu harus bagaimana.


Kalau begini, lebih baik minta bantuan Elena-san.


Begitu aku berpikir dan menoleh ke arah Elena-san──


"Finn-kun keren banget~! Jadi kau punya mana sehebat itu! Dari cara menyembunyikan kehadiranmu saja sudah kelihatan kalau kau hebat, tapi ternyata kemampuan dasar mana dan teknik mengendalikan sihirmu juga luar biasa! Dan lagi──"


Di sana, Elena-san terus berbicara dengan suara bernada tinggi dan cepat sampai aku tak bisa menangkap ucapannya, sama seperti saat pertama kami bertemu.


Ba-bahkan Elena-san juga begitu...!


A-aku harus bagaimana sekarang. Kalau sudah begini, benar-benar tidak ada yang bisa kulakukan untuk mengendalikan situasi.


Saat aku memandang semua orang dan mencoba mengatakan sesuatu namun tak ada kata-kata yang keluar.


Sephia-san mendekatiku.


"Finn-san. Serangan tadi sungguh luar biasa."


"Sephia-san...! Terima kasih banyak!"


Ekspresi Sephia-san kini tampak sedikit lebih lembut dibanding sebelumnya.


"Dengan kekuatan seperti itu, yang bahkan tidak terlihat seperti milik seorang murid pelatihan, aku tentu tidak bisa menolak keikutsertaanmu di pasukan garis depan ini."


Lalu dia melanjutkan.


"Dan juga, sebelumnya aku mengatakan hal-hal yang tidak perlu karena belum mengetahui kemampuanmu. Aku benar-benar minta maaf."


"Ti-tidak sama sekali!"


Malah.


"Karena itu menjadi kesempatan bagus untuk menunjukkan kemampuan diriku kepada semua orang, aku justru sangat berterima kasih pada Sephia-san!"


Begitu kusampaikan, Sephia-san membelalakkan matanya karena terkejut. Lalu setelah jeda singkat, dia tersenyum kecil.


"Aku tidak pernah menyangka akan mendapat ucapan terima kasih... Kamu benar-benar orang yang aneh ya."


...Tadi aku menganggap Sephia-san orang yang sangat tegas.


Tapi.


"Aku sendiri masih belum benar-benar memahami diriku... tapi setelah berbicara denganmu, aku jadi tahu kalau Sephia-san adalah orang yang baik hati."


"!?..."


"Benar benar! Sephia-chan memang baik banget!"


Entah sejak kapan Elena-san sudah kembali seperti biasa dan berdiri di samping Sephia-san.


"Yang tadi juga sebenarnya karena Sephia-chan tidak ingin Finn-kun terluka, jadi kalau Finn-kun tidak cukup kuat dia ingin menjauhkanmu dari garis depan demi keselamatanmu, kan? Kalau itu pria-pria lain di militer, dia pasti tidak akan repot-repot memberi peringatan."


Memang, setelah sedikit mengenal Sephia-san. Perkataannya yang terdengar keras tadi bisa dipahami seperti itu.


"Dan lagi, waktu Finn-kun sedang bersiap menggunakan sihir tadi, Sephia-chan sampai terpaku melihat wajah serius Finn-kun yang begitu jantan──"


Saat Elena-san hendak melanjutkan.


Sephia-san buru-buru menyela dengan pipi sedikit memerah karena malu.


"Lebih penting lagi, walaupun tidak pantas bagiku yang tadi menyela, bukankah kita memang berencana kembali ke markas dan menunjukkan bagian dalam markas kepada Finn-san?"


"Ah, benar juga!"


Setelah berkata seperti baru teringat, Elena-san berjalan menuju anggota pasukan lainnya.


Melihat punggung Elena-san menjauh, Sephia-san tampak menghela napas lega.


"Sephia-san...? Ada apa...?"


"Ti-tidak... bukan apa-apa."


Setelah itu dia berdeham sekali. Lalu kembali ke ekspresi biasanya dan tersenyum lembut kepadaku.


"Finn-san. Maaf karena tadi sempat merepotkanmu, tapi aku juga menyambut kehadiranmu di pasukan garis depan ini. Mulai sekarang, mohon bantuannya."


"Terima kasih banyak! Aku juga mohon bantuannya!"


Sephia-san.


Kalau dibandingkan dengan Elena-san mungkin terdengar tidak sopan, tapi.


Dia memiliki suasana yang jauh lebih tenang... namun.


Seperti senyum lembut yang dia tunjukkan padaku sekarang, tampaknya dia juga memiliki sisi yang sangat baik hati.


Bukan hanya Sephia-san, aku berharap bisa melihat dan mengenal berbagai sisi lain dari semua orang di unit ini mulai sekarang.


"Oke semuanya~! Kali ini benar-benar kita pulang ke markas bersama Finn-kun~!”


Begitu Elena-san menyampaikan itu dengan suara keras kepada semua orang yang masih terus mengobrol.


"Baik~!"


"Mengerti!"


"Siap!"


Bersama semua orang yang mengangguk dan menjawab, aku pun mulai melangkah menuju markas garis depan.


Dan karena lokasinya dekat, kami segera tiba di depan markas garis depan.


Elena-san lalu berhenti sejenak dan berbalik menghadap kami semua, termasuk aku.


"Aku sekarang akan mengajak Finn-kun berkeliling markas, tapi kalian pasti capek habis latihan, jadi silakan seperti biasa makan atau mandi dulu ya!"


"Eh!? Tunggu dulu, Elena-senpai!"


"Itu terlalu curang buat Elena-senpai, kan!?"


"Aku juga mau menemani Teraword-kun berkeliling!"


"Aku paham perasaan kalian, tapi karena kalian capek habis latihan, aku ingin kalian benar-benar mengistirahatkan tubuh demi persiapan untuk pertempuran nanti."


Benar juga. Mereka sudah lelah karena pertempuran sungguhan, ditambah latihan terus-menerus.


Kalau terus bergerak tanpa istirahat, tubuh mereka bisa kelelahan dan jadi berbahaya.


"Kalian tidak perlu mengkhawatirkanku, jadi silakan istirahat yang cukup! Ah, tapi setelah mandi jangan sampai masuk angin ya!"


Saat aku mengatakan itu. Mereka semua sedikit tersenyum.


"Baik~!"


"Makasih sudah mengkhawatirkan kami, Teraword-kun!"


"Kalau sudah istirahat nanti, ayo ngobrol banyak ya."


"Iya! Dengan senang hati!"


Tanpa sadar suaraku dipenuhi rasa senang saat menjawab──


"Hei, serius deh, mulai sekarang kita harus gimana...!?"


"Aku malah jadi nggak capek lagi habis lihat tadi..."


"Dia baik banget dan imut banget sih...!"


Sambil masuk ke dalam markas garis depan. Mereka saling membicarakan sesuatu dengan suara yang tak bisa kudengar.


Tak lama kemudian, hanya aku dan Elena-san yang tersisa di tempat itu.


"Walaupun sebenarnya sudah kuduga, aku lega Finn-kun sepertinya bisa akrab dengan semuanya. Aku sendiri juga begitu, tapi ini pertama kalinya aku melihat semuanya bisa bersikap begitu akrab dengan seorang cowok, jadi rasanya segar banget!"


"Itu karena semua orang... sangat baik hati..."


"Bukan cuma mereka, Finn-kun juga."


"Ti-tidak... tapi, terima kasih."


"T-tunggu sebentar!"


Saat aku menjawab dengan malu-malu, Elena-san mendorong kedua tangannya ke depan seolah menghentikanku.


"Tadi kan ada semua orang, jadi aku masih menjaga wibawa sebagai senior, tapi kalau kau memasang wajah seperti itu saat cuma berdua denganku...!"


"Eh...!? M-maaf... apa wajahku jadi aneh?"


"Apa sih yang kau bilang! Itu bukan wajah aneh, jelas wajah yang imut! Maksudku, kenapa bahkan wajah murungmu juga tetap imut!? Kenapa kau bisa seimut itu!? Tunggu dulu, serius tunggu dulu..."


"M-maaf. Karena Elena-san bicara terlalu cepat dan tinggi, aku jadi tidak mengerti..."


Setelah jeda sesaat. Elena-san tampak sedikit lebih tenang.


"Maaf ya, sekarang aku sudah tenang... ah benar! Ngomong-ngomong, sihirmu tadi luar biasa banget!"


"Terima kasih banyak! Bahkan menurut Elena-san juga begitu...?"


"Tentu saja! Sihir seperti itu bahkan di militer hanya sedikit orang yang bisa pakai, malah rasanya selain unit ini apa ada orang lain yang bisa menggunakan sihir sehebat itu! Cara menyembunyikan kehadiranmu tadi juga begitu, tapi seperti yang diharapkan dari seseorang yang dikirim ke garis depan meski masih murid pelatihan, Finn-kun benar-benar hebat ya!"


"...Terima kasih banyak."


Mendengar kata dikirim ke garis depan, perkataan atasanku kembali terngiang di kepalaku.


‘Kau adalah penghalang.’


‘Itu karena kau rakyat biasa.’


‘Kalau nanti kau sampai naik pangkat menjadi perwira, harga diri kami para bangsawan akan hancur.’


‘Jangan membenciku ya? Ini keputusan hasil voting mayoritas para petinggi.’


Kalau aku memang berbakat. Maka pasti karena aku berbakatlah aku dikirim ke garis depan ini.


──Karena aku rakyat biasa, tapi berbakat.


Dilihat dari cara atasanku berbicara, mungkin para bangsawan di militer akan kehilangan semangat kalau ada rakyat biasa yang terlalu unggul.


Dan kalau itu terjadi, negara ini tak akan bisa dilindungi.


Agar hal itu tidak terjadi, aku dikirim ke sini untuk mati.


Kalau begitu, demi negara ini...


Aku──


"Finn-kun...? Wajahmu pucat, ada apa?"


"Eh... ah..."


Karena Elena-san memanggilku, kesadaranku kembali ke saat ini.


"Perjalanan ke sini juga pasti melelahkan, dan setelah semua yang terjadi hari ini mungkin kau capek ya? Bagaimana kalau tur markasnya besok saja dan hari ini kau istirahat?"


A-apa yang kupikirkan sih...!


Elena-san tidak bermaksud seperti itu, dia benar-benar hanya memujiku dengan tulus, jadi tidak perlu memikirkannya terlalu dalam sekarang.


Begitu menyadarinya kembali, aku langsung menggeleng.


"Ti-tidak! Aku baik-baik saja!"


"Benarkah?"


"Iya!"


Kurasa aku tidak perlu memberitahu Elena-san dan semua orang di unit ini alasan sebenarnya kenapa aku dikirim ke garis depan.


Aku dikirim ke sini untuk mati oleh para atasan.


Kalau aku mengatakan itu, hanya akan membuat suasana menjadi berat, dan lagi pula membicarakannya tidak akan mengubah apa pun.


Sekarang aku bersama Elena-san, jadi lupakan saja tentang para atasan itu.


"..."


Setelah itu, Elena-san sempat memperhatikanku beberapa saat. Namun setelah memastikan aku tampak baik-baik saja, dia mengangguk kecil dan berkata.


"Oke! Kalau begitu sekarang aku akan mengajak Finn-kun berkeliling markas garis depan ini!"


"Terima kasih banyak!"


Setelah mengucapkan rasa terima kasihku.


Aku mengikuti Elena-san masuk melewati pintu ganda yang menjadi pintu masuk markas itu.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close