NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Seijitsu Sugiru Shounen no Tsuihou-saki ga, Otokogiraina Bishoujo Shika Inai Saikyou Butaidattara? V1 Prologue

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Prologue

"──Finn Teraword... kau ditetapkan untuk menjalani penugasan sementara di pasukan garis depan."


"...Eh?"


Di tempat berlangsungnya 'Upacara Penetapan Penugasan Sementara Latihan Tempur' milik militer Kekaisaran Luvankrum.


Aku menerima penugasan yang sama sekali tak terduga dari pria atasan yang berdiri di hadapanku.


Sambil meragukan pendengaranku sendiri, aku memastikan kembali maksud perkataannya.


"Pasukan garis depan... maksudnya?"


"Benar."


Sepertinya aku memang tidak salah dengar.


"Pasukan elit terkuat militer kekaisaran... bahkan sebagai anggota sementara, ini tetap sebuah kehormatan besar, tahu?"


Pasukan garis depan adalah unit beranggotakan lima puluh orang yang dipimpin oleh empat sosok yang disebut sebagai kekuatan tempur terkuat militer Kekaisaran Luvankrum.


Selain itu, unit tersebut merupakan pasukan yang sangat tidak biasa karena seluruh anggotanya adalah wanita.


Dan seperti yang dikatakan atasanku, tak diragukan lagi itu adalah pasukan terkuat militer Kekaisaran Luvankrum, sehingga bisa tercatat sebagai bagian dari mereka saja sudah merupakan sebuah kehormatan besar.


Tapi...


"Aku bersyukur atas kehormatan itu. Namun, aku masih seorang peserta pelatihan. Meski begitu, dikirim ke garis depan yang terkenal sebagai medan maut itu..."


"Apa yang kau katakan? Justru itulah tujuan latihan tempur ini. Kau yang lulus dari sekolah sihir sebagai peringkat pertama tak boleh menunjukkan sikap pengecut seperti itu di depan banyak orang yang hadir di sini. Memang mungkin jalannya akan berat, tapi bukankah seseorang justru akan menjadi lebih kuat setelah melewati jalan yang berat?"


"Tapi... tetap saja, kalau dipikir bagaimana pun ini terlalu nekat──"


"Di militer, mutlak mematuhi perintah atasan adalah dasar dari segala dasar! Tidak akan diizinkan ada pembangkangan!!"


Atasan yang membentakku itu menghela napas sekali.


Lalu, kali ini ia berbicara dengan suara yang lebih ditekan dibanding sebelumnya.


"Kau ini... mengganggu."


"Ke... kenapa aku dianggap mengganggu?"


Aku tak pernah merasa melakukan sesuatu yang bisa mengganggu militer.


Karena itu, sambil kebingungan aku bertanya balik, dan jawaban yang kudapat sangat singkat.


"Itu karena kau rakyat jelata."


Rakyat jelata.


Mereka adalah orang-orang yang dianggap memiliki status sosial paling rendah dalam masyarakat bangsawan ini.


Namun, tetap saja aku tidak bisa menerimanya.


"Aku bercita-cita menjadi prajurit yang bertarung di medan perang demi melindungi negara. Apa asal-usul kelahiran benar-benar ada hubungannya dengan itu?"


"Tentu saja ada. Jika suatu hari nanti kau naik pangkat dan bahkan menjadi perwira, maka harga diri kami para bangsawan akan hancur."


"Ti... tidak mungkin... hanya karena alasan itu... kalian akan... padaku..."


Mengirimku ke medan maut bernama garis depan agar tunas muda dari kalangan rakyat jelata dipatahkan sejak dini...


Jadi begitu maksudnya...


Saat aku memahami hal itu dan kehilangan kata-kata, atasanku menyunggingkan senyum bengkok.


"Jangan membenciku, ya? Ini diputuskan lewat pemungutan suara mayoritas di kalangan petinggi... Lagi pula, unit tempatmu ditugaskan sementara adalah pasukan terkuat militer Kekaisaran Luvankrum. Mungkin mustahil bagimu untuk bertahan hidup sendirian, tapi kalau kau bersama anggota unit itu, mungkin kau bisa hidup sedikit lebih lama──meski katanya mereka membenci pria."


"......"


Medan maut.


Garis depan.


Pemungutan suara mayoritas.


Penugasan sementara.


Pasukan terkuat militer Kekaisaran Luvankrum.


Membenci pria.


Meski aku bisa merasakan kematian yang tak mungkin lagi kuhindari, tak ada gunanya mengatakan apa pun lagi.


Setelah memberi hormat, aku berbalik dan kembali ke barisan.


◆ ◇ ◆


Markas garis depan militer Kekaisaran Luvankrum.


Di dalam bangunan itu, tiga gadis sedang mengobrol santai.


"──Ngomong-ngomong, tadi ada pemberitahuan dari militer. Katanya beberapa hari lagi bakal ada anak baru yang datang ke sini dalam bentuk penugasan sementara!"


"Oh, begitu ya~"


Wanita berambut merah mengangguk setelah wanita berambut merah muda menjawabnya.


"Iya. Dan dia juga masih peserta pelatihan! Kalau dimasukkan ke unit ini berarti pasti perempuan, kan? Apa mungkin para pria di militer memang sudah tak sanggup lagi?"


"Karena dia masih peserta pelatihan, kemungkinan belum lama sejak dia masuk militer... tapi bahkan dengan mempertimbangkan itu pun, mungkin memang tidak ada pilihan lain."


Setelah wanita berambut pirang menjawab begitu, wanita berambut merah muda membuka mulutnya dan berkata.


"Yah, pria di militer itu isinya cuma orang-orang yang penuh harga diri, ambisi, dan niat mesum aja sih~"


"Benar juga..."


Malah mungkin lebih pantas dipuji karena dia tidak langsung keluar dari militer sesaat setelah bergabung.


"...Haa. Aku memang memilih garis depan supaya tidak perlu berurusan dengan pria-pria militer, tapi di garis depan benar-benar tidak ada kesempatan bertemu siapa pun ya."


"Yang kau maksud bertemu adalah... dengan pria?"


"Betul!"


"Walaupun memang ada kesempatan bertemu, semua pria itu sama saja. Paling-paling kau cuma akan bertemu pria yang penuh harga diri, ambisi, dan niat mesum~"


"Benar juga ya... Ah! Untuk sementara lupakan dulu soal itu, yang penting sekarang kita harus memberi tahu yang lain kalau bakal ada anak baru datang!"


"Benar. Karena dia peserta pelatihan, aku juga penasaran dengan kemampuannya."


"Kalau sampai dikirim ke garis depan saat masih peserta pelatihan, setidaknya dia pasti cukup berbakat di antara para peserta pelatihan lainnya~ ...meski mungkin ada alasan lain juga."


Wanita berambut merah muda menggumamkan kata-kata terakhirnya dengan suara kecil.


Karena dua lainnya tidak mendengarnya, wanita berambut merah mengangguk dan berkata.


"Memang! Meski cuma penugasan sementara, tetap saja sangat tidak biasa ada peserta pelatihan yang dikirim ke garis depan. Kira-kira anak seperti apa ya~!"


Setelah itu, ketiganya terus mengobrol dengan antusias tentang peserta pelatihan yang akan dikirim ke garis depan tersebut.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close