NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Seijitsu Sugiru Shounen no Tsuihou-saki ga, Otokogiraina Bishoujo Shika Inai Saikyou Butaidattara? V1 Chapter 7

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 7

Elena-san dan Pemandian

Setelah kembali ke kamar pribadiku di markas, untuk beberapa waktu setelah itu.


Aku merangkum hal-hal yang kupelajari dari latihan hari ini ke dalam catatan.


Hari ini memang bukan latihan sparring, melainkan latihan dasar, tapi tetap saja ada banyak hal yang bisa kupelajari.


Gerakan orang-orang yang terus bertarung di garis depan benar-benar berbeda, apa pun yang dilihat.


Sambil kembali menyadari hal itu, aku pun selesai menulis catatanku. Lalu, kupikir sudah waktunya mandi, jadi aku mengambil pakaian ganti.


"...Mandi."


Walaupun aku ingin suatu hari bisa mandi bersama semua orang. Tetap saja, secara mental rasanya sulit untuk langsung mandi bersama mereka.


"Setidaknya... kalau hanya dengan salah satu dari mereka..."


Saat memikirkan itu, sosok seseorang terlintas di benakku.


Sosok Elena-san, yang pada malam pertama aku datang ke garis depan ini, mengkhawatirkanku karena mandi sendirian, lalu menemaniku sampai aku tertidur.


"..."


T-tidak mungkin.


Kalau dipikir dengan tenang, langsung mandi berdua dengan orang secantik Elena-san itu...


Hari ini juga, meski sedikit kesepian, sebaiknya aku mandi sendirian saja.


Saat aku memutuskan itu dan membuka pintu keluar kamar.


Di lorong yang terhubung dengan tangga spiral, ada seorang wanita cantik berambut pirang yang berjalan ke arahku.


Aku bertemu dengan Sephia-san.


"Sephia-san!"


"Finn-san, kebetulan sekali."


Kebetulan sekali...?


Aku memiringkan kepala mendengar kata-kata Sephia-san yang berhenti di depanku, lalu dia melanjutkan.


"Sebenarnya, setelah mengetahui dari latihan hari ini bahwa kemampuan dasarmu juga sangat luar biasa, dan karena kamu adalah pria pertama yang benar-benar memahami ilmu pedangku, ada satu permintaan yang ingin aku sampaikan."


"Sephia-san... punya permintaan untukku?"


"Ya."


Biasanya justru aku yang meminta sesuatu kepada Sephia-san.


Tapi apakah ada hal yang sampai membuat Sephia-san meminta sesuatu kepadaku?


Sambil merasa bingung, aku balik bertanya, lalu Sephia-san berkata dengan ekspresi serius.


"Finn-san──apa kamu tertarik pada pedang?"


"Eh...?"


"Sama seperti Elena-san, Finn-san adalah seseorang yang bertarung dengan mengendalikan kekuatan sihir secara bebas, jadi mungkin kamu tidak merasa tertarik untuk mempelajari pedang mulai sekarang... tetapi, jika kamu berhasil menguasainya, pedang pasti akan menjadi kekuatan bagimu. Dan yang lebih penting, aku ingin mengajarkan ilmu pedang yang aku kuasai kepadamu."


...Pedang. Selama ini aku memang tertarik, tapi aku terlalu sibuk mempelajari sihir sehingga tidak sempat mempelajarinya.


Di sekitarku juga hampir tidak ada orang yang menggunakan pedang, apalagi seseorang yang mau mengajariku…


Uuuh, bukan begitu. Dari awal memang tidak ada orang yang membuatku berpikir ingin belajar darinya.


Tapi sekarang…….


Orang yang lembut, cantik, keren, dan kemarin menunjukkan teknik pedang luar biasa padaku itu, Sephia-san, berkata bahwa beliau ingin mengajariku.


Kalau begitu, tentu saja.


"Aku juga ingin belajar pedang dari Sephia-san, bukan dari orang lain!"


Mendengar jawabanku, Sephia-san membelalakkan matanya.


"Bukan dari orang lain, melainkan dariku…… terima kasih banyak. Kalau begitu, mulai besok aku akan langsung memberikan bimbingan ilmu pedang, jadi mohon kerja samanya."


Besok……!


Sephia-san akan mulai mengajariku secepat itu……!


Memikirkannya membuatku tanpa sadar senang sampai suaraku sedikit meninggi.


"Justru aku yang harus mengatakan itu! Mohon bimbingannya!"


Mendengar kata-kataku, Sephia-san tersenyum lembut sambil memerah di pipi.


Tak kusangka aku akan diajari pedang oleh Sephia-san.


Benar-benar, orang ini…….


Orang-orang ini, sebenarnya sebaik apa sih mereka?


Saat aku kembali merasakan sesuatu yang pasti akan terus kurasakan berkali-kali mulai sekarang, Sephia-san melihat barang yang kupegang.


"Jangan-jangan, kamu hendak pergi ke pemandian?"


"Iya."


"Begitu rupanya. Maaf sudah menahanmu. Aku sendiri sudah selesai mandi hari ini, tetapi jika berkenan, besok kita bisa mandi bersama──t-tidak…… m-maksudku, semoga kamu bisa beristirahat dengan tenang menggunakan waktu mandi untuk memulihkan tubuh dan pikiran."


"Terima kasih banyak!"


Aku penasaran apa yang tadi ingin Sephia-san katakan.


Namun karena Sephia-san menutupnya dengan kata-kata yang begitu lembut, aku tidak menanyakannya dan hanya mengucapkan terima kasih.


Setelah percakapan itu selesai, Sephia-san membalikkan badan dan berjalan pergi dariku.


"Tak kusangka aku hampir mengatakan hal seperti itu pada seorang pria tanpa sadar…… namun jika lawannya seseorang seperti Finn-san, mungkin itu memang tak terhindarkan──"


Setelah melihat punggung Sephia-san yang berjalan pergi sambil bergumam kecil, aku pun mulai melangkahkan kaki menuju pemandian.


Saat menaiki tangga spiral sendirian, rasanya kesepian itu makin bertambah.


Tapi mengajak Elena-san mandi bersama memang masih terlalu sulit bagiku saat ini, jadi mau bagaimana lagi.


Sambil mengatakan itu pada diriku sendiri, aku menaiki tangga dan tiba di depan ruang ganti pakaian…… tetapi.


"Ah……! F-Finn-kun……!"


Di sana, ada Elena-san yang bersandar di pintu pemandian dengan kedua tangan di belakang punggungnya.


"Elena-san……? Ada apa?"


"A-anu, Finn-kun, itu……."


Elena-san memerah hebat karena malu.


Namun sambil berusaha keras mengeluarkan kata-kata, Elena-san membuka mulut dan berkata.


"Sepertinya yang lain sudah selesai mandi, jadi sekarang tinggal kita berdua…… kalau kamu mau, bagaimana kalau kita mandi bersama sekarang?"


"……Eh? E-EH!?"


Aku refleks berseru kaget karena ajakan mendadak itu.


Namun Elena-san buru-buru mengeluarkan tangannya yang tadi berada di belakang punggung—rupanya memegang pakaian ganti dan handuk—lalu berkata panik.


"B-Bukan maksud aneh kok!? Hanya saja, walaupun tempat mandinya sebesar itu, mandi sendirian pasti tetap terasa sepi meski diulang berkali-kali. Jadi meskipun langsung ramai-ramai mungkin sulit, setidaknya aku ingin mandi bersama Finn-kun…… uuh, maksudku, aku ingin masuk bersama Finn-kun!"


"E-Elena-san……."


Aku sendiri tidak pernah mengajak Elena-san karena malu dan merasa tidak enak. Tapi sekarang, justru Elena-san yang mengulurkan tangan kepadaku.


Aku tidak mungkin menyia-nyiakan kebaikan ini, dan lebih dari itu…….


"A-Aku juga sebenarnya ingin mengajak Elena-san mandi bersama, tapi karena malu aku tidak bisa melakukannya…… jadi aku benar-benar senang Elena-san yang mengajakku seperti ini."


"J-Jadi begitu……! Ee……! K-kalau begitu…… berarti tidak apa-apa kita mandi bersama berdua……?"


"Iya……! M-mohon bantuannya……!"


"U-uhum! Mohon bantuannya juga!"


Saat wajahku memanas, Elena-san membalikkan badan dariku.


"Finn-kun juga ternyata ingin mengajakku……! Itu berarti dia ingin bersamaku lebih lama walau sedikit, kan……! Aku senang sekali, Finn-kun……! Dan lagi, aku benar-benar jadi bisa mandi bersama Finn-kun……! Harus bagaimana ini……!? Maksudku, ekspresi tadi lucu banget, kan……!? Padahal sebelumnya aku baru saja memutuskan untuk santai pelan-pelan, tapi kalau aku mandi berdua dengan Finn-kun, aku…… u-uh tidak! Finn-kun percaya padaku, jadi aku harus berhenti memikirkan hal aneh……!"


Suaranya terlalu kecil untuk kudengar jelas, tetapi Elena-san terus bergumam cepat dengan nada yang naik turun.


"Elena-san……? Ada apa……?"


Saat aku bertanya begitu, Elena-san tampak tersadar lalu menoleh padaku.


"Ti-tidak ada apa-apa! Kita berdua juga sudah bawa pakaian ganti, jadi ayo masuk ke ruang gantinya!"


"Iya!"


Setelah aku menjawab begitu, kami berdua masuk ke ruang ganti.


Seperti biasa, ruang ganti itu tetap luas dan dekorasinya indah tidak peduli berapa kali melihatnya.


"Aku ganti baju di sana, jadi Finn-kun bisa ke arah sana, ya?"


"Baik!"


Kami berpindah ke tempat di mana masing-masing tidak bisa saling melihat di ruang ganti.


Lalu segera mulai melepas pakaian.


Dari arah Elena-san juga mulai terdengar suara gesekan kain…… dan pada saat yang sama.


"Tunggu……! Di balik sana Finn-kun lagi buka baju sekarang, kan……!? Dia dekat banget tapi aku tidak boleh melihatnya, apa ini siksaan hidup……!? Aku bahkan tidak yakin bisa menahannya lebih baik dari serangan apa pun yang pernah kuterima……! Kalau sampai aku melihat tubuh Finn-kun begini, bukankah aku langsung kehilangan kepercayaannya……!? Tunggu, tunggu, harus bagaimana……! Padahal dari tadi perasaanku saja sudah kacau……! Tapi tahan, tahan diriku……!"


Elena-san tampaknya bergumam sesuatu dengan suara kecil.


Sementara aku, demi menenangkan rasa gugup karena sebentar lagi akan mandi bersama Elena-san, fokus menenangkan diri sambil melepas pakaian.


Dulu, saat aku belum terlalu sadar soal tubuh lawan jenis seperti sekarang, aku sering mandi bersama Onee-chan.


Namun diriku saat itu dan diriku sekarang benar-benar berbeda, baik tubuh maupun kesadarannya, dan Elena-san juga berbeda dari Onee-chan yang dulu sering mandi bersamaku—beliau adalah wanita dewasa sejati──


"Finn-kun! Aku sudah selesai melepas pakaian dan memakai handuk mandi, jadi aku tunggu di depan pintu pemandian sampai Finn-kun selesai ganti baju ya!"


"I-Iya! Aku segera selesai!"


Karena terlalu banyak berpikir, ternyata tanganku jadi bergerak lambat.


Aku buru-buru melepas pakaian, lalu melilitkan handuk di pinggang dan segera menuju depan pemandian.


"Maaf membuatmu menunggu──h!!"


Saat tiba di depan pemandian dan melihat sosok Elena-san…….


Kulitnya terlihat lebih terbuka dari biasanya. Dada besar yang bahkan nyaris tidak bisa tertutupi handuk mandi. Lalu wajah cantiknya seperti biasa, kaki putih panjang dan indah itu.


Tanpa sadar aku sampai terpaku menatapnya.


Betapa cantiknya orang ini. Padahal penampilannya secantik ini, kepribadiannya juga begitu lembut.


Benar-benar──


"……Ah."


Saat aku hampir tenggelam dalam pikiranku, Elena-san mengeluarkan suara kecil.


"Elena-san……?"


Aku merasa heran lalu memanggilnya.


Tepat setelah itu, Elena-san memerah sambil menatapku dengan mata yang sedikit mabuk.


"Tidak, tidak, Finn-kun…… lucu sekali, keren sekali……! Kalau tubuhmu langsung diperlihatkan seperti itu, aku…… tidak kuat…… harus tahan, tahan…… aku harus menahan diri──"


Sambil meletakkan tangan di dadanya sendiri, Elena-san bergumam pelan.


"Ada apa?"


Aku kembali memanggil Elena-san yang jelas terlihat agak aneh.


……Jangan-jangan.


"Apa badan Elena-san kurang sehat……?"


"──Eh……? K-kurang sehat?"


Elena-san tampak linglung seolah pikirannya melayang entah ke mana.


Namun sepertinya dia masih mendengar kata-kataku, karena dia buru-buru melambaikan kedua tangannya sambil menjawab.


"A-ah~! Bukan begitu kok, jadi tidak usah khawatir!"


"Benarkah……?"


"Iya! Malah bisa dibilang aku terlalu bersemangat, sampai rasanya kalau tidak kutahan aku bisa melakukan hal aneh…… p-pokoknya kondisiku baik-baik saja! Maaf sudah membuatmu khawatir ya?"


"Kalau Elena-san sehat, itu yang paling membuatku senang!"


"Tunggu, tunggu, kumohon jangan tunjukkan senyum lucu itu sekarang……! Aku sedang berjuang menahan diri, benar-benar berjuang……!!"


Elena-san berkata begitu sambil tersipu dan terengah-engah, lalu menarik napas dalam beberapa kali.


Pipinya masih sedikit merah, tetapi Elena-san tampak sudah lebih tenang saat berkata.


"M-maaf sudah membuatmu menunggu ya? Yuk, kita masuk ke pemandian sekarang!"


"Iya……!"


Meski begitu, seperti biasa, aku tetap gugup melihat Elena-san dalam balutan handuk mandi.


Tapi itu hanya masalah kalau aku melihat ke bawah dari wajahnya.


Yang terpenting, Elena-san tetaplah Elena-san yang baik hati apa pun penampilannya, jadi pasti akan baik-baik saja.


Sambil berkata begitu dalam hati untuk menenangkan diri, aku masuk ke kamar mandi bersama Elena-san.


Lalu, aku mengikuti Elena-san lebih jauh ke dalam.


"Dari tadi yang kupikirkan cuma kalau Finn-kun itu lucu, lalu ternyata kalau tanpa baju, kerangka tubuhnya memang sedikit berbeda dari kami karena dia laki-laki, dan hal-hal seperti itu saja... tenang, tenang... tenangkan dirimu, aku..."


Tak lama kemudian, kami sampai di tempat dengan alat sihir yang mengeluarkan air dan air panas, serta cermin.


Dengan kata lain, tempat untuk mencuci tubuh.


Elena-san lalu menoleh kepadaku dan berkata,


"Kalau begitu... karena kita berdampingan, bagaimana kalau kita masing-masing mencuci tubuh sambil tidak saling melihat?"


"Baik!"


Kami pun duduk di depan cermin masing-masing.


Aku melepas handuk yang melilit pinggangku.


Dan saat terdengar suara gesekan kain, mungkin Elena-san juga melepas handuk mandinya, lalu kami mulai mencuci tubuh masing-masing dengan air hangat yang mengalir.


Sekarang, Elena-san sedang mencuci tubuh di sebelahku tanpa mengenakan handuk mandi...


Tubuh Elena-san──bukan!


Aku menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran aneh yang hampir muncul itu.


Po-pokoknya sekarang aku harus fokus mencuci tubuh seperti biasa...!


Sambil terus mengingatkan diri sendiri begitu dalam hati, aku mencuci tubuhku──


"Sekarang Finn-kun lagi mandi tanpa handuk di pinggang tepat di sebelahku... handuk... pinggangnya...! A-apa yang kupikirkan sih...! Kenapa kalau soal Finn-kun aku jadi memikirkan hal-hal aneh terus... k-kalau aku tidak mengobrol, aku..."


Di sela suara air, rasanya aku mendengar suara Elena-san.


...Tapi karena segera tak terdengar lagi, mungkin cuma perasaanku saja.


Saat aku berpikir begitu, kali ini Elena-san benar-benar berbicara kepadaku dengan jelas.


"A-anu, Finn-kun. Walaupun sekarang agak canggung, biasanya kami semua mencuci tubuh sambil mengobrol ramai bersama, tahu?"


"Begitu ya... kedengarannya menyenangkan!"


"Yup, memang menyenangkan! Kami ngobrol soal latihan hari itu atau soal masakan, lalu saling mencuci tubuh juga... mungkin terdengar sepele, tapi aku sangat suka waktu-waktu di mana aku bisa berinteraksi dengan semuanya seperti itu."


...Pasukan yang dipimpin orang sebaik ini menjadi pasukan terkuat Kekaisaran Luvankrum.


Memikirkan itu membuat hatiku sedikit terasa lebih ringan.


"Menurutku itu hal yang sangat penting... aku tidak tahu apakah itu bisa disebut berinteraksi, tapi aku sudah banyak dibantu oleh semuanya, terutama Elena-san, jadi suatu hari nanti aku ingin membalas kebaikan kalian dalam bentuk apa pun."


Sungguh... Elena-san sudah banyak membantuku. Kalau ada sesuatu yang bisa kulakukan, aku ingin membantu Elena-san juga.


"Aku melakukannya karena memang ingin melakukannya, jadi kamu tidak perlu membalas apa pun. Tapi kalau memang tetap ingin, mungkin aku akan senang kalau kamu mencuci tubuhku... eh, maksudku, itu memaluka──"


"Baik."


"...Eh?"


"Kalau itu bisa sedikit membalas kebaikan Elena-san... aku ingin mencuci tubuh Elena-san!"


"Eh...? Eehh...!? S-se-rius mau mencuciku...!?"


"Iya!"


Kemarin pagi, dengan pergi membangunkan Norn-san menggantikan Elena-san.


Aku ingin sedikit membantu, tapi pada akhirnya malah merepotkan Elena-san. Karena itu, kali ini aku benar-benar ingin membantu Elena-san.


"E-etto..."


Setelah terdiam sebentar, Elena-san melanjutkan,


"Aku senang sih, tapi sekarang tubuhku sudah hampir selesai dicuci, jadi boleh minta lain kali saja? Maksudku, kalau sekarang Finn-kun benar-benar mencucikan tubuhku, aku pasti sudah tidak akan bisa menahan diri lagi, jadi setidaknya aku harus mempersiapkan mental dulu sampai saat itu tiba...!"


Rasanya dia mengatakan sesuatu dengan suara kecil, tapi tertelan suara air hingga tak terdengar.


"Baik!"


Tapi aku mendengar bagian bahwa dia ingin memintanya lain kali, jadi aku menjawab dengan mantap.


Setelah itu, kami selesai mencuci tubuh masing-masing.


Lalu kami mengenakan handuk di tempat yang seharusnya dan mulai berendam bersama di bak mandi.


"Mandi itu memang nyaman ya~"


"Iya... sangat nyaman..."


"Wajah Finn-kun saat berendam lucu sekali...!"


Bak mandi luas yang beberapa hari terakhir kunikmati sendirian. Tapi sekarang, Elena-san ada bersamaku.


Meski bak mandi yang begitu luas ini masih terasa terlalu besar bahkan untuk berdua.


"Mandi bersama seseorang ternyata sangat menyenangkan ya..."


"Iya."


"...Beberapa hari terakhir aku selalu mandi sendirian. Tidak, bukan cuma mandi, sampai belum lama ini aku bahkan sudah bersiap kalau aku mungkin akan mati."


"Yang soal kami meninggalkan Finn-kun itu, ya? Apa sekarang setelah beberapa hari ini kamu sudah mengerti kalau hal seperti itu tidak mungkin terjadi?"


"I-iya! Karena semuanya orang baik, aku sudah tidak khawatir soal itu lagi!"


Mereka semua begitu baik. Dan mereka sudah bersikap begitu baik kepadaku, jadi kalau aku masih mengkhawatirkan hal itu, itu benar-benar tidak sopan.


Setelah mendengar jawabanku, Elena-san bertanya setelah jeda singkat.


"Kalau kamu bilang soal itu sudah tidak khawatir lagi, berarti masih ada hal lain yang kamu khawatirkan?"


"Itu..."


Hal seperti ini, sebenarnya tidak ada gunanya dibicarakan.


Tapi kalau Elena-san mau mendengarkannya, mungkin tidak apa-apa... ya.


Setelah sedikit ragu, aku akhirnya memutuskan untuk bicara.


"Mungkin bukan kekhawatiran, tapi lebih ke kegelisahan murni... aku sedikit bertanya-tanya apakah aku memang pantas hidup."


"...Eh?"


"Aku... mungkin... mungkin lebih baik mati saja."


Masyarakat bangsawan ini berpusat pada kaum bangsawan.


Di dalamnya, aku yang lahir sebagai rakyat biasa justru memiliki kekuatan melebihi para bangsawan.


Di masyarakat ini, itu adalah sesuatu yang menyimpang, dan jika penyimpangan seperti itu muncul, mungkin militer akan runtuh... dan jika militer runtuh, berikutnya Kekaisaran Luvankrum juga bisa runtuh.


Kalau dipikir begitu...


"Mungkin aku memang seharusnya mat──"


"Finn-kun!"


"──!?"


Elena-san memanggil namaku dengan kuat. 


Dan itu membuatku kembali sadar dari keadaan setengah kehilangan akal.


Elena-san lalu memelukku dengan lembut.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kamu tidak boleh mengatakan hal seperti itu... aku dan semuanya jadi jauh lebih bahagia karena bertemu Finn-kun. Kalau Finn-kun menganggap aku dan semuanya berharga, maka jangan pernah mengatakan kata-kata seperti itu lagi!"


"Elena-san..."


Begitu ya….Mereka semua sudah menerima diriku di pasukan garis depan ini.


Artinya, nyawaku bukan lagi sesuatu yang boleh kutentukan sendiri seenaknya.


"...Maaf."


Saat aku meminta maaf, Elena-san mengusap kepalaku sambil berkata dengan suara lembut.


"Un un, Finn-kun kan anak baik yang bisa meminta maaf dengan jujur seperti ini, jadi tidak mungkin kamu lebih baik mati atau semacamnya."


Setelah itu, Elena-san terus mengusap kepalaku untuk beberapa saat. 


Lalu akhirnya ia melepaskan pelukannya.


Dan kami berdua pun menikmati waktu mandi bersama dengan menyenangkan.


◆ ◇ ◆


"Elena-san, terima kasih banyak sudah mengajakku hari ini! Rasanya jauh lebih menyenangkan daripada mandi sendirian!"


"Aku juga benar-benar senang bisa mandi bersama Finn-kun! Lain kali, ayo mandi bersama lagi ya!"


"Iya!"


Setelah keluar dari pemandian dan masing-masing mengenakan pakaian kembali, kami keluar dari ruang ganti.


Elena dan Finn lalu menuruni tangga spiral bersama-sama.


"Finn-kun, setelah ini kamu langsung kembali ke kamarmu dan tidur?"


"Tidak. Malam ini Norn-san bilang ada sesuatu yang ingin dia bicarakan berdua denganku, jadi aku akan pergi ke kamarnya."


"Begitu ya, berarti di lantai yang sa── eh!? Ka-kamar Norn!? Berdua dengannya juga!?"


Mendengar sesuatu yang menurutnya luar biasa itu, Elena buru-buru membuka mulut.


"Itu tidak boleh, Finn-kun! Kamu tidak boleh berduaan dengan Norn di kamarnya!"


"Eh? Tapi──"


"Nanti aku yang akan menjelaskannya pada Norn, jadi Finn-kun kembali saja ke kamarmu!"


Demi keselamatan Finn, Elena sama sekali tidak bisa membiarkan Finn berduaan dengan Norn di kamar Norn.


Sambil berpikir kuat seperti itu, Elena langsung mendorong punggung Finn dan mengantarnya sampai ke kamar Finn.


Lalu setelah bertukar ucapan selamat malam dengan Finn yang tampak kebingungan.


Elena segera menuju kamar Norn dan mengetuk pintunya.


"Ya~"


Begitu terdengar jawaban dari dalam, Norn memperlihatkan wajahnya.


"Finn-kun, akhirnya da── eh, Elena-chan...?"


"Norn! Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan dengan memanggil Finn-kun ke kamarmu malam-malam seperti ini!?"


Menghadapi Elena yang berbicara keras dengan emosional, Norn membuka mulut dengan sikap seperti biasanya.


"Apa maksudmu? Aku cuma punya sedikit hal yang ingin kutanyakan kok~"


"Itu pasti bohong! Kau mau melakukan hal aneh lagi pada Finn-kun, kan!?"


"Aku tidak bohong padahal. Kalau begitu, sebelum aku bertanya langsung pada Finn-kun, aku mau tanya satu hal soal Finn-kun pada Elena-chan yang paling sering bersama Finn-kun sejak dia datang ke garis depan ini, boleh?"


"Boleh saja, tapi kalau pertanyaannya aneh aku bakal marah ya!"


"Baiklah~ Kalau begitu, aku langsung tanya aja──"


Sampai titik ini Norn masih bersikap seperti biasanya.


Namun, kata-kata berikutnya diucapkannya dengan ekspresi dan nada suara serius.


"Di depan Elena-chan, apa Finn-kun pernah sekali saja bilang kalau mungkin lebih baik dirinya mati...?"


"...Eh?"


Kalau Norn menanyakan sesuatu yang aneh soal Finn, Elena sudah siap meluapkan kemarahannya kapan saja.


Namun, kata-kata yang benar-benar keluar dari mulut Norn sama sekali berbeda dari bayangannya.


Walaupun baru saja terjadi, Elena memang teringat sesuatu terkait pertanyaan Norn itu.


"...Kenapa kau menanyakan itu?"


"Karena itu mungkin menjadi petunjuk untuk hal yang ingin kupastikan pada Finn-kun."


"......."


Elena ragu bagaimana harus menjawab.


Bagaimanapun juga, fakta bahwa Finn pernah mengatakan mungkin lebih baik dirinya mati adalah topik yang terlalu sensitif.


Apa benar tidak apa-apa jika Elena yang mengatakannya, bukan Finn sendiri...?


(Tapi, Norn setengahnya sudah yakin dan menanyakan ini)


Kalau tidak, pertanyaan setepat ini tidak mungkin muncul.


Kalau begitu, menyembunyikan kebenaran di sini juga tidak ada artinya.


Dan yang terpenting.


Elena mempercayai Norn.


Biasanya sikapnya memang sulit dipercaya, tapi Elena yakin bahwa dalam hatinya Norn benar-benar memikirkan rekan-rekannya, dan terlebih lagi, dia pasti tidak akan menyalahgunakan cerita ini setelah mendengarnya dari Elena.


Terutama karena Norn yang sesekali memperlihatkan ekspresi serius seolah menjadi orang lain seperti sekarang ini memang seperti itu, maka Elena mengangguk dan berkata.


"Ya, pernah. Sesuai kata-katamu, Finn-kun memang bilang kalau mungkin dirinya lebih baik mati."


"...Begitu ya."


"Aku bilang dia tidak boleh mengatakan hal seperti itu, dan dia meminta maaf. Jadi semoga sekarang pemikiran itu sudah sedikit membaik."


"...Awalnya cuma hipotesis samar yang belum jelas, tapi kalau begitu berarti dugaanku benar ya."


Kalau memang begitu.


Setelah menambahkan itu, tepat sesudahnya.


Tatapan mata Norn menjadi gelap, dan bersama ledakan kekuatan sihir yang besar, niat membunuh terpancar dari seluruh tubuhnya.


"Eh!? T-tunggu, Norn? Ada apa!?"


Biasanya, walaupun Norn sering bertindak aneh, Elena hampir tidak pernah melihatnya benar-benar emosional.


Karena itu, melihat Norn di depannya jelas-jelas dipenuhi emosi membuat Elena bingung.


Tak lama kemudian, Norn menahan kembali kekuatan sihir dan niat membunuhnya.


"Ah, tidak apa-apa kok."


"Mana mungkin itu disebut tidak apa-apa!? Itu jelas bohong!"


Mendengar itu, Norn kembali ke sikap biasanya.


"Daripada itu, hari ini Finn-kun sudah tidak jadi datang ke tempatku, kan? Kalau begitu, aku mau tidur saja deh."


"Tunggu dulu──"


Saat Elena hendak berbicara. Norn melepas kancing seragam militernya dan menanggalkan jaketnya.


Melihat pemandangan itu, Elena langsung teringat hal lain yang harus dia katakan, lalu segera mengganti fokus pembicaraan.


"Aku sudah berkali-kali bilang, sekarang markas ini bukan lagi tempat yang hanya dihuni sesama perempuan karena Finn-kun juga ada di sini, jadi hentikan kebiasaan tidur tanpa pakaian itu!"


"Aku tidak tenang kalau tidur pakai baju~. Lagi pula, kalau pria lain sih aku pasti tidak mau, tapi kalau Finn-kun melihatku dengan pakaian apa pun aku tidak masalah kok~"


"Walaupun kau tidak masalah, Finn-kun pasti malu! Lagi pula──"


Setelah itu, Elena pun melupakan fakta bahwa Norn tadi sempat emosional.


Dan seperti biasa, dia terus mengatakan semua hal yang ingin dia katakan pada Norn.


Namun, seperti biasa pula, Norn hanya mengabaikannya dengan santai, dan hari itu pun Elena gagal mengubah cara berpikir Norn.


◆ ◇ ◆


"Ohh, akhirnya datang juga!"


Sendirian di ruang rapat, Deandre yang sedang menunggu kedatangan seorang pembunuh bayaran berseru begitu ketika seorang wanita berambut putih dengan tubuh ramping muncul di hadapannya.


Wanita itu mengenakan pakaian putih berkancing yang rapi, dilapisi jaket hitam penuh kantong dan holster senjata.


Mendengar kata "pembunuh bayaran", Deandre semula membayangkan sosok yang lebih suram.


Karena itu, dia cukup terkejut melihat kecantikan wanita itu yang terbentuk dari kulit putih beningnya yang tampak transparan.


"Tentu saja aku datang. Ini pekerjaan, kan? Jadi, mana data targetnya?"


Begitu didesak demikian, Deandre segera menyerahkan dokumen tentang Finn.


"Ini."


"...Finn Teraword, 15 tahun. Lulus sebagai peringkat pertama sekolah sihir. Bahkan di antara para murid pelatihan militer Kekaisaran Luvankrum, kemampuannya sangat menonjol. Benar-benar talenta luar biasa. Apa kau yakin ingin aku membunuh anak seperti ini?"


"Sudah jelas. Anak itu hanyalah rakyat biasa… jika rakyat biasa sampai memiliki kekuatan, maka harga diri para bangsawan yang bahkan tak memiliki kekuatan sebesar dirinya akan runtuh. Jika itu terjadi, militer tak akan bisa mempertahankan sistemnya seperti sekarang, dan pada akhirnya negara ini akan hancur. Demi mencegah hal itu, benih penyimpangan harus disingkirkan sejak dini. Kau juga berpikir begitu, bukan?"


"Aku ini pembunuh bayaran. Bagiku, nyawa rakyat biasa maupun bangsawan hanyalah satu nyawa yang sama, tidak lebih dan tidak kurang."


"Apa…!? Nyawa kami para bangsawan sama dengan nyawa rakyat biasa katamu!?"


Deandre menduduki posisi tinggi di jajaran atas militer Kekaisaran Luvankrum.


Karena biasanya orang-orang selalu berusaha menyenangkan dirinya, sangat jarang ada orang yang berani mengutarakan pendapat berbeda di hadapannya.


Ditambah lagi, topik kali ini memang sensitif, sehingga dia sampai meninggikan suara. Namun wanita itu sama sekali tidak tampak terguncang.


"Jangan marah begitu. Seperti yang baru saja kukatakan, bagiku semua nyawa tetaplah nyawa yang setara. Karena ini sebuah permintaan, tentu saja aku akan menyelesaikannya dengan baik."


"……"


Ada banyak hal yang ingin Deandre bantah, tetapi jika sampai gara-gara itu wanita tersebut menolak menerima permintaan ini, maka Finn akan kembali lolos hidup-hidup.


Itulah satu-satunya hal yang benar-benar ingin ia hindari, jadi Deandre berusaha keras menenangkan dirinya.


"Meski begitu, anak laki-laki berusia lima belas tahun, ya… di antara semua targetku sejauh ini, anak ini yang paling muda."


"Membunuh orang yang masih sangat muda membuat nuranimu terasa sakit?"


Deandre sengaja menanyakan itu.


Jika wanita berambut putih itu sedikit saja menunjukkan emosi, maka itu akan menjadi balasan yang memuaskan atas perkataannya yang tadi membuatnya kesal.


Namun, bertolak belakang dengan harapan Deandre, wanita itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan emosi.


"Tentu tidak. Semua targetku pada dasarnya sama saja… entah mereka membenciku, memohon agar nyawanya diselamatkan, atau mati bahkan sebelum sempat melakukan itu. Jadi umur maupun kepribadian target tidak ada hubungannya dengan proses pembunuhan."


"Cih…"


Rencananya gagal dan suasana hati Deandre kembali memburuk sedikit. Namun sebagai pemberi tugas, ada hal yang tetap harus ia sampaikan.


"Jika permintaan ini berhasil diselesaikan, maka bayaran akan kuberikan sesuai kontrak—tetapi jangan sampai lengah. Finn Teraword sekarang berada di pasukan garis depan milik unit terkuat Kekaisaran Luvankrum… sampai saat ini memang belum jelas apakah itu benar atau tidak, tapi jika mereka sungguh menerima Finn Teraword, maka itu akan sangat merepotkan."


"Benar, mereka mungkin sedikit merepotkan. Tapi pembunuh bayaran berbeda dengan kalian. Pekerjaan kami adalah membidik celah tak terjaga yang memungkinkan kami merenggut nyawa target secara pasti, jadi kekuatan mereka dalam pertarungan langsung tidak ada hubungannya… mungkin kau sudah tahu, tapi semua permintaan yang pernah kuterima selalu berhasil kuselesaikan. Jadi kupikir kata-kataku cukup bisa dipercaya."


Bagi Deandre, memang ada beberapa hal dari wanita ini yang membuatnya tidak suka.


Namun wanita ini memang tampak cerdas, dan bahkan di hadapan klien pun dia tidak segan bersikap tegas. Sulit membayangkan dirinya kehilangan kendali karena emosi.


Dari sikap-sikap seperti itulah Deandre bisa merasakan bahwa wanita ini memang seorang pembunuh bayaran yang sangat kompeten.


"Begitu ya… kalau begitu, aku serahkan padamu."


Setelah Deandre berkata demikian, wanita berambut putih itu membalikkan badan dan meninggalkan ruang rapat.


"Akhirnya… dengan ini, kali ini pasti Finn Teraword akan…! Berani-beraninya rakyat biasa membuat kami para bangsawan sampai direpotkan sejauh ini. Tebuslah semuanya dengan kematianmu!!"


Seseorang yang telah menyelesaikan seluruh permintaan yang pernah diterimanya, dan dikenal sebagai pembunuh bayaran dengan kemampuan tertinggi di Kekaisaran Luvankrum.


Karena Deandre benar-benar bisa merasakan bukti dari reputasi itu secara langsung, dia pun yakin akan kematian Finn dan tertawa keras sendirian di ruang rapat.


Mungkin bahkan besok, si pembunuh bayaran itu akan membawa mayat Finn tepat ke hadapannya—


Membayangkan hal itu membuat Deandre tak bisa menahan tawanya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close