Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 6
Hal yang Tak Terduga
Keesokan harinya.
Setelah sarapan bersama semuanya, aku akhirnya mendapat kesempatan untuk ikut latihan untuk pertama kalinya sejak datang ke garis depan ini.
Dan tepat saat kami semua keluar dari markas bersama.
"Hmm…… ohh, kebetulan sekali!"
Bersamaan dengan terdengarnya suara pria dan derap kaki kuda.
Beberapa pria berpakaian seragam militer Kekaisaran Luvankrum datang menghampiri kami.
Setelah menghentikan kudanya, salah satu dari mereka membuka mulut.
"Kami adalah pasukan yang dikirim oleh petinggi militer, dan aku adalah kapten dari pasukan ini──"
Sebelum pria itu selesai bicara, Norn-san memotongnya.
"Aku saja sudah malas berurusan dengan pria militer, jadi aku makin nggak mau dengar orang bicara sok tinggi dari atas kuda begitu."
"Apa……!? Kami ini utusan dari petinggi militer! Mana mungkin disebut memandang rendah hanya karena datang sebagai utusan atasan!"
Pria itu membentak marah, dan semuanya mulai bergumam pelan.
"Sudah lama nggak lihat pria militer selain Tera-kun, tapi……."
"Entah kenapa langsung nggak tahan……."
"Dulu juga memang begitu, tapi setelah kenal Teraword-kun, rasanya pria lain jadi makin mustahil diterima ya……."
Karena semuanya bicara bersamaan, aku tidak bisa mendengar jelas isi percakapan mereka. Tapi dari suasananya, jelas itu bukan pembicaraan yang menyenangkan.
Mungkin merasakan hal itu, pria berkuda tersebut berbicara dengan nada kesal.
"Su-sudah cukup! Kami datang untuk mengambil mayat Finn Teraword yang beberapa hari lalu diterima sebagai anggota sementara pasukan ini! Kalau mengerti, cepat serahkan mayatnya!"
……Mayatku?
"……Mayat Finn-kun?"
Elena-san mengucapkan apa yang kupikirkan dalam hati, dan pria itu membentak.
"Benar! Dia baru saja diterima sementara beberapa hari lalu, bukan!? Ahh…… atau jangan-jangan bahkan mayatnya sudah tak tersisa? Kalau begitu, itu juga──"
"Aku nggak ngerti dari tadi kau ngomong apa, tapi Finn-kun ada di sini kok."
Elena-san mengarahkan tangannya kepadaku, dan pria di atas kuda itu menoleh ke arahku.
"Apa……!?"
Pria itu menunjukkan ekspresi seolah melihat hantu.
"Fi-Finn Teraword……!? Ti-tidak mungkin……! Kenapa kau masih hidup……!? Dan bahkan tanpa luka sedikit pun……!!"
"Kenapa? Malah, waktu dia bersama kami, pasukan terkuat Kekaisaran Luvankrum, kalian pikir Finn-kun bakal mati secepat itu?"
Elena-san bertanya dengan suara tenang yang sangat berbeda dari saat berbicara denganku dan yang lainnya.
Pria itu tampak tercekat sesaat sebelum menjawab.
"Ka-kalau dibilang begitu memang benar…… tapi bukankah kalian semua tidak suka berurusan dengan pria? Finn Teraword juga pria sama seperti kami──"
"Hah? Sama dengan Teraword-kun?"
"Bagian mananya yang sama?"
"Nggak masuk akal."
"Padahal cuma punya harga diri nggak berguna."
"Bikin mual."
"Apa……! Beraninya kalian bicara seperti itu pada kami, utusan resmi petinggi militer……!"
"……Daripada itu, ada yang sedikit membuatku penasaran──"
Saat Norn-san hendak berkata sesuatu.
"Diam! Kalau Finn Teraword masih hidup, kami sudah tak punya urusan lagi dengan kalian! Kami pergi!"
Setelah berkata keras begitu, pria itu memutar kudanya dan pergi bersama anak buahnya.
Kalau aku masih hidup, mereka tak punya urusan lagi…….
Berarti menurut para petinggi, seharusnya aku sudah mati ya.
Saat aku terus memikirkan itu dalam hati.
Semuanya mulai bergumam pelan.
"Apa sih gaya bicara sok tingginya itu……."
"Nyebelin banget……."
"Aku boleh menyerang mereka nggak?"
"Itu tidak diperbolehkan."
Untuk pertama kalinya sejak tadi, Sephia-san membuka mulut.
"Aku mengerti perasaan kalian, tetapi menyerang pasukan sekutu adalah pelanggaran aturan militer. Jika kita menyerang mereka, itu berarti kita memusuhi Kekaisaran Luvankrum…… dan kita mungkin akan diminta membentuk pasukan baru."
Membentuk pasukan…… baru.
"Itu bukan sesuatu yang boleh diputuskan hanya karena emosi sesaat."
"Sephia-senpai……."
"Memang sih……."
Mereka semua terus berbicara. Namun isi percakapan mereka hanya terdengar samar di telingaku.
Karena yang terus terngiang di kepalaku sekarang hanyalah kata-kata atasanku──
"Ngomong-ngomong! Jadi Finn-kun lulus dari akademi sihir sebagai peringkat pertama ya!!"
"Eh……? Ah, iya……"
Karena Elena-san tiba-tiba berbicara ceria padaku, kesadaranku kembali ke depan dan aku mengangguk menjawab.
Lalu, mengikuti Elena-san, yang lain juga mulai mengajakku bicara.
"Benar juga! Kita nggak perlu ngomongin orang-orang menyebalkan tadi!"
"Teraword-kun bukan cuma lulus sebagai ranking satu akademi sihir, tapi juga hebat di antara para murid pelatihan, kan!"
"Tera-kun hebat!"
"E-Ehm…… te-terima kasih……."
"Teraword-kun malu-malu……!"
"Imut……."
"Bahkan di situasi begini, lihat wajah Teraword-kun aja rasanya menenangkan……."
Setelah itu juga, mereka terus berbicara padaku dengan nada ceria. Dan tanpa kusadari, kata-kata atasanku tadi perlahan menghilang dari pikiranku.
……Sungguh.
Orang-orang ini…… benar-benar.
Benar-benar orang yang hangat.
◆ ◇ ◆
Markas utama militer Kekaisaran Luvankrum.
Di ruang rapatnya, empat petinggi sedang menunggu kembalinya pasukan yang dikirim untuk memastikan kematian Finn Teraword.
"Pe-permisi!!"
Bersamaan dengan suara itu terdengar, seorang pria masuk dengan tergesa-gesa.
Dia adalah kapten pasukan yang dikirim ke garis depan.
"Ohh, kau sudah kembali. Kau tampak terburu-buru, apa terjadi sesuatu?"
Tanya Deandre. Pria itu sedikit menenangkan diri lalu membuka mulut.
"Maafkan saya. Ketika kami tiba di garis depan, situasinya menjadi sesuatu yang tak terduga……."
"Sesuatu yang tak terduga? Apa garis depan sedang bertempur?"
"Ti-tidak, bukan itu……."
Pria itu berkeringat dingin seolah takut mengucapkannya di tempat ini. Namun setelah jeda sejenak, ia berkata dengan nada berat.
"Murid pelatihan rakyat biasa itu…… Finn Teraword masih hidup."
"Ma-masih hidup……!?"
Deandre sempat berseru kaget, namun segera menyeringai.
"Be-begitu ya, jadi dia masih dibiarkan hidup…… pasti sekarang dia sedang mengalami neraka hidup yang menyakitkan. Sampai-sampai kematian terasa lebih baik daripa──"
"Dia…… tanpa luka sedikit pun."
"Apa……?"
"Finn Teraword sama sekali tidak terluka, bahkan para wanita pasukan garis depan terlihat menerima keberadaannya……."
"Ti-tidak mungkin……!!"
Saat itu, seluruh ketenangan di wajah Deandre lenyap.
Ia meninggikan suara dan membentak.
"Mustahil!! Mereka itu pembenci pria! Pembenci pria yang tak pernah membuka hati untuk pria mana pun itu, kenapa justru menerima Finn Teraword!!"
"Sa-saya juga tidak tahu."
"Cu-cukup! Apa sebenarnya yang terjadi!? Pasukan garis depan itu bukankah pasukanmu!!"
Orang yang dituju Deandre adalah seorang wanita berambut ungu yang mengenakan medali Luvankrum di dadanya.
"Aku juga tidak tahu. Fakta bahwa mereka menerima seorang pria juga sepenuhnya di luar perkiraanku."
Meski berkata begitu, wajahnya yang hanya bisa digambarkan sebagai sangat cantik sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan.
Lalu wanita itu melanjutkan dengan suara tenang namun tegas kepada pria pembawa laporan tadi.
"Ada sedikit yang ingin kutanyakan."
"A-Apa itu?"
"Finn…… Finn Teraword, kira-kira setinggi apa tubuhnya?"
"Ti-tinggi badannya……?"
"Ya. Kau hanya perlu memberitahuku apakah dia lebih tinggi atau lebih pendek dariku."
"Kalau begitu…… kurasa dia lebih pendek."
"Begitu."
Setelah mendengar itu saja, wanita berambut ungu itu menundukkan wajahnya.
Wanita itu memang sangat berbakat, mengingat usianya yang masih muda namun sudah menduduki posisi di jajaran petinggi militer. Ditambah lagi, kepribadiannya memang bukan tipe yang akan berbicara tanpa perlu.
Karena itu, para pria di sekitarnya memiringkan kepala bingung, bertanya-tanya apakah ada makna tersembunyi di balik pertanyaannya tentang tinggi badan Finn tadi.
Namun──sebenarnya, tidak ada maksud mendalam apa pun di balik itu.
Wanita yang menundukkan wajahnya itu memerah pipinya.
Dengan ekspresi mabuk kepayang, ia berbisik pelan sekali hingga tak terdengar oleh siapa pun di sekitarnya.
"Finn…… jadi bahkan sekarang pun tinggi badanmu masih lebih pendek dariku. Aku sempat khawatir kalau kau sudah tumbuh lebih tinggi dariku dan aku tak bisa lagi memelukmu dalam dekapanku…… tapi syukurlah. ……Kira-kira setinggi apa sekarang, ya? Kalau tingginya sekitar dadaku, itu akan pas sekali…… fufu, seperti tubuhku yang tumbuh lebih dewasa dibanding dulu, Finn juga pasti sudah berkembang dari tubuh hingga sihirnya dibanding waktu itu. Aku ingin cepat bertemu denganmu, Finn……"
Tanpa mengetahui bahwa wanita itu sedang membisikkan hal seperti itu.
Pria bertubuh gemuk membuka mulut seolah ingin mengatur ulang pembicaraan.
"Namun, ini jadi masalah besar. Tak kusangka Finn Teraword masih hidup…… bahkan mungkin para wanita di pasukan garis depan itu sudah menerimanya."
"Mengenai hal itu, bukankah selama ini mereka tak pernah menjalin hubungan dekat dengan pria mana pun? Jadi kenapa hanya murid pelatihan itu yang mereka terima?"
"Entahlah…… aku benar-benar tak bisa menebaknya. Bagaimana menurut Anda, Deandre-dono?"
"A…… aa."
Fakta bahwa Finn masih hidup tanpa luka masih terlalu mengejutkan bagi Deandre.
Meski tampak lebih gelisah dari biasanya, ia tetap berusaha menjaga ketenangannya dengan harga dirinya.
"Aku pun tak bisa membayangkan alasan para wanita garis depan itu menerima Teraword. Kalau memang ingin menerima seseorang, mereka seharusnya lebih memilih menerima kita daripada Teraword yang hanya seorang murid pelatihan. Bahkan para pembenci pria itu pasti mengerti mana yang lebih menguntungkan."
"Benar juga…… mereka tak punya alasan untuk menolak kita lalu malah menerima Teraword."
"Kalau begitu, kemungkinan berikutnya adalah laporan palsu……"
Saat Deandre mengarahkan pandangannya ke pria pembawa laporan, pria itu buru-buru menjawab.
"Pa-paling tidak, Teraword yang kami lihat benar-benar tanpa luka, dan memang terlihat diterima oleh para wanita pasukan garis depan."
"Bukankah mungkin mereka hanya berpura-pura di depan kalian? Menyembuhkan lukanya dan memperbaiki suasana agar tampak seperti itu?"
Sebenarnya, para anggota pasukan garis depan tidak menerima Finn sama sekali.
Sesuai dugaan para petinggi, mereka mungkin saja menyiksa Finn untuk melampiaskan kebencian mereka. Namun, bila itu sampai terlihat terang-terangan dan bukan hanya menjadi kesepahaman diam-diam, tentu bisa menimbulkan masalah.
Karena itu, pria berpakaian rapi tersebut mengusulkan kemungkinan bahwa mereka hanya berpura-pura menerima Finn di permukaan.
Namun, pria pembawa laporan menggeleng.
"Tidak…… kami tidak memberi pemberitahuan sebelumnya bahwa kami akan datang. Lagi pula, pihak kami hampir tidak pernah ikut campur dengan garis depan, dan pertemuan tadi juga sangat mendadak, jadi kemungkinan itu rasanya kecil."
"Hm……"
"Lagi pula, jika mereka hanya membiarkannya hidup untuk melampiaskan kebencian, mereka pasti sudah mengurungnya di suatu tempat. Fakta bahwa mereka tidak melakukan itu membuatku merasa situasinya sudah berkembang di luar dugaan kita."
Setelah itu, suasana hening menyelimuti ruangan untuk beberapa saat.
Dalam rapat, keheningan seperti ini biasanya hampir tak pernah terjadi.
Itu menunjukkan betapa tak terduganya keberadaan Finn yang masih hidup bagi para petinggi.
"Ja…… jadi bagaimana sekarang? Awalnya, kita berencana mengirim Finn Teraword ke garis depan agar ia pasti mati di sana, sehingga rakyat jelata yang menaruh harapan padanya dan para bangsawan yang terbuai olehnya bisa sadar. Tapi kalau rencana itu gagal──"
"Tidak, itu belum gagal."
"……Maksud Anda?"
"Memang benar, rencana untuk membuat Finn Teraword mati tanpa kita turun tangan dengan mengirimnya ke garis depan telah gagal…… tapi kalau begitu, kali ini kita tinggal turun tangan sendiri."
Sambil berkata demikian, Deandre berdiri dari kursinya.
Lalu ia meletakkan kedua tangannya di atas meja dan berkata dengan tegas.
"Aku mengusulkan agar Finn Teraword dibasmi oleh tangan kita sendiri…… atau lebih tepatnya, dibunuh diam-diam."
Wanita berambut ungu yang terus menunduk itu akhirnya mengangkat wajahnya dan memandang Deandre.
"Pembunuhan diam-diam…… begitu?"
"Benar. Demi memastikan keberhasilan, sebenarnya kita bisa saja mengirim beberapa ribu pasukan, tapi itu akan terlalu mencolok…… walaupun dia hanya rakyat jelata, akan merepotkan kalau sampai ketahuan kita melakukan hal seperti itu pada sekutu sendiri."
"……Kalau aku, daripada metode pasif seperti pembunuhan diam-diam, aku ingin mengurangi jumlah mereka selagi masih bisa, jadi menurutku tak masalah mengirim ribuan pasukan meski agak memaksa."
Deandre salah mengira ucapan wanita berambut ungu tentang "mengurangi jumlah" itu sebagai jumlah anggota pasukan garis depan, lalu tertawa sambil berbicara penuh percaya diri.
"Haha, kau cukup dingin terhadap pasukanmu sendiri…… aku paham kau sangat ingin membasmi Teraword si rakyat jelata itu, tapi selain sifat mereka yang membenci pria, pasukan itu tetaplah pasukan elit dan para bangsawan. Kita tak bisa membiarkan darah mereka tertumpah demi rakyat jelata seperti Teraword."
Setelah itu, Deandre tampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan.
"Yang penting sekarang adalah siapa yang akan menjalankan pembunuhan ini…… dan aku tidak berniat memilih dari dalam militer. Aku ingin menyewa pembunuh profesional."
"Hooo…… seorang pembunuh bayaran?"
"Ya. Memang militer juga punya misi pembunuhan, tapi kalau bicara kemampuan membunuh secara khusus, tetap saja profesional lebih unggul…… dan orang yang ingin kusewa kali ini disebut sebagai pembunuh terbaik di Kekaisaran Luvankrum. Semua permintaan yang diterimanya selalu berhasil diselesaikan."
"Wah……"
"Semua, katamu…… sungguh mengejutkan."
"Benar, kan? Bagaimana menurutmu soal usulan ini?"
Saat ditanya oleh Deandre, wanita berambut ungu menjawab dengan nada tak tertarik.
"Menurutku, siapa pun pembunuh yang disewa hasilnya akan tetap sama."
"Hmph, aku paham kalau kau meremehkan Teraword hanya karena dia rakyat jelata, tapi kalau bicara kemampuan, dia jelas memiliki bakat luar biasa…… pembunuh biasa malah mungkin akan dibunuh balik olehnya. Ditambah lagi, dia sekarang bersama pasukan garis depan itu…… tak ada salahnya berhati-hati."
Mendengar ucapan Deandre, wanita berambut ungu itu──
"Itulah kenapa kubilang, siapa pun hasilnya akan sama……"
gumamnya kecil dengan nada jengah.
"Hm? Kau bilang sesuatu?"
"Tidak, bukan apa-apa."
"Begitu ya…… bagaimanapun, kali ini kita benar-benar bisa menyingkirkan Teraword dari dunia ini. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan orang-orang yang ingin mengirim hadiah untuk Teraword itu?"
"Bahkan sekarang pun, masih banyak wanita muda yang terus berdatangan. Kita masih bisa mengelabui mereka dengan alasan dia sibuk latihan, tapi entah sampai kapan alasan itu bertahan……"
"……Memang benar, masalah Teraword harus segera dibereskan. Untuk urusan pembunuh itu, serahkan padaku. Rapat hari ini selesai."
Begitu Deandre menutup rapat.
Seperti biasa, wanita berambut ungu itu berdiri paling cepat dibanding siapa pun. Lalu ia keluar dari ruang rapat begitu saja.
Matanya tampak gelap dan hampa tanpa ujung.
"……Tinggal sedikit lagi, ya."
Sambil mengangkat sedikit sudut bibirnya dan bergumam pelan.
Wanita itu mulai melangkah demi rencananya sendiri, yang berbeda dari rencana para petinggi.
◆ ◇ ◆
Setelah berbincang sebentar dengan semua orang.
Kami berjalan menuju hutan untuk mulai latihan.
"Hei hei, Finn-kun."
Di tengah perjalanan, Norn-san memanggilku.
"Ya, ada apa?"
"Bukan sesuatu yang terlalu penting sih? Tapi sebenarnya, sejak tadi Onee-san penasaran soal sesuatu."
"Sesuatu yang membuat penasaran……?"
"Yup. Sebenarnya tadi aku ingin memastikan langsung ke pria itu, tapi dia keburu pergi, jadi kupikir lebih baik tanya ke Finn-kun saja."
"Baiklah. Kalau itu sesuatu yang bisa kujawab, aku akan menjawab apa pun."
"Terima kasih~. Tapi, karena sebentar lagi kita mau latihan……"
Norn-san lalu berbisik di dekat telingaku dengan suara manis menggoda.
"Kalau begitu, malam ini, mau tidak bicara berdua saja denganku di kamarku?"
"Eh…? Di kamar Norn-san, ya?"
"Yup. Kalau di ruang tamu kan ada semua orang juga, jadi kurang cocok kalau ingin bicara berdua saja, kan? Tapi kalau di kamarku, selama aku tidak memberi izin, tidak akan ada orang yang masuk, jadi kurasa itu tempat yang paling pas untuk kita berdua bicara."
"Begitu ya… baiklah! Nanti malam, setelah selesai mandi, aku akan datang berkunjung!"
"Yup, aku tunggu ya~"
Dan begitulah. Diputuskan kalau malam ini aku akan berbicara dengan Norn-san di kamarnya.
Kira-kira, apa yang ingin ditanyakan Norn-san kepadaku?
Sambil memikirkan hal itu, kami terus berjalan, dan tak lama kemudian kami pun tiba di hutan tempat latihan akan dilakukan.
Lalu, Sephia-san melangkah beberapa langkah ke depan dari kami semua dan berkata.
"Biasanya kami akan langsung memulai latihan, tetapi hari ini adalah pertama kalinya Finn-san ikut serta dalam latihan, jadi pertama-tama kami ingin memeriksa kemampuan fisik dasar Finn-san terlebih dahulu… apakah tidak masalah?"
Mendengar pertanyaan Sephia-san, tentu saja aku mengangguk.
"Tentu saja! Mohon bimbingannya!"
"Terima kasih."
Aku tidak tahu apakah aku bisa menunjukkan hasil yang memenuhi harapan semua orang.
Tapi demi bisa bertarung bersama mereka mulai sekarang, dan suatu hari nanti mampu melindungi mereka.
Aku harus berusaha sebaik mungkin agar bisa menunjukkan hasil yang sesuai harapan.
Dengan semangat itu dalam hati, hal pertama yang kulakukan adalah berlari mengelilingi area sekitar tanpa menggunakan sihir, demi memeriksa stamina dasar.
Jarak yang bahkan pria biasa mungkin sudah mencapai batas hanya dengan satu putaran itu, terus kulalui berkali-kali.
"Hebat banget…! Pace Teraword-kun sama sekali nggak turun!"
"Aku juga mikir begitu! Kalau dengan kemampuan seperti itu masih disebut murid pelatihan, pasti ada yang salah kan…!?"
"Daripada itu, ekspresi seriusnya keren banget…"
"Aku ngerti…"
Saat putaran kesepuluh selesai, Sephia-san bertanya seberapa lelah diriku.
Ketika aku menjawab jujur, "Aku masih baik-baik saja!", dia berkata kalau kemampuan fisikku sudah lebih dari cukup.
Setelah itu pun, aku menyelesaikan berbagai latihan lain untuk memeriksa kemampuan fisik dasarku.
Begitu semuanya selesai.
Semua orang berlari mendekat kepadaku dan berkata.
"Teraword-kun! Waktu pakai sihir maupun nggak pakai sihir, kamu hebat banget!"
"Gerakanmu juga! Hal-hal yang katanya kamu pelajari dari kami tempo hari, semuanya benar-benar kamu praktikkan!"
"Aku belum pernah lihat murid pelatihan yang bisa melakukan sebanyak itu!"
"Semuanya… terima kasih banyak! Aku benar-benar senang mendapat pujian dari kalian semua!!"
Perasaan yang kurasakan sekarang.
Perasaan senang itu, kusampaikan langsung lewat kata-kata.
Lalu, entah kenapa semuanya mulai bergumam penuh semangat.
"Senyumnya Tera-kun…!"
"Imut banget…"
"Kemampuannya memang luar biasa, tapi kelucuannya juga benar-benar gawat…"
"Bener banget…"
"Menyembuhkan hati…"
Di tengah suasana itu, Elena-san, Sephia-san, dan Norn-san mendekat kepadaku.
"Finn-kun! Kerja bagus! Tadi kamu benar-benar berusaha keras!"
"Iya~. Onee-san juga sampai nggak bisa mengalihkan pandangan, lho~"
"Dalam segala aspek, hasilnya sungguh luar biasa."
"T-terima kasih banyak!"
Orang-orang dari pasukan terkuat Kekaisaran Luvankrum.
Tiga orang yang disebut sebagai kekuatan tempur terkuat Kekaisaran Luvankrum memujiku.
Aku begitu senang hingga menyampaikan rasa terima kasihku dari lubuk hati.
Dan setelah itu, kami menyelesaikan latihan dasar bersama-sama.
Hari itu latihan pun berakhir, dan kami kembali menuju markas garis depan bersama-sama.




Post a Comment