NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki na Ko ni Kokuttara, Futago no Imouto ga Omake de Tsuitekita V4 Chapter 1

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 1

Si Kembar Ingin Mengakui Status Murid

Sepertinya kegigihan musim panas yang membandel telah berakhir secara tiba-tiba.


Sehari setelah festival budaya SMA Putri Shuuka, suhu udara turun drastis seolah bumi baru saja teringat bahwa musim telah berganti menjadi musim gugur.


"Masaki, kamu cocok juga ya memakai jas blazer. Mungkin karena tubuhmu tegap?"


"Begitukah? Dasarnya aku memang punya cukup banyak otot."


Ini pertama kalinya seumur hidup aku dipuji saat mengenakan seragam.


Seragam musim dingin di SMA kami, baik untuk laki-laki maupun perempuan, adalah tipe blazer. Atasannya berwarna abu-abu tua dengan celana panjang berwarna senada.


Untuk siswi, jasnya juga abu-abu, namun roknya memiliki motif kotak-kotak dengan warna serupa. Ada yang bilang seragam perempuan sedikit lebih modis, tapi sebagai laki-laki, aku tidak merasa keberatan jika seragam mereka lebih gaya. Justru malah menyenangkan untuk dipandang.


Yuzuki juga mengenakan blazer abu-abu, namun ia membiarkan kancingnya terbuka. Sama seperti saat ia menggulung lengan blus panjangnya pada seragam musim panas, menggulung lengan blazer sepertinya sudah menjadi gaya khas Yuzuki.


Hari ini aku berangkat sekolah berdua saja dengannya. Fuuka sendiri sudah berangkat lebih awal karena katanya ada urusan di sekolah.


"Yuzuki, kamu ternyata tidak terlalu banyak mengubah gaya seragammu, ya."


"Aku suka seragam ini, jadi sedikit modis saja sudah cukup."


"Begitu rupanya."


Yuzuki adalah gadis yang tampil mencolok dengan rambut cokelatnya, dan pakaian pribadinya pun selalu modis. Dia pasti punya selera tersendiri dalam mengenakan seragam. Kabarnya jika cuaca semakin dingin, ia akan memakai kardigan di dalamnya, dan itu pasti akan terlihat cocok untuknya. Lagipula, Yuzuki pasti terlihat pantas mengenakan baju apa pun. Dia kan mantan model.


"Padahal kemarin panas sekali, ya. Masa-masa seperti ini memang merepotkan untuk urusan ganti lemari pakaian."


"Bukannya urusan ganti baju itu dilakukan oleh Asa dan Yuu?"


"Benar juga. Malahan mereka sudah menyiapkan pakaian yang sesuai dengan suhu udara hari itu, baik seragam maupun baju biasa."


"Luar biasa memang mereka berdua."


Pelayan keluarga Tsubasa sangat kompeten, jadi pekerjaan mendetail seperti itu pasti mereka selesaikan dengan sempurna.


"Ngomong-ngomong, aku juga kaget karena seragam musim dinginku sudah ada di dalam lemari tanpa aku sadari..."


"Ah, aku sih sudah terbiasa, tapi kamu pasti belum ya, Masaki. Para pelayan itu memang selalu bekerja di saat kita tidak menyadarinya."


"Jadi itu yang disebut perhatian seorang pelayan, ya."


Dulu di rumah orang tuaku, aku selalu mengganti pakaian musiman sendiri, bahkan terkadang aku juga melakukannya untuk adikku, Wakaba.


Kedua orang tuaku sangat sibuk mengelola kedai ramen Shinryu. Ayah dan Ibu tidak akan mengurusi hal-hal sekecil itu untuk anak yang sudah SMA, dan aku pun merasa senang karena sudah bisa melakukannya sendiri.


"Ah, iya, aku baru ingat. Masaki, kamu baik-baik saja?"


"Hm?"


"Aku dengar dari Fuuka, katanya kemarin kamu terlibat masalah dengan berandalan?"


"Berandalan... Ah, mereka cuma gerombolan yang suka cari ribut, tidak ada yang serius. Hanya saja, orang-orang yang ikut tim atau geng motor itu agak merepotkan. Mereka punya harga diri kelompok yang tinggi dan tidak akan mundur begitu saja."


"Masaki, kamu tahu banyak ya soal hal-hal aneh."


"Bukannya aku tahu karena aku suka."


Aku tersenyum kecut. Kira-kira zaman sekarang geng motor sudah punah, ternyata mereka masih ada. Aku belum pernah terlibat masalah dengan orang-orang yang tergabung dalam organisasi semacam itu, tapi seorang kenalanku yang juga preman pernah memperingatkan bahwa mereka itu merepotkan dan aku harus berhati-hati.


"Pokoknya, kalau situasinya berbahaya, biar keluarga Tsubasa yang menangani. Bilang saja kapan pun."


"Istilah 'menangani' itu terdengar agak menyeramkan."


"Tenang saja, keluarga kami sangat sadar hukum, jadi tidak akan menggunakan kekerasan."


"...Artinya kalian akan menggunakan 'sesuatu' selain kekerasan, ya."


Sepertinya itu bukan metode yang damai-damai amat. Mereka pasti tidak akan mengambil langkah ceroboh seperti memberikan uang yang justru akan membuat mereka terus diperas tanpa henti.


Dalam sebuah perkelahian, urusan setelahnya jauh lebih merepotkan daripada saat baku hantam terjadi. Berkat wajahku yang jahat dan reputasi buruk yang menyebar, urusan setelah perkelahian jadi jauh lebih mudah—entah itu hal baik atau buruk.


"Intinya, masalah kemarin sudah beres. Lagipula, aku berhasil tidak melibatkan Fuuka."


"Anak itu juga menguasai teknik bela diri, jadi kalau cuma menjatuhkan dua atau tiga pria saja sih gampang baginya."


"...Berarti bagimu juga dua atau tiga orang itu perkara mudah, ya."


Sebagai Destiny Twins, tindakan Yuzuki dan Fuuka selalu sinkron. Spesifikasi mereka seperti kemampuan akademik dan atletik pun benar-benar sama. Kekuatan fisik mereka pasti seimbang, mungkin jika mereka panco, pemenangnya tidak akan pernah ditentukan selamanya.


"Tapi ternyata Fuuka tidak main-main dengan ucapannya, ya."


"Sepertinya begitu."


Meskipun topik pembicaraan berubah tiba-tiba, aku bisa menjawab tanpa ragu. Tentu saja, ini soal dia yang ingin melepaskan diri dari status "pelengkap Yuzuki".


Karena hari ini aku berdua saja dengan Yuzuki, artinya Fuuka tidak menyerang secara agresif. Jika serangan Fuuka benar-benar serius, dia pasti tidak akan membiarkan situasi di mana aku dan Yuzuki bisa berduaan seperti ini.


"Lalu, Yuzuki sendiri... bagaimana menurutmu?"


"Sejauh yang kulihat, dia sepertinya tidak berniat bermusuhan denganku. Kalau begitu sih tidak masalah."


"Aku sempat berpikir harus melakukan sesuatu jika kalian berdua bertengkar, tapi..."


"Menurutku, biarkan saja Fuuka melakukan apa pun yang dia inginkan. Aku tidak bisa membayangkan situasi di mana aku harus bertengkar hebat dengannya."


"Benar juga, sulit membayangkan kalian berdua benar-benar bertengkar."


Yuzuki dan Fuuka adalah kakak beradik yang rukun. Namun, bukan berarti tidak pernah ada konflik di antara mereka. Masalah perjodohan di keluarga Tsubasa, serta perdebatan mengenai siapa yang menjadi tokoh utama di festival sekolah, telah membuat Yuzuki dan Fuuka saling berbenturan.


Hanya saja, meski berselisih, mereka tampak tetap saling menyayangi satu sama lain. Lalu kali ini──apa yang akan terjadi?


"Kemarin juga begitu, tapi hari ini pun rasanya masih ada yang janggal karena hanya berduaan dengan Yuzuki."


"Ahaha, soalnya sejak aku dan Fuuka tinggal bersamamu, kami benar-benar selalu satu paket. Padahal dulu sekolah kami berbeda, jadi seharusnya tidak aneh meski Fuuka tidak ada."


"Yah, karena kalian adalah si kembar takdir..."


Terhubung meski terpisah. Ungkapan romantis itu adalah kenyataan bagi Yuzuki dan Fuuka.


"Tapi, sepertinya akan menakutkan kalau Fuuka sudah serius. Anak itu memang rendah hati, tapi kemampuannya sangat tinggi."


"Ugh... kau benar juga."


Yuzuki dan Fuuka, keduanya memiliki spesifikasi tinggi. Dibandingkan mereka, aku ini hanya laki-laki berwajah seram yang sedikit kuat dalam berkelahi. Kalau Fuuka menyerangku dengan serius, aku tidak yakin bisa bertahan atau tidak.


"Ah, satu hal lagi yang aku ingat. Kamu bertemu dengannya di festival sekolah, kan? Gadis itu."


"Eh? Yuzuki, kamu juga tahu? Siapa ya──siapa namanya tadi?"


"Yuuki Alice. Meski sekolah kami berbeda, kami saling tahu soal kehidupan sekolah masing-masing."


"Begitu rupanya."


Wajar saja jika Yuzuki dan Fuuka saling menceritakan keseharian mereka. Mereka adalah kakak beradik yang luar biasa akrab.


"Kemarin, pada akhirnya guru datang ke halaman belakang dan gadis kuncir kuda itu langsung pergi entah ke mana. Yuzuki, kamu juga mengenalnya, kan? Ada sesuatu yang ingin kutanyakan."


"Aku tahu sedikit. Tapi, kenapa tidak tanya langsung pada orangnya?"


"Hah? Tanya langsung? Tapi kan sekolah kami berbeda."


Saat aku memiringkan kepala kebingungan, Yuzuki menunjuk ke arah ujung jalan. Di sana, dari sudut belokan, tampak seseorang sedang mengintip malu-malu──


"Yuuki Alice, ya?"


Rambut hitam dikuncir kuda, paras cantik yang tegas. Dan yang terlihat sedikit itu, tidak salah lagi, adalah seragam sailor putih dari SMA Putri Shuuka. Di Shuuka, seragam musim dinginnya pun tetap sailor putih, namun berbahan lebih tebal dan berlengan panjang.


"Hei, tidak perlu sembunyi-sembunyi begitu."


"Haaahh...!?"


Yuuki Alice sepertinya menyadari bahwa dia terlihat olehku, dan ia memasang wajah terkejut.


"Nah, ayo sini, kemarilah," panggil Yuzuki.


"A-ah, baik..."


Setelah dipanggil oleh Yuzuki, Yuuki Alice mengangguk lalu keluar dari sudut jalan dan berlari mendekat ke arah kami.


"Selamat pagi, ehm... Masaki-san, kan?"


"Selamat pagi. Oh iya, kemarin aku memang sempat memperkenalkan diri seadanya."


Sebelum guru datang ke halaman belakang kemarin, aku memang sempat menyebutkan namaku, tapi ternyata dia langsung ingat. Kecantikan Alice yang tegas berpadu dengan gaya bicaranya yang maskulin. Tentu saja, aku juga tidak mungkin melupakan wajahnya secepat itu.


"Kamu Yuuki Alice-san, kan?"


"Kh...!"


"Hm?"


Kenapa dia memasang wajah kesal hanya karena aku memanggil namanya? Padahal aku sudah menyebut nama lengkapnya lengkap dengan imbuhan "-san", apa ada yang salah?


"Na-nama Alice itu... tidak, tidak apa-apa! Masaki-san, jika itu Anda, saya mengizinkan Anda memanggil saya Alice!"


"O-oh, begitu ya."


Belakangan ini aku jadi sering memanggil gadis-gadis dengan nama depan mereka. Sebelum diizinkan memanggil Yuzuki dengan nama depannya, aku bahkan hampir tidak pernah memanggil gadis dengan nama keluarga sekalipun. Soalnya, dipanggil namanyanya olehku saja sudah membuat mereka ketakutan... itu sebenarnya agak menyakitkan hatiku.


"Lalu, Alice. Kenapa ada di sini? Ini bukan jalur menuju Shuuka, kan?"


Bukan sekadar bukan jalur sekolah, stasiun terdekatnya saja sudah berbeda.


"Ah, aku tahu. Pasti mau menemui Fuuka, kan? Dia berangkat lebih awal, jadi sekarang pasti sudah sampai di sekolah. Biar kuhubungi──"


"Bukan!"


"Eh?"


"Bukan, bukan Nee-san yang kucari. Masaki-san──aku datang karena ada urusan denganmu."


"Aku? Ah, benar juga, aku pun mengkhawatirkan hal itu. Apa orang-orang yang mengganggumu di festival sekolah kemarin baik-baik saja? Aku sempat berpikir seharusnya aku menanyakan kontakmu."


Para bajingan yang menggoda Alice itu sudah kuancam, jadi kupikir akan aman. Tapi karena mereka benar-benar bodoh, ada kemungkinan mereka akan kembali berulah tanpa jera.


"I-itu aman. Aku rasa mereka tidak akan berani melawan Masaki-san."


"Agak janggal juga ya kalau ditakuti sampai segitunya..."


"Ahaha, Alice-chan mengerti juga ya. Siapa pun orang bodohnya, kalau sudah dipelototi Masaki, pasti tidak akan berani macam-macam lagi."


Yuzuki yang sedari tadi diam mulai tertawa terbahak-bahak. Hanya Yuzuki yang bisa menjadikan wajah seramku sebagai bahan candaan sampai tertawa seperti itu.


"Anda, wajah itu──jangan-jangan Anda adalah kakak dari Nee-san!"


"Istilah 'kakak dari Nee-san' itu membingungkan ya. Tapi benar, aku Yuzuki Tsubasa, salam kenal. Kamu berteman baik dengan adikku, kan?"


"Berteman baik? Itu terlalu mulia! Bagi Nee-san, saya hanyalah pelengkap!"


"............"


"............"


Aku dan Yuzuki terdiam seribu bahasa di saat yang bersamaan. Baru saja Fuuka berhenti menjadi "pelengkap", sekarang malah muncul "pelengkap" baru...


Kemarin-kemarin ada Rina Takaya sebagai pelengkap Yuzuki, lalu Naraka adiknya sebagai pelengkap Rina. Terlalu banyak pelengkap sampai aku tidak tahu lagi mana yang merupakan "unit utama".


"Yang mana sebenarnya unit utamanya...?"


Sepertinya Yuzuki memikirkan hal yang persis sama denganku. Bukan hanya dengan Fuuka, sepertinya aku juga mulai bisa sinkron dengan Yuzuki.


"Unit utama apa maksudnya? Ah, maaf. Gaya bicaraku memang agak kasar."


"Ah, tidak apa-apa. Kalau kamu teman seangkatan Fuuka, berarti kita seumuran. Pakai bahasa santai saja. Lagipula, jarang-jarang melihat ada yang memakai bahasa formal ke Fuuka."


"Terima kasih, Kakaknya Nee-san!"


"Sudah kubilang panggil Yuzuki saja."


"Rasanya tidak sopan kalau memanggil nama tanpa embel-embel... Izinkan aku memanggilmu Yuzuki-san."


"Hmm, dipanggil pakai '-san' sebenarnya bukan gayaku, tapi ya sudahlah."


Yuzuki memang tipe orang yang tidak terlalu ambil pusing soal hal-hal kecil.


"Lalu, Alice-chan. Ada urusan apa kamu dengan Masaki?"


"Benar juga. Pembicaraannya jadi berputar-putar. Masaki Nakaba-san."


"Ada apa?"


"Tolong──jadikan aku muridmu!"


"............"


Bagus sekali. Masalah merepotkan lainnya datang menghampiri. Aku hanya bisa tertawa pasrah.



Karena tidak mungkin terus mengobrol di pinggir jalan, kami pun memutuskan untuk menuju ke sekolah.


Yuzuki tahu rute yang pernah digunakan Fuuka untuk menyelinap masuk secara diam-diam dulu, jadi ia menyuruh Alice menyusup melalui rute ilegal tersebut──dan akhirnya kami bertiga; aku, Yuzuki, dan Alice, berkumpul di halaman belakang sekolah.


Sedang apa kami di sini pagi-pagi buta begini?


"Jadi... apa maksudnya dengan 'murid' ini?"


Meski tahu ini akan merepotkan, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Biarpun dia menyebut dirinya sendiri 'pelengkap', dia tetaplah teman Fuuka.


Mendengar pertanyaanku, Alice mengangguk dengan wajah serius.


"Sebenarnya, aku sering sekali ditantang berkelahi."


"Kebetulan sekali, aku juga."


"Setiap kali aku berjalan di kota, pria-pria berandalan selalu menyapaku. Tentu saja aku mencoba mengusir mereka, tapi entah kenapa ujung-ujungnya selalu berakhir dengan baku hantam."


"Itu sih..."


Mungkin karena Alice ini bicaranya agak kasar dan terlihat angkuh? Atau mungkin perkelahian itu terjadi karena tangan Alice yang bergerak terlalu cepat...


Pria-pria yang menyapanya itu pasti bermaksud menggodanya. Tentu saja, pihak yang menggoda seratus persen bersalah. Karena orang-orang semacam itu biasanya sangat gigih, aku paham kenapa dia ingin membalas dengan kekerasan. Namun, kenyataannya──


"Alice, kalau kamu tidak belajar cara menghindar dengan benar, hal yang sama akan terus berulang."


"Kenapa aku harus belajar demi orang-orang asing yang tidak kukenal itu?"


"Itu benar, tapi ini juga bagian dari cara bertahan hidup di masyarakat."


Kalau setiap kali bertemu orang yang tidak disukai kita harus adu jotos, itu tidak akan ada habisnya. Malah, bisa-basi Alice sendiri yang ditangkap polisi nanti.


"Aku juga tahu itu. Bukannya aku ingin berkelahi. Masaki-san, kemarin Anda mengusir mereka bahkan tanpa melayangkan satu pukulan pun, kan? Itu sangat hebat. Rasanya seperti mataku baru saja terbuka."


"............"


Mata besar Alice menatapku tajam. Apakah ini perasaan yang belum pernah kutujukan padaku sebelumnya──perasaan hormat?


Memang Yuzuki, Fuuka, pelayan kembar, dan Takaya bersaudara menunjukkan rasa suka padaku, tapi rasa hormat... ini pertama kalinya. Bahkan adikku, Wakaba, tidak menunjukkan rasa hormat sedikit pun pada kakaknya ini.


"Aku sangat terkesan bahwa cara seperti itu ternyata ada!"


"Ter-terkesan? Tidak sehebat itu juga, kok. Meski aku tidak memukul, aku tetap meringkusnya dengan paksa. Yah, orang-orang tipe begitu memang harus diberi sedikit rasa sakit agar mereka jera."


Sayangnya, itu adalah pelajaran yang kupetik dari tujuh belas tahun hidupku.


"Masaki-san, itu tidak bisa disebut perkelahian. Meringkusnya itu cuma bonus."


"Hah? Maksudnya?"


"Masaki-san punya wibawa yang luar biasa. Seolah Anda bisa menaklukkan musuh hanya dengan aura keberanian saja."


"Bicaramu kok seperti karakter di komik aksi ya..." gumam Yuzuki pelan, dan aku sangat setuju dengannya.


"Lagipula, itu semua berkat akumulasi perkelahian di masa lalu. Mereka kabur hanya karena aku pelototi karena mereka sudah tahu reputasiku yang menyeramkan lewat rumor. Strategi itu butuh prasyarat bahwa aku memang kuat berkelahi."


"Hei, apa dulu Masaki memang sesering itu berkelahi?"


"Ugh... se-sebenarnya saat SMP memang cukup parah."


Ini adalah hal yang belum kuceritakan bahkan kepada Yuzuki dan Fuuka. 


SMP tempatku bersekolah dulu sangat kacau, sesuatu yang jarang terjadi di zaman sekarang, dan ada cukup banyak preman di sana. Sejujurnya aku tidak punya niat sedikit pun untuk bersaing dengan mereka, tapi hanya karena wajahku seram, aku sering sekali diganggu. Karena aku tidak berniat diam saja saat diserang, aku melawan balik dan menghajar mereka.


Preman-preman itu punya banyak teman nakal di luar sekolah, dan orang-orang semacam itu juga sering menggangguku──baik di sekolah maupun di luar sekolah, aku sangat sering terlibat masalah.


Itu masa-masa yang berat... Setelah aku adu jotos dengan pemimpin mereka dan membuat kesepakatan, barulah hari-hari penuh pertarungan itu berakhir. Aku menjelaskan garis besar cerita itu kepada Yuzuki dan Alice.


"Ternyata kamu dulu seperti ketua geng sekolah zaman dulu, ya."


"Jangan bahas itu."


Aku sendiri sadar kalau pengalamanku ini terasa sangat jadul seperti di era Showa.


"Dengar ya, aku tidak pernah sekali pun memulai perkelahian."


Meski tidak ada yang percaya, sebenarnya aku sangat membenci kekerasan.


Tidak, mungkin Yuzuki, Fuuka, Asa, Yuu, Rina, dan Naraka akan percaya padaku. Ternyata cukup banyak juga ya orang yang percaya padaku.


"Tidak, aku paham. Sejak awal aku sudah menduga Masaki-san memang tipe seperti itu."


Tak disangka, ternyata aku mendapatkan kepercayaan baru.


"Aku juga benci kekerasan. Aku tidak pernah punya keinginan untuk memukul orang."


"Itu baru benar."


"Karena itulah, tolong ajarkan caramu padaku! Bagaimana caranya mencapai tingkat 'tanpa membunuh'!"


"Tunggu, aku memang tidak pernah membunuh orang, ya!?"


Apa dia mengira aku ini mantan pembunuh berantai yang akhirnya menemukan jalan berubah!?


"Ah, maaf. Pokoknya, aku ingin Anda mengajarkan cara-cara yang non-vokal—maksudku, cara menangani situasi tanpa kekerasan."


"Biarpun kamu bilang begitu..."


Yah, kalau cuma cara menghadapi gerombolan berandalan sih aku bisa mengajarkannya. Tapi apa boleh mengajarkan hal seperti itu kepada seorang gadis...?


"Ayolah Masaki, jangan pelit begitu, ajarkan saja kenapa?"


"Yuzuki, jangan asal bicara seolah ini urusan orang lain."


Anak ini, dia pasti cuma mau menjadikannya tontonan, kan? Apa dia lupa kalau masalah besar soal Fuuka yang ingin lepas dari status "pelengkap" sedang berlangsung?


"Tapi ya, baiklah..."


Bagaimanapun, jarang-jarang aku diandalkan oleh seorang gadis seperti ini. Daripada mengajarkan hal-hal mesum, ini mungkin jauh lebih waras.


"Lagi pula, aku tidak terlalu suka melihat gadis manis harus pukul-pukulan atau tendang-tendangan."


"Ma-manis...! A-aku sama sekali tidak manis! Aku berbeda jauh dengan Nee-san atau Yuzuki-san!"


"Aku tidak membantah kalau kalian berbeda, sih."


Alice ini berbeda dengan Yuzuki yang bergaya gyaru glamor, atau Fuuka yang tenang dan anggun. Dia terlihat tegas dan maskulin—bukan, lebih tepatnya androgini.


"Masaki, apa perasaanmu sudah mulai mati rasa? Biasanya, orang tidak akan semudah itu bilang 'manis' kepada gadis, lho. Setidaknya, Masaki yang dulu tidak akan mengatakannya."


"...Mungkin saja."


Tanpa sadar aku malah kelepasan bicara begitu. Sepertinya aku sudah tidak bisa kembali lagi menjadi Masaki Nakaba yang dulu, yang hanya dikenal karena wajah seramnya.


"Hanya saja, kalau mau mengajari caranya, di mana kita harus melakukannya?"


"Aku tidak keberatan di mana saja. Kalau perlu, di pinggir jalan pun oke."


"Tidak bisa begitu, kan. Lebih baik di tempat yang bisa membuat kita leluasa bergerak. Yuzuki, ada tempat yang bagus──"


"Di apartemen kami ada fasilitas gym, dan ada juga orang-orang yang berlatih bela diri di sana."


"Uwah!?"


"Ne-Nee-san!?"


Mendengar suara tiba-tiba itu, aku menoleh dan mendapati Fuuka dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai sedang berdiri di sana. Mulai hari ini Fuuka juga sudah berganti ke seragam musim dingin, ia mengenakan blazer abu-abunya dengan rapi.


"Pagi, Fuuka."


"Selamat pagi, Yuzu-nee. Karena tidak kunjung datang ke kelas, aku datang mencari kalian."


"............"


Meskipun sudah ada deklarasi tentang melepaskan status pelengkap, hubungan mereka berdua sepertinya tidak banyak berubah. Sepertinya juga tidak ada percikan api permusuhan di balik layar.


"Se-selamat pagi, Nee-san!"


"Sudah kubilang, berhenti memanggilku 'Nee-san'."


Fuuka tertawa kecil. Sepertinya menegur panggilan itu sudah menjadi rutinitas harian bagi mereka.


"Jadi, Masaki-san. Saya juga memohon kepada Anda. Maukah Anda mengabulkan permintaan Alice-chan?"


"Kamu menguping pembicaraan kami, ya?"


"Iya, diam-diam."


Fuuka kembali tertawa kecil sambil menjulurkan lidahnya. Manis sekali.


"Ah, ya sudahlah... Karena tempatnya juga sudah ada, aku akan lakukan apa yang kubisa."


"Benarkah, Masaki Nii-san!?"


"Sekarang aku jadi 'Nii-san'!?"


Kalau orang berwajah sangar sepertiku dipanggil "Nii-san", rasanya jadi seperti anggota yakuza...


"Mohon bantuannya, Nii-san!"


"Jadi panggilan itu sudah diputuskan, ya..."


Gadis kuncir kuda ini ternyata cukup pemaksa juga.


Tapi ya sudahlah──aku sudah banyak dibantu oleh Yuzuki dan Fuuka, dilayani oleh pelayan kembar, dan bahkan sudah melakukan banyak hal mesum dengan Takaya bersaudara. Sesekali, bekerja demi kepentingan umum atau demi orang lain mungkin ada baiknya juga...


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close