NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki na Ko ni Kokuttara, Futago no Imouto ga Omake de Tsuitekita V4 Prologue

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Prologue

Festival sekolah di akhir September, embusan angin malam yang sejuk mulai terasa setelah keriuhan pesta berakhir. Musim panas yang panjang seolah-olah akan segera usai──


"Panas ya..."


"Iya, panas sekali."


Namun, di luar dugaan, musim panas mendadak kembali dan hari-hari yang terik pun berlanjut. Seragam sekolah seharusnya sudah memasuki masa pergantian ke seragam musim dingin, tetapi rasanya mustahil untuk mengenakan lengan panjang dalam cuaca seperti ini. Oleh karena itu, aku dan Tsubasa Fuuka yang berjalan di sampingku masih mengenakan seragam musim panas berlengan pendek.


"Apalagi di tengah cuaca panas begini malah ramai sekali. Pihak sekolah pasti tidak menyangka akan sepadat ini."


Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Tempat ini adalah Akademi Putri Shuuka──atau sering disingkat menjadi Shuujo. Sekolah ini berada di jalur kereta yang sama dengan SMA kami, jadi kami sering melihat siswi sekolah ini di dalam kereta saat jam berangkat sekolah. Shuuka adalah sekolah putri terpadu tingkat SMP dan SMA. Konon, banyak putri dari keluarga terpandang yang bersekolah di sini. Seragam sailor putih mereka yang terlihat anggun sangat terkenal, dan kabarnya tidak sedikit gadis yang masuk ke sini karena mengagumi seragam tersebut.


Kami berada di halaman depan, tepat setelah melewati gerbang sekolah. Hari ini, halaman tersebut dipenuhi oleh para siswi yang mengenakan seragam sailor putih. Selain itu, banyak pula orang lain seperti pelajar dari sekolah lain sepertiku, serta laki-laki dan perempuan dari berbagai usia yang mengenakan pakaian bebas.


Hari ini adalah hari festival budaya SMA Putri Shuuka.


"Syukurlah cuacanya cerah, tapi sinar mataharinya agak terlalu menyilaukan, ya."


"Benar sekali. Rasanya aku butuh kacamata hitam."


Aku dan Fuuka menyipitkan mata sambil menatap ke arah langit. Matahari bersinar terik, tidak berbeda jauh dengan puncak musim panas. Mengingat wajahku yang terlihat sangar, jika aku memakai kacamata hitam, aku akan terlihat seperti bos mafia. Jadi, satu-satunya langkah pencegahan yang bisa kulakukan hanyalah sebisa mungkin berteduh di bawah bayangan.


"Ngomong-ngomong, siswi Shuuka juga ternyata masih memakai lengan pendek, ya."


"Hari ini semua orang akan sibuk bekerja, jadi kalau memakai seragam musim dingin di cuaca sepanas ini, pasti akan banyak yang jatuh pingsan."


"Istilah 'banyak yang jatuh pingsan' itu terdengar agak menyeramkan."


Saat aku refleks melontarkan komentar itu, Fuuka hanya memiringkan kepalanya sambil bergumam, "Benarkah?"


Fuuka memang sedikit lugu. Gadis itu sebenarnya adalah siswi Shuuka sampai beberapa waktu yang lalu. Dia masuk saat tingkat SMA dan bersekolah di sini selama sekitar satu tahun lebih, jadi tempat ini pasti sudah sangat familier baginya.


"Padahal tahun lalu saat festival sekolah, cuacanya malah cenderung dingin."


"Ehm, masa sih?"


Festival sekolah Putri Shuuka diadakan satu minggu setelah festival di SMA-ku. Waktunya hampir bersamaan, tapi apakah tahun lalu udara jadi dingin lebih awal?


"Kelas saya dulu membuka stan es serut, tapi penjualannya benar-benar tragis..."


"I-itu sih memang nasib buruk."


Es serut tidak akan laku jika dijual di hari yang dingin, meskipun yang menjualnya adalah siswi-siswi SMA dari keluarga terhormat yang cantik.


"T-tapi daripada itu... Wah, festival sekolah Shuuka benar-benar meriah, ya."


"Eh? Begitukah?"


"Sudah jelas ini levelnya berbeda jauh dengan festival di sekolah kita."


Festival sekolahku yang baru berakhir seminggu lalu memang meriah, tapi festival di sekolah yang isinya gadis-gadis cantik semua ini benar-benar berbeda. Bagaimanapun, ini adalah sekolah putri ternama. Banyak gadis yang terlihat anggun dan sangat cantik, sesuatu yang jarang ditemui zaman sekarang. Rasanya meskipun harga tiket masuknya dipatok sepuluh ribu yen pun, orang-orang tidak akan keberatan.


"Tak kusangka, aku bisa datang ke festival sekolah putri ternama ini..."


"Katanya, tiket masuk festival SMA Putri Shuuka ini sangat langka dan berharga, lho."


"Pasti banyak orang yang ingin mencoba masuk ke sini setidaknya sekali."


Sejujurnya aku agak segan karena wajahku ini tidak cocok untuk berada di festival sekolah putri. Meskipun aku tidak akan ditegur selama memakai kartu akses yang ditukar dengan tiket di bagian penerima tamu, aku tetap merasa tidak enak jika membuat orang-orang di sekitar ketakutan. Namun, setelah benar-benar datang, aku mulai merasa sedikit senang.


Tentu saja aku tidak bisa mengatakannya keras-keras karena pacarku ada di sampingku. Aku juga laki-laki SMA normal, jadi terkadang mataku masih melirik gadis lain. Tapi, tidak menunjukkannya dalam sikap atau ucapan adalah bentuk tata krama, bukan?


"Meski begitu, sebagai laki-laki, aku merasa agak kurang nyaman di sini. Bukankah persentase pengunjung wanitanya sangat tinggi?"


"Benar, suasana 'terlarang bagi pria' ini juga terasa tahun lalu. Dasarnya, sistem di sini adalah siswi mengajukan jumlah tiket masuk yang dibutuhkan kepada sekolah, dan jika tidak ada masalah, tiket akan diberikan sesuai jumlah permintaan."


"Apa pernah ada yang ditolak?"


"Hampir tidak pernah. Sebagian besar mengundang keluarga atau teman dekat. Hanya saja, siswi Shuuka cenderung lebih banyak mengundang sesama perempuan atas inisiatif sendiri."


"Begitu rupanya."


Banyak orang dewasa yang seumuran dengan orang tua murid, tetapi kebanyakan adalah wanita—yaitu para ibu. Mungkin karena ini adalah sekolah putri dari keluarga baik-baik, para ayah cenderung menahan diri untuk hadir.


"Masaki-san tidak perlu khawatir. Selama memakai kartu akses itu, Anda boleh percaya diri dan tidak akan ada masalah."


"Justru itu masalahnya."


"Apa maksudnya?"


"Fuuka, bukankah kamu sudah pindah sekolah? Aku baru terpikir sekarang, bagaimana kamu bisa mendapatkan tiket festival ini?"


Aku sempat bertanya sekilas saat tiket itu diberikan padaku, tapi dia mengalihkan pembicaraan.


"Banyak kerabat keluarga Tsubasa yang merupakan alumni Shuuka. Ibu saya juga lulusan sini."


"Pantas saja..."


Keluarga Tsubasa kabarnya adalah keluarga bangsawan yang sangat kaya raya. Jika mereka mau, mereka pasti punya pengaruh besar di sekolah yang memiliki hubungan erat dengan mereka seperti Shuuka ini. Sepertinya Fuuka tidak terlalu ingin membahas soal penggunaan kekuasaan keluarga Tsubasa. Lagipula, aku ini secara tidak langsung sudah membuat keluarga Tsubasa menjadi musuh karena masalah perjodohan Fuuka dan Yuzuki. 


Aku tidak akan tiba-tiba dilenyapkan, kan? Apa mungkin suatu hari nanti sekelompok pria berkacamata hitam dan berjas akan mencegatku?


"Ah, Masaki-san. Lihat, ada gula-gula kapas. Gula-gulanya lucu sekali ♡"


Fuuka mengatakannya dengan wajah gembira, lalu melangkah pergi dengan ringan. Setelah berbincang sepatah dua patah kata dengan para siswi yang sedang melayani tamu, ia kembali membawa dua buah gula-gula kapas.


"Ini untuk Anda, Masaki-san."


"Ah, terima kasih. Berapa harganya?"


"Anak-anak di stan itu teman-teman saya. Mereka bilang sampai mati pun tidak akan mau menerima uang dari saya."


"Sa-sampai mati?"


Aku bisa merasakan tekad yang kuat bahwa mereka benar-benar tidak sudi menerima uang dari Fuuka...


Di papan nama stan tertulis "Kelas 1-C", jadi bagi Fuuka, mereka adalah adik kelas. Sepertinya dia sangat disayangi oleh junior-juniornya.


"Ah, ini enak, lho. Gula-gulanya empuk, manis, dan lembut."


"Benar, manis sekali."


Rasanya memang enak, tapi apa tidak aneh melihat laki-laki berwajah sangar sepertiku memakan gula-gula kapas? Padahal Fuuka yang cantik sangat cocok dengan camilan yang terkesan fantasi seperti ini.


"Tapi, Fuuka. Apa benar tidak apa-apa hanya berdua denganku?"


"Saya memang ingin datang berdua saja dengan Anda."


Fuuka menjawab dengan senyuman, lalu menyuapkan secuil gula-gula kapas ke mulutnya.


Hmm...


Ya, hari ini aku dan Fuuka datang ke festival sekolah Putri Shuuka hanya berdua. Saudara kembar Fuuka, Yuzuki, sepertinya sedang pergi bermain dengan temannya, Takaya Riina. Pelayan di rumah kami, Nagami Asa dan Yuu, berkata hal seperti, "Kami akan bersih-bersih rumah dengan kekuatan penuh setelah sekian lama." Selain itu, adik Riina yang bernama Naraka juga sepertinya sedang sibuk dengan "pekerjaannya".


Namun, terlepas dari semua itu──sejak awal Fuuka sudah memutuskan untuk pergi ke festival sekolah ini berdua saja denganku.


Aku akan lulus dari status sebagai 'pelengkap' Yuzu-nee...


Begitu deklarasi Fuuka tepat sebelum festival sekolah kami dimulai. Awalnya, aku menyatakan cinta kepada teman sekelasku, Tsubasa Yuzuki, namun ia memberi jawaban yang sangat di luar dugaan: "Aku mau pacaran denganmu asal kamu mau menduakan aku dengan adikku." Begitulah ceritanya aku akhirnya berpacaran juga dengan Fuuka, adik Yuzuki.


Dulu Fuuka menyebut dirinya sendiri sebagai "pelengkap kakaknya" dan tampak tidak keberatan sama sekali. Namun Fuuka yang sekarang, setelah menyadari bahwa hatiku lebih condong kepada Yuzuki, mencoba melepaskan diri dari status pelengkap tersebut. 


Itulah sebabnya dia pergi keluar berdua saja denganku tanpa melibatkan Yuzuki, tapi──


"Anu, maaf, Masaki-san."


"Eh? Iya?"


Fuuka, yang entah kapan sudah menghabiskan gula-gula kapasnya, memasang wajah tidak enak hati.


"Ada apa, Fuuka?"


"Orang-orang di sana itu teman-teman sekelas saya dulu."


"Eh?"


Beberapa meter di depan kami, di depan stan krep, ada tiga orang siswi berseragam sailor putih yang sedang berbaris. Mereka membungkuk sopan ke arahku sambil menunjukkan senyum yang agak kaku. Sepertinya mereka juga sudah tahu soal hubunganku dengan Fuuka. Senyum mereka kaku mungkin karena wajahku yang terlihat seperti kriminal.


"Ah, jangan cemaskan aku. Tidak apa-apa kalau kamu mau mengobrol dengan teman-temanmu. Aku akan jalan-jalan santai di sekitar sini."


"Ma-maaf, padahal saya yang mengajak Anda. Saya akan segera kembali secepat mungkin."


"Santai saja, sungguh."


Aku tersenyum kecut, lalu Fuuka membungkuk kecil dan berlari kecil menuju teman-temannya. Bagi Fuuka, pergi berdua denganku mungkin adalah langkah pertama untuk melepaskan status pelengkapnya. Meski begitu, waktu bersama teman-teman tetaplah penting.


"...Meski kubilang begitu, kalau aku berkeliaran sendirian, benda ini pun tidak akan banyak membantu."


Aku mengangkat kartu akses yang tergantung di leherku.


Selama ada benda ini, aku tidak akan diusir, tapi tetap saja aku merasa sama sekali tidak pantas berada di sekolah putri yang anggun ini. Lebih baik aku pergi ke tempat yang agak sepi──


Meski mungkin akan terlihat mencurigakan, tapi di halaman depan ini orangnya terlalu banyak. Aku berjalan meninggalkan kebisingan halaman depan menuju ke arah belakang gedung sekolah. Di sini sama sekali tidak ada orang. Tidak ada papan tanda dilarang masuk, tapi mungkin sebenarnya area ini tidak boleh dimasuki.


"Hm?"


Saat aku hendak berbalik arah, aku menyadari ada suara orang.


Apa ada sesuatu di sini? Aku mengintip perlahan dari sudut gedung.


"Oi, oi, apa-apaan sih, padahal kamu sendiri yang membawa kami ke tempat seperti ini?"


"Padahal tadi kami senang karena mengira siswi Shuuka ternyata seagresif ini."


"Apa? Menyuruh kami pulang? Kami ini masuk secara resmi pakai kartu akses, lho."


Ada sekitar empat orang laki-laki berpenampilan berandalan di sana. Di depan mereka berdiri seorang siswi berseragam sailor putih. Rambut hitamnya dikuncir kuda, dengan paras wajah yang tegas dan berwibawa. Tubuhnya cukup tinggi, namun ramping, dan jelas kalah telak secara fisik jika dibandingkan dengan para pria itu.


"Hah..."


Aku refleks menghela napas. Tentu saja, karena ini sekolah putri yang penuh gadis cantik, orang-orang semacam itu pasti akan mendekat. Sebagai sesama laki-laki, aku merasa malu...


"Heh, kamu dengar tidak? Begini saja Nona, bagaimana kalau kamu beri kami kompensasi karena sudah mengecewakan harapan kami?"


"Jangan bercanda."


Eh?


Dari mulut siswi yang sedang dikerubungi para pria itu──terdengar suara yang sangat tajam sampai-sampai aku tertegun.


"Bukan aku yang membawa kalian ke sini. Aku hanya ke tempat sepi karena kalian terus-menerus menggangguku. Jika orang-orang seperti kalian ada di sana, siswi lain akan ketakutan."


"Ketakutan? Padahal kami ini orang baik, lho."


"Benar, kami juga terkenal lembut kalau di atas ranjang."


"Bohong kamu, bukannya perempuan yang kamu bawa tempo hari mukanya sampai bengkak? Padahal dia cantik, tadinya aku mau minta giliran, tapi langsung malas karena melihat itu."


"............"


Bajingan-bajingan ini sama sekali tidak gentar. Lagipula, kata-kata mereka benar-benar menjijikkan. Entah cara apa yang mereka gunakan sampai berandalan semacam ini bisa masuk ke festival sekolah putri ternama. Sepertinya metode pembagian tiket harus diperketat lagi.


"Begini saja, kalau kamu mau bermain dengan kami di sini, kami bersedia pulang dengan tenang."


"Betul, tadinya kami berniat membawa pulang beberapa gadis, tapi kalau levelnya setinggi kamu, satu orang saja sudah cukup."


"Tapi kami minta nomor kontakmu, ya. Kami ingin bermain-main denganmu untuk sementara waktu."


"He-he-he," para pria berandalan itu menyeringai mesum yang menjijikkan. Ternyata tipe penggoda wanita seperti mereka ada di mana-mana...


Kalau diingat kembali, alasan Yuzuki menyukaiku adalah karena aku menolongnya dari gangguan pria hidung belang. Karena aku pernah menolong Yuzuki, aku tidak bisa membiarkan gadis ini begitu saja.


"Lagipula, selain wajahnya cantik, dadanya juga lumayan besar. Sempurna."


Salah satu pria itu mengulurkan tangan tanpa permisi ke arah dada si gadis berkuncir kuda.


Oi, oi, ini sudah bukan sekadar menggoda, tapi pelecehan seksual.


Tepat saat aku hendak melompat keluar dari sudut gedung sekolah.


"Diam, sampah!"


"Guakh!"


Tendangan gadis berkuncir kuda itu mendarat telak di wajah si pria berandalan. Pria itu langsung jatuh tersungkur ke tanah──


Cepat sekali!


Itu adalah tendangan high kick yang luar biasa, dengan lintasan yang ringkas dan lutut yang terlipat sempurna. Tak seorang pun menyadari bahwa rok di atas lututnya tersingkap dan memperlihatkan celana dalam putihnya sesaat. Begitu cepatnya tendangan itu.


Tunggu, penjelasan macam apa ini? Seperti narasi komik aksi saja. 


"Brengsek kau... Padahal aku sudah bersikap lembut karena mengira kau cuma wanita lemah!"


"Jangan bercanda, cepat ringkus dia!"


"Kalian? Meringkusku?"


"Huh," gadis berkuncir kuda itu tertawa meremehkan, sama sekali tidak gentar menghadapi para pria yang mulai mengintimidasi.


Wusss──dalam sekejap, ia mendekati salah satu pria dan menghantam dagunya dengan pangkal telapak tangan. Tanpa jeda, ia melompat dan mendaratkan sikutan tajam ke ulu hati pria di sebelahnya.


"Guh!"


Bersamaan dengan pria itu yang mengerang kesakitan sambil membungkuk, si gadis menjambak rambutnya, menarik wajahnya mendekat, lalu menghantamkan serangan lutut tepat ke wajah.


Bukan hanya cepat, serangannya juga sadis!


"Brengsek, jangan sombong kau──Apa!?"


Saat pria keempat atau yang terakhir hendak menerjang, si gadis memutar tubuhnya setengah lingkaran dan melepaskan backspin kick. Tendangan itu pun mendarat dengan sempurna di wajah lawan. 


Akhirnya, keempat pria itu semuanya tumbang ke tanah. Kalau dipikir-pikir, dia mendaratkan semua serangannya tepat di wajah. Gadis berkuncir kuda yang kalah secara fisik ini kemungkinan besar memusatkan serangan ke wajah—bagian yang paling mudah menerima kerusakan—untuk menutupi kekurangan tenaganya.


Gadis ini, di balik penampilannya yang cantik, ternyata sangat terbiasa berkelahi... Meskipun ia mengenakan seragam sailor putih yang sama dengan para gadis anggun di halaman depan, ia terasa seperti makhluk yang berbeda sama sekali.


"Hei, pria di sana."


"Eh."


"Apa yang kau lihat dari tadi?"


"Ah, tidak, tunggu. Aku bukan teman mereka."


Gadis berkuncir kuda itu ternyata menyadari keberadaanku.


Pertama-tama, aku harus menegaskan bahwa aku tidak ada hubungannya dengan para bajingan ini.


"Kalau begitu, sedang apa kau di sini? Ini bukan pertunjukan."


"Aku tahu. Tapi──Kabur!"


"Eh?"


Tanpa menunggu jawaban dari si gadis yang tampak bingung, aku langsung berlari.


Aku segera mendekat ke arahnya dan mengulurkan tangan.


"Ternyata kau memang komplotan mereka!"


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan!"


Aku berteriak──tanganku menjangkau ke arah belakang si gadis dan mencengkeram pergelangan tangan pria yang ada di sana.


"Sial! Hei, brengsek, jangan menghalangiku...!"


Aku mencengkeram kuat pergelangan tangan pria berandalan pertama yang tadi sempat tumbang, yang ternyata mencoba menyerang si gadis secara diam-diam dari belakang.


Di tangan pria itu, sebuah pisau kecil berkilauan. Meskipun bilahnya pendek, jika tergores, urusannya tidak akan sederhana.


"Maaf aku lancang melangkahi kepalamu. Hei, menyerahlah."


Setelah meminta izin pada si gadis, aku mencengkeram pergelangan tangan pria itu lebih kuat lagi. Aku menarik tangannya dan memelintirnya ke atas.


"A-aduh, duh, duh, sakit!"


Pria itu berteriak kesakitan karena kuncian sendinya benar-benar telak, lalu menjatuhkan pisaunya. Aku segera menendang pisau itu menjauh.


"Bawa teman-temanmu dan segera angkat kaki dari sini."


"Bre-brengsek kau... Hiih!?"


Pria berandalan yang tadinya masih ingin berlagak tangguh itu mendadak memasang wajah pucat pasi. Aku menyempitkan mataku dengan tajam dan memelototinya.


Aku belum pernah melihat wajahku sendiri, tapi konon ekspresi ini sangat menakutkan sampai-sampai pria dewasa pun bisa kencing di celana.


"Ka-kau, Masaki Nakaba...! Tu-tunggu! Aku tidak ada niat untuk mencari masalah dengan Masaki-kun!"


"Oh, jadi kau mengenalku. Kalau begitu, kau tahu kan apa yang harus dilakukan?"


"Kami akan pergi!"


"Hanya itu?"


"Aku akan melupakan semua yang terjadi hari ini! Aku juga tidak akan pernah berurusan lagi dengan gadis itu!"


"Bagus. Kalau begitu, cepat pergi."


Aku terus memelototinya dengan mata yang disipitkan sedemikian rupa. Si berandalan itu segera memaksa teman-temannya yang masih terkapar untuk bangun, lalu menyeret mereka pergi.


Merepotkan saja... padahal aku ini bukan anggota geng atau semacamnya. Hanya saja, karena wajah sangar ini, sejak dulu aku sering sekali ditantang berkelahi. Sering menghadapi lawan membuatku jadi terbiasa bertarung. Tak kusangka aku sampai ditakuti di kalangan berandalan seperti mereka...


"Benar-benar di luar keinginan. Kenapa aku harus melakukan aksi seperti di Manga tawuran jadul di sekolah putri yang damai ini?"


"Hei, anu... Anda..."


"Ah, kau tidak apa-apa?"


Gadis berkuncir kuda itu menatapku dengan mata penuh curiga. Dari sudut pandangnya, aku pasti juga tidak terlihat seperti orang baik-baik.


"Maaf ya, harusnya aku menolongmu lebih cepat. Kamu tidak terluka, kan?"


"Aku tidak apa-apa, tapi kamu ini sebenarnya siapa...?"


"Aku cuma pengunjung festival sekolah. Sekarang sedang terpisah dari temanku──"


"Kalau dilihat-lihat..."


"Ya?"


Gadis kuncir kuda itu menatap wajahku lekat-lekat. Jarang sekali ada gadis yang baru pertama kali bertemu berani menatap wajah sangarku sedetail ini.


"...Bagus. Mungkin ini bisa berhasil. Kegaharan ini, raut wajah ini, persis seperti pahlawan gagah berani dari zaman Sengoku..."


"Hah? Pahlawan?"


Anak ini bicara apa sih, gumamnya tidak jelas.


"Masaki-saaan!"


Tiba-tiba, suara yang sangat familier terdengar. Yang muncul tentu saja Fuuka. Dia membawa dua buah permen apel di kedua tangannya.


"Saya dapat permen apel dari teman, jadi... Eh, sedang apa Anda di tempat seperti ini?"


"Fuuka, hebat juga kamu bisa tahu aku ada di sini."


"Saya sempat bertanya-tanya sedikit, lalu ada yang memberi tahu."


"Begitu rupanya."


Yah, aku memang menonjol dalam artian yang buruk. Kalau bertanya pada orang-orang di sekitar sini, pasti langsung ketahuan aku pergi ke mana.


"Maaf ya sudah membuat Anda menunggu. Lalu──lho?"


"............"


Di sini akhirnya Fuuka menyadari keberadaan gadis kuncir kuda di depanku. ...Tapi tunggu, ada yang aneh. Bukankah gadis kuncir kuda ini tampak terpana?


"Ka──Kakak Ipar!?"


"Wah, Alice-chan. Halo, sudah lama tidak bertemu ya."


"............"


Kakak Ipar? Alice-chan?


Setahuku Tsubasa bersaudara itu kembar hanya berdua saja, aku tidak pernah dengar mereka punya adik perempuan.


"Hei, Fuuka. Apa kamu kenal anak ini?"


"Iya, dia teman saya saat masih sekolah di Shuuka. Namanya Yuuki Alice."


"Te-teman itu sebutan yang terlalu mulia! Kakak Ipar, orang seperti saya ini hanyalah──"


Gadis bernama Alice itu menegakkan punggungnya, lalu membungkuk sangat dalam.


"──hanyalah pelengkap bagi Kakak Ipar!"


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close