NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki na Ko ni Kokuttara, Futago no Imouto ga Omake de Tsuitekita V4 Chapter 2

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 2

Si Kembar Bersikap Baik kepada Gadis Petarung

Grand Rivessia Yomihama──


Sebuah apartemen mewah setinggi 40 lantai dengan layanan pramutamu yang berjaga selama 24 jam. Fasilitasnya dilengkapi dengan gym yang lengkap, tempat yang terasa terlalu mewah bagi orang sepertiku hingga membuatku segan untuk menggunakannya. Seingatku, Riina Takaya pernah menggunakan tempat ini untuk latihan menari.


"Mohon bantuannya, Nii-san!"


"Jangan terlalu kaku begitu. Kita seumuran, jadi tidak perlu bicara seformal itu."


"Ba-baiklah──maksudku, baik."


Alice, si gadis kuncir kuda, mengangguk mantap. Kami berada di pusat kebugaran apartemen ini. Tampaknya salah satu sudut ruangan memang dikhususkan untuk area latihan yoga atau tari. 


Alice mengenakan kaos putih model crop top yang memperlihatkan pusarnya serta celana pendek hitam yang mengekspos pahanya, pakaian yang terlihat sangat nyaman untuk bergerak. Sementara itu, aku memakai setelan training sekolah yang justru membuat kesan berandalanku semakin kuat.


"Wah, Masaki-san, Anda terlihat cocok juga memakai baju olahraga ya."


"......Terima kasih kalau begitu."


Fuuka sedang duduk bersila di sudut ruangan sambil mengamati kami. Ia mengenakan jaket olahraga berwarna merah muda yang modis, dan di balik kain tipis itu, dadanya yang berukuran G-cup tampak sangat menonjol. Ngomong-ngomong, Alice pun ternyata punya dada yang besar. Di balik kaos putih tipisnya, samar-samar terlihat bra berwarna biru muda yang tak terduga manis desainnya.


Ada apa sebenarnya? Mulai dari Tsubasa bersaudara, pelayan kembar, hingga yang satu ini, apa semua gadis zaman sekarang nutrisinya lari ke dada semua? Selain Riina, kenapa semuanya punya dada yang besar?


──Bukan, bukan saatnya memikirkan hal itu.


"Ada apa, Masaki-san?"


"Tidak... Aku cuma berpikir apa aku harus berlatih lebih keras lagi agar tubuhku lebih tegap."


"Itu juga bagus, tapi Masaki-san yang sekarang sudah sangat oke, kok."


Ujar Fuuka sambil tersenyum manis. Seperti biasa, dia selalu memanjakanku dengan sepenuh hati.


"Ah, tapi Nii-san."


"Ya? Ukh!"


Alice tiba-tiba mendekat dan mengusap dadaku dengan lembut.


"A-apa yang kau lakukan!?"


"Tubuh Nii-san kencang sekali. Bidang dadanya ternyata cukup tebal, lenganmu juga keras. Apa ini yang disebut lean muscle?"


"A-aku tidak tahu..."


Setelah dada, Alice kemudian mencengkeram lenganku dengan kuat dan meremas-remasnya. Meskipun aku sudah mulai terbiasa dengan perempuan, tapi jika diperlakukan secara sembarangan seperti ini...


"Hm? Wajah Nii-san merah. Apa kau sedang demam?"


"Ti-tidak. Kondisiku prima. Jangan dipikirkan."


Meski aku sudah berkali-kali melakukan hal mesum dengan tiga pasang gadis kembar cantik, sepertinya hari di mana aku benar-benar terbiasa dengan perempuan masih sangat jauh. Alice ini, apa dia sadar betapa cantiknya dia atau tidak, ya...


"Waktu sewa tempat ini terbatas, kan. Ayo cepat kita mulai."


"Ah, benar juga. Nii-san, jangan segan-segan karena aku perempuan. Seranglah aku dengan serius."


"Kalau serius sepertinya mustahil."


Aku memang tidak terlalu bertubuh besar, tapi tenagaku lumayan kuat. Tubuh Alice ramping; jika aku sungguh-sungguh, aku khawatir bisa mematahkan satu atau dua tulangnya.


"Baiklah, pertama-tama aku akan ajarkan cara meringkus lawan yang sederhana. Alice, justru kau yang harus coba menyerangku dengan kekuatan penuh."


"Dimengerti, kalau begitu aku mulai."


"............!"


Wusss! Tinju Alice melesat tepat di samping kepalaku. Sesaat, darahku terasa berdesir. Serangannya tiga kali lipat lebih cepat dari bayanganku! Salah sedikit saja, aku mungkin sudah terhantam telak dan langsung pingsan.


"Fut, hat, haat!"


Alice terus melepaskan pukulan beruntun disertai teriakan semangat. Aku mencoba menghindar dengan gaya berpura-pura tenang, padahal sebenarnya aku sudah kewalahan. Anak ini kuat... tidak, sama sepertiku, dia sudah terbiasa berkelahi. Pukulannya tidak mengayun lebar melainkan sangat ringkas, langkah kakinya lincah, bahkan dia memasukkan tipuan melalui gerakan mata dan kaki.


"Wah, Alice-chan keren sekali."


"Aku jadi malu, Nee-san!"


Mereka santai sekali ya. Padahal aku di sini sudah kepayahan hanya untuk menghindar──baiklah, sudah waktunya aku meringkusnya.


"Nii-san, jangan ragu untuk──"


"Akan kulakukan."


"Wahyakk!?"


Terdengar jeritan kecil yang tak terduga manisnya. Aku menangkis pukulan Alice dengan ringan, dengan cepat mencengkeram pergelangan tangannya, lalu memutar lengannya ke belakang sambil bergerak ke arah punggungnya.


"Aduh, duh, duh, sakit!"


"Nah, kira-kira seperti ini caranya."


Karena Alice yang sendi bahunya terkunci berteriak kesakitan seolah sedang terjadi tindak kriminal, aku segera melepaskan tangannya.


"Cepat sekali. Padahal tadi aku memukul dengan niat ingin membunuhmu, lho."


"Bukankah itu namanya terlalu tidak tahu diri?"


Aku menatap Alice dengan tatapan heran sementara dia memegangi bahunya dengan mata berkaca-kaca. Aku pikir meskipun latihan, dia akan sedikit menahan diri.


"Ah, maaf, aku juga salah. Kamu tidak apa-apa? Bahumu tidak cedera?"


"Masih sedikit sakit. Tapi, ya, sepertinya urat atau sendiku tidak apa-apa."


"Syukurlah kalau begitu."


Meski ini latihan, aku tidak boleh membuat seorang gadis terluka. Berkat sudah terbiasa dengan berbagai situasi, aku jadi cukup mahir dalam menahan kekuatan. Para berandalan itu biasanya sangat berisik kalau sampai terluka. Mereka sendiri yang memulai perkelahian, tapi kalau cedera malah protes; pemikiran macam apa itu?


"Anu, Masaki-san? Kenapa wajah Anda jadi terlihat menyeramkan begitu?"


"Hm? Ah, benar juga. Maaf ya."


Sepertinya kemarahan atas masa lalu yang buruk sempat terpancar di wajahku. Padahal, wajahku memang sudah seram dari sananya.


"............"


"Hm?"


Tadi itu, rasanya ada sesuatu yang mendebarkan──


"Ada celah!"


"............!"


Dengan cepat Alice menyusup masuk ke pertahananku, mencengkeram lengan kananku, lalu menarik dan membantingku. Sebuah bantingan ippon seoi-nage yang sempurna──jika ini pertandingan judo, pasti sudah dinyatakan menang telak. Aku nyaris tidak sempat melakukan teknik jatuh untuk meredam dampaknya, tapi──


"Belum selesai!"


"O-oi, oi."


Alice yang ikut jatuh bersamaku segera berpindah ke belakang dan melingkarkan tangannya di leherku. Anak ini ternyata lebih serius dari dugaanku! Tenaga mulai mengalir pada lengan Alice yang mencekik leherku dengan kuat──


"Mana bisa kubiarkan!"


"Kyaa!"


Aku menggunakan otot punggungku untuk melakukan posisi bridge dan melepaskan paksa Alice yang ada di belakangku. Bersamaan dengan itu, aku merentangkan tangan untuk mencengkeram lengan Alice──


"Hyaa-un... ♡"


"Eh?"


Saat aku hendak mencengkeram lengannya, Alice memutar tubuhnya dengan paksa untuk meloloskan diri, sehingga aku malah mencengkeram bagian yang bukan lengannya. Malahan──aku meremas dadanya dengan sangat kuat. Tidak hanya itu, saat mencengkeram, ujung kaos crop top-nya tersingkap, dan aku meremas dadanya tepat di atas bra biru muda yang terekspos itu.


"Ma-maaf──"


"Maafkan aku!"


"Eh?"


Saat aku melepaskan tangan dari dada Alice dan hendak meminta maaf, dia justru mendahuluiku.


"I-iya, tapi kenapa Alice yang minta maaf?"


"Ini kesalahanku! Maaf karena aku sudah menunjukkan hal memuakkan ini dan malah membuatmu menyentuhnya!"


"............"


Apa sih yang dikatakan anak ini? Aku baru saja disuguhi pemandangan bra biru muda yang tak terduga manisnya, ditambah lagi meremas dadanya yang ternyata juga tak terduga besarnya, tapi kenapa malah aku yang dimintai maaf?


"Tadi itu kesalahanku, kok..."


Sejujurnya, tadi memang terasa ada aura membunuh, atau lebih tepatnya Alice membuatku jadi serius. Aku sempat berpikir jangan-jangan dia punya dendam padaku, tapi──


"Maaf, aku harus lebih berhati-hati lagi."


"I-itu tidak perlu. Aku sendiri yang memohon untuk dilatih. Mau di bagian dada atau di mana pun, kamu boleh menyentuhnya sesukamu, sama sekali tidak masalah!"


"Kalau bagian itu ya jangan dibilang tidak masalah!"


Seingatku, aku melatihnya agar dia bisa mengusir pria-pria pengganggu, kan? Kalau aku menyentuh dadanya sesuka hati, aku malah lebih bejat daripada para pria penggoda itu.


"L-lalu..."


"Masih ada lagi?"


"Ma-maaf karena mengeluarkan suara aneh. Se-sepertinya kalau dilakukan hal mesum, aku akan mengeluarkan suara mesum..."


"Ki-kita tidak sedang melakukan hal mesum, kan! Aku sendiri juga tidak enak mengatakannya, tapi itu murni kecelakaan!"


"Kalau dipikir-pikir, jarang sekali Masaki-san melakukan hal mesum karena tidak sengaja ya."


"Eh? Nee-san, apa maksudnya?"


"............"


Oi, Alice tidak tahu apa yang aku dan Fuuka lakukan di belakang layar. Jangan bicara seolah-olah aku biasanya melakukan hal mesum dengan sengaja. 


Ya, memang kulakukan sih... tapi belakangan ini aku sedang menahan diri gara-gara dampak dari deklarasi Fuuka yang ingin lepas dari status pelengkap.


"Jangan dipikirkan, Alice. Daripada itu," aku segera mengalihkan pembicaraan.


"Kamu boleh menyerangku kapan pun ada celah, tapi aku juga akan membalas secara refleks. Jadi sebaiknya jangan melakukannya sembarangan."


"Tidak! Lawanku adalah para pria penggoda yang kasar! Aku ingin Nii-san mengajarkanku cara untuk melawan teknik berkelahi mereka!"


"Kamu ini... apa kebanyakan baca Manga berandalan jadul, ya?"


Cara berpikirnya agak berbahaya, atau lebih tepatnya terasa seperti era Showa. Lagipula, pria penggoda ataupun preman biasanya tidak memakai "teknik berkelahi" tertentu. 


Sebagai informasi, aku memang cukup sering membaca Manga berandalan jadul. Di rumah orang tuaku, di kedai ramen Shinryu, kami menyimpan buku-buku yang ditinggalkan pelanggan, dan banyak di antaranya adalah Manga berandalan.


"Dengar ya, Alice."


"I-iya?"


"Berlatih itu bagus, tapi jangan lupakan kodratmu sebagai perempuan. Mungkin ini pemikiran kuno, tapi aku tidak mau memperlakukan perempuan dengan sembarangan. Jadi, aku ingin Alice juga berusaha dalam hal itu."


"Ta-tapi, aku tidak keberatan kalau diperlakukan lebih kasar lagi──"


"Sudah kubilang jangan, kan."


"............!"


Alice yang tadinya duduk langsung menegakkan punggungnya karena terkejut.


"Ooh, ini dia... Masaki Nii-san, wibawanya luar biasa... Apa suatu saat nanti aku bisa mencapai tingkat ini?"


"............"


Dia malah kagum pada hal yang aneh. Memang wajahku seram, tapi apa sehebat itu wibawanya?


"Ya, sudahlah. Ayo kita lanjutkan. Kali ini jangan menyerang celah, datanglah dari depan."


"Siap, Nii-san!"


"............"


Alice berdiri, lalu memberi hormat seperti seorang prajurit. Rasanya aku bukan lagi melatih bela diri kepada Alice, melainkan sedang menjinakkan seekor anjing galak....


Aku melirik sekilas ke arah Fuuka. Dia hanya menonton latihan kami sambil tersenyum santai dan riang. 


Aku jadi penasaran, apa yang sebenarnya dipikirkan Fuuka melihatku melatih "pelengkapnya" berkelahi? Entah kenapa, sejak dia mendeklarasikan diri ingin lepas dari status pelengkap, sosok Fuuka jadi makin sulit kubaca. Bagiku, memahami isi hatinya jauh lebih penting daripada menjinakkan anjing galak ini.



"Ma-maaf, Nee-san. Tak disangka aku diperbolehkan menginap di rumahmu..."


"Tidak apa-apa kok. Di sini memang sering ada orang yang datang berkunjung. Santai saja."


Begitulah ceritanya. Latihan dengan Alice ternyata jadi jauh lebih seru dari dugaan, sampai-sampai hari sudah larut malam. Atas ajakan Fuuka, Alice ikut makan malam bersama kami dan menyantap masakan pelayan kembar dengan sangat lahap. 


Yah, setelah banyak bergerak seperti tadi, wajar saja kalau dia lapar. Alice punya nafsu makan yang bagus, dan meski wajah para pelayan tetap datar seperti biasa, mereka tampak senang melihat masakan mereka dinikmati.


Sekarang makan malam sudah selesai, dan kami sedang menikmati teh di ruang tamu keluarga Tsubasa. Hanya Yuzuki yang tidak ada karena dia sedang kembali ke kamarnya untuk menerima telepon. Di ruang tamu sekarang ada aku, Fuuka, Alice, dan si pelayan kembar—total lima orang. Karena sudah terlalu malam, akhirnya diputuskan bahwa Alice akan menginap.


"Masakannya enak sekali, Kakak Pelayan, Adik Pelayan!"


"Sama-sama, mohon maaf jika hidangannya kurang berkenan."


"Kami senang jika Anda menikmatinya."


Si pelayan kembar yang berdiri di samping sofa tempat kami duduk membungkuk dengan waktu yang sangat presisi dan bersamaan. Tentu saja, sepertinya Alice tidak bisa membedakan antara Asa dan Yuu. Malah, dia juga sepertinya masih ragu membedakan Yuzuki dan Fuuka, jadi mungkin hanya aku satu-satunya orang di dunia ini yang bisa membedakan si pelayan kembar.


"Alice-sama, jika Anda memerlukan sesuatu, silakan sampaikan kepada kami tanpa ragu."


"Alice-sama, meskipun kami adalah milik Yuzuki Ojou-sama, Fuuka Ojou-sama, dan Masaki-sama, menjamu tamu juga merupakan bagian dari tugas kami."


"............"


Pelayan kembar ini sepertinya sudah benar-benar menganggapku sebagai salah satu majikan mereka. Yah, aku sendiri juga sudah mulai memberi perintah kepada Asa dan Yuu tanpa sungkan jika memang perlu. Meski terdengar sombong, si pelayan kembar memang justru merasa senang jika diberi perintah.


"A-Alice, ya..."


"Ah, mohon maaf. Apakah sebaiknya kami memanggil Anda Yuuki-sama?"


"Kami lalai karena tidak menyadari hal itu, mohon maafkan kami."


Lagi-lagi, pelayan kembar itu membungkuk bersamaan.


"Ti-tidak... tidak apa-apa kok. Lagipula Nee-san, Yuzuki-san, dan Nii-san juga memanggilku dengan nama depan."


Alice menjawab dengan wajah yang tampak agak gelisah.


"...Alice, tadi saat aku memanggilmu dengan nama depan, reaksimu juga agak aneh. Kalau memang ada masalah, apa sebaiknya aku panggil dengan nama keluargamu saja?"


"Bu-bukan begitu. Tidak, bukannya salah juga sih... ta-tapi ini masalah sederhana."


Alice merona merah dan menunduk sejenak sebelum melanjutkan.


"A-aku ini, sejak kecil cara bicara dan sifatku sangat kelaki-lakian. Dulu rambutku juga pendek, jadi benar-benar seperti anak laki-laki. Karena kondisiku yang seperti itu, aku merasa nama 'Alice' terlalu manis dan tidak cocok untukku."


"Ooh..."


Gaya bicaranya yang maskulin memang benar adanya. Namun, meski aku tidak tahu masa lalunya, sekarang dia sama sekali tidak akan terlihat seperti laki-laki meski rambutnya dipotong pendek sekalipun. Dengan kecantikan yang begitu menonjol, mana mungkin dia dianggap pria.


"Menurutku, nama Alice sangat cocok untukmu, kok."


"Ka-kalau Nee-san yang bilang begitu! Terima kasih banyak!"


Alice langsung berdiri dari sofa dan membungkuk jauh lebih dalam daripada kedua pelayan tadi. Entah kenapa, pemandangan ini jadi terlihat seperti seorang bos yakuza dan anak buahnya.


"Sudahlah, duduklah kembali, Alice. Tenangkan dirimu."


"Be-begitu ya. Jadi rahasia kekuatan adalah dengan selalu bersikap tenang dan dingin."


"Bukan itu maksudku... tapi ya, mungkin ada benarnya juga."


Kalau dipikir-pikir, Alice bersikap sangat provokatif saat diganggu oleh para pria tadi. Jika dia bisa sedikit lebih tenang, dia pasti bisa menangani orang-orang bodoh itu dengan lebih baik.


"Lalu... Alice-chan."


"Iya?"


Alice duduk kembali saat Fuuka memanggilnya.


"Apakah tidak apa-apa kalau tidurnya di kamarku saja? Pakailah tempat tidurku."


"Te-tempat tidur Nee-san! A-apakah aku boleh mencium aromanya!?"


"Iya, silakan saja."


"Pertanyaan dan jawabannya sama-sama aneh!"


Apa di sekolah putri hal "semacam itu" memang biasa terjadi? Yang mereka sebut sebagai Yuri itu ya?


"Ma-maaf. Aku memang bicara yang aneh-aneh tadi. Tidak, aku tidak mungkin merebut tempat tidur Nee-san. Itu mustahil bagiku."


"Begitukah... Kalau begitu, bagaimana kalau kita gelar kasur lantai saja di kamarku? Bisa kan?"


Fuuka beralih bertanya kepada si pelayan kembar. Mereka berdua mengangguk mantap secara bersamaan. Pelayan sehebat mereka pasti sudah menyiapkan kasur untuk tamu. 


Apartemen tipe 3LDK ini punya kamar-kamar yang luas, jadi tempat untuk menggelar kasur lantai bukan masalah. Namun, melihat Alice yang begitu sungkan kepada Fuuka... sepertinya...


"Kalau ada kasur, bukankah sebaiknya dia tidur di kamar yang kosong saja? Ada satu kamar kosong di sebelah. Atau, pakai saja kamarku. Tidak mungkin kita membiarkan seorang gadis tidur di ruang tamu."


"Aku ini sudah terlatih. Berikan aku satu selimut saja, aku bisa tidur di mana pun, mau di lantai kayu atau lantai marmer sekalipun."


"Tidur di lantai marmer itu namanya penyiksaan, tahu."


Aku saja pasti ogah. Apalagi musim sekarang, pasti lantainya terasa sangat dingin.


"Masalahnya, kalau tidur di kamar Nee-san, aku merasa sangat segan."


"Jangan takut. Percayalah padaku......"


"Kamu ini siapa, sih?"


Jarang sekali Fuuka melontarkan lelucon seperti itu. Mungkin karena dia sudah akrab dengan Alice sejak di sekolah lama, makanya sikapnya sedikit berbeda.


"Aku akan sangat terbantu jika diizinkan tidur di ruang tamu ini. Asal bisa meminjam sofa, aku sama sekali tidak akan mengeluh. Lagipula, aku memang ingin tidur di bawah atap yang sama dengan Nee-san dan yang lainnya."


"Yah, karena ini apartemen, tidur di kamar kosong sebelah pun sebenarnya sama saja...... tapi ya sudah, tidak ada gunanya bingung karena hal sepele begini. Kalau Fuuka tidak keberatan, di ruang tamu saja bagaimana?"


"Aku sama sekali tidak keberatan."


Karena Fuuka sudah setuju, maka urusan itu pun diputuskan. Sebenarnya aku sempat ragu tentang ruang tamu, tapi kalau dipikir-pikir, ini adalah ruang tamu apartemen mewah. Sofanya sangat empuk, malah mungkin jauh lebih nyaman daripada kasur lantai di rumah orang tuaku.


"Oh, jadi aku boleh tidur di sofa ini......? Aku pasti bisa tidur nyenyak dan rasa lelahku akan hilang."


Alice tampak benar-benar bersemangat, matanya berbinar-binar. Melihatnya begitu, aku pun jadi ingin mencoba tidur di sofa itu.


"Padahal sampai beberapa hari yang lalu masih ada teman serumah di sini, ya. Ternyata kalau banyak orang memang jauh lebih ramai dan menyenangkan."


Fuuka juga tampak tersenyum bahagia. Yang dia maksud dengan teman serumah tentu saja Takaya bersaudara, Riina dan Naraka. Karena akhirnya mereka sudah berdamai dengan ibu mereka, sekarang mereka sudah kembali ke rumah asalnya. 


Meski begitu, tepat sehari setelah kembali, mereka berdua sudah datang berkunjung. Sepertinya ke depannya pun mereka akan sering mampir. Lagipula, Takaya bersaudara tampaknya sudah akrab bukan hanya dengan Yuzuki, tapi juga dengan Fuuka dan si pelayan kembar. 


Tentu saja, aku juga sangat menyambut mereka. Terlebih lagi, pada hari mereka kembali saja, aku sudah berkali-kali mendapatkan layanan dari mereka berdua.


"Baiklah, soal tempat tidur sudah beres. Ada satu hal lagi."


"Hm? Apa itu, Nii-san?"


"Alice, kamu sudah minta izin orang tuamu untuk menginap, kan?"


"Iya, tadi aku sudah menghubungi. Di rumah hanya ada ibuku, dan beliau mengelola sebuah izakaya. Biasanya ibu baru pulang jam dua atau tiga pagi, jadi kami sering sekali tidak berpapasan."


"Keluargamu juga menjalankan usaha kuliner, ya? Rumahku juga kedai ramen."


"Wah, aku jadi merasa punya ikatan senasib. Kapan-kapan aku ingin makan di kedaimu. Aku juga sedang meneliti apakah di tempatku bisa menyajikan ramen sebagai hidangan penutup."


"Hmm, kalau izakaya sampai mengeluarkan ramen, itu bisa mengancam bisnis keluargaku......"


"Nii-san ternyata tegas sekali soal bisnis!"


"Cuma bercanda. Ayahku selalu bilang tidak ada rahasia dalam resepnya, dan dia tipe orang yang akan langsung mengajarkan cara membuat kaldu jika ada yang bertanya."


Ayah dan Ibu memang tidak punya jiwa bisnis yang ambisius. Shinryu didirikan sebelum aku lahir, dan aku heran bagaimana kedai yang begitu terbuka itu bisa bertahan tanpa bangkrut.


"Aku juga tertarik dengan masakan izakaya, tapi rasanya agak sungkan kalau datang ke tempat yang menu utamanya adalah alkohol."


"Ah, tempatku sangat menerima tamu yang hanya ingin makan saja. Masakan ibu sangat enak. Aku merekomendasikan aji fry dengan tepung yang sangat renyah, serta gyusuji nikomi yang manis dan lembut."


"Dua menu itu terdengar sangat menggoda...... baru mendengarnya saja sudah terasa enak."


Bagaimanapun, aku sudah hidup selama 17 tahun sebagai anak pemilik kedai makan. Aku tidak bisa mengabaikan pembicaraan tentang masakan lezat.


"......Padahal setiap hari kami sudah menyajikan masakan yang enak untuk Anda."


"Ternyata Anda ingin berselingkuh dengan masakan kedai lain, ya. Kami berdua akan dicampakkan, kan, Asa?"


"Tunggu, tunggu! Jangan bicara seolah-olah aku orang jahat begitu!"


Sadar-sadar, Asa dan Yuu sudah berdiri di sampingku sambil memberikan tatapan dingin. Yah, meskipun mata pelayan kembar yang keren ini memang biasanya selalu terlihat dingin, sih.


"Hmm, sepertinya Masaki dan Alice cepat akrab, ya?"


"Uwah!? Sekarang giliran Yuzuki!"


Tanpa disadari, Yuzuki yang sudah mengenakan baju rumah muncul dan duduk di sandaran tangan sofa dengan gaya yang tidak terlalu sopan.


"Teleponnya sudah selesai?"


"Begitulah. Aku kan dulu pernah jadi model. Teman dari masa itu tiba-tiba menelepon, jadi kami mengobrol cukup lama karena sudah lama tidak bicara."


Aku pernah mendengar cerita bahwa Yuzuki sempat menjadi model pembaca selama setengah tahun. Aku tidak tahu kenapa dia berhenti hanya setelah enam bulan.


"Daripada itu, Masaki, kamu sepertinya sudah sangat mahir menangani perempuan, ya?"


"Sama sekali tidak mahir. Kalau mahir, aku pasti sudah mengajari Alice dengan lebih baik."


"Apa? Jadi caramu masih buruk? Padahal kupikir Masaki sudah mahir dalam menangani tubuh wanita."


"Jaga bicaramu!"


"Mahir menangani tubuh wanita, ya...... Kalau begitu, Nii-san boleh kok lebih agresif lagi kepadaku."


"Alice, kamu jangan percaya omongannya!"


Mahir menangani tubuh wanita──yah, kalau gadis itu sendiri yang mengatakannya mungkin tidak apa-apa, tapi tetap saja itu bukan pilihan kata yang bagus.


"Pokoknya, hubunganku dengan Alice adalah hubungan kontak fisik karena latihan. Jadi bukan berarti aku mahir, tapi mungkin kami sudah sedikit...... berteman?"


"Tentu saja."


Alice mengangguk mantap.


"Jujur saja, tadinya aku pun agak takut pada Nii-san. Aku harus mengumpulkan keberanian yang besar hanya untuk memohon menjadi muridmu."


"Sudah kuduga."


Aku tidak merasa sakit hati lagi sekarang. Itu bisa dibilang reaksi normal dari seorang gadis saat berhadapan denganku.


"Begitu ya. Yah, baguslah kalau kamu bisa akrab dengan teman Fuuka. Alice, anggap saja seperti rumah sendiri dan bersantailah. Atau lebih tepatnya, aku perintahkan kamu untuk santai."


"Perintah!?"


Alice tampak terkejut. Yuzuki memang bertakhta sebagai pemimpin para gyaru di sekolah kami, jadi dia sudah terbiasa memberi perintah.


"Kalau begitu, aku ada urusan sebentar, jadi aku pergi dulu ya."


"Eh? Kamu mau pergi di jam begini?"


Meskipun belum terlalu larut malam, aku tidak setuju jika seorang gadis pergi sendirian.


"Tunggu dulu, aku akan menemanimu. Meskipun cuma ke minimarket, berbahaya jika pergi sendirian."


"Masaki, sebenarnya aku juga sedikit menguasai teknik bela diri, lho. Bagaimanapun juga, aku ini anak keluarga terpandang. Paling tidak, aku harus bisa melindungi diriku sendiri."


Yuzuki memasang kuda-kuda bertarung, lalu melayangkan beberapa pukulan jab ringan ke udara. Tak disangka, ia kemudian melakukan tendangan tinggi dengan putaran kaki yang ringkas—dan menghentikannya tepat di samping wajahku.


"......Luar biasa."


"Benar, kan? Sebagai informasi, Fuuka juga setara denganku."


"Sudah kuduga."


Bagaimanapun juga, kemampuan akademik Yuzuki dan Fuuka benar-benar identik. Tentu saja, kemampuan bela diri mereka pun berada di tingkat yang sama.


"Kalau aku melakukan sparring dengan Yuzu-nee, hasilnya tidak pernah selesai. Serangan kami berdua sama sekali tidak ada yang kena," ujar Fuuka.


"Benar-benar tidak ada ujungnya, serius," tambah Yuzuki.


"Begitu ya......"


Aku membayangkan adegan Yuzuki dan Fuuka yang mengenakan pakaian olahraga saling melayangkan pukulan dan tendangan, bahkan mungkin saling balas teknik bantingan dan kuncian sendi. Bagi Yuzuki dan Fuuka yang memiliki spesifikasi tubuh yang benar-benar sama, hasilnya pasti akan selalu seri. Walaupun kalau boleh jujur, aku tidak ingin melihat si kembar ini saling pukul.


"......Tapi, meskipun kamu punya dasar bela diri, tetap saja berbahaya pergi keluar di malam hari."


Gawat, aku hampir saja terbawa suasana.


"Kamu terlalu pencemas, Masaki. Tapi serius, ini tidak apa-apa. Benar kan, Asa, Yuu?"


""Benar, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.""


Kedua pelayan itu menyahut secara bersamaan. Bagaimanapun juga, bagi Asa dan Yuu, keselamatan Tsubasa bersaudara adalah yang utama. Jika mereka berdua sudah memberi jaminan, sepertinya aku tidak perlu cemas berlebihan......


"Sebenarnya aku cuma mau ke lobi. Aku tidak akan keluar gedung, jadi, dadah!"


"Ah, o-oh, kalau begitu......"


Yuzuki benar-benar melambaikan tangan lalu keluar dari ruang tamu. Meski masih sedikit khawatir, kalau cuma ke lobi apartemen sepertinya tidak masalah.


Namun, jika dia pergi ke lobi, apakah itu berarti dia punya kenalan di dalam apartemen ini? Pasti punya, sih. Yuzuki kan tipe orang populer yang punya kemampuan komunikasi luar biasa.


"Yuzu-nee sepertinya agak menjaga jarak dalam masalah kali ini ya. Padahal biasanya dia tipe orang yang ingin ikut campur dalam segala hal."


"Hm? Kalau dipikir-pikir, benar juga."


Yuzuki adalah tipe orang yang ramah kepada siapa saja. Seharusnya dia lebih banyak berinteraksi dengan Alice karena dia akan menginap.


"A-anu, apakah itu berarti Yuzuki-san tidak menyukaiku?" tanya Alice cemas.


"Tidak, menurutku bukan begitu. Lagipula aku sangat menyukai Alice-chan, kok," jawab Fuuka.


"Su-suka...... eh? Tapi, meskipun Nee-san merasa begitu, bukankah belum tentu Yuzuki-san merasakan hal yang sama?"


"Ahaha, benar juga ya."


Fuuka mengangguk sambil tersenyum manis. Fuuka dan Yuzuki adalah Dual Twins—mereka berbagi perasaan. Ya, orang yang disukai Fuuka pasti akan disukai juga oleh Yuzuki. Begitu pun sebaliknya. Sepertinya Tsubasa bersaudara tidak terlalu sering menceritakan karakteristik khusus mereka ini kepada orang lain.


"Kalau begitu, mari kita sudahi pembicaraan malam ini. Masaki-san, silakan mandi duluan."


"Boleh aku duluan?"


"Hari ini Anda pasti lelah karena berolahraga. Silakan berendam air hangat dengan santai untuk menghilangkan lelah, ya."


"Air panasnya sudah hampir penuh."


"Persiapan untuk mandi sudah selesai seluruhnya."


"......Luar biasa."


Kedua pelayan itu menambahkan informasi pelengkap. Yah, memang benar aku merasa lelah karena olahraga yang tidak biasa kulakukan ini, jadi aku akan menerima tawaran mereka dan mandi duluan.



"Fuu...... Segarnya."


Selesai mandi, aku kembali ke kamarku dan merebahkan diri di atas tempat tidur. Sepertinya karena malam ini ada Alice, baik Fuuka maupun si pelayan kembar tidak ada yang menyelinap masuk ke kamar mandi. 


Ada sedikit rasa kecewa, tapi rasa lelahku memang masih tersisa. Aku memang ingin bermesraan dengan Yuzuki dan Fuuka, atau melakukan "latihan" dengan si pelayan kembar, tapi tidak harus setiap hari juga tidak apa-apa. Bisa melakukan hal mesum kapan pun aku mau dengan gadis-gadis kembar secantik mereka saja sudah merupakan kebahagiaan yang berlebihan. Sesekali melewatkan malam yang damai seperti ini juga boleh juga.


"......Tunggu dulu, mengajari orang berkelahi itu sebenarnya bukan sesuatu yang damai, kan?"


Aku mulai mengajarinya karena berpikir ini demi keselamatan Alice, tapi jangan-jangan aku malah menjerumuskannya ke dalam masalah yang lebih rumit. Mungkin seharusnya aku lebih memikirkan jawabanku sebelum menyetujuinya. Namun, fakta bahwa Alice mudah diganggu laki-laki dan keselamatannya terancam adalah kenyataan yang tidak bisa dibantah. Masalah yang sulit...... belakangan ini, tantangan sulit selalu saja muncul di hadapanku.


"Dengan wajah secantik Alice, wajar saja kalau laki-laki mengerumuninya. Mau bagaimana lagi."


"Ah, ternyata benar ya, Masaki-san juga menganggap Alice-chan manis."


"Ya, dia itu tipenya lebih ke cantik daripada manis sih, tapi manis ya tetap ma—Eh!?"


"Selamat malam, Masaki-san."


Sadar-sadar, Fuuka sudah duduk di tempat tidurku. 


Sejak kapan dia masuk......? 


Tentu saja, baik Fuuka, Yuzuki, maupun si pelayan kembar boleh masuk ke kamarku kapan saja. Tapi aku akan sangat berterima kasih jika mereka tidak menyelinap tanpa suara seperti itu.


"Ada apa, Fuuka?"


"Tolong lihat dada ini."


"Hah!?"


Fuuka mengangkat payudara G-cup miliknya yang melimpah dengan kedua tangannya. Dua gumpalan lembut itu tampak membal-membal.


"A-apa yang kamu lakukan?"


"Seperti yang Anda lihat, dadaku sangat besar...... dan seperti yang mungkin Anda ketahui, ini membuat bahuku terasa sangat kaku."


"O-oh, begitu ya. Yah, rasanya pasti seperti membawa beban...... sepertinya."


Itu hanya pengetahuanku dari Manga, tapi secara fisik itu memang masuk akal. Dengan ukuran Fuuka, mungkin beratnya sekitar satu atau dua kilogram... kalau harus menggantung beban seberat itu, wajar saja jika bahunya terasa kaku.


"Makanya, sejak ukuran kami mencapai C-cup, aku dan Yuzu-nee selalu saling memijat bahu," ujar Fuuka.


"Heh..."


Membayangkan sepasang kakak beradik yang rukun saling memijat bahu bergantian—itu adalah pemandangan yang menyejukkan hati.


"Eh? Kenapa kamu menceritakan itu sekarang?"


"Artinya, aku sangat mahir memijat bahu. Aku sudah punya pengalaman lebih dari tiga tahun, lho."


Fuuka memperagakan gerakan meremas sesuatu dengan tangannya.


Sudah punya dada sebesar itu sampai bahunya kaku sejak tiga tahun lalu... berarti sejak usia empat belas tahun? Sudah cantik, ditambah lagi sudah punya dada besar sejak kelas dua SMP, si kembar ini benar-benar di luar nalar.


"Tapi, aku masih belum paham maksudmu."


"Ah, maaf karena berbelit-belit. Intinya, hari ini aku adalah Fuuka sang terapis pijat. Karena Masaki-san pasti lelah setelah latihan hari ini, aku datang untuk memijatmu."


"Jadi, karena itu kamu berpakaian seperti itu...?"


Fuuka menata rambutnya menjadi kuncir kuda seperti Alice. Terlebih lagi, ia hanya mengenakan bra olahraga hitam di bagian atas dan celana pendek warna senada di bagian bawah. 


Tadinya kupikir dia muncul hanya mengenakan pakaian dalam setelah mandi karena gerah. Belahan dadanya dan paha mulusnya terpampang jelas, sangat mesum memang, tapi aku sudah terbiasa melihatnya berpakaian seminim ini...


"Ah, tidak, aku tidak secapek itu kok. Bukannya Alice yang lebih butuh pijat?"


"Alice-chan biasanya rajin berlatih, jadi dia bilang dia bisa merawat tubuhnya sendiri."


"Anak itu memang tipe yang disiplin berlatih, sih."


Karena aku tipe yang belajar dari pertarungan sungguhan, aku tidak terlalu paham soal latihan beban atau pendinginan otot.


"Serahkan tubuhmu padaku, Masaki-san. Aku akan memijatmu sampai seluruh ototmu rileks."


"U-uuhm."


Memang benar rasanya tubuhku perlu dilemaskan, tapi...


"Permisi, Masaki-sama."


"Uwah! Asa, kenapa kamu juga di sini?"


Pelayan kembar ini punya gaya rambut, wajah, tinggi badan, hingga ukuran dada yang benar-benar identik. Namun, aku sudah bisa membedakan mana Asa dan mana Yuu. Dan Asa-lah yang kini berdiri di dekat pintu yang terbuka. Dia masih mengenakan seragam pelayan biasanya.


"Benar, ini Asa. Saya diundang oleh Fuuka Ojou-sama. Saya adalah asisten pijatnya."


"Asisten... kenapa cuma Asa saja?"


Aku tidak tahu apakah memijat butuh asisten, tapi kalau memang mau, bukankah sebaiknya mengerahkan kedua pelayan kembar itu sekaligus?


"Aku dan Asa-san sudah membentuk tim. Kami menamakannya 'Kombo Kalah Telak'."


"Blak-blakan sekali!"


Bisa tidak sih berhenti menyindirku!?


Saat pertunjukan drama festival budaya, aku memilih Yuzuki sebagai pemeran utama. Meskipun Asa dan Yuu sudah merawat keperluan hidupku—bahkan aku sudah "berlatih" menggunakan tubuh mereka—aku memang sedikit lebih memfavoritkan Yuu. Memang benar... harus kuakui, Fuuka dan Asa bisa dibilang sedang berada di posisi yang kalah saing.


"Eh, tapi bukankah aneh kalau Asa dibilang kalah? Dia kan bukan pacarku..."


Rasanya sulit mengatakan mereka bukan pacarku setelah aku melakukan banyak hal mesum kepada pelayan kembar ini.


"Sebagai pelayan, kami ingin disayangi secara adil oleh Tuan kami. Namun, karena Yuu lebih disayangi, berarti saya sebagai kakaknya telah kalah."


"Ini bukan masalah menang atau kalah..."


Asa ikut mendekat dan menumpukan kedua lututnya di atas tempat tidurku.


Ugh... wajah Fuuka dan Asa memang sudah sangat kukenal, tapi saat dipojokkan seperti ini, jantungku tetap saja berdegup kencang.


"Kombinasi yang langka, ya..."


"Benar, dan mulai sekarang 'Kombo Kalah Telak' ini akan menyerang Anda setiap kali ada kesempatan."


"Menyerang!?"


"Sekarang Masaki-sama sudah punya murid. Anda harus bisa menangani serangan mendadak dari banyak orang sekaligus dengan tepat."


"Latihanku itu bukan untuk mempersiapkan diri menghadapi serangan semacam ini...!"


"Bersiap menghadapi serangan kejutan itu penting, Masaki-sama."


"O-oi...!"


Dengan mudahnya aku dipojokkan oleh dua gadis ini, tubuhku diputar, dan dipaksa dalam posisi tengkurap. Terlebih lagi, Fuuka duduk di pinggangku, sementara Asa mencengkeram kedua bahuku untuk menahanku.


"...Bukankah lebih baik Fuuka dan Asa saja yang melatih Alice?"


"Mana mungkin. Sebagai wanita, kami tidak akan menang melawan tenaga pria. Baiklah, kita mulai ya."


"Uoh..."


Guk, guk, punggungku ditekan dan tubuhku mulai terasa rileks.


"Oh, oooh... i-ini...!"


"Bagaimana? Tidak buruk, kan? Hehe, Masaki-san mengeluarkan suara yang bagus ya."


"Suara Masaki-sama yang seperti ini membuatku merinding..."


Aku hampir tidak merasakan beban tubuh Fuuka yang menindihku, melainkan sensasi nikmat saat punggungku dipijat kuat yang luar biasa terasa. Rasanya tubuhku seolah meleleh karena kenikmatan ini!


"Hehe, karena biasanya kami yang selalu diserang oleh Anda, sesekali menyerang Anda seperti ini terasa menyenangkan juga."


"Oi, Fuuka, itu sedikit terlalu kencang—Aduh!"


"Ah, maaf. Terlalu keras ya? Aku akan melakukannya dengan lebih lembut."


"Bukan cuma lembut, tapi empuk... oh."


Fuuka menempelkan tubuhnya rapat-rapat di punggungku, menekan payudara G-cup miliknya kepadaku. Berkat sensasi empuk dan kenyal itu, rasa sakit yang tadi menusuk pun mereda.


"Fuu, hampir saja aku berlebihan. Ah, sekarang coba duduk di tempat tidur sebentar."


"Oh, begini?"


Saat aku duduk bersila di tempat tidur, Fuuka duduk di belakangku dan mulai memijat bahuku. Dan sekali lagi, dadanya ditekan ke punggungku.


Uooo, kelembutan di balik bra olahraganya benar-benar tidak tahan...!


"Aku akan memijat dengan lembut ya. Bagaimana dengan tekanan seperti ini?"


"A-ah, iya... enak sekali..."


"Jangan menoleh ke belakang, ya."


"Ke belakang?"


Terpancing oleh kata-katanya, aku pun menoleh ke belakang. Ternyata salah satu sisi bra olahraganya tersingkap, membuat payudaranya hampir terekspos sepenuhnya. Puting merah muda Fuuka yang lucu terlihat dengan sangat jelas.


"Kyaa! Padahal sudah kubilang jangan menoleh. Kalau dilihat tiba-tiba begini, aku jadi malu, tahu?"


"Ma-maaf."


Sepertinya karena dia menekan dadanya terlalu kuat ke punggungku, bra olahraganya tersingkap dan dia membiarkannya begitu saja. Padahal aku sudah tak terhitung berapa kali melihat dada Fuuka, tapi melihatnya secara tak terduga seperti ini tetap saja terasa sangat mesum....


"Ah, Fuuka Ojou-sama... bolehkah?"


"Be-begitu ya. Bo-boleh saja. Asa-san, silakan."


"Eh?"


Asa duduk bersimpuh di samping tempat tidur dan mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Bagian itu, mungkin karena rangsangan dari dada Fuuka, sudah menegang sepenuhnya karena bergairah. Dengan gerakan tangan yang terampil, Asa mengeluarkan penisku dan langsung melahapnya ke dalam mulut.


"Ooh...!"


"Bagian ini... biar saya yang pijat, ya. Ngh, cup, nmumu..."


Asa melahap penisku dan menghisapnya, memberikan kecupan lembut, lalu melahapnya kembali. Di belakangku ada payudara Fuuka, dan di depanku ada mulut Asa yang sedang menghisap milikku. Serangan ganda ini... ra-rangsangannya terlalu kuat.


"Ngh, cup, nmumu... A-Asa, silakan gunakan dada saya juga..."


"Sam-sampai sejauh itu..."


Asa menggunakan satu tangannya untuk membuka bagian dada seragam pelayannya, hingga payudaranya menyembul keluar. Entah kenapa kali ini dia tidak memakai bra, sehingga payudara F-cup miliknya yang besar terlihat jelas hingga ke bagian puting.


"Anh, Asa-san ternyata lebih bersemangat ya. Selain dengan mulut, bahkan sampai memberikan dadanya juga..."


"Mohon maaf, Nona. Namun, karena saya adalah seorang pelayan, saya harus memberikan pelayanan yang maksimal..."


Asa menghisap penisku dengan kuat dan menyedotnya ke atas. Fuuka pun tidak mau kalah; dia menekan dadanya erat-erat dan menggesek-gesekkan payudaranya ke punggungku. Ini sudah bukan lagi pijatan, tapi rasanya jauh lebih nikmat daripada pijatan mana pun.


"Masaki-san, silakan nikmati dada saya dan mulut Asa-san sepuasnya, ya."


"Masaki-sama, silakan gunakan mulut saya dan dada Nona... silakan, kapan pun Anda mau."


Fuuka dan Asa tanpa ampun menyerangku dengan dada dan mulut mereka. Terlebih lagi, Fuuka──


"Ma-Masaki-san, ini juga... silakan."


Dia mencondongkan tubuhnya dari belakangku, lalu dengan bra olahraga yang masih tersingkap, dia menekan payudaranya tepat ke arah mulutku. Tanpa ragu, aku menyambut putingnya ke dalam mulut dan menghisapnya kuat-kuat.


"Kyaa, anh... ♡ Se-sepertinya aku memang lebih suka saat diserang seperti ini... Aanh, ah, anh, aah ♡"


Saat aku menghisap putingnya dengan kuat, Fuuka melengkungkan tubuhnya ke belakang dan mengeluarkan suara rintihan yang manis. Suara itu dan rasa manis dari putingnya membuat gairahku semakin memuncak, dan penisku pun menjadi semakin keras.


"Ngh, sudah tidak muat lagi di dalam mulut. Mohon maaf karena saya tidak bisa memberikan pelayanan yang sempurna... cup."


Asa, yang tadi melahap habis penisku yang sudah mencapai puncak ketegangan ke dalam mulutnya, memberikan kecupan lembut di bagian ujungnya.


Aku memijat payudara Fuuka, mengangkatnya perlahan dari bawah sambil menggigit kecil putingnya dan menghisapnya kuat. Sementara itu, Asa terus menciumi penisku, lalu melahapnya dalam-dalam dari ujung hingga ke pangkal tenggorokannya. Jika senikmat ini, mana mungkin aku bisa menahannya lagi──


"Fu-Fuuka, Asa......!"


"I-iya, aku juga akan ke sana......"


"Silakan, tumpahkan saja ke wajah pelayanmu ini......"


"Ugh......!"


Dalam sekejap aku mencapai batas, dan cairanku pun menyembur keluar sekaligus. Fuuka dengan cepat duduk di sebelah Asa, menekan dadanya ke penisku. Cairan putih pekat itu membanjiri bra olahraga dan payudaranya yang sebelah tersingkap, serta wajah Asa. Karena terlalu bergairah, cairannya terus menyembur tanpa henti──


"Kyaa, sebanyak ini...... Lu-luar biasa ya......"


"Masaki-sama, biarkan pelayanmu yang membersihkannya, diamlah di situ......"


Fuuka menjilat cairan putih yang mengotori payudara G-cup miliknya, sementara Asa terus menjalankan lidahnya di sepanjang penisku, menjilati cairan yang masih meluap dari ujungnya.


"Ra-rasanya luar biasa nikmat...... Fuuka, Asa, tubuhku jadi terasa sangat segar."


"Syukurlah kalau begitu...... aku juga akan mencium bagian ini ya ♡"


"Ah, Nona, saya belum selesai menjilati semuanya...... itu adalah tugas saya ♡"


Fuuka memberikan kecupan kuat di ujung penisku, sementara Asa seolah berebut dengan Fuuka, menjilati dari pangkal hingga ke ujung dengan lidahnya. Benar-benar tak tertahankan...... melihat seorang gadis cantik berambut hitam yang anggun dan seorang pelayan berambut perak sebahu melakukan hal ini untukku.


"Fuu...... ini yang terbaik."


Aku mengusap kepala Fuuka, lalu menyusul dengan mengusap pipi Asa.


"Terima kasih kembali. Kami senang Anda menyukai pijatan seperti ini."


"Pujian yang berlebihan untuk seorang pelayan, Masaki-sama...... tapi, terima kasih banyak."


Fuuka tersenyum lebar, dan Asa pun tampak menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Meskipun sejak pertengahan tadi sudah bukan lagi disebut pijatan, intinya rasa lelahku telah sirna. Sekarang yang tersisa hanyalah sensasi nikmat yang nyaman......


"Lalu, Masaki-san."


"Hm?"


Fuuka menggenggam penisku, menjilatnya sekali, lalu berkata sambil menatapku dari bawah.


"Tadi, soal Alice-chan...... aku bilang dia bisa merawat tubuhnya sendiri, kan?"


"A-ah, iya."


"Maukah Anda pergi melihat keadaannya?"


"Uwah...... kalau dijilat sekuat itu...... Ta-tapi, apa tidak apa-apa kalau aku yang pergi?"


"Iya, sepertinya Alice-chan merasa tegang jika ada di depanku."


"......Mungkin saja."


Bagaimanapun juga, Fuuka adalah sosok "Nee-san" yang ia hormati. Mengingat latihan siang tadi sempat menjadi agak kasar di pertengahan, sebaiknya aku memang mengecek keadaannya. Namun sebelum itu, sepertinya aku akan menyelesaikannya sekali lagi bersama mereka berdua yang masih sibuk menjilati penisku.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close