NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki na Ko ni Kokuttara, Futago no Imouto ga Omake de Tsuitekita V4 Chapter 3

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 3

Adik Kembar Ingin Menolong Teman Seangkatannya

Setelah itu──


Aku kembali dimanjakan dengan sangat puas oleh Fuuka dan Asa lewat mulut mereka, hingga akhirnya aku menikmati waktu itu selama hampir satu jam. Total tiga kali berturut-turut... Untuk ukuran orang yang sedang lelah, aku memang melakukannya secara berlebihan. Tapi diserang oleh dua gadis secantik itu, mana mungkin bisa berhenti hanya setelah satu atau dua kali.


Aku menyempatkan diri untuk mandi kilat, lalu berganti pakaian dengan baju rumah yang entah kapan sudah disiapkan oleh Asa.


"Ehm, Alice tadi tidurnya di ruang tamu, ya."


"Anu, apa aku boleh masuk sebentar?"


"Hm?"


Tepat saat aku hendak keluar kamar, pintu diketuk. Begitu aku membukanya sambil menyahut, di sana──Alice sudah berdiri.


"Se-selamat malam. Apa aku boleh mengganggu sebentar?"


"Ah, tentu saja."


Alice masih menguncir kuda rambutnya, kini mengenakan tank top hitam dengan celana pendek denim (hot pants). Kerah tank top itu cukup rendah, sehingga belahan dadanya yang ternyata besar terlihat dengan jelas. Paha yang menyembul dari celana pendeknya tampak berisi dan sangat empuk.


"Hm? A-ada apa?"


"Ti-tidak, bukan apa-apa."


Mungkin karena sisa gairah dari rahasia bersama Fuuka dan Asa belum sepenuhnya reda, mataku jadi tertuju ke bagian-bagian yang tidak seharusnya.


"Baju rumahmu... tidak, maksudku baju santai Alice gayanya seperti itu, ya."


"Kalau dipikir-pikir, tadi Nii-san bertemu denganku saat aku sudah ganti baju latihan, ya. Tentu saja aku tidak datang ke sini hanya dengan pakaian setipis ini. Aku memakai jaket di luarnya."


"Begitu ya."


Entah kenapa, aku membayangkan dia memakai jaket sukajan bermotif naga atau harimau.


"Rumah Nee-san pendingin ruangannya bekerja dengan baik, ya. Tidak dingin dan tidak panas, sangat nyaman."


"Benar. Akhir-akhir ini cuaca mulai sejuk, tapi kalau sedang di dalam rumah, rasanya kita hampir tidak bisa merasakan perubahan musim."


Memang kualitas apartemen mewah, bukan hanya AC-nya yang mumpuni, tapi sistem isolasi panasnya juga pasti sangat baik.


"Rasanya masih seperti mimpi aku bisa tinggal di tempat semewah ini."


"Ngomong-ngomong, rumah Nii-san kedai ramen, ya?"


"Iya, bangunannya sendiri punya nuansa era Showa. Di kedai memang AC-nya dipasang kencang, tapi kalau di bagian rumah, tidak bisa dibilang nyaman."


"Rumahku juga mirip seperti itu. Di kedai diusahakan senyaman mungkin, tapi di rumah AC-nya sudah tua dan tidak dingin──ah, kenapa aku malah membicarakan hal itu."


"Benar juga. Baiklah, santai saja."


Aku menarik kursi meja belajar dan duduk di sana, sementara Alice seiza di depanku.


"Eh, oi. Kamu boleh duduk santai, kok."


"Be-begitu ya. Sebenarnya aku memang belum terbiasa dengan hal seperti ini. Meskipun aku dipaksa bersekolah di SMA putri ternama, keluargaku sebenarnya rakyat biasa. Kalau gadis lain di Shuujo, mereka pasti akan tetap bersimpuh sambil tersenyum manis."


Alice tersenyum kecut, lalu mengubah posisi duduknya menjadi lebih santai. Bagiku pun lebih baik dia merasa nyaman daripada bersikap kaku.


"Tu-tunggu sebentar. Jangan terlalu memerhatikan kakiku."


"Eh? Tidak, aku cuma melirik sedikit karena kamu baru saja mengubah posisi duduk."


"Begitu ya... ya, aku tahu aku terlalu sadar diri."


"Terlalu sadar diri?"


Aku tidak mengerti arah pembicaraannya. Alice merona merah dan tampak gelisah.


"Lihat ini... kakiku gemuk, kan?"


"Eh?"


Alice menekan kedua pahanya hingga tampak melebar. Seperti yang kupikirkan tadi, pahanya tampak berisi dan empuk.


"Rasanya tidak sampai dibilang gemuk, kan?"


"Ini sudah termasuk gemuk! Lihat, ukurannya hampir dua kali lipat dari kaki Nee-san atau Yuzuki-san!"


Alice menegaskan hal itu sambil berdiri. Begitu dia berdiri, ukuran pahanya memang terlihat lebih jelas, tapi──


"Dua kali lipat itu berlebihan. Memang Fuuka dan Yuzuki itu sangat ramping... tapi Alice ukurannya normal, kok."


"A-apa benar begitu?"


Alice sepertinya belum puas dan memiringkan kepalanya dengan ragu.


"Tapi lihatlah, bokongku juga besar... padahal aku sudah berlatih, tapi dagingnya malah terus bertambah."


"............"


Alice memutar tubuhnya ke belakang dan berpose sedikit menungging. Memang benar, bokongnya besar. Begitu padat berisi hingga celana pendeknya tampak sesak. Jika dipadukan dengan pahanya, ini bisa dibilang "kekerasan daging yang lembut". Namun, menurutku dia tidak perlu repot-repot memamerkannya kepadaku seperti ini...


Terlebih lagi, samar-samar dari celah celana pendeknya terlihat kain putih──sepertinya pakaian dalamnya mengintip sedikit. Ini mungkin pertama kalinya dalam hidupku aku melihat pakaian dalam diperlihatkan dengan cara seperti ini.


"Yah, bukankah itu terlihat sehat dan bagus?"


"Nah, keluar juga kata-kata 'sehat'! Semua orang selalu menggunakan kata-kata manis seperti itu untuk menutupi tubuh yang terlalu banyak lemak!"


"Tidak perlu sampai mau menangis begitu, kan!"


Lagipula, secara visual Alice sama sekali tidak terlihat gemuk. Kata "sehat" itu murni pendapat jujurku. Malah menurutku kepadatan tubuhnya ini terasa sangat mesum──maksudku, memiliki daya tarik tersendiri.


"Alice kan rajin berlatih setiap hari. Mana mungkin kamu jadi gemuk karena lemak."


"It-itu memang benar, tapi..."


Alice bergumam dengan nada tidak puas, lalu kembali duduk di lantai.


"Eh, tunggu dulu. Kamu datang ke sini bukan untuk membicarakan soal bokong—maksudku, soal kaki, kan?"


"Aku memang mencemaskannya, tapi mana mungkin aku berkonsultasi soal tubuh bagian bawahku kepada Nii-san."


"Benar juga."


Aku pun akan bingung kalau sampai diajak konsultasi soal itu.


"Ah, pembicaraannya jadi melantur terus ya. Pertama-tama, tolong dengarkan ceritaku."


Karena wajah Alice mendadak serius, aku pun mengangguk tanpa suara. Kalau aku banyak bicara, ceritanya pasti akan melantur lagi.


"Masaki Nii-san, aku minta maaf!"


Belum sempat aku berpikir apa-apa, Alice tiba-tiba tersungkur ke lantai dan melakukan dogeza (bersujud meminta maaf).


"A-ada apa!?"


Tentu saja aku sangat terkejut. Aku sudah mengalami banyak hal dari para gadis, tapi baru kali ini ada yang sampai bersujud begini.


"Eh, oi, oi! Apa yang kamu lakukan, Alice! Angkat kepalamu!"


"Tidak, biarkan aku meminta maaf dengan benar. Ibuku memang membebaskanku, tapi ia selalu menanamkan satu hal: jika berbuat salah, aku harus meminta maaf dengan benar."


"Itu ajaran yang mulia, tapi Alice kan tidak berbuat salah."


"Aku sudah berbuat salah—aku sudah memikirkan hal yang buruk."


Alice akhirnya mengangkat wajahnya. Kupikir dia akan tertawa dan bilang "cuma bercanda", tapi ternyata wajahnya masih tetap serius.


"Sebenarnya, aku sempat mencurigai Masaki Nii-san sebagai pria nakal yang mencoba mendekati Nee-san."


"Hah?"


Saat aku memiringkan kepala keheranan, Alice kembali menundukkan kepalanya.


"Aku bisa melihat dalam sekejap kalau Nee-san sangat memercayai Nii-san. Aku juga langsung paham kalau Nii-san bukan orang sembarangan. Tapi, meskipun begitu, aku tidak tahu apakah Nii-san benar-benar bisa dipercaya atau tidak."


"............"


Ah, sepertinya aku mulai paham arah pembicaraannya. Memang benar wajahku ini menyeramkan, dan orang-orang di sekolah pun sering membicarakan hal-hal buruk di belakangku.


"Nee-san adalah orang yang tenang dan tegas, jadi kupikir dia tidak mungkin salah pilih. Tapi karena selalu ada kemungkinan satu berbanding sejuta, wanita sepertiku harus mewakili Nee-san untuk menaruh curiga."


"Begitu ya."


Jadi dia mencurigaiku demi kebaikan Fuuka. Alice kembali mengangkat wajahnya.


"Karena itulah, aku merasa tugaskulah untuk menjadi perisai bagi Nee-san."


"Pantas saja tadi saat latihan ada aura membunuh..."


Dia mungkin tidak berniat membunuhku, tapi itu pasti karena dia mencurigaiku.


"Ta-tapi... sekarang aku sudah memercayai Nii-san. Aku datang ke sini karena ingin mengakui dosaku dan meminta maaf."


"Ooh, jadi begitu. Kalau begitu—eh, tunggu sebentar. Kenapa tiba-tiba kamu jadi memercayaiku? Hari ini kita kan cuma latihan?"


Kupikir di dalam latihan tadi sama sekali tidak ada unsur yang bisa membuat aku mendapatkan kepercayaan Alice.


"Hanya dengan melihat kalian berdua hari ini saja, aku sudah tahu kalau Nii-san dan Nee-san saling memercayai. Ditambah lagi, kejadian tadi itu... yang, anu, bahkan sampai melibatkan Kakak Pelayan..."


"Hng!?"


"Nii-san pacaran dengan Nee-san, kan? Dan dia bahkan membiarkan Nii-san berselingkuh dengan pelayan... hubungan kalian pasti sangat dalam sampai hal seperti itu bisa dimaklumi."


"Tunggu dulu, Alice!"


Aku buru-buru memotong bicaranya.


"Ka-kamu... kamu melihat kejadian antara aku, Fuuka, dan Asa tadi?"


"Hei, jangan merendahkanku."


Alice yang masih bersimpuh di lantai menatapku tajam.


"Aku tidak punya hobi mengintip urusan ranjang orang lain. Tapi, Nii-san dan yang lainnya punya hobi pamer kemesraan untuk kesenangan sendiri, kan?"


"Kenapa jadi begitu!?"


"Eh? Bukannya kalian sengaja pamer padaku...? Pintunya terbuka lebar, dan kalian tetap tidak berhenti meskipun aku lewat."


"......Maaf soal itu."


Sepertinya karena terlalu asyik dengan Fuuka dan Asa, aku jadi tidak menyadari kehadiran Alice. Kalau dipikir-pikir, saat Asa masuk tadi, sepertinya pintu memang tidak ditutup.


"Pokoknya, kami tidak ada niat untuk pamer. Tapi, ya, begitulah. Aku dan Fuuka memang pacaran, dan soal para pelayan... itu, mereka sendiri yang bilang kalau mereka adalah 'pelengkap' bagi Yuzuki dan Fuuka."


"Ooh, pelengkap ya. Memang benar pelayan bisa dibilang satu paket dengan majikannya."


"Aku sendiri sebenarnya tidak ingin menganggap mereka begitu..."


Benar juga, Alice kan bersekolah di SMA Shuujo yang isinya nona-nona muda. Mungkin dia lebih mudah menerima keberadaan pelayan yang bersumpah setia kepada majikannya.


"Beneran, aku tidak bermaksud pamer. Tapi kalau itu membuatmu tidak nyaman, aku minta maaf."


"Eh? Tidak, aku juga tidak datang ke sini untuk menyalahkan Nii-san."


Alice buru-buru menggelengkan kepalanya hingga rambut kuncir kudanya ikut bergoyang-goyang.


"Memang benar aku terkejut... bukan sekadar terkejut lagi malah. Tapi, setelah melihat sosok Nii-san, Nee-san, dan Kakak Pelayan seperti itu, aku jadi mantap."


"Mantap?"


Sekarang pembicaraan soal apa lagi ini?


"Sebenarnya... aku ini tidak pandai menghadapi laki-laki."


"Begitu... kah?"


Alice menundukkan wajahnya, pipinya merona merah.


"Untuk ukuran orang yang tidak pandai menghadapi laki-laki, saat festival budaya kemarin kamu menendang para berandalan itu dengan hebat, lho."


"Justru karena tidak pandai menghadapinya makanya aku tendang. Kalau ada yang mendekat, aku merasa ingin mengusir mereka meskipun harus dengan pukul atau tendang."


"............"


Sambil duduk di tempat tidur, aku refleks sedikit menjauhkan diri dari Alice.


"Ah, jangan salah paham! Nii-san tidak masalah sama sekali! Hanya Nii-san yang pengecualian!"


"Padahal di antara para laki-laki, aku ini tipe yang paling tidak disukai perempuan, lho."


Rasanya sedih mengatakannya sendiri, tapi sayangnya itu kenyataan.


"Laki-laki yang punya hubungan 'seperti itu' dengan Fuuka Nee-san, lebih kuat dariku, dan tidak membuatku merasa terhina saat aku mengakui kekalahanku... laki-laki seperti itu tidak ada lagi selain Nii-san."


"Yah, sepertinya memang tidak ada."


Terutama laki-laki yang melakukan hal 'seperti itu' dengan Fuuka hanyalah aku. Berabe kalau sampai ada yang lain.


"Kesimpulannya, alasan kenapa aku tidak bisa mengusir laki-laki seperti yang Nii-san lakukan adalah karena aku punya ketakutan terhadap pria."


"Hampir tidak ada laki-laki yang bisa menang melawanmu, Alice. Tidak ada yang perlu ditakuti."


Kenyataannya, meski tekniknya otodidak, gerakan Alice sangat mengagumkan. Kecuali laki-laki yang benar-benar mendalami seni bela diri, mustahil bisa menang melawan Alice.


"Ini bukan masalah adu otot. Aku selalu menjauhkan diri dari laki-laki, jadi aku tidak tahu apa-apa. Aku ini masih seperti anak kecil."


"Hmm..."


Memang benar, untuk gadis kelas dua SMA, sangat jarang ada yang sama sekali tidak tahu tentang laki-laki. Mungkin karena dia mudah diganggu sehingga memilih menjauh, ditambah lagi sekarang dia sekolah di SMA putri.


"Karena itu... anu, aku punya permintaan!"


"A-apa itu!?"


Belum sempat aku bereaksi, Alice bangkit dengan gerakan luwes dan menumpukan lututnya di tempat tidur. Ia mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke arahku. Paras Alice yang cantik dan tegas berada sangat dekat, membuat jantungku berdegup kencang.


"Tolong ajari aku tentang laki-laki!"


"O-oi."


Mungkin karena Alice mencondongkan tubuh terlalu bersemangat, salah satu tali tank top-nya terlepas, membuat separuh payudaranya terekspos. Terlebih lagi, sepertinya dia tidak memakai bra di balik tank top itu.


"Pertama-tama, biar kuajari satu hal... jangan datang ke kamar laki-laki dengan pakaian seperti itu. Setidaknya, pakailah pakaian dalam..."


"Aku tidak pernah pakai bra kalau di rumah. Rasanya sesak. Tank top ini juga berfungsi sebagai pakaian dalam. Hal-hal begitu tidak penting sekarang!"


Alice semakin mendekatkan wajahnya.


"Tapi, tidak mungkin ada orang lain yang bisa kumintai tolong untuk mengajariku tentang laki-laki. Aku sekolah di SMA putri, dan lagipula, kalau ada laki-laki yang mendekat pasti langsung kuhajar."


"Jangan dihajar terus, dong..."


"Sejujurnya, bersenggolan bahu saja aku benci."


"Itu... berarti kamu benar-benar tidak pandai menghadapinya, ya."


Ternyata dia punya sisi yang sangat khas siswi SMA putri. Mungkin ini hanya prasangka, tapi aku punya gambaran kalau siswi SMA putri bergengsi memang takut pada laki-laki.


"Tapi tadi Anda berdua bergulat dengan normal, kan?"


"Uwah!?"


"Ka-Nee-san."


Tanpa disadari Fuuka sudah muncul dan duduk bersimpuh di lantai.


"...Alice, kamu tidak terkejut ya."


"Di sekolah pun Kakak sering tiba-tiba muncul seperti itu."


"Begitu ya, Alice memang sudah lebih lama mengenal Fuuka daripada aku."


Sampai sekarang pun Fuuka masih memiliki aura yang misterius bagiku. Saat ini, Fuuka mengenakan baju rumah berupa kamisol putih dan celana pendek biru tua.


"...Fuuka, kamu ganti baju lagi dengan pakaian yang tampak sejuk. Mirip dengan gaya Yuzuki."


"Aku meminjam baju Yuzu-nee. Dulu kami sering saling pinjam, jadi aku mencoba meminjamnya lagi. Kupikir kalau aku menjadi seperti Yuzu-nee, aku bisa lepas dari status 'pelengkap'."


"Ah... kurasa pakaian tidak ada hubungannya dengan itu."


"Lepas dari status pelengkap?"


Alice memiringkan kepala mendengar kata-kata Fuuka. Aku ingin menjelaskannya, tapi karena sepertinya akan panjang, lebih baik kulewatkan saja.


"Yah, sudahlah. Tindakan Fuuka Nee-san memang selalu misterius."


Sepertinya aku memang tidak perlu menjelaskan apa-apa.


"Fufu, aku jadi malu kalau dipuji begitu."


"Kurasa Alice tidak sedang memujimu."


Sepertinya suatu saat nanti aku harus benar-benar mencoba mendefinisikan tingkat kemisteriusan pacarku ini.


"Jadi, Alice-chan sudah siap, kan?"


"Ya, itu yang kuharapkan. Mengajariku tentang laki-laki berarti melakukan hal mesum kepadaku."


"Tegas sekali... sangat jantan."


Anak ini, katanya tidak pandai menghadapi laki-laki, tapi bukankah dia jauh lebih jantan daripada siapa pun? Meskipun wajahnya memerah karena malu, sih.


"Eh, tunggu, tunggu! Alice, kamu serius?"


"A-aku serius. Buktinya──ini!"


"............!"


Tepat di depan mataku, Alice menarik ujung tank top-nya ke atas. Bagian bawah payudaranya terlihat hampir separuh, bahkan sepertinya sesuatu yang berwarna merah muda mulai tampak...!


"Ka-kalau cuma dada... a-aku boleh memperlihatkannya. Ini juga sebagai ucapan terima kasih karena sudah melatihku."


"Te-terima kasihmu berlebihan, tahu!"


Aku sudah melihat dada enam gadis cantik, tapi aku tidak menyangka Alice pun akan menunjukkannya semudah ini!


"Wah, Alice-chan, ternyata dadamu cukup besar ya..."


"Ka-Nee-san, jangan melihatnya terlalu dekat begitu."


"Memangnya kalau aku yang melihat tidak apa-apa?"


Lagipula, kenapa Fuuka juga mendekatkan wajahnya dan menatap dada Alice dengan saksama?


"Tu-tunggu, putingku agak besar... a-aku malu."


"Hm? Tidak juga. Eh, atau sedikit besar ya?"


"Anu, Masaki-san? Kalau Anda mau, bagaimana kalau mencoba membandingkannya...?"


"Oi, Fuuka, kamu juga...!"


Fuuka menurunkan tali kamisolnya dan membiarkan dadanya terekspos begitu saja. Padahal di dalam ruangan, ternyata Fuuka juga tidak memakai bra... Meski sudah terbiasa, aku tidak bisa menahan gairah melihat payudara G-cup Fuuka yang terpampang jelas.


"Da-dada Nee-san... uuh, putingnya benar-benar kecil dan lucu...!"


"Tidak juga... milik Alice-chan juga warnanya sangat indah, lho."


Fuuka dan Alice duduk berhadapan di atas tempat tidur, membuat dua pasang payudara itu saling berhadapan satu sama lain.


"Memang ukuran putingnya berbeda, tapi milik Alice tidak bisa dibilang terlalu besar juga. Lagipula, puting yang besar begini juga terasa sangat mesum..."


"Su-sudah kuduga punyaku besar, ya... uuh, aku kalah dari Nee-san, baik dalam ukuran dada maupun kecilnya puting!"


Alice tampak murung, padahal dadanya sudah cukup besar dan putingnya pun terlihat menggairahkan.


"Kalau begitu, Masaki-san. Bagaimana kalau... Anda mencoba merasakan rasa putingnya juga?"


"Ra-rasa!? Be-begitu ya. Kalau soal rasa, mungkin aku bisa menang dari Nee-san."


"............"


Seharusnya puting tidak memiliki rasa. Namun, memang benar terkadang ada sensasi manis yang misterius saat merasakannya.


"Tu-tunggu. Mana mungkin aku tiba-tiba menjilat puting Alice juga..."


"Bo-boleh saja. Tolong rasakan putingku... da-dan ajari aku bagaimana sensasi mulut seorang laki-laki."


"Serius nih...?"


Kenapa alurnya selalu berakhir seperti ini...


Jika itu adalah si pelayan kembar yang bersumpah setia kepada Yuzuki dan Fuuka, aku masih bisa mengerti. Tapi setelah Riina dan Naraka, sekarang aku malah melakukan hal seperti ini dengan "pelengkap" Fuuka yang satu ini.


"Anh...!"


Sambil berpikir begitu, tanpa sadar aku sudah mendekatkan wajah ke dada Alice dan menjilat putingnya.


"Kya, Alice-chan mengeluarkan suara yang imut."


"Ja-jangan mengatakannya, Nee-san. Ja-jadi, bagaimana rasa putingku...?"


Mendengar pertanyaan Alice, aku hanya diam dan menjilat puting Fuuka juga sebagai perbandingan. Kemudian aku melahap putingnya dan menghisapnya kuat.


"Ngh...! Entah kenapa, hari ini rasanya lebih hebat dari biasanya..."


Fuuka mendesah manis sambil meliukkan tubuhnya, lalu aku kembali beralih menghisap puting Alice.


"Kya! Milikku lagi... ngh, padahal aku malu karena putingku besar!"


Aku melahap puting Alice, menghisapnya dengan kuat, lalu menjilat-jilatnya dengan lidah.


"Ooh, rasanya memang berbeda... puting Alice pun terasa manis."


"Ma-mana mungkin manis... ngh, Nii-san masih menghisapnyaaa!"


Aku membuka mulut lebar-lebar untuk melahap puting Alice yang agak besar itu, lalu menghisapnya dalam-dalam dengan kuat.


"Rasa ini... sepertinya bisa membuatku ketagihan."


"Ja-jangan begitu... bo-boleh saja dihisap, tapi jangan sekuat ituu ♡"


"Masaki-san, silakan nikmati dadaku lebih banyak lagi..."


"A-ah, iya, Fuuka..."


Sambil tetap menghisap puting Alice, aku menarik Fuuka ke dalam pelukanku, meremas-remas dadanya, lalu mencubit dan menarik puting kecilnya. Seketika puting Fuuka menegang keras, membuatnya semakin mengerang.


"Kya, haanh, putingku dicubit kuat-kuat... anh, Masaki-san ♡"


"Su-suara Nee-san terdengar mesum sekali... ngh, aku juga... jadi mengeluarkan suara aneh... aah ♡"


Aku benar-benar sedang menikmati puting milik mantan siswi dan siswi aktif dari SMA putri ternama ini dengan mulut dan jari-jariku. Ini benar-benar terlalu merangsang, nikmat sekali...!


"Alice-chan, ini pertama kalinya bagimu, kan? Tapi kamu sudah bisa merasa senikmat ini."


"Ma-malu sekali... ta-tapi, kalau cuma segini aku masih bisa tahan... a-aku akan tamat kalau sampai bagian bokongku yang diserang..."


"Ah, benar juga. Bokong Alice ini memang luar biasa, ya."


"Kyaa ♡"


Aku menjulurkan tangan dan mengusap bokong Alice perlahan. Meski terhalang kain celana pendek denim, rasa empuk dan elastisitasnya yang luar biasa tetap terasa sampai ke tanganku.


"Di-di situ... bo-boleh saja disentuh, tapi aku benar-benar malu kalau dilakukan terlalu sering...!"


"Ka-kalau begitu, aku cuma akan menyentuhnya pelan saja... tolong perlihatkan padaku."


"Kyaaa!"


Aku memutar tubuh Alice dan memaksanya dalam posisi tengkurap. Meski terlihat berisi, secara keseluruhan tubuhnya tetap ramping. Membalikkan badannya adalah hal yang mudah.


"Ooh, kalau dilihat begini, bokongmu benar-benar bagus."


"Ya-yann ♡ Bokongku... memalukan...!"


Meskipun berkata begitu, Alice tetap memasang posisi menunggingkan bokongnya. Di ujung pahanya yang padat, terlihat bokong yang memiliki daya pikat luar biasa.


"Ini gawat... ukurannya benar-benar menggoda."


"Ja-jangan bilang itu besar... kya, bahkan Nee-san pun ikut-ikutan ♡"


"Habisnya, aku sangat mengagumi bokong ini. Laki-laki pasti sangat menyukainya."


Fuuka juga ikut mengusap lembut bokong Alice. Bokong yang padat berisi ini memang sewajarnya membuat sesama wanita pun ingin menyentuhnya. Aku kembali menjulurkan tangan, kali ini mengusap-usap bokongnya melalui kain denim dengan sedikit lebih kuat. 


Ooh, sensasi padat namun empuk seperti ini benar-benar pengalaman baru bagiku...!


"Ah, haah... ka-kalau disentuh sekuat itu...! Anh, aah ♡"


Sambil mendengarkan desahan Alice, aku mendekatkan wajahku ke arah bokongnya. Dilihat dari dekat, ukurannya semakin terlihat luar biasa... bokong sebesar ini benar-benar membuatku ingin menyentuhnya lebih banyak lagi.


"Alice... bolehkah aku melepaskan denim ini?"


"A-apakah bokongku akan dilihat secara langsung...? Ka-kalau itu Nii-san... bo-boleh saja..."


Alice menoleh ke belakang dan mengangguk pelan. Tanpa membuang waktu, aku membuka kancing denimnya, lalu menariknya turun sekaligus. Meskipun dia tidak memakai bra, tentu saja dia tetap memakai celana dalam. Celana dalam putih polos yang tampak sederhana pun terekspos.


"Luar biasa. Tanpa denim, ukurannya terlihat semakin besar dan menggoda...!"


"Ka-kan sudah kubilang jangan sebut itu besar... anh, sekarang aku disentuh langsung...!"


Aku mengusap-usap bokongnya di balik celana dalam, lalu mencengkeram bagian yang terbuka, meremasnya seolah sedang menarik-narik dagingnya yang kenyal. Aku sudah sering meremas dada si kembar, tapi sensasi bokong besar ini benar-benar berbeda. Mungkin ini pertama kalinya aku menyentuh sesuatu yang begitu padat, empuk, sekaligus elastis.


"Masaki-san, jika Anda sangat menyukainya... mengapa tidak mencoba menikmatinya dengan bokong itu?"


"A-apakah boleh?"


"A-aku tidak tahu apa maksudnya, tapi silakan lakukan sesuka hati... a-aku juga mulai merasa aneh."


Aku langsung memahami saran Fuuka, tapi sepertinya Alice belum mengerti. Aku membiarkan Alice tetap tengkurap, lalu memintanya bertumpu pada kedua lutut dan mengangkat pinggulnya. Posisi itu membuat bokong besarnya semakin menungging.


"Ka-kalau begitu, aku mulai ya, Alice..."


"A-ah... kya, hauh! Ha-hal seperti itu ♡"


Aku mengeluarkan penisku dan mulai menekannya serta menggesek-gesekkannya pada bokong padat milik Alice. 


Ooh, ini benar-benar yang terbaik... sensasi dari bokong besar Alice ini, merasakannya dengan milikku pun terasa sangat nikmat.


"Kya, anh, ah ♡ Di-di bokong... ha-hal seperti itu... aah ♡"


Dulu, aku pernah meminta Asa dan Yuu menjepitnya dengan bokong mereka, tapi ini berbeda. Hanya dengan satu bokong saja sudah bisa memberiku kenikmatan sebesar ini.


Ternyata tubuh yang terlatih dan berisi padat memberikan sensasi yang berbeda ya.


"Hah, bokongku... sesuatu yang panas dan besar menyentuhnya... ah, haah...!"


Alice semakin mengangkat bokongnya, seolah menekannya ke arah penisku. Meski mulutnya berkata macam-macam, sepertinya bokongnya saja sudah bisa merasakan kenikmatan.


"Masaki-san, aku juga... ba-bagaimana kalau di bagian sini?"


"Boleh juga..."


Tanpa kusadari, Fuuka sudah melepas celana pendeknya, memperlihatkan celana dalam putihnya juga.


"A-apa yang akan kalian lakukan...? Ah, jangan-jangan bersama Nee-san juga..."


"Ya, biarkan aku menikmati bagian Fuuka dan bokong Alice secara bersamaan."


"Nii-san... Nii-san terlalu banyak mengajariku hal-hal baru... Ta-tapi, aku pun sudah tidak bisa berhenti..."


Alice bangkit dan memasang posisi berlutut, lalu kembali menunggingkan bokongnya. Aku berbaring di samping Alice, menggesekkan penisku pada bokongnya seolah sedang menyodoknya dari bawah.


"Kalau begitu, aku juga... kya, milik Masaki-san hari ini benar-benar... anh ♡"


Sambil aku menggesekkan penis di bokong Alice, Fuuka menempelkan area sensitifnya yang masih terhalang celana dalam tepat di sana. Posisi kami bertiga saling membelit dan agak berantakan, memang sulit untuk bergerak, tapi...


"Ba-bagian Fuuka dan bokong Alice... dijepit di antara keduanya, ini luar biasa...!"


"Kya, Masaki-san, gerakannya semakin kasar...!"


"Anh, N-Nii-san, kena bagian aneh di bokongku... ah, aah ♡"


Aku menggesek-gesekkan milikku di antara area sensitif Fuuka dan daging bokong Alice, memberikan rangsangan yang sangat kuat. Alice menekan bokongnya lebih keras lagi, sementara area sensitif Fuuka mulai basah kuyup. Aku benar-benar tidak akan sanggup menahannya lagi...!


"Su-sudah tidak kuat lagi, Alice, Fuuka...!"


"Ma-Masaki-san, silakan tumpahkan saja pada Alice-chan...! Alice-chan, ajarkan padanya panasnya milik seorang pria!"


"A-aku... aku mau milik Nii-san yang panas...!"


"Ba-baiklah...! Ugh...!"


Aku menggesekkan penisku dengan kuat pada bokong Alice, lalu menarik tubuhku sejenak──


Aku bangkit, kembali menekan Alice hingga tengkurap, mencengkeram pinggangnya agar mendekat, lalu mengarahkan ujung penisku dan melepaskan semuanya sekaligus.


"Kya!"


Cairan yang menyembur-nyembur itu menghujam deras ke bokong Alice yang masih mengenakan celana dalam putih.


"Kyaa, ah, panasnya... banyak sekali yang kena...! Aah ♡"


Daging bokong Alice yang padat itu gemetar, dan aku membanjirinya dengan cairan putih kental dalam jumlah besar.


"Ma-masih keluar... anh... ♡"


"Bokong putih Alice-chan dikotori... luar biasa..."


"Ja-jangan lihat, Nee-san... memalukan... ♡"


Tubuh Alice gemetar hebat, begitu pula daging bokongnya. Setelah mengeluarkan semuanya, aku terduduk lemas di tempat tidur.


"Fuu... itu tadi enak sekali, Alice."


"A-ah. Kalau Nii-san bisa menikmati tubuh yang terlalu banyak daging ini, aku ikut senang... Ra-rasanya sekarang aku sudah mulai memahami tentang Nii-san."


Alice menoleh sambil tetap tengkurap, ia tersenyum tipis. Untuk saat ini, setelah membersihkan bokong Alice yang kukotori tadi──


"Alice-chan, ini belum selesai, lho."


"Eh? A-ah... begitu ya. Aku juga harus melakukan hal itu, ya... Nee-san, ayo bersama-sama..."


"Iya."


Alice dan Fuuka saling mengangguk, lalu mendekatkan wajah mereka ke selangkanganku. Kemudian, mereka menjulurkan lidah yang mungil dan menjilati ujung penisku.


"Kalian bahkan mengurus pembersihannya juga, ya..."


"Se-setelah latihan pun harus ada pendinginan yang benar, kan... Ini juga harus dibersihkan dengan baik... Ngh, cup, nmumu..."


Alice menjilat ujung penis yang masih sedikit basah dengan lidahnya, melahapnya, dan menghisap sisa sperma yang tertinggal di dalam. Sementara itu, Fuuka menjilati bagian pangkalnya. Pelayanan dari dua gadis cantik yang anggun ini benar-benar tak tertahankan... 


Aku mulai terbiasa dengan isapan ganda ini, tapi pemandangan dua gadis berambut hitam panjang dan hitam kuncir kuda yang sedang bekerja dengan lidah dan mulut mereka benar-benar spektakuler.


"Haah... su-sudah cukup, kalian berdua. Terima kasih."


Aku mengusap-usap kepala kedua gadis berambut hitam itu, lalu menarik tubuh Fuuka untuk menciumnya.


"Untuk ciuman... aku serahkan pada Nee-san. Kalau Nii-san tidak keberatan denganku, silakan nikmati lebih banyak lagi..."


"Ooh..."


Aku menyatukan bibir dengan Fuuka, saling membelitkan lidah, sementara tanganku kembali mengusap bokong yang Alice sodorkan. Setelah ejakulasi dengan bokong itu, bokong besar ini jadi terlihat semakin istimewa bagiku.


"Ah, bokongku diusap lagi... ngh, padahal kupikir bokong sebesar ini hanya akan merusak pemandangan pria, tapi anh... aku senang kalau Nii-san menyukainya ♡"


Tubuh Alice bergetar saat bokongnya diusap. Mungkin dia sudah mencapai klimaks kecil berkali-kali.


"Ba-bagaimana bisa bokong yang memalukan ini terasa senikmat ini... A-apakah aku sudah jatuh ke dalam kemaksiatan?"


"Tidak, kamu boleh bangga dengan bokong ini. Setidaknya bagiku, ini yang terbaik."


Aku memasukkan tangan ke dalam celana dalam putih Alice, meremas dan mengusap bokongnya sepuas hati.


"Ini bokong yang sangat luar biasa, Alice..."


"Ja-jangan memuji terus. Ta-tapi, sepertinya aku ingin Nii-san lebih banyak mengusap bokongku..."


"Tentu saja."


"Masaki-san, berikan aku ciuman lagi..."


"Benar, buatlah Nee-sanku senang juga..."


"Aku mengerti."


Sambil berciuman dalam dengan Fuuka, aku menikmati bokong Alice sepuasnya──


Mungkin selanjutnya akan menyenangkan jika aku dijepit di antara bokong Fuuka yang kecil dan imut serta bokong Alice yang besar dan padat berisi.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close