NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Watashi Ni-banme no Kanojo de Ii kara Volume 3 Chapter 8

Chapter 25

Legal High


"Sebenarnya apa yang terjadi di sini?"

"Mana aku tahu?"

Ucap Sakai Aya yang duduk di sebelahku.

"Kenapa tidak tanya sendiri pada orangnya?"

Di depan mataku, ada Hayasaka-san.

Hayasaka-san mengenakan pakaian Santa Girl dan duduk diapit oleh para pria. Roknya pendek dan bahunya pun terbuka. Tentu saja, dia dilihat dengan tatapan seperti itu, namun Hayasaka-san tetap mengobrol dengan ceria sambil tersenyum-senyum.

"Oi, itu pundaknya bersentuhan, kan? Pasti bersentuhan."

"Ya jelas bakal didekati pria-pria itu. Gadis semanis itu sedang tidak punya pacar, tahu."

Itu terjadi di suatu hari setelah pertengahan bulan Desember.

"Ayo kita adakan pesta Natal bersama-sama."

Seseorang di kelas mengucapkannya begitu. Anak-anak yang suka keramaian langsung setuju, Maki ditunjuk sebagai panitia, dan pesta Natal yang melibatkan seluruh kelas akhirnya diputuskan untuk diadakan.




Begitulah, akhirnya kami pun berada di ruang pesta fasilitas resor ini.

Awalnya, tepat setelah kami memasuki ruangan, beberapa siswi pergi menghilang.

Tak lama kemudian, mereka kembali dengan mengenakan kostum cosplay.

Mungkin tujuannya untuk memeriahkan suasana. Ada yang jadi maid, perawat, bunny girl, dan mereka bilang masih tersisa satu set kostum lagi. Sang primadona, mini skirt Santa Girl.

Tatapan para pria di ruangan itu terpusat pada satu gadis.

Hayasaka-san.

"Ini pasti pola di mana aku harus menyelamatkannya," pikirku, lalu aku mulai bersiap dengan antusias. Namun──.

"Aduh~, cuma untuk hari ini saja, ya?"

Hayasaka-san tertawa sambil menerima kostum itu, lalu pergi berganti pakaian dan kembali lagi.

Dan begitulah situasi kami saat ini.

Di ruangan itu ada fasilitas karaoke, papan darts, dan meja billiard, tetapi hampir semua orang duduk di sofa sambil asyik mengobrol.

Topiknya tentu saja tentang Natal yang sudah di depan mata. Para pria yang tidak punya pacar tampak mengerumuni siswi-siswi yang sedang free.

Aku dan Sakai memandangi suasana ruangan itu dari sudut sofa.

"Itu yang ada di sisi kiri dan kanan Hayasaka-san, bukannya siswa dari sekolah lain?"

"Karena kita diperbolehkan mengajak kenalan supaya biaya sewa ruangan per orang jadi lebih murah."

"Mereka benar-benar sedang berusaha merayu Hayasaka-san, ya."

"Kalau siswa dari sekolah lain, kita tidak perlu memikirkan rasa canggung setelah ditolak, jadi mereka bisa maju terus. Keduanya berkulit gelap, mungkin anak klub olahraga. Meminta nomor kontak sudah jadi hal biasa, bahkan mereka terlihat cukup agresif seolah ingin menuntaskan urusannya hari ini juga."

Meskipun didesak oleh pria-pria berbadan tegap dari sisi kiri dan kanan, Hayasaka-san tetap tertawa ramah.

Aku tanpa sadar memalingkan muka.

"Ah~ ah~, Akane itu, sampai memperlihatkan paha seperti itu. Bisa-bisa dia disentuh, lho."

"Oi, jangan siarkan langsung seperti itu."

"Ada Pocky di atas meja."

"Itu jangan sampai dilakukan!"

"Sepertinya Akane berniat menyuapinya."

"Pakai tangan, kan? Dia menyuapinya pakai tangan, kan?"

"Tapi sepertinya dia senang."

"Orang yang jago olahraga itu keren, ya!" suara Hayasaka-san terdengar.

Aku mencari sesuatu yang bisa membuatku lari dari kenyataan. Aku menggeledah tas, tapi tidak ada apa-apa. Saat napasku mulai tidak teratur, Sakai memberikan sebuah kumpulan puisi kepadaku.

Haru to Shura (Musim Semi dan Shura) karya Miyazawa Kenji. Terima kasih, Sakai. Aku membuka buku itu. Aku tidak ingin melihat apa pun, aku tidak ingin mendengar apa pun.

"Ah, sekarang sepertinya pahanya disentuh. Tapi, Akane tetap tertawa."

Wahai adik perempuanku yang akan pergi jauh hari ini, hujan es turun dan wajah luar tampak aneh bersinar, ameyujuyu totechitakenjiya.

"Dia baru saja diusap kepalanya."

"Fenomena yang kusebut diriku adalah lampu pertukaran organik yang dihipotesiskan!"

"Kalau kamu sebegitu cemburunya, kenapa tidak lakukan saja dengan cepat?"

Sakai berkata dengan terus terang. Dalam mode suram dengan kacamata dan poni yang menutupi dahi, teman sekelas yang lain tidak akan pernah menyangka Sakai bisa mengucapkan hal seperti itu.

"Kalau kamu melakukannya, Akane pasti akan mencintaimu sampai gila, kan? Dengan begitu, dia tidak akan melirik pria lain lagi."

"Bukan, itu……"

"Masalah keseimbangan dengan Tachibana-san? Tapi bukankah karena kamu tidak bergerak maju, rasa percaya diri Akane jadi rendah, makanya jadi seperti itu?"

Suara Hayasaka-san yang sedang bersenang-senang.

Dia dibilang seru, lalu menjawab "Ehehe" sambil tertawa. Itu cara tertawa yang hanya dia tunjukkan di depanku, pikirku. Apakah aku hanya kegeeran?

"Aduh~, jangan pasang wajah seperti itu."

Kata Sakai. Kelihatannya dia sedang menghiburku, tapi nada suaranya benar-benar terdengar sedang menikmati tontonan.

"Nih, buat kamu merasa senang."

Sakai menunjuk ke arah meja.

Di atas tisu, terdapat sejumput bubuk putih yang ditumpuk. Ini juga disiapkan untuk memeriahkan suasana.

"Bubuk Putih Kebahagiaan"

Konon, jika memakai ini, kepala akan merasa bahagia dan bisa "terbang".

"Tidak, ini sudah pasti barang berbahaya. Kenapa ada benda seperti ini di sini!?"

"Karena Maki yang menyiapkan, mungkin ini barang pesta."

"Orang sepintar dan sepiawai dia apa tidak takut berurusan dengan hal seperti itu? Orang tipe begitu biasanya memang pintar mencari celah hukum, kan?"

"Kalau diingat-ingat, dia tadi terus berurusan dengan ketua klub kimia di kelas."

"Ini benda asli……"

Itu sudah pasti menakutkan, kan? Saat aku berpikir begitu──.

Suara Hayasaka-san terdengar.

"Rasanya luar biasa enak!"

Aku tidak tahan untuk tidak melihat. Dia sedang… dipijat pundaknya oleh pria di sebelahnya.

"Kirishima, tenanglah."

Sakai menepuk pundakku. Ya ampun, belakangan ini situasi yang berat terus menimpaku.

Biar saja aku lupa akan segalanya, meski hanya sejenak.

Aku menutup satu lubang hidung dengan jari, lalu menggunakan sedotan untuk menghirup bubuk putih kebahagiaan itu melalui lubang hidung lainnya.

Hayasaka-san menjadi akrab dengan pria selain aku, ini bukan pertama kalinya terjadi hari ini. Akhir-akhir ini memang selalu seperti itu.

Dia memang populer sejak dulu, dan karena dia tidak menolak pria sekeras Tachibana-san, bisa dibilang secara permukaan tidak banyak yang berubah.

Namun, para pria di kelas merasakan perubahan yang sangat kecil itu dengan jelas.

"Entah kenapa Hayasaka-san belakangan ini oke juga, ya. Seperti tembok hatinya sudah hilang, atau gimana ya."

"Ya. Dulu dia memang ramah, tapi rasanya seperti berada di balik layar kaca. Tapi sekarang──"

"Dia jadi sangat erotis. Seperti gadis yang nyata."

"Menggoda, ya."

"Tadi setelah olahraga, saat dia berkeringat dan napasnya terengah-engah, aku hampir gila."

Suara-suara seperti itu terdengar dari berbagai penjuru kelas.

Seperti itulah, Hayasaka-san mulai akrab dengan pria lain.

Hanya itu saja, bukan berarti dia menjadi dingin padaku.

Jika aku melewatkan teleponnya, ada riwayat panggilan masuk setiap lima menit sekali.

Saat Hayasaka-san menunggu di stasiun untuk mengembalikan manga, aku bilang "Maaf membuatmu menunggu", lalu dia menjawab dengan wajah tersenyum, "Tidak kok, sama sekali tidak menunggu. Kan cuma empat jam," katanya.

Saat aku sedang bimbang pun, Hayasaka-san tetap baik.

"Tentang Senpai dan Tachibana-san, kan? Berat juga, ya."

Saat jam pelajaran berpindah, dia memanggilku di bordes tangga dan merentangkan kedua tangannya.

"Akan kuhibur kamu."

Dia memelukku dengan wajah tersenyum, dan aku merasa lega saat merasakan tubuh lembut serta suhu tubuhnya, lalu aku memeluknya kembali.

"Sudah lama sekali, ya, Kirishima-kun memelukku. Aku senang sekali."

Hayasaka-san sangat senang, dia menekan wajahnya ke dadaku sampai tak ada jarak lagi.

"Ehehe, aku menempelkan air liur sedikit."

Ucapnya sambil tertawa.

Hayasaka-san setelah menjadi bagian dari Sharing terlihat ceria dan stabil. Dia selalu tersenyum. Kapan pun itu.

Tapi, ada saat-saat di mana senyum itu membuatku khawatir.

Hari itu adalah giliranku bersama Hayasaka-san dalam Sharing.

Aku dan Hayasaka-san sama-sama ada pekerjaan paruh waktu, jadi kami memutuskan untuk pulang bersama saja.

Agar tidak terlihat orang lain, kami berjalan di gang belakang sambil berpegangan tangan.

"Sejujurnya, apa itu tidak berlebihan?"

"Apa maksudnya?"

"Soal pergi bowling itu."

Di jam istirahat, sekelompok pria mengajak Hayasaka-san bermain bowling.

Hayasaka-san setuju dengan berkata "Oke", tapi setelah didengar dengan teliti, sepertinya Hayasaka-san akan berpartisipasi sendirian sebagai satu-satunya gadis di sana.

Dalam perjalanan pulang, saat aku membahas hal itu, Hayasaka-san menghentikan langkahnya sambil berkata, "Kirishima-kun memang tidak bisa dibiarkan~" lalu dia tersenyum manis dan kembali merentangkan kedua tangannya untuk memelukku.

Saat aku memeluknya kembali, Hayasaka-san menaruh tangannya di belakang kepalaku, membuat posisinya seolah kepalaku bersandar di pundaknya.

"Nah, nah, kamu cemburu, ya."

Hayasaka-san mengelus kepalaku sambil berbisik di telingaku.

"Kirishima-kun itu, benar-benar, payah ya."

"Eh?"

Aku terkejut mendengar kata-kata yang tak terduga itu, lalu menjauhkan wajahku.

Tapi Hayasaka-san tetap tersenyum, "Ada apa?" tanyanya dengan nada riang yang sama.

"Tidak apa-apa, aku tidak akan pergi bowling. Kan Kirishima-kun yang bilang begitu. Itu sudah pasti."

Dia berkata begitu, lalu kembali memeluk dan mengelus kepalaku.

Kukira aku salah dengar. Karena saat dia bilang "payah", nadanya sangat ceria.

Namun──.

"Dirimu sendiri tergila-gila pada Tachibana-san, tapi saat aku sedikit mencoba bermain dengan pria lain kamu malah melarangnya, Kirishima-kun benar-benar tak tertolong ya."

Dia mengucapkan hal itu di telingaku.

"Sama sekali tidak mau menyentuhku, tidak mau melihatku. Setiap kali begitu, aku terluka dan berpikir apa aku tidak menarik, aku jadi hancur karena merasa diriku tidak berharga."

Ehehe, Hayasaka-san tertawa.

Aku memandang Hayasaka-san.

Hayasaka-san tetap tersenyum, berbicara dengan sangat asyik.

"Pria lain itu menatapku dengan wajah yang sangat menginginkanku, lho? Mereka sangat ingin menyentuhku, lho? Makanya, aku jadi berpikir kalau aku ini gadis yang berharga, dan karena aku berharga, aku jadi merasa masih bisa berada di samping Kirishima-kun. Ini siklus yang sangat bagus, setiap hari aku merasa senang!"

Belakangan ini, sepertinya dia sedang menjadi teman curhat Yanagi-senpai dan pergi ke kafe bersama.

"Yanagi-senpai itu, sangat bimbang lho. Karena dia membuat Tachibana-san bingung."

Jika Senpai tidak mengguncang situasi seperti itu, dia tidak akan bisa mendapatkan hati Tachibana-san.

"Tapi ya, meski dia sedang bimbang, saat aku memakai sweater dengan potongan dada rendah, dia terus menatap ke sana lho. Aneh sekali, ya!"

"Kalau begitu, ayo jalan," katanya, jadi aku kembali berjalan sambil berpegangan tangan dengan Hayasaka-san.

Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan atau apa yang harus kubicarakan pada Hayasaka-san. Aku tidak bisa mengikuti kesenjangan antara isi pembicaraannya dan nada suaranya.

"Aku ini, berusaha untuk tidak terlalu menyukai Kirishima-kun. Kalau terlalu berat, kan repot, ya?"

Hayasaka-san berjalan dengan mengayunkan lengannya dengan lebar, tampak sedang dalam suasana hati yang baik.

"Soalnya, aku kan yang kedua. Sharing ini pun, aku hanya dipaksakan masuk ke tempat di mana kalian saling mencintai. Sudah sewajarnya aku harus tahu diri, kan? Sudah sewajarnya jika aku disakiti dan dihancurkan, kan? Meski aku sudah menyiapkan semuanya sendiri tapi tidak pernah diselesaikan sampai akhir, bahkan meski aku harus melihat ciuman kalian di panggung festival budaya, aku tidak berhak komplain, kan?"

"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," kata Hayasaka-san.

"Gunakan aku sesukamu saat kamu butuh, Kirishima-kun. Kamu boleh menyakitiku sebanyak apa pun. Karena pria-pria lain akan segera memberitahuku bahwa aku masih punya nilai."

"Tapi, cara seperti itu……"

"Ehehe, itu sama persis dengan apa yang dipikirkan Kirishima-kun. Kadang, ada pria yang menatapku dengan mata yang seolah sudah kehilangan akal sehatnya. Kalau terus begini, mungkin aku akan melakukan sesuatu dengan pria lain. Mungkin aku akan dilakukan sesuatu. Mungkin aku akan dihancurkan."

Tapi ya, Hayasaka-san menghentikan langkahnya, lalu berkata dengan ekspresi dewasa yang sangat erotis.

Seandainya pun itu terjadi──.

"Itu semua, salah Kirishima-kun, kan?"

Setelah menghirup bubuk putih kebahagiaan itu, kepalaku sudah benar-benar meleleh. Gelas yang diletakkan di atas meja terlihat besar, lalu mengecil. T

anpa urutan yang jelas, makanan yang kumakan selama seminggu terakhir muncul berurutan seperti foto.

"Kirishima, kamu tripping-nya parah banget."

Sakai yang duduk di sebelahku tertawa terbahak-bahak.

"Sering-sering banget ya adegan pakai sedotan lewat hidung gitu."

"Di film, biasanya adegannya memang begitu, kan."

"Tonton film yang lingkungannya lebih aman, deh."

Gerakan mulut Sakai terlihat sangat lambat. Suara percakapan orang-orang di ruangan itu pun terdengar sangat jelas satu per satu. Suara Hayasaka-san dan pria itu pun memiliki resolusi tinggi.

Mungkin karena efek bubuk putih itu, indraku menjadi sangat tajam.

Kalau aku melihat langsung pemandangan Hayasaka-san sedang akrab dengan pria lain dalam keadaan seperti ini, bisa berakibat fatal. Aku tidak ingin mendengar apa pun, aku tidak ingin melihat apa pun.

Berpikir begitu, aku memalingkan muka, mengambil earphone dari dalam tas, dan memasangnya di telinga. Seketika itu juga, banjir suara mengalir dari earphone.

Seolah ada terminal yang ditusukkan langsung ke otakku, bunyinya terdengar sangat langsung. Emosi dari lirik lagu memenuhi diriku. Apa ini? Luar biasa, aku bisa terbang.

"Tunggu, Kirishima, kamu baik-baik saja?"

"Musik itu…… bisa kulihat dalam bentuk visual…… musik…… bisa terlihat…… You're my wonderwall……"

"Kamu tripping terlalu jauh, deh."

Sakai melepas earphone-ku, dan aku kembali ke dunia nyata.

"Luar biasa, ini. Berikutnya, trance dengan dentuman bass yang lebih berat……"

"Sudahlah, mari lihat kenyataan."

Wajahku dicengkeram, dan aku dipaksa menghadap ke arah Hayasaka-san.

Sepertinya mereka sedang bermain darts. "Kalau kami menang, kasih tahu alamat e-mail-mu ya," suara pria dari sekolah lain yang tadi duduk di kiri-kanan Hayasaka-san terdengar. Hayasaka-san sedang tertawa.

"Sakai, lepas kacamatamu."

"Kenapa tiba-tiba?"

"Kalau Sakai serius, pria-pria itu mungkin akan mengerumuni kita."

"Justru karena malas berurusan dengan yang seperti itu makanya aku pakai kacamata."

Meski begitu, saat aku terus mendesaknya "Lepas, lepas", Sakai memerah pipinya dan berbisik "Cuma buat Kirishima saja, ya," lalu melepas kacamatanya dan mengangkat poninya, memperlihatkan wajahnya.

Dia cantik sekali, dan saat kupikir dia benar-benar punya daya pikat yang luar biasa, dia tiba-tiba berkata "Dari dulu aku ingin mencicipi Kirishima sedikit demi sedikit," lalu bilang "Akane dan Tachibana-san itu masih bocah, yang benar itu aku, kan," lalu dia menciumku.

Meski aku sempat berpikir oi-oi ini kan ada banyak orang, tapi saat kucoba cium, ciuman Sakai memang ciuman orang dewasa, dan aku merasa sudah menjadi milik Sakai, Sakai, Sakai, Sakai──.

"────rishima, Kirishima, Kirishima!"

"Nn?"

Di depanku ada Sakai. Kacamata dipakai dengan benar, dan poninya pun diturunkan.

"Sakai, aku tadi sedang apa?"

"Tadi kamu sempat melamun sejenak…… tripping-mu parah banget ya."

Sakai tertawa. Ah, ternyata cuma delusi. Ya iyalah. Mana mungkin aku dan Sakai bisa sampai seperti itu.

"Nah, cepat sana temui Akane. Kalau Kirishima yang bilang, dia pasti langsung menurut, kok."

Saat melihat Hayasaka-san, dia sedang diajari cara melempar darts. Dia sedang bersiap menghadap papan, dan sikunya sedang disentuh.

"Tidak, kalau dia sendiri yang mau……"

"Kirishima itu idealis di tempat yang salah, ya. Pakai mikir harus menghargai kehendak bebas dan segala macam."

"Pada dasarnya cinta itu kan soal memberi pengaruh pada pasangan, kan?" kata Sakai.

"Bilang 'aku tidak akan menyentuhmu, tapi tolong sukai aku dengan perasaanmu yang apa adanya', bukankah itu terlalu naif?"

"Sakai yang ini kejam sekali, ya. Kembalikan Sakai yang tadi."

"Kalau kamu hancurkan Akane sampai dia tergila-gila padamu, kan enak. Akane pun mengharapkan itu. Kamu tahu kan, pemicu terakhir untuk menghancurkannya sepenuhnya?"

"Tapi itu……"

"Setidaknya," kata Sakai.

"Aku rasa Akane dan Tachibana-san, keduanya berniat menghancurkan Kirishima agar bisa menjadikanmu milik mereka."

Dan itu juga berlaku bagi Yanagi-senpai, dia berniat mengubah status Tachibana-san dengan kemauan yang kuat.

"Kalau terus begini, Akane dan Tachibana-san akan diambil pria lain, lho?"

Pandanganku bertemu dengan Hayasaka-san.

Agar tubuhnya tegak lurus terhadap papan darts, pria itu berdiri sambil memegang kedua pundak Hayasaka-san untuk mengatur posisinya.

Tentu saja pria itu tidak peduli pada darts-nya, dia hanya ingin menyentuh Hayasaka-san. Hayasaka-san pasti sadar, tapi dia menatapku lalu tertawa "Ehehe".

Aku terus menyedot bubuk putih kebahagiaan di atas meja melalui sedotan secara bertubi-tubi. Aku terbang tinggi.

"Meski melakukan itu, kenyataan tidak akan berubah."

Sakai dengan wild smile berkata begitu.

Sialan, pikirku.

Semua orang bertindak sesuka hati, hanya menginjak pedal gas, dan memprovokasiku.

Tentu saja, aku juga ingin melakukan hal itu. Aku tahu bahwa jika aku melakukan hubungan dengan Hayasaka-san, menghancurkannya, dan dicintai sampai gila, itu akan sangat luar biasa nikmat.

Begitu juga jika aku secara paksa melakukan hal itu pada Tachibana-san sesuai keinginan, menghancurkannya, dan dicintai seumur hidup, itu akan sangat nikmat. Tapi itu tidak mungkin, kan?

Kalau aku memilih salah satu, yang lain pasti akan marah besar. Janji Sharing itu hanyalah omong kosong.

Kalau aku melakukan hubungan dengan salah satu, mereka pasti akan bertengkar, dan pertengkaran itu sepertinya akan berakhir dengan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki lagi.

"Ya sudah pilih saja salah satu," begitu pikirku, tapi mereka juga tidak mengizinkanku melakukan itu. Mereka memaksa melakukan Sharing agar kemungkinan diriku tidak dipilih itu hilang, lalu berkata "Kirishima-kun kan untung karena punya dua," mereka membuat aturan sendiri bahwa tidak boleh curang, lalu saat aku tidak melakukan apa-apa mereka malah merajuk.

Lagipula, apa itu Sharing? Setelah festival budaya, aku juga tidak menanyakannya sih.

Bukankah seharusnya itu adalah momen di mana aku disuruh memilih, "Pilih aku atau dia?"

Bukankah itu yang standar?

"Bukankah Kirishima sendiri yang menyangkal cara pikir standar seperti itu? Kamu dicuci otak oleh cinta di film atau drama, mabuk dengan citra cinta sejati, lalu bilang 'aku beda dengan orang-orang yang menjalani cinta seperti itu'."

Sakai, jangan bicara seperti itu. Aku tidak sampai berpikir seburuk itu.

"Kamu buruk, Kirishima. Kamu pasang wajah tidak tahu harus berbuat apa, tapi itu cuma akting, kan? Sok polos. Kirishima yang buruk punya rencana yang matang, kok."

Karena semua orang melakukan cinta sesuka hatinya, kenapa kamu tidak berbuat sesukamu juga? Wild smile Sakai berkata begitu.

"Hancurkan saja Akane dan Tachibana-san. Bilang pada keduanya, 'Kamu adalah yang utama, aku memilihmu', lalu lakukan hubungan dengan keduanya, dan buatlah mereka mencintaimu sampai gila."

"Tidak bisa, kalau aku sudah berhubungan dengan salah satu, yang lain pasti akan marah."

"Kamu tinggal membuat agar hubunganmu dengan Tachibana-san tidak diketahui Akane, dan hubunganmu dengan Akane tidak diketahui Tachibana-san, kan?"

"Itu tidak bisa dilakukan sekarang."

Karena sudah Sharing, dan meski aku bilang pada Hayasaka-san "Kamu yang utama, aku memilihmu," kalau setiap hari aku pergi sekolah sambil bergandengan tangan dengan Tachibana-san, kebohongan itu akan segera terbongkar.

"Itu mustahil."

"Tidak mustahil. Faktanya, Kirishima punya rencana itu di dalam kepalamu."

Kalau dipikir-pikir──memang ada.

Jika Hayasaka-san dan Tachibana-san tidak saling menghubungi, dan jarak lokasinya pun jauh, aku bisa bilang pada Tachibana-san bahwa aku sudah putus dengan Hayasaka-san, dan bilang pada Hayasaka-san bahwa aku sudah putus dengan Tachibana-san, lalu aku bisa mencintai keduanya sampai gila. Kemungkinan situasi itu, memang ada.

"Saat ketahuan nanti, Kirishima benar-benar akan hancur secara putus asa dan ekstrem."

Ini adalah rencana yang secara tidak sadar kusegel. Karena terlalu jahat, karena aku menghancurkan semua orang hanya demi kenikmatanku sendiri. Ini bukan sekadar payah, ini adalah rencana kejahatan yang tidak bisa diselamatkan.

"Aku ini, ingin melihat kejahatan yang sesungguhnya. Semua orang bilang soal kebajikan, tapi mereka menyiapkan alasan agar hal itu terjadi, kan? Mereka menyiapkan jalan keluar agar tidak disalahkan, kan? Bukan itu. Tunjukkan padaku kejahatan yang ekstrem hanya untuk memuaskan kenikmatan cinta diri sendiri."

"Lakukan, lakukan," heartbeat Sakai berkata begitu. Karena semua orang sudah bertindak sesuka hati, Kirishima juga harus melakukan sesuka hati, lakukan rencana kejahatan ekstrem itu, lakukan.

Tunggu sebentar, kau ini benar-benar heartbeat Sakai? Kau terlalu sering mengakses isi kepalaku.

Tidak. Aku tidak bisa membedakan kenyataan dan delusi.

Rencana Kejahatan Ekstrem

Tidak, tidak boleh. Itu tidak boleh. Berpura-puralah. Berpura-puralah menjadi pria payah yang terombang-ambing oleh situasi untuk melewati pikiran jahat ini.

Aku mencari kebahagiaan, aku seharusnya bertujuan untuk cinta yang benar-benar membuat pasangan bahagia.

Tidak, benarkah begitu?

Seperti kata Sakai, cinta adalah sesuatu yang memberi pengaruh besar pada orang lain, dan mungkin cinta itu sendiri adalah hal yang menjatuhkan orang lain ke dalam semacam ketidakbahagiaan. Entahlah, aku sudah tidak tahu lagi apa itu cinta.

Tidak, aku sudah benar-benar terjebak dalam dunia pemikiran.

Batas antara kenyataan dan delusi sudah tidak terlihat.

Aku mencari. Sesuatu untuk memahami cinta, sesuatu untuk kembali ke kenyataan.

Ya, buku. Apa yang tertulis di dalam buku selalu tidak berubah. Titik temu untuk kembali dari delusi ke kenyataan. Buku selalu membantuku.

Aku mencari. Buku yang pertama kali dipinjamkan oleh wild smile Sakai.

Ada di sana, terjatuh di bawah meja.

Ini dia. Karya anumerta Heaven and Hell Kenji Miyazawa, Cinta dan Shura.

Aku membalik halaman buku itu. Luar biasa. Huruf-hurufnya terlihat timbul. Huruf-huruf itu melompat ke mataku dan menanamkan gambar langsung ke batang otakku.

Aku memahami kebenaran cinta.

Mencintai orang lain memang disertai dengan perasaan ingin dicintai oleh orang itu, dan agar dicintai orang lain, kita harus melakukan sesuatu, dan melakukan sesuatu berarti pasti memberikan pengaruh pada orang lain, di sana sebagai puncak gunung Sumeru yang menghancurkan secara Shura aku menunggu dengan wajah puas, di dunia yang dimakan oleh Taotie yang mengalir bersama organik pertukaran sebab-akibat, sebagai orang buangan Mugen Ruru yang jatuh ke neraka Mugen, sambil bertemu dengan orang yang disebut Ken yang berulang-ulang, di Shameikan aku bermain catur dengan manajer bermata satu, menyelamatkan gadis merah dan Kshitigarbha, mendengarkan suara serangga di latar belakang lukisan cat air, sisa-sisa keindahan malam abadi yang digambarkan, aku memakannya sebagai masakan Tiongkok di tengah rasa berat melepaskannya dari pemakaman Muen, saat melakukannya, sambil memainkan melodi busur yang satu hukum dengan goresan kuas cahaya lilin, aku berputar dan menghilang tanpa salam dari gua Baktou, sambil berbaring di atas sekolah melihat kekosongan itu, kami terus menunggu dengan perasaan sepi di dada...

Saat sadar, aku sudah berada di dalam bilik toilet, berjongkok menghadap kloset. Kepalaku sakit. Tidak ada tanda-tanda aku muntah. Sepertinya untung aku belum makan apa-apa.

"Kamu baik-baik saja?"

Hayasaka-san, yang mengenakan kostum Santa, sedang mengusap punggungku.

Kesadaranku terasa hancur seperti tahu yang lembek, aku bahkan tidak bisa memastikan apakah Hayasaka-san ini nyata atau hanya halusinasi.

"Ini bukan toilet pria, kan?"

"Iya, kok. Aku khawatir makanya aku ikut masuk. Sekarang sih tidak ada orang, tapi kalau ada yang datang, sebaiknya kamu jangan bersuara. Nanti orang bakal bertanya-tanya, apa yang sedang kalian lakukan?"

Sepertinya tidak banyak waktu yang berlalu sejak tadi.

"Kirishima-kun, tadi kamu banyak sekali melakukan rap di depan semua orang. Ada Kirishima call yang menggema, bahkan kamu sampai bertelanjang dada, lho."

"Aku melakukan hal seperti itu……"

"Tapi ya, Kirishima-kun terus menatap ke arahku. Ehehe."

Hayasaka-san mendekap kepalaku dengan penuh kasih sayang dari belakang, sementara aku masih berjongkok.

"Sungguh, Kirishima-kun itu benar-benar tidak tertolong ya, lemah, menyedihkan, dan kasihan sekali."

"Oi, jangan memancingku terus. Kepalaku sedang sangat kacau sekarang."

"Bilang saja begitu. Tapi itu cuma omongan belaka, kan. Kirishima-kun tidak bisa melakukan apa-apa, kan. Hanya bisa menonton dengan gigit jari, kan. Bahkan saat aku disentuh pria lain, kamu hanya bisa melihatnya, kan."

Hayasaka-san berbisik sambil mengembuskan napas ke telingaku.

"Tempat kerja paruh waktuku itu, sebuah maid cafe lho."

Dia bilang dia bekerja di tempat seperti itu untuk mengatasi rasa takutnya pada pria.

"Lumayan sering pelanggan mengajakku mengobrol, lho."

Meskipun mayoritas pelanggan sopan, terkadang ada juga yang aneh.

"Beberapa waktu lalu, seorang pria paruh baya berbisik padaku, 'Bagaimana kalau tiga ratus ribu yen?'. Katanya dia seorang presiden direktur di suatu tempat."

Kalau uang itu kuterima, apa yang akan terjadi ya? Apa yang akan mereka lakukan padaku? Apakah jari-jari kasar itu akan menyentuh seluruh tubuhku? Apa itu akan terus dilakukan sepanjang malam?

Hayasaka-san bertanya.

Mungkin karena efek bubuk putih itu masih tersisa, kata-katanya langsung diproyeksikan ke layar di dalam kepalaku sebagai gambar nyata.

"Anggota band yang cukup terkenal juga sering datang, lho. Terus, mereka menyelipkan catatan nomor kamar hotel tempat mereka menginap ke tanganku."

Kalau aku pergi ke sana, apa yang akan terjadi ya?

Karena kelihatannya dia tipe pria yang mau menang sendiri, aku pasti akan diperlakukan dengan kasar.

Akan dilakukan berbagai hal, berakhir dalam keadaan kacau, tapi mereka tidak akan mau bertanggung jawab, aku akan dihancurkan, dan akhirnya dibuang begitu saja, bukan?

"Terus, tadi ada anak laki-laki dari sekolah lain yang menyentuh tubuhku dengan pura-pura mengajari darts, kan? Ya, dua orang yang kamu tatap dengan penuh kebencian tadi. Orang-orang itu terus mengajakku, 'Ayo keluar dari sini, cari tempat yang sepi, yuk'."

Kalau aku ikut, apa yang akan terjadi ya?

Mereka pasti berniat melakukan hal itu, kan?

Aku akan digarap dari depan dan belakang, lalu dihancurkan, bukan?

Karena mereka anak klub olahraga, stamina mereka pasti kuat, jadi itu pasti dilakukan terus-menerus, bukan?

Meski aku sudah bilang tolong berhenti, mereka tidak akan mau berhenti, setiap minggu aku akan dipanggil, dan dijadikan seperti mainan, bukan?

"Bubuk yang disiapkan Maki-kun itu, aku juga menjilatnya banyak sekali. Aku disuruh menjilatnya. Makanya, aku jadi merasa melayang-layang."

Kalau terus begini, aku benar-benar akan habis, kata Hayasaka-san.

"Itu salah Kirishima-kun sendiri yang tidak melakukan apa-apa, kamu cuma sok jadi anak baik."

Tepat saat dia mengatakan itu.

Aku berdiri dan mendorong Hayasaka-san ke dinding.

Apa aku benar-benar boleh melakukannya? pikirku.

"Bukankah kalian sendiri, Hayasaka-san dan Tachibana-san, yang membuat aturan bahwa tidak boleh ada yang mencuri langkah?"

"Meski tidak sampai akhir, masih banyak hal lain yang bisa dilakukan, kok."

Bibir Hayasaka-san yang basah bergerak dengan provokatif.

"Hei, kalau kamu memasang wajah seperti itu, buktikanlah. Buktikan pada diriku bahwa aku ini berharga, Kirishima-kun. Buat aku mengerti bahwa Kirishima-kun benar-benar menyukaiku──."

Di tengah kalimatnya, aku berlutut di lantai dan memasukkan kepalaku ke dalam rok Hayasaka-san.

Saat itu juga.

"Ki-Kirishima-kun, ini terlalu mendadak!"

Hayasaka-san mengeluarkan suara yang bingung.

Sifat provokatif dan menggoda yang tadi ada kini memudar.

Ternyata dia masih punya rasa malu, dia tidak benar-benar bisa menjadi wanita jahat.

Ekspresinya yang tadinya menebar pesona dewasa kini kembali menjadi kekanak-kanakan seperti biasanya.

"Ternyata Hayasaka-san cuma sok kuat saja, ya."

"Bu-bukan begitu! Aku tidak sok kuat! Ka-kalau Kirishima-kun tidak melakukannya, aku──"

"Apa kamu akan melakukan hal seperti ini dengan pria lain? Memangnya bisa?"

"Itu……"

"Aku tidak akan melakukannya, aku juga tidak bisa," Hayasaka-san menundukkan pandangannya. Akhirnya, sifat cerobohnya tidak berubah, dan semua omongan tentang bakal melakukan sesuatu dengan pria lain itu ternyata hanya──.

"Aku cuma ingin menarik perhatian Kirishima-kun……"

Untuk hal itu, caramu keterlaluan, kataku. Karena sudah sejauh ini──.

"Karena aku masih belum puas, aku akan menikmati tubuhmu, Hayasaka-san."

Aku mencoba memasukkan kepalaku lagi ke dalam rok Hayasaka-san.

"Ja-jangan kasar, ya."

Hayasaka-san berkata begitu meski wajahnya memerah. Dia tampak tidak keberatan, dan sisi seperti itulah yang membedakannya dengan Tachibana-san yang masih kekanak-kanakan.

"Apa ini efek bubuk putih itu ya, entah kenapa, tubuhku…… rasanya geli……"

Dia berkata begitu sambil menjepit roknya dengan jari, lalu mengangkatnya sendiri.

Aku tidak tahu apakah ini kenyataan atau halusinasi.

Bagaimanapun juga, kepala kami berdua sudah tidak beres, tidak ada cara lagi untuk sadar, jadi tidak ada pilihan lain selain melakukan ini.

Semuanya salah bubuk putih itu.

Batas antara kenyataan dan delusi jadi kabur. Rasanya seperti mimpi yang disadari sebagai mimpi.

Dan jika berada di dalam mimpi, lebih baik melakukan apa yang diinginkan.

Aku berlutut di lantai, memasukkan kepalaku ke dalam rok Hayasaka-san yang masih berdiri, dan menekan wajahku ke pakaian dalamnya. Aku merasakan tekstur pakaian dalam putih itu di ujung hidungku. Lalu──.

Aku menghirup napas dalam-dalam.

"Jangan, memalukan sekali!"

Hayasaka-san berkata dengan suara yang hampir menangis. Benar. Dia tidak cocok jadi gadis nakal. Aku menyukai sisi Hayasaka-san yang meski agresif, tapi pada akhirnya tetap ceroboh.

Aku senang Hayasaka-san kembali menjadi dirinya sendiri.

"Maaf, ini karena aku terlalu fokus pada Tachibana-san, ya."

"Bu-bukan itu, jangan mengendus sekuat itu!"

Hayasaka-san merapatkan pahanya. Wajahku terjepit di antara paha dalamnya yang lembut. Rasanya luar biasa.

"Kamu yang memancingku duluan, kan. Lihat saja apa yang akan terjadi."

Aku berulang kali menghirup napas. Setiap kali aku melakukannya, Hayasaka-san merengek dengan suara yang hampir menangis, "Jangan."

Lakukan saja, lakukan saja, bisik wild smile Sakai di telingaku. Aku menjawab, "Babuu."

Sambil mabuk oleh aroma Hayasaka-san, aku menjilat pakaian dalamnya dengan lidahku.

"Ti-tidak mungkin, Ki-Kirishima-kun, aku sudah mandi──"

Hayasaka-san mencengkeram kepalaku dengan kedua tangannya. Aku tetap menjilat tanpa memedulikannya.

Aku berada di neraka. Neraka yang tidak bisa kutinggalkan sebelum aku memuaskan hati Hayasaka-san.

Dan aku adalah Shura. Shura yang dicari oleh Hayasaka-san dan Tachibana-san.

Saat aku terus menjilati, pakaian dalamnya perlahan basah. Bukan hanya oleh air liurku.

"Kirishima-kun, ini, luar biasa, luar biasa sekali……"

Setiap kali aku menjilat, pinggul Hayasaka-san bergerak. Karena dia mencoba membungkuk untuk melarikan diri, aku melingkarkan tanganku di belakang pahanya agar dia tidak bisa pergi.

"Uwaaa…… Kirishima-kun…… uwaaaa……"

Reaksi Hayasaka-san menunjukkan pikirannya sudah benar-benar luluh. Kami berdua sudah berantakan.

Hayasaka-san terus mendesah sambil mengangkat pinggulnya, seolah merengkuh kepalaku.

Cairan yang merembes dari pakaian dalamnya mengalir ke paha dalamnya. Saat aku menjilat cairan itu, Hayasaka-san mengeluarkan desahan yang sangat keras.

Saat itulah, seseorang masuk ke dalam toilet.

Aku buru-buru menempelkan jariku ke bibir Hayasaka-san. Hayasaka-san mulai mengisap jariku seperti bayi, lalu berhenti mengeluarkan desahan. Di dalam mulut Hayasaka-san terasa panas dan lembap.

Suara chupa-chupa terdengar jelas, tapi karena yang masuk adalah dua orang pria yang sedang mengobrol, sepertinya situasi ini masih aman.

"Gadis bernama Hayasaka Akane itu, benar-benar seksi ya."

"Aku ingin sekali menidurinya."

Yang masuk adalah dua pria yang tadi mengerumuni Hayasaka-san. Sambil buang air, mereka membicarakan hal-hal yang tidak senonoh tentang Hayasaka-san.

"Aku ingin menciumnya."

Saat pria itu bilang begitu, aku berdiri, melepas jariku dari mulut Hayasaka-san, lalu menciumnya.

"Masukkan lidahmu, biar dia mengisap lidahku."

Mendengar kata-kata pria itu, Hayasaka-san menyambut lidahku dan mulai mengisapnya dengan sungguh-sungguh.

"Aku ingin meremas payudara itu."

Aku meremas dada Hayasaka-san dengan kasar seperti yang diinginkan pria itu.

"Tidak, aku ingin mengisapnya."

Hayasaka-san menaikkan pakaiannya, melepas bra, dan membiarkannya jatuh ke lantai. Aku melakukan persis seperti yang dikatakan pria-pria itu. Hayasaka-san mengeluarkan suara yang tak terlukiskan.

"Terus, obrak-abrik bagian dalam celananya itu."

Aku memasukkan tanganku ke dalam pakaian dalamnya dan menyentuhnya dengan paksa. Segalanya sudah siap, cairan bocor dari antara jari dan pakaian dalamnya, menetes ke lantai.

"Kalau dia mengeluarkan desahan seksi dengan wajah seperti itu, aku pasti sudah tidak tahan lagi."

Karena Hayasaka-san menarik napas untuk mendesah dengan berlebihan, aku buru-buru menyumbat mulutnya dengan sapu tangan. Hayasaka-san, akal sehatmu sudah benar-benar hilang.

Setelah itu pun, kami mempraktikkan semua hal mesum yang diucapkan pria-pria itu. Kami melakukan hampir segalanya kecuali hal yang paling terakhir.

Saat mereka meninggalkan toilet, Hayasaka-san sudah dalam keadaan berantakan. Kostum Santa-nya hampir lepas semua, dan di sekujur tubuhnya basah oleh air liurku atau miliknya sendiri.

"Aku senang, Kirishima-kun benar-benar menyukaiku, aku senang."

Hayasaka-san memelukku dengan mata yang berkaca-kaca.

"Lumayan juga cara kamu menghancurkannya," kata wild smile Sakai. Berisik, aku akan mengikuti hati Rasetsu-ku. Jadi, aku melanjutkan apa yang tadi sempat terhenti di puncak gunung Sumeru.

Rok yang tersingkap, pakaian dalam yang basah disampingkan, aku menjilatnya langsung.

"Uwaa, luar biasa, Kirishima-kun, itu, luar biasa, luar biasa luar biasa luar biasa."

Hayasaka-san mengguncangkan seluruh tubuhnya. Cairan mengalir deras dari dalam.

"Bukan begitu, aku bukan gadis semurah itu. Ini salah bubuk aneh dari Maki-kun. Makanya tubuhku jadi aneh."

Interval getaran tubuh Hayasaka-san semakin pendek. Aku menjilatnya hingga bersuara.

"Aku mau keluar, aku mau keluar..."

Tapi, di sana Hayasaka-san mulai meliuk-liuk dan meronta.

"Terakhirnya aku ingin kita berpelukan, sambil berciuman!"

Karena dia mengatakannya dengan suara yang pilu, aku berhenti melakukannya dan memeluk Hayasaka-san.

Lalu aku mengangkat kaki kanannya, dan seperti yang pernah kami lakukan di hotel cinta, kami saling menekan tubuh.

Aku tadi sempat menjilati bagian dalam pakaian dalam Hayasaka-san sampai saat-saat terakhir, tapi Hayasaka-san sama sekali tidak peduli dan mulai melahap mulutku. Tidak ada batas di antara kami yang ingin menjadi satu.

"Aku bahagia, aku bisa merasakan cinta Kirishima-kun. Aku ingin merasakannya lebih, lebih lagi."

Setiap kali Hayasaka-san mendesah a, a, a, akal sehat kami menguap.

"Pinggulku, tidak bisa berhenti."

Hayasaka-san mengalungkan lengannya di leherku dan mengguncangkan tubuhnya dengan keras.

Saat itulah.

Seseorang masuk lagi ke toilet. Aku mencoba berhenti bergerak, tapi Hayasaka-san terus menggerakkan pinggulnya seolah sedang kesurupan sambil berkata, "Tidak bisa berhenti, mau bagaimana lagi."

Lalu, dia mulai mendesah dengan sangat berlebihan.

"Hayasaka-san!?"

Aku mencoba menyumbat mulutnya dengan sapu tangan, tapi Hayasaka-san menggelengkan kepalanya seperti balita yang sedang merajuk.

"Tidak mau! Aku ini pacar Kirishima-kun. Karena kita tidak bisa mengakuinya, makanya jadi begini!"

Hayasaka-san berkata sambil terengah-engah.

"Ayo kita nikmati sampai akhir dalam keadaan seperti ini? Lalu kita biarkan semua orang melihat. Kita biarkan semua orang melihat, dan membiarkan semuanya jadi berantakan?"

Gerakan pinggulnya semakin intens.

Langkah kaki pria yang masuk ke toilet terdengar kacau. Dia pasti bingung.

"Kirishima-kun akan jadi pria selingkuh yang mengkhianati Tachibana-san, ya. Aku akan jadi gadis murahan yang melakukan hal seperti ini di toilet dengan pria yang sudah punya pacar, ya. Tidak apa-apa, kan? Aku tidak masalah, kok. Ayo kita nikmati? Uwaa luar biasa, semuanya keluar. Ayo kita hancurkan semuanya bersama-sama? Tidak apa-apa, meski Kirishima-kun dibenci semua orang, aku tidak masalah."

Paha Hayasaka-san, lengannya, lehernya, semuanya mulai berkeringat, pipinya memerah, dan──.

"Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun!"

Dengan suara yang nyaris menjerit, dia terus menyebut namaku sambil mencapai klimaks berulang kali, dan Hayasaka-san membuat tubuhnya melonjak dengan cara yang tidak masuk akal.

Karena gesekan itu, aku pun diserang kenikmatan yang membuat pandanganku berkedip-kedip.

Kepalaku terasa hampir terbakar, dan dengan dorongan itu, aku mencium mulut Hayasaka-san dengan liar untuk terakhir kalinya, sambil meremas dadanya dengan kuat.

Itu hanya berlangsung sesaat, lalu kami roboh ke lantai dan kehilangan tenaga.

Selesai, pikirku.

Dari luar bilik, terdengar suara batuk yang dibuat-buat.

Hayasaka-san masih menatapku dengan wajah terpesona, mengulurkan tangan ke arahku dengan manja.

Tok, tok, pintu bilik toilet diketuk.

Panas di tubuhku menghilang, kenyataan kembali sepenuhnya. Aku mencoba memikirkan cara untuk melewati situasi ini, tapi──.

"Syukurlah."

Suara yang terdengar dari balik pintu adalah suara yang kukenal dengan baik.

"Yang masuk itu aku."

Maki Shouta.

Aku merasa sedikit lega. Pria ini tidak akan menyebarkan apa yang kami lakukan. Tapi yah, kami benar-benar terlihat di tempat yang sangat memalukan.

"Hei Maki, bagaimana ya, suasananya canggung sekali sekarang."

"Itu seharusnya kalimatku."

Memang benar.

"Bukan, ini karena hal itu. Karena bubuk putih kebahagiaan yang disiapkan Maki. Kepalaku jadi rusak karena benda itu."

"Soal itu,"

Bubuk itu hanyalah lelucon, bukan narkoba, dan bahkan bukan barang pesta.

"Imajinasimu terlalu berlebihan, cuma kalian berdua yang sampai tripping separah itu."

"Jangan-jangan……"

"Itu cuma gula, lho. Yang biasa ada di sekeliling permen."

"Kirishima-kun, maaf."

"Sudahlah, tidak apa-apa."

Aku menyeret Hayasaka-san yang masih menempel di punggungku.

Setelah kejadian itu, ada sedikit keributan. Saat kami kembali ke ruang pesta dan acara selesai, pria-pria tadi mencoba membawa Hayasaka-san pergi secara paksa dengan alasan "Ayo pergi ke tempat selanjutnya." Saat pergelangan tangannya dipegang, Hayasaka-san berteriak heboh.

'Tidak mau! Lepaskan! Aku mau pulang dengan Kirishima-kun! Hanya Kirishima-kun yang boleh melakukan hal seperti itu! Tadi saja aku sudah banyak melakukannya dengannya! Aku mau melakukannya lagi!'

Dia terus berteriak, 'Selamatkan aku Kirishima-kun, Kirishima-kun', dan Sakai membantunya dengan berkata, 'Dia pasti tripping karena bubuk gula itu. Akane memang mudah kena sugesti, ya.'

'Kirishima kan aman karena punya Tachibana, jadi ya begitulah.'

Maki juga membantuku mengaburkan pernyataan Hayasaka-san.

Sepertinya aku harus mentraktir makan kedua orang itu nanti.

Begitulah, kami keluar dari toko, masuk ke gang sepi, dan aku menyeret Hayasaka-san yang menempel erat untuk pulang.

"Aku ini gadis nakal."

Kata Hayasaka-san.

"Kamu pasti berpikir aku gadis ceroboh yang tidak memikirkan apa-apa, kan? Memang ada sisi seperti itu, tapi tidak juga. Aku kadang memikirkan hal-hal yang licik."

"Seperti mencoba menarik perhatianku dengan akrab dengan pria lain?"

"Iya. Dengan begitu aku membuat orang-orang di sekitarku repot, aku benar-benar payah ya. Sisi itu benar-benar payah, ya. Aku tidak berharga, ya."

Hayasaka-san turun dari punggungku dan mulai berjalan di sampingku. Aku mencoba menggandeng tangannya, tapi dia menggelengkan kepala.

"Aku mencoba akrab dengan pria lain itu, sebenarnya karena aku sempat berpikir apa dengan begitu aku bisa lulus dari Kirishima-kun."

Karena aku hanya bisa merepotkan Kirishima-kun, kata Hayasaka-san.

"Tachibana-san dan Kirishima-kun sudah saling mencintai, seharusnya aku harus pergi, tapi aku tidak bisa."

Saat itulah dia sadar.

"Aku sadar kalau sudut kepalaku selalu menghitung. Seperti saat Kirishima-kun tidak bisa melepaskanku kalau aku hampir hancur, atau saat kamu bilang mari kita Sharing, aku menghitung dalam hati bahwa dengan begini aku masih bisa berada di sampingmu. Aku gadis yang licik dan nakal."

Makanya, dia bilang dia tidak masalah jika harus dilakukan macam-macam oleh pria lain.

"Hari ini pun jadi seperti ini, sungguh, aku jadi benci pada diriku sendiri. Jadi, aku akan berhenti sekarang."

"Berhenti apa?"

"Berhenti jadi gadis nakal."

Hayasaka-san berhenti berjalan dan tersenyum segar. Senyum itu seolah-olah seperti saat pertama kali kami bertemu.

Gadis yang pemalu, sedikit berusaha tampil dewasa, dan gadis yang manis pada umumnya.

"Aku tidak bisa jadi gadis nakal sampai akhir. Aku tidak ingin memikirkan hal licik lagi. Aku ingin akur dengan Tachibana-san, dan aku tidak ingin jadi beban Kirishima-kun. Mungkin pada dasarnya aku memang gadis yang baik. Aku memberontak karena semua orang memaksakan citra itu padaku, mungkin citra itulah yang sebenarnya benar."

Soalnya, aku tidak bisa menjalani cinta ini dengan wajah biasa saja seperti Kirishima-kun dan Tachibana-san, kata Hayasaka-san dengan senyum yang sedikit kesepian.

"Sebelum aku benar-benar jadi gadis nakal, sebelum aku jadi gadis yang berantakan, aku menyerah ya."

Jadi, Kirishima-kun──.

"Mari kita akhiri hubungan kita di hari Natal nanti."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close