Chapter 23
Back to the Future
ke Masa Itu
Di tengah
kepulan uap, aku sedang berendam di bak mandi.
Rasanya sangat
nyaman setelah berolahraga.
Ini adalah kamar
mandi di apartemen menara tempat Tachibana-san tinggal. Bathtub-nya
cukup luas untuk meluruskan kaki, dinding dan ubinnya berkilau, dan dilengkapi
dengan jet bath.
Setelah dimuntahi
oleh Tachibana-san, aku dibawa dengan taksi dalam keadaan baju yang masih
berlumuran itu, dan dibawa ke sini.
Rupanya ibu
Tachibana-san selalu pulang larut malam, dan adiknya, Miyuki-chan, masih
bermain futsal. Aku merasa tempat ini benar-benar berbeda dengan rumahku.
Di lantai atas
apartemen menara itu, pintu masuknya sudah luas, dan peralatan elektronik di
kamar mandi pun semuanya model terbaru.
"Shirou-kun."
Suara yang
memanggilku dari ruang cuci terdengar.
"Aku taruh
baju gantinya di sini, ya."
Dia membelikannya
untukku saat aku sedang membilas tubuh.
"Terima
kasih."
"Sama-sama,
ini kan salahku juga. Ya sudah, istirahatlah yang santai."
Sambil
menghirup aroma lavender dari garam mandi, aku meregangkan tubuh dan bersantai.
Karena
entah mengapa aku merasa lelah, aku berendam di air hangat dengan santai. Aku
pada dasarnya adalah tipe orang yang suka berendam lama.
Setelah
keluar dari kamar mandi, aku mengeringkan tubuh dengan handuk besar, lalu
mengenakan pakaian yang dibeli Tachibana-san. Itu pakaian dengan gaya chic,
tipe pakaian yang dia inginkan untuk aku kenakan.
Aku
mengeringkan rambut, berjalan menyusuri lorong, lalu masuk ke kamar
Tachibana-san.
Tachibana-san
sedang membenamkan tubuhnya ke bantal besar, jemarinya memainkan rambutnya
dengan memutar-mutar.
"Aku
berniat membaca komik sambil menunggu, tapi saat aku berpikir Shirou-kun ada di
rumah, jantungku berdegup kencang……"
Tachibana-san
mengenakan pakaian rumahan berupa hoodie dan celana pendek. Paha
putihnya mulus, dan kakinya jenjang. Dengan pemanas lantai, kakiku tidak merasa kedinginan meski bertelanjang
kaki.
Omong-omong, di
pintu masuk terdapat sandal tamu dan sandal boneka kaki monster.
Setelah melepas
sepatu di pintu masuk, Tachibana-san secara alami mengenakan sandal boneka itu,
tapi mungkin merasa malu dengan selera kekanak-kanakannya, dia segera
melepasnya.
Wajahnya memerah
dan berkata, "I-ini punya Ibu," tapi aku merasa ibunya pun tidak
pantas menerima fitnah sekejam itu. Seharusnya dia beralasan itu punya adiknya
saja.
Kamar
Tachibana-san pun pada pandangan pertama terlihat dewasa, namun selera
kekanak-kanakannya masih berbaur di dalamnya.
Warna tirai dan
seprai selaras, furniturnya pun berdesain tinggi, namun jepit rambut yang
diletakkan di atas meja dihiasi dengan bunga-bunga lucu.
"Shirou-kun,
jangan berdiri saja, duduklah."
Yang ditunjuk oleh Tachibana-san adalah tempat tidur.
"Tidak, kalau di sana……"
"Tidak ada tempat duduk lain, kan."
"Aku melihat kursi di dekat meja belajar."
"Tidak ada yang lain."
Tachibana-san duduk di tempat tidur, lalu memintaku untuk
duduk di sampingnya.
Dengan wajah malu-malu, yah, kupikir dia adalah "anak
kecil" dalam hal cinta, jadi tidak akan terjadi hal aneh, aku pun duduk di
tempat tidur.
"Tetap saja, berduaan itu yang terbaik."
Tachibana-san bersandar padaku. Kalau dipikir-pikir, sudah
sangat lama rasanya sejak terakhir kali kami bisa bersantai berduaan saja.
"Tadi maaf ya. Aku bicara macam-macam."
"Justru
aku yang menyesal karena tutur kataku kasar."
"Kalau
begitu, ayo berbaikan."
Pakaiannya
cocok, kamu keren, kata Tachibana-san sambil memelukku. Dan sepertinya dia
tidak berniat melakukan hal lebih dari pelukan.
Benar.
Tachibana-san pada dasarnya adalah tipe yang merasa bahagia dengan hal-hal
kecil seperti ini.
Dia menyukai
hal-hal lucu seperti kencan di rumah. Dia tidak benar-benar ingin berdebat tajam
seperti tadi. Jadi, begini saja sudah cukup. Aku berharap waktu ini bisa terus
berlanjut.
"Aku
ingin bicara jujur soal apa pun. Tapi, aku sulit untuk bersikap jujur."
"Aku
mengerti. Aku juga begitu."
"Waktu
kecil aku bersikap jujur, sih."
"Semua orang
rata-rata begitu."
"Makanya,
aku berniat kembali menjadi anak SD."
"Hm?"
"Kalau
kembali jadi anak SD, aku bisa menyampaikan perasaan yang sebenarnya pada
Shirou-kun."
"Pembicaraannya
meloncat terlalu jauh, aku jadi tidak bisa mengikuti."
"Shirou-kun
juga ingin bicara dengan Hikari-chan yang anak SD, kan?"
"Pengandaian?
Metafora?"
"Bukan,
ini bicara soal kenyataan."
Tachibana-san
bangkit berdiri, mengeluarkan sesuatu dari laci, lalu menyerahkannya padaku
dengan wajah memerah dan malu-malu.
"Wah,
di saat yang luar biasa ini kamu mengeluarkan sesuatu yang luar biasa!"
Aku tak
sengaja mengucapkannya. Apa yang diserahkan Tachibana-san adalah──.
Tak disangka, itu
adalah "Buku Catatan Cinta".
Sebuah kitab suci
tentang cinta yang disusun oleh alumni Klub Riset Misteri, berisi psikologi
cinta dan cara membuat lawan jenis jatuh cinta.
Penulisnya
awalnya berniat menulis misteri cinta, namun karena terlalu mencintai cinta,
dia akhirnya menyelesaikan buku catatan ini yang berisi riset tentang cinta.
Ngomong-ngomong,
katanya IQ penulisnya mencapai 180.
"Kamu
sengaja membawanya pulang dari ruang klub……"
"Iya."
Dia
benar-benar menyukainya.
Selain
itu, buku catatan itu adalah buku terlarang yang memuat berbagai permainan gila
bagi pria dan wanita agar semakin akrab.
Selama
ini, kami telah melakukan berbagai "penghancuran diri" dengan buku
catatan ini.
Aku jadi
punya tubuh yang tidak bisa merasakan rasa kecuali Pocky yang lembap, dan
Tachibana-san kadang masih terbawa suasana menjadi anak anjing.
Dan kali ini,
permainan yang diusulkan Tachibana-san adalah──.
"Back to the Future ke Masa Itu"
Kalimat pembuka deskripsi permainannya adalah:
"Pernahkah Anda berpikir? Jika saja saya bertemu
gadis kesayangan itu lebih dulu, atau jika saja kami adalah teman masa
kecil──"
Artinya, permainan ini bertujuan untuk pergi menemui gadis
itu di masa lalu, lalu memberikan pengaruh pada masa lalunya.
Tentu saja, metodenya bukan mesin waktu. Aku membaca
deskripsi permainannya dan semakin yakin mengapa buku catatan ini dianggap
sebagai buku terlarang.
"Ini kan
cuma hipnotis regresi masa kanak-kanak!"
Metode yang
menggunakan kondisi hipnotis untuk mengembalikan kesadaran ke masa kecil.
"Aku akan
kembali menjadi Hikari-chan yang anak SD, jadi tolong berikan imprinting
(penanaman ingatan) di sana."
"Kamu cuma
bicara soal hal-hal yang meresahkan saja, ya."
"Aku akan
memastikan agar aku tidak bisa disentuh oleh pria selain Shirou-kun. Kamu harus
menanamkan ingatan, jangan disentuh, jangan disentuh. Atau, bagaimana kalau
membuatku tidak bisa melihat pria selain Shirou-kun?"
"Tidak,
melakukan hal seperti itu benar-benar……"
"Begitu,
ya. Lagipula aku sudah menduga Shirou-kun pasti akan berpikir begitu."
Tapi hei,
lanjut Tachibana-san.
"Kamu
tidak ingin bertemu Hikari-chan yang anak SD?"
"Ingin
bertemu sih, tapi……"
Setiap
kali kami melakukan permainan semacam ini, tidak ada hasil baik yang didapat. Karena itulah aku bingung apa yang harus
dilakukan. Tidak boleh dilakukan dengan perasaan main-main. Saat aku sedang
memikirkannya──.
"Sudahlah."
Tachibana-san
bangkit berdiri.
"Kalau
begitu tidak suka, aku akan mengembalikan buku ini ke sekolah sekarang. Kalau
Shirou-kun tidak mau melakukannya, buku ini tidak ada gunanya, dan aku tidak
punya niat melakukannya dengan orang lain selain Shirou-kun, aku juga tidak
mau."
Profil sampingnya
tampak sangat kesepian.
Mungkin,
Tachibana-san hanya ingin memainkan permainan ini bersamaku dengan polos dan
ceria. Karena belakangan ini dia terlalu sering merasa tertekan.
Namun karena
ditolak olehku, Tachibana-san tampak seperti akan menangis. Dalam kondisi
begini, tubuhku secara refleks bergerak sendiri.
"Tunggu,
tunggu sebentar!"
Aku berputar ke
depan Tachibana-san, lalu menggantungkan koin lima yen pada seutas tali.
"Aha."
Tachibana-san
tertawa dengan ekspresi yang sangat senang.
"Aku suka
sisi Shirou-kun yang seperti itu."
"Aku
tidak akan melakukan imprinting yang aneh-aneh, ya."
"Baik."
Hanya bermain
sedikit saja. Aku juga ingin bertemu Hikari-chan yang anak SD. Lagipula, aku
jatuh cinta pada Tachibana-san tepat di saat kami masih SD.
"Jadi mau
melakukannya, ya?"
"Ya, ayo
kita coba."
Back to the Future ke Masa Itu.
Begitulah alurnya.
◇
Pertama, aku yang akan mencoba apakah hipnotis regresi
benar-benar berhasil atau tidak.
Terus terang, aku cukup skeptis terhadap hal-hal semacam
hipnotis. Aku pikir pada akhirnya tidak akan terjadi apa-apa.
Namun, karena penasaran, untuk sementara kami duduk
berhadapan di tempat tidur di kamar Tachibana-san. Gestur Tachibana-san yang
melipat kakinya dengan santai terlihat sangat manis.
Agar mudah masuk ke kondisi hipnotis, setelah melakukan
berbagai permainan asosiasi──.
"Shirou-kun mulai sekarang kembali menjadi bayi,
kembali menjadi bayi, Shirou-kun adalah bayi, bayi."
Tachibana-san
mulai menggantungkan koin lima yen di depan mataku dan mengayunnya.
Benar-benar
situasi yang membuatku ingin menghela napas.
Bayi adalah
pilihan yang terlalu ekstrem, dan meski harus regresi, jaraknya terlalu jauh
hingga aku merasa tidak mungkin bisa melakukannya.
"Shirou-kun
yang sudah jadi bayi akan berbaring menjadikan pangkuanku sebagai bantal,
berbaring."
Ogya-ogya, itu sih cuma Tachibana-san yang
mendambakan situasi lap pillow (berbaring di pangkuan) di kamarnya
sendiri, pikirku. Tapi, memenuhi keinginannya itu tidak masalah bagiku, dan aku
pun memang ingin dibaringkan di pangkuan di atas paha putih yang jenjang dari
celana pendeknya itu, memang babu (ingin dimanja).
"Ya ya,
Shirou-kun anak baik, ya~"
Hei hei, jangan
terlalu... ogya-ogya babu-babu.
"Kalau saja
Shirou-kun yang biasanya juga se-jujur ini, betapa bagusnya."
"Hogya?"
"Shirou-kun,
aku sayang padamu, ya ya. Ah, jangan menghisap jari! Dasar!"
"Kya,
kya."
Ogya-ogya-gya-gya-bu~.
"Shirou-kun,
kamu manja sekali, ya."
"Ogya~?"
"Mau minum
susu?"
"Ogya,
ogya."
"Seharusnya
aku membeli botol susu tadi. Seharusnya aku bersiap dengan pola bayi."
Ongya-gya-gya-gya-gya.
"Tapi,
bagaimanapun aku lebih suka kalau aku yang jadi lebih kecil dan manja."
"Gyapu~"
"Aku yang
anak SD, merasa senang kalau dikerjai habis-habisan oleh Shirou-kun. Aku akan
bertepuk tangan untuk kembali normal, jadi kerjailah aku sepuasnya, ya. Lakukan
saja dengan paksa tidak apa-apa. Janji, ya, Shirou-kun."
"Ogya-gya-gya-gya-ru-gya-ru."
Babu-sha-ka-bu-bu-babu~!
"Tapi
sebelum itu, mumpung kesempatan, aku akan lakukan sedikit imprinting,
ya."
"Babu!?"
"Shirou-kun
akan merasa bersalah saat melihat twintail (gaya rambut kuncir dua),
merasa bersalah."
"Ho,
hogya~tt! Babu-sha-ka-bu~!"
"Shirou-kun
akan merasa sangat bersalah saat melihat pakaian renang sekolah, merasa sangat
bersalah, ingin menjaili, ingin menjaili."
"Hogya~tt!
Hogya~tt!"
"Baiklah,
Shirou-kun kembali normal!"
Ogya-babu~tt!
"Ha!"
Kesadaranku naik
ke permukaan dengan cepat.
Sekarang,
apa yang sedang kulakukan?
Mengapa,
mengapa aku dibaringkan di pangkuan?
Lebih
dari segalanya, aku merasa baru saja berada dalam kondisi yang sangat
memalukan……
"Mungkinkah,
hipnotisnya berhasil?"
"Coba
lihat jam."
"……Waktunya
melompat."
"Nah,
sekarang giliranku, ya. Aku jadi anak SD tidak apa-apa."
Setelah berkata
"tunggu sebentar ya," Tachibana-san pergi meninggalkan kamar. Dia
kembali dengan dua ikat rambut di jarinya.
"Ini jadi
lebih terasa suasananya, kan?"
Entah suasana apa
yang dia maksud, tapi saat Tachibana-san menggunakan ikat rambut itu untuk
membuat twintail, bagian dalam kepalaku tiba-tiba terasa panas.
Dan entah
mengapa, aku merasakan perasaan yang sangat nakal.
"Ada
apa?"
"Ti-tidak,
tidak apa-apa."
Kenapa ya. Aku
sangat ingin menjaili Tachibana-san yang ada di depanku.
Sambil menahan
dorongan tidak senonoh itu, aku mulai mengayunkan koin lima yen tersebut.
"Tachibana-san
kembali menjadi anak SD, kembali, kembali, kembali menjadi anak SD."
Tiba-tiba, mata
Tachibana-san tampak mengantuk.
Kelopak matanya
perlahan menutup seolah sedang terbuai mimpi, dan saat ia membukanya kembali,
ekspresinya telah berubah menjadi sangat kekanak-kanakan.
Lalu, Hikari-chan
(anak SD) itu berkata dengan suara manja.
"……Shirou-onii-chan."
Begitulah, sesi Back to the Future ke masa itu pun
dimulai.
◇
"Aku lapar!"
Setelah berkata begitu, Hikari-chan (anak SD) menarik lengan
bajuku dan membawaku ke dapur.
Tentu saja dia
lapar. Lagipula, dia tadi memuntahkan semuanya ke dalam pakaianku.
"Buatkan
sesuatu untukku~"
"Ternyata
Hikari-chan adalah anak yang selalu minta dibuatkan makanan oleh Ibunya,
ya."
"Hikari
punya makanan rahasia juga, lho! Rahasia dari Ibu!"
Sambil berkata
begitu, dia membuka pintu lemari di sudut tempat penyimpanan peralatan makan.
Di
dalamnya, bertumpuk banyak sekali mi instan yang diletakkan sembarangan. Sifat
ceroboh Hikari (anak SMA) terlihat jelas di sini.
Karena
merasa harus memberikan makanan yang lebih bergizi daripada mi instan kepada
Hikari-chan (anak SD), aku pun meminjam beberapa bahan dari kulkas dan
membuatkan salad sederhana serta telur orak-arik.
"Pakai saus
dan mayones juga~"
Ternyata
Hikari-chan adalah tipe yang suka menambahkan saus dan mayones ke dalam telur
orak-ariknya.
Setelah membawa
semuanya ke ruang tamu, Hikari-chan memakannya dengan lahap.
Aku duduk di
sebelahnya sambil memperhatikannya, sesekali membersihkan saus dan mayones di
sekitar mulutnya dengan tisu basah.
"Mau
rebahan~"
Setelah selesai
makan, Hikari-chan yang bebas dan penuh semangat itu kembali ke kamarnya untuk
berbaring.
Dia memintaku
untuk berbaring bersamanya, jadi aku pun mendekat ke arahnya dengan posisi
menemani tidur.
Rasanya aneh.
Padahal tubuh serta tangan dan kakinya benar-benar milik anak SMA enam belas
tahun, tapi gestur, cara bicara, dan ekspresinya benar-benar terlihat seperti
anak SD.
"Hikari,
tahu tidak, Hikari..."
Ucap Hikari-chan
sambil bergelayut manja padaku.
"Bukan cuma
Shirou-onii-chan, tapi Hikari juga jadi menyukai Yanagi-onii-chan."
"Kamu jujur
sekali, ya."
"Tapi,
Hikari tetap paling-paling menyukai Shirou-onii-chan. Benar-benar paling
suka."
"Terima
kasih."
"Tapi, ya,
tapi... karena Hikari juga memikirkan Yanagi-onii-chan, kepala Hikari rasanya
mau pecah. Padahal Hikari ingin memikirkan Shirou-onii-chan saja."
Hikari-chan
memang anak SD, jadi dia menceritakan apa pun dengan sangat jujur.
"Apakah
Shirou-onii-chan tidak suka dengan Hikari yang seperti ini? Sudah tidak suka
lagi, ya?"
"Tidak
mungkin begitu."
Memang, aku lebih
senang jika dia selalu setia padaku, tapi mungkin hal itu tidak terlalu
realistis. Menyadari pesona berbagai orang dan menyimpan perasaan pada mereka.
Itu hal yang sangat manusiawi, bukan?
"Tapi kalau
begitu, bukankah nanti Shirou-onii-chan jadi menyukai Hayasaka-onee-chan?
Bukankah nanti Shirou-onii-chan malah memilih Hayasaka-onee-chan daripada
Hikari?"
"Tidak, mana
mungkin begitu……"
Saat aku sedang
memikirkan harus menjawab apa, Hikari-chan menatap tangannya sendiri dan
berseru, "Ah."
"Harus
potong kuku."
Setelah berkata
begitu, dia berlari kecil keluar kamar dan kembali dengan membawa alat pemotong
kuku. Tindakan dan
emosi yang tidak menyambung ini, benar-benar anak SD sekali.
"Potongin~"
Dalam
keadaan duduk di tepi tempat tidur, aku mendudukkan Hikari-chan di atas
pangkuanku. Lalu, aku mulai memotong kukunya.
Hikari-chan
tetap diam dengan jari-jari yang dijulurkan lurus. Anak yang manis, bukan?
Suara
potongan kuku bergema di ruangan dengan irama yang teratur. Hikari-chan tampak
mengantuk.
Seorang
Hikari-chan yang bahkan tidak bisa menyiapkan makanan sendiri, tidak bisa tidur
sendiri, dan tidak bisa memotong kuku sendiri.
Aku harus
mengurusnya. Aku harus melindunginya. Memikirkan hal itu, dia terasa sangat
manis dan begitu berharga.
Entah
kenapa, aku merasa sedikit memahami perasaan Hikaru Genji terhadap
Wakamurasaki.
Aku
memotong kukunya dengan sangat hati-hati. Aku harus selalu berada di sisi anak
ini. Aku harus melindunginya.
Kuku jari
kelingking kiri, kupotong dengan sudut yang membentuk elips.
Jari-jarinya
sangat indah. Putih bersih, ramping, panjang, dan tampak seperti keramik.
Mungkin karena dia pemain piano, jari-jarinya tidak memiliki lemak berlebih dan
terlihat begitu anggun.
Merapikan bentuk
kuku di ujung jari itu terasa seperti sentuhan akhir pada sebuah karya seni.
Jika aku terlalu
fokus pada jari-jarinya, dia bukan lagi Hikari-chan.
Dia adalah
Tachibana-san. Ekspresinya pun jadi terlihat sedikit lebih dewasa.
Jari manis, jari
tengah, jari telunjuk. Setelah memotongnya, aku membelai jari-jarinya dari
punggung tangan hingga ke ujung kuku.
"Rasanya
sangat enak saat disentuh seperti itu."
Tachibana-san bersandar padaku sambil menutup mata.
Selesai dengan tangan kiri, aku beralih ke tangan kanan.
"Ini enak. Rasanya, sangat dicintai."
Ucap Tachibana-san dengan perasaan yang terbuai. Aku pun
berpikir.
Berapa banyak orang yang pernah memotong kuku orang yang
mereka cintai? Ini bukan sekadar merapikan bentuk, melainkan menelusuri garis
tubuh, sebuah tindakan yang sangat sakral.
Saat selesai memotong kuku kesepuluh jari tangannya, aku
telah terpesona oleh keindahan jari jemari Tachibana-san.
Namun,
tidak bisa berakhir hanya dengan memotong saja.
Aku menggunakan
sisi kikir pada alat itu untuk mengasah dan merapikan bentuk kukunya. Dengan
cara itulah aku menghaluskan garis cinta kami.
"Benar-benar
membuat tenang……"
Tachibana-san
menyerahkan seluruh dirinya padaku. Tachibana-san, kamu benar-benar gadis yang
luar biasa.
Kamu selalu
membuatku menyadari dunia yang tidak aku ketahui sebelumnya. Bukankah game ini
ada memang untuk itu?
Sambil mengikir
kuku jari telunjuk kanannya dengan sangat hati-hati agar tidak melukai kulit,
aku berpikir.
Orang kelas tiga
saja yang fokus pada wajah atau dada wanita. Bagian tubuh yang paling
indah adalah jari.
Merapikan ujung
keindahan itulah yang kulakukan. Aku merasakan dunia.
Memotong dan
mengikir kuku, itu adalah pintu menuju surga, itu adalah Renaissance,
itu adalah Injil, penciptaan dunia, hidup, dan pertemuan—semuanya ada di sini.
Aku mengikir kuku
seolah sedang kesurupan.
Setelah
menyelesaikan sepuluh kuku jari tangannya, aku mendudukkan Tachibana-san di
tempat tidur, lalu aku berlutut untuk mulai mengerjakan kuku kakinya. Sekali
lagi, aku menelusuri garis cinta itu.
Tachibana-san
menjulurkan kakinya. Aku memegang punggung kakinya dengan tangan kiri secara
hormat, lalu memotong kukunya dengan tangan kanan.
Sambil berlutut
di hadapan Tachibana-san, aku merasa seolah sedang berlutut di hadapan cinta
itu sendiri.
Merapikan garis tubuh orang yang dicintai. Adakah tindakan yang lebih tinggi
dari ini?
Ibu jari,
telunjuk, jari tengah. Aku memotongnya sambil berterima kasih karena
Tachibana-san telah lahir ke dunia ini. Nafsu rendah dan hasrat badani mulai
menghilang.
Inilah, cinta
yang sesungguhnya──.
Aku memotongnya
agar tidak terlalu pendek supaya tidak melukai, namun juga tidak menyisakan
bagian yang panjang agar tidak patah. Perasaanku untuk memedulikan orang lain
sedang diuji.
Yang dibutuhkan
adalah konsentrasi dan cinta yang tulus.
Saat kuku jari
kakinya selesai dirapikan, aku merasa seperti baru saja mencapai sesuatu.
Sesuatu yang sangat luhur. Lalu, dengan perasaan syukur, aku menempelkan pipiku
pada punggung kakinya.
Kurasa, sudah
saatnya mengakhiri game ini di sini.
Sambil menyimpan
sisa-sisa ingatan akan cinta yang luhur, bersama dengan pesona dunia baru
berupa keindahan jari jemari itu──.
Saat aku
berpikir begitu.
"Benar!"
Hikari-chan
menendang wajahku dan berdiri.
"Aku harus
mandi!"
"Mandi!?"
"Karena
Hikari sudah berolahraga tapi belum membilas keringat."
Benar juga,
setelah futsal tadi aku sudah mandi, tapi Tachibana-san belum.
Aku memang merasa
ada yang mengganjal sedikit, tapi apa mungkin dia sudah menghitung semua ini
sejak awal?
"Anu,
jangan-jangan, Hikari-chan……"
Ya, ucap Hikari-chan dengan wajah polosnya.
"Hikari
tidak bisa membuka mata, jadi Hikari tidak bisa mencuci rambut sendiri.
Makanya, Shirou-onii-chan yang harus mencucinya!"
◇
Benar-benar,
Tachibana-san itu ahli strategi.
Karena dia love
kids yang pemalu, dia tidak bisa melangkah lebih jauh atas kemauannya
sendiri.
Tapi jika dipikir
lagi, rasa malu justru semakin besar seiring bertambahnya usia.
Jika sudah
benar-benar menjadi anak kecil, tidak ada lagi yang perlu dirasa malu.
Artinya, game ini
sepenuhnya adalah ajakan dari Tachibana-san sendiri.
Sebuah pesan yang
mengatakan, "Lakukanlah hal yang biasanya tidak bisa kulakukan secara
paksa."
"Banzai~"
Hikari-chan
mengangkat kedua tangannya di depan wastafel. Aku melepaskan hoodie-nya.
"Lepaskan
semuanya! Semuanya!"
Karena dia terus
merengek, mau tidak mau aku melepaskan kamisol dan celana pendeknya. Pakaian
dalam yang muncul adalah model anak-anak bermotif stroberi.
Dia tetap saja
menampilkan kualitas yang aneh di saat yang tidak terduga.
Lalu, tangan dan
kaki putihnya yang jenjang itu benar-benar milik gadis SMA enam belas tahun.
"Sisanya
kamu bisa lepas sendiri, kan? Lagi pula, aku akan mencuci rambutmu, jadi tutupi
tubuhmu dengan handuk mandi dengan benar, ya."
"Iya,
Shirou-onii-chan malu ya melihat tubuh telanjang Hikari!"
"Begitulah."
Kukatakan padanya
untuk memanggilku kalau sudah siap, lalu aku mengambil handuk putih dan masuk
ke kamar mandi.
Sementara itu,
aku pun melepaskan pakaianku dan melilitkan handuk di pinggang.
Lagipula,
Tachibana-san salah hitung.
Dia mungkin
merancang situasi ini karena ingin aku melakukan hal-hal nakal padanya, tapi
perasaan yang aku miliki untuk Hikari-chan (anak SD) adalah cinta yang
setinggi-tingginya dan luhur.
Mana mungkin aku
melakukan hal seperti itu pada Hikari-chan (anak SD).
Sambil berpikir
begitu, aku masuk ke kamar mandi saat Hikari-chan memanggilku──.
Aku terkejut.
Ternyata, itu adalah baju renang sekolah berwarna putih.
"Kenapa?!"
"Soalnya
Shirou onii-chan bilang aku harus menyembunyikan tubuhku."
Di nomor start
itu tertulis 『Tachibana』 dengan huruf katakana. Maksudnya, ini
pasti sudah dipersiapkan sejak lama. Sejak dia pulang membawa buku catatan
cinta itu, semuanya sudah direncanakan matang-matang.
Entah kenapa,
padahal seharusnya aku tidak punya selera seperti itu. Tapi melihat Hikari-chan
yang berpenampilan siswi SD dengan rambut twin-tail dan School Swimsuit,
perasaan terlarang justru muncul dalam diriku.
Dorongan untuk
menyentuh tubuhnya, memasukkan tangan ke dalam swimsuit itu, semakin kuat.
"Shirou onii-chan... boleh kok..."
Hikari-chan mengalirkan air panas dari shower dan mulai
membasahi tubuhnya. Permukaan School Swimsuit itu berkilau basah.
"Hikari, kalau Shirou onii-chan yang nakal, aku tidak
akan bilang ke Mama atau guru loh."
Dia mengatakan hal yang sangat tidak pantas. Memang benar,
kepribadian di balik Hikari-chan ini adalah Tachibana-san. Meski usia mentalnya
menjadi kecil, wilayah ingatannya tetap utuh. Dia sengaja memprovokasiku.
"Ajari
Hikari main orang dewasa yuk. Hikari yang tidak tahu apa-apa ini, boleh kan
Shirou onii-chan nakal sebanyak-banyaknya. Lakukan hal-hal yang terlarang dan
jadikan aku pacar Shirou onii-chan."
Itu permainan
yang terlarang. Meski berpenampilan siswi SD, tubuhnya adalah tubuh enam belas
tahun yang sempurna. Dia menggodaku untuk nakal. Situasi yang terasa
borderline, tapi juga aman. Kepalaku hampir gila, tapi mungkin itu akan terasa
sangat enak.
Maka aku pun
mengulurkan tangan ke kulit basah dan School Swimsuit itu. Namun, saat
itu—
"Ah!"
Hikari-chan
seolah teringat sesuatu. Dia keluar dari kamar mandi dengan tubuh masih basah.
Tak lama kemudian dia kembali sambil membawa sikat gigi dan pasta gigi.
"Harus gosok
gigi dulu!"
Ternyata
Tachibana-san adalah tipe yang suka menggosok gigi saat mandi, bahkan saat
menjadi anak kecil.
"Gosokkan~"
"Sini, ke
sini."
Aku duduk di
kursi dan memangku Hikari-chan di pangkuanku. Hikari-chan melingkarkan
tangannya ke belakang leherku, dalam posisi seperti putri yang dipeluk.
Aku menopang
kepala Hikari-chan dengan tangan kiri, lalu mulai menggosok giginya dengan
sikat gigi di tangan kanan.
Ini kesalahan
perhitungan, Tachibana-san. Kau rela menjadi anak kecil demi membuang rasa
malu, tapi karena kau sekarang benar-benar seperti anak kecil, tindakanmu jadi
tak terkendali. Bahkan melenceng dari rencanamu sendiri.
"Gigi
belakangnya juga harus digosok, jadi buka mulutmu lebih lebar. Ayo, ah~n."
"Ah~n."
Sama seperti saat
memotong kuku, aku menggosok satu per satu dengan telaten. Ini pun adalah
tindakan yang menelusuri garis cinta.
Aku ingin
bertanya pada orang-orang di dunia ini.
Kalian bilang
suka, tapi apakah itu benar-benar suka?
Kalau benar suka,
apa yang kalian tahu tentang gadis itu?
Aku tahu bentuk
giginya, panjang kukunya.
Aku sedang
menelusuri garisnya. Teman-teman, inilah cinta.
Aku mengembalikan
cinta yang mulia itu dan dengan penuh kasih sayang menggosok gigi Hikari-chan.
Namun—
"Shirou
onii-chan, lidahnya juga digosok~."
"Hikari-chan,
kamu siswi SD yang suka menggosok lidah?"
"Kakak
Tachibana yang baru-baru ini lagi suka. Katanya bagus buat kesehatan, aku lihat
di video~."
Hei, jangan
seenaknya memisahkan kepribadian dan bicara seperti itu.
"Tapi aku
belum pernah menggosok lidah, jadi pasti jelek."
Meski begitu,
karena Hikari-chan bilang "boleh kok", aku menempelkan sikat gigi ke
lidahnya dan menggosoknya. Karena pemula, aku tidak tahu caranya. Aku
memasukkan sikat terlalu dalam hingga Hikari-chan tersedak.
"Hikari-chan,
maaf."
"Tidak
apa-apa, memang begini kan. Lagipula, kalau Shirou onii-chan bikin Hikari
sesak, entah kenapa malah terasa enak."
Dengan
ekspresi melamun, dia mengatakan hal itu.
Aku
kembali menggosok lidah kecil berwarna pink itu. Setiap kali aku mendorong ke
belakang, Hikari-chan tersedak. Setiap kali itu pula perutnya mengencang, air
mata menggenang di sudut matanya. Tapi entah kenapa, dia terlihat senang.
"Bagian
bawah perutku jadi kencang gitu. Saat itu, aku jadi semakin suka sama Shirou onii-chan."
Dasar... Ero little girl (enam belas tahun) ini!
Aku sudah terjerumus. Benar-benar. Tepat seperti yang
direncanakan Tachibana-san.
Aku berulang kali mendorong sikat gigi ke tenggorokan.
Setiap kali itu, tubuh Tachibana-san bereaksi. Aku memperkuat aliran air shower
dan membilas mulutnya dengan kasar. Tachibana-san mengeluarkan suara seperti
orang tenggelam, terbatuk-batuk, tapi wajahnya meleleh penuh kenikmatan.
Aku menyapu tetes air yang menetes di paha dalam
Tachibana-san dengan jari.
"Hikari, ini apa. Ini bukan air biasa kan."
"Maaf. Maaf
karena Hikari gadis nakal. Maaf karena gadis jahat. Makanya beri hukuman.
Shirou onii-chan, tolong hukum Hikari."
Bukan hanya
hukuman. Kami juga harus saling mencuci tubuh dan rambut. Ini Tachibana-san,
pasti dia sudah menyiapkan hal-hal menyenangkan di setiap prosesnya.
"Boleh
lakukan semuanya. Semua hal terlarang yang Shirou onii-chan pikirkan, boleh
dilakukan."
"Boleh?"
Dia pasti sudah
membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tachibana-san
memerah pipi dengan wajah malu-malu, lalu mengangguk pelan.
"Benar-benar
anak nakal ya kamu."
Tentang
semua tindakan penuh cinta dan kesatria yang aku lakukan pada Hikari-chan
(siswi SD) setelah ini, aku tidak bisa menceritakannya banyak di sini.
Bagaimanapun,
itu luar biasa.
◇
Di kamar
Tachibana-san, aku sedang mengeringkan rambutnya.
Di kamar
mandi tadi dia pusing, ditambah berbagai hal lain hingga kehilangan tenaga dan
tidak bisa berdiri.
Aku
berhasil memakaikan pakaian rumah, mendudukkannya di bantal, dan sekarang
mengeringkan rambutnya dari belakang dengan hair dryer.
Tentu
saja, kami sedang mengadakan rapat refleksi besar. Kami sepakat untuk melarang permainan buku catatan
cinta itu. Kalau pun dilakukan lagi, persiapan sebelumnya dilarang.
"Tapi tadi
luar biasa ya."
Tachibana-san
menikmati angin hangat sambil menyipitkan mata dengan wajah puas.
"Aku jadi
boneka Shirou onii-chan dan dipermainkan seenaknya."
"Itu semua
karena cinta."
"Bagaimana
rasanya mengendalikan aku yang polos dan kecil itu sesuka hati?"
"Aku cuma
merawatmu kok."
"Saat
mencuci ketiak tadi itu... bahkan aku sendiri..."
"Tolong
jangan disebutkan lagi..."
"Mungkin
Hikari-chan (siswi SD) akan sering muncul lagi ke depannya."
"Tidak
boleh."
"Saat kencan
nanti, mau bawa Hikari-chan (siswi SD) atau Hikari si anjing, yang mana?"
"Pilihannya
benar-benar ekstrem."
Tapi yang
terpenting, Tachibana-san terlihat senang. Akhir-akhir ini dia sangat tidak
stabil.
"Lebih dari
itu, Shirou onii-chan, apa kamu melakukan imprinting padaku?"
"Kenapa?"
"Soalnya...
setiap tangan Shirou onii-chan menyentuhku sejak tadi..."
"Ah, itu
ya."
Saat mencuci
tubuh, Hikari-chan bertanya "Kenapa kalau Shirou onii-chan yang mencuci
terasa enak ya?".
Mencuci rambut
atau memijat bahu memang lebih enak dilakukan orang lain.
Tapi aku malah
melakukan imprinting buruk dengan mengatakan "Karena disentuh Shirou
onii-chan terasa enak."
"Aku jadi
merasa enak hanya dengan disentuh Shirou onii-chan?! Itu... itu tidak
boleh!"
Tachibana-san
jarang sekali panik seperti ini.
"Soalnya,
aku memang sudah..."
Benar, kulit dan
indra perasanya sangat sensitif dan mudah merasa.
"Tapi
Tachibana-san juga melakukan imprinting aneh padaku kan."
"...Tidak
melakukan apa-apa kok."
Tachibana-san
memalingkan muka dengan ekspresi polos. Tidak, ini pasti dilakukan.
"Kalau tidak
bilang, aku akan begini loh."
"Tunggu,
Shirou onii-chan!"
Aku memeluk
Tachibana-san dari belakang. Dia berusaha meronta, tapi segera menjadi penurut
dan menggesek-gesekkan pahanya.
"Shirou onii-chan, tidak boleh... Aku baru ganti celana
dalam yang baru..."
"Apa yang
kamu lakukan padaku?"
"Itu—"
Tachibana-san menceritakan imprinting yang dia berikan
padaku. Twin-tail dan School Swimsuit.
"Aku
bisa jadi kriminal nih! Cepat cabut imprintingnya!"
"...Baiklah."
Tachibana-san
yang masih dalam pelukanku mengembuskan napas manis dan lembab, lalu
mengulurkan tangan ke meja. Tapi
yang diambilnya bukan koin lima yen, melainkan karet rambut. Dia kembali
membuat twin-tail.
"Hei."
"Aku akan cabut dengan benar kok."
Tapi, kata Tachibana-san sambil mendongakkan dagu dengan
wajah memohon.
"Aku masih punya sedikit waktu sebelum les..."
Sekarang dalam pelukanku ada Tachibana-san yang baru keluar
dari kamar mandi, dengan kulit lembab dan tubuh hangat.
Dan gadis itu sudah menjadi sosok yang basah hanya karena
aku memeluknya.
"...Aku juga masih punya sedikit waktu sebelum kerja
paruh waktu."
"Kalau begitu... meski aku masih malu untuk sampai
akhir, tapi sebelum imprinting dicabut, boleh sedikit lagi..."
"Ya
sudah..."
Kami
saling mengangguk.
"Hikari-chan..."
"Shirou onii-chan..."
Bersama firasat kenikmatan yang biasanya tak terjangkau,
kami mendekatkan bibir masing-masing.
Namun, tepat
sebelum ciuman itu terjadi.
"Aku
pulang~"
Terdengar
suara.
"Eh?
Kakak masak sendiri? Ada apa?"
Langkah
kaki mendekat dari arah dapur. Cepat. Tak lama kemudian pintu terbuka tanpa sungkan.
Yang muncul adalah adik Tachibana-san, Miyuki-chan.
"Kukira Kakak sedang rewel karena lapar, jadi aku beli
bento di konbini——"
Miyuki-chan melihat kami yang saling bertindih, lalu
menjatuhkan bento ke lantai.
Setelah berdiri membeku beberapa saat, dia berkata dengan
ekspresi sangat dingin.
"Kakak, itu karet rambutku lho."
◇
Kali ini kami benar-benar sadar diri.
Imprinting pun sudah dicabut sekali lagi dengan kembali ke
mode bayi dan siswi SD.
Sekarang
kami berdua sedang menunggu kereta di peron metro.
Aku akan ke
tempat kerja paruh waktu, sementara Tachibana-san akan ke les piano.
"Adikmu jadi
benci padaku ya."
Miyuki-chan tentu
tahu kakaknya bertunangan dengan Yanagi-senpai. Jadi aku terlihat seperti
laki-laki yang merebut orang lain. Dia terang-terangan menunjukkan permusuhan
dengan mengatakan "Aku benci orang ini."
"Tidak
apa-apa kok."
Tachibana-san
berkata dengan wajah tidak terlalu peduli.
"Apa pun
pendapat adikku, itu tidak ada hubungannya dengan perasaanku."
"Tidak
akan membuat hubungan kalian memburuk?"
"Kalau
Miyuki malah suka sama Shirou onii-chan dan manja, baru itu yang bikin
ribut."
Lebih dari itu,
kata Tachibana-san.
"Shirou
onii-chan, akhirnya kamu tidak melakukan imprinting ya. Padahal aku sudah bisa
membuat orang lain tidak bisa menyentuh Yanagi-kun sama sekali."
Tidak apa-apa
kok, kata Tachibana-san dengan nada datar. Tidak seperti tadi yang emosional, suaranya
sangat tenang.
"Shirou
onii-chan takut memberikan pengaruh pada orang lain kan."
"Itu..."
"Kamu
memikirkan soal tanggung jawab yang tidak bisa diambil atau hal-hal seperti itu
ya."
Benar. Masalah
keluarga, pengaruh ke masa depan, aku tidak bisa berhenti memikirkan hal-hal
itu.
"Kalau
begitu, akhirnya Shirou onii-chan tetap akan memilih Hayasaka-san ya."
Tachibana-san
tidak menatapku.
"Kalau
memilih Hayasaka-san, kamu bisa kompromi dengan Yanagi-kun, dan tidak akan
memengaruhi masa depanku."
Kalau kami terus
berbagi, suatu saat kelulusan SMA akan tiba.
Pada saat itu
Tachibana-san akan menepati pertunangannya dan keluar dari hubungan berbagi
ini.
Itu salah satu
hasil akhir dari status quo, dan aku juga pernah memikirkannya.
"Pasti di
Natal nanti kamu akan menghabiskan waktu dengan Hayasaka-san kan."
"Soal
itu..."
Akhir-akhir ini
kami melakukan banyak hal menjelang Natal.
Dengan semangat
berbagi yang ceria, kami menutup-nutupi berbagai hal.
Tapi sudah
saatnya menghadapi kenyataan.
"Tachibana-san,
Natal sejak awal memang mustahil kan."
Begitu aku
katakan, suhu di wajah samping Tachibana-san menjadi dingin.
Keheningan itu
adalah jawaban setuju.
Ya, itu memang
sudah diketahui sejak awal. Sudah ditentukan sejak lama.
Aku dan
Tachibana-san tidak akan pernah menghabiskan waktu bersama.
Karena
Tachibana-san——
"Natal, kamu akan menghabiskannya dengan Yanagi-senpai kan."



Post a Comment