Chapter 3
Bukankah Kamu Menyukai Itu?
"Apa
penampilanku aneh?"
Hayasaka-san yang
datang untuk bertemu denganku berkata dengan malu-malu.
Kemeja biru muda
dan rok putih selutut. Penampilannya benar-benar seperti gadis yang dibesarkan
dengan penuh kasih sayang.
Aku tanpa sadar
terpesona melihatnya.
"Hei,
katakan sesuatu dong, Kirishima-kun."
"…………Kukira,
cantik. Kalau diungkapkan dengan sangat rendah hati."
"Syukurlah,"
kata Hayasaka-san sambil mengembuskan napas lega.
Itu adalah Sabtu
pagi.
Konsep kencan
hari ini adalah pergi berbelanja bersama.
Mungkin aku agak
jahat, tapi berjalan bersama Hayasaka-san membuat perasaanku sangat baik. Orang-orang yang berpapasan dengan
kami menoleh dua kali saat melihatnya. Memiliki gadis seperti itu
sebagai pacar adalah hal yang sangat membanggakan.
"Kontras sekali, ya," "Lagi-lagi belakangan
ini," "Selera pria soal wanita itu punya standarnya
masing-masing,"
Suara-suara seperti itu terdengar, tapi mungkin itu hanya
perasaanku saja.
"Baiklah, ayo kita pergi."
Kami melangkah masuk ke dalam gedung stasiun.
"Kirishima-kun, kau ternyata terbiasa ya," ujar
Hayasaka-san setelah kami berkeliling di toko pakaian wanita.
"Kupikir
anak laki-laki biasanya tidak suka tempat seperti ini. Apa kau sudah
terbiasa?"
"Tidak sama
sekali, ini malah pertama kalinya."
Aku sangat paham
perasaan pria yang merasa tegang saat menemani gadis berbelanja. Berada di
ruang yang penuh gaya dengan staf toko yang modis membuat mereka merasa salah
tempat.
"Tapi aku
sudah memutuskan untuk tidak ambil pusing. Kalau tidak keren ya tidak keren, tidak ada
gunanya sok keren."
"Apa itu
berarti kau kuat?"
Hayasaka-san
menggelengkan kepalanya.
"Tidak,
Kirishima-kun bisa jadi lebih keren dari ini."
Dia mencubit
lengan bajuku dan membawaku ke toko peralatan rumah tangga.
"Coba
gunakan ini, kurasa bagus."
Yang diambil
Hayasaka-san dari rak adalah produk perawatan rambut. Dia mencoba
mengaplikasikan contoh produk itu ke tanganku, lalu menyisir rambutku ke atas
atau menyamping. Saat berkaca, aku melihat diriku dengan rambut yang tertata
rapi. Ya jelas saja, kan.
"Besok akan
kucoba gunakan."
"Tapi,
jangan jadi terlalu keren ya."
"Kenapa?"
"Kalau
Kirishima-kun jadi populer, aku jadi gelisah."
"Seolah-olah
sekarang aku tidak populer saja."
Memang
kenyataannya begitu sih, tapi Hayasaka-san, kau jujur sekali.
Setelah
itu, Hayasaka-san membeli celemek di toko yang sama. Sepertinya dia mulai
berlatih memasak akhir-akhir ini.
"Kirishima-kun,
ada makanan kesukaanmu?"
"Terong rebus."
"Aku akan berusaha!"
Hayasaka-san
mengepalkan tangannya dengan semangat. Dia adalah pacar yang sempurna. Setelah itu, kami mengunjungi berbagai
toko lagi.
"Hei,
Kirishima-kun."
Saat melewati
toko aksesori, tiba-tiba Hayasaka-san menarik lengan bajuku.
"Tadi kau
melihat wanita itu, kan?"
"Aku
tidak mengerti apa maksudmu."
Aku
memang melihatnya. Ada staf toko yang sangat modis dengan bentuk tubuh yang
membuat mata tak sengaja tertuju pada dadanya. Namun.
"Aku tidak
ingat sama sekali, tapi manusia kan hewan. Mungkin saja tatapanku secara alami
teralihkan ke sesuatu yang bergerak."
"Saat
Kirishima-kun mencoba berargumen, itu tandanya kau sedang berusaha
menghindar."
"Bukan
menghindar, aku tidak bersalah. Kalau ada pengadilan cinta, aku pasti tidak bersalah."
"Yakin
nih!"
Hayasaka-san
berkata sambil memeluk lenganku. Seolah dia sedang menegaskan, "Aku juga
punya dada." Dan seperti biasanya, dia sendiri yang melakukan tindakan
itu, tapi dia sendiri yang memerah malu.
Itu adalah waktu
yang menyenangkan bagaikan mimpi.
Namun, kenyataan
menarikku kembali saat melihat Hayasaka-san melirik jam tangannya.
"Waktunya
oke?"
Aku bertanya
mendahuluinya, dan Hayasaka-san menjawab, "Maaf ya," sambil
melepaskan pelukannya dengan lembut.
Kencan hanya
sampai pagi hari. Setelah itu, Hayasaka-san ada janji bermain dengan orang yang
paling dia sukai.
"Masih ada
satu jam lagi."
"Bagaimana
kalau kita minum kopi di suatu tempat?"
Saat kami
memutuskan begitu dan sedang berjalan di lantai tersebut, seorang gadis keluar
dari toko buku dan melintasi depan kami. Gadis itu sempat lewat, tapi tiba-tiba
berhenti seolah baru menyadari sesuatu dan menoleh ke arah kami.
"Loh,
Ketua."
Itu
Tachibana-san.
Dengan blus
lengan pendek dan celana pendek, dia tampak seperti "bocah musim
panas", jauh berbeda dari kesan tenang biasanya. Namun, kaki yang jenjang
dari balik celana pendek itu terlihat putih dan luwes, dan lengannya yang
terekspos hingga bahu benar-benar milik seorang gadis, yang entah mengapa
membuat jantungku berdebar kencang.
Tachibana-san
menatap wajahku dan Hayasaka-san bergantian, lalu memiringkan kepalanya.
"Ti, tidak,
bukan begitu!"
Hayasaka-san
panik dan menyangkalnya.
"Kami
kebetulan bertemu. Lalu, kami belanja bersama."
"Begitu
ya?"
Tachibana-san menatapku.
"Aku datang untuk membeli produk perawatan rambut. Karena aku tidak terlalu paham, aku minta
sarannya."
Aku menunjukkan
kantong belanjaanku.
"Aku membeli
celemek dan kuteks gel!"
Hayasaka-san
melakukan hal yang sama, tapi matanya berputar gelisah. Aktingnya buruk sekali.
"Begitu."
Tachibana-san
mengintip ke dalam kantong belanjaan Hayasaka-san.
"Motifnya
lucu, ya."
Karena wajah
Tachibana-san terlalu dekat, wajah Hayasaka-san memerah. Tachibana-san adalah
tipe gadis yang bisa membuat sesama wanita pun merasa malu.
"A-ano,
Tachibana-san. Mumpung kita ketemu, bagaimana kalau kita bertiga minum teh
bersama?"
Hayasaka-san
mengajak.
"Apa boleh?"
Orang yang ditanya Tachibana-san adalah aku.
"Memangnya tidak mengganggu?"
Di balik Tachibana-san yang bertanya seperti itu,
Hayasaka-san tersenyum canggung sambil mengangkat dua jarinya.
'Aku tidak masalah jadi pacar kedua,' begitulah pesannya.
Padahal ini kencan berdua saja, aku merasa tidak enak karena
membuatnya melakukan ini. Tapi kalau
aku berada di posisinya, kurasa aku juga akan melakukan hal yang sama.
Begitulah, kami
bertiga pergi minum teh bersama dan masuk ke kedai kopi di lantai paling atas
gedung stasiun.
Aku memesan kopi
biasa, Hayasaka-san teh hitam, dan Tachibana-san memesan minuman dengan nama
yang terdengar manis, lengkap dengan berbagai topping tambahan.
Kami
bertiga mengelilingi meja bundar.
"Apa yang Tachibana-san beli di toko buku tadi?"
Hayasaka-san bertanya. Padahal seharusnya mereka tidak
terlalu akrab, tapi karena diajak bicara seperti ini, Hayasaka-san memang
ramah.
"Partitur
musik dan buku misteri. Untuk
dibaca saat kegiatan klub."
"Begitu ya.
Tachibana-san masuk klub misteri, ya."
"Kenapa
Hayasaka-san tahu?"
"Eh?"
"Aku tidak
pernah memberi tahu siapa pun kalau aku masuk klub misteri."
Mendengar itu,
Hayasaka-san mulai memutar-mutar matanya, "E-ehm, itu adalah──".
Yah, kau akrab
dengan Ketua kan, jadi tidak apa-apalah, kata Tachibana-san sebelum mengalihkan
pembicaraan kembali ke buku yang baru dibelinya.
"Sebenarnya
aku lebih suka e-book, tapi karena Ketua tidak bisa membacanya, makanya
akhir-akhir ini aku beli versi kertas."
Ngomong-ngomong,
Tachibana-san memang sering meninggalkan buku di rak setelah selesai
membacanya. Ternyata itu adalah bentuk perhatian untukku.
"Memangnya
tidak bisa kalau meminjamkan tabletmu?"
Hayasaka-san yang
berusaha menenangkan diri bertanya, lalu Tachibana-san memalingkan wajah dan
berkata, "Malu."
"Nanti
buku-buku lain di dalamnya ketahuan. Ada komik shoujo juga di
sana."
"Tachibana-san baca komik shoujo?"
"Karena aku
mulai tertarik dengan cinta."
Hayasaka-san
memasang wajah seolah ingin bertanya, Baru sekarang?
"Setelah
membacanya, ada banyak hal yang baru aku pahami."
Aku ingin tahu
apa yang dipelajari Tachibana-san dari komik shoujo, tapi sebelum itu,
Tachibana-san mengatakan sesuatu yang mengejutkan.
"Hayasaka-san,
kau suka pada Ketua, kan?"
"D-dehh?!"
Hayasaka-san
hampir menyemburkan tehnya. Dia sangat terguncang sampai cangkir di tangannya bergetar.
"K-k-k-kenapa?"
"Entahlah.
Cuma merasa begitu saja."
"Bukan, itu
salah paham Tachibana-san."
"Oh, salah
ya. Padahal intuisiku biasanya akurat."
Kalau begitu,
kata Tachibana-san.
"Kalau
dilakukan seperti ini, apa kau tidak merasa risih?"
Tiba-tiba, Tachibana-san menggenggam tanganku.
Hayasaka-san
membeku dan tidak bisa memberi reaksi apa pun. Aku pun terkejut.
"Tachibana-san,
hal seperti ini──"
"Ketua,
diamlah."
Tachibana-san
bahkan mengaitkan jarinya dengan jariku atau merangkul lenganku dengan gaya
manja. Posisinya benar-benar tepat di tempat Hayasaka-san memelukku tadi,
keakuratannya luar biasa.
"……Karena aku sama sekali tidak menyukainya, aku tidak merasa risih sama sekali."
Senyum
Hayasaka-san tampak kaku.
Hayasaka-san,
jangan memasang wajah seperti itu. Tachibana-san hanyalah seorang gadis yang
baru saja mulai tertarik pada cinta—sebut saja "anak baru" dalam hal
percintaan—dan dia hanya sedang mengamati serta belajar dari kami.
"Aku...
sebenarnya sudah ada orang lain yang kusukai."
Hayasaka-san
mengucapkannya dengan bahu yang bergetar. Mendengar itu, mata Tachibana-san
langsung berbinar penuh rasa ingin tahu.
Tampaknya, bahkan
orang sedingin Tachibana-san pun akan bersemangat jika bicara soal cinta.
"Orang
seperti apa?"
"Ehm, kakak
kelas satu tahun di atasku."
"Kakak
kelas? Wah, keren juga ya."
Tachibana-san
tampak terkejut. Sepertinya kakak kelas berada di luar jangkauan kesadarannya.
"Penampilannya
seperti apa?"
"Penampilan?
Dia tinggi, tubuhnya ramping tapi karena dia atletis jadi cukup tegap.
Wajahnya... bagaimana ya, kesannya gagah, mungkin?"
"Sifatnya?"
"Dia bisa
diandalkan dan selalu memimpin semua orang."
"Benar-benar
jauh berbeda dengan Ketua ya."
"Ya,
sangat berbeda dengan Kirishima-kun."
Dua gadis
ini benar-benar tidak kenal ampun, ya.
"Hayasaka-san, apakah jantungmu berdebar saat
bersamanya?"
"Begitulah, aku merasa gugup. Tapi alih-alih berdebar,
rasanya lebih seperti aku terus menatapnya dengan melamun. Aku sangat
mengaguminya."
"Begitu ya, ternyata ada rasa suka yang seperti itu
juga."
Setelah itu, kami menghabiskan waktu sekitar satu jam
membicarakan hal-hal seperti yang biasa dibahas di ruang kelas. Tentang ujian, guru BK yang
menakutkan, hingga rekomendasi video yang bagus.
Melalui
percakapan itu, aku baru tahu kalau aku dan Tachibana-san punya hobi yang sama.
Kami berdua suka mendengarkan radio tengah malam dan selalu menonton
pertandingan curling saat Olimpiade Musim Dingin. Mengetahui kami punya
hobi yang begitu spesifik dan sama rasanya cukup menyenangkan.
"Kalau
begitu, aku pergi dulu ya."
Setelah
melihat jam tangannya, Hayasaka-san berdiri.
Lalu,
setelah ragu apakah harus mengatakannya atau tidak, dia menoleh ke arah
Tachibana-san.
"Mulai
sekarang, aku akan pergi menemuinya."
"Eh? Wah,
keren."
"Enggak kok,
sama sekali tidak keren. Soalnya kami mainnya ramai-ramai."
"Tapi,
semoga berhasil ya."
"Makasih."
Saat hendak
pergi, Hayasaka-san meminta maaf kepadaku.
"Maaf ya,
aku buru-buru."
Dia merasa tidak
enak karena mengakhiri kencan kami lebih awal untuk pergi menemui orang yang
paling dia sukai.
Jadi, aku
mengangkat dua jariku.
'Aku
tidak apa-apa jadi pacar kedua.'
Itulah pesan yang
ingin kusampaikan.
Pada akhirnya,
tinggallah aku dan Tachibana-san berdua saja.
"Ketua,
tidak semangat ya?"
"Tidak
kok."
"Pasti
karena Hayasaka-san pergi menemui orang yang dia sukai, kan?"
Dia sepertinya
masih mengira aku memiliki perasaan romantis pada Hayasaka-san. Ya, memang
benar begitu, sih.
"Ini rahasia
antara kita saja," kataku sebagai pembuka.
"Orang yang
disukai Hayasaka-san itu adalah kakak kelasku saat SMP."
Dia orang
yang menyegarkan, baik hati, dan tampan pula.
"Kalau
begitu, apa kau tidak masalah jika Hayasaka-san berpacaran dengan kakak kelas
itu?"
"Tentu
saja tidak masalah."
Hayasaka-san
tidak tahu, tapi sejujurnya, orang yang mengatur agar Hayasaka-san bisa bermain
dengan kakak kelas itu tidak lain adalah aku sendiri. Jadi, tidak ada gunanya
menyesali hal itu sekarang.
"Begitu
ya."
Tachibana-san tampak kurang puas dengan jawabanku.
"Coba bayangkan wajah kakak kelas itu."
"Sudah."
"Sekarang, bayangkan Hayasaka-san sedang berpelukan
atau berciuman dengan kakak kelas itu."
"Sudah kubayangkan."
"Saat itu, wajah Hayasaka-san adalah wajah yang tidak
pernah dia perlihatkan padamu. Dia terlihat bahagia dan tenang. Wajah yang
hanya dia tunjukkan pada kakak kelas itu, berbeda dengan saat di sekolah. Dia
terlihat sangat manja. Bagaimana?"
"Aku benar-benar tidak masalah."
"Kopimu tumpah dari mulutmu, tuh."
Mungkin aku
terlalu meremehkan perasaan "suka sebagai pilihan kedua". Saat
dibayangkan, rasanya cukup menyakitkan juga.
Saat aku sedang
berada di klub bersama Tachibana-san, apakah Hayasaka-san juga merasakan
perasaan yang seperti ini?
Sekarang, di
depanku ada Tachibana-san. Situasi ini sangat membahagiakan.
Namun, apa pun
yang kukatakan, Tachibana-san sudah punya pacar.
Tachibana-san, cinta pertama yang sudah punya pacar.
Hayasaka-san, pilihan kedua yang bisa kupeluk dan kucium,
tapi memiliki orang lain yang lebih dia sukai.
Aku jadi tidak
tahu ke mana harus mengarahkan perasaanku. Secara logis, kedua hubungan ini
tidak punya masa depan. Aku tidak bisa berpacaran dengan Tachibana-san, dan
Hayasaka-san pun perlahan akan menjauh. Aku membayangkan masa depan seperti
itu.
"Ketua, mau
pulang?"
"Ya. Padahal
musim panas, tapi entah kenapa terasa dingin."
"Begitu.
Kalau begitu, aku akan melihat-lihat pakaian sebentar."
Meninggalkan
Tachibana-san, aku meninggalkan gedung stasiun.
Apa yang akan
terjadi setelah ini? Namun, sepertinya memikirkannya pun tidak akan
menyelesaikan apa pun.
Dengan
perasaan sesak itu, aku naik ke kereta dan duduk di kursinya.
Saat itulah,
sebuah pesan masuk ke ponselku.
Pesan itu dari
orang yang paling disukai Hayasaka-san, Yanagi-senpai.
◇
Hayasaka-san
tidak pernah bicara padaku soal siapa orang yang paling dia sukai. Tapi aku
tahu siapa orang itu.
Yanagi-senpai.
Kami satu SMP.
Dia orang
yang ramah pada siapa pun dan pandai bermain sepak bola. Kami satu tim saat
festival olahraga, dan karena senior yang perhatian itu tidak tega melihatku
yang payah dalam olahraga, kami pun jadi akrab sejak saat itu.
Walaupun
kami lanjut ke SMA yang berbeda, kami masih tetap saling berkirim kabar.
Dulu,
senior tergabung dalam tim youth klub sepak bola profesional sejak SMP.
Tapi, dia keluar pada musim dingin kelas dua SMA. Sepertinya dia memang sudah
lama mencari waktu yang tepat untuk berhenti. Sekarang, di kelas tiga, dia
belajar untuk ujian masuk universitas sambil bermain futsal di akhir pekan
untuk melepas penat.
Aku
pernah sekali ikut pertandingan futsal itu. Mereka bilang jumlah pemain kurang
dan karena sifatnya campuran pria-wanita, tidak masalah meski pemula.
Yanagi-senpai
sangat populer. Banyak orang datang untuk mendukungnya di pertandingan itu. Di antara mereka, ada Hayasaka-san, saat
itu kami belum berpacaran.
"Gadis itu
teman seangkatan saya di SMA."
"Oh, Hayasaka-chan ya."
"Apa dia sering datang?"
"Dia cukup sering datang untuk mendukung."
"Apa dia menyukai seseorang, ya?"
"Kalau dia memberitahuku siapa orangnya, akan
kubantu."
Yanagi-senpai
memang populer, tapi dia sangat tidak peka.
Saat
pertandingan, Hayasaka-san terus menatap Yanagi-senpai. Dia bahkan tidak
menyadari keberadaanku.
Setelah itu di
bulan Mei, Hayasaka-san berkata padaku di peron stasiun.
"Kirishima-kun,
kau suka pada Tachibana-san, kan?"
Saat itu, aku
sangat ragu apakah harus mengatakannya.
"Hayasaka-san
juga suka pada Yanagi-senpai, kan?"
Tapi pada
akhirnya, kata-kata yang keluar justru, "Pilihan keduaku adalah
Hayasaka-san."
Setelah kami
mulai berpacaran, ada satu kali Hayasaka-san membicarakan tentang cinta
pertamanya.
"Mungkin
sulit bagiku, cinta pertama itu."
Hayasaka-san
berkata dengan nada sedikit kesepian.
"Aku hanya
bisa melihatnya dari jauh. Aku terlalu gugup, sampai tidak bisa melakukan
apa-apa."
Malam itu, aku
menelepon Yanagi-senpai.
"Apa senior
ingat Hayasaka-san?"
"Teman
seangkatan Kirishima, kan?"
"Saya ingin
senior mengajak dia masuk ke tim. Dia ingin sekali bermain futsal, tapi dia
terlalu pemalu dan tidak berani mengatakannya."
"Oke, kasih
tahu nomornya."
"Tolong
jangan bilang kalau dia tahu dari saya ya."
Beberapa saat
kemudian, Yanagi-senpai menghubungiku.
"Aku sudah
mengajak dia, tapi dia cuma bilang 'ah-wah-wah' lalu sambungannya putus."
"Dia sangat
pemalu. Tolong telepon sekali lagi. Kali ini, tunggu sampai dia tenang baru
ajak dia lagi."
Keesokan harinya,
Hayasaka-san tampak sangat ceria.
"Ada
sedikit hal baik yang terjadi."
Begitulah, Hayasaka-san mulai ikut bermain futsal.
Aku sendiri yang melakukannya, dan dari awal kami berpacaran
dengan asumsi bahwa dia punya orang yang lebih dia sukai. Jadi, tidak masalah
jika dia mengakhiri kencan kami lebih awal untuk pergi ke sana. Justru, aku
mendukungnya.
Namun entah mengapa, saat melepas kepergian Hayasaka-san,
dadaku terasa sesak.
Hayasaka-san yang manja, Hayasaka-san yang meminta ciuman,
Hayasaka-san yang sedikit "tidak sehat" dan tidak pernah dia
tunjukkan pada orang lain.
Meskipun
seharusnya aku hanya pilihan kedua, aku semakin jatuh cinta pada Hayasaka-san.
◇
Sambil duduk di
kursi kereta, aku menatap pesan dari Yanagi-senpai.
'Kirishima,
jangan-jangan kau sebenarnya suka sama Hayasaka-chan?'
Kereta
tak kunjung berangkat. Dari jendela, aku bisa melihat toko elektronik besar di
depan stasiun. Di atap gedung itulah, Hayasaka-san sedang bermain futsal dengan
gembira sekarang.
Aku
membalas pesannya.
'Kenapa
memangnya?'
'Hayasaka-chan
itu populer sekali, lho.'
Sepertinya banyak orang di antara pemain futsal itu yang
mengincar Hayasaka-san.
'Kalau
Kirishima suka, aku tidak akan membiarkan orang lain mendekatinya.'
'Tidak, saya
tidak punya perasaan seperti itu.'
'Benarkah?
Kirishima, kau tipe orang yang akan mengoper bola bahkan saat kau bisa mencetak
gol sendiri.'
'Sepak
bola dan cinta itu berbeda, senior.'
'Sifat
asli seseorang biasanya terlihat dari permainannya. Yah, kalau begitu ya tidak
apa-apa. Latihan akan
segera dimulai. Kalau kau ingin datang, datang saja kapan pun.'
Perasaanku campur
aduk.
Aku ingin cinta
pertama Hayasaka-san berhasil. Tapi di saat yang sama, aku ingin dia kembali
padaku. Perasaan ini naik-turun, membuatku lelah.
Aku ingin cepat
pulang dan tidur.
Tapi karena
kereta ini baru berangkat dari stasiun ini, dia tak kunjung jalan.
Setelah menunggu
beberapa lama, bel keberangkatan akhirnya berbunyi.
Tepat saat pintu
kereta tertutup, seorang gadis berambut panjang dengan langkah yang ringan
melompat masuk ke dalam kereta.
"Mumpung
masih ada waktu."
Tachibana-san
duduk di sebelahku dengan santai.
"Ayo
latihan klub."
"......Ini
hari libur."
"Latihan
libur."
Begitu
ya. Tachibana-san benar-benar serius.
◇
Tachibana-san mengenakan sandal musim panas bertali putih
dengan sol tebal. Kalau dia tidak memakai yang lebih rendah, aku jadi terlihat
pendek saat kami berdiri bersebelahan. Aku sempat berpikir begitu.
"Ketua,
kau benar-benar tidak semangat ya."
"Apa
maksudmu, aku sangat bersemangat. Bahkan aku ingin berlari dan melompat sekarang juga."
Tachibana-san
sedang memandangi pemandangan dari jendela kereta.
Wajahnya
tampak tenang, tapi aku yakin dia pasti mengejarku.
Kereta
ini menuju ke arah rumahku, yang arah dan jalurnya berbeda dengan rumah
Tachibana-san.
"Tachibana-san,
kau bilang mau latihan klub, tapi mau di mana?"
"Sekolah."
"Kita harus
ganti kereta, ya. Tapi sudahlah, masalahnya kita pakai baju bebas, apa tidak
apa-apa?"
"Masuk saja
lewat gerbang belakang. Kalaupun terlihat, tidak akan ada yang mengadu pada
guru."
Memang benar,
tidak ada siswa yang akan melakukan sesuatu yang merugikan Tachibana-san. Dia
mungkin "anak baru" dalam hal percintaan, tapi pada dasarnya, dia
adalah gadis yang memiliki aura agar orang-orang tidak berani macam-macam.
Aku memandang
profil samping Tachibana-san sekali lagi. Rambut halus, kelopak mata tipis,
bulu mata panjang, hidung mancung, pipi putih. Maki mengibaratkan Tachibana-san
dengan sebuah Ferrari, dan memang benar, dia orang yang istimewa.
Dia terasa tidak
nyata, dan kalau terlalu lama melihatnya, perasaanku jadi tidak tenang.
Hayasaka-san
memberikan rasa aman.
Tachibana-san
memberikan rasa berdebar.
Rasanya seperti
itu.
Saat aku sedang
memandangi profilnya, tiba-tiba Tachibana-san menyandarkan tubuhnya.
"Tachibana-san!?"
"Katozun."
Kepala kecilnya
bersandar di bahu kiriku, dan aku bisa merasakan tubuhnya yang ramping di sisi
kiriku.
"Ketua,
wajahmu sedikit lebih bersemangat sekarang."
"Yah,
mungkin."
Mungkin, sejak
Tachibana-san bilang mau latihan klub, di lubuk hatiku yang terdalam, aku
memang mengharapkan hal seperti ini. Dan sekarang, setelah dia melakukan Katozun,
aku didorong oleh keinginan untuk memeluk atau mencium Tachibana-san seperti
yang kulakukan pada Hayasaka-san suatu hari nanti.
Benar.
Yang menyedihkan
adalah, untuk mengisi kesepian karena Hayasaka-san pergi bermain futsal, aku
ingin menjadikan Tachibana-san—yang seharusnya menjadi cinta pertamaku—sebagai
pengganti Hayasaka-san. Ini benar-benar buruk.
Aku menepuk
pipiku pelan.
"Ketua, ada
apa?"
"Tidak,
aku tadi memikirkan hal yang licik."
"Hal
apa?"
"Tidak
bisa kubilang. Karena aku memikirkannya terhadap Tachibana-san."
"Begitu."
Tachibana-san terdiam sejenak lalu berkata.
"Kalau aku
sih tidak masalah."
Mata yang seperti
kelereng kaca itu menatapku.
Seolah dia bisa
melihat menembus perasaan licikku sepenuhnya.
Memeluk Tachibana-san sebagai pengganti Hayasaka-san.
—Kalau aku sih
tidak masalah.
Apakah itu hanya
delusiku yang terlalu menguntungkan diriku sendiri?
Kereta
melaju dengan suara yang teratur.
Tachibana-san
berkata sekali lagi.
"Kalau
denganku, Ketua, aku sama sekali tidak keberatan."
◇
Masuk ke sekolah
dengan pakaian bebas tanpa ketahuan siapa pun memberikan sensasi mendebarkan
tersendiri.
Begitu masuk ke
ruang klub, kami tertawa karena merasa situasinya lucu.
Tachibana-san
menyeka keringat di tengkuknya dengan hand towel, dia juga tampak
senang.
"Haus."
"Tunggu
sebentar."
Aku
mengambil teh gandum dari dalam kulkas. Saat menyerahkan gelas itu, aku sengaja menyentuh jari-jarinya.
Tachibana-san menerimanya tanpa menunjukkan ekspresi tidak suka sedikit pun.
"Bukunya,
aku taruh di sini ya."
Tachibana-san
menata buku yang tadi dibelinya di gedung stasiun ke dalam rak buku.
Setelah itu, kami
berdua terdiam, sibuk membaca novel yang sebelumnya sempat tertunda.
Namun, daripada
membaca novel, mataku justru tertuju pada sosok Tachibana-san yang duduk di
hadapanku dengan pakaian santai.
Celana pendek dan
baju lengan pendeknya memiliki potongan yang lebih terbuka dibanding seragam
sekolah, sehingga memperlihatkan kulitnya yang putih lebih banyak dari
biasanya. Tachibana-san di hari libur musim panas. Ini adalah off-shot
yang sangat berharga.
"Mungkin sekarang dia sedang berolahraga bersama orang
yang dia sukai, ya," ujar Tachibana-san tiba-tiba sambil meletakkan
bukunya, seolah menyadari tatapanku.
"Semoga
Hayasaka-san bersenang-senang di sana."
"Benar
juga."
"Futsal itu,
bukankah tubuh kita akan saling bersentuhan?"
"Ya,
begitulah."
"Hayasaka-san
pasti sedang berdebar kencang sekarang."
"Mungkin
saja."
"Ketua, kamu
gemetaran."
"Ruangan ini... AC-nya terlalu dingin……"
"Kalau kamu
mendukungnya, kenapa tidak ajarkan ini pada Hayasaka-san?"
Di tangan
Tachibana-san, terdapat lampiran dari buku catatan cinta.
Dari total tiga
belas buku catatan cinta yang ada, ini adalah buku ketigabelas yang dianggap
sebagai "buku terlarang". Di dalamnya tercantum berbagai permainan
yang diciptakan oleh penulisnya.
"Tidak, itu
kan hanya produk imajinasi belaka."
Permainan-permainan
itu memang diperkenalkan sebagai cara agar pria dan wanita menjadi lebih akrab,
tapi hasrat sang penulis untuk bermesraan dengan gadis-gadis di balik kedok
permainan itu terlihat sangat kentara.
Mungkin sang
penulis, saat sedang melakukan riset percintaan, mulai berangan-angan agar
dirinya sendiri bisa mendapatkan seorang gadis, dan akhirnya benar-benar lepas
kendali di buku terakhirnya.
"Ini semua
hanya permainan yang mungkin dimainkan oleh pria dengan niat tersembunyi saat
ikut pesta gokon."
"Tapi,
ini kan hal-hal yang ingin dilakukan pria dengan wanita, kan?"
Memang
benar.
"Kalau
begitu, bukankah senior itu akan senang jika Hayasaka-san mempraktikkan ini
padanya?"
"Entahlah,
aku ragu itu akan efektif."
"Kalau
begitu, ayo kita coba."
"Mencobanya?"
"Aku dan
Ketua, mari kita bereksperimen."
Di halaman yang
terbuka, tercantum permainan berjudul "Misteri Telinga".
Aku
menginginkannya.
Aku ingin mencoba
permainan pria-wanita terlarang yang disegel oleh para senior di Klub Misteri
ini bersama Tachibana-san.
Namun, Tachibana-san tetaplah gadis yang sudah punya pacar.
Meski aku sudah mengakui kami sebagai sepasang kekasih "nomor dua",
aku masih terbelenggu oleh norma sosial, sehingga aku tidak bisa dengan mudah
mengatakan "ayo lakukan". Maka──.
"Hari ini kita pulang saja. Sudah sore."
"Sekarang baru jam tiga."
Di luar, langit cerah tanpa awan, dan suara tonggeret
terdengar bersahut-sahutan dengan sibuk.
"Tapi,
baiklah. Aku pulang ya. Sepertinya
aku membuat permintaan yang merepotkan."
Tachibana-san
mengerutkan kening dan menutup buku catatan cinta itu.
"Bukan
merepotkan, kok."
"Ketua tadi
memasang wajah terganggu."
"Itu salahku
ya," gumamnya pelan.
"Aku tidak
akan meminta lagi."
Dengan ekspresi
sedih, dia mulai bersiap untuk pulang.
Melihatnya
seperti itu, dadaku terasa sakit, seolah akulah yang telah menyakitinya. Ini
adalah skenario yang familiar, tapi mau bagaimana lagi.
Aku menampar
pipiku sendiri dengan kedua tangan untuk memicu semangat.
"Tunggu,
tunggu sebentar!"
Aku duduk di
samping Tachibana-san. Tanpa membuang waktu, aku berbisik di dekat telinganya.
"The Adventures of Sherlock Holmes."
Mendengar judul itu, kini giliran Tachibana-san yang
berbisik di telingaku.
"Arthur Conan Doyle."
Mendengar suara bisikan Tachibana-san tepat di telingaku,
sensasi kenikmatan seketika menjalar di sepanjang tulang belakangku. Suara
Tachibana-san sangat indah.
"Ketua, kamu antusias sekali ya," ujar
Tachibana-san sambil tersenyum setelah menjauhkan wajahnya.
"Kalau
begitu, mari kita mulai."
"Ya, ayo
kita coba."
Misteri Telinga.
Begitulah
akhirnya kami memulainya.
◇
"Misteri
Telinga" adalah permainan kuis di mana satu orang menyebutkan judul novel
misteri, dan orang lainnya menjawab nama penulisnya.
Perbedaannya
dengan kuis biasa adalah, pertanyaan dan jawaban harus dibisikkan tepat di
telinga lawan bicara.
Catatan dalam
buku itu menyebutkan bahwa seru atau tidaknya permainan ini sangat bergantung
pada selera masing-masing. Namun, niat sang penulis di balik permainan ini
cukup mudah dipahami.
"Apakah
posisi ini tidak apa-apa?"
"Kurasa
tidak masalah."
Kami duduk
bersisian di sofa di sudut ruangan, lalu memutar tubuh untuk saling berhadapan.
Kami mendekatkan wajah dan menyilangkannya. Posisi di mana telinga
masing-masing berada di dekat mulut lawan.
Tachibana-san
menyelipkan rambutnya untuk memperlihatkan telinganya. Saat wajah kami
mendekat, aku mencium aroma yang harum.
"Kita
ganti-gantian memberi pertanyaan, ya."
"Kalau
begitu, mulai dari Ketua."
Permainan dimulai, dan aku menyebutkan judul pertamanya.
"And Then There Were None."
"Agatha Christie."
Tachibana-san menjawab, lalu memberikan pertanyaannya
sendiri.
"Dogra Magra."
"Yumeno
Kyusaku."
Kami terus
menyebutkan judul dan menjawab penulisnya.
Di dalam ruangan
tertutup di musim panas itu, tercipta ritme yang konstan bagaikan dentuman
metronom.
Suara
Tachibana-san yang dibisikkan di telingaku terasa sangat nyaman, membuatku
merasa seolah sedang mabuk.
Aku merasa
Tachibana-san juga sengaja mengatur nada suaranya seperti itu.
"Arsène Lupin, Gentleman Burglar."
"Maurice Leblanc."
"The Inugami Curse."
"Seishi Yokomizo."
Setiap kali embusan napas Tachibana-san mengenai telingaku,
tulang belakangku merinding. Entah
mengapa, aku pun merasa tertantang, lalu merendahkan suaraku dan mengembuskan
napas ke telinganya.
"Marionette
no Wana."
"Jiro
Akagawa."
"Hakanai
Hitsujitachi no Shukuen."
"Honobu
Yonezawa."
Ini bukan lagi
sekadar kuis. Ini adalah permainan saling embuskan napas ke telinga satu sama
lain.
Napas
Tachibana-san menggelitik telingaku. Suara bisikannya seolah mengelus gendang
telingaku.
Terkadang
tinggi, terkadang rendah, kuat, dan lemah.
Ada saatnya aku
gemetaran, ada saatnya Tachibana-san yang gemetaran. Ritme itu terus berlanjut
tanpa henti. Kata-katanya sudah tidak bermakna lagi, aku tidak bisa berpikir
jernih. Kepalaku serasa mau meledak.
Aku hanya bisa
melihat telinga Tachibana-san. Aku hanya bisa mendengar suara
Tachibana-san. Aku tidak bisa
memikirkan hal lain selain Tachibana-san.
Aku yakin, sang
penulis buku catatan cinta itu pasti memiliki IQ 180.
"Initiation Love."
"Kurumi Inui."
"Confessions."
"Kanae
Minato."
Tanpa sadar, kami
sudah menempel sangat dekat. Padahal tadi lutut kami hanya saling bersentuhan,
sekarang lutut Tachibana-san sudah berada di antara kakiku. Bisa dibilang, kami
hampir berpelukan.
Logikaku perlahan
hancur.
Tachibana-san
terus gemetaran setiap kali aku menjawab dengan suara rendah, mengeluarkan
embusan napas manis, "Ah". Napasnya juga terengah-engah. Aku
merasakan gairah dan mengulangi hal yang sama. Aku ingin membuatnya
merasakan lebih banyak lagi.
"Parallel World Love Story."
"Keigo Higashino."
"Momose, Kochio Muite."
"Eiichi Nakata."
Rambut Tachibana-san yang berkilau, tengkuk putihnya,
aromanya, embusan napasnya.
Berdua saja di dalam ruangan, saling berbisik, Tachibana-san
gemetaran setiap kali napasku menyentuh telinganya.
Ya, aku ingin bahunya yang ramping itu gemetar lebih hebat
lagi. Aku ingin dia merintih. Aku ingin dia meleleh. Dan aku ingin dia lebih
banyak mengembuskan napas ke telingaku. Aku ingin dia merasakan keberadaanku. Aku ingin dia meruntuhkan pertahananku.
"Kudakechiru
Tokoro wo Miseteageru."
"Yuyuko
Takemiya."
Tepat saat itu.
"Eh!?"
Aku mengeluarkan suara aneh secara tidak sengaja.
"Ada
apa?"
"Tidak,
tadi... lidahnya──"
Aku merasa
telingaku ditelusuri oleh lidah. Rasanya samar, antara bersentuhan atau tidak,
tapi aku benar-benar merasakan sesuatu yang lembap, dan sensasi kenikmatan yang
luar biasa menjalar di sepanjang tulang belakangku.
"Begitu
ya. Mungkin tadi itu memang tidak sengaja bersentuhan."
Tachibana-san
mengatakannya dengan datar dan tetap tenang. Begitu ya, hal seperti itu bisa
terjadi juga, ya.
"Ayo
lanjut lagi."
"……Ya,
baiklah."
Kami
kembali melakukan aktivitas saling mengembuskan napas ke telinga masing-masing.
Namun,
entah sejak kapan, aku jadi pihak yang terus-menerus bertahan. Sesekali, lidah
Tachibana-san tidak sengaja menyentuh telingaku.
Mungkin
dia memang agak kikuk. Setiap
kali itu terjadi, aku tersentak karena sensasi kenikmatan yang menjalar.
Saat aku mulai
terbiasa dengan rangsangan itu, sesuatu terjadi.
"Woi!"
Aku mengeluarkan suara aneh lagi.
"Ketua,
ritmenya jadi berantakan, tahu."
"Bukan
begitu, rasanya seperti telingaku digigit."
"Kalau
digigit, pasti sakit, kan?"
"Benar
juga. Tidak sakit, sih. Rasanya seperti gigitan manja yang dilakukan anjing
pada pemiliknya."
"Begitu
ya. Kalau begitu, mungkin tadi tidak sengaja bersentuhan."
"……Kalau
begitu, tidak apa-apa…… aah!"
Saat aku sedang
bicara, lidahnya kembali menyentuh telingaku, tapi mungkin itu tidak masalah.
Setelah kami
melanjutkannya, lidahnya berulang kali menjilat dan menggigit kecil telingaku
secara berkala, membuatku terus menggeliat.
Kesadaranku
perlahan meleleh.
"Ketua,
wajahmu jadi terlihat lebih segar. Padahal di kereta tadi pucat sekali. Kamu
suka sama Hayasaka-san, kan? Kamu kecewa karena dia pergi, kan? Sekarang sudah
semangat lagi?"
"Bukan,
lebih tepatnya──"
Tanpa kusadari,
posisi tubuhku sudah merosot jatuh di sofa.
Tachibana-san
menindihku di sana.
"Ini,
itu……"
"Kita cuma sedang main game, kok. Kamu tidak
suka?"
Tachibana-san adalah orang dengan kepekaan yang sangat
tajam.
Dan, berlawanan dengan penampilan luarnya yang dingin, dia
ternyata memiliki jiwa pelayanan yang tinggi.
Sejak tahu bahwa aku menyukai lagu Sigh (Tameiki)
dari daftar putar lagu, setiap kali dia berlatih piano di ruang musik sebelah,
dia pasti selalu menyelipkan lagu itu di sela-sela latihannya.
Kurasa, Tachibana-san benar-benar memahami segalanya.
Bahwa aku merasa terpuruk karena Hayasaka-san pergi menemui
Yanagi-senpai, bahwa aku ingin menyentuh Tachibana-san untuk mengisi kekosongan
itu, dan bahwa aku memiliki niat yang licik—dia tahu semuanya, dan tetap
melakukannya untukku.
Biasanya,
orang tidak akan melakukan hal seperti ini. Jangan-jangan, dia……
Bukankah dia
suka padaku?
Aku
berpikir begitu. Aku ingin bertanya. Tapi, sebagai gantinya, aku menjawab.
"……Aku
tidak membencinya."
"Kalau
begitu, lanjut lagi."
Aku
membiarkan diriku dimanjakan oleh Tachibana-san. Aku berdalih pada panasnya
musim panas yang membuat kepalaku pening.
"Karena
aku ingin menjaga ritmenya, mulai sekarang biar aku yang memberi semua
pertanyaan. Ketua yang menjawab."
"Baik."
Tachibana-san
mencengkeram kepalaku dengan kedua tangannya, lalu mulai menjilat telingaku
dengan cara yang cukup berani. Dia tidak hanya menelusuri bagian luarnya.
Dia
menjilat mengikuti garis-garis rumit di dalam telingaku, memasukkan lidahnya ke
celah-celah, menghisap daun telingaku, dan menggigitnya dengan lembut. Suara
dari dalam mulut Tachibana-san masuk langsung ke telingaku.
Bagian dalam
kepalaku terasa kesemutan.
Aku pasrah dan
membiarkan telingaku "dijajah" olehnya. Sesekali Tachibana-san
bertanya, dan aku menjawab.
"Ashura Girl."
"Maijo Otaru."
"Disco Tantei Suiyoubi."
"Maijo
Otaru."
Tachibana-san,
kamu suka sekali sama Maijo Otaru ya.
Aku sempat
berpikir begitu, tapi kuis yang terasa seperti alasan itu sama sekali tidak
masuk ke telingaku.
Hanya suara air
liur Tachibana-san dan napasnya yang berat yang memenuhi pendengaranku. Waktu
seolah berhenti di sana.
"School Attack Syndrome."
"Maijo Otaru."
"Kemuri ka
Tsuchi ka Tabemono."
"Maijo
Otaru."
Aku sudah tidak
waras lagi. Aku memejamkan mata, menikmati sentuhan lidah dan bibir
Tachibana-san melalui telingaku. Aku meleleh.
Tachibana-san pun
juga bergairah. Itu tersampaikan dari napasnya yang tidak beraturan.
Tapi
Tachibana-san seharusnya sadar. Aku juga seorang pria, dan jika diperlakukan
seperti ini, aku juga akan bergairah dan ingin melakukan berbagai hal padanya.
Sebagaimana
Tachibana-san senang melihatku menggeliat, aku juga ingin melakukan sesuatu
pada Tachibana-san, ingin memojokkannya.
Maka, aku
mengerahkan sisa kekuatanku untuk membalas.
Aku mengangkat
leherku, lalu memasukkan lidahku ke telinga Tachibana-san. Aku menggerakkannya
sedikit kasar.
"Hyaamyii!"
Hanya dengan satu
serangan, Tachibana-san mengeluarkan suara tanpa kata, tubuhnya bergetar hebat,
lalu dia ambruk di atasku.
Dia kuat saat
menyerang, tapi sangat lemah saat bertahan. Begitulah dia.
Sebagai penutup,
aku berbisik di telinganya.
"Suka suka
sangat suka, cinta sekali."
Seketika,
Tachibana-san mengangkat wajahnya dengan terkejut.
"Eh, anu,
Ketua, itu maksudnya……?"
Dia tampak sangat
bingung.
Berlawanan dengan
penampilannya yang dewasa, hatinya masih "anak baru" dalam hal
percintaan.
Aku tidak
menyatakan cinta. Aku hanya memberikan pertanyaan. Aku pun menyebutkan subjudul
dari karya tersebut.
"Love Love Love You I Love You!"
Tachibana-san akhirnya sadar itu adalah kuis, wajahnya
memerah padam, dan dia menjawab.
"Maijo—!"
Dia mencoba
menegakkan tubuh, tapi karena tenaganya hilang, dia kembali lunglai.
"—Otarou!"
Tachibana-san benar-benar lemas tak berdaya.
Di situlah kami tersadar kembali, dan permainan pun
berakhir.
Setelah tenang, kami membereskan barang-barang untuk pulang
tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Apa yang baru
saja kami lakukan? Itu mungkin hanya mimpi di siang bolong.
"Aku jadi
sedikit paham kenapa lampiran buku catatan cinta itu dianggap buku
terlarang."
"Benar.
Mungkin ini bukan sesuatu yang bisa dicoba dengan enteng."
Tachibana-san
juga kembali ke sikapnya yang biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun, sensasi
itu masih membekas di telingaku.
"Lagipula."
Setelah sampai di
titik ini, aku pun harus mengatakannya.
"Hal seperti
ini seharusnya tidak dilakukan oleh gadis yang sudah punya pacar."
Akhirnya, aku menyinggung soal pacarnya.
Namun, jawaban
yang kuterima sangat tidak terduga.
"Kenapa?"
"Eh?"
"Kenapa
kalau sudah punya pacar, aku tidak boleh melakukannya?"
Tachibana-san
bertanya balik dengan sangat polos, membuatku jadi bingung sendiri.
"Ya, hal
seperti itu kan tidak akan disetujui, dan tidak dibenarkan, kan?"
"Siapa yang
tidak menyetujui? Siapa yang tidak membenarkan?"
"Masyarakat,
atau semacamnya."
"Siapa itu
masyarakat?"
Nada suaranya
seolah siap mendatangi "siapa pun" itu dan menuntut penjelasan jika
aku menyebutkan sebuah nama.
"Apa aku
perlu izin atau persetujuan orang lain untuk melakukan sesuatu dengan
Ketua?"
"Memang
tidak perlu, sih."
Sambil berkata
begitu, aku menemukan jawaban yang paling masuk akal.
"Kasihan pacar Tachibana-san nanti."
"Dia bukan
pacarku."
Tanpa jeda,
Tachibana-san menimpali.
Mendengar
itu, aku sempat berharap. Jawaban terbaik bahwa ternyata mereka tidak
berpacaran.
Namun, kenyataan
sangatlah kejam.
"Tunanganku."
Ucap
Tachibana-san. Bukan pacar, melainkan tunangan.
Katanya, mereka
akan menikah setelah lulus SMA.



Post a Comment