NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Watashi Ni-banme no Kanojo de Ii kara Volume 2 chapter 6.5

Chapter 13.5

Ujian Bakat Sakai Fumi


Ini adalah jam istirahat setelah pelajaran ketiga berakhir.

"Lagi baca apa?"

Saat aku menyapa, Hayasaka Akane buru-buru menyembunyikan buku yang sedang dibacanya ke bawah meja.

"A-Ah, Aya-chan. Bukan apa-apa kok, cuma manga biasa."

"Oh, ya sudah."

Mungkin dia pikir dia berhasil mengelabuhiku, tapi buku yang dibaca Akane adalah manga shoujo yang lumayan ekstrem.

"Habis ini olahraga, ayo cepat ke ruang ganti."

"O-Oke, ayo."

Di ruang ganti, Akane melepas pakaiannya. Pakaian dalamnya terasa sangat dewasa.

Itu adalah pakaian dalam yang dipilih dengan kesadaran bahwa akan ada orang lain yang melihatnya. Dia pasti sedang memikirkan hal-hal yang biasa dilakukan oleh pasangan kekasih.

Ya ampun. Sebagai teman, biar aku saja yang memeriksa kualifikasi Akane sebelum si kacamata Kirishima itu melakukannya. Sambil berpikir begitu, aku melangkah keluar menuju lapangan.

"Akane-chan, ayo pemanasan bareng."

"Un, oke."

"Kalau begitu, mulai dari sendi panggul ya. Buka kakimu, lalu berbaring telentang."

"Telentang!?"

Aku membaringkan Akane di tanah, lalu memegang kedua paha bagian dalamnya dan menekannya hingga terbuka lebar ke arah tubuhnya.

Ternyata tidak hanya paha, sendi panggulnya pun lentur, kakinya bisa terbuka dengan sangat sempurna.

"Aya-chan, ini…… entah kenapa memalukan sekali……"

"Aku cuma melakukan peregangan, kan?"

"I-Iya juga, sih……"

Karena Akane menganggapku sebagai gadis yang membosankan dan tidak tahu menahu soal hal-hal seperti itu, sepertinya dia tidak menyadari kalau aku sengaja membuatnya melakukan pose ini dengan mengasumsikan hal-hal yang dilakukan pasangan kekasih.

Aku pun terbawa suasana dan mencoba menyisipkan tubuhku di antara kaki Akane, lalu menindihnya.

"Eh, Aya-chan, ini……"

"Kalau ditambah berat badan, efeknya jadi lebih bagus."

"Tidak boleh…… entah kenapa, ini…… rasanya aneh……"

Tubuh Akane terasa lembap, lembut, dan bahkan saat berbaring telentang pun, lekuk dadanya masih terlihat jelas.

Pasti pria mana pun tidak akan tahan melihat ini, pikirku.

Kesenjangan antara wajahnya yang kekanakan dengan daya pikat seksualnya sangat luar biasa.

Kalau sampai mereka benar-benar "melakukannya"…… pria itu pasti akan tergila-gila dengan tubuh ini.

"Maaf-maaf, entah kenapa situasinya jadi sedikit nakal, ya."

"Eh, Aya-chan, e-ehh!?"

"Kamu pasti sudah membayangkan hal-hal yang aneh, kan?"

"Bukan, bukan begitu maksudku!"

Akane bangkit dari posisi berbaring, lalu duduk bersimpuh dan menyembunyikan wajahnya di balik lutut.

Namun, tak lama kemudian dia mengangkat wajahnya yang memerah dan menatapku dengan ekspresi merajuk.

"Entah kenapa, aku kaget. Ternyata Aya-chan bisa bicara hal seperti itu."

"Aku cuma punya ilmunya saja."

Padahal itu bohong.

"Tapi, Akane-chan, apa kamu memang ingin melakukan hal itu?"

Saat aku bertanya langsung, Akane mengeluarkan suara aneh, "Duehh!"

"Mana mungkin! Kamu kan tahu sendiri aku payah dalam hal seperti itu?"

"Kalau lawan bicaranya pria sembarangan mungkin iya. Tapi bagaimana kalau orang yang kamu sukai?"

"Itu……"

Setelah kakinya gelisah tidak karuan, Akane bergumam, "Mungkin mau……"

Syukurlah, Kirishima. Lawannya pasti kamu, tidak diragukan lagi.

"Kalau melakukannya, menurutmu akan jadi seperti apa?"

"I-Itu mana aku tahu."

"Coba bayangkan."

Saat aku mendesaknya, kepala Akane mulai mengeluarkan uap.

Dia cukup jujur karena mau membayangkannya dengan serius saat diminta, atau mungkin dia memang mudah sekali dipengaruhi.

"Bagaimana?"

"Bagaimana apanya…… menurutku, aku akan sangat mencintainya. Kalau kita melepas pakaian, kulit bertemu kulit, dan merasakan dia dengan seluruh tubuhku, aku pasti akan mencintainya sampai rasanya hampir hancur……"

"Bukan cuma kulit, tapi kamu juga bisa merasakannya dari dalam, kan?"

"D-Dalam!?"

Akane terkejut dan tubuhnya sedikit tersentak. Namun, dia segera melamun, matanya perlahan tampak sayu.

"Kalau aku menerima orang yang kusukai—Kirishima-ku—sampai ke bagian terdalam, aku pasti tidak akan bisa melepaskannya lagi. Aku pasti berpikir ingin terus seperti itu selamanya, ingin terus menempel padanya."

Akane memasang wajah yang penuh dengan ekstasi.

"Tapi, bagaimana kalau Kirishima ternyata melakukan hal itu duluan dengan Tachibana-sa—, maksudku, dengan gadis lain selain Akane?"

"Eh, mana mungkin……"

Sepertinya dia juga membayangkannya, ekspresi Akane perlahan menjadi suram dalam sekejap.

"Tidak boleh…… itu tidak boleh…… sama sekali tidak boleh……"

"Hei, Akane──"

Air mata mulai menggenang di mata Akane dengan cepat.

"Maaf, aku bicara hal aneh ya. Itu cuma kemungkinan saja, jadi pasti tidak apa-apa kok. Yah, mungkin sih……"

Meskipun aku berkata begitu, Akane sudah tidak mendengarkan lagi.

Dengan wajah yang hampir menangis, dia terus bergumam.

"Harus melakukannya sebelum Tachibana-san…… kalau tidak, Kirishima-kun…… akan direbut…… Kirishima-kun……"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close