NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Watashi Ni-banme no Kanojo de Ii kara Volume 2 Chapter 7

Chapter 14

Aib Seorang Wanita


Situasi terasa tidak kunjung membaik.

Hayasaka-san justru malah semakin kencang melangkah ke arah yang tidak sehat, sementara aku sama sekali tidak bisa bicara dengan Yanagi-senpai. Sebagian karena aku terus menghindar sebab merasa canggung saat harus bertatap muka.

Dan, jangan lupakan satu gadis lainnya.

Ini terjadi di bekas ruang musik saat jam istirahat siang.

"Hayasaka-san itu, bukan cuma sekadar 'pacar latihan' lagi, tapi sudah seperti pacar sungguhan, ya," ucap Tachibana-san.

Kami sedang duduk berdampingan di bangku piano.

"Setelah ini kamu mau makan siang bareng Hayasaka-san lagi, kan?"

"Begitulah……"

"Tidak usah memasang wajah seperti itu. Aku sendiri tidak masalah, kok."

Sejak aku bilang "Tidak apa-apa kalau kamu jadi gadis yang 'berat'", aksi Hayasaka-san sebagai pacar semakin menjadi-jadi.

Dulu, saat makan siang, kami selalu menuju ruang klub secara terpisah. Namun belakangan ini, dia datang menjemputku sampai ke depan kelas. Jika berpapasan di lorong, dia akan melambai dengan akrab, dan saat mengobrol di sekolah, dia sering menarik lengan bajuku tanpa peduli pandangan orang lain. Dia sama sekali tidak berniat menyembunyikan hubungan kami.

Bahkan saat jam olahraga, dia bersorak dengan suara nyaring, "Kirishima-kun, semangat!", sampai-sampai Maki kebingungan dan bertanya, "Sejak kapan kamu jadi idol?"

Dibandingkan dengan itu, Tachibana-san jauh lebih tenang.

Sejak kejadian kami terlihat bergandengan tangan oleh Yanagi-senpai, kami hanya bisa mengobrol sedikit di bekas ruang musik agar tidak ketahuan siapa pun. Meski begitu, Tachibana-san tetap terlihat tenang.

"Tachibana-san, kamu sama sekali tidak cemburu, ya."

"Begitu, ya. Aku tidak terlalu tertarik pada orang lain. Lagipula, aku juga samar-samar tahu kalau Hayasaka-san itu sebenarnya bukan 'pacar latihan' biasa, tapi aku merasa tidak perlu mencari tahu lebih dalam."

Mungkin aku memang masih anak-anak, ujar Tachibana-san.

"Banyak hal tentang cinta yang tidak aku pahami. Seperti kenapa kamu punya dua rasa suka, untukku dan untuk Hayasaka-san, itu rasanya tidak masuk akal bagiku. Karena di dalam diriku, sedalam apa pun kucari, hanya ada satu rasa suka."

Namun, meskipun dia bilang tidak paham──.

"Tapi kamu tetap membantu hubungan cinta orang lain, ya."

"Maksudmu?"

Tachibana-san membuang muka. Dia terlihat seperti anak kecil yang tertangkap basah sedang berbuat nakal.

"Aku sudah bicara dengan Yoshimi-kun."

"……Begitu."

Hamanami menyukai teman masa kecilnya, Yoshimi-kun. Namun, Yoshimi-kun tergila-gila pada Tachibana-san dan sama sekali tidak melirik Hamanami. Begitulah yang dikatakan Hamanami. Faktanya, Yoshimi-kun memang mengejar-ngejar Tachibana-san dan terlihat senang saat diberi tahu kontak Tachibana-san.

Namun, kesan yang kudapat setelah bertemu langsung dengan Yoshimi-kun ternyata berbeda.

Yoshimi-kun sebenarnya menyukai Hamanami. Dan menurut dia, Hamanami selalu bersama Kirishima-senpai—panitia festival budaya yang sama dengannya—dan tidak pernah meliriknya.

Kenapa kesalahpahaman ini terjadi? Mungkin karena──.

"Tachibana-san menerima curhatan dari Yoshimi-kun. Mungkin, bahkan sebelum Hamanami curhat padaku."

Dan──.

"Kamu menggunakan Snob Effect, kan?"

Efek psikologis di mana seseorang menjadi ingin mengejar apa yang lari menjauh.

Aku mempelajari hal ini dari buku catatan percintaanku, dan tidak aneh jika Tachibana-san juga membacanya.

"Hamanami benar-benar masuk ke dalam rencana Tachibana-san."

"Yah, begitulah kira-kira," ujar Tachibana-san.

"Awalnya, Yoshimi-kun yang lebih dulu suka pada Hamanami-san, tapi Hamanami-san sama sekali tidak menyadarinya."

"Begitu ya?"

"Dia pikir Yoshimi-kun cuma teman masa kecil biasa, bukan objek asmara. Jadi, Yoshimi-kun pura-pura punya gadis lain yang dia sukai untuk melihat reaksi Hamanami-san. Dia memilihku mungkin karena asal pilih saja."

"Masuk akal."

Mungkin Yoshimi-kun tidak asal memilih Tachibana-san. Saat dia bersandiwara punya gadis lain yang disukai, jika orangnya terlalu realistis, Hamanami akan menjauh. Jadi, dia memilih gadis yang terasa tidak nyata dan tidak mungkin mau dengannya.

"Saat Yoshimi-kun mengajakku bicara, aku langsung sadar. Anak laki-laki ini sama sekali tidak menyukaiku. Setelah mendengar alasannya, aku memutuskan untuk membantunya."

"Jadi karena itu kamu memberi tahu kontaknya?"

"Kamu khawatir?"

"Apa yang kamu bicarakan?"

"Tidak apa-apa. Aku kan miliknya Shiro-kun."

Sambil berkata begitu, dia melepas plester di leherku. Bekas ciuman yang diberikan saat kami bermain game "tidak boleh menggunakan tangan" masih tersisa di sana.

"Sudah agak pudar, ya."

Tachibana-san mencium leherku. Setelah beberapa saat, dia menempelkan kembali plesternya.

"Daya rekatnya sudah lemah."

"Hati-hati, jangan sampai lepas."

Sensasi bibir Tachibana-san yang tersisa di leherku terasa agak geli. Lantas, aku melanjutkan pembicaraan.

"Tachibana-san memberi saran agar Yoshimi-kun mengejar dirinya sendiri. Mengincar Snob Effect agar dia dikejar."

"Benar. Hasilnya, Hamanami-san berhasil terpancing. Manis, ya? Dia baru sadar kalau laki-laki yang dia pikir teman masa kecil biasa, ternyata adalah laki-laki yang sangat dia sukai."

Hamanami tidak tahu kalau itu sandiwara, jadi demi menarik perhatian Yoshimi-kun, dia menggunakan Halo Effect bahwa aku menyukainya.

Yoshimi-kun merasa tidak tenang. Itulah kenapa akhirnya dia mengajakku bicara.

Mereka berdua melakukan trik masing-masing, dan hasilnya justru malah saling salah paham dengan indah.

"Keduanya sama-sama canggung," ujar Tachibana-san.

"Mereka tidak bisa menyampaikan perasaan dengan jujur."

"Mau kubantu bilang kalau mereka saling mencintai?"

"Mari kita buat lebih dramatis saja."

Sepertinya Tachibana-san punya rencana. Jika gadis ini sudah bilang akan melakukan sesuatu, dia pasti akan benar-benar melakukannya.

"Kamu antusias sekali mendukung cinta mereka."

"Dulu saat masih kecil, Hamanami-san berjanji ingin menjadi istri Yoshimi-kun. Yoshimi-kun masih menjaga janji itu sampai sekarang. Kupikir akan sangat indah jika mereka bisa bersatu."

Aku dan Tachibana-san juga bertemu saat masih kecil. Sambil menatap profil sampingnya yang dingin, aku memikirkan hal itu. Tachibana-san seolah menyadari pikiranku dan berkata:

"Aku tidak masalah, kok."

Memang benar Tachibana-san adalah gadis yang keren. Dia tidak membandingkan diri dengan orang lain dan tidak gampang cemburu. Tapi bukankah Tachibana-san juga ada bagian yang tidak bisa jujur? Aku ingin tahu tentang itu.

"Hei, Tachibana-san."

"Apa?"

"Belakangan ini, adikku tidak lagi membuatkanku bekal."

Karena itulah aku jadi membeli roti di kantin, dan karena itulah, Hayasaka-san jadi membuatkanku bekal setiap hari.

"Lalu kenapa?"

"Adikku berhenti membuatkannya setelah Tachibana-san datang ke rumahku."

"Oh ya?"

Tachibana-san pernah bertukar kontak dengan adikku.

"Mungkin ini cuma perasaanku saja, tapi mungkinkah Tachibana-san yang bilang ke adikku kalau kamu yang akan membuatnya?"

Saat aku bertanya, Tachibana-san membuang muka lagi.

"Shiro-kun, kamu terlalu banyak berharap padaku."

"Begitu ya. Jadi semuanya cuma salah pahamku saja."

"Betul. Jika kamu berkhayal kalau aku berniat membuatkan bekal untuk Shiro-kun, tapi saat kucoba ternyata isinya makanan beku semua lalu aku jadi malu dan tidak sanggup memberikannya, dan di saat yang sama Hayasaka-san malah membuatkan bekal sehingga aku jadi tidak bisa bilang apa-apa, maka itu namanya kamu terlalu percaya diri."

Tachibana-san bicara lebih banyak dari biasanya, wajahnya memerah sampai ke leher.

"Ngomong-ngomong Tachibana-san, sebenarnya hari ini Hayasaka-san tidak sekolah, jadi aku tidak punya bekal."

"Oh ya?"

"Ditambah lagi, aku lupa bawa dompet, jadi tidak bisa beli roti di kantin."

"Begitu."

"Aku benar-benar kesulitan karena tidak ada yang bisa kumakan."

"Aku tidak suka kalau pikiranku dibaca oleh orang lain."

Tachibana-san tampak kesal.

Namun──, lanjutnya dengan enggan.

"Kebetulan sekali, aku membawa bekal lebih…… Hanya untuk hari ini, secara kebetulan."

Sambil berkata begitu, Tachibana-san mengeluarkan dua kotak bekal dari tas yang diletakkannya di atas meja.

"Aku tidak begitu jago masak. Aku tidak butuh komentar apa pun. Makan saja dalam diam."

Karena dia bicara begitu, aku pun memakannya tanpa berkata apa-apa.

Setelah selesai makan, aku iseng menyentuh tuts piano.

Aku mencoba memainkan satu frasa lagu Für Elise yang kupelajari saat SD hanya dengan tangan kanan.

Tentu saja hasilnya jelek dan terbata-bata.

"Caranya seperti ini."

Tachibana-san mengajariku lanjutannya.

Saat kugerakkan jari sesuai arahannya, Tachibana-san memainkan bagian tangan kiri mengikuti permainan tanganku yang lambat.

Tachibana-san sudah kembali ke pembawaannya yang tenang seperti biasa.

Sambil menatap profil sampingnya, aku berpikir.

Mungkin, Tachibana-san sudah membuatkan bekal untukku setiap hari, tapi tidak pernah memberikannya. Dia hanya menyimpannya di dalam tas dan pulang sambil melirikku dan Hayasaka-san yang masuk ke ruang klub bersama.

Dan, apakah yang disimpan Tachibana-san hanya bekal itu saja?

Apakah dia juga tidak menyembunyikan perasaan yang lebih penting di lubuk hatinya tanpa memberitahuku?

Saat aku memikirkan hal itu, Tachibana-san lagi-lagi membaca pikiranku.

"Mulai besok aku tidak akan membuatnya lagi. Cukup hari ini saja."

Tachibana-san adalah gadis keren yang bisa menahan perasaannya dengan baik.

Aku ingin tahu isi hati Tachibana-san yang terdalam. Tapi aku juga merasa mungkin lebih baik jika tidak tahu. Pada akhirnya, kami hanya terus menekan tuts piano bersama-sama.

"Jadi, bagaimana rencanamu?" tanya Maki.

Setelah pulang sekolah, di perjalanan pulang.

"Bagaimana cara mengakhiri hubungan Hayasaka, Tachibana, dan Yanagi-senpai?"

Karena Maki terus mendesak, akhirnya aku menceritakan semuanya.

Dan mengenai bagaimana menghadapi hubungan yang rumit ini, aku sudah punya jawabannya.

"Hubunganku dengan Tachibana-san akan terus berlanjut seperti ini. Tanpa ketahuan siapa pun. Setelah lulus SMA, kita akan putus. Tachibana-san akan menikah dengan Yanagi-senpai, dan aku akan menjadi pacar resmi Hayasaka-san."

"Strategi keluar yang luar biasa. Itu namanya melegalkan selingkuh dalam durasi terbatas, kan?"

"Tapi dengan begini, tidak ada yang akan terluka."

Aku tahu itu salah secara norma sosial. Tapi kenyataan bukanlah buku teks moral. Kompromi setelah memikirkan perasaan masing-masing memang seperti ini adanya.

"Yah, kalau kau dan Tachibana memaksakan diri, semua orang di sekitar kalian akan menderita," ujar Maki.

"Meskipun kalau ketahuan nanti bakal jadi neraka. Hayasaka pasti akan hancur, dan senpai juga…… meski ada cara yang lebih aman……"

Itu adalah 'Rencana Hayasaka', di mana Hayasaka-san berhasil memikat Yanagi-senpai, dan aku serta Tachibana-san yang 'tersisa' akan bersatu.

"Yah, cara itu mustahil. Tidak mungkin Yanagi-senpai bisa pindah ke lain hati. Itu sama saja seperti pahlawan komik Amerika yang jadi jahat. Eh, mungkin saja terjadi?"

"Jangan bicara yang tidak-tidak."

"Terlepas dari itu," Maki melanjutkan. "Strategi 'menyembunyikan sampai akhir' itu terlalu bergantung pada Tachibana."

"Menurutmu begitu?"

"Tachibana mungkin bisa berakting dengan baik, tapi dia itu tipe 'nomor satu' sejati, kan? Gadis yang hanya punya bakat di posisi itu. Bisa jadi dia akan kehilangan kesabaran suatu saat nanti."

"Untuk itu, aku hanya bisa percaya pada Tachibana-san. Sejauh ini dia bilang tidak masalah tapi……"

"Bisa saja dia menyadari emosi baru, kan? Apalagi Tachibana baru sampai beberapa waktu lalu masih bertanya, 'Apa arti menyukai seseorang itu?'."

Aku tidak bisa membantah itu.

"Lagipula, bagaimana kalian akan melakukan hal layaknya pacaran? Tidak bisa pergi ke sekolah bareng, tidak bisa jalan berdua saat festival budaya."

"Untuk saat ini, dia akan datang ke rumahku hari ini."

Adikku yang mengundangnya.

Dia merasa jika kesempatan ini dilewatkan, kakaknya tidak akan pernah bisa punya pacar lagi, jadi dia merasa punya misi untuk menahan Tachibana-san. Di sisi lain, meski sayang kakak, dia juga sangat meremehkan kakaknya sendiri.

"Yah, kalau kencan di rumah mungkin tidak ketahuan."

Tapi, ujar Maki.

"Kalian benar-benar bermain di tepi jurang. Kalau ketahuan salah satu dari Hayasaka atau Yanagi-senpai, tamat. Kalau Tachibana merasa tidak puas, juga tamat. Tingkat kesulitannya terlalu tinggi."

Saat kami sedang membicarakan hal itu, seseorang memanggil dari belakang.

"Kirishima, Maki, ayo pulang bareng!"

Saat menoleh──.

Ada Yanagi-senpai.

Dia masih tersenyum ramah, dan aku yang merasa bersalah tidak sanggup menatapnya langsung.

"Ada apa, Kirishima?"

"Tidak…… tidak ada apa-apa…… lagipula Senpai terlihat senang sekali."

"Oh, aku baru dapat pesan dari adikmu."

Ternyata senpai juga bertukar kontak dengan adikku.

"Jadi, aku akan pergi ke rumah Kirishima sekarang."

"Eh? Sekarang? Kenapa?"

"Kamu akan datang, kan? Ada kecantikan luar biasa yang sedang mengunjungi Kirishima. Adikku bilang, 'Ayo ke sini, lihat! Dia cantik sekali! Ayo main bareng!'. Aku jadi penasaran gadis seperti apa dia."

Dia menatapku dengan senyum tanpa beban, Kirishima, kamu benar-benar beruntung, ya.

"Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya."

Aku, Maki, dan Yanagi-senpai berasal dari SMP yang sama, artinya rumah kami berdekatan. Karena kami pergi sekolah menggunakan kereta, stasiun terdekat kami pun sama. Karena kami bertetangga, adikku juga akrab dengan Yanagi-senpai.

Dan adikku itu telah melakukan hal yang sangat gila.

Jika begini terus, Senpai dan Tachibana-san akan bertemu di rumahku.

Adikku yang tidak tahu apa-apa pasti akan dengan senang hati memperkenalkan Tachibana-san kepada senpai.

—Hebat, kan! Tachibana-san ini pacar kakak! Padahal dia cantik sekali!

Saat itu terjadi, reaksi seperti apa yang akan diberikan senpai?

Di dalam kereta menuju stasiun lokal, sambil berpegangan pada tali gantungan, aku memutar otak sekuat tenaga.

Lakukan sesuatu, aku tidak mau terlibat dalam medan perang!

Maki mengirim isyarat lewat matanya.

Senpai tidak tahu perasaan kami dan terus bicara dengan riang.

"Ujian masuk sekolah membuatku merasa sesak, jadi aku senang bisa bicara dengan Kirishima. Oh ya, mumpung sedang begini, ayo main game di kamar Kirishima."

Permintaan yang sangat sulit untuk ditolak.

Cepat!

Aku tahu!

Sambil bertukar isyarat dengan Maki, aku bicara pada Senpai.

"Soal tamu itu, katanya ada urusan mendadak jadi tidak bisa datang──"

"Tadi aku dapat pesan dari adikmu. 'Tamunya sudah sampai. Yanagi-kun juga cepat ke sini! Cantik sekali sampai bikin kaget!'. Penasaran sekali."

Dia menatapku dengan senyum penuh harap.

Senpai, kalau tahu gadis seperti apa dia, senyum itu pasti akan hilang, batinku.

Atau lebih tepatnya, Tachibana-san sudah sampai di sana?

Kirim pesan ke Tachibana agar dia pulang! Maki memberi isyarat sambil menunjuk ponselnya.

Aku mengeluarkan ponselku. Layarnya gelap total. Aku mengangkatnya di depan Maki.

Baterainya habis karena kebanyakan main game.

Kirishima, kamu sengaja, ya?

Di tengah percakapan itu, kereta sampai di stasiun. Di peron, aku berkata:

"Senpai, bisakah Anda menunggu di suatu tempat untuk sementara?"

"Kenapa?"

"Tidak, aku hanya ingin pulang lebih dulu untuk merapikan kamar."

"Jangan malu-malu begitu."

Gawat, cara apa pun tidak akan mempan.

Sekarang, aku hanya bisa menghadapi medan perang itu.

Sambil pasrah, aku melangkah melewati gerbang tiket. Saat itulah.

"Hayasaka-san?"

Di luar gerbang, Hayasaka-san berdiri dengan pakaian santai. Mengenakan jaket militer kebesaran, celana pendek, tights hitam, dan syal di lehernya.

Hayasaka-san melihatku dan melambai kecil.

"Syukurlah, akhirnya ketemu Kirishima-kun."

"Kenapa kamu di sini? Lagipula, Hayasaka-san, bukankah hari ini kamu izin sekolah?"

"Un, aku ingin beli sesuatu."

Dia menyembunyikan kantong plastik yang dibawanya ke belakang dengan malu-malu.

"Di hari kerja? Sampai izin sekolah?"

"Un. Aku ingin membelinya saat tidak banyak orang……"

Apakah itu camilan edisi terbatas? Aku melihat kantong kertas cokelat di dalam plastik tersebut.

"Jadi begitu, aku hanya ingin mengobrol denganmu. Aku sempat coba menghubungimu, tapi pesannya tidak terbaca…… aku sempat berpikir untuk pulang saja, tapi kupikir kalau menunggu mungkin bisa ketemu……"

"Maaf, baterai ponselku habis."

"Un, aku sudah menduganya. Kirishima-kun tidak mungkin mengabaikanku, tidak mungkin mengacuhkanku, tidak mungkin melakukan hal jahat padaku."

"A, ah……"

Rumah Hayasaka-san dan rumahku berada di sisi barat dan timur Tokyo. Aku pernah memberitahunya stasiun terdekatku, tapi dia tidak tahu letak rumahku, jadi artinya dia sudah berdiri di depan gerbang tiket ini sejak lama.

"Ah, ada Maki-kun…… dan Senpai juga! Maaf, aku tidak sadar!"

Hayasaka-san terkejut. Padahal tadi dia berdiri di sampingku sepanjang waktu, batinku.

"Jangan-jangan, kalian bertiga tadi mau main?"

"Kami tadinya mau main game di kamar Kirishima, tapi aku mau pergi ke pusat permainan bersama Maki saja."

Setelah berkata begitu, Senpai menepuk bahuku.

Dia berbisik agar kami bersenang-senang berdua saja.

"Tamu yang dibilang adikmu ternyata Hayasaka-chan, ya."

"Eh, anu…… itu……"

"Ternyata pilihan Kirishima adalah Hayasaka-chan. Kalau begitu bilang saja dari awal. Aku pikir tadi……"

Yanagi-senpai menggaruk kepalanya dengan bingung.

"Aku harus minta maaf pada Kirishima."

"Soal apa?"

"Aku sempat mencurigaimu, atau apa ya, lupakan saja…… aku mungkin kelelahan karena ujian masuk."

Mungkin dia membicarakan soal kejadian saat dia melihatku bergandengan tangan dengan Tachibana-san.

"Kirishima, maaf ya. Untuk hari ini aku pergi duluan bersama Maki!"

Sampai jumpa, ucapnya sambil pergi dengan Maki dengan riang.

Kini hanya ada aku dan Hayasaka-san berdua.

"Kalau mau mengobrol, bagaimana kalau di kedai burger itu? Baru buka, katanya rasanya otentik."

Hayasaka-san mengangguk, "Un."

Ini sudah cukup. Meskipun aku terkejut Hayasaka-san sampai datang ke stasiun sejauh ini, setidaknya itu menyelamatkanku. Aku memang harus membuat Tachibana-san menunggu, tapi karena ada adikku, kurasa akan baik-baik saja.

Kami masuk ke kedai burger dan memesan. Tak lama kemudian, burger raksasa bergaya Amerika yang otentik disajikan di meja.

Hayasaka-san memegang burgernya, berpikir sejenak, lalu berkata, "Oh iya, sekarang aku tidak perlu meniru Tachibana-san lagi," lalu mulai memakannya perlahan dengan mulut kecil.

"Kirishima-kun, tahu tidak? Cara Tachibana-san memakan burger."

"Tidak, aku tidak tahu."

"Waktu itu, aku pergi bersama Tachibana-san ke Yokosuka."

Saat hari libur, mereka pergi ke pelabuhan untuk melihat kapal induk.

"Tunggu sebentar, itu hobi siapa?"

"Aku, lah. Memangnya aku belum bilang? Aku selalu menonton video tentang misil yang meledak atau senapan mesin yang ditembakkan."

Tolong jangan ungkap hobi ekstrem seperti itu di saat begini, batinku.

"Karena di Yokosuka ada pangkalan militer AS, jadi banyak kedai burger otentik seperti ini, kan?"

"Itu memang terkenal."

Sepertinya mereka berdua pergi ke kedai tersebut.

"Saat burgernya yang tinggi datang, aku penasaran apa yang akan dilakukan Tachibana-san. Ternyata dia menekannya dengan kedua tangan sampai gepeng lalu memakannya. Lucu sekali, ya."

Sepertinya Tachibana-san adalah tipe yang memakan burger dengan cara menghancurkannya.

"Aku suka mendengar cerita saat Hayasaka-san dan Tachibana-san akur."

Setelah itu kami terus mengobrol tentang hal-hal sepele. Tentang acara TV yang kutonton kemarin, saluran video menarik yang baru kulihat, dan saat kami membayar di kasir untuk pulang, kejadian itu pun terjadi.

"Kirishima-kun, itu apa?" tanya Hayasaka-san sambil menatap leherku.

Tanpa sadar, plesternya sudah lepas. Daya rekatnya memang lemah karena sempat dilepas oleh Tachibana-san sebelumnya. Tentu saja, bekas ciuman itu kini terlihat jelas.

"Eh, anu, ini karena gigitan nyamuk, atau semacam itulah……"

"…………Hei, bolehkah aku pergi ke rumah Kirishima-kun sekarang?"

"Eh? Tidak, hari ini aku ada urusan yang……"

"Tadi bukannya mau main game bersama Yanagi-kun dan yang lainnya di rumah? Jadi, tidak apa-apa, kan?"

"Rumahku belum rapi untuk menerima kedatangan seorang gadis……"

"Aku akan pergi ke rumah Kirishima-kun sekarang."

Hayasaka-san tersenyum manis.

"Eh, anu……"

"Kalau tidak, aku rasa aku akan menangis di sini. Aku rasa aku akan menjadi gelap lagi, aku akan hancur."

"A, un. Baiklah, ayo."

Hanya itu yang bisa kukatakan.

Aku meletakkan tanganku di gagang pintu depan.

Ponselku mati, jadi aku tidak bisa memberi kabar apa pun.

Setidaknya, aku berhasil menghindari Yanagi-senpai datang ke rumah. Tapi, jika dibiarkan begini, Hayasaka-san pasti akan bertemu dengan Tachibana-san. Di kamarku──.

"Kenapa? Kamu tidak masuk?"

Sudah tidak ada pilihan lain selain pasrah.

Dengan perasaan itu, mau tidak mau aku membuka pintu. Namun──.

Di pintu masuk, tidak ada sepatu loafers milik Tachibana-san.

Mungkin karena kami terlalu lama berada di kedai burger, dia akhirnya memutuskan untuk pulang.

"Kakak, selamat datang~"

Adikku datang menyambut. Lalu, seketika wajahnya berubah bingung.

"Eh? Itu…… siapa?"

Sebelum aku sempat menjawab, Hayasaka-san berseru "Kawaii~!!" lalu berlari ke arah adikku dan memeluknya.

"Kirishima-kun, ternyata kamu punya adik perempuan!"

"Ya."

"Adikmu tidak mirip sama sekali, ya. Tidak seperti Kirishima-kun yang terlihat muram, dia justru terlihat sparkly khas gadis masa kini. Apa kalian benar-benar sedarah?"

Hayasaka-san, omonganmu barusan terasa menusuk, ya. Apa kamu sedang kesal padaku? Meskipun begitu, itu tidaklah aneh.

"Aku Hayasaka Akane," ucap Hayasaka-san pada adikku.

"Aku pacarnya kakakmu. Salam kenal ya!"

"Eh, de, de, deeeeh!?"

Sambil wajahnya terhimpit di dada Hayasaka-san, adikku menatap ke arahku dengan mata terbelalak. Namun, adikku yang cerdas itu sepertinya menyadari kalau ada sesuatu yang terjadi.

"Orang secantik ini pacarnya Kakak? I, ini di luar dugaan banget~!"

Entah karena dia paham situasi, adikku tiba-tiba bicara dengan suara melengking.

"A, aku sempat berpikir kalau nanti aku yang harus mengurus Kakak! Ma, masalahnya, aku pikir Kakak seumur hidup tidak akan bisa punya pacar! Syukurlah~!"

Adikku sayang, maaf sudah memaksamu berakting buruk.

Aku segera menggiring Hayasaka-san untuk menuju kamarku.

Aku bisa merasakan tatapan tajam dari adikku.

Nanti aku minta penjelasan yang detail, ya.

Tatapan matanya seolah bicara seperti itu.

"Ini pertama kalinya aku masuk ke kamar anak laki-laki!"

Begitu masuk, mata Hayasaka-san berbinar karena penasaran.

"Maaf ya, aku masuk ke kamar duluan sebelum Tachibana-san. Tapi karena aku pacarmu, tidak apa-apa, kan?"

"Ah, ya."

"Jadi di sini tempat Kirishima-kun biasanya belajar dan tidur, ya. Wah, keren sekali."

Hayasaka-san mengamati sekeliling kamar.

"Ehehe. Karena aku datang mendadak, aku tidak akan buka lemari atau mengintip ke bawah tempat tidur, kok."

"Aku andalkan padamu."

Sepertinya aku selamat. Aku akan menyusul memberi kabar pada Tachibana-san yang pulang lebih dulu.

Hayasaka-san tampak sangat senang karena bisa melakukan hal-hal layaknya seorang pacar.

Melihat album kelulusan, berkomentar tentang buku di rak, dia melakukan semua hal yang biasanya dilakukan seorang gadis saat berkunjung ke kamar pacarnya.

Di tengah-tengah itu, adikku membawakan teh dan camilan. Sepertinya Ibu belum pulang kerja.

Saat sedang mengobrol, entah sejak kapan Hayasaka-san sudah duduk berdampingan denganku di atas tempat tidur.

Suasananya terasa intim, yah, kurasa wajar jika suasana jadi seperti ini kalau seorang gadis berada di kamar pacarnya.

"Hei Kirishima-kun, yang ada di leher itu……"

"Ah, ini gigitan nyamuk."

"Nyamuknya jahat sekali, ya. Sampai membekas begitu."

"Yah, mungkin saja."

"Kalau begitu, biar aku sembuhkan, ya."

Hayasaka-san memelukku, lalu menempelkan bibirnya di leherku.

Awalnya, dia sempat kesulitan dan memiringkan kepalanya karena tidak pandai menghisap.

Tapi setelah menemukan caranya, dia mulai menghisap dengan kuat.

Kekuatannya terasa lebih kuat daripada Tachibana-san, rasanya ini sudah bukan hickey lagi, tapi benar-benar bekas memar.

"…………Hei, Kirishima-kun."

"Apa?"

"Tadi, aku sudah melakukan hampir semua hal yang biasa dilakukan gadis saat pertama kali ke kamar pacarnya, kan?"

"Sudah, ya."

"Tapi biasanya, kalau pacaran, kita melakukan lebih dari ini, kan?"

"Apa begitu?"

Aku mencoba pura-pura tidak tahu, tapi Hayasaka-san tidak semudah itu dibohongi.

Dia mulai menggesekkan tubuhnya ke tubuhku.

Pandanganku tidak sengaja tertuju pada paha mulusnya yang dibalut tights hitam, serta belahan dadanya yang menempel, seolah kancing kemejanya hendak terlepas.

"Tidak, tiba-tiba begini itu……"

"Kirishima-kun, ternyata kamu benar-benar baik ya, kamu menghargaiku."

Hayasaka-san berkata dengan penuh haru.

"Kamu selalu memikirkanku dengan baik. Makanya, kamu selalu bilang untuk berhenti di saat-saat terakhir, kan? Benar, kan? Meskipun kita masih SMA, kalau melakukan itu karena terbawa suasana, nantinya akan jadi berantakan. Aku juga berpikir begitu. Hal seperti ini, bukan sesuatu yang dilakukan secara mendadak, ya."




"Jadi, dengarkan ya, hari ini aku sudah bersiap-siap, lho," ujar Hayasaka-san.

Sambil berkata begitu, dia menyerahkan kantong plastik yang dibawanya saat di depan gerbang tiket tadi.

Kantong kertas cokelat di dalamnya, yang kukira isinya camilan, ternyata…… isinya adalah……

"Hayasaka-san, ini……"

Sangat tipis. 0,03 milimeter. Kondom.

"Dan lagi, aku sedang rutin mengecek suhu tubuhku."

"Suhu tubuh?"

Un, Hayasaka-san mengangguk. Berdasarkan siklus suhu tubuhku──.

"Hari ini adalah hari yang aman. Jadi, kalau Kirishima-kun ingin melakukannya, tidak pakai ini pun tidak apa-apa."

Hayasaka-san izin sekolah hari ini, rupanya untuk membeli barang ini di apotek saat tidak ada orang.

"Aku malu sekali, lho. Pegawainya laki-laki, dan……"

Sambil berkata begitu, Hayasaka-san memerah padam dan merebahkan diri di atas tempat tidur.

Posisinya benar-benar seolah berkata: Silakan lakukan apa pun yang kamu mau.

"Kirishima-kun, kalau terang begini aku malu……"

Seperti yang diminta, aku menutup gorden dan mematikan lampu.

Ini bukan sekolah, tapi kamarku.

Kondom pun sudah disiapkan, dan Hayasaka-san benar-benar sudah siap lahir batin.

"Menurutku, aku tidak kalah dari Tachibana-san dalam segala hal. Untuk urusan tubuh…… kurasa aku menang. Aku sering dengar anak laki-laki membicarakan hal itu…… dan semua orang selalu menatapku dengan tatapan seperti itu……"

Di sini dan saat ini, akan sangat sulit mencari alasan untuk tidak melakukan hal itu dengan Hayasaka-san.

"Hei Kirishima-kun, kamu menyukaiku, kan?"

"Tentu saja aku suka……"

"Kalau begitu, justru aneh kalau kita tidak melakukan hal seperti ini, kan……? Atau mungkin, aku tidak menarik?"

Aku teringat perkataan Sakai. Melakukan hal itu adalah bentuk afirmasi tertinggi kepada pasangan, dan aku ingin mengafirmasi Hayasaka-san.

"Hayasaka-san, kamu sangat menarik……"

"Kalau begitu…… lakukanlah…… jika Kirishima-kun menyukaiku…… dan jika kamu ingin melakukannya."

Hayasaka-san menutupi bibirnya dengan malu dan membuang muka.

Ekspresinya yang menggoda, pakaian yang berantakan, serta paha mulus yang terbalut celana pendek.

Pose yang seolah berkata: Silakan lakukan sesukamu.

Tanpa sadar, aku sudah menindih Hayasaka-san di atas tempat tidur dan berciuman dengannya.

Bibir Hayasaka-san yang lembap melingkupi lidahku. Seolah sudah menjadi hal wajar, dia menerimaku.

"Nng…… nnggh…… ahhh…… hah……"

Desahan terlepas dari sudut bibir Hayasaka-san.

Kami berpelukan, saling membelitkan lidah. Seiring berjalannya waktu, batas antara tubuh kami perlahan mengabur.

Karena aku menyukainya, aku ingin menumpahkan perasaan itu lebih dalam, ingin dia tahu, kami mencoba menumpuk dan menekan berbagai bagian tubuh kami.

Dada, pinggang, kami saling menempelkan diri sesuai keinginan──.

Tanganku terulur ke arah kancing blus Hayasaka-san yang tampak hampir meledak.

Aku melepasnya satu per satu. Bagian dada Hayasaka-san yang putih dan berisi pun tersingkap.

Pakaian dalamnya bermotif renda. Terlihat dewasa, seolah dia sedang memaksakan diri tampil lebih tua.

Namun, warnanya yang merah muda pucat dan manis benar-benar mencerminkan sosok Hayasaka-san.

"……Boleh kamu sentuh."

Mendengar itu, aku meletakkan tanganku di atas bra-nya. Di balik kain yang kaku itu, aku bisa merasakan keberadaan sesuatu yang sangat lembut.

"Kirishima-kun…… lebih…… sentuh lebih lagi…… lebih……"

Tanganku bergerak ke punggungnya. Pengaitnya terlepas.

Aku memasukkan tanganku ke dalam bra.

Payudara Hayasaka-san berubah bentuk seolah menghisap telapak tanganku.

Kelembutan yang sangat nyata.

Aku sedang bebas menyentuh tubuh Hayasaka-san, sosok yang pasti pernah dibayangkan oleh para laki-laki di kelas sekali saja seumur hidup.

"Lakukan sesukamu, Kirishima-kun. Karena ini kamu, aku tidak apa-apa. Aku ingin kamu melakukan sesukamu padaku."

Sambil berciuman, aku menyentuh dadanya.

Di telapak tanganku, ada tonjolan kecil. Bagian itu seketika mengeras dan berdiri.

"Kirishima-kun…… yaa…… itu, yaa…… bukan…… jangan berhenti…… lebih……"

Hayasaka-san merengek seperti balita, tubuhnya gemetar kecil.

Napasnya mulai memburu, pipinya mulai memerah.

Karena dia menjulurkan lidahnya seolah menginginkan sesuatu, aku pun menciumnya lagi.

Aku menyukai Hayasaka-san, ingin dia lebih mengenal perasaanku, ingin dia semakin bergairah, jadi kusentuh paha yang terbalut tights hitam itu. Tapi, tights ini pengganggu.

"Kirishima-kun…… tidak apa-apa…… benar-benar tidak apa-apa."

Hayasaka-san mendekapku dengan malu-malu. Aku menyentuh celana pendek denimnya.

Kesadaranku teralih ke balik kain yang keras itu, aku melepas kancingnya, lalu tanganku bergerak ke arah zipper.

"……Aku malu……"

Hayasaka-san menekan wajahnya ke dadaku.

Napasnya yang lembap terasa panas. Aku membuka bagian depan celana pendeknya dan menyelipkan tangan ke dalamnya.

Tepat saat itu──.

"Tidak, jangan, tunggu sebentar Kirishima-kun! Ini, bohong……"

Hayasaka-san dengan panik meraih tanganku dan mengeluarkannya dari celana pendek.

Ujung jariku terasa lembap dan sedikit berlendir.

Tentu saja, bahkan dari balik pakaian dalam dan tights, sudah terasa betapa panas dan basahnya bagian itu.

"Kirishima-kun, bukan begitu, ini…… kalau begini, aku jadi terlihat seperti gadis yang tidak tahu malu, aku tidak mau……"

Hayasaka-san menekan wajahnya ke bantal, suaranya terdengar seperti akan menangis.

"Aku malu…… sampai jadi begini…… aku bukan gadis yang seperti itu……"

"Aku senang, kok."

"Karena ini kamu, Kirishima-kun, makanya aku jadi begini. Karena ini kamu……"

Karena Hayasaka-san begitu malu, kami berdua pun menutupi kepala dengan selimut.

Di kegelapan, akhirnya Hayasaka-san bisa merilekskan tubuhnya.

Seolah mengulang kembali, kami berciuman, berpelukan, dan saling menyentuh.

Hawa panasnya sama sekali tidak mereda, kami pun semakin bergairah.

Saat selimut sudah dipenuhi hawa panas, Hayasaka-san mulai melepas kemejaku.

"Ini, rasanya sangat nyaman, aku merasa tenang……"

Hayasaka-san memelukku, sambil mengusap punggungku.

Kulit kami saling bersentuhan, aku bisa merasakan suhu tubuhnya.

Sangat hangat, seolah kami meleleh, seolah eksistensi kami bersatu secara langsung, benar-benar terasa sangat menenangkan. Bersentuhan kulit itu rasanya luar biasa.

"Hei Kirishima-kun…… boleh sentuh lagi……"

Saat kutanya "Boleh?", Hayasaka-san mengangguk dalam-dalam sambil menempelkan wajah ke dadaku.

Agar lebih mudah, di dalam selimut aku melepas celana pendek dan tights-nya, membiarkannya hanya memakai pakaian dalam.

Lalu, aku menyelipkan jari ke antara paha Hayasaka-san, membelai kain tipis pakaian dalamnya. Benar saja, bagian itu sudah panas dan basah.

Hanya dengan sentuhan kecil, kelembapannya terus bertambah, hingga tak lama kemudian, terdengar suara cipratan air meski terhalang kain.

"Tidak mau…… jangan buat aku malu…… jangan buat aku malu……"

Karena reaksi Hayasaka-san yang begitu menarik, aku pun ikut terbawa suasana dan menyentuhnya lebih dalam.

"Jangan, Kirishima-kun…… aku, aku jadi aneh……"

Sambil berkata begitu, Hayasaka-san mengangkat pinggulnya dan menekankan bagian itu ke jariku.

Sambil menggerakkan jari, aku menciumnya, menjilat lehernya, dan memasukkan lidah ke telinganya. H

ayasaka-san terus mengeluarkan suara erangan. Berapa lama kami melakukan itu? Tak lama kemudian, tubuh Hayasaka-san mulai menegang.

"Kirishima-kun…… Kirishima-kun…… Kirishima-kuun……!"

Pinggul Hayasaka-san terangkat, jari kakinya menegang.

"Kirishima-kun, suka, suka, suka, suka, suukaa…!"

Dengan erangan yang lebih tinggi dari sebelumnya, Hayasaka-san mengalami kejang tubuh dua atau tiga kali.

Dia mencengkeram sprei, napasnya tersengal-sengal. Aku ingin melihat sosok Hayasaka-san lebih jelas, jadi aku membuka selimutnya.

"Jangan…… jangan lihat……"

Tubuhnya yang terbaring di tempat tidur itu putih dan menggoda. Kulitnya berkeringat tipis.

Sehelai rambut terselip di bibirnya, penampilannya tampak berantakan.

Pakaian dalam yang tadinya merah muda pucat, kini telah berubah menjadi merah muda pekat. Sprei di sekitar sana basah kuyup oleh nafsu.

"Kirishima-kun, jangan……"

Aku mendekap Hayasaka-san yang berkata begitu, lalu menciumnya. Saat kuselidiki mulutnya dengan lidah, Hayasaka-san pun langsung tersulut, dia mendekapku erat dan menggesekkan pinggulnya padaku.

Aku benar-benar sudah mencapai puncaknya. Hayasaka-san pun,

"Ayo lakukan…… ayo lakukan apa yang dilakukan pacar……"

Ujarnya memohon dengan wajah yang meleleh karena gairah.

Aku melirik kondom yang ada di atas meja, lalu mencoba melepas sabukku.

Namun, tepat saat itu. Entah kenapa, kejadian hari ini terlintas di kepalaku.

Aku menjadi tenang, dan seolah kepingan puzzle yang terpasang, situasi saat ini mulai tersusun rapi.

Setelah sampai pada titik itu, aku tidak bisa lagi melanjutkannya sampai akhir.

"…………Cukup sampai di sini untuk hari ini."

Aku menarik diri.

"……Eh?"

Hayasaka-san tampak tidak mengerti apa yang terjadi.

"Kenapa? Kenapa? Kenapa kenapa?"

Dia tampak belum bisa menangkap perubahan situasi. Namun, saat dia sadar aku tidak berniat melanjutkan, air mata mulai menggenang di matanya.

"Kenapa…… kenapa, kamu tidak mau melakukannya? Apa aku tidak semenarik itu?"

"Bukan begitu."

"Aku memang hampir kalah dalam segala hal dari Tachibana-san, tapi kurasa untuk urusan tubuh, aku menang. Apa itu masih belum cukup? Apa yang kurang dariku? Aku akan melakukan apa saja? Atau, kamu tidak menyukaiku?"

"Aku suka."

"Kalau begitu, kenapa…… kenapa kamu tidak mau melakukannya?"

Tetap saja, aku tidak bisa melanjutkannya. Hayasaka-san terdiam cukup lama dalam keterkejutan. Lalu, dia berbisik pelan.

"…………Jahat kamu, Kirishima-kun."

Dia meringkuk di dalam selimut sambil menatap kosong ke udara.

"Kalau berhenti di sini…… aku benar-benar merasa seperti orang bodoh……"

"……Maaf."

"…………Aku mau pulang."

Hayasaka-san mengambil pakaiannya yang berantakan, lalu memakainya dengan ekspresi lesu.

Dia kecewa dan terluka.

Sebenarnya aku ingin memberitahunya.

Aku juga ingin melakukannya dengan Hayasaka-san, dan aku pasti akan melakukannya jika situasinya sudah tepat lain kali.

Tapi, aku tidak bisa mengatakannya sekarang.

"Aku menyukaimu, Hayasaka-san. Itu kenyataan."

"Aku sudah tidak bisa mempercayaimu lagi……"

"Apa yang harus kulakukan agar kamu percaya? Maksudku, selain melakukan hal itu……"

"Kalau begitu, katakanlah."

"Apa?"

"Katakan kalau kamu lebih menyukaiku daripada Tachibana-san."

Pertanyaan Hayasaka-san yang seolah mengujiku. Karena ingin menghiburnya sedikit saja, aku pun berkata:

"Aku menyukaimu, Hayasaka-san, lebih dari Tachibana-san."

Sesaat, wajah Hayasaka-san terlihat bercahaya. Namun──.

"Tetap saja tidak bisa…… karena ini memalukan. Sudah sampai sejauh ini tapi tidak dilakukan, gadis mana pun pasti akan terluka……"

"Aku pulang sekarang, tidak perlu diantar," ujar Hayasaka-san setelah selesai berpakaian.

"Aku tidak punya wajah lagi untuk bertemu dengan Kirishima-kun. Maaf ya, karena punya pacar yang tidak menarik. Maaf ya, karena punya pacar yang payah."

Hayasaka-san menyembunyikan wajahnya di balik poni.

"Untuk sementara, jangan bertemu dulu. Aku tidak percaya diri untuk berada di sisimu."

Setelah berkata begitu, dia keluar dari kamar, menuruni tangga, dan pulang dengan terburu-buru.

Memang menyakitkan, ya, pikirku.

Kalau saja bisa, aku pun ingin melakukannya.

Namun, ada alasan mengapa hal itu tidak bisa kulakukan.

Aku baru menyadari hal itu.

Aku berdiri di depan lemari, lalu membukanya.

Orang yang ada di dalamnya adalah──.

"Sudah selesai?"

Tachibana-san.

Di bawah pakaian yang tergantung, di ruang yang sempit itu, dia duduk bersimpuh dengan seragam sekolah sambil memegang sepatu loafers-nya.

"Nah, ada banyak hal yang ingin dibicarakan, tapi──"

Tachibana-san perlahan berdiri. Ekspresinya sulit ditebak.

"Tapi ya sudahlah, untuk sementara, coba katakan sekali lagi."

"Apa?"

"Kalimat yang terakhir kamu katakan pada Hayasaka-san. Aku ingin mendengarnya sekali lagi. Kata demi kata, persis seperti tadi."

Karena kalah oleh tekanan tatapan mata Tachibana-san yang tajam dan dingin, aku pun berkata:

"Aku menyukaimu, Hayasaka-san, lebih dari Tachibana-san──"

Tepat saat itu. Kilatan petir melintas di pandanganku.

Beberapa detik kemudian, aku baru sadar kalau itu adalah tamparan dari Tachibana-san.

Suaranya sangat keras, bergema di dalam kepalaku, dan sudut bibirku robek hingga mengeluarkan darah.

Tachibana-san menatapku tajam lalu berkata:

"Meskipun itu bohong, jangan pernah katakan hal itu untuk kedua kalinya."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close