Chapter 4
Surat Tanpa Nama
Koridor
penghubung di dekat ruang Klub Misteri dikenal sebagai tempat favorit untuk
menyatakan cinta.
Hari itu pun, aku
sedang berbaring di sofa, mencoba bersembunyi.
Dari jendela yang
terbuka lebar, suara sepasang pria dan wanita terdengar masuk ke telinga.
"Maaf karena
tiba-tiba memanggilmu. Apa aku mengganggumu?"
Pria itu adalah
siswa kelas tiga dari klub basket, seorang senior yang mencolok dan sangat
diperhatikan.
"Ti-tidak
mengganggu, kok."
Suara yang
gemetar itu adalah Hayasaka-san.
Setahuku, ini
sudah keempat kalinya Hayasaka-san ditembak di koridor penghubung ini.
"Jangan
gugup begitu. Lagipula, justru aku yang sebenarnya gugup. Hei, apa kau tahu
maksud dari situasi kita sekarang?"
"Sepertinya...
begitu."
"Jangan-jangan,
hal seperti ini sering terjadi padamu?"
"Terkadang."
"Begitu,
ya. Aku mengerti."
Dia
sepertinya sadar lewat suasananya kalau pernyataan cinta ini tidak akan
berhasil. Tapi, karena sudah
sejauh ini, dia harus menyelesaikannya.
"Aku sudah
lama menyukaimu. Jadi, meski tiba-tiba, maukah kau menjadi pacarku?"
Hayasaka-san
terdiam sejenak sebelum menjawab, "Maafkan aku."
"Apa
jangan-jangan, kau sudah punya pacar?"
Setelah
keheningan sesaat, Hayasaka-san menjawab dengan suara lirih.
"…………Belum
ada."
Ya, begitu
seharusnya. Jangan sampai dia bilang punya pacar.
Bisa gawat jika
kabar itu sampai ke telinga Yanagi-senpai.
"Ada orang
lain yang kusukai. Jadi... maafkan aku."
Langkah
kaki seseorang terdengar menjauh.
"Sudah
selesai?"
Maki,
yang berbaring di sofa seberang, bertanya.
Saat kami
sedang makan siang bersama tadi, kami justru terlibat dalam drama pernyataan
cinta ini.
"Jangan
bangun dulu."
Selain
Hayasaka-san yang baru saja pergi, masih ada satu orang lagi yang tertinggal.
Siswa
yang baru saja patah hati biasanya akan melamun di koridor penghubung untuk
beberapa saat. Sekali aku pernah mencoba bangun terlalu cepat dan malah
bertatapan muka, itu sungguh canggung.
"Gadis cantik itu sulit juga, ya," ujar Maki.
"Si Hayasaka
itu, belakangan ini sepertinya mengalami masa-masa sulit."
"Apa kau
dengar sesuatu dari Miki-chan?"
"Ya,
begitulah."
Pria ini adalah
ketua OSIS di sekolah ini, namun ia berpacaran dengan seorang guru.
Miki-chan, guru
mata pelajaran Bahasa Inggris. Dia baru dua tahun lulus kuliah dan memiliki
kepribadian yang lembut. Maki jarang bercerita, tapi melihat Maki yang tidak
tertarik pada gadis lain, hubungan mereka pasti berjalan baik. Bisa dibilang,
Miki-chan adalah orang yang memaklumi sifat egois Maki.
Selain itu,
Miki-chan adalah guru yang mudah didekati, sehingga banyak siswi yang datang
berkonsultasi dengannya.
Kali ini adalah
giliran Hayasaka-san.
"Belakangan
ini, seragam olahraganya sering hilang, dan dia dikirimi surat cinta yang
menyeramkan."
"Surat cinta
yang menyeramkan?"
Sepertinya surat
itu ditaruh di dalam loker sepatu.
"Tidak ada
namanya, pengirimnya misterius. Padahal begitu, di surat hari berikutnya, si
pengirim malah mendesak minta jawaban."
Itu agak
menyeramkan.
"Katanya,
ada pria yang memakai seragam sekolah yang sama pernah menguntitnya sampai
dekat rumah."
"Apa
Hayasaka-san baik-baik saja?"
Aku sendiri tidak
tahu kalau hal-hal seperti itu terjadi.
"Yah,
sepertinya dia tidak sampai terpukul sekali sih," ujar Maki.
"Bagi gadis
cantik, hal-hal seperti ini sudah dianggap sebagai 'terjadi lagi'. Mungkin
sejak kecil dia sudah terbiasa mengalami hal-hal seperti alat musiknya hilang
atau semacamnya."
"Begitukah?"
"Hayasaka
itu lemah lembut dan pendiam, kan? Karena terlihat mudah ditekan, kurasa dia
cukup sering mengalami kesulitan. Didekati pria aneh atau dijahati oleh siswi
lain."
"Masuk
akal juga."
Sambil
berkata begitu, aku bangkit berdiri.
Kurasa
sekarang sudah tidak ada siapa-siapa lagi di koridor penghubung. Namun──.
Begitu
kulihat ke luar jendela, tatapan kami beradu dengan sempurna.
Tanpa
diduga, yang masih tertinggal di sana adalah Hayasaka-san.
Begitu
menyadari kehadiranku, dia mengirimkan pesan lewat gestur tubuh.
『Boleh
aku ke sana sekarang?』
Dia pasti mengira
hanya ada aku di sini.
Lalu, dengan
jahil, dia membentuk simbol hati di depan dadanya dengan tangan. Ini
benar-benar kesalahan fatal.
"Eh, apa
maksudnya ini?"
Maki yang baru
saja bangkit bertanya sambil menatapku dan Hayasaka-san bergantian.
"Suasananya
tidak seperti teman biasa, ya. Lagipula, ini bukan Hayasaka yang kukenal. Tadi
ekspresinya benar-benar wajah wanita yang sedang jatuh cinta. Wah, keren
banget. Citranya berubah total."
Hayasaka-san
buru-buru menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
『Anggap
saja tadi tidak terjadi apa-apa!』
Suara hatinya
seolah terdengar sampai sini.
◇
"Aku
benar-benar minta maaf."
Hayasaka-san
masih menutupi wajahnya dengan tangan. Sejak tadi dia masuk ke ruang klub dan
duduk di hadapanku, dia masih belum berani menunjukkan wajahnya.
"Kirishima-kun
pasti malu juga kan, dilihat oleh Maki-kun."
"Sedikit
saja, kok."
Maki segera pergi
meninggalkan ruang klub sambil menyeringai, "Nanti aku mau dengar
ceritanya, ya."
"Aku hanya
ingin membuat Kirishima-kun tersipu. Maaf, ya."
"Tidak
apa-apa, aku tidak memikirkannya."
"Benarkah?"
Celah di antara
jari-jarinya terbuka, Hayasaka-san mengintip keadaanku.
"Kau tidak
marah?"
"Tidak
mungkin aku marah."
Begitu kukatakan
itu, Hayasaka-san akhirnya menurunkan tangannya.
"Maki-kun,
apa dia tidak akan membocorkannya ke orang lain?"
"Kurasa
tidak. Dia tipe orang yang mulutnya rapat untuk hal-hal semacam ini."
Hayasaka-san
tampak mulai tenang dan menatap sekeliling ruangan dengan penasaran.
"Jadi
ini ruang Klub Misteri. Terasa
nyaman, ya."
"Dulu ini
ruangan tamu, soalnya."
"Apa
hubunganmu dengan Tachibana-san berjalan lancar?"
"Sulit."
"Maaf, aku
sudah tahu jawabannya saat bertanya. Kirishima-kun, kau melihat media
sosialnya, kan?"
"Itu sudah
jadi rutinitas harianku."
"Itu sama
sekali tidak bagus untuk kesehatan mentalmu."
"Aku sudah
punya Resistance, jadi aku baik-baik saja. Rasanya kalau tidak melihat
media sosial sekali sehari dan menggeretakkan gigi, aku belum merasa tenang.
Besok dan lusa pun, aku ingin tetap merasakan kekecewaan ini."
"Kau
terlihat serius sekali, ya."
Hayasaka-san
tertawa geli.
"Jadi, kau
tahu, ya."
"Soal Tachibana-san yang belajar bersama
pacarnya?"
Beberapa hari ini, Tachibana-san memang sedang belajar untuk
ujian di perpustakaan bersama pacarnya.
Foto-foto
itu sering diunggah di media sosial milik si pacar. Foto Tachibana-san saat
menulis di buku catatan atau wajah sampingnya saat membaca buku teks.
Omong-omong, Klub Misteri sedang libur karena minggu ujian.
"Kalau
mau diajari belajar, kupikir pasangannya adalah Kirishima-kun. Karena nilai Kirishima-kun lebih bagus,
kan?"
"Tentu saja
aku tidak bisa menandingi ikatan antara dia dan pacarnya."
Lagipula,
masalahnya bukan sekadar pacar.
Tunangan.
Menikah segera
setelah lulus SMA adalah hal yang sangat di luar nalar, aku tidak bisa berbuat
apa-apa.
"Kirishima-kun,
kau baru saja terlihat jelas sekali sedang patah hati."
"Maaf, saat
sedang berdua begini."
"Tidak,
karena kupikir kau pasti sedang sedih, aku berniat menghiburmu. Bahwa meskipun
tidak ada Tachibana-san, ada aku di sini. Apa aku tidak cukup bagimu?"
"Mana
mungkin tidak cukup. Aku sangat menyukaimu, Hayasaka-san."
Begitu kukatakan
itu, Hayasaka-san perlahan berdiri, lalu berpindah dari seberang sofa ke
sampingku. Sambil mengacungkan jari telunjuk dan menatapku dengan mata yang
penuh harap, dia berkata.
"Kirishima-kun,
katakan sekali lagi yang tadi."
"…………Aku
sangat menyukaimu, Hayasaka-san."
Seketika itu
juga, Hayasaka-san memeluk lenganku dan menempelkan tubuhnya sekuat tenaga.
Bukan cuma tubuh
bagian atasnya, dia bahkan merapatkan kakinya juga. Aku jadi tidak sengaja
memperhatikan betapa pendek roknya.
"Hayasaka-san,
apa maksud dari semua ini?"
"Aku berniat
menghiburmu. Tachibana-san sedang bermesraan dengan pacarnya, kau pasti
menderita, kan?"
"Ini di
sekolah, tahu."
"Aku,
sepertinya suka menyentuhmu atau disentuh olehmu, Kirishima-kun. Saat kau
datang menjengukku, saat kita masuk ke tempat tidur bersama, aku baru
sadar."
"Ingat
aturan yang kita buat waktu itu bahwa kita tidak akan melakukan hal
ekstrem?"
"Kurasa
tubuhku tidak buruk-buruk amat. Banyak anak laki-laki yang menatapku dengan
pandangan seperti itu. Tadi orang yang menyatakan cinta padaku pun, menatap
dadaku dengan intens."
"Hayasaka-san,
apa kau mendengarku?"
Namun
Hayasaka-san tidak berhenti.
"Jadi aku
yakin aku bisa menyemangatimu, bisa membuatmu senang. Dengan tubuh ini."
"Hayasaka-san,
mungkin kau tidak sadar, tapi kau baru saja mengatakan hal yang luar
biasa!"
"Aku benci
ditatap seperti itu oleh anak laki-laki lain, tapi jika itu Kirishima-kun, aku
malah senang."
Mungkin karena
dia merasakan tatapanku tadi, Hayasaka-san menggenggam tanganku dan mencoba
mengarahkan tanganku ke antara paha putihnya yang terekspos di atas sofa.
"Tunggu,
tunggu, tunggu, tunggu!"
"Eh? Kenapa?
Kirishima-kun, bukankah kau ingin menyentuhku?"
"Bukan
begitu, ini terlalu cepat. Tiba-tiba
kenapa jadi begini?"
Saat kukatakan
itu, Hayasaka-san memiringkan kepalanya dengan ekspresi seperti anak kecil,
lalu setelah beberapa saat dia mengangguk, "Ah, begitu ya, kau
benar."
"Pertama-tama
harus ini dulu, ya. Aku sangat suka bagian ini juga."
Dia
memejamkan mata, menghadap ke arahku, dan mengangkat dagunya.
Benar-benar
sedang menunggu ciuman.
Ada apa
dengannya? Hanya karena aku bilang aku menyukainya, dia jadi senekat ini.
Pasti ada
alasannya, tapi... tetap saja, astaga──.
"Hayasaka-san,
kau sama sekali tidak menyesali perbuatanmu tadi, ya."
Aku
menunjuk ke arah jendela.
Kalau
tidak ditutup tirai, ruangan ini terlihat jelas dari koridor penghubung.
Dan
sekarang, di koridor penghubung itu ada Maki yang sedang melambai ke arah kami.
Hayasaka-san
dengan sangat tenang kembali menutupi wajahnya dengan tangan.
◇
"Aku
tidak akan melakukan hal seperti itu lagi di sekolah. Bahaya kalau sampai
terlihat oleh Tachibana-san. Aku tidak ingin membuat Kirishima-kun dalam
masalah. Benar-benar, aku serius."
Hayasaka-san
sepertinya sudah kembali tenang. Maki pun akhirnya benar-benar pergi.
Aku
menyuruh Hayasaka-san duduk di sofa, lalu menyeduhkan kopi tetes, meskipun aku
tidak tahu apakah gadis yang lebih suka teh ini akan meminumnya. Karena
biasanya yang menggunakan ruang klub hanya aku dan Tachibana-san, jadi kami
hanya punya kopi.
"Kenapa
tiba-tiba tadi jadi begitu?"
Saat
kutanya, Hayasaka-san memalingkan wajahnya dengan canggung.
"……Belakangan
ini, entah kenapa aku merasa seperti dihindari oleh Kirishima-kun."
"Aku tidak
bermaksud begitu."
"Tapi,
padahal Klub Misteri sedang libur, kita sama sekali tidak bertemu di hari
kerja."
"Maaf, aku
sibuk belajar untuk ujian..."
"O-oh,
begitu ya. Minggu ujian, ya. Kita memang tidak boleh mengabaikan
pelajaran."
"Mungkin aku
yang salah paham," kata Hayasaka-san sambil memerah.
"Karena
merasa cemas, saat kau bilang menyukaiku, aku jadi senang sampai-sampai tidak
bisa menahan perasaanku sendiri. Maaf ya, aku merepotkan."
Untuk menutupi
rasa malunya, Hayasaka-san mengambil sebuah pensil dari kotak pensilku di atas
meja kopi dan mulai memainkannya.
"Boleh aku
bertanya sesuatu yang sudah lama kupikirkan?"
"Boleh."
"Kirishima-kun,
kenapa kau pakai pensil?"
"Mungkin
karena kebiasaan sejak SD. Tidak ada arti khusus, sih."
Setiap hari, aku
selalu membawa dua belas pensil yang diruncingkan dengan tajam untuk mengikuti
pelajaran.
"Aku cukup
menyukainya. Pensil milik Kirishima-kun."
"Kalau
begitu ini, untukmu dua buah."
"Benarkah?
Terima kasih."
Hayasaka-san
menggenggam pensil itu dengan kedua tangan lalu tersenyum manis. Kelucuannya
benar-benar bisa membuat penjualan pensil naik dua puluh persen jika dijadikan
iklan.
Setelah itu,
Hayasaka-san terus menanyakan berbagai hal padaku.
Di mana aku
membeli kacamata?
Kenapa aku selalu
memakai dasi bahkan di musim panas?
"Aku
benar-benar tidak mengerti soal anak laki-laki. Banyak hal yang membuatku
penasaran."
"Tanya
saja seperti biasa."
Jika
lawannya Hayasaka-san, semua orang pasti akan menjawabnya dengan senang hati.
"Tapi
aku tidak bisa mengajak orang lain bicara selain Kirishima-kun dengan baik. Aku
tidak tahu kapan saat yang tepat, dan meski sedang bersama mereka, pada
akhirnya aku hanya bisa mengangguk saja."
Aku tahu.
Hayasaka-san memang ada di tengah lingkaran pertemanan, tapi dia sangat
canggung, dan karena dia manis, dia sedikit merasa terasing.
"Lagipula,
aku tidak bisa mengajak bicara dengan santai. Nanti malah digoda, 'Kau menyukai
anak laki-laki itu, ya?'. Selain itu..."
"Kau takut
malah disalahpahami dan jadi masalah?"
Hayasaka-san
tertawa lirih dengan ekspresi sulit, "Terkadang begitu."
"Apa
belakangan ini kau tidak sedang dalam kesulitan karena hal seperti itu?"
"Tidak
apa-apa. Tadi pun ada yang menyatakan cinta, tapi karena sudah biasa, aku tidak
masalah."
"Begitu ya.
Jadi, kau tidak pernah mengalami hal seperti seragam olahragamu hilang, surat
cinta tanpa nama ditaruh di loker sepatu, atau pria yang menguntitmu sampai
dekat rumah, kan?"
"Eh?"
Hayasaka-san
terkejut dan membeku sesaat.
"……Kirishima-kun,
kau tahu?"
"Maaf,
aku tidak sengaja mendengarnya sedikit."
"Jangan
khawatir. Memang awalnya aku cemas, tapi belakangan ini surat cinta sudah tidak
ada lagi, dan saat pulang sekolah aku juga selalu pulang bersama teman-temanku.
Sekarang aku sudah baik-baik saja."
"Apa
hal seperti ini sering terjadi?"
"Sejak
masuk SMA jarang sih. Mungkin sebaiknya aku bilang kalau aku punya pacar? Kalau begitu, mereka pasti tidak akan
melakukan hal aneh, dan pernyataan cinta juga mungkin akan berkurang."
Setelah
mengatakan itu, Hayasaka-san buru-buru melambaikan tangan, "Bukan
begitu."
"Aku tidak
bermaksud ingin mempublikasikan hubungan kita dengan Kirishima-kun atau
semacamnya. Kalau melakukan itu, nanti Kirishima-kun jadi sulit mendekati
Tachibana-san."
"Hayasaka-san
juga sebaiknya tidak usah bilang begitu. Meskipun lawannya dari sekolah lain,
kita tidak pernah tahu siapa yang terhubung dengan siapa."
"Iya, benar
juga."
Hayasaka-san
berdiri, "Kalau begitu, aku kembali ke kelas dulu ya."
"Hei,
Kirishima-kun."
"Apa?"
"Aku
pacarmu, kan?"
"Itu
tidak perlu ditanyakan lagi, kan."
Hayasaka-san
tertawa puas, "Ehehe," lalu meninggalkan ruang klub.
Setelah
sendirian, aku menggaruk kepalaku.
Wajar
jika Hayasaka-san merasa cemas dan berpikir aku menghindarinya. Sekarang, saat
Klub Misteri tidak aktif karena persiapan ujian, seharusnya kami punya lebih
banyak waktu untuk bersama.
Bilang
sibuk belajar ujian itu bohong.
Aku
mengeluarkan beberapa pucuk surat dari saku.
Hayasaka-san
tadi bilang: 'Belakangan ini surat cinta tidak ada lagi'.
Tentu
saja begitu. Karena selama beberapa hari ini, akulah yang mengambil surat-surat
itu sebelum Hayasaka-san sempat melihatnya.
Jangan
khawatir, kata
Hayasaka-san.
Maki
bilang, di depan Miki-chan pun dia tidak terlihat sedang terpukul.
Tapi itu
hanya karena dia menahan diri demi orang-orang di sekitarnya.
Dia
mencoba menanggung semuanya sendiri agar tidak merepotkan orang lain, meskipun
sebenarnya dia takut.
Hayasaka-san adalah gadis yang seperti itu. Meskipun lemah, dia selalu memaksakan diri.
Karena itulah,
aku akan mengalahkan pelaku yang menakuti Hayasaka-san.
◇
"Apa-apaan,
jadi kau sudah tahu?" tanya Maki.
Selama jam
pelajaran olahraga, kami berdiri mengobrol di sudut lapangan.
"Yah,
begitulah. Seragam olahraga Hayasaka-san sudah lama sekali menjadi barang
pinjaman."
Di lapangan
tenis, para siswi sedang bermain tenis.
Hayasaka-san
mengenakan seragam olahraga model lama yang disediakan di ruang kesehatan.
"Aneh kalau
sampai tidak sadar."
Aku juga sudah
berkali-kali melihat Hayasaka-san yang wajahnya menegang sambil memegang surat
di loker sepatu.
"Omong-omong,
siswa laki-laki yang menguntit sampai dekat rumahnya itu adalah aku."
"Kirishima?
Apa maksudnya?"
"Aku
memantau dari jauh untuk memastikan dia tidak dikuntit oleh orang lain."
"Itu sih kau
sendiri yang jadi penguntitnya!"
"Begitu,
ya?"
Aku berniat
memastikan dia masuk ke dalam rumah, tapi dia tiba-tiba menoleh ke belakang,
jadi aku panik. Wajahku tidak terlihat, tapi gara-gara itu aku malah dicurigai
sebagai orang mencurigakan.
"Jadi, surat
dan seragam itu masalahnya, ya?"
"Benar. Dan
pelakunya kemungkinan besar ada di antara siswa yang aktif di kegiatan
klub."
Waktu untuk
memasukkan surat ke loker sepatu hanya bisa dilakukan setelah pulang sekolah.
"Padahal
minggu ujian, tapi banyak siswa yang tinggal untuk latihan mandiri. Kami di
OSIS pun tinggal. Apa tidak sulit menemukan pelakunya?"
"Tidak
juga."
Aku bilang, besok
atau lusa semuanya akan ketahuan.
"Benarkah?
Padahal imej menebak pelaku seperti ini biasanya sulit."
"Itu karena
misteri dalam cerita sengaja dibuat rumit demi mengejutkan pembaca."
Hal yang terjadi
di dunia nyata jauh lebih sederhana.
"Bicara juga
kau. Jadi, kau sudah punya kandidat pelakunya?"
"Kalau dalam
cerita misteri, pelakunya mungkin guru, seorang gadis, atau jangan-jangan malah
aku sendiri, tapi itu kan ditulis demi unsur kejutan."
Kali ini, tentu
saja pelakunya siswa laki-laki.
"Kirishima,
kau ternyata benar-benar membaca buku misteri, ya."
"Memangnya
kau pikir aku ini apa?"
"Kupikir kau
cuma orang aneh yang cuma menjual papan nama misteri, sambil mendengarkan
alunan piano dari ruang sebelah, kau malah sibuk memandangi media sosial pacar
gadis yang kau sukai sampai gila karena cemburu."
"Hampir
semuanya benar."
Aku menceritakan
tentang tiga orang yang berpotensi menjadi pelaku.
Yamanaka-kun dari
Klub Peneliti Manga.
Saat pelajaran
olahraga, dialah yang paling antusias memandangi Hayasaka-san. Ketertarikannya
pada seragam olahraga sudah tidak perlu diragukan.
Dia sedang
mendaftar untuk penghargaan manga, dan dia sering tidak sadar dengan sekitarnya
jika sudah fokus. Padahal seharusnya dia cerdas, tapi ada rumor dia mendapat
nilai 0 saat ujian tengah semester.
Ichiba-kun
dari Klub Sepak Bola.
Meskipun
dia selalu bicara keras tentang bagaimana dia bermain dengan gadis dari sekolah
lain, matanya selalu melirik untuk melihat reaksi Hayasaka-san.
Dia
terlihat seperti tipe yang terbiasa dengan wanita, tapi sebenarnya tidak juga.
Orang yang benar-benar terbiasa dengan wanita, seperti Maki, akan diam-diam
berpacaran dengan guru.
Senior
Nohara dari Klub Bulu Tangkis.
Siswa
kelas tiga yang sudah dua kali menyatakan cinta pada Hayasaka-san dan ditolak.
Dia masih
belum menyerah, dan sering datang ke kelas dengan alasan ada urusan dengan adik
kelas, lalu mengirimkan tatapan penuh penyesalan pada Hayasaka-san.
Dia tipe
orang yang dramatis; dia menyatakan cinta untuk kedua kalinya di depan semua
orang sampai Hayasaka-san menangis.
Ketiganya
menyukai Hayasaka-san, dan tidak satu pun dari emosi mereka yang tersalurkan.
Itulah masalah sulit yang sering terjadi dalam mencintai seseorang.
"Lalu,
dari sini bagaimana cara mengidentifikasi pelakunya?"
"Masih ada
satu petunjuk lagi."
"Surat cinta
yang kau kumpulkan itu?"
Mungkin bisa
diketahui dari tulisan tangannya.
"Bisakah kau
minta tolong Miki-chan untuk meminjamkan hasil kuis kecil tempo hari?"
"Boleh
saja."
"Mudah
sekali kau menjawabnya. Itu masalah besar kalau sampai ketahuan, tahu."
"Miki-chan
akan menuruti apa pun kataku."
Pria ini, dengan
santainya mengatakan hal yang luar biasa.
"Lagipula
Kirishima, cepat ceritakan hubunganmu dengan Hayasaka. Kau memperlakukannya
dengan sangat berharga, ya. Dilihat dari caranya, Hayasaka pun sepertinya tidak
keberatan."
"Itu bukan
hal yang bisa diceritakan pada orang lain."
"Boleh, lah.
Tidak adil kalau cuma Kirishima yang tahu rahasia punyaku."
"Tidak ada
pilihan lain."
Aku menjelaskan
hubungan kami dengan singkat.
"O-ooh.
Benar-benar tidak sehat, ya."
Maki berkata
begitu. Padahal itu bukan kalimat yang pantas diucapkan oleh orang yang
berpacaran dengan guru.
"Berpacaran
sebagai pelampiasan karena sama-sama jadi pilihan kedua, ya?"
"Itu cara yang sangat cerdas."
"Kalau
dipikir pakai logika mungkin begitu, tapi apa benar akan berjalan lancar?"
Maki
skeptis dengan 'Metode Peluang Patah Hati 25 Persen'-ku.
"Setidaknya
ada satu pengabaian fatal, kan?"
"Apa
itu?"
"Kemungkinan
pilihan kedua berubah menjadi pilihan utama."
Artinya,
perubahan kondisi dasar.
"Jika salah
satu di antara Hayasaka atau Kirishima menjadikan pihak lain sebagai pilihan
utama, hubungan itu bakal jadi rumit sekali, lho."
Maki
mengatakannya seolah-olah sedang meramal.
"Semoga saja
tidak sampai begitu."
◇
Aku berhadapan
dengan tumpukan kertas ujian.
Itu
terjadi setelah pulang sekolah di ruang klub. Dan sekarang aku dalam masalah.
Aku
berniat mencocokkan tulisan tangan di surat cinta dengan kertas ujian, tapi
ternyata hampir semua tulisan di kertas ujian itu menggunakan alfabet.
Tentu saja,
karena Miki-chan adalah guru Bahasa Inggris.
Nama dan
terjemahannya memang pakai Bahasa Jepang, tapi jumlah karakternya terlalu
sedikit untuk melakukan identifikasi tulisan tangan.
Lagipula, ini
hanya lembar jawaban kelas dua, jadi kelas satu dan tiga berada di luar
jangkauan.
Seharusnya aku
bisa memikirkannya tadi, ini benar-benar kesalahan fatal karena kurang teliti.
Benar-benar
menyebalkan.
Aku menghela
napas, lalu memandangi dua pucuk surat cinta yang kukumpulkan dari loker sepatu
di atas meja.
Satu surat berisi
pujian untuk penampilan Hayasaka-san, satu lagi berisi desakan agar dia segera
memberikan jawaban.
Karena tidak ada
nama namun meminta jawaban, surat itu memang bisa dibilang menyeramkan.
Ternyata, salah
satu surat yang Hayasaka-san berikan kepada Miki-sensei juga ada yang isinya
meminta Hayasaka-san untuk memperlihatkan dirinya dalam balutan seragam
olahraga. Itu sudah tidak bisa disebut sebagai surat cinta lagi.
Aku menatap surat
yang ada di tanganku. Lalu, aku menyadari sesuatu.
Tulisannya sangat
rapi dan hati-hati.
Wajar jika
tulisan untuk surat kepada seorang gadis dibuat berbeda dari tulisan
sehari-hari.
Katanya, analisis
tulisan tangan adalah hal yang sulit bahkan bagi para profesional, jadi tidak
mungkin aku—yang bahkan tidak menunjukkan kemampuan observasi apa pun dalam
pelajaran seni—bisa melakukannya.
Kejadian yang
terjadi di dunia nyata itu sebenarnya sederhana.
Aku teringat pada
Maki dan tiba-tiba merasa malu sendiri.
Karena terlanjur
bicara besar, aku mencoba memutar otak mencari petunjuk lain. Namun, aku bukan
tipe orang yang sigap dalam berpikir cepat, dan karena sudah terlanjur
memutuskan untuk menyelesaikannya lewat analisis tulisan tangan, sulit bagi
otakku untuk berpikir fleksibel.
Ada cara untuk
mendatangi ketiga orang yang sudah kucurigai secara bergiliran dan menuduh
mereka sebagai pelakunya untuk memancing pengakuan. Tapi jika mereka
berpura-pura tidak tahu tanpa bukti yang kuat, mereka pasti bisa lolos.
Aku diminta untuk
mengembalikan kertas ujian sebelum sore hari.
Waktu
terus berlalu detik demi detik.
Yah,
kalau memang tidak bisa, ya mau bagaimana lagi. Lebih baik aku menyerah,
pulang, lalu tidur.
Begitu
aku berpikir demikian dan memasukkan kertas ujian ke dalam amplop untuk
dikembalikan, tiba-tiba──.
Ide itu
muncul.
Aku
segera berdiri dan keluar dari ruang klub. Aku menuruni tangga menuju lantai satu.
Di gedung
lama, ruangan yang terletak berseberangan diagonal dengan ruang Klub Misteri.
Aku membuka pintu dan masuk ke dalam.
Seorang
siswa laki-laki sedang menghadap mejanya.
Aku
berdiri di belakangnya dan meletakkan tangan di bahunya.
"Bisa
kembalikan? Seragam olahraga Hayasaka-san."
Dia menoleh ke
arahku, berpikir sejenak, lalu menjawab.
"Kenapa kau
tahu itu aku?"
"Kau
mendapat nilai 0 di ujian tengah semester, kan?"
Padahal dia
seharusnya pintar.
"Kenapa kau
bisa dapat nilai segitu?"
"Aku lupa
menulis nama."
Siswa laki-laki
itu menjawab dengan nada tenang.
Aku meletakkan
dua pucuk surat di atas mejanya lalu berkata.
"Itu tidak
boleh. Kau harus menulis nama pada barang yang berharga, bukan?"
◇
Hayasaka-san
sedang bermain tenis.
Meski masih
terayun-ayun oleh raketnya dan masih terlihat canggung, dia mampu mengembalikan
bola kepada lawannya dengan benar.
Sambil
menyeka keringat di dahinya dengan tangan, ekspresinya tampak cerah. Seragam
olahraga yang dikenakannya adalah miliknya sendiri. Rupanya seragam itu sudah
kembali dengan selamat.
Pelakunya adalah
Yamanaka-kun dari Klub Peneliti Manga.
Dia memiliki
sifat ceroboh; dia sering lupa menuliskan namanya baik di kertas ujian maupun
di surat cinta.
Namun, kalau mau
dikatakan secara tepat, surat-surat itu sebenarnya bukan surat cinta──.
Hari saat aku
mengunjungi ruang Klub Manga, di atas meja Yamanaka-kun terdapat sebuah tablet.
Di sana terpampang
karakter yang sangat mirip dengan Hayasaka-san. Itu adalah adegan saat dia
mengenakan seragam olahraga, dan gambarnya masih setengah jadi.
"Jadi
maksudmu, kau hanya ingin mengamatinya?" tanyaku.
Yamanaka-kun
mengangguk.
"Aku
benar-benar tidak bisa menggambarnya dengan baik, jadi aku ingin dia menjadi
modelnya."
"Karena
itulah kau menulis surat dan memasukkannya ke loker sepatu. Tapi karena tidak
ada jawaban, kau meminjam seragam olahraganya."
"Tanpa izin,
ya. Aku telah
melakukan hal yang buruk."
Sepertinya
batas waktu pengiriman karya untuk penghargaan manga sudah dekat.
"Aku ingin
kualitasnya meningkat walau sedikit saja. Tapi ternyata seragam saja tidak
cukup, aku ingin melihat sosok aslinya saat memakainya dari dekat, jadi aku
menulis surat lagi."
Namun, karena dia
lupa menuliskan nama, tidak ada balasan.
"Aku
memang berniat mengembalikan seragam itu. Tapi, saat pulang sekolah, ada Kirishima-kun di
belakangku."
Katanya, dia
tidak pernah punya waktu untuk berduaan saja dengan Hayasaka-san. Sungguh, aku
minta maaf karena telah menghalangi.
"Lagipula,
Yamanaka-kun seharusnya menulis dengan lebih jujur kalau ingin dia jadi model.
Kau malah memuji penampilannya segala, pantas saja kalau disalahpahami sebagai
surat cinta yang menyeramkan."
Mendengar itu,
Yamanaka-kun terdiam.
"Apa
jangan-jangan, kau menyukai Hayasaka-san?"
"Kalau
tidak, aku tidak akan menjadikannya karakter utama di mangaku."
Benar
juga.
"Bukan
berarti aku ingin menjadi pacarnya atau semacamnya. Tidak... mungkin di lubuk
hatiku yang paling dalam, aku memang berpikir ingin menyatakan cinta jika dia
bersedia menjadi modelku."
"Tapi,
aku sudah tidak punya niat itu lagi," ujar Yamanaka-kun.
"Karena ada
Kirishima-kun, ya."
"Aku bukan
siapa-siapanya Hayasaka-san."
"Benarkah?"
Yamanaka-kun
bilang, demi menggambar manga yang bagus, dia selalu mengamati orang-orang.
"Hayasaka-san
selalu mengikuti Kirishima-kun dengan matanya setiap ada kesempatan. Dan
Kirishima-kun melakukan hal ini untuknya. Kalian benar-benar saling mencintai.
Benar-benar sempurna tanpa celah."
"Hayasaka-san
punya orang lain yang dia sukai."
"Aku
tahu."
Yamanaka-kun satu
SMP dengan Hayasaka-san, dan katanya dulu dia pernah mendengar Hayasaka-san
membicarakan orang yang dia sukai dengan teman-temannya.
"Ada
seseorang yang sangat keren di satu tingkat di atas kami dari SMP yang berbeda.
Karena itu sekolah tempat
Kirishima-kun dulu, mungkin kau mengenalnya, kan?"
"Itu
Yanagi-senpai. Dia masih mencintainya sampai sekarang."
"Tapi,
apakah perasaan itu benar-benar cinta?"
Karena
Yamanaka-kun mengatakan sesuatu yang tak terduga, aku refleks bertanya balik,
"Eh?"
Dia
mengoperasikan tabletnya dan memperlihatkan manga yang sedang digambarnya.
"Aku,
sejak dulu sering memperhatikan mata orang. Karena di sanalah emosi bersemayam.
Meskipun menggambar karakter yang sama, aku mengubah cara menggambar matanya
tergantung pada adegan atau dengan siapa dia bicara."
"Kau
seorang seniman, ya."
"Aku
seorang mangaka."
Cerita
yang sedang digambar Yamanaka-kun adalah tentang seorang gadis tokoh utama yang
terjebak dalam hubungan segitiga dengan dua anak laki-laki.
Model gadis itu adalah Hayasaka-san.
"Salah satu
anak laki-laki adalah senior yang dikagumi sang tokoh utama. Yang satu lagi
adalah teman sekelas yang ketus."
"Itu manga shoujo
sekali."
"Aku sudah
menyukainya sejak kecil karena pengaruh kakak perempuanku."
Aku pun
sering membacanya karena pengaruh adik perempuanku.
"Tokoh
utama gadis itu, pada akhirnya memilih teman sekelasnya, bukan seniornya.
Menurutmu kenapa?"
"Dalam
manga shoujo, teman sekelas yang ketus biasanya lebih kuat daripada
senior yang baik."
"Kau
berwawasan luas, ya."
Tapi
sepertinya alasan Yamanaka-kun membuat akhir cerita seperti itu berbeda.
"Karena
kekaguman itu sama sekali berbeda dengan perasaan suka. Karena mirip, kita
sering tertukar tanpa sadar. Tapi, cobalah amati perasaanmu dengan baik. Ada
kekaguman, keinginan untuk melindungi, rasa gemas, dan banyak emosi positif
lainnya. Tapi, perasaan suka yang murni itu jauh lebih spesial dan berbeda dari
yang lain."
"Kau
menangkap emosi dengan sangat sensitif, ya."
"Mungkin
saja. Karena itu, aku berpikir. Perasaan Hayasaka-san pada senior itu hanyalah
kekaguman. Suatu saat dia sendiri akan menyadarinya. Bahwa itu berbeda dengan
rasa suka. Karena berpikir begitu, di dalam hati aku tidak bisa menyerah pada
Hayasaka-san. Tapi belakangan ini, aku menemukan 'suka' yang sesungguhnya di
mata Hayasaka-san. Saat dia mengikuti sosok seseorang dengan matanya."
"Siapa ya
kira-kira?"
"Kau
berpura-pura tidak tahu, ya."
"Sudahlah,
aku sudah benar-benar menyerah," ujar Yamanaka-kun sambil menunduk.
"Biar
aku saja yang mengembalikan seragamnya."
"Tidak, aku
akan meminta maaf dan mengembalikannya sendiri. Meski agak malu, aku akan
melakukannya sendiri."
"Jangan
bilang kalau itu dariku, ya."
Yamanaka-kun
mengangguk, "Mengerti."
"Ngomong-ngomong,
apa kau juga mengamati mataku?"
"Kau ingin
tahu siapa sebenarnya yang kau sukai, kan?"
"Menurut
perkataan Yamanaka-kun, sepertinya ada kalanya kita sendiri tidak tahu emosi
apa yang kita miliki."
"Aku tidak
akan memberitahumu," Yamanaka-kun tersenyum ramah.
"Itu adalah
perlawanan kecil dari pria yang diam-diam mengalami patah hati. Sebaiknya kau
pikirkan itu baik-baik, Kirishima-kun."
"Begitu
ya."
"Hei
Kirishima-kun, cinta itu sangat kejam, ya. Sejak SMP, aku benar-benar menyukai
Hayasaka-san. Aku memikirkannya sampai tidak bisa melakukan apa pun. Tidak ada
pilihan lain, aku bahkan pernah menghabiskan malam dengan terus membuat sketsa
Hayasaka-san yang muncul di balik kelopak mataku. Tapi perasaan ini tidak punya
tujuan, dan berakhir tanpa terbalas satu hal pun."
"Aku
pun sering memikirkan tentang banyaknya cinta yang tidak terbalas itu."
"Hayasaka-san
menerima banyak perasaan suka yang spesial dari banyak orang. Padahal, jika dia
sendiri tidak dicintai oleh orang yang dia sukai, itu juga hal yang sangat
kejam. Aku ingin perasaan
Hayasaka-san terbalas. Aku hanya ingin menyampaikan itu padamu."
Setelah
mengatakan itu, Yamanaka-kun kembali mengerjakan manganya di atas meja.
Karena dia
terlihat ingin menangis, aku memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.
"Semoga
mangamu menang penghargaan, ya."
"Terima
kasih."
◇
Ruang
perpustakaan setelah jam sekolah kosong.
Karena pacar
Tachibana-san sedang tidak masuk sekolah, hari ini tidak ada sesi belajar
bersama bagi para kekasih.
Aku menemukan
buku tafsir Tosa Nikki dari rak buku dan membukanya di atas meja. Aku
harus mengejar ketertinggalan dalam beberapa hari terakhir. Aku menuliskan
konjugasi kata bantu di buku teks. Saat itu, seseorang masuk.
Itu Hayasaka-san.
Dengan wajah yang
agak malu-malu, dia duduk di sampingku.
"Bukankah
itu tempat yang biasanya diduduki pacar Tachibana-san?"
"Dilihat
dari foto di media sosial, sepertinya begitu."
"Kebetulan?"
"Hari
ini tidak ada pembaruan media sosial, jadi sebagai gantinya aku duduk di sini
untuk merasakan kekecewaan. Jadi pacarnya selalu melihat wajah samping
Tachibana-san dari sini, ya? Grrr, kesal sekali."
"Secukupnya
saja, ya."
Hayasaka-san
tertawa. Suasana hatinya tampak sedang bagus.
Setelah
itu, dengan sedikit ragu, dia menempelkan tubuhnya padaku seolah sedang
menabrakkan diri.
"Bukankah
tadi kau bilang tidak akan melakukan hal aneh di sekolah?"
"Semuanya
salah Kirishima-kun."
"Salahku?"
"Sikap
baikmu itu curang, tahu."
"Ternyata
dia lebih cerewet dari yang kuduga."
"Tidak, aku
hanya bertanya sedikit memaksa tadi. Sedikit saja, ya."
Hayasaka-san
tersenyum manis. Mungkin Yamanaka-kun sempat merasa takut tadi.
"Hayasaka-san,
mulai sekarang kalau ada apa-apa, katakan dengan benar, ya."
"Iya. Tapi
kalaupun aku tidak bilang, Kirishima-kun pasti akan menolongku, kan?"
"Ehehe,"
Hayasaka-san menempelkan wajahnya ke dadaku.
"Hei,
Hayasaka-san, bagaimana kalau ada yang melihat kita?"
"Jantungku
jadi berdebar, ya."
Gawat. Saklar "gadis nakal"-nya
sudah benar-benar menyala.
"Waktu
itu, maaf ya sudah bertanya, 'Aku pacarmu, kan?'. Pasti terasa berat, ya?"
"Tidak juga,
kok."
"Aku
tidak akan mengatakan hal yang berat lagi. Aku akan menjadi pacar yang lebih
baik."
"Sekarang
pun kau sudah menjadi pacar yang baik."
"Tidak,
aku selalu membuatmu khawatir. Hei Kirishima-kun, kau tidak perlu terlalu sungkan begitu. Kau boleh
berbuat sesukamu padaku. Saat kau merasa sedih karena Tachibana-san bermesraan
dengan pacarnya, kau boleh menjadikanku penggantinya."
"Aku merasa
tidak enak melakukan hal seperti itu, aku rasa aku tidak bisa."
"Tidak
apa-apa. Karena aku pacarmu, Kirishima-kun. Aku ingin melakukan apa pun yang
kau inginkan. Aku ingin menjadi pacar yang kau inginkan. Aku ingin melakukan
segalanya untukmu."
"Hayasaka-san?"
"Hei,
mungkin saja Tachibana-san pernah dipeluk pacarnya di kursi ini, kan?"
Aku membayangkan
pemandangan itu. Dadaku sedikit terasa sakit.
"Tidak
apa-apa, lakukan hal itu padaku. Kau boleh melakukan hal yang lebih dari apa
yang dilakukan pacar Tachibana-san kepada Tachibana-san. Aku, aku senang jika
dihargai, tapi daripada dipajang di tempat yang tidak terjangkau, aku lebih
suka disentuh meski harus sedikit terluka. Aku merasa begitu. Karena itu kau,
Kirishima-kun, makanya aku berpikir begitu."
Sepertinya
Hayasaka-san sedang sangat bersemangat karena aku telah menyelesaikan masalah
ini.
Perasaan
"suka" meluap dari ekspresi dan gerak-geriknya. Jarang sekali ada
orang yang memberikan perasaan suka tanpa syarat sebesar ini. Rasanya seperti
keajaiban kecil.
"Kirishima-kun,
Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun,
Kirishima-kun."
Namun, bukankah
dia agak terlalu menekan pedal gas emosinya?
Hayasaka-san
perlahan menggenggam pergelangan tanganku.
"Aku ingin
kau menyentuhku, Kirishima-kun."
Dia mencoba
membawa tanganku ke dadanya, jadi aku segera menghentikannya.
"Hayasaka-san,
tunggu sebentar."
"Kau tidak mau menyentuhku?"
"Bukan
begitu... maksudku, bukan itu masalahnya. Aku benar-benar bingung sekarang. Belakangan
ini kejadian seperti ini sering terjadi, tapi..."
"Aku,
lho, tidak melakukan ini hanya berdasarkan suasana hati saja," ujar
Hayasaka-san.
"Meskipun
aku nomor dua, aku ingin menjadi pacar yang sungguhan."
"Hayasaka-san adalah pacar yang sungguhan."
"Tapi, kalau
sepasang kekasih, bukankah biasanya mereka melakukan banyak hal lainnya?"
"Memang
begitu. Tapi, sebaiknya kau pikirkan baik-baik. Kita memang sepasang kekasih
yang sah, tapi kita sadar kalau kita adalah 'nomor dua'. Hayasaka-san juga tahu
kalau ada 'nomor satu' di sana."
"Iya. Tapi,
meskipun jadi nomor dua, bagiku asal itu Kirishima-kun, semuanya tidak masalah.
Ya, aku berpikir begitu. Jadi, sentuhlah aku. Aku ingin Kirishima-kun melangkah
lebih jauh lagi ke dalam diriku."
Tanpa kusadari,
Hayasaka-san sudah membuka kancing kedua blusnya.
"Aku tidak
apa-apa jadi nomor dua, aku hanya ingin menjadi pacar yang pantas
untukmu."
"Aku
mengerti. Tapi terlepas dari itu, ini perpustakaan. Dan jendela di sini banyak sekali."
"Kalau
sampai terlihat, ya biarkan saja. Itu urusan nanti."
Mari kita
tunjukkan pada mereka,
kata Hayasaka-san seolah menantang.
"Kalau
sampai itu terjadi, citramu akan hancur dan akan jadi keributan besar,
tahu."
"Tidak
apa-apa. Orang-orang yang memaksakan citra seperti itu padaku, sudah tidak
penting lagi. Sejak awal pun, aku tidak menyukai mereka. Anak laki-laki hanya
ingin melakukan hal seperti itu padaku. Anak perempuan hanya menjadikanku
aksesori lucu di samping mereka."
"Hayasaka-san?"
"Semua orang
berusaha memasukkanku ke dalam imej tertentu. Suci, lembut, apa itu semua? Tapi
Kirishima-kun berbeda. Hanya Kirishima-kun yang berbeda."
"Sebaiknya
kau sedikit tenang."
"Kirishima-kun
melihatku apa adanya. Kau menghargaiku, kau menolongku. Karena itulah, aku
ingin melakukan sesuatu yang lebih spesial."
"Dengarkan
aku, Hayasaka-san."
"Orang lain,
biarkan saja mereka hilang semua. Yang kubutuhkan hanya aku dan
Kirishima-kun."
Hayasaka-san
benar-benar sedang dalam kondisi di luar kendali. Mungkin ini reaksi dari segala tekanan yang selama
ini ia pendam.
Namun, semakin
kacau tutur katanya, entah kenapa ekspresi Hayasaka-san justru terlihat semakin
cantik.
Terdapat pesona
yang tidak sehat terpancar dari matanya yang kosong.
"Kirishima-kun
akan menerimaku apa adanya, kan? Kau akan menerimaku, kan? Inilah aku. Aku
tidak akan membiarkan orang lain menyentuhku. Tapi, aku ingin Kirishima-kun
menyentuhku. Melangkah lebih jauh lagi ke dalam."
Tanganku yang
digenggam Hayasaka-san dituntun menuju dadanya.
Aku benar-benar
tertelan oleh suasana yang diciptakan Hayasaka-san hingga tidak bisa berkata
apa-apa.
"Aku
menyukaimu, Kirishima-kun."
Dan, tepat
sebelum tanganku menyentuh dada Hayasaka-san.
"Eh?"
Aku lebih
terkejut lagi. Karena
Hayasaka-san mencoba memasukkan tanganku ke dalam blusnya.
Kain renda
terlihat dari balik kerah blusnya.
Bahkan, dia
mencoba memasukkan ujung jariku ke sela-sela antara kain renda itu dan kulit
putihnya yang melengkung.
"Hayasaka-san!"
Ini sudah bukan
masalah menyentuh atau tidak lagi. Dia mencoba melangkah lebih jauh.
"Aku ingin
memberikannya pada Kirishima-kun. Aku tidak akan pernah memberikannya pada
orang lain. Tapi untuk Kirishima-kun, aku berikan semuanya. Ambillah, kau mau
menerimanya, kan? Hei, ambillah."
Tekanan yang
tidak bisa dibantah. Aku memahami satu kebenaran.
Ketika seorang
gadis sudah serius, pria mungkin tidak akan bisa melawan sama sekali.
Jari-jariku masuk
ke dalam sela-sela itu dan menyentuh sesuatu yang lembut.
Seseorang,
tolong hentikan aku.
Tepat saat aku berpikir demikian, terdengar langkah kaki dari koridor. Cahaya
kembali ke mata Hayasaka-san yang tadinya kosong.
Di saat-saat
terakhir, dia sepertinya telah mendapatkan kembali rasionya. Sisi "gadis
baik" Hayasaka-san belum hilang.
Kami buru-buru
melepaskan diri, dan tepat saat itu pintu terbuka. Langkah kaki yang tegas.
Orang yang masuk adalah──.
"Lho,
Ketua?"
Itu
Tachibana-san.
"Apa yang
sedang kalian lakukan?"
Dengan wajah
polos, dia menatapku dan Hayasaka-san bergantian, lalu memiringkan kepalanya.
Yang bereaksi
lebih dulu adalah Hayasaka-san.
"Ti-tidak,
kami cuma sedang belajar!"
Meskipun
gerak-geriknya sangat mencurigakan, dia sudah kembali menjadi Hayasaka-san yang
biasanya.
"Tachibana-san
juga sebaiknya minta diajari oleh Kirishima-kun! Karena penjelasannya mudah
dimengerti!"
Setelah
mengatakan itu, dia buru-buru mengancingkan blusnya dan hendak keluar dari
perpustakaan.
Saat hendak
pergi, Hayasaka-san mengatupkan kedua tangannya di balik punggung
Tachibana-san, seolah ingin mengatakan, 'Maaf soal yang tadi'. Lalu,
dengan wajah bermasalah, dia mengangkat dua jarinya.
『Aku
tidak apa-apa jadi pacar nomor dua』
Begitulah
pesannya.
Begitulah, waktu
yang seperti badai itu berlalu, menyisakan aku dan Tachibana-san.
"Tachibana-san,
ada perlu apa ke sini?" tanyaku.
"Belajar."
Tachibana-san menjawab dengan wajah datar.
Lalu, dia duduk di sampingku seolah tidak terjadi apa-apa.
"Karena
biasanya aku belajar di sini."
Dia mengeluarkan
perlengkapan belajarnya dan mulai menggerakkan pensil mekaniknya dengan tenang.
Aku pun akhirnya
kembali fokus pada tugas sastra klasikku.
Keseharian yang
damai kembali, aku merasa lega. Waktu terus berlalu begitu saja.
Kejadian
Hayasaka-san tadi mungkin hanya sesaat karena terbawa emosi.
Perasaanku pun
mulai tenang. Semoga semuanya berlalu begitu saja tanpa masalah. Namun.
Setelah
Tachibana-san selesai menyelesaikan dua soal pembuktian matematika, dia
mencengkeram kerah bajuku dan berkata.
"Kenapa kau
tadi mengajari Hayasaka-san belajar?"
Nadanya terdengar
sedikit marah.
"Padahal
saat aku yang meminta, kau malah menolak."



Post a Comment