NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Watashi Ni-banme no Kanojo de Ii kara Volume 1 Chapter 4

Chapter 4

Surat Tanpa Nama


Koridor penghubung di dekat ruang Klub Misteri dikenal sebagai tempat favorit untuk menyatakan cinta.

Hari itu pun, aku sedang berbaring di sofa, mencoba bersembunyi.

Dari jendela yang terbuka lebar, suara sepasang pria dan wanita terdengar masuk ke telinga.

"Maaf karena tiba-tiba memanggilmu. Apa aku mengganggumu?"

Pria itu adalah siswa kelas tiga dari klub basket, seorang senior yang mencolok dan sangat diperhatikan.

"Ti-tidak mengganggu, kok."

Suara yang gemetar itu adalah Hayasaka-san.

Setahuku, ini sudah keempat kalinya Hayasaka-san ditembak di koridor penghubung ini.

"Jangan gugup begitu. Lagipula, justru aku yang sebenarnya gugup. Hei, apa kau tahu maksud dari situasi kita sekarang?"

"Sepertinya... begitu."

"Jangan-jangan, hal seperti ini sering terjadi padamu?"

"Terkadang."

"Begitu, ya. Aku mengerti."

Dia sepertinya sadar lewat suasananya kalau pernyataan cinta ini tidak akan berhasil. Tapi, karena sudah sejauh ini, dia harus menyelesaikannya.

"Aku sudah lama menyukaimu. Jadi, meski tiba-tiba, maukah kau menjadi pacarku?"

Hayasaka-san terdiam sejenak sebelum menjawab, "Maafkan aku."

"Apa jangan-jangan, kau sudah punya pacar?"

Setelah keheningan sesaat, Hayasaka-san menjawab dengan suara lirih.

"…………Belum ada."

Ya, begitu seharusnya. Jangan sampai dia bilang punya pacar.

Bisa gawat jika kabar itu sampai ke telinga Yanagi-senpai.

"Ada orang lain yang kusukai. Jadi... maafkan aku."

Langkah kaki seseorang terdengar menjauh.

"Sudah selesai?"

Maki, yang berbaring di sofa seberang, bertanya.

Saat kami sedang makan siang bersama tadi, kami justru terlibat dalam drama pernyataan cinta ini.

"Jangan bangun dulu."

Selain Hayasaka-san yang baru saja pergi, masih ada satu orang lagi yang tertinggal.

Siswa yang baru saja patah hati biasanya akan melamun di koridor penghubung untuk beberapa saat. Sekali aku pernah mencoba bangun terlalu cepat dan malah bertatapan muka, itu sungguh canggung.

"Gadis cantik itu sulit juga, ya," ujar Maki.

"Si Hayasaka itu, belakangan ini sepertinya mengalami masa-masa sulit."

"Apa kau dengar sesuatu dari Miki-chan?"

"Ya, begitulah."

Pria ini adalah ketua OSIS di sekolah ini, namun ia berpacaran dengan seorang guru.

Miki-chan, guru mata pelajaran Bahasa Inggris. Dia baru dua tahun lulus kuliah dan memiliki kepribadian yang lembut. Maki jarang bercerita, tapi melihat Maki yang tidak tertarik pada gadis lain, hubungan mereka pasti berjalan baik. Bisa dibilang, Miki-chan adalah orang yang memaklumi sifat egois Maki.

Selain itu, Miki-chan adalah guru yang mudah didekati, sehingga banyak siswi yang datang berkonsultasi dengannya.

Kali ini adalah giliran Hayasaka-san.

"Belakangan ini, seragam olahraganya sering hilang, dan dia dikirimi surat cinta yang menyeramkan."

"Surat cinta yang menyeramkan?"

Sepertinya surat itu ditaruh di dalam loker sepatu.

"Tidak ada namanya, pengirimnya misterius. Padahal begitu, di surat hari berikutnya, si pengirim malah mendesak minta jawaban."

Itu agak menyeramkan.

"Katanya, ada pria yang memakai seragam sekolah yang sama pernah menguntitnya sampai dekat rumah."

"Apa Hayasaka-san baik-baik saja?"

Aku sendiri tidak tahu kalau hal-hal seperti itu terjadi.

"Yah, sepertinya dia tidak sampai terpukul sekali sih," ujar Maki.

"Bagi gadis cantik, hal-hal seperti ini sudah dianggap sebagai 'terjadi lagi'. Mungkin sejak kecil dia sudah terbiasa mengalami hal-hal seperti alat musiknya hilang atau semacamnya."

"Begitukah?"

"Hayasaka itu lemah lembut dan pendiam, kan? Karena terlihat mudah ditekan, kurasa dia cukup sering mengalami kesulitan. Didekati pria aneh atau dijahati oleh siswi lain."

"Masuk akal juga."

Sambil berkata begitu, aku bangkit berdiri.

Kurasa sekarang sudah tidak ada siapa-siapa lagi di koridor penghubung. Namun──.

Begitu kulihat ke luar jendela, tatapan kami beradu dengan sempurna.

Tanpa diduga, yang masih tertinggal di sana adalah Hayasaka-san.

Begitu menyadari kehadiranku, dia mengirimkan pesan lewat gestur tubuh.

Boleh aku ke sana sekarang?

Dia pasti mengira hanya ada aku di sini.

Lalu, dengan jahil, dia membentuk simbol hati di depan dadanya dengan tangan. Ini benar-benar kesalahan fatal.

"Eh, apa maksudnya ini?"

Maki yang baru saja bangkit bertanya sambil menatapku dan Hayasaka-san bergantian.

"Suasananya tidak seperti teman biasa, ya. Lagipula, ini bukan Hayasaka yang kukenal. Tadi ekspresinya benar-benar wajah wanita yang sedang jatuh cinta. Wah, keren banget. Citranya berubah total."

Hayasaka-san buru-buru menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Anggap saja tadi tidak terjadi apa-apa!

Suara hatinya seolah terdengar sampai sini.

"Aku benar-benar minta maaf."

Hayasaka-san masih menutupi wajahnya dengan tangan. Sejak tadi dia masuk ke ruang klub dan duduk di hadapanku, dia masih belum berani menunjukkan wajahnya.

"Kirishima-kun pasti malu juga kan, dilihat oleh Maki-kun."

"Sedikit saja, kok."

Maki segera pergi meninggalkan ruang klub sambil menyeringai, "Nanti aku mau dengar ceritanya, ya."

"Aku hanya ingin membuat Kirishima-kun tersipu. Maaf, ya."

"Tidak apa-apa, aku tidak memikirkannya."

"Benarkah?"

Celah di antara jari-jarinya terbuka, Hayasaka-san mengintip keadaanku.

"Kau tidak marah?"

"Tidak mungkin aku marah."

Begitu kukatakan itu, Hayasaka-san akhirnya menurunkan tangannya.

"Maki-kun, apa dia tidak akan membocorkannya ke orang lain?"

"Kurasa tidak. Dia tipe orang yang mulutnya rapat untuk hal-hal semacam ini."

Hayasaka-san tampak mulai tenang dan menatap sekeliling ruangan dengan penasaran.

"Jadi ini ruang Klub Misteri. Terasa nyaman, ya."

"Dulu ini ruangan tamu, soalnya."

"Apa hubunganmu dengan Tachibana-san berjalan lancar?"

"Sulit."

"Maaf, aku sudah tahu jawabannya saat bertanya. Kirishima-kun, kau melihat media sosialnya, kan?"

"Itu sudah jadi rutinitas harianku."

"Itu sama sekali tidak bagus untuk kesehatan mentalmu."

"Aku sudah punya Resistance, jadi aku baik-baik saja. Rasanya kalau tidak melihat media sosial sekali sehari dan menggeretakkan gigi, aku belum merasa tenang. Besok dan lusa pun, aku ingin tetap merasakan kekecewaan ini."

"Kau terlihat serius sekali, ya."

Hayasaka-san tertawa geli.

"Jadi, kau tahu, ya."

"Soal Tachibana-san yang belajar bersama pacarnya?"

Beberapa hari ini, Tachibana-san memang sedang belajar untuk ujian di perpustakaan bersama pacarnya.

Foto-foto itu sering diunggah di media sosial milik si pacar. Foto Tachibana-san saat menulis di buku catatan atau wajah sampingnya saat membaca buku teks. Omong-omong, Klub Misteri sedang libur karena minggu ujian.

"Kalau mau diajari belajar, kupikir pasangannya adalah Kirishima-kun. Karena nilai Kirishima-kun lebih bagus, kan?"

"Tentu saja aku tidak bisa menandingi ikatan antara dia dan pacarnya."

Lagipula, masalahnya bukan sekadar pacar.

Tunangan.

Menikah segera setelah lulus SMA adalah hal yang sangat di luar nalar, aku tidak bisa berbuat apa-apa.

"Kirishima-kun, kau baru saja terlihat jelas sekali sedang patah hati."

"Maaf, saat sedang berdua begini."

"Tidak, karena kupikir kau pasti sedang sedih, aku berniat menghiburmu. Bahwa meskipun tidak ada Tachibana-san, ada aku di sini. Apa aku tidak cukup bagimu?"

"Mana mungkin tidak cukup. Aku sangat menyukaimu, Hayasaka-san."

Begitu kukatakan itu, Hayasaka-san perlahan berdiri, lalu berpindah dari seberang sofa ke sampingku. Sambil mengacungkan jari telunjuk dan menatapku dengan mata yang penuh harap, dia berkata.

"Kirishima-kun, katakan sekali lagi yang tadi."

"…………Aku sangat menyukaimu, Hayasaka-san."

Seketika itu juga, Hayasaka-san memeluk lenganku dan menempelkan tubuhnya sekuat tenaga.

Bukan cuma tubuh bagian atasnya, dia bahkan merapatkan kakinya juga. Aku jadi tidak sengaja memperhatikan betapa pendek roknya.

"Hayasaka-san, apa maksud dari semua ini?"

"Aku berniat menghiburmu. Tachibana-san sedang bermesraan dengan pacarnya, kau pasti menderita, kan?"

"Ini di sekolah, tahu."

"Aku, sepertinya suka menyentuhmu atau disentuh olehmu, Kirishima-kun. Saat kau datang menjengukku, saat kita masuk ke tempat tidur bersama, aku baru sadar."

"Ingat aturan yang kita buat waktu itu bahwa kita tidak akan melakukan hal ekstrem?"

"Kurasa tubuhku tidak buruk-buruk amat. Banyak anak laki-laki yang menatapku dengan pandangan seperti itu. Tadi orang yang menyatakan cinta padaku pun, menatap dadaku dengan intens."

"Hayasaka-san, apa kau mendengarku?"

Namun Hayasaka-san tidak berhenti.

"Jadi aku yakin aku bisa menyemangatimu, bisa membuatmu senang. Dengan tubuh ini."

"Hayasaka-san, mungkin kau tidak sadar, tapi kau baru saja mengatakan hal yang luar biasa!"

"Aku benci ditatap seperti itu oleh anak laki-laki lain, tapi jika itu Kirishima-kun, aku malah senang."

Mungkin karena dia merasakan tatapanku tadi, Hayasaka-san menggenggam tanganku dan mencoba mengarahkan tanganku ke antara paha putihnya yang terekspos di atas sofa.

"Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu!"

"Eh? Kenapa? Kirishima-kun, bukankah kau ingin menyentuhku?"

"Bukan begitu, ini terlalu cepat. Tiba-tiba kenapa jadi begini?"

Saat kukatakan itu, Hayasaka-san memiringkan kepalanya dengan ekspresi seperti anak kecil, lalu setelah beberapa saat dia mengangguk, "Ah, begitu ya, kau benar."

"Pertama-tama harus ini dulu, ya. Aku sangat suka bagian ini juga."

Dia memejamkan mata, menghadap ke arahku, dan mengangkat dagunya.

Benar-benar sedang menunggu ciuman.

Ada apa dengannya? Hanya karena aku bilang aku menyukainya, dia jadi senekat ini.

Pasti ada alasannya, tapi... tetap saja, astaga──.

"Hayasaka-san, kau sama sekali tidak menyesali perbuatanmu tadi, ya."

Aku menunjuk ke arah jendela.

Kalau tidak ditutup tirai, ruangan ini terlihat jelas dari koridor penghubung.

Dan sekarang, di koridor penghubung itu ada Maki yang sedang melambai ke arah kami.

Hayasaka-san dengan sangat tenang kembali menutupi wajahnya dengan tangan.

"Aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi di sekolah. Bahaya kalau sampai terlihat oleh Tachibana-san. Aku tidak ingin membuat Kirishima-kun dalam masalah. Benar-benar, aku serius."

Hayasaka-san sepertinya sudah kembali tenang. Maki pun akhirnya benar-benar pergi.

Aku menyuruh Hayasaka-san duduk di sofa, lalu menyeduhkan kopi tetes, meskipun aku tidak tahu apakah gadis yang lebih suka teh ini akan meminumnya. Karena biasanya yang menggunakan ruang klub hanya aku dan Tachibana-san, jadi kami hanya punya kopi.

"Kenapa tiba-tiba tadi jadi begitu?"

Saat kutanya, Hayasaka-san memalingkan wajahnya dengan canggung.

"……Belakangan ini, entah kenapa aku merasa seperti dihindari oleh Kirishima-kun."

"Aku tidak bermaksud begitu."

"Tapi, padahal Klub Misteri sedang libur, kita sama sekali tidak bertemu di hari kerja."

"Maaf, aku sibuk belajar untuk ujian..."

"O-oh, begitu ya. Minggu ujian, ya. Kita memang tidak boleh mengabaikan pelajaran."

"Mungkin aku yang salah paham," kata Hayasaka-san sambil memerah.

"Karena merasa cemas, saat kau bilang menyukaiku, aku jadi senang sampai-sampai tidak bisa menahan perasaanku sendiri. Maaf ya, aku merepotkan."

Untuk menutupi rasa malunya, Hayasaka-san mengambil sebuah pensil dari kotak pensilku di atas meja kopi dan mulai memainkannya.

"Boleh aku bertanya sesuatu yang sudah lama kupikirkan?"

"Boleh."

"Kirishima-kun, kenapa kau pakai pensil?"

"Mungkin karena kebiasaan sejak SD. Tidak ada arti khusus, sih."

Setiap hari, aku selalu membawa dua belas pensil yang diruncingkan dengan tajam untuk mengikuti pelajaran.

"Aku cukup menyukainya. Pensil milik Kirishima-kun."

"Kalau begitu ini, untukmu dua buah."

"Benarkah? Terima kasih."

Hayasaka-san menggenggam pensil itu dengan kedua tangan lalu tersenyum manis. Kelucuannya benar-benar bisa membuat penjualan pensil naik dua puluh persen jika dijadikan iklan.

Setelah itu, Hayasaka-san terus menanyakan berbagai hal padaku.

Di mana aku membeli kacamata?

Kenapa aku selalu memakai dasi bahkan di musim panas?

"Aku benar-benar tidak mengerti soal anak laki-laki. Banyak hal yang membuatku penasaran."

"Tanya saja seperti biasa."

Jika lawannya Hayasaka-san, semua orang pasti akan menjawabnya dengan senang hati.

"Tapi aku tidak bisa mengajak orang lain bicara selain Kirishima-kun dengan baik. Aku tidak tahu kapan saat yang tepat, dan meski sedang bersama mereka, pada akhirnya aku hanya bisa mengangguk saja."

Aku tahu. Hayasaka-san memang ada di tengah lingkaran pertemanan, tapi dia sangat canggung, dan karena dia manis, dia sedikit merasa terasing.

"Lagipula, aku tidak bisa mengajak bicara dengan santai. Nanti malah digoda, 'Kau menyukai anak laki-laki itu, ya?'. Selain itu..."

"Kau takut malah disalahpahami dan jadi masalah?"

Hayasaka-san tertawa lirih dengan ekspresi sulit, "Terkadang begitu."

"Apa belakangan ini kau tidak sedang dalam kesulitan karena hal seperti itu?"

"Tidak apa-apa. Tadi pun ada yang menyatakan cinta, tapi karena sudah biasa, aku tidak masalah."

"Begitu ya. Jadi, kau tidak pernah mengalami hal seperti seragam olahragamu hilang, surat cinta tanpa nama ditaruh di loker sepatu, atau pria yang menguntitmu sampai dekat rumah, kan?"

"Eh?"

Hayasaka-san terkejut dan membeku sesaat.

"……Kirishima-kun, kau tahu?"

"Maaf, aku tidak sengaja mendengarnya sedikit."

"Jangan khawatir. Memang awalnya aku cemas, tapi belakangan ini surat cinta sudah tidak ada lagi, dan saat pulang sekolah aku juga selalu pulang bersama teman-temanku. Sekarang aku sudah baik-baik saja."

"Apa hal seperti ini sering terjadi?"

"Sejak masuk SMA jarang sih. Mungkin sebaiknya aku bilang kalau aku punya pacar? Kalau begitu, mereka pasti tidak akan melakukan hal aneh, dan pernyataan cinta juga mungkin akan berkurang."

Setelah mengatakan itu, Hayasaka-san buru-buru melambaikan tangan, "Bukan begitu."

"Aku tidak bermaksud ingin mempublikasikan hubungan kita dengan Kirishima-kun atau semacamnya. Kalau melakukan itu, nanti Kirishima-kun jadi sulit mendekati Tachibana-san."

"Hayasaka-san juga sebaiknya tidak usah bilang begitu. Meskipun lawannya dari sekolah lain, kita tidak pernah tahu siapa yang terhubung dengan siapa."

"Iya, benar juga."

Hayasaka-san berdiri, "Kalau begitu, aku kembali ke kelas dulu ya."

"Hei, Kirishima-kun."

"Apa?"

"Aku pacarmu, kan?"

"Itu tidak perlu ditanyakan lagi, kan."

Hayasaka-san tertawa puas, "Ehehe," lalu meninggalkan ruang klub.

Setelah sendirian, aku menggaruk kepalaku.

Wajar jika Hayasaka-san merasa cemas dan berpikir aku menghindarinya. Sekarang, saat Klub Misteri tidak aktif karena persiapan ujian, seharusnya kami punya lebih banyak waktu untuk bersama.

Bilang sibuk belajar ujian itu bohong.

Aku mengeluarkan beberapa pucuk surat dari saku.

Hayasaka-san tadi bilang: 'Belakangan ini surat cinta tidak ada lagi'.

Tentu saja begitu. Karena selama beberapa hari ini, akulah yang mengambil surat-surat itu sebelum Hayasaka-san sempat melihatnya.

Jangan khawatir, kata Hayasaka-san.

Maki bilang, di depan Miki-chan pun dia tidak terlihat sedang terpukul.

Tapi itu hanya karena dia menahan diri demi orang-orang di sekitarnya.

Dia mencoba menanggung semuanya sendiri agar tidak merepotkan orang lain, meskipun sebenarnya dia takut.

Hayasaka-san adalah gadis yang seperti itu. Meskipun lemah, dia selalu memaksakan diri.

Karena itulah, aku akan mengalahkan pelaku yang menakuti Hayasaka-san.

"Apa-apaan, jadi kau sudah tahu?" tanya Maki.

Selama jam pelajaran olahraga, kami berdiri mengobrol di sudut lapangan.

"Yah, begitulah. Seragam olahraga Hayasaka-san sudah lama sekali menjadi barang pinjaman."

Di lapangan tenis, para siswi sedang bermain tenis.

Hayasaka-san mengenakan seragam olahraga model lama yang disediakan di ruang kesehatan.

"Aneh kalau sampai tidak sadar."

Aku juga sudah berkali-kali melihat Hayasaka-san yang wajahnya menegang sambil memegang surat di loker sepatu.

"Omong-omong, siswa laki-laki yang menguntit sampai dekat rumahnya itu adalah aku."

"Kirishima? Apa maksudnya?"

"Aku memantau dari jauh untuk memastikan dia tidak dikuntit oleh orang lain."

"Itu sih kau sendiri yang jadi penguntitnya!"

"Begitu, ya?"

Aku berniat memastikan dia masuk ke dalam rumah, tapi dia tiba-tiba menoleh ke belakang, jadi aku panik. Wajahku tidak terlihat, tapi gara-gara itu aku malah dicurigai sebagai orang mencurigakan.

"Jadi, surat dan seragam itu masalahnya, ya?"

"Benar. Dan pelakunya kemungkinan besar ada di antara siswa yang aktif di kegiatan klub."

Waktu untuk memasukkan surat ke loker sepatu hanya bisa dilakukan setelah pulang sekolah.

"Padahal minggu ujian, tapi banyak siswa yang tinggal untuk latihan mandiri. Kami di OSIS pun tinggal. Apa tidak sulit menemukan pelakunya?"

"Tidak juga."

Aku bilang, besok atau lusa semuanya akan ketahuan.

"Benarkah? Padahal imej menebak pelaku seperti ini biasanya sulit."

"Itu karena misteri dalam cerita sengaja dibuat rumit demi mengejutkan pembaca."

Hal yang terjadi di dunia nyata jauh lebih sederhana.

"Bicara juga kau. Jadi, kau sudah punya kandidat pelakunya?"

"Kalau dalam cerita misteri, pelakunya mungkin guru, seorang gadis, atau jangan-jangan malah aku sendiri, tapi itu kan ditulis demi unsur kejutan."

Kali ini, tentu saja pelakunya siswa laki-laki.

"Kirishima, kau ternyata benar-benar membaca buku misteri, ya."

"Memangnya kau pikir aku ini apa?"

"Kupikir kau cuma orang aneh yang cuma menjual papan nama misteri, sambil mendengarkan alunan piano dari ruang sebelah, kau malah sibuk memandangi media sosial pacar gadis yang kau sukai sampai gila karena cemburu."

"Hampir semuanya benar."

Aku menceritakan tentang tiga orang yang berpotensi menjadi pelaku.

Yamanaka-kun dari Klub Peneliti Manga.

Saat pelajaran olahraga, dialah yang paling antusias memandangi Hayasaka-san. Ketertarikannya pada seragam olahraga sudah tidak perlu diragukan.

Dia sedang mendaftar untuk penghargaan manga, dan dia sering tidak sadar dengan sekitarnya jika sudah fokus. Padahal seharusnya dia cerdas, tapi ada rumor dia mendapat nilai 0 saat ujian tengah semester.

Ichiba-kun dari Klub Sepak Bola.

Meskipun dia selalu bicara keras tentang bagaimana dia bermain dengan gadis dari sekolah lain, matanya selalu melirik untuk melihat reaksi Hayasaka-san.

Dia terlihat seperti tipe yang terbiasa dengan wanita, tapi sebenarnya tidak juga. Orang yang benar-benar terbiasa dengan wanita, seperti Maki, akan diam-diam berpacaran dengan guru.

Senior Nohara dari Klub Bulu Tangkis.

Siswa kelas tiga yang sudah dua kali menyatakan cinta pada Hayasaka-san dan ditolak.

Dia masih belum menyerah, dan sering datang ke kelas dengan alasan ada urusan dengan adik kelas, lalu mengirimkan tatapan penuh penyesalan pada Hayasaka-san.

Dia tipe orang yang dramatis; dia menyatakan cinta untuk kedua kalinya di depan semua orang sampai Hayasaka-san menangis.

Ketiganya menyukai Hayasaka-san, dan tidak satu pun dari emosi mereka yang tersalurkan. Itulah masalah sulit yang sering terjadi dalam mencintai seseorang.

"Lalu, dari sini bagaimana cara mengidentifikasi pelakunya?"

"Masih ada satu petunjuk lagi."

"Surat cinta yang kau kumpulkan itu?"

Mungkin bisa diketahui dari tulisan tangannya.

"Bisakah kau minta tolong Miki-chan untuk meminjamkan hasil kuis kecil tempo hari?"

"Boleh saja."

"Mudah sekali kau menjawabnya. Itu masalah besar kalau sampai ketahuan, tahu."

"Miki-chan akan menuruti apa pun kataku."

Pria ini, dengan santainya mengatakan hal yang luar biasa.

"Lagipula Kirishima, cepat ceritakan hubunganmu dengan Hayasaka. Kau memperlakukannya dengan sangat berharga, ya. Dilihat dari caranya, Hayasaka pun sepertinya tidak keberatan."

"Itu bukan hal yang bisa diceritakan pada orang lain."

"Boleh, lah. Tidak adil kalau cuma Kirishima yang tahu rahasia punyaku."

"Tidak ada pilihan lain."

Aku menjelaskan hubungan kami dengan singkat.

"O-ooh. Benar-benar tidak sehat, ya."

Maki berkata begitu. Padahal itu bukan kalimat yang pantas diucapkan oleh orang yang berpacaran dengan guru.

"Berpacaran sebagai pelampiasan karena sama-sama jadi pilihan kedua, ya?"

"Itu cara yang sangat cerdas."

"Kalau dipikir pakai logika mungkin begitu, tapi apa benar akan berjalan lancar?"

Maki skeptis dengan 'Metode Peluang Patah Hati 25 Persen'-ku.

"Setidaknya ada satu pengabaian fatal, kan?"

"Apa itu?"

"Kemungkinan pilihan kedua berubah menjadi pilihan utama."

Artinya, perubahan kondisi dasar.

"Jika salah satu di antara Hayasaka atau Kirishima menjadikan pihak lain sebagai pilihan utama, hubungan itu bakal jadi rumit sekali, lho."

Maki mengatakannya seolah-olah sedang meramal.

"Semoga saja tidak sampai begitu."

Aku berhadapan dengan tumpukan kertas ujian.

Itu terjadi setelah pulang sekolah di ruang klub. Dan sekarang aku dalam masalah.

Aku berniat mencocokkan tulisan tangan di surat cinta dengan kertas ujian, tapi ternyata hampir semua tulisan di kertas ujian itu menggunakan alfabet.

Tentu saja, karena Miki-chan adalah guru Bahasa Inggris.

Nama dan terjemahannya memang pakai Bahasa Jepang, tapi jumlah karakternya terlalu sedikit untuk melakukan identifikasi tulisan tangan.

Lagipula, ini hanya lembar jawaban kelas dua, jadi kelas satu dan tiga berada di luar jangkauan.

Seharusnya aku bisa memikirkannya tadi, ini benar-benar kesalahan fatal karena kurang teliti.

Benar-benar menyebalkan.

Aku menghela napas, lalu memandangi dua pucuk surat cinta yang kukumpulkan dari loker sepatu di atas meja.

Satu surat berisi pujian untuk penampilan Hayasaka-san, satu lagi berisi desakan agar dia segera memberikan jawaban.

Karena tidak ada nama namun meminta jawaban, surat itu memang bisa dibilang menyeramkan.

Ternyata, salah satu surat yang Hayasaka-san berikan kepada Miki-sensei juga ada yang isinya meminta Hayasaka-san untuk memperlihatkan dirinya dalam balutan seragam olahraga. Itu sudah tidak bisa disebut sebagai surat cinta lagi.

Aku menatap surat yang ada di tanganku. Lalu, aku menyadari sesuatu.

Tulisannya sangat rapi dan hati-hati.

Wajar jika tulisan untuk surat kepada seorang gadis dibuat berbeda dari tulisan sehari-hari.

Katanya, analisis tulisan tangan adalah hal yang sulit bahkan bagi para profesional, jadi tidak mungkin aku—yang bahkan tidak menunjukkan kemampuan observasi apa pun dalam pelajaran seni—bisa melakukannya.

Kejadian yang terjadi di dunia nyata itu sebenarnya sederhana.

Aku teringat pada Maki dan tiba-tiba merasa malu sendiri.

Karena terlanjur bicara besar, aku mencoba memutar otak mencari petunjuk lain. Namun, aku bukan tipe orang yang sigap dalam berpikir cepat, dan karena sudah terlanjur memutuskan untuk menyelesaikannya lewat analisis tulisan tangan, sulit bagi otakku untuk berpikir fleksibel.

Ada cara untuk mendatangi ketiga orang yang sudah kucurigai secara bergiliran dan menuduh mereka sebagai pelakunya untuk memancing pengakuan. Tapi jika mereka berpura-pura tidak tahu tanpa bukti yang kuat, mereka pasti bisa lolos.

Aku diminta untuk mengembalikan kertas ujian sebelum sore hari.

Waktu terus berlalu detik demi detik.

Yah, kalau memang tidak bisa, ya mau bagaimana lagi. Lebih baik aku menyerah, pulang, lalu tidur.

Begitu aku berpikir demikian dan memasukkan kertas ujian ke dalam amplop untuk dikembalikan, tiba-tiba──.

Ide itu muncul.

Aku segera berdiri dan keluar dari ruang klub. Aku menuruni tangga menuju lantai satu.

Di gedung lama, ruangan yang terletak berseberangan diagonal dengan ruang Klub Misteri. Aku membuka pintu dan masuk ke dalam.

Seorang siswa laki-laki sedang menghadap mejanya.

Aku berdiri di belakangnya dan meletakkan tangan di bahunya.

"Bisa kembalikan? Seragam olahraga Hayasaka-san."

Dia menoleh ke arahku, berpikir sejenak, lalu menjawab.

"Kenapa kau tahu itu aku?"

"Kau mendapat nilai 0 di ujian tengah semester, kan?"

Padahal dia seharusnya pintar.

"Kenapa kau bisa dapat nilai segitu?"

"Aku lupa menulis nama."

Siswa laki-laki itu menjawab dengan nada tenang.

Aku meletakkan dua pucuk surat di atas mejanya lalu berkata.

"Itu tidak boleh. Kau harus menulis nama pada barang yang berharga, bukan?"

Hayasaka-san sedang bermain tenis.

Meski masih terayun-ayun oleh raketnya dan masih terlihat canggung, dia mampu mengembalikan bola kepada lawannya dengan benar.

Sambil menyeka keringat di dahinya dengan tangan, ekspresinya tampak cerah. Seragam olahraga yang dikenakannya adalah miliknya sendiri. Rupanya seragam itu sudah kembali dengan selamat.

Pelakunya adalah Yamanaka-kun dari Klub Peneliti Manga.

Dia memiliki sifat ceroboh; dia sering lupa menuliskan namanya baik di kertas ujian maupun di surat cinta.

Namun, kalau mau dikatakan secara tepat, surat-surat itu sebenarnya bukan surat cinta──.

Hari saat aku mengunjungi ruang Klub Manga, di atas meja Yamanaka-kun terdapat sebuah tablet. Di sana terpampang karakter yang sangat mirip dengan Hayasaka-san. Itu adalah adegan saat dia mengenakan seragam olahraga, dan gambarnya masih setengah jadi.

"Jadi maksudmu, kau hanya ingin mengamatinya?" tanyaku.

Yamanaka-kun mengangguk.

"Aku benar-benar tidak bisa menggambarnya dengan baik, jadi aku ingin dia menjadi modelnya."

"Karena itulah kau menulis surat dan memasukkannya ke loker sepatu. Tapi karena tidak ada jawaban, kau meminjam seragam olahraganya."

"Tanpa izin, ya. Aku telah melakukan hal yang buruk."

Sepertinya batas waktu pengiriman karya untuk penghargaan manga sudah dekat.

"Aku ingin kualitasnya meningkat walau sedikit saja. Tapi ternyata seragam saja tidak cukup, aku ingin melihat sosok aslinya saat memakainya dari dekat, jadi aku menulis surat lagi."

Namun, karena dia lupa menuliskan nama, tidak ada balasan.

"Aku memang berniat mengembalikan seragam itu. Tapi, saat pulang sekolah, ada Kirishima-kun di belakangku."

Katanya, dia tidak pernah punya waktu untuk berduaan saja dengan Hayasaka-san. Sungguh, aku minta maaf karena telah menghalangi.

"Lagipula, Yamanaka-kun seharusnya menulis dengan lebih jujur kalau ingin dia jadi model. Kau malah memuji penampilannya segala, pantas saja kalau disalahpahami sebagai surat cinta yang menyeramkan."

Mendengar itu, Yamanaka-kun terdiam.

"Apa jangan-jangan, kau menyukai Hayasaka-san?"

"Kalau tidak, aku tidak akan menjadikannya karakter utama di mangaku."

Benar juga.

"Bukan berarti aku ingin menjadi pacarnya atau semacamnya. Tidak... mungkin di lubuk hatiku yang paling dalam, aku memang berpikir ingin menyatakan cinta jika dia bersedia menjadi modelku."

"Tapi, aku sudah tidak punya niat itu lagi," ujar Yamanaka-kun.

"Karena ada Kirishima-kun, ya."

"Aku bukan siapa-siapanya Hayasaka-san."

"Benarkah?"

Yamanaka-kun bilang, demi menggambar manga yang bagus, dia selalu mengamati orang-orang.

"Hayasaka-san selalu mengikuti Kirishima-kun dengan matanya setiap ada kesempatan. Dan Kirishima-kun melakukan hal ini untuknya. Kalian benar-benar saling mencintai. Benar-benar sempurna tanpa celah."

"Hayasaka-san punya orang lain yang dia sukai."

"Aku tahu."

Yamanaka-kun satu SMP dengan Hayasaka-san, dan katanya dulu dia pernah mendengar Hayasaka-san membicarakan orang yang dia sukai dengan teman-temannya.

"Ada seseorang yang sangat keren di satu tingkat di atas kami dari SMP yang berbeda. Karena itu sekolah tempat Kirishima-kun dulu, mungkin kau mengenalnya, kan?"

"Itu Yanagi-senpai. Dia masih mencintainya sampai sekarang."

"Tapi, apakah perasaan itu benar-benar cinta?"

Karena Yamanaka-kun mengatakan sesuatu yang tak terduga, aku refleks bertanya balik, "Eh?"

Dia mengoperasikan tabletnya dan memperlihatkan manga yang sedang digambarnya.

"Aku, sejak dulu sering memperhatikan mata orang. Karena di sanalah emosi bersemayam. Meskipun menggambar karakter yang sama, aku mengubah cara menggambar matanya tergantung pada adegan atau dengan siapa dia bicara."

"Kau seorang seniman, ya."

"Aku seorang mangaka."

Cerita yang sedang digambar Yamanaka-kun adalah tentang seorang gadis tokoh utama yang terjebak dalam hubungan segitiga dengan dua anak laki-laki.

Model gadis itu adalah Hayasaka-san.

"Salah satu anak laki-laki adalah senior yang dikagumi sang tokoh utama. Yang satu lagi adalah teman sekelas yang ketus."

"Itu manga shoujo sekali."

"Aku sudah menyukainya sejak kecil karena pengaruh kakak perempuanku."

Aku pun sering membacanya karena pengaruh adik perempuanku.

"Tokoh utama gadis itu, pada akhirnya memilih teman sekelasnya, bukan seniornya. Menurutmu kenapa?"

"Dalam manga shoujo, teman sekelas yang ketus biasanya lebih kuat daripada senior yang baik."

"Kau berwawasan luas, ya."

Tapi sepertinya alasan Yamanaka-kun membuat akhir cerita seperti itu berbeda.

"Karena kekaguman itu sama sekali berbeda dengan perasaan suka. Karena mirip, kita sering tertukar tanpa sadar. Tapi, cobalah amati perasaanmu dengan baik. Ada kekaguman, keinginan untuk melindungi, rasa gemas, dan banyak emosi positif lainnya. Tapi, perasaan suka yang murni itu jauh lebih spesial dan berbeda dari yang lain."

"Kau menangkap emosi dengan sangat sensitif, ya."

"Mungkin saja. Karena itu, aku berpikir. Perasaan Hayasaka-san pada senior itu hanyalah kekaguman. Suatu saat dia sendiri akan menyadarinya. Bahwa itu berbeda dengan rasa suka. Karena berpikir begitu, di dalam hati aku tidak bisa menyerah pada Hayasaka-san. Tapi belakangan ini, aku menemukan 'suka' yang sesungguhnya di mata Hayasaka-san. Saat dia mengikuti sosok seseorang dengan matanya."

"Siapa ya kira-kira?"

"Kau berpura-pura tidak tahu, ya."

"Sudahlah, aku sudah benar-benar menyerah," ujar Yamanaka-kun sambil menunduk.

"Biar aku saja yang mengembalikan seragamnya."

"Tidak, aku akan meminta maaf dan mengembalikannya sendiri. Meski agak malu, aku akan melakukannya sendiri."

"Jangan bilang kalau itu dariku, ya."

Yamanaka-kun mengangguk, "Mengerti."

"Ngomong-ngomong, apa kau juga mengamati mataku?"

"Kau ingin tahu siapa sebenarnya yang kau sukai, kan?"

"Menurut perkataan Yamanaka-kun, sepertinya ada kalanya kita sendiri tidak tahu emosi apa yang kita miliki."

"Aku tidak akan memberitahumu," Yamanaka-kun tersenyum ramah.

"Itu adalah perlawanan kecil dari pria yang diam-diam mengalami patah hati. Sebaiknya kau pikirkan itu baik-baik, Kirishima-kun."

"Begitu ya."

"Hei Kirishima-kun, cinta itu sangat kejam, ya. Sejak SMP, aku benar-benar menyukai Hayasaka-san. Aku memikirkannya sampai tidak bisa melakukan apa pun. Tidak ada pilihan lain, aku bahkan pernah menghabiskan malam dengan terus membuat sketsa Hayasaka-san yang muncul di balik kelopak mataku. Tapi perasaan ini tidak punya tujuan, dan berakhir tanpa terbalas satu hal pun."

"Aku pun sering memikirkan tentang banyaknya cinta yang tidak terbalas itu."

"Hayasaka-san menerima banyak perasaan suka yang spesial dari banyak orang. Padahal, jika dia sendiri tidak dicintai oleh orang yang dia sukai, itu juga hal yang sangat kejam. Aku ingin perasaan Hayasaka-san terbalas. Aku hanya ingin menyampaikan itu padamu."

Setelah mengatakan itu, Yamanaka-kun kembali mengerjakan manganya di atas meja.

Karena dia terlihat ingin menangis, aku memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.

"Semoga mangamu menang penghargaan, ya."

"Terima kasih."

Ruang perpustakaan setelah jam sekolah kosong.

Karena pacar Tachibana-san sedang tidak masuk sekolah, hari ini tidak ada sesi belajar bersama bagi para kekasih.

Aku menemukan buku tafsir Tosa Nikki dari rak buku dan membukanya di atas meja. Aku harus mengejar ketertinggalan dalam beberapa hari terakhir. Aku menuliskan konjugasi kata bantu di buku teks. Saat itu, seseorang masuk.

Itu Hayasaka-san.

Dengan wajah yang agak malu-malu, dia duduk di sampingku.

"Bukankah itu tempat yang biasanya diduduki pacar Tachibana-san?"

"Dilihat dari foto di media sosial, sepertinya begitu."

"Kebetulan?"

"Hari ini tidak ada pembaruan media sosial, jadi sebagai gantinya aku duduk di sini untuk merasakan kekecewaan. Jadi pacarnya selalu melihat wajah samping Tachibana-san dari sini, ya? Grrr, kesal sekali."

"Secukupnya saja, ya."

Hayasaka-san tertawa. Suasana hatinya tampak sedang bagus.

Setelah itu, dengan sedikit ragu, dia menempelkan tubuhnya padaku seolah sedang menabrakkan diri.

"Bukankah tadi kau bilang tidak akan melakukan hal aneh di sekolah?"

"Semuanya salah Kirishima-kun."

"Salahku?"

"Sikap baikmu itu curang, tahu."

"Ternyata dia lebih cerewet dari yang kuduga."

"Tidak, aku hanya bertanya sedikit memaksa tadi. Sedikit saja, ya."

Hayasaka-san tersenyum manis. Mungkin Yamanaka-kun sempat merasa takut tadi.

"Hayasaka-san, mulai sekarang kalau ada apa-apa, katakan dengan benar, ya."

"Iya. Tapi kalaupun aku tidak bilang, Kirishima-kun pasti akan menolongku, kan?"

"Ehehe," Hayasaka-san menempelkan wajahnya ke dadaku.

"Hei, Hayasaka-san, bagaimana kalau ada yang melihat kita?"

"Jantungku jadi berdebar, ya."

Gawat. Saklar "gadis nakal"-nya sudah benar-benar menyala.

"Waktu itu, maaf ya sudah bertanya, 'Aku pacarmu, kan?'. Pasti terasa berat, ya?"

"Tidak juga, kok."

"Aku tidak akan mengatakan hal yang berat lagi. Aku akan menjadi pacar yang lebih baik."

"Sekarang pun kau sudah menjadi pacar yang baik."

"Tidak, aku selalu membuatmu khawatir. Hei Kirishima-kun, kau tidak perlu terlalu sungkan begitu. Kau boleh berbuat sesukamu padaku. Saat kau merasa sedih karena Tachibana-san bermesraan dengan pacarnya, kau boleh menjadikanku penggantinya."

"Aku merasa tidak enak melakukan hal seperti itu, aku rasa aku tidak bisa."

"Tidak apa-apa. Karena aku pacarmu, Kirishima-kun. Aku ingin melakukan apa pun yang kau inginkan. Aku ingin menjadi pacar yang kau inginkan. Aku ingin melakukan segalanya untukmu."

"Hayasaka-san?"

"Hei, mungkin saja Tachibana-san pernah dipeluk pacarnya di kursi ini, kan?"

Aku membayangkan pemandangan itu. Dadaku sedikit terasa sakit.

"Tidak apa-apa, lakukan hal itu padaku. Kau boleh melakukan hal yang lebih dari apa yang dilakukan pacar Tachibana-san kepada Tachibana-san. Aku, aku senang jika dihargai, tapi daripada dipajang di tempat yang tidak terjangkau, aku lebih suka disentuh meski harus sedikit terluka. Aku merasa begitu. Karena itu kau, Kirishima-kun, makanya aku berpikir begitu."

Sepertinya Hayasaka-san sedang sangat bersemangat karena aku telah menyelesaikan masalah ini.

Perasaan "suka" meluap dari ekspresi dan gerak-geriknya. Jarang sekali ada orang yang memberikan perasaan suka tanpa syarat sebesar ini. Rasanya seperti keajaiban kecil.

"Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun."

Namun, bukankah dia agak terlalu menekan pedal gas emosinya?

Hayasaka-san perlahan menggenggam pergelangan tanganku.

"Aku ingin kau menyentuhku, Kirishima-kun."

Dia mencoba membawa tanganku ke dadanya, jadi aku segera menghentikannya.

"Hayasaka-san, tunggu sebentar."

"Kau tidak mau menyentuhku?"




"Bukan begitu... maksudku, bukan itu masalahnya. Aku benar-benar bingung sekarang. Belakangan ini kejadian seperti ini sering terjadi, tapi..."

"Aku, lho, tidak melakukan ini hanya berdasarkan suasana hati saja," ujar Hayasaka-san.

"Meskipun aku nomor dua, aku ingin menjadi pacar yang sungguhan."

"Hayasaka-san adalah pacar yang sungguhan."

"Tapi, kalau sepasang kekasih, bukankah biasanya mereka melakukan banyak hal lainnya?"

"Memang begitu. Tapi, sebaiknya kau pikirkan baik-baik. Kita memang sepasang kekasih yang sah, tapi kita sadar kalau kita adalah 'nomor dua'. Hayasaka-san juga tahu kalau ada 'nomor satu' di sana."

"Iya. Tapi, meskipun jadi nomor dua, bagiku asal itu Kirishima-kun, semuanya tidak masalah. Ya, aku berpikir begitu. Jadi, sentuhlah aku. Aku ingin Kirishima-kun melangkah lebih jauh lagi ke dalam diriku."

Tanpa kusadari, Hayasaka-san sudah membuka kancing kedua blusnya.

"Aku tidak apa-apa jadi nomor dua, aku hanya ingin menjadi pacar yang pantas untukmu."

"Aku mengerti. Tapi terlepas dari itu, ini perpustakaan. Dan jendela di sini banyak sekali."

"Kalau sampai terlihat, ya biarkan saja. Itu urusan nanti."

Mari kita tunjukkan pada mereka, kata Hayasaka-san seolah menantang.

"Kalau sampai itu terjadi, citramu akan hancur dan akan jadi keributan besar, tahu."

"Tidak apa-apa. Orang-orang yang memaksakan citra seperti itu padaku, sudah tidak penting lagi. Sejak awal pun, aku tidak menyukai mereka. Anak laki-laki hanya ingin melakukan hal seperti itu padaku. Anak perempuan hanya menjadikanku aksesori lucu di samping mereka."

"Hayasaka-san?"

"Semua orang berusaha memasukkanku ke dalam imej tertentu. Suci, lembut, apa itu semua? Tapi Kirishima-kun berbeda. Hanya Kirishima-kun yang berbeda."

"Sebaiknya kau sedikit tenang."

"Kirishima-kun melihatku apa adanya. Kau menghargaiku, kau menolongku. Karena itulah, aku ingin melakukan sesuatu yang lebih spesial."

"Dengarkan aku, Hayasaka-san."

"Orang lain, biarkan saja mereka hilang semua. Yang kubutuhkan hanya aku dan Kirishima-kun."

Hayasaka-san benar-benar sedang dalam kondisi di luar kendali. Mungkin ini reaksi dari segala tekanan yang selama ini ia pendam.

Namun, semakin kacau tutur katanya, entah kenapa ekspresi Hayasaka-san justru terlihat semakin cantik.

Terdapat pesona yang tidak sehat terpancar dari matanya yang kosong.

"Kirishima-kun akan menerimaku apa adanya, kan? Kau akan menerimaku, kan? Inilah aku. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuhku. Tapi, aku ingin Kirishima-kun menyentuhku. Melangkah lebih jauh lagi ke dalam."

Tanganku yang digenggam Hayasaka-san dituntun menuju dadanya.

Aku benar-benar tertelan oleh suasana yang diciptakan Hayasaka-san hingga tidak bisa berkata apa-apa.

"Aku menyukaimu, Kirishima-kun."

Dan, tepat sebelum tanganku menyentuh dada Hayasaka-san.

"Eh?"

Aku lebih terkejut lagi. Karena Hayasaka-san mencoba memasukkan tanganku ke dalam blusnya.

Kain renda terlihat dari balik kerah blusnya.

Bahkan, dia mencoba memasukkan ujung jariku ke sela-sela antara kain renda itu dan kulit putihnya yang melengkung.

"Hayasaka-san!"

Ini sudah bukan masalah menyentuh atau tidak lagi. Dia mencoba melangkah lebih jauh.

"Aku ingin memberikannya pada Kirishima-kun. Aku tidak akan pernah memberikannya pada orang lain. Tapi untuk Kirishima-kun, aku berikan semuanya. Ambillah, kau mau menerimanya, kan? Hei, ambillah."

Tekanan yang tidak bisa dibantah. Aku memahami satu kebenaran.

Ketika seorang gadis sudah serius, pria mungkin tidak akan bisa melawan sama sekali.

Jari-jariku masuk ke dalam sela-sela itu dan menyentuh sesuatu yang lembut.

Seseorang, tolong hentikan aku. Tepat saat aku berpikir demikian, terdengar langkah kaki dari koridor. Cahaya kembali ke mata Hayasaka-san yang tadinya kosong.

Di saat-saat terakhir, dia sepertinya telah mendapatkan kembali rasionya. Sisi "gadis baik" Hayasaka-san belum hilang.

Kami buru-buru melepaskan diri, dan tepat saat itu pintu terbuka. Langkah kaki yang tegas. Orang yang masuk adalah──.

"Lho, Ketua?"

Itu Tachibana-san.

"Apa yang sedang kalian lakukan?"

Dengan wajah polos, dia menatapku dan Hayasaka-san bergantian, lalu memiringkan kepalanya.

Yang bereaksi lebih dulu adalah Hayasaka-san.

"Ti-tidak, kami cuma sedang belajar!"

Meskipun gerak-geriknya sangat mencurigakan, dia sudah kembali menjadi Hayasaka-san yang biasanya.

"Tachibana-san juga sebaiknya minta diajari oleh Kirishima-kun! Karena penjelasannya mudah dimengerti!"

Setelah mengatakan itu, dia buru-buru mengancingkan blusnya dan hendak keluar dari perpustakaan.

Saat hendak pergi, Hayasaka-san mengatupkan kedua tangannya di balik punggung Tachibana-san, seolah ingin mengatakan, 'Maaf soal yang tadi'. Lalu, dengan wajah bermasalah, dia mengangkat dua jarinya.

Aku tidak apa-apa jadi pacar nomor dua

Begitulah pesannya.

Begitulah, waktu yang seperti badai itu berlalu, menyisakan aku dan Tachibana-san.

"Tachibana-san, ada perlu apa ke sini?" tanyaku.

"Belajar."

Tachibana-san menjawab dengan wajah datar.

Lalu, dia duduk di sampingku seolah tidak terjadi apa-apa.

"Karena biasanya aku belajar di sini."

Dia mengeluarkan perlengkapan belajarnya dan mulai menggerakkan pensil mekaniknya dengan tenang.

Aku pun akhirnya kembali fokus pada tugas sastra klasikku.

Keseharian yang damai kembali, aku merasa lega. Waktu terus berlalu begitu saja.

Kejadian Hayasaka-san tadi mungkin hanya sesaat karena terbawa emosi.

Perasaanku pun mulai tenang. Semoga semuanya berlalu begitu saja tanpa masalah. Namun.

Setelah Tachibana-san selesai menyelesaikan dua soal pembuktian matematika, dia mencengkeram kerah bajuku dan berkata.

"Kenapa kau tadi mengajari Hayasaka-san belajar?"

Nadanya terdengar sedikit marah.

"Padahal saat aku yang meminta, kau malah menolak."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close