NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Watashi Ni-banme no Kanojo de Ii kara Volume 1 Prolog


Prolog

Sepulang sekolah, aku memilih jalan memutar agar tidak ada yang melihat kami berdua.

Ini terjadi di jalan setapak yang sempit di sepanjang rel kereta api, di mana pagar dan tembok beton membentang di sisi kiri dan kanan, jauh dari keramaian.

"Panas, ya."

Hayasaka-san yang berjalan di sampingku bersuara.

Seragam musim panasnya yang segar, rambut yang dipotong rapi, dan ekspresinya yang malu-malu membuatnya terlihat agak kekanak-kanakan.

"Aku haus."

Hayasaka-san berkata begitu setelah meminum seteguk cider yang baru saja ia beli di mesin penjual otomatis.

"Kirishima-kun mau minum?"

"Memangnya boleh?"

"Hm."

Ia menyerahkan botol plastik itu dengan santai. Di dalam tas sekolahku memang ada botol minum berisi teh, tetapi di bawah langit biru ini, aku memang sedang ingin meminum sesuatu yang dingin dan bersoda.

Tapi, apa benar tidak apa-apa?

Mataku tanpa sadar tertuju pada bibir Hayasaka-san yang lembap setelah meminum cider tadi.

Kalau aku meminumnya sekarang, itu jelas sekali, ciuman tidak langsung namanya.

Namun, Hayasaka-san memasang wajah seolah ia tidak memikirkan hal itu sama sekali, ia tersenyum dengan kesan gadis yang benar-benar suci.

Kalau aku ragu di sini, justru itu akan terlihat seolah aku memikirkannya.

Aku pun berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan menempelkan bibir ke botol untuk meminum cider itu.

"Ciuman tidak langsung, ya."

Begitu ia mengatakannya, aku pun tersedak.

"...Sepertinya Hayasaka-san sedang mempermainkanku, ya."

"Ehehe."

Hayasaka-san membentuk tanda peace dengan jarinya. Namun, ekspresinya tampak menahan diri dan pipinya memerah.

"Jangan mempermalukan dirimu sendiri setelah melakukan itu."

"A-aku tidak malu, kok."

Sembari berkata begitu, Hayasaka-san jelas sekali sedang malu, lalu ia mengalihkan pembicaraan seolah ingin melupakan hal itu.

"Tadi saat istirahat siang, kamu tampak serius sekali berbicara dengan temanmu."

"Dia sepertinya sedang jatuh cinta."

"Eh!? Kirishima-kun dimintai nasihat soal cinta oleh temanmu!?"

"Tidak cocok, ya? Aku kan orangnya membosankan, lagi pula aku pakai kacamata."

"Tapi aku suka penampilan Kirishima-kun, kok. Terlihat seperti orang yang hanya bisa belajar saja, karakternya terasa sudah lengkap."

"Itu sama sekali bukan pujian, tahu."

"Terus-terus? Nasihat apa yang kamu berikan pada temanmu itu?"

"Aku menjelaskan soal Mere Exposure Effect."

Saat aku mengatakannya, Hayasaka-san yang tadinya bermata berbinar-binar, tiba-tiba berubah ekspresi dengan canggung, "Ah, iya."

"Bagaimana ya mengatakannya. Entah kenapa, itu sangat... Kirishima-kun sekali."

"Itu sudah pasti bukan pujian, kan?"

Mere Exposure Effect adalah efek psikologis di mana "seseorang cenderung memiliki kesan baik terhadap hal-hal yang sering dilihat atau didengar". Inilah yang menjelaskan perilaku membeli sesuatu karena sering melihat iklannya, atau psikologi di mana kita lebih mudah menyukai orang yang berada di dekat kita daripada orang yang jauh.

"Orang akan menyukai apa yang mereka kenal. Jadi, aku menyarankannya untuk selalu bertemu dengan gadis yang disukainya setiap hari. Entah itu sekadar menyapa, meminjam atau meminjamkan barang, apa pun boleh."

"Begitu ya, Mere Exposure Effect."

Sembari mengangguk-angguk paham, Hayasaka-san memasang ekspresi jahil.

"...Kalau begitu, ayo kita coba juga, itu."

Ia menyentuh punggung tanganku dengan punggung tangannya berulang kali.

"Ayo pegangan tangan."

"Bukan, kontak yang dimaksud di sini adalah soal persepsi seperti melihat atau mendengar, jadi..."

"Tapi kalau bersentuhan langsung mungkin efeknya lebih kuat, kan? Maksudku, itu sudah pasti."

Tas yang tadinya ia sampirkan di bahu, entah sejak kapan sudah berpindah ke bahu yang berlawanan dari sisiku.

Jarak kami begitu dekat hingga aku pun merasa gugup tanpa sadar.

──Kalau bersentuhan langsung mungkin efeknya lebih kuat, kan?

Hayasaka-san pasti mengatakannya asal saja, tapi bisa jadi memang benar begitu.

Bahkan terhadap gadis yang tidak kusukai, kalau dia menyentuh bahuku begitu saja, jantungku pasti akan berdegup kencang. Dan aku yakin, kalau aku dipeluk seseorang di rumah hantu misalnya, aku pasti akan menyukai gadis itu.

Mungkin, ini adalah mekanisme hati yang tidak bisa dikendalikan oleh akal sehat.

Tindakan "menyentuh" memiliki kekuatan khusus.

Apa yang akan terjadi jika aku berpegangan tangan dengan Hayasaka-san sekarang?

Mungkin aku akan jadi lebih menyukai Hayasaka-san melebihi apa yang kupikirkan, atau mungkin Hayasaka-san akan menyukaiku lebih dari yang bisa ia bayangkan.

"Nee, Kirishima-kun."

Hayasaka-san kembali menyentuhkan punggung tangannya ke tanganku.




Jarak di antara kami terus menyempit, hingga dada Hayasaka-san hampir bersentuhan dengan lenganku.

Meskipun Hayasaka-san memiliki wajah yang lugu, tubuhnya sangat dewasa.

Aku tiba-tiba merasa malu, lalu membuang muka.

"Berpegangan tangan itu lompatan logika namanya. Bukannya ini tidak tepat untuk memverifikasi efek psikologis──"

"Itu kebiasaan burukmu, Kirishima-kun, selalu mengelak dengan mencari alasan seperti itu."

Hayasaka-san mencoba meraih tanganku.

Aku segera menyembunyikan tangan ke dalam saku celana.

"Fufu, kalau begitu, bagaimana kalau aku yang merangkul lenganmu saja?"

Karena Hayasaka-san terlihat hendak memeluk lenganku, aku buru-buru menghindar ke pinggir jalan.

Meski kami berjalan dengan menjaga jarak, gara-gara ucapannya tadi, mataku secara alami tertuju pada bagian dada blus putih yang dikenakan Hayasaka-san.

"Ehehe, aku jadi paham kenapa Kirishima-kun malu-malu begitu."

"Benarkah?"

"Kalau kita bersentuhan lebih banyak, mungkin kita bisa jadi lebih, jauh lebih akrab lagi?"

Wajah Hayasaka-san berubah usil, ia tampak semakin bersemangat untuk menempel padaku.

Aksi kejar-kejaran di gang sempit pun terjadi.

Hayasaka-san, ekspresi dan tingkahnya memang seperti anak kecil, tapi tangan dan kakinya yang menyembul dari seragam itu benar-benar milik seorang siswi SMA. Kulitnya mulus, dan pipinya yang memerah karena terengah-engah terlihat sangat menggoda.

Karena hatiku belum siap untuk menyentuh kulit Hayasaka-san, aku terus menghindar. Hayasaka-san, yang memang tidak terlalu pandai berolahraga, hampir tersandung kakinya sendiri.

"Hmph, kalau begitu aku lakukan begini saja!"

Hayasaka-san merentangkan tubuhnya di depan jalan, seolah hendak menghalangiku.

Aku mencoba melewatinya dengan berjalan cepat, berpura-pura tidak peduli.

"Kamu keras kepala sekali, Kirishima-kun!"

Hayasaka-san menubrukkan tubuhnya ke arahku, aku membalasnya dengan mendorong bahunya, kami pun saling berdesakan.

"Hentikan, ini masih terlalu cepat bagi kita!"

"Sudah saatnya kita melangkah lebih jauh, bukan?"

"Tunggu sebentar, pembicaraannya jadi melenceng. Harusnya kita membahas Mere Exposure Effect."

"Apa itu, ya?"

Sungguh lugu sekali! Namun──.

"Hayasaka-san sendiri pasti belum pernah bersentuhan dengan laki-laki, kan? Sejujurnya pasti kamu malu. Jangan berpura-pura menjadi wanita yang berpengalaman!"

Sepertinya tebakanku tepat sasaran, mata Hayasaka-san mulai gelisah.

"A-a-a-apa maksudmu, Kirishima-kun!?"

"Padahal kamu pemalu, tapi malah melakukan hal seperti ini──"

"I-itu salah Kirishima-kun!"

Mungkin karena sudah pasrah, Hayasaka-san memasang wajah cemberut.

"Soalnya, kamu sama sekali tidak mau memegang tanganku!"

Belakangan ini aku merasa sikapnya agak agresif, ternyata dia memikirkan hal itu.

Makhluk ini benar-benar lucu sekali, pikirku. Meski begitu, aku tetap mendorong bahunya saat ia mencoba menempel padaku lagi.

"Bukan berarti kamu harus memaksakan diri! Wajahmu merah sekali, lho!"

"Aku tidak memaksakan diri, ini cuma karena aku demam sejak pagi!"

"Walaupun begitu tetap saja!"

Aku masih merasa malu.

Keesokan paginya di kelas, aku terus memperhatikan Hayasaka-san.

Begitu sampai di sekolah, Hayasaka-san langsung membuka buku teks dan mulai belajar untuk materi hari ini. Sembari mencatat sesuatu di buku tulis, ia tetap menjawab "Ohayou" setiap kali ada yang menyapanya.

Dia memang orang yang ramah, tapi hari ini dia terlihat sangat bersemangat.

Dia pasti memaksakan diri, pikirku.

"Hayasaka, selamat pagi!"

Seorang pria dari kelas sebelah, yang terlihat agak nakal, masuk ke kelas dan berkata.

"Malam ini aku sewa studio untuk latihan band, mau datang mendengarkan?"

"Maaf... malam ini tidak bisa. Ada jam malam soalnya..."

"Begitu ya. Nanti aku ajak lagi, deh."

"Yah, gagal ya," ucapnya sambil berjalan pergi dengan lesu.

Siswa laki-laki di kelas yang melihat hal itu mulai bergosip.

"Hayasaka-san tetap sulit didekati ya, seperti biasa."

"Kau tidak paham. Justru itu daya tariknya. Serius dan murni, terasa seperti gadis yang dibesarkan dengan baik."

"Menurut investigasi pribadiku, rumornya laki-laki yang terdaftar di kontak ponselnya cuma ayahnya saja."

Percakapan itu terjadi tepat di belakang kursiku, tapi aku tidak ikut campur, dan tidak ada yang meminta komentarku soal Hayasaka-san.

"Kalau se-pemalu itu, pasti sulit ya walau sudah pacaran."

"Tidak paham juga ya. Justru bagus kalau Hayasaka-san bilang, 'pegangan tangan itu memalukan sekali' dengan gayanya yang seperti itu. Benar-benar tidak paham."

"Menurut investigasi pribadiku, Hayasaka-san sudah banyak ditembak tapi belum pernah pacaran dengan siapa pun. Dengan kata lain, reaksinya yang lugu itu sudah pasti nyata."

Suara mereka terlalu keras, membuat Hayasaka-san menunduk malu sembari memandangi buku teksnya.

"Hei kalian para pria, jangan berfantasi aneh tentang Akane-chan!"

Ucap seorang siswi yang berada di dekatnya. Akane adalah nama depan Hayasaka-san.

"Dia itu tidak punya ketahanan terhadap hal seperti itu!"

Tak lama kemudian bel berbunyi, dan semua orang kembali ke kursinya masing-masing. Para pria memandang Hayasaka-san dengan penuh penyesalan, sementara para gadis mengintimidasi mereka untuk melindungi Hayasaka-san.

Di tengah hiruk-pikuk itu, tiba-tiba mataku bertemu dengan Hayasaka-san. Ia refleks mengangkat buku teks untuk menutupi wajahnya. Namun, ia perlahan menurunkan buku itu dan menatap ke arahku seolah sedang mengintip.

Kalau terlalu lama menatap, nanti ketahuan semua orang, wajahnya seolah berkata begitu.

Pipinya merona tipis.

Aku ingin sekali menyapanya, tapi aku memilih mengalihkan pandangan ke papan tulis untuk menyiapkan pelajaran.

Hubunganku dan Hayasaka-san adalah rahasia bagi semua orang.

Saat jam istirahat tiba, situasi tidak berubah.

Aku memakan bekal sendirian, sementara Hayasaka-san diajak bicara oleh pria yang duduk di sebelah kursinya.

Topiknya tentang survei rencana masa depan yang dijelaskan guru tadi.

"Hayasaka-san ambil jurusan sosial atau sains?"

"Emm..."

"Sastra sepertinya cocok untukmu. Gadis sastra yang membaca novel di bangku kampus!"

Teman sekelas lainnya mulai ikut nimbrung dalam percakapan itu.

"Bagaimana kalau sastra Inggris? Kalau sudah lancar, jadi penerjemah atau pramugari?"

"Seharusnya Fakultas Ilmu Kesejahteraan Keluarga, dong!"

Di tengah suasana yang meriah itu, Hayasaka-san berkata dengan ragu.

"...Aku ambil jurusan sains."

Sesaat, semua orang memasang wajah "Hah?". Itu bukan citra Hayasaka-san.

"Ah, aku paham!"

Ucap seseorang yang pandai membaca suasana.

"Perawat! Malaikat berbaju putih, ya? Cocok sekali dengan Hayasaka-san, aku ingin dirawat olehmu!"

Situasi pun mereda.

Hayasaka-san melirik ke arahku secara diam-diam, lalu tersenyum lemah.

Dia benar-benar seperti sebuah simbol, pikirku.

Ikon fashion yang hanya dituntut untuk menjadi serius, murni, dan menggemaskan.

Memang benar, Hayasaka-san adalah gadis yang sesuai dengan citranya.

Selama pelajaran, dia mencatat dengan sungguh-sungguh, memberikan catatan kepada teman sekelas yang lupa jadwal ujian, dan membantu guru membawa dokumen meskipun bukan piketnya. Saat pelajaran olahraga, meski dia agak kurang lihai, dia tetap berusaha melompati rintangan meski kakinya beberapa kali terbentur.

Mengenai masa depan, Hayasaka-san bercita-cita masuk Fakultas Kedokteran Hewan karena ingin selalu menyentuh hewan-hewan yang berbulu lembut, jadi itu tidak terlalu jauh dari citranya.

Semua orang sangat menyukai Hayasaka-san.

Namun, terkadang rasa suka itu terlihat sama dengan rasa suka terhadap boneka yang lucu.

Mereka hanya melihat Hayasaka-san sebagai sebuah simbol.

Itulah mengapa, tidak ada satu pun yang menyadari bahwa keadaan Hayasaka-san hari ini berbeda dari biasanya.

Aku merasa khawatir, tidak tahan melihatnya, lalu berdiri dan berjalan menuju kursi Hayasaka-san.

"E-eh?"

Karena kami tidak pernah mengobrol di kelas, Hayasaka-san terlihat kebingungan.

Namun, aku berpura-pura seolah tidak sengaja lewat dan berkata.

"Hayasaka-san, wajahmu merah, ya?"

Di situlah semua orang menyadari bahwa Hayasaka-san tampak kurang sehat sepanjang hari ini.

Hayasaka-san terlalu memaksakan diri. Bukankah dia sendiri yang mengatakannya kemarin?

"Apa kamu demam?"

Tepat sebelum jam kelima dimulai, aku menyelinap keluar kelas.

Dari jendela, aku melihat Hayasaka-san pulang lebih awal.

Setelah keluar dari gerbang sekolah, aku mengejar Hayasaka-san yang berjalan dengan terhuyung-huyung.

"Kirishima-kun, kenapa!?"

"Aku antar sampai rumah. Berikan tasmu."

"...Maaf ya, merepotkanmu."

"Hayasaka-san terlalu memaksakan diri."

"...Iya. Tapi, kalau di depan semua orang, aku seringkali tidak sengaja bersikap seperti anak baik."

Padahal sebenarnya tidak begitu, ucap Hayasaka-san.

"Aku ini jauh lebih nakal daripada yang kalian bayangkan."

Hayasaka-san tampak hampir jatuh, tanpa sadar aku menggenggam tangannya.

"Kirishima-kun?"

Hayasaka-san membulatkan matanya melihat tangan kami yang bertaut.

"...Itu, anu. Aku hanya mencoba bereksperimen dengan Mere Exposure Effect, atau apalah itu."

"Iya. Jadi, ada efeknya?"

"Entahlah. Tubuhku jadi panas. Rasanya aku juga ikut demam..."

"Aku, mungkin cukup menyukainya."

Hayasaka-san tetap menggenggam tanganku sambil menyandarkan tubuhnya padaku.

"Sepertinya ada efeknya."

Beban tubuhnya yang bersandar dan panas yang menjalar.

Di sisi tubuhku, aku bisa merasakan keberadaan Hayasaka-san. Bukan lagi sekadar citra atau ikon.

"Kalau semua orang tahu aku melakukan ini, pasti mereka terkejut, ya..."

"Pasti jadi skandal."

Hayasaka-san kini menunjukkan ekspresi yang sangat manja, yang tidak akan pernah ia tunjukkan di dalam kelas.

"Tahu tidak, dari dulu aku ingin menyentuh Kirishima-kun."

Ucapnya sembari menempel padaku dengan wajah yang merona senang. Ia menggenggam tanganku kuat-kuat, lalu melemah, seolah sedang menikmati sensasi sentuhanku.

"Apa aku terus saja demam, ya?"

"Kenapa?"

"Soalnya Kirishima-kun jadi bersikap lembut padaku."

Hayasaka-san menempelkan wajah dan tubuhnya padaku lebih erat dari yang seharusnya.

"Kamu sengaja, ya?"

"Kalau aku sudah sembuh nanti, ayo kita lakukan hal yang lebih, lebih nakal lagi."

"Dengar ya."

"Habisnya, aku bukan anak baik, kan?"

Aku mengantar Hayasaka-san yang terkena demam musim panas sampai ke rumahnya dengan cara memapahnya. Kondisinya terlihat sangat tidak sehat, namun ia tersenyum puas sambil berkata, "Ehehe."

Jika dilihat dari luar, mungkin terlihat seperti seorang pacar pria yang biasa saja yang entah bagaimana bisa berpacaran dengan gadis cantik. Tentu saja itu memang benar, karena aku dan Hayasaka-san adalah sepasang kekasih.

Namun, kami memiliki rahasia yang tidak bisa diketahui siapa pun.

Aku memiliki orang lain yang kusukai, dan Hayasaka-san adalah pilihan kedua.

Hayasaka-san pun memiliki orang lain yang ia sukai, dan aku adalah pilihan kedua. Dengan kata lain──.

Meskipun kami berdua memiliki orang yang paling kami cintai, kami berpacaran sebagai pilihan kedua satu sama lain.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close