NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Watashi Ni-banme no Kanojo de Ii kara Volume 2 Chapter 4

Chapter 11

Punggung yang Ingin Kutendang


Hamanami sepertinya tidak terlalu menyukai Tachibana-san.

"Hanya karena wajahnya cantik, semua orang terlalu memanjakannya. Kalau gadis biasa bersikap sedingin itu, dia tidak akan bisa bertahan hidup! Pasti akan disingkirkan!"

Itu terjadi saat jam istirahat siang di ruang klub penelitian misteri.

Aku duduk di sofa, sedang menyantap bekal bersama Hamanami.

Karena ancaman yang ada, aku terpaksa menjalani skenario di mana aku menyukai Hamanami, jadi kami melakukan hal seperti ini.

"Tachibana-san sepertinya populer di antara anak kelas satu juga. Aku lihat ada yang meminta kontaknya."

Tipe orang seperti Tachibana-san tidak memedulikan hal-hal kecil, jadi dia memberikannya begitu saja saat diminta. Anak laki-laki itu tampak sangat senang hingga mengepalkan tangan ke udara.

"Itu Yoshimi dari kelasku. Dia itu tipe orang yang suka cari muka. Si bodoh yang mulai main basket gara-gara terinspirasi manga."

"Tapi dia terlihat cukup keren, kok."

"Eh, apa kau khawatir?"

"Entahlah."

Saat aku berkata begitu, Hamanami menghela napas panjang.

"Apa bagusnya Tachibana-san, sih. Padahal pas jam pulang sekolah sengaja kulihat ke kelasnya, dia malah pakai riasan hantu. Toh wajahnya juga tertutup semua."

"Itu namanya Halo Effect."

"Efek psikologis di mana hal yang populer akan dianggap semakin populer, ya. Sesuatu yang diinginkan orang lain akan membuat kita juga menginginkannya."

"Kau tahu, ya?"

"Aku kan tipe orang yang rajin belajar."

Produk yang hit akan semakin hit.

Begitu pula dalam percintaan, saat melihat orang yang populer, semua orang akan berpikir, "Orang itu pasti memikat," yang kemudian membuat popularitasnya meningkat secara akseleratif.

"Ternyata laki-laki itu bodoh ya, bisa terjebak psikologi sederhana begitu," kata Hamanami.

"Kirishima-senpai suka apanya dari Tachibana-senpai?"

Entahlah, aku berpikir sejenak sebelum menjawab.

"……Mungkin wajahnya."

"Jujur banget!"

Sebuah tanggapan yang simpel.

"Hamanami, kelihatannya kau tidak suka dengan Tachibana-san, tapi melakukan hal seperti ini tidak akan melukainya, lho."

Aku merasa meski kami menjalani hidup dengan setelan bahwa aku menyukai Hamanami, dia tidak akan menggerakkan alisnya sedikit pun.

"Benarkah? Padahal kita melakukan ciuman yang semesra itu? Pasti dia akan merasa sedih. Aku akan membuat Tachibana-san hancur lebur!"

"Siapa yang mau membuat siapa hancur lebur?"

"Aku, yang akan membuatmu, hancur lebur! Eh, kyoehh!"

Hamanami menjerit.

Tanpa disadari, Tachibana-san sudah berdiri di belakangnya.

Ngomong-ngomong, dari posisi dudukku, aku bisa melihat sosok Tachibana-san yang masuk ke ruang klub.

Dan Hamanami, reaksimu benar-benar tajam, ya.

"Tachibana-san, ada apa?"

"Hanya mau mengambil partitur di ruang musik. Terus, aku mendengar suara dari sebelah."

Tachibana-san menatap Hamanami dengan lekat.

"Shirou-kun, apa kau menyukai anak ini?"

"Berarti rumor bahwa aku jatuh cinta pada Hamanami sudah tersebar luas, ya."

"Astaga, Shirou-kun benar-benar pria yang plin-plan."

Setelah mengatakan itu saja, Tachibana-san hendak keluar dari ruang klub.

"Eh, tidak ada hal lain yang ingin kau katakan?"

Hamanami-lah yang terlihat bingung.

"Pria yang kau sukai baru saja bilang dia menyukai gadis lain, lho?"

"Iya, begitulah."

"Apa kau tidak menyukai Kirishima-senpai? Padahal hubungan kalian seperti ini?"

Hamanami menyodorkan ponselnya. Di sana terpampang gambar saat aku dan Tachibana-san berciuman.

"Jangan-jangan, Kirishima-senpai cuma menganggapmu mainan? Kalau begitu, akan lebih parah lagi kalau gambar ini disebarluaskan. Kekaisaran populermu akan berakhir hari ini."

"Oh ya?"

Tachibana-san mengintip gambar itu. Lalu, sambil menatap Hamanami, dia berkata.

"Shirou-kun, anak ini benar-benar anak yang baik, ya."

"Hah?"

Hamanami membelalakkan mata.

Wajahnya seolah berkata, Aku sedang mengancam kalian, tahu?

"Gambarnya diambil dengan sangat bagus. Hei, minta gambarnya, ya. Aku mau menjadikannya wallpaper."

Tachibana-san mengambil ponsel dari tangan Hamanami lalu mengoperasikannya dengan lincah.

"Siapa namamu?"

"Hamanami Megumi…… tapi……"

"Hamanami-san, maukah kau mengambilkan foto lebih banyak lagi?"

"Mengambil foto?"

"Aku ingin lebih banyak gambar dengan Shirou-kun. Kalau begitu, sekarang aku akan menciumnya."

"Itu…… apa maksudmu?"

"Waktu musim panas, aku sempat diperlihatkan saat dia mencium gadis lain. Aku juga berpikir ingin menciumnya sambil diperlihatkan kepada seseorang. Hamanami-san, ambilkan lagi fotonya, ya. Aku ingin memamerkannya."

Tachibana-san mengatakannya dengan datar.

Hamanami menoleh ke arahku dengan ekspresi kaku.

"Di sini, apakah ini dunia lain?"

Tampaknya nilai moral yang asing baginya telah menghancurkan pikirannya.

"Tachibana-san memang gadis yang seperti itu."

"Bukan, Kirishima-senpai, harusnya kau katakan sesuatu. Katakan kalau itu salah."

Benar juga, aku setuju.

"Tachibana-san, jangan pakai itu jadi wallpaper, memalukan, tahu."

"Bukan masalah itu! Itu hal sepele! Bukankah tadi ada banyak kata-kata yang tidak dimengerti seperti diperlihatkan saat berciuman, atau ingin difoto!"

Lagipula, kalau semesra itu, kenapa tidak tunjukkan saja dengan bangga, kata Hamanami.

"Aku mengancammu karena Kirishima-senpai memintaku menghapus fotonya, tapi sama sekali tidak mempan!"

"Bukan begitu, aku benar-benar kesulitan kalau foto itu ada."

Begitu aku mengatakannya, Tachibana-san melanjutkan perkataanku.

"Karena aku punya tunangan."

Hamanami membelalakkan mata.

"……Omong-omong, siapa orangnya?"

"Yanagi Shun."

Hamanami menoleh ke arahku dengan leher yang berderit kaku seperti kaleng timah.

"Itu, aku ada di sini karena diminta oleh orang bernama Yanagi-san."

"Jangan katakan semuanya."

"Tidak, aku akan mengatakannya!"

Segera setelah informasi palsu bahwa aku jatuh cinta pada Hamanami beredar, Yanagi-senpai langsung mengambil tindakan.

"Kupikir pria tampan tiba-tiba masuk ke kelas, ternyata dia datang menemuiku."

Hamanami tidak pandai menghadapi pria tampan, tapi karena lawannya bersikap terlalu baik, mereka bisa mengobrol.

"Pria itu terus memuji Kirishima-senpai. Terus, dia memintaku untuk makan siang bersamanya karena kau orang yang baik. Dia orang yang bernama Yanagi Shun itu. Dia benar-benar sangat memikirkan Kirishima-senpai dan sangat perhatian."

Hamanami menatap wajahku dan wajah Tachibana-san bergantian.

"Aku takut! Kalian berdua ini!"

"Shirou-kun, Hamanami-san itu menyenangkan karena meriah, ya."

"Bukan begitu?"

"Jangan pura-pura tidak tahu!"

Hamanami berbicara sambil terengah-engah. Sepertinya stamina fisiknya sudah mencapai batas.

Tachibana-san mengangkat bahu.

"Ya begitulah, jadi aku tidak punya niat untuk menyalahkan Shirou-kun apa pun yang dia lakukan dengan gadis lain."

Cintaku adalah cinta yang akan berakhir, kata Tachibana-san.

"Hubungan yang hanya ada selama SMA. Setelah lulus, aku akan menikah dengan tunanganku. Tidak akan ada jejak yang tersisa. Saat dewasa nanti, aku hanya akan mengingat kalau dulu pernah ada hal seperti itu."

Hanya untuk saat ini, selama perasaan kami tersampaikan, bentuk hubungan tidaklah penting, kata Tachibana-san.

"Aku ini ibarat hantu."

Ternyata dia berpikir sampai sejauh itu, pikirku.

"Tapi, tidak buruk juga."

Tachibana-san melanjutkan dengan nada bicara yang tenang.

"Aku yang tersisa di dalam diri Shirou-kun akan selalu berusia belasan tahun, dan akan selalu terlihat cantik. Meninggalkan kenangan indah lalu mengucapkan selamat tinggal. Itu sudah cukup."

Tapi terima kasih, kata Tachibana-san sambil menunjukkan ponselnya dengan puas ke arah Hamanami.

"Aku tidak terpikir untuk memotretnya, jadi aku senang ada fotonya. Nanti akan kuhapus, tapi sampai saat itu tiba, kupikir aku akan melihatnya berkali-kali."

Sampai jumpa, kata Tachibana-san lalu keluar dari ruang klub.

Setelah itu, yang tersisa hanyalah keheningan seperti danau di tengah hutan.

Kami mulai makan bekal dalam diam.

Hamanami yang tadi begitu meriah kini memasang wajah yang sangat serius.

Meski sudah selesai makan dan meletakkan sumpit, ekspresinya tidak berubah.

"Tachibana-san itu…… sedikit rapuh, ya."

Ujar Hamanami dengan lesu.

"Entah kenapa, aku jadi sedih."

Sambil menatap ujung kakinya, setelah merasa gelisah, dia menekan dadanya sendiri.

"Saat membayangkan perasaan Tachibana-senpai, dadaku jadi sesak. Sungguh menyayat hati. Ah, tidak, aku sama sekali bukan pihak Tachibana-san, ya. Perasaanku sejak awal tidak berubah. Aku akan membuat kalian hancur lebur──"

"Tadi aku lupa bilang."

"Hii!"

Hamanami mengeluarkan suara terkejut.

Itu karena Tachibana-san kembali tanpa ada suara. Dia benar-benar mempermainkan Hamanami.

"Ini peringatan, Hamanami-san. Kau tidak benar-benar ingin disukai oleh Shirou-kun, kan? Aku tidak tahu kenapa kau melakukan permainan ini, tapi kurasa itu bukan cara yang bagus."

Karena tidak semua gadis itu seperti aku, kata Tachibana-san.

"Ada gadis yang memedulikan hal seperti itu. Hati-hati saja kalau nanti kau mengalami hal yang menakutkan."

Setelah mengatakan itu saja, kali ini dia benar-benar keluar dari ruang klub.

"Apa maksudnya itu?"

"Entahlah?"

Aku pura-pura tidak tahu.

Namun beberapa menit kemudian, Hamanami akhirnya mengerti apa maksudnya.

"Anak itu? Gadis yang katanya disukai Kirishima-kun?"

Hayasaka-san masuk ke ruang klub, menatap Hamanami, dan bertanya.

Lalu, sambil memasang senyum yang tampak menempel di wajahnya, namun tetap terlihat seperti malaikat, dia berkata.

"Hei Kirishima-kun…… aku ini nomor berapa?"

Kirishima Shirou menyukai Hamanami Megumi.

Entah apa maksudnya ingin menjalani hidup dengan setelan seperti itu, tapi menuruti setelan itu pun menguntungkan bagi pihak kami.

"Kupikir Kirishima menyukai Hayasaka-chan."

Segera setelah rumor yang direkayasa itu tersebar, Yanagi-senpai meneleponku.

"Soalnya, Hayasaka-chan kan imut sekali."

"Senpai, ternyata kau menganggap Hayasaka-san itu imut, ya."

"Yah, begitulah……"

Nada bicara Yanagi-senpai terdengar sedikit malu.

"Aku sudah berusaha untuk tidak berpikir seperti itu, sih."

"Karena menjaga perasaanku, ya?"

"Rasanya tidak enak kalau aku malah jadi pengganggu."

"Kau terlalu sungkan. Lagipula, aku tidak punya perasaan cinta pada Hayasaka-san."

Aku berbohong.

"Jadi, karena kau adalah senpai, tolong beri penilaian yang layak pada Hayasaka-san. Kalau kau pikir dia imut, sebaiknya langsung katakan saja kalau dia imut."

Yanagi-senpai sungkan padaku, dan tanpa sadar berusaha untuk tidak melihat Hayasaka-san sebagai seorang wanita.

Dia menempelkan label 'gadis yang disukai adik kelas', lalu menjauhinya.

Tapi label itu terlepas saat dia tahu kalau hal itu salah, dan Hayasaka-san muncul di kesadaran Yanagi-senpai sebagai seorang wanita.

Hal itu bisa dilihat dari senpai yang menyebut Hayasaka-san 'imut'.

"Ini adalah sandiwara untuk mengubah kesadaran senpai seperti itu."

Aku menjelaskan pada Hayasaka-san.

"Begitu ya. Jadi Kirishima-kun tidak benar-benar menyukai Hamanami-san, kan?"

"Tentu saja."

Percakapan di ruang klub masih berlanjut.

Itu adalah saat setelah Hayasaka-san masuk menggantikan Tachibana-san dan bertanya, "Aku ini nomor berapa?"

Mendengar penjelasanku, tekanan dari Hayasaka-san yang seperti Dewa Penjaga (Nio) agak mereda.

"Jadi, Hamanami-san juga tahu kalau Kirishima-kun tidak serius? Dia tahu kalau ini hanya akting?"

"Iya! Tentu saja! Ini hanya sandiwara!"

Hamanami tampak kaku dengan situasi ini.

"Begitu ya, begitu ya!"

Hayasaka-san menggenggam kedua tangan Hamanami dengan wajah senpai yang lembut.

"Terima kasih ya, sudah mau bekerja sama dengan kami!"

"Eh, ah, iya."

"Entah kenapa aku senang sekali. Hubunganku dengan Kirishima-kun ini rahasia dari siapa pun sampai sekarang. Tapi aku ingin sekali mengatakannya pada seseorang. Aku punya pacar terbaik bernama Kirishima-kun. Meskipun kami sama-sama nomor dua, kami tetap pacar yang sah."

Lalu, setelah sempat bimbang sendiri, "Apa yang harus kulakukan? Apa aku terlalu bersikap seperti pacar? Tidak, aku kan memang pacarnya," Hayasaka-san berkata pada Hamanami.

"Kirishima-kun, tolong jaga dia ya! Mungkin dia terlihat tidak bisa diandalkan, tapi kalau saatnya tiba, dia sangat bisa diandalkan!"

"Sudah terlanjur diucapkan~!" sambil mengatakan itu, Hayasaka-san keluar dari ruang klub dengan wajah memerah.

Dari koridor terdengar suara, "Aku bersikap seperti pacar pada adik kelas~".

Nah──.

Saat Hayasaka-san sudah pergi, Hamanami menatapku dengan mata yang tajam.

"Itu, apa-apaan ini? Aku tidak diberitahu…… bukankah kau hanya berciuman dengan Tachibana-san yang punya tunangan? Kenapa Hayasaka-san muncul!? Tadi ada kata-kata tidak menyenangkan seperti 'nomor dua'!"

"Itu karena……"

Aku menjelaskan hubungan dengan Tachibana-san, Hayasaka-san, dan Yanagi-senpai.

"Gila!"

Setelah selesai mendengar ceritanya, Hamanami membelalakkan mata dan berteriak.

"Aku takut! Apa yang kalian lakukan!? Lagi pula, kenapa kau menceritakan hal itu padaku?"

"Aku hanya ingin seseorang mendengarkannya……"

"Aku bukan pendeta, ini bukan pengakuan dosa! Meskipun kau bicara padaku, aku tidak akan memaafkanmu!"

"Menurut Hamanami, apa yang harus kulakukan?"

"Tidak ada yang bisa dilakukan, karena Hayasaka-senpai benar-benar sudah menjadikan Kirishima-senpai orang nomor satu!"

"Memangnya kau pikir begitu?"

"Menggoda Yanagi-senpai itu jelas sekali kalau cuma mulut saja! Perilaku Hayasaka-senpai sudah seratus persen pacar! Kalau dia tahu di belakang dia Kirishima-senpai dan Tachibana-senpai berciuman, saat itu juga neraka akan dimulai!"

Di situ Hamanami terkesiap.

"Jangan-jangan, kau berniat menyembunyikannya sampai lulus? Memanfaatkan perasaan Tachibana-senpai yang seperti itu, sambil berpacaran dengan Hayasaka-senpai, dan di depan Yanagi-senpai bersikap seperti adik kelas yang baik, lalu menuntaskan hubungan sementara dengan Tachibana-senpai? Eh, apa kau waras? Apa otakmu rusak?"

"Apa tidak boleh?"

"Ini situasi yang sangat kritis! Aku tidak percaya kau menghabiskan masa SMA dengan membawa bom seperti itu! Jangan jadikan tempat belajar kita sebagai gudang mesiu! Balkan-nya percintaan!"

Hamanami terus mengulang kata takut.

"Aku minta maaf karena sudah iseng memotret adegan ciuman dan mengancam senpai."

"Tidak apa-apa, kok. Aku merasa Hamanami bukan orang jahat."

"Kau sok tahu sekali. Tapi, aku tidak perlu ikut campur lagi. Ini dunia yang tidak bisa kuikuti. Tidak mungkin. Kalau tahu begini, aku tidak akan terlibat, dan aku tidak akan terlibat lagi."

"Jangan bilang hal yang menyedihkan seperti itu."

"Meski dibilang begitu, tetap tidak bisa. Aku tidak suka hal yang tidak sehat. Berhati-hatilah agar tidak ditusuk oleh Hayasaka-senpai. Kalau begitu."

Hamanami keluar dari ruang klub.

Dia bilang tidak mau terlibat lagi karena tidak mau ikut campur dalam hubungan kami.

Namun──.

"Kenapa bisa begini!!"

Hamanami menjerit.

Beberapa hari kemudian saat istirahat siang, itu terjadi lagi di ruang klub.

Bukan hanya aku dan Hamanami, tapi Tachibana-san, Hayasaka-san, dan Yanagi-senpai, semuanya berkumpul.

"Kenapa komposisi orangnya jadi seperti ini?"

"Hanya bisa dibilang kalau banyak hal yang terjadi."

Awal mulanya adalah satu ucapan dari ketua panitia festival budaya.

“Kirishima dan Hamanami, tolong pikirkan sepuluh pertanyaan tes kecocokan.”

Sebagian isi kejuaraan pasangan terbaik dibebankan kepada kami.

Jadi, aku membuat soal bersama Hamanami, tapi karena tidak mungkin langsung ke acara utama, kami memutuskan untuk melakukan latihan simulasi.

Lalu pada jam istirahat siang hari itu, orang-orang yang berkumpul di ruang klub untuk menguji soal adalah──.

Tachibana-san, Hayasaka-san, Yanagi-senpai, ditambah aku dan Hamanami.

Kami menyusun kursi dan duduk membentuk lingkaran.

"Ini neraka……"

"Mau bagaimana lagi."

Sebenarnya aku sudah memanggil Maki dan Sakai, teman Hayasaka-san, tapi karena mereka ada urusan mendadak, hasilnya jadi seperti ini karena mereka mengirim pengganti seenaknya.

"Aku mengerti. Yah, kalau sudah begini ya tidak apa-apa. Tapi ini apa, ini apa? Ada yang bukan manusia di antara kita! Kacau!"

Yang ditunjuk oleh Hamanami adalah kostum beruang yang besar.

Itu Hayasaka-san.

Mogo-mogo, terdengar suara dari dalam kostum.

"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan!"

Lalu kostum beruang itu menulis pesan di papan tulis putih yang digantung di lehernya dengan spidol.

“Maaf, maaf, tadi aku baru mencoba kostumnya.”

"Kenapa harus menulis?!"

“Kostum ini tidak bisa mengeluarkan suara. Saat hari-H nanti aku juga akan melayani pelanggan dengan ini~”

"Lepaskan sekarang!"

Sesuai perintah, Hayasaka-san melepas kepala beruangnya yang besar.

Poni depannya menempel di dahi karena keringat. Tubuhnya masih memakai kostum, terlihat sedikit lucu.

"Dan itu! Kenapa yang di sana masih tetap berpartisipasi dengan wujud makhluk horor!"

Tachibana-san duduk di sebelahku dengan penampilan hantu.

"Wajahnya tidak terlihat karena rambutnya!"

"Apa begini sudah cukup?"

"Wajah yang muncul itu juga menyeramkan! Hapus riasannya! Aku tidak suka horor!"

Tachibana-san menghapus wajahnya dengan kertas pembersih riasan yang diberikan Hayasaka-san.

"Tes kecocokan itu sepertinya menarik, ya."

Saat Yanagi-senpai mengatakan itu, Hamanami menekan dadanya dan menunduk.

"Senyuman yang menyegarkan! Entah kenapa dadaku jadi sesak!"

Sambil berkata begitu, papan tulis kecil dan spidol sudah disiapkan, dan persiapan sudah selesai.

Rencananya Hamanami yang akan memberi soal, dan empat orang sisanya yang akan menjawab.

Saat hendak memulai, Hamanami membisikkan sesuatu dengan suara pelan.

"Mumpung sudah sampai di sini, apa kita benar-benar akan melakukannya?"

"Apa ada masalah?"

"Soalnya ini tes kecocokan, lho?"

Ini komposisi orangnya, lho? kata Hamanami sambil menatap wajah orang-orang yang berkumpul.

"Hanya ranjau darat yang tertanam di sini!"

"Tapi waktu sampai acara utama tidak banyak. Sebaiknya kita coba sekali."

Bagaimana kalau nanti meledak? Hamanami tampak ragu. Aku mengerti kekhawatirannya itu.

"Tidak apa-apa. Serahkan padaku."

"Benarkah? Uuuu……"

Hamanami mengerang, tapi di akhir dia berkata dengan nada nekat, "Sudahlah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti!"

"Kalau begitu, tes kecocokan dimulai!"

"Sudut tes kecocokan~~~!! Dondon pafupafu~~~!"

Hamanami membacakan soal dengan nada tinggi.

"Anjing atau kucing, mana yang kau suka?"

Rencananya poin akan ditambah untuk pasangan yang jawabannya cocok pada acara utama, tapi karena sekarang hanya uji coba, kami tidak menentukan siapa dengan siapa, jadi empat orang menjawab secara terpisah.

Kami menulis jawaban di papan kecil dan membukanya bersamaan.

Hayasaka-san dan Yanagi-senpai menjawab kucing, sementara aku dan Tachibana-san menjawab anjing.

"Lanjut soal kedua! Laut atau gunung, kalau pergi saat musim panas pilih yang mana?"

Hayasaka-san dan Yanagi-senpai menjawab laut, sementara aku dan Tachibana-san menjawab gunung.

"Eh, anu, yah…… ehem! Kalau begitu soal ketiga! Kinoko no Yama atau Takenoko no Sato!"

Aku pikir tidak akan mungkin, tapi ini pun terbagi dengan rapi antara Hayasaka-san dan Yanagi-senpai, serta aku dan Tachibana-san.

Yanagi-senpai sedikit tersenyum pahit, dan Hayasaka-san memasang senyum palsu.

Hamanami segera menusukkan tangan ke pinggangku dan bertanya dengan suara pelan.

"Ini, bukankah keadaannya gawat?"

"Serahkan padaku. Hal ini sudah diantisipasi. Ada cara bagus."

Tolong ya, kata Hamanami sambil membaca soal berikutnya.

"Jump atau Magazine, mana yang kau suka?"

Senpai menjawab Magazine, dan Hayasaka-san menjawab Jump.

Karena komposisi yang tadi sudah hancur, kali ini rasanya aman.

Namun, aku mengambil langkah pencegahan yang lebih jauh.

"Kirishima-senpai?"

Aku membalik papan jawabanku. Yang kutulis adalah──.

Spirits.

"Soal pilihan ganda! Tadinya aku pikir Shueisha atau Kodansha, eh malah Shogakukan! Lagipula, ini kan bukan Sunday!"

Meski melontarkan protes, Hamanami menatapku dengan tatapan seolah berkata, "Kerja bagus, Senpai."

Hal yang membuat suasana canggung dalam tes kecocokan ini adalah jika jawabanku dan Tachibana-san selalu cocok.

Namun, jika aku memberikan jawaban yang tidak ada di antara dua pilihan itu, maka jawabannya tidak akan pernah cocok.

Begitu pikirku, tapi──.

"Jawaban Tachibana-senpai?"

"Aku juga yang ini."

Yang ditulis Tachibana-san adalah──.

Spirits.

"Apa maksudnya ini!? Bagaimana bisa jawabannya cocok di bagian sini!?"

"Kalau ditanya pilih Jump atau Magazine, jawabanku ya Spirits."

"Itu kan di luar pilihan!"

Melihat ini, bahkan Yanagi-senpai pun tampak canggung.

Wajar saja, karena tunangannya sendiri selalu memilih jawaban yang berbeda dengannya, sementara adik kelasnya justru memiliki jawaban yang sepenuhnya sinkron dengan gadis itu.

Meski begitu, karena senpai adalah orang yang berjiwa besar, dia tersenyum lembut dan berkata.

"Hikari-chan dan Kirishima, selera kalian ternyata mirip, ya."

"Mungkin karena kami sering bersama di klub penelitian misteri? Kami sering membicarakan hal-hal seperti itu."

Aku memberikan alasan yang dibuat-buat. Tachibana-san pun ikut menimpali setelah jeda sejenak.

"Tapi, kesamaan kami──hanya soal selera kok. Benaran."

Mungkin menyadari bahwa dia telah membuat tunangannya merasa canggung, Yanagi-senpai memasang wajah menyesal.

"Tidak, tidak apa-apa. Aku justru senang kalau Kirishima dan Hikari-chan akrab."

Namun, senpai melanjutkan.

"Ini kan soal untuk Kejuaraan Pasangan, kan? Bukankah sebaiknya gunakan soal yang lebih berkaitan dengan percintaan? Karena ada penonton, kupikir itu akan lebih seru bagi mereka yang melihatnya."

Yanagi-senpai benar-benar orang yang baik karena dia memikirkan hal itu dengan sungguh-sungguh.

"Sebenarnya, ada juga soal yang berkaitan dengan percintaan."

"Ayo lakukan itu," ujar Hayasaka-san. Dia masih memasang senyum tempelnya yang biasa.

"Apa tidak apa-apa?"

Hamanami menatapku dengan wajah seolah ingin berkata, "Justru aku yang sungkan padamu, tahu!"

Namun.

"Percuma saja mengecek kecocokan selera. Ayo coba kecocokan cinta. Anggap saja yang tadi tidak dihitung."

"B-baik……"

Kalah oleh tekanan Hayasaka-san, Hamanami kembali membacakan soal.

"Iluminasi di taman atau bermalas-malasan di rumah, mana yang kamu pilih kalau ingin menghabiskan waktu Natal dengan kekasih?"

Hasilnya──.

Hayasaka-san dan Yanagi-senpai memilih iluminasi, sedangkan Tachibana-san dan aku memilih bermalas-malasan di rumah.

Entah kenapa, jawaban aku dan Tachibana-san selalu cocok sepenuhnya.

Memang ada kecenderungan ke arah sana sejak awal; kami memiliki banyak hobi yang sama, seperti radio tengah malam atau cerita misteri.

Tapi tidak menyangka akan sampai seperti ini──.

Suasana benar-benar berubah.

Alis Hayasaka-san berkedut, dan Yanagi-senpai pun tampak merasa tidak enak karena jawabannya terus meleset dari tunangannya.

"Kirishima-senpai…… mungkin sebaiknya kita berhenti sampai di sini……"

Hamanami menatapku dengan tatapan tajam.

"Benar juga. Sudah waktunya untuk……"

Namun.

"Apa yang sedang kalian bicarakan? Hamanami-san, ayo lanjut."

Mendengar Hayasaka-san dengan tatapan kosong itu, Hamanami buru-buru menjawab, "I-iya!"

Namun, alurnya tetap tidak berubah setelah itu.

Untuk kencan menonton film romantis, Hayasaka-san dan Yanagi-senpai ingin menontonnya, sementara Tachibana-san dan aku memilih film blockbuster Hollywood.

Untuk perjalanan ke luar negeri, Hayasaka-san dan Yanagi-senpai memilih luar negeri, sementara Tachibana-san dan aku memilih penginapan pemandian air panas.

Saat merasa kesepian, Hayasaka-san dan Yanagi-senpai memilih "ingin sekali bertemu sampai gemetar", sementara Tachibana-san dan aku menjawab "tidak ada alasan khusus untuk bertemu".

Hayasaka-san bergumam, "Kenapa…… keterlaluan," dan semangat Yanagi-senpai perlahan menghilang.

"Anu, jangan-jangan Kirishima-senpai," Hamanami angkat bicara karena tidak tahan lagi. "Apakah kamu sengaja memancing mereka?"

"Aku tidak sejahat itu, tahu!"

Hamanami akhirnya berhenti menggunakan sistem dua pilihan dan hanya menggunakan pertanyaan bebas. Namun──.

"Kita pergi kencan ke museum seni. Gambar apa yang ingin kamu lihat dengan kekasih? Tidak ada pilihan jawaban ya~ silakan jawab dengan bebas dan santai~"

Bahkan dengan pertanyaan nekat dari Hamanami itu pun, jawaban aku dan Tachibana-san tetap cocok. Mona Lisa.

"Kirishima-senpai, kamu pasti sengaja, kan? Kamu pasti sengaja, kan?"

"Tidak. Aku tidak merencanakannya, dan kami tidak bekerja sama."

Hayasaka-san gemetar dan hampir menangis.

Seharusnya dia senang karena jawaban dirinya cocok dengan Yanagi-senpai yang merupakan pilihan pertamanya, tapi kondisi mentalnya sedang tidak mendukung untuk itu.

Tidak tahan melihatnya, aku berkata,

"Menurutku, tidak cocok pun tidak masalah."

"Eh?"

"Mungkin pasangan yang tidak cocok justru bisa menyatu dengan sempurna seperti kepingan puzzle. Aku pikir kita bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing. Tapi kalau mereka yang benar-benar cocok satu sama lain, mereka justru tidak bisa pergi ke mana-mana."

"Kirishima-kun……"

Ini mungkin salah satu proposisi yang tidak akan pernah terpecahkan selamanya.

Mana yang lebih baik, berpacaran dengan orang yang memiliki nilai-nilai yang sama, atau berpacaran dengan orang yang berbeda? Aku hanya mengungkapkan satu sisi dari argumen tersebut.

Ekspresi Hayasaka-san sedikit cerah. Yanagi-senpai pun kembali bersemangat sambil berkata, "Benar juga."

Tachibana-san menatapku dengan satu alis terangkat.

"Kalau begitu, ini yang terakhir ya. Kali ini pun silakan jawab dengan bebas."

Hamanami menutup sesi itu.

"Camilan apa yang ingin kamu makan bersama kekasih?"

Hasilnya──.

Mulai dari KitKat, Shiroi Koibito, dan lainnya; keempatnya menjawab berbeda-beda.

Ini adalah akhir yang indah, seperti film remaja di mana setelah hubungan manusia menjadi rumit, masing-masing karakter menempuh jalannya sendiri menuju ending.

Bel peringatan pun berbunyi dengan pas, dan kami mulai membereskan barang. Rasanya seperti sebuah akhir yang bahagia.

Saat semua orang keluar dari ruang klub secara bergiliran dan hanya menyisakan aku dan Tachibana-san, saat itulah kejadiannya.

"Soal terakhir, kamu menulis ulang jawabanmu setelah aku menulis, kan?"

Tachibana-san bertanya sambil menatap papan kecil di tanganku.

"Tunjukkan apa yang kamu tulis awalnya."

"Aku tidak menulis ulang, jadi tidak ada yang seperti itu."

"Kalau begitu, tunjukkan papan itu."

"Tidak boleh."

"Aku akan melihatnya secara paksa, jadi tidak apa-apa."

Karena Tachibana-san mencoba merebut papan itu, aku pun melawan.

Sebenarnya, awalnya aku menulis Pocky.

Namun, melihat Tachibana-san menjawab Pocky, di detik terakhir aku mengubahnya menjadi Bisco.

Aku memikirkan perasaan Hayasaka-san dan Yanagi-senpai, sehingga aku menghindari kecocokan jawaban sepenuhnya.

Tapi Tachibana-san menyadari hal itu dan sedikit marah.

"Sudahlah, tunjukkan saja, Shirou-kun."

"Sudah kubilang tidak boleh, ya tidak boleh."

"Lagipula, apa maksud perkataanmu tadi? Tentang pasangan yang benar-benar cocok tidak bisa pergi ke mana-mana?"

"Itu……"

"Tentu saja lebih baik kalau pasangan memiliki selera yang sama."

Kami saling mencengkeram pergelangan tangan satu sama lain, saling mendorong dengan kuat.

Namun, di tengah-tengah itu, kami menyadari bahwa udara di dalam ruangan telah membeku.

Mereka pasti kembali untuk mengecek kami karena kami tidak kunjung keluar.

Di pintu masuk, ada Hayasaka-san, Yanagi-senpai, dan juga Hamanami.

"Hikari-chan?"

Yanagi-senpai bertanya dengan ekspresi terkejut sambil menatap kami.

Tatapannya tertuju pada tangan Tachibana-san yang mencengkeram pergelangan tanganku.

"Bukankah kamu tidak bisa menyentuh laki-laki……"

Hayasaka-san yang berdiri di sebelahnya berkata dengan datar tanpa ekspresi.

"Shirou-kun………… apa maksudnya ini?"

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Tachibana-san tidak bisa menyentuh laki-laki.

Namun, Yanagi-senpai dan Hayasaka-san justru melihat kami sedang saling mencengkeram.

Wajar saja jika suasana ruang klub membeku. Hamanami menyadari adanya konflik besar dan memegangi kepalanya.

"Aku tidak menganggap ketua klub sebagai laki-laki. Makanya aku bisa menyentuhnya."

Tachibana-san berkata begitu dengan wajah datar tanpa ada rasa bersalah. Keheningan panjang terjadi.

"Begitu ya, jadi begitu."

Yanagi-senpai yang membuka suara. Wajahnya perlahan melunak menjadi senyuman.

"Aku senang Kirishima dan Hikari-chan akrab. Dulu Hikari-chan bilang dia tidak punya orang dekat di sekolah. Kirishima, tolong terus jaga dia, ya."

"A-ah, baik……"

"Kalau begitu, aku pergi dulu, ada kelas olahraga."

Setelah mengatakan itu, dia melangkah cepat keluar dari ruang klub. Jelas sekali bahwa Yanagi-senpai sedang bingung.

Namun, dia tetap memaksakan diri untuk tersenyum dan mengatakan hal seperti itu. Itulah Yanagi-senpai. Aku merasa bersalah.

Aku pikir masalah ini selesai dengan menyisakan sedikit rasa sakit di dada. Namun──.

"Kirishima-kun dan Hamanami-san, bisakah kalian keluar?"

Hayasaka-san berkata.

"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan berdua saja dengan Tachibana-san."

"Tapi……"

"Hanya obrolan perempuan sebentar."

Apakah ini akan baik-baik saja? Namun, karena tekanan Hayasaka-san yang tidak bisa dibantah, aku dan Hamanami akhirnya keluar dari ruang klub sesuai permintaannya.

Begitu pintu tertutup, Hamanami tiba-tiba merendahkan posisinya.

"Ada apa?"

"Sst! Ada sesuatu di dalam diriku yang memerintahkan untuk mendengarkan ini!"

Jadi, aku dan Hamanami memutuskan untuk menguping di depan ruang klub. Dari balik pintu, terdengar suara Hayasaka-san dan Tachibana-san.

"Maaf ya, Tachibana-san, aku memintamu untuk tetap di sini."

"Tidak apa-apa, aku juga tidak ingin masuk ke kelas berikutnya."

Nadanya tenang, tapi aura ketegangan terasa.

"Aku ingin menanyakan hal aneh, tapi itu……"

"Tentang aku yang menyentuh Shirou-kun?"

Ada jeda sejenak, lalu Hayasaka-san menjawab "Ya".

"Tachibana-san, kamu kan tidak bisa menyentuh laki-laki……"

"Benar."

"Padahal kamu punya tunangan, tapi tunanganmu sendiri tidak bisa kamu sentuh, sementara kamu menyentuh Kirishima-kun…… Tadi Yanagi-kun terlihat sangat menyedihkan. Menurutku itu tidak baik, Tachibana-san……"

Kembali ada keheningan.

"Seperti yang kukatakan tadi."

Tachibana-san menjawab.

"Aku bisa menyentuhnya karena aku tidak menganggapnya laki-laki. Aku tidak merasakan hal semacam itu dari Shirou-kun."

"Soal cara memanggilnya 'Shirou-kun' itu……"

"Apa itu mengganggumu? Tapi, Hayasaka-san dan Shirou-kun sedang 'latihan', kan?"

Udara terasa pecah seperti kaca. Mungkin ini adalah kelanjutan dari kamp pelatihan musim panas.

Pertengkaran di sepanjang sumbu itu sedang terjadi. Hayasaka-san juga benar-benar marah, itulah mengapa dia mengatakannya.

"Aku sudah melakukannya dengan Kirishima-kun."

"Apa?"

"Mungkin ini hal yang belum diketahui Tachibana-san. Kirishima-kun melakukan hal yang belum pernah dia lakukan pada gadis lain kepadaku, dan aku membiarkan Kirishima-kun melakukan hal yang tidak akan pernah kubiarkan dilakukan oleh laki-laki lain."

Karena Hamanami menatapku dengan wajah terkejut, kami berkomunikasi lewat kontak mata.

('Kalian sudah melakukannya!? Tidak, kalian pasti sudah melakukannya, dengan perasaan ini sudah pasti sudah melakukannya!')

('Belum! Masih jauh dari itu!')

Kami hanya sekadar bersentuhan. Meski situasinya memang sangat tidak sehat.

"Begitu ya. Aku tidak begitu mengerti, tapi bukankah Hayasaka-san punya orang lain yang disukai?"

"Tapi, aku sudah melakukannya dengan Kirishima-kun. Ke depannya, kami akan melakukannya lebih lagi. Boleh, kan?"

"Menurutku kamu tidak perlu menanyakannya padaku."

"Benar juga. Tachibana-san punya tunangan, dan kamu tidak menganggap Shirou-kun sebagai laki-laki, kan? Jadi tidak masalah apa pun yang kulakukan dengan Shirou-kun, kan?"

"Boleh saja."

"Syukurlah. Aku sempat berpikir jangan-jangan Tachibana-san menyukai Shirou-kun."

"Itu salah paham."

"Begitu ya. Kalau begitu, kita bisa tetap berteman, kan?"

"Benar."

"Entah kenapa banyak hal terjadi di musim panas dan suasananya jadi aneh, tapi aku sangat senang bisa berteman dengan Tachibana-san."

"Kalau orang yang disukai berbeda, maka tidak masalah, kan?" Hayasaka-san menambahkan.

"Benar juga."

"Kalau begitu, ayo kita menginap bersama kapan-kapan. Aku ingin mengobrol tentang cinta semalaman suntuk."

"Terdengar menyenangkan."

"Syukurlah."

"Kalau begitu, aku akan kembali sebentar lagi," kata Hayasaka-san sambil berniat keluar dari ruang klub.

Aku dan Hamanami buru-buru masuk ke ruang musik tua di sebelah dan berjongkok membelakangi pintu. Saat Hayasaka-san keluar ke koridor, dia mulai terisak.

"Aku benar-benar buruk……"

Sambil berkata begitu, langkah kakinya menjauh.

"Tadi sepertinya ada percikan api, ya," ucap Hamanami. "Tachibana-senpai mengalah dan menahannya di tengah jalan, jadi tidak sampai meledak."

Hamanami perlahan mengeluarkan ponselnya dan menampilkan gambar adegan ciuman antara aku dan Tachibana-san.

"Aku hapus ya. Bahaya kalau sampai dilihat orang lain."

"Tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa. Entah kenapa, kalau melihat ini aku merasa sedih saat memikirkan perasaan Tachibana-senpai. Tachibana-senpai tidak membalas perkataan Hayasaka-san karena ingin melindungi cinta sementara ini, kan?"

"Bukankah dia punya sesuatu yang dia inginkan dariku dengan mengancamku?"

Hamanami menghela napas.

"Sepertinya kamu sudah menebak semuanya."

"Yah, begitulah," kataku. "Kamu menyukai anak laki-laki bernama Yoshimi itu, kan?"

Si tampan anak kelas satu dari klub basket yang selalu mengejar Tachibana-san itu. Sesaat kemudian, Hamanami mengangguk.

"Aku berpikir kalau Tachibana-senpai punya pacar, mungkin Yoshimi akan menyerah."

"Jadi kamu tidak sengaja melihat kami di taman hiburan, ya."

"Ya. Tachibana-senpai terlihat lebih cantik dari biasanya, dan aku berpikir, 'Ah, mereka sedang kencan'. Lalu aku mengikuti kalian dan memotretnya……"

Tapi dia tidak bisa menyebarkannya. Karena Hamanami adalah gadis yang baik.

"Setelan bahwa aku menyukai Hamanami itu untuk membidik Halo Effect, kan?"

"Aku pikir kalau aku bisa meniru gadis populer seperti Tachibana-senpai, mungkin dia akan melirikku. Aku ini tidak mencolok, dan tidak punya gosip percintaan."

"Sepertinya aku tidak bisa menjadi aksesori yang bagus, ya."

"Ya. Itu kegagalan."

"Tidak perlu mengatakannya setegas itu."

"Sudahlah. Ternyata cara seperti ini memang tidak cocok untukku. Perasaanku yang menyukai Yoshimi meledak, sampai-sampai aku berpikir untuk melakukan apa pun demi mendapatkannya."

Hubungan antara Hamanami dan Yoshimi-kun sepertinya adalah teman masa kecil, di mana Hamanami selalu merawat Yoshimi-kun yang suka cari muka.

Tapi Yoshimi-kun sangat tergila-gila pada Tachibana-san yang satu tingkat di atasnya.

Bagi generasi di bawahnya, kecantikan yang tenang seperti Tachibana-san mungkin terasa misterius dan sangat memikat.

"Kurasa aku bisa sedikit membantu."

Saat aku mengatakannya, Hamanami duduk dengan melipat kaki sambil menunduk dan menutupi wajahnya.

"Kalau begitu, satu hal saja. Tolong hentikan Tachibana-senpai yang menjadi hadiah dalam permainan escape room."

"Maksudmu yang keluar paling cepat akan tampil di Kejuaraan Pasangan itu?"

"Ya. Si Yoshimi itu sedang bersemangat sekali. Kalau dia tampil bersama Tachibana-senpai dan menang…… ada mitos soal pernikahan juga……"

"Aku mengerti, akan kusampaikan pada Tachibana-san."

"Terima kasih," ucapnya meminta maaf, dan Hamanami terdiam sambil menunduk cukup lama. Aku menunggu di sebelahnya sampai Hamanami kembali bersemangat. Akhirnya, Hamanami mengangkat wajahnya.

"Tapi Kirishima-senpai, bukankah kamu terlalu sering memanfaatkan Tachibana-senpai?"

"Apa menurutmu begitu?"

"Tadi pun dia terlihat ditekan oleh Hayasaka-san, kan? Tapi karena ingin mempertahankan hubungan ini, dia tidak bisa membalasnya, aku yakin dia pasti menyimpan stres."

"Mungkin kamu benar……"

Saat itu juga, pintu ruang klub terbuka dan terdengar tanda-tanda Tachibana-san keluar.

Aku dan Hamanami menahan napas menunggu Tachibana-san pergi.

Namun, langkah kaki Tachibana-san berhenti tepat di depan pintu ruang musik tua.

Saat aku berpikir dia tidak kunjung pergi──.

Hantaman keras terasa di punggungku. Tachibana-san menendang pintu ruang musik tempat aku bersandar.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close